Pedang Bunga Bwee Jilid 10

Jilid 10

DI TENGAH bentakan keras ia mengirim sebuah babatan kedepan, kali ini hawa gusarnya telah meluap, meski arngin pukulan matsih berada seteqngah tombak darri sasaran namun kehebatannya sudah terasa.

Liem Kian Hoo tak berani bertindak gegabah, iapun kirim sebuah pukulan dengan tenaga sebesar sepuluh bagian, dalam suatu bentrokan dahsyat, masing-masing pihak mundur selangkah kebelakang.

Menyaksikan kejadian itu Kong Toa Kiat ada maksud maju membantu, namun Kong Toa Hauw.

"Titi, tunggu sebentar, aku ingin tahu sampai dimanakah kehebatan serta kemampuannya!".

Kong Toa Kiat mengiakan dan segera berhenti.

Soen Tong yang ada disisinya lantas maju menyongsong sambil tertawa, ejeknya:

"Eeeeei monyet berwajah merah, kau pengen berkelahi ? ayoh majulah, akan kulayani kemauanmu ! ".

Kong Toa Kiat sangat gusar, telapaknya di putar langsung menubruk kedepan, namun kali ini ia sudah punya pengalaman dan tidak berani bertarung jarak dekat lagi dengan gadis tolol ini.

Pukulan-pukulan udara kosong segera dilepaskan dari suatu jarak tertentu namun Soen Tong tidak ambil perduli, dengan andalkan tenaga sinkang pelindung badannya ia selalu cari kesempatan untuk mencengkeram bahu atau lengan musuh.

Dalam pada itu Kong Toa Hauw pun sudah bertarung sengit melawan Liem Kian Hoo, empat orang terbagi jadi dua kelompok masing-masing melakukan pertarungan yang sengit sekali.

Sepuluh gebrakan kemudian Liem Kian Hoo berhasil rebut diatas angin, tenaga dalamnya sebanding dengan tenaga Iweekang Kong Toa Hauw namun jurus serangannya lebih sempurna, ia lebih banyak menyerang dari pada bertahan memaksa Kong Toa Hauw selalu terjerumus dalam keadaan berbahaya, untung ilmu meringankan tubuhnya amat sempurna, setiap kali keadaan mencapai kritis ia selalu berhasil meloloskan diri.

Dipihak lain keadaan Soen Tong jauh lebih rugi, walaupun pukulan udara kosong dari Kong Toa Kiat tidak berhasil melukai dirinya namun dapat membendung gerakannya, setiap kali ia menerjang kedepan selalu terhadang jalan perginya ditengah jalan.

Agaknya Kong Toa Kiat pun dapat menyadari bahwa sepasang matanya merupakan titik kelemahan gadis tolol itu, setiap kali ada kesempatan jari tangannya segera diputar mencukil sepasang matanya, untung gerak-gerik Soen Tong gesit sekali, setiap kali iapun dapat meloloskan diri.

Dua tiga puluh gebrakan kembali sudah berlangsung, situasi dalam pertarunganpun berubah, berhubung usia yang masih muda dan kesempurnaan tenaga dalam yang kurang matang, lama kelamaan Liem Kian Hoo mulai terdesak dan setiap kali Kong Toa Hauw lah yang pegang peranan.

Sebaliknya Soen Tong yang punya tenaga a-iam tidak takut lelah, sekarang ia malah berhasil menguasahi seluruh kalangan, hal ini membuat hatinya kegirangan

"Saudara cilik !" teriaknya.

"Bajingan tua ini sudah hampir tidak mam pu lagi, tunggulah sebentar kugulingkan dahulu si tua bangka ini kemudian baru membantu diri mu !". Liem Kian Hoo tidak menggubris teriakan itu, ia sudah tidak sabaran lagi, suatu saat ia teledor sehingga kena diserang oleh Kong Toa Hauw walaupun reaksinya kemudian cukup keras dan serangan tadi kena ditangkis. namun tak urung lengannya jadi linu juga dibuatnya.

Liuw Boe Hwie yang menyaksikan peristiwa itu dari sisi kalangan jadi terperanjat, namun ia pun merasa kurang leluasa untuk maju membantu terpaksa sambil pura pura iseng ujarnya kepada Tong Thian Gwat:

"Eeeeei pengemis tua, aku dengar ilmu Liong Henc Pat Sin mu sangat dahsyat sekali, ini hari kenapa kau cuma nonton belaka sambil berpeluk tangan ? ayoh demontrasikan beberapa jurus kepandaianmu itu"

Tong Thian Gwat menghela napas panjang, "Liuw Loo~jie, apa gunanya kau ajak aku bergurau ?" serunya. "Beberapa macam kepandaianku bukannya kau tidak paham. seandainya ini hari tiada kedua orang muridmu sebagai tulang punggung, meski nyaliku lebih besarpun aku tidak akan berani menggunakan selembar jiwaku sebagai bahan permainan."

"Haaaa... haaaaa... haaaa... pengemis tua, kalau bicara janganlah macam orang patah semangat, sedikit banyak kaupun seorang bketua dari suatdu perkumpulan, aapakah kau relab melihat seorang bocah cilik jual nyawa bagi dirimu ? seandainya sebuah lenganku belum kutung, niscaya aku akan suruh mereka rasakan kelihayan dari seruling emasku." Didengar dari nada ucapan mu seakan akan gembong iblis tersebut begitu lihay, aku tidak percaya kalau mereka sanggup mempertahankan diri dari irama Pembetot sukmaku..."

Ucapan ini menggetarkan hati Kian Hoo, diam-diam ia memaki atas kegoblokannya dimana telah melupakan kemampuannya yang asli sebaliknya malah ajak orang lain berduel. Kiranya yang dimaksudkan dengan ucapan Liuw Boe Hwie bukanlah suruh sianak muda itu bertarung menggunakan irama seruling, melainkan ia sedang memberi peringatan kepadanya agar menggunakan jurus tadi dengan rahasia irama serulingnya.

Semangat Liem Kian Hoo seketika berkobar kembali, hawa murninya langsung disalurkan ke seluruh telapak untuk paksa mundur Kong Toa Hauw setelah itu sepasang telapaknya disilangkan didepan dada dan mempersiapkan jurus "Giok- Sak-Ci-Hun " nya yang ampuh.

Tonghong It Lip pernah merasakan pahit getirnya ditangan sianak muda itu, buru buru ia memperingatkan:

"Kong toa-heng, hati hati, keparat cilik ini akan unjukkan kepandaian ampuhnya !".

"Hmmm ! sekalipun lebih lihaypun belum tentu bisa membuat hatiku jeri!" sahut Kong Toa Hauw kurang percaya.

Liem Kian Hoo tersenyum, ia mendongak dan bersenandung lantang:

"Seruling ada disanubari suara ada dimulut awan ada digunung rembulan ada dilangit !".

Selesai bersenandung sepasang telapaknya di ayun kemuka, segulung angin pukulan yang maha dahsyat laksana gulungan ombak ditengah samudra segera menyapu keluar dengan hebatnya.

Termakan oleh dorongan angin pukulan itu tubuh Kong Toa Hauw terdorong mundur kebelakang dengan sempoyongan...

"Braaak !" punggungnya mencium dinding tembok sehingga ambrol dan muncullah sebuah lubang yang sangat besar. Dalam pada itu Kong Toa Kiat yang sejak tadi terkurung oleh serangan-serangan Soen Tong jadi cemas bercampur gusar ketika menyaksikan saudaranya terluka dan menderita kalah, iba meraung kerasd, tubuhnya bergaerak hendak membayang bangun saudaranya.

Siapa sangka Soen Tong sama sekali tidak memberi kesempatan baginya untuk berbuat demikian, laksana kilat sepasang lengannya dijulurkan ke muka menyambar pinggangnya kemudian mengangkat seluruh tubuhnya ketengah angkasa.

Air muka Kong Toa Hauw yang merah telah berubah jadi keemas-emasan, berada diantara reruntuhan dinding tembok ia meronta bangun, lalu dengan nada cemas teriaknya:

"Cepat lepaskan saudaraku !".

"Seandainya kalian menyanggupi untuk mengundurkan diri dari persekutuan Tiga Belas sahabat dan berjanji tidak akan membantu Kauw Heng Hu melakukan kejahatan lagi, aku segera lepaskan saudaramu ! " kata Liem Kian Hoo dengan wajah serius.

Air muka Kong Toa Hauw berubah semakin hebat, akhirnya ia menghela napas sedih.

"Aaaaaai..! kekalahan kami pada dua puluh tahun berselang ditangan manusia berkerudung masih mendingan, sungguh tak nyana setelah berlatih giat selama dua puluh tahun kepandaian kami masih belum memadahi seorang bocah cilik-pun, sekalipun kulit wajah kami lebih tebalpun kami berdua-tidak minat untuk tetap berada diantara Tiga Belas Sahabat lainnya !".

"Ehmmm...! A-Tong, lepaskan dirinya!"

Soen Tong tidak membantah, ia lantas melemparkan tubuh Kong Toa Kiat keatas tanah.

"Monyet berwajah merah ! " Serunya, "memandang diatas wajah saudara cilikku, uniuk kati ini kuampuni selembar jiwamu ! ". Begitu terlempar keatas tanah, Kong Toa Kiat segera memijit dan buru-buru memayang tubuh saudaranya, kemudian dengan suara mendendam teriaknya:

"Keparat ciIik. mulai detik ini nama kami berdua tercoret dari persekutuan Tiga Belas Sahabat, namun kau jangan mengira kalau urusan diantara kita sudah lelesai begitu saja !"

"Itu terserah pada kalian sendiri, asalkan satu hati aku orang she-Liem belum mati, kalian boleh saja mencari diriku !"

Kong Toa Kiat tidak banyak bicara lagi, ia pondong tubuh Kong Toa Hauw dan berlalu dari situ, dalam sekejap mata mereka sudah lenyap dari pandangan.

Cia Tiong Beng rserta Yu Yat satling bertukar pqandangan sekejarp kemudian laksana kilat mengundurkan diri kedalam bangunan dan melenyapkan diri.

Tonghong It Lip pun buru-buru memayang tubuh Mong- yong Wan yang sudah lama mendusin, mereka berdiri tertegun beberapa saat lama-nya, jelas kedua orang suami istri ini merasa heran dan tidak habis mengerti apa sebabnya tenaga dalam waktu singkat.

Namun mereka sadar bahwa kekuatan merasa mereka berdua bukan tandingan dari sianak muda itu.

"Apa rencana kalian selanjutnya ?" tegur Kian Hoo sambil mengawasi sepasang suami istri itu dengan sinar mata tajam.

Tonghong It Lip bungkam beberapa waktu, setelah itu baru sahutnya:

"Persekutuan Tiga Belas sahabat didirikan kembali oleh Kauw toako, kalau kau punya kepan daian tiada halangan membicarakan soal ini langsung dengan orangnya !".

"Haaaaa... haaaa... haaaaa... kalian jangan anggap setelah menyebut nama Kauw Heng Hu lantas hatiku jadi gentar justru kedatanganku kemari adalah bermaksud mencari dirinya."

"Hmm ! kalau begitu tunggu sajalah disi-ni, kami segera cari Kauw toako untuk diajak ke luar menemui dirimu !".

"Ehmmm, demikianpun boleh juga tetap akupun hendak peringatkan kalian lebih baik kurangi segala permainan busuk, kami sudah bikin onar setengah harian lamanya disini, seumpama Kauw Heng Hu benar-benar ada didalam, sejak dia sudah munculkan diri, apa gunanya harus sampai datangnya undangan dari kalian ?".

Air muka Tonghong It Lip berubah hebat.

"Tadi Kauw toako memang tak ada disini, tetapi aku tahu ia segera akan kembali asal kau tunggu sebentar lagi di sini niscaya ia akan munculkan diri !". Liem Kian Hoo berpikir sebentar, kemudian tertawa.

"Aku tahu bahwa ucapanmu tak boleh di-percaya, namun akan ku coba untuk mempercayai dirimu !".

Mendengar sianak muda itu sudah setuju, karena takut ia berubah pikiran buru buru Tong hong It Lip memayang Mong- yong Wan dan segera mengundurkan diri.

Dalam pada itu sikap Tong Thian Gwat terhadap Kian Hoo sudah berubah seratus delapan puluh derajat bahkan dalam benaknya sudah diliputi oleh pelbagai kecurigaan, namun ia merasa tidak leluasa untuk tanyakan persoalan itu, maka segera ujarnya:

"Sauw-hiap, apakah kau benar benar hendak menanti beberapa waktu ditempat ini ?"

"Benar !" sianak muda itu mengangguk "Mereka boleh saja mengingkari janji, namun kita tak boleh melakukan kesalahan, untung saja seperempat jam segera akan berlalu dan mereka tidak akan terlalu jauh melarikan diri, aku punya keyakinan untuk menyusul mereka !" "Sauw-hiap, kau tidak pantas untuk melepaskan dua bersaudara Kong meninggalkan tempat ini, mereka berlalu dengan membawa rasa malu, dikemudian hari tentu akan mendatangkan banyak kerepotan."

"Diantara Tiga Belas Sahabat, hanya mereka berdua yang boleh dianggap rada jujur dan polos, aku tidak ingin melakukan pembunuhan yang tak berguna. seandainya aku ada maksud demikian, asal kutambahi satu bagian tenaga lagi dalam serangannya tadi niscaya jiwanya telah melayang. Dua puluh tahun berselang simanusia berkerudung itu dapat lepaskan mereka, kenapa dua puluh tahun kemudian aku harus membinasakan mereka ?".

Tong Thian Gwat ada maksud menanyakan soal simanusia berkerudung, namun ketika dilihatnya sianak muda itu sedang kerutkan dahi seolah-olah sedang memikirkan satu masalah yang sulit, diapun lantas batalkan maksudnya.

"Eceei pengemis tua !" Liuw Boe Hwie segera menarik tangannya. "Untuk sementara waktu lebih baik kita bungkam saja, sebab beberapa waktu yang amat singkat ini justru menyangkut mati hidup kita !".

Dengan wajah melengak Tong Thian Gwat menengok, ia lihat Liem Kian Hoo sedang duduk bersila diatas tanah, mulutnya kemak-kemik seperti mengucapkan sesuatu namun tidak kedengaran apa yang sedang diucapkan, sementara sepasang lengannya menunjukkan gerak-gerik yang susah dimengerti.

Dalam pada itu dengan sinar mata tegang Liuw Boe Hwie mengawasi terus sepasang pintu yang terbentang lebar dihadapannya, air muka si orang tua ini kelihatan tidak tenteram. Tong Thian Gwan serta muridnya Chi Siang berdiri dalam keadaan kebingungan, beberapa kali mereka ingin bertanya namun setiap kali Liuw Boe Hwie goyangkan tangannya mencegah. Sedangkan Soe Tong merasa nganggur, ia ber jalan kehadapan kepingan singa kumala itu dan menyambung kembali kepingan kepingan tadi, Hanya Liem Kian Hoo seorang tetap duduk bersila diatas tanah sambil kemak kemik, sementara tangannya selalu memperlihatkan beberapa gerakan yang tidak dimengerti.

Setengah harian kemudian mendadak tampak sepasang telapaknya didorong kearah dinding tembok, gerakan yang digunakan tetap merupakan jurus Giok-Sak-Ci-Hun namun dalam serangannya kali ini sama sekali tidak kedengaran sedikit suarapun.

Sesaat setelah ia melepaskan pukulan tadi, dari atas tembok mulai nampak bubuk serta pasir berguguran keatas tanah dan akhirnya hampir seluruh dinding tadi rontok dan hancur berantakan, muncullah sebuah gua pintu seluas beberapa tombak diatas dinding tadi, bekas-bekas pukulan rata dan halus seolah-olah dibabat oleh senjata yang tajam.

"Hoo-jie!" teriak Liuw Boe Hwie kegirangan. "Kali ini kau tak usah gentar terhadap diri Kauw Heng Hu lagi !".

"Soal ini sulit untuk dikatakan, aku cuma punya keyakinan untuk tidak kalah, kalau ingin menangkan dirinya mungkin masih harus memiliki kepandaian tambahan lainnya ?".

Sedang Tong Thian Gwat menjulurkan lidahnya, ia mendekati reruntuhan itu dan mengawasinya beberapa saat, ditemuinya bekas hancuran tembok tadi remuk bagaikan bubuk, tak kuasa lagi sipengemis tua ini menjerit tertahan.

"Kepandaian apakah ini ? aku sipengemis tua hidup sampai hari bukan saja belum pernah melihat kehebatan semacam ini, mendengarpun belum pernah !"

"Jurus ni bernama Giok-Sak-Ci~Hun." Liuw Boe Hwie menerangkan sambil tersenyum. "Dan merupakan suatu kepandaian yang maha dahsyat, namun sekarang nama kepandaian itu harus disebut sebagai ilmu Boe Siang sinkang !"

"Suhu, keberhasilanku ini justru berkat petunjuk yang sangat berharga dari kau orang tua." bisik Liem Kian Hoo dengan rasa terharu.

Liuw Boe Hwie tersenyum dan menggeleng, " Sudahlah, tak usah kau tumpuk pujian itu ketubuhku, aku cuma memberi kisikan yang tak berarti belaka, bisa berhasil dengan sukses pun sebagian besar berkat bakat serta kecerdikanmu yang luar biasa, siapa yang bisa mencapai taraf sedemikian hebatnya ?".

Liem Kian Hoo termenung sejenak, seakan-akan hendak mengucapkan sesuatu namun akhirnya ia bertanya:

"Sekarang sudah berapa lama ?"

"Satu jam lebih." jawab Chi Siang cepat, " Dari balik gedung tidak nampak sesosok bayangan setanpun yang muncul, aku masih mengira Sauw-hiap telah lupa akan hal ini.".

"Apa ? sudah satu jam lebih ? aduuuh celaka, kalau mereka berhasil loloskan diri sih bu-kan urusan, jangan-jangan Watinah pun kena diculik kembali oleh mereka !".

"Sauw-hiap, akupun pernah dengar bahwa ada seorang gadis terkurung disini, apakah benar bahwa gadis itu adalah..."

"Tidak salah, gadis itu adalah bakal istri siauw-tit, dia adalah seorang kepala suku Biauw, beberapa bulan berselang ia kena diculik oleh Kauw Heng Hu dan dibawanya datang kemari...".

"Waaah, kalau begitu keadaan kurang menguntungkan." seru Tong Thian Gwat kaget. "Terhadap gembong gembong iblis macam mereka, tidak seharusnya kita bicarakan soal kepercayaan, Siauw-hiap, kau terlalu mempercayai orang-orang itu, seandainya nona itu sampai mengalami sesuatu..."

"Kalau memang terjadi hal itu, apa dayaku ?" tukas Kian Hoo sambil tertawa getir.

"Tadi, seandainya aku tidak lepaskan Heng Thian-Siang Li dan langsung menerjang kedalam seandainya Kauw Heng Hu benar benar ada didalam, bukankah tindakan ini malah akan mencelakai kalian semua ?".

"Sau-hiap, bukankah tenaga Iweekangmu telah mencapai puncak kesempurnaan, apakah kau masih bukan tandingan dari Kauw Heng Hu ?"

"Aaaaah pangcu, kau tidak tahu, meskipun beberapa waktu belakangan ini ilmu silat siauw tit mendapat kemajuan pesat dan memahami pula intisari dari beberapa macam kepandaian sakti,namun ilmu tersebut belum pernah kugunakan, maka dari itu ketika berhadapan dengan Kong Toa Hauw pun hampir hampir saja jatuh kecudang di tangannya, untung suhuku cepat memberi petunjuk sehingga aku sadar dan berhasil mengundurkan pihak lawan, pada waktu itulah sebenarnya kesempatan yang paling baik buat kita untuk membasmi kawanan iblis, siapa tahu ketika itu pula siauw tit telah merasakan sesuatu yang aneh, maka aku pun lantas menyanggupi Tonghong It Lip untuk menanti beberapa saat, tujuanku tidak lain ingin menggunakan waktu yang amat singkat ini untuk perdalam ilmu silatku, siapa sangka aku telah membuang waktu begitu lama."

"Sauw-hiap, dalam waktu satu jam yang singkat ternyata kepandaianmu kembali peroleh kemajuan pesat, seandainya aku sipengemis tua tidak melihat dengan mata kepala sendiri, sekalipun ada orang beritahu kepadaku pun aku tidak akan percaya !". Liuw Boe Hwie tersenyum.

"Eeeei pengemis tua, kembali kau bicara yang tak berguna, bukankah tadi sudah kukatakan, kemajuan pesat yang didapatkan Hoo-jie bukanlah hasil latihan seharian belaka, ia sudah memiliki dasar tenaga dalam tubuhnya, sekarang ia berhasil pula menemukan intisari dari kepandaian itu maka kemajuannya jadi semakin pesat, seandainya dikatakan penemuan yang secara tiba-tiba bisa menghasilkan kemajuan yang begitu pesat, bukankah hal ini sama artinya mengatakan bahwa hasil latihan kita selama puluhan tahun hanya sia sia belaka ?".

"Aaaaai ! meskipun demikian, namun penemuan yang secara tak terduga ini benar-benar sukar dipercaya, ada sebagian orang yang berlatih seumur hidup namun tiada hasil, sebaliknya Liem Sauw hiap hanya membutuhkan waktu selama satu jam saja tenaga dalamnya sudah peroleh kemajuan yang demikian pesat, bukankah kejadian ini benar- benar mencengangkan hati ?".

"Haaaaa... haaaa... haaaaa... disinilah letak pentingnya bakat serta kecerdikan seseorang, bukannya aku sengaja mengibul, bakat yang dimiliki muridku ini boleh dikata jarang sekali di jumpai diantara laksaan orang, oleh karena itu kitapun tak usah ber silat lidah karena masalah ini, sekarang urusan yang paling penting adalah masuk kedalam gedung dan melakukan pemeriksaan, menurut dugaanku didalam ruangan pasti tak nampak sesosok manusiapun tetapi urusan sukar dikatakan, gelar Kauw-Heng Hu adalah Tok Chiu Suseng sisastrawan bcr tangan keji. mungkin ia sudah atur jebakan- jebakan keji didalam sana, lebih baik kita berhati-hati dalam setiap tindakan.".

Liem Kian Hoo tahu bahwa ucapan tersebut ditujukan kepadanya, buru-buru ia menjawab: "Ucapan suhu tepat sekali, sewaktu berjalan masuk kedalam gedung nanti lebih baik kita bersatu padu agar satu sama lain bisa saling membantu !".

Selesai berkata ia berjalan masuk lebih dahulu disusul oleh Soen Tong, Tong Thian Gwat, Chi Siang dan ditutup oleh Liuw Boe Hwie, lima orang membentuk barisan yang panjang melakukan pencarian dan pemeriksaan yang seksama ke dalam gedung itu.

Setelah menembusi halaman yang amat luas dihadapan mereka muncul sebuah bangunan besar suasana sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun.

Ruangan itu diatur amat rapi dan bersih, di tengah ruangan teratur sebuah meja perjamuan di atas meja terdapat sayur serta arak yang masih mengepul panas, jelas orang-orang yang ada dalam gedung itu belum lama berlalu dari situ.

Bukan begitu saja bahkan dalam gedung tadi penuh dengan barang antik yang indah dan mempersonakan.

Dasar sifat pengemis, melihat hidangan yang begitu lezat Tong Thian Gawt serta Chi Siang tanpa banyak bicara langsung menyerbu kemeja perjamuan, sang pengemis tua menyambar ayam panggang yang ada di meja sedangkan muridnya menyambar guci arak.

Melihat tingkah laku kedua orang itu, buru-buru Liuw Boe Hwie mencegah:

"Eeei pengemis tua, jangan rakus macam orang yang tidak pernah makan kau harus periksa dahulu dalam hidangan itu ada racun atau tidak !"

"Sebagai pengemis yang cari makan dimana-mana. sepanjang tahun belum tentu merasakan perut yang kenyang " kata Tongb Thian Gwat samd bil menelan aiar Iudah. "Mumpubng disini telah siap hidangan lezat sekalipun makanan makanan ini dicampuri dengan racunpun aku sipengemis tua harus mencicipinya !".

"Aku sama sekali tidak melarang kalian bersantap, namun kan jauh lebih baik kalau dicoba lebih dahulu !".

Tong Thian Gwat dipaksa apa boleh buat, terpaksa ia cari sebatang jarum perak lantas ditusukkan kedalam daging ayam panggang tadi, keti ka dicabut kembali ternyata ujung jarum perak itu masih tetap bercahaya kilat, dengan rasa gembira pengemis inipun tertawa terbahak-bahak.

"Arak dan sayur yang lezat, mana mungkin ada racunnya

?".

Ia masukkan daging ayam itu kedalam mulut dan dikunyah

dengan lezatnya, dalam sekejap mata seluruh daging ayam tadi sudah berpindah kedalam perut.

Soen Tong yang menyaksikan kejadian itu tak kuat menahan air liurnya, beberapa kali matanya melirik kearah Liem Kian Hoo.

Dalam pada itu sianak muda itu sedang pusatkan seluruh perhatiannya untuk memeriksa gedung tersebut, ia tidak melihat akan sikap gadis tolol itu, sebaliknya Liuw Boe Hwie melihat akan hal ini, sambil tertawa lantas ujarnya:

"A-Tong, apakah kau ingin makan ? untung disini sudah tersedia makanan lezat, nah bersantaplah sekehendak hatimu

!".

Soen Tong jadi kegirangan, ia sambar ikan yang ada diatas meja kemudian bersama durinya sekaligus dimasukkan kedalam mulut, sambil mengunyah serunya:

"Oooow nikmat, lezat sekali. saudara cilik, apakah kau ingin mencicipi ?" Liem Kian Hoo tiada kegembiraan sama sekali, ia geleng kepala berulang kali.

Perbuatan beberapa orang ini menimbulkan rasa lapar pula bagi Liuw Boe Hwie, ketika menjumpai ada buah anggur diatas sebuah tempayan ia lantas memetik beberapa butir seraya berkata.

"Bajingan-bajingan itu pandai benar menikmati kebahagian hidup, sekarang baru musim semi, darimana mereka dapatkan buah anggur sebesar ini ?".

Sembari berkata ia masukkan, buah anggur itu kedalam mulut, tapi pada saat itulah mendadak dari samping ruangan berkelebabt datang serentdetan cahaya putaih yang menyilabukan mata tepat menembusi buah anggur tersebut.

Kejadian ini membuat Liuw Boe Hwie terperanjat ia tidak tahu darimana munculnya cahaya putih tersebut, ketika buah anggur tadi diperiksa maka ditemuinya cahaya putih tadi ternyata adalah sebatang tusuk gigi dimana tepat menembusi buah anggur tadi. Menyaksikan peristiwa itu, Liem Kian Hoo pun lantas berseru:

"Dalam ruangan ada orang..."

Tubuhnya langsung meluncur keluar pintu dan memeriksa empat penjuru, namun tidak nampak sesosok manusiapun ada disitu, menanti ia masuk kembali kedalam ruangan tampaklah Soen Tong, Tong Thian Gwat serta Chi Siang telah menggeletak diatas tanah, sedangkan Liuw Boe Hwie tetap berdiri ditempat semula sambil mengawasi buah anggur itu dengan termangu-mangu. Sianak muda ini jadi amat terperanjat buru-buru tanyanya:

"Suhu, apa yang sudah terjadi ? ".

"Aku sendiripun tidak tahu, pokoknya penyakit ini timbul dari hidangan yang mereka santap !" jawab Liuw Boe Hwie sambil tertawa getir. Liem Kian Hoo sangat terperanjat ia segera berjongkok dan memeriksa beberapa orang itu merah padam dan segar sekali, sedikitpun tidak menunjukkan tanda tanda keracunan, namun mereka tertidur pulas.

"Tak usah diperiksa lagi." kata Liuw Boe Hwie sambil menghela napas panjang. "Mereka sudah terkena obat pemabok yang membuat orang tertidur pulas, jiwanya tidak bakal terancam, asal sudah tidur beberapa saat mereka akan bangun kembali dalam keadaan segar, justru akulah yang hampir-hampir jadi sukma gentayangan !".

"Suhu ! darimana kau bisa tahu ?" Liuw Boe Hwie tertawa getir, ia angkat buah anggur tersebut lalu sambil menuding tusuk gigi yang menembusi buah itu katanya:

"Asal kau lihat benda ini tentu akan jadi paham sendiri, tusuk gigi ini terbuat dari kayu Boe-Kouw-Bok yang merupakan sejenis kayu paling cepat menunjukkan reaksinya bila terkena racun yang bisa lolos dari periksaan jarum perak, namun jangan harap bisa lolos dari pemeriksaan kayu Boe- Kouw-Bok ini !".

Liem Kian Hoo awasi tusuk gigi diatas buah anggur itu dengan hati terkesiap, ia temukan tusuk gigi itu terbuart-rapi dan haluts sekali, diataqs tusuk gigi tardi terukir lukisan- lukisan relief yang indah, bagian yang menonjol keluar dari buah anggur itu kurang lebih satu coen dan berwarna biru tua, tanpa terasa dengan hati tercengang tanyanya:

"Suhu, dari mana kau bisa tahu kalau tusuk gigi ini terbuat dari kayu Boe-Kouw-Bok ?".

"Aaaai...! racun yang dapat dicampurkan kedalam bahan makanan ada dua jenis, jenis pertama adalah racun-racun yang dapat dicampurkan kedalam sayur serta arak, racun macam ini biasa sekali sehingga dapat dijajal dengan jarum perak, sedang jenis kedua adalah racun yang dicampurkan didalam buah buahan, racun macam ini jauh lebih ampuh, mula-mula buah-buahan itu direndam dalam air racun sehingga sari racun meresap kedalam buah-buahan itu kemudian buah tadi didiamkan beberapa saat maka racun itu akan terserap kedalam buah tadi dan tak berwujud sama sekali, namun daya kerja racunnya sangat lihay. pihak istana mempunyai cara untuk mengatasi kesukaran ini yaitu menggunakan kayu Boe-Kouw-Bok yang dihasilkan diwilayah Barat, kendati racun macam apapun pasti dapat diperiksa. Ketika aku masih muda tempo dulu, kayu macam ini pernah kujumpai satu kali, maka sekilas pandang aku segera kenalinya kembali !".

"Kalau begitu orang yang melepaskan kayu tersebut dari balik kegelapan telah menyelamatkan jiwa suhu ?"

"Mungkin benar dugaanmu, pokoknya ia tidak bermaksud jahat !".

Liem K.ian Hoo melirik sekejap kearah Soen Tong sekalian, lalu tanyanya kembali:

"Suhu, darimana kau tahu kalau mereka bukan keracunan

?".

"Orang yang menolong aku secara diam-diam itu tidak

ingin mereka keracunan pula bukan ? namun ia tidak menghalangi niat mereka untuk bersantap, hal ini menujukkan bahwa makanan itu tidak ada halangan untuk disantap..."

Liem Kian Hoo semakin terperanjat lagi.

"Orang itu hapal sekali dengan keadaan tempat ini, ia pasti ada hubungan yang erat dengan Tiga Belas Sahabat !" serunya.

Liuw Boe Hwie manggut tanda setuju dengan pendapat itu namun iapun tidak tahu siapakah orang tersebut.

Beberapa saat kemudian, sianak muda itu berkata kembali: "Orang inipun aneh sekali, setelah ia lepaskan tusuk gigi tadi aku segera melakukan pencarian, namun hasilnya tetap nihil, aku rasa lebih baik kita cepat tinggalkan tempat ini".

"Bagaimana dengan mereka ?" tanya Liuw Boe Hwie seraya menuding tiga orang yang menggeletak di atas tanah.

"Mereka tertidur pulas sekali, jelas sudah terkena obat pemabok atau sebangsanya, kita guyur saja dengan air dingin, niscaya mereka akan mendusin !"

Namun Liuw Boe Hwie segera menggeleng.

"Tong Thian Gwat adalah ciangbunjien partai Kay-pang, obat pemabok biasa tidak akan berhasil mengelabui dirinya, namun ia sudah terkena obat pemabok yang sangat lihay, menurut dugaanku paling sedikit dua belas jam kemudian mereka baru mendusin !".

"Hal ini bukankah berarti kami harus menanti seharian ?". "Orang itu justru ada maksud menghalangi perjalanan kita

agar mereka ada kesempatan untuk mengundurkan diri, lagipula orang yang berada dalam kegelapan itupun membiarkan mereka terjebak, hal ini menunjukkan kalau ia pun ada maksud yang sama !"

Liem Kian Hoo menghela napas panjang dan membungkam.

"Gelisahpun percuma." hibur Liuw Boe Hwie kembali. "Untung ayahmu selamat dan tidak kekurangan sesuatu apapun, bahkan berhasil menolong seseorang, hal ini menunjukkan kalau ia sudah mulai mengawasi gerak-gerik kaum penjahat itu, cepat atau lambat kita pasti akan mendapatkan kabar beritanya !".

Dengan perasaan apa boleh buat Liem Kian Hoo mengangguk, ia lantas menarik tubuh Tong Thian Gwat, Chi Siang serta Soen Tong untuk di dudukan keatas kursi, kemudian iapun ikut duduk sambil berkeluh kesah. "Hoo-jie !" kata Liuw Boe Hwieb lagi sambil tedrtawa. "Ditempaat ini kita bakabl menunggu beberapa waktu lagi, bagaimanapun juga kita harus cari makanan untuk menangsal perut kau jagalah keselamatan mereka, aku hendak keluar un tuk cari makanan."

"Hal ini mana boleh jadi ? kalau ada tugas biarlah tecu yang laksanakan saja !".

"Bukannya aku ada maksud memperlihatkan sikap seorang guru terhadap muridnya, namun aku ingin carikan pekerjaan bagimu agar kau jangan tetap duduk termenung belaka macam orang kehilangan semangat !"

Merah padam wajah sianak muda itu, ia merasa sangat berterima kasih buat kebaikan guru-nya, maka ia bangun berdiri dan menuju keruang belakang.

Namun ketika ia tiba di dapur sianak muda ini jadi tertegun, tadi sewaktu ia melakukan pemeriksaan, dapur itu sunyi senyap, namun sekarang api mengepul dibawan tungku dan tampak sebuah kukusan dengan daging babi yang harum semerbak muncul disana.

"Siapa lagi yang main setan ditempat ini ?" pikirnya. "Delapan bagian pasti hasil permainan setan dari orang yang melepaskan tusuk gigi tersebut sebenarnya apa maksudnya berbuat demikian ?".

"Sahabat ? atau musuh ?".

"Ia bermaksud baik ? atau bermaksud jahat ?"

"Kalau bermaksud baik berarti sahabat, tidak pantas kalau ia biarkan Soen Tong sekalian terjebak, kalau musuh berarti mengandung maksud jahat, tapi mengapa ia tolong suhu."

Liem Kian Koo merasa pikirannya sangat kalut, ia tak dapat ambil keputusan mengenai daging babi itu. Mendadak dari belakang punggungnya berkumandang suara desiian ringan, buru-buru ia berpaling tampaklah diatas pintu telah tercancap secarik kertas. ia tidak sempat menerima isi surat itu lagi, buru-buru badannya mengejar keluar namun disana tak nampak sesosok bayangan manusiapun.

Dalam sekejap mata orang itu bisa menyembunyikan diri tak berbekas, kecepatan geraknya benar-benar sukar dilukiskan dengan kata-kata... Dengan membawa perasaan murung ia balik kembali kedapur, dibacanya surat itu yang kira-kira berbunyi:

"Dalam guci ada arak, diatas tbungku ada dagindg babi, minum daan santaplah debngan hati lega, rombongan berjalan kearah Barat, tidak selang beberapa hari tentu akan ditemui, besok sewaktu melanjutkan perjalanan jangan membawa orang banyak, berjumpa dengan bukit bertanah lumpur hati- hati dengan api beracun !".

Membaca tulisan itu Liem Kian Hoo jadi tertegun, gaya tulisan itu meminjukan tulisan seorang gadis, siapakah orang itu ? seandainya gadis itu (seumpama dugaannya tidak salah) benar-benar bermaksuk baik dan selalu memberi petunjuk kepadanya, ini berarti kalau ia bukan ke pihak musuh, namun apa sebabnya tingkah laku orang itu penuh terselubung misterius ?

Sembari berkata ia masukkan surat tadi ke-dalam saku, kemudian menambahi kayu bakar ke dalam tungku, tidak selang beberapa saat kemudian daging babi diatas kukusan itu sudah matang, bau harum segera tersiar keempat penjuru.

Didalam dapur ia menemukan pula seguci arak, kemudian bersama daging babi tadi dihidangkan ketengah ruangan dan santap bersama sama Liuw Boe Hwie, sedangkan peristiwa yang baru di alami tadi sama sekali dirahasiakan didalam hati.

Dalam hati kecilnya ia sudah punya perhitungan, dalam persekutuan Tiga Belas sahabat telah bertambah dengan tiga orang gadis, satu adalah Sani, yang lain adalah Lie Hong Hwie dan kemungkinan besar gadis ketiga adalah orang yang meninggalkan surat peringatan kepadanya itu, bahkan kemungkinan besar orang itu masih mengawasi geriknya secara diam-diam.

"Perduli bagaimanapun juga, aku harus temukan orang itu...

Demikianlah, sambil bersantap otaknya berputar terus, selesai bersantap iapun berbaring diatas kursi dengan hati tenang, ujarnya kepada Liuw Boe Hwie sambil tersenyum:

"Suhu, dewasa ini kita berada disarang musuh, disamping itu harus menjaga pula keselamatan tiga orang yang jauh tidak sadarkan diri, maka kita harus ada salah satu yang tetap berada dalam keadaan segar kini aku mau tidur lebih dahulu. nanti malam kita gantian berjaga-jaga !".

Diam-diam Liuw Boe Hwie keheranan atas perubahan sikap sianak muda itu sekembali dari dapur, meski ia tahu tentu sudah terjadi suatu perubahan namun ia tidak banyak bertanya, dengan hati gembira permintaan itupun dikabulkan.

Menanti sianak muda itu mendusin dari tidurnya, bintang telah bertaburan diangkasa, kembali ia cari makanan dalam dapur untuk menangsal perut setelah itu persilahkan Liuw Boe Hwie untuk beristirahat.

Mrenanti siorang ttua itu sudah pqulas, Liem-Kianr Hoo keluar dari ruangan dan berjalan bolak balik dengan tenaganya dalam halaman.

Rembulan bersinar dengan terangnya memenuhi seluruh jagat, bintang bertaburan diangkasa menambah keindahan dimalam itu, angin malam berhembus sepoi sepoi membawa bau harum bunga yang semerbak, suasana bening dan sunyi... Liem Kian Hoo pun lantas mendongak dan bersenandung. suaranya lantang dan penuh semangat sehingga kedengaran amat mempesonakan hati.

Ketika sianak muda itu menyelesaikan senandungnya, tiba dari balik kegelapan berkumandang suara pujian:

"Indah, bagus...".

Liem Kian Hoo tertawa dingin.

"Akhirnya ketahui juga tempat persembunyianmu !" serunya.

Ia segera enjotkan badan menubruk kearah mana berasalnya suara itu, tampak dari balik kegelapan melayang keluar sesosok bayangan manusia dimana laksana kilat orang itu menyusup ke-dalam gedung.

Liem Kian Hoo tak mau lepas tangan begitu saja, ilmu meringankan tubuhnya segera dikerahkan mengejar bayangan tadi dengan kencang-nya.

Dibawah sorotan sinar rembulan nampaklah bayangan manusia itu punya potongan badan yang ramping dan kecil dengan memakai baju warna merah, tidak salah lagi orang itu adalah seorang gadis.

Ilmu meringankan tubuhnya benar benar amat sempurna, berada diatas atap ia lari dan loncat dengan lincahnya seakan- akan sedang berlarian diatas tanah lapang belaka, meskipun sianak muda itu sudah salurkan segenap tenaganya bukan saja berhasil menyusul bahkan jaraknya makin lama tertinggal semakin jauh.

Setelah melewati atap rumah yang panjang, mereka berlarian disebuah tanah lapang disusul ma suk kedalam hutan maka sulitlah baginya untuk menyusul dalam keadaan buru-buru segera teriaknya: "Eeei, kalau kau tidak berhenti juga, jangan salahkan kalau aku hendak melepaskan senjata rahasia !".

Ancaman itu sama sekali tidak diguris oleh gadis tadi, kakinya sama sekali tidak mengendor bahkan jauh lebih cepat menyusup kedalam hutan itu.

Liem Kian Hoo semakin gelisah, ia merogoh kedalam saku dan melemparkan benda yang sempat disautnya itu kearah depan.

Sambitan ini disertai tenaga yang amat dahsyat, tampak serentetan cahaya meluncur kearah punggung orang itu diiringi desiran angin tajam, dalam sekejap mata serangan telah mengancam tiba. Bayangan manusia itu terdesak, terpaksa ia berhenti sambil putar badan menyambut datangnya ancaman.

Dalam pada itu Liem Kian Hoo telah menyusul sampai dibelakang orang itu, tangannya langsung berkelebat menyambar lengannya dan dicekal kencang-kencang.

Dibawah sorotan sinar rembulan, tampaklah olehnya bahwa orang yang berhasil dicekal barusan bukan lain adalah seorang gadis bahkan seorang gadis yang cantik sekali, wajahnya bulat telur dengan sepasang biji mata yang jeli dan bening ketika itu sedang mengawasi dirinya dengan sinar mata gusar.

Merah padam, selembar wajah Liem Kian Hoo buru-buru ia lepaskan cekalannya dan berdiri dengan sikap kikuk, tak tahu apa yang harus di ucapkan dalam keadaan seperti ini. Terdengar gadis itu mendengus lalu tertawa dingin.

"Aku dengar orang berkata bahwa kau adalah seorang kongcu paling ramah dan paling sopan dikota Wie-Yang, tak disangka kau cuma seorang lelaki hidung belang yang rendah perbuatannya." ia menyindir.

Liem Kian Hoo jadi malu sekali, seandainya disitu ada gua tentu ia akan menerobos masuk ke dalam untuk bersembunyi. Setengah harian lamanya ia berdiri termangu-mangu, akhirnya sianak muda itupun berkata:

"Nona ! maaf, maaf, berhubung bgelisah maka cadyhe telah melakaukan kesalahan,b ada satu hal ingin cahye ucapkan keluar... mutiara tersebut.

Kiranya dalam keadaan cemas, Kian Hoo telah menggunakan mutiara diatas hioloo Ci-liong Teng sebagai senjata rahasia, Tampak gadis itu memandang sekejap kearah mutiara dalam genggamannya, lalu tertawa dingin tiada hentinya.

"Kenapa dengan mutiara ini ?" serunya dingin. "Apakah kau takut aku rampas mutiara ini kau pernah berkunjung kerumahku, coba lihat saja bukankah barang yang ada disana jauh lebih berharga daripada mutiaramu ini ?".

Seraya berkata sepasang telapaknya dirapatkan seolah-olah hendak menghancur lumatkan mutiara tersebut.

Liem Kian Hoo jadi amat cemas, buru-buru teriaknya: "Nona, jangan, jangan kau lakukan !".

"Kenapa tidak boleh ? kau anggap aku tidak mampu mengganti sebutir mutiara tersebut sebagai senjata rahasia untuk menghajar diriku, apakah kau anggap benda ini aku dapatkan karena mencuri ?".

"Cayhe sama sekali tidak bermaksud demikian tetapi kau harus tahu bahwa mutiara ini ada lah barang keturunan kami...". Mendengar ucapan itu sang gadispun lantai buka telapaknya kembali sambil memperhatikan dengan seksama, tampaklah cahaya mutiara itu tajam sekali bahkan berwarna kehijau hijauan, gadis itu jadi percaya. Namun ketika menyaksikan sikap Kian Hoo yang kikuk sambil tertawa ringan segera ujarnya:

"Kalau benar benda ini adalah pusaka keturunanmu, mengapa kau gunakan sebagai senjata rahasia ?". Merah padam selembar wajah sianak muda itu.

"Cayhe belum pernah menggunakan senjata rahasia, berhubung tadi dipaksa oleh keadaan dan takut nona keburu masuk kedalam hutan maka aku gunakan benda ini untuk mengejar dirimu, harap nona jangan marah dan suka mengembalikan kepadaku".

"Mengapa kau kejar diriku ? ".

Liem Kian Hoo tertegun, kemudian dengan rada sangsi katanya:

"Sambitan tusuk gigi dalam ruabng tengah sertad meninggalkan saurat peringatanb didapur apakah hasil karya nona ?".

"Menurut dirimu ?".

"Cayhe rasa kecuali nona tak mungkin perbuatan itu adalah hasil karya orang lain !".

Mendadak senyuman yang menghiasi bibir dara itu lenyap tak berbekas, ia mendengus dingin.

"Kalau kau sudah tahu bahwa perbuatan itu adalah hasil karyaku, mengapa kau tega bertindak keji kepadaku ? apakah aku pernah melakukan hal hal yang merugikan kalian ?".

Ucapan ini membuat Liem Kian Hoo merasa serba salah, tapi berhubung kesalahan terletak pada dirinya, terpaksa dengan suara lirih katanya:

"Terhadap perhatian serta cinta kasih nona terhadap kami, cayhe merasa amat berterima-kasih !".

"Sungguh istimewa caramu menyatakan rasa terima kasih kepadaku." seru dara itu kembali sambil tertawa dingin.

"Tanpa mengucapkan sepatah katapun melepaskan senjata rahasia, bahkan serangan dilancarkan dengan kekuatan dahsyat, seandainya kepandaianku rada cetek bukankah punggungku sejak tadi sudah berlubang ditembusi senjata rahasiamu ?".

Terpaksa Liem Kian Hoo tertawa jengah.

"Walaupun serangan yang cayhe lancarkan terlalu kasar, namun aku percaya nona tidak bakal terluka " katanya.

"Sebab ditinjau dari gerakan tubuh nona yang amat sebat, hal ini menunjukkan kalau ilmu silat yang nona miliki luar biasa sekali.".

Dara itu tertawa dingin.

"Hmm, pandai benar kau mengucapkan kata-kata yang manis." serunya. "Aku ingin bertanya kepadamu, sewaktu kau hendak melepaskan mutiara itu, apakah kau sempat memikirkan persoalan-persoalan itu ?"

Sianak muda itu jadi tertegun, bicara sejujurnya sesaat melepaskan senjata rahasia tersebut ia memang tidak sempat memikirkan soal itu, yang terpikirkan olehnya ketika itu hanyalah bagaimana caranya untuk menghalangi pihak lawan masuk kedalam hutan.

Menyaksikan siarnak muda itu titdak sanggup menqjawab pertanyaarnnya, gadis ini marah sekali, ujarnya dengan nada dingin.

"Terhadap kalian aku sudah bersikap sungkan, siapa sangka sebagai balasan kau bersikap begini kasar kepadaku, hmmm, hitung-hitung sepasang mataku telah salah melihat orang. Cisss, kau masih bisa-bisanya minta kembali mutiara itu dari tanganku !"

Liem Kian Hoo semakin kikuk sampai-sampai tak sanggup bicara, gadis itu semakin tak mau kendorkan sindirannya, ia berkata kembali: "Mutiara ini aku dapatkan dengan andalkan kepandaianku kalau kau ingin mendapatkannya kembali, tiada halangan kaupun merampas dengan andalkan kepandaianmu pula !".

Liem Kian Hoo malu sekali, merah padam wajahnya seraya menjura dalam dalam kearah gadis itu katanya:

"Nona pernah melepaskan budi pertolongan kepada guruku, bagaimanapun juga cayhe tidak berani menyalahi diri nona, seandainya nona tidak ingin mengembalikan mutiara itu, cayhepun tidak berani memaksa, hanya tolong nona suka menjawab secara jujur, apakah nona telah menggabung kan diri dengan Tiga Belas Sahabat ?".

"Apa sangkut pautnya urusan ini dengan di rimu ?" "Sebagian besar orang yang ikut serta dalam, perserikatan

Tiga Belas sahabat merupakan manusia-manusia rendah dari Kangouw, seandainya nona turut serta dalam perserikatan itu cayhe nasehati diri nona lebih baik cepat-cepat mengundurkan diri, sebab cayhe sudah bersumpah tidak akan berdiri berdampingan dengan Tiga Belas Sahabat, kemungkinan besar dikemudian hari aku akan membalas budi nona dengan perbuatan diluar dugaan !"

"Aku sih tidak termasuk diantara Tiga Belas Sahabat, cuma aku punya sedikit hubungan dengan, mereka."

"Kalau begitu bagus sekali, diantara Tiga-Belas Sahabat tak seorangpun termasuk manusia budiman, seandainya nona memang tidak tergabung dengan mereka, hal ini merupakan suatu keberuntungan yang sangat besar, anggap, saja mutiara itu sebagai hadiahku kepada diri nona suka menyanggupi satu permintaanku ! ".

"Apa permintaanmu itu ?".

"Meskipun mutiara ini adalah mustika keturunanku, namun mempunyai hubungan yang sang at erat dengan Hioloo Ci- Liong Teng, hioloo pusaka itu telah berhasil dirampas oleh Kauw Heng Hu dengan akalnya, namun sebelum memperoleh mutiara ini ia tak akan berhasil mendapatkan ranasia ilmu silat yang tertera diatas dinding hioloo tadi, maka dari itu cayhe hanya berharap agar mutiara ini jangan sampai terjatuh ketangan Kauw-Heng Hu daripada memberi sayap bagi harimau ganas dan menerbitkan banyak bencana di kemudian hari".

Selesai berkata ia menjura dalam-dalam kemudian putar badan dan berlalu, hal ini membuat gadis itu jadi tertegun.

Baru puluhan tombak si anak muda itu berlalu mendadak dari arah belakang berkumandang datang jeritan kaget, buru- buru ia berpaling, tampaklah di sisi dara itu telah bertambah dengan seorang perempuan berbaju hitam, tangannya mencengkeram diatas urat nadi dara itu dengan maksud merampas mutiara dalam genggamannya sedangkan gadis itu sedang meronta dengan sekuat tenaga.

Menyaksikan kejadian itu. Liem Kian Hoo jadi sangat terperanjat buru-buru ia maju menghampiri sambil membentak keras:

"Siapa kau ? apa maksud tujuanmu ? ayoh cepat lepaskan cengkeramanmu."

Perempuan berbaju hitam itu berpaling dan memandang sekejap kearahnya dengan pandangan dingin, lalu mendengus.

"Keparat cilik, ayoh enyah dari sini, lebih baik jangan mencampuri urusan orang lain !".

Perempuan berbaju hitam itu berusia kurang lebih tiga puluh tahunan, paras mukanya agak mirip dengan dara tersebut, hanya diantara alisnya terselip kerutan yang menunjukkan kebengisan jiwanya.

Dalam pada dara manis tadi telah terjatuh, ketangan perempuan itu, namun ia bersikeras mem pertahankan dirj, mutiara tersebut dicekal erat-erat dan bagaimanapun juga tak mau lepas tangan meskipun ia tak tahu apa hubungan mereka berdua, namun sianak muda ini tidak ingin menyaksikan mutiaranya terjatuh ketangan orang lain, segera tubuhnya maju kedepan dan membabat tubuh perempuan berbaju hitam itu.

Gerak gerik perempuan berbaju bhitam itu gesitd sekali, kakinyaa sedikit bergebser tahu-tahu ia sudah berkelit bersama-sama dara itu, laksana kilat pula tangannya balas melancarkan sebuah totokan kearah iga Liem Kian Hoo.

Angin serangan belum mengenai tubuhnya namun desiran angin tajam yang menyambar lewat sudah terasa amat memusuk badan, buru-buru si anak muda itu berkelit kesamping, tanpa terasa sepasang tangannya pun perlihatkan jurus " Giok-Sak-Ci Hun " yang ampuh itu. 

Agaknya siperempuan berbaju hitam itu tahu kelihayannya, buru-buru ia tarik tubuh dara manis itu untuk dilintangkan didepan badannya.

Dara itu memandang sekejap kearah Kian-Hoo, sinar matanya penuh diliputi kemurungan, hal ini membuat sianak muda itu tidak tega dan gagal melancarkan serangan, sebab apabila ia melepaskan pukulan juga niscaya gadis itu akan terluka lebih dahulu.

Terdengar perempuan berbaju hitam itu tertawa dingin kembali, kepada gadis itu bentaknya:

"Bwce Cie ! kalau kau tidak mau lepas tangan, jangan salahkan kalau aku tidak akan bertindak sungkan lagi kepadamu !.."

Gadis itu menggertak gigi bungkam dalam seribu bahasa.

Melihat gadis itu tidak memberikan reaksi-nya, perempuan berbaju hitam itu jadi sangat marah, telapaknya langsung membabat kearah pergelangannya keras-keras, jelas ia ada maksud menghancurkan tangan itu.

Liem Kian Hoo jadi sangat kaget, buru-buru ia maju kedepan siap menangkis datangnya babatan tersebut.

Siapa sangka gadis itu tiba-tiba gertak gigi sambil membalik telapaknya melancarkan sebuah serangan menghantam Liem Kian Hoo yang sedang maju menjongsong, angin pukulan yang keras itu seketika memaksa tubuh sang anak muda tergetar mundur beberapa langkah kebelakang.

"Braaaaaak.... !" pada saat yang bersamaan telapak siperempuan berbaju hitam itupun sudah bersarang telak diatas pergelangannya.

Liem Kian Hoo sangat terperanjat ia tidak habis mengerti apa sebabnya gadis itu menghalangi niatnya untuk membantu, bahkan rela membiarkan pergelangannya terhajar.

Siapa sangka kejadian ternyatab berlangsung didluar dugaan, baacokan perempuanb berbaju hitam itu bukan saja tidak melukai tubuh gadis itu, sebaliknya ia malah berhasil meloloskan diri dari cengkeramannya bahkan perempuan berbaju itu malah mundur kebelakang sambil memegang telapak sendiri, agaknya ia menderita luka parah pada telapaknya itu.

"Bibi ! " ujar gadis itu dengan wajah adem..."

"Sejak ayah meninggal dunia, keluarga Ong kita tinggal dua orang perempuan belaka, selama ini aku selalu anggap dirimu sebagai seorang angkatan yang lebih tua dan mendengarkan semua perkataanmu bahkan terhadap perbuatanmu yang bersahabat dan bersekongkel dengan manusia jahatpun aku paksakan diri untuk tidak ikut campur selama ini aku selalu mengalah kepadamu, hal ini bukan berarti aku jeri kepadamu.". Perempuan berbaju hitam itu melengak beberapa saat lamanya, kemudian baru berseru dengan penuh kebencian:

"Lonte cilik, ! tidak aneh kalau beberapa saat belakangan ini kau tidak sehormat dan sepatuh seperti tempo dulu, kiranya secara diam-diam kau telah mempelajari ilmu memindahkan jalan darah dari keluarga Ong kita. Hmm ! setan tua itu pandai benar membohongi diriku, katanya kitab pusaka tersebut telah dibakar habis oleh ibumu, kiranya secara diam diam ia telah wariskan kepandaian tersebut kepadamu.".

"Kitab pusaka tersebut benar-benar telah dibakar oleh ibuku, Ayahpun tidak berhasil mendapatkan keseluruhan, ia cuma mewariskan garis besarnya belaka.".

"Sekalipun cuma garis besarnyapun sudah cukup, aku adalah adik kandungannya namun ia tidak ambil perduli, sejak ibumu dibawa pulang kerumah, ia tak pernah anggap aku sebagai saudara kandungnya, Hmm, sampai matipun ia masih tinggalkan serangkaian ilmu silat agar angkatan yang lebih rendah dapat menganiaya diriku.".

"Omong kosong ! " bentak gadis itu gusar.

"Ayah selalu menperhatikan dirimu, ia selalu menyayangi dirimu, kecuali ilmu silat, belum pernah ia tidak turuti kemauanmu ".

"Hmmm ! semuanya itu cuma palsu belaka ia ada maksud mengangkangi ilmu silat keturunan keluarga Ong kita, ia tidak bermaksud untuk wariskan kepandaian itu kepadaku, dan ia ada maksud serakah r!".

"Ayah sama tsekali tiada maqksud serakah darn ingin monpoli ilmu silat tersebut bagi dirinya sendiri, ia sudah merasakan akan watak keji dan telengasmu, ia takut setelah kau berilmu silat lihay lantas memakai kepandaian untuk mencelakai orang, maka sebelum ajalnya beliau ajarkan sebagian dari ilmu silat tersebut harus kuwariskan kepadamu

!".

"Tahun dulu aku sudah menikah, kenapa kau masih rahasiakan kepandaian tersebut ?" teriak perempuan berbaju hitam itu dengan nada gusar.

"Harus aku lihat dahulu kau kawin dengan siapa, hmmm ! manusia macam itupun pantas jadi suamimu" teriak gadis itu pula dengan nada gusar.

"Sejak bangsat itu tiba dirumah belum pernah ia lakukan perbuatan baik, apalagi beberapa waktu belakangan ia sudah membawa datang sekelompok kaum gembong iblis serta sampah masyarakat kerumah kita. Sebuah keluarga yang baik telah ia jadikan tidak karuan." 

"Kurangajar, kau berani mencampuri urusanku...".

"Bibi ! inilah terakhir kalinya aku sebut dirimu dengan sebutan tersebut, tadi kau telah putuskan hubungan kita dengan babatan telapakmu, dus berarti hubungan kitapun habis sampai disini seandainya kau berani melakukan perbuatan jahat lagi, jangan salahkan kalau aku hendak memusuhi dirimu !".

Dengan penuh kegemasan perempuan berbaju hitam itu melirik sekejap kearahnya lalu melirik pula kearah mutiara tersebut dengan sinar mata ke semsem.

"Lonte cilik ! dewasa ini anggap saja kau lebih lihay, namun kalau kau ingin musuhi diriku masih terlalu pagi untuk dibicarakan Kauw Heng Hu terus menerus ingin dapatkan rahasia dalam hioloo Ci-Liong~Teng, seandainya mutiara itu ma sih ada ditanganmu, cepat atau lambat kau bakal merasakan kelihayannya !".

Selesai bicara ia jejak kakinya dan lenyap dibalik hutan.

Dari pembicaraan kedua orang itu Liem Kian Hoo pun dapat meraba hubungan antara kedua terang itu, namun ia tidak ingin menyela pembicaraan mereka berdua, menanti siperempuan berbaju hitam itu sudah berlalu ia baru berjalan menghampiri Ong Bwee Chi sidara manis itu.

Dalam pada Ong Bwee Chi sedang mengucurkan air mata, melihat ia maju mendekat segera serunya: "Nih, ku kembalikan mustikaku !".

Liem Kian Hoo melengak, namun segera ujarnya sambil tertawa: "Nona Ong ! aku datang tidak dengan maksud minta kembali mutiara itu !...".

"Aku tahu, tapi benda ini punya sangkut pa ut yang amat besar dengan situasi dunia persilatan, aku tidak ingin mewakili dirimu menanggung resiko ini lagi !"

Setelah mendengar perkataan ini, mau tak mau Liem Kien Hoo terpaksa harus menerima kembali mutiara itu, setelah menyimpan benda itu kedalam sakunya ia berkata dengan penuh rasa menyesal:

"Demi mutiara ini, memaksa nona harus bentrok dengan bibi sendiri, cayhe merasa sangat menyesal dengan kejadian ini.".

Tiba-tiba Ong Bwee Chi menyeka air mata dan tertawa. "Soal ini tak bisa menyalahkan dirimu" katanya, " kesemua

ini akulah yang tidak benar, Sebenarnya kalau mengikuti

pesan ayahku, setelah aku bersalah melatih kepandaian tersebut maka aku diwajibkan membinasakan dirinya dengan cara apapun, namun aku tidak tega turun tangan, maka timbullah banyak kesulitan bagi diriku sendiri !".

Ucapan ini sangat mengejutkan Liem Kian Hoo, sebelum ia sempat bertanya, sambil tertawa getir Ong Bwee Chi telah berkata kembali:

"Kau tentu punya firasat bahwa ayahku adalah seorang yang kejam dan telengas bukan, sehingga saudara kandung sendiripun hendak dibunuh.". "Sebelum cayhe mengerti duduknya perkara, tidak berani aku mengambil segala macam perbandingan bagi ayahmu !".

"Aaaaai ! padahal dalam soal ini tak dapat salahkan ayah, sejak semula ia sudah ada maksud berbuat demikian namun selama itu pula ia harus korbankan jiwa sendiri, maka sewaktu tugas ini ia serahkan kepadaku, wajahnya menunjukkan perasaan sedih yang tiada taranya...".

"Dapatkah nona jelaskan duduknya perkara yang sebenarnya ?" seru Liem Kian Hoo dengan hati kaget dan tercengang.

"Aaaai . . . . ! kalau dibicarakan kejadian ini merupakan peristiwa jelek dari keluarga Ong kami, mendiang ayahku bernama Ong Beng Siang, walaupun sejak kecil belajar silat namun selalu memegang teguh peraturan nenek moyang kami, belum pernah beliau tampil didalam dunia persilatan maka namanya tidak dikenal oleh siapapun.".

"Ditinjau dari kepandaian yang nona miliki, ayahmu pasti seorang jago yang maha sakti tukas sianak muda itu tak tahan. "Seandainya ia suka berkelana dalam dunia persilatan, tidak sulit untuk angkat nama jadi seorang pendekar yang tersohor !".

"Sudahlah, jangan kau berkata demikian, jusrtu karena hal inilah mengakibatkan orang tuaku mengalami celaka... baiklah, akan kuceritakan peristiwa ini sejak kakekku meninggal maka tinggallah ayahku serta seorang adik perempuan yang berusia sangat muda, dia bukan lain adalah Bibi Giok Yong yang barusan kau jumpai, karena ayahku tak ada saudara lain maka terhadap adik perempuannya ini ia selalu manja dan sayang luar biasa, sejak kecil ia sudah diberi dasar ilmu silat yang kokoh, namun bibi Giok Yong tidak sependapat dengan cara ayahku mengasingkan diri, ketika berusia lima belas tahun diam-diam ia sudah ngeloyor pergi dan berbuat sewenang-wenang ditempat luaran dengan andalkan kepandaian keluarga sehingga ia dikenal orang sebagai Hek-Swie Sian atau bunga Swie-Sian hitam !".

" Aaaah, kiranya Hek Swie-Sian adalah dirinya, aku dengar perbuatannya keji sekali, ia pernah membinasakan banyak jago sakti, dan malang melintang selama lima enam tahun dalam dunia persilatan, bahkan namanya sejajar dengan si bunga mawar putih, kemudian entah apa sebab namanya lenyap dari dunia persilatan".

Ong Bwee Chi mengangguk.

" Aku sendiripun tidak tahu duduk perkara yang sebenarnya, aku cuma tahu kalau ditempat luaran ia telah bertemu dengan seorang lawan tangguh dimana ia dipaksa untuk menyembunyikan diri, setelah pulang kerumah ia ribut dan recoki ayahku untuk memberi pelajaran ilmu silat yang lebih dalam, ayah tidak tega menolak permintaannya lagipula tidak ingin ia terjun kembali kedalam dunia persilatan, maka sengaja ia beri pelayaran beberapa ilmu silat yang sukar dilatih dan mengurungnya dirumah, pada waktu itu ibuku belum lama kawin dengan ayah, diam-diam ibu dapat melihat kekejian diatas raut wajahnya, dikemudian hari ia pasti akan banyak melakukan kejahatan, maka demi kebaikannya diam- diam ia kasi peringatan kepada ayahku agar jangan wariskan ilmu pemindahan jalan darah yang paling lihay kepadanya."

"Entah bagaimana kemudian, ternyata rahasia ini diketahui olehnya, ia jadi amat membenci ibuku, sering kali ia ada maksud mencelakai ibuku, namun ibupun seorang perempuan yang cerdik setiap kali ia berhasil meloloskan diri dengan selamat.

"Tetapi ketika ibuku sedang melahirkan, ambil kesempatan selagi beliau masih lemah itulah ia sudah totok jalan darah ibuku sehingga urat nadi dalam tubuhnya pecah dan binasa !".

"Sungguh keji perbuatannya !" seru Liem Kian Hoo dengan hati terperanjat. "Siapa bilang tidak ? setelah peristiwa itu ayahpun baru tahu sebab sebab kematian ibuku, tetapi ia tak sanggup menemukan bukti lapipula tidak ingin putus hubungan dengan dirinya, maka rahasia itu selalu disimpan dalam hati.

Sejak bibi Giok Yong berhasil membinasakan ibu, kembali ia recoki ayah untuk wariskan iimu pemindahan urat nadi kepadanya, sebab asal kepandaian ini berhasil ia dapatkan maka tenaga dalamnya akan mendapat kemajuan pesat bahkan ia tidak akan takut diserang musuh.

Namun ayahku almarhum sudah menaruh perasaan was- was kepadanya, lagi pula sejak kematian ibu, ayah memahami benar-benar bahwa bibit bencana yang mengakibatkan peristiwa tragis itu bukan lain adalah kitap pusaka ilmu silat itu maka kitap tadi lantas dibakar habis.

"Dengan alasan inilah ayah selalu menampik permintaannya, namun berhubung kepandaian itu dalam sekali artinya, ayahpun hanya paham empat lima bagian belaka, Melihat tiada harapan baginya untuk mewariskan apa yang diketahui, kembali ayahku menampik permintaaanya, kejadian ini membuat ia semakin mendendam ayah, dan akhirnya digunakanlah semacam obat racun yang sangat lihay dimana racun itu dicampurkan kedalam buah-buahan untuk mencelakahi ayah...".

"Aaaaah ! kalau begitu buah anggur yang ada diruang tamu kalianpun mengadung racun keji itu ?" Seru Kian Hoo terkesiap.

"Tidak salah ! ketika ayahku keracunan, waktu itu aku baru berusia sepuluh tahun dan belum tahu urusan, ayah takut akupun mengalami nasib yang sama maka dengan menahan siksaan badan beliau menyusup kedalam istana Kaisar untuk mencuri kayu Boe-Kouw-Bok dan diam diam serahkan kepadaku dan menitahkan aku hapalkan diluar kepala. Kemudian berpesan pula kepadaku seandainya ia masih melakukan kejahatan, maka aku tak usah mengingat hubungan keluarga lagi, segera basmi dia dari muka bumi agar tidak sampai mencelakai banyak orang lagi.".

"Aaaaai...! kalau begitu, bibimu memang punya alasan yang kuat untuk dibunuh, lalu apa sebabnya nona tidak mau turun tangan juga terhadap dirinya ?".

"Sejak ia mencelakai ayahku sampai mati, agaknya liang- sim nya mengalami pukulan besar, sejak itu waktu ia selalu tinggal dirumah dan bersikap ramah sekali kepadaku, diwaktu senggang ia wariskan ilmu silat kepadaku, meskipun dalam hati aku masih ingat selalu akan dendam sakit hati orang tuaku, namun menjumpai sikapnya aku jadi ragu-ragu untuk turun tangan, oleh sebab itulah sembari diam-diam mempelajari ilmu silat yang diwariskan ayah kepadaku, akupun belajar silat darinya, ia tidak tahu kalau aku punya kepandaian lain. tiada hentinya selalu memuji akan kemajuan pesat yang kuperoleh, demikianlah tujuh delapan tahun pun segera lewat tanpa terasa, sampai tahun berselang tiba-tiba ia tidak betah berdiam dirumah lagi dan pergi keluar seorang diri

!"

"Tadi aku dengar kau mengatakan bahwa ia sudah kawin, entah ia kawin dengan siapa ?"

"Kawin dengan seorang bajingan terkutuk, seorang srigala hidung bangor !..." sahut Ong Bwee Chi dengan wajah penuh kegusaran.

Menyaksikan air mukanya tidak cerah, Liem Kian Hoo tidak berani menukas, terdengar gadis itu menghela napas panjang dan menyambung kembali kata-katanya:

"Kepergiannya kali ini tidak terlalu lama, akupun tidak dengar keonaran yang ia terbikan, namun ia pulang dengan membawa seorang pria itu sih bersih dan gagah, ilmu silatnya tidak lemah namun watak serta tingkah lakunya terlalu jelek, setiap kali bertemu dengan aku tentu mengucapkan kata-kata cabul yang tengik, saking gusarnya beberapa kali aku bergebrak melawan dirinya, namun berhubung aku tak berani mengeluarkan kepandaian ajaran ayah maka aku selalu bukan tandingannya, setiap kali terjadi pertarungan bibi Giok Yong lah selalu yang melerai bahkan memperingatkan dirinya dengan kata kata pedas."

"Sejak ditegur dia baru berhenti menggoda diriku, kurang lebih dua bulan berselang tiba tiba ia kembali dari tempat luaran dengan membawa banyak teman dan katanya hendak mendirikan perserikatan Tiga Belas Sahabat, berhubung masih kekurangan beberapa orang maka ia tarik bibi Giok Yong untuk ikut serta, bibi langsung menyanggupi maka merekapun lantas gunakan rumahku sebagai markas besar, sejak hari itu banyak kerepotan yang terjadi membuat suasana dalam rumahku jadi gaduh dan tidak pernah tenteram !".

"Aku dengar katanya diantara Tiga Belas Sahabat masih ada dua orang gadis muda lagi..."

"Tidak salah, seorang bernama Lie Hong Hwie, katanya dia seorang pelacur kenamaan dari kota Wie-Yang dan pernah ada hubungan dengan dirimu !".

-oo0dw0oo-