Pedang Keadilan I Bab 14 : Menjumpai Tokoh Sakti

 
Bab 14. Menjumpai Tokoh Sakti

Dibawah jalan setapak itu terdapat jurang yang sangat dalam dan diselimuti kabut tebal, sedemikian tebalnya kabut sehingga sukar untuk mengira berapa dalam- jurang tadi, yang terdengar hanya deruan angin yang menggidikkan hati.

Jalan setapak itu pastilah terbuat dari alam yang dibenahi sana sini dengan tenaga manusia, namun lebarnya cuma tiga depa. orang yang belum pernah mengunjungi tempat semacam ini bisa dipastikan hatinya bakal bergidik dibuatnya. Demikian pula yang dirasakan oleh ketiga orang jagoan tersebut Tak urung timbul juga perasaan ngeri dalam hatinya. Han-gwat berjalan- lebih dulu di depan, Setelah melalui belasan kaki jauhnya, tiba-tiba ia berhenti sambil berpesan: "Bila nanti sampai terjadi pertarungan, maka kalian mesti berhati-hati, jalan setapak ini begitu sempit dan cuma mampu menampung satu orang saja... apakah kalian sudah ada persiapan?"

Han si-kong berdua tidak menjawab, mereka sendiri pun tak tahu apa yang mesti diperbuatnya.

setelah mendaki bukit itu setinggi seratus kaki, tiba- tiba selat sempit itu berbelok ke arah kanan. Pada saat itulah terdengar seseorang menegur dengan suara yang dingin dan tanpa perasaan: "siapa Berhenti"

Waktu itu mereka bertiga mendekati tikungan tersebut, Han-gwat berjalan di paling muka, Han si-kong berada di tengah sedangkan Lim Han-kim berjalan dipaling belakang, sewaktu mendengar suara teguran yang dingin itu, serentak mereka bertiga menghentikan langkah-nya.

Ketika mengalihkan perhatiannya ke depan, tampak di tengah jalan setapak itu berdiri seorang manusia berbaju serba hitam yang memegang pedang di tangannya.

orang itu berperawakan tinggi ceking, sepasang jidatnya agak melesak ke depan, wajahnya dingin dan kaku tapi amat serius. Buru-buru Han-gwat bungkukkan badan memberi hormat sambil menyapa: "Paman, masih ingat dengan aku Han-gwat?"

Lelaki berwajah dingin kaku itu tidak langsung menanggapi pertanyaan gadis itu, Dengan sinar matanya yang tajam bagaikan pisau belati dia awasi wajah Han si- kong dan Lim Han-kim berulang kali, kemudian baru katanya dengan suara kaku: "setiap orang yang pernah berjumpa denganku, selama hidup aku tak akan melupakannya lagi."

"Paman masih ingat dengan aku Han-gwat berarti kau masih percaya dengan ku, bukan? Nah, kedua orang ini adalah sahabat karib majikan tua kami yang khusus datang berkunjung karena ada urusan penting, Aku berharap paman bersedia memberi peluang dengan membiarkan kami melewati tempat ini."

Lelaki setengah umur berwajah dingin itu benar-benar berhati kaku tanpa perasaan, ternyata ia bersikap dingin terhadap permintaan Han-gwat itu. Tolaknya mentah- mentah: "Tidak bisa"

Melihat kekakuan orang itu, dengan kening berkerut Han si-kong membatin di hati: " Kekakuan orang ini betul- betul jarang dijumpai di kolong langit, bahkan berbicara pun nampaknya segan."

Pada saat itu Han-gwat telah mengerutkan dahinya siap meradang, tapi akhirnya ia berhasil mengendalikan gejolak emosi-nya, Dengan suara yang tetap lembut ia kembali meminta: "Kedua orang ini harus berjumpa dengan majikanku secepatnya, Paman. Berilah kesempatan mereka untuk lewat"

"Baik, kuberi dua jalan untuk kalian pilih. Pertama, minta kedua orang rekanmu menunggu di bawah bukit, agar majikan kalian menjumpai mereka di sana"

Mendongkol sekali perasaan Han si-kong mendengar perkataan itu, tanpa terasa serunya: "Lalu apakah jalan kedua itu?"

"Jalan kedua lebih sederhana lagi. Ka-lian bertiga boleh turun tangan bersama, Asal aku dapat dirobohkan, kalian pun bisa menembusi pertahananku dengan bebas."

"Semua jago dan orang gagah di kolong langit boleh dibilang rata-rata menghormati Thian-hok sangjin, tak kusangka anak buahnya ternyata hanya seorang manusia dungu yang tidak kenal perasaan. Kejadian semacam ini betul-betul membuat aku merasa kecewa."

"Hmmmm" Lelaki ceking itu mendengus dingin. "Lian- im-lu tak pernah mengadakan hubungan dengan umat persilatan, buat apa kau merasa kecewa? Boleh saja Jui lotoa berhati lembek dengan melepaskan kalian naik gunung, tapi jangan harap aku Li loji akan berbuat yang sama dengan melepaskan kalian semua. Hmmmm Jika tak puas, silahkan turun tangan untuk men-coba... aku siap melayani"

Ucapan yang setengah mengejek setengah menantang ini kontan mengobarkan hawa marah Han si-kong yang pada dasarnya memang berangasan. Dengan penuh amarah ia segera membentak keras: "Turun tangan, ya turun tangan, aku tak percaya Lian-im-lu adalah bukit golok"

"Tak percaya? silahkan saja mencoba" Han si-kong tak dapat membendung hawa amarahnya lagi, bentaknya: "Bocah perempuan, minggir kamu"

sekali lompat ia telah melewati Han-gwat dan menerjang maju ke muka. Bagaimanapun juga dia sudah berpengalaman dalam menghadapi situasi semacam ini, walaupun berada dalam pengaruh emosi yang meluap namun ia masih dapat memperhatikan situasi musuhnya.

Tampak olehnya tempat di mana lelaki ceking itu berdiri ternyata merupakan tempat yang terlebar dalam selat itu, Letaknya persis ditikungan dan berada pada posisi yang lebih tinggi, Tempat yang demikian strategis itu jelas sangat menguntungkan orang itu, apalagi orang itu membawa senjata tajam di tangannya.

Lim Han-kim memandang Han-gwat sekejap. dia seperti ingin mengucapkan sesuatu tapi niat tersebut diurungkan kemudian sementara itu tampak Han si-kong memutar badannya menempel di atas dinding bukit. setelah memperhitungkan jalan mundur untuk menghindari serangan musuh, ia baru meneruskan langkahnya kedepan.

Lelaki setengah umur bertubuh ceking itu tetap berdiri tak berkutik pada posisinya semula, sepasang matanya mengawasi gerak-gerik Han si-kong tanpa berkedip. itulah kunci rahasia ilmu pedang tingkat tinggi, menggunakan ketenangan untuk mengawasi gerakan lawan.

Melihat situasi sudah semakin kritis dan pertarungan nampaknya tak bisa dihindari lagi, tiba-tiba Lim Han-kim berteriak keras: "Locianpwee, tunggu sebentar"

Dari dalam sakunya ia mengambil ke luar pedang pendek pemberian Hongpo Lan. setelah meloloskan dari sarungnya, ia sodorkan pedang itu ke depan sambil ujarnya: "Locianpwee, tanganmu masih diborgol, jelas situasi semacam ini tidak menguntungkan bagimu, ditambah lagi keadaan medan semakin tak menguntungkan Apabila kau tidak menggunakan senjata tajam, maka kerugian di pihakmu akan semakin bertambah parah."

Tampaknya Han si-kong sendiripun sudah mengetahui bahwa lelaki setengah umur bertubuh ceking itu merupakan seorang jago pedang yang sangat hebat, Dia pun tahu bahwa pertarungannya kali ini membawa resiko sangat besar, maka tawaran itu tidak ditampik, setelah menerima senjata tersebut ia baru siap melancarkan serangan.

Di bawah sorot cahaya matahari yang siap terbenam, tampak cahaya dingin yang menggidikkan hati menyebar keluar dari tubuh pedang itu. Lelaki ceking itu memandang sekejap pedang yang sudah terhunus lalu memandang pula borgol di tangan Han si-kong.

Tiba-tiba wajahnya diliputi perasaan bimbang, Akan tetapi Han si-kong tidak memberi kesempatan lagi kepada orang itu untuk berpikir panjang, sambil memutar senjatanya ia mendesak maju dua depa lebih ke depan.

Lelaki setengah umur bertubuh ceking itu segera menggetarkan pedangnya menusuk ke bawah. selapis cahaya dingin yang terpancar keluar dari balik senjatanya langsung menerjang ke dada lawan.

Han si-kong menggetarkan pedangnya menyodok ke atas, ia bacok datangnya ancaman senjata itu. Buru-buru lelaki itu menarik kembali senjatanya, Tiba-tiba kakinya melayang ke depan melepaskan satu tendangan kilat.

Dengan posisinya yang berada di tempat tinggi, tendangan itu persis mengancam jalan darah Hian-ki-hiat di dada Han si-kong. Cepat Han si-kong miringkan badannya ke samping untuk berkelit, pedang pendeknya langsung membabat sejajar dada, Dengan gerakan sangat cepat lelaki ceking itu menarik kembali tendangan kaki kanan-nya. Di antara putaran pedangnya tercipta tiga kuntum bunga pedang yang memancar diri menyergap tiga buah jalan darah penting di tubuh bagian atas lawannya.

sesudah saling bergebrak beberapa jurus, Han si-kong mulai sadar bahwa ia telah menjumpai musuh tangguh, seperti apa yang diduganya semula, lelaki ceking itu benar-benar seorang jagoan dalam ilmu pedang, Andaikata pedang pendeknya tidak tajam menggidikkan sehingga membuat lawan agak keder dan merasa ngeri, mungkin saat ini ia sudah terdesak di bawah angin.

Pertarungan sengit yang berlangsung dalam selat sesempit ini memaksa kedua belah pihak harus mengembangkan pertempuran jarak dekat. Dalam waktu singkat kedua belah pihak sama-sama mengeluarkan jurus serangannya yang paling berbahaya untuk merobohkan lawannya.

Walaupun Han si-kong sudah menderita rugi karena berdiri diposisi yang tidak menguntungkan ditambah lagi sepasang tangannya masih diborgol, namun cahaya tajam yang terpancar keluar dari pedang pendeknya membuat lelaki ceking itu agak keder dan tak berani menyambut serangannya dengan keras lawan keras. Dengan keuntungan semacam inilah permainan pedangnya jadi jauh lebih lincah dan hidup. Karena dikembangkan dalam selat yang begitu sempit, permainan pedangnya justru merebut posisi yang jauh lebih menguntungkan-

Dengan posisi yang hampir seimbang ini, pertempuran yang sedang berlangsung punjadi berjalan lebih berimbang. Han-gwat yang ada di sisi arena mengikuti jalannya pertarungan itu dengan sepasang mata melotot besar. Hatinya makin gelisah lagi setelah melihat bahwa pertarungan antara kedua orang itu makin lama makin berbahaya dan sengit hingga akhirnya berkembang jadi pertempuran antara mati dan hidup.

Diam-diam ia mulai berpikir: "Bila pertarungan semacam ini dibiarkan berlangsung terus, pada akhirnya salah satu pihak pasti ada yang tewas atau terluka, padahal pihak manapun yang jadi korban, jelas kejadian semacam ini tidak menguntungkan bagi pihakku, aku harus segera bertindak."

Berpikir sampai di situ, ia segera membentak keras: "Tahan"

Mendengar bentakan itu pikiran Han Si-kong segera bercabang, permainan pedangnya pun ikut mengendor, Menggunakan peluang yang sangat baik inilah lelaki ceking itu menggetarkan pedangnya menerobos ke depan- Tampak cahaya tajam berkilauan, tahu-tahu ia sudah membabat putus segumpal rambut di kepala Han Si-kong.

Berhasil dengan serangannya lelaki ceking itu mundur selangkah sambil menegur: "Ada apa?"

sebaliknya Han si-kong yang merasa rambutnya terbabat lawan merasa sangat tak puas, sambil membentak gusar pedangnya disodok ke depan dengan jurus "Menembusi Awan Memanah Rembulan-"

Lelaki bertubuh ceking itu tidak menyangka kalau musuhnya bakal melancarkan serangan dalam situasi begini, melihat datangnya tusukan itu amat cepat tergopoh-gopoh dia berkelit ke samping.

Bagaimanapun cepatnya reaksi orang itu, tak urung tusukan tersebut sempat juga merobekkan celana yang dikenakan, Dengan penuh rasa mendongkol lelaki itu berteriak "Hmmm, membokong ketika orang tak siap. perbuatan lelaki macam apakah itu? Huuuh, sungguh memalukan"

Dengan perasaan amat penasaran pedangnya kembali digetarkan melancarkan bacokan, Menggunakan jurus "Menyambut Awan Mempersembahkan Matahari" pedangnya diputar membendung datangnya ancaman, sahutnya sinis: "Hmmm, setali tiga uang, kita sama- sama..." Badannya miring ke samping, pedangnya diputar membabat ke muka, Kedua orang itu segera terlibat lagi dalam pertarungan yang lebih sengit Di bawah sorot cahaya matahari sore, tampak cahaya yang memantul dari pedang mereka membiaskan sinar yang amat menyilaukan mata.

Tak terlukiskan rasa gelisah Han-gwat melihat peristiwa ini, kepada Lim Han-kim ia bertanya: "Bagaimana sekarang?"

"selat ini amat sempit, sedang mereka berdua pun sedang terlibat dalam pertarungan mati hidup, Tampaknya siapa pun tak ada yang mampu memisahkan mereka berdua."

"Apakah kita akan membiarkan mereka berdua bertarung mati-matian?"

Lim Han-kim tidak menjawab, dia hanya mengawasi jalannya pertarungan itu dengan lebih seksama.

"Ayolah, coba carikan akal," desak Han-gwat lagi.

Menyaksikan jurus serangan yang digunakan kedua orang itu untuk saling menyerang makin lama semakin ganas dan membahayakan Lim Han-kim mulai berkerut kening, gumamnya kemudian sambil menghela napas: "Aaaai... jika pertarungan semacam ini dibiarkan berlangsung terus, tak sampai lima puluh gebrakan kemudian pasti ada seorang di antara mereka yang akan terluka."

"Traaaang..."

Mendadak terdengar suara bentrokan senjata yang amat nyaring berkumandang memecahkan keheningan, begitu sepasang senjata itu saling beradu, Pedang di tangan lelaki ceking itu terpapas seketika hingga putus enam tujuh inci panjangnya,

"Ha ha ha ha " Kedengaran Han si-kong tertawa

tergelak, "Mau minggir tidak kamu sekarang?"

Lelaki ceking berbaju hitam itu mendengus dingin, Mendadak ia mundur sejauh dua langkah, pedangnya diputar kencang menciptakan bayangan pedang yang menyelimuti seluruh angkasa, Pedang miliknya itu panjangnya hanya tiga depa. setelah terpapas kutung sepanjang enam-tujuh inci oleh sabetan pedang Han si- kong, kini panjangnya tinggal dua depa tiga- empat inci.

Setelah mundur dua langkah maka posisinya di selat sempit tersebut jadi semakin longgar, permainan pedangnya pun otomatis jauh lebih leluasa lagi sehingga tak heran serangan-serangannya tampak lebih ganas dan hebat.

Dalam waktu singkat Han si-kong keteter hebat dan terjerumus ke dalam posisi yang sangat berbahaya. wataknya yang keras kepala dan pengalamannya yang cukup banyak dalam menghadapi pertarungan sengit membuat kakek ini tak sudi mundur barang selangkah pun.

Apalagi dalam pertarungannya semula ia berhasil merebut bidang tanah yang lebih luas dibandingkan sebelumnya, Meski harus menempel di dinding bukit, Han si-kong tetap memberikan perlawanan dengan gigih.

Melihat dua orang itu sudah bermandi peluh yang membuktikan bahwa pertempuran ini benar-benar amat berat dan sengit, Han-gwat jadi gelisah bukan kepalang, ia kembali menjerit "Ehhh... kalian jangan bertarung lagi" Dengan tangan kosong ia menerjang ke muka siap terjun ke tengah arena pertempuran

"Berhenti" hardik Lim Han-kim dengan kening berkerut, Tangannya cepat bergerak mencengkeram bahu gadis itu, tegurnya kemudian- "Kau ingin cari mampus?"

Ketika menjumpai dua orang itu masih tetap saling menyerang dan seolah-olah tidak mendengar teriakannya, Han-gwat benar-benar gelisah setengah mati, sifat kegadisannya pun muncul dalam situasi begini Dengan air mata bercucuran ia berubah meronta melepaskan diri dari cengkeraman, teriaknya kemudian- " Cepat lepaskan aku Kalau pertarungan itu dibiarkan berlangsung terus, salah satu di antara mereka pasti akan tewas atau paling tidak akan terluka parah. "

"sebelum pertarungan berlangsung tadi, mengapa kau tidak mencoba untuk menghalangi"

"Tapi. mereka toh tak akan menuruti perkataanku?"

"Sekarang mereka sudah terbakar oleh emosi dan hawa amarah, Demi menjaga reputasi dan gengsi pribadi terpaksa mereka harus bertarung mati-matian, coba bayangkan, dalam keadaan begini mungkinkah mereka bersedia menuruti nasehatmu?"

Han-gwat jadi tertegun dibuatnya, "Kalau begitu biar mereka membunuhku lebih-dulu. " katanya kemudian

dengan emosi.

"Toh perbuatan semacam itu tak akan memperbaiki keadaan-" Lim Han-kim ber-kata, setelah berhenti sejenak. kembali ia melanjutkan- "sekarang berdirilah agak jauh ke sana siap menolong orang, aku akan coba terjun ke arena untuk memisahkan mereka,"

Di bawah cahaya matahari tampak cahaya pedang beterbangan kian kemari, sosok bayangan kedua orang itu sudah tenggelam sama sekali di balik kabut hawa gedang yang menggidikkan jelas pertempuran itu akan berlangsung lebih seru dan berbahaya lagi. Tanpa terasa Han-gwat merasakan hatinya amat bergidik, tanyaya dengan cepat: "Siapa yang akan kau tolong?"

"Entahlah." sahut Lim Han-kim sambil tertawa hambar. "Mungkin Han locianpwee, mungkin juga lelaki berbaju hitam itu, mungkin juga aku sendiri..." Dengan langkah perlahan ia melewati gadis itu dan maju ke tepi arena.

"Lim siang kong, kau mesti berhati-hati," pesan Han- gwat dengan perasaan cemas. Lim Han-kim berpaling sambil tersenyum, wajahnya nampak lebih tampan dan gagah.

"Coba kau mundur lagi sejauh satu tombak. jarak yang kelewat dekat akan membuat kau gelagapan nanti," pesannya.

sikapnya yang gagah dan wajahnya yang tampan cukup membuat hati wanita tergetar dibuatnya, Han- gwat tampak agak termangu tapi ia menurut juga dan segera mundur dari posisi semula.

Lim Han- kim berjalan makin mendekati arena pertarungan Pada jarak empat depa itulah tiba-tiba ia genjot badannya melejit ke udara. Tampak bayangan manusia berkelebat lewat, bagaikan burung walet yang terbang menembusi angkasa, ia langsung menerjang masuk ke tengah gulungan cahaya gedang yang menyelimuti Han si-kong serta lelaki ceking berbaju hitam itu.

Han-gwat segera menghentikan langkahnya sambil mencurahkan seluruh perhatiannya ke tengah arena, Tampak tubuh Lim Han- kim dengan kecepatan luar biasa telah menyerobot masuk ke tengah lapisan cahaya pedang itu. "Traaaanggg,., Traaaanggg..."

Di tengah suara bentrokan senjata yang berlangsung berulang kali, cahaya pedang yang semula menyelimuti seluruh arena itu tiba-tiba lenyap tak berbekas.

Tampak lelaki ceking berbaju hitam itu mendengus tertahan, pedang yang berada di genggamannya tahu- tahu terlepas ke tanah, sebaliknya pedang yang berada di tangan Han si-kong meski tidak sampai terlepas dari genggaman tubuhnya justru tergelincir mundur sejauh tujuh delapan langkah sebelum berhasil berdiri tegak.

Ketika memandang lagi ke arah Lim Han-kim, terlihat di atas mantelnya telah muncul sebuah sobekan sepanjang lima inci, Buru-buru Han-gwat berlari menghampiri sambil bertanya: "Lim siangkong, apakah kau terluka?"

"Tidak. untung saja aku selamat," sahut Lim Han-kim sambil menggeleng. sementara itu lelaki ceking berbaju hitam tadi telah memandangi kutungan pedangnya yang tergeletak di tanah. Dengan wajah hijau membesi karena menahan gusar, katanya kemudian- "Kalian boleh naik gunung..."

Habis berkata ia balik badan dan berlalu dari situ.

Dalam sekejap mata tubuhnya sudah lenyap dari pandangan. Lim Han-kim coba mengawasi kemana orang itu berlalu, ternyata di atas dinding bukit persis di tikungan tersebut terdapat sebuah gua yang dapat dilewati tubuh manusia, Ke dalam gua itulah lelaki ceking tadi masuk.

Rupanya gua itu merupakan tempat tinggal lelaki tersebut. sebagai penjaga selat sempit itu bukan saja ia memiliki ilmu silat yang tinggi, tampaknya orang inipun pandai memanfaatkan keadaan medan yang menguntungkan- Tak heran kalau selama ini ia berhasil mencegah bermacam jago lihai untuk datang mengunjungi Thian-hok sang jin-

sementara itu Han si-kong telah bergabung dengan kedua orang rekannya, sambil tertawa ia berkata: "Untung pedang ini sangat tajam, kalau tidak... mungkin hari ini aku sudah terluka oleh pedang orang itu."

sambil berkata ia sodorkan kembali pedang tersebut Lim Han-kim menyarungkan kembali pedangnya lalu disimpan ke dalam saku, setelah itu baru ia kembali berkata: "llmu pedang kalian berdua sama-sama sudah mencapai pada puncaknya, Andaikata aku tidak menggunakan borgol di tanganku yang sangat kuat ini untuk membendung serangan gedang kalian berdua, mungkin pada saat ini akupun sudah terluka oleh cahaya pedang kalian berdua,"

"Saudara Lim, terus terang saja aku kagum dengan kehebatanmu Sudah puluhan tahun aku berkelana dalam dunia persilatan tapi baru kali ini kujumpai orang semacam saudara Lim ternyata telah memiliki ilmu silat demikian hebatnya. Dilihat dari hal ini tampaknya pengalamanku berkelana selama puluhan tahun dalam dunia persilatan benar-benar hanya perjalanan sia-sia."

"Han locianpweejangan kelewat memu-ji," kata Lim Han- kim merendah^ "Buktinya pemilik muda dari Lak- seng-tong Hongpo Lan malah berapa tingkat lebih hebat ketimbang aku."

"Kau tak usah merendah, Kalau aku bilang kamu berdua sama-sama mutiara yang gemilang, sama-sama jagoan paling tangguh dalam kalangan muda, Aaaai... Generasi muda memang sudah waktunya menggantikan generasi lama, sekarang aku baru merasa kalau usiaku sudah tua."

Beberapa patah kata itu diucapkan dengan nada sedih, hal ini mencerminkan betapa pedihnya perasaan orang tua itu. "Mari kita berangkat," ajak Han-gwat tiba-tiba setelah memungut kutungan pedang dari tengah selat "setelah naik ke puncak bukit ini, kita akan sampai di Lian-im-lu." Mendadak Lim Han- kim seperti teringat akan sesuatu hal yang amat penting, ia segera bertanya: "Bagaimana sih watak dan perangai Thian-hok totiang itu?"

"Ramah sekali." jawab Han-gwat sambil tertawa, "Asalkan dua rintangan ini berhasil dilampaui, maka setiap orang yang tiba di puncak bukit itu akan disambut dengan ramah sekali bahkan akan dijamu secara meriah. Kalian berdua tak usah kuatir, ikuti saja aku"

Setelah melewati dinding bukit berbatu, tampak sebuah jalan bukit yang sempit tapi panjang bagaikan bacokan golok ke punggung saja, menjulang sampai ke tengah angkasa, Han-gwat berjalan paling depan dengan gerakkan tubuh yang ringan- Angin gunung yang kencang membuat ujung bajunya yang berwarna hijau berkibaran seperti kupu-kupu yang beterbangan di antara bunga-bunga.

setelah menempuh perjalanan beberapa saat lamanya, jalan setapak itu tampak semakin lebar dan makin lama jalanan pun makin datar, sejauh mata memandang yang tampak hanya awan putih yang bergerak terhembus angin, sedang jurang yang menganga lebar tak kelihatan dasarnya, Memandangi pemandangan alam yang terbentang di hadapannya, Lim Han-kim merasakan dadanya mendadak jauh lebih lapang dan lega.

Mendadak terdengar Han si-kong bergumam seorang diri, "Wah... hari ini aku baru menyadari betapa luasnya kolong langit dan betapa kecilnya kita sebagai umat manusia di dunia ini."

setelah beberapa kali mengalami pengalaman pahit dan penderitaan lahir batin, kakek berangasan ini mulai merasa agak kecewa dan putus asa. Agaknya Han-gwat sama sekali tidak memperhatikan pemandangan alam di sekelilingnya, sambil menuding ke arah kabut yang bergerak rendah di atas puncak bukit itu katanya: "Di situlah letak Lian-im-lu"

Tanpa terasa Lim Han-kim dan Han si-kong sama- sama melongok ke depan, Tiba-tiba saja mereka mengendus bau harumnya bunga di antara hembusan angin gunung yang menerpa lewat.

Berjalan beberapa li kemudian terlihatlah sebidang tanah penuh tumbuhan aneka bunga terbentang di bawah bukit. Ketika tersorot oleh cahaya matahari terpantullah cahaya emas yang menyilaukan mata dari balik kabut. sebuah jalan kecil beralas batu putih terbentang menembusi bebungaan warna kuning itu.

Di bawah beberapa batang pohon cemara -berdiri angkuh tiga lima ekor bangau berwarna abu-abu. Ada kalanya burung-burung bangau itu berpekik, ada pula kalanya menepuk-nepuk sayapnya. Meski tampak ada orang asing yang mendekat, burung-burung itu sama sekali tak menyingkir karena ketakutan.

Keadaan seperti ini tak ubahnya seperti lukisan pemandangan alam, begitu indah, nyaman membuat siapa pun merasakan hatinya tenteram. Di ujung jalan setapak tadi berdiri beberapa buah bangunan rumah gubuk. dindingnya terbuat dari batu putih dengan rumput kuning sebagai atap rumah.

Meski bangunan itu sederhana, namun kehadirannya di sekitar pemandangan alam yang begitu mempesona membuat keadaan terasa makin tenteram.

"Benar-benar sebuah bangunan yang indah," puji Han si-kong tanpa terasa setelah menyaksikan pemandangan itu.

"Yaa, benar," sambung Lim Han-kim. "Bangunan rumahnya saja begini indah, dapat diduga penghuninya pasti seorang tokoh sakti yang berjiwa besar."

Belum habis perkataan itu diucapkan, tiba-tiba dari balik bangunan rumah gubuk itu muncul seorang kakek berjubah merah. perawakan tubuh orang itu tinggi besar, wajahnya ramah dan langkahnya tegap. sambil berjalan mendekat katanya sambil tertawa: "Rupanya ada tamu agung yang berkunjung kemari, Maaf, maaf Kalau pinto tidak menyambut dari jauh."

Melihat itu, Han Si-kong segera berbisik, " orang persilatan mengatakan bahwa Thian-hok sangjin adalah seorang kakek yang angkuh, dingin dan suka menyendiri Tak nyana dia benar-benar ramah seperti apa yang Han- gwat lukiskan."

Lim Han-kim hanya tertawa hambar tanpa memberi komentar apa pun- sementara itu Han-gwat telah maju menyongsong kedatangan kakek itu sambil berseru manja: "Totiang tua, aku telah mengajak dua orang tamu untuk datang mengunjungimu, dengan cara apa kau hendak menjamu tamu-tamumu?"

Dilihat dari sikapnya terhadap Thian-hok sangjin dapat disimpulkan bahwa kakek ini mempunyai watak yang amat ramah.

"sudah banyak tahun aku hidup menyendiri di atas bukit" katanya sambil tersenyum. "Sepanjang hari aku hanya berteman dengan burung bangau, tentu saja aku amat berharap ada tamu yang sudi berkunjung ke mari, Kini kalian berdua jauh-jauh datang kemari, tentu aku merasa girang bukan kepalang."

Buru-buru Lim Han-kim membungkukkan badan memberi hormat sedangkan Han si-kong bergumam lagi: "Bila kau benar-benar mengharapkan kunjungan tamu, semestinya semua penjagaan di bawah bukit situ segera dibubarkan- setelah itu kujamin pasti banyak tamu yang akan berkunjung ke mari."

Tentu saja beberapa patah kata itu hanya digumamkan dalam hati, sedang di luar ia tetap bersikap ramah dan sopan- sebenarnya Thian-hok sangjin sendiripun merasa keheranan ketika melihat kedua orang tamunya memakai borgol tangan, namun perasaan heran itu tidak diperlihatkan pada raut wajahnya, ia tetap menyambut kedatangan ramunya dengan penuh senyuman.

Memasuki rumah gubuk ini mereka dapatkan jendela maupun lantai disapu amat ber-sih. sekeliling dinding tidak berwarna, meja kursi terbuat dari kayu cemara, sedang luas ruangan hanya tiga kaki saja. Dua orang bocah lelaki berbaju hijau segera muncul menghidangkan air teh. semua peralatan minum seperti poci dan cawan terbuat dari bahan kayu cemara. Air teh pun berwarna hijau muda tapi harumnya luar biasa.

Ketika melihat Thian-hok sangjin tidak juga menanyakan maksud kedatangan mereka, dengan perasaan tak sabar Han-gwat segera bertanya: "Totiang tua, dapatkah kau orang tua mengundang keluar majikan tuaku? Mereka berdua ingin berjumpa dengannya." sambil tersenyum Thian-hok totiang manggut- manggut "Sekarang ia sedang duduk bersemedi, sebelum magrib nanti rasanya sukar untuk bertemu dengannya."

"Jadi setelah magrib kami baru dapat berjumpa dengan dia, orang tua...?" tanya Han-gwat sambil mengerdipkan matanya,

"Benar."

"saat ini dengan menjelangnya magrib sudah tak terlalu lama, lebih baik kita tunggu di sini saja," sambung Han si-kong cepat sesungguhnya perkataan semacam ini diutarakan atau tidak sama saja, hanya saja karena sudah lama ia tak berbicara maka sekarang ia tak tahan untuk mengucapkan beberapa patah kata.

Tampaknya Thian-hok sangjin sudah mengetahui maksud hatinya, sambil tersenyum ujarnya kemudian: "Melihat sikap sicu dan mendengar perkataanmu barusan, biar kucoba untuk menerka identitasmu Bila aku tak salah menebak tentunya sicu adalah si Raja Monyet Ceking Han si-kong, Han tayhiap bukan?"

Melihat tokoh maha sakti yang hidup mengasingkan diri ini bukan saja mengetahui namanya bahkan seakan- akan sudah pernah mendengar pula bentuk wajahnya, Han si-kong bukan cuma merasa terkejut juga girangnya bukan kepalang, sahutnya buru-buru: "Totiang, kau sudah banyak tahun hidup mengasingkan diri di atas bukit dan hidup santai bagaikan para dewa, darimana kau bisa tahu nama kecilku?"

Thian-hok sangjin tertawa, " orang kuno bilang: seorang sastrawan tidak keluar pintu pun dapat mengetahui urusan di dunia, apa salahnya jika aku pun mengetahui namamu?"

Kemudian sambil berpaling ke arah Lim Han- kim, katanya lagi sambil tersenyum ramah: "Sicu masih muda dan amat gagah, jelas ilmu silatmu juga sangat hebat Boleh aku tahu siapa namamu?"

Lim Han- kim segera bungkukkan badannya memberi hormat, lalu jawabnya singkat: "Lim Han- kim"

selesai menjawab ia duduk kembali dan tidak berkata sepatah katapun. Lama sekali Thian-hok sangjin memperhatikan wajah anak muda ini, baru saja sekulum senyuman ramah menghiasi bibirnya, mendadak terdengar Han si-kong berkata lagi:

"Pada puluhan berselang totiang pernah bertarung sengit melawan pendekar pedang tanpa nama, Tentang kejadlan tersebut dalam dunia persilatan telah banyak beredar cerita yang berbeda. Totiang, apabila hari ini kau bersedia menceritakan duduk persoalan yang sebenarnya, kami benar-benar akan merasa bahwa perjalanan kali ini tidak sia-sia belaka." "Peristiwa yang sudah lewat biarkan saja lewat, untuk apa kita singgung kembali?"

tampik Thian-hok sangjin sambil tertawa hambar, "Aku tahu totiang hidup mengasingkan diri dari

keramaian dunia dan jarang sekali melakukan perjalanan dalam dunia persilatan sebaliknya aku, boleh dibilang separuh hidupku kuhabiskan dalam dunia kangouw, Namun demikian aku hanya mendengar Totiang hanya satu kali saja mencampuri pertikaian dunia, Meski hanya satu kali namun ke cemerlanganmu betul-betul menggemparkan kolong langit. Betul kejadiannya sudah lewat puluhan tahun, tapi bagi umat persilatan yang punya umur tetap merupakan kisah yang sangat menarik. jadi akupun sangat berharap bisa ikut menikmati kisah tersebut."

Ketika mengangkat kepalanya, ia lihat wajah Thian- hok Sangjin tetap tenang, sedikitpun tidak menampilkan rasa gembira lantaran pujian tersebut, Karenanya setelah berhenti sejenak. lanjutnya: "Menurut apa yang kudengar, pendekar pedang berbaju perlente itu bukan orang Tionggoan melainkan datang dari kepulauan di Lautan Timur."

"Pengetahuan Han tayhiap benar-benar amat luas," puji Thian-hok sangjin sambil tersenyum "Benar, orang itu memang bukan berasal dari daratan Tionggoan, perubahan ilmu pedangnya sangat aneh, mendalam dan ganas."

"Totiang, aku dengar ketika bertarung melawan pendekar pedang dari Lautan Timur itu kalian naik sampan kecil yang diikat dengan tali, benarkah begitu? Waaah,., kalau dibayangkan bagaimana sampan itu dibiarkan terbawa arus sedang kalian di samping harus menjaga keseimbangan perahu agar tidak terguling oleh sapuan ombak. juga harus saling menggempur dengan hebat, tentu kejadiannya amat tegang dan mengerikan sayang sekali tak seorang manusia luar pun yang punya rejeki dapat menyaksikan jalannya pertempuran seru tersebut "

sesudah tertawa terbahak-bahak. terus-nya: "Biarpun tak ada orang yang sempat menyaksikan hasil pertarungan antara to-tiang dengan pendekar pedang itu, tapi semenjak kejadian itu jejak si pendekar pedang itu lenyap dari wilayah Kang-lam, Boleh aku tahu bagaimana hasil pertarungan itu sesungguhnya?"

"Waktu itu aku lebih beruntung dan berhasil menang satu jurus darinya, jadi sebetulnya tak ada yang aneh," sahut Thian-hok sangjin tersenyum.

"Apakah orang itu sudah terluka atau tewas di ujung pedang totiang?" Agaknya Thian-hok sangjin enggan untuk mengungkap kembali peristiwa tersebut, namun ia pun tak ingin membuat Han si-kong susah hati, maka setelah termenung berpikir sejenak sahutnya: "setelah aku dan pendekar pedang berbaju perlente itu naik ke atas sampan dan membiarkan sampan itu terbawa arus sampai sejauh tiga puluh li, kami saling bergebrak hampir ratusan jurus banyaknya, Terakhir aku berhasil menangkan satu jurus darinya, dan orang itupun memutuskan tali pengikat sampan dan berlalu dari situ." Han si-kong menghela napas panjang.

"Aaaai... andaikata totiang tidak turun dari Lian-im-lu, mungkin dunia persilatan pada umumnya dan wilayah Kang-lam pada khususnya sudah dibikin obrak-abrik tak karuan oleh ulah pendekar pedang berbaju perlente itu. seandainya sampai terjadi begitu, entah berapa banyak jago tangguh yang bakal terluka atau tewas di tangannya lagi."

Tampaknya Han-gwat sudah tak sabar mendengarkan kisah itu, sambil menatap wajah Han si-kong lekat-lekat, tegurnya: "Han locianpwee, aku lihat lebih baik kita tak usah menyingkap kejadian lama lagi. " Thian-hok

sangjin hanya tersenyum tanpa mengucapkan kata.

sebaliknya Han si-kong melototi Han-gwat sekejap. kemudian serunya: "Biarpun kejadian ini sudah lewat puluhan tahun lamanya, namun mempunyai pengaruh yang besar sekali terhadap situasi dunia persilatan Hasil pertarungan antara Thian-hok totiang dan orang itupun hingga kini masih menjadi teka teki umat persilatan Betul, dari lenyapnya si pendekar pedang berbaju perlente ini orang bisa menduga kalau Thian-hok totiang yang berhasil menangkan pertarungan tersebut, tapi kejadian yang sebenarnya toh belum diketahui orang,"

"Hmmm, kamu kaum wanita tahu apa tentang urusan dunia persilatan, lebih baik jangan komentar."

"Kau tak usah marah," ujar Han-gwat sambil tersenyum, "Masalahnya apa yang kau bicarakan tidak kami pahami, bagaimana kalau kita tukar dengan bahan pembicaraan yang lain?"

Pelan-pelan Thian-hok sangjin bangkit berdiri, katanya sambil tertawa: "Kalian datang dari kejauhan apalagi harus mendaki bukit, tentu sudah merasa lapar bukan?

Hanya saja di tengah gubuk begini tak ada hidangan lezat, harap dimaafkan-"

Bicara sampai di sini, ia pun bertepuk tangan dua kali, Dua orang bocah lelaki muncul dengan membawa baki kayu, Di atas baki kayu itu terletak empat buah piring yang terbuat dari batu, empat macam hidangan yang masih mengepul hawa panas tertera di atasnya. "Silahkan kalian bersantap dulu, sedang aku akan mohon diri sementara waktu," kata Thian-hok sangjin lagi sambil tertawa.

Tanpa menunggu jawaban dari Han si-kong, dia putar badan dan berlalu dari situ. sejak memasuki perbukitan M ao-san, ketiga orang itu hanya berpikir untuk melanjutkan perjalanan sehingga sudah cukup lama tidak bersantap. sekarang setelah melihat hidangan yang menyiarkan bau harum, perut mereka seketika terasa lapar.

Dengan sikap amat menghormat dua orang bocah itu menghidangkan sayur-sayur itu ke meja, kemudian baru mengundurkan diri.

Han si-kong mencoba memperhatikan beberapa macam hidangan itu, namun ia tak dapat mengenali terbuat dari bahan apa. Ketika dicicipi ternyata rasanya enak dan belum pernah dirasakan sebelumnya. Tak kuasa lagi ia memuji: "Selama hidup aku paling suka makan. Hidangan terkenal di Utara maupun selatan sungai besar pernah kucicipi, tapi belum pernah kucicipi hidangan seperti apa yang dihidangkan hari ini. Benar- benar lezat Benar-benar lezat"

sambil memuji, sumpitnya bekerja tanpa berhenti menyumpiti hidangan yang tersedia dan dimakannya dengan lahap. Han-gwat tersenyum geli melihat ulah rekan-nya, kepada Lim Han- kim segera serunya sambil tertawa: "Lim siangkong, cepat kita makan, Kalau tidak. bisa jadi semua hidangan akan dihabiskan dia seorang."

Lim Han- kim menggerakkan sumpitnya mencicipi Betul juga, hidangan yang tersedia benar-benar 1ezat. Dalam waktu singkat ketiga orang itu sudah menyikat habis ke-empat piring hidangan yang tersedia itu tanpa sisa. Tak lama kemudian dua orang bocah tadi muncul kembali membereskan sisa piring dan cawan kotor kemudian mengundurkan diri

Kedua orang bocah itu semuanya berwajah bersih dan tampan, namun sikapnya amat serius, selama ini mereka tidak bicara maupun tertawa tapi sikapnya amat sopan dan ramah.

Memandang hingga bayangan punggung dua orang bocah itu lenyap dari pandangan, Han-gwat baru berbisik kepada Han si-kong dan Lim Han-kim: "Sebenarnya watak majikan tuaku amat ramah dan halus, namun berhubung belakangan ini penyakit nonaku gawat sehingga majikan tua sangat merisaukan kesehatannya, maka wataknya agak berubah sedikit berangasan. Bila kalian berjumpa dengan dia orang tua nanti, harap sudilah bersikap lebih sabar."

Lim Han-kim hanya tertawa hambar tanpa menjawab, sedang Han si-kong bertanya: "Siapa nama majikanmu itu, boleh di beritahu kepada kami?" "Han locianpwee, kau menyombongkan diri punya banyak kenalan dan mengenal banyak tokoh sakti dari kolong langit, coba sekarang kau terka siapakah majikan tuaku itu." kata Han-gwat tersenyum.

Han si-kong sebera berkerut kening, "Di kolong langit jago silat bukan cuma satu dua, darimana aku bisa menebak nama majikanmu itu?"

Tiba-tiba Thian-hok sangjin munculkan diri didalam ruangan, sambil melangkah masuk tegurnya sambil tersenyum: "Apakah kalian berdua membawa teman?"

"Teman?" Han si-kong keheranan, "Kami berdua datang bersama nona Han-gwat saja."

Mula-mula Thian-hok sangjin agak tertegun, tapi kemudian ujarnya sambil tersenyum: "Kalau begitu ada rombongan jago lain yang telah datang ke Lian-im-lu."

"siapa mereka?"

"Soal ini sih aku belum tahu."

"Apakah pendatang telah menembusi dua rintangan?" "Aku mendapat laporan dari penjaga rintangan

pertama, katanya musuh yang datang sangat tangguh, tapi soal apakah dia telah berhasil menembusi rintangan pertama atau belum, aku kurang jelas." Han si-kong segera bangkit berdiri, kepada Lim Han- kim ajaknya: "Ayoh kita tengok siapa yang telah datang"

"Jangan" cegah Thian-hok sangjin menggeleng, "Kalau memang mereka bukan rekan kalian, tak usah kalian ikut repot."

Mendadak Han-gwat bangkit berdiri, bisiknya sedih: "Totiang"

"Ada apa?"

"Tentunya totiang tahu bukan bahwa majikan tuaku amat ketat menjaga peraturan?"

"Teruskan"

"Lian-im-lu adalah tempat yang terpencil dan jauh dari keramaian dunia, jarang ada orang luar yang mengetahui jalan menuju kemari, Aku kuatir kedatangan mereka itu justru karena menguntit kami, Bila totiang berjumpa dengan majikanku nanti, tolong jangan kau singgung bahwa akulah yang menjadi petunjuk jalannya."

Thian-hok sangjin manggut-manggut, setelah memandang Han si-kong dan Lim Han- kim sekejap. terusnya: "Pondok Lian-im-lu ku ini sudah puluhan tahun lamanya tak pernah dikunjungi orang asing, sungguh tak disangka hari ini bisa disinggahi tamu agung secara beruntun-..." Tiba-tiba terdengar suara suitan panjang berkumandang datang memotong perkataan Thian-hok sangjin yang belum selesai, Thian-hok sangjin yang selalu bersikap santai dan berwajah penuh senyuman itu tiba-tiba berubah air muka, alisnya berkerut kencang, Katanya kemudian agak serius: "silahkan kalian menunggu sejenak. aku akan segera menyambut kedatangan tamu agung itu." Terburu-buru ia meninggalkan ruangan-