-->

Pedang Keadilan I Bab 26 : Rahasia Ketua Hian- Hong- Kau

 
Bab 26. Rahasia Ketua Hian- Hong- Kau

sebenarnya Li Bun-yang sudah tahu kalau adik perempuannya itu banyak akal dan lagi sangat cantik, namun untuk sesaat dia belum tahu apa maksud dan kehendaknya, terpaksa dia cuma berdiri tanpa bergerak. Tiba-tiba gadis cantik itu berjalan ke hadapan Lim Han- kim sambil bentaknya dingin: "Beranikah kau bertarung melawan aku?"

Dengan cepat Han Si-kong melesat kehadapan pemuda itu, bentaknya: "Luka yang dideritanya cukup parah, mana mungkin ia bisa bertarung melawanmu, Hmmm jika bertarung, biar aku saja yang melayani keinginanmu."

sementara itu Li Tiong-hui yang menyandarkan tubuhnya dalam pelukan kakaknya berlagak seakan-akan terluka parah, dengan ujung bajunya dia seka peluh yang membasahi jidatnya, tapi menggunakan kesempatan itu dengan ilmu menyampaikan suara bisiknya: "Locianpwee jangan campuri urusan ini."

Terdengar perempuan cantik itu sedang berkata dengan suara dingin: "Hmmm, percuma kau bertarung melawanku, sebab kau masih bukan tandinganku"

Mendengar bisikan itu diam-diam Han si-kong menghela napas, kendatipun dia tinggi hati namun apa yang dikatakan perempuan cantik itu memang suatu kenyataan, apalagi ia belum tahu rencana apa yang sedang disusun Li Tiong-hui, maka terpaksa dia mundur juga ke belakang.

Kembali perempuan cantik itu berkata sambil menuding Lim Han-kim: "Kenapa kau tidak bersuara? Tidak berani bertarung melawanku?"

Lim Han-kim menengok sekejap luka beracun di atas telapak tangannya, tampak hawa hitam telah merembet naik ke atas pergelangan tangannya, tapi sebagai pemuda yang angkuh dan tinggi hati, dia segan menyerah dengan begitu saja, sahutnya sambil busungkan dada: "siapa bilang aku tak berani?"

Perempuan cantik itu tertawa manis, ujarnya kemudian: "Aku hendak mengandalkan kepandaianku yang sesungguhnya untuk mengalahkan kau, agar kau bisa takluk dengan perasaan puas, tapi kini kau sedang menderita luka keracunan, aku tak ingin manfaatkan

kesempatan ini untuk mengunggulimu." Berpaling ke arah sastrawan setengah umur itu,

serunya kemudian: "serahkan obat pemunah kepadaku"

Baru saja sastrawan setengah umur itu hendak membujuk. kembali perempuan cantik itu menukas ketus: "Apabila aku dapat menaklukkan keempat orang ini, maka hasilnya jauh melebihi keberhasilan kita menjaring ratusan orang jago persilatan, jadi kau tak usah banyak bicara lagi."

Melihat tekad perempuan itu sudah bulat, sastrawan setengah umur itu tak berani banyak bicara lagi, ia merogoh ke dalam sakunya untuk mengeluarkan sebuah botol porselen, menuang dua butir pil penawar dan disodorkan ke depan.

"Berapa lama ia baru pulih kembali kekuatannya?" tanya perempuan cantik itu kemudian sambil menerima obat penawar itu "sebutir ditelan dan sebutir lagi ditaburkan di sekitar mulut luka, dengan cepat daya kerja racun itu akan punah"

Gadis cantik itu segera mengalihkan sorot mataya ke wajah Lim Han-kim, serunya: "Buka mulutmu"

Tangan kanannya diayunkan ke depan, sebutir obat pemunah meluncur ke arah mulut Lim Han-kim, sementara tangan kirinya meremas hancur sisa obat penawar yang lain kemudian ditaburkan ke atas mulut luka anak muda tersebut.

Walaupun racun itu sangat hebat namun obat penawarnya jauh lebih mujarab, tak selang berapa saat kemudian hawa hitam yang menyelimuti tangan Lim Han-kim telah punah sebagian besar, tinggal sekitar mulut lukanya saja masih tersisa sedikit merah.

Melihat gadis cantik itu secara ikhlas mengobati luka beracun yang diderita Lim Han-kim, dalam hati kecil Han si-kong diam-diam merasa terkejut gembira bercampur kagum, pikirnya: "Tidak heran Li Bun-yang sering memuji kecerdikan adiknya, ternyata bocah perempuan itu memang memiliki kepintaran yang melebihi siapa pun... sungguh luar biasa"

Perempuan cantik itu melirik sekejap mulut luka di tangan Lim Han-kim, melihat hawa hitamnya sudah mulai buyar, segera katanya: "Cepat kau gunakan hawa murni untuk mendesak ke luar sisa hawa racun yang masih ada, sepeminuman teh lagi aku akan turun tangan."

Dengan ilmu menyampaikan suaranya Li Tiong-hui segera berseru: "Engkoh Yang, cepat bebaskan totokan di tubuhnya, Bila kau suruh dia membebaskan diri dari pengaruh totokan dengan pengerahan tenaga dalam, dia akan kehilangan banyak tenaga."

Li Bun-yang menurut dan segera maju ke depan dan menepuk bebas beberapa buah jalan darah Lim Han-kim yang tertotok. Diam-diam Lim Han-kim menyalurkan hawa murninya untuk memperlancar peredaran darahnya, kemudian ia baru berkata: "Nona, kau boleh turun tangan-"

"Bagus"

Bersamaan dengan selesainya perkataan itu, gadis cantik tersebut segera menerjang maju ke muka dan mengayunkan telapak tangannya melepaskan satu pukulan, ke dada lawan

Lim Han-kim mengayunkan pula tangan kanannya, kelima jari tangannya dipentangkan lebar-lebar kemudian menotok urat nadi pada pergelangan tangan gadis itu

si nona cantik itu mendengus dingin, pergelangan tangannya direndahkan ke bawah lalu berbalik mencengkeram pergelangan tangan Lim Han-kim Begitu kedua orang ini terlibat dalam pertarungan, masing- masing pihak secara beruntun telah merubah gerakannya dengan tiga macam ilmu Ki-na-jiu untuk mengancam urat nadi lawan.

Tampak bayangan jari tangan segera menyelimuti seluruh angkasa, sebentar naik sebentar turun, siapa pun enggan menarik balik lengan kanannya.

Han si-kong yang menyaksikan jalannya pertarungan itu diam-diam bersorak memuji, pikirnya: "Cukup ditinjau dari pelbagai perubahan ilmu Ki-na-jiu yang digunakan kedua orang ini, aku yakin kemampuanku masih belum mampu untuk menandingi-nya "

"Hmmmm Ternyata kau memang hebat," puji nona cantik itu sambil tertawa dingin, Tiba-tiba ia mundur sejauh lima depa dari posisi semula.

Lim Han-kim mengerti gerak mundur nona cantik itu tak lain hanya bermaksud untuk mengganti cara penyerangan Apabila ia maju menerjang kembali sudah pasti serangannya akan jauh lebih ganas dan hebat ketimbang tadi, Maka sambil menarik napas panjang- panjang ia bersiap siaga menghadapi segala kemungkinan.

Li Tiong-hui mencoba menyapu sekejap sekeliling arena, lalu dengan ilmu menyampaikan suara bisiknya: "Engkoh Yang, apabila Lim siangkong menunjukkan gejala akan kalah nanti, kau harus segera turun tangan untuk menggantikan posisinya, jangan sampai membiarkan ia memperlihatkan gejala akan kalah sehingga apa yang sudah kujanjikan tadi tak perlu diwujudkan, Han locianpwee juga mesti menyerang dengan sepenuh tenaga mempersiapkan jalan mundur buat kita, Hati- hati dengan sastrawan setengah umur itu, matanya bersinar tak menentu menandakan ia licik dan berbahaya, biar aku saja yang menghadapi manusia ini. "

Han si-kong mengangguk berulang kali lalu mundur ke belakang tubuh Li Bun-yang, sementara itu situasi dalam arena pertarungan telah terjadi perubahan yang sangat besar.

Betul juga apa yang diduga Lim Han-kim tadi, setelah mundur gadis cantik itu menerjang maju lagi dengan serangan-serangan yang lebih ganas, keji dan susah diduga arah sasarannya. Pukulan di tangan kiri dan totokan jari di tangan kanan secara beruntun telah membentuk serangkaian ancaman maut, seakan- akan dia berniat mengalahkan musuhnya dalam gempuran ini.

Lim Han-kim bukan bocah kemarin sore yang lemah ilmu silatnya, dengan mengandalkan ilmu memotong urat nadi yang merupakan sistim pertarungan jarak pendek. sekuat tenaga ia bendung semua serangan maut gadis cantik itu. Namun serangan-serangan yang dilancarkan lawan bukan saja makin lama makin aneh, kecepatannya pun luar biasa sehingga susah di duga. Hal ini membuat Lim Han-kim selalu terperosok dalam posisi bertahan dan tak sempat melepaskan serangan balasan- Dalam waktu singkat kedua orang itu sudah bertarung sengit sebanyak empat lima puluh gebrakan,

sepanjang pertarungan berlangsung meskipun beberapa kali Lim Han-kim terdesak. namun ia selalu dapat mengatasi keadaan serta merebut kembali posismya. Betul ia tak sempat mengembangkan serangan balasan, tapi untuk mempertahankan diri ia masih memiliki kemampuan yang berlebihan, sehingga sama sekali tak tampak gejala akan kalah.

Pertempuran ini merupakan sebuah pertarungan langka yang pernah terjadi dalam dunia persilatan, agaknya kedua belah pihak sama-sama mengandalkan kecepatan dalam perubahan jurus serangannya untuk merebut posisi yang lebih menguntungkan.

sesudah pertarungannya melawan gadis cantik tadi, Li Tiong-hui sudah tahu kalau lawannya memiliki ilmu silat yang maha tinggi, Dalam dugaannya semula paling banter Lim Han-kim hanya mampu bertahan sebanyak lima puluh gebrakan saja, sama sekali tak diduga olehnya Lim Han-kim selalu berhasil memperbaiki posisinya setiap kali terdesak musuh, malah setelah lewat lima puluh gebrakan pun belum menunjukkan gejala akan kalah. Kini perhatian semua orang yang ada dalam ruang pertemuan itu tersedot pada jalannya pertarungan sengit itu, suasana menjadi sangat hening dan sepi.

Waktu itu Li Bun-yang telah menghimpun tenaga murninya sambil bersiap sedia turun tangan menggantikan posisi Lim Han-kim, tapi melihat Lim Han- kim masih dapat mempertahankan diri terus menerus, lama kelamaan ia jadi bimbang sendiri, Kepada Li Tiong- hui segera bisiknya: "Adik Hui, apakah kita harus menunggu sampai hasil pertarungan ini menjadi jelas?"

"Kehebatan ilmu silat Lim Han-kim jauh di luar dugaanku. Apabila ia sanggup mengungguli ketua Hian- hong-kau itu, maka kita pun harus segera mengoreksi semua rencana kita."

"Lalu apa yang mesti diperbuat sekarang?" "Mumpung kita menang, manfaatkan kesempatan ini

untuk menggempur sisa jago yang ada di sini serta menumpas perkumpulan Hian-hong-kau, sumber malapetaka bagi umat persilatan dari muka bumi."

"Baik" Li Bun-yang manggut-manggut tanda setuju. "sistim kendali yang dipakai Hian-hong-kau untuk menguasai anak buahnya teramat keji dan tak berperikemanusiaan, kalau bisa membabat mereka hingga lenyap dari muka bumi memang merupakan sebuah pahala besar." "Ingat Engkoh Yang, apabila melancarkan serangan nanti, jangan sekali- kali kau lukai ketua Hian-hong-kau itu."

"Kenapa?"

"Meskipun sikapnya dingin dan kaku, namun dasar sifat yang sesungguhnya adalah pemurah dan mulia, lagipula usianya tahun ini belum lewat dua puluh tahun, kemampuannya untuk memimpin Hian-hong-kau pasti didasari suatu rahasia besar."

"Aaaah, betul coba adik Hui tidak mengingatkan aku pasti tak akan berpikir sampai di situ, tatkala ia lepaskan topeng tembaganya tadi. Sikap para anggota Hian-hong- kau pun sama seperti kita, sama-sama kaget dan tertegun, orang lain masih lumrah, tapi sastrawan setengah umur itu toh sering mendampingi ketuanya, kenapa ia belum pernah berjumpa dengan wajah asli ketuanya? Terbukti mimik mukanya waktu itu pun tak jauh berbeda dengan orang lain-"

Mendadak terdengar suara bentakan nyaring bergema memecahkan keheningan: "Roboh"

"Belum tentu" Suara jawaban dari Lim Han-kim segera bergema pula di udara. "Blaaammmm..."

Ketika sepasang telapak tangan saling beradu, terjadilah suara benturan keras yang memekikkan telinga, baik Lim Han-kim maupun gadis cantik itu sama- sama tergetar mundur sejauh satu langkah lebih. Buru- buru Li Bun-yang memeriksa mimik muka rekannya, ketika

melihat paras muka Lim Han-kim amat tenang, seakan-akan tidak terluka sama sekali, perasaan hatinya kontan jadi lega.

Tampak gadis cantik itu termenung sambil berpikir beberapa saat lamanya, mendadak ia ulapkan tangannya sambil memberi perintah: "Bebaskan mereka semua"

Tampaknya sastrawan setengah umur itu merasa keberatan, namun dia pun sepertinya tak berani membangkang, setelah termenung pula berapa saat,jawabnya: "Hamba turut perintah" Kepada para lelaki kekar yang berjaga disekeliling ruangan itu perintahnya: "Buka pintu"

suara deritan nyaring segera bergema di udara. Dari atas dinding ruangan itu tahu-tahu terbelah sebuah pintu yang amat besar, cahaya segera memancar masuk ke dalam ruangan- Dengan langkah lebar Han si-kong berjalan ke luar lebih dulu meninggalkan ruangan, ia menengadah dan tarik napas panjang-panjang, perasaannya terasa lega sekali.

secara beruntun Li Bun-yang, Li Tiong-hui dan Lim Han-kim berjalan meninggalkan ruang pertemuan itu. Dari dalam ruangan terdengar suara gadis cantik itu berkumandang lagi: "selamat jalan, maaf aku tidak dapat mengantar"

"Kebaikan kaucu hari ini pasti akan kuingat selalu di dalam hati," sahut Li Tiong-hui. "Apabila ada kesempatan di kemudian hari, budi ini pasti akan kubalas."

Tampak pintu besi itu pelan-pelan menutup kembali, bayangan cantik si gadis itu pun segera lenyap di balik pintu. Diam-diam Li Tiong-hui selalu memperhatikan gerak gerik perempuan cantik itu. ia melihat bahwa walaupun ketua dari Hian-hong-kau yang cantik jelita ini berhasil mempertahankan ketenangannya, namun sorot matanya yang terpancar ke luar mengandung pandangan cinta yang hangat, terutama ketika memandang wajah Lim Han-kim.

Kecantikan wajahnya membuat Li Tiong-hui merasa dirinya tak mampu untuk menandingi, tapi juga menimbulkan rasa cemburu di hati kecilnya.

Beberapa saat kemudian sampailah mereka di tepi benteng, waktu itu tengah malam sudah menjelang tiba, tampak bintang bertaburan di angkasa yang gelap. sambil menengadah Han si-kong segera tertawa tergelak. katanya:

"Ha ha ha ha... sudah separuh hidupku aku berkelana dalam dunia persilatan, namun belum pernah kulihat keadaan seperti ini. sesungguhnya ketua Hian-hong-kau itu menganggap kita sebagai sahabat, ataukah sebagai musuh? Betul-betul membuat orang susah menebak."

"Hmmm... hmm... kita semua telah membonceng ketenaran Lim siang kong " sindir Li Tiong-hui sambil

tertawa dingin.

"Aaah, mana mana mungkin," sahut Lim Han-kim

merendah, "semua ini tak lain berkat keCerdikan nona dalam menghadapi lawan-"

"Betul" sambung Han si-kong menimpali "Belum pernah kujumpai seorang gadis seCerdik nona, ternyata kau mampu memaksa ketua Hian-hong-kau itu menyerahkan obat penawar racun secara sukarela guna mengobati luka beracun yang diderita saudara Lim "

"ltulah sebabnya setiap kali aku berkelana dalam dunia persilatan dan menjumpai masalah yang pelik, aku selalu berkirim surat minta bantuan dari adikku ini untuk mengatasinya," sambung Li Bun-yang sambil tertawa lebar. "Pokoknya kalau dia sudah datang, betapa pun sulitnya masalah yang kuhadapi, tentu bisa beres dengan sendirinya."

Tiba-tiba Li Tiong-hui menghela napas panjang, ucapnya: "Jadi kalian anggap ketua Hian-hong-kau betul- betul rela melepaskan kita semua?" Begitu perkataan tersebut diutarakan, ketiga orang itu sama-sama terkesiap dibuatnya,

" Kenapa?" teriak Han si-kong keras-ke-ras. "Apakah dia baru puas jika berhasil membokong kita lagi?"

Berkilat sepasang mata Li Tiong-hui, ia tertawa, "Mungkin dia belum akan muncul pada saat ini, tapi setelah malam ini, pihak Hian-hong-kau tak bakal melepaskan kita dengan begitu saja."

"Eeeh... nona cantik," kata Han si-kong kemudian, "Apakah tiada penjelasanmu barusan, mungkin aku masih bisa mengerti tapi dengan UcapanmU itu aku benar-benar dibUat kebingUngan setengah mati."

Li Tiong-hui tertawa manis, seperti menjawab seperti juga tidak, katanya pelan-"Tempat ini tak boleh ditinggali lebih lama lagi. Lebih baik kita tinggalkan tempat ini secepatnya."

selesai berkata ia segera berlalu lebih dulu, Dengan suara rendah Li Bun-yang segera berbisik, "Begitulah watak adikku ini, sebelum duduknya persoalan berhasil dikupas sampai jelas, dia tak nanti bicara sembarangan, dan apabila ia sudah enggan menjawab, lebih baik locianpwee tak usah mendesak lebih jauh."

"Ooooh, kiranya begitu." Keempat orang itu segera naik ke atas benteng, tampak dua lelaki kekar bersenjata golok sedang berjaga di sana, Ketika melihat keempat orang itu naik ke atas benteng ternyata mereka tidak berusaha menghadang, bahkan sikapnya seolah-olah tidak melihat kehadiran mereka.

Menyaksikan kedua orang itu tak bermaksud menghadang perjalanan mereka, Li Bun-yang sekali pun malas untuk banyak bertanya, Dengan menggunakan ilmu cecak mereka merayap turun dari dinding benteng itu

Tampaknya Han si-kong sudah membuat persiapan yang matang, ketika tiba di sisi sungai pelindung benteng, ia segera melemparkan sebatang ranting kayu ke atas permukaan air.

Dengan mengandalkan kesempurnaan ilmu meringankan tubuh yang dimiliki keempat orang ini, tidak sulit bagi mereka untuk menyeberangi sungai pelindung benteng tersebut dengan mengandalkan daya apung ranting kayu tadi.

setelah mendarat di tepi seberang, Han si-kong sempat menoleh dan memandang sekejap ke arah benteng Tay-peng itu dengan pandangan kecewa bercampur menyesal katanya sambil menghela napas sedih: "Ketika pertama kali berkelana dalam dunia persilatan, usiaku baru dua puluh tahun, kini empat puluh tahun sudah lewat, rambut pun telah banyak berubah, tapi tiada hasil yang kucapai. satu-satunya yang menjadi penghiburku selama ini adalah keberhasilanku menjalin hubungan dengan beberapa orang sahabat karib, sungguh tak nyana watak manusia mudah berubah, si peluru berantai CheeTay-tong yang pernah berjuang bersama denganku ketika masih berkelana dalam dunia persilatan dulu, kini telah berubah menjadi seorang musuh. "

"Locianpwee, kau telah salah menuduhnya" sela Li- Tiong-hui sambil tersenyum.

Dengan wataknya yang berangasan kontan meledak hawa amarah Han si-kong sesudah mendengar ucapan itu, dengan mata melotot besar teriaknya keras-keras: "Kalau kejadian ini hanya terbatas pada cerita orang, boleh saja aku tak percaya, Tapi aku telah mengalami sendiri, menyaksikan dengan mata kepala sendiri, apakah aku mesti percaya bahwa ia sedang bermain sandiwara? Nona Li, kau pintar dan punya pengetahuan luas, kau sendiri pun telah merasakan serta mengalami sendiri bagaimana nyaris kita menjadi tawanan orang, apakah kau tetap masih salah menuduhnya yang bukan- bukan?"

Li Tiong-hui termenung berpikir beberapa saat, kemudian pelan-pelan berkata: "sesungguhnya dia sudah dikendalikan pihak Hian-hong-kau, gerak-geriknya sudah tak bebas, Bisa jadi ada sandera di tangan orang-orang Hian-hong kau yang memaksa ia sedemikian rupa sehingga dia mesti berbuat demikian-..."

setelah berhenti sejenak, kembali tam-bahnya: "Cuma yang aneh adalah ketua Hian-hong-kau itu. "

"Apakah kau anggap usianya kelewat muda?" sela Li Bun-yang.

"Apabila dugaanku tidak meleset, ketua Hian-hong-kau yang sesungguhnya tentu orang lain, Nona itu tak lebih cuma seorang wakil. atau bisa jadi cuma pengganti

sementara "

"Ehmmm, betul juga perkataan itu," kata Lim Han-kim pula. "Akupun merasa bahwa "

"Hmmm, siapa suruh kau menimbrung?" tukas Li Tiong-hui sambil tertawa dingin.

Lim Han-kim tertegun, tapi kemudian sambil tundukkan kepalanya ia tutup mulut rapat-rapat, Li Bun- yang merasa rikuh sekali dengan kejadian ini, belum sempat ia mengucapkan sesuatu, mendadak dari belakang tubuhnya telah berkumandang suara teguran seseorang diiringi suara tertawa yang merdu. "Waaah...

galak amat nona itu" Dengan perasaan amat terkesiap keempat orang itu bersama-sama menoleh ke belakang. Di bawah sinar bintang yang redup, terlihat seorang manusia berbaju hijau yang mempunyai perawakan kecil ramping dan mengenakan topeng tembaga telah berdiri beberapa tombak dari tempat mereka berada.

"Aaah, ketua Hiang- hong- kau?" Han si-kong berseru tertahan-

Li Tiong-hui memutar biji matanya beberapa kali, kemudian sambil tersenyum katanya: "Kaucu, kedatanganmu yang tiba-tiba ini dikarenakan ada urusan penting ataukah datang untuk menangkap kami?"

Bicara sampai di situ ia mengerling sekejap ke arah Lim Han-kim. Dari balik sinar matanya terkandung rasa cinta yang dalam, Gadis berbaju hijau itu tertawa cekikikan sahutnya cepat: "Aku datang mencari orang."

Pelan-pelan topeng tembaganya yang bertampang menyeramkan itu dilepaskan sehingga tampaklah raut wajahnya yang cantik jelita, perselisihan antara cantik dan jelek yang berselang hanya sesaat ini memberikan pandangan yang sangat kontras.

Meskipun sekulum senyuman masih tersungging di ujung bibir Li Tiong-hui, namun senyuman tersebut tak berhasil menutupi sikap ragu dan sangsi yang terbias di balik wajahnya itu. setelah tersenyum hambar, kembali ia bertanya: "Boleh aku tahu, sesungguhnya siapa sih yang kau cari?"

Dengan sorot matanya yang jeli gadis cantik berbaju hijau itu memandang sekejap wajah semua yang hadir di sana, walaupun ia memandang wajah Lim Ham-kim beberapa kejap lama, namun pada akhirnya pandangan tersebut balik kembali ke wajah Li Tiong-hui. " Nonalah orang yang kucari" sahutnya tertawa..

"Mencari aku?" Li Tiong-hui mengerutkan dahinya. "Bukan saja aku datang mencari dirimu, aku pun tahu

nona berasal dari marga Li dan bernama Tiong-hui, betul bukan?"

Kendatipun Li Tiong-hui berusaha keras mengendalikan ketenangan hatinya, tak urung terlintas juga perasaan terkejut dan herannya yang amat sangat.

"Dari mana kaucu bisa mengetahui namaku?" serunya tertahan, "Apa mungkin-.. apa mungkin...?"

Berbicara gugup, ia tak berhasil juga menemukan alasan yang mungkin mendekati kebenaran, Tiba-tiba gadis cantik berbaju hijau itu menarik kembali senyumannya, dengan wajah berubah amat serius kata- nya: "Nona, masih ingatkah kau dengan peristiwa pada dua tahun berselang, tepat-nya di atas bukit Tiau-hi-tay ditebing Kiu-liong-kang?"

"Heeh, dari mana kau bisa mengetahui kejadian ini?" Li Tiong-hui semakin tercengang.

Gadis cantik berbaju hijau itu menghela nafas panjang, "Aaaaai, tentu saja aku tahu. " Pelan-pelan dia

mengangkat kepalanya lalu sambil tertawa lanjutnya lebih jauh: "Apabila nona masih belum melupakan peristiwa tersebut, harap ikutilah aku sejenak. orang yang pernah nona tolong pada dua tahun berselang di bukit Tiau-hi-tay sedang menantikan kehadiran nona pada saat ini. "

"Dia berada di mana?" tanya Li Tiong-hui setelah termenung berpikir sejenak.

"Dia berada di depan sana, takjauh dari tempat ini."

Belum sempat Li Tiong-hui menjawab, Li Bun-yang telah datang menyusul walaupun ia tak dapat menduga apa gerangan yang telah terjadi, tapi ia merasa sangat gelisah setelah melihat adiknya berniat mengikuti ketua Hian-hong-kau itupergi ke suatu tempat.

Namun untuk berapa saat dia pun tak tahu dengan cara apa mesti mencegah kepergiannya, maka setelah memburu ke depan, untuk sesaat dia malah cuma berdiri termangu-mangu saja.

Hubungan batin antara dua bersaudara ini memang kelewat mendalam, rasa kuatirnya yang berlebihan membuat pemuda ini kehilangan kontrol sama sekali Li Tiong-hui cukup memahami perasaan kakaknya itu, sambil berpaling katanya seraya ter-tawa: "Toako tak usah kuatir, aku. "

"Tapi. " Tiba-tiba ia teringat kembali bahwa adiknya

amat cerdik, sekali pun menemui ancaman bahaya, gadis itu masih mampu untuk mengatasinya, karenanya ia segera membatalkan niatnya untuk maju dan mengundurkan diri kembali keposisinya semula.

sementara itu gadis cantik berbaju hijau itu sudah berkata lagi sambil tertawa: "Apabila nona sudah putuskan. harap ikutilah aku." selesai berbicara, ia

membalikkan badandan berlalu lebih dulu meninggalkan tempat tersebut.

Di bawah cahaya bintang yang redup, kelih atan ujung bajunya berkibar mengikuti langkah kakinya yang lembut mempesonakan hati, ia betul-betul mirip bidadari yang turun dari kahyangan, Tanpa terasa para jago mengayunkan langkahnya mengikuti di belakang gadis tersebut, Sambil berjalan Li Tiong-hui berpikir dalam hatinya: "Nona ini betul-betul cantik jelita, tapi... tapi... dari mana dia bisa tahu akan peristiwa yang terjadi dua tahun berselang?"

Tiba-tiba terdengar Li Bun-yang menegur: "Adik Hui, apa sih yang telah terjadi dua tahun berselang? Kenapa kau tak pernah menceritakannya kepadaku?"

"Panjang untuk diceritakan Setelah tiba di tempat tujuan bukankah toako akan mengetahui dengan sendirinya " ia segera percepat langkahnya, sambil

berpaling serunya pula seraya tertawa: "Kalau toh hendak berangkat, ayo kita percepat langkah kita semua."

Sementara itu jalanan yang mereka tempuh makin lama semakin sepi, semak belukar tampak ada di mana- mana, ternyata arah yang ditempuh adalah jalanan menuju ke benteng Tay-peng. Angin malam berhembus amat kencang membawa udara yang dingin mengiggilkan, Beberapa orang itu merasa badannya agak kedinginan tapi juga meningkatkan kewaspadaan dalam hati masing-masing.

Meski tak seorangpun yang berbicara namun masing- masing orang berusaha meninggikan kesiapsiagaannya dalam menghadapi segala kemungkinan-

Tiba-tiba gadis cantik berbaju hijau itu menuding suatu tempat di kejauhan sana, katanya sambil berpaling: "Nah, sudah hampir sampai. itu dia tempatnya"

Mengikuti arah yang dituding, semua orang mengalihkan perhatiannya ke sana, Ternyata tempat yang dimaksudkan adalah sebuah bangunan rumah yang berdiri sendiri di tengah semak. sekeliling bangunan itu penuh ditumbuhi pepohonan yang rindang, membuat bangunan itu kelihatan agak menyeramkan.

Dari balik bangunan rumah yang menyeramkan itu terbetik setitik cahaya lentera yang redup, suasana di sekeliling tempat itu amat hening tak kedengaran sedikit suara pun, yang kedengaran hanya suara angin malam yang menggoyangkan dedaunan-

setelah menembusi pepohonan yang lebat itu sampailah beberapa orang itu di depan pintu bangunan tersebut, Gadis cantik berbaju hijau itu segera maju ke depan dan menggoyangkan gelang pintu tiga kali.

Dari balik pintu segera berkumandang suara serak seseorang mengucapkan kata-kata sandi: " Langit bumi serba kuning"

"jagad gersang bumi hangus" sahut si nona Cepat. "Nona Hong di situ?"

Menyusul teguran itu pintu gerbang dibuka lebar, seorang kakek berambut putih yang berbaju sederhana muncul dengan senyuman dikulum. Wajah orang itu penuh codet, mata kirinya buta namun senyuman di ujung bibirnya tampak amat ramah.

Di tengah bangunan yang begitu menyeramkan ternyata muncul seorang kakek berwajah begitu mengerikan, beberapa orang itu seketika merasakan hatinya bergidik,

Diam-diam Han si-kong tertawa geli, pikirnya: "sungguh tak disangka di dunia ini ternyata masih terdapat orang lain yang jauh lebih jelek ketimbang aku."

Pada saat itu si nona cantik berbaju hijau itu sudah berkata lagi sambil tersenyum:

"silahkan masuk"

Dengan sinar mata tunggalnya kakek bertampang jelek itu mengawasi beberapa orang tersebut sekejap? tapi ia tak bicara apa-apa dan segera menyingkir ke samping memberi jalan.

Li Bun-yang maupun Han Si-kong sudah cukup lama berkelana dalam dunia persilatan pengetahuan maupun pengalaman mereka amat banyak dan luas, begitu menyaksikan cahaya mata yang terpancar keluar dari mata tunggal kakek jelek tersebut, diam-diam mereka sama-sama merasa terkesiap bercampur bergidik, pikirnya. "Sinar mata orang ini tajam seperti halilintar, ini membuktikan ia adalah seorang jago silat yang berilmu silat sangat tinggi, Bila dilihat dari dandanan maupun gerak geriknya, jelas ia bukan wakll ketua atau seseorang yang berkedudukan tinggi dalam partai.

Tampaknya perkumpulan Hiang-hong-kau betul-betul suatu perkumpulan yang aneh dan sukar ditebak. "

Ketika menjumpai Li Tiong-hui bejalan dengan kepala diangkat dan seakan-akan tak pernah melihat kejadian apa-apa, beberapa orang itu segera tahu bahwa gadis itu sudah mempunyai perhitungan yang matang, maka mereka pun melangkah masuk dengan perasaan lega. 

Bangunan itu merupakan sebuah bangunan rumah yang amat sederhana, pada dinding dekat mereka tergantung sebuah lukisan, Di atas meja sembahyang teriihat dua batang lilin menerangi suasana, cahaya yang redup menambah suasana menyeramkan dalam ruangan itu.

Tiba-tiba saja gadis cantik berbaju hijau itu bersikap amat serius, kepada kakek bermuka jelek itu ia berbisik pelan: " Ibuku sudah tidur?" Kakek berwajah jelek itu menghela nafas panjang.

"Selama beberapa hari terakhir, cu-bo (Majikan perempuan) selalu merindukan dirimu Aaai. bila kau belum kembali juga, mungkin budak akan berangkat mencari-mu."

sekilas perasaan sedih membias di atas wajah si nona yang cantik, dia berpaling memandang Li Tiong-hui sekejap. lalu katanya: "saban hari ibuku selalu memikirkan nona Li, beruntung sekali akhirnya aku berhasil menemukan kau. "

Berkilat sorot mata tunggal kakek jelek itu begitu selesai mendengar perkataan tersebut, buru-buru dia menjura ke arah Li Tiong-hui sambil katanya: "Yaa, betul, setiap hari cu-bo selalu merindukan nona, setiap hari ia pasti menyebut nama nona "

"Aaaah, kejadian masa lalu hanya suatu kewajiban saja bagi diriku sebagai umat persilatan, sesungguhnya tak perlu terlalu dipikirkan," kata Li Tiong-hui tersenyum.

Dalam kesempatan itu Li Bun- yang telah memperhatikan lukisan yang tergantung di atas dinding itu. Ternyata lukisan itu berisikan gambar seorang lelaki setengah umur berwajah tampan yang sedang berdiri sambil berpangku tangan dipuncak sebuah bukit.

Lelaki itu berdiri memandang ke langit, sedang bukit yang tinggi dikelilingi lautan awan yang rapat, sebagai keturunan keluarga persilatan bukit Hong-san yang tersohor sebagai pengumpul bahan seni dan antik, dalam sekilas pandang saja Li Bun-yang yang berpengalaman luas sudah dapat melihat bahwa lukisan itu bukan hasil karya pelukis kenamaan-

Meski begitu lukisan itu dibuat sangat lembut dan halus, sehingga dapat disimpulkan kendatipun pelukis itu bukan pelukis kenamaan namun lukisan itu dibuat dengan teliti dan berhati-hati.

Mendadak terdengar gadis cantik itu ber-tanya: "Boleh aku menjumpai ibuku?"

Biarpun kakek bertampang jelek itu membahasakan diri sebagai "budak", ini jelas menunjukkan bahwa dia hanya berstatus seorang pelayan, namun sikap gadis cantik berbaju hijau itu terhadapnya sungguh menaruh hormat yang luar biasa.

Tampak kakek jelek itu termenung sejenak. kemudian sahutnya: "Walaupun saat dan keadaan seperti ini kurang dapat mengganggu ketenangan tidur cu-bo, tapi nona Li adalah orang yang dirindukan olehnya siang malam, jadi soal ini harus disimak secara khusus, begini saja, harap nona Hong menemani beberapa orang tamu terhormat ini menanti sejenak di rumah tunggu, budak segera akan memberi kabar kepada cu-bo."

Selesai berkata ia segera melangkah masuk ke dalam pintu ruang samping, langkah orang ini nampak tertatih- tatih, persis seperti orang yang baru sembuh dari sakit parah, Gadis cantik berbaju hijau itu memandang sekejap wajah Li Tiong-hui sekalian, lalu katanya pelan: "sudah lama ibuku menderita sakit yang cukup parah sehingga ia tak bisa menyambut sendiri kedatangan nona Li, harap kau sudi memaafkan."

"Tidak berani, tidak berani. " Mendadak gadis cantik

itu seperti teringat suatu masalah yang sangat penting, serunya lagi cepat: "Nona Li.."

Tapi ia bataikan kata-kata itu dan segera membungkam. Li Tiong-hui tidak mendesak lebih jauh, sambil tersenyum dia mengalihkan pokok pembicaraan kesoal lain, tanyanya:

"Parahkah penyakit yang diderita ibumu?" "Aaaai. penyakit yang dideritanya cukup parah

sehingga susah bergerak meninggaikan tempat

pembaringannya . "

"sudah pernah diperiksakan ibumu tabib kenamaan?" sela Li Bun- yang. Gadis cantik itu menghela nafas sedih.

"Aaaai. sudah banyak tabib kenamaan kami undang

dan sudah banyak obat mustika kita coba, namun hasilnya tetap nihil."

Tiba-tiba pintu dibuka, kakek jelek itu muncul kembali sambil menyela: "Ketika Cu-bo mendengar nona Li datang berkunjung, beliau merasa gembira sekali, Beliau titahkan budak untuk segera mengundang kalian masuk ke ruang dalam, Aaaai... selama berapa tahun terakhir ini belum pernah kulihat cu-bo mengulumkan senyumnya." perkataan itu diutarakan dengan nada agak emosi.

"Aku merasa berbangga hati karena undangan ini, Locianpwee silahkan membawa kami masuk." seru Li Tiong-hui.

"Ruang belakang merupakan tempat larangan untuk kaum pria, lebih baik kami menunggu disini saja," sela Li Bun-yang.

"ooh, tidak apa-apa," sahut kakek jelek itu cepat, " Cu-bo telah berpesan agar semua yang datang bersama nona Li diajak masuk. nah, silahkan mengikuti aku."

"Biar aku membawa jalan untuk kalian." seru gadis cantik itu sambil berebut maju lebih dulu, setelah melalui pintu samping ruangan, pemandangan tiba-tiba berubah, tampak sebuah serambi panjang terbentang sampai ke belakang, kedua sisi serambi penuh ditumbuhi aneka pohon dan bunga, bau harum semerbak tersiar di mana- mana.

Di ujung serambi panjang itu kembali terdapat sebuah pintu berbentuk bulat. si gadis cantik segera menolak pintu kayu itu, cahaya lampu lamat- lamat memancar keluar dari balik ruangan. Tampaknya tempat itu merupakan sebuah lorong rahasia, anak tangga tampak menjorok jauh ke bawah, suara seseorang kedengaran berkumandang dari balik ruangan itu: "Nona Li, baik-baikkah selama ini? Maaf aku sedang sakit sehingga tak dapat menyambut sendiri kedatanganmu."

"Locianpwee terlalu serius." Dengan cepat ia telusuri anak tangga menuju ke ruang bawah.

Li Bun- yang, Lim Han-kim dan Han si-kong secara berurutan menyusul ke bawah, sepanjang perjalanan diam-diam mereka salurkan tenaga dalamnya bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan yang tak dlinginkan.

Selesai menuruni delapan belas buah anak tangga, terbentanglah sebuah ruangan bawah tanah yang sangat luas, Di bawah cahaya lilin yang terang benderang, tampak sekeliling dinding dipenuhi oleh lukisan- lukisan orang kenamaan Pada dinding sebelah belakang terletak sebuah hiolo besar yang mengepulkan asap putih, bau harum semerbak membuat suasana ruang itu terasa menyegarkan.

Pada dinding di belakang pintu itu tergantung pula sebuah lukisan. Ketika Li Bun- yang mencoba untuk memperhatikan, lamat- lamat terbaca olehnya dua baris tulisan yang berbunyi demikian "Generasi unggul menjagoi dunia persilatan tiga puluh tahun.

Ilmu silat tanpa batas tiada yang mampu mengungguli kemampuanku."

Membaca beberapa tulisan itu, diam-diam Li Bun- yang segera berpikir: "Entah tokoh dari manakah orang ini, besar amat bicaranya, masih untung saja ia tidak menulis dirinya sebagai jago nomor wahid yang tiada tandingannya di kolong langit."

sementara ia masih berpikir, mendadak terdengar suara batuk yang parah berkumandang dari sudut ruangan, tepatnya dari balik kelambu, tampak gadis cantik itu muncul kembali sambil membimbing seorang nyonya setengah umur yang berwajah pucat.

Ibiis penyakit rupanya sudah merebut semua daya tahan tubuhnya, sepanjang jalan nonya itu hanya pejamkan matanya rapat-rapat, sementara tubuhnya seratus persen bersandar di bahu nona cantik itu.

Di Belakang kedua orang itu ikut seorang dayang kecil berbaju hijau yang membawa sebuah kursi lipat.

Terdengar nyonya setengah umur itu berbisik, "Cepat letakkan kursi itu dekat nona LI, aku ingin berbicara sepuas-puasnya dengan dia." "Locianpwee tak usah terlalu sungkan-" Buru-buru Li Tiong-hui maju menghampiri. "Biar aku saja yang mendekat"

Dengan gerak cepat dayang berbaju hijau itu meletakkan kursi lipat itu ke tanah, kemudian ia susun pula selimut tebal di atas kursi tadi.

Gadis cantik itupun membopong ibunya membaring kan di atas kursi lipat tadi, bisiknya pelan: "ibu, bicaralah sambil berbaring"

Dengan sinar matanya yang suram nyonya setengah umur itu memperhatikan wajah Li Tiong-hui beberapa kejap. kemudian ujarnya sambil tertawa: "Aku benar- benar tidak menyangka masih bisa bertemu dengan nona dalam keadaan begini."

"Locianpwee harus beristirahat dengan baik. Kebetulan di rumahku ada banyak obat mustika "

"Maksud baik nona biar kuterima di dalam hati saja," tukas nyonya setengah umur itu sambil menggeleng. "Aku tahu penyakit yang kuderita ini tak mungkin bisa diobati dengan obat mustika macam apa pun "

Pelan-pelan dia mengalihkan sinar matanya memandang gadis cantik yang duduk di sisinya, setelah menghela napas, terusnya: "Penyakit yang kuderita ini kuperoleh ketika aku sedang hamil dulu, Waktu itu aku terkena kabut beracun, lalu secara beruntun kena terbokong juga oleh serangan gelap dua orang musuh besarku, Aaaai... kalau dihitung kembali sudah delapan belas tahun lamanya aku menderita?"

Tiba-tiba ia berbatuk keras memotong pembicaraannya yang belum selesai diutarakan itu. Gadis cantik berbaju hijau itu segera menguruti dada dan punggung ibu-nya, dengan sedih ia berbisik: "lbu, kalau bicara perlahan sedikit, toh nona Li tidak buru-buru akan pergi. "

Dalam kesempatan itu, Li Bun- yang telah memperhatikan nyonya setengah umur itu dengan seksama, meski ia sudah kurus kering tinggal kulit pembungkus tulang, namun di raut wajahnya samar- samar masih tersisa bekas kecantikannya di masa lalu,

sebaliknya Lim Han-kim semenjak masuk ke dalam ruangan hanya duduk tak bergerak. Rahasia asal usulnya telah meninggalkan simpul mati yang susah dibuka dalam hati kecilnya, juga merebut semua kegembiraan masa remajanya, hal ini menyebabkan perasaannya selalu serba salah, selalu gundah dan murung.

Tapi sifat tinggi hatinya membuat pemuda ini selalu menyimpan semua persoalan dalam hatinya, sehingga wajahnya selalu dirundung kemurungan. Kasih sayang ibunya dan pendidikan gurunya tak ada yang mampu membuyarkan kemurungan hatinya, tapi ia tak tega menyakiti perasaan ibunya sehingga dia berhasil mempelajari suatu kesabaran yang melebihi siapa pun.

Tekanan jiwa yang bertahun-tahun membuat sikapnya agak dingin dan kaku. ia selalu memberikan reaksi yang dingin dan hambar terhadap semua kasih sayang dan perhatian yang datang dari luar, Kesemua sikapnya ini membuat pemuda ini berlatih untuk bersikap tenang, tak ubahnya seperti seorang yang berpengalaman luas.

Dengan sorot matanya yang memudar, nyonya setengah umur utu mengawasi wajah Lim Han-kim berapa saat, kemudian katanya tiba-tiba: "Nona Li, bolehkah kauperkenalkan beberapa orang sahabatmu itu kepadaku?"

Li Tiong-hui tertawa. "Aaah, kalau bukan locianpwe ingatkan, hampir saja aku lupa." sambil menuding kearah Han si-kong, katanya: "Dia adalah Han locianpwe, orang persilatan menyebutnya si raja monyet ceking..."

"Aku si monyet tua Han si-kong" orang tua itu menyambung.

"Aku adalah Li Bun- yang dari bukit Hong-san" Li Bun- yang memperkenalkan diri