Pedang Keadilan I Bab 11 : Menaklukkan si Monyet Tua

 
Bab 11. Menaklukkan si Monyet Tua

" Cepat kau cabut jarum emas dari lengan kananku" seru Han si-kong tak sabar

Lim Han-kim tersenyum, pikirnya lagi: "sifat orang ini benar-benar tak sabaran, Bukannya bertanya dulu bagaimana caraku meloloskan diri dan berada di mana sekarang, ternyata ia malah minta aku mencabutkan jarum emas nya dulu." sambil berpikir dia turuti perminta an orang dan mencabut keluar jarum emas dari sepasang lengan dan kakinya, Begitu jarum-jarum emas itu membebaskan jalan darahnya yang tersUmbat, Han si- kong segera melompat keluar dari peti mati dan menghembuskan napas panjang.

"Tempat manakah ini?" tanya nya.

Lim Han-kim hanya menggeleng sebagai tanda jawaban.

Tampaknya Han si-kong sudah tahu kalau pemuda ini tak begitu suka bicara, hal mana tidak terlalu dipikirkan lagi, sambil berpaling ke arah peti mati yang ada di tengah, kembali ia bertanya: "Siapa yang berada dipeti mati itu?" - "

"seorang nona"

Han Si-kong berpaling memandang Lim Han-kim beberapa saat. Tiba-tiba ia maju dengan langkah lebar, membuka peti mati itu dan melepaskan kain hitam penutup mata nya, memb uang kain penyumbat mulutnya dan mencabut lepas jarum emas dari sepasang lengan dan kakinya.

semua gerakan itu dilakukan secara beruntun dalam waktu singkat, selama inipula dia tak pernah memandang wajah nona itu sekejappun. Diam-diam Lim Han-kim merasa sangat kagum, pujinya didalam hati: " Kebesaran jiwa orang ini benar- benar mengagumkan aku kalah jauh dibandingkan dia."

Terdengar ujung baju berh embus memotong udara, gadis itupUn sudah melompat keluar dari peti mati.

sekarang Lim Han-kim dapat menyaksikan wajah nya dengan lebih jelas, ternyata dia tak lain adalah gadis yang mencuri pil mustika miliknya tempo hari. Pada saat itu Han si-kong telah selesai memperhatikan situasi di sekeliling tempat itu, katanya kemudian pelahan: "Mereka bisa mengirim kita bertiga sampai di sini dengan susah payah, aku percaya penjagaan di tempat inipasti lebih ketat dan kuat."

"Tapi mungkin juga mereka anggap kita tak mampu bergerak lantaran jalan darah kita tertancap jarum emas sehingga mereka mengendorkan penjagaan dengan membiarkan pintu dan jendela tetap terbuka," sambung nona berbaju hijau itu.

Dengan cepat Han si-kong menggeleng, "Menurut penilaian dan pandangan berdasarkan pengalamanku selama puluhan tahUn berkelana dalam dunia persilatan, penjagaan yang tampaknya makin kendor justru merupakan penjagaan makin ketat dan berbahaya, kita tak boleh bertindak gegabah." Tiba-tiba gadis berbaju hijau itu menghela napas panjang, katanya: "Sekarang tangan kita malih diborgol, tubuh kita juga masih dirantai. Dalam keadaan seperti ini mana mungkin kita bisa bertarung melawan orang lain dan meloloskan diri dari ruangan ini?"

"Yaaa... aku juga tak tahu borgol ini terbuat dari bahan apa sehingga begitu kuat dan susah dipatahkan. Padahal dulu aku pernah diborgol juga dengan besi nomor wahid, ditambah lenganku diikat dengan otot kerbau, tapi dalam sekali gertakan saja benda-benda tersebut berhasil kupatahkan sama sekali."

"Borgol yang kita kenakan terbuat dari besi baja yang dicampuri emas. itulah sebabnya sangat alot dan kuat," sela Lim Han-kim menerangkan.

Tiba-tiba ia berjalan menghampiri gadis berbaju hijau itu, dengan menghimpun tenaga dalamnya ia betot borgol di tangan gadis itu kuat- kuat.

Dalam sekali sentakan, borgol pada pergelangan tangan gadis berbaju hijau itu segera patah jadi berapa bagian dan berserakan di tanah.

"Kepandaian silat yang sungguh tangguh" cuji Han si- kong sambil tersenyum . sedang nona berbaju hijau itu mengawasi wajah Lim Han-kim sambil tertawa manis: "Terima kasih banyak atas pertolonganmu" Lim Han-kim tidak berkata apa pun, ia membalikkan badan dan berjalan menuju keluar ruangan,

Bagaimanapun juga Han si-kong adalah seorang jago kawakan yang berpengalaman luas, melihat Lim Han-kim melangkah ke-luar, ia segera membentak keras: "Berhenti"

Lim Han-kim termangu, tapi ia menghentikan juga langkahnya. Han si-kong segera mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak dengan suara nyaring.

Melihat perbuatan itu dengan kening berkerut nona berbaju hijau itu menegur: "Bagaimana sih kamu ini? Kenapa tertawa sekeras ini?"

"Kenapa?" sahut Han si-kong sambil berhenti tertawa. "Kau anggap semua gerak gerik kita di sini tak diketahui orang?"

"Dengan gelak tertawa sekeras itu tentu saja orang lain akan mendengar dan mengetahui semua."

" Kalau pengalamanku menempuh dunia persilatan selama puluhan tahUn bUkan perjalanan sia-sia. Aku yakin semenjak kita keluar dari peti mati gerak gerik kita sudah berada di bawr pengawasan orang lain."

Lim Han-kim. mencoba mengalihkan sorot matanya menyandang ke sekeliling, ia hanya melihat jendela dan pintu terbUka lebar. Misalny di luar ada orang, semestinya jejak mereka sudah ketahUan

Dengan perasaan tak percaya iapUn berpikir "Kalau bukan gara-gara gelak tertawa mu, tentu mereka tak bakal mengetahui perbuatan kita."

Tampaknya Han si- kong sudah melihat sikap tak percaya yang diperlihatkan Lim Han-kim serta gadis berbaju hijau itu, kembali dia berkata sambil tertawa tergelak: "Ha ha ha... jadi kalian tak percaya? Kenapa tidak mencoba buka pintu dan melongok keluar?"

Dengan langkah cepat Lim Han-kim maju ke muka dan membuka pintu kayu di ruang depan, Bersamaan dengan terbukanya pintu itulah, mendadak ia mendengar Han si- kong memperingatkan: "Hati-hati. "

Betul juga, Begitu pintu terbuka tampaklah dua bilah cahaya putih yang dingin menggidikkan hati menyapu datang dengan kecepatan luar biasa. sedemikian cepatnya sampai menimbulkan selapis desingan tajam.

Lim Han-kim telah mempersiapkan diri dengan baik. sepasang kakinya segera menjejak tanah, Dengan menggunakan borgol ditangannya dia sambut ancaman tersebut, sementara tubuhnya mundur tiga langkah dengan cepat. "Traaaaang.." Terdengar denting an nyaring berkumandang di udara, Ternyata borgol tersebut sudah saling membentur dengan cahaya putih yang menyambar datang, Lim Han- kim segera merasakan tenaga serangan itu bukan saja cepat dan ganas, juga kuat sekali, Hatinya betul- betul terkesiap.

"Andaikata Han si-kong tidak memperingatkan aku sejak awal sehingga aku keluar dari pintu tanpa persiapan, bukan mustahil aku sudah terluka oleh serangan itu" Dari luar kamar terdengar suara pujian seseorang:

"Bocah muda, hebat betul kepandaianmu Tak disangka kau mampu membendung serangan pedangku dengan borgol itu."

Lim Han-kim segera menyaksikan di depan pintu ruangan ternyata sudah tersedia dua buah kurungan besi yang amat besar. Pintu besi itu tertutup rapat sehingga tidak nampak barang apa yang berada dalam kurungan itu Namun jika dilihat bahwa kurungan itu begitu tinggi besar dan kuat, sudah jelas benda tersebut bukan barang sembarangan

Sebuah kepala yang besar dengan rambut yang kusut dan kotor nongol keluar dari antara dua kurungan besi itu, sepasang matanya yang besar memancarkan sinar yang tajam, Lim Han-kim sangat terkejut, pikirnya: "orang berambut kusut ini memiliki sepasang mata yang begitu besar, bisa dibayangkan berapa tinggi perawakan badannya."

Untuk berapa saat Lim Han-kim, tak bisa membedakan suara pujian tadi berasal dari manusia bermata besar ini atau bukan, tapi jika dilihat di tangan orang itu. memegang sebilah pedang, bisa diduga orang inilah yang barusan menyerangnya.

Maka sambil menjura ujarnya: "Tenaga serangan pedang anda sangat kuat dan luar biasa, akupun merasa kagum sekali."

Pelan-pelan orang itu menarik kembali kepalanya yang besar dan lenyap di balik kurungan besi itu, yang tampak sekarang tinggal pedangnya yang bersinar tajam.

Ketika ia berpaling, dijumpainya Han Si-kong sedang berdiri termangu-mangu sambil mengawasi kurungan besi itu tanpa berkedip jelas peristiwa ini membuat jago kawakan dari dunia persilatan inipun turut tertegun dan merasa kejadian tadi benar-benar di luar dugaannya.

sebenarnya banyak persoalan yang ingin ditanyakan Lim Han-kim kepadanya, namun menyaksikan Han Si- kong seperti sedang memikirkan sesuatu, maka niat itupun segera diurungkan Nona berbaju hijau itu habis juga kesabarannya melihat semua pihak membungkam diri, tiba-tiba tegurnya: "Hei, locian-pwee Kau sedang memikirkan sesuatu atau dibuat pecah nyalimu"

Pelan-pelan Han si-kong tersadar kembali dari lamunannya, memandang gadis berbaju hijau itu sekejap. katanya: "Aku sedang memikirkan manusia berkepala besar bermata besar itu."

"oooh... kalau kau kenal dengannya memang lebih bagus, Asal ia bersedia menggeser kerangkeng besinya sedikit saja, kita dapat segera menerjang keluar dari sini."

Han si-kong tidak menanggapi dia bergumam seorang diri. "Benarkah dia? sungguhkah orang itu? Tapi... tapi rasanya hal ini tidak mungkin."

"Locianpwee" dengan alis berkenyit nona berbaju hijau itu berseru lagi, "Apa sih yang kau gumamkan seorang diri? Nampak-nya kau sudah dibuat sinting lantaran ketakutan"

Tiba-tiba paras muka Han si-kong berubah jadi serius, serunya: "Yaa, iha, dia, pasti dia Tak mungkin di kolong langit ada orang kedua yang berwajah mirip dengannya." Lim Han-kim merasakan hatinya ikut berdebar keras, tanpa sadar dia menyela: "Han Locianpwee, siapa sih yang kau maksudkan?"

"orang gila dari Lam-gak."

"orang gila dari Lam-gak. ?" seru Lim Han-kim dan

gadis berbaju hijau itu bersamaan waktunya.

Mendadak dari balik terali besi itu muncul sebuah papan nama. Di atas papan itu tertulis berapa kata yang berbunyi: "sudah bertemu buat apa saling mengenal, kita sama-sama orang pengembara."

Dengan seksama gadis berbaju hijau itu membaca tulisan di atas papan kayu itu lalu diulanginya beberapa kali, mendadak ia berpaling dan serunya pelan: "Lim siang-kong"

"Ada apa?"

"setelah membaca dua baris tulisan di atas papan kayu itu, aku jadi teringat sesuatu."

sebelum Lim Han-kim memb erikan tanggapannya, tiba-tiba terdengar Han si-kong membentak keras:

"Hei, orang gila dari Lam-gak. kau masih kenal dengan aku Han si-kong si monyet tua?"

"siapa bilang aku sudah tak kenal dengan kau monyet tua," jawab orang itu dari balik kerangkeng besi. "Kalau toh kau sudah mengenali aku sebagai sahabat lamamu, apa yang hendak kau perbuat terhadapku hari ini?"

"Asal kalian tidak meninggaikan rumah itu, aku tak akan melancarkan serangan"

Mendengar jawaban tersebut kontan saja Han si-kong tertawa dingin, "He he he... ada satu hal ingin kutanyakan kepadamu, siapa sih pemilik bangunan ini? jagoan macam apakah dia sehingga kau si orang gila dari Lam-gak yang bernama besar rela jadi kuku garudanya dan menjagakan pintu rumahnya"

"sejak tadi aku toh sudah memberitahu kepadamu lewat papan kayu tersebut, Walau sudah bertemu buat apa saling mengenal, kita toh sama-sama orang pengembara."

Dua kalimat kata itu sesungguhnya merupakan perkataan yang memedihkan hati, apalagi sekarang diutarakan oleh si orang gila tersebut dengan suaranya yang melolong macam binatang, membuat nadanya makin menggidikkan hati.

Han si-kong mendengus dingin, dia segera menutup pintu ruangan rapat-rapat, duduk bersila di tanah dan tidak berkata lagi. Gadis berbaju hijau itu menghela napas panjang, pelan-pelan dihampirinya Han si-kong, lalu tegurnya dengan lembut: "Lo-cianpwee, kenapa sih kau ini?"

sikapnya tiba-tiba saja berubah jadi lembut, gerak geriknya juga lebih halus menawan. sambil berjongkok di hadapan kakek itu, dia berkata lebih lanjut: "Locianpwee, keadaan kita sekarang boleh dibilang berada di biduk yang sama, Bencana kita tanggulangi bersama, rejeki kita nikmati berbareng. Apabila kau menjumpai persoalan yang menyedihkan hati, utarakan saja keluar, mungkin kita dapat ikut bantu memecahkan"

Mendadak Han si-kong angkat kepalanya sambil mencengkeram rantai di tubuh nona berbaju hijau itu, bisiknya: "Jangan bergerak" Kemudian dia ayunkan tangannya melepaskan satu pukulan "Blaaaam..."

Rantai besi itu segera retak separuh.

secara beruntun Han si-kong melepaskan tiga buah pukulan berantai Rantai besi itu rontak retak dan berhamburan ke atas tanah, sambil mendongakkan kepalanya terbahak-bahak monyet tua itu berseru: "Ha ha ha... ternyata kepandaian silatku belum punah." sikapnya penuh diliputi emosi, agaknya dia sudah kehilangan kontrol.

Tanpa terasa Lim Han-kim memuji: "Locianpwee, hebat benar tenaga pukulan pasir besimu" Han si-kong merasa semangatnya berkobar kembali, sambil bangkit berdiri dan tertawa tergelak, serunya: "Bocah cilik, bagi kita lelaki sejati, soal mati hidup bukan masalah serius yang perlu dipikirkan. Tapi kita tak bisa menyaksikan nona ini turut mengorbankan jiwanya di sini. Daripada kita duduk menunggu mati, apa salahnya kalau kita lindungi nona ini dan berusaha meloloskan diri dari kematian..."

Meskipun Lim Han-kim tidak begitu paham dengan tujuan monyet tua itu, namun dia menyahut juga: "Perkataan locianpwee memang tepat sekali, kita harus berusaha membantu gadis ini lolos dari bahaya, untung borgol dan rantainya sudah kita singkirkan"

Gadis berbaju hijau itu menghela napas panjang, sambil menggelengkan kepalanya berulang kali tukasnya: "Kalian berdua sudah salah paham "

"Kau harus tahu, waktu bagi kita saat ini lebih berharga dari emas." bentak Han si-kong cemas. " Kalau kita harus menunggu sampai penyakit gila si orang gila dari Lam-gak kumat, pingin kabur pun belum tentu mampu. Mari, biar aku membukakan jalan dengan membendung serangannya, kau si bocah, hati- hati menjaga kerangkeng besi itu, jangan beri kesempatan kepadanya untuk membuka. Bila ada kesempatan, pergunakan baik-baik, usahakan untuk kabur dari sini secepatnya." Selesai berkata, tanpa menanti jawaban lagi dia berjalan membuka pintu ruangan.

"Tunggu dulu, tunggu dulu.,." seru nona berbaju hijau itu. "Bagaimana kalau kita bicarakan dulu persoalan ini sampai jelas?"

"Tak usah dibicarakan lagi, asal kau berhasil kabur lebih dulu, itu sudah betul."

"Tidak bisa, Kalau kau tidak menjelaskan lebih dulu, aku tak akan pergi dari sini."

Dengan gemas Han si-kong menghentakkan kakinya ke atas tanah, umpatnya: "Hmmm Kau benar-benar bocah perempuan yang tak tahu diri, Kalau ada urusan, cepat katakan."

"Tampaknya kau takut sekali dengan orang gila dari Lam-gak?"

"Meskipun orang gila dari Lam-gak tidak waras otaknya, namun ilmu silatnya benar-benar lihai sekali,"

"Bagaimana jika ilmu silat locianpwee dibandingkan dengan kepandaian silatnya?"

"Mungkin kalau dipaksakan hanya mampu menahan sepuluh gebrakan."

Nona berbaju hijau itu mengalihkan sinar matanya ke atas wajah Lim Han-kim kemudian katanya lagi: "Bagaimana kalau ilmu silat Lim siangkong dibandingkan dengan kepandaian locianpwee?"

"Jika dilihat dari kemampuannya mematahkan borgol tadi, agaknya ilmu silatnya tidak berada di bawah kepandaianku"

"Nah, itulah dia. Dari kita bertiga, ilmu silatku terhitung paling lemah, sekalipun kamu berdua ada maksud membantuku melarikan diri, belum tentu aku akan berhasil melepaskan diri dari cengkeraman orang, sekalipun kita berhasil menembusi pertahanan si gila dari Lam-gak. belum tentu aku mampu menghindari kejaran mereka."

"Ehmmm, tak kusangka kau hanya seorang gadis muda, namun mempunyai pandangan dan jalan pikiran yang begitu luas."

Gadis berbaju hijau itu menghela napas: "Aaaai... tadi, akupun telah membicarakan situasi kita saat ini dengan Lim siangkong, Di antara kita bertiga harus ada seorang yang kabur dari sini, tapi aku hanya seorang wanita, dan lagi ilmu silatku paling lemah. Aku rasa biar mati pun tak usah disayangkan"

"Aku sendiri juga sudah tua, biar matipun pantas," sambung Han si-kong sambil mengelus jenggotnya yang putih, "Itu berarti tinggal Lim siangkong seorang "

sambung gadis berbaju hijau itu.

Buru-buru Lim Han-kim menyela: "Aku Lim Han-kim juga bukan seseorang yang sayang mengorbankan jiwa ku. "

"Padahal di antara kita bertiga, salah satu diantaranya harus berusaha melarikan diri dari sini, Kebetulan kaulah orang yang paling pantas kabur dari sini, Lim siangkong, Lebih baik kau jangan menampik lagi."

"Tapi tanganku masih diborgoi, badanku juga masih dirantai, mana mungkin bisa lolos dari tempat ini?"

Gadis berbaju hijau itu termenung berpikir sejenak. sesaat kemudian ujarnya: "Majikan tuaku menyimpan sebilah pedang mustika yang luar biasa tajamnya, Asal kuberi tanda pengenal kepada Lim siangkong dan kau pergi menjumpai majikan tuaku itu, sudah pasti beliau bersedia memutuskan borgol di tanganmu itu."

" Kalau memang begitu, tak usah ditunda-tunda lagi.

Cepat serah kan tanda pengenal itu kepadanya, kita segera antar dia keluar dari sini," sela Han si-kong.

Karena borgol dan rantainya sudah putus, nona berbaju hijau itu dapat bergerak bebas, Dari sakunya dia keluarkan selembar saputangan, kemudian bisiknya: "Lim siangkong, harap kau berjongkok sebentar. Akan kuberitahukan bagaimana caranya menjumpai majikan tuaku."

Mendadak pintu ruangan dibuka orang, kemudian tampak seorang pemuda berjubah panjang melangkah masuk ke dalam.

Han si-kong segera menghadang jalan perginya sambil membentak: "siapa kau?"

Di belakang pemuda tadi mengikuti seorang bocah kecil berwajah bersih yang membawa sebuah lentera terbuat dari kain putih, Pada ujung lentera itu tertera sebutir mutiara, Ketika tersorot oleh cahaya lentera, mutiara tersebut memantulkan selapis cahaya yang amat menyilaukan mata membuat suasana gelap dalam ruangan itu segera terusir lenyap. Pemuda itu bersikap dingin dan serius.

Dengan sorot matanya yang tajam dia awasi Han si- kong sekalian sekejap. kemud ian berkata: "Aku dari marga Hongpo, siapa nama kalian?"

Meskipun sikapnya dingin dan serius, namun nada pembicaraannya cukup sopan dan ramah.

Diam-diam Han si-kong berpikir: "Jelek-jelek begini aku sudah puluhan tahun lamanya berkelana dalam dunia persilatan. Betul tidak semua pentolan persilatan yang kukenal, namun paling tidak pernah kudengar namanya, Heran, kenapa belum pernah kudengar jago tangguh dari marga Hongpo,"

sementara dia berpikir, mulutnya menjawab dengan lantang: "Aku Han si-kong, sedang saudara itu dari marga Lim."

"oooh, rupanya si Raja Monyet Ceking." pemuda itu manggut-manggut serius.

"Aah, tak usah memuji, itu hanya julukan yang diberikan rekan-rekan persilatan kepadaku."

Pemuda itu segera berpaling kearah Lim Han-kim, seraya menjura katanya pula: "Boleh aku tahu nama lengkap saudara Lim?"

"Lim Han-kim"

"Lim Han-kim?" secara beruntun pemuda itu menggumamkan nama tersebut berulang kali, agaknya dia berusaha mengingat-ingat siapa gerangan Lim Han- kim itu.

Tapi karena tak berhasil menemukan asal usulnya, maka sinar matanya segera dialihkan ke wajah nona berbaju hijau, katanya: "Boleh aku tahu nama nona?" Gadis itu berpikir sebentar, akhirnya dia menjawab: "Aku bernama Han-gwat" Pemuda itu segera mengernyitkan alis matanya, "Nona Han-gwat, kau berasal dari marga apa?"

"Kau cukup memangil aku Han-gwat saja, tak perlu tahu apa nama margaku.."

Pemuda itu tertawa hambar. "Aku tak pernah memaksakan kehendakku"

Kemudian setelah berhenti sejenak. la meneruskan kembali: "Lebih baik kalian jangan punya ingatan untuk melarikan diri."

"Hmmm, itu sih belum tentu," tukas Han si-kong.

Pemuda itu tersenyum.

"Kami sedang menyelidiki suatu kejadian, sebelum duduknya persoalan menjadi jelas kami tak akan biarkan siapapun pergi dari sini. Asal persoalan tersebut tak ada sangkut pautnya dengan kalian, bukan saja kami segera akan membebaskan kalian bertiga, bahkan kami hadiahkan juga benda mustika sebagai tanda mata. sebaliknya jika kalian nekad hendak melarikan diri, aku kuatir persoalan akan bertambah ruwet."

la angkat kepalanya dan tertawa lalu terusnya: "Kenyataannya kalian sanggup melepaskan diri dari pengaruh totokan jarum emas dan lolos dari peti mati, Kepandaian semacam ini sungguh mengagumkan hati." Kemudian setelah mengalihkan sinar matanya ke wajah gadis berbaju hijau itu, terusnya: "Nona ini telah berhasil melepaskan borgolnya, aku rasa kau siap pergi dari sini bukan?"

"Hmmmm" Han si-kong mendengus, "Kau anggap dengan menyuruh si gila dari Lam-gak menjaga pintu ini, kami bertiga tak sanggup meloloskan diri?"

selintas rasa kasihan menghiasi wajah pemuda itu, katanya sambil menghela napas: "Aaaai... meskipun ilmu silatnya sangat lihay, tapi pengalamannya sungguh mengenaskan"

"Huuuh, si gila dari Lam-gak tak kenal budi dan teman, manusia macam ini memang pantas mendapat pembalasan yang setimpaL" sekali lagi pemuda itu tersenyum. "Bagaimana? Kau kenal?" tanyanya. Han si- kong mendengus,

"Hmmmm Bukan hanya kenal, aku pernah menemaninya selama tiga bulan ditengah hutan belantara di Lam-gak. Wak-tu itu dia sedang menderita penyakit gawat dan jiwanya terancam bahaya, Dengan susah payah aku merawatnya sehingga dia berhasil lolos dari ancaman bahaya maut, Tak disangka dia... dia lupa budi."

"Kau jangan salahkan dia," tukas pemuda berwajah serius itu cepat "la bisa terdampar sampai di sini karena mempunyai kesulitan yang sukar diutarakan keluar. sekalipun antara kau dengan dia punya hubungan yang akrab, tak nanti ia sanggup membantumu"

Walaupun Han si-kong orangnya polos dan lurus, namun bagaimanapun juga pengalamannya dalam dunia persilatan sudah cukup matang, dan lagi dia pun bukan orang bodoh, Pada awal perjumpaannya dengan si gila dari Lam-gak tadi, ia memang rada gusar karena rekannya tak kenal budi.

Dengan wataknya yang berangasan, begitu ia emosi otomatis pikirannya tersumbat sama sekali dan kontan saja mencaci maki tiada hentinya, Tapi setelah mendengar perkataan pemuda itu,pikiran dan perasaannya segera tenang kembali, pikirnya:

"Tentu bukan tanpa sebab dia sampai bersembunyi di belakang dua kerangkeng besi itu, si gila dari Lam-gak memang berwatak aneh, dingin, suka menyendiri dan rada sinting, tapi selama hidupnya jarang mempunyai sahabat karib. Hanya terhadap aku seorang sikapnya selalu menaruh hormat, jika bukan dipaksa oleh keadaan, mustahil dia menganggap asing diriku."

dalam kesempatan itu, pemuda berwajah serius itu sudah menyambung lebih jauh: "Selamanya ayahku tak pernah mengganggu orang lain apabila dia tidak diusik lebih dulu, oleh karenanya Lak-seng-tong kami tak pernah berhubungan dengan umat persilatan, bagaimanapun kalutnya kolong langit dan sengitnya perselisihan dunia persilatan, asal tidak mengusik orang- orang Lak-seng-tong, belum pernah kami mencampurinya. Tapi jika ada orang berani mengusik Lak-seng-tong kami barang sejengkalpun, apa lagi melukai orang-orang kami, Hmmm Tidak perduli manusia macam apakah dia dan tokoh lihai macam apapun,jangan harap bisa lolos dari pengejaran kami serta mendapat pembalasan yang setimpal.

Namun begitu kami, orang-orang Lak-seng-tong pun tak pernah melukai orang yang tidak bersalah. Asal kalian tak ada hubungannya dengan kejadian ini, begitu penyelidikan selesai kami segera akan mengantar kalian pergi dari tempat ini."

"siapakah ayahmu? Mungkinkah aku kenal?" tanya Han si-kong.

"Ayahku gemar bersyair dan melukis, selama ini tak pernah mencampuri urusan dunia persilatan, jadi meskipun kusebutkan belum tentu kau kenal. Apa lagi sebagai putranya, aku pantang menyebut nama ayahku begitu saja, jadi maaf kalau aku tak bisa menyebutkan."

Diam-diam Han si-kong berpikir: "Lak seng-tong?

Rasanya dalam dunia persilatan memang belum pernah beredar nama Ko-lam enam bintang ini. " sudah cukup lama dia berkelana dalam dunia persilatan, banyak jago persilatan yang dikenalnya, tapi nama Lak-seng-tong memang belum pernah didengarnya. Untuk sesaat dia cuma berdiam diri saja.

suasana dalam ruangan itupun pulih kembali dalam keheningan segulung angin malam berhembus lewat mengibarkan ujung baju beberapa orang itu Lim Han-kim tak pernah suka bicara meskipun banyak pertanyaan yang menyelimuti perasaannya, Menyaksikan sikap dingin pemuda tersebut, ia semakin malas mengajukan pertanyaan.

Tampaknya gadis berbaju hijau itu tak sanggup menahan diri, tiba-tiba ia bertanya: "Sebenarnya peristiwa apakah itu sehingga kami pun ikut terlibat? Bersediakah kau memberi penjelasan? "

Dengan pandangan mata yang dingin anak muda itu menyapu wajah gadis itu sekejap. lalu katanya dingin: "Sebetulnya kalian sudah ditawan orang lain di mana kami berhasil menyelamatkan kamu semua dan membawanya kemari, jadi seandainya kami berharap kamu semua tinggal dua tiga hari lagi di sini, rasanya pantas bukan?"

"Jembatan kembali kejembatan, jalan raya kembali kejalan raya, sebagai orang persilatan yang berkelana di kolong langit, kami selalu membedakan dengan jelas mana budi mana dendam, Kami merasa berterima kasih sekali karena kalian telah menolong kami, tapi kalau memaksa kami untuk tetap tinggal di sini.,., Hmmm, sungguh membuat hati orang tak rela."

Tampaknya pemuda itu sudah tak sabar lagi, alis matanya berkerut, ujarnya dingin: " Kalian tak usah membantah lagi. jika merasa tak puas, kami siap menerima pembalasan tersebut setiap saat."

selesai berkata ia segera membalikkan badan dan beranjak pergi dari situ. "Berhenti" bentak Han si-kong dengan suara amarah yang berkobar.

Waktu itu pemuda tersebut sudah melangkah keluar dari ruangan, mendengar bentakan mana ia berhenti lagi, ternyata sambil berpaling: "Ada apa?"

"Aku berterima kasih dulu atas pertolongan kalian," kata Han si-kong sambil menjura.

"Tidak usah" pemuda itu tertawa dingin.

"orang jantan tidak berbuat curang, Tolong siau- cungcu bisa sampaikan kepada ayahmu, bila aku orang she- Han bertiga dapat menerjang keluar dari Lak-seng- tong ini, suatu ketika tentu akan datang lagi kemari."

"Hmmm, jika kalian yakin bisa meninggaikan tempat ini, silahkan saja berbuat sekehendak hatimu." Han si- kong tertawa tergelak "Ha ha ha ha sekali

aku bilang akan pergi, aku tetap akan pergi dari sini."

"Hmmmmm, aku takut kau tak bisa memenuhi harapan tersebut"

"sau-cungcu, kau jangan memojokkan orang. Aku tahu Lak-seng-tong telah dijaga secara ketat dengan jebakan yang berlapis- lapis, Tapi apabila kami keluar bersama- sama sau-cungcu, sekalipun ada jebakan belum tentu bisa dipergunakan sewajarnya."

Jelas sekali dengan perkataan tersebut dia sedang memperingatkan kepada sekalian bahwa saat sekarang adalah saat terbaik untuk meloloskan diri Berubah paras muka pemuda itu, tantangnya: " Kalau mau coba, silahkan" Han si- kong tertawa terbahak-bahak.

"Ha ha ha ha sudah banyak tahun aku orang she-

Han malang melintang dalam dunia persilatan, Tak sedikit kejadian gawat semacam ini pernah kujumpai Aku pasti akan puas dan takluk apabila sau-cungcu betul- betul mampu menghalangi kepergianku"

sambil berkata, dia menggerakkan tubuhnya menerjang ke luar dari ruangan tersebut meskipun dia sudah dipenjarakan hampir dua tahun lebih dipesanggrahan Tho-hoa-kit, namun selama dua tahun tersebut ia selalu berusaha meloloskan diri sehingga ilmu silatnya tak pernah lupa dilatih,justru gara-gara peristiwa itu bukan saja ia dapat memusatkan pikirannya untuk melatih diri secara rajin, tenaga dalamnya juga memperoleh kemajuan yang amat pesat. Tak heran kalau terjangannya kali ini dilaksanakan dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.

sewaktu berada dipenjara bawah tanah tempo hari, Lim Han-kim pernah merasakan kehebatan tenaga pukulannya, Dia tahu tenaga dalam yang dimiliki orang tua itu sangat tangguh, maka ia cepat menghindar kesamping dan berdiri sebagai penonton.

Melihat datangnya terjangan dari Han si- kong, pemuda itu tertawa dingin, Dia segera melepaskan juga sebuah pukulan tandingan.

Jangan dilihat serangan itu merupakan serangan biasa, namun karena saat yang dipergunakan untuk melancarkan serangan tersebut dan sasaran yang diarah pada ancaman mana tepat sekali, sebaliknya sepasang tangan Han si- kong masih diborgol sehingga tak mungkin melakukan tangkisan, akhirnya dia dipaksa untuk mundur ke belakang.

Han si- kong jadi tertegun dibuatnya, diam-diam ia berpikir "serangan itu tidak tampak aneh atau luar biasa, Aneh, kenapa ia berhasil memaksa aku mundur dari posisiku? Tampaknya aku tak boleh pandang enteng kemampuan bocah ini." sekali lagi dia melangkah maju ke depan, Kali ini dia tidak menerjang secara gegabah, tenaga dalamnya dipersiapkan dulu sambil maju pelahan-lahan, pemuda itu segera mengulapkan tangannya memberi tanda, bocah pembawa lentera itu segera mundur ke luar dari ruangan dan mengangkat lenteranya tinggi-tinggi.

sekalipun Han si- kong belum melihat ketangguhan dan kesaktian jurus serangannya, namun kali ini dia tak berani bertindak gegabah, Pada jarak dua tiga kaki dari pemuda itu ia hentikan diri, lalu sepasang tangannya merangkap di depan dada dan didorong keluar bersama melepaskan sebuah pukulan dahsyat.

Dengan tenaga dalamnya yang amat sempurna, tolakan bersama ini betul-betul luar biasa, Belum lagi ujung telapak tangannya tiba pada sasaran, deruan angin pukulan yang kuat telah menerpa tiba.

Dengan sangat tenang pemuda itu melepaskan satu pukulan juga. Tang an kirinya dengan jurus "Burung Merak Mementang sayap" menggulung ke samping, sementara badannya mengegos ke samping menyusul gerak serangan tadi.

Begitu lolos dari ancaman serangan Han si-kong, tangan kanannya segera dibalik balas menyerobot ke muka, Kelima jari tangannya dipentang lebar-lebar mencengkeram urat nadi pada pergelangan tangan musuhnya, jurus serangan yang dipergunakan ini tampaknya sederhana tanpa sesuatu yang aneh atau luar biasa, namun di balik kesederhanaan itu justru terselip kemantapan dan ketenangan yang luar biasa.

Arah sasaran serangannya juga merupakan tempat strategis yang susah dibendung.

Begitu tenaga pukulan Han si-kong tergiring ke samping oleh tangkisannya, berat badan kakek itu otomatis turut tergeser kesamping, Pada saat itulah ancaman dari pemuda itu menyongsong tubuhnya, Hal ini membuat Han si- kong seakan-akan menyongsong datangnya ancaman tadi dengan badan sendiri.

Han si- kong jadi amat terkesiap. buru-buru dia melompat mundur sejauh dua langkah untuk meloloskan diri Untuk berapa saat ia jadi tertegun dan mengawasi anak muda itu dengan wajah melongo. Dengan pengalamannya yang luas, setelah berulang kali didesak mundur lawannya, sadarlah Han si- kong bahwa ia telah berjumpa dengan musuh tangguh, ia juga tahu pemuda itu bukan meraih kemenangan secara kebetulan dan kegagalannya membendung ancaman lawan juga bukan lantaran sepasang tangannya masih diborgoL

Tiba-tiba Lim Han-kim menerjang maju ke muka, dia merangkap tangannya yang diborgol di depan dada, lalu serunya: "Aku ingin menjajal berapa jurus seranganmu" "Silahkan dicoba," sahut pemuda itu sambil tertawa dingin.

Karena melihat jurus serangan yang dipakai pemuda itu untuk mendesak mundur Han Si-kong, hanya terdiri dari jurus serangan biasa, maka dia pun mempergunakan jurus yang umum juga, yakni "Bocah Lelaki Menyembah Buddha" untuk melepaskan satu serangan-

Dengan wajah serius pemuda itu berdiri menanti, Ditunggunya sampai tenaga serangan Lim Han-kim hampir mencapai badannya, tiba-tiba saja tangan kanannya menggunakan jurus "Menggapai Awan Di bawah Tangan" untuk balas mengancam lawan. Kelima jari tangannya setengah terpentang menyambar kemuka dan mengancam urat nadi pada pergelangan tangan Lim Han-kim.

Jurus serangan yang dig una kan sangat umum, bahkan hampir semua orang yang pernah belajar silat dapat menggunakan-nya, tapi pentangan kelima jari tangannya itu justru berbeda sekali, Bahkan saat dan arah sasarannya juga tepat sekali, yakni di saat Lim Han-kim selesai menggunakan jurus serangannya itu.

dalam posisi seperti ini Lim Han-kim jadi amat terkesiap, mau tak mau dia harus mundur dua langkah untuk menghindarkan diri, Pemuda itu tertawa dingin, ia balikkan badan dan pelan-pelan berlalu dari situ. Diiringi si bocah pembawa lentera, dia menghindari dua kerangkengan besi itu dan lenyap di balik kegelapan malam.

Dengan termangu-mangu Lim Han-kim mengawasi bayangan punggung pemuda itu hingga lenyap dari pandangan, sementara pelbagai persoalan memenuhi benaknya. Tiba-tiba Han si-kong menghentakkan kakinya berulang kali sambil mengeluh:

"Aaaai... sewaktu menggunakan jurus "Bocah Lelaki Menyembah Buddha" tadi andaikata gerak serangannya kau perlambat sedikit, lalu sebelum selesai digunakan ganti menggunakan jurus "Membersihkan Debu Berbicara santai", maka dengan tepat kau akan memecah kan jurus serangan yang dipergunakan pemuda itu..."

"Biarpun jurus seranganku telah digunakan sampai puncaknya, tapi seandainya aku merubah diri menggunakan jurus "Tangan sakti Menggunting Bunga" dengan mengunci urat nadinya..."

"Tangan sakti Menggunting Bunga.,.? Tangan sakti Menggunting Bunga.,.?" gumam Han si-kong lirih, "Bagus, bagus sekali Lote, perubahan jurusmu sangat hebat dan luar biasa. Pada saat itu bila ia tidak segera mundur untuk menghindarkan diri, niscaya urat nadinya akan berhasil kau cengkeram, Tapi... kenapa kau tidak menggunakannya waktu itu?" "Justru kelima jari tangannya yang setengah terpentang itulah masalahku. Aku kuatir meskipun sentilannya belum tentu menimbulkan desingan angin serangan yang tajam, tapi apabila jari tangannya tiba- tiba setengah inci lebih panjang saja, niscaya urat nadiku akan terluka dari ancamannya"

" Kalau begitu kita tidak boleh menyerang lebih dulu?" tanya Han si- kong melongo. Lim Han-kim menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Ketika locianpwee bertempur melawannya tadi, boanpwee lihat ia berulang kali menggunakan jurus serangan yang umum untuk memaksa mundur locianpwee, Hal mana membuatku menduga bahwa ia cuma andalkan ketepatan dan kemantapan saja, maka segera kucoba untuk turun tangan sendiri"

"Tapi begitu bentrokan terjadi, aku baru tahu kalau dugaan itu keliru. Bukan saja lawan benar-benar dapat menggunakan teori "tepat" dan "mantap" secara jitu lagi pula di balik jurus-jurus serangan yang umum ternyata diselipi juga dengan perubahan gerakan yang mengerikan. sepintas lalu memang kita anggap jurus serangan itu umum dan tiada keanehan, padahal di balik kesederhanaan itu justru terselip hawa pembunuhan yang mengerikan"

Han si- kong termenung sebentar sambil membayangkan apa yang telah terjadi, kemudian katanya sambil menghela napas panjang: "Aaaai... apa yang lote katakan memang tepat sekali, sungguh tak disangka kita telah berjumpa dengan musuh tangguh di tempat ini."

Pelan-pelan Lim Han-kim berpaling, Kepada nona berbaju hijau itu ia berbisik, "Nona tak usah membuang tenaga danpikiran lagi, tak mungkin kita bisa lolos dari sini."

"Kalau tak bisa lolos, apakah kita harus berpeluk tangan saja menunggu kematian?" tukas si nona.

setelah sama-sama terjerumus dalam ancaman bahaya maut, secara otomatis timbul perasaan solider di antara ketiga orang itu. Kesulitan memang seringkali mempersatukan manusia.

setelah hening berapa waktu, Han si-kong mendehem kembali sambil berkata: "Sudah banyak tahun aku malang melintang di Utara maupun selatan sungai besar. Tak sedikit jago tangguh yang pernah kuhadapi. sungguh tak nyana hari ini aku harus pecundang di tangan seorang bocah yang tak bernama sama sekali."

Nona berbaju hijau itu menghela napas pula, sambungnya: "Yaa, semisalnya majikan tuaku berada disini, biarpun ilmu silat orang itu sepuluh kali lipat lebih hebatpun tak nanti dia sanggup menghalangi kepergian kita." "siapa sih majikan tuamu? Berani amat kau bicara tekebur?"

"Hmmmm Menyinggung soal nama besar majikan tua kami, tiada orang di dunia ini yang tidak menaruh rasa hormat kepadanya."

"sudah setengah harian kau bicara namun belum kau sebut namanya, siapa sih orang itu? Hmmm Anak perempuan tak boleh bicara macam begitu, kalau ingin diutarakan katakan saja terus terang."

"Majikan tuaku adalah. " Tiba-tiba ia seperti teringat

suatu persoalan penting, ucapannya tidak jadi diteruskan