-->

Pedang Keadilan I Bab 31 : Melawan Musuh Dengan Hipnotis

 
Bab 31. Melawan Musuh Dengan Hipnotis

Hiang-lan segera menghela napas panjang "Aaaai,., semakin kudengar rasanya pikiranku makin bingung, lebih baik tak usah bertanya lagi. "

Mendadak terdengar ujung baju terhempas angin berkumandang datang dan memecah keheningan yang mencekam kuburan itu. Dengan perasaan terkesiap Hiang-lan segera mencabut pedangnya sambil bersiap sedia.

Tampak bayangan manusia berkelebat lewat, sesosok bayangan manusia telah menerjang masuk ke dalam ruangan itu. Baru saja Hiang-lan hendak menegur, ia segera mengenali orang itu sebagai rekannya Siok-bwee. Dari mimik wajah dayangnya, si nona berbaju putih itu segera mengetahui bahwa Siok Bwee telah bertemu dengan kejadian yang mengejutkan hati.

Belum sempat ia bertanya, Siok-bwee telah berseru lebih dulu: "Nona, tampaknya jejak kita sukar dirahasiakan lagi.,."

"Enci Bwee, kau telah bertemu dengan kejadian apa?" timbrung Hiang-lan ingin tahu.

"Aku melihat ada tiga ekor kuda sedang dilarikan ke arah kuburan ini dengan kecepatan tinggi, maka aku segera putar balik untuk memberi laporan, nona, kita harus " "Terlambat" tukas si nona sambil menghela napas. "Tak mungkin kita bisa bebenah dalam waktu singkat tanpa meninggalkan jejak. daripada bersembunyi lebih baik kita buat persiapan yang hebat."

"Persiapan yang bagaimana? Kita harus segera turun tangan-"

Tiba-tiba paras muka nona berbaju putih itu berubah menjadi sangat serius, di antara mukanya yang pucat muncul sikap keren dan serius yang penuh wibawa, pelan-pelan ujarnya: "Kalian harus menuruti semua perkataanku. Barang siapa bertindak sekehendak hati sendiri dan tidak mengikuti arahanku, akan kusuruh dia berlutut di hadapan kuburan raksasa ini dan bunuh diri"

Kalau di hari-hari biasa ia kelihatan sangat lembut, lemah dan menimbulkan perasaan kasihan bagi yang melihat, maka setelah bersikap serius sekarang, wajahnya benar-benar memantulkan kewibawaan yang luar biasa dan menggetarkan sukma.

"Budak sekalian tidak berani," Buru-buru dua orang dayang itu menyahut cemas.

"Bagus, sekarang keluarkan kain hitam untuk kerudung mukaku."

Hiang lan menyahut, buru-buru dia ambil kain hitam dari buntalan dan diangsurkan ke depan, Nona berbaju hitam itu menyambut kain hitamnya dan dikerudungkan pada wajah sendiri, kemudian katanya lagi: "Sekarang duduklah kalian di sampingku sebelum mendapat perintah, siapa pun dilarang bergerak atau melancarkan serangan"

"Bagaimana dengan orang ini?" tanya Hiang lan sambil berpaling memandang Lim Han kim sekejap. "Apakah perlu disembunyikan sementara waktu?"

Dengan mata yang berkilat nona berbaju putih itu memandang Hiang lan sekejap. lalu sahutnya sambil tertawa: "Tutup seluruh badannya dengan kain selimut merah itu"

Selintas warna merah tiba-tiba saja menghiasi pipi Hiang lan. Namun ia tak banyak bicara, diambilnya selembar kain merah lalu ditutupkan ke tubuh Lim Han kim, kemudian ia duduk kembali di samping nona berbaju putih itu.

Dalam ruang batu yang terbengkalai di samping kuburan kuno itu duduk berjajar tiga orang gadis remaja, Dua orang berparas cantik, seorang berkerudung kain hitam ditambah seseorang yang berkerudung kain merah dan tak diketahui mati hidupnya, membuat tempat yang pada dasarnya sudah menyeramkan, kini semakin seram dan mengerikan hati. Belum lama beberapa orang itu selesai dengan segala persiapannya, tiba-tiba terdengar seseorang berkata dengan nada nyaring: "Saudara Long, cukup rahasiakah tempat ini?"

"Saudara Ciu, julukan tikus tanahmu memang benar- benar bukan nama kosong belaka,"

Suara lain yang dingin menyeramkan segera bergema pula, sementara itu Hiang lan maupun Siok bwee telah mendapat instruksi dari nona berbaju putih itu agar pejamkan matanya rapat-rapat, karena itu meski si pendatang telah sampai di muka ruang batu, mereka berdua tak berani membuka matanya untuk melihat.

Hanya gadis berbaju putih itu saja yang bisa memandang situasi di luar dari balik kain kerudung hitamnya, ia saksikan dua orang lelaki berpakaian ringkas, dan seorang manusia berperawakan kecil pendek munculkan diri dari balik pintu.

Agaknya ketiga orang itu pun dibuat terkejut oleh pemandangan yang mereka saksikan dalam ruangan misterius itu, serentak mereka menghentikan langkahnya.

Setelah melihat jelas keadaan di sana, dua orang lelaki berpakaian ringkas itu segera menggenggam gagang golok masing-masing siap melancarkan serangan lalu setelah saling bertukar pandang sekejap mereka loloskan goloknya setengah inci sambil serentak menerjang masuk ke ruang dalam.

Tapi belum sempat mereka bertindak lelaki berperawakan kecil pendek itu sudah mencekal lengan mereka berdua sambil membetot ke belakang, hal ini membuat kedua orang lelaki itu terbetot mundur sejauh beberapa langkah dari posisi semula, salah seorang lelaki yang beralis mata tebal menggerakkan bibirnya seperti hendak mengucapkan sesuatu, tapi kerdipan mata lelaki kecil pendek itu segera mengurungkan niatnya.

Tak lama kemudian ketiga orang itu bersama-sama mengundurkan diri dari ruangan sejauh beberapa kaki dan mulai berunding dengan suara lirih. Tak seorang pun dapat mendengar apa yang mereka rundingkan terutama para gadis yang ada dalam ruangan itu

Tampaknya dua orang lelaki berpakaian ringkas itu amat bernapsu untuk menerjang masuk ke dalam ruangan, sebaliknya manusia berperawakan pendek kecil itu berusaha membujuk mereka untuk mengurungkan niatnya.

Dari sikap mereka bertiga itu bisa disimpulkan bahwa dua orang lelaki berpakaian ringkas itu mempunyai watak berangasan, kasar dan tidak berakal, sedangkan lelaki kecil pendek itu mempunyai akal yang cukup panjang dan cerdik, dia takut persiapan yang disaksikan dalam ruangan itu hanya umpan untuk memancing mereka bertiga masuk jebakan, karena itulah dia ragu-ragu bertindak dan berusaha mencegah kedua orang rekannya bertindak secara gegabah.

Waktu itu, walaupun Hiang lan dan Siok bwee memejamkan matanya rapat-rapat, namun paras muka mereka berubah tiada hentinya, jelas gejolak perasaan mereka pun tidak menentu.

Nona berbaju putih itu melirik sekejap ke sekelilingnya, tiba-tiba ia berbisik: "Tak ada salahnya kalian memejamkan mata rapat-rapat, tapi mimik muka kalian harus menunjukkan sikap yang tenang dan seolah- olah tak pernah terjadi pun di sini."

"Nona," kata Siok bwee dengan suara lirih pula, "Dapatkah kau mencarikan akal untuk mencegah orang yang ada di luar sana agar tidak jadi menerjang masuk ke mari?"

Ucapan itu nyaris tidak terutarakan keluar lewat bibir, jangankan beberapa orang di luar ruangan sana, bahkan si nona berbaju putih itu pun tidak mendengar jelas apa yang dikatakan

"Baiklah," kata si nona berbaju putih itu kemudian sambil tersenyum, "Akan kucarikan akal agar mereka tidak masuk ke mari." Tanpa terasa Siok bwee dan Hiang lan sama-sama menghembuskan napas lega, katanya setengah bersyukur: "Akal yang nona miliki pasti. "

Belum selesai perkataan itu diutarakan, mendadak terdengar gadis berbaju putih itu berseru dengan suara keras: "Tiga orang sahabat di luar, bagaimana kalau masuk kemari dan duduk di sini. "

Siok bwee dan Hiang lan kontan saja merasa amat terperanjat, mereka benar-benar dibuat tak habis mengerti oleh sikap majikannya ini, bukankah nona mereka tak ingin ketiga orang musuhnya itu masuk ke dalam ruangan? Kenapa ia justru mengundang mereka masuk untuk duduk? Dalam terperanjatnya tak kuasa lagi kedua orang dayang ini membuka sedikit matanya untuk mengintip.

Tampak tiga orang lelaki itu kembali mundur beberapa langkah tanpa sadar setelah mendengar ucapan tersebut, tak seorang pun berani melangkah maju ke depan lagi.

"Bukankah kalian bertiga sudah sampai di sini? Kenapa tidak masuk untuk duduk sejenak sambil minum teh sebelum pergi?"

Kembali gadis berbaju putih itu berseru, Walaupun suaranya lembut dan merdu, namun nada ucapannya begitu rapat seakan-akan tak buyar oleh hembusan angin- Sekali lagi tiga orang lelaki itu merasa terperanjat dan mundur beberapa langkah lagi dari posisi semula, sedang dua orang lelaki berpakaian ringkas itu setelah saling bertukar pandang sekejap. segera mundur lebih jauh lagi ketimbang lelaki kecil pendek itu.

"Apa yang kalian bertiga takuti?" kata nona berbaju putih itu sambil tertawa ringan, " Walaupun di tempat kami ini tak tersedia arak wangi dan daging kambing untuk menjamu kalian, tapi percayalah di sini pun tidak ada segala alat jebakan atau perangkap yang bakal mencelakai kalian, silahkan masuk dengan perasaan lega."

Sekali lagi dua orang lelaki berpakaian ringkas itu mundur selangkah ke belakang, lelaki yang berada di sebelah kiri segera berseru: "Gadis itu suruh kita masuk. lebih baik kita jangan melangkah masuk ke sana, saudara Long, saudara Ciu, bagaimana menurut pendapat kalian berdua?"

"Benar, benar sekali," Lelaki disebelah kiri segera manggut berulang kali, "Ia bilang dalam ruangan tersebut tak ada alat jebakan dan perangkap. ini berarti tempat itu sudah dilengkapi dengan segala alat jebakan yang paling menyeramkan, saudara Long, bagaimana pendapatmu?"

Lelaki kecil pendek itu termenung dan berpikir beberapa saat lamanya, kemudian katanya: "Karena dia mengatakan begitu, kita malahan boleh masuk dengan aman dan bebas."

"Apa maksudmu?" Tanpa sadar dua orang lelaki berpakaian ringkas itu berseru dengan wajah tertegun-

Lelaki kecil pendek itu tertawa hambar. "Semisalnya di dalam ruangan batu ini benar-benar

telah disiapkan alat jebakan yang mematikan,

seharusnya mereka bertiga tidak bicara ataupun bergerak sehingga membuat kita tak bisa meraba keadaan yang sesungguhnya. Kenyataannya sekarang dia malah berkata demikian, jelas sudah mereka sedang menerapkan siasat benteng kosong untuk menipu kita"

Sekali lagi dua orang lelaki berpakaian ringkas itu saling bertukar pandang sekejap. kemudian sambil bertepuk tangan se-runya: "Betul...Betul sekali, rupanya bocah perempuan ini hendak menipu kita dengan siasat benteng kosong, jelas sekarang dalam ruangan batu itu tidak ada jebakan apapun"

"Walaupun demikian, lebih baik kita bertindak lebih berhati-hati," pesan lelaki kecil pendek itu dengan suara dalam.

"Kalau memang hanya siasat benteng kosong, kenapa kita mesti berhati-hati lagi?" tanya lelaki di sebelah kiri dengan kening berkerut golok panjang berbentuk aneh yang tersoren di pinggangnya segera diloloskan, kemudian tanpa banyak bicara lagi menerjang maju ke muka. Lelaki yang lain tak mau ketinggalan, golok panjangnya segera diloloskan pula dari sarungnya dan melompat sejauh dua kaki di muka.

Kalau ditinjau dari gerakan tubuh mereka yang begitu lincah dan cekatan, jelas sudah membuktikan bahwa sifat mereka meski kasar dan berangasan, gerak geriknya meski agak bebal namun kepandaian silat yang mereka miliki terhitung cukup tangguh.

Sambil tertawa getir lelaki kecil pendek itu menggelengkan kepalanya berulang kali, terpaksa dia menyusul dari belakang, sementara senjatanya juga segera diloloskan.

Ternyata senjata andalan lelaki pendek ini adalah sebuah ruyung tulang hitam Jit sat wu kut pian yang terhitung senjata langka dalam dunia persilatan-

Melihat ketiga orang lawannya benar-benar menerjang masuk ke dalam ruangan, wajah tiga orang nona yang ada di dalam ruangan seketika berubah karena kaget.

Sambil menghela napas panjang nona berbaju putih itu bergumam: "Aaai... kali ini aku malah termakan oleh jebakanku sendiri" "Kalau ditinjau dari ilmu silat yang dimiliki ketiga orang itu, tampaknya kepandaian mereka cukup tangguh," kata Siok bwee sangsi. "Aku takut kita "

Mendadak terdengar suara bentakan keras bergema memecahkan kesunyian, dua orang lelaki berpakaian ringkas itu tahu-tahu sudah menerjang masuk ke dalam ruangan, Lelaki yang ada di sebelah kiri segera menghardik: "Siapa kalian bertiga? Mau apa berada di sini? Apa yang kalian perbuat dalam ruangan terpencil ini?" Gadis berbaju putih itu segera tertawa ringan.

"Aduuuh. dengan maksud baik kami mengundang

kalian untuk masuk dan minum teh, kenapa kalian malah bersikap begini garang? Toh di antara kita tak ada ikatan dendam atau permusuhan? "

Dua orang lelaki berpakaian ringkas itu seketika tertegun dibuatnya, sambil berpaling melirik ke lelaki kecil pendek itu sekejap. pikirnya: “Betul juga perkataan ini, toh tiada permusuhan apa-apa antara kami dengan mereka, kenapa pula kita meski mencari gara-gara dengan mereka bertiga?” Tanpa sadar golok panjang mereka diturunkan ke bawah.

Dalam saat itu si lelaki kecil pendek tadi sudah melompat masuk ke dalam ruangan sambil memutar ruyungnya untuk melindungi badan, ia sama sekali tidak mengucapkan sepatah kata pun. Dengan membawa suara desingan angin tajam ruyungnya langsung disodokkan ke tubuh nona berbaju putih itu.

Siok bwee tahu bahwa majikannya belum pernah belajar ilmu silat, padahal serangan ruyung itu datangnya sangat garang dan mematikan, andaikata terhajar niscaya korbannya akan tewas seketika. Dalam keadaan cemas bercampur kuatir, ia tak ambil perduli lagi dengan pesan wanti-wanti majikannya tadi, pedangnya segera dicabut keluar dan langsung diayunkan ke depan untuk membendung ancaman ruyung tersebut.

Dua orang lelaki berpakaian ringkas itu seketika dibikin tertegun, mimpi pun mereka tidak mengira kalau seorang gadis remaja ternyata mampu melancarkan serangan dengan kecepatan luar biasa, Mendadak terdengar lelaki kecil pendek itu membentak keras: "Hey, apa yang kalian berdua saksikan? Ayo cepat turun tangan menyerang beberapa orang budak itu, jangan lupa periksa di bawah kain merah itu, coba lihat benda aneh apa yang disimpan di situ."

Hiang lan sangat terkejut, tak tahan lagi ia pun meloloskan senjatanya sambil melompat bangun.

Menyaksikan perbuatan kedua orang dayangnya itu, si nona berbaju putih tersebut gelengkan kepalanya berulang kali sambil menghela nafas, keluhnya: "Budak- budak dungu, kenapa kalian selalu tak mampu menahan diri..." Belum selesai keluhan itu diucapkan, tiba-tiba tampak lelaki kecil pendek itu meninggalkan dirinya dan mengayunkan ruyung menyambar kain merah yang menutupi tubuh Lim Han kim.

Dalam terperanjatnya Siok bwee dan Hiang lan segera mengayunkan senjata masing-masing menghadang di hadapan Lim Han kim, bersamaan waktunya mereka melancarkan lima jurus serangan berantai yang segera menciptakan selapis jaring jaring cahaya yang memaksa siapa pun susah untuk maju barang selangkah pun.

Sesungguhnya ilmu silat yang dimiliki lelaki kecil pendek itu sangat hebat, tapi setelah ruyung panjangnya melancarkan serangkaian serangan gencar, ia tetap juga tak berhasil menembusi lapisan jaring pedang yang berbentuk di hadapannya, Tak kuasa lagi teriaknya dengan suara keras:

"Benda yang tertutup di balik kain merah ini pasti suatu benda penting yang tak ternilai harganya, kalau tidak, mereka tak bakal menghadang dengan mati- matian, Kenapa kalian berdua belum turun tangan juga, apakah tidak membuang kesempatan baik dengan percuma?"

Walaupun mulutnya berbicara, gerak serangannya sama sekali tidak berhenti, lagi-lagi ruyung panjangnya melancarkan beberapa jurus serangan. Dua orang lelaki berpakaian ringkas itu segera merasakan semangatnya bangkit kembali, sahut lelaki di sebelah kiri: "Betul juga ucapanmu, benda di bawah kain merah itu tentu barang penting, hari ini kita harus periksa dengan teliti" Golok panjang mereka segera digetarkan dan siap melancarkan serangan dahsyat.

Tiba-tiba terdengar nona berbaju putih itu berseru sambil tertawa ringan: "Saudara berdua, bagaimana kalau tunggu sejenak lagi?"

Suara itu manis, merdu dan sangat lembut, bagaikan bisikan kekasih yang sedang dibuai asmara. Tak kuasa dua orang lelaki berpakaian ringkas itu menghentikan langkahnya seraya berpaling.

Pelan-pelan nona berbaju putih itu menggerakkan jari tangannya yang lentik untuk membuka kain hitam yang mengerudungi wajahnya, maka muncullah raut wajahnya yang cantik jelita bak bidadari yang turun dari kahyangan itu.

Selama hidup boleh dibilang dua orang lelaki berpakaian ringkas itu belum pernah bertemu dengan gadis secantik ini, tak kuasa lagi mereka memandang dengan termangu dan untuk sesaat tak tahu apa yang mesti diperbuatnya.

Sambil tertawa ringan nona berbaju putih itu kembali berkata: "Kalian berdua begitu gagah, jujur, tampan dan berjiwa ksatria, buat apa mesti meniru perbuatan si setan cebol yang ingin menganiaya kami kaum wanita lemah. "

Suaranya begitu lembut dan merayu, apalagi setelah selesai mengucapkan perkataan tersebut napasnya jadi tersengal-sengal dengan dada yang naik turun bergelombang, hal ini membuat gadis itu semakin menawan dan mengenaskan

Dua orang lelaki berpakaian ringkas itu saling bertukar pandangan sekejap. pelan-pelan senjatanya diturunkan kembali ke bawah sementara empat buah mata mereka terbelalak lebar-lebar tanpa berkedip, jelas sudah beberapa patah kata si nona yang lembut merayu itu telah menggetarkan perasaan hati dua orang lelaki kekar ini.

Diam-diam lelaki kecil pendek itu merasa amat terkejut setelah menyaksikan mimik muka serta keadaan kedua orang rekannya, dengan suara menggeledek kembali bentak-nya: " Hati- hati dengan siluman perempuan itu, jangan termakan oleh rayuan gombalnya sehingga kalian termakan oleh siasat busuknya"

Bentakan yang menggeledek ini segera menyadarkan kembali dua orang lelaki tersebut dari lamunannya, meski begitu sorot mata mereka masih terasa berat untuk meninggaikan wajah si nona berbaju putih itu. Melihat gelagat yang tidak menguntungkan sekali lagi lelaki kecil pendek itu membentak "Jangan melamun terus macam patung, coba kalian lihat perempuan itu, dia begitu lemah seperti tak punya tenaga, kenapa tidak dicoba untuk membekuknya dulu kemudian baru pelan- pelan ha ha ha ha... pelan-pelan dinikmati secara bergantian"

Siok bwee maupun Hiang lan sama-sama terperanjat dibuatnya, dalam keadaan sekarang mereka kuatirkan keselamatan nonanya, tapi juga tak bisa meninggalkan Lim Han kim dengan begitu saja, sehingga untuk berapa waktu kedua orang dayang ini tak tahu apa yang mesti diperbuatnya.

Tampaknya dua orang lelaki berpakaian ringkas itu sudah termakan oleh perkataan lelaki kecil pendek itu, tanpa terasa mereka mulai bergerak menghampiri gadis berbaju putih itu.

Siok bwee dan Hiang lan semakin gugup bercampur kaget, begitu perhatiannya bercabang, jurus serangan mereka, pun ikut kalut, seketika itu juga ruyung maut lelaki kecil pendek itu bagaikan seekor ular berbisa mengurung mereka rapat- rapat, jangan lagi memisahkan diri untuk menolong majikannya, untuk bertahan pun setengah mati rasanya.

Gadis berbaju putih itu sama sekali tidak menjadi gugup atau panik menghadapi keadaan ini, malahan sambil tersenyum manis dan mengawasi dua orang lelaki itu lekat-lekat katanya lagi: " Kalian berdua begitu kuat dan gagah, masa tega bersikap begitu kasar terhadap seorang gadis macam aku?"

Dua orang lelaki berpakaian ringkas itu tertegun, tanpa sadar wajah mereka berubah jadi merah padam lantaran jengah. Lelaki yang ada di sebelah kiri segera ber-seru: " Lebih baik kita pergi memeriksa isi di bawah kain merah itu, coba lihat barang apakah yang disimpan di sana"

"Benar" jawab lelaki di sebelah kanan, Dua orang itu benar-benar tidak turun tangan lagi terhadap gadis berbaju putih itu, sebaliknya malahan menerjang ke arah Siok bwee serta Hiang lan.

Kerja sama antara Hiang lan dan Siok bwee selama ini dalam menghadapi permainan ruyung lelaki cebol itu sebetulnya hanya berhasil memaksakan kedudukan seimbang.

Ketika melihat dua orang lelaki kekar itu menerjang pula ke arah mereka, diam-diam dua orang dayang itu jadi terkesiap. sadarlah mereka, pertarungan kali ini lebih banyak bahayanya bagi mereka ketimbang selamat.

Perlu diketahui bahwa ruangan batu itu amat sempit, sementara serangan ruyung si lelaki cebol itu makin lama semakin gencar sebelumnya Siok bwee berdua boleh dibilang sudah terkepung di balik lingkaran bayangan ruyungnya, menang kalah pun sesungguhnya tinggal soal waktu, Dengan ikut terjunnya dua orang lelaki kekar tersebut mengerubuti mereka, dua orang dayang tersebut merasa semakin keteter hebat.

Tiba-tiba lelaki di sebelah kiri itu berseru lantang sambil mengayun golok panjangnya.

"Saudara Ciu, permainan ruyung mu susah dikembangkan lagi kehebatannya di dalam ruangan sempit ini, lebih baik minggir sajalah, biar kami yang menggantikan kedudukanmu"

Lelaki cebol itu segera berpaling, tapi begitu melihat gadis berbaju putih itu sudah bangkit berdiri sambil menggenggam sebatang jarum emas, dengan perasaan terkejut segera ia berpikir: "Ruangan batu ini kecil lagi sempit, apabila ia menggunakan jarum emas sebagai senjata rahasia, susahlah buat kami untuk menghindarkan diri" Berpikir sampai di situ, dengan perasaan cemas segera teriaknya: " Kalian berdua tak usah membantu aku, yang penting tangkap dulu nona berbaju putih itu"

"Saudara Ciu, apakah kau menyuruh kami berdua menghadapi seorang gadis lemah yang tak berkepandaian silat itu?" seru lelaki di sebelah kanan dengan nada dingin. Karena harus memecah perhatian untuk berbicara, lelaki cebol itu segera kehilangan posisinya yang menguntungkan sergapan pedang dari Siok bwee dengan cepat memaksa lelaki itu harus menarik kembali ancamannya untuk melindungi diri.

Memanfaatkan kesempatan yang sangat baik itu Hiang lan melepaskan dua tusukan berantai yang memaksa lelaki cebol itu harus mundur selangkah lagi, tak ampun permainan ruyungnya jadi kacau balau.

Keadaan yang amat mendesak ini memaksa dia mau tak mau harus pusatkan kembali perhatiannya untuk menghadapi lawan- Dengan kepandaian silatnya yang tangguh, dua jurus serangan berikut yang dilancarkan amat gencar segera mengembalikan kembali posisinya yang mulai terdesak tadi saat itulah dia berteriak lagi dengan suara cemas: " Hati- hati kalian, bocah perempuan itu hendak menggunakan senjata rahasia"

Dua orang lelaki kekar itu terperanjat serentak mereka berpaling. Benar juga tampak nona berbaju putih itu sudah berdiri sambil menggenggam jarum emas. Apa yang mereka duga kemudian ternyata keliru besar, nona berbaju putih itu tidak mengayunkan jarum emasnya sebagai senjata rahasia, sebaliknya ia malah menusuk bahu sendiri

Tak lama kemudian cahaya merah yang bersinar segera menghiasi wajah nona berbaju putih itu, sinar mata tajam mencorong keluar menggidikkan hati. Terdengar gadis itu berseru sambil tersenyum: "Bantulah aku menangkap si cebol itu"

"Apa?" Dua orang lelaki itu tertegun-

"Aku minta kalian menangkap si cebol itu" Dalam waktu singkat inilah enam mata saling beradu satu sama lainnya, Tiba-tiba saja dua orang lelaki kekar itu merasakan hatinya bergetar keras dan pikirannya jadi kabur.

Dengan langkah yang amat lembut gadis berbaju putih itu berjalan menghampiri kedua orang lelaki tadi, sinar mata yang memancar keluar kelihatan semakin jeli dan tajam.

Seketika itu juga kedua orang lelaki kekar itu merasakan hatinya semakin kalut, Mereka merasa di balik senyuman gadis itu seakan-akan tersimpan daya pengaruh serta kekuatan yang tak terbantahkan, makin lama kesadaran mereka makin memudar lalu pikiran jadi kosong dan tak tahu apa yang mesti diperbuatnya.

Pelan-pelan gadis berbaju putih itu menuding lelaki cebol itu, kemudian perintahnya lagi:

" Cepat tangkap si cebol itu"

Dengan pandangan kosong dua orang lelaki itu mengiakan Tiba-tiba saja golok panjang mereka diayunkan menusuk tubuh lelaki cebol itu. Jarak antara mereka berdua dengan si cebol sesungguhnya dekat sekali, ditambah pula serangan tersebut dilepaskan secara mendadak tanpa pemberitahuan lebih dulu, dan lagi dilancarkan secara berbarengan bisa dibayangkan betapa dahsyatnya ancaman tersebut.

Kendati pun lelaki cebol itu memiliki ilmu silat yang amat hebat pun sulit baginya untuk meloloskan diri dalam keadaan utuh, Tak ampun sambaran golok lelaki di sebelah kiri membabat rontok rambutnya, sementara bacokan golok lelaki di sebelah kanan melukai lengan kanannya.

Lelaki cebol itu betul-betul terperanjat dibuatnya, cepat-cepat dia menarik kembali ruyungnya sambil menghindar sejauh lima depa dari posisi semula, lalu sambil berpaling mengawasi kedua orang rekannya, umpatnya keras-keras: "Kalian berdua sudah gila?"

Dua orang lelaki kekar itu melotot besar-besar, pancaran sinar api penuh rasa benci dan dendam mencorong keluar dari balik matanya sementara biji mata kedua orang itu berhenti bergerak, keadaan mereka tak ubahnya seperti orang kesurupan setan.

Dari cerita orang, si cebol pernah mendengar bahwa dalam dunla persilatan terdapat sejenis ilmu sakti yang bisa membetot sukma orang, semacam ilmu hipnotis, namun selama ini belum pernah ia menyaksikan sendiri. Sekarang setelah melihat keadaan dua orang rekannya itu seakan-akan tak sadar dan sukmanya seperti terbetot, dengan suara keras segera teriaknya lagi: "saudara Long, saudara siang, apakah kalian berdua sudah tidak mengenali diriku lagi?"

Mendadak terdengar gadis berbaju putih itu berseru lagi dengan suara merdu: "Cepat tangkap si cebol itu"

Dua orang lelaki berpakaian ringkas itu sama sekali tak perduli teriakan lelaki cebol itu, sebaliknya ucapan si nona berbaju putih tersebut didengar dengan jelas, Tanpa banyak omong, golok mereka berdua digetarkan menerjang dari kiri dan kanan.

Tampaknya lelaki cebol itu cukup mengetahui kehebatan ilmu silat kedua orang ini. Apabila harus bertarung satu lawan satu tentu saja dia tak perlu takut sebab mereka masih bukan tandingannya, tapi kini kedua orang itu menyerang bersama-sama dengan sikap garang, terpaksa senjata ruyungnya diayunkan ke muka untuk membendung ancaman golok panjang mereka.

Siapa yang tahu begitu bentrokan terjadi serangan yang dilancarkan dua orang lelaki kekar itu semakin gencar dan garang, sepasang golok mereka berputar sambil membacok berulang kali, semua jurus serangan yang digunakan adalah jurus-jurus beradu jiwa. Dalam ruangan batu yang kecil dan sempit ini banyak sekali jurus serangan ampuh yang dimiliki lelaki cebol itu susah dikembangkan keluar. sebaliknya serangan golok dua orang lelaki kekar itu justru banyak menggunakan cara pertarungan jarak dekat, apalagi kerja sama kedua orang itu sangat tangguh, sepuluh jurus kemudian seluruh tubuh lelaki cebol itu sudah terkurung dalam lapisan golok mereka dan semakin keteter hebat.

Lelaki cebol itu memaksakan diri bertahan beberapa gebrakan lagi. Sekarang dia mulai sadar bahwa bila ia tidak berusaha meloloskan diri, niscaya dirinya akan terluka di ruangan tersebut hari ini, Akan tetapi permainan golok kedua orang itu makin lama semakin bertambah cepat, kebetulan sekali mereka berdua pun persis menghadang di depan pintu, hal mana membuat dia tak gampang untuk meloloskan diri.

Dalam suasana yang amat tegang itulah mendadak lelaki di sebelah kiri menggunakan jurus "Semangka manis dibelah tiga" untuk memutar goloknya dan mengancam tiga jurusan di tubuhnya.

Lelaki cebol itu cukup mengenal gerak serangan golok ini, yaitu membacok ke tiga arah di bawah lawan lalu menyambar searah dengan dada, maka dengan menyerempet bahaya dia himpun hawa murninya untuk kemudian melepaskan satu pukulan guna mendesak mundur gerakan golok lawan. Menggunakan kesempatan itu, ia segera melompat ke udara dan menerjang keluar dari ruangan tersebut melewati atas kepala kedua orang rekannya.

Walaupun gerakan tubuhnya ini cukup cepat, tak urung pahanya termakan juga oleh babatan golok rekannya itu. Darah segar segera jatuh bercucuran membasahi lantai

Kedua orang lelaki kekar itu sendiri pun tak bisa bergerak lebih lincah karena kesadaran mereka terkendali Saat ini tak seorang pun di antara mereka yang bertindak untuk menghadang perjalanan lelaki cebol tersebut.

Sambil menuding ke arah mana lelaki cebol itu melarikan diri, gadis berbaju putih itu kembali berseru: "Cepat kejar, bunuh orang itu"

Dua orang lelaki kekar itu nampak agak tertegun, tapi kemudian meluncur keluar dari ruangan untuk melakukan pengejaran.

Gerakan tubuh ketiga orang itu sungguh cepat, dalam waktu singkat bayangan tubuh mereka sudah lenyap dari pandangan.

Memandang hingga ketiga orang itu pergi jauh, Hiang lan baru berseru dengan wajah penuh rasa kagum: "Nona, ilmu silat apakah itu, sungguh hebat " Tapi begitu sorot matanya saling beradu dengan sorot mata gadis berbaju putih itu, tiba-tiba saja perasan hatinya bergetar keras. Nona berbaju putih itu segera mencabut keluar jarum emas dari bahunya, Cahaya merah di wajahnya pun makin menyusut hilang, dengan napas terengah-engah keluhnya: "oooh... aku sungguh lelah. "

Peluh dingin kelihatan bercucuran amat deras, tiba- tiba tubuhnya roboh terjengkang ke belakang, Cepat- cepat Siok bwee menyambar tubuh majikannya sambil berseru: "Nona... Nona "

Tanpa membuang waktu, sepasang tangannya bekerja keras menguruti dadanya. "Enci Bwee, apakah penyakit nona kambuh lagi?" Hiang lan yang sudah sadar kembali buru-buru bertanya.

"Aku rasa nona kelewat capai." Pada saat itu dalam hati kecilnya Hiang lan sedang memikirkan terus ilmu silat aneh yang digunakan gadis berbaju putih itu, yang bukan saja bisa menguasai lawan bahkan bisa memaksa lawan mengikuti perintahnya.

Kini dia sedang berusaha mengatur perkataan agar bisa membujuk majikannya mewariskan kepandaian tersebut kepadanya.

Kendatipun dalam hati kecilnya dia berpikir terus, sepasang tangannya tidak ambil diam. Seperti juga Siok bwee, dia menguruti seluruh tubuh gadis berbaju putih itu dengan seksama.

Sejak kecil gadis ini sudah mengidap sejenis penyakit yang sangat aneh, Pelbagai tabib kenamaan sudah diundang namun tak seorang pun berhasil menyembuhkan penyakitnya itu, maka baik pikiran maupun tubuhnya tak boleh kelewat capai, sekali kelelahan maka dia akan segera jatuh tak sadarkan diri

Kedua orang dayang ini sudah cukup lama mengikuti majikannya, mereka pun sudah sering menjumpai majikannya jatuh pingsan, oleh sebab itu meski perasaan hatinya agak tegang, namun tindak tanduk mereka tak sampai gugup dibuatnya.

Setelah diuruti beberapa saat, pelan-pelan gadis berbaju putih itu sadar kembali, sambil membuka matanya dia menghembuskan napas panjang dan bangkit untuk duduk.

Siok bwee segera berkata sambil menghela napas: "Nona, kesehatan badanmu belum pulih kembali. jangan kelewat banyak bergerak, bagaimana kalau beristirahat sejenak lagi?"

Sambil menghela napas panjang gadis berbaju putih itu menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya: "saat ini keadaan kita amat berbahaya dan kritis sekali, aku tak punya waktu untuk beristirahat lagi. " Setelah bangkit berdiri, dia berjalan menghampiri Lim Han kim, lalu perintahnya: "sekarang buka kain merah yang menyelimuti tubuhnya"

Siok bwee menurut dan segera menanggalkan kain merah yang menutupi tubuh pemuda itu. Tiba-tiba gadis berbaju putih itu menarik napas panjang-panjang, kemudian dengan gerakan cepat ia mencabut keluar kesembilan batang jarum yang menancap di tubuh pemuda itu, kemudian perintahnya lagi pelan: "siok bwee, cepat tepuk jalan darah sin kwan hiat, Ki kun hiat dan ngotong hiat di tubuhnya."

Siok bwee mengiakan dan segera menepuk ketiga buah jalan darah penting di dada pemuda itu.

Pelan-pelan Lim Han kini tersadar kembali sambil duduk dia awasi sekeliling tempat itu sekejap lalu tanyanya: "Di mana kita berada sekarang?"

"Kuburan Liat hu bong"

"Kuburan Liat hu bong.,.? Kuburan Liat hu bong.,.?" "Yaa, sebuah kuburan besar yang terpencil letaknya,

cerita kesetiaannya pada suami sudah lama dilupakan orang."

Diam-diam Lim Han kim mencoba mengatur pernapasannya. Dia merasa semua urat nadi di dalam tubuhnya telah lancar kembali, maka sambil bangkit berdiri katanya lagi: "Kalau betul tempat ini disebut kuburan Liat hu bong, aku percaya letaknya pasti di luar kota si ciu bukan?"

"Tentu saja kuburan Liat hu bong tak mungkin dibangun di dalam rumah makan Kun eng lo"

Mengenang kembali kejadian lampau yang menimpa dirinya, Lim Han kim segera tahu bahwa gadis inilah yang telah menolongnya dan membawa dirinya ke sana, maka katanya kemudian seraya menjura "Terima kasih banyak atas pertolonganmu nona."

"Kau telah menyelamatkan kami bertiga, sekalipun aku telah menyelamatkan jiwa-mu, namun kami tetap masih berhutang dua nyawa kepadamu."

Lim Han kim tak tahan lagi untuk tersenyum, katanya: "Saling tolong menolong dalam dunia persilatan merupakan suatu kejadian yang sangat lumrah, nona tak periu menganggap serius "

Kemudlan setelah berhenti sejenak, dia mengalihkan pokok pembicaraan ke soal, lain, katanya lagi: "Berapa sih jarak tempat ini dengan kota Siu ciu?"

"Tak lebih sepuluh li di luar kota Si ciu"

Lim Han kim segera membungkukkan badannya memberi hormat, "Ilmu silat yang dimiliki ayahmu sangat hebat dan jarang sekali jagoan dalam dunia persilatan dewasa ini yang dapat menandinginya. Apabila nona bisa berjalan seiring dengan ayahmu, maka kau tak periu takut gangguan para cecunguk dunia persilatan lagi."

Membayangkan kembali pertarungannya melawan ayah gadis baju putih itu tempo hari di kuil awan hijau, tanpa terasa pemuda itu bergidik sendiri.

"Kenapa?" tanya nona berbaju putih itu keheranan "Apakah kau pernah bertarung melawan ayahku?"

"Kepandaian silat yang dimiliki ayahmu benar-benar luar biasa hebatnya, aku bukan tandingannya "

"Asal kau mampu menerima satu dua jurus serangannya, kepandaianmu terhitung sudah hebat sekali," timbrung Hiang lan tiba-tiba.

"Kalau hanya satu sampai dua puluh jurus, aku yakin masih sanggup untuk melayaninya."

"Waaah. kalau begitu kau memang luar biasa sekali."

"Harap kalian bertiga baik-baik menjaga diri," ucap Lim Han kim kemudian seraya menjura, "Aku harus segera kembali ke kota siu ciu, semoga berjumpa lagi lain saat." Habis berkata ia segera tinggalkan ruangan itu dengan langkah lebar. "Berhenti" Mendadak gadis berbaju putih itu menghardik

Lim Han kim sudah melangkah keluar dari ruangan itu, tapi ia berpaling juga sambil bertanya: "Apakah nona masih ada petunjUk di dalam kota?"

"Benar."

Gadis berbaju putih itu menggerakkan bibirnya hendak mengucapkan sesuatu, tapi niat tersebut segera diurungkan sebaliknya Hiang lan sudah menegur lebih dulu: "Dia itu seorang lelaki atau perempuan?"

"Dia adalah seorang locianpwee dari dunia persilatan, tentu saja seorang pria"

Tiba-tiba gadis berbaju putih itu menghela napas panjang, katanya: "Rumah makan Kun eng lo sudah tak sesuai untuk ditinggali lagi. jika kau percaya kepadaku, ajaklah kawanmu itu dan sama-sama tinggal disini."

"Kenapa?" tanya Lim Han kim dengan perasaan tergerak,

"Dewasa ini kota si ciu sudah menjadi tempat pertemuan segala jenis jagoan dari seluruh dunia persilatan, baik partai besar maupun perguruan kenamaan hampir rata-rata mengirimkan jagoannya yang terbaik untuk hadir di sana, ibarat datangnya hujan badai, saat ini rumah makan Kun Eng lo sudah menjadi ajang segala pertikaian, segala siasat busuk dan akal licik akan kau hadapi di tempat semaCam itu."

Diam-diam Lim Han kim merasa keheranan, dari mana seorang gadis yang lemah lembut tanpa ilmu silat bisa mengetahui pelbagai macam masalah dalam dunia persilatan?

Tiba-tiba ia teringat kembali dengan peristiwa kepergian Thian hok sang jin tempo hari, agaknya kepergiannya juga menyangkut suatu rahasia besar dunia persilatan begitu rahasianya masalah tersebut sampai Ciu Huang, pendekar nomor wahid dari kolong langit pun tidak mengetahuinya. Tapi kenyataannya gadis lemah ini tahu secara pasti rahasia tersebut, ini menunjukkan bahwa gadis ini memang penuh diliputi kemisteriusan.

"Hei, apa yang sedang kau pikirkan?" Tiba-tiba gadis berbaju putih itu menegur sambil tersenyUm "Merasa heran karena aku mengetahui begitu banyak persoalan dunia persilatan?"

Sesungguhnya memang itulah masalah yang mencurigakan hati Lim Han kim, tapi setelah disingkap sendiri oleh si nona berbaju putih itu, dia malahan merasa rikuh untuk menanyakan lebih jauh. Tanpa terasa dia berpaling dan mengawasi wajah gadis itu lekat-lekat, tampak wajahnya penuh diliputi perasaan penderitaan seakan-akan orang yang baru mendusin dari tidurnya, tapi seperti juga belum sembuh dari penyakit ringan, Badannya begitu lemah tak berkekuatan, namun sepasang matanya yang bulat besar justru penuh mengandung kecerdasan yang luas bagaikan samudra dan sukar diukur dalamnya.

Sambil tersenyum manis kembali gadis berbaju putih itu bertanya: "Kau baru pertama kali terjun ke dalam dunia persilatan?"

Tanpa sadar Lim Han kim mengangguk sekali lagi gadis berbaju putih itu tersenyum, katanya lebih lanjut: "Bila dugaanku tak meleset, kau semestinya sedang memikul suatu tanggung jawab yang berat sekali, kalau bukan dendam berdarah tentu benci karena kehilangan keluarga."

Lim Han kim termangu, pikirnya cepat:

"Walaupun ucapannya tidak benar secara keseluruhan tapi asal-usulku memang masih merupakan satu teka teki, Baik ibu maupun guruku tak pernah menyinggung asal usulku, nama Lim Han kim pun hanya pemberian dari ibuku. Benarkah aku dari marga Lim? Mungkinkah ayah kandungku masih hidup di dunia ini? Kalau memang sudah mati sudah menjadi kewajibanku sebagai putranya untuk menyambangi kuburannya. Tapi sejak aku tahu urusan, belum pernah ibu menyinggung masalah ayah denganku, juga tak pernah melihat beliau pergi menyambangi kuburannya, lalu... apa yang sebenarnya telah terjadi?"

Kumpulan kecurigaan ini bagai gumpalan awan melintas dan mengapung di dalam benaknya, selama belasan tahun ini belum pernah hilang sekejappun. Kini setelah disinggung kembali oleh gadis berbaju putih itu, kecurigaannya semakin terpancing keluar sehingga untuk berapa saat dia jadi gelagapan dan tak tahu apa yang mesti diperbuatnya.

Sambil membenarkan rambutnya yang kusut nona berbaju putih itu menegur lagi: "Benarkah dugaanku itu?"

"Belum tentu benar seratus persen^."

"Tapi sinar matamu memancarkan rasa terkejut dan tercengang yang amat tebal, ini membuktikan bahwa kau telah mengakui bahwa apa yang kukatakan memang betul, kenapa? Buat apa kau membantah terus?"

Diam-diam Lim Han kim menghela napas panjang, pikirnya: "Aaai.,, walaupun tidak tepat sekali, selisih pun tidak terlalu jauh."

Sebetulnya perkataan itu hanya melintas di dalam benaknya, tapi gadis berbaju putih itu seakan-akan sudah mendengarnya secara jelas, Tiba-tiba ia berseru sambil tertawa cekikikan: "Duduklah, bila ada masalah yang sukar dipecahkan, tanyakan saja kepadaku"

"Benar" sela Hiang lan cepat. "Nona kami pandai ilmu perbintangan, ilmu meramal maupun pengetahuan lainnya. Apa bila kau ada masalah yang menyulitkan, utarakan saja kepada nona kami, agar dia mencoba menghitungkan nasibmu."

"Selama hidup aku tak pernah percaya dengan perhitungan nasib."

"Memang tak boleh percaya seratus persen, tapi kau pun tak boleh tidak mempercayainya," sela si nona berbaju putih itu.

"Perkataan nona sangat mengejutkan hati, tampaknya pengetahuanmu benar-benar amat luas."

"Kau terlalu sungkan," nona berbaju putih itu tertawa, "Kau adalah tuan penolongku, sudah sepantasnya apa bila aku berusaha membantumu dengan sepenuh tenaga, membebaskan persoalanmu sudah menjadi kewajibanku bagiku. "

Lim Han kim segera, berpikir: "Gadis ini lemah sekali, tapi perkataannya tajam seperti pisau. setiap patah katanya seperti langsung menghujam hatiku, benar- benar luar biasa "