Pedang Keadilan I Bab 15 : sepasang Pendekar Memburu Mestika

 
Bab 15. sepasang Pendekar Memburu Mestika

Memandang hingga bayangan punggung Thian-hok sangjin lenyap dari pandangan, Han sokong berkata: " Entah jagoan tangguh darimana yang telah datang, ternyata kecepatan mereka mendaki bukit jauh lebih cepat daripada kita."

"Yaa, didengar dari suara pekikan nyaring tersebut bisa diduga kalau pendatang telah berhasil melewati kedua rintangan itu."

Mendadak Han si-kong bangkit berdiri dan melangkah menuju ke luar ruangan pondok, Buru-buru Han-gwat mengejar dan menghadang jalan pergi rekannya itu, tegurnya: "Mau apa kau?"

"Aku ingin menonton keramaian-" "Jangan- cegah Han-gwat sambil menggoyangkan tangannya berulang kali. "Meskipun Thian-hok totiang ramah dan baik hati, namun keempat bocah penjaga bukitnya ganas, telengas dan tidak kenal ampun- sebelum mendapat persetujuan dari Thian-hok totiang, lebih baik kita jangan pergi sembarangan-

"Apa salahnya kalau aku pergi menonton keramaian?" protes Han Si-kong tak puas.

"Hmmmm Sudah setua umurmu masih senang amat nonton keramaian? Kalau sampai berakibat terjadinya gara-gara, bagaimana nanti?" Paras muka Han Si-kong beberapa kali mengalami perubahan, jelas ia merasa sangat tak puas dengan tindakan Han-gwat yang menghalangi kepergiannya, tapi pada akhirnya ia dapat menahan diri, hanya ujarnya dengan suara ketus: "Hmmm Aku tak sudi ribut dengan anak perempuan macam kau "

Pada saat itu terdengar suara pekikan panjang yang berkumandang datang, amat nyaring bagaikan pekikan naga sakti.

Dengan kening berkerut Lim Han-kim segera berkata: "Jika didengar dari suara pekikan itu, jelas penerobos telah sampai di puncak bukit. Lagi pula di balik pekikan nyaring itu lamat-lamat terdengar hawa pembunuhan yang sangat tebal, mungkinkah Thian-Hok totiang telah turun tangan sendiri menghadang jalan pergi mereka sehingga terjadi pertarungan sengit di puncak bukit?"

"Jika Thian-Hok totiang benar- benar turun tangan sendiri, inilah sebuah tontonan yang amat menarik.

Menyesal aku jika tak sempat menyaksikan pertunjukan menarik ini."

Tanpa banyak membuang waktu lagi Han si-kong segera melejit ke depan dan menerobos keluar dari ruangan itu lewat jendela, Han-gwat berniat menghalangi namun teriambat tahu-tahu kakek itu sudah berada di luar ruangan, Lim Han-kim memandang Han-gwat sekejap. ajaknya kemudian: "Mari, kita pun ikut nonton dari luar pintu."

"Mau lihat sih boleh saja," kata Han-gwat setelah tertegun sejenak, "Tapi lebih baik kita jangan meninggaikan ruangan." Tidak membuang waktu lagi Lim Han-kim melangkah keluar dari ruangan dan berdiri di depan pintu.

Di kejauhan sana terlihat bayangan punggung Han si- kong sedang berdiri empat lima kaki di depan, agaknya ia sedang menonton jalannya pertarungan dengan asyik.

Tepat di muka pintu ruangan tumbuh sebatang pohon cemara besar. Di bawah cemara tumbuh aneka bunga yang mengelilingi sebuah batu hijau yang amat besar, batu itu rata lagi licin, seorang bocah lelaki - sedang merawat bebungaan tampaknya tidak tertarik untuk mengawasi jalannya pertarungan yang berlangsung seru itu, menoleh pun tidak.

Diam-diam Lim Han-kim memuji di dalam hati kecilnya: " Hebat betul bocah ini, meski usianya masih muda ternyata ketenangannya sudah mencapai tingkatan yang luar biasa.."

Pada saat yang sama terdengar suara Han Si-kong sedang memuji tiada habisnya dari kejauhan sana: "llmu pedang bagus, ilmu pedang bagus "

Jalan menuju kepuncak bukit dengan pintu ruangan pondok gubuk itu berjarak tujuh- delapan kaki, hal ini membuat orang yang berada di muka pondok sukar menyaksikan kejadian disana secara jelas, Ketika mendengar Han si-kong memuji tiada hentinya, tanpa terasa timbul rasa ingin tahu dalam hati Lim Han-kim, tak kuasa lagi dia melangkah keluar meninggaikan ruangan.

Bocah lelaki yang sedang membenahi tumbuhan bunga itu mendadak berpaling memandang Lim Han-kim sekejap. lalu bergumam sendiri: "sebagai tetamu yang datang berkunjung, lebih baik taatilah peraturan yang berlaku."

sebenarnya Lim Han-kim sudah menyadari kesalahan itu dan siap menarik kembali kaki kirinya yang melangkah keluar, tapi setelah mendengar peringatan dari bocah lelaki tersebut, tiba-tiba saja timbul perasaan gusar dalam hatinya, segera pikir-nya: "Kau menyindir aku? Hmmm, aku justru sengaja akan keluar, akan kulihat kau bisa berbuat apa terhadapku?"

sesungguhnya pemuda ini halus di luar namun keras wataknya. Begitu ingatan tersebut melintas, dengan langkah lebar ia berjalan keluar dari ruangan, Bocah lelaki yang berada di bawah pohon cemara itu tidak berniat menghalangi kepergiannya, hanya dengan pandangan dingin ia awasi bayangan punggung Lim Han- kim pergi menjauh. Gerakan tubuh Lim Han-kim cepat sekali, dalam sekejap mata ia sudah tiba di samping Han si-kong.

Tampaknya orang tua itu tidak menyadari kehadiran Lim Han-kim, seluruh pikiran dan perhatiannya telah dicurahkan ke tengah arena, Cepat pemuda itu mengalihkan pandangan matanya ke arena, tampak tiga orang bocah berjubah tosu hijau sedang memainkan senjata pedangnya menghadang jalan lewat seorang nenek berambut putih, pertempuran berjalan amat seru dan ramai.

Nenek berambut putih itu dengan senjata tongkat berkepala naganya sebentar menyodok sebentar mengerut, menciptakan lapisan bayangan tongkat yang menyelimuti angkasa, memaksa ketiga orang lawannya terdesak tiga depa di luar arena dan tak sanggup mendesak maju satu langkah pun-

Empat- lima depa di belakang nenek berambut putih itu, tampak berdiri bersandar pada dinding tebing yang terjal seorang kakek berjenggot panjang membawa kantung tembakau sambil menghisap pipanya dengan penuh kenikmatan Asap berwarna biru tampak menyembur keluar dari mulutnya mengiringi suara pekikan panjang yang menusuk pendengaran, tampaknya ia sedang memberi semangat kepada rekannya.

Lim Han-kim mencoba memperhatikan beberapa orang bocah tosu itu dengan lebih seksama 1agi. Usia mereka rata-rata empat -lima belas tahun, tapi jurus pedang yang mereka mainkan betul-betul ganas dan hebat, terutama gerak kerja sama mereka bertiga. Bukan hanya cepat dan lincah, perubahannya sukar diduga.

sebaliknya permainan tongkat si nenek berambut putih itu sangat hebat, setiap gerakan mengandung gerakan lain, perubahan jurusnya cepat sukar diduga. Bagaimana pun ganas dan hebatnya ketiga orang tosu kecil itu menyerang, tak pernah berhasil mencari keuntungan dirinya.

Lim Han-kim memeriksa lagi keadaan disekitar situ, ternyata di tanah lapang yang cukup luas di puncak bukit itu selain keempat orang yang sedang bertempur sengit serta kakek itu, hanya Han si-kong, dia dan bocah di bawah pohon cemara itu. Bukan saja bayangan Thian- hok sangjin tidak nampak. beberapa pondok di sekitar sana pun berada dalam keadaan tertutup rapat.

Keadaan ini membuat anak muda tersebut keheranan, pikirnya: "Heran, kenapa Thian-hok totiang masih bisa menahan diri? Padahal jelas tampak ilmu silat yang dimiliki nenek itu sangat lihay. Betul jurus pedang dari ketiga bocah tosu itu ganas dan hebat, tapi lama kelamaan mereka pasti bukan tandingan si nenek, Apalagi di situ masih ada si kakek berjenggot yang jelas memiliki tenaga dalam amat sempurna, masa dia baru akan tampil ke depan setelah orang lain mengobrak abrik rumahnya?"

sementara dia masih berpikir, terdengar nenek bertongkat itu telah membentak keras: "Hey, tosu tua hidung kerbau, kau anggap dengan mengandalkan beberapa kunyuk cilik ini benar-benar sudah mampu menghalangi diriku? Hmmm sekalipun kau tak senang menerima tamu, sepantasnya kalau muncul sebentar untuk berbasa basi. Huuuh, kalau dianggap dengan mengandalkan beberapa kunyuk kecil ini sudah bisa mewakilimu kau benar- benar pandang remeh kemampuanku ini"

si kakek yang sedang menghisap huncwee ditepi tebing mendadak ikut tertawa tergelak. sambungnya: "Ha ha ha ha... perkataan itu tepat sekali, Dia memang pandang enteng kemampuanmu. Coba kalau tidak. sedari tadi ia sudah keluar menjumpaimu."

sebetulnya nenek itu sudah dibakar oleh hawa amarah, kemarahannya makin memuncak sesudah dihasut kakek tersebut Tiba-tiba ia membentak keras, permainan tongkatnya berubah pula jadi amat ganas dan hebat. Dalam sekejap mata angin serangan menderu- deru, tenaga pukulan yang kuat bagaikan bukit yang ambrol menggulung ke depan mendesak ketiga orang lawannya mundur berulang kali.

Diam-diam Lim Han-kim menjawil tangan Han si-kong, kakek itu segera menoleh, melihat anak muda itu sudah berdiri di sisinya, iapun berseru: "Ha ha ha ha... rupanya kaupun sudah kemari?"

"Aku lihat ketiga orang bocah tosu itu sudah keteter hebat dan menunjukkan gejala akan kalah, bila pertarungan berlangsung terus, tentu ada korban yang berjatuhan."

"Yaa, betul Ketiga orang itu tak bakal mampu menahan dua puluh gebrakan lagi."

Mendadak ia berhenti bicara, ternyata entah sejak kapan Thian-hok sangjin telah munculkan diri di puncak bukit itu. wajahnya kelihatan amat serius, senyuman ramah yang sering tersungging diujung bibirnya kini sudah tak nampak. setelah memandang sekejap pada Han si-kong dan Lim Han-kim dengan pandangan dingin, pelan-pelan ia berjalan menuju ke sisi arena.

Meskipun ia tidak menegur atau berkata apa-apa, namun sikapnya jelas memperlihatkan ketidakpuasannya karena kehadiran mereka berdua ditepi.

Terdengar Thian-hok sangjin telah berseru dengan suaranya yang amat nyaring: "Kalian bukan tandingan dari si nenek naga berambut putih, ayoh cepat mundur"

Tiga orang tosu kecil itu sama-sama menarik kembali serangan pedangnya dan melompat mundur dari arena. Begitu mendengar nama " Nenek Naga Berambut Putih", Han si-kong seketika merasakan hatinya bergetar keras, tanpa terasa pikirnya dengan perasaan tercengang:

"Ternyata gembong iblis wanita inilah yang telah datang, tak heran kalau permainan tongkat berkepala naganya begitu hebat dan sakti."

sementara ia masih berpikir, tiga orang tosu kecil itu telah mundur ke belakang tubuh Thian-hok totiang.

Nenek Naga Berambut Putih sebera menghentakkan tongkatnya ke atas tanah membuat ujung tongkat itu melesak masuk ke dalam batu sedalam tiga inci. setelah itu sambil menatap Thian-hok sangjin tegurnya sambil tertawa dingin: "Bagus, bagus sekali Hey, si tosu tua hidung kerbau, aku lihat lagakmu makin lama semakin besar"

Paras muka Thian-hok sangjin amat serius, meski begitu nada pembicaraannya tetap tenang dan lembut "Aku sudah terbiasa hidup menyendiri di tengah bukit dan enggan mencampuri urusan keduniawian lagi, itulah sebabnya aku selalu menolak untuk menerima kunjungan dan kehadiran umat persilatan yang datang menyambangi diriku."

"sayang sekali para penjaga pintu bukitmu itu tak lebih cuma gentong nasi yang tak berguna, Nyatanya mereka tak sanggup menghalangi kedatangan aku si nenek tua," jengek Nenek Naga Berambut Putih sambil tertawa dingin.

Thian-hok sangjin tertawa hambar. "Nama besar Thian-lam-siang-hiap (sepasang pendekar dari Thian- lam) sudah lama menggetarkan dunia persilatan. jangan lagi ketiga orang anak bnahku, bahkan akupun merasa kagum dan bukan tandingan." si kakek yang duduk di tepi dinding tebing itu mendadak bersin berulang kali, diketuknya huncwee tersebut beberapa kali ke atas batu bukit, lalu teriaknya: "Hey, siapa yang sedang mengumpat aku si kakek?"

"Tua bangka tak mampus- mampus, buat apa kau masih berlagak pilon?" tegur nenek naga berambut putih gusar. Pelan-pelan kakek itu bangkit berdiri dan berjalan menghampiri arena, sambil berjalan tiada hentinya dia hisap huncwee-nya. Tampaknya Thian-hok sangjin tak ingin menyalahi kedua orang ini, ia berusaha keras menahan diri sebisanya. Dengan telapak tangan kiri disilangkan di depan dada, ia memberi hormat sambil bertanya: "Bolehkah aku tahu, ada urusan penting apakah kalian berdua suami istri datang berkunjung kemari?"

Kakek berambut putih itu mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.

"Ha ha ha ha... kalau tak ada urusan penting, tak nanti kita kunjungi kuil Sam-po-tian-..."

Sambil mengalihkan pandangannya ke wajah nenek naga berambut putih, terusnya setelah berhenti sejenak: "Hei, nenek tua, perkataan selanjutnya kaulah yang mesti teruskan-"

Agaknya Nenek Naga Berambut Putih masih diliputi hawa gusar yang meluap-luap, dengan suara dingin ia menyambung: "Kedatangan kami hari ini tak lebih hanya ingin meminjam barang dari kau si hidung kerbau tua."

"Asal aku memilikinya, pasti akan kuberikan" "Menurut hasil penyelidikanku, kedua macam barang

itu benar-benar telah terjatuh ke tanganmu." "Boleh aku tahu, barang apakah itu?"

"Adik angkatku telah kehilangan dua mustikanya, dua mustika dari Thian- lam yakni pedang usus ikan dan tameng Thian-liong-ka"

Dari balik wajah Thian-hok Sangjin yang serius tiba- tiba tersungging sekulum senyuman, pelan-pelan ia bertanya: "Darimana kalian suami istri berdua memperoleh berita ini?"

Kembali kakek berjenggot putih itu tertawa tergelak. "Ha ha ha ha... kau jangan peduli darimana berita itu

kami dapat, pokoknya berita tersebut bukan hasil karangan kami sendiri"

"Apa yang tersiar rtalam dunia persilatan tak boleh dipercayai seratus persen, apalagi aku sudah puluhan tahun lamanya hidup mengasingkan diri di pondok Lian- im-lu, dan tidak mencampuri urusan dunia persilatan lagi. Apa gunanya kusimpan benda-benda mustika semacam itu?"

"DuIu, adik angkatku itu dengan mengandalkan dua mustika dari Thian- lam telah menggemparkan seluruh daratan Tionggoan, Utara selatan sungai besar diobrak abrik tak karuan, sehingga siapa pun yang mendengar namanya akan keder dibuatnya " "Betul" sela Thian-hok sangjin, "Dulu, nama besar Gadis naga berbaju hitam memang amat tersohor di kolong langit, hampir semua umat persilatan takut dan sayang kepada-nya. Waktu itu nasibku memang beruntung sehingga sempat berjumpa satu kali dengan- nya." 

"Jago pedang yang tersohor waktu itu bisa dihitung dengan jari tangan, Karena kau suka menyembunyikan diri dan tak mau menonjolkan kepandaiannya, maka adik angkatku yang masih muda dan berangasan akhirnya datang ke pondok Lian-im-lu ini untuk mencari kau dan mengajak adu kepandaian. saat itu merupakan saat terakhir adikku muncul dalam dunia persilatan semenjak peristiwa itu dia lenyap tak berbekas, coba jawab benarkah telah terjadi peristiwa semacam ini?"

Kembali Thian-hok sangjin tertawa, "Betul, memang kami pernah adu kepandaianku."

Tidak menunggu sampai Thian-hok sangjin menyelesaikan perkataannya, nenek naga berambut putih kembali menukas: "Nah itulah dia, pasti perbuatanmu. Lantaran tertarik dengan kedua mustikanya, kau pasti telah membunuhnya lalu menyita mustika dari Thian- lam tersebut"

"Kalian berdua jangan menuduhku dengan tuduhan yang bukan-bukan" seru Thian-hok sangjin sambil berkerut kening, "Apalagi fitnahan semacam ini. Kuakui bahwa aku memang sempat bertanding melawan gadis naga berbaju hitam dan waktu itu tidak disaksikan pihak ketiga, tapi ada rembulan dan langit yang menjadi saksi. "

"Dalam pertandingan itu adik angkatku berhasil menang atau kalah?" hardik nenek naga berambut putih

.

"Dengan mengandalkan ketajaman pedang usus ikan, adik angkatmu berhasil membabat tiga kali atas pedangku."

Tiba-tiba nenek naga berambut putih menghela napas panjang, selanya kemudian-"Andaikata ia tidak menggunakan pedang usus ikan, mungkin hal mana tak akan memancing kerakusanmu untuk mengangkangi senjatanya sehingga adik angkatku itu kau celakai"

"Aku harap kau jangan menuduh yang bukan-bukan," tukas Thian-hok sangjin dengan wajah serius, "Betul saat itu pedangku berhasil dibabat tiga kali, tapi bukan berarti aku kalah."

"senjatamu sudah dikutungi kalau bukan disebut kalah memangnya harus dianggap menang?"

"Tatkala gadis naga berbaju hitam naik ke pondok Lian-im-lu untuk menantang aku beradu pedang, saat itu nama besarnya telah menggetarkan seluruh dunia persilatan Nama besar pedang usus ikan dan tameng Thian- liong- ka juga ikut tersohor jadinya di-seluruh kolong langit walaupun waktu itu aku sangat jarang melakukan perjalanan dalam dunia persilatan, tapi nama besar adikmu itu sempat kudengar dari pembicaraan beberapa orang sahabatku.

Lagipula adikmu gemar memakai baju hitam, oleh sebab itu meski aku baru pertama kali bersua muka dengan adikmu, tapi sekali berjumpa aku segera mengenalinya sebagai Gadis naga berbaju hitam yang amat termashur itu"

"Hmmm, oleh sebab itu pula kau lantas teringat dengan kedua mustika miliknya dan timbul keserakahanmu untuk meng-angkanginya, selesai pertarungan yang berakhir dengan kekalahanmu, kau gunakan akal busuk untuk mencelakainya secara diam- diam, bukan begitu?" sambung nenek naga berambut putih sinis.

Thian-hok sangjin benar-benar memiliki kesabaran dan ketebalan iman yang luar biasa. Kendatipun nenek naga berambut putih menuduh dan memojokkan dia terus- menerus, ia tetap dapat menjaga kestabilan dan ketenangan hatinya.

sambil tertawa hambar, ujarnya kemudian- "Pedang usus ikan merupakan benda mestika peninggalan jaman cun-ciu, Ketajamannya luar biasa, inilah salah satu sebab yang membuat adikmu bisa termashur di kolong langit."

"Ha ha ha ha... betul Betul sekali" sela kakek berjenggot putih sambil tertawa tergelak "Andaikata pedang usus ikan hanya benda biasa, tak nanti kau Thian-hok sangjin bakal tertarik dan ingin mengangkanginya."

Thian-hok sangjin tidak berusaha mendebat, ia melanjutkan perkataannya: "Tatkala gadis naga berbaju hitam memaksaku bertanding pedang, sudah berulang kali aku mencoba menolaknya, tapi adikmu terus menerus mendesak. ia paksa aku untuk turun tangan sehingga akhirnya aku dibuat tak berdaya dan terpaksa menerima tantangannya itu.

Betul adikmu agak sombong dan takabur, namun ia tak kehilangan kegagahan serta kebesaran jiwanya.

Ketika hendak menggunakan pedang usus ikan, ia sempat memberitahukan kepadaku betapa tajamnya senjata itu dan menganjurkan kepadaku untuk membawa beberapa bilah pedang sebagai cadangan hingga dalam pertarungan nanti tak sampai kehabisan senjata sebelum menang kalah bisa ditentukan- Waktu itu aku tak mengabulkan permintaannya, tapi tak tahan dengan desak-annya yang bertubi-tubi, pada akhirnya aku pun membawa empat bilah pedang sebagai cadangan-..." Dia angkat kepalanya memandang puncak bukit di kejauhan sana, sampai lama kemudian ia baru melanjutkan- "Akhirnya kami pun mulai bertarung sengit di sebuah tempat yang amat terpencil. Di puncak bukit yang diselimuti salju abadi, pertempuran itu kuakui sebagai pertempuran paling seru, paling ganas danpaling ramai yang pernah kualami sepanjang hidupku, Ketika adikmu berhasil mengutungi pedangku dengan senjata mustikanya, aku sudah rela mengaku kalah, tapi adikmu mendesak terus kepadaku agar ganti senjata lain- ia memaksaku untuk bertarung lagi sampai aku mengaku kalah dalam hal ilmu silat. Didesak seperti ini terpaksa aku pun mengikuti kemauannya, begitulah, secara beruntun aku kehilangan tiga bilah pedang "

"Seseorang yang secara beruntun kehilangan tiga bilah pedang sudah pasti dianggap kalah, kenapa kau tak mau mengakuinya?" tanya nenek naga berambut putih tak puas,

"Tatkala aku mengeluarkan prdang yang keempat, tiba-tiba adikmu mengajukan usul lain, ia memaksa aku untuk bertaruh, Katanya semenjak kedatangannya di daratan Tionggoan, akulah terhitung musuh paling utamanya yang paling tangguh. Maka ia memaksaku bertaruh, andaikata ia berhasil mengutungi pedangku yang keempat, maka aku harus kembali menjadi manusia biasa dan sepanjang hidup mengikutinya sebagai budak." setelah menghela napas panjang dan membuang pandangannya ke kaki langit dia melanjutkan: "Coba kalian bayangkan penghinaan semacam ini siapa yang sanggup menerimanya? Walaupun aku hidup mengasingkan diri dan tak ingin mencampuri urusan dunia persilatan lagi bukan berarti aku bersedia dihina orang seenaknya. oleh sebab itu dalam pertandingan yang terakhir ini bukan saja aku telah menggunakan segenap kekuatan yang kumiliki, aku pun mesti menggunakan seluruh jurus simpanan yang pernah kupelajari sungguh beruntung sekali dalam pertarungan ini akhirnya aku berhasil mengungguli adikmu."

"Benarkah kau berhasil mengunggulinya dalam hal ilmu silat?" tanya nenek naga berambut putih sambil menghela napas sedih. "selama hidup aku tak pernah bicara bohong. Jurus kemenangan itu berhasil kuperoleh dengan taruhan nyawa, sehingga kalau dibilang kemenangan itu hanya suatu keberuntungan saja rasanya tidak salah."

"Tapi semenjak pertarungan pedangnya melawanmu, ia tak pernah muncul kembali dalam dunia persilatan Kalau bukan kau celakai, kemana ia telah pergi?"

Thian-hok sangjin termenung berpikir sejenak, kemudian katanya: "setelah menderita kekalahan, adikmu merasa gusar bercampur mendongkol. Terburu- buru ia turun gunung dan berlalu begitu saja, walaupun watak adikmu agak angkuh dan takabur, namun aku menaruh rasa hormat dan kagum terhadapnya."

Tampaknya nenek naga berambut putih berhasil diredakan hawa amarahnya oleh penuturan danpenjelasan Thian-hok sangjin ini, sikapnya jauh lebih tenang dan ramah, tanyanya pelan- "Apakah yang kau kagumi atas dirinya?"

" Walaupun adikmu kalah satu jurus, namun ia mengenakan tameng Thian-liong-ka yang kebal tusukan maupun bacokan- Dalam kondisinya saat itu sesungguhnya ia masih mampu untuk melanjutkan pertarungan tapi kenyataannya dia mengakui kekalahan tersebut dan pergi dengan begitu saja, sikap jujur dan kebesaran jiwanya itulah yang telah meninggalkan kesan yang amat mendalam kepadaku."

"Nah itulah dia," sela nenek naga berambut putih, "Tahukah kau di mana ia berada sekarang?"

Kembali Thian-hok sangjin termenung sambil berpikir sejenak, kemudian menggeleng, "Aku tak tahu."

"Menurut berita yang kudengar, konon adik angkatku telah terluka oleh pedang terbang beracunmu, Meskipun tubuhnya dilindungi oleh tameng naga langit, toh bukan berarti seluruh badannya terlindungi." "Walaupun aku menguasai ilmu melepaskan pedang terbang, namun dalam pertarunganku melawan musuh belum pernah satu kali pun kugunakan."

"Peduli berita yang tersiar itu benar atau tidak. yang jelas dan pasti adikku tak pernah muncul kembali dalam dunia persilatan semenjak pertarungannya melawanmu Kini kami sengaja datang kemari untuk mencari jejaknya, jadi bukan sengaja mencari gara-gara denganmu..."

setelah berhenti sejenak. lanjutnya: "Tameng naga langit serta pedang usus ikan sejak itu pula mengikuti adikku lenyap dari peredaran, jejaknya tidak ketahuan, sudah banyak tahun kami melakukan penyelidikan dan pencarian, namun tak berhasil menemukan jejaknya, Kini aku rasa hanya Tian-hok totiang seoranglah yang mengetahui jejaknya," Thian-hok sangjin tertawa hambar.

"Apa yang kuketahui telah kuutarakan semua, Apabila kalian berdua tetap tak percaya, yaaa... apa boleh buat lagi?"

Nenek naga berambut putih berpaling memandang kakek berjenggot putih itu sekejap. kemudian tegurnya: "Hey, tua bangka, bagaimana menurut pendapatmu?"

Pelan-pelan kakek berjenggot itu mengisi huncweenya dengan daun tembakau, menyulutnya dengan api dan menghisapnya berulang kali, setelah itu baru berkata: "Menurut pandanganku, kita hanya ada dua jalan untuk menyelesaikan persoalan ini. jika kau percaya dengan penjelasannya, kita sudahi persoalan tersebut sampai di sini Kita pun tak usah membuang banyak waktu untuk mencari jejak adik angkatmu beserta kedua benda mustikanya. sebaliknya jika kau tak percaya, kita paksa kepadanya untuk menyerahkan adikmu."

"Huuuuh, jawaban macam begitu sama saja seperti tidak menjawab" teriak si nenek gusar

"Yaa... betul. " sela si kakek setelah menyedot

huncweenya beberapa kali, "Kau memang tak pernah mau menuruti pendapatku"

"Tua bangka sialan, aku mau tanya pendapatmu percayakah kau dengan apa yang dijelaskan Thian-hok totiang barusan?"

"soal ini. ? Aku hanya percaya separuh"

" Kenapa?" nenek naga berambut putih itu keheranan, " Kalau percaya bilang percaya, kalau tidak percaya katakan tak per-caya, mana ada percaya setengah saja?"

"separuh penjelasannya aku percaya sebagai kejadian yang sebenarnya, dia memang tidak mencelakai adik angkatmu juga tidak mengangkangi kedua benda mustika tersebut, tapi ia tahu jejak gadis naga berbaju hitam " "Darimana kau bisa tahu?" Kakek berjenggot putih itu tertawa tergelak:

"Ha ha ha ha... kau anggap separuh masa hidupku berkelana dalam dunia persilatan hanya perjalanan sia- sia?"

Pelan-pelan nenek naga berambut putih mengalihkan kembali sinar matanya kewajah Thian-hok sangjin, kemudian sepatah demi sepatah dia bertanya: "Benarkah kau mengetahui jejak adik angkatku?"

Paras muka Thian-hok sangjin berubah hebat, ia mendongakkan kepalanya mene-rawang ke udara, lama kemudian baru jawabnya: "Waktu itu, aku sama sekali tidak tahu..."

"Bagaimana kemudian?" tukas nenek naga dengan suara lantang,

" Kemudian aku memang mendengar kabar beritanya."

"Di mana ia sekarang?"

Thian-hok sangjin menarik kembali sorot matanya yang menerawang udara itu, ditatapnya si kakek dan si nenek sekejap. setelah itu jawabnya: "Adikmu tidak muncul kembali ke dunia persilatan karena ia sudah kehilangan ambisinya untuk mencari kemenangan ia tak ingin menggunakan status kegadisannya untuk bergumul kembali dalam dunia persilatan"

Apa yang dipikirkan nenek naga berambut putih sekarang adalah bagaimana caranya mendapat kedua jenis mustika tersebut, maka dia mendesak Thian-hok sangjin terus menerus untuk mengatakan jejak gadis naga berbaju hitam Asal jejaknya sudah diketahui maka tak sulit baginya untuk mendapatkan kedua jenis mustika tersebut, semakin ia ingin segera mengetahui jawabannya, terasa jawaban dari Thian-hok sangjin makin lamban, tak tahan lagi teriaknya: "sekarang dia berada di mana? Cepat katakan"

Kembali Thian-hok sangjin mendongakkan kepalanya mengalihkan sinar matanya ke tempat kejauhan, ujarnya kemudian: "Aku hanya pernah mendengar tentang kabar beritanya tapi kurang begitu paham keadaan yang sesungguhnya, Bukankah kalian berdua berhasil mendapat tahu kalau gadis naga berbaju hitam pernah bertarung melawanku, kenapa tidak kalian selidiki juga kabar beritanya? Toh pekerjaan semacam ini tidak terlalu menyulitkan kalian?"

Kakek berjenggot putih yang selama ini hanya menyedot huncwee nya sambil menikmati kebutan asapnya itu tiba-tiba menyela: "Nah, bagaimana? Tidak salah bukan perkataanku Meskipun dia tahu, kalau enggan diutarakan kepadamu juga percuma saja..."

selapis hawa napsu membunuh pelan-pelan mulai menyelimuti wajah nenek naga berambut putih, tongkat besinya mulai dipersiapkan untuk melancarkan serangan sementara sinar matanya yang tajam bagaikan aliran listrik dialihkan ke wajah Thian-hok totiang dan menatapnya lekat-lekat, Hardiknya ketus: "Bagus sekali, jadi kau sudah tahu namun tak sudi memberitahukan kepadaku..?"

"Gadis naga berbaju hitam masih hidup segar bugar di kolong langit Kalian berdua sudah mencarinya selama banyak tahun belum berhasil juga menemukan jejaknya, Menurut pendapatku, dia seharusnya juga tahu kalau kalian berdua sedang mencarinya dengan susah payah, tapi kenyataannya sekarang ia tak bersedia tampilkan diri untuk bertemu muka, Hal ini membuktikan akan dua hal, kesatu dia memang tak ingin berjumpa dengan kalian berdua. Kedua ia ada kesulitan yang membuatnya kurang leluasa untuk berjumpa lagi dengan kalian berdua. sebelum memperoleh ijin dan persetujuan dari yang bersangkutan aku merasa kurang leluasa untuk mengambil keputusan dengan membocorkan tempat tinggalnya." Dengan beberapa patah kata itu dengan sangat jelas sekali Thian-hok Sangjin telah mengutarakan isi hatinya, walaupun ia mengetahui alamat rumah Gadis naga berbaju hitam, namun ia tidak bersedia mengungkapnya.

Pelan-pelan nenek naga berambut putih berjalan mendekati Thian-hok sangjin, dengan nada setengah mengancam serunya: "Jika kau tak bersedia memberitahukan alamatnya, aku akan memaksa kau untuk menjawab"

"Begini saja, apabila kalian bisa memberi waktu selama tiga hari kepadaku, aku pasti akan memberikan jawaban yang memuaskan kepada kalian, bahkan mungkin dapat mempertemukan kalian-"

"sudah puluhan tahun kami mencari jejaknya" teriak si nenek dengan suara keras. " Hampir seluruh pelosok dunia telah kami telusuri, aku tak bisa menunggu terlalu lama lagi, sekarang juga aku harus bertemu dengannya."

" Kalau begitu harap kalian memaafkan diriku, terpaksa aku tak dapat memenuhi harapan itu."

Dengan gemas nenek naga berambut putih menghentakkan tongkatnya ke atas tanah, sekujur badannya gemetar keras menahan gejolak emosinya yang membara, katanya serius: "Jika kau tak bersedia menjelaskan kabar berita adik angkatku, sama artinya kau memang berniat mengangkangi dua benda mustika kami itu"

"Aku sebagai pendeta yang menjauhkan diri dari keduniawian sama sekali tak punya ambisi untuk memimpin dunia persilatan pun tak berniat mencari nama besar di kolong langit. Betul pedang usus ikan dan tameng naga langit merupakan dua benda mustika dari dunia persilatan, akan tetapi aku tidak mempunyai perasaan serakah dan niat untuk memilikinya. Apalagi kalian tidak bersedia memberi waktu selama tiga hari kepadaku, yaaa.-, apa boleh buat lagi, terserah kalian mau apa"

Ucapan tersebut disampaikan dengan tulus dan bersungguh-sungguh, membuat siapa pun yang mendengarkan mau tak mau harus mempercayainya, Emosi yang bergejolak dalam dada nenek naga berambut putih kembali mereda. Dia mendongakkan kepalanya sambil berpikir sejenak. mendadak tongkatnya di hentakkan ke tanah, sambil berpaling ke arah kakek berjenggot itu serunya nyaring:

"Hey, tua bangka, mari kita pergi, Tiga hari kemudian kita datang lagi minta petunjuk di pondok Lian-im-lu ini."

Thian-hok sangjin segera merangkap tangannya di depan dada, sambungnya dengan serius: "Selama hidup aku tak pernah berbohong, asalkan kalian naik ke puncak ini tiga hari kemudian, aku pasti akan memberitahu kabar tentang gadis naga berbaju hitam."

"Ha ha ha ha " setelah menyemburkan asap

tembakaunya kakek berjenggot putih itu tertawa tergelak. " Walaupun totiang amat jarang melakukan perjalanan dalam dunia persilatan, namun mempunyai nama besar sebagai jago pedang nomor wah id. Aku percaya dengan janjimu itu, tiga hari kemudian kami pasti akan datang lagi untuk meminta petunjuk"

"Maaf kalau aku tak bisa mengantar"

Belum selesai perkataan itu diucapkan, tampak dua sosok bayangan manusia berkelebat lewat. Gerakan tubuh itu cepat bagaikan sambaran kilat, dalam sekejap mata bayangan tubuh mereka sudah lenyap dari pandangan-

Memandang hingga kedua orang itu lenyap daripandangan Thian-hok sangjin baru membalikkan badannya dan perlahan-lahan berjalan menghampiri Han si-kong serta Lim Han-kim.

sebagai jago kawakan yang banyak pengalaman Han si-kong sudah dapat merasakan ketidak senangan Thian- hok sangjin terhadap perbuatannya itu, sebelum lawan berbicara dulu, ia sudah keburu menjura sambil katanya: "Kami baru pertama kali ini datang mengunjungi pondok Lian-im-lu sehingga kurang begitu paham dengan peraturan di sini, Apabila perbuatan kami dianggap lancang harap totiang sudi memaafkan"

Pelan-pelan sekulum senyuman tersungging kembali diujung bibir Thian-hok sangjin, katanya lembut: "Silahkan kalian berdua kembali ke dalam gubuk"

Tanpa membuang waktu, ia berjalan lebih dulu menuju ke bangunan rumah sebelah tengah, Tiga orang tosu kecil bersenjata pedang itu serentak mengikuti di belakang Thian-hok sangjin menuju ke dalam rumah. setelah semua orang berlalu, Han si-kong baru berbisik kepada Lim Han-kim: "Lote, pernah kau dengar tentang sepasang pendekar dari Thian- lam ini?"

"Aku belum lama terjun ke dalam dunia persilatan, masih s edikit jagoan ternama yang aku kenal."

"Kalau disebut sepasang pendekar dari Thian- lam, sebetulnya panggilan itu kelewat memuji mereka berdua, padahal kedua orang itu lebih pantas dipanggil sepasang manusia aneh dari Thian-lam. jangan karena gelar mereka menggunakan nama Thian-lam, maka kau anggap mereka sering berkeliaran di daerah tersebut.

Yang betul mereka malah lebih sering nongol di Utara dan selatan sungai besar."

"Aku kurang mengerti dengan penjelasanmu itu" "Ha ha ha ha " Han si-kong tertawa terbahak-bahak.

"Lote, tak heran kalau kau kebingungan dibuatnya, siapa saja yang tidak memahami latar belakang kedua orang itu pasti akan dibuat kebingungan juga oleh perkataanku tadi, Aaaai. Kalau dibicarakan kembali, kita mesti bercerita mulai dari lima puluh tahun berselang."

"Waktu itu sepasang manusia aneh dari Thian-lam s ering kali muncul di daerah Tionggoan, sepasang laki perempuan ini tidak terhitung sesat juga tidak termasuk golongan lurus. Tindak tanduknya selalu mengutamakan baik buruknya pribadi masing-masing orang yang dihadapi. oleh sebab itu perbuatannya banyak menyakiti hati umat persilatan Akhirnya pada suatu ketika mereka berdua dikerubuti oleh rekan-rekan persilatan dari daratan Tionggoan yang berakibat kedua orang itu menderita luka parah."

"Sejak peristiwa itu selama hampir dua puluh tahun lamanya mereka berdua tak pernah muncul dalam dunia persilatan, tapi dua puluh tahun kemudian mereka muncul lagi di daratan Tionggoan dan melakukan balas dendam. secara beruntun mereka berhasil membunuh delapan belas orang jago tangguh yang berakibat nama mereka jadi amat termashur."

sementara pembicaraan masih berlangsung, mereka sudah memasuki ruang tamu. Han-gwat telah menunggu mereka di muka pintu, Begitu melihat mereka muncul gadis itu segera mendelik ke arah Han si-kong sambil menegur: "sudah tua masih tak tahu diri. Hmmm Kenapa perbuatanmu tak pakai aturan sama sekali?"

Han si-kong agak tertegun, lalu teriaknya marah: "Hey budak cilik, siapa yang kau maki?"

"Memangnya kau yang kumaki? Apa salah aku bicara sendiri?"

" Umurku sudah lewat enam puluh tahun, tak perlu kau si budak ingusan memberi pendidikan kepadaku." Han-gwat tertawa dingin-

"Semangat muda bukan masalah pada usia, kau sudah hidup puluhan tahun lamanya, yang pernah kau lihat pun terhitung sangat banyak, Apa gunanya kau ikut ke sana menonton keramaian sehingga melanggar peraturan yang berlaku di pondok Lian-im-lu ini?"

Untuk sesaat lamanya Han si-kong tak mampu menjawab, terpaksa ia duduk sambil membungkam diri

Han-gwat sedikitpun tak mengalah, lanjutnya: "Thian- hok Totiang paling benci kalau tamunya berkeliaran secara lancang, dengan lari keluar untuk menonton pertarungan itu kalian sudah melanggar pantangan terberat yang berlaku di bukit ini. Meskipun Thian-hok totiang tidak sampai mengumbar hawa amarahnya lantaran memandang wajah majikan tuaku, tapi kalau dia sampai menceritakan persoalan ini kepada majikanku, yang pasti akulah yang bakal menerima hukuman."

Lim Han-kim merasa setiap ucapan dan perkataannya sangat masuk diakal dan tak dapat dibantah, tanpa terasa dengan kening berkerut katanya: "Perkataan nona memang benar, Begini saja, bila majikan tuamu menegur nona gara-gara persoalan ini, aku akan berusaha dengan segenap kemampuanku untuk memikul resiko ini."

Han-gwat mengangkat wajahnya memandang langit- langit rumah, ia seperti memikirkan sesuatu, kemudian katanya: "Bila kau bersedia memberikan sebotol jin-som berusia seribu tahun itu untuk nona kami, mungkin hal ini bisa memancing kegembiraan majikan kami sehingga hukuman itupun bisa kuhindari."

Lim Han-kim menghela napas panjang: "Aaaai... sebotol jinsom berusia seribu tahun itu sudah lama hilang, sekalipun aku bersedia menghadiahkan untuk nonamu pun tak ada gunanya "

"soal itu tak perlu dikuatirkan, dengan watak majikan tua kami, ia tak pernah mau bertindak sebelum ada kesepakatan Asal kau bersedia menghadiahkan obat itu kepada kami, masalah menemukan kembali obat tersebut tentu akan menjadi urusan majikan tua kami, jadi kau

tak usah repot-repot." Teringat kalau jinsom seribu tahun itu menyangkut mati hidup Ciu Huang, Lim Han-kim jadi serba salah, dia tahu sekali ia mengangguk maka seterusnya ia tak bisa mengingkarinya kembali.

Akhirnya setelah lama termenung dia pun berkata: "Soal ini... lebih baik kupikirkan dulu sebelum mengambil keputusan."

sementara itu Han si-kong telah menggelengkan kepalanya berulang kali sambil mengomel: "Aaai... orang bilang paling sukar hidup bersama kaum wanita dan orang rendah. Tampaknya ucapan ini tepat sekali, Aku sudah hidup puluhan tahun lamanya tapi hari ini mesti didamprat seorang budak ingusan, benar-benar membuat hatiku malu dan kecewa."

Han-gwat sedikitpun tidak tersinggung oleh ucapan tersebut, malah sebaliknya tertawa geli, "Hmmm, bila suatu ketika kau punya jodoh dan bisa bertemu dengan nona kami,"

"Kalau ketemu lantas kenapa ?"

"Jangan dilihat usiamu sudah begini tua dan pengalamanmu begitu banyak. sampai dirimu terjual pun belum tentu kau akan sadar."

"Aku tak percaya akan kejadian seperti ini?" "Kalau tak percaya silahkan saja dicoba." Tapi tiba-tiba ia menghela napas sedih, sambungnya: "semoga Thian berbelas kasihan dan melindungi nona kami sehingga penyakitnya cepat sembuh, dengan begitu ia akan mendapat peluang untuk menikmati keindahan alam."

Mendadak terdengar suara langkah kaki manusia berkumandang datang dan memotong pembicaraan Han- gwat yang belum selesai.

Tampak seorang tosu kecil dengan wajah yang dingin dan hambar telah muncul di depan pintu, setelah memandang ke tiga orang itu sekejap, katanya: "suhu mengundang kalian bertiga untuk masuk"

Han si-kong segera melompat bangun dan tanpa mengucapkan sepatah kata pun berjalan menuju ke luar Biarpun usianya sudah lanjut namun wataknya berangasan sekali, dia paling pantang dihina apalagi dipandang remeh orang. Lim Han-kim dan Han-gwat segera menyusul di belakangnya bersama-sama keluar dari rumah gubuk itu, Dipimpin oleh tosu kecil itu mereka bertiga diajak memasuki sebuah rumah gubuk yang paling luas.

Dalam ruang tamu sudah tampak beberapa orang sedang menunggu, kecuali Thian-hok sangjin, hadir pula seorang kakek berambut putih, Begitu bertemu dengan kakek berambut putih itu, Han-gwat tergopoh-gopoh lari mendekat, sambil jatuhkan diri berlutut serunya: "Han- gwat menjumpai loya"

Kakek itu selain terlihat memiliki rambut yang telah memutih dan sepasang alis mata berwarna putih keabu- abuan, bagian lainnya sama sekali tak menampakkan gejala ketuaan, cuma alis matanya saja yang selalu berkerut menandakan bahwa ia sedang dirundung kemurungan-

"Bangunlah" tampak ia mengulapkan tangan kirinya memberi tanda.

Han-gwat segera bangkit berdiri, bisiknya kemudian- "Loya, apabila kau memutuskan borgol di tangan kedua orang itu, mereka berjanji akan mempersembahkan sebotol jinsom berusia seribu tahun untuk mengobati penyakit nona."

Lim Han-kim sangat gelisah setelah mendengar ucapan itu, belum sepat dia mengucapkan sesuatu, kakek berambut putih itu telah berkata lagi: "Kalau begitu aku mewakili putriku menghaturkan banyak terima kasih."

Pelan-pelan ia maju mendekat sambil mengeluarkan sebilah pedang pendek dari sakunya, Dalam sekali tebasan, borgol di tangan Lim Han-kim telah terpapas kutung.