-->

Pedang Bunga Bwee Jilid 12

Jilid 12

MAKA DARI itu dengan wajah berubah merah jengah ia tertawa kikuk dan membungkam. Untung Ong Bwee Chi tidak mendesak lebih lanjut, terdengar dara itu sambil menuding kearah rumah batu dihadapan mereka serunya:

"Meskipun kita tidak tahu benarkah ayahmu pernah berkunjung kemari atau tidak, namun aku rasa Ban Loo Ya-cu bukan lain adalah orang yang hendak mereka cari, lebih baik kita cepat-cepat menemui dirinya dan menanyakan persoalan ini kepadanya !".

Liem Kian Hoo memang ingin cepat-cepat mengetahui jejak ayahnya, selesai mendengar perkataan itu bagaikan seekor burung yang terlepas dari sangkar ia melayang kearah kebun bunga itu dan menerjang kearah rumah berbatu yang berjejer-jejer dihadapannya.

Ong Bwee Chi menyusul dari belakang, ketika mereka berdua tiba didepan rumah batu itu mendadadak sepasang muda mudi ini berseru dan berdiri-tertegun.

Kiranya rumah-rumah batu itu meski terdiri dari puluhan bangunan banyaknya, namun bebtuk serta potongannya persis satu sama lainnya, bangunan pertama berjarak beberapa tombak dari bangunan berikutnya dan bangunan bangunan tersebut berhubungan satu dengan lainnya dengan terowongan yang terbuat dari batu pula.

Yang paling aneh, ternyata diatas bangunan rumah batu itu tidak nampak ada jendela maupun pintu untuk masuk kedalam.

Lagi pula beberapa puluh buah bangunan rumah batu itu dari kejauhan tampak seperti bentuk rumah dengan dinding dan atap, tetapi setelah didekati ternyata terdiri dari batu-batu besar yang disusun dan ditempelkan satu sama lainnya dengan rapat, sedikitpun tidak nampak ada celah atau lubang barang sedikitpun jua.

Beberapa lingkaran sudah kedua orang itu mengintari bangunan rumah batu itu, namun belum juga menemukan pintu untuk masuk kedalam, Liem Kian Hoo jadi tercengang, segera ujarnya:

"Mungkinkah didalam rumah batu ini ada manusianya ?". "Siapa bilang tak ada penghuninya ? kecuali orang yang

semula berdiam disini, tadi dengan mata kepala sendiri kita saksikan orang penangkap ular itu dengan membawa putrinya mendatangi pula tempat ini, aku rasa kecuali bangunan rumah batu ini tak ada tempat lain untuk menyembunyikan diri !".

"Lalu darimana mereka masuk kedalam ?".

"Ada bangunan rumah tentu ada pintu masuknya, hanya saja kita belum sempat menemukan pintu tersebut !".

Seraya berkata ia mulai meraba dinding batu bangunan tersebut dan mengetuknya dengan seksama, agaknya dara tersebut ada maksud menemukan pintu lewat cara itu.

Setengah harian sudah mereka mencari dengan susah payah namun hasilnya tetap nihil, melihat akan hal tersebut sambil tertawa getir Liem Kian Hoo berkata.

"Empat penjuru dari bangunan rumah ini tiada celah maupun lubang, aku rasa pintu masuk tak mungkin ada disana, atau kecuabli mereka telahd menggali sebuaah lubang dan mebrangkak masuk lewati situ !".

Ucapan ini diutarakan tanpa maksud tertentu namun segera menggerakkan hati Ong Bwee Chi yang cerdik.

"Sedikitpun tidak salah " ia berseru "Pintu masuk keluar dari bangunan rumah batu ini terletak dibawah tanah, mereka tentu sudah menggali sebuah terowongan untuk menggabungkan dunia luar dengan bangunannya !".

Sembari berkata ia tinggalkan dinding batu dan mulai melakukan pencarian disepanjang permukaan tanah, ketika itu sang surya sudah terbenam, suasana gelap mulai mencekam seluruh selat bahkan pemadangan disekeliling tempat itupun mulai samar-samar dan sukar dibedakan. Terpaksa Ong Bwee Chi menggunakan batu untuk mengetuk disekeliling permukaan tanah disana.

Suara yang ditimbulkan oleh ketukan itu keras sekali, tetapi dari balik bangunan rumah itu sama sekali tidak menunjukkan suatu tanda apa-pun, Liem Kian Hoo tak bisa berbuat lain terpaksa iapun mengikuti cara gadis itu mulai mengetuk permukaan tanah.

"Aaaaah, kiranya terletak disini !" serunya.

Buru-buru Kian Hoo memburu kedepan, tampaklah Ong Bwee Chi sedang membuka sebuah papan batu dari atas tanah dan muncullah sebuah gua yang sangat dalam.

Dibalik penutup batu itu tertera beberapa huruf dan dapat terbaca dengan jelas sekali, tulisan itu berbunyi:

"Pintu untuk memasuki dunia yang gelap tak bersinar !". "Sungguh aneh pintu ini !" seru sianak mu da itu pula.

"Sssttt...! Ban Loo Ya-cu itu bisa memilih tempat seperti ini untuk berdiam diri, aku duga tabiatnya tentu kukoay dan jauh berbeda dengan manusia biasa." Seru Ong Bwee Chi memberi peringatan. "Liem-heng, ada baiknya kau sedikit mengerem mulutmu, janganlah membanding-bandingkan benda disini seenaknya, daripada nantinya menimbulkan hal hal yang kurang menyenangkan dari tuan rumah tempat ini !".

Merah jengah selembar wajah Kian Hoo, ia menyesal tadi sudah bicara seenaknya, buru-buru ia bertanya dengan suara lirih: "bApakah kita akadn turun kebawaha ?".

"Tentu sajba !" sahut Ong Bwee Chi sengaja memperkeras suaranya. "Terang terangan tuan rumah sudah tahu akan kehadiran kita, namun tetap tutup pintu tak sudi berkenalan dengan kita berdua, padahal kita ada maksud untuk bertemu maka terpaksa kita harus menerjang masuk dengan mengurangi tata kesopanan !". Liem Kian Hoo tahu gadis itu sedang memberi peringatan kepada orang yang ada didalam rumah, dengan sabar ia menanti beberapa saat lamanya diIuar gua.

Siapa sangka suasana tetap sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun, tiada jawaban yang muncul dari dalam rumiih batu itu, lama kelamaan Kian Hoo tak kuasa menahan sabar lagi, ia segera loncat masuk kedalam gua tersebut.

Didasar gua terbentang sebuah lorong yang gelap gulita tidak nampak lima jari sendiri, terpaksa Kian Hoo ambil keluar mutiara yang berada dalam sakunya, dengan andalkan cahaya mutiara tadi perlahan-lahan ia bergerak kedepan.

Anak tangga yang ada didalam gua itu jelas merupakan hasil karya manusia, dari rendah anak tangga tersebut makin naik keatas, arahnya bukan lain adalah bangunan rumah batu itu. Setelah berjalan beberapa saat lamanya, sampailah mereka dalam ruangan rumah batu pertama.

Ruangan itu tertutup rapat dan sama sekali tiada celah atau lubang barang sedikitpun jua, kecuali tabung bambu sebagai ventilasi pengganti hawa udara tiada benda lain yang terdapat disana, beratus ratus ekor kelelawar berbulu putih segera terbang kian kemari dengan menimbulkan suara berisik ketika tersorot oleh cahaya mutiara tersebut.

"Liem-heng, hati hati, jangan sampai terbentur oleh kelelawar-kelelawar itu !" jerit Ong Bwee Chi dengan suara kaget.

Liem Kian Hoo sendiripun merasa amat terperanjat, sebab kelelawar-kelelawar itu bukan saja bulunya aneh bahkan tubuhnya jauh lebih besar dari kelelawar biasa, moncongnya tajam dengan gigi yang tajam sehingga bentuknya menyeramkan sekali.

"Apakah kelelawar kelelawar ini pemakan manusia ?" buru- buru ia bertanya. "Bukan saja pemakan manusia bahkan menghisap pula darah manusia" sahut sang dara dengan badan gemetar " tubuh kelelawar itu penuh mengandung racun yang keji, barang siapa yang tertempel niscarya akan mati, stetan setan gantqung putih ini branyak terdapat digurun pasir wilayah See-Ih, entah bagaimana mungkin bisa muncul di tempat ini.".

"Kelelawar-kelelawar itu dinamakan setan putih ?".

"Benar, para pedagang yang sering lewat di gurun pasirlah yang memberi julukan tersebut kepada kelelawar-kelelawar itu, mereka lukiskan betapa keji dan beracunnya binatang- binatang itu, barang siapa yang berjumpa pasti akan mati binasa, seolah-olah manusia itu telah bertemu dengan setan pencabut sukma !".

"Loosianseng berkerudung itu dikatakan sebagai se-orang tabib sakti, mengapa ia memelihara binatang-binatang celaka pembunuh manusia ini ?...". tanya Kian Hoo kurang paham.

"Aku sendiripun tidak tahu, mungkin sekali binatang itu sangat berguna dalam ilmu pertabibannya ? dikolong langit banyak sekali terdapat binatang-binatang celaka yang memiliki ciri-ciri khas tertentu, siapa tahu kalau sitabib sakti itu menggunakan ciri khas dari kelelawar ini untuk menolong orang yang membutuhkannya ?".

"Aaaaai.. terhadap ilmu pertabiban, sedikitpun aku tidak paham, akupun tidak mengerti penjelasan-penjelasan yang barusan kau berikan kepadaku, lebih baik kita cepat cepat berlalu !".

Untuk menghindari serangan bokongan dari kelelawar kelelawar putih itu, mereka berdua ber-jalan dengan sangat hati hati, namun agaknya kelelawar kelelawar putih itu sangat takut terhadap cahaya mutiara, binatang-binatang itu segera terbang menyingkir tatkala mereka lewat. Dengan hati kebat kebit dan jantung berdebar keras akhirnya lorong itu berhasil mereka lewati, sampailah kedua orang itu didalam ruang batu kedua.

Pemandangan yang meraka temukan didalam ruangan itu jauh lebih mengerikan lagi.

Tampaklah keadaan dari ruang batu kedua ini tiada berbeda jauh dengan ruang pertama tadi. hanya saja dalam ruang kedua ini terdapat sebuah pembaringan yang terletak ditengah ruangan, pembaringan itu terbuat dari porselin putih dan bentuknya seperti sebuah mimbar. diatas pembaringan tadi tidur terlentang seorang gadis dalam keadaan telanjang bulat, banyak sekali kelelawar-kelelawar putih hinggap diatas tubuh gadis telanjang itu dan menghisap darahnya.

Gadis telanjang itu bukan lain adalah gadis dusun A-Kim yang oleh Ong Bwee Chi sengaja di pagutkan ular, maksud dara tersebut bukan lain hendak mengunakan perbuatannya ini untuk menemukan tempat tinggal dari sitabib sakti yang sedang mereka cari.

Walaupun tujuan mereka akhirnya berhasil, namun gadis dusun itu sendiri telah mendapat penyiksaan yang luar biasa mengerikan Menyaksikan peristiwa ini Ong Bwee Chi langsung naik pitam, dengan sinar mata berapi api teriaknya:

"Kurangajar ! apabila bajingan tua ini terjatuh ketanganku, akan kubeset kulit tubuhnya..." Liem Kian Hoo pun melengak menjumpai kejadian itu, tetapi ia jauh lebih tenang pikirannya, sambil menarik tangan gadis itu ujarnya:

"Nona Ong ! kemungkinan sekali cara inilah merupakan cara yang paling tepat untuk mengobati lukanya !".

Omong kosong ! aku cuma menotok jalan darahnya belaka sehingga menghalangi racun ular menyerang kejantung, caranya untuk menolong gampang sekali, asal jalan darahnya dibebaskan lalu dengan salurkan tenaga dalam, dengan cepat racun ular itu akan terdesak."

Ucapan ini membuat Liem Kian Hoo tertegun. terhadap siorang tua yang belum pernah dijumpainya pun segera timbul suatu perasaan aneh. Kalau ditinjau dari sikap hormat dan patuh dari rakyat sekitar bukit terhadap kepada siorang tua itu, semestinya dia adalah seorang tabib sakti berhati welas, tetapi kalau ditinjau dari perbuatannya terhadap gadis itu, jelas menunjukkan betapa keji, telengas dan sadisnya perbuatan orang itu. Setelah berpikir beberapa saat ia lantas berkata kepada gadis she-Ong itu:

"Nona Ong ! coba kau dekati gadis itu dan periksalah apakah ia sudah mati atau masih hidup ?" Ong Bwee Chi termenung sejenak, lalu ambil keluar dua bilah pisau belati dan ayunkan tangannya kedepan.

Sreeet ! Sreeet ! diiringi dua kali desiran tajam dua ekor kelelawar putih rontok keatas tanah dan mati ditembusi pisau belati itu, Kelelawar kelelawar lainnya segera buyar dan beterbangan kian kemari sambil memperdengarkan cicitan aneh, bahkan sebagian besar diantaranya segera menubruk kearah kedua orang itu. Sejak tadi Liem Kian Hoo sudah bikin persiapan dengan tangan sebelah ia kirim sebuah pukulan dahsyat kedepan.

Termakan oleh hembusan angin yang maha dahsyat itu, beberapa ekor kekelawar itu segera terseret kebelakang menumbuk dinding batu dan rontok keatas tanah, dalam sekejap mata puluhan ekor kelelawar putih itu sudah mati terhajar, sisa nya yang sempat lolos dari angin pukulan segera terbang melewati terowongan dan melarikan diri ke ruang depan.

Menanti kelelawar putih itu sudah terusir semua, Ong Bwee Chi baru berjalan mendekati pembaringan itu, tampak seluruh tubuh gadis itu penuh dengan mulut luka, noda darah berkelepotan diseluruh tubuhnya, sewaktu ia periksa denyutan nadinya, dengan wajah gusar gadis itu segera berteriak:

"Bajingan tua, sungguh keji perbuatanmu. Sedang Liem Kian Hoo segera menghela napas panjang, tak usah ditanya ia sudah tahu bagaimanakah hasil pemeriksaan itu.

Dengan amat sedih Ong Bwee Chi melepaskan pakaian luarnya yang berwarna hitam itu dan ditutupkan keatas tubuh gadis telanjang itu, kemudian sambil menahan isik tangis katanya:

"Walaupun kau bukan mati ditanganku, namun aku tak bisa melepaskan diri dari pertanggungan jawab atas kematianmu beristirahatlah dengin tenang ! aku pasti akan membiarkan kau mati dengan mata meram !"

"Aaaaaai....! siorang tua she-Ban itu entah merupakan manusia aneh macam apa ?" si anak muda itu ikut menghela napas.

"Manusia aneh apa? dia tidak lebih adalah seorang manusia edan, manusia sinting yang tidak waras otaknya, tunggu saja saatnya, akan kuberi pelajaran kepadanya !".

Beberapa saat Liem Kian Hoo membungkam dalam seribu bahasa, akhirnya dengan suara lirih ia berkata:

"Mari kita lanjutkan perjalanan kedalam, kita masih harus bekeija keras untuk menemukan sikakek tua itu. Namun dengan adanya peristiwa yang mengerikan ini berarti pandangan kita terhadap dirinya pun harus dirubah, semula kita tiada bermaksud memusuhi dirinya, namun sekarang, mau tak mau kita harus selalu waspada dan berhati-hati terhadap segala hal yang tidak diinginkan !"

Dengan air mata bercucuran dan mulut membungkam Ong Bwee Chi meninggalkan ruang batu itu, melewati terowongan dan tiba diruang batu ketiga, disana kosong melompong tak nampak sebuah bendapun, merekas lanta meneruskan perjalanannya kedepan.

Siapa sangka apa yang ditemui sedikit ada diluar dugaan, lima enam buah ruang batu berikutnya merupakan ruang kosong semua, menanti mereka masuk dalam ruang kedelapan barulah menemukan sesuatu disana, apa yang berhasil mereka temukanpun merupakan suatu peristiwa berdarah yang mengerikan dan mendirikan bulu roma.

Ditengah ruangan tersebut terletak sebuah bangku, diatas bangku duduklah seorang dan dia bnkan lain adalah Tan Loo- toa sipenangkap ular. tangan serta kakinya ketika terikat kencang kencang diatas bangku tersebut, pakaian bagian dadanya robek dan rongga dadanya muncul sebuah lubang yang amat besar darah segar masih mengucur keluar tiada hentinya, jelas terlihat bahwasanya jantung orang itu mentah- mentah sudah dikorek keluar oleh orang, walaupun pemandangan mengerikan yang mereka lihat dalam ruang depan tadi telah merubah sikap mereka terhadap sikakek misterius itu, tetapi pemandangan menyeramkan yang mereka temukan saat ini semakin menggusarkan hati kedua orang itu.

"Kalau aku berhasil menangkap bajingan ini, akan kusuruh diapun merasakan bagaimanakah menderitanya seseorang bila rongga dadanya dibedah." sumpah Kian Hoo sambil meraung gusar.

Ong Bwee Chi bungkam dalam seribu baha sa, ia berebut masuk kedalam terowongan lebih dahulu untuk melanjutkan penggeledahannya.

Liem Kian Hoo pun mengikuti dibelakang-nya, kini ia sudah melupakan sama sekali tujuan utamanya datang ketempat itu untuk mencari tahu kabur berita tentang ayahnya, yang ia pikirkan kini adalah menemukan sikakek bertangan telengas itu dan menanyakan apa maksudnya melakukan perbuatan- perbuatan sinting. Dalam ruang batu kesembilan penuh berisikan botol botol obat obat serta kotak-kotak berisi obat, diatas dindingpun banyak tergantung rumput-rumput obat yang sedang dikeringkan, namun tak nampak sesosok bayangan manusia pun berada disana.

Dengan tergesa gesa mereka menerobosi terowongan dan tiba diruang batu ke sepuluh.

Pemandangan selanjutnya yang berhasil mereka temui boleh dikata jauh lebih mengerikan lagi, seolah-olah tempat itu sudah berubah jadi sebuah neraka.

Disekeliling ruang batu terletaklah lima enam buah gentong besar, ditengah ruang berdiri pula sebuah meja terletak beberapa buah kotak kayu.

Benda benda itu sih tak begitu mengherankan justru isi dari benda benda itulah yang amat mengejutkan hati manusia.

Dalam sebuah gentong, entah berisikan cairan apa yang menyiarkan bau tidak enak bertumpuklah lengan manusia serta kaki manusia dalam keadaaan utuh serta segar.

Dalam gentong lain berisikan pula panca indra dari manusia, ada telinga, hidung, mata dan semuanya dalam keadaan segar serta utuh.

Bergerak lebih kedalam, tampak pula isi gentong itu berupa otak, hati, limpa, ginjal, usus serta pelbagai macam isi perut manusia, semua alat tubuh manusia itupun berada dalam keadaan segar.

Yang paling mengejutkan lagi adalah isi ember yang ada diatas meja, dalam ember itu terletak sebuah jantung manusia, darah yang mengucur keluar kelihatan masih segar bahkan jantung itupun masih berdenyut tiada hentinya.

Seluruh tubuh Ong Bwee Chi gemetar keras tak kuasa lagi ia merapatkan tubuhnya kedalam pangkuan Kian Hoo seraya berseru kaget: "Oooouw... sungguh mengerikan sekali...".

Kian Hoo sendiripun merasa amat terperanjat menyaksikan pemandangan tersebut namun bagaimana juga dia adalah seorang pria, nyalinya jauh lebih besar dari pada kaum wanita, sambil berusaha mempertahankan tubuhnya yang mundur sempoyongan, laksana kilat ia tarik gadis itu untuk buru-buru meninggalkan ruang batu itu.

Setelah berlalu dari sana, Ong Bwee Chi baru bisa mententramkan hatinya yang diliputi rasa ngeri, sambil menekan dada sendiri serunya dengan nada gemetar:

"Belum pernah kutemui pemandangan yang begitu menakutkan macam ini...".

"Tidak aneh kalau bajingan tua ini mencari tempat yang begini terpencil dan rahasia untuk tempat tinggalnya." teriak Kian Hoo penuh kemarahan yang meluap. "Kiranya ia sudah melakukan perbuatan terkutuk yang tak boleh diketahui orang lain !".

Baru saja ia menyelesaikan kata-katanya, mendadak dari arah depan mereka berkumandang datang suara tertawa dingin yang amat menusuk pendengaran.

Didalam ruangan gelap yang tak pernah bertemu dengan cahaya mata hari tentu saja tersimpan banyak perbuatan yang tak boleh diketahui orang." katanya.

Mendengar seruan itu Liem Kian Hoo merasa amat terperanjat buru buru ia menubruk kea-rah ruang batu itu dengan kecepatan laksana ki-lat, baru, saja melangkah masuk kedalam pintu mendadak tampak sesosok bayangan manusia munculkan diri dihadapannya dan menerjang kearahuya dengan hebat.

Melihat datangnya ancaman Liem Kian Koo tak sempat berpikir panjang lagi, ia ayun telapak nya melancarkan sebuah serangan. Orang itu munculkan diri dengan kecepatan laksana kilat, serangan yang dilepaskan Liem Kian IToo pun tidak kalah cepatnya, dengan cepat pukulan itu bersarang telak dengan tubuh lawan.

Bluummm ! orang itu terpukul mundur beberapa langkah kebelakang dengan sempoyongan punggungnya langsung menumbuk dinding-batu keras-keras.

Meski demikian Liem Kian Hoo sendiripun merasakan tulang telapaknya jadi amat sakit hingga merasuk ke tuIang sungsum, tubuh orang itu seakan-akan terbuat dari besi baja yang keras dan kuatnya luar biasa, dinding batu yang kena ditumbuk langsung hancur berkeping keping namun ia sendiri tidak merasa bahkanb menubruk kembadli ke muka.

Kalai ini Liem Kianb Hoo sudah bikin persiapan, ia tidak menyambut datangnya tubrukan itu dengan telapak tangannya, tiba tiba kakinya diangkat melancarkan sebuah tendangan kearah lambung orang itu, dan tenaga yang digunakan adalah Im.

"Bruuuk !" kembali tendangan itu bersarang telak membuat tubuh orang itu bergulingan diatas tanah.

Sungguh kosen orang tadi, dengan cepat ia merangkak kembali, sambil berkaok kaok aneh ia mundur dan tidak berani menubruk kembali, saat itulah Liem Kian Hoo baru punya kesempatan untuk mengawasi raut wajah orang itu dengan meminjam cahaya yang terpancar keluar dari tangannya.

Namun begitu memandang, hatinya kembali dibikin terperanjat dalam dugaanya semula ia mengira orang yang barusan melancarkan serangan pastilah sikakek tua misterius she-Ban itu.

Siapa sangka ketika cahaya mutiaranya menyoroti raut wajah orang itu yang terlihat olehnya adalah seorang lelaki yang berusia setengah baya dan yang penting ia kenal dengan orang itu. Wajahnya hitam pekat dengan cambang memenuhi seluruh wajahnya, dia bukan lain adalah Loo Sian Khek simanusia licik yang berulang kali membokong dirinya.

Liem Kian Hoo kontan naik pitam, ia tidak memikirkan lagi secara bagaimana orang she-Loo itu hisa munculkan diri ditempat tersebut serta bagaimana caranya tenaga dalam yang dimiliki bisa peroleh kemajuan pesat, dan sinar mata berapi hardiknya:

"Loo Sian Khek ! kau masih punya muka untuk menemui diriku !".

Loo Sian Khek bungkam dalam seribu bahasa, sepasang matanya mendelong sayu, sepasang telapak dipentangkan siap menubruk kembali ke depan.

Liem Kian Hoo jadi sangat terperanjat, sebab secara miendadak ia temukan bahwasanya kulit badan Loo Sian Khek yang semula hitam lagi kasar kini sama sekali telah berubah, sepasang tangannya yang dipentangkan ketika itu berwarna putih dan halus sekali, seakan-akan bukan sepasang telapaknya.

Agaknya Loo Sian Khek pun tidak kenal akan dirinya lagi, sepasang lengannya dipentangkan dan sekali lagi melancarkan tubrukan kemuka.

"Manusia laknat yang tidak pegbang janji, pengdhianat terkutuka yang menjual sbahabat." teriak Liem Kian Hoo penuh kegusaran.

"Hitung-hitung sepasang mataku telah salah menilai orang pada masa lampau, aku sudah menganggap dirimu sebagai orang baik...".

DimuIut ia bicara, tapi sepasang telapaknya sama sekali tidak mengendor, telapaknya dibabat kemuka mengancam bahunya, karena ia sangat benci terhadap lelaki ini maka dalam melancarkan serangan tersebut ia sudah mengeluarkan segenap tenaganya.

Sepasang lengan Loo Sian Khek tidak lebih panjang dari tangannya, belum sempat cakarnya bersarang ditubuh sianak muda itu, serangan telapak Liem Kian Hoo sudah bersarang diatas bahunya.

Meski sianak muda itu merasakan telapaknya jadi sakit akibat bentrokan tersebut, namun hawa pukulan yang bergelombang laksana ombak disamudra itu berhasil menghantam Loo Sian Khek sampai terbongkok-bongkok.

Kendati begitu diam-diam Liem Kian Hoo merasa terperanjat juga, ia merasa bukan saja tubuh Loo Sian Khek telah berubah bahkan perawakan badannya pun seakan akan lebih pendek daripada biasanya.

Kiranya Loo Sian Khek adalah seorang lelaki yang berperawakan tinggi besar, kendati perawakan tubuh Liem Kian Hoo tidak terhitung pendek namun kalau dibandingkan dengan orang itu, ia masih terpaut jauh, dan kini perbedaan tinggi badannya hanya tidak seberapa.

Bersamaan itu pula sianak muda tersebutpun merasa terperanjat sebab kulit badan Loo Sian Khek telah berubah jadi keras lagi atos, walaupun sebuah tendangan sebuah kepalan serta sebuah serangan telapaknya telah bersarang telak diatas tubuhnya, namun ia sama sekali tidak merasakan sesuatu apapun, seolah-olah serangan yang bersarang telak tadi sama sekali tidak membuat ia kesakitan.

Tampaklah Loo Sian Khek telah bangkit berdiri, telapaknya laksana hembusan angin puyuh menggulung keluar mengancam tenggorokannya. Didalam bentrokan kekerasan sebanyak tiga kali tidi, diam-diam Liem Kian Hoo sudah menderita kerugian menyaksikan ia melancarkan tubrukan kembali ia bersikap waspada. Dengan telapak rtangan sebelah tia sambut datanqgnya serangan irtu, ketika sang telapak sampai ditengah jalan tiba tiba ia merubah arah dan ganti membabat tubuh musuhnya.

Kali ini perhitungannya meleset sama sekali, hawa pukulan yang maha dahsyat tersebut seakan-akan sama sekali tak berguna untuk menghadapi Loo Sian Khek, sepasang telapaknya bagaikan sepasang jepitan besi tetap melanjutkan gerakannya mengancam tenggorokan. 

Dalam keadaan tergopoh, ia segera tundukkan kepala rendahkan badan, dengan susah payah serangan tersebut berhasil dihindari kemudian jarinya bagaikan sebilah badik langsung menotok dada Loo Sian Khek.

Serangan yang dilancarkan Loo Sian Khek amat ganas namun gerak geriknya Iamban sekali, ia sama sekali tak tahu akan menghindar ataupun berkelit, dalam keadaan seperti ini tentu saja dadanya segera termakan totokan sianak muda itu.

Tetapi Liem Kian Hoo pun merasakan ujung jarinya seolah- olah terbentur diatas selapis besi baja yang atos, sakitnya bukan buatan sehingga hampir-hampir saja ia menjerit keras. Dalam keadaan cemas dari serangan menotok ia ubah jadi serangan mencengkeram.

Baju Loo Sian Khek dicengkeram erat-erat lantas tubuhnya diangkat dan dilemparkan kedepan.

"Breeet...!" suara robekan pakaian berkumandang memenuhi seluruh ruangan. Badan Loo Sian Khek kena diangkat ketengah udara dan dilemparkan kedepan sehingga menumbuk dinding ruang batu, pakaian bagian dadanya robek sebagian besar.

Bersamaan dengan peristiwa itu, tiba tiba Kian Hoo pun memperdengarkan jeritan kaget kemudian berdiri mendelong, hampir hampir saja ia tidak percaya dengan pandangan mara sendiri. Kiranya kulit dada Loo Sian Khek bukan saja berwarna putih bersih dan amat halus, bahkan tampak sepasang buah dada yang montok dan padat berisi, jelas sepasang buah dada yang ada di-dada Loo Sian Khek merupakan bagian merupakan bagian tubuh dari kaum wanita.

Peristiwa ini kontan membuat Liem Kian Hoo berdiri dengan mata terbelalak mulut melongo, ia tidak percaya kalau dikolong langit bisa terjadi peristiwa yang begini aneh dan tak masuk diakal.

Orang yang berada dihadadapannya saat-saat ini mempunyai paras muka persis seperti Loo Sian Khek tetapi jelas bukan Loo Sian Khek pribadi, sebab ia yakin bahwa Loo Sian Khek bukanlah seorang wanita.

Tetapi, benarkah dikolong langit terdapat seorang wanita yang berwajah hitam serta penuh bercambang ?

Sebelum teka teki yang memusingkan kepalanya ini berhasil dipecahkan, Loo Sian Khek telah melancarkan tubrukan kembali dengan dahsyatnya.

Menghadapi manusia baja yang tak sanggup dilukai ini, Kian Hoo merasa kehabisan akal dan tak mengerti bagaimana harus turun tangan untuk membendung serangannya.

Ong Bwee Chi yang selama ini berdiri membungkam disisi anak muda itu, mendadak enjot-kan badan menyambut datangnya serangan dari Loo Sian Khek, lengannya yang halus dikebaskan kedepan lalu mengangkat tubuh orang she-Lo itu ketengah udara, namun ia tidak segera melemparkannya keatas tanah.

Loo Sian Kkek yang badannya terangkat di tengah udara tak sanggup berkutik lagi, sepasang tangan serta kakinya cuma bisa bergoyang tiada hentinya sedang mulutnya berkaok-kaok aneh, namun ia tak sanggup berkutik kembali.Menyaksikan perbuatan dara tersebut, Liem Kian Hoo jadi tercengang, tak kuasa segera teriaknya: "Nona Ong ! mengapa kau angkat terus tu buhnya ? banting saja keatas tanah !".

"Apa gunanya dibanting keatas tanah ? pu kulan telapak tak berhasil melukai tubuhnya, bacokan senjata belum tentu bisa membinasakan di-rinya, kalau kita harus ribut terus menerus macam begini, akhirnya malahan kitalah yang bakal celaka! "

Liem Kian Hoo merasa apa yang diucapkan gadis itu memang tidak salah, hatinya jadi gelisah.

"Lalu apa yang harus kita lakukan ?" seru-nya. "Bagaimanapun kan kau tak mungkin selalu mengangkat tubuhnya macam begitu ??"

Ong Bwee Chi berpikir sejenak kemudian baru berkata: "Liem heng ! dalam tubuhku terbdapat sebuah bodtol kecoI

dalama botol tersebutb berisikan bubuk Boe Heng Sang,

bubuk yang khusus untuk menghancurkan mayat, Nah ! ambillah keluar dan sebarkan sedikit bubuk penghancur mayat itu keatas tubuhnya dalam waktu singkat makhluk ku-koay ini bakal hancur lebur dan lenyap tak berbekas !".

Ucapan ini membuat Liem Kian Hoo setengah percaya setengah tidak, namun ia menghampiri juga gadis itu dan merogoh kedalam sakunya darimana ia ambil keluar sebuah botol kecil terbuat dari porselen, sewaktu botol tadi dibuka pe nutupnya maka tampaklah isi botol itu bukan lain adalah pil Peng Soat Wan yang bisa menyembuhkan luka api beracun.

"Benar, benda itulah yang kumaksudkan" terdengar Ong Bwee Chi telah berteriak keras, " Sewaktu menggunakan benda itu kau harus berhati-hati, jangan sampai terkena badan sendiri !".

Liem Kian Hoo kebingungan dan tidak habis mengerti apa yang dimaksudkan gadis itu, namun berhubung dalam sakunya cuma ada sebuah botol kecil itu saja, maka ia mencobanya pula untuk mengambil keluar isi botol tersebut.

Belum sampai ia sebarkan isi botol itu kea-tas badan Loo Sian Khck, sekonyong-konyong dari balik pintu ruang batu yang kesepuluh muncul sesosok bayangan manusia yang menerjang keluar dari pintu laksana sambaran kilat.

Ong Bwee Chi membentak keras, menyaksikan datangnya tubrukan itu ia segera lemparkan tubuh Loo Sian Khek kearah bayangan manusia tadi.

Didalam suatu bentrokan yang sangat keras kedua belah pihak sama-sama rontok keatas tanah kemudian merangkak bangun dan laksana kilat lari kembali kedalam ruang batu kesepuluh.

Ong Bwee Chi segera merampas kembali botol kecil itu dari tangan Liem Kian Hoo, kemudian menghela napas panjang dan berseru:

"Aaaaai ! sayang, sungguh sayang sekali, gerakanmu terlalu lambat setindak, kalau tidak ia tak bakal berhasil meloloskan diri dari cengkeramanku !".

Liem Kian Hoo masih tetap tidak habis mengerti, ia berdiri melongo-longo dan mengawasi gadis itu dengan sinar mata penuh tanda tanya.

Ong Bwee Chi tertawa, kembali ia bertanya:

"Apakah orang tadi adalah sahabbat lama dari Ldiem heng

?".

"Taidak salah ! " bLiem Kian Hoo manggut-2

"Paras mukanya sih mirip sekarang dengan Loo Sian Khek". "Ehmmm ! akupun pernah bertemu dengan orang ini, ia

pernah datang kerumahku bersama-sama Kauw Heng Hu sekalian !". "Sebenarnya bajingan itu adalah sahabatku, tetapi hemudian ia sudah menjual diriku... hanya saja, orang tadi tidak terlalu mirip dengan manusia laknat yang kumaksudkan, sebab Loo Sian Khek adalah seorang pria.".

"Sedikit tidak salah, orang tadi benar-benar adalah Loo Sian Khek, cuma saja ia sudah dipasangi dengan bagian-bagian tubuh seorang wanita !".

"Hal ini mana mungkin terjadi.".

"Dikolong langit seringkali terjadi suatu hal yang mungkin ditengah ketidak mungkinan, umpama saja peristiwa yang barusan kita jumpai ini. Apa bila aku tidak melihat dengan mata kepalaku sendiri, akupun tidak percaya kalau dikolong langit benar-benar bisa terjadi hal-hal yang tak mungkin terjadi itu, tetapi setelah kupertimbangkan dan aku analisa sendiri maka aku merasa yakin bahwa peristiwa ini benar bisa terjadi.

Apakah kau sudah lupa akan potongan lengan serta potongan kaki yang disimpan dalam gentong diruang batu sebelah tadi ? pastilah bajingan tua itu sudah menggunakan alat-alat tubuh tersebut untuk menggantikan bagian tubuh orang lain, dan Loo Sian Khek adalah salah satu hasil karyanya

!".

Liem Kian Hoo menjulurkan lidahnya, untuk beberapa saat lamanya ia tak sanggup mengucapkan sepatah katapun.

Menyaksikan mimik wajah sianak muda itu Ong Bwee Chi tertawa.

"Liem heng, apakah kau tidak berani mempercayai akan kenyataan dari peristiwa tersebut, namun kini mau tak mau aku harus percaya sebab kenyataan berada di hadapan mataku ! ".

Ong Bwee Chi pun menghela napas ringan. "Kenyataan ada didepan mata hal ini membuat kau yang tidak ingin percayapun harus percaya, disinilah letak keajaiban serta keanehan dari suatu kepandaian ilmu pertabiban, apabila aku tidak menemukanr perbedaan warnta kulit dibawahq leher Loo Sianr Khek, dan menemukan pula bekas-bekas jahitan diantara penggabungan dua warna kulit yang berbeda itu, belum tentu aku bisa berpikir sampai ke situ...".

"Aiiaaah ! kalau begitu bajingan tua she-Ban tersebut sudah berhasil melatih ilmu Pertabibannya hingga amat sempurna, sehingga ia bisa menguasahi rahasia kehidupan dan kematian dengan sekehendak hatinya !".

"Sebetulnya peristiwa ini bukan termasuk suatu kejadian yang luar biasa sekali, teringat Hoa Tuo dari kerajaan Sam Kok tempo dulu, beliau pun pernah membedah jantung membedah otak, keparat she Ban ini tidak lebih hanya meneruskan kepandaian sakti yang sudah ditemukan pada masa yang silam belaka!".

"Aaaaai ! pelbagai kesaktian yang diceritakan oleh rakyat atas kelihayan dari Hoa Tuo, hal tersebut tidak lebih karena kita dengar dari mulut orang lain belaka, yang hebat adalah dewasa ini kita telah menyaksikan keajaiban terse but dengan mata kepala sendiri !".

"Hmmm! sekalipun ia memiliki kepandaian yang sangat hebatpun, belum tentu ia bisa menolong dirinya sendiri agar panjang umur dan tidak bakal mati, sekalipun ia bisa mencangkokkan anggota badan orang lain keatas tubuh seseorang namun seperti yang kau lihat keadaan dari Loo-Sian Khek tadi, kecuali bisa bergerak sama sekali tak dapat berpikir, cuma berhasil menciptakan sesosok mayat hidup belaka !".

"Bocah perempuan, sungguh tidak sedikit pengetahuan yang kau miliki." Tiba-tiba dari luar pintu berkumandang datang gelak tertawa seseorang. "Kepandaian yang sebenarnya dari Loohu belum kau lihat semuanya, menanti kau selesai menyaksikan seluruh kepandaian pertabiban yang loohu miliki, kau baru akan tahu sebenarnya loo hu adalah manusia macam apa !".

Suara yang berhasil mereka tangkap saat ini bukan lain adalah suara kakek she-Ban yang pernah meraka dengar tadi, Liem Kian Hoo ingin mengejar tetapi segera dicegah Ong Bwee Chi.

"Liem heng, berhati hatilah sedikit, jangan gegabah, bajingan tua itu licik dan punya banyak akal, hati-hati jangan sampai dipecundangi olehnya !".

Selesai memberi nasehat kepada sianak muda itu, kembali Bwee Chi beserta lantang kearah pintu luar:

"Aku tidak pengin ngerti akan permainan setanmu itu, dengan meninjau dari mayat hidup yang berhasil kau ciptakan itu, aku berani memastikan bahwa kau adalah seorang manusia laknat yang berhati keji, telengas dan buas !".

Suara tertawa dingin berkumandang keluar dari balik pintu, kemudian disusul dengan suara helaan napas rendah.

Suara helaan napas ini membuat Liem Kian Hoo tertegun, kepada Ong Bwee Chi ia segera ber bisik:

"Nona Ong, setelah bajingan tua itu kau maki agaknya ia merasa rada menyesal, aku lihat ia masih punya liang sim dan tidak kejam sama sekali."

Ong Bwee Chi hanya menggeleng dengan hati berat, bersama sama dengan Liem Kian Hoo mereka berjalan kedepan lambat dan masuk kedalam sebuah ruang batu, tempat itu merupakan ruang batu yang kesepuluh.

Dalam ruang tersebut terlentang sebuah peti mati terbuat dari tembaga, penutup peti mati itu terbuat dari kaca yang bening dan bersih sehingga isi dari peti mati tersebut dapat terlihat jelas. Tampaklah dasar peti mati dilapisi oleh kain sutera yang halus dan didalamnya berisi seorang gadis muda tidur terlentang didalam peti mati itu.

Gadis tersebut mempunyai paras muka yang amat cantik, membuat setiap orang yang memandang segera timbul perasaan sayang dan simpatik hanya saja kulit tubuh serta air mukanya pucat pias bagaikan mayat, begitu putih seolah-olah sebuah patung yang terbuat dari pualam putih.

Suasana dalam ruang batu ini jauh berbeda dengan ruang- ruang batu lainnya, mutiara sebesar telur itik tersebar diempat penjuru dan memancarkan cahaya yang berkilauan, membuat sinar mutiara yang ada ditangan Kian Hoo kelihatan jadi redup dan samar-samar.

Empat penjuru sekeliling peti mati tembaga itu bertaburan intan permata dan mutiara yang mahal harganya, namun benda-benda berharga itu tak ada yang bisa menangkan harga dari batu kumala putih yang tergantung dbidepan dada gaddis-tersebut.

Baatu kumala tersebbut berbentuk bagaikan bunga bwee, ukirannya nyata dan indah terutama sekali cahaya putih bersih yang memancar keluar dari batu kumala tersebut, membuat pakaian warna putih yang dikenakan gadis tersebut serta kulit tubuhnya yang bersih kelihatan semakin cemerlang dan semakin menawan.

Sejak Liem Kian Hoo serta Ong Bwee Chi melangkah masuk kedalam ruang batu itu dan menyaksikan senyuman manis yang tersungging di bibir gadis dalam peti mati itu, entah apa sebabnya tiba-tiba mereka berdua merasakan hatinya amat tenteram, napsu membunuh yang semula menyelimuti mereka berdua kini tersapu lenyap tak berbekas.

Ong Bwee Chi lah mula-mula yang menjerit kaget lebih dahulu, terdengar ia berseru: "Tidak aneh kalau ilmu pertabiban yangdi miliki tua bangka itu sangat lihay dan luar biasa ternyata ia berhasil mendapatkan kumala mustika yang bisa menyoroti tubuh manusia serta memberikan penglihatan yang jelas atas perubahan dalam isi tubuh manusia.

Agaknya Liem Kian Hoo sudah dibikin terpesona oleh kecantikan wajah gadis yang ada di dalam peti mati itu, ia berdiri termangu-mangu dan bungkam dalam seribu bahasa.

"Eeeei Liem heng, kenapa kau ?" Ong Bwee Chi segera menegur sambil menjawil tangannya. Liem Kian Hoo tersentak kaget dan segera sadar dari lamunannya, ia menghela napas panjang.

"Aaaai...! sepanjang hidup entah sudah berapa banyak gadis cantik yang berhasil cayhe jumpai, namun kalau dibandingkan dengan gadis yang ada didalam peti mati ini boleh dikata bagaikan langit dan bumi! kecantikan wajah macam ini benar-benar luar biasa sekali sehingga sukar bagiku untuk melukiskan dengan kata-kata...".

Meskipun Ong Bwee Chi sendiripun mengakui bahwa kecantikan wajah gadis dalam peti mati itu luar biasa, namun sehabis mendengar ucapan dari sianak muda itu tak urung timbul juga rasa cemburu yang sukar dilukiskan dengan kata kata dalam hati kecilnya.

Lama sekali ia termenung kemudian baru tertawa hambar. "Cantiknya sih cantik, sayang hanya sesosok mayat yang

cantik, bagaimanapun juga sesuatu yang tak bernyawa merupakan hal yang tidak cantik..."

Liem Kian Hoo bungkam seribu bahasa.

Mendadak dari luar ruangan berbkumandang datandg gelak tertawaa dingin seseorabng, disusul suara jengekan yang amat parau: "Kalian benar-benar punya mata tak berbiji hanya membedakan mana yang hidup dan mana yang matipun tak bisa !".

Sepasang muda mudi itu tertegun mereka segera memeriksa lebih saksama lagi, sedikitpun ti dak salah gadis cantik itu benar-benar belum mati, dibawah sorotan cahaya kumala berwarna putih tampaklah jantungnya yang berwarna biru mu da itu masih berdenyut dengan lirihnya.

Liem Kian Hoo jadi sangat terperanjat segera teriaknya: "Apabila ia benar-benar belum mati, mengapa kau kubur

dia hidup-hidup didalam peti mati itu ?".

Walaupun si kakek tua itu tidak hadir didalam ruangan, namun jelas ucapan ini ditujukan kepadanya.

Terdengar dari balik kegelapan berkumandang keluar suara helaan napas lirih, begitu lirih suaranya sehingga sukar ditangkap dengan jelas.

"Apabila tidak melihat, aku tak mau tahu tapi kini setelah melihat aku tidak akan berpeluk tangan belaka." teriak Liem Kian Hoo penuh kegusaran. "Bagaimanapun juga aku tidak akan membiarkan kau menyiksa seorang gadis yang begitu cantik didalam peti mati tersebut, sekarang juga aku hendak menolong dirinya keluar !"

"Jangan...!" jeritan kaget berkumandang keluar dari luar pintu ruangan.

Namun teriakan itu terlambat setindak, telapak sianak muda itu sudah berhasil menghancurkan batu-batu permata yang memenuhi sekeliling penutup peti mati itu sehingga muncul sebuah celah.

Liem Kian Hoo tidak berani berayal lagi, ia segera kerja keras membuka penutup peti mati itu. Sesosok bayangan berwarna abu abu melayang masuk kedalam ruangan, sebuah serangan segera dilepaskan menghajar Liem Kian Hoo.

Ong Bwee Chi yang ada disisi sianak muda itu segera bekerja cepat, pisau belati yang berada dalam genggamannya segera dibabat mengancam jari jari tangan bayangan berwarua abu abu itu.

Gerak gerik tigra orang itu diltakukan dengan kqecepatan laksanra kilat, bahkan boleh dikatakan dalam waktu yang bersrmaan, kilatan cahaya tajam dari pisau belati Ong Bwee Chi bergerak lebih duluan, dengan telak ia berhasil membabat jari tangan orang itu. 

"Traaaang !" terdengar suara bentrokan nyaring, ternyata jari tangan orang itu keras bagaikan baja, bukan saja tidak berhasil disampok sampai terpental kebelakang.

Namun dengan adanya hadangan ini maka serangan yang dilancarkan orang itupun jadi rada terlambat.

Liem Kian Hoo kerahkan tenaganya mengangkat penutup peti mati yang terbuat dari kaca itu lalu mendorongnya kesamping.

Menyaksikan peti mati itu sudah terbuka, kakek berbaju abu-abu itu depak depakkan kakinya keatas tanah dan menghela napas panjang.

"Habis ! habislah sudah jerih payah loohu selama banyak tahun telah hancur berantakan dalam sedetik oleh kalian dua orang angkatan muda yang tahu diri !".

Pada Kesempatan itulah Liem Kian Hoo serta Ong Bwee Chi baru sempat melihat jelas wajah kakek tua itu mereka saksikan kakek tua yang berdiri dihadapan mereka saat ini berwajah penuh welas kasih, perduli ditinjau dari sudut manapun ia tidak mirip dengan seorang manusia keji yang berhati telengas dan suka berbuat ganas.

Sepasang mata kakek berbaju abu abu itu mengawasi gadis cantik yang ada didalam peti mati itu dengan sinar mendelong, lama sekali tiba-tiba ia mengucurkan air mata dan bergumam seorang diri:

"Aku sama sekali tidak menyangka kalau tenaga dalam yang dimiliki kedua orang bocah cilik itu demikian sempurna, sungguh tak kuduga kalau mereka bisa menghancurkan peti mati kaca yang kubuat dengan susah payah dan membuang banyak waktu dan tenaga, Aaaaai ! kesemuanya adalah salahku mengapa terlalu memandang rendah kekuatan mereka !".

Liem Kian Hoo tidak mengerti apa sebabnya sitakek tua itu bisa begitu bersedih hati, namun ketika ia teringat akan perbuatan perbuatan terkutuknya yang mengerikan serta mendirikan bulu roma itu, hawa gusarnya segera berkobar kembali.

"Ciiisss ! hey, bajingan tua, apakah kau she-Ban !" hardiknya keras-keras.

"Loohu Ban Sioe Sim !" jawab kakek berbaju abu abu itu dengan nada gusar pula, "pelbagai tokoh sakti kenamaan dari dunia persilatan akan bersikap menghormat apabila berjumpa dengan loohu, kau keparat cilik berani benar bersikap kurangajar kepadaku !".

Tiba-tiba Liem Kian Hoo tertawa.

"Ditinjau dari perbuatan-perbuatanmu yang terkutuk, mengapa aku harus bersikap sungkan kepada kau bajingan tua ?" jengeknya.

"Keparat cilik yang tak tahu diri ! apabila mengikuti tabiat loohu diwaktu lampau, apabila tidak kuhancur lumatkan tubuhmu. aku bersumpah tidak akan jadi manusia !" teriak Ban Sioe Sim semakin gusar.

Liem Kian Hoo pun tertawa dingin semakin sinis.

"Bajingan tua !" teriaknya, "Dengan perbuatanmu yang begitu keji dan telengas pada saat ini, aku rasa tidak jauh lebih bagus dari pada perbuatanmu pada masa silam !".

"Keparat cilik kau menuduh aku berhati kejam dan berbuat telengas, dengan dasar bukti apakah kau menuduh aku yang bukan bukan ?".

"Apa gunanya kuterangkan kembali ? sejak aku masuk kedalam ruang batu ini, apa yang kulihat, apa yang kujumpai semuanya merupakan peristiwa berdarah yang sangat mengerikan sehingga mendirikan bulu roma..."

"Hmmm ! kau maksudkan tentang Tan Loo toa beserta putrinya ?".

"Mereka cuma salah satu bagian belaka, di dalam gentong gentong besar itu kau simpan potongan tangan serta potongan kaki dalam jumlah banyak, entah sudah berapa puluh orang yang telah kau bunuh ? sudah berapa banyak manusia yang kau celakai ?".

"Hmmm ! Hmmm ! keparat cilik, apa yang kau pahami ? kentut busuk !" maki Ban Sioe Sim sambil menahan hawa gusarnya.

"Berhubung Tan Loo toa berhasibl menolong aku duntuk menangkapakan seekor ularb raksasa berusia seratus tahun, maka akupun ingin membalas kebaikan mereka dengan memperpanjang usia mereka berdua, Darah A-Kim sudah mengandung racun ular, maka sengaja aku membiarkan darah kotornya dihisap oleh kelelawar putih itu sehingga ia bebas dari kematian, sedangkan Tan-Loo-toa menderita sakit jantung lain yang lebih sempurna.".

"Omong kosong." teriak Kian Hoo keras-keras. "Dengan kemampuan yang loohu miliki, apakah berbuat begitupun tidak mampu ?" maki Ban Sioe Sim dengan mata melotot.

Liem Kian Hoo tertegun. setelah ragu-ragu sesaat ia baru berkata:

"Walaupun secara dipaksakan kau bisa menghindarkan diri dari tuduhan dua kejahatan tersebut, lalu bagaimana pula alasanmu tentang anggota-anggota badan yang ada didalam gentong ?"

"Hmmm ! mau percaya atau tidak terserah pada dirimu sendiri, anggota anggota badan itu aku potong dari tubuh mayat-mayat yang sudah tak bernyawa, Loohu berusaha untuk menjaga keutuhan serta kesegaran benda tadi agar bisa digunakan untuk menolong orang bilamana diperlukan !".

Dalam hati Liem Kian Hoo tidak pcrcaya, namun ia tidak berhasil menemukan alasan yang tepat untuk membantah ucapannya itu, sebab ia pernah menyaksikan keadaan dari Loo Sian Khek maka terhadap kemampuan dari siorang tua itu ia tak berani menyangsikan.

Setelah berpikir sebentar, ia berkata kembali: "Lalu mayat hidup yang barusan kau utus untuk menyerang kami, sedikit banyak tentu merupakan korban yang barusan kau bunuh bukan ?".

Dengan menggeleng cepat Ban Sioe Sim menggeleng. "Selama dua puluh tahun Loohu belum pernah

membinasakan seorang manusia hiduppun, batok kepala itu aku dapatkan sebagai hadiah dari seorang sahabat yang memberikan kepadaku !"

"Siapakah sahabatmu itu ?" tanya sang anak muda dengan hati rada bergerak. "Keparat cilik, kau suka benar mencampuri urusan orang lain, apakah nama sahabatku itupun harus kuberitahukan kepadamu ?".

"Asalkan kau suka mengatakan sbiapakah sahabatdmu itu, dan apaa sebabnya ia mebmbunuh Loo Sian Lhek maka aku akan segera dapat memastikan apakah kau seorang manusia lurus atau kah seorang manusia sesat !".

"Sepanjang hidup loohu berbuat dan bekerja yang kucari hanyalah ketenteraman hati, aku tidak akan memperdulikan orang menilai aku seorang manusia lurus atau seorang manusia sesat!".

"Apabila dalam hatimu tiada setan, mengapa tidak berani kau utarakan semua perbuatan-perbuatanmu kepada orang lain !".

"Hmmm ! orang itu tidak lebih hanyalah seorang sahabat karibku yang sudah terjalin puluhan tahun lamanya, kedua belah pihak ada niat untuk bersahabat namun tidak membicarakan soal nama, Orang itu mendatangi ketempat tinggal loohu bersama seorang perempuan disamping mohonkan pengobatan buat perempuan itu diapun membawa serta batok kepala ini, katanya dia adalah seorang penghianat yang tidak setia dan tidak jujur.".

"Aaaaah ! Kalau begitu ayahku benar-benar sudah datang kemari, sekarang ia berada di mana ?" seru Kian Hoo tak kuasa lagi.

"Siapakah ayahmu ? kau maksudkan Giok-Bin-Lang-Koan ?" tanya Ban Sioe Sim dengan wajah berubah.

Liem Kian Hoo berdiri tertegun.

"Ayahku adalah Liem Koei Lin, beliau membawa Toan Kiem Hoa Toan loocianpwee dari wilayah Biauw sengaja datang kemari untuk mengobati racun Hua Kut Sang yang bersarang ditubuhnya, aku tidak tahu kalau dia orang tua punya gelar Giok Bin Lang Koen !".

Dengan seksama Ban Sioe Sim mengawasi si anak muda itu dari atas hingga kebawah, kemudian baru berteriak dengan nada tercengang:

"Kalau dipandang dari potongan wajahmu, ada beberapa bagian kau memang mirip dengan sahabat karibku itu, hanya saja sewaktu aku bersahabat dengan Giok Bin Lang Koen tempo dulu, aku sama sekali tidak tahu kalau ia bernama Liem Koei Lin !".

"Seandainya perempuan yang kau obati adalah Toan cianpwec, maka orang yang bernama Giok Bin Lang Koen pastilah ayahku !".

" Hmm ! Giok Bin Lang Koen bisa mempunyai seorang putra yang demikian baik seperti kau. kejadian ini bernar- benar meruptakan suatu periqstiwa yang paturt dibanggakan

!".

Dari perubahan air muka siorang tua itu, Kian Hoo sadar bahwa Ban Sioe Sim masih menaruh amarah terhadap dirinya, buru-buru dengan sikap menghormat ia berkata.

"Siauw-tit tidak tahu kalau empek Ban andalan sahabat karib ayahku, harap empek suka memaafkan semua perbuatan perbuatan siauw-tit yang lancang dan kurang hormat itu !".

"Hmm! kau masih mencurigai aku adalah seorang manusia yang berhati keji serta seorang manusia yang suka berbuat pekerjaan telengas, sadis dan buas ?".

"Dengan perbuatan Loo-pek selama ini, bilamana tidak diberi penjelasan yang seksama, dalam hati Siauw-tit benar- benar masih kebingungan dan tidak habis mengerti !".

Air muka Ban Siu Sim berubah hebat, setengah harian kemudian ia baru menghela napas panjang. " Aaaaai... sudah, sudahlah ! dengan ayahmu kau memang sepasang manusia yang punya watak sama, Tempo dulu sewaktu ia bertemu dengan aku untuk pertama kalinya, iapun pernah menaruh salah paham terhadap tingkah laku serta perbuatanku bahkan ada maksud untuk membinasakan diriku dari muka bumi, Namun setelah kuberi penjelasan yang panjang lebar akhirnya ia bisa mengerti juga akan tabiatku yang sebenarnya.

Sungguh tak disangka puluhan tahun kemudian putranya kembali mencari gara-gara kepadaku dengan alasan yang sama ! bocah keparat, kau ingin aku berbuat bagaimana sehingga kau bisa percaya kalau aku bukan seorang manusia yang gemar membunuh manusia?".

Liem Kian Hoo dibikin serba salah oleh pertanyaan itu, untung Ong Bwee Chi yang beradu di sisinya segera memperingatkan:

"Liem-heng ! buat apa kau bingung-bingung putar otak ? asal kau bertemu dengan ayahmu, bukankah semua persoalan bisa dibikin jelas ?"

Mendengar ucapan itu Liem Kian Hoo buka mulut hendak bicara, namun Ban Sioe Siem telah keburu menghela napas.

" Aaaaai... apabila kalian ingin berbuat demikian baru percaya, maka loohu akan penasaran terus..." keluhnya.

"Bagamana ? apakah ayahku telah pergi ? kemana ia pergi

?".

"Ditempat tinggal loohu sini banyak tersedia pelbagai

macam bahan obat-obatan, namun bahan-bahan obat tersebut tak sebuahpun yang bisa digunakan untuk memunahkan racun Hua Kut Sang tersebut, maka untuk mengumpulkan bahan obat itu Giok-Bin-Lang-Koen harus berangkat sendiri kepuncak gunung Kun Lun untuk mencari teratai salju Peng San Soat Lian". "Bagaimana dengan Toan cianpwee ?" tanya sianak muda terperanjat.

Ban Sioe Sim tertawa.

"Toan Kiem Hoa kurang leluasa dalam gerak geriknya, maka untuk sementara waktu ia berdiam ditempatku ini, entah kesulitan yang sedang ia hadapi apakah sudah mendapatkan penyelesaian sebagaimana mestinya ?".

Liem Kian Hoo jadi tersipu-sipu.

"Hubungan Toan cianpwee dengan Siauw-tit bukan hubungan sembarangan, lagi pula siauw tit merasa amat kuatir akan jejak ayahku, maka Siauw tit berharap bisa bertemu dengan dirinya agar Siauw tit bisa menanyakan sendiri keadaan dari ayahku...".

"Haaa... haaa... haaa.... bicara pulang pergi, agaknya kau masih belum mempercayai loohu seratus persen, namun pada saat ini Toan Kiem Hoa sedang beristirahat apabila kau ingin bertemu dengan dirinya maka tunggulah empat jam lagi, seandainya kau masih bdum mempercayai juga akan ucapan loohu ini, maka terpaksa loohu akan biarkan kalian mengorek keluar hatiku untuk diperiksa apakah aku bohong atau tidak."

Rasa permusuhan yang menyelimuti dalam hati Kian Hoo terhadap Ban Sioe Sim, saat itu sudah lenyap sama sekali, buru-buru dengan wajah menyesal ia berkata:

" Apabila empek sahabat karib dari ayahku tentu saja Siauw tit tiada alasan sama sekali untuk mencurigai tindak tanduk empek.".

" Loo Ya-cu punya ilmu pertabiban yang sangat lihay " sambung Ong Bwee Chi dari samping sambil tertawa. "Meskipun hatimu benar-benar dikorek keluar, peristiwa inipun bukan suatu hal yang tak mungkin terjadi.". Ban Sioe Sim mendongak dan segera tertawa terbahak bahak, seluruh rasa tidak senang hati dan permusuhan tersapu lenyap tak berbekas dalam waktu singkat.

Dalam pada itu gadis cantik yang berbaring dalam peti mati itu tiba-tiba mendengarkan suara rintihan, suara itu segera mengejutkan semua orang dan sama sama berpaIing.

Tampaklah wajah yang semula pucat pasi perlahan-lahan telah berubah jadi memerah, bulu mata yang panjang dan hitampun mulai berkedip, napasnya berjalan semakin lancar.

Menyaksikan perubahan tersebut air muka Ban Sioe Sim berubah hebat, buru-buru ia melancarkan sebuah totokan kearah tiga gadis cantik itu serangan ini dilancarkan dengan kekuatan besar.

Liem Kian Hoo jadi amat terperanjat buru-buru ia dorong telapaknya menangkis serangan tersebut.

"Empek tua ! " teriaknya keras-keras. "Apa yang hendak kau lakukan terhadap gadis cantik itu ?"

Ujung jari Ban Sioe Sim tajam bagaikan ja rum, dalam bentrokan yang kemudian terjadi lengan Kian Hoo tertusuk dan segera terluka, titik-titik darah segera mengucur keluar membasahi dada gadis cantik dalam peti mati itu.

Namun dengan gerakan ini, serangan yang di lancarkan Ban Sioe Sim pun segera terbendung.

Tiba tiba gadis cantik itu bangun duduk, sepasang matanya yang jeli dipentangkan lebar-lebar, dari matanya yang jeli dan indah terpancar cahaya yang mempesonakan hati manusia.

Ban Sioe Sim tarik tangannya ke belakang, sementara ia hendak melancarkan serangan kembali tiba-tiba sinar matanya terbentur dengan sinar mata gadis cantik itu, oleh bentrokan ini ia berdiri tertegun dan tak sanggup meneruskan serangannya lagi. Mendadak gadis cantik itu tertawa ringan, suaranya merdu bagaikan kicauan burung nuri, begitu nyaring dan merdu hingga sangat menusuk pendengaran, diikuti sepasang lengannya dipentangkan bagaikan seekor burung merpati putih ia sudah meleset ketengah udara.

Ketika rambutnya yang hitam dan indah menawan itu terbentur dengan atap ruang batu yang keras, segera muncullah suatu tenaga kekuatan yang maha dahsyat.

"Buummmm!" dalam bentrokan tadi muncullah sebuah lubang besar diatas langit langit ruang batu tadi, diikuti gadis cantik itu berkelebat lewat, bayangan tubuhnya seketika lenyap tak berbekas.

Peristiwa ini berlangsung dengan cepatnya dan didalam waktu singkat, baik Liem Kian Hoo ma upun Ong Bwee Chi tak bisa berbuat apa-apa kecuali memandang dengan mata mendelong.

" Aduh celaka... celaka..." keluh Ban Sioe Sim sambil menghela napas berulang kali. "Keparat cilik, kau sudah terbitkan bencana besar".

"Loo-pek. kapan siauw-tit telah menerbitkan bencana besar

? ".

"Kau telah melepaskan seekor naga berbisa bagi umat manusia dikolong langit.".

Liem Kian Hoo belum mengerti akan perkataan yang dimaksudkan, ia hendak bertanya lebih jauh, namun dengan wajah gelisah Ban Sioe Sim telah berseru kembali.

"Mari cepat cepat kita keluar dan periksa keadaan diluar, semoga saja Hwie Thian Mo-li tersebut belum pergi terlalu jauh, dengan pertaruh kan selembar jiwa tuaku, aku harus berusaha untuk menangkapnya kembali agar jangan sampai mendatangkan bencana bagi umat manusia..." Selesai berkata ia segera loncat keluar dari gua di atas langit langit itu dan meleset kedepan.

Liem Kian Hoo serta Ong Bwee rhi saling bertukar pandangan sekejap, mereka masih belum tahu apa sebenarnya yang telah terjadi, tetapi pada saat itulah dari luar gua mereka dengar suara teriakan teriakan serta bentakan bentakan keras berkumandang datang tiada hentinya, seakan- akan ditempat luar sedang berlangsung suatu pertarungan yang maha sengit.

"Mari, cepat kita keluar, coba kita lihat apa yang telah terjadi !" seru Ong Bwee Chi cepat-cepat.

Ia enjotkan badan keluar lewat lubang gua itu, Liem Kian Hoo pun segera menyusul dari belakang.

Tampaklah ditengah kebun bunga yang datar dan luas, suasana diliputi kegelapan, ditengah kegelapan mana tampaklah cahaya putih berkelebat tiada hentinya kesana kemari.

Cahaya putih itu berasal dari Giok-Bei bunga bwee yang tergantung didepan dada cantik itu buru-buru mereka maju menghampiri terlihatlah gadis cantik itu sedang melangsungkan pertempuran yang amat seru dengan tiga sosok bayangan manusia.

Gerakan tubuhnya amat ringan dan indah menawan, seakan-akan bidadari yang turun dari kayangan, ia menari dan berputar dengan manisnya ditengah sorotan cahaya tajam, membuat wajahnya kelihatan makin mempesonakan dan makin menggiurkan.

Musuh yang sedang dihadapi gadis cantik itu bukan lain adalah Ban Sioe Sim, seluruh rambut orang tua itu berdiri dan menari tiada henti-nya, jari tangan berkelebat kesana kemari berusaha mencari peluang untuk menusuk tubuh gadis itu, seakan akan siorang tua itu hendak menghan curkan tubuhnya yang indah menawan itu. Dua orang yang membantu siorang tua she-Ban itu adalah Loo Sian Khek yang berkepala pria berbadan wanita serta seorang lelaki setengah baya berbaju hijau, gerak gerik mereka kaku dan kasar, setiap tubrukan yang dilancarkan seakap akan hendak mencekik gadis cantik itu hingga mati.

Perlahan tahan Liem Kian Hoo maju menghampiri kalangan pertempuran tersebut, perhatian nya mulai tertarik oleh pertarungan itu dan berdiri termangu-mangu.

"Hey keparat cilik !" bentak Ban Sioe Sim dengan suara keras. "Ayoh cepat maju membantu kami, mungkin hanya kau seorang yang bisa menguasahi dirinya !".

Liem Kian Hoo merasa sangsi dan ragu untuk turun tangan atau tidak.

Ia perhatikan gadis cantik itu putar lengannya sedemikian rupa sehingga ujung bajunya beterbangan bagaikan kupu kupu, Loo Sian Khek yang menerjang kemuka dengan kalap seketika terhajar telak oleh serangannya sehingga tubuhnya yang ke ras bagaikan baya itu hancur berantakan ke atas tanah, disusul lelaki setengah baya berbaju hijen itupun mengalami nasib yang sama seperti rekannya.

Dalam pada itu gadis cantik tadi meneruskan serangannya mengancam dada Ban Sioe Sim oleh bentrokan sinar mata gadis itu sang tabib berdiri tertegun, begitu tertegunnya sampai ia lupa untuk menangkis datangnya ancaman tersebut.

Liem Kian Hoo tak berani berayal lagi menghadapi situasi macam ini, ia membentak keras, sepasang telapaknya didorong kemuka melancarkan sebuah serangan dahsyat.

Agaknya gadis cantik itu merasa amat jeri terhadap serangannya, tanpa memperdulikan lagi diri Ban Sioe Sim ia putar badan dan melarikan diri. Ditengah kegelapan yang mencekam seluruh jagad, tampaklah cahaya putih yang memancar ke luar dari Giok-Bie tersebut berkelebat ditengah angkasa laksana bintang kejora, dinding bukit yang keras dan tegak berdiri menjulang dihadapunnya diterjang begitu saja sampai hancur, dalam sekejap mata ia sudah lenyap tak berbekas.

Air muka Ban Sioe Sim berubah jadi pucat pias bagaikan mayat memandang lubang besar yang muncul diatas dinding bukit dihadapannyaia berdiri termangu-mangu.

-oo0dw0oo-