-->

Pedang Keadilan I Bab 04 : perempuan Perahu Misteri

 
Bab 04. perempuan Perahu Misteri

Yu Siau-liong cerdik lagi cekatan, begitu mendengar peringatan itu cepat-cepat dia periksa keadaan di sekelilingnya, Terlihat beberapa batang pohon besar tumbuh beberapa kaki dari situ, Di sisinya terlihat pula sebuah kuburan besar, Cepat serunya: "Lebih baik kita bersembunyi di sana" "Saudara cilik, kau benar-benar teliti" puji Li Bun-yang sambil tertawa dan manggut-manggut Tanpa membuang waktu, ia bergerak lebih dulu menuju ke balik pohon.

Yu siau-liong dengan menuntun kedua ekor kudanya menyusul di belakang pemuda tersebut, Dalam sekejap mata mereka telah menyembunyikan diri baik-baik.

sebaliknya Lim Han-kim seperti tidak menyadari akan bahaya, ia masih berdiri di tepi sungai dengan termangu- mangu, seolah-olah sama sekali tidak menyadari perbuatan kedua orang rekannya. Perahu besar itu meluncur datang dengan cepatnya, dalam waktu singkat telah sampai di tepi sungai.

Cahaya lentera dalam perahu pun makin lama semakin terang, Tampak bayangan manusia bergerak di ujung geladak, Tiga buah layar yang besar mulai digulung, sedang daya luncur perahu pun semakin melambat, jelas sudah perahu itu siap mendarat

seorang manusia berbaju hitam yang berperawakan tinggi besar berdiri di ujung perahu. Terompet yang ditiupnya keras-keras mengeluarkan bunyi yang amat memekakkan telinga.

Di tengah keheningan malam begini, suara terompet itu dapat terdengar sampai puluhan li jauhnya, Perlahan- lahan perahu itu makin merapat ke tepi daratan, lalu sebuah papan dihubungkan dengan darat, Pintu ruang dalam perahu terbuka dan muncullah dua buah lampu lentera.

Ketika Lim Han-kim coba memperhatikan tampak olehnya dua orang yang membawa lampu lentera itu adalah dayang kecil berbaju hijau. Dengan langkah yang lemah gemulai mereka melewati papan menuju daratan, Mengikuti di belakang kedua orang dayang cilik tadi adalah empat orang bocah berusia empat- lima belas tahunan yang berbaju hitam.

Baik dandanan maupun perawakan tubuh mereka seimbang, masing-masing menyoren sebilah pedang di punggungnya. Pita merah di ujung pedang mereka berkibar-kibar tertiup angin malam yang kencang.

sementara itu di geladak perahu kelihatan banyak orang sedang sibuk hilir mudik kian ke mari, tapi tidak jelas terlihat apa yang sebenarnya sedang mereka sibukkan. sinar lentera masih menerangi ruang perahu itu.

Di sekeliling tempat itu pun penuh penjagaan, Dalam pada itu dua orang dayang pembawa lentera tadi sudah berdiri diam di tepi sungai, rambutnya yang panjang berkibar-kibar pula terhembus angin malam. sementara keempat orang bocah berbaju hitam yang menyoren pedang itu dengan cepat menyebar dan mengurung Lim Han- kim. Perlahan-lahan Lim Han- kim mengalihkan pandangannya memandang sekejap wajah keempat bocah berbaju hitam itu, tapi kemudian mengalihkan kembali perhatiannya ke arus sungai yang mengalir deras di tengah sungai.

Jelas keempat bocah berbaju hitam itu belum mempunyai pengalaman dalam menghadapi musuh, Masing-masing berdiri di satu sudut dan mengepung Lim Han-kim rapat-rapat sementara pedangnya telah dicabut ke luar, siap-siap melancarkan serangan, Tapi anehnya keempat orang itu tidak segera melancarkan serangan,

setelah mengepung, mereka hanya mengawasi Lim Han- kim dengan termangu-mangu, seakan-akan sedang menantikan sesuatu.

saat itulah dari balik ruang perahu di kejauhan situ, berkumandang suara perintah yang rendah lagi berat: "Atas perintah dari Nio-nio "

Serentak keempat bocah berbaju hitam itu meluruskan tangan kirinya ke atas lalu sejajarkan sikunya dengan dada, pedang di tangan kanan ditumpangkan pada lengan kiri dan bersikap sangat menghormat Kedengaran suara rendah dan berat itu bergema lagi: "Gusur ke atas perahu si pengintip itu"

"Terima perintah Nio-nio" jawab keempat bocah itu serentak Mereka bergerak ke depan sambil membuka sebuah jalan lewat menuju ke arah perahu, "Cepat naik ke perahu" bentak bocah berbaju hitam yang berdiri di sebelah kiri.

Lim Han-kim memandang arus sungai dengan termangu, seakan-akan dia tak mendengar perintah itu.

Dengan gusar kembali bocah itu membentak "Congek rupanya kamu?" sambil maju ke depan, ia lancarkan sebuah bacokan ke tubuh anak muda tersebut.

Lim Han-kim tetap berdiri tak bergerak, seolah-olah tidak merasa ada bacokan yang mengarah ke tubuhnya, Ketika ujung pedang itu sudah hampir menyentuh tubuh Lim Han-kim, tiba-tiba bocah berbaju hitam itu menarik kembali serangannya, kemudian hardiknya lagi: "Aku suruh kau naik ke perahu, dengar tidak?"

Lim Han-kim berkerut kening, sinar matanya berkilat sekejap tapi segera berubah murung kembali Dipandanginya keempat bocah berbaju hitam itu sekejap lalu perlahan-Iahan maju ke depan.

Bagaikan sedang menghadapi musuh be-sar, keempat bocah dengan pedang terhunus itu tetap mengawasi lawannya tak ber-kedip. ujung senjata mereka selalu mengancam keempat jalan darah penting di tubuh lawannya. Dalam keadaan begini, bila salah satu di antara bocah berbaju hitam itu benar-benar melancarkan serangan, niscaya Lim Han-kim akan terluka parah dan bermandikan darah, Tapi pemuda berwajah murung itu benar-benar memiliki nyali yang besar.

Mungkin juga ia yakin dengan keampuhan ilmu silatnya sehingga terhadap ancaman pedang lawan yang mengarah keempat buah jalan darahnya itu, ia sama sekali tidak menaruh perhatian.

Dengan sikap yang dingin dan kaku, perlahan-lahan dia berjalan menuju ke perahu raksasa itu. setelah melewati papan penyeberangan sampai di ujung geladak. ia segera jumpai lagi belasan orang lelaki berbaju ketat warna hitam berdiri serius di sekitar situ. 

"Ajak dia masuk ke dalam ruangan" suara perintah tadi bergema lagi dari dalam ruangan. Keempat bocah berbaju hitam itu serentak menggetarkan pedangnya membentuk berkuntum- kuntum bunga pedang yang membias di sekeliling arena, hardiknya lagi: " Cepat masuk ke dalam ruangan"

Lim Han-kim memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, kemudian baru melangkah masuk ke dalam ruangan, Dua buah lilin sebesar lengan bocah mencorongkan sinar terang dalam ruangan perahu itu Empat buah lentera berbanjar di sisinya, kain sutera berwarna kuning menghiasi keempat belah dinding ruang perahu itu, ditambah delapan biji mutiara sebesar kelengkeng tertera di dinding berlapiskan kain kuning tadi, Ketika terkena sorotan sinar lilin mutiara-mutiara itu segera memantulkan sinar gemerlap yang amat menyilaukan mata.

Dekat dinding sebelah belakang, di balik kain tirai be^arna kuning, terdapat sebuah meja, kursi di belakang meja itu dalam keadaan kosong.

Dengan sikap yang amat menghormat keempat bocah berbaju hitam itu berdiri berjajar di depan kursi itu.

Bocah di sebelah kiri segera menjura sambil melapor: "Tawanan telah sampai, siap menunggu perintah Nio-nio selanjutnya"

Lim Han-kim sama sekali tak menggubris sikap bocah- bocah itu. ia tetap berdiri santai sambil berpangku tangan dan menikmati lukisan pemandangan alam yang tergantung di dinding.

sementara dia masih termangu, dari balik ruang dalam kedengaran suara kemerincingan nyaring, disusul kemudian muncul empat orang dayang kecil berbaju hijau yang mengiringi seorang nyonya berbaju kuning.

Lim Han-kim sama sekali tidak berpaling, dia masih memandangi lukisan pemandangan alam yang tergantung di dinding, seakan-akan tak sadar kalau dalam ruang perahu itu telah muncul serombongan manusia lagi.

setelah mengambil tempat duduk di kursi kebesaran itu, nyonya berbaju kuning itu baru membentak: "Kau mengerti dosamu?"

Walaupun nada suaranya merdu bagaikan kicauan burung nuri, tapi mengandung wibawa yang luar biasa, hal mana membuat Lim Han-kim berpaling tanpa terasa. Tapi ia segera tertegun dibuatnya.

Ternyata nyonya berbaju kuning itu meskipun memiliki suara yang merdu seperti kicauan burung nuri, namun memiliki wajah yang amat jelek dan menyeramkan Mukanya penuh noda-noda berwarna hijau dan putih, sekalipun tubuhnya mengenakan pakaian kuning yang halus dan mahal harganya, namun tidak mengurangi keseraman penampilannya, membuat siapa pun segan untuk melihatnya kembali. Terdengar nyonya berbaju kuning itu dengan suaranya yang merdu kembali menengur:

"Setelah bertemu aku, berani amat kau tidak memberi hormat, hmmm Besar nian nyalimu" Lim Han-kim hanya tertawa hambar, ia tetap membungkam diri dalam seribu bahasa. "Hey, tuli rupanya kamu?" bentak nyonya berbaju kuning itu lagi dengan penuh kegusaran-

Lim Han-kim mengerutkan keningnya, agak segan dia bertanya: "Ada apa?"

Nadanya tetap dingin, hambar dan santai, sedikit pun tidak merasa takut apalagi ngeri, Sikap seperti ini segera membuat nyonya berbaju kuning itu tertegun, sampai lama sekali dia termenung sebelum katanya lagi:

"Hmmm, belum pernah kujumpai di dunia ini ada orang yang berani memandang enteng diriku"

Lim Han-kim angkat kepalanya memandang nyonya berbaju kuning itu sekejap lalu pelan-pelan menundukkan kepalanya lagi, seakan-akan tidak mendengar teguran tersebut

Nyonya berbaju kuning itu bertambah gusar setelah melihat sikapnya yang dingin dan tidak perduli, teriaknya marah: "Aku tak percaya kalau di dunia ada orang yang tahan siksaan badan, hmmm Cambuk dulu dua puluh kali"

Satu di antara keempat dayang berbaju hijau yang berdiri di belakang nyonya berbaju kuning itu menyahut. Dia keluarkan sebuah cambuk kulit dari bawah meja, lalu diayunkan ke tubuh pemuda itu. Dengan suatu gerakan enteng Lim Han-kim membalikkan badan menghindari serangan itu. Ujung cambuk yang menimbulkan suara desingan angin tajam menyambar lewat dari sisi bajunya, "He, he, he... rupanya manusia latah yang menganggap ilmu silatnya sudah cukup mahir " jengek nyonya berbaju kuning itu

sambil tertawa dingin.

sementara pembicaraan masih berlangsung, dayang kecil berbaju hijau itu sudah menarik kembali cambuknya pergelangan tangannya digetarkan, cambuk tersebut langsung membabat miring ke samping. Deruan angin serangan yang memekak telinga pun bergema memenuhi seluruh ruang perahu.

Lim Han-kim gerakkan sepasang bahunya, di tengah bayangan cambuk yang menyambar dan membabat terlihat badannya menyelinap kian ke mari dengan entengnya. Dalam sekejap mata dayang kecil berbaju hijau itu sudah melepaskan dua puluh kali cambukan, namun tak satu pun yang berhasil mengenai badan Lim Han-kim.

"Tahan" Tiba-tiba nyonya berbaju kuning itu menghardik. Dayang kecil berbaju hijau itu serentak menarik kembali cambuknya, gagal melukai musuhnya ia jadi malu setengah mati, Pipinya berubah jadi merah membara. Lim Han-kim sendiri tetap bersikap dingin dan hambar, susah untuk orang lain menduga apakah ia sedang gembira atau marah. Gemerincingan suara nyaring bergema membelah keheningan Perlahan-lahan nyonya berbaju kuning itu meninggalkan tempat duduknya dan maju ke tengah arena.

Dari tangan si dayang kecil tadi ia minta cambuk kulit tersebut, kemudian katanya: "Tak heran kau begitu sombong dan latah, ternyata punya kemampuan yang dapat diandalkan.

Kalau kulihat dari kemampuanmu yang bisa menghindari cambukan hanya dalam ruang beberapa depa saja, rasanya ilmu meringankan tubuh yang kau miliki benar-benar sudah mencapai kesempurnaan"

Lim Han-kim menghela napas panjang: "Aaaai, hubungan antara kita bagaikan air sumur yang tidak mencampuri air sungai, apa sebenarnya maksud kalian menawanku ke dalam perahu ini?"

Tiba-tiba nyonya berbaju kuning itu tertawa sehingga nampak sebaris giginya yang putih bersih dan rapi, katanya: "Belum pernah ada orang yang berani mengintip bila perahuku sedang berlayar lewat "

Tiba-tiba ia berhenti bicara dan pusatkan perhatian untuk mendengarkan sesuatu, suara perempuan itu benar-benar merdu merayu, ditambah giginya yang rapi dan putih, Kalau tidak memandang wajahnya yang amat jelek, orang pasti akan membayangkan betapa cantik dan menariknya perempuan itu.

Tiba-tiba Lim Han-kim membalikkan tubuhnya dan melangkah ke luar dari ruang perahu. Nyonya berbaju kuning itu segera menyentak pergelangan tangan-nya, tahu-tahu cambuk kulit itu sudah menyambar ke muka langsung menggulung sepasang kaki Lim Han-kim, tegurnya dingin, "Asal kau dapat menghindari tiga jurus serangan cambukku, pasti akan kuijinkan kau turun dari perahu ini dengan selamat."

Lim Han-kim menghimpun tenaga dalamnya, mengikuti gerak sambaran cambuk itu dia bersalto satu kali di udara, lalu melayang turun kembali ke pos isi semula, Gerakan tubuh yang begitu lincah, ringan dan cepat itu langsung mengejutkan nyonya berbaju kuning itu. setelah termangu sekejap. cambuknya kembali diayunkan menyapu miring ke samping.

Lim Han-kim mengibaskan tangan kanannya, tiba-tiba berkelebat sinar perak dari ujung bajunya langsung menghantam ujung cambuk yang dilancarkan nyonya berbaju kuning itu. Tenaga pukulan yang sangat kuat langsung menggetarkan cambuk itu hingga mental ke belakang.

"Hmmm, hebat benar kepandaianmu." jengek nyonya berbaju kuning itu sambil mengernyitkan dahi. pergelangan tangannya kembali digetarkan cambuk kulit itu semula lemas tahu-tahu menjadi tegang dan kaku langsung menusuk ke dada lawan, Lim Han-kim mengerutkan kening, ia kibas tangan kirinya, Dengan keras lawan keras ia cengkeram cambuk lawan.

Tatkala ujung cambuk dan cengkeraman pemuda itu hampir bersentuhan, tiba-tiba nyonya berbaju kuning itu merendahkan pergelangan tangannya, cambuk yang semula menusuk lurus tahu-tahu berputar arah di tengah jalan, ketika hampir menyentuh tanah, cambuk itu berbelok menyambar ke kanan.

Perubahan dengan menggunakan tenaga yang dilakukan dalam waktu singkat semacam ini merupakan ilmu silat yang amat langka dalam dunia persilatan Mimpi pun Lim Han-kim tidak menyangka kalau cambuk yang sedang menusuk ke dadanya ternyata memiliki tiga macam kekuatan yang berbeda dalam waktu yang bersamaan. Untuk sesaat dia tak sanggup menghadapinya, ujung cambuk itu langsung menghantam lutut kanannya.

sebaliknya bagi nyonya berbaju kuning itu, meski ia sanggup menggunakan tiga macam tenaga yang berbeda dalam waktu yang bersamaan di dalam cambuk itu dan tepat menghantam lutut kanan Lim Han-kim, tapi sayang kekuatan yang terkandung dalam cambuk itu sudah jauh berkurang sehingga tak mampu untuk melukai lawan. Begitu ujung cambuk menghantam lutut kanan pemuda itu, senjata tersebut langsung lemas dan jatuh ke tanah, Terlihat bayangan kuning berkelebat lewat, diiringi suara gemerincingan nyaring, Nyonya berbaju kuning itu sudah meninggalkan ruangan dan lenyap dari pandangan, Lim Han-kim berdiri termangu diposisi semula, wajahnya nampak lebih murung dan sedih.

Keempat bocah berbaju hitam itu dengan pedang terhunus telah berdiri berjajar di muka pintu ruangan. Tampaknya mereka sudah siap menghadang jalan pergi pemuda itu,

Dengan wajah murung Lim Han-kim memperhatikan sekejap sekeliling ruangan, kemudian perlahan-lahan maju ke depan. Dari sikapnya itu, jelas dia sudah siap menggunakan kekerasan untuk memaksa keempat bocah berbaju hitam itu menyingkir dari posisi pintu ruang kapal.

"Tunggu sebentar, tuan" Mendadak seorang dayang kecil berbahu hijau memburu datang sambil berseru. Lim Han-kim berhenti sambil berpaling, diawasinya dayang kecil berbaju hijau itu tanpa berkata-kata

"siangkong" ujar dagang itu sambil tersenyum. " Harap tunggu sebentar, tunggulah perintah dari Nio-nio"

"Ada apa?" "Masa cuma kata-kata itu yang bisa kau ucapkan?" tegur si dayang sambil tersenyum.

"Kecuali kalian mampu menghalangi kepergianku" Alis matanya berkerut, sinar matanya berkelebat tiba-

tiba terlintas selapis cahaya terang dibalik wajahnya yang murung. Dayang berbaju hijau itu agak tertegun, katanya: "Setiap orang yang berada di perahu ini mengerti silat dan rata-rata berkepandaian tinggi Kau anggap dengan kemampuan yang kamu miliki, kau seorang bisa pergi dari sini dengan mudah?"

Lim Han-kim tertawa hambar, ia meneruskan langkahnya keluar dari ruang perahu itu. Serentak keempat bocah berbaju hitam itu menggerakkan pedangnya melancarkan serangan, selapis kabut pedang segera menyelimuti seluruh angkasa, Lim Han-kim sama sekali tak perduli seakan-akan tidak melihat adanya kabut pedang yang menyelimuti di sekitar situ, ia tetap meneruskan langkahnya ke depan-

"Berhenti" bentakan lembut kembali berkumandang dari belakang tubuhnya. Lim Han-kim tidak perduli, dia balas membentak: "Siapa berani menghalangiku, mampus"

Dengan cekatan dia menerjang ke luar dari ruang perahu, Empat bilah pedang dengan membawa empat gulung cahaya tajam secepat kilat menyambar pula ke depan, masing-masing menusuk empat buah jalan darah penting di tubuh Lim Han-kim.

Terhadap datangnya ancaman itu Lim Han-kim tidak menggubris. sepintas lalu ia nampak seperti tak siap, namun begitu turun tangan cepatnya bagaikan sambaran kilat Di antara ayunan tangan kanannya tahu-tahu ia sudah cengkeram pergelangan tangan kanan seorang bocah berbaiu hitam itu, kemudian dengan menggunakan pedang di tangan bocah tersebut dia tangkis serangan ketiga orang lawan lainnya. "Traaaang..."

Dengan menimbulkan benturan nyaring, ketiga bilah pedang itu sudah terpental ke belakang. Dalam posisi demikian, meskipun bocah berbaju hitam itu masih memegang pedang, sesungguhnya dia sudah kehilangan kemampuannya untuk menguasai senjata tersebut Bukan kepalang rasa terkejut dan ngerinya waktu itu,

Begitu berhasil menghancurkan serangan pedang yang menghalangi jalan perginya, Lim Han-kim segera menerjang ke luar dari ruang perahu. Tapi apa yang kemudian terlihat di sekelilingnya membuat pemuda itu tertegun, Ternyata perahu itu sudah berada di tengah sungai.

Delapan orang manusia berbaju hitam dengan senjata terhunus berdiri di sekeliling geladak. jika dilihat dariposisi yang mereka tempati, tampaknya rombongan tersebut sedang membentuk sebuah barisan yang khusus dipakai untuk menghalau terjangan musuh.

Lim Han-kim berlagak seakan-akan tidak melihat kehadiran ke delapan jago bersenjata yang berdiri dengan wajah membunuh itu, sorot matanya dialihkan ke tengah sungai dan termangu- mangu. Wajahnya yang semula sudah murung, kini nampak bertambah murung, sepasang alis matanya berkerut, sinar matanya makin memudar, ia berdiri termangu di sana bagaikan sebuah patung.

Untuk beberapa saat lamanya kedua belah pihak sama-sama berdiam diri tanpa melakukan sesuatu pun. sementara itu, keempat bocah berbaju hitam tadi telah

mengejar pula ke luar dari ruang perahu, namun, mereka sudah mulaijeri dan ngeri terhadap kehebatan ilmu silat Lim Han-kim, sehingga tak seorang pun di antara mereka berani bertindak sembarangan

sikap Lim Han-kim makin lama kelihatan semakin loyo, tiba-tiba saja bagaikan orang yang terserang penyakit parah, ia tak sanggup menopang tubuhnya lagi hingga perlahan-lahan terperosok duduk di lantai.

Walaupun begitu, gempurannya yang jitu dan hebat tadi rupanya masih meninggalkan kesan mendalam di benak orang-orang berbaju hitam itu, sehingga mereka pun tak berani sembarangan bertindak Angin malam berhembus kencang, suara ombak memekikkan telinga, dari deruan angin dan deruan ombak yang ramai dapat disimpulkan bahwa perahu tersebut telah berada di tengah sungai, sepenanakan nasi lamanya telah lewat, suasana tetap hening, sepi, tanpa suatu kejadian pun.

saat inilah, dua orang dayang kecil berbaju hijau tiba- tiba muncul di geladak sambil berkata: "Nio-nio ada perintah, harap siangkong masuk ke ruang belakang untuk berbincang-bincang . "

Perlahan-lahan Lim Han-kim berdiri, setelah manggut- manggut, dia berjalan mengikuti kedua orang dayang itu, Tampaknya dua orang dayang kecil berbaju hijau itu tidak menyangka kalau pemuda berilmu tinggi yang nampak sombong dan takabur? ini secara tiba-tiba dapat berubah menjadi begitu lembut dan penurut, timbul rasa heran di hati kecilnya.

"Aneh benar watak pemuda ini." pikirnya, "sungguh tak terduga sikapnya dapat berubah-ubah semudah ini."

Di bawah iringan kedua orang gadis itu, Lim Han-kim melangkah masuk ke ruang belakang, sesudah melewati ruang perahu yang megah dan mewah itu, dayang berbaju hijau yang di sebelah kiri membuka sebuah tirai kuning di sampingnya seraya berseru: "Siangkong, silahkan masuk ke mari." Lim Han-kim memperhatikan sebentar sekeliling ruangan itu, kemudian melangkah masuk, Dayang berbaju hijau itu segera turunkan kembali tirai kuningnya dan merapatkan pintu ruangan.

Tempat itu merupakan sebuah ruangan yang kecil tapi indah dan rapi, empat belah dindingnya berwarna biru langit, sebuah meja berukiran indah terletak di tengah ruangan, Di atas meja telah tersedia empat macam hidangan lezat dan arak wangi.

Waktu nyonya berbaju kuning itu sudah menanggalkan dandanan mewahnya, kini dia memakai baju panjang berwarna biru langit Rambutnya yang panjang dibiarkan terurai di bahu, ia berdiri di depan jendela, membiarkan angin sungai mengibarkan rambut serta bajunya.

Lim Han-kim memperhatikan sebentar situasi di sekelilingnya, kemudian sambil bersandar di dinding ruangan, ia berdiri membungkam. "Apakah kau anggap aku jelek sekali?" Terdengar suara merdu itu berkumandang, Lim Han-kim hanya mengerdipkan matanya beberapa kali, dia tetap membungkam diri. suara merdu itu bergema lagi: "Aku bernama Liu Bi-ji, tapi orang jarang memakainya untuk menyebutku biasanya orang memanggilku Kim Nio-nio, kau akan memanggilku dengan sebutan yang mana?" Kali ini Lim Han-kim berkedip pun tidak, apalagi menjawab. "Eeei, mengapa kau membungkam terus?" tegur Kim Nio-nio.

sambil berbicara, perlahan-lahan ia membalikkan badan. Ketika menjumpai Lim Han-kim berdiri sambil pejamkan mata, kembali ia berkata sambil menghela napas panjang: "Maukah kau membuka mata menatap wajahku?"

Dengan mata tetap terpejam Lim Han-kim berkata: "Sebenarnya apa maksudmu menawanku ke perahu ini? cepat bebaskan aku kalau tidak "

"Hahahahaha kalau tidak mengapa?" Kim Nio-nio

tertawa terkekeh kekeh, "setiap orang yang pernah singgah di istana perahuku ini, selalu hanya ada dua pilihan. "

"Hmmm, dua pilihan yang bagaimana?"

"Kesatu, bersedia takluk dan jadi anak buahku, Kedua, mati dan mayatnya ditenggelamkan ke sungai untuk umpan ikan."

Lim Han-kim tidak menggubris lagi, perlahan-lahan dia sandarkan tubuhnya di dinding perahu lalu pejamkan mata, diam-diam ia putar otak mencari akal untuk meloloskan diri

Kim Nio-nio merupakan seorang jago kawakan yang sangat berpengalaman di dalam dunia persilatan, entah sudah berapa banyak tokoh silat yang berhasil dikalahkan atau ditaklukkannya, Tapi menghadapi pemuda dingin yang tenang dan berkepandaian ampuh ini, dia merasa sedikit serba salah.

Namun bagaimanapunjuga ia sudah cukup makan asam garam, ia sadar untuk menghadapi manusia yang tak takut mati dan tidak tertarik dengan pangkat serta kekayaan ini dia mesti bertindak secara halus.

Dia harus menunggu sampai pemuda itu berbicara lebih dulu, kemudian mencari titik kelemahan dari pembicaraannya dan mempergunakannya untuk memaksa dia menuruti kehendak hatinya.

Dia yakin setiap manusia pasti punya kelemahan, hanya kelemahan setiap orang berbeda. Karena itu Liu

Bi-ji membalikkan badan memandang ke luar jendela dan tidak, berbicara lagi.

Ternyata dugaannya benar juga, ketika sampai lama tidak mendengar perempuan itu berbicara, Lim Han-kim jadi habis sabarnya, tanpa terasa dia membuka matanya kembali Keningnya segera berkerut setelah menjumpai perempuan itu hanya memandang ke luar jendela seakan-akan sedang kenikmati keindahan malam, diam- dlam pikirnya:

"sekarang, perahu ini berada di tengah sungai, jelas aku tak bisa memaksa untuk menepi lagi, Agaknya aku mesti membekuk Kim Nio-nio dengan serangan kilat, begitu tertangkap aku akan memaksanya untuk menghantarku ke daratan.,.."

Di tengah hembusan angin malam, tiba-iiba terdengar suara orang sedang memanggil toakonya, suara itu penuh rasa cemas dan panik, Lim Han- kim segera mengenali suara itu sebagai suara adiknya, Yu siong- liong. satu ingatan segera melintas dalam benaknya, ia tak dapat menanti lebih lanjut dengan membiarkan perahu itu terbawa arus semakin menjauhi tempat tersebut Berkilat sepasang mata pemuda ini, dengan suatu gerakan cepat bagaikan sambaran kilat ia melejit ke hadapan Kim Nio-nio lalu mencengkeram bahunya dengan sambaran kilat

Biarpun Kim Nio-nio sedang berdiri membelakanginya, tapi ia seakan-akan punya mata di punggungnya, Begitu Lim Han- kim bergerak maju, dia pun memutar badannya secara tiba-tiba dan menghindar sejauh lima depa ke samping.

Di bawah sinar lentera, tampak matanya yang mendelik besar memancarkan sinar kecerdikan, sambil tersenyum tegurnya: "Tak kusangka manusia macam kau pun berani membokong orang"

Kontan Lim Han-kim merasakan mukanya jadi merah padam dan panas, cepat-cepat serunya. "Kalau kau tidak cepat-cepat menghantarku ke darat, jangan salahkan kalau kuserang lagi dengan lebih ganas."

Kim Nio-nio tersenyum, "saat ini malam sudah larut, lagipula hidangan lezat dan arak wangi sudah tersedia. Apakah kau tidak merasa bahwa pertarungan dalam keadaan begini hanya akan merusak suasana?"

sekalipun wajahnya penuh bopeng, namun selagi tersenyum, perempuan itu punya daya pikat yang amat menawan. Lim Han-kim berusaha mengendalikan gejolak perasaannya, setelah tenang sahutnya dingin: "saudara ku sedang mencariku, aku harus mendarat sekarang juga."

Kembali Kim Nio-nio tertawa hambar, "Di kolong langit dewasa ini, belum pernah ada orang yang berani memerintahku untuk berbuat sesuatu yang menentang kehendak hatiku."

Lim Han-kim tidak banyak bicara lagi, sambil membalikkan tubuh secepat petir dia menerjang maju, sementara tangan kanannya melepaskan sebuah pukulan, Kembali Kim Nio-nio menggerakkan bahunya, tahu-tahu dia sudah menyingkir lagi sejauh tiga depa.

Lim Han-kim kuatir tenaga pukulannya merusak dinding ruangan perahu, sebelum serangannya menyentuh benda tersebut tiba-tiba saja dia menarik kembali pukulannya sambil melepaskan sebuah totokan. Dengan santai Kim Nio-nio menjinjing gaunnya sehingga nampak kakinya yang putih bersih, sekali melompat ia sudah meloloskan diri dari totokan kilat tersebut, "Eeei, rupanya kau benar-benar ingin tarung denganku." tegurnya sambil tertawa.

"Baiklah, kalau ingin bertempur, lebih baik nikmati dulu hidangan yang sudah tersedia kemudian kita bertarung sepuasnya di geladak perahu sebelah sana "

Begitu dua kali serangannya gagal mencapai sasaran, Lim Han- kim segera menarik kembali tangannya melintang sejajar dada. Kemudian secepat kilat dia mengejar ke muka dan melepaskan satu serangan hgi dengan jurus "Membersihkan Debu Berbincang santai."

Kim Nio-nio tertawa terkekeh- kekth, "Hahaha hati-

hati, jangan sampai menghancurkan cawan dan mangkuk di meja." ejeknya,

Di tengah suara tertawanya yang merdu ia melompat ke atas dan lagi-lagi berhasil menghindari diri dari sergapan tersebut Lim Han- kim mendengus dingin, menggunakan kesempatan selagi tubuh lawan belum melayang turun ke lantai, telapak tangan kanannya yang sejajar dada kembali melepaskan sebuah pukulan cepat.

serangan tersebut boleh dibilang dilepaskan tepat pada saatnya, bersamaan ketika kaki Kim Nio-nio melayang turun ke lantai, angin pukulan Lim Han- kim yang keras telah menyambar tiba.

Jangan dilihat Kim Nio-nio hanya seorang perempuan yang lemah lembut, ternyata dia memiliki ilmu silat yang betul-betul mengerikan, dalam keadaan begini ia sama sekali tidak panik, Di antara ayunan tangannya, mendadak tubuhnya melejit lurus ke atas.

Kakinya menyusut ke atas dan di sela-sela waktu yang amat singkat ia sudah berjumpalitan di udara lalu melayang turun di atas bangku di sisi ruangan.

"Hebat nian ilmu merintangkan tubuh perempuan ini. " puji Lim Han-kim termangu sejenak, Cepat-cepat

dia menarik kembali serangannya sambil bersiap sedia.

Dengan suatu gerakan yang ringan tapi amat indah, Kim Nio-nio melayang turun ke atas bangku kuyu itu setelah membereskan rambutnya yang terurai, katanya sambil tersenyum: "Kau tak boleh bertarung lagi. "

sementara itu suara teriakan Yu siau-liong kedengaran makin menyayat hati, suaranya melengking berbaur dengan suara ombak membuat pemandangan yang amat tak sedap. Wajah Han-kim berubah semakin berat dan gelap. sesudah berpikir sejenak, mendadak ia menerjang ke luar dari ruangan- "Berhenti" bentakan nyaring menggema di udara.

Tiba-tiba Kim Nio-nio melompat ke depan, secepat kilat jari tangannya menyambar ke muka melepaskan sebuah cengkeraman

Lim Han-kim membalikkan tubuhnya, dengan ujung jari telunjuknya dia balas menotok urat nadi perempuan itu Kim Nio-nio merendahkan pergelangan tangannya ke bawah, lalu berbalik menotok jalan darah "Ci-ti-hiat" di dada Lim Han-kim Tampak dua jari tangan saling berputar, sebentar naik sebentar turun, dalam sekejap mata kedua belah pihak telah bertarung lima gebrakan.

Kelima jurus gebrakan tersebut dilakukan sama-sama cepat dan sama-sama berbahayanya, masing-masing pihak berusaha merobohkan lawannya dalam waktu tercepat. Tiba-tiba Kim Nio-nio melepaskan sebuah tendangan kilat, di antara gaunnya yang berkibar, kelihatan betis dan pahanya yang putih mulus dan menawan hati.

Dengan perasaan terperanjat Lim Han- kim menyusut mundur dan menghindar sejauh tiga depa, Terdengar Kim Nio-nio menghela napas panjang: "Aaaai,., berdasarkan kemampuanmu yang berani melayani pertarungan jarak dekat, sudah sepantasnya kalau kuhantar kau mendarat " Mendadak ia menarik kembali wajahnya yang penuh senyuman, dengan serius dan bersungguh-sungguh ia memberi hormat kemudian menambahkan.

"Dapat berjumpa berarti di antara kita memang berjodoh, silahkan menikmati hidangan seadanya lebih dulu, kemudian pasti akan kuhantar kau kembali ke daratan"

selagi tertawa, perempuan itu kelihatan menawan hati, tapi selagi serius ia justru menunjukkan kewibawaan yang luar biasa. Lim Han- kim merasa seakan-akan dia berhadapan dengan dua orang yang berbeda. Menghadapi kewibawaan yang terpancar dari wajah perempuan tersebut, tanpa terasa dia pun balas memberi hormat.

"Terima kasih atas kebaikan Nio-nio, aku kuatir adikku terlalu cemas sehingga terjadi sesuatu yang tak diinginkan. "

Kim Nio-nio tidak banyak bicara lagi, ia bertepuk tangan sekali, Tirai bergerak, muncul seorang dayang kecil berbaju hijau dari luar ruangan, dengan sikap sangat menghormat katanya: "Siap menantikan titah Nio- nio"

"Perintahkan mereka untuk putar kemudi dan hantar tuan muda ini ke tempat semula" Dayang kecil berbaju hijau itu mengiakan dan segera mengundurkan diri, Perlahan-lahan Kim Nio-nio duduk kembali, sambil menuding bangku di hadapannya ia ber- kata: "Gelisah pun tak usah terburu-buru, silahkan duduk"

Lim Han-kim berpikir sejenak, tapi akhirnya duduk.

Kim Nio-nio mengangkat cawan di hadapannya, Memenuhi dulu cawan di hadapan Lim Han-kim dengan arak, kemudian setelah memenuhi pula cawannya, dia ber-kata: "Hampir semua jago di dunia persilatan tahu kalau di dunia ini terdapat seorang perempuan bernama Kim Nio-nio yang malang melintang di sungai besar, tapi jarang ada yang pernah menjumpai raut wajah asliku kecuali beberapa orang dayang di sampingku." Lim Han- kim hanya mendehem tanpa menjawab.

Kim Nio-nio mengira dia hendak berbicara, ditunggunya sebentar Melihat pemuda itu tetap membungkam, tanpa terasa tegurnya sambil tersenyum: "Kelihatannya kau tak suka banyak bicara?"

Lim Han-kim manggut-manggut. Kembali Kim Nio-nio tersenyum:

"Kehebatan ilmu silatmu dan keketusan sikapmu benar-benar jarang dijumpai dalam dunia persilatan"

"Ilmu silat yang nona miliki pun tidak berada di bawah kepandaianku." Kim Nio-nio membenahi rambutnya yang terurai di bahu, perlahan-lahan ia berkata: "jika usiamu sudah mencapai tiga puluh tahunan, memiliki ilmu silat sehebat ini bukan terhitung hebat dan aneh. Tapi usiamu baru dua puluh tahunan, ilmu silatmu sudah mencapai puncak kesempurnaan- Kejadian semacam ini benar-benar sangat langka."

"Nona terlalu memuji"

Tiba-tiba Kim Nio-nio menghela napas paniang: "Aaaai... setelah berpisah malam ini, entah sampai kapan kita baru berjodoh untuk bertemu lagi Tuan muda, bersediakah kau memberitahu siapa namamu?"

"Aku Lim Han-kim"

"Berapa umurmu tahun ini?" Kembali Kim Nio-nio bertanya sambil tertawa manis. Lim Han-kim tertegun, untuk sesaat dia tidak menjawab.

Terhadap sikap pemuda tersebut ternyata Kim Nio-nio tidak memasukkannya ke dalam hati, sambil tersenyum ia kembali berkata: "Kalau kupandang sikapmu yang dingin, sayu, murung dan hambar, hampir kukira kau sudah kakek-kakek bangkotan. Aaaai... masih muda sudah mempunyai watak murung semacam ini, nampaknya kau memiliki masa lalu yang amat memedihkan hati?" setelah berhenti sejenak. tambahnya: "Kalau tidak salah taksir, usiamu sudah dua puluh tahun bukan?"

"Aku sudah dua puluh satu tahun." perlahan-lahan Kim Nio-nio menundukkan kepalanya sambil membalik badan. sampai lama kemudian ia baru berpaling kembali, hanya genangan air mata masih nampak membasahi kelopak matanya, sambil tersenyum katanya lagi: "Umurku empat belas tahun lebih tua, tak ada salahnya kalau kupanggil kau sebagai saudara cilik bukan "

"Soal ini, soal ini. "

"Sebagai sesama anggota dunia persilatan kau tak usah terikat oleh segala tata cara dan tradisi. "

Kemudian setelah berhenti sebentar, terusnya: "Andaikan adikku masih hidup, tahun ini usianya semestinya sebaya dengan usiamu."

"Adikmu?"

"Yaa, dia lenyap ketika masih berumur tiga tahun, hingga kini jejaknya belum kutemukan Aaaai. Mogg-

moga Thian masih melindungi sehingga kami kakak beradik bisa berkumpul kembali suatu hari kelak."

Melihat kesedihan yang menyelimuti wajah perempuan itu, Lim Han-kim ingin sekali mengucapkan kata-kata menghibur tapi akhirnya dia urungkan niat tersebut. setelah menyeka air matanya, Kim Nio-nio meneruskan: "saudaraku agak mirip dengan wajahmu, meski kesan tersebut tertinggal sewaktu dia masih kecil dulu, namun selalu membekas dalam benakku secara nyata, Dalam bayanganku, andaikata dia sudah tumbuh dewasa, semestinya ia mempunyai perawakan setinggi kau"

segulung angin sungai berhembus lewat menyingkap gaun yang dikenakan sehingga kelihatan lagi betis dan pahanya yang putih bersih. Buru-buru dia menarik turun gaunnya untuk menutupi kakinya yang telanjang, lalu setelah pejamkan mata ia bertanya: "Tuan muda Lim, apakah kau memandang rendah diriku?"

"Entahlah" jawab Lim Han-kim sambil tertawa hambar Mula-mula Kim Nio-nio tertegun, menyusul kemudian katanya sambil tertawa segan: "Ya benar, kau tak pernah mau mencampuri urusan orang lain bukan?"

Lim Han-kim menghela napas panjang, ia seperti mau bicara tapi kemudian niat tersebut diurungkan

Kim Nio-nio bangkit berdiri, sambil mengangkat cawannya dia berkata: "sebentar lagi perahu akan menepi, sebelum berpisah, biar kuhormati secawan arak dulu untukmu."

Lim Han-kim tidak menampik, dia mengangkat cawannya dan sekali teguk menghabiskan isinya. Pada saat itulah kedengaran suara orang berkumandang masuk: "Lapor Nio-nio, perahu telah mendarat"