Pedang Keadilan I Bab 08 : Keracunan dan Terkurung

 
Bab 08. Keracunan dan Terkurung

Lim Han-kim mengernyitkan alis matanya rapat-rapat.

Di balik kemurungan yang menyelimuti wajahnya, terselip lapisan hawa dingin yang kaku, ia sama sekali tidak menanggapi bujukan perempuan cantik tersebut.

Biarpun bajunya yang putih kini penuh berlumpur karena harus menempuh perjalanan cepat, namun kekotoran itu tidak menutupi ketampanan serta kegagahannya.

Kembali perempuan cantik berbaju hijau itu memberi hormat kepada Lim Han-kim lalu berkata:

"Lik-ling tak lebih hanya perempuan bernasib jelek yang bertugas menyambut serta menghibur para tamu. Aku merasa beruntung karena para tamu sudi menghargai diriku. Nah, kongcu, bila tak keberatan mari ambil tempat duduk. biar kulayani kongcu sebagai tanda persahabatan. "

Lalu setelah berhenti sejenak dan tertawa, sinar matanya dialihkan ke wajah dua orang lelaki itu sambil menambahkan: " orang gagah bilang, tidak berkelahi maka tak kenal, Pertarungan yang baru berlangsung benar-benar seimbang dan sama-sama mengagumkan Betul aku tak mengerti ilmu silat, tapi aku yakin bila tidak bertarung selama satu sampai dua jam, mustahil menang kalah bisa ditentukan..."

Ia berbicara seperti bergumam, sama sekali tidak memberi kesempatan kepada orang lain untuk menimbrung apalagi memotong, Lim Han-kim segan banyak bicara, dengan langkah lebar ia segera berjalan menuju ke meja perjamuan dan tanpa sungkan-sungkan mengambil tempat duduk.

Dengan langkah yang lemah gemulai Lik-ling segera menyusul di belakang pemuda itu dan mengambil tempat duduk pula.

Akhirnya dua orang lelaki itupun menyusul di belakang Lik-ling dan duduk pula di sekeliling meja perjamuan.

Lik-ling bertepuk tangan pelan, dua orang dayang segera muncul perempuan itu menitahkan dayangnya untuk menyiapkan kembali perjamuan baru, Tak selang berapa saat, arak wangi dan hidangan telah siap.

selama ini Lim Han-kim tetap bersikap dingin dan- hambar, sikap semacam ini membuat dua orang lelaki itu tak enak untuk membuka pembicaraan untuk menghilangkan kekakuan yang mencekam suasana, Lik- ling segera angkat cawan araknya dan berkata kepada Lim han-kim sambil tertawa: "Bolehkah aku tahu siapa nama kongcu?" Lim Han-kim berpikir sebentar, lalu menggeleng, "Aku tak lebih cuma seorang prajurit tanpa nama, sekalipun diutarakan belum tentu nona kenali" Lik-ling tertawa.

"Kalau memang kongcu enggan menyebutkan namamu, akupun tak akan terlalu memaksa.,."

Kemudian sambil memandang kedua orang lelaki itu, tambahnya: "Kedua orang ini mempunyai nama besar yang amat masyhur di wilayah Kang-lam, yang satu adalah siang Thian-kian dari kota siok-ciu sedang yang lain adalah Lu PekJeng dari kota yang Yang- ciu"

"Lama kudengar nama besar anda" Buru-buru Lim Han-kim mengangguk.

"Tidak berani, tidak berani..." siang Thian-kian menimpali. "Boleh ku tahu siapa anda? Tampaknya saudara bukan berasal dari wilayah Kang-lam?"

"Benar, aku datang dari jauh, luar perbatasan " "saudara, ilmumu sangat aneh dan tangguh. Kau

merupakan musuh tangguh yang pernah kujumpai

selama ini," sambung Lu Pekspeng pula, "Bila tak keberatan, terimalah satu cawan arak sebadai rasa hormatku..."

Tanpa banyak bicara Lim Han-kim angkat cawan dan meneguk isinya, tapi sebelum habis diteguk tiba-tiba ia letakkan kembali cawannya sambil berkata: "Aku tidak kuat minum arak, karena itu terima kasih ku ucapkan atas kebaikan anda berdua."

Lik-ling tersenyum, sambil berpaling ke arah dua orang lelaki itu katanya: "Kalau memang kongcu tidak minum arak. tentu kami pun tak bakal memaksa. Biar aku saja yang mewakili anda untuk menerima penghormatan ini."

Tanpa menunggu persetujuan dari dua orang lelaki tadi, ia teguk isi cawannya hingga habis.

Melihat itu, siang Thian-kian segera tertawa terbahak- bahak, "Ha ha ha ha... kalau nona mau mewakili, bagaimana kalau menerima secawan arak lagi?"

Lik-ling melirik Lim Han-kim sekejap. lalu tertawa: "Aku takut kedudukanku yang rendah tidak cukup berhak untuk mewakili kongcu ini.,."

sambil berkata ia benar-benar angkat cawannya dan sekaligus menghabiskan isinya.

Berkilat sepasang mata Lu Pekspeng, tiba-tiba ia bangkit berdiri sambil ujarnya: "sudah cukup arak dan hidangan yang kami nikmati, Rasanya akupun tak akan mengganggu lebih lama, maaf kami hendak mohon diri dulu." "Betul, aku pun harus mohon diri," sambung siang Thian-kian sambil menjura. Pelan-pelan Lik-ling bangkit berdiri sambil memberi hormat.

"Aku benar-benar menyesal karena malam ini tak bisa memuaskan kalian berdua," katanya, "Biarlah lain saat kalau kalian berkunjung lagi, aku pasti akan menemani sampai mabuk."

Siang Thian-kian tertawa hambar. "Bila mendapat undangan, kami pasti datang memenuhi."

Dengan langkah lebar, ia segera berjalan meninggalkan tempat itu. Dengan pandangan dingin Lu Pekspeng memandang ke Lim Han-kim sekejap. lalu serunya pula sambil menjura: "sampaijumpa lain waktu."

Memandang bayangan punggung kedua orang itu hingga lenyap di balik pepohonan, Lik-ling baru berpaling dan tersenyum, ujarnya: "Dua pendekar dari Siok-ciu dan Yang- ciu telah pergi dengan membawa rasa marah, Aku takut hutang ini bakal tercatat atas nama kongcu"

"Hmmm Antara aku dengan mereka tiada ikatan dendam ataupun sakit hati, bagaimana mungkin hutang tersebut tercatat atas namaku."

Kembali Lik-ling tertawa, " Kecantikan wanita memabukkan orang, keganasan pedang mengucurkan darah. sejak dulu sampai sekarang ada berapa banyak pendekar yang terkalahkan di tangan kaum wanita?"

"Hmmm sayang kedatanganku bukan karena tertarik oleh kecantikan wajah nona..."

"Kongcu adalah manusia pilihan, tentu saja tak bisa dibandingkan dengan orang lainnya," sahut Lik-ling tersenyum.

Paras muka Lim Han-kim tetap dingin dan hambar, seakan-akan ia tidak terpengaruh oleh pujian perempuan tersebut Lik-ling yang tabah benar-benar memiliki ketenangan yang luar biasa, Bagaimana pun Lim Han- kim menyindir dan mengejek. ternyata ia tidak terpengaruh sama sekali, maka ujarnya lagi sambil tertawa hambar: " Kongcu, kau memang ganteng dan gagah, Apa sangat mempesona hati wanita, Hanya sayang, pakaianmu sangat mengurangi kegagahanmu Dalam kamarku tersedia berapa stel pakaian pria.

Bagaimana kalau kongcu tukar pakaian dulu sebelum kita berbincang-bincang?"

"Aku rasa tidak perlu, Kebaikanmu biar kuterima dalam hati saja." Lik-ling berkerut kening, matanya yang besar berkedip beberapa kali, lalu tegurnya.

"Kongcu, berulangkali kau tolak tawaran dan kebaikan kami Aku jadi tak habis mengerti sebenarnya apa maksud kedatanganmu?" "sederhana sekali," jawab Lim Han-kim setelah menyapu wajah Lik-ling sekejap dengan pandangan dingin. "Aku datang untuk minta kembali sebuah benda."

"Barang apa itu?" Lik-ling tertegun,

"selembar sapu tangan" Lik-ling segera tertawa cekikikan: "Aku masih menduga barang berharga apa yang kau minati, rupanya cuma selembar sapu-tangan Kongcu, bagaimana juga kau sudah mengunjungi loteng Hui-jui-lo. Terlepas apa maksud kedatanganmu yang pasti kau adalah tamuku, Bagaimana kalau minum beberapa cawan arak dulu? Nanti aku pasti akan persembahkan saputangan itu kepadamu."

Tampaknya mimpi pun Lim Han-kim tidak menyangka kalau tujuannya minta kembali saputangan tersebut dapat berjalan begini lancar, untuk sesaat dia malah tertegun dibuatnya.

Dengan tangannya yang lembut Lik-ling mengambil cawan arak di hadapan Lim Han-kim dan menukarnya dengan cawan arak yang telah dipergunakan barusan, kemudian katanya: "Tidak sedikit orang persilatan yang pernah kujumpai Kebanyakan mereka banyak menaruh curiga, Aku rasa kongcu pun tidak terkecuali Nah, bagaimana kalau kita minum arak dengan pergunakan cawanku?" Tanpa menunggu jawaban pemuda tersebut ia segera angkat cawan dan meneguk habis isinya.

sebetulnya Lim Han-kim ingin menampik, tapi dia takut ditertawakan orang sebagai pengecut yang bernyali kecil, Dengan terpaksa diambilnya cawan tersebut dan pelan-pelan meneguk isinya, sementara itu ia kerahkan hawa murninya untuk menahan arak yang diteguknya agar tidak masuk ke ke dalam perut.

sambil tersenyum Lik-ling berkata lagi: " Kongcu datang dari jauh, bila harus pulang dengan tangan hampa rasanya kasihan jangan kuatir, keinginanmu tentu akan kupenuhi nanti. Tapi sebelum itu, bersediakah kongcu menemani aku memainkan sebuah lagu, karena sejak kecil aku senang meniup seruling.,."

"Aku tak berani merepotkan nona, apa lagi masih ada urusan penting yang mesti segera diselesaikan Biarlah maksud baikmu itu kuterima di dalam hati kecil saja..."

Lik-ling merogoh keluar sebuah seruling dari sakunya, lalu katanya: "Sekalipun kongcu tak berminat menikmati permainan serulingku, namun aku ada niat menghiburmu...^

Tanpa memperdulikan lagi persetujuan dari Lim Han- kim, ia mulai meniup seruling hijau itu. serentetan lagu merdu pun segera berkumandang memecah keheningan. "Kepandaiannya meniup seruling betul-betul sudah mencapai tingkat kesempurnaan Ketika mulai meniup, nada lagunya pedih dan memilukan hati, seakan akan menyayat perasaan siapa pun.

Tanpa terasa Lim Han-kim terpengaruh oleh nada seruling tersebut, Semua kemurungan dan kepedihan hatinya terungkap keluar, wajahnya yang sudah murung dan kusut kini makin gelap dan dilapisi hawa kesedihan yang luar biasa.

Mendadak nada seruling itu berubah makin rendah dan berat, iramanya semakin menyayat perasaan seperti jeritan hati seorang perempuan lemah yang sakit parah dan ingin menyampaikan rasa rindunya kepada kekasih hati yang telah lama berpisah.

Dalam waktu singkat Lim Han-kim sudah dibikin mabuk oleh irama seruling yang memilu hati itu, badannya duduk mematung tak berkutik. sampai permainan seruling itu terhenti, ia baru tersentak kaget, seakan-akan baru sadar dari impian, Lim Han-kim celingukan memandang ke sekeliling tempat itu. ia makin terkesiap ketika melihat hari sudah gelap. pikirnya dengan hati kecut: "Rupanya aku sudah terpengaruh oleh permainan serulingnya..."

sambil menarik napas panjang, pelan-pelan ia bangkit berdiri sementara itu Lik-ling sudah menyimpan serulingnya Tanpa menanti sampai Lim Han-kim buka mulut, ia sudah berkata lebih dulu: "siangkong, tolong berikan pandangan dan kritikmu tentang kepandaian meniup serulingku?"

Lim Han-kim angkat kepalanya memandang bintang yang bertaburan di angkasa. Gumamnya kemudian terdengar antara menjawab dan tidak: " Waktu sudah malam, aku harus pergi.,."

Lik-ling mengerutkan kening, selapis hawa napsu membunuh terlintas di wajahnya, Namun hanya sekejap hawa pembunuhan itu sudah lenyap kembali, dengan senyuman tetap menghiasi bibirnya dia melanjutkan: " Harap kongcu tunggu sebentar, aku segera pergi ambilkan saputangan untukmu:"

Ia bangkit berdiri dan berjalan meninggalkan ruangan- Langkahnya lemah gemulai pinggangnya yang ramping dan goyangan pinggulnya membuat perempuan itu kelihatan lebih merangsang, Dengan pandangan dingin Lim Han-kim hanya mengawasi perempuan itu meninggalkan ruangan tanpa mengucapkan sesuatu.

Tiba-tiba tampak cahaya api menyilaukan mata, sebuah lentera telah menerangi seluruh ruangan, Dengan gerakan cepat Lim Han-kim menggeser tempat duduknya. Ia pilih tempat duduk yang strategis di mana ia dapat bebas memandang serta leluasa mengawasi Lik-ling yang menyelinap masuk ke ruang belakang.

Dari balik jendela tampak menerawang sesosok bayangan manusia yang bergerak ke sana kemari, tapi kemudian berhenti tak bergerak.

Waktu meluncur lewat dengan cepatnya dalam penantian Lim Han-kim. sepenanakan nasi sudah lewat, namun Lik-ling belum tampak munculkan diri Habis sudah kesabaran Lim Han-kim, tanpa sadar ia bangkit berdiri dan berjalan menuju ke ruang belakang.

Pintu kamar berwarna merah berada dalam keadaan setengah terbuka menutupi separuh pemandangan di dalamnya dan juga menutupi bayangan Lik-ling yang ada di dalam ruangan

Baru saja Lim Han-kim hendak melangkah masuk ke dalam, tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benaknya: "Di tengah malam buta begini, rasanya kurang sopan jika aku memasuki kamar seorang wanita tanpa permisi, apalagi antara aku dan dia tak punya ikatan apa-apa..."

Lim Han-kim lantas urungkan niatnya untuk masuk ke dalam kamar, dan berdiam diri beberapa saat, Tapi sebelum ia sempat mengucapkan sesuatu, tiba-tiba terdengar suara Lik-ling berkumandang keluar dari balik kamar. "Siang kong terlalu kolot dan ikut aturan, padahal loteng Hul-jui-lo bukan istana raja muda atau istana kaisar, sedang aku pun bukan seorang perempuan suci atau istri orang.."

"Nona, harap kembalikan saputangan itu secepatnya," tukas Lim Han-kim dengan suara dingin, "Aku masih ada urusan penting dan harus tinggaikan tempat ini secepatnya."

Suara helaan napas sedih terdengar lirih dari dalam ruangan, disusul kemudian terdengar kembali suara seruling yang bernada setiih, Menanggapi hal itu, Lim Han-kim hanya tertawa dingin. Sekali tendang ia sepak pintu kamar itu hingga terpentang lebar,

Tapi apa yang kemudian tampak di hadapannya membuat pemuda tersebut berdiri tertegun Rupanya Lik- ling hanya berpakaian dalam yang sangat minim dengan kain putih tipis menyelimuti badannya.

Waktu itu ia sedang bersandar di atas pembaringan sambil meniup serulingnya, membawakan lagu-lagu yang memilukan hati. sorot matanya memancarkan cahaya yang sangat aneh, sementara wajahnya tampak hampa dan dengan senyum hambar mengawasi Lim Han-kim tanpa berkedip.

Tiba-tiba saja Lim Han-kim merasakan hatinya bergetar keras, ia merasa irama seruling yang memilukan hati bagaikan jeritan kekasih yang sedang dimabuk asmara itu seperti jarum atau pedang yang menikam dadanya dalam-dalam.

Pemuda ini sebera merasakan gelagat tidak menguntungkan Buru-buru ia menghimpun hawa murninya, alis matanya berkerut dan tenaga dalamnya disalurkan untuk mengendalikan gejolak emosinya yang membara. ia berusaha membuangjuuh-jauh semua pikiran di hatinya dan membendung gelora napsu birahi yang membakar la la m dadanya.

Irama seruling yang dimainkan Lik-ling makin lama semakin cepat seperti aliran air terjun yang menumbuk dadanya, Lim Han-kim seketika merasakan napsu birahinya memuncak. Wajahnya kontan berubah jadi merah membara, peluh mulai bercucuran membasahi seluruh jidat dan wajahnya, Kurang lebih seperminuman teh kemudian, suasana baru pulih kembali dalam ketenangan.

Air muka Lik-ling yang bersandar di-pembaringan itu kelihatan berubah hebat, Cepat-cepat dia bangkit berdiri dan mulai berlarian mengelilingi ruangan kamar, irama serulingnya makin lama pun semakin cepat seperti pukulan ombak yang menghajar batu karang, Makin lama tubuhnya berputar makin cepat dan akhirnya ia berlari seperti terbang saja. Peluh bercucuran membasahi seluruh pakaiannya yang tipis itu, membuat lekukan tubuh bagian terlarangnya kelihatan makin nyata dan mencolok.

Tiba-tiba terdengar suara benturan yang amat keras bergema memecahkan keheningan, Lik-ling yang semula berlarian mengelilingi ruangan kini sudah jatuh terjerembab diatas tanah, otomatis permainan serulingnya juga terputus di tengah jalan.

Pelan-pelan Lim Han-kim membuka matanya kembali, memandang Lik-ling yang tergeletak di atas tanah. Ia angkat telapak tangan kanannya siap melepaskan pukulan.

Lik-ling hanya berbaring diam di atas tanah, agaknya ia sudah tak memiliki tenaga untuk melawan lagi. Bila serangan dari Lim han-kim ini benar-benar dilepaskan tak ayal lagi perempuan cantik itu pasti akan tewas seketika, Tapi pemuda tersebut tidak berbuat demikian. sebelum serangan dilepaskan, ia telah menurunkan telapak tangannya.

sesaat sesudah terlepas dari bahaya kematian, pelan- pelan Lik-ling yang baru sadar dari pingsannya menggerakkan tangannya dan bangkit untuk duduk.

Waktu itu seruling kemalanya sudah terpental ke-sudut ruangan, lebih kurang tiga- empat depa dari posisi semula, Tampak perempuan itu terbatuk-batuk, Badannya bergoncang keras, kemudian ia muntahkan darah segar.

Lim Han-kim segera berpaling ke arah lain, katanya dingini "Akutak ingin membunuh kaum wanita, cepat serahkan sapu-tangan yang kuminta, Aku harus segera pergi dari sini."

sambil bertopang pada sepasang tangannya Lik-ling berusaha bangkit dari atas tanah, Dengan sempoyongan ia menuju ke depan pembaringan merangkak naik dan katanya dengan napas terengah-engah:

"Luka yang kuderita amat parah. Gerak-gerikku kurang leluasa, saputangan itu ada di bawah pembaringanku, tolong ambillah sendiri"

Lim Han-kim tertegun, tapi akhirnya dia berjalan mendekati pembaringan tersebut.

Rambut Lik-ling sangat kusut dan berurai tak keruan di bahu, Wajahnya pucat pias seperti mayat, sepasang matanya terpejam dan noda darah masih mengotori ujung bibirnya. Tampaknya luka yang dideritanya sangat parah, ia berbaring terlentang di atas pembaringan seperti orang mati,

sesaat sesudah terlepas dari bahaya ke-matian, pelan- pelan Lik-ling yang baru sadar dari pingsannya menggerakkan tangannya dan bangkit untuk duduk, Waktu itu seruling kemalanya sudah terpental ke sudut ruangan, lebih kurang tiga-empat depa.

Lim Han-kim ragu-ragu sesaat, tapi akhirnya ia menjulurkan tangannya meraba ke bawah pembaringan Benar juga, dari situ ia menemukan selembar saputangan berwarna putih. Tapi ketika saputangan tersebut dibentangkan ternyata tidak tampak tulisan apa pun di situ, Hanya saja dari saputangan itu terendus bau harum semerbak yang menerpa lubang hidungnya.

Ternyata benda itu bukan benda yang sedang dicarinya.

Kejadian ini membuat anak muda terse-but naik pitam, Baru saja dia akan mengumbar hawa amarahnya, mendadak pandangan matanya jadi ge1ap. "Aduh, celaka" pekiknya dalam hati

sebuah pukulan langsung dibacokkan ke tubuh Lik-ling yang sedang berbaring tanpa gerak itu

sayang sekali, belum sempat tenaga dalamnya disalurkan keluar, tubuhnya sudah tak sanggup menahan diri lagi. Dia merasakan kepalanya jadi sangat berat dan kakinya lemas, Tanpa ampun lagi tubuhnya mundur sempoyongan sebelum terjerembab di atas tanah.

Entah berapa waktu sudah lewat pelan-pelan Lim Han- kim sadar kembali dari pingsannya, ia buka matanya dan mengawasi sekeliling tempat itu, tapi suasana amat gelap hingga untuk melihat ke lima jari tangan sendiri saja sangat susah. ia coba gerakkan tangan dan kakinya, tapi segera berkumandang suara gemerincing nyaring besi yang saling geser, Rupanya seluruh badannya telah dirantai orang.

Lim Han-kim coba tenangkan- hati, sekali lagi memperhatikan keadaan di sekitarnya, Ternyata ia telah terkurung oleh empat dinding yang terdiri dari dinding batu yang amat tebal dan kuat. Tak ada seberkas cahaya pun yang memancar dalam ruangan tersebut.

Dari keadaan yang dihadapinya ini, Lim Han-kim segera mengerti bahwa ia telah kena ditawan orang sebagai tahanan dan kini dikurung dalam sebuah penjara batu yang amat kuat.

selain itu, ia pun sadar bahwa penjara batu ini pasti berada jauh di bawah tanah, Tanpa terasa dia menghela napas dan berpikir "Aku tidak menyesal seandainya mesti mati dalam penjara bawah tanah ini gara-gara sikapku yang lemah dan kurang tegas terhadap musuh, Tapi Ciu Tayhiap... Dia sakit keras dan sangat membutuhkan pil mustika itu untuk menyelamatkan jiwanya. Kalau sampai gara-gara kejadian ini jiwanya jadi terancam, Aaaai, aku bisa menyesal sepanjang masa..."

sementara dia masih berpikir, tiba-tiba terdengar suara berderit yang memecahkan keheningan Deritan nyaring itu berasal dari atas dinding penjara, Cepat-cepat Lim Han-kim membuang jauh-jauh lamunan-nya. ia pusatkan pikiran untuk memperhatikan apa yang bakal terjadi.

Menyusul suara deritan nyaring tadi, dari atas dinding penjara terbukalah sebuah lubang seluas berapa depa. selapis cahaya lentera menyorot masuk ke dalam, sebuah tangan yang halus dengan membawa sebuah baki kayu nyelonong masuk melalui lubang tadi, kemudian terdengar suara merdu seorang gadis berkata: "Lim siang-kong, silahkan menikmati hidangan"

Bau harum arak dan daging yang semerbak pun menerpa masuk memenuhi seluruh ruang penjara,

Mengendus bau harum arak dan daging, Lim Han-kim segera merasakan perutnya agak lapar, Namun baru saja dia hendak mengambil hidangan tersebut untuk menjaga kondisi tubuhnya, tiba-tiba terdengar suara besi bergemerincing lalu muncul sebuah tangan aneh yang kurus kering seperti cakar burung elang menyambar baki berisi hidangan itu

Dengan rasa kaget Lim Han-kim berpaling. Ternyata disudut ruangan penjara itu duduk seorang kakek kurus kering yang mengenakan pakaian compang-camping, Rambutnya kelihatan sangat kusut, kotor dan terurai tak karuan, wajahnya penuh ditumbuhi jenggot, kumis dan berewok sehingga menutupi raut wajah aslinya. sementara ia masih termenung, lubang pada dinding yang terbuka tadi kembali menutup rapat. suasana dalam ruang penjara pun kembali dalam kegelapan

Untung Lim Han-kim mempunyai ketajaman mata yang melebihi orang biasa, Meskipun berada dalam kegelapan, ia masih dapat melihat tempat duduk orang itu, bahkan diapun dapat menyaksikan dengan jelas semua tingkah laku serta gerak gerik-nya.

Kakek itu sangat kurus sehingga boleh dibilang tinggal kulit pembungkus tulang, Kecuali pakaian compang- camping yang menutupi bagian terlarang tubuhnya, boleh dibilang ia tidak memiliki apa-apa lagi.

Rupanya kakek itu sudah lama kelaparan Begitu menyambar baki kayu tersebut, dengan rakus ia sikat semua hidangan yang ada dan menelannya dengan tergesa-gesa.

Diam-diam Lim Han-kim menghela napas panjang, pikirnya: "Entah sudah berapa lama orang ini tidak makan, Aaaai, rakus betul orang ini..."

Biarpun orang itu mempunyai perawakan tubuh yang kecil, pendek lagi kurus kering namun takaran makannya luar biasa. Tak selang berapa saat kemudian semua hidangan yang ada telah dimakannya sampai habis.

Namun tampaknya ia belum puas, sepoci arak wangi yang tersisa diteguknya pula sampai ludes. setelah kenyang makan dan minum, sambil menepuk- nepuk perutnya, ia letakkan kembali baki itu ke lantai, Lalu dengan pandangan menyesal ditatapnya Lim Han- kim sekejap seraya berujar: "Eeei, bocah kecil, maaf kalau aku sikat habis hidangan yang menjadi jatahmu.

Baiklah aku berjanji akan mengembalikan jatah mu pada pengiriman berikut..."

"Aku tidak lapar" sahut Lim Han-kim sambil menggeleng.

"Tidak lapar?" tampaknya semangat kakek kurus kering terbangkit kembali setelah kenyang makan. Dengan mata berkilat kilat ia tertawa tergelak. "Ha ha ha... bocah kecil, Kecuali kau punya rencana ingin mati kelaparan dalam penjara ini atau tenaga dalammu sudah begitu sempurna hingga tidak makan pun masih bisa pertahankan jiwamu. Kalau tidak, kau mesti makan hidangan yang dikirim kemari..."

Bicara sampai di situ, tampaknya ia teringat kembali pada peristiwa sedih yang menimpa dirinya. semangat yang semula berkobar kini lenyap kembali. sesudah menghela napas panjang, lanjutnya: "Aku sudah terkurung dalam penjara ini lama... lama sekali.,."

Tak terlukiskan rasa terkejut yang menyelimuti perasaan Lim Han-kim, tanpa sadar ia berpikir: "Kalau sepanjang hidupku aku bakal terkurung dalam penjara bawah tanah yang gelap gulita ini, waah... bukankah lebih baik cepat mati saja..."

Berpikir sampai di situ, tanpa terasa ia bertanya: "sudah berapa lama locianpwe terkurung di sini?"

Kakek kurus kering itu menggaruk-garuk kepalanya yang kotor, lalu menggeleng sedih:

" Waktu yang pasti aku kurang jelas, tapi kalau dihitung-hitung rasanya sudah lebih dari dua tahun"

"Dua tahun-,."

"Apa kau anggap dua tahun terlalu pendek?" tukas kakek kurus itu dengan suara keras.

Tapi nada suaranya segera berubah jadi pedih lagi, terusnya: "Biarpun dua tahun tidak terhitung kelewat lama. Namun kau jangan lupa, kita terkurung dalam sebuah penjara bawah tanah yang tak memperlihatkan sinar sepanjang masa, Hidup sehari di sini rasanya lebih lama daripada hidup setahun, tujuh ratus hari sama saja dengan tujuh ratus tahun-.."

Tiba-tiba Lim Han-kim teringat pada ibunya yang menunggu di lembah Hong yap-kok. Tanpa terasa rasa sedih menyelimuti perasaannya, ia menghela napas panjang. Mendadak kakek kurus kering itu tertawa terbaha- bahak. suaranya amat nyaring dan menggema dalam ruang penjara yang dikelilingi batu yang kuat. Gema tertawanya memekakkan telinga, bagaikan suara guntur yang membelah bumi.

Dengan cepat Lim Han-kim kerahkan tenaga dalamnya untuk melawan suara gelak tertawa tersebut, Dengan perasaan was-was pikirnya: " Hebat benar tenaga dalam orang ini, Tampaknya kemampuan yang ia miliki tidak berada dibawah kemampuanku."

Gelak tertawa itu berlangsung kurang lebih seperminuman teh lamanya sebelum berhenti, lalu dengan suara yang menggeledek kakek itu berseru: "Hey bocah kecil, apakah kau mulai takut? Ha ha ha ... asal kau hidup selama dua tahun dalam penjara batu ini, aku percaya keadaanmu akan sejorok dan selusuh aku sekarang ini^..."

Lim Han-kim hanya mengawasi kakek , itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun. setelah menghela napas lagi kembali kakek kurus itu bertanya: "Bocah cilik, kenapa kau tak berbicara?"

Lim Han-kim tidak menanggapi pertanyaan itu, ia balik bertanya: "Locianpwee, selama dua tahun terkurung dalam penjara bawah tanah ini, apakah tidak ada niatan bagimu untuk melarikan diri?" "Agaknya mereka tahu kalau ruang penjara biasa tak mungkin bisa mengurung diriku, maka ruang penjara ini mereka bangun lebih kokoh dan kuat..."

Kemudian sambil menggetarkan rantai yang memborgol tubuhnya, dia meneruskan: "Bahkan rantai yang dipergunakan untuk memborgol badanku pun bukan terbuat dari bahan besi baja biasa.."

Lama dia berhenti bicara. Tampaknya pikiran dan perasaannya sedang kalut, tapi sesaat kemudian ia bertanya lagi dengan nada suara yang berubah: "Bocah kecil, aku lihat ilmu silat yang kau miliki cukup tangguh, Boleh aku tahu siapa guru- mu."

"Maaf, nama guruku tak boleh kuutara-kan secara sembarangan."

Kakek kurus itu tampak agak tertegun, tapi ia segera tertawa: "Tenaga khikang pekikan harimauku barusan mempunyai daya pengaruh yang amat besar dalam ruang penjara ini, Tidak setiap jago persilatan sanggup menghadapinya. Tapi kau sanggup menerima pekikan tersebut tanpa bergeming. Hal ini jelas menunjukkan bahwa tenaga dalam yang kau miliki benar-benar sudah amat sempurna."

Lim Han-kim tidak menggubris pertanyaan itu, dia malah pejamkan matanya dan bersandar pada dinding penjara. Melihat anak muda itu sama sekali tidak menggubris perkataannya, Kakek kurus itu jadi naik darah, sambil tertawa dingin tegurnya: "Hmmmm Bocah busuk. dengan usiamu begitu muda, kau berani bersikap kurang ajar kepadaku.."

Lim Han-kim membuka matanya, memandang kakek itu sekejap. lalu tersenyum dan tetap tidak berkata-kata, Berubah hebat paras muka kakek kurus itu, tapi nada suaranya berubah jadi lebih lembut dan ramah, katanya lagi: "Sekarang kita sudah menjadi senasib sependeritaan Ha ha ha... Bila aku mati kelaparan dalam ruang penjara ini, aku yakin kau pun tak bakal bisa hidup lebih lama."

Lim Han-kim menggerakkan bibirnya seperti akan mengucapkan sesuatu, tapi niat tersebut kembali diurungkan.

Terdengar kakek kurus itu berkata lebih lanjut: "Mereka sudah enam-tujuh hari tidak mengirim rangsum kepadaku, Hari ini tiba-tiba saja mereka mengirim hidangan dan arak wangi. Tampaknya aku sudah boleh ikut membonceng makan dengan kehadirannya"

Lim Han-kim menghela napas panjang. ia tetap membungkam dalam seribu bahasa. . "Hey bocah kecil, kau tahu siapakah aku?" dengan gusar kakek kurus itu menegur. Sambil tersenyum Lim Han-kim gelengkan kepalanya. Kakek itu berseru: "Kalau kau sering berkelana dalam dunia persilatan, tentu kau pernah mendengar nama besarku..."

Tampaknya orang ini sudah teriampau lama terkurung disitu dan tak punya kesempatan untuk bicara dengan orang lain, Tak heran bila ia jadi nyerocos tanpa henti.

Sayang orang yang diajak bicara adalah Lim Han-kim yang paling tak suka banyak bicara, Tak heran kalau kakek itu jadi mencak-mencak karena gusar.

Setelah mendehem berat beberapa kali kakek kurus itu berkata lebih jauh: "Bocah cilik, kenapa kau tak bersuara? kau pernah mendengar julukan si "Raja Monyet ceking, bukan?"

Dalam anggapannya, setelah mendengar julukannya "si Raja Monyet ceking," Lim Han-kim pasti terkejut setengah mati. Siapa tahu apa yang kemudian terjadi sama sekali di luar dugaannya, pemuda itu cuma tertawa hambar.

Kakek kurus itu semakin naik darah, hardiknya: "Akulah si Raja Monyet ceking Han Si-kong"

Lim Han-kim menghela napas panjang, ia tetap tidak menggubris perkataan kakek itu. Tiba-tiba Han Si-kong melompat bangun, rantai yang memborgol tubuhnya bergemerincing nyaring. "Nama si Raja Monyet Ceking Han si-kong mungkin belum pernah kau dengar, tapi sebutan si monyet tua tentu pernah kau dengar bukan?"

Dalam gusar dan mendongkolnya, ia berteriak-teriak macam monyet kena terasi saja. Lim Han-kim beriar- benar dibuat tak berdaya oleh ulah kakek tersebut, terpaksa jawabnya hambar: "Oooh, rupanya Han lo- cianpwee"

Han si-kong jadi kegirangan, serunya: "oooh... jadi dunia persilatan masih kenal dengan nama besarku meski sudah hampir dua tahun aku terkurung di sini?" Lim Han-kim menggeleng.

"Lantas... bukankah kita tak pernah bertemu, Darimana kau bisa tahu kalau aku adalah si monyet tua?"

"Aku baru mendengarnya dari mulutmu, "jawab Lim Han-kim singkat selesai bicara ia pejamkan matanya dan coba tidur. Biarpun dalam hati kecilnya Han si-kong amat gusar bercampur mendongkol namun dia tak bisa berbuat apa-apa terhadap pemuda tersebut, terpaksa dengusnya dingini

"Hmmm Suatu saat, bila aku sudah keluar dari penjara ini, aku pasti akan menghajarmu habis-habisan." Lim Han-kim menghela napas panjang: "Aaaai... harap locianpwee jangan salah paham, Aku hanya tak suka bicara saja."

"Anak muda, bersikaplah lebih terbuka" Belum lagi perkataan itu diselesaikan, mendadak terdengar lagi suara gemerincing nyaring bergema dari arah dinding penjara.

Setelah ada pengalaman pertama tadi, Lim Han- kim segera mengerti bahwa dinding tersebut sebentar lagi akan terbuka. Cepat-cepat ia melompat bangun dari tidurnya

Benar juga, gema suara gemerincing tadi disusul dengan terbukanya sebuah pintu rahasia dari atas dinding penjara tersebut, Dua orang gadis berbaju hijau yang membawa pedang dan lentera berjalan masuk ke dalam ruangan tersebut.

Mendadak Han si-kong melompat bangun, tangan kanannya secepat kilat menyambar pergelangan tangan dayang berbaju hijau yang berjalanpaling depan itu. "Traaaaang.."

Dentingan nyaring kembali bergema, sebelum jari tangannya sempat menyentuh tubuh dayang berbaju hijau itu, rantainya sudah sampai di ujung sehingga kakek tersebut tak sanggup meneruskan gerakkan-nya lagi. Ternyata sewaktu dirantai, panjang rantai tersebut telah diperhitungkan secara matang dengan jarak pintu rahasia tersebut sehingga dengan begitu uluran tangan Han si-kong gagal mencapai sasarannya.

Dayang berbaju hijau yang diserang tadi mendengus dingin, pedangnya diayunkan ke muka balas membabat tubuh lawan, Dengan gerakan cepat Han si-kong memutar tubuhnya menghindari babatan pedang itu, menyusul kemudian sebuah pukulan kembali dilontarkannya.

Agaknya ia sadar kalau ujung jarinya tak mungkin bisa menyentuh tubuh lawan, maka dalam serangannya kali ini dia kerahkan juga tenaga dalamnya.

segulung angin pukulan yang sangat kuat segera menyambar ke muka, membabat tubuh dua orang gadis berbaju hijau itu. selapis bunyi nyaring bergema dalam ruang penjara,

Agaknya tenaga pukulan itu benar-benar kuat dan ampuh.

serentak dua orang gadis berbaju hijau itu melompat ke samping untuk menghindarkan diri dari babatan angin serangan yang sangat kuat itu. "Blaaaammmmm"

Diiringi getaran yang sangat kuat, angin pukulan itu menghajar bagian atas dinding sampai menimbulkan suara yang memekakkan telinga. "sempurna amat tenaga dalam orang ini," puji Lim Han-kim dalam hati.

setelah berhasil menghindarkan diri dari pukulan dahsyat itu, dua orang gadis berbaju hijau itu menerjang ke sisi Lim Han-kim dengan cepat salah seorang di antaranya segera berkata: " Lim siang kong, nona kami perintahkan agar mengundang Lim siang kong pindah ke tempat hunian baru."

Dalam saat itu Lim Han-kim sudah mencoba mengerahkan tenaga dalamnya untuk mematahkan rantai yang membelenggu tubuhnya, namun usaha tersebut tidak berhasil. Dia lantas angkat kepala dan memandang dua orang gadis itu dengan pandangan dingin, mulutnya tetap membungkam.

Tiba-tiba gadis berbaju hijau yang berjalan duluan itu berpaling ke arah Han si-kong sambil membentak: "Hmmmm... monyet tua, malam nanti kami akan mengadu ilmu lagi, jika kau tetap membangkang..."

"Budak busuk" tukas Han si-kong tak kalah gusarnya. "Kau anggap aku manusia macam apa? Tak nanti aku akan menuruti perintah kaum wanita macam kalian...

Hmmmm... hmmmmm... ingin aku mengabulkan permintaan kalian? Huuuh, tanggung lebih susah daripada naik ke langit." "Kau tak usah berlagak sok. Asal kau mampu menahan siksaan kami, mengabulkan atau tidak permintaan kami itu terserah padamu."

"Hmmm Aku tak akan memikirkan mati hidupku di dalam hati." Gadis berbaju hijau itu balas tertawa dingin:

"sudah banyak jago persilatan yang kujumpai kehilangan kegagahan serta kependekarannya di bawah siksaan keji.. Bahkan banyak di antaranya yang merengek-rengek minta ampun. Hmmm Aku tak percaya tubuhmu itu otot kawat tulang besi yang tahan bantingan. jangan sampai tiba waktunya nanti kau pun merengek-rengek minta ampun."

"Budak sialan" teriak Han si-kong penuh amarah, sebuah pukulan kembali di-lontarkannya. Dua gadis berbaju hijau itu tahu tenaga pukulan yang dimiliki lawannya sangat tangguh, buru-buru mereka melompat ke samping menghindarkan diri.

salah seorang gadis berbaju hijau itu segera mengeluarkan sebuah anak kunci dari sakunya dan memasukkannya ke dalam sebuah lubang kecil di atas dinding batu tersebut Ketika diputar tiga kali ke kanan, tiba-tiba saja rantai yang memborgol tubuh Lim Han- kim terbuka secara otomatis.

sekalipun borgol sudah dilepas, namun rantai besi yang membelenggu tubuhnya masih mengikat badannya kencang-kencang, Lim Han- kim melompat bangkit, tegurnya: " Kalian hendak membawaku ke mana?"

Gadis berbaju hijau itu tertawa, "Nona telah berpesan agar kami mengantar Lim kongcu pindah ke sebuah tempat yang indah dan bersih," Kemudian setelah berhenti sejenak, tambahnya: "Kami hanya menjalankan perintah, semoga Lim kongcu jangan menyusahkan kami berdua."

Lim Han- kim manggut-manggut " Kalau begitu mari kita berangkat" kata gadis berbaju hijau yang pertama sambil mengangkat lenteranya, Berangkatlah dua orang gadis itu menggiring Lim Han- kim keluar dari ruang penjara: Kepada Han si-kong, pemuda kita menggapai sambil serunya: "Locianpwee, harap kau jaga diri baik- baik"

Begitu keluar dari pintu penjara, pintu rahasia tersebut kembali tertutup rapat secara otomatis. sambil berjalan beriringan dengan pedang terhunus, kedua orang gadis berbaju hijau itu mengajak Lim Han- kim keluar dari pintu penjara, menelusuri lorong bawah tanah selebar dua-tiga depa dan menuju ke arah muka.

Waktu itu seluruh tubuh Lim Han- kim masih dibelenggu rantai, Tak heran ketika ia berjalan rantai tersebut menimbulkan suara gemerincing nyaring, setelah melewati beberapa buah tikungan akhirnya sampailah mereka di sebuah persimpangan jalan, Mendadak gadis berbaju hijau yang pertama itu berhenti sambil balikkan badan, lalu katanya sambil tertawa:

"Lim kongcu, kau tentunya orang yang cerdik dan mengerti keadaan, Lebih baik jangan punya ingatan untuk melarikan diri. Aaaaai, ketahuilah hal mana bisa mendatangkan bencana kematian bagimu."

Dengan sorot mata dingin Lim Han- kim mengawasi dua orang gadis itu sekejap. sementara mulutnya tetap membungkam.

Dari dalam sakunya gadis itu kembali mengeluarkan selembar kain hitam, katanya lebih jauh: "Kami terpaksa harus menyiksa siangkong sebentar dengan menutupi sepasang matamu."

Lim Han-kim mengerti keadaan semacam itu tak mungkin dihindari, maka ia pejamkan matanya dengan pasrah, Dengan cepat gadis berbaju hijau itu mengikat sepasang mata pemuda tersebut dengan kain hitam yang sudah tersedia.

Tak lama kemudian Lim Han-kim merasa tangannya digandeng orang untuk meneruskan perjalanannya dengan langkah lebar, jalan yang mereka tempuh makin ke atas. Rasanya mereka sedang melewati anak tangga yang menjorok ke atas permukaan tanah. Ehtah berapa saat kemudian tiba-tiba tangannya ditahan orang dan merekapun berhenti lalu terdengar gadis berbaju hijau itu berseru sambil tertawa merdu: "sudah sampah sebentar lagi aku dapat melepaskan kain penutup matamu."

Lim Han-kim merasakan rantai di tubuhnya berdenting nyaring, disusul kemudian kain penutup matanya dilepas orang, Ketika ia dapat melihat kembali, tampak dua orang gadis berbajuk hijau itu sudah keluar dari pintu hingga cuma nampak bayangan punggung mereka saja yang menjauh.

Kini ia sudah berada dalam sebuah gedung dengan dekorasi serta perabot yang indah dan mewah, selain ruang utama terdapat pula sebuah kamar dengan pembaringan serta kelambu yang sangat mewah.

Lim Han-kim coba mengalihkan sinar matanya untuk memperhatikan sekeliling tempat itu. ia dapat melihat bahwa pada ruang utama maupun kamar tidur, masing- masing terdapat sebuah jendela, Haneja saja jendela itu berterali besi yang dilapisi pula oleh sebuah jala kawat.

Terali besi itu besarnya seibu jari dan kelihatan kuat sekali, Biar orang berilmu tinggi pun rasanya susah untuk mematahkan besi tersebut, meski begitu Lim Han-kim yakin bahwa ruangan ini sudah berada di atas permukaan tanah. " Waktu itu meskipun dalam ruangan diterangi cahaya lampu, namun suasana terasa mulai redup, agaknya saat itu senja telah menjelang tiba. Ketika ia coba berpaling, pintu di mana dua orang gadis tersebut keluar masih berada dalam keadaan terbuka.

Hanya tujuh-delapan depa setelah itu, jalanan berbelok ke kanan sehingga tak dapat dilihat apakah jalan itu tembus dengan penjara bawah tanah atau tidak.

sewaktu masuk ke dalam kamar tadi, sepasang mata pemuda ini ditutup rapat-rapat sehingga membuatnya sukar untuk membedakan mana jalan yang telah dilewatinya. Di tambah lagipesan dari dua orang gadis tersebut sebelum pergi, sementara badannya masih dirantai kuat-kuat. pemuda itu sadar bahwa di balik pintu yang dibiarkan terbuka itu pasti sudah disiapkan jebakan yang sangat lihai, maka dari itu ia memilih lebih baik duduk mengatur pernapasan sambil berusaha mencoba meloloskan diri

Karena itulah Lim Han-kim segera menuju ke ruang utama dan duduk bersila di sudut ruangan, ia mencoba mengatur napas, namun bagaimana pun dicoba usaha itu gagal pikirannya terasa kusut, pelbagai kemurungan dan kekesalan hatinya bertumpah ruah dalam benaknya.