Pedang Keadilan I Bab 25 : Masuk perangkap

 
Bab 25. Masuk perangkap

"Di balik kegelapan empat penjuru sekeliling ruang tamu itu dipenuhi musuh-musuh tangguh, Posisi musuh waktu itu berada di tempat kegelapan, sedang kita berada di tempat terang, Posisi semacam itu sangat tidak menguntungkan buat kita, pertarung-an macam begini paling pantang kujamah, tentu saja aku harus menyingkir."

"Padahal kita harus melewati sebuah lorong bawah tanah," sela Li Tiong-hui cepat. "Engkoh Yang, semestinya kau paham " Mendadak Li Bun-yang mendepakkan kakinya berulang kali ke atas tanah, serunya: "Betul juga, bila mereka menurunkan terali besi pada kedua ujung lorong rahasia tersebut, niscaya kita akan terkurung di situ."

"sayang sekali kita terlambat untuk menyadari hal itu."

Li Bun-yang mencoba mendongakkan kepalanya memperhatikan sekeliling tempat itu, ketika melihat beberapa titik cahaya menembus masuk melalui dua liang kecil di atas dinding lorong itu, hatinya makin terkejut.

Terdengar Li Tiong-hui berkata lebih jauh: "sewaktu datang tadi kita tidak memperhatikan kalau ruang tamu itu berhubungan langsung dengan lorong tersebut "

sementara pembicaraan masih berlangsung, mendadak suasana jadi gelap. ternyata beberapa lubang cahaya tersebut telah disumbat orang, Menyusul kemudian terdengar seseorang menegur dengan suara dingin dan kaku: "Kalian sudah terjebak dalam perangkap maut, Di atas dinding ini sudah siap jala baja, sedang dinding di sekeliling tempat itu sangat kokoh dan kuat. Kalian harus bersedia masuk menjadi anggota perkumpulan kami, kalau tidak hanya jalan kematian yang tersedia."

Han si-kong mendongkol sekali, teriaknya penuh amarah: "chee Tay-tong, kau manusia busuk Lupa teman Anak anjing biadab, moralmu lebih bejad daripada anjing geladak Asal aku orang she- Han dapat lolos dari tempat ini, aku bersumpah akan meratakan benteng Tay-peng ini dengan tanah"

sebagaimana diketahui, ia pernah dipenjarakan pihak Hian-hong-kau dalam penjara bawah tanah selama berapa tahun, siksaan itu nyaris membuatnya gila. Belum lama lolos dari siksaan kini harus mengalami kembali nasib yang sama.

Dalam anggapannya hidup dalam penjara jauh lebih mengenaskan dari pada jiwanya dicabut, tak heran kalau perasaannya jadi amat panik dan gelisah.

"Locianpwee, kau tak perlu panik," hibur Li Bun-yang pelan, "Dengan tenaga gabungan kita beberapa orang, meski untuk sementara terkurung di sini, aku yakin mereka pun tak mampu berbuat apa-apa terhadap kita. Apalagi adikku terkenal sebagai Khong Beng perempuan, asal ada dia di sini, kita tentu bakal lolos dari kurungan-"

" Engkoh Yang, kau jangan kelewat menyanjung kemampuanku" seru Li Tiong-hui cepat-cepat. "Melihat situasi saat ini, klta hanya bisa berusaha sementara nasib tetap ada di tangan Thian, Apabila Thian tidak membantu maka aku tak berdaya apa-apa." Habis berkata ia segera pejamkan mata dan mulai putar otak mencari akal. Han si-kong paling takut kalau sampai terkurung lagi di tempat semacam ini, mendengar ucapan tadi katanya buru-buru: "Yaa benar, aku pun pernah mendengar orang bilang, kecerdasan nona Li tiada taranya di kolong langit saat ini. Mulai sekarang kita wajib mendengar dan mentaati semua perintah nona Li. Asal ada perintah, aku pasti akan melaksanakannya tanpa membantah."

Li Tiong-hui sama sekali tidak menjawab, matanya dipejamkan rapat-rapat, ia seakan-akan tidak mendengarkan sama sekali ucapan Han si-kong tadi.

Li Bun-yang buru-buru berbisik: "Apabila menghadapi masalah yang pelik biasanya adikku akan memejamkan mata sambil berputar otak. dan di kala semua pikirannya sudah terpusat, maka hal apa pun tak akan digubris olehnya, Harap locianpwee jangan tersinggung dengan sikapnya itu."

"Yang paling penting buat kita saat ini adalah bagaimana caranya meloloskan diri Buat apa kita mesti buang waktu guna mempersoalkan masalah tetek bengek.... Aaaai... Padahal akulah biang keladinya, coba aku tidak berlagak sok pintar, tak nanti kalian semua ikut menderita siksaan ini."

"Hati manusia sukar diduga, Bagaimana pun locianpwee adalah sahabat karib Chee Tay-tong semenjak puluhan tahun berselang, darimana kau bisa mengetahui perbuatan, watak serta gerak geriknya sekarang? sudahlah, dalam peristiwa ini kau tak bisa disalahkan seandainya di kala kita memasuki lorong rahasia tadi sudah mulai memperhatikan letak rahasia lorong tersebut, tak mungkin kita bisa terjebak di sini."

"Dalam situasi begini yang penting adalah merundingkan cara memecahkan kurungan ini." sela Li Tiong-hui tiba-tiba. "Apa gunanya kalian membincangkan hal-hal yang tak berguna...?"

"Ehmmm, betul juga" sambung Han si-kong. "Memang lebih penting kita bicarakan soal tersebut." ia betul-betul takut bakal terkurung selamanya di tempat itu, sebab kalau sampai terkurung berapa tahun saja, dia akan lebih suka mencari mati daripada hidup tersiksa.

"sayang... sayang sekali," gumam Li Tiong-hui lagi "seandainya di antara kita ada yang mempunyai sebilah pedang mustika, keadaan akan lebih menguntungkan lagi."

satu ingatan melintas dalam benak Lim Han-kim, ia segera merogoh sakunya dan mengambil keluar pedang Jin-siang-kiam, lalu sambil menyodorkan ke muka, ia berkata:

"Pedang Jin-siang-kiam milikku ini amat tajam. Baja pun bisa dibabat, silahkan nona periksa, mungkin bisa digunakan." "Ehmmm, akan kucoba." sahut Li Tiong-hui dingin-

setelah menerima pedang itu, dengan langkah lebar dia berjalan menuju ke dinding lorong, Baru berjalan belasan langkah, ia sudah mendekati dinding lorong tersebut.

Li Tiong-hui tempelkan telinganya di atas dinding dan mendengarkan dengan penuh seksama, tiba-tiba wajahnya berubah hebat, ia pun menelusuri dinding sepanjang lorong itu untuk melakukan pemeriksaan satu per satu.

"Bagaimana Adik Hul?" tanya Li Bun-yang kemudian, "Apakah kita dapat keluar dari sini?" ^

" Hampir saja aku tertipu, rupanya di luar dinding lorong ini ada airnya."

Lim Han-kim mencoba memperhatikan gadis itu, tampak Li Tiong-hui menelusuri dinding itu dengan amat cermat, setiap maju beberapa langkah ia segera tempelkan telinganya pada dinding ruangan untuk melakukan pemeriksaan.

setelah berada cukup lama dalam kegelapan, pandangan mata keempat orang itu sudah dapat menyesuaikan diri dengan situasi tempat tersebut, meski tidak sejelas di tempat yang terang, namun secara garis besarnya mereka dapat mengawasi keadaan ruangan tersebut secara jelas.

Ternyata luas ruangan itu lebih kurang empat kaki, sebagian besar terbuat dari batu hijau yang keras dan kokoh. Ruangan itu dihubungkan jadi satu dengan lorong rahasia dan langsung berhubungan dengan ruang tamu, tapi berhubung diatas ruangan itu hanya dipasang jala baja yang tembus cahaya maka pada suasana malam begini gampang menimbulkan kesan yang salah bagi orang lain- Dikiranya tempat itu hanya sebuah halaman yang luas saja.

sementara itu Li Tiong-hui sudah berjalan mengelilingi seluruh dinding batu itu dan pelan-pelan berjalan kembali ke tempat beberapa orang itu berada. "Bagaimana?" tanya Li Bun-yang lagi "Tak bisa turun tangan?"

"Aku rasa mereka sudah mempersiapkan diri secara matang," sahut Li Tiong-hui pelan-"sebab dari sudut mana pun kita berusaha menjebol dinding batu itu, aku tak akan kita bisa lolos dari perhitungan mereka."

"Aku punya sebuah akal bagus, Cuma tak tahu cocok untuk digunakan atau tidak?" usul Lim Han-kim tiba-tiba.

"Coba katakan"

"Kita dapat menggunakan daya ingat masing-masing untuk menemukan pintu rahasia lorong tersebut, kemudian kita jebol dindingnya dan menerobos ke luar dari sini. Misalnya cara ini tak bisa, kita dapat menjebol pintu langsung menyerbu ke dalam ruang tamu dan bertarung mati-matian melawan mereka."

"Huuuh, itu mah bukan akal bagus." jengek Li Tiong- hui ketus.

Lim Han-kim merasakan pipinya jadi panas karena jengah, tapi ia membungkam diri dalam seribu basa

Li Tiong-hui kuatir Li Bun-yang menegurnya karena ejekan tersebut buru-buru katanya lagi: " Untuk sementara waktu lebih baik kalian duduk mengatur pernapasan di sini sambil menjaga kondisi badan. Aku yakin dalam satu jam mendatang pihak musuh tentu sudah melakukan suatu aksi Nah, pada saat itulah kita baru perhitungkan lagi situasi lawan sambil mencari akal untuk menghadapinya."

Mendengar perkataan itu, diam-diam Lim Han-kim berpikir: " Kenapa kita mesti duduk menunggu aksi musuh lebih dulu sebelum mencari upaya untuk mengatasinya Bukankah lebih baik melakukan tindakan dan menyerang musuh ini saat mereka tak siap?"

Walaupun dia kurang setuju dengan cara yang diusulkan Li Tiong-hui, namun setelah kebentur batunya barusan, rasa was-was dan sangsi telah menyelimuti perasaannya sehingga pemuda itu memilih lebih baik tidak banyak bicara ketimbang mendapat malu lagi, sebaliknya Li Bun-yang sangat yakin dengan kemampuan adik perempuannya, ia tahu gadis itu berbuat demikian karena ada alasan yang kuat, oleh karena itu ia pun segan banyak berdebat. sebaliknya Han si-kong hanya memikirkan bagaimana bisa lolos dari penjara tersebut. Karenanya dia pun tak punya waktu untuk menggubris hal tersebut.

Untuk sementara waktu suasana ruangan tersebut berubah jadi hening, tak kedengaran sedikit suarapun. sepenanakan nasi kemudian terdengarlah suara seseorang berkata dengan nada dingin: "Mulai detik ini kami akan memberi waktu selama setengah jam untuk mempertimbangkan. Apabila kalian enggan menyerahkan diri serta bergabung dengan perkumpulan kami, maka jangan salahkan jika kami akan bertindak keji dan tak berperasaan."

Han si-kong segera melompat bangun, umpatnya keras-keras: "Hei, manusia golongan tikus: Kalau berani ayo masuk dan berduel dengan aku, Hmmm Bila bertemu nanti, pasti akan kucincang tubuhmu jadi berkeping- keping"

suara dingin ini sama sekali tak menanggapi tantangan Han si-kong, terdengar ia berkata lagi: "Memandang kalian semua adalah jago-jago kenamaan dalam dunia persilatan, ketua perkumpulan kami tak ingin bermain kasar terhadap kamu semua, sikapnya terhadap kalian selama ini sudah terhitung cukup ramah."

"Anjing budukan tak tahu malu" umpat Han si-kong gusar "Kau anggap tuan besar Han-mu ini manusia macam apa? Tak nanti aku sudi menyerahkan diri kepada kalian."

"Hmmm, kalau begitu tunggu saja jalan kematian buat kalian semua"

Li Tiong-hui yang berada disisi Han si-kong buru-buru berbisik, "Locianpwee, jangan perdulikan mereka."

Tapi hawa amarah Han si-kong belum juga mereda, kembali teriaknya penuh rasa dongkol: " ingat- ingat saja kau Chee Tay-tong, manusia yang lupa budi, asal aku bisa lolos dari ruangan ini, pasti akan kujagal batok kepala anjingmu itu"

Li Tiong-hui tahu orang tua itu sedang dicekam perasaan murung bercampur khawatir, memang ada baiknya kalau dia mengumbar hawa amarahnya dengan umpatan-umpatan tersebut agar perasaannya lebih lega, oleh sebab itu dia tidak mencoba menghalangi, hanya kepada Li Bun-yang bisiknya: " Engkoh Yang, tampaknya pihak musuh telah membuat persiapan yang matang.

Mereka telah mempersiapkan diri di sekeliling dinding ini. Apabila kita nekad menerobos dinding tersebut, aku kuatir dalam gugup dan paniknya pihak musuh akan menggunakan segala cara untuk menghadapi kita .Jika sampai terjadi begini, susahlah kita dan dosisi kita malah tergencet di bawah angin"

Ketika mengucapkan perkataan itu, sepasang matanya hanya tertuju pada Li Bun-yang seorang, seakan-akan di sisinya cuma hadir Li Bun-yang saja. Ucapan itu diutarakan Li Tiong-hui dengan suara lirih, sementara Han si-kong yang berada di sampingnya sedang berteriak-teriak mencaci maki, otomatis Lim Han-kim yang berada di sisi lain tak bisa mendengar perkataan tersebut secara jelas meski dia memiliki ketajaman pendengaran yang luar biasa, tanpa sadar dia menggeserkan kepalanya ke samping.

siapa tahu secara tiba-tiba Li Tiong-hui tutup mulutnya sambil mundur beberapa langkah, kemudian duduk bersila, pejamkan mata dan mengatur pernapasan.

Walaupun Li Bun-yang belum mendengar Li Tiong-hui membeberkan caranya untuk meloloskan diri, namun ia tahu adiknya sudah mempunyai rencana yang matang, maka sambil tersenyum ia duduk bersila pula di atas tanah dan mulai atur pernapasan.

Pemuda ini sadar, dalam usaha meloloskan diri nanti, suatu pertempuran sengit tak mungkin bisa dihindari, maka dia hendak memanfaatkan kesempatan ini untuk mengatur tenaga dan mempersiapkan diri. Lim Han-kim tidak tahu perundingan apa yang telah dilakukan dua bersaudara itu, sekalipun dalam hati kecilnya sebetulnya dia ingin tahu, tapi bila teringat kembali kejadian memalukan yang dialaminya barusan, ia jadi tak berani banyak bertanya.

Dalam kesempatan itu Han si-kong telah berhenti mengumpat setelah umpatannya sekian lama sama sekali tak diladeni pihak lawan, membayangkan kembali penderitaannya semasa hidup dalam penjara, perasaannya jadi tak karuan, terkejut bercampur gusar.

Akhirnya ia tak dapat menahan diri lagi, teriaknya keras: "Nona Li, apakah kau sudah menemukan cara untuk meloloskan diri dari kepungan ini?"

Li Tiong-hui ada maksud membiarkan musuh yang menyadap pembicaraan mereka dari luar ruangan ikut mendengarnya, maka dengan suara yang keras pula sahut-nya: "susah, susah sekali Dinding sekeliling ruangan ini sangat kokoh dan keras, susah ditembusi gedang maupun golok."

"Lantas bagaimana?" teriak Han si-kong gelisah, "Jadi susah bagi kita untuk lolos dari sini?"

"Yaa... tampaknya memang susah." Han si-kong merasa amat terkesiap. "Waaaah... bagaimana ini? Kau tahu, masuk penjara rasanya lebih tersiksa daripada mampus."

Dengan ilmu menyampaikan suara buru-buru Li Tiong- hui berbisik: "Locianpwee tak usah putus asa. Aku yakin ruangan batu ini tak nanti bisa mengurung kita sepanjang masa "

Han Si-kong cukup berpengalaman begitu mendengar bisikan Li Tiong-hui, ia segera sadar bahwa gadis itu memang sengaja bicara demikian karena ingin mengelabui musuhnya, karena itu dia pun tidak banyak bicara lagi.

Tiba-tiba tampak cahaya api berkelip dalam ruangan tersebut, menyusul kemudian terendus bau harum yang sangat aneh tersiar luas di tempat itu. Dengan sigap Li Tiong-hui melompat bangun sambil serunya: "Cepat masukkan pil ini ke dalam mulut dan berusaha keras menutup semua pernapasan, mereka akan menggunakan obat pemabuk untuk merobohkan kita "

sambil berkata dia mengayunkan tangannya, tiga butir pil segera meluncur ke arah Li Bun-yang, Han si-kong serta Lim Han-kim, setelah itu terusnya: "Lebih baik kita berlagak seakan-akan mabuk oleh obat pemabuk itu, dengan begitu musuh akan terpancing masuk. Andai kata bukan terancam jiwa kita, lebih baik jangan turun tangan." Ketiga orang itu menurut dan segera masukkan pil itu ke dalam mulut, tutup semua pernapasan dan pura-pura tergeletak di atas tanah, Lebih kurang setengah jam kemudian, dari atas dinding batu itu berkumandang lagi suara teguran yang dingin: "sebentar lagi ketua perkumpulan kami akan tiba di sini, Mau hidup mau mati terserah pada pilihan kalian sendiri, tapi perlu kuingatkan, inilah kesempatan terakhir bagi kalian."

sejak awal Han si-kong sudah dipesan oleh Li Tiong- hui agar pura-pura semaput, maka walaupun ia mendengar semua perkataan itu dengan jelas, namun tetap berlagak tidak mendengar.

Ketika beberapa kali tegurannya tidak mendapat tanggapan, tiba-tiba saja suasana menjadi sangat hening. Tak lama kemudian kedengaran suara deritan bergema membelah keheningan, dari atas lentera yang menerangi kegelapan, berjalan masuk dua orang lelaki kekar berbaju hitam yang membawa golok di tangan, Di belakang kedua orang lelaki itu mengikuti seorang gadis berbaju hijau yang cantik jelita.

Lim Han- kim membuka sedikit matanya untuk melirik. tapi jantungnya segera berdebar keras, ternyata gadis cantik berbaju hijau itu tak lain adalah Lik-ling. Dengan sorot matanya yang jeli Lik-ling mengawasi Li Bun-yang sekejap. kemudian serunya sambil tersenyum: "Bagus sekali, ternyata mereka adalah dua bersaudara Li dari keluarga persilatan Bukit Hong-san, si monyet tua dan Lim Han- kim, rata-rata termasuk tokoh silat kenamaan dalam dunia persilatan."

Begitu melihat munculnya Lik-ling, secara diam-diam Han si-kong telah mengerahkan tenaga dalamnya ke tangan kanannya siap melancarkan serangan, begitu Li Tiong-hui memberi aba-aba, dia telah siap melancarkan sergapan paling kilat.

siapa yang mengira keadaan Li Tiong-hui seakan-akan betul-betul terbius oleh obat pemabuk. tubuhnya tergeletak tak berkutik di atas tanah, Mula-mula Lik-ling berjalan mendekati Han si-kong lebih dulu, katanya sambil tertawa dingin: "Hmmm, monyet tua, kau memang sudah ditakdirkan masuk penjara lagi, dulu kau bernasib mujur berhasil lolos dari cengkeraman kami, tapi sekarang... hmmm, rupanya kau telah mengantar dirimu sendiri"

Han si-kong mendongkol setengah mati, baru saja dia siap melancarkan serangan, mendadak lengannya terasa jadi kaku, ternyata jalan darahnya telah ditotok. kejadian ini tentu saja sama sekali di luar dugaan orang tua ini, dalam keadaan begini dia hanya bisa mengeluh dalam hati.

setelah jalan darahnya tertotok. orang tua ini semakin mengerti, satu-satunya kemungkinan baginya sekarang adalah menunggu pertolongan dari Li Tiong-hui, Ternyata gadis tersebut sama sekali tidak memberi reaksi apa pun, yang terdengar hanya suara tertawa Lik-ling yang nyaring dan sangat menusuk pendengaran

Diam-diam Han si-kong membuka matanya dan melirik ke arah perempuan itu, ia jumpai Lik-ling sedang mengayunkan tangannya berulang kali menotok jalan darah Lim Han-kim, Li Tiong-hui serta Li Bun-yang, yang lebih aneh lagi ternyata tak seorang pun di antara mereka yang melompat bangun melakukan perlawanan. Kejadian ini kontan saja mengobarkan hawa amarah orang tua ini, pikirnya: "Sialan... siapa suruh aku menuruti perkataan perempuan, nyatanya ucapan wanita memang tak boleh dipercayai," walaupun dalam hati kecilnya dia merasa gusar sekali, apa boleh buatjalan darahnya sudah tertotok sehingga tidak memiliki kemampuan untuk melancarkan serangan balasan.

Dalam keadaan begini terpaksa dia harus menekan gejolak emosinya di dalam hati.

Di tengah keheningan yang mencekam tiba-tiba berkumandang datang suara langkah kaki manusia yang sangat kacau, tampaknya ada banyak orang yang memasuki ruangan itu. Menyusul kemudian ia merasa badannya digotong orang menuju keluar ruangan, tak lama kemudian ia sudah merasakan angin malam yang berhembus di sisi badannya. Ketika ia mencoba menengok ke sam-ping, tampak Li Tiong-hui yang sedang digotong di sisinya tetap pejamkan mata rapat-rapat dan membiarkan badannya digotong ke luar.

Hatinya jadi makin jengkel dan mendongkol Mendadak terdengar suara bisikan lembut bergema di sisi te1inga- nya: "Locianpwee, cepat pejamkan matamu, kalau tidak memasuki sarang harimau mana mungkin kita bisa peroleh anak macan? jangan sampai ketahuan bahwa kita tidak mabuk oleh dupa pemabuknya, bisa berabe nanti."

Han si-kong amat terkesiap. kembali pikirnya: "Ternyata tenaga dalam yang dimiliki bocah perempuan ini belum punah... jadi ia memang sengaja berpura- pura "

setelah mengetahui keadaan yang sebenarnya, ia jadi amat lega, matanya segera dipejamkan dan diam-diam mengerahkan tenaga dalamnya untuk membebaskan diri dari pengaruh totokan, Mendadak tubuhnya terasa bergetar keras, ternyata ia sudah dibanting ke atas tanah, Menyusul kemudian terdengar seseorang berseru dengan suara dingin: "Berikan obat pemunahnya"

Dalam situasi dan keadaan seperti ini Han si-kong semakin tak berani membuka matanya, ia merasa bau harum yang semerbak menusuk penciumannya membuat sekujur badan terasa segar sekali, maka pikir-nya: "Aku rasa setelah mengendus obat penawar itu aku boleh membuka matanya kembali. "

Pelan-pelan dia membuka matanya, ternyata tubuh mereka saat itu sudah digotong masuk ke dalam sebuah ruang pertemuan yang sangat luas. Di bawah cahaya lilin tampak di hadapannya berjajar tiga buah kursi yang dilapisi kulit harimau.

Di atas kursi yang ada di tengah duduk seorang manusia berperawakan kecil langsing yang mengenakan topeng tembaga, di samping kanannya adalah seorang lelaki setengah umur yang membawa kipas, sedang di sebelah kiri duduklah Lik-ling.

Waktu itu Li Bun-yang, Li Tiong-hui serta Lim Han-kim yang berada di sisi kiri kanannya telah membuka mata mereka semua, Dengan pandangan mata yang tajam lelaki setengah umur yang membawa kipas itu menyapu sekejap wajah Li Bun-yang serta Li Tiong-hui, mendadak ia melompat bangun sambil mengulapkan tangannya.

seketika itu juga ada belasan orang lelaki kekar berpakaian ringkas yang munculkan diri dan langsung menerkam ke arah Lim Han-kim berempat.

Li Tiong-hui melompat bangun lebih dulu sambil memutar badannya yang ramping, ia lepaskan sebuah pukulan menghajar pergelangan tangan kanan lelaki yang berada paling depan- Golok besar yang berada dalam genggaman lelaki itu seketika terlepas dari cekalannya. Li Tiong-hui segera mencukil dengan ujung kakinya, tahu-tahu senjata tersebut telah berpindah tangan, setelah berhasil merebut senjata lawan, Li Tiong-hui tidak berhenti sampai di situ saja, goloknya langsung dibacokkan ke sisi tubuhnya. jeritan ngeri yang memilukan hati segera bergema memecahkan keheningan, seorang lelaki bersenjata golok kena bacok pada bahunya hingga kutung jadi dua bagian.

Berhasil melukai seorang musuh, Li Tiong-hui menyerang makin menggila, dalam waktu singkat ia berhasil merobohkan dua orang lagi. Li Bun-yang yang tak mau kalah, senjata kipasnya segera dipentangkan melindungi dada, sambil melompat bangun ia langsung menerkam manusia bertopeng tembaga yang duduk di kursi tengah itu.

Gerakan tubuh Lim Han-kim lebih cepat lagi, sekali sapuan ia merobohkan empat lelaki yang menerjang paling dekat dengan dirinya, lalu dari kejauhan ia lancarkan satu pukulan memukul rontok golok yang sedang membacok badan Han si-kong.

Mengikuti gerakan itu tubuhnya melompat ke muka, tangan kanan membendung serbuan musuh sementara tangan kirinya diayunkan menepuk bebas totokan jalan darah Han si-kong. Begitu bebas dari pengaruh totokan, Han si-kong melompat bangun sambil menyambar golok yang tergeletak di sampingnya, dengan suara keras bentaknya: " Cecunguk- cecunguk tengik Hari ini aku harus membantai kalian hingga lenyap dari muka bumi"

"sreeet.." Goloknya berputar ke belakang membacok seorang lelaki yang sedang menerjangnya .

serangan yang dilancarkan dalam keadaan gusar ini benar-benar luar biasa hebatnya, lelaki kekar itu mencoba menangkis dengan senjatanya. "Traaangg.,."

Benturan keras yang memekikkan telinga sebera berkumandang memecahkan keheningan. Lelaki itu tak sanggup menahan diri lagi, goloknya tergetar keras hingga mencelat dari genggamannya.

setelah Lim Han- kim menepuk bebas totokan Han si- kong, ia menerjang lagi ke arah musuh-musuhnya. Dari totokan berubah jadi pukulan, dalam waktu singkat ada tiga orang berhasil dirobohkan-

Manusia bertopeng tembaga yang duduk di kursi tengah itu betul-betul tenang sekali

Dia sama sekali tak menggubris terkaman Li Bun- yang. jangankan bergerak. melirik sekejap pun tidak. Di saat kritis itulah lelaki setengah umur yang telah bangkit berdiri tadi segera melintangkan tubuhnya menghalangi terjangan Li Bun-yang, senjata kipasnya dibabat keluar dari samping.

Li Bun-yang cukup berpengalaman dan luas pengetahuannya, Dari gaya serang lawan ia sudah tahu kalau telah bertemu musuh tangguh, Hawa murninya seketika dihimpun dalam pusar, badannya yang sedang menerjang ke muka dihentikan seketika.

Begitu turun ke atas tanah, pergelangan tangannya diputar, senjata kipasnya bergulung ke luar dari bawah menyapu urat nadi pada pergelangan tangan orang itu. Cepat-cepat orang itu miringkan badannya mengegos ke samping, lolos dari ancaman telapak tangan kirinya didorong ke depan melancarkan sebuah pukulan.

Kedua orang itu sama-sama menggunakan senjata kipas, dalam pertarungan senjata mereka sebentar merapat sebentar pula merenggang, perubahan yang terkandung di balik gerak serangan amat banyak dan sukar diduga sebelumnya, membuat seluruh arena tergulung dalam bayang-bayang kipas mereka, keadaan sungguh menegangkan.

Dalam sekejap mata kedua belah pihak telah saling bertarung hampir tujuh delapan belasan jurus, namun keadaan tetap berimbang tiada yang menang dan tiada yang kalah. Diam-diam Li Bun-yang amat terkejut, pikirnya: "Sungguh tak nyana di dalam benteng Tay-peng yang kecil ini ternyata terdapat seorang jago silat setangguh ini"

Ia semakin tak berani bertindak gegabah. Kipasnya diputar makin kencang, secara beruntun ia lepaskan lagi tiga buah serangan, Ketiga jurus serangan itu dilepaskan dengan cepat, ganas dan keji, hebatnya bukan kepalang.

Namun manusia berjubah hijau itu tak lebih hanya terdesak mundur setengah langkah saja. Kali ini permainan jurusnya berubah, dua buah pukulan berantai dilontarkan berbarengan, lagi-lagi posisinya yang terdesak berhasil dimantapkannya kembali.

Di pihak lain, Lim Han- kim dengan mengandalkan ilmu pukulannya telah berhasil melukai delapan sembilan orang musuh, Ketika melihat Li Bun-yang telah berjumpa musuh tangguh dan kelihatannya dengan kekuatan seorang diri tampaknya sulit bagi pemuda itu untuk menerjang lewat dari hadangan manusia berjubah hijau itu, maka kepada Han si-kong segera bisiknya: "Locianpwee, harap kau hadapi tempat ini sendirian, aku hendak membantu saudara Li."

Waktu itu api amarah bergelora dalam dada Han si- kong, secara beruntun ia telah berhasil merobohkan tiga orang musuh, tapi jumlah penyerang makin lama semakin banyak, begitu seorang roboh, yang lain segera maju mengisi kembali Karenanya dengan suara keras sahutnya: "Tak usah kuatir, serahkan saja kepadaku"

Goloknya diputar semakin gencar, secara beruntun dia lepaskan tiga buah serangan. Ketiga bacokan itu dilancarkan sangat garang dan hebat memaksa lelaki kekar yang mengepung terdesak mundur dari arena.

Lim Han-kim segera melepaskan sebuah pukulan dahsyat, tenaga serangannya bagaikan amukan gelombang samudra menggulung ke muka mendesak mundur beberapa orang musuh menghadang jalan lewatnya.

Begitu musuh terdesak mundur, Lim Han-kim segera manfaatkan peluang itu untuk melompat ke depan dan meluncur ke sisi arena, Gerakan tubuhnya ini dilakukan dengan kecepatan luar biasa, Dalam sekali lompatan saja ia telah tiba di arena di mana Li Bun-yang sedang bertarung melawan sastrawan setengah umur itu.

Tangan kirinya bekerja cepat, ia lepaskan sebuah cengkeraman kilat menyambar urat nadi pada pergelangan tangan kanan si sastrawan yang menggenggam senjata kipas itu.

Tiba-tiba dari sisi tubuhnya terasa desingan angin tajam menyergap badannya, menyusul kemudian kedengaran Lik-ling tertawa nyaring. Lim Han-kim tertawa dingin, tangan kanannya dibalik ke belakang melepaskan sebuah pukulan, sedangkan tangan kirinya tanpa merubah gerakan meneruskan cengkeramannya mengancam urat nadi pada pergelangan tangan kanan sastrawan setengah umur itu. "Blaaaammmm. . . "

Benturan nyaring bergema membelah angkasa, Ketika tenaga pukulan Lik-ling saling beradu dengan pukulan Lim Han-kim, tubuh perempuan cantik itu seketika tergetar mundur sejauh dua langkah dari posisi semula.

Meski Lim Han-kim harus beradu tenaga dengan Lik- ling, kejadian ini sama sekali tidak mempengaruhi gerak serangan tangan kirinya, dalam sekejap mata jari tangannya telah menempel di atas urat nadi sastrawan setengah umur itu. sambil mengerahkan tenaganya untuk menggencet, bentaknya keras: "Lepaskan.,." Belum habis ia bicara, mendadak telapak tangannya terasa amat sakit, tenaga serangan pada kelima jari tangannya lenyap seketika.

Pemuda itu jadi amat terperanjat, cepat-cepat dia melompat mundur dari arena.

"saudara Lim, kenapa kau?" tanya Li Bun-yang kaget, Senjata kipasnya segera mengeluarkan jurus "Memotong Dua Bukit Karang" untuk mendesak mundur sastrawan setengah umur itu, sementara tubuhnya bergeser ke sisi Lim Han-kim. Anak muda itu segera memeriksa tangan kirinya, Di bawah cahaya lilin tampaknya di atas telapak tangannya itu telah muncul setitik mulut luka berwarna merah gelap, sebatang jarum yang amat lembut masih menancap di situ. seandainya tak ada darah yang masih meleleh ke luar, orang akan sulit untuk mengetahui ada jarum lembut yang menancap di situ.

Terdengar sastrawan setengah umur itu berkata dengan dingin: "Ia sudah terkena jarum sakti sam- coat- sin-ciamku. jarum itu mengandung racun yang sangat ganas, siang tak bertemu malam, malam tak bertemu pagi, kecuali obat penawar buatanku sendiri, jangan harap ada orang di dunia ini yang bisa menawarkan racunku itu."

Ketika menyaksikan keadaan luka di telapak tangan Lim Han-kim diam-diam Li Bun-ya merasa terkesiap, Dia tahu ucapan orang tersebut mungkin memang agak dibesar-besarkan, tapi terlukanya Lim Han-kim oleh jarum beracun memang benar-benar merupakan satu kenyataan-

Pada saat yang sama di tengah ruang pertemuan yang luas itu sudah dipenuhi belasan sosok tubuh manusia yang bergelimpangan di atas tanah. Di bawah serangan Li Tiong-hui yang bertubi-tubi serta terkaman Han si- kong yang lebih garang dari harimau, dalam dua tiga gebrakan selalu ada lawan yang menjadi korban, sementara itu si sastrawan setengah umur itu pun diam- diam merasa terkejut setelah melihat kehebatan ilmu silat beberapa orang itu ia sadar apabila pertarungan dibiarkan berlangsung terus, maka walaupun jumlah kekuatan dipihaknya masih banyak. namun yang bakal jatuh korbanpun tak akan sedikit jumlahnya .

Maka sambil menjura ke arah Li Bun-yang, ujarnya: "Sobatmu telah terluka oleh jarum beracunku, kecuali obat penawar racunku, tak ada obat lain di dunia ini yang bisa mengobati luka tersebut Lebih baik suruh teman- temanmu berhenti menyerang, kita bisa bicarakan persoalan ini secara baik-baik."

Li Bun-yang memperhatikan sekejap situasi disekeliling tempat itu, kemudian katanya: "Kau suruh anak buahmu berhenti menyerang lebih dulu" sastrawan berusia pertengahan itu benar-benar membentak keras: "Tahan"

sesungguhnya kawanan lelaki kekar itu sudah dibuat keder oleh kehebatan musuh-musuhnya, namun karena takut melanggar peraturan perkumpulannya, terpaksa mereka harus melakukan perlawanan habis-habisan, Li Tiong-hui sendiri segera mengetahui kalau sudah terjadi perubahan di arena setelah menyaksikan para pengepungnya mengundurkan diri, sambil berpaling ke arah Li Bun-yang, tegurnya: "Ada apa engkoh Yang?" Li Bun-yang menghela napas panjang: "Aaaai, saudara Lim sudah terluka, kita tak bisa melanjutkan pertarungan ini."

"Aaaah, masa begitu?" bentak Han si-kong keras- keras, sambil melompat mendekat "Di mana lukanya?"

"Aaah, tidak mengapa, cuma luka kecil," sahut Lim Han-kim sambil tertawa hambar, "Aku yakin masih sanggup mempertahankan diri, kalian tak usah menguatirkan kesela matanku silahkan turun tangan- kalau bisa basmi habis semua musuh tangguh."

setelah sekian lama bersama-sama dengan pemuda ini, dalam hati kecil Han si-kong telah timbul rasa persahabatan-nya dengan pemuda ini, dia merasa kuatir sekali dengan keselamatan sobatnya itu, dengan perasaan cemas teriaknya kemudian: "Masalah semacam ini tak bisa dipaksakan di mana lukamu, coba perlihatkan kepadaku."

"Aaah, hanya sedikit luka kecil. " sahut Lim Han-kim

sambil mengangkat tangan kirinya, Tiba-tiba ia tutup mulut dan tidak melanjutkan perkataannya lagi. Ternyata hanya dalam waktu singkat telapak tangan kiri Lim Han- kim telah berubah menjadi hitam pekat

"Waaah.,. itu mah luka keracunan.,." teriak Han si- kong amat terperanjat. " Cepat totok jalan darah Ci-ti-hiat, Ngo-li-hiat dan Pit- ji-hiat pada lengan kirinya," perintah Li Tiong-hui cepat, "jangan biarkan hawa racun itu menyerang isi perut melalui jaluran nadi Peng-yang-beng tay-ciong-keng "

Li Bun-yang mengiakan dan segera turun tangan menotok tiga buah jalan darah penting di tubuh Lim Han- kim. Mendadak terdengar sastrawan setengah umur itu tertawa tergelak "Ha ha ha ha Nona Li, kau betul-betul

seorang ahli"

"Maafkan aku karena tidak kenal siapa anda," ucap Li Tiong-hui ketus.

" Walaupun aku sering melakukan perjalanan di dalam dunia persilatan, namun identitasku selalu terselubung, jangankan nona, sesungguhnya memang tak banyak orang di jagad ini yang kenal dengan aku."

Pada saat itu Li Bun-yang telah mengalihkan sorot matanya ke wajah manusia bertopeng tembaga yang duduk di kursi tengah itu, ia lihat orang tersebut tetap duduk tak bergerak diposisinya semula, seakan-akan hasil pertarungan sengit yang berlangsung dalam ruang pertemuan tersebut serta sekian banyak korban yang telah berjatuhan sama sekali tak ada sangkut paut dengan dirinya, ia duduk bagaikan sebuah patung saja. keadaan demikian betul-betul menimbulkan kecurigaan bagi siapa pun yang melihatnya. Terdengar Li Tiong-hui menegur dengan nyaring: "Bila kulihat dari tingkah laku serta gerak gerik kalian yang serba misterius ini, aku tebak kamu semua pasti berasal dari perkumpulan Hian-hong-kau bukan?"

"Dugaan nona tepat sekali," sastrawan setengah umur itu menjawab sambil tersenyum, "Hingga detik ini, perkumpulan kami telah mendirikan dua puluh enam cabang di Utara maupun selatan sungai besar, aku yakin dalam tiga tahun mendatang "

"Hmmm Kemampuan kalian tak lebih cuma gertak sambal belaka" tukas Li Tiong-hui ketus. "Bila kulihat dari kedudukanmu yang cukup tinggi, boleh aku tahu, engkaukah ketua perkumpulan Hian-hong-kau?"

Paras muka sastrawan setengah umur itu tiba-tiba saja berubah serius, sahutnya: "Wibawa dan keperkasaan ketua kami jauh melebihi siapa pun, mana mungkin aku bisa menandingi kemampuan ketua?"

"Lantas apa kedudukanmu dalam partai?" "Pelindung hukum"

"Lalu siapa pula manusia bertopeng tembaga yang duduk di kursi tengah itu?" tanya Li Tiong-hui sambil tertawa dingin,

"Ketua kami," jawab sastrawan itu serius, selesai berkata ia memberi hormat kepada orang itu. "Hmmmm Manusia berhati pengecut Kalau memang dialah ketua perkumpulan Hian-hong-kau, kenapa tak berani menjumpai orang dengan wajah aslinya...?"

"Bagi orang yang pernah melihat wajah- ku, hanya tersedia dua pilihan, diambil," kata orang bertopeng tembaga itu dingin, " Kalau tidak bergabung dengan perkumpulan kami, hanya jalan kematian saja yang tersedia."

Li Bun-yang maupun Han si-kong sama-sama tertegun, mereka merasakan suara orang itu begitu merdu dan halus, sudah jelas suara seorang perempuan, Kembali Li Tiong-hui tertawa dingini "He he he he... siapa hidup siapa mati masih terlalu awal untuk dibicarakan sekarang, paling tepat kalau kau lepaskan dulu topengmu itu."

orang yang duduk di kursi utama itu pelan-pelan menggerakkan tangan kanannya dan melepaskan topeng tembaga yang dikenakan Di bawah cahaya lilih, para jago merasa pandangan matanya jadi silau, Dari balik topeng tembaga itu muncullah selembar wajah yang cantik jelita tak terkirakan.

Walaupun sastrawan setengah umur itu sudah banyak tahun berkumpul dengan ketuanya, bahkan seringkali malah berada di sampingnya, namun agaknya dia sendiri pun belum pernah melihat wajah asli ketuanya itu. Ketika melihat perempuan itu melepaskan topeng tembaganya, dengan sepasang mata melotot besar dia awasi ketuanya itu tanpa berkedip.

Tampaknya Li Bun-yang sendiri tidak menyangka ketua perkumpulan Hian-hong-kau yang terkenal misterius dan kejam itu ternyata seorang perempuan yang cantik jelita bak bidadari dari kahyangan, tanpa terasa dia mengamati wajah ayu itu beberapa kejap lamanya, perempuan itu benar-benar cantik, alis matanya yang melenting bagai semut beriring, matanya jernih bagaikan bulan purnama, hidungnya mancung dan bibirnya kecil mungil seperti delima merekah.

"Benar-benar seorang gadis yang amat cantik" puji Han Si-kong dengan suara nyaring, "Hanya sayang, cantik di luar busuk di dalam, kenapa seorang gadis secantik bidadari bisa memiliki hati sekeji ular berbisa "

Mendadak gadis cantik itu melentik ke udara dan meluncur ke hadapan Han si-kong dengan kecepatan luar biasa.. "Plaaaak" Tahu-tahu pipi Han Si-kong sudah ditampar satu kali.

Tamparan itu dilakukan dengan kecepatan bagaikan sambaran petir, bukan saja Han si-kong tak sempat menghindarkan diri, bahkan Li Bun-yang yang berdiri di sampingnya pun merasakan hatinya terkesiap ia merasa gadis itu berkelebat cepat sekali, bukan begitu saja kecepatannya melancarkan seranganpun belum pernah dijumpai sebelumnya. Han si-kong sendiri merasakan tubuhnya bergetar keras, dengan darah bercucuran membasahi ujung bibirnya ia mundur beberapa langkah dengan sempoyongan.

Terdengar gadis cantik itu berkata lagi dengan suara dingin: "Anggapsaja tamparan itu sebagai hukuman yang paling ringan bagi kelancangan mulutmu, Hmmm jika lain kali berani bicara tak karuan lagi, hati-hati kugampar mulutmu sampai giginya pada rontok."

selama hampir separuh hidupnya Han si-kong berkelana dalam dunia persilatan, belum pernah ia terima penghinaan seperti ini, apalagi ditampar seorang gadis di muka umum, siksaan batin yang dirasakannya saat ini jauh lebih hebat ketimbang mati dibunuh.

Maka sambil mengerahkan tenaga dalam untuk menahan rasa sakit, hawa murninya segera dihimpun dalam telapak tangannya, sambil membentak nyaring sebuah pukulan langsung dilontarkan ke depan-

Gadis cantik jelita itu tertawa merdu, dengan amat Cekatan dia berkelit ke samping, sementara tangan kanannya dikebaskan ke muka, dengan jari-jari tangannya yang runcing itu ia babat urat nadi pada pergelangan tangan lawan.

Buru-buru Han si-kong menarik balik tangan kanannya yang digunakan untuk menggempur tadi, sementara tangan kirinya dengan ilmu Ki-na-jiu-hoat berusaha mencengkeram urat nadi lawan.

Gadis cantik jelita itu sama sekali tidak menarik kembali tangan kanannya yang digunakan untuk menggempur itu, hanya kelima jari tangannya dirapatkan lalu melepaskan satu sentilan maut. Baru saja tangan kiri Han si-kong akan menempel di atas urat nadi pada pergelangan tangan kanan lawan ketika secara tiba-tiba ia merasakan datangnya sergapan segulung desingan angin tajam, orang tua itu sangat terkejut.

Berada dalam keadaan begini terlambat sudah baginya untuk menghindarkan diri, tahu-tahu urat nadi pada pergelangan tangan kirinya jadi kaku, seluruh lengan kiri itu jadi lemas dan tergantung ke bawah.

sejak menyaksikan gadis cantik itu melancarkan gempuran tadi, Li Bun-yang sudah tahu kalau Han si- kong bukan tandingan lawannya, maka sejak dini pula ia sudah mengerahkan hawa murninya mempersiapkan diri.

begitu pergelangan tangan kiri Han si-kong terluka, dengan suara lantang ia segera berseru: "Tak heran kalau nona mampu memimpin perkumpulan Hian-hong- kau, ternyata ilmu silatmu memang benar-benar ampuh. Maaf, aku ingin menjajal beberapa jurus ilmu silatmu." Belum selesai beberapa perkataan itu diutarakan, secara beruntun dia telah melancarkan tiga jurus serangan.

Keanekaragaman ilmu silat keluarga persilatan Bukit Hong-san boleh dibilang merupakan kebanggaan tersendiri bagi keluarga ini, juga boleh dibilang tiada duanya di kolong langit Dalam melancarkan ketiga jurus serangannya barusan Li Bun-yang telah menggunakan tiga jenis ilmu pukulan yang berbeda pula untuk mengurung musuhnya rapat-rapat.

Namun sayang ilmu silat perempuan cantik itu betul- betul di luar dugaan, Dengan gampang dan enteng sekali semua serangan tersebut dapat dipunahkan satu persatu.

Sepanjang pertarungan berlangsung Li Tiong-hui selalu mengikuti perkembangan tersebut dengan seksama. begitu gadis cantik itu berhasil memunahkan ketiga jurus serangan Li Bun-yang secara gampang, ia segera sadar bahwa kemenangan bukan berpihak padanya dalam pertarungan malam ini, maka dengan suara dingin bentaknya: "Tahan"

Li Bun-yang cukup mengetahui kecerdasan adik seperguruannya ini, begitu mendengar bentakan itu, ia segera tahu kalau adiknya telah berhasil menemukan siasat untuk menghadapi lawannya, karena itu cepat- cepat dia menarik kembali serangannya dan melompat mundur sejauh lima depa dari posisi semula.

Dengan cekatan Li Tiong-hui menghadang di depan Li Bun-yang, tegurnya seraya menjura: "Kehebatan ilmu silat nona belum pernah kujumpai sebelum ini, aku betul- betul merasa kagum dengan kemampuanmu itu."

"Apakah kau tidak puas?" seru gadis cantik itu dengan kening berkerut kencang.

"Aku belum sempat bertarung melawan nona,judi menang kalah masih sukar untuk diramalkan."

"He he he he... tak ada salahnya untuk dicoba" tantang gadis cantik itu sambil tertawa dingin.

"sebelum pertarungan kita langsungkan, terlebih dulu aku ingin menanyakan dua hal kepadamu"

"Tanya saja"

Pelan-pelan Li Tiong-hui menyapu sekejap sekeliling ruangan itu, lalu katanya: "dalam pertarungan kita nanti, seandainya kau berhasil mengungguli kami, tentu saja kami bersedia menuruti semua perintahmu, sebaliknya kalau kami yang menang, apa yang hendak kau perbuat?"

Gadis cantik itu tertawa dingin, "HHmmmm Andaikata kau benar-benar berhasil mengungguli diriku, aku akan melanggar kebiasaan dengan melepaskan kalian pergi meninggalkan tempat ini."

"Bagus, seandainya kami yang kalah di tanganmu, kami akan rela bergabung dengan partai Hian- hong- kau kalian serta mentaati semua petunjuk serta perintahmu"

"Bagus sekali" seru gadis cantik itu sambil tersenyum, "Kita tetapkan dengan sepatah kata ini." Begitu selesai berkata, tangannya segera diayunkan ke muka melancarkan sebuah totokan-

Dengan cekatan Li Tiong-hui mengegos ke samping, serunya: "Tunggu sebentar, perkataanku belum habis diutarakan"

Tampaknya gadis cantik itu sudah tak sabar lagi, serunya penuh amarah: "Kalau masih ingin bicara, cepat katakan keluar" Li Tiong-hui tertawa hambar.

"Seandainya kau benar-benar ingin menarik kami masuk menjadi anggota perkumpulan Hian- hong- kau dan berbakti untuk- mu, maka kau berkewajiban menggunakan ilmu silat yang sebenarnya untuk mengungguli kami, jangan sekali-kali menggunakan makhluk beracun atau senjata rahasia"

"Jangan khawatir, aku pasti akan memenuhi harapanmu itu" Habis berkata kembali sebuah pukulan dilontarkan ke depan: Li Tiong-hui segera silangkan tangannya membendung gempuran tersebut, kemudian dengan sepenuh tenaga melepaskan tiga buah serangan balasan, kembali katanya: "Apabila kau ingin membawa perkumpulan

Hian- hong- kau merajai dunia persilatan, aku sih punya sebuah cara yang bagus sekali."

"Apa caramu?" Tak tahan gadis cantik itu bertanya.

Sambil melancarkan serangan-serangan berikut yang lebih gencar, sahut Li Tiong-hui: "Dalam dunia persilatan dewasa ini terutama daratan Tionggoan, Partai siau-lim dan Bu-tong merupakan dua partai paling besar yang memiliki pengaruh paling kuat, seandainya kau mampu menggertak beberapa orang jago dari kedua partai besar itu untuk berpihak kepadamu, maka keberhasilanmu akan jauh melampaui kemampuanmu menaklukkan beribu-ribu anggota rimba hijau. "

Gadis cantik itu merasakan hatinya tergerak, segera tukasnya: "Yaaa, betul juga perkataanmu itu, kenapa tidak terpikir olehku sejak tadi..?"

Jari tangannya dari totokan diubah jadi pukulan, secara beruntun dia punahkan pula rangkaian serangan gencar dari Li Tiong-hui itu, Dalam hati kecilnya diam- diam Li Tiong-hui terperanjat juga oleh kehebatan ilmu silat lawannya, ia mulai berpikir: "Entah dari mana asal usul perempuan ini? Hebat amat ilmu silat yang dimilikinya " Berpikir begitu, ia berkata pula: "Selama ini para anggota Partai Siau-lim serta Bu-tong dipandang tinggi oleh sesama anggota persilatan, apabila kau bisa memanfaatkan kedudukan mereka itu untuk turun tangan secara diam-diam, maka beberapa orang tokoh silat yang berkepandaian tinggi dan berkedudukan terhormat dalam dunia persilatan mungkin bisa pula kau taklukkan. Andaikata mereka menolak bisa juga kalian lenyapkan mereka secara diam-diam, dengan demikian bukankah pamor Hian-hong-kau akan lebih cepat naik dan termashur di mana-mana "

Beberapa patah kata itu benar-benar membuat gadis cantik itu merasa takluk, ujarnya setelah menghela napas panjang: "Kecerdasanmu benar-benar jarang ditemui di kolong langit, seandainya kau bersedia untuk bekerja sama dengan aku, tak sulit untuk mempopulerkan Partai Hian-hong-kau dalam dunia persilatan,"

Li Tiong-hui tersenyum, bisiknya tiba-tiba: "Walaupun aku punya niat untuk bekerja sama denganmu, tapi ada satu masalah besar yang mesti kuhadapi dewasa ini. "

"Masalah apa?" bisik gadis cantik itu pula,

"Di antara kami berempat, orang she-Lim itu terhitung memiliki ilmu silat paling bagus, tapi ia orang jujur dan polos, Apabila kau hendak menggertaknya dengan ancaman keselamatan jiwa, nisCaya dia akan menolaknya mentah-mentah. Aaaai. lain Ceritanya jika kau mampu menaklukannya dengan andalkan ilmu silat, dengan begitu dia pun bisa menyanggupi keinginan kita secara ikhlas."

sementara pembicaraan masih berlangsung, serangan dan gempuran yang dilancarkan makin bertambah hebat.

"Baiklah," ujar gadis cantik itu kemudian "Akan kucoba menuruti perkataanmu itu, apabila kau benar-benar bersedia bergabung dengan Partai Hian-hong-kau kami, aku tentu akan memberi kedudukan yang tinggi kepadamu. "

"Kunci permasalahannya justru terletak pada orang she-Lim itu, asal ia setuju, sisa yang lain tak perlu dipermasalahkan lagi." Dalam pada itu pertarungan yang berlangsung makin lama makin bertambah sengit, tapi pembicaraan antara mereka berdua juga makin lama semakin bertambah lirih.

secepat kilat gadis cantik itu melepaskan tiga buah pukulan berantai, setelah berhasil memperbaiki posisinya ia berta-nya: "Apa hubunganmu dengan orang she-Lim itu? Kenapa kau mesti menuruti perkataannya?"

Li Tiong-hui tersenyum, dia tidak langsung menjawab pertanyaan itu, hanya katanya: "Dia itu orangnya gagah,jujur, terbuka dan perkasa, Apabila kau ingin membuatnya takluk. jangan sekali- kali menggunakan taktik licik atau main bokong." Gadis cantik itu makin perketat serangannya dan menyeret Li Tiong-hui terjerumus dalam lingkaran bayangan pukulannya, setelah itu tanyanya lagi sambil ter-tawa: "Apakah dia suamimu?"

Kali ini Li Tiong-hui tidak menjawab, dia mainkan sepasang telapak tangannya semakin ketat dan melancarkan serangan balasan dengan sepenuh tenaga. Tanpa terasa dua orang itu sudah terlibat dalam pertarungan sebanyak dua puluh gebrakan, tapi lantaran mereka bertarung sambil berbincang-bincang dengan sendirinya kedua belah pihak tak mampu mengeluarkan jurus-jurus pemunah untuk melenyapkan lawannya.

Kini Li Tiong-hui tidak berbicara lagi, sedang gadis cantik itu pun tidak memberi tanggapan pula, karenanya pertarungan yang berlangsung pun makin lama makin bertambah gencar dan hebat. Tanpa terasa dua belah pihak telah saling bertarung empat lima belas gebrakan lagi.

Makin bertarung Li Tiong-hui merasa makin terperanjat, ia merasa di balik semua serangan jari dan telapak tangan lawan selalu terselip jurus-jurus serangan yang aneh dan sukar dimengerti Akhirnya Li Tiong-hui semakin sadar bahwa ilmu silat yang dimiliki pihak lawan jauh mengungguli kemampuannya, maka ia pura-pura membuka posisi pertahanannya dan menyongsong pukulan lawan dengan bahu kirinya. sebagai seorang pakar ilmu silat, sudah barang tentu gadis cantik itu pun tahu kalau lawannya sengaja mengalah, maka pukulan yang dilontarkan juga ringan sekali sesungguhnya. Li Tiong-hui sudah memperhitungkan secara baik-baik arahnya untuk mundur, maka begitu bahunya kena pukulan, ia segera mundur secara sempoyongan dan kebetulan sekali menghadang di hadapan Li Bun-yang. sebetuinya Li Bun- yang sudah siap turun tangan untuk memberi bantuan, tapi ketika melihat Li Tiong-hui mundur ke hadapannya, buru-buru dia rangkul adiknya itu sambil tanyanya dengan cemas: "Adik Hui, parahkah lukamu?"

Paras muka Li Tiong-hui pucat pasi seperti mayat, butiran keringat tampak membasahi jidatnya, tapi diam- diam ia tarik ujung baju Li Bun-yang sambil memberi tanda.