-->

Pedang Keadilan I Bab 30 : Kereta Hitam Di Depan Kuburan

 
Bab 30. Kereta Hitam Di Depan Kuburan

Kakek ceking berbaju abu-abu itu mendengus dingin, baru saja dia hendak membantah, gadis berbaju putih itu sudah bicara lagi: " Kenapa kau mendengus? Memang betul setiap orang dapat mempelajari ilmu silat, tapi bukan berarti setiap orang mampu mempelajari ilmu silatnya hingga mencapai kesempurnaan yang luar biasa. Di sinilah pentingnya bimbingan guru pandai, tapi bakatlah yang sesungguhnya menempati faktor nomor wahid, Jika kulihat dari susunan tulangmu, meski bukan termasuk kelas rendah, paling banter kau cuma menempati urutan menengah. Dengan bakat seperti ini tak mungkin kau bisa mempelajari ilmu silat tingkat tinggi.,, apa lagi ilmu silat macam Siu-lo-sam-si serta ilmu pedang naga langit "

Suara bicaranya sangat rendah dan lemah, tapi sama sekali tidak teriintas perasaan takut atau ngeri, Setelah menghembuskan napas panjang kembali dia melanjutkan "Apalagi kulihat usiamu sudah tidak terlalu muda, Bila dugaanku tak keliru usiamu pasti jauh di atas empat puluh tahunan, aku rasa agak terlambat untuk mempelajari ilmu Siu-lo-sam-si." Tampaknya manusia berbaju abu-abu itu dibuat takluk oleh penjelasan gadis tersebut, setelah lama termenung ia baru ber-kata: "Tapi paling tidak aku toh bisa mempelajari delapan jurus ilmu pedang naga langit."

"Tidak mungkin-..."

Jawaban si nona yang begitu tegas seketika membuat manusia berbaju abu-abu itu tertegun, "Jadi menurutmu usaha ku selama ini sia-sia belaka...?" teriaknya penuh amarah.

"Inti kehebatan ilmu pedang naga saktijustru terletak pada jurus yang terakhir, yaitu melukai musuhnya dari jarak ratusan langkah dengan pedang terbang, jangan lagi kau, si penciptanya sendiri Lim locian-pwee pun sampai akhir hayatnya belum pernah berhasil menguasai jurus kedelapan dari ilmu pedang naga langit ini secara sempurna, Bayangkan saja sendiri, bakatnya beratus kali lipat lebih bagus dari bakatmu tapi ia gagal menguasai inti kehebatan ilmu pedang tersebut. Jadi, kalau kubilang kau tidak berbakat tentunya jangan kau artikan aku memandang rendah kemampuanmu"

Dengan termangu- mangu dan penuh perhatian manusia berbaju abu-abu itu mendengarkan semua penuturan si nona berbaju putih itu dengan serius. Menunggu sampai gadis itu selesai bicara, dia baru bertanya: "Masa tujuh jurus yang lainpun aku tak sanggup mempelajari?" Sementara itu Lim Han-kim menghela napas di dalam hati, pikirnya: "Ternyata pencipta delapan jurus ilmu pedang naga langit berasal satu marga dengan aku. "

Terdengar gadis berbaju putih itu menyahut sambil menggeleng "Tidak mungkin, jangankan tujuh jurus, satu jurus pun tidak mampu."

"Aaaah, masa iya?" Manusia berbaju abu-abu itu ma kin penasaran "Aku tidak percaya, cobakau terangkan dulu jurus yang pertama."

"Baik jika kau tak percaya silahkan saja dicoba, jurus pembuka ilmu pedang naga langit disebut "Naga sakti Terbang Ke Langit", Angkat pedang tinggi-tinggi menuding ke langit, tubuh bergerak mengikuti gerak pedang, langkah kaki mengikuti posisi Pat- kwa yang dikombinasikan dengan posisi Kio-kiong. Dalam posisi demikian paling sedikit kau mesti melompat satu tombak tingginya ke udara, dengan demikian di saat meluncur turun ke bawah jurus seranganmu baru bisa dirubah menjadi jurus "Naga Air Menyeberangi samudra". Nah, sekarang bayangkan sendiri kemampuan ilmu meringankan tubuhmu, sudahkah mencapai taraf seperti itu di mana tubuh harus melambung ke udara tanpa bantuan benda pijakan tapi Cukup mengandalkan tenaga getaran dari pedang sendiri, Asal kau merasa mampu berbuat demikian kita bisa bicara lebih lanjut." Selama ini manusia berbaju abu-abu itu selalu berdiri menghadang di depan gadis berbaju putih itu, sehingga meski mereka berdua berdiri saling berhadapan namun Lim Han-kim hanya bisa melihat celana si nona berbaju putih itu sebaliknya si nona malah tak pernah tahu akan kehadiran Lim Han-kim di tempat tersebut, Maka sewaktu Lim Han-kim mendengar nama-nama jurus ilmu pedang naga langit yang disebutkan gadis berbaju putih itu ternyata benar, ia jadi terkejut bercampur kaget, pikirnya tanpa terasa: "Ternyata gadis ini bukan bicara ngawur, semuanya memang kenyataan"

Terdengar orang berbaju abu-abu itu bicara lagi: "Aku yakin ilmu meringankan tubuh yang kumiliki sanggup berbuat demikian, sekarang terangkan teori jurus tersebut."

"Kau benar-benar ingin belajar?"

"Salah satu saja dari dua jenis ilmu langka ini sudah cukup membuat setiap orang rela mengorbankan apa pun untuk mendapatkannya, apalagi dua macam ilmu langka tersebut sudah di depan mata, kau anggap aku orang bodoh yang bersedia melepaskan kesempatan baik dengan begitu saja?"

Gadis berbaju putih itu termenung sebentar, katanya kemudian- "Kalautoh kau sudah menduga aku pasti ajarkan ilmu silat ini kepadamu, aku percaya kau tentu sudah membuat persiapan yang matang bukan?" "Nona ada petunjuk apa, katakan saja"

"Kau membawa pedang mestika tidak? Keanehan, keruwetan serta kesaktian delapan jurus ilmu pedang naga langit ini tak mungkin bisa dipelajari hanya dengan mendengarkan saja."

"Lalu mesti bagaimana?"

"Pegang pedangmu dan berdiri di tengah ruangan, Aku bicara apa kau harus praktekkan sesuai dengan ucapanku."

Dari dalam sakunya orang berbaju abu-abu itu mengeluarkan sebilah pisau belati, kemudian tanyanya: "Bagaimana kalau kita gunakan belati ini? Aku tak pernah membawa pedang panjang."

"Yaa apa boleh buat, terpaksa harus terima keadaan, sekarang berdirilah di tengah ruangan sambil perhatikan ko-koat nya"

Tiba-tiba orang berbaju abu-abu itu tertawa dingin, jengeknya: "He he he he... sebelum tengah malam nanti, jangan harap ada orang tiba di sini. Bila kau hendak main gila denganku, maka kaulah yang mencari penyakit buat diri sendiri"

"Kalau kau tak percaya dengan ucapanku yaa sudahlah, toh akupun tidak memiliki kekuatan untuk melawan, bila kau ingin membunuhku lakukan saja segera."

Tiba-tiba orang berbaju abu-abu itu mundur tiga langkah ke belakang sambil mempersiapkan senjata belatinya, katanya kemudian- "Bukankah jurus pertama bernama Naga sakti Terbang Ke Langit?"

Karena dia mundur secara tiba-tiba, maka penghalang antara pemuda itu dengan si nona pun menjadi hilang, Lim Han-kim tak sempat lagi menyembunyikan diri ke balik pintu, empat mata segera saling beradu pandang, Lim Han-kim amat terkesiap. pikirnya: "Eeh, bukankah nona ini adalah si nona yang pernah berjumpa dipondok Lian-im-lu tempo hari?"

Ia kuatir nona itu menjerit secara tiba-tiba sehingga jejaknya ketahuan manusia berbaju abu-abu itu, hawa murninya segera dihimpun ke dalam telapak tangannya dan siap melancarkan serangan.

Rupanya gadis berbaju putih itu cukup tahu situasi, bukan saja tidak menunjukkan sesuatu reaksi, malah dengan tenangnya ia berkata: "Betul, jurus pertama bernama Naga sakti Membumbung Ke Langit, cuma posisi kakimu keliru."

"Posisi kuda-kudaku ini bernama Cu-bo-cun, bisa dipakai untuk semua ilmu silat yang ada di dunia ini, di mana letak kesalahannya?" Gadis berbaju putih itutertawa, "Kau mesti mendengarkan dengan serius, inilah kesempatan baik yang sukar kau jumpai lagi di kemudian hari."

Tergerak hati Lim Han-kim setelah mendengar perkataan itu, diam-diam pikirnya: "Kalau didengar nada bicaranya, jelas akulah yang sedang dimaksudkan-..."

Sementara anak muda itu masih berpikir, manusia ceking berbaju abu-abu itu telah mendengus dingin: "Hmmmm Kau sudah terjatuh ke tanganku, kesempatan apa lagi yang bisa kau tunggu...?"

"Bila ilmu silat yang ada di dunia ini mampu berbanding dengan delapan jurus ilmu pedang naga langit ini. ilmu pedang tersebut bukan ilmu sakti lagi namanya."

"Sudah, sudahlah, cepat kau jelaskan di mana letak kesalahanku?"

"Yang terang memakai Pat-kwa, yang gelap mengandung Kio-kiong, sudah mengerti kau?"

"Tapi bagaimana cara melangkahnya?"

"Huuuuh, kau begini bodoh, sampai kapan ilmu ini baru bisa kau pelajari. "

"Buat apa kau terburu napsu?" jengek orang berbaju abu-abu itu dengan ketus. "Sebulan belum berhasil, kita latih dua bulan. Dua bulan belum berhasil juga kita latih setengah tahun"

"Aku kuatir umurmu tak bisa mencapai setengah tahun lagi, Kalau sampai begini bukankah sayang sekali?"

"Hmmm, sebetulnya kau hendak menjelaskan atau tidak?" hardik orang itu gusar.

"Baiklah, aku segera jelaskan, Kaki kiri mengambil posisi Kan, sedang kaki kanan berdiri pada posisi Tiong- kiong."

Manusia berbaju abu-abu itu menurut, setelah berdiri pada posisi yang dimaksud tanyanya: "sudah betul belum?"

"Betul" Gadis berbaju putih itu tersenyum, "sekarang dengarkan aba-abaku, geser posisi kakimu ke samping "

Dengan pelahan-lahan dia jelaskan sekali lagi posisi langkah Pat-kwa yang mengandung unsur Kio-kiong ini. Dengan penuh semangat orang berbaju abu-abu itu mengikuti aba-aba dan berjalan sesuai petunjuk. Pada mulanya ia bergerak sangat lancar tapi lama kelamaan ia tak menguasai diri lagi, posisinya makin lama semakin kacau.

Dalam gelisah dan cemasnya, peluh mulai bercucuran membasahi seluruh tubuhnya. Akhirnya ia hentikan latihan sambil menyeka peluh yang membasahi jidatnya itu. Belum sempat berganti napas, dengan suara keras gadis berbaju putih itu sudah berteriak lagi: "Hey, kenapa kau cuma berdiri melulu?"

"Posisi kakiku belum mantap bagaimana mungkin bisa bergerak?" jawab orang berbaju abu-abu itu

Sementara Lim Han-kim segera berpikir: " Kalau kau berteriak seperti ini bukankah jejakku segera akan ketauan. "

Terdengar gadis berbaju putih itu berkata lagi sambil tertawa: "Baiklah, sekarang kita mulai berlatih jurus, Pada jurus yang pertama kita harus berdiri tegak dengan semua pikiran dan perhatian terpusat jadi satu. "

Manusia berbaju abu-abu itu benar-benar menuruti petunjuk. Dengan wajah serius dan mata terpejam dia angkat pisau belatinya menghadap ke atas, dengan hawa murni terhimpun ia berdiri tegak. walaupun dia mengenakan topeng kulit pada wajahnya sehingga sukar untuk melihat mimik mukanya, namun ditinjau dari sikapnya yang berdiri serius, bisa disimpulkan bahwa ia memang benar-benar berniat untuk belajar.

"Tangan kiri membuat gerak pancingan dengan pedang di tangan kanan bergerak ke atas menusuk pada posisi empat puluh lima derajat" perintah gadis berbaju putih itu lebih lanjut. Lim Han-kim yang mendengarkan petunjuk tersebut diam-diam merasa terperanjat pikirnya: "Betul sekali, memang inilah perubahan jurus dari ilmu pedang naga langit, darimana gadis ini mempelajarinya?"

Dalam saat itu si nona berbaju putih itu sudah terengah-engah dan mandi peluh ketika selesai memberi petunjuk jurus pertama ilmu pedang naga langit itu sebaliknya si manusia berbaju abu-abu itu meski berlatih mengikuti petunjuk nona berbaju putih itu, namun karena posisi kakinya kurang sesuai maka permainan pedangnya ikut kalut pula.

Perlu diketahui, delapan jurus ilmu pedang naga langit merupakan ilmu maha sakti yang aneh dan rumit dengan perubahan yang tak terhingga, Dengan bakat serta kecerdasan macam si Hakim sakti Ciu Huang pun tak berhasil memahami perubahan gerak jurusnya meski sudah berlatih puluhan tahun, apalagi jika ilmu ini dipelajari orang yang tidak berbakat, otomatis jurus tersebut mustahil bisa dipelajari dalam waktu singkat.

Tampaknya orang berbaju abu-abu itu mulai sadar akan kemampuan sendiri yang terbatas dan tak mungkin bisa menghapal teori jurus itu. Meski dapat diingat pun mustahil jurus itu bisa dipelajarinya dalam waktu singkat

. Maka sambil menarik kembali pisau belatinya ia berkata: "Sebetulnya aku berniat mempelajari delapan jurus ilmu pedang naga langit dalam waktu tiga hari kemudian mempelajari ilmu Siu-lo-sam-si dalam empat hari sehingga dalam waktu singkat kepandaian silatku berlipat ganda, tapi kalau dilihat keadaannya saat ini, rasanya tak mungkin aku akan berhasil dalam waktu tujuh hari saja."

"Yaa, salahmu sendiri, kenapa kau begitu goblok"

Orang berbaju abu-abu itu tertawa dingin. "Sekarang penilaianku telah keliru, mau tak mau aku

mesti merubah taktikku, sekarang juga aku akan siapkan sebuah kereta kuda dan membawamu pergi meninggalkan tempat ini. Kita cari sebuah tempat yang terpencil dan sepi untuk mempelajari kedua macam ilmu sakti tersebut, dengan begitu meski membutuhkan banyak waktu pun tak menjadi masalah."

"Kalau mampu, sekali coba pasti ada hasilnya, Tapi kalau gagal, selamanya tetap gagal, biar kau belajar sampai mati pun jangan harap kau berhasil menguasai kedua jenis ilmu tersebut"

"Sudah, kau jangan banyak bicara lagi" tukas orang berbaju abu-abu itu naik darah. "Sekalipun hanya mempelajari kulit luarnya saja, aku tetap akan berusaha mengetahui rahasia ilmu ini."

Selesai bicara ia segera menotok jalan darah nona berbaju putih itu dan berlalu dari situ dengan langkah lebar, Ketika mendengar orang itu akan keluar mempersiapkan kereta, Lim Han-kim segera menyelinap ke belakang pintu dan menyembunyikan diri rapat-rapat, Menunggu hingga orang berbaju abu-abu itu sudah pergi, ia baru munculkan diri dengan langkah pelahan.

Waktu itu si nona berbaju putih itu masih berbaring di atas pembaringannya dengan mata terbelalak lebar mengawasi Lim Han-kim tanpa berkedip. Walaupun jalan darahnya tertotok sehingga ia tak mampu bicara, tapi matanya mengawasi terus pemuda itu lekat-lekat.

Lim Han-kim mencoba memperhatikan nona berbaju putih itu sekejap. ia merasa betapa cantiknya nona itu, dari atas sampai ke bawah tak ada cacad sedikitpun.

Satu-satunya cacat yang dimiliki hanya paras mukanya yang pucat pasi serta badannya yang agak kurus.

Setelah memperhatikan secara teliti jalan darah si nona yang tertotok. Ia pun mengayunkan tangannya menepuk bebas totokan nadi itu, Gadis berbaju putih itu segera menghembuskan napas panjang dan bangun terduduk. Lim Han-kim dapat melihat peluh yang lamat- lamat membasahi wajahnya, untuk bangkit dari tidurnya itu rupanya si nona telah menggunakan segenap tenaga yang dimilikinya.

Melihat kejadian itu segera pikirnya di dalam hati: "Kesehatan nona ini sangat jelek. tubuhnyapun amat lemah, tapi heran, kenapa ia bisa menguasai ilmu pedang naga langit yang begitu sakti dan ruwet itu?"

Karena ada yang dipikirkan, untuk sesaat pemuda itu hanya berdiri termangu-mangu tanpa bicara, sambil tersenyum nona berbaju putih itu segera menegur: "Kau benar-benar tak tahu aturan"

Lim Han-kim kembali pikirnya: "Yaa... caraku memperhatikan dia memang amat tak sopan. " Buru-

buru dia mundur dua langkah sambil serunya: "Aku...

aku. "

Setelah menyeka peluh dijidatnya nona berbaju putih itu menyela: "Sebentar lagi orang itu bakal muncul kembali di sini, Kalau kau tidak segera pergi, jejakmu tentu akan segera ketahuan."

"Nona jangan salah paham, aku tidak ada niat berdiam lebih lama lagi di sini. "

Sesudah berhenti sejenak. kembali lanjutnya: "Situasi nona saat ini amat kritis dan berbahaya, perlukah bantuan dariku. "

"Kenapa kau ingin menolongku? setelah menolong, imbalan apa yang kau minta dariku?" tukas si nona cepat. "Menolong karena kebetulan melihat bukan suatu pekerjaan yang amat mulia. Kau tak perlu memberi imbalan kepadaku atas pertolongan ini."

"Selama hidup aku paling segan hutang budi kepada orang lain,jika kau enggan terima imbalan, aku pun tidak berani mengharapkan pertolongan dan bantuanmu."

Kembali Lim Han-kim berpikir: "Nona ini amat tinggi hati, bertolak belakang sekali dengan kondisi tubuhnya yang begitu lemah, tapi aku telah melihat sendiri kejadian ini, masa aku mesti berpeluk tangan belaka...?"

Untuk berapa saat pemuda itu jadi kebingungan dan tidak tahu apa yang mesti diperbuat Di saat ia masih berdiri sangsi itulah, mendadak terasa segulung tenaga pukulan yang amat tajam menyergap tiba dari belakang, sergapan itu datang tanpa menimbulkan suara, namun kekuatan penghancurnya maha dahsyat.

Ketika Lim Han-kim merasakan datangnya ancaman tersebut, tenaga penghancur telah berada dekat sekali dengan tubuhnya. Berbicara soal ilmu silat yang dimiliki Lim Han-kim saat ini, kendati pun dia mesti menghadapi serangan dadakan, namun bukan hal yang sulit baginya untuk menghindarkan diri, paling tidak ia masih mampu meloloskan diri dari serangan telak sergapan maut itu.

Tapi sebelum ia menggeserkan tubuhnya, tiba-tiba satu ingatan melintas di dalam benaknya, ia merasa berdirinya saat ini persis di hadapan si nona berbaju putih itu, artinya apa bila ia menghindari diri kesamping, maka tak ampun sergapan maut itu pasti akan menghajar tubuh gadis berbaju putih itu dengan telak.

Begitu ingatan tersebut melintas, hawa murninya segera dihimpun untuk menyongsong sergapan tersebut dengan keras lawan keras. "Blaaammmm. . . "

Benturan yang kemudian terjadi amat memekikkan telinga, Lim Han-kim merasakan pandangan matanya berkunang-kunang, tak kuasa lagi ia terjerumus maju ke muka sambil muntahkan darah segar. Begitu kerasnya tumpahan itu hingga darah segar tersebut menodai badan si nona.

Tampak sesosok bayangan manusia melompat masuk. disusul kemudian tangannya diayunkan ke bawah menghajar jalan darah Mia-bun-hiat dipunggung anak muda tersebut.

Di saat ujung telapak tangan orang itu hampir menyentuh punggung, Lim Han-kim, mendadak pemuda itu menekan permukaan ranjang dan tiba-tiba badannya jumpalitan ke udara, menggunakan kesempatan tersebut tangan kanannya melepaskan satu pukulan balasan. "Blaaammmm. . . "

Sekali lagi terjadi benturan keras yang memekikkan telinga, sambil sempoyongan Lim Han-kim mundur beberapa langkah sebelum berdiri tegak. sebaliknya tubuh sipenyerang tergetar mundur sejauh tiga langkah oleh tenaga benturan lawannya.

Agaknya dalam bentrokan terakhir ini masing-masing pihak telah menggunakan seluruh kekuatan yang dimilikinya sehingga untuk sesaat mereka sama-sama tak sanggup melancarkan serangan berikut. Beberapa saat lamanya mereka hanya mampu berdiri berhadapan saja. 

Lim Han-kim memaksakan diri untuk mengatur napas dan mengendalikan gejolak hawa darah di dalam dadanya, setelah itu ia mencoba memperhatikan sipenyerang itu dengan lebih seksama, perasaan hatinya segera bergetar keras.

Orang itu adalah seorang lelaki kekar berusia empat puluh tahunan, alis matanya tebal dan matanya besar, ternyata orang ini bukan manusia berbaju abu-abu yang ceking dan kecil itu.

Kedua belah pihak pun saling berhadapan tanpa mengucapkan sepatah kata. Masing-masing sedang berusaha memanfaatkan waktu dan kesempatan yang ada untuk secepatnya memulihkan tenaga dan kekuatan. Dalam suasana yang amat tegang inilah, mendadak Lim Han-kim merasa punggungnya ditotok orang, tenaga totokan itu lemah sekali tapi tempat yang tertotok justru merupakan jalan darah yang mematikan. Apa bila tenaga yang dipakai untuk menotok itu sedikit lebih kuat, niscaya Lim Han-kim akan menderita luka parah padahal pemuda itu tahu di belakangnya tiada orang lain kecuali gadis berbaju putih itu, hawa amarahnya kontan saja berkobar.

Baru saja dia hendak mengumbar hawa amarahnya, mendadak terdengar gadis berbaju putih itu berbisik: "Cepat turun tangan, ia sudah terluka."

Lim Han-kim segera berpikir: "Mungkin luka yang kuderita jauh lebih parah ketimbang dia, tapi aku percaya ia tentu tak mampu membendung gempuranku dengan tenaga penuh."

Berpikir begitu, dia segera maju menghampiri lelaki kekar itu Dalam saat itu lelaki kekar tersebut telah mengangkat telapak tangan kanannya siap melancarkan serangan, dengan sepasang matanya yang tajam dia awasi lawannya tanpa berkedip.

Terdengar gadis berbaju putih itu berteriak lagi: "Masuk posisi Tiong-kiong menerjang ke muka, paling tidak kau bisa memaksakan keadaan seimbang atau sama-sama luka"

"Bagus sekali" batin Lim Han-kim. "Kau sudah tahu isi perutku luka parah dan keadaanku kritis, tapi kau memaksa aku beradu nyawa, Hati perempuan paling jahat, tampaknya ucapan ini memang benar." Meski ia memaki, keadaan sudah terlanjur. Berhubung telapak tangannya sudah diangkat siap melancarkan serangan, sedang pihak lawanpun sudah mempersiapkan serangan balasan, mau tak mau dia harus mengikuti petunjuk gadis itu dengan mendesak masuk. ke posisi tengah lalu melepaskan satu pukulan dengan jurus "Mengancam Langsung Pada Sasaran"

Tangan kanan si lelaki kekar yang sudah diangkat secepat kilat ditolak pula ke depan-..."

"Blaaammmm. . . "

Sekali lagi dua orang itu saling beradu kekerasan hingga menimbulkan suara yang memekakkan telinga, Waktu itu Lim Han-kim berada dalam kondisi luka parah, setelah terjadinya bentrokan ini, ia merasakan hawa panas di dalam tubuhnya menggelora keras, pandangan matanya berkunang-kunang dan tubuhnya mundur dengan sempoyongan sebaliknya lelaki kekar itu pun mendengus tertahan, dengan langkah sempoyongan cepat-cepat ia putar badan dan melarikan diri dari situ.

Lim Han-kim memaksakan diri menghimpun tenaga murninya untuk menenangkan hawa darahnya yang menggelora, setelah itu ia berpaling, Tampak olehnya gadis berbaju putih itu masih berdiri dengan wajah terkejut, namun sekulum senyum telah menghiasi ujung bibirnya. "Tak nyana hasil bentrokan ini jauh lebih baik daripada apa yang kuduga semula." katanya lembut.

"Hmmm,.. hmmm... kau anggap luka yang kuderita kelewat ringan?" seru Lim Han-kim sambil tertawa dingin.

Gadis berbaju putih itu menghela napas panjang. "Aaaai.,. Kau terluka parah lebih dulu bahkan isi

perutmu yang terluka, sebaliknya orang itu hanya menderita gejolak hawa darahnya lantaran tenaga pukulan balasanmu kelewat kuat dan dahsyat. Meskipun taraf tenaga dalam yang dia miliki sedikit agak seimbang dengan kemampuanmu tapi luka yang kau derita akibat menerima pukulan tadi dengan kekerasan demi keselamatan jiwaku cukup parah. Dalam situasi macam begini, pertarungan kilat justru lebih menguntungkan posisimu, sebaliknya jika mengulur waktu, maka keadaanmu semakin tidak menguntung kan sekali kau kehilangan tenaga dalam yang terhimpun maka kita hanya menanti saat datangnya ajal saja "

Diam-diam Lim Han-kim merasa terperanjat pikirnya: "Jika orang melihat tubuhnya yang lemah dan wajahnya yang pucat pasi, Siapa saja tak akan percaya kalau dia memiliki ilmu silat, tapi kenapa ia menguasai benar rahasia ilmu pedang naga langit serta rahasia ilmu mengatur pernapasan. " Terdengar gadis berbaju putih itu berkata lebih jauh: "orang itu hanya membutuhkan sedikit waktu untuk mengatur pernapasan maka kondisi tubuhnya akan pulih kembali seperti sedia kala, lain dengan keadaanmu, isi perutmu terluka parah yang mustahil bisa disembuhkan dalam waktu singkat. Menunggu sampai hawa murnimu sudah buyar baru ia melepaskan sergapan, maka waktu itu kau tak akan memiliki kekuatan lagi untuk menangkis atau melawan dan sudah pasti jiwamu akan celaka.

Daripada menanti kematian kan lebih baik kita manfaatkan peluang sebelum hawa murninya pulih kembali, kita ambil resiko adu nyawa dengannya. Betul lukamu cukup parah tapi untuk menghadapi orang yang berada dalam kondisi labil akibat hawa amarah yang bergejolak. dalam dugaanku hasil akhir tentu sama-sama terluka, tapi kenyataannya sekarang kondisimu jauh lebih baik daripada apa yang kuduga, kau masih mampu mempertahankan diri..."

Lim Han-kim menghembus kan napas panjang, ia mundur beberapa langkah dan sandarkan tubuhnya pada dinding sambil pejamkan mata. Hawa murninya mulai diatur untuk menekan gejolak hawa darah di dalam dadanya, lukanya saat ini parah sekali, ia sudah tak mampu mendengarkan perkataan gadis berbaju putih itu dengan seksama.

Dengan sinar mata yang tajam gadis berbaju putih itu mengawasi Lim Han-kim lekat-lekat, berapa saat kemudian ia menyeka peluh yang membasahi jidatnya lalu pelan-pelan turun dari pembaringan dan langsung menghampiri anak muda tersebut, Lim Han-kim tetap memejamkan matanya rapat-rapat, dia seakan-akan tidak menyadari atas kehadiran gadis tersebut.

Setelah berada dekat dengan Lim Han-kim, tiba-tiba gadis berbaju putih itu mengayunkan tangan kirinya langsung menotok jalan darah Tiong-ji-hiat di tubuh anak muda itu.

Dalam kondisi terluka parah, Lim Han-kim sudah tak sanggup mengerahkan tenaga untuk melawan, ditambah lagi serangan tersebut sangat mendadak dan sama sekali di luar dugaan-tak ampun jalan darahnya langsung tersodok secara telak, seketika itu juga ia merasa sekujur badannya kaku dan roboh terjungkal ke atas tanah.

Agaknya totokan itu sudah menggunakan seluruh tenaga yang dimiliki gadis berbaju putih itu, maka di saat Lim Han-kim roboh tertotok. dia sendiri pun dibuat kecapaian hingga peluh jatuh bercucuran, badannya mundur empat-lima langkah dengan sempoyongan dan baru berhenti setelah bersandar pada pembaringan.

Kalau berada dalam kondisi biasa, totokan sepenuh tenaga ini pasti akan memelantingkan badannya ke tanah, tapi situasi saat ini berbeda sekali. Dalam keadaan kritis dan berbahaya, otomatis timbul tenaga ekstra dalam tubuhnya hingga dia cuma terpental mundur saja. Begitulah, setelah mengatur pernapasan sejenak kembali gadis itu melangkah maju ke muka. Kedua orang dayang kecilnya masih berbaring di ruang tengah dengan mata terpejam rapat.

Dengan teliti gadis berbaju putih itu memeriksa sekujur badan dayang-dayangnya, lalu secara tiba-tiba ia lepaskan satu tendangan keras. Dayang kecil yang kena tendangan itu segera menggerakkan tubuhnya dan tiba- tiba melompat bangun.

"Cepat totok bebas jalan darah Siok-bwee" titah gadis berbaju putih itu sambil menyeka air keringatnya.

Dayang kecil berbaju hijau itu mengiakan, tangan kanannya segera bergerak cepat menotok bebas jalan darah rekannya.

Melihat dua orang dayangnya sudah sadar, tiba-tiba saja nona berbaju putih itu merasakan semangat yang menopang badannya menjadi buyar, ia segera mundur dengan tubuh sempoyongan.

"Nona..." Dua orang dayang berbaju hijau itu menjerit kaget sambil menubruk ke muka dan masing-masing memayang lengan majikannya.

Gadis berbaju putih itu menghembus kan napas panjang, katanya kemudian- "Mari kita segera berangkat." "Nona" seru dua orang dayang kecil itu dengan wajah tertegun, "Kita sudah berjanji dengan nyonya untuk berjumpa di tempat ini, kita tak boleh sembarangan meninggalkan tempat ini."

"Jejak kita sudah ketahuan musuh saat ini kalau kita ngotot tinggal di sinu maka sedetik lebih lama di tempat ini sama artinya sedetik lebih banyak menghadapi bahaya."

Kemudian setelah berhenti sejenak. lanjutnya: "Siok- bwee, cepat siapkan kereta, tunggu aku di lorong kecil pintu belakang"

Dayang berbaju hijau yang bernama siok-bwee segera menyahut dan berlalu dari situ.

Setelah beristirahat sebentar dengan bersandar pada dinding, semangat dan tenaga nona berbaju putih itu sudah jauh lebih baik, dia menghela napas panjang,

"Hiang-ian" ujarnya, "Tahukah kalian, kita sudah hidup untuk kedua kalinya di dunia ini?"

"Budak sekalian pantas mati, gara-gara ketidakbecusan kami membuat nona harus tersiksa batin," sahut Hiang-lan dengan wajah menyesal. Kembali nona berbaju putih itu menghela napas. "Kalian belum pernah berkelana di dalam dunia persilatan, darimana kalian bisa tahu akan tipu muslihat orang-orang dunia persilatan?"

Usia Hiang-lan tidak lebih cuma lima-enam belas tahunan, sifat kekanak-kanakannya belum hilang, sampai detik itu pun ia masih belum tahu secara jelas apa yang telah terjadi hingga menyebabkan ia jatuh pingsan. Maka setelah memperhatikan sekeliling tempat itu sekejap. katanya: "Tadi, budak dan adik siok-bwee sedang bergurau di ruang tamu, tiba-tiba saja kami mengendus bau yang harum sekali, setelah itu kesadaran kami hilang, tapi sesaat sebelum pingsan aku seperti mendengar adik siok-bwee menjerit keras."

"ltulah yang dinamakan dupa pemabuk" Gadis berbaju putih itu menjelaskan sambil menghela napas.

"Nona amat pintar, tiada persoalan di dunia ini yang tak bisa kau lakukan, budak yakin nona juga bisa membuat dupa pemabuk bukan?"

Nona berbaju putih itu tidak menggubris Hiang-Lan lagi, sambil bersandar pada dinding ia mulai pejamkan mata sambil beristirahat.

Walaupun sifat kekanak-kanakan Hiang-lan belum lenyap, namun sikapnya terhadap gadis berbaju putih itu sangat menghormat Ketika melihat majikannya sudah pejamkan mata beristirahat dia pun tak banyak bicara lagi, Dengan penuh ketekunan ia menguruti punggung dan dada nona berbaju putih itu.

Tak selang beberapa saat kemudian, Siok-bwee telah muncul dengan langkah tergesa-gesa, kepada gadis berbaju putih itu bisik-nya: "Kereta telah disiapkan, kita bisa segera berangkat."

"Cepat kalian bereskan semua perbekalan kita." perintah si nona sambil membuka matanya.

Siok-bwee lari masuk ke ruang dalam, tapi sekejap kemudian sudah muncul kembali dan berseru dengan keheranan: "Nona, dalam ruangan tergeletak seorang pemuda "

"Aku sudah tahu, sekalian bawa dia pergi. Bungkus dulu badannya dengan kain kemudian naikkan ke atas kereta."

Siok-bwee tak berani bertanya lagi dan masuk kembali ke ruang dalam, Dengan kain ia bungkus tubuh Lim Han- kim lalu digotong keluar dari ruangan itu, sedang Hiang- lan dengan tangan sebelah membawa buntalan yang ringkas, tangan kiri menggandeng tangan nona berbaju putih itu berangkat meninggaikan rumah makan Kun- eng-lo. Pintu belakang rumah makan Kun-eng-lo adalah sebuah lorong kecil yang sepi dan terpencil, sebuah kereta berkerudung kain hitam sudah siap di sana.

Siok-bwee segera masukkan tubuh Lim Han-kim ke dalam kereta, kemudian setelah menaikkan tubuh majikannya, tirai kereta segera diturunkan, sementara dia sendiri segera mengenakan jubah panjang dan topeng kulit sebelum melarikan kudanya meninggalkan tempat tersebut.

Dengan cepat kereta itu lari ke luar dari lorong menuju kejalan raya yang ramai, tampak manusia berlalu lalang amat ramai, di situ, banyak di antaranya berdandan sebagai jagoan dari dunia persilatan.

"Nona, kita hendak ke mana?" bisik Siok-bwee tiba- tiba.

" Larikan kereta ke luar dari kota, langsung menuju ke tanah pekuburan Liat-hu-bong"

Siok-bwee tercengang, pikirnya tanpa terasa: "Tanah kuburan Liat-hu-bong? Mau apa ke sana? Tempat itu sepi, terpencil dan menyeramkan. " walaupun pelbagai

kecurigaan menumpuk dalam hatinya namun dayang ini tak berani banyak bertanya, cambuknya segera diayunkan dan membawa kereta itu menuju ke tempat pekuburan Liat-hu-bong. Tanah pekuburan itu terletak tujuh delapan li dari kota besar si-ciu, dan merupakan sebuah tanah pekuburan yang besar sekali. Konon pada ratusan tahun berselang seorang nyonya dari keluarga Tong yang cantik sekali, suatu hari suaminya mati karena menderita sakit parah dan meninggalkan harta kekayaan dalam jumlah amat banyak. Para familinya mulai mengincar kekayaan tersebut dan menfitnah nyonya cantik ini menyeleweng dengan orang lain, karena itu si nyonya dipaksa untuk kawin lagi.

Dalam gusarnya nyonya itu segera mendirikan sebuah kuburan besar di depan kuburan suaminya dan mengubur diri hidup-hidup di situ, sejak kematian nyonya cantik itu, setiap menjelang tengah malam konon dari balik kuburan itu selalu terdengar suara tangisan perempuan yang amat memedihkan hati. Karena takut dan ngeri akhirnya para famili nyonya itu mendirikan sebuah kuburan yang besar dan megah di tempat tersebut dan setiap tanggal satu serta lima belas, selalu datang menyambangi dan mendoakan arwahnya. sejak itu pula suara tangisan di tengah malam konon tak pernah kedengaran lagi.

Gara-gara peristiwa itulah, kuburan perempuan suci ini menjadi amat termashur sampai ratusan li dari kota si- ciu, tapi kemudian karena terjadi banyak peperangan dan lagi para familinya mulai bubar satu persatu, pada akhirnya kuburan itu jadi terbengkalai dan tak terawat lagi.

Begitulah, kereta itu berjalan makin mendekati kuburan perempuan suci. suasana di sekitar tempat itu pun mulai sepi dan liar, orang yang berpapasan dijalan pun makin jarang sampai akhirnya kereta itu mulai menelusuri jalan setapak yang amat sempit.

Lebih kurang dua li kemudian sampailah kereta itu di komplek tanah pekuburan Liat-hu-bong, Siok-bwee menghentikan keretanya sambil melompat turun, dia coba mengawasi keadaan di sekeliling sana. Tampak semak belukar tumbuh liar dan lebat, sebuah kuburan yang tinggi besar mencuat, menyolok di antara kerumunan rumput ilalang serta pepohonan cemara.

Tak kuasa lagi Siok-bwee bergidik, bulu kuduknya tanpa terasa pada bangun berdiri, setelah menghembuskan napas panjang bisiknya pelan: "Nona, kita sudah sampai di kompleks tanah pekuburan Liat-hu- bong" sambil berkata ia menyingkap tirai pintu kereta.

Hiang-lan melongok ke luar lebih dulu, tapi ia segera bergidik setelah menyaksikan keadaan di sekelilingnya, tanpa terasa ia berseru: "Aaduh... sungguh sepi dan menyeramkan tempat ini"

Pelan-pelan nona berbaju putih itu menggeser tubuhnya, setelah memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, ia menuding ke arah sebelah kanan kompleks tanah pekuburan itu sambil berkata: "Mari kita ke sana"

Di luar Siok-bwee mengiakan, padahal dalam hati kecilnya bergidik, dia segera mengayunkan cambuknya lagi melarikan kereta kudanya ke arah yang ditunjuk.

Tampaknya tanah pekuburan Liat-hu-bong ini sudah lama tak pernah dijamah manusia, rumput ilalang tumbuh sambung menyambung setinggi dada. selama menelusuri padang ilalang tersebut kuda penarik kereta itu meringkik panjang tiada hentinya. Di tengah suasana hening dan menyeramkan yang mencekam tanah pekuburan tersebut, ringkikkan kuda yang berkepanjangan ini membuat suasana di tempat itu terasa lebih mengerikan.

Jarak antara pekuburan dengan tempat di mana kereta itu berhenti pertama kali tadi hanya berjarak tujuh delapan kaki, namun mereka membutuhkan waktu sampai sepeminuman teh lamanya untuk mencapai tempat tujuan. setelah mendekat, semua orang baru melihat adanya sebuah bangunan rumah batu yang dibangun persis di sisi kuburan tersebut.

Bangunan rumah batu itu kokoh sekali, meskipun sudah berusia lama namun tidak sampai roboh dimakan usia, Kecuali pintu serta jendela yang lapuk karena terbuat dari kayu, dinding maupun atap rumah masih tetap utuh dan kokoh, hanya saja pada lantai ubin sudah dipenuhi lumut sedang kamar pun ditumbuhi rumput liar.

"Sepi dan hening benar tempat ini," bisik nona berbaju putih itu setelah menghembuskan napas panjang.

Siok-bwee yang berusia agak tua segera dapat menangkap maksud ucapan gadis berbaju putih itu. ia tahu majikannya punya rencana untuk tinggal di rumah batu di sisi kuburan ini. Diam-diam ia jadi ngeri bercampur seram, pikirnya: "Tempat ini sepi dan menyeramkan, tak ubahnya macam kota setan, masa nona bermaksud tinggal di sini dalam jangka waktu panjang "

Sementara ia masih termenung, gadis berbaju putih itu sudah berkata lagi dengan suara rendah: " Cepat gotong orang ini menuju ke ruang batu"

"Aduh celaka" Kembali Siok-bwee berpikir, "Tampaknya ia benar-benar berniat tinggal di sini." Tapi dayang ini tak berani membantah, segera dibopongnya tubuh Lim Han-kim dan masuk ke ruang batu.

"Nona, apakah kita hendak berdiam di sini?" tanya Hiang-lan kemudian agak bimbang.

"Ehmmm. Cepat bimbing aku turun dari kereta." Dengan termangu-mangu Hiang-lan membimbing gadis berbaju putih itu turun dari kereta dan masuk ke dalam ruangan.

Sambil berjalan tanyanya lagi lirih: "Tempat ini menyeramkan sungguh menakutkan tinggal di rumah setan seperti ini, nona... apakah kita hendak tinggal di sini?".

"Apa yang kau takuti?" tegur si nona sambil tersenyum.

"Setan.."

Saat itulah segulung angin dingin berhembus lewat mengibarkan ujung baju mereka berdua, tanpa terasa Hiang-lan bergidik. "Nona benarkah, di dunia ini ada setan?" bisiknya.

"Aaah, siapa bilang? Tidak ada" sementara pembicaraan masih berlangsung, mereka sudah masuk ke dalam ruangan.

Nona berbaju putih itu memperhatikan Lim Han-kim sekejap. lalu sambil duduk di sisinya ia, berbisik kepada Siok-bwee: "Cepat lepaskan kuda-kuda itu dari ikatan kereta, hancurkan kereta dan giring masuk kuda itu ke dalam ruangan."

"Bagaimana dengan barang-barang dalam kereta?" tanya Siok-bwee dengan, bulu kuduk pada berdiri "Sekalian bawa masuk ke dalam ruangan ini."

Siok-bwee mengiakan dan melangkah ke luar, melepaskan kuda dari kereta, mencabut pedangnya dan menghancurkan kereta.

Gadis berbaju putih itu segera menitahkan kedua orang dayangnya mengumpulkan kayu-kayu bekas kereta dan diangkut masuk ke dalam ruangan, setelah memandang kuda itu sekejap katanya lagi: "Kuda ini tetap hewan, kalau dibiarkan tetap tinggal di sini mungkin malah akan mengacau urusan kita, lebih baik dilepas saja"

"Nona, kita bermaksud tinggal berapa lama di sini?" seru Hiang-lan dengan perasaan terkejut.

"Sukar dikatakan, mungkin cuma tiga sampai lima hari, tapi mungkin juga sepuluh hari sampai setengah bulan."

Sekali lagi Hiang-lan mengawasi sekejap sekeliling tempat itu, lalu katanya lebih jauh: "Apa bagusnya tempat ini, mana terpencil sepi, menyeramkan lagi, sekalipun nona tak takut setan, masa kita tak perlu makan?"

"Apa salahnya kita masak sendiri?"

Hiang-lan merasa tempat itu amat menyeramkan hawa setan seolah-olah menyelimuti semua tempat, kalau suruh dia tinggal berapa hari berapa malam saja sudah susahnya setengah mati, apalagi sampai setengah bulan, tak kuasa lagi hawa bergidik menyelinap ke dalam dadanya. "Tapi... mana kualinya? Mana dapurnya? Mana beras, kecap. gula, garam dan peralatan makan..?"

Tapi tiba-tiba ia merasa ucapannya kelewat batas, maka cepat-cepat mulutnya membungkam kembali

Gadis berbaju putih itu benar-benar memiliki jiwa yang besar, ia tidak mau ribut dengan dayangnya itu, malah katanya sambil tersenyum: "Sebetulnya barang-barang macam itu bukan barang aneh yang susah dibeli, sebentar pergilah bersama Siok-bwee ke dusun terdekat membeli barang-barang keperluan itu."

Hiang-lan tak berani membantah lagi, dia alihkan pandangannya ke arah lain, kebetulan yang dilihat adalah gundukan tanah kuburan yang tinggi besar dengan rumput ilalang yang tumbuh liar, tak kuasa lagi hatinya semakin bergidik, diam-diam ia mengomel dalam hati: "Di kota si-ciu toh banyak rumah penginapan, kenapa mesti memilih tempat setan macam ini...?"

Usia Siok-bwee jauh lebih tua daripada rekannya, meski dalam hati kecilnya merasa takut, namun dia tak ingin banyak bicara, Rupanya gadis berbaju putih itu dapat menebak isi hati dua orang pembantunya ini, sambil tersenyum ujamya: "Aku lihat wajah kalian sangat murung dan susah, apakah kamu berdua benar-benar takut setan?"

"Kalau nona tidak bertanya, budak pun tak berani banyak bicara, Tapi sejujurnya kukatakan, tempat ini kelewat terpencil dan seram. Rasanya kurang sesuai bagi kita kaum wanita, ditambah lagi kesehatan nona amat lemah dan tak tahan angin dingin, kenapa kita mesti menyiksa diri tanpa guna.,.?" Gadis berbaju putih itu segera tersenyum.

"Rasanya lebih baik jatuh sakit bukan ketimbang ditangkap orang dan melewati kehidupan tanpa kepastian mati hidupnya..."

Setelah mengatur napasnya yang tersengal-sengal, lanjutnya: "Kalian tak usah banyak bicara lagi, sudah kuputuskan untuk tinggal di sini"

Dua orang dayang itu benar-benar tak berani banyak bicara lagi, mereka membungkam diri dalam seribu basa. Pelan-pelan nona berbaju putih itu bangkit berdiri dengan tangan kanan memegangi bahu Hiang-lan dia awasi kuburan raksasa itu seraya bergumam sendiri: "Aaai... seandainya kita bisa membuka sebuah tempat persembunyian di tengah lingkaran rumah ilalang yang amat tinggi dan lebat itu, persembunyian kita pasti akan lebih hebat." "Nona, apakah kita akan tinggal di dalam lubang tanah?" tanya Hiang-lang semakin bergidik,

Sambil tertawa nona berbaju putih itu menggelengkan kepalanya berulang kali, ujarnya: "Tentu saja tidak.

Maksudku kalau kita bisa membangun sebuah rumah pondokan di tengah lingkaran rumput ilalang itu, maka susahlah orang lain menemukan jejak kita."

Hiang-lan mengiakan berulang kali sementara hati kecilnya benar-benar merasa bergidik, pikirnya: "Berdiam di ruang batu ini saja sudah menggidikkan hati, masa kami benar-benar harus tinggal di liang kubur...?"

Sementara itu si nona berbaju putih itu sudah mengangkat kepalanya melihat waktu, lalu kepada Siok- bwee katanya: "Waktu sudah makin larut, cepat bebaskan kuda itu..."

Siok-bwee menyahut dan berlalu sambil menggiring kudanya, Dengan suara keras nona berbaju putih itu berteriak lagi: "Ingat, jejakmu mesti rahasia, jangan rampai orang lain mengetahui tempat persembunyian kita"

Memandang Siok-bwee yang semakin menjauh, Hiang- lan merasa hatinya tak tentram, ia berpaling memandang Lim Han-kim yang tergeletak di tanah sekejap. lalu berpaling pula ke arah si nona berbaju putih yang masih tersengal-sengal, dalam hatinya ia tak bisa membayangkan bagaimana perasaannya sekarang,

Tiba-tiba terdengar nona berbaju putih itu berseru lagi: "Cepat buka buntalan dan baringkan orang itu di atas selimut"

Bagaikan baru tersadar dari impian, Hiang-lan segera membuka buntalannya, menyiapkan selimut dan membaringkan tubuh Lim Han-kim di atas lapisan selimut itu, sebagai seorang gadis yang selamanya belum pernah bersentuhan dengan kaum pria, saat ini dayang tersebut merasakan jantungnya berdebar keras, apalagi harus merangkul seorang pemuda tampan dalam pelukannya, ia mencoba memperhatikan pemuda itu, tampak matanya terpejam rapat dan mulutnya terkatup, meski menderita luka parah, namun tidak mengurangi ketampanan wajahnya.

Tak kuasa lagi satu ingatan melintas dalam benaknya, ia berpikir " Entah orang ini seorang musuh atau teman? Hukuman apa yang bakal dijatuhkan nona kepadanya..?"

Mendadak terdengar nona berbaju putih itu berseru lagi: "Cepat baringkan ke tanah"

Hiang-lan terkesiap. rasa malu segera menyelimuti perasaan hatinya, dengan wajah semu merah cepat- cepat dia baringkan tubuh Lim Han-kim ke atas tanah. Dengan langkah perlahan nona berbaju putih itu berjalan mendekati Lim Han-kim, duduk di sisinya dan mengawasi wajah pemuda itu dengan seksama, setelah itu baru ia berseru: " Hiang-lan, ambilkan jarum emasku"

Hiang-lan menyahut, dari dalam buntalan ia mengeluarkan sebuah kantung kain.

Dari kantung itu ia keluarkan sebuah kotak kemala yang isinya berbagai macam jarum yang terbuat dari emas.

Mula-mula gadis berbaju putih itu mengambil dulu sebatang jarum emas pendek dan ditusukkan kejalan darah siau-lok-hiat di lengan kanan sendiri kemudian ia pejamkan mata dan duduk tak berbicara, selang berapa saat kemudian, di wajahnya yang pucat pelan-pelan muncul selapis cahaya merah, semangatnya kelihatan lebih segar, saat itulah ia cabut keluar jarum pada lengannya, lalu dengan kecepatan paling tinggi ia tusuk sembilan buah jalan darah penting di tubuh Lim Han-kim dengan sembilan batang jarum emas.

Ketika pekerjaan itu selesai dilakukan, ia menghembuskan napas panjang, semangatnya yang semula tampak amat segar seketika lenyap tak berbekas, wajahnya kembali pucat pasi, sementara peluh sebesar kacang kedelai jatuh bercucuran membasahi dadanya. Buru-buru Hiang-lan berjongkok di sisi majikannya sambil menguruti dadanya, sambil bekerja bisiknya pelan: "Nona, siapa sih lelaki ini?"

"Dia telah menyelamatkan jiwa kita bertiga, sudah sewajarnya bila kita membalas budi kebaikannya."

"Benar, apakah nona hendak mengobati luka dalam yang dideritanya?"

"Walaupun luka yang dideritanya cukup parah namun dengan mengandalkan tenaga dalamnya yang amat sempurna, aku percaya dia masih mampu untuk mengobati lukanya sendiri"

"Tapi kau telah menusuk jalan darahnya dengan jarum emas, kalau bukan sedang mengobati lukanya, apa yang hendak nona lakukan?"

"Aku hendak membantu memajukan ilmu silatnya, agar dalam waktu yang amat singkat ia bisa peroleh kemajuan yang luar biasa."

"Kenapa kita harus membantunya?"

"Membantu dia sama artinya dengan membantu loya serta nyonya..."