-->

Pedang Keadilan I Bab 16 : Majikan Han Gwat Menagih janji

 
Bab 16. Majikan Han Gwat Menagih janji

"Hah. ? pedang usus ikan" pekik Han si-kong begitu

menyaksikan bentuk pedang pendek itu.

"Benar," kata kakek berambut putih itu sambil tertawa hambar, "Tampaknya saudara mengerti barang berharga."

Kembali ia menebaskan pedangnya, Borgol ditangan Han si-kong kontan hancur berkeping- keping .

sudah cukup lama mereka berdua mengenakan borgol di tangannya, kini begitu terlepas dari belenggu tak kuasa lagi mereka rentangkan tangannya berulang kali sambil menghembuskan napas lega.

Mendadak Han si-kong teringat kembali dengan kejadian yang barusan berlangsung di mana sepasang manusia aneh dari Thian-lam mendesak Thian-hok sangjin agar memberitahu jejak sepasang mestika itu. sungguh tak disangka olehnya salah satu di antara dua mustika tersebut yakni pedang usus ikan bisa muncul di pondok Lian-im-lu ini.

Ketika ia mencoba menengok ke arah Thian-hok sangjin, tampak pendeta itu sedang duduk serius sambil mengawasi pepohonan di luar ruangan, tampaknya ia sedang memikirkan sesuatu. Dalam pada itu kakek berambut putih itu sudah duduk kembali ke tempatnya semula, setelah membebaskan borgol di tangan ke dua orang itu, kepada Han-gwat katanya: "Nona pun ikut datang, sana, pergilah ke belakang menengok dia"

Tiba-tiba Thian-hok sangjin menarik kembali pandangan matanya, kepada Han si-kong dan Lim Han- kim katanya: "silahkan duduk"

"Totiang, apakah kau ada petunjuk?" tanya Lim Han- kim cepat.

Thian-hok Sangjin menghela napas panjang.

"Aaaai... pondok Lian-im-lu tak pernah menerima tamu berlama-lama. Kini borgol di tangan kalian sudah diputuskan, apa yang menjadi harapan pun sudah terpenuhi. Aku rasa sudah saatnya bagi kalian untuk pergi meninggalkan tempat ini."

Lim Han-kim memandang kakek berambut putih itu sekejap, lalu ia melompat bangun dan serunya sambil menjura: "Kalau begitu aku mohon diri lebih dulu."

Tanpa membuang waktu dia putar badan dan melangkah keluar,Han Si-kong ikut bangkit berdiri sambil menyambung: "nama besar totiang sudah puluhan tahun lamanya kukagumi. setelah perjumpaan hari ini ternyata hanya begini saja sikapmu. Meski ilmu silatmu terhitung nomor wahid, - namun aku orang she-Han tak akan menghormati dirimu lagi."

Selesai berkata dengan langkah lebar dia keluar dari rumah gubuk itu untuk menyusul Lim Han-kim.

Mendadak terdengar ujung baju terhembus angin berkumandang lewat, tampak sesosok bayangan manusia berkelebat lewat, Temyata kakek berambut putih itu sudah melampaui Lim Han-kim berdua dan kini menghadang jalan pergi mereka.

Sejak masuk ke dalam ruang tamu itu Han Si-kong telah memperhatikan orang ini, Dia wajahnya amat asing dan belum pernah dijumpai sebelumnya, tapi kalau dilihat hubungannya yang begitu akrab dengan Thian- hok Sangjin, semestinya kakek itu bukan manusia sembarangan Maka ia mundur dua langkah dan menonton jalannya perubahan dengan sangat tenang, Dalam pada itu Lim Han-Kim telah menegur dengan kening berkerut: "Lo-cianpwee, apa maksudmu menghadang jalan pergiku?"

Setelah diusir oleh Thian-hok Sangjin dengan sikap dingin barusan, pemuda ini sudah merasa naik darah, apalagi menghadapi hadangan tersebut, amarahnya kontan makin meluap.

Kakek berambut putih itu menghela napas panjang: "Aaaai... selama ini aku selalu dibuat pusing kepala oleh penyakit yang diderita putri kesayanganku, akibatnya rambut yang hitam pun telah berubah memutih hanya dalam berapa tahun saja "

"Orang tua mencintai putra putrinya, itu sudah kodrat" sela Lim Han-kim hambar. Berkilat sepasang mata kakek berambut putih itu. Dengan sinar mata yang tajam diawasinya anak muda itu tajam-tajam, kemudian katanya: "Putriku bisa bertahan belasan tahun lamanya dari gangguan penyakit itu, hal tersebut membuktikan bahwa penyakit yang dideritanya bukan penyakit yang mematikan. Oleh sebab itu aku harus berusaha dengan segenap kemampuan yang kumiliki untuk menyembuhkan penyakitnya itu, kejadian ini pula yang memaksa aku harus menyerempet bahaya dan tidak memperdulikan peraturan dunia persilatan"

"LOcianpwee, sudah setengah harian kau berbicara, tapi maaf, aku belum mengerti maksudmu."

Sekilas rasa malu dan menyesal melintas lewat di wajah kakek berambut putih itu, tapi hanya sekejap kemudian sudah tertutup oleh kemurungan yang mendalam ia mendongakkan kepalanya memandang angkasa, lalu terusnya: "Asal aku dapat tahu kalau di suatu tempat ada obat atau cara pengobatan yang mungkin bisa dipakai untuk mengobati penyakit putriku, manjur atau tidak. aku selalu berusaha keras untuk mendapatkannya dan nya " Tampaknya orang ini sesungguhnya merupakan seorang yang jujur, polos dan gagah, tapi ia terbelenggu oleh rasa cinta kasih terhadap putrinya sehingga tindak- tanduknya harus berlawanan dengan isi hati-nya. oleh sebab itu setelah berbicara sampai di situ, ia menghela napas panjang, sambungnya lagi dengan nada menyesali "Atau tegasnya saja, aku tak ingin melepaskan setiap kesempatan yang mungkin bisa menyelamatkan putriku dari belenggu penyakit"

"oooh... jadi maksud Locianpwee hendak menagih obat jinsom seribu tahun itu dari diriku?"

"Benar, mungkin orang lain bisa menyuruhku menggunakan alasan karena aku sudah mematahkan borgol di tangan kalian maka sekarang menagih imbalannya, tapi andaikata tiada alasan apa pun aku tetap akan merebut pil jinsom seribu tahun itu dengan kekerasan-"

"saat ini walaupun pil jinsom berusia seribu tahun itu tidak berada di tanganku namun aku mempunyai maksud untuk merebut kembali benda itu. sekarang Locian-pwee telah membantu aku mematahkan borgol tersebut, budi kebaikan ini tak akan kulupakan untuk selamanya, cuma... bukan berarti aku harus memenuhi permintaanmu dengan menghadiahkan pil mustika itu untukmu." "Kau harus tahu anak muda, borgol yang membelenggu tanganmu itu terbuat dari baja yang bercampur emas. KeCuali pedang usus ikan milikku yang merupakan pedang mustika peninggalan jaman cu-ciu, tak ada senjata mustika lain di dunia ini yang mampu mematahkan borgol tersebut,Jadi sebenarnya hutang budi yang kulepaskan kepadamu terhitung sangat besar, sekarang aku ingin menuntut kau membalas budi itu dengan menyerahkan pilj insom berusia seribu tahun itu kepadaku."

Lim Han-kim berpaling memandang Han si-kong sekejap. kemudian jawabnya lantang: "Bila Locianpwee menganggap ilmu silatmu mampu untuk merebutnya, silahkan saja merebut. Tapi aku pun ingin tegaskan bahwa aku tak pernah menyanggupi untuk menghadiahkan pil itu kepada-mu"

"Jadi kalau begitu kau telah memutuskan untuk ikut memperebutkan pil itu?"

"Apa salahnya kalau aku ikut merebut kembali barang milikku yang dicuri orang?"

Berubah paras muka kakek berambut putih itu, serunya: "Akan kupaksa dirimu untuk menyanggupi"

"Kalau begitu terpaksa aku harus menyaksikan dulu sampai di mana kehebatan ilmu silat Locianpwee," jawab Lim Han-kim dingin. Tiba-tiba kakek berambut putih itu mendongakkan kepalanya tertawa terbahak-bahak. "Ha ha ha ha....

Apakah kau masih ingin bertarung melawanku?"

Gelak tertawa yang bernada mengejek ini kontan saja mengobarkan hawa amarah Lim Han-kim, dengan penuh kegusaran bentaknya: "Kenapa tidak? silahkan Lo- cianpwee memberi pengajaran"

" Kakek berambut putih itu mendesak maju ke muka, telapak tangannya diangkat siap melepaskan sebuah babatan, Namun sebelum serangan itu dilepaskan, ti-ba- tiba terdengar suara teguran yang lemah tapi lembut berkumandang datangi "Ayah.."

Cepat-cepat kakek berambut putih itu menarik kembali serangannya sambil melompat mundur sejauh tiga langkah lebih dari posisi semula, Ketika Lim Han-kim berpaling, tampak olehnya seorang gadis berbaju serba putih dengan bersandar di bahu dua orang dayang berbaju hijau sedang melangkah mendekat.

Kakek berambut putih itusegera menghela napas panjang, ujarnya: "Aaaai. nak, angin malam sangat

dingin, mau apa kau lari ke luar ke sini. ?"

Nada suaranya penuh mengandung rasa kasih dan sayang yang amat kental, Di bawah bimbingan dua orang dayang berbaju hijau, gadis itu pelahan-lahan berjalan melewati Lim Han-kim menuju ke tempat di mana kakek berambut putih itu berdiri.

Gadis ini benar-benar seorang nona yang patut dikasihani Dalam sekilas pandang saja dapat diketahui bahwa nona ini menjadi lemah lantaran siksaan penyakit. Rambutnya yang panjang dibiarkan terurai di bahu dan diikat dengan selembar kain putih, wajahnya pucat pasi seperti mayat, sinar matanya agak memudar sedang bibirnya pucat kehijauan. Langkahnya amat lemah, seakan-akah sama sekali tak bertenaga.

Tergetar perasaan Lim Han-kim menyaksikan keadaan gadis itu, tanpa terasa timbul perasaan kasihan yang mendalam, dia merasa nona yang lemah ini ibarat lentera yang hampir kehabisan minyak, tenaga sekecil apa pun setiap saat bisa memadamkan bunga api kehidupannya .

Dengan penuh kasih sayang kakek berambut putih itu membelai rambut gadis berbaju putih itu, lalu bisiknya lagi: "Nak, kembalilah ke dalam kamar Kau tak akan tahan dengan hembusan angin gunung yang begini dingin."

Tangannya kelihatan agak gemetar, sinar matanya pun tak berani ditujukan ke wajah Lim Han-kim, tampaknya hati kecil orang ini diliputi perasaan takut yang amat sangat. Perlu diketahui, bila pada saat ini entah Lim Han-kim atau Han si-kong melancarkan satu serangan saja, maka serangan tersebut sudah cukup dipakai untuk membunuh putrinya yang sangat lemah itu.

Tentu saja kakek berambut putih itu cukup memahami keadaannya yang sangat berbahaya, ia lebih sadar lagi tindakan sendiri yang melanggar pcraturan dunia persilatan ini bisa jadi akan memancing pembalasan dendam orang lain terhadap putrinya.

Dengan keadaan seperti ini, tak heran kalau perasaan hati orang tua tersebut benar-benar takut, ngeri bercampur khawatir

Terdengar gadis berbaju putih itu berkata dengan lemah: "Ayah tak perlu kuatir, hari ini aku merasa semangatku sedikit lebih baik, Aku ingin menikmati keindahan alam "

Kakek berambut putih itu menghela napas panjang. "Hari sudah gelap. senja pun telah menyelimuti seluruh angkasa. Dalam suasana remang-remang begini bagaimana mungkin kau bisa menikmati keindahan alam? cepatlah kembali ke kamarmu" Gadis berbaju putih itu hanya tersenyum, tubuhnya tetap berdiri di tempat semula. Mendadak Han si-kong berbisik: "saudara cilik, mari kita pergi" Tanpa membuang tempo, dengan langkah lebar dia berjalan meninggalkan tempat itu, Lim Han-kim ragu- ragu sejenak, tapi akhirnya dia mengikuti juga di belakang Han si-kong untuk segera berlalu dari sana.

Memandang dua orang itu berlalu dari ruangan^ ingin sekali kakek berambut putih itu turun tangan untuk menghadang, tapi dia pun kuatir apabila ia terlalu memojokkan kedua orang itu, maka akibatnya mereka balas melukai putri kesayangannya.

Dalam suasana begini, terpaksa ia harus menahan gejolak perasaan hatinya dengan membiarkan dua orang itu berlalu dari sana.

sepanjang jalan tidak menemukan hadangan apa pun, dalam waktu singkat kedua orang itu sudah ke luar dari tebing terjal itu. Waktu itu langit sudah mulai gelap. beribu bintang bertaburan di udara, membiaskan cahaya yang amat redup,

Tiba-tiba Han si-kong buka suara, katanya: "Thian-hok sangjin angkuh, tekebur dan tak pandai bergaul. ia tidak terhitung seorang manusia berhati mulia, Aku rasa umat persilatan tidak perlu menaruh hormat kepadanya "

"Beda dengan kakek berambut putih itu," sela Lim Han-kim. "la masih belum kehilangan jiwa ksatrianya, sebab terhadap perbuatannya yang main rebut jelas ia menunjukkan perasaan malu dan menyesalnya yang mendalam." Han si-kong tertawa tergelak

"Ha ha ha ha... Kalau tidak kau singgung, hampir saja aku melupakan persoalan ini. Kau tahu pedang mustika yang digunakan untuk mematahkan borgol di tangan kita tadi adalah pedang usus ikan, salah satu dari dua mustika Thian-lam yang sedang dicari dua manusia aneh dari Thian-lam, padahal tiga hari lagi mereka akan datang menyatroni kembali. Aku tak bisa membayangkan dengan cara apa Thian-hok to-tiang akan memberikan pertanggungan jawabnya . .? "

Tanpa terasa dibenak Lim Han-kim terbayang pula pada gadis berbaju putih itu, katanya setelah menghela napas: "Gadis itupun patut dikasihani, Menderita penyakit aneh semenjak kecil, tak heran kalau orang tuanya amat sayang dan memperhatikannya. Kalau dilihat dari rambut si kakek yang jadi putih karena murung, bisa dibayangkan betapa beratnya siksaan dan penderitaan yang dialaminya selama belasan tahun terakhir ini."

"Yaaa, kasihan orang tua yang tidak beruntung macam ini. " kata Han si-kong sambil tertawa.

Mendadak ia melonjak karena satu ingatan melintas di dalam be-naknya, terusnya: "saudara cilik, tiba-tiba saja aku teringat akan satu persoalan." Tindak tanduknya yang sangat mendadak dan di luar dugaan ini sempat membuat Lim Han-kim tertegun, tanyanya kemudian dengan kening berkerut: "Soal apa?"

"Usiamu masih muda, terjun ke dalam dunia persilatan pun belum terlalu lama, tentunya kau belum pernah mendengar tentang riwayat Gadis Naga berbaju hitam bukan?"

"Ehmm... aku memang belum pernah mendengar" "Entah sejak kapan Pedang usus ikan dan tameng

naga langit terjatuh di wilayah Thian-lam sehingga disebut dua mustika dari Thian-lam, tapi soal kedua mustika itu kau sudah mengetahui bukan...?"

"Yaa, belum lama kudengar."

"sebetulnya Gadis Naga berbaju hitam yang membawa kedua pusaka dari Thian-lam itu masuk ke daratan Tionggoan, Dengan mengandalkan kehebatan dua mustika itu, secara beruntun dia mengalahkan banyak sekali jago silat dari Utara maupun selatan sungai besar hingga namanya menjadi amat termashur. Tapi dengan semakin mashurnya nama Gadis Naga berbaju hitam, orang yang mengincar dan ingin mendapatkan kedua mustika itu pun makin bertambah. "

Tanpa terasa Lim Han-kim teringat kembali pengalaman pahit yang menimpa diri-nya. Gara-gara membawa pil mustika ia mendapat banyak pengalaman pahit yang harus dialaminya, Tak kuasa lagi ia menggumam sambil menghela napas panjang: "Bukan saja benda mustikanya, tapi salah mereka yang rakus dan ingin memperolehnya..."

Han si-kong tertawa terbahak-bahak, "Ha ha ha ha... makin besar pohon itu makin banyak angin yang menerpanya, Makin termashur orang itu makin banyak pula gangguan yang mesti dihadapi Tapi, berapa banyak orang yang mampu meninggalkan segala status dan kedudukan untuk hidup sebagai rakyat biasa? Dengan mengandalkan kehebatan mustika- mustika itulah Gadis Naga berbaju hitam malang melintang dalam dunia persilatan tanpa tandingan. siapa tahu di saat namanya sedang pada puncaknya, tiba-tiba ia lenyap tak berbekas. Bisa dibayangkan betapa gemparnya dunia persilatan lantaran peristiwa itu, namun jejak Gadis Naga berbaju hitam itu ibarat batu yang tenggelam di dasar samudra, tiada sedikitpun titik terang yang didapat, otomatis kedua mustika dari Thian-lam pun turut lenyap tak berbekas mengikuti hilangnya gadis itu.."

ia berhenti sejenak untuk tertawa tergelak. kemudian terusnya: "oya... aku lupa mengatakan satu hal kepadamu, kau tahu Gadis Naga berbaju hitam adalah seorang perempuan yang berwajah amat cantik," Dengan agak tertegun Lim Han-kim berpikir sejenak. berapa saat kemudian ia baru bertanya: "Jadi orang persilatan tidak tahu kalau Gadis Naga berbaju hitam bertanding pedang dengan Thian-hok totiang?"

"Yaa, tak ada yang tahu. Dunia persilatan hanya tahu kalau Thian-hok totiang berhasil menaklukkan jago pedang berbaju perlente itu namun tiada seorang pun yang tahu kalau Gadis Naga berbaju hitam ternyata bertarung juga dengan Thian-hok totiang, seandainya dua manusia aneh dari Thian-lam tidak bertanya sendiri kepada Thian-hok totiang, mungkin aku pun tidak mengetahui persoalan ini."

Lim Han-kim mendongakkan kepalanya sambil menghembuskan napas panjang, sementara mulutnya tetap membungkam.

Han si-kong ikut menghela napas, sambungnya: "Bila ditinjau dari berbagai peristiwa yang telah berlangsung, aku mulai curiga dengan sikap pondok Lian-im-lu yang menolak dikunjungi tamu serta tidak mengadakan hubungan dengan umat persilatan. Rasa-rasanya hal ini bukan lantaran ia suka menyendiri..."

"Yaa, aku pun berpendapat demikian," Lim Han-kim membenarkan "Akupun dapat merasakan bahwa di balik rumah-rumah gubuk yang tersebar dipuncak bukit itu tersimpan suatu rahasia yang maha besar." " Kini pedang usus ikan telah muncul dipondok Lian- im-lu, aku pikir tameng naga langit pun pasti sudah terjatuh pula ke tangan kakek berambut putih itu, bahkan bisa jadi Gadis Naga berbaju hitam yang telah lenyap cukup lama pun mungkin. "

Mendadak ia menghentikan pembicaraannya. sambil memandang langit nan gelap dia menghembuskan napas panjang.

Dengan kedudukan serta nama besar Thian-hok totiang dalam dunia persilatan, ia tak berani sembarangan bicara dan menuduh sebelum berhasil memperoleh bukti yang jelas.

Agaknya Lim Han-kim sudah mengetahui maksud hati Han si-kong, sambil menghela napas dan menggelengkan kepalanya ia berkata: "Walaupun di dalam rumah gubuk itu tersimpan sesuatu rahasia, tapi sudah pasti bukan Gadis Naga berbaju hitam, sekalipun sikap Thian-hok totiang agak angkuh dan takabur, namun ia belum berani melakukan perbuatan maksiat semacam itu."

"Aaah, kau jangan terlalu percaya dengan raut wajah seseorang," kata Han si-kong sambil tertawa, "Ketahuilah orang yang berkelana dalam dunia persilatan kebanyakan adalah manusia berwajah jujur tapi berhati kejam. Aku pikir jika Thian-hok totiang tidak mempunyai maksud lain, dia pastilah seorang manusia berhati laknat " Mendadak ia sadar kalau tuduhan itu kelewat gegabah, maka buru-buru ia tutup mulut "Locianpwee..."

Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki manusia yang tergopoh-gopoh berkumandang datang memotong pembicaraan Lim Han-kim yang belum selesai. Waktu itu mereka berdua sudah turun dari tebing terjal dan mendekati rumah gubuk yang menghadang di tengah jalan itu.

suara langkah manusia yang berkumandang datang itu berat sekali namun amat cepat Dalam sekejap mata telah tiba di hadapan mereka berdua.

Ketika Lim Han-kim mengalihkan perhatiannya ke arah suara tersebut, maka tampaklah dua orang dayang berkaki besar dengan menggotong sebuah tandu berwarna hitam sedang berjalan menuju ke arahnya dengan terburu-buru.

Dalam jalanan setapak yang begitu sempit, Lim Han- kim harus menyingkir kesamping untuk memberi jalan lewat buat tandu itu. sebaliknya Han si-kong mengerutkan dahinya sambil mendengus dingin.

Bukan saja ia tak mau menyingkir, sebaliknya malah menghadang persis di tengah jalan.

Meskipun dua orang dayang itu berkaki besar dan berperawakan tinggi besar dan kuat, ternyata gerak gerik tubuhnya amat lincah dan cepat, selain itu mata nya juga besar, alisnya tebal, kulit badannya hitam pekat, Andaikata tidak mengenakan pakaian wanita, mungkin orang akan sulit untuk membedakanjenis kelamin mereka.

Tandu berwarna hitam itu mempunyai tirai berwarna hitam juga, Hal ini membuat orang luar susah untuk melihat jelas wajah orang yang berada dalam tandu itu. Tapi kalau dilihat dua orang dayang besar itu menempuh perjalanan begitu cepat sampai sekujur badannya basah oleh peluh, jelas mereka sedang mempunyai urusan penting.

Dengan berdiri di tengah jalan, Han si-kong persis menghadang jalan lewat tandu hitam itu, sehingga dua orang dayang berkaki besar itu terpaksa harus berhenti berlari.

Dengan penuh amarah dayang berkaki besar yang ada di depan segera menghardik: "Hey, sudah buta matamu?"

"siapa bilang?" jawab Han si-kong setengah mengejek "Mataku masih sanggup melihat pemandangan yang ada beberapa li di sekeliling sini, juga dapat membedakan mana intan mana permata, malam amat sempurna"

" Kalau matamu belum buta, kenapa tidak cepat menyingkir dari hadapan kami?" "Aku memang sengaja untuk menghadang"

"Kau sengaja menghadang, kau berniat mencari gara- gara dengan kami?" seru dayang berkaki besar itu setelah tertegun sejenak.

Tampaknya Han si-kong sudah mempunyai rencana yang matang, dengan ketus ia balik bertanya: " Kalian menyusup ke mari secara sembarangan, tahukah kamu tempat apakah ini?"

Dayang berkaki besar itu memperhatikan Han si-kong sekejap. lalu jawabnya: "Tentu saja pondok Lian-im-lu. Kami datang untuk mencari Thian-hok sangjin"

selama Han si-kong berbicara dengan dua orang dayang berkaki besar itu, sesungguhnya sorot matanya yang tajam selalu mengamati tokoh yang berada di balik tandu hitam itu, tapi sayang tirai di depan tandu amat tebal sehingga sulit baginya untuk melihat secara jelas, Maka dengan suara keras serunya: "Hmmm, kalian anggap berhak untuk berjumpa dengan Thian-hok totiang?"

Jawaban tersebut kontan saja membuat si dayang tertegun, Untuk sejenak ia tak tahu apa yang mesti dijawab sehingga untuk beberapa saat la manya mereka hanya berdiri mematung. orang yang berada di dalam tandu itu benar-benar tahan uji. ia sama sekali tidak menggubris ataupun memberikan tanggapannya pada keributan yang tengah berlangsung.

Padahal tujuan Han si-kong yang terutama adalah memancing kegusaran orang yang ada dalam tandu itu sehingga ia bisa menggunakan kesempatan itu untuk mengetahui siapa gerangan dirinya. siapa sangka orang yang berada dalam tandu itu sama sekali tidak memberi tanggapan.

Agaknya Lim Han-kim sudah dapat menduga maksud tujuan Han si-kong, selain itu dia sendiripun diliputi perasaan ingin tahu dan ingin melihat siapa kah orang yang berada dalam tandu, oleh sebab itu tetap berdiam diri tanpa niat mencegah.

Dayang berkaki besar itu meski memiliki tubuh yang kekar dan kuat namun reaksinya tidak terlalu cepat dan otaknya tidak pintar, setelah termenung sampai lama sekali baru ia menghardik dengan penuh amarah: "Kau jangan bicara sembarangan, bukan kali ini saja kami datang kepondok Lian-im lu"

"Ha ha ha.,. Pagi dan sore saja berbeda keadaan, apalagi bukan pada hari yang sama. Belakangan ini Thian-hok totiang sudah tidak menerima tamu lagi" Agaknya dayang berkaki besar itu sudah tak sanggup menyelesaikan keadaan itu, sambil berpaling tanyanya kemudian: "Nyonya, katanya Thian-hok totiang sudah tidak menerima tamu? Apakah kita perlu melanjutkan perjalanan naik ke atas?"

"Terjang saja" Dari balik tandu berkumandang suara jawaban seorang wanita.

Dayang berkaki besar itu mengiakan, sambil melotot ke arah Han si-kong bentaknya: "Minggir kamu"

Dengan suatu gerakan yang amat cepat ia lancarkan sebuah tendangan maut ke depan. Tendangan itu meluncur ke muka dengan menimbulkan desingan angin tajam, jelas kekuatan yang disertakan dalam serangan tersebut kuatnya bukan alang kepalang.

Han si-kong kuatir terjangan itu berhasil melewati hadangannya, ia tak berani menyingkir sambil menyambut datangnya ancaman tersebut dengan sebuah babatan maut, teriaknya: "Bagus sekali, ingin berkelahi tampaknya"

Dalam posisi memikul tandu pada bahunya, gerak gerik dayang berkaki besar itu jadi tidak terlalu lincah. ia tak sanggup membendung datangnya ancaman tersebut Dalam keadaan begini, terpaksa ia mundur dua langkah untuk menghindari ancaman lawan, setelah itu sambil menurunkan tandunya ke tanah, ia membentak keras dan menerjang maju ke muka, sebuah pukulan keras segera dilontarkannya.

Dengan perawakan tubuhnya yang tinggi besar, begitu terlibat dalam pertarungan, maka gerak geriknya terlihat persis seorang lelaki, pukulan maupun tendangan yang dilancarkan semuanya menggunakan aliran keras yang bertenaga kuat.

setelah menerima sebuah pukulan dan sebuah tendangannya, Han si-kong mulai sadar bahwa lawannya tak boleh dipandang enteng. Tenaga dalamnya segera dihimpun ke dalam telapak tangan dan menyambut datangnya terjangan itu dtngan keras melawan keras. "Blaaammm..."

Begitu dua gulung tenaga pukulan itu saling membentur satu sama lainnya, terjadilah ledakan keras yang memekikkan telinga.

Akibat dari bentrokan ini, walaupun si dayang berkaki besar itu berhasil digetarkan oleh serangan Han si-kong hingga mundur dua langkah, sebaliknya Han si-kong sendiripun merasakan tubuhnya bergoncang keras, Dengan perasaan amat kaget pikirnya: "Hebat amat tenaga pukulan perempuan ini. "

Dayang berkaki besar itu betul-betul pemberani dan bernyali besar, setelah tertegun sejenak. la kembali menerjang ke depan. Kaki dan tangannya digunakan bersama untuk melancarkan serangkaian serangan gencar.

Jangan dilihat perempuan itu kasar dan bertubuh kekar, ternyata gerak serangannya sangat beraturan dan memiliki perubahan yang amat banyak. Di tengah kegarangan serangannya, tidak hilang ketelitian dan kelembutan.

Mimpipun Han si-kong tidak menyangka bahwa dayang berkaki besar yang tampaknya kasar dan bodoh itu ternyata seorang jagoan yang amat tangguh, Dalam keadaan begini terpaksa ia harus menghadapinya dengan sepenuh tenaga.

Dalam waktu singkat kedua orang itu sudah saling menyerang sebanyak tiga puluh gebrakan lebih, Bukan saja tanda-tanda kalah tidak tampak, bahkan keteterpun tidak.

Han si-kong betul-betul panik bercampur penasaran Hawa murninya segera disalurkan makin hebat, serangan-serangan yang dilancarkan juga makin lama makin berat dan hebat.

Belasan gebrakan kemudian dayang berkaki besar itu mulai keteter. Agaknya ia sadar bahwa kepandaiannya belum cukup untuk mengungguli lawan, teriaknya keras- keras: "Adik, cepat maju, aku sudah tak sanggupi" Dayang berkaki besar yang berada di belakang mengiakan Dengan cepat ia menerjang ke depan dan melepaskan sebuah pukulan dahsyat dari sisi samping musuh.

Han si-kong segera keluarkan jurus "Memetik Lima senar Harpa" untuk membendung datangnya ancaman tersebut. Menggunakan kesempatan inilah si dayang yang menyerang duluan tadi cepat-cepat mundur dari arena dan berdiri terengah-engah.

Dua orang dayang ini bukan cuma dandanannya saja yang sama, perawakan maupun bentuk badannya hampir sama, bahkan aliran silat yang dipergunakan juga tak

ber-beda, sama-sama main keras dan sama-sama ganasnya.

Han si-kong segera mengerahkan seluruh kekuatan yang dimilikinya untuk melancarkan serangkaian serangan berantai Dalam waktu singkat ia sudah melepaskan delapan pukulan dan sepuluh tendangan.

Betul juga, dayang berkaki besar itu mulai terdesak hebat dan mundur berulang ka1i. Pada saat yang amat kritis inilah, mendadak dari balik tandu berkumandang suara bentakan nyaring: "Tahan"

Dayang berkaki besar itu mengiakan dan segera melompat mundur dari arena, kemudian dengan sekali lompatan mereka melayang balik ke tepi tandu. Han si-kong tidak berusaha untuk mengejar hanya sorot matanya dialihkan ke arah tandu itu sementara diam-diam ia bersiap siaga menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan

Terdengar suara perempuan dalam tandu itu berkumandang lagi: "siapa kau?"

"Seorang lelaki sejati tak akan berganti nama, aku Han si-kong"

Kembali perempuan dalam tandu itu tertawa dingin, "Hmmmm, antara kita berdua tiada ikatan dendam atau pun sakit hati, kenapa kau menghalangi perjalananku?"

"Dalam hatiku sedang diliputi suatu kecurigaan yang tak terjawab, aku ingin menyaksikan wajah nyonya."

"Hmmm, menghadang perjalanan orang tanpa sebab yang jelas, kau tak berbeda dengan kaum perampok. hati-hati"

Menyusul selesainya perkataan itu, tidak tampak tirai tandu itu berdesir, tahu-tahu saja sekilas cahaya putih telah meluncur ke depan dengan luar biasa.

Han si-kong sudah berpengalaman dalam menghadapi pertempuran pengetahuannya pun sangat luas. Begitu melihat cahaya putih meluncur tiba, sepasang telapak tangannya segera disilangkan di depan dada siap menghadapi segala kemungkinan. Tatkala cahaya putih itu sudah hampir mendekati tubuhnya, Han si-kong baru menolak sepasang telapak tangannya ke depan untuk melepaskan sebuah pukulan dahsyat.

Dari kemampuan silat yang dimiliki dua orang dayang berkaki besar itu, ia sudah menduga bahwa ilmu silat yang dimiliki perempuan dalam tandu itu pasti luar biasa hebatnya. Tak heran kalau dalam serangannya kali ini dia sertakan segenap tenaga dalam yang dimilikinya.

segulung tenaga pukulan yang maha dahsyat segera menggulung keluar dari balik telapak tangannya, meluncur ke muka dan menyongsong datangnya cahaya putih yang sedang meluncur tiba itu.

Terhadang oleh tenaga pukulan yang dilancarkan Han si-kong itu, cahaya putih tersebut mendadak terhenti Hawa pedangnya menyurut dan tahu-tahu muncullah seorang perempuan berbaju hitam yang memakai cadar hitam di wajahnya.

Walaupun Han si-kong berhasil membendung datangnya sergapan orang itu, namun ia sadar di hati kecilnya bahwa penghadangan tersebut bisa berhasil lantaran dia telah menggunakan segenap tenaga dalam yang dimilikinya.

Kenyataannya biar pun serangan tersebut berhasil terbendung, namun perempuan itu masih tetap bisa berdiri tenang, Kejadian ini kontan saja membuat hatinya bergetar keras, Untung pengalamannya cukup matang, biar kaget tindak tanduknya tak sampai kalut, Tidak menanti sampai perempuan berbaju hitam itu buka suara, ia telah menegur lebih dulu: "Jika kulihat dari dandananmu, kau tentu si Gadis Naga berbaju hitam... bukan begitu?"

Perempuan berbaju hitam itu merasa tubuhnya agak bergetar keras, pelan-pelan dia turunkan kembali pedangnya ke bawah, setelah itu baru bertanya pelan: "Ada urusan apa kau menghalangiku?" Han si-kong tertawa terbahak-bahak

"Ha ha ha ha Kakak perempuanmu si Nenek Naga

berambut putih sudah puluhan tahun lamanya mencari jejakmu, bahkan barusan dia masih datang kepondok Lian-im-lu. "

"Sungguhkah perkataanmu itu?" Tidak sampai Han si- kong menyelesaikan perkataan nya, perempuan berbaju hitam itu telah menukas dengan perasaan cemas. "Selama hidup aku tak pernah berbohong."

"Terima kasih atas petunjukmu," kata perempuan berbaju hitam itu kemudian sambil mengulapkan tangannya, ia lalu membalikkan badandan menuju ke tandunya. "Tunggu sebentar, Nyonya" "Han tayhiap masih ada urusan apa lagi, cepat katakan," suara perempuan itu berkumandang dari balik tandu,

"Menurut pandanganku, tujuan kakak perempuan mencari kau adalah untuk mendapatkan dua mustika dari Thian-lam."

"Aku sudah tahu."

"Aku ingin mencari tahu nama seseorang" "siapa?"

"Di atas pondok Lian-im-lu ada seorang kakek berambut putih yang punya alis mata seperti mata pedang, boleh aku tahu siapakah orang itu?"

perempuan berbaju hitam itu termenung sampai lama sekali, kemudian balik bertanya: " Untuk apa kau menanyakan orang itu? Dan dari mana kau bisa yakin kalau aku pasti tahu?"

" Karena dia memegang pedang Usus Ikan, satu di antara dua mustika Thian-lam, maka aku yakin dia pasti kenal dengan dirimu, Aku menanyakan soal dia bukan lantaran ada urusan penting, aku cuma kagum dengan ilmu silatnya."

"oooh... dia adalah suamiku." jawab perempuan itu kemudian. setelah itu ia mengetuk tandunya memberi tanda, Dua orang dayang berkaki besar itu segera mengangkat kembali tandunya dan meneruskan perjalanan menelusuri jalan setapak,

"Nyonya, bersediakah kau memberitahu nama suamimu?" teriak Han si-kong keras- keras. Namun tandu itu sudah berlalu secepat hembusan angin, dalam waktu singkat bayangannya telah lenyap di balik tikungan.

Melihat tandu itu sudah menjauh, dengan kening berkerut Lim Han-kim baru berbisik, "Mari kita pergi"

"Aaaai,.. tak kusangka Gadis Naga berbaju hitam ternyata benar-benar masih hidup di dunia ini," gumam Han si-kong,

"Locianpwee, kita sudah diusir orang dari puncak bukit itu, Kejadian ini memang bukan suatu kejadian penting, tapi kita sudah kehilangan muka, buat apa kau masih mencampuri urusan orang lain?" Han si-kong segera tertawa terbahak-bahak.

"Ha ha ha ha saudara cilik, bukan aku si tua hendak

mengajari dirimu, kau masih perlu belajar selama dua tahun dariku untuk turut terjun dalam sandiwara dunia persilatan ini. Biarpun setiap orang bisa memerankan sandiwara yang berbeda, namun intinya sama saja." Lim Han-kim tertawa hambar, "Aku benar-benar tak paham, apa sesungguhnya hubungan kita dengan Gadis Naga berbaju hitam?"

"sebelum naik kepondok Lian-im-lu, aku selalu menganggap Thian-hok sangjin sebagai seorang pendeta yang suka hidup mengasingkan diri dan tidak senang mencampuri urusan dunia persilatan, Tapi sekarang, pandanganku terhadapnya sudah berubah sama sekali.

Pondok Lian-im-lu itu bukan saja sekedar tempat pertapaan yang sepi dan terpencil sebaliknya justru merupakan sebuah pusat komando dari suatu organisasi rahasia, Thian-hok sangjin bisa memencilkan diri dan tidak mau berhubungan dengan umat persilatan karena ia ingin menghindari pengawasan orang lain atas dirinya.

Kejadian ini benar-benar sebuah rahasia besar dari dunia persilatan selama puluhan tahun belakangan ini. jika rahasia ini sampai terungkap. bukan saja dapat menggemparkan dunia persilatan bahkan bisa pula menjadi sangat terkenal Jago-jago di kolong langit baik dari golongan hitam maupun putih akan menghadapi kita dengan pandangan berbeda."

"Jadi menurut pendapat Locianpwee, pondok Lian-im- lu sebuah tempat yang digunakan untuk menghimpun kekuatan besar serta membentuk suatu organisasi rahasia?" Han si-kong termenung sampai lama sekali, kemudian baru ujarnya: "sulit bagiku untuk sampai menyimpulkan persoalan ini, tapi dalam hatiku memang tersimpan banyak pertanyaan yang mencurigakan hatiku. Kulihat Thian-hok sangjin amat lihai dan berotak panjang, segala tindak tanduk serta perbuatannya susah dibandingkan dengan orang awam."

setelah angkat wajahnya sambil menghembuskan napas panjang, sambungnya lebih jauh: "seperti juga perkumpulan Han si-kong yang selama ini hanya bergerak di wilayah Im-ciu dan Kui-ciu, siapa yang nyana bila mereka telah mendirikan pula cabangnya di wilayah Kanglam serta diam-diam menghimpun banyak jago utama dari wilayah Kanglam? siapa pula yang menduga diperkampungan Lak-seng-tong yang tidak ternama ternyata berdiam seorang tokoh persilatan yang berilmu tinggi?

siapa pula yang mengira si Gadis Naga berbaju hitam yang sudah lenyap puluhan tahun, ternyata punya hubungan dengan Thian-hok sangjin, dan dua mustika dari Thian-lam yang diimpikan setiap umat persilatan ternyata muncul di pondok Lian-im-lu, padahal setiap peristiwa itu saja sudah cukup menggemparkan dunia persilatan, tapi kenyataannya tidak diketahui siapa pun dalam dunia persilatan, Aaaai.,. Meskipun aku merasa banyak persoalan yang mencurigakan dan tidak terjawab, namun tak berhasil kutemui sebab-sebab serta alasan di balik semua itu"

"Bagaimana?" sela Lim Han-kim. "Apakah kau merasa semua peristiwa ini saling bertahan dan berhubungan satu sama lain-nya?"

"Aku hanya berpendapat demikian, tapi tidak berhasil menghubungkan peristiwa yang satu dengan kejadian yang lain."

Kemudian setelah berhenti sebentar, lanjutnya: "Berbicara menurut pengalamanku berkelana dalam dunia persilatan selama puluhan tahun, aku yakin dalam satu dua hari mendatang, di pondok Lian-im-liu pasti akan terjadi suatu peristiwa yang sangat mengejutkan hati. Mungkin saja perubahan besar itu sudah mulai berlangsung sekarang, Bila kau tak percaya: mari kita cari suatu tempat yang tersembunyi untuk menyembunyikan diri dan diam2 menyaksikan perkembangan di tempat ini"

Agaknya Lim Han-kim mulai tertarik dengan tawaran Han si-kong itu, setelah termenung berpikir sebentar sahutnya: "Baiklah, aku akan menuruti perintah Locian- pwee"

Han si-kong mengalihkan sinar matanya mengawasi sekeliling tempat ini, sambil menuding kearah sebatang pohon siong besar yang tumbuh di sebelah selatan dekat dengan dinding tebing, katanya: "Pohon siong itu sangat rimbun dan besar, lagi pula strategis letaknya, Dengan bersembunyi di sana kita dapat mengawasi keadaan di sekeliling tempat ini dengan sangat jelas."

Dua orang itu segera lari menuju ke pohon siong itu dan menyembunyikan diri dibalik dedaunan yang rimbun, Menggunakan kesempatan itu mereka pejamkan mata sambil mengatur pernapasan.

Waktu itu hari sudah mulai gelap. Rembulan mulai muncul di langit Timur dan tertutup oleh awan yang tebal, cahaya bintang berkelap kelip membuat suasana amat redup, ditambah hembusan angin malam yang dingin, membuat keadaan di bukit itu amat gelap dan suram.

Dari balik rumah gubuk yang dibangun di tengah tikungan jalan setapak itu tiba-tiba terbentik sekilas cahaya lentera. Biar pun tempat persembunyian kedua orang itu dengan rumah gubuk tersebut berjarak cukup jauh, namun di tengah kegelapan malam dan di bawah cahaya lentera lamat-lamat mereka masih dapat mengikuti keadaan di dalam rumah gubuk itu dengan jelas.

setengah berbisik Han si-kong berkata: "saudara cilik, tampaknya pandangan aku si kakaktua tidak salah, Coba bayangkan rumah gubuk itu merupakan jalan penting untuk menuju ke pondok Lian-im-lu. Menurut aturan, semestinya mereka sembunyikan dan rahasiakan tempat ini seketat mungkin, kenapa saat ini mereka justru pasang lampu di tengah kegelapan malam? jelas ada maksud- maksud tertentu."

"Ehmmm " Lim Han-kim manggut-manggut.

"Dugaan Lociancwee memang sangat tepat"

Dengan mengerahkan segenap ketajaman matanya dia awasi rumah gubuk itu lekat-lekat. Betul juga, dari dalam rumah gubuk itu terjadi perubahan. sebuah lentera berwarna merah dikerek naik ke atas sebatang pohon siong yang tinggi di luar rumah. Di tengah hembusan angin malam, lentera merah itu kelihatan bergoncang tiada hentinya.

Menyaksikan semua itu, Han si-kong menghela napas pelan dan bergumam sendiri "Aaaai. sebuah rahasia

besar yang menggetarkan dunia persilatan segera akan tersingkap di bawah pandangan mata kita berdua "

Mendadak Lim Han-kim menarik tangan Han si-kong seraya berbisik: "Locianpwee, jangan bersuara, ada orang datang"

Di tengah hembusan angin malam berkumandang suara langkah kaki manusia yang sangat ringan, lalu tampak dua sosok bayangan manusia meluncur datang dengan kecepatan bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya. Dengan ketajaman mata Lim Han-kim, ia segera mengenali dua sosok bayangan tersebut sebagai dua orang tosu kecil yang membawa pedang, dengan kecepatan luar biasa mereka meluncur menuju kearah rumah gubuk itu.

"saudara cilik." Han si-kong segera berbisik "Bila dugaanku tak salah, mungkin kehadiran dua orang tosu kecil ini untuk menyelidiki jejak kita berdua."

"Kita berdua belum melalui rumah gubuk itu untuk turun gunung, Mereka pasti tahu kalau kita bersembunyi dalam bukit ini, padahal selat sempit ini tidak panjang, dua sisi pun merupakan tebing terjal, aku rasa tempat persembunyian kita segera akan ketahuan. 

"Menurut pandanganku, mungkin mereka sudah tak punya banyak waktu lagi untuk mencari jejak kita."

sementara pembicaraan masih berlangsung, lamat- lamat kedengaran suara ujung baju terh embus angin, kembali terlihat dua sosok bayangan manusia berkelebat mendekat. Kembali Lim Han-kim mengalihkan pandangannya yang tajam, ia jumpai pendatang adalah seorang tosu kecil berpedang dan seorang gadis berpakaian ringkas warna hijau.

Gadis itu berusia sebaya dengan Han-gwat tapi gerak geriknya lebih lincah dan enteng, kecepatan gerak tubuhnya sangat mengejutkan. Tampaknya ilmu silat yang dimilikinya jauh lebih hebat daripada ilmu silat yang dimiliki Han-gwat.

Dua orang itu dengan kecepatan luar biasa melintas lewat di depan pohon siong di mana Han si-kong dan Lim Han-kim bersembunyi, langsung menerjang lari masuk ke dalam rumah gubuk.

"Eeei, kelihatannya mereka bukan lagi menggeledah jejak kita," bisik Han si-kong lagi. "Hahaha... pertunjukan kali ini benar-benar menegangkan dan menarik hati. Kita bakal disuguhi suatu tontonan yang mendebarkan hati."

sementara berbicara, tiga orang tosu kecil dan gadis berbaju hijau yang masuk ke dalam rumah gubuk tadi kini muncul kembali dengan senjata terhunus. Mereka langsung memisahkan diri jadi dua rombongan dan mulai melakukan pencarian serta penggeledahan yang seksama di sekitar semak belukar, pepohonan dan balik tebing.

"Locianpwee," Lim Han-kim segera berbisik "Tampaknya tempat persembunyian kita segera akan ketahuan dan mereka temukan, lebih baik kita mencari tempat persembunyian lain.

"Lebar selat ini tak lebih dari dua tombak. Kedua sisi tebing pun curam dan terjal bagaikan mata pisau, selain di balik semak belukar, mana ada tempat persembunyian lain? jika mereka sampai menemukan tempat persembunyian kita, terpaksa kita harus munculkan diri."

Waktu itu dua orang tosu kecil telah memeriksa sampai di bawah pohon siong di mana mereka menyembunyikan diri

saat itu malam sangat gelap. sinar rembulan tertutup oleh awan hitam, ditambah lagi pohon siong itu sangat rimbun, maka walaupun dua orang tosu kecil bersenjata itu sudah sampai di bawah pohon, mereka tak berhasil mengetahui jejak kedua orang itu.

Tapi rimbunnya pohon siong telah menimbulkan kecurigaan dua orang itu, si tosu kecil di sebelah kiri segera mengambil sebutir batu gunung dan menyambitkannya ke atas.

Dengan menimbulkan desingan angin tajam, batu cadas itu melesat ke udara, membelah dedaunan yang rimbun dan menyambar persis di atas kepala Han Si kong, menghajar bagian atas tebing terjal.

Sambil menghimpun tenaga murninya Han Si kong bersiap sedia menghadapi segala kemungklnan yang tak diinginkan. Dia tutup pernapasannya untuk tidak memberi tanggapan. Terdengar tosu kecil yang di sebelah kanan berkata: "Dedaunan pohon siong ini sangat rimbun dan merupakan tempat persembunylan yang sangat tepat coba kau jaga di bawah, aku akan naik ke atas untuk memeriksa."