-->

Pedang Keadilan I Bab 05 Geger Di Kuil Awan Hijau

 
Bab 05. Geger Di Kuil Awan Hijau

Lim Han-kim sebera bangkit berdiri, memberi hormat dan berlalu dari sana dengan langkah lebar, "saudara cilik, tunggu sebentar" Tiba-tiba Kim Nio-nio berteriak sambil menghentikan langkahnya, Lim Han-kim berpaling, Sambil menyusul datang Kim Nio-nio berkata:" walaupun kau tak berminat menganggapku sebagai kakak. namun aku punya maksud menganggapmu sebagai adik, Perduli bagaimana pandanganmu terhadapku yang pasti aku dapat menemukan kembali adikku yang hilang lewat nada suara, wajah serta senyumanmu. "

Dari sakunya dia keluarkan sebuah lencana terbuat dari emas, sambil disodorkan ke hadapan pemuda tersebut, tambahnya: "Anggaplah lencana emas ini merupakan tanda mataku untukmu, siapa tahu benda ini akan berguna bagimu di kemudian hari."

Lim Han-kim berpikir sebentar, lalu mengangguk: "Baiklah, akan kuterima pemberian ini"

Tanpa dilihat lagi, ia masukkan lencana tersebut ke dalam sakunya, Kim Nio-nio tertawa sedih, serunya: "Moga-moga Thian dapat mengaturnya kembali waktu perjumpaan kita di kemudian hari, Dan sewaktu kita bertemu lagi nanti, kuharap kau sudah dapat melenyapkan kemurungan yang meliputi wajahmu, Ingatlah, mesti banyak kejadian sedih terdapat di dunia ini, namun masih banyak pula kenangan manis yang bisa dibayangkan kembali, saudara cilik, semoga kau baik- baik menjaga diri dan maaf cici tidak dapat menghantar"

Lim Han-kim menjura beberapa kali dan melangkah ke luar dari ruang perahu dengan langkah lebar. Tujuh delapan orang lelaki bersenjata yang berdiri berjajar di geladak serentak membungkukkan badan memberi hormat.

Lim Han-kim menyapu pandang sekejap ke sekeliling tempat itu, lalu tanpa membuang waktu lagi sebera melangkah naik ke daratan,

Waktu itu Yu siau-liong sudah menanti di tepi sungai, Begitu melihat Lim Han-kim naik ke darat, ia segera lari menyambutnya. Kemudian sambil menghembuskan napas panjang keluhnya: "Huuh, hampir saja membuatku mati karena panik"

Tampak Li Bun-yang sambil mengempit dua batang kayu sepanjang tiga depa sedang memburu datang, Tapi begitu melihat Lim Han-kim telah mendarat dengan selamat, sambil tersenyum ia buang kayu-kayu itu ke atas tanah. Betapa terharunya Lim Han-kim setelah melihat batangan kayu itu, dia tahu Li Bun-yang hendak menggunakan daya apung kedua batang kayu itu untuk mengejar perahu serta berusaha menyelamatkan jiwanya. Tapi sebagai pemuda yang segan banyak cakap. kali ini pun ia cuma manggut-manggut sambil tersenyum Dengan suara setengah berbisik Li Bun-yang sebera berkata:

"Tampaknya perahu besar itu adalah istana berjalan di tengah sungai yang sudah kondang namanya dalam dunia persilatan Tak nyana saudara Lim bisa pulang dengan selamat, sungguh membuat aku kagum.

Tampaknya pertempuran yang kau alami tadi sangat sengit dan dahsyat "

sambil tertawa Lim Han-kim menggeleng berulang kali: "Keliru Mereka tidak memaksa aku untuk bertempur, malah merekalah yang menghantarmu kembali ke sini."

"Aaah, masa begitu?" seru Li Bun-yang keheranan Belum sempat Lim Han-kim menjawab, mendadak

kedengaran suara seorang perempuan berseru: "Tuan muda Lim, apakah kau hendak menyeberang?"

"Sekalipun ingin menyeberang, aku tak berani merepotkan kalian untuk menghantar." Dari atas perahu besar itu pelan-pelan diturunkan sebuah sampan kecil, kemudian mereka naikkan papan pendarat dan berlayar lagi ke tengah sungai, Hanya dalam waktu singkat perahu besar itu sudah lenyap di kejauhan sana, kecepatannya sungguh luar biasa. sementara sampan kecil yang diturunkan tadi, pelan- pelan meluncur ke tepian.

sampan tersebut didayung oleh dua orang dayang kecil berbaju hijau, samar-samar Lim Han-kim mengenali kembali salah seorang di antaranya sebagai dayang yang membawanya masuk ke ruang dalam untuk menjumpai Kim Nio-nio tadi. Tampak dayang itu menghampiri Lim Han-kim, setelah memberi hormat katanya lembut:

"Hamba mendapat perintah untuk menghantar tuan muda menyeberangi sungai ini"

Lim Han-kim coba memperhatikan sampan tersebut Tampak kedua ujung sampan tersebut berbentuk runcing dan memanjang mirip ujung tombak. sedang badannya pipih memanjang, paling banter hanya bisa memuat tiga sampai lima orang.

Melihat keraguan pemuda tersebut, sambil tersenyum dayang berbaju hijau itu berkata lagi: "Tuan muda tak usah kuatir, sejak kecil aku dibesarkan dalam air, kami sudah terbiasa mengendalikan sampan sekecil ini, tanggung tuan muda tak. akan dibuat panik apalagi kaget." "Tapi sampanmu begitu kecil, mana mungkin bisa menyeberangi kami bertiga, ditambah dua ekor kuda?" tukas Yu siau-liong" ragu-ragu.

"Jangan kuatir" sahut si dayang sambil tertawa, "sampan ramping semacam ini memiliki daya apung yang luar biasa besarnya, Asal kuda-kuda itu tidak berjingkrak di atas sampan, tanggung kalian bisa kuseberang-kan dengan selamat tanpa kekurangan sesuatu pun."

Yu siau-liong tak berani sembarangan mengambil keputusan, ia memandang kakaknya sekejap baru katanya: "Toako, apakah kita akan menggunakan sampannya?" Lim Han-kim berpikir sebentar, akhirnya mengangguk "Tuntunlah kuda-kuda itu ke sampan"

Yu siau-liong mengiakan dan sebera ber-lalu, Tak lama kemudian ia sudah muncul di tepi sungai sambil menuntun dua ekor kuda.

Kedua orang dayang itu menurunkan dulu kedua ekor kuda tersebut ke atas sampan, kemudian baru ujarnya sambil tertawa: "Silahkan kalian bertiga naik ke sampan"

Li Bun-yang melompat turun dulu ke sampan, disusul kemudian oleh Lim Han-kim dan Yu siau-liong. Li Bun- yang sudah cukup lama bergerak di dalam dunia persilatan pengalamannya cukup matang, Begitu melompat ke sampan, secara diam-diam dia awasi gerak gerik kedua orang dayang itu. Walau di luarnya ia bersikap santai.

Cara kerja kedua orang dayang itu tampak sungguh berpengalaman Satu mendayung yang lain memegang kemudi, dalam waktu sekejap mereka sudah berada di tengah sungai, Gulungan ombak yang besar sama sekali tidak mengolengkan sampan kecil itu. Bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya, sampan itu meluncur lurus ke pantai seberang.

sementara itu Lim Han-kim duduk bersila di lantai dan memejamkan matanya untuk mengatur pernapasan Ketika Li Bun-yang mencoba memperhatikan pemuda tersebut dan melihat jidatnya basah oleh butiran keringat, hatinya jadi sangat keheranan Tapi ia segan untuk bertanya, terpaksa pertanyaan tersebut disimpannya di, dalam hati. Ketika mencapai pusat sungai, ombak yang menggulung makin lama semakin besar, ditambah beban yang dibawa sampan itu amat berat, membuat sampan itu naik turun hampir rata dengan permukaan air, keadaan sungguh mengerikan.

Untung saja kedua orang dayang itu sangat mahir mengendalikan sampannya, setelah berjuang hampir setengah jam lamanya, akhirnya sampailah mereka di pantai seberang, Dengan menuntun kudanya Yusiau- liong mendarat duluan diikuti Li Bun-yang, Hanya Lim Han-kim tetap duduk bersila tanpa bergerak, sementara butiran keringat yang membasahi jidatnya makin deras.

Dua orang dayang itu keheranan, tak tahan seorang di antaranya berseru keras, "Tuan muda Lim, perahu telah merapat dengan darat. Kami masih harus kembali untuk membuat laporan. "

Perlahan-lahan Lim Han-kim membuka matanya dan melompat turun dari sampan tersebut setelah berjalan beberapa langkah, dia baru membalikkan badan sambil katanya: "Terima kasih atas bantuan nona berdua."

"Tidak berani." Kedua orang dayang itu menyahut, sambil tertawa, "Harap tuan muda menjaga diri baik- baik." sampan itu didayung kembali ke tengah sungai, Dalam waktu singkat mereka sudah lenyap di balik gulungan ombak.

selama ini Li Bun-yang memperhatikan terus keadaan Lim Han-kim. Ketika itu ia menjumpai keringat yang membasahi dahi pemuda tersebut telah hilang, perasaan tegang pun telah pulih menjadi kemurungan, hal mana membuatnya semakin tak habis mengerti, pikirnya: "Jika dilihat dari keadaannya tadi, dia seakan-akan terserang penyakit yang amat berat, tapi sekarang keadaannya normal kembali, Betul-betul sangat aneh. "

Makin dipikir ia merasa semakin tak habis mengerti, makin diingat makin kebingungan Tetapi dengan pengalamannya yang cukup luas dalam dunia persilatan, ia mengerti bahwa hal semacam itu tabu untuk ditanyakan, maka masalah tersebut pun hanya disimpan di dalam hati.

setelah mendarat, berangkatlah ketiga orang itu menuju ke Kuil Awan HHijau di Bukit Ciong-san. Li Bun- yang sangat hafal dengan daerah di sekitar sana, Dipimpin olehnya, perjalanan mereka bertiga merasa lebih cepat dan gampang.

Kurang lebih dua jam kemudian, di kala matahari mulai terbit di ufuk Timur, sampailah mereka bertiga di depan Kuil Awan Hijau, Bangungan Kuil Awan Hijau tidak termasuk luas, sekeliling pagarnya hanya memakai tanah seluas setengah hektar saja.

Baru saja mereka bertiga sampai di luar kuil, tiba-tiba pintu gerbang yang semula tertutup rapat itu terbuka lebar, lalu seorang imam berjenggot panjang yang berusia antara empat puluh tahunan muncul di muka pintu menyambut kedatangan mere-ka.

Buru-buru Li Bun-yang berebut maju ke muka sambil berseru: "Terima kasih, terima kasih, kami tak berani merepotkan totiang untuk menyambut sendiri kedatangan kami."

Ternyata imam ini tak lain adalah ketua Kuil Awan Hijau yang sedang mereka cari, sambil tersenyum ketua Kuil Awan HHijau menyapa: "Tuan muda Li, rupanya kau pun ikut datang."

"Sudah lama aku tidak mengunjungi ketua, rasanya kangen sekali, itulah sebabnya aku datang bertandang." jawab Li Bun-yang tertawa.

"Aaah... aku mana berani menerima kunjungan ini, silahkan masuk ke dalam kuil untuk minum teh."

sementara itu dua orang imam kecil muncul dari belakang imam tersebut untuk menerima tali les kuda dari tangan Yu siau-liong.

Yu siau-liong memperhatikan kedua orang imam kecil itu sekejap, lalu menyerahkan tali les kudanya kepada mereka dan menurunkan bekalan dari punggung kuda.

Dengan sinar mata yang tajam bagaikan sengatan listrik, ketua Kuil Awan Hijau memperhatikan Lim Han- kim dan Yu siau-liong sekejap. lalu tanyanya perlahan: "siapakah di antara kalian yang bernama tuan muda Lim?"

"Aku yang muda Lim Han-kim." Pemuda Lim segera memberi hormat. "Boleh kutahu apakah tuan adalah ketua Kuil Awan Hijau Ci Mia-cu?"

"Yaa, akulah orangnya." Imam itu terse-nyum, "Ibu Anda telah mengirim surat lewat burung merpati yang mengabarkan bahwa kau akan tiba di sini dalam beberapa hari ini, karena itulah sudah cukup lama kunantikan kedatangan tuan muda."

Dengan sedih Lim Han-kim menghela napas panjang, kepalanya ditundukkan rendah-rendah. Dengan kening berkerut Ci Mia-cu memperhatikan pemuda itu sekejap. tapi cepat ujarnya lagi: "Silahkan masuk ke dalam kuil"

sambil berkata ia berjalan duluan menuju ke depan. Li Bun-yang, Lim Han-kim dan Yu siau-liong sebera mengikuti di belakang ketua Kuil Awan Hijau itu, sementara kedua orang imam kecil tadi dengan menuntun kuda berjalan lewat jalan setapak di sisi bangunan. 

setelah melewati pelataran yang penuh ditumbuhi bunga tho, mereka menaiki tujuh lapis anak tangga yang terbuat dari batu keras, kemudian masuk ke sebuah halaman lagi melalui sisi kiri gedung utama.

sebaris pohon bunga tho tumbuh mengelilingi sebuah bangunan mungil ci Mia-cu langsung mengajak ketiga orang tamunya memasuki ruangan tersebut.

Dalam ruangan tampak teratur rapi meja kursi yang terbuat dari bambu, lantainya sangat bersih, seorang imam kecil berdiri lurus di samping, "silahkan duduk. "

bisik Ci Mia-cu dengan lirih. Lalu kepada imam kecil di samping ruangan ia berkata: " Hidangkan air teh" Imam kecil itu mengiakan dan segera berlalu, Selang beberapa saat kemudian dia telah muncul kembali dengan membawa sebuah baki kayu.

"Silahkan kalian bertiga minum teh, aku hendak mohon diri sekejap." kata ci Mia-cu

"Silahkan loecianpwee" sahut Li Bun-yang.

Sambil tertawa dan manggut-manggut ci Mia-cu segera keluar dari ruangan dengan langkah tergesa-gesa. sementara itu Li Bun-yang sudah merasakan gelagat yang kurang enak, dipandangnya Lim Han-kim sekejap lalu tegurnya: "Saudara Lim"

Paras muka Lim Han-kim yang pada dasarnya sudah murung, kini kelihatan lebih muram, sepasang alis matanya berkerut, agaknya ada sesuatu yang mengganjal hati-nya.

Tampak dia mengiakan perlahan dan angkat kepalanya sambil bertanya: "Ada apa saudara Li?"

"Apakah saudara Lim sudah kenal dengan ketua Kuil Awan Hijau?"

"Belum" Lim Han-kim menggeleng.

Li Bun-yang tidak banyak bertanya lagi, diambilnya cawan teh dan diteguk isinya, Seperminum teh lamanya suasana berlalu dalam keheningan, bahkan Yu Siau-liong yang biasanya selalu tertawa pun ikut terpengaruh oleh situasi tersebut wajahnya yang kecil

dan memerah berubah jadi sangat tegang, ia duduk mematung terus tanpa bicara.

Lebih kurang seperminum teh kemudian, ci Mia-cu baru muncul kembali dengan wajah penuh senyuman, sapanya: "Tuan muda Lim"

"Ada apa locianpwee " Lim Han-kim menjura.

"syukur pendekar Ciu berhasil mempertahankan diri hingga detik ini, dan syukur pula tuan muda Lim telah berhasil sampai di sini"

Tiba-tiba saja paras muka Lim Han-kim berubah sangat hebat Sekujur tubuhnya gemetar keras, namun tak sepatah kata pun yang sanggup diutarakan ke luar. Ci Mia-cu jadi sangat keheranan, setelah termenung sejenak katanya:

"Dalam surat yang dikirim lewat burung merpati, ibumu mengatakan bahwa kau datang ke mari dengan membawa pil mustika seribu tahun yang berkasiat menyelamatkan jiwa orang Aaaai"

setelah menghela napas panjang, lanjutnya:

"Demi menyelamatkan jiwa pendekar Ciu, aku telah berupaya dengan segala kemampuan yang kumiliki syukur situasi yang demikian kritis segera akan berlalu. "

"Tuan ketua." tiba-tiba Li Bun-yang menyela, " Kecuali pil jinsom seribu tahun, apakah tiada obat lain yang bisa menyembuhkan luka yang diderita Ciu Tayhiap?"

Ci Mia-cu menggelengkan kepalanya berulang kali. "Yaa, selain pil jinsom seribu tahun, aku belum

menemukan obat lain yang bisa dipergunakan untuk mengobati luka yang diderita ciu tayhiap."

Perlahan-lahan Lim Han-kim mengangkat kepalanya, tapi sebelum ia sempat mengucapkan sesuatu, Ci Mia-cu telah berkata lagi:

" Untung sekali Ciu tayhiap memiliki tenaga dalam yang amat sempurna. Dia pun memiliki daya tahan yang mengagumkan coba kalau berbicara dari luka yang dideritanya, mustahil dia dapat bertahan selama beberapa hari saja tapi nyatanya sekarang, ia sanggup

bertahan sampai berapa bulan lamanya."

"llmu pertabiban yang totiang miliki tiada duanya di dunia ini. Aku rasa justru kepandaianmu itulah yang bisa mempertahankan jiwa Ciu tayhiap dari kematian." kata Li Bun-yang.

Ci Mia-cu angkat kepala memandang ke luar ruangan, lalu katanya sambil tertawa: "sekarang ia sudah tertidur, Paling tidak satu jam kemudian baru bisa sadar untuk minum obat, mari kita gunakan kesempatan ini untuk berbicang-bincang " setelah menghela napas panjang,

lanjutnya:

"Tubuhnya secara beruntun telah menderita tujuh belas kali tusukan pedang, Tiga tusukan di antaranya melukai otot dan tulangnya, selain itu isi perutnya juga telah bergeser lantaran terkena pukulan keras. Berkat tenaga dalamnya yang sempurna itulah ia dapat mempertahankan diri dan lari hingga sampai di sini."

"Betul aku menguasai ilmu pengobatan, tapi ilmuku belum mampu untuk menghidupkan kembali orang mati, Apalagi luka separah ini bukan sembarangan obat yang bisa menyembuhkan Dalam situasi begini terpaksa aku mengirim surat lewat burung merpati untuk minta bantuan ke lembah Hong-yap- kok. di samping kusuruh orang membeli pelbagai macam obat guna memperpanjang usia Ciu tayhiap "

"Totiang, bolehkah aku menjenguk sekejap keadaan luka yang diderita ciu tayhiap?" tiba-tiba Lim Han-kim menyela. ci Mia-cu berpikir sebentar, lalu sahut-nya:

"Pada saat ini nafasnya sudah satu-satu, nyawanya berada di ujung tanduk. Boleh dibilang pada bulan terakhir ini dia selalu berada dalam keadaan tak sadar. Bila Lim Kongcu ingin menjumpainya, lebih baik tunggulah sampai dia minum pil jinsom seribu tahun dulu dan benar-benar sadar kembali. "

Lim Han-kim segera melompat bangun, serunya: "ijinkanlah kepadaku untuk menengok Ciu tahyiap barang sekejap saja. Aku cukup menengoknya dari luar ruangan."

"Ling kongcu, mengapa kau terburu-buru ingin menjenguk Ciu tayhiap?"

Dengan mata melotot besar menahan lelehan air mata, Lim Han-kim berseru dengan sedih: "sebotol pil jinsom seribu tahun yang kubawa telah dicuri sekelompok orang tak dikenal. "

Bagaikan kena dipukul dengan martil berat dadanya, sekujur badan Ci Mia-cu bergetar keras, teriaknya setengah tak yakin: "Pil itu dicuri orang?"

"Aaaai.. Pil itu sudah dicuri orang, Aku telah menyia- nyiakan kepercayaan banyak pihak. Bukan cuma pil itu tercuri, bahkan jiwa Ciu tayhiap pun ikut terancam....

Dosaku benar-benar tak terampuni. "

Walaupun ci Mia-cu mempunyai iman yang tebal dan tidak mudah panik, namun menghadapi situasi yang sama sekali tak terduga ini, ia dibuat gelagapan juga, Akhir-nya sambil menghela napas tanyanya: "Se- benarnya pil mustika itu tercuri di mana?" "Dipesanggrahan Tho-hoa-kit"jawab Yo siau-liong cepat "Tapi kejadian ini tak bisa salahkan kakakku, orang lain tidak merampasnya dengan cara kekerasan. "

Lim Han-kim hanya membungkam diri dalam seribu basa, sementara peluh dan airmata bercucuran bagaikan hujan gerimis yang membasahi bajunya, saat itulah Li Bun-yang ikut bicara, katanya: "Mencari kembali pil yang tercuri bukan pekerjaan gampang yang bisa diselesaikan dalam satu dua hari, totiang. Aku rasa pekerjaan pahng penting yang harus kita kerjakan sekarang adalah mencari akal, bagaimana caranya mempertahankan jiwa Ciu tayhiap lebih lama lagi."

Perlahan-lahan Ci Mia-cu bangkit berdiri, sekuat tenaga ia berusaha mengendalikan gejolak perasaannya yang menggelora. setelah tertawa hambar, bisiknya kepada Lim Han-kim:

"Kalau toh pil itu sudah terlanjur dicuri orang, Lim Kongcu juga tak perlu bersedih hati. Aku pasti akan berusaha dengan segala kemampuan yang kumiliki untuk memperpanjang- umur ciu tay-hiap"

Dengan ujung bajunya Lim Han-kim menyeka air mata serta keringat dari wajah-nya, lalu ujarnya: "Aku telah menyebabkan hilangnya pil mustika itu. Kulau sampai gara-gara peristiwa ini mengakibatkan jiwa Ciu tayhiap terancam, aku. " Mendadak terdengar suara sayap membelah angkasa, seekor burung beo berbulu putih bersih telah meluncur masuk ke dalam ruangan dan hinggap di bahu Li Bun- yang. Ci Mia-cu memandang beo putih itu sekejap. lalu katanya:

"selama mengembara dalam dunia persilatan ciu tayhiap selalu membantu kaum lemah menentang yang jahat, ia berjiwa besar dan banyak berbuat amal, orang berjiwa mulia selalu dilindungi Thian, Aku yakin Ciu tayhiap tak akan tewas gara-gara kejadian ini. Lim kongcu kau pun tak usah kelewat sedih, jaga kesehatan badanmu."

secercah cahaya tajam berkilauan dari balik mata Lim Han-kim. Tampaknya dalam waktu singkat dia telah mengambil suatu keputusan, ujarnya:

"setelah Ciu tayhiap sadar nanti harap lotiang mengijinkan aku untuk menjengUknya."

"Baik Aku pasti akan memenuhi harapan Lim kongcu. "

"Totiang, totiang " Tiba-tiba terdengar burung beo

putih itu memanggil-manggil dengan suara nyaring.

Dengan kening berkerut Li Bun-yang segera bergumam: "Aneh betul, burung beo soat-bi-ji ini selalu menempel di tubuh adik-ku. Mengapa secara tiba-tiba ia bisa muncul sendirian di Kuil Awan Hijau...?"

Belum habis gumaman itu, suara tertawa yang amat merdu telah menggema dari luar ruangan: "Piauko, kau pintar di masa lalu tapi bodoh amat hari ini. Masa kau tak bisa menduga bahwa soat-bi-jipun bisa dicuri orang?"

sementara Li Bun-yang masih tertegun dan tak sempat mengucapkan sesuatu, seorang gadis berusia empat-lima belas tahunan yang mengenakan baju serba hijau dan rambutnya dikepang dua telah muncul di situ dengan senyum nakal menghiasi bibirnya.

sambil setengah melompat dia berlari menuju ke hadapan Li Bun-yang. Dengan pandangan yang binal ditatapnya seluruh ruangan itu sekejap. Namun ketika matanya tertuju ke wajah Lim Han-kim, ia jadi tertegun, segera bisiknya: "Piauko (kakak misan), mengapa sih orang ini menangis?"

Li Bun-yang tampak serba salah oleh ulah adik misannya yang nakal ini, dengan kening berkerut ia menegur: "Jadi kau ke mari seorang diri?"

"Memangnya tak boleh?"

"Kau telah mencuri soat-bi-ji miliknya ia pasti

gelisah tak karuan, aneh kalau dia mau mengampuni dirimu nanti. " "Hmmm Takut apa." seru si nona sambil tertawa. "Di meja hiasnya telah kutinggali sepucuk surat, Aku beritahu kepadanya kalau aku datang ke kota Kim-leng ini untuk mencari ketua Kuil Awan Hijau..."

Tampaknya Ci Mia-cu tidak kenal dengan gadis kecil ini, dengan kening berkerut tegurnya:

"Nona, ada urusan apa kau mencariku?" Nona berbaju hijau itu tertawa.

"sering piauci (kakak misan perempuan) berkata ilmu pedangmu luar biasa hebat-nya. Karena itu aku sengaja datang ke mari untuk menjajal kehebatan ilmu silatmu." Ci Mia-cu melongo, tapi cepat serunya:

"Aaah, itu cuma gurauan nona Li, harap nona jangan percaya."

"Kau tak usah takut, aku cuma ingin tahu siapa yang lebih unggul di antara kita. Dan lagi antara kau dan aku kan tiada dendam sakit hati apa pun, aku tak akan melukaimu."

Biarpun usianya masih muda, namun lagak bicaranya amat sok. Dengan gelisah Li Buh-yang segera menghardik: "Hey, kau jangan bicara tak karuan"

Nona berbaju hijau itu tertawa, kepada Ci Mia-cu serunya: "Kalau kita bertarung nanti, lebih baik jangan sampai ketahuan piaukoku ini." Melihat nona itu masih muda dan lagi sifat kekanak- kanakannya belum hilang, Ci Mia-cu tidak masukkan persoalan itu kedalam hati, hanya ujarnya sambil tertawa hambar: "Aku hanya punya nama kosong saja, bisa jadi kepandaianku bukan tandingan nona. Aku rasa lebih baik kita tak usah mencoba "

"Totiang, harap kau jangan marah." Dengan gelisah Li Bun-yang menimbrung, "Adik misanku ini sudah kelewat dimanja sedari kecil sehingga kata-katanya kelewat takabur, Harap totiang jangan masukkan ke dalam hati. "

Ci Mia-cu tertawa lebar: "Aku sudah setua ini, masa akan kulayani adikmu. " Kemudian dengan wajah serius

ujarnya kepada Lim Han-kim: "Lim kongcu" "Ada apa locianpwee?"

"Apakah pencuri pil mustika itu meninggalkan sesuatu jejak?"

"Eei, tosu tua " Mendadak nona berbaju hijau itu

menimbrung lagi dengan suara keras. Li Bun-yang jadi jengkel, dipandangnya gadis itu sekejap lalu tegurnya ketus: "Hey, bagaimana kalau tutup dulu mulutmu. Kau tahu kami sedang membincangkan urusan serius?"

Mula-mula nona berbaju hijau itu tertegun, tapi kemudian teriaknya penuh amarah: "Hmmm Siapa kau? Berani amat mencampuri urusan orang.. Huh Tak tahu malu."

"Hey, siapa yang kau maki?" "Tentu saja kau, ada apa?"

"Hmmm, rupanya kau sudah bosan hidup,.." teriak Yu Siau-liong dengan kening berkerut, agaknya dia ingin turun tangan.

Mendadak nona berbaju hijau itu mendesak maju, tangan kanannya diayunkan melepaskan sebuah pukulan sementara jari tangan kirinya menyodok ketiak Yu siau- liong, bentaknya: "Huuuh, siapa suruh kau galak-galak? Rasain dulu ajaranku"

Dengan cekatan Yu siau-liong berkelit ke samping, lalu dengan jurus "Tangan Meng-gapai Lima senar" ia lancarkan sebuah bacokan balasan.

"Bagus" teriaknya pula, "Akan kulihat siapa yang akan menghajar siapa..."

"Hmmm Budak ingusan. " sementara pembicaraan

berlangsung, kedua orang itu sudah bertarung lima gebrakan Lim Han-kim mencoba mengikuti jalannya pertarungan itu. ia saksikan kedua orang itu sedang terlibat dalam suatu pertempuran yang amat sengit. Jurus-jurus serangan yang dipakai sama-sama keji dan berbahayanya, bahkan semua sasaran tertuju kejalan darah kematian di tubuh lawan. Hal mana langsung saja mengernyitkan alis matanya, dengan suara menggeledek bentaknya: "Adik Liong, berhenti"

Pada saat yang bersamaan Li Bun-yang turut menghardik: "Piau-moay kecil, ayo cepat berhenti"

Mendengar hardikan dari kakaknya Yu siau-liong segera menghentikan serangan-nya, sedangkan nona berbaju hijau yang sedang asyik-asyiknya bertempur itu, tak mau membuang kesempatan yang sangat baik, itu, Melihat musuhnya menarik diri, cepat-cepat ia pergunakan kesempatan itu untuk melepaskan sebuah pukulan keras.

Mimpi pun Yu siau-liong tidak menyangka kalau lawannya berlaku curang, untuk sesaat ia jadi gelagapan dan tak mampu untuk menghindari diri, tak ampun serangan tersebut menghajar telak bahu kirinya.

sedemikian kerasnya tenaga pukulan itu membuat Yu siau-liong jadi sempoyongan dia harus mundur sampai dua-tiga langkah sebelum berhasil untuk berdiri tegak. "Aaaai..." Li Bun-yang menghela napas panjang, "Dasar budak yang binal. " Dengan gaya serangan "Membalik Awan Memutar Mega", secepat petir tangan kanannya mencengkeram pergelangan tangan gadis itu.

Cepat-cepat nona kecil berbaju hijau itu menarik pergelangan tangan kanannya ke belakang, kemudian jarinya berputar balas menotok jalan darah Ci-ti-hiat di sikut kanan Li Bun-yang.

Tapi agaknya ia segera menyadari gelagat tak beres, Baru saja totokan itu dilepaskan cepat-cepat ia menarik kembali serangannya dan melompat mundur sejauh lima depa, serunya sedih: "Piauko, kau benar-benar ingin menghajarku?"

Li Bun-yang menghela napas, berpaling ke arah Yusiau-liong tanyanya pelan: "saudara cilik, apakah kau terluka?"

"Hmmm, perkelahian macam apa tadi," jawab Yu siau- liong setengah mengejek "Dengan tenaga semacam dia punya, maka mungkin bisa melukaiku. Kalau tak

percaya biar aku berdiri tak bergerak, biar dia pukul sepuluh kali ke badanku, lihat saja apakah pukulannya bisa mematikan aku.,.?"

"Hmmm Kau jangan membual" teriak si nona gusar jangan lagi sepuluh pukulan, buktinya sebuah pukulanku tadi juga membuatmu hampir keok.,. Hmmm lebih baik

tak usah bermulut besar.,." "oooh, kau baru menghantamku tadi. Goba lihat,

buktinya sekarang aku masih hidup "

"Yaa. Tentu saja Karena pukulanku tadi tak pakai tenaga, coba kalau kubarengi te-naga, kau pasti sudah keok terkapar ditanah"

Kedua orang muda mudi ini sama-sama keras hati dan siapa pun tak mau mengalah kepada yang lain, percekcokan pun makin lama semakin menjadi membuat suasana di tempat itu makin gaduh.

sambil menghela napas panjang Lim Han-kim segera menegur: "Adik Liong, lebih baik jangan bicara lagi" .

Dengan penasaran seperti putus asa, Yu siau-liong angkat bahunya, ujarnya kemudian: "Baiklah, aku tak akan ribut lagi denganmu Hmmm Coba kalau tak dicegah kakakku, aku pasti akan menghajarmu ha-bis-habisan hari ini."

"Huuuh, siapa yang takut kepadamu?" , Nona berbaju hijau itu balas mengejek dengan marah, "Hmmm Andaikata piaukoku tidak melarangku berkelahi, hari ini aku pasti akan menghajarmu sampai kau teriak minta ampun."

Kali ini Yu siau-liong tidak menanggapi ejekan lawannya lagi Cuma sepasang matanya yang kecil mendelik besar-besar. Mukanya cemberut sedang nafasnya naik turun menahan rasa dongkol.

siapa pun tentu akan tahu kalau bocah ini sedang berusaha keras mengendalikan emosi dan hawa amarahnya yang berkobar-kobar, sementara itu Li Bun- yang yang melihat gadis berbaju hijau itu masih mencaci maki tak habisnya, segera menghardik ketus:

"Piau-moay kecil, kau sudah meninju sekali lawanmu.

Sekarang masih juga mencaci maki tiada habisnya, Apakah kau tidak merasa keterlaluan? Hmmm jangan kau anggap orang lain diam itu berarti benar-benar takut kepadamu"

sebetulnya setelah mencaci-maki habis--habisan tadi hawa amarah si nona berbaju hijau itu sudah jauh mereda, Tapi kena dampratan Li Bun-yang kali ini, hawa amarahnya langsung saja berkobar lagi, Cuma lantaran ia takut pada kakak misannya ini, terpaksa umpatan- umpatan berikutnya hanya disimpan di dalam hati.

Dalam mengkolnya tiba-tiba air mata bercucuran membasahi pipinya, dengan sepasang tangannya ia segera menutupi wajah sendiri, Menyaksikan hal tersebut, terpaksa Li Bun-yang berkata kepada Lim Han- kim: "saudara Lim, harap kau jangan ter-singgung Adik misanku ini sudah terbiasa dimanja ibuku sedari kecil sehingga rasa ingin menangnya agak besar..." "Usia tiga-belasan adalah usia nakal- nakalnya kaum remaja. Adik Liongku juga sama saja, lebih baik saudara Li membujuknya agar tidak menangis terus"

Li Bun-yang pun berjalan menghampiri gadis berbaju hijau itu, sambil menepuk bahunya ia menghibur sambil tertawa:

"Adik misan, jangan menangis lagi, nanti akan kubujuk Piaucimu agar menghadiahkan soat-bi-ji kesayangannya ini kepadamu."

"sungguh?" Tiba-tiba gadis berbaju hijau itu menurunkan kembali tangannya yang menutupi wajah dan berteriak gembira. " Kapan sih aku pernah membohongi -mu,.,"

Kemudian setelah berhenti sejenak. tam-bahnya: "cuma kau mesti menuruti semua perkataanku selama ini"

Nona berbaju hijau itu berpikir sejenak. akhirnya ia mengangguk sambit tertawa: "Baiklah"

Dengan langkah perlahab, dia berjalan menuju ke sisi kakak laki nya. Nona ini benar-benar masih polos, selagi marah, ia mencaci maki tiada habisnya, tapi begitu tenang ia dapat berdiri di sisi Lie Bun-yang dengan kalem dan habisnya. Melihat keributan akhirnya dapat di-atasi, Li Bun-yang menghembuskan napas panjang, kepada Ci Mia-cu katanya kemudian dengan suara dalam:

"Totiang, coba kau periksa lagi dengan seksama, Kecuali pil jinsom seribu tahun, masih adakah obat- obatan lainnya di dunia ini yang bisa dipergunakan untuk menolong jiwa Ciu tay-hiap?"

Ci Mia-cu termenung dan berpikir sampai lama sekali, kemudian ia baru berkata: "obatnya sih ada, Cuma benda itu susah untuk diperolehnya."

"Bersediakah totiang menyebutkan nama obat itu?

Mungkin aku bisa memikirkan cara untuk memperolehnya."

Berkilat sepasang mata Ci Mia-cu, tiba-tiba ia tertawa terbahak:

"Hahaha... aku hampir lupa, bukankah didalam hal obat-2an bukit Hong-san tersimpan berbagai obat mustika?"

" Walaupun mendiang kakekku banyak mengumpulkan obat-obat mustika dari segala pelosok dunia, namun bukan berarti setiap mustikapun pasti kami miliki, luka yang diderita Ciu Tayhiap begitu parah, entah obat mustika apa yang bisa menyembuhkan lukanya?"

"Teratai saiju berusia sepuluh laksa tahun..." "oooh kalau obat itu sih kami punya beberapa biji." Jawab Li Bun-yang cepat-cepat.

" Lendir jamur berusia seribu tahun"

Li Bun-yang termenung berpikir sebentar, kemudian katanya: "Aku pernah mendengar ibuku berkata tentang benda ini, mungkin kamipun ada beberapa biji."

Ci Mia-cu jadi amat gembira, serunya: "sekarang tinggal semacam obat lagi, asal dirumah Anda terdapat pula benda mustika itu, tanpa pil jinsom seribu tahun pun luka yang diderita Ciu tayhiap dapat kita sembuhkan juga."

"obat apakah itu?"

"obat ini paling sukar diperoleh, tapi kalau dilihat pelbagai mustika yang lain pun kongcu miliki, aku rasa kalian pasti memiliki juga obat mustika tersebut."

"Banyak sekali kejadian di luar dugaan yang sering berlangsung di dunia ini, lebih baik totiang jangan keburu senang dulu." .

"obat mustika terakhir adalah empedu dari ular berusia seribu tahun, Ketiga macam obat tersebut harus digabungkan menjadi satu."

"Aku tahu empedu tersebut terdapat dalam keluarga kami, tapi rasanya sudah dipergunakan ibuku untuk menolong seseorang, rasanya sekarang sudah tak punya persediaan lagi."

Ci Mia-cu jadi tertegun.

"Waaah. repot jadinya" ia mengeluh. " Walaupun

kita sudah memperoleh dua jenis obat langka. Namun kalau kekurangan empedu ular beracun, maka daya kerja obat tersebut jadi berkurang banyak."

"Begini saja." kata Li Bun-yang setelah berpikir sejenak, "Peduli apakah di rumahku masih tersedia empedu ular beracun atau tidak, biar kukirim surat sekarang juga, Alangkah baiknya bila obat tersebut dapat dibawa oleh adikku sebelum ia terlanjur berangkat ke mari."

Ci Mia-cu segera bertepuk tangan, seorang imam kecil buru- buru masuk sambil bertanya: "Suhu, ada perintah apa?"

"Siapkan kertas dan alat tulis"

Imam kecil itu mengiakan dan segera ia mengundurkan diri, tak lama kemudian ia sudah muncul dengan membawa peralatan tulis, Li Bun-yang segera menulis nama ke tiga jenis obat langka itu, lalu mengikat gulungan kertas tersebut di tubuh burung beo putih nya, sambil melepaskan sang burung terbang ke udara, katanya: "Burung ini amat cerdik, lagipula mempunyai daya terbang yang sangat mengejutkan. Berapa jauhnya jarak tempuh yang harus di capai, ia selalu dapat menerbanginya sekaligus"

Yu Siau-liong yang belum hilang sifat kekanak- kanakkannya jadi amat tertarik dengan burung beo Soat Bi-ji tersebut, tanpa terasa ia mengejar keluar. Tampak burung itu melesat lurus ke udara, dalam sekejap mata sudah lenyap di balik awan,

Memandang bayangan punggung Yu Siau-liong yang berialu, nona berbaju hijau itu segera mencibirkan bibirnya sambil mengomel: "Hmmm, apanya sih yang aneh..? Benar-benar manusia tak berguna"

Biarpun omelan itu diucapkan dengan suara amat rendah dan lirih, namun dengan ketajaman pendengaran Yu siau-liong, semua omelan tersebut dapat ditangkap dengan jelas, Tanpa terasa ia berpaling sambil melototi nona berbaju hijau itu sekejap, tapi tanpa berbuat sesuatu ia sebera balik ke sisi Lim Han-kim.

Menyaksikan paras muka Yu siau-liong sudah berubah menjadi merah padam, Li Bun-yang mengerti bahwa bocah tersebut sedang diliputi emosi. Kuatir kalau mereka ribut lagi, cepat-cepat dialihkan pembicaraan ke soal lain, Kepada Ci Mia-cu ujarnya: "Koancu (ketua) sudah lama berdiam di kota Kim-leng, tahukah kau akan rahasia yang menyelimuti pesanggrahan Tho- hoa- kit? "

"Shmmmm, sudah lama kudengar persoalan ini, hanya belum sempat kusaksikan sendiri"

"Aku yang muda justru telah menyaksikan beberapa peristiwa yang sangat mencurigakan. " setelah berhenti

sejenak. la meneruskan "Hanya saja, otak di balik peristiwa ini.,., rasanya termasuk seorang tokoh yang sangat licik, cerdik dan sangat lihay-Bukan saja mereka dapat merahasiakan semua gerak g eriknya bahkan sama sekali tidak meninggalkan jejak apa pun. Kalau tidak diperhatikan dengan seksama, sulit rasanya untuk mengetahui rahasia tersebut.