Pedang Keadilan I Bab 13 : Ketua perkampungan Kolam Enam Bintang

 
Bab 13. Ketua perkampungan Kolam Enam Bintang

Lim Han-kim bukan turun tangan membantu, dia malah mundur tiga langkah dari sisi arena, Segenap perhatiannya dicurahkan pada perubahan jurus serangan yang digunakan kedua orang itu, seakan-akan dia ingin mencari titik kelemahan Hongpo Lan dari pertarungan mereka berdua.

Pada saat itu, keempat lelaki berpakaian ringkas itu sudah menyebarkan diri membentuk sebuah barisan yang berbentuk setengah bulat dan mengurung beberapa orang itu rapat-rapat. Masing-masing tampak membawa sebuah lencana besi sepanjang satu depa dua inci di tangan kiri yang disilangkan di depan dada. sementara tangan kanannya meloloskan pedang yang tersoren dipunggung, Sikap mereka amat serius dan siap melancarkan serangan.

Setelah melancarkan empat buah pukulan, Han si- kong mulai sadar bahwa malam ini dia telah menjumpai musuh tangguh yang jarang ditemui selama ini, ia memang sudah lama berkelana dalam dunia persilatan.

Selama puluhan tahun, pelbagai pertempuran sengit telah dialami sehingga pengalaman serta pengetahuannya sangat luas. begitu selesai melancarkan empat buah pukulan, hawa murninya segera dihimpun dan secepat kilat melompat mundur sejauh tiga depa. Di situ ia berdiri tegak sambil menunggu datangnya ancaman.

"Hati-hati, kini giliran aku yang melancarkan serangan." jengek Hongpo Lan dingin sambil menerjang maju ke depan, tangan kanannya diayunkan ke muka menyongsong dada musuh dengan jurus "Memancing ikan Di sungai Es".

Han si-kong dengan telapak tangannya yang tajam bagaikan golok balas membabat tubuh musuh dengan jurus "Memotong Bukit Membelah Awan"

Menghadapi ancaman semacam ini, Hongpo Lan sama sekali tidak membatalkan serangannya, ia tunggu sampai telapak tangan Han si-kong hampir mengenai tubuhnya, tiba-tiba kelima jari tangannya dipentangkan lebar-lebar dan berbalik mencengkeram pergelangan tangan lawan-

sesungguhnya jurus serangan itu hanya sebuah jurus Ki-na-jiu yang sangat sederhana dan umum, tapi karena dipergunakan pada saat dan detik yang sangat tepat maka hasilnya

adalah daya pengaruh yang luar biasa dahsyat dan hebatnya.

Buru-buru Han si-kong merendahkan pergelangan tangannya untuk menghindar ia nyaris berhasil melepaskan diri dari ancaman, tapi dengan adanya kejadian itu maka dia pun kehilangan posisi yang menguntungkan- Pada saat itulah tangan kiri Hongpo Lan telah menyambar tiba dan menyodok secara berantai dalam sekejap mata dia telah melancarkan enam buah pukulan maut.

Dengan susah payah Han Si-kong memberikan perlawanan yang gigih, walaupun akhirnya dia berhasil juga menghindarkan diri dari keenam jurus ancaman itu. Tak urung tubuhnya terdesak juga hingga mundur sejauh tiga langkah, sementara peluh telah membasahi jidatnya.

Mengikuti jalannya pertempuran yang sedang berlangsung, diam-diam Lim Han-kim berpikir: "Nama besar Han Si-kong diperoleh dengan susah payah dan perjuangan yang gigih Jika ia sampai terluka di tangan Hongpo Lan malam ini, niscaya nama besarnya ikut hancur dan hatinya tentu sakit sekali. Kenapa aku tidak segera menggantikan kedudukannya mumpung menang kalah belum ketahuan hasilnya."

Berpikir sampai di situ, ia segera melompat maju ke muka menghadang jalan pergi Hongpo Lan dan berdiri persis di muka Han Si-kong, sambil berpaling bisiknya: "Locianpwee, setelah dipenjarakan selama dua tahun lebih, kekuatan tubuhmu tentu belum pulih kembali, Bagaimana kalau babak pertempuran ini serahkan kepadaku saja?"

Tanpa menunggu persetujuan dari Han Si-kong, telapak tangannya langsung disodok ke muka melancarkan sebuah pukulan, Hongpo Lan tertawa dingin Jengeknya: "sejak tadi aku toh sudah anjurkan kepada kalian berdua agar turun tangan bersama, kenapa kamu berdua tak mau menuruti nasehatku?" Badannya mengegos ke samping menghindarkan diri dari datangnya gempuran.

"Hmmm, kau jangan takabur lebih dulu, Kalau ingin omong besar, tunggu sajalah sampai dapat menangkan aku lebih dulu"

sambil berkata pemuda itu melancarkan pukulan berantai dengan kekuatan luar biasa. Hongpo Lan miringkan badan sambil berputar, dengan suatu gerakan lincah tapi aneh tahu-tahu ia sudah terhindar dari serangan Lim Han-kim. Bukan itu saja, bahkan lengan kanannya mengikuti gerak perputaran badannya melancarkan sebuah sapuan,

Diam-diam Lim Han-kim telah memperhatikan dan menghapal gerak serangan yang digunakan Hongpo Lan- Dia dapat merasakan bukan saja di balik jurus serangannya yang sederhana terkandung perubahan yang aneh dan maha sakti, bahkan gerak tubuhnya sewaktu berkelitpun mengandung unsur rahasia yang luar biasa. Berdasarkan beberapa pertimbangan dan penilaiannya itulah dalam hati kecilnya ia sudah membuat perhitungan yang matang.

Menyusul dua serangan yang dilancarkan secara berantai itu, badannya menerjang maju dua langkah dariposisi semula, Begitu terhindar dari sapuan maut Hongpo Lan, tanpa menunggu lawannya membalikkan badan lagi telapak tangan dan kakinya segera melancarkan serangkaian serangan yang gencar lagi cepat.

Dalam waktu singkat jari tangan dan telapak tangan saling menyodok dan menyambar makin menyerang Semakin cepat, dalam sekejap mata dia telah melepaskan sembilan tendangan kilat dan delapan belas buah pukulan, serangkaian serangan gencar ini benar- benar dahsyat bagaikan amukan angin topan dan gulungan ombak di samudra bebas, sehingga para penonton yang ada di sisi arena sama-sama terkesiap dan kagum.

Tampak Hongpo Lan memutar badannya bagai gangsing, dua kakinya merubah posisi berulangkali bahkan dalam setiap kesempatan ia selalu berhasil melepaskan serangan balasan-

Melihat kehebatan musuhnya, diam-diam Lim Han-kim menghela napas panjang pujinya: "Benar-benar ilmu gerakan tubuh yang hebat"

Dengan langkah cepat dia mundur sejauh tiga langkah, Hongpo Lan tidak kalah kagumnya, sambil menyeka keringat yang membasahi jidatnya dia memuji: "selama hidup hanya saudara Lim seorang yang sanggup memaksaku mandi peluh, Kau benar-benar orang hebat."

"saudara Hongpo terlalu memuji, Aku lebih kagum Pada kemampuanmu. Coba bayangkan untuk menghindari sembilan tendangan dan delapan belas buah pukulanku, kau cuma bergeser tak lebih dari dua depa, Aaai... malam ini biarpun aku mengaku kalah, tapi aku kalah dengan sangat puas."

"Mumpung malam ini kita sudah bertemu, mari kita bermain sepuasnya. Nah hati-hatilah. "

Mendadak pemuda Hongpo menerjang maju lagi, tangannya diayunkan ke muka menggunakan jurus "Berlutut Menyembah Langit selatan-" Lim Han-kim sadar di balik jurus serangannya yang sederhana terkandung perubahan gerak yang luar biasa. ia tak berani bertindak gegabah, cepat tubuhnya miring ke samping, Kaki kanannya mundur selangkah untuk menyelamatkan diri lebih dulu, setelah itu tangan kanannya melakukan kuncian dengan jurus "Menutup Pintu Mendorong Rembulan"

Ketika serangan yang dilepaskan Hongpo Lan sampai di tengah jalan, mendadak ia ubah menjadi sebuah totokan yang mengancam jalan darah cian-keng-hiat di bahu lawan.

Buru-buru Lim Han-kim merangkap sepasang telapak tangannya, dengan jurus "Tangan Sakti Menggunting Bunga" dia cekal urat nadi pada pergelangan tangan lawan-

"Saudara Lim, ilmu silatmu memang sangat hebat," puji Hongpo Lan- sementara memuji, badannya sudah berkelit untuk menghindar, kemudian melepaskan dua pukulan balasan-

Maka beriangsunglah suatu pertempuran adu Cepat antara kedua orang itu. Sayang sepasang tangan Lim Han-kim masih diborgol sehingga sangat mengganggu geraknya, Dibandingkan Hongpo Lan jelas dia kalah lincah dan Cekatan- Namun ia memiliki jurus serangan ampuh yang dapat menutup kekurang lincahannya, hal ini membuat posisi mereka jadi seimbang.

Dalam waktu singkat, dua orang itu sudah saling menyerang sebanyak lima enam puluh jurus. Di tengah pertempuran sengit, mendadak terdengar Hongpo Lan membentak keras: "Saudara Lim, hati-hati"

Tiba-tiba dia memutar badan, mendesak maju ke sisi badan musuhnya, Telapak tangan yang menyambar tahu-tahu diputar berbalik menepuk bahu Lim Han-kim.

Dalam keadaan sepasang tangannya masih diborgol, sulit bagi Lim Han-kim untuk melakukan perubahan gerak. Tak ampun, bahunya kena dihantam satu kali, tapi ia tak gugup atau panik. sambil mendengus, lengannya ditekuk, kemudian sikutnya disodok ke lambung musuh.

Dua sosok bayangan manusia segera saling beradu lalu berpisah, paras muka Lim Han-kim kelihatan pucat pias, Langkahnya gontai dan tubuhnya mundur dua langkah dengan sempoyongan sebelum dapat berdiri tegak. sebaliknya Hongpo Lan memegangi iganya sambil terjongkok-jongkok.

Melihat majikannya terluka, keempat lelaki berbaju ringkas itu serentak menggetarkan lencana besi mereka sementara pedang di tangan kanannya berputar menciptakan sekuntum bunga pedang, Kemudian bersama-sama mereka maju mengurung Lim Han-kim rapat-rapat.

Menyaksikan perbuatan anak buahnya, buru-buru Hongpo Lan memberi tanda sambil membentak: "Cepat mundur Antar mereka keluar dari barisan."

Tampaknya iga yang tersikut menderita luka yang cukup parah, sehingga sewaktu berbicara pun ia harus menahan rasa sakit yang luar biasa, itulah sebabnya ia berbicara agak terputus-putus.

Mendengar bentakan itu, keempat lelaki berbaju ringkas itu serentak mundur sambil menurunkan kembali pedangnya, pelan-pelan Hongpo Lan bangkit berdiri, ujarnya sambil tertawa sedih: "llmu silat yang saudara Lim miliki benar-benar sangat hebat, aku mengakui bukan tandinganmu."

"Justru karena saudara Hongpo mengalah, aku baru mendapat kesempatan untuk melancarkan serangan balasan."

"Tapi tanganmu masih diborgol, bicara sejujurnya kau sudah menderita kerugian lebih dulu. "

Kemudian setelah menghembuskan napas panjang- panjang, lanjutnya: " Harap saudara Lim sudi memaafkan karena aku tak bisa mengantar sendiri kepergianmu." "Ketua muda betul-betul seorang lelaki sejati yang pegang janji. Aku Lim Han-kim merasa sangat kagum, Bila ada kesempatan untuk berjumpa lagi lain waktu, pasti akan kubalas budi kebaikanmu hari ini. Nah, kami mohon diri lebih dulu."

setelah menjura memberi hormat, ia membalikan badan dan berlalu dari situ. Kepada keempat lelaki berbaju ringkas itu Hongpo Lan segera menghardik dengan suara dalam: "Kalian mewakili aku mengantar mereka pergi dari sini, bila pelayanan kami kurang baik, hati-hati akan kuhukum dengan berat"

Empat lelaki berpakaian ringkas itu serentak mengiakan, Kepada Lim Han-kim mereka berkata hormat: "silahkan kalian bertiga mengikuti kami."

Mereka pun berjalan lebih dulu untuk membuka jalan, Di bawah bimbingan keempat orang lelaki berbaju ringkas itu dengan cepat Lim Han-kim, Han si-kung dan Han-gwat telah berhasil meninggalkan barisan air Lam- to-lak-sengtin. panjang perjalanan mereka pun dapat meras akan betapa rumit dan kalutnya barisan tersebut

setelah keluar dari ilmu barisan itu, keempat lelaki berbaju ringkas itu kembali memberi hormat sebelum meninggalkan tempat tersebut.

saat itu Han si-kong yang tinggi hati benar-benar sudah dibuat kagum oleh kehebatan Lim Han-kim, katanya sambil menghela napas panjang: "ombak belakang sungai Tiangkang benar-benar telah mendorong ombak di depannya. orang baru sudah sepantasnya menggantikan

orang lama, setelah melalui kejadianpada malam ini, aku benar-benar merasa sudah amat tua."

Ucapan mana diutarakan dengan nada yang memelas hati. sebenarnya Lim Han-kim ingin mengucapkan beberapa patah kata untuk menghibur, namun ia tak tahu bagaimana harus berbicara, Akhirnya setelah mendehem pelan, dia mengalihkan pokok pembicaraan kesoal lain, Ujarnya: "Lo-cianpwee, coba kau perhatikan letak enam buah kolam itu, tepat sekali mengelilingi perkampungan tersebut. "

Ketika Han si-kong mendongakkan kepalanya, benar juga dari kejauhan sana terlihat selapis kilatan cahaya yang memantul pada permukaan air. Enam buah kolam yang berbentuk sama mengelilingi sebuah perkampungan.

Di antara keenam kolam itu berjajar pula aliran sungai yang berliku-liku menghubungkan kolam yang satu dengan yang lain, Tampaknya nama perkampungan itu bukan lain berasal dari keadaan tersebut.

Menyaksikan semua itu, diapun manggut-manggut sambil sahutnya: " dalam dunia persilatan benar-benar banyak terdapat jago silat yang luar biasa hebatnya. Kalau tidak mengalami sendiri peristiwa ini, tak akan kupercayai bahwa dalam perkampungan yang dikelilingi enam buah kolam tempat pelihara ikan, hidup seorang tokoh maha sakti yang berilmu silat tinggi. "

Mendadak terdengar suara derap kaki kuda berkumandang datang dari arah belakang, kemudian muncul tiga ekor kuda yang berlarian menuju ke arah mereka bertiga. Ketika sampai pada jarak empat-lima depa dari hadapan Lim Han-kim sekalian, kuda-kuda itu

dihentikan. Tiga orang bocah lelaki berbaju hijau segera maju memberi hormat sambil berkata:

"Kami bertiga mendapat perintah dari ketua muda untuk mengantar kuda- kuda ini. Harap tuan bertiga sudi menerimanya."

"Maksud baik itu biar kami terima dalam hati saja," tampik Han si-kong cepat "Tolong sampaikan kepada ketua muda kalian, kami masih punya kekuatan untuk meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki, kami tak berani menerimahadiah besar itu."

"Peraturan yang ditetapkan ketua kami amat ketat dan keras, Apabila tuan bertiga menolak pemberian ini, kami yang susah nantinya," kata tiga orang bocah berbaju hijau itu serentak. selesai berkata mereka segera lepaskan tali les kuda itu dan sama-sama mengundurkan diri.

"Ehmm... sungkan amat orang itu," ujar Han-gwat kemudian sambil tertawa. Tanpa sungkan-sungkan lagi ia melompat naik ke atas punggung seekor kuda.

Ketika menemukan di atas pelana telah tersedia guci air, ransum kering dan sekantung uang perak. tak terasa lagi gadis itu tertawa terkekeh-kekeh. "Hei, apa yang lucu? Kenapa kau tertawa terkekeh?" tegur Han si-kong agak gusar.

"Di atas pelana sudah tersedia air, ransum dan uang Jika kalian berdua harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki, padahal tangan kalian masih diborgol, aku percaya kamu berdua akan menjadi tontonan yang menarik, Lebih baik naik kuda saja, dengan begitu keadaan kalian pun bisa tersamar."

"Yaa, perkataan nona memang betul," sambung Lim Han-kim sambil manggut-manggut.

"Locianpwee, lebih baik kita teruskan perjalanan dengan menunggang kuda."

Melihat kedua orang rekannya sudah setuju naik kuda, terpaksa Han si-kong melompat naik kepunggung kuda dan melarikannya ke depan. dalam waktu singkat ketiga orang itu sudah menempuh perjalanan sejauh enam tujuh li. Mendadak Han si-kong menarik tali les kudanya sambil berhenti ujarnya kemudian- "Kita akan ke mana sekarang?"

"BorgoI di tangan kalian belum dilepas, tentu saja pergi menjumpai loya kami," usul Han-gwat.

"Aku tak mau ikut"

"Locianpwee, kalau kau tak ikut, apakah selama hidup kau ingin memakai borgol itu?"

"Aku tak percaya kalau di dunia ini tak ada cara lain untuk melepaskan borgol tersebut Kau tak usah menguatirkan aku."

Han-gwat segera mengerutkan dahinya, kembali ia berseru: " orang menyebutmu si monyet tua. julukan itu memang tak salah, Watakmu benar-benar berangasan macam monyet kena terasi. Ketahuilah bahwa majikan tuaku memiliki pisau mustika yang tajamnya luar biasa, sekalipun senjata mustika macam ini bukan cuma sebuah saja, tapi amat jarang dijumpai di kolong langit Daripada kau harus memakai borgol sepanjang hidup, kuanjurkan ikut kami saja menghadap majikan tuaku."

"Nona," sela Lim Han-kim. "Ada di mana majikan tuamu itu sekarang? Berapa jauh dari sini?"

" Kalau itu, sih, tergantung rejekimu." "saudara Lim," tiba-tiba Han si-kong menyela, "Anak perempuan paling suka main akal-akalan, Kau tak boleh percaya dengan perkataannya, lebih baik kita lanjutkan perjalanan-"

"Kau jangan terburu napsu dulu," buru-buru Han-gwat menyela, "Aku toh belum selesai berbicara. Gara-gara ingin membuatkan sejenis pil mustika untuk nona kami, majikan tua sering tinggal di Perpustakaan Lian-im-lu, tempat tinggal Thian-hok sangjin di bukit Mao-san-Jadi kalau nasib kalian kebetulan baik, kita akan bertemu dengan beliau di situ, Tapi kalau nasib lagi jelek, kita tak bakal ketemu dia di situ, masa perkataanku ini keliru?"

Lim Han-kim tertegun, ia ingin mengucapkan sesuatu, tapi niat itu kemudian diurungkan, sebaliknya Han si- kong bertanya dengan keheranan- "Thian-hok seng- jin?jadi majikan tua kalian kenal dengan tokoh maha sakti itu?"

"Bukan cuma kenal, hubungan mereka begitu akrab sehingga melebihi hubungan antara saudara sekandung."

"Menurut apa yang kuketahui, Thian-hok sangjin terkenal sebagai seorang tokoh persilatan yang dingin, angkuh, dan suka menyendiri ia jarang sekali mengadakan hubungan dengan kaum persilatan. " "Sekalipun Thian-hok sangjin angkuh, dingin, dan suka menyendiri tapi ia bersikap sangat menghormat terhadap majikan kami," sambung Han-gwat dengan suara dingin-

"Hmmm, memandang pada Thian-hok sangjin, kita memang pantas melakukan perjalanan ke Mao-san dan mengunjungi Perpustakaan Lian-im-lu"

"Locianpwee" sela Lim Han-kim. "Apa-kah kita akan ke bukit Mao-san dengan tangan masih diborgol begini?"

Han Si-kong tertawa terbahak-bahak:

"Ha ha ha ha... lote, Thian-hok Sangjin adalah tokoh maha sakti yang tersohor semenjak puluhan tahun berselang. ia termashur sebagai jago pedang dari Kang- lam, tapi sifatnya terlalu hambar dan dingin, tak pernah senang mencari nama apalagi menerima kunjungan tamu, sepanjang tahun ia mengurung diri di Perpustakaan Lian-im-Iu nya di bukit Mao-san- oleh sebab itulah jarang sekali orang persilatan mengetahui nama besarnya."

"Kalau memang tak pernah menerima tamu dan sepanjang tahun selalu mengurung diri di atas bukit, bagaimana mungkin namanya bisa begitu termashur dalam dunia persilatan?"

"Pertanyaan yang sangat bagus..." Setelah mendeham sebentar, Han si-kong berkata lebih jauh: "Dua puluh tahun berselang, dalam dunia persilatan wilayah Kang-lam tiba-tiba muncul seorang pemuda berbaju periente yang memiliki ilmu silat sangat tinggi ia menyebut diri berasal dari lautan Timur. perbuatannya sangat memusingkan banyak orang, Bukan saja ia berbuat sewenang-wenang, entah berapa banyak kejahatan yang telah dilakukannya.

Hal ini membuat dunia persilatan jadi kalut dan tak pernah tenang, Tapi lantaran ilmu silatnya sangat tinggi, maka berpuluh-puluh jago, baik dari golongan hitam maupun golongan putih, yang mencoba menantangnya berhasil dikalahkan semua,"

"Sampai setengah tahun kemudian masih belum ada seorang manusia pun berhasil mengendalikan perbuatan jahatnya, Pada saat itulah Thian-hok Sangjin yang mendengar berita ini segera tampilkan diri. Dengan ditemani sebilah pedang, ia tantang orang itu untuk berduel di luar kota Kim-leng. Berita ini segera menyebar ke seluruh dunia persilatan. Ketika duel itu berlangsung, beratus-ratus orang jago ikut hadir menyaksikan jalannya pertarungan itu."

"Melihat begitu banyak orang turut hadir di sekitar arena, Thian-hok sangjin ternyata segan memperlihatkan kepandaiannya. pada saat terakhir ia merubah tempat pertarungan dengan memindahkan ke tengah sungai..." "Bertarung di tengah sungai?" tanya Lim Han-kim keheranan-

Han si-kong makin bersemangat bercerita, terusnya: "Dua orang itu masing-masing menunggang sebuah sampan kecil yang di-tengahnya dikaitkan satu sama lainnya dengan rantai sepanjang lima depa, Dengan membiarkan sampan mereka terbawa arus sungai itulah mereka berdua saling menyerang dengan gencarnya."

"Ehmmmm, pertarungan macam ini benar-benar sebuah sistem pertempuran yang baru dan menarik."

"Yaa, tentu Thian-hok sangjin yang berhasil memenangkan pertempuran ini," sahut Han-gwat.

"Dengan membiarkan sampan mereka terbawa arus, dalam waktu singkat sampan mereka berdua sudah lenyap di balik gelombang sungai yang tinggi, Dalam keadaan begini orang lain susah untuk mengikuti jalannya pertempuran itu, tapi yang jelas sejak naik ke sampan kecil itu, pemuda perlente tersebut tak pernah muncul lagi di wilayah Kang-lam. Ada yang bilang pemuda perlente itu tewas di ujung pedang Thian-hok sangjin dan mayatnya tenggelam di dasar sungai, Ada juga yang mengatakan pemuda perlente itu melarikan diri dengan membawa luka."

"Walaupun banyak berita yang beredar, namun ada satu hal yang pasti benar yakni pemuda perlente itu menderita kekalahan di tangan Thian-hok sangjin, sebab Thian-hok sangjin telah muncul kembali dalam keadaan selamat, sedang pemuda perlente itu lenyap tak berbekas sejak peristiwa itu."

"Akibat pertempuran itu, nama besar Thian-hok sangjin pun jadi sangat termashur, Namun ia sama sekali tidak memanfaatkan ketenaran namanya, malahan sejak itu pula dia mengundurkan diri dari dunia persilatan, hidup mengasingkan diri di bukit Mao-san Perpustakaan Lian-im-lu dan tak pernah mau menerima kunjungan tamu macam apa pun-"

"Masa selama dua puluh tahunan ini belum pernah ada yang berhasil menjumpai Thian-hok sangjin?" tanya Lim Han-kim.

"Mungkin saja pernah ada orang yang menjumpainya tapi belum pernah beredar suatu berita tentangnya dalam dunia persilatan, oleh sebab itulah ajakan ini menimbulkan rasa ingin tahuku."

"Asal kalian berjalan bersamaku, tanggung kamu berdua dapat bertemu dengan Thian-hok sangjin," kata Han-gwat. Habis berkata ia segera menyentak tali les kudanya dan meneruskan perjalanan lebih dulu.

Tiga ekor kuda pun berlarian dengan kencangnya menembusi kegelapan malam, yang terdengar hanya suara derap kaki kuda yang ramai. Ketika fajar mulai menyingsing, ketiga orang itu sudah menempuh perjalanan sejauh puluhan li.

Dijalan raya pun lamat-lamat mulai kelihatan orang yang berlalu lalang melakukan perjalanan Han-gwat menarik tali les kudanya menghentikan lari kuda. sambil menuju ke dalam hutan di sisi jalan raya, ujamya: "Mari kita sarapan dulu sebelum meneruskan perjalanan"

Memandang pakaiannya yang compang camping, Lim Han-kim berseru: "Coba kalian lihat dandanan kita saat ini Pakaian compang camping tak karuan, tangan kita pun diborgol. Kalau mesti meneruskan perjalanan pasti dandanan kita akan menarik perhatian orang banyak."

"Kita lelaki sejati yang tak pernah berbuat memalukan, kenapa mesti takut meneruskan perjalanan?" sahut Han si-kong.

sambil tersenyum Han-gwat menimbrung: "Coba kau pandang rambutmu yang kusut dan awut-awutan tak karuan, Gaya-mu tak beda dengan seorang pengemis, Dengan model macam begini, biarpun pakaianmu compang camping, juga tak akan menarik perhatian orang lain-Beda dengan Lim siangkong, ia masih muda dan berwajah halus, dengan memakai baju compang camping dan tangan berborgol, tentu saja kurang sedap dipandang orang " "Hmmmm sebagai lelaki sejati yang melakukan perjalanan dalam dunia persilatan, yang terpenting adalah jiwa kita yang besar dan berwatak pendekar soal baik buruknya wajah seseorang... hmmm, tak pernah ku- persoalkan di dalam hati."

"Tentu saja" jengek Han-gwat cepat. "Tapi kau lupa, Lim siangkong seorang pemuda gagah, mana mungkin bisa kau bandingkan dengan kejelekan wajahmu itu..?"

Han si-kong tertawa terbahak-bahak

"Ha ha ha ha... yang dihormati umat persilatan adalah orang gagah berjiwa besar, Biarpun aku berbaju rombengan dan berambut kusut, sekalipun menelusuri seluruh dunia persilatan, siapa yang berani pandang rendah diriku?"

"Locianpwee," bisik Lim Han-kim. "Tangan kita masih diborgol dan pakaian kita sudah robek tak karuan, tapi kuda yang kita tunggangi justru kuda pilihan, apakah dandanan kita semacam ini tak bakal mengejutkan orang banyak?"

"Aku punya akal.." tiba-tiba Han-gwat berseru sambil tertawa.

"Coba kau jelaskan"

"Lebih baik kita menyewa kereta kuda saja. Asal kalian dUdUk di dalam kereta, maka orang lain tak bakal menjUmpai dandanan kamU berdua." Han si-kong kontan mendengus dingin-

"Hmmm, buatku lebih baik meneruskan perjalanan di tengah malam buta dari pada harus naik kereta. Apalagi jarak bukit Mao-san dari sini tidak terlalu jauh. Kalau benar-benar ditempuh, paling banter dua malam pun sudah sampai."

sementara pembicaraan berlangsung, mendadak dari arah depan jalan raya muncul dua ekor kuda yang dilarikan kencang-kencang, Di atas kuda duduk dua orang lelaki kekar, Ketika mendekati hutan, mereka menghentikan lari kudanya sambil memperhatikan ketiga orang itu sekejap. lalu bersama-sama melompat turun dari atas pelana, Lelaki yang ada di sebelah kiri segera memberi hormat sambil bertanya: "siapa di antara kalian adalah Lim tayhiap?"

Lim Han-kim mengerutkan dahinya, Baru saja dia hendak menjawab, mendadak teringat olehnya bahwa di kolong langit banyak terdapat orang dari marga Lim. sedang orang itu tidak menyinggung nama lengkapnya, berarti belum tentu dia yang dimaksudkan

Melihat ketiga orang itu sama-sama membungkam, lelaki yang ada di sebelah kanan berkata pula: "Adakah di antara kalian bertiga yang bernama Lim Han-kim, Lim kongcu?" setelah agak tertegun sejenak Lim Han-kim menyahut: "Akulah orangnya, ada urusan apa?"

Lelaki itu memakai baju terbuat dari su-tera, mukanya penuh cambang, sekalipun perawakannya tinggi besar, namun nada suaranya amat nyaring, Tampak orang itu membungkukkan badannya memberi hor-mat, setelah itu katanya: " Hamba sekalian berasal dari perkampungan Lak-seng-tong yang mendapat perintah dari majikan muda kami untuk datang mencari Lim Kongcu. Kami diperintahkan mengantar dua stel pakaian baru, harap kongcu Jangan mentertawakan-"

Dari sisi pelana nya, lelaki berbaju kuning yang ada di tengah menurunkan sebuah bungkusan Bungkusan itu berisi dua buah jubah panjang yang terbuat dari kain sutera dan dua buah mantel, sambil dipersembahkan kepada pemuda itu, orang tersebut berkata lagi: 

"Pakaian kongcu sudah robek dan compang camping, sudah saatnya untuk ditukar dengan yang baru"

Lim Han-kim merasa berterima kasih sekali, ia tak menyangka Hongpo Lan bisa bersikap begitu bersahabat kepadanya,

Tapi pada dasarnya ia memang tak suka banyak bicara, maka kata nya kemudian sambil tertawa hambar "Lebih baik kalian bawa pulang pakaian itu" jawaban tersebut seketika membuat kedua orang lelaki itu tertegun. Lelaki berwajah kuning itu segera berseru agak tergagap: "Kee... ke-napa... kong... kongcu tak mau menerima nya?"

"Tubuhku masih dirantai, tanganku juga masih diborgol, bagaimana mungkin bisa tukar pakaian?"

Tiba-tiba lelaki bercambang itu tertawa tergelak: "Kongcu, kami juga telah berpikir sampai ke situ, Hamba diperintahkan membawa serta salah satu di antara "Badik Tiga Huruf" untuk membantu kongcu melepaskan diri dari belenggu."

sambil berkata, dari dalam sakunya, ia mengeluarkan sebilah pedang pendek yang bersarung kulit ikan hiu dengan hiasan emas pada gagangnya, pedang itu kelihatan sangat mewah.

Dengan cepat lelaki bercambang itu meloloskan badik tersebut dari sarungnya, cahaya keemasan segera memancar di udara. "Pedang bagus, pedang bagus..." tanpa terasa Lim Han-kim memuji tiada hentinya. Lelaki bercambang itu kembali tertawa.

"Majikan tua kami pandai membuat pedang, Boleh dibilang ia merupakan pembuat pedang nomor wahid di kolong langit, tapi selama hidupnya dia orang tua hanya berhasil membuat tiga bilah badik yang sama bentuknya saja" "Eeei, kalau membawa pedang mustika, kalian mesti lebih berhati-hati." tiba-tiba Han si- kong memperingatkan-

"Aku rasa belum pernah ada orang persilatan yang berani berbuat macam- macam terhadap orang-orang Lak-seng-tong kami," kata lelaki bercambang itu sambil tertawa, "Lagipula majikan muda telah berpesan agar pedang ini di hadiahkan kepada Lim kongcu, malah majikan muda sempat berkata bahwa perbuatannya ini tak lebih hanya mengikuti pepatah lama yang mengatakan Gadis cantik diberikan untuk pemuda tampan, pedang mustika diberikan untuk pendekar sejati..."

"Jangan" cegah Lim Han-kim serius, "Aku tak berani menerima pemberian sedemikian berharganya, Asal kalian bersedia membantu kami untuk membebaskan borgol dan rantai ini, aku sudah merasa berterima kasih sekali "

Tampaknya ia jarang sekali sekaligus mengucapkan begitu banyak perkataan, karenanya selesai berkata ia segera menutup mulutnya rapat-rapat

"Lim kongcu," dengan wajah serius lelaki bercambang itu berkata. "Pedang ini merupakan hadiah yang bersungguh hati dari majikan muda kami. Apabila Lim kongcu tak bersedia menerima nya, hamba tak bisa pulang untuk memberikan pertanggunganjawabnya." Lelaki berbaju kuning, yang berada disisinya turut pula membujuk. Tapi bagaimana pun mereka berbicara, Lim Han-kim tetap gelengkan kepalanya menampik, bahkan sepatah kata pun tidak diucapkannya.

Melihat hal ini, dengan kening berkerut Han si-kong segera menegur "Lebih baik kalian berdua jangan bicara lagi. Watak orang ini memang aneh, kalau sudah bilang tak mau menerima pedang ini, sampai kalian berdua membunuh nya pun, dia tak bakal akan menerimanya . "

"Waaah, agaknya kau sahabat karib Lim Kongcu, sampai tabiatnya pun tahu jelas," goda Han-gwat sambil tertawa.

" Lebih baik kau jangan turut campur" seru Han si- kong sambil melotot gusar Kemudian sambil berpaling ke arah lelaki itu katanya lagi: "Cepat ambil pedang itu, dan tolong putuskan borgol dan rantai di tubuhku ini"

Lelaki berewok itu menghela napas panjang, tampaknya dia merasa kecewa sekali, dengan membawa pedang itu ia berjalan menuju ke hadapan Lim Han-kim,

"Kalian seharusnya membebaskan Han locianpwee lebih dulu, ".kata Lim Han kim sambil tertawa.

Dengan hormat lelaki berewok itu mengiakan, lalu kepada Han si- kong ujarnya: "Maaf pendekar tua, hamba akan segera turun tangan-" "Sudah, tak usah banyak bicara lagi, cepat turun tangan"

Lelaki berewok itu segera menggetarkan pergelangan tangannya, pedang yang tajam itu langsung menembusi lewat depan tubuh Han si-kong lalu berputar ke balik rantai di punggungnya, sekali pedang tersebut di-puntir ke luar, rantai yang terbuat dari baja campur emas itu seketika patah menjadi beberapa potong dan rontok ke atas tanah.

sambil membusungkan dadanya Han si- kong mendongakkan kepalanya tertawa ter-bahak-bahak. pujinya: "Ha ha ha ha ...pedang bagus, pedang bagus Benar-benar sebilah pedang bagus"

Lalu sambil menjulurkan tangannya ke hadapan lelaki itu, tambahnya: "Di sini masih ada sebuah lagi"

Melihat borgol yang membelenggu sepasang tangannya jauh lebih tipis dibandingkan rantai yang melilit tubuhnya tadi, lelaki berewok itu segera mundur selangkah, kemudian katanya sambil tersenyum: "Hati- hati locianpwee"

Pedangnya diayunkan ke muka membentuk selapis cahaya yang amat menyilaukan mata. "Traaaanggg.,."

Di tengah dentingan yaring, seakan-akan ada dua pedang yang saling beradu, tampak selapis cahaya yang menyilaukan mata menyelimuti seluruh udara, Ternyata ujung pedang di tangan lelaki berewok itu terpental sejauh tiga depa lebih oleh benturan tersebut, sebaliknya borgol di pergelangan tangan Han si-kong sama sekali tidak cacad barang sedikitpun-

Berubah hebat paras muka lelaki bermuka kuning itu,pujinya tanpa sadar: "Tak disangka borgol itu sangat kuat dan kokoh sehingga pedang Jin-siang-kiam pun tak berhasil memotongnya jadi dua."

sebaliknya Han si- kong telah mencak-mencak kegusaran sambil mengumpat kalang kabut: "sialan-.. Ayo cepat, kita coba sekali lagi."

Lelaki berewok itu menarik napas panjang-panjang, tenaga dalamnya segera disalurkan ke tangan kananny a, kemudian pedangnya diayunkan membacok lewat sela- sela pergelangan tangan Han si-kong. "Traaaang.."

Sekali lagi terjadi suara dentingan yang sangat nyaring. Kali ini pun ujung pedang itu terpental ke samping, sementara borgol di tangan Han si- kong masih tetap utuh seperti sedia kala.

setelah termenung sebentar, lelaki berewok itu berkata: "Tampaknya borgol inipun terbuat dari besi baja yang serupa dengan besi yang digunakan pedang jin- siang-kiam sehingga pedang tersebut tak sanggup mematahkannya." " Kalau begitu borgol ini tak bisa diputus-kan?" teriak Han si- kong dengan mata mendelik.

"Aaaai... aku rasa... aku rasa "

Tanpa melanjutkan perkataannya ia memutar pedangnya untuk memutuskan rantai yang membelenggu tubuh Lim Han-kim.

Dengan wajah penuh amarah Han si- kong mengerahkan seluruh tenaganya untuk merentangkan sepasang tangannya, namun bagaimana pun dia mengerahkan segenap kekuatannya, borgol itu tetap tak berhasil diputuskan

setelah mengumpat berapa saat lama-nya, akhirnya ia tertawa terbahak-bahak sambil berseru: "Baiklah,.. ha ha ha Baik-lah, bagaimana pun aku dapat terlepas dari

belenggu di tubuhku. "

"Buat apa sih kau mengejek diri sendiri?" tegur Han- gwat sambil tertawa geli. Han si-kong makin gusar, teriaknya: "Hei kau si budak kecil"

Lim Han-kim geli juga melihat kakek itu sewot, sambil berpaling katanya kemudian-" Kalian berdua juga boleh pulang"

Perkataannya selalu singkat, pendek dan tanpa basa basi, apa yang dipikirkan langsung diutarakan tanpa embel-embel. Dengan sikap meng hormat lelaki bermuka kuning itu persembahkan buntalannya sambil bertanya: "Apakah kongcu ada pesan yang perlu hamba sekalian sampaikan?"

setelah termenung beberapa saat jawab Lim Han-kim: "Bukit tetap hijau menawan, air tetap mengalir tenang, waktu di masa depan masih panjang, semoga lain waktu dapat bertemu kembali"

setelah memutuskan rantai yang membelenggu tubuh Lim Han-kimt dengan wajah serius lelaki berewok itu berkata pula: "walaupun tiga bilah badik mustika milik Lak-seng-tong bukan benda paling mustika dalam dunia persilatan tapi setiap umat persilatan pasti akan menyukainya, sekarang kongcu telah menampik pemberian kami, apakah tindakan ini tidak keterlaluan? Ketua muda kami selalu memandang tinggi kedudukannya, selama hidup ia tak suka bergaul dengan siapa pun, tapi sekarang beliau rela menghadiahkan satu di antara tiga mustikanya untuk kongcu. Hal ini dikarenakan majikan kami sangat kagum dengan kegagahan kongcu sehingga ingin sekali bersahabat dengamu."

"Terus terang saja hamba katakan, sudah cukup lama kami mengikuti ketua muda, sampai di mana sifat dan wataknya kami pun sangat memahami. Jadi bila kongcu menampik pemberian ini, bukan saja hamba sekalian bakal menerima makian dan hukuman, bahkan bisa jadi majikan kami akan salah paham dan dikiranya kongcu tak sudi bersahabat dengannya. Kejadian ini tentu akan menyedihkan hatinya."

"Lim kongcu," sambil tertawa Han-gwat menegur " Kalau toh pihak mereka ingin memberi hadiah dengan sungguh hati, kenapa tidak kau terima saja pemberian itu?"

Lim Han-kim termenung berpikir sebentar, kemudian manggut-manggut. " Kalau memang begitu biar kusimpan untuk sementara waktu."

setelah diterima, pedang itu langsung dimasukkan ke dalam saku, Rasa murung yang semula menyelimuti wajah kedua orang lelaki itu seketika hilang tak berbekas. sambil tertawa tergelak mereka melompat naik ke atas kudanya dan berlalu dari situ.

Memandang hingga bayangan punggung kedua orang itu lenyap dari pandangan, Han si-kong baru angkat kepalanya dan menghembuskan napas panjang, ujarnya: "Banyak sudah jago yang kujumpai tapi orang macam Hongpo Lan baru kali ini kutemui ia benar-benar berjiwa besar, baru kenal satu kali sudah memberi hadiah pedang kenamaan- jiwa sebesar ini benar-benar jarang dijumpai." Tapi Lim Han-kim kembali menghela napas panjang: "Aaaai... tanpa melakukan sesuatu pahala tapi mendapat hadiah, aku benar-benar sangat malu."

Melihat kedua orang itu bicara tiada habisnya, sambil tertawa Han-gwat segera menukas: "Kalian berdua tak usah ngobrol tak karuan lagi, yang penting sekarang adalah meneruskan perjalanan-"

Diambilnya sebuah mantel dan dikenakan di tubuh Lim Han-kim, kemudian sambungnya: "Dengan mengenakan mantel ini maka pakaian kongcu yang compang cam-ping akan tertutup,"

Kemudian diambilnya mantel yang lain dan ujarnya kepada Han si- kong sambil ter-tawa: "Locianpwee, perlukah aku bantu mengenakan untukmu?"

"Waah... belum pernah kunikmati rejeki semacam ini, apa lagi merasakan hangatnya pelayanan seorang gadis cantik."

"Hmmm si botak berjalan mengikuti rembulan, kau apa tak tahu kalau rejekimu itu berkat Lim kongcu," seru Han-gwat sambil mencibirkan bibirnya.

Mendadak ia merasakan dibalik perkataan itu terkandung penyakitnya, buru-buru ia bantu Han si- kong mengenakan mantelnya kemudian melarikan kudanya melakukan perjalanan sambil tertawa terbahak-bahak Han si-kong melarikan kudanya juga mengejar dari belakang.

Ketiga ekor kuda itu pun dilarikan kencang-kencang menelusurijalan raya, Di balik suara derap kuda yang ramai, tampak debu beterbangan menutupi pandangan mata. sepanjang jalan Han-gwat melayani kebutuhan Lim Han-kim dan Han si- kong dengan penuh cermat dan ramah, apa lagi kedua orang itu masih memakai borgol sehingga gerak geriknya kurang leluasa, maka semua keperluan boleh dibilang Han-gwat yang menyediakan-

begitulah siang menempuh perjalanan malam menginap, entah berapa hari sudah mereka melakukan perjalanan Hari ini ketika siang menjelang tiba, sampailah mereka di wilayah bukit Mao-san- sejauh mata memandang, yang tampak hanya deretan puncak bukit yang saling menyambung .

Han si-kong pun menghentikan lari kuda-nya, kepada Han-gwat ujarnya: "Tahukah kau di mana letak Perpustakaan Lian-im-lu itu?" sikap ramah danpelayanan cermat dari Han-gwat sepanjang perjalanan ini membuat pandangan dan kesan Han si-kong terhadapnya berubah sama sekali Kini dia pun bersikap lebih ramah terhadap gadis itu

"Hmmmm Tentu saja tahu." jawab Han-gwat dengan kening berkerut. "Kalau begitu, harap kau menjadi petunjuk jalan."

"Jalan bukit ini makin ke atas makin susah ditempuh, kita harus meneruskan perjalanan dengan jalan kaki."

"Yaa, aku tahu, Dari nama Lian-im-lu tersebut kita bisa menduga letaknya pasti berada di atas puncak yang diselimuti kabut tebal."

"Kalau cuma jalan setapak saja, tak mungkin bisa mencegah para jago lihai dari dunia persilatan untuk datang menyambangi"

"Terus?Jadi tempat itu mempunyai rintangan yang khusus dan berbahaya sekali?" Han-gwat tersenyum.

"Tepat sekali Dari sini hingga ke depan Lian-im-lu, kita harus berhasil menembusi tiga buah rintangan bahaya lebih dulu."

"Rintangan bahaya macam apa itu?" "Bersabarlah dulu," tukas Han-gwat tertawa.

"Sebentar kau bakal tahu sendiri"

Bicara sampai di situ, ia sentak tali les kudanya dan meneruskan perjalanan ke depan setelah melewati dua buah puncak bu-kit, tiba-tiba pemandangan alam berubah. jalanan makin curam dan sempit sedang tanah perbukitanpun makin terjal dan berbahaya, sambil melompat turun dari kudanya, Han-gwat berseru: "Kita hanya dapat menunggang kuda sampai di sini, selanjutnya harus ditempuh dengan berjalan kaki."

Mereka bertiga pun meninggalkan kuda tunggangannya dan meneruskan perjalanan menelusuri jalan terjal itu dengan berjalan kaki. Tampaknya Han- gwat hapal betul dengan daerah di sekitar situ, ia mengajak Lim Han-kim dan Han si- kong menelusuri jalan semak yang curam dan terjal, setelah melewati empat buah bukit terjal, sampailah mereka di depan sebuah lembah.

sejauh mata memandang yang terlihat hanya rumput ilalang yang menutupi pandangan mata. Ke tengah rumput ilalang itulah Han-gwat mengajak kedua orang rekannya melanjutkan perjalanan,

"Jadi Thian-hok sangjin tinggal di dalam lembah ini?" tanya Han si-kong keheranan-

"Walaupun tidak berdiam di lembah ini, tapi lembah ini merupakan satu-satunya jalan penghubung menuju ke Lian-im-lu. Mari ikuti aku saja, tanggung tak bakal kesasar."

Melihat gadis itu berbicara sangat serius, Han si-kong tidak banyak bertanya lagi, terutama Lim Han-kim yang tak suka bicara. Berangkatlah mereka bertiga menelusuri lembah tersebut Ruruput ilalang tumbuh sangat subur di lembah tersebut, tingginya mencapai pinggang orang dewasa.Bahkan banyak ular beracun yang berkeliaran di situ, semua ini mencerminkan betapa liar dan seramnya lembah itu.

setelah menempuh perjalanan hampir tiga-empat li jauhnya, tiba-tiba lembah itu berbelok kearah selatan, kemudian setelah melewati satu tikungan lagi, pemandangan di depan mata kembali berubah.

Tampaknya sebuah rumah gubuk kecil dibangun di bawah sebatang pohon cemara kuno. Bangunan tersebut persis menghadang jalan lewat orang.

Kedua sisi gubuk itu berupa tebing yang sangat terjal dan penuh ditumbuhi lumut tebal, dihadapkan dengan tebing yang nyaris tegak lurus ini, sekalipun seseorang memiliki ilmu silat yang amat hebatpun jangan harap bisa melewatinya.

sebuah jalan setapak tampak terbentang di balik rumah gubuk tadi, Han si-kong memperhatikan sekejap pemandangan di sekitar tempat itu, namun kecuali menembusi rumah gubuk tadi, ia tak berhasil menemukan jalan lain untuk mendaki ke atas bukit.

Han-gwat segera maju dengan langkah lebar menuju ke depan rumah gubuk. Pintu kayu yang berwarna putih berada dalam keadaan tertutup rapat, sampai ketiga orang itu tiba di depan pintu pun belum kedengaran sedikit suara atau reaksi apapun. setelah memperhatikan sekejap tempat itu, Han si- kong berkata: "Aku rasa lebih baik kita lompati saja rumah gubuk ini, tak perlu mengganggu ketenangan penghuninya lagi."

Belum habis perkataan itu diucapkan, pintu gubuk itu tiba-tiba terbuka lalu muncullah seorang lelaki setengah umur yang berjubah biru dan memelihara jenggot kambing .

begitu berjumpa lelaki itu, Han-gwat segera memberi hormat sambil menyapa: "Paman Jui, baik-baikkah kau?"

orang itu agak tertegun, lalu serunya tanpa sadar: "oooh.. rupanya kau si budak binal."

Tidak menunggu sampai orang itu menyelesaikan perkataannya, Han-gwat telah berkata lebih lanjut: " Kedua orang ini khusus datang ke mari untuk menjumpai majikan tuaku, tolong Paman Jui bersedia membuka pintu dengan melepaskan kami melewati tempat ini."

Pelan-pelan lelaki itu mengelus jenggotnya dengan tangan kanan, setelah berpikir sebentar katanya: "Soal ini... rasanya bikin susah paman saja, sebab menurut peraturan yang ditetapkan bukit kami, orang asing dilarang mendaki ke atas puncak bukit ini."

"Aku sengaja membawa mereka datang ke mari karena ada urusan penting yang harus disampaikan kepada majikan tua. Apa bila paman Jui tidak bersedia melepaskan kami, waaah, perjuanganku selama ini bakal sia-sia belaka."

sementara itu Han si- kong maupun Lim Han-kim telah mengalihkan pandangan mata masing-masing ke wajah lelaki itu, sedang dalam hati kecil mereka berpikir bagaimana caranya melewati penjagaan orang ini.

Tampak lelaki itu berpikir lagi berapa saat, mendadak ia menyingkir ke samping. "Terima kasih banyak. Paman" buru-buru Han-gwat memberi hormat.

Lalu tanpa banyak bicara lagi ia melangkah maju ke depan sambil diam-diam memberi tanda kepada Lim

Han-kim dan Han si-kong agar mengikuti di belakangnya. Dengan tergesa-gesa mereka bertiga menembusi gubuk penghadang jalan itu sambil berjalan, diam-diam Han si- kong pasang mata memperhatikan sekitar gubuk tersebut ia lihat perabot gubuk itu amat sederhana.

Kecuali sebuah pembaringan dan sebuah meja, boleh dibilang tak ada benda lain, hanya disudut ruangan terdapat sebuah anglo, jelas penghuninya hidup dalam kesederhanaan yang mengagumkan-

Diam-diam orang tua ini merasa kagum juga, pikirnya: "Tak nyana seorang jago yang memiliki ilmu silat begitu tinggi ternyata hidup dalam begini kesederhanaan di tengah lembah yang terpencil Kejadian semacam ini benar-benar suatu kejadian yang tak gampang dijumpai." sementara masih berpikir, mereka telah menembusi bangunan gubuk itu dan menelusuri jalan setapak yang sangat sempit

Han-gwat berpaling memandang sekejap bangunan gubuk nun jauh disana, lalu kata nya kepada Han si-kong sambil tertawa: "orang dari marga Jui itu sangat ramah dan baik hati, Dia pun mempunyai kesan yang sangat baik terhadapku, karena itulah ia bersedia melepaskan kita melewati tempat ini. Tapi nanti bila kita sampai di sebuah mulut selat, tidak akan segampang ini kita bisa melewatinya."

"Bagaimana? Apakah kita benar-benar harus menerjang lewat dengan menggunakan kekerasan?"

"Waaah, itu sulit untuk dibicarakan orang yang bertugas menjaga mulut selat itu memiliki seraut wajah yang dingin seperti es. Ketika aku mengikuti majikan datang mengunjungi Thian-hok Sangjin, orang berwajah dingin itu tetap menanyai majikan tuaku dengan ketat, bahkan mesti menunggu ia pergi memberi laporan dulu sebelum melepaskan kami melewati tempat penjagaannya,"

"Ehmm... kalau didengar dari ceritamu ini, tampaknya memang susah bagi kita untuk melewati tempat tersebut dalam suasana penuh kedamaian." "Yaaa... susah memang untuk diramalkan Ketika mengikuti majikan tuaku, aku pernah tinggal cukup lama di dalam Perpustakaan Lian-im-lu tersebut dan pergaulanku dengannya juga cukup akrab, tapi sikap orang itu tetap dingin seperti es. sikapnya tak pernah berperasaan jadi sukar untuk diramalkan bagaimana sikapnya terhadap kita nanti, lebih baik kita rundingkan lagi setibanya di situ.^

Han Si-kong tidak banyak bertanya lagi, sedang dalam hati kecilnya ia berpikir: "orang tadi mendirikan rumah gubuknya persis di tengah jalan, jelas maksudnya hanya mencegah orang-orang yang ingin datang berkunjung agar mengurungkan niat-nya. Tapi bagaimana pula sikap orang yang menjaga di mulut selat nanti?"

Sementara ia masih berpikir, mereka telah memasuki sebuah selat yang amat sempit dan berbahaya, Sejauh mata memandang tampak dinding tebing tegak lurus menjulang ke angkasa yang amat terjal dan penuh tumbuhan lumut, Di antara dua belah dinding bukit tadi terbentanglah sebuah selat yang luasnya hanya cukup dilalui satu orang.

Selat itu menjorok masuk ke balik bukit, bukan saja suasana alamnya amat strategy dan berbahaya, Tampaknya tempat itu telah diatur pula dengan teknik manusia. Kecuali selat sempit tersebut, tidak dijumpai jalan tembus lain yang menghubungkan tempat itu dengan puncak bukit.

Setelah memperhatikan keadaan di sekelilingnya, diam-diam Han Si-kong berpikir: "Apabila dari atas bukit orang melemparkan batu atau kayu, maka orang yang berada di selat itu tak bakal bisa menghindarkan diri, kendatipun ia memiliki ilmu silat yang maha canggih, Wah, aku mesti berhati-hati"