-->

Pedang Bunga Bwee Jilid 08

Jilid 08

SETELAH mayat gadis bunting itu kena hajar perutnya yang menggembung, lehernya yang panjang dengan batok kepala yang besar mendadak menggeleng beberapa kali, setelah itu kepalanya mendongak keatas sementara anggota badannya pun mulai bergoyang goyang dengan kerasnya.

Diujung lehernya yang panjang bagaikan ular sendok tersungging sebutir batok kepala yang aneh dengan rambut yang panjang terurai kebawah, mimik wajah mayat gadis bunting itu sangat mengerikan sekali, apalagi dalam keadaan begini mayat itu mulai menyeringai dan tertawa seram.

Panca indranya mengerikan sekali hidungnya sudah hilang dan tinggal lubang yang besar sehingga hampir boleh dikata rata dengan pipinya gigi taring yang panjang mencuat keluar bagaikan pisau belati, terutamba sekali sepasadng matanya yanga berwarna biru bpada saat ini memancarkan cahaya biru yang tajam dan menyilaukan mata, pokoknya keadaan dari mayat gadis bunting ini sangat menyeramkan sekali.

"Kiiikkk... kiiiiikk... kkkiiiikkk... kembali mayat gadis bunting itu perdengarkan jeritan tajam yang menyeramkan hati, gigi taringnya mulai membentang lebar, dan jari tangan dengan kuku yang panjang pun bergerak siap melancarkan tubrukan kearah dua insan manusia yang berdiri disisinya.

Kali ini bukan saja jeritan ngeri itu terdengar amat jelas bahkan terlihat jelas oleh Liem Kian Hoo sekalian bahwa suara tadi betul betul berasal dari mayat gadis bunting tersebut. Liem Kian Hoo seorang pemuda pemberani memiliki ilmu silat yang amat lihay, namun menghadapi keadaan serta peristiwa macam ini tak urung ia dibikin bergidik juga sehingga bulu roma pada bangun berdiri, buru buru ia mundur kebelakang berulang kali.

Sedangkan Tong Kauw sudah tak dapat menguasai diri lagi, saking takutnya ia jatuh terduduk diatas tanah, sepasang tangannya menutupi mata sendiri rapat, keberanian untuk memandang ke arah mayat gadis bunting itupun lenyap tak berbekas, ia betul betul ketakutan setengah mati.

"Kiiiikkk... kkkiiiikkk.... kiiiikkkk... Kuuuuukkk... kuuuukkk... kuuuukkkk..."

Jeritan menyeramkan kembali berkumandang dari mulut mayat gadis bunting itu, bukan saja dari mayat gadis tadi, bahkan dari empat penjuru mulai berkumandang suara sahutan yang seketika membuat seluruh bukit jadi ramai dengan suitan-suitan serta jeritan jeritan aneh, batok batok kepala mayat suku Leher Panjang yang semula terkulai lemas itupun satu persatu bangkit kembali, sepasang mata mereka terbentang lebar dan mulai memancarkan cahaya biru yang mengerikan.

Tidak selang beberapa saat kemudian, empat penjuru sekeliling mereka sudah dipenuhi oleh mayat-mayat suku Leher Panjang yang telah membusuk dan mengering itu, begitu rapat mayat mayat tadi mengurung Liem Kian Hoo berdua sehingga keadaan tersebut bagaikan sebuah pagar kayu, begitu rapat kepungan tadi sedikitpun tidak ada ruangan kosong, bau busuk sangat menusuk penciuman membuat perut jadi mual dan ingin muntah rasanya.

Yang aneh lagi, ternyata mayat hidup itu mempunyai potongan serta mimik yang hampir sama sama lainnya.

Kulit yang telahb mengering, matda yang berwarnaa biru tajam serbta gigi taring yang menyeringai seram, satu satunya hal yang aneh adalah ketika itu mayat-mayat hidup tersebut bukannya berbuat gaduh malahan berdiri tenang sekali, mereka tidak perdengarkan jeritan-jeritan mengerikan lagi bahkan setelah membuat lingkaran kurang lebih satu tombak dihadapan Liem Kian Hoo berdua, mereka tidak mendesak ke depan lebih jauh.

Tong Kauw ketakutan setengah mati, selama ini ia duduk mendeprok diatas tanah, sepasang matanya terbelalak lebar sedang mulutnya melongo, kesadarannya boleh dikata sudah punah sama sekali.

Keadaan berlangsung lama sekali, kedua belah pihak sama sama bungkam dan tidak menunjukkan reaksi apapun.

Namun, bagaimanapun jugi Liem Kian Hoo adalah seorang anak sekolahan yang sudah banyak membaca kitab pengetahuan, dalam hati ia tidak percaya dengan segala macam bentuk setan.

Walaupun pada saat ini ia bikin kaget dan terperanjat oleh peristiwa yang terbentang didepan mata, namun hanya sebentar ia tertegun untuk kemudian tenang kembali.

Dengan sikap yang tenang dan sama sekali tidak gugup bentaknya terhadap diri Tong Kauw:

"Tong Kauw ! ayoh bangun !".

Tong Kauw terkesiap dan segera mendusin kembali dari lamunannya, dengan suara tertahan jeritnya:

"Saudara cilik, jangan sekali kali kau ajak mereka untuk berkelahi, seandainya kau sampai kena ditangkap oleh mereka akan aku tidak berani menolong dirimu, kalau sampai terjadi begitu apa yang harus aku lakukan..".

"Tidak mengapa." sahut Liem Kian Hoo sambil tersenyum. "Mereka tidak berani menangkap aku, lagipula mayat mayat

hidup ini hanya merupakan hasil penyaruan dari manusia hidup belaka, sekalipun akhirnya kita harus mati paling banter kitapun akan berubah jadi setan. Tentu saja setan tidak akan takut pada bangsa setan sendiri, sampai waktunya kita baik baik kasi pelajaran kepada mereka !".

Pelajaran yang sangat sederhada sekali ini ternyata berhasil menggerakkan hati Tong Kauw yang goblok dan tahur urusan nyalinyta bertambah besqar, ia segera mrerangkak bangun dari atas tanah dan berteriak:

"Sedikitpun tidak salah! saudara cilik, setelah mendengar ucapanmu ini akupun tidak usah merasa takut lagi".

Seraya berkata ia berjalan mendekati sianak muda itu.

Namun dengan cepat Liem Kian Hoo menyingkir satu langkah kebelakang seraya berteriak:

"Tong kauw, kau jangan kemari. Hmm... baunya luar biasa, coba lihat badanmu begitu kotor."

Kiranya takutnya menghadapi mayat mayat hidup tadi, Tong Hauw telah terkencing kencing hingga seluruh celana basah kuyup, pada saat ini dari tempat maha menyiarkan bau busuk yang sangat menusuk hidung.

Dengan cepat Tong Kauw dapat merasakan akan hal itu, ia jadi jengah dan ujarnya dengan nada malu-malu:

"Aku benar-benar tidak berguna, mungkin tadi pagi aku terlalu banyak makan sehingga kini emas busuk itu tak terbendung lagi dan melorot keluar dengan sendirinya."

Liem Kian Hoo dibikin mendongkol bercampur geli oleh tingkah lakunya, sambil memencet hi dung menahan bau ujarnya kembali:

"Nah, kalau begitu berdiri lah disitu tak berkutik, lihat saja bagaimana caraku untuk mengusir pergi mayat mayat hidup ini !" Tong Kauw benar-benar sangat penurut, ia lantas berdiri ditempat semula tanpa berkutik, sepasang matanya terbelalak lebar-lebar dan mengawasi sianak muda itu bagaimana caranya mengusir mayat-mayat hidup tersebut.

Tampak sianak muda itu termenung beberapa saat lamanya, sebentar kemudian ia sudah mendapatkan cara yang tepat.

Kiranya ketika mula pertama ia bertemu dengan mayat- mayat hidup itu, hatinya dibikin gugup dan tidak tenang, namun setelah dipikir dengan lebih seksama ia merasa tidak mungkin dikolong langit benar-benar ada setan atau sukma yang gentayangan, yang ada hanyalah ilmu dukun yang dapat menguasahi mayat-mayat itu untuk bergerak seperti apa yang tercantum dalam surat wasiat Soen Tong Hay, yaitu sebagian kepandaian sakti yang termuat dalam kitab pusaka Koei-Hua- Pit-Kip.

Kitap pusaka Koei-Kua-Pit-Kip telah terjatuh ketangan Kauw Heng Hu, maka dapatlah ditarik kesimpulan bahwa mayat- mayat hidup ini mungkin sekali adalah hasil permainan setannya untuk menakut-nakuti orang.

Dengan didapatkannya penjelasan ini maka sianak muda itu tak perlu merasa takut lagi, namun iapun mengalami kesulian didalam memecahkan teka-teki.

Menurut penilaiannya, mayat-mayat hidup ini dapat bergerak karena mereka mendapat hawa panas dari manusia hidup, tapi ada satu hal yang patut disesalkan, yaitu selama ini ia tidak mempelajari kepandaian bagaimana caranya mengendalikan mayat-mayat itu dari catatan Soen Tong Hay sebab ia merasa hanya buang waktu percuma, maka saat inipun ia tak tahu bagaimana caranya mengusir mayat-mayat tadi.

Disamping itu iapun merasa tidak habis mengerti apa sebabnya mayat-mayat hidup itu tidak meneruskan penyerbuannya kedepan dan berhenti di sekelilingnya belaka

?.

Otaknya diperas... lama... lama sekali namun sianak muda ini gagal menemukan jawabannya, terpaksa sang telapak segera disiapkan dan badan pun mendesak satu langkah kedepan.

Ternyata mayat mayat hidup itu sangat jeri kepadanya, ketika menyaksikan sianak muda itu maju selangkah kedepan buru-buru mereka meloncat mundar selangkah kebelakang, meski demikian posisinya masih tetap seperti sedia kala.

Agaknya Liem Kian Hoo tidak begitu percaya, kembali ia maju tiga langkah ke muka.

Peristiwa semula terulang kembali, bersamaan dengan majunya tubuh sianak muda itu, demikian jarak mereka dengan Tbong Kauw pun sedmakin dekat, beaberapa sosok mabyat hidup diantaranya segera pontang cakar buka mulut siap menubruk kearah gadis tolol itu.

"Saudara cilik... celaka... celaka... setan itu mau menangkap diriku." jerit Tong Kauw ketakutan.

Terpaksa Liem Kian Hoo mundur kembali kebelakang, dan mayat mayat hidup tadipun mundur dan berdiri seperti sedia kala.

"Saudara cilik, coba lihat mereka hanya takut kepadamu dan tidak jeri kepadaku, janganlah kau tinggalkan diriku lagi !" keluh si gadis Bligo dengan nada memohon.

Ucapan ini menggerakkan akal cerdik sianak muda itu, segera ia berpikir:

"Aaaaah, sedikitpun tidak salah, kita berdua sama-sama adalah manusia, mengapa mayat-mayat hidup itu cuma takut kepadaku seorang dan tidak takut kepada si gadis Blo'on itu ? apa bedanya antara aku dengan dirinya ?". Pikiran ini mendatangkan suatu ingatan dalam hatinya, membuat pikirannya jadi terang dan segera menyadari akan sesuatu.

Ia merasa dari antara dadanya muncul suatu hawa panas yang istimewa sekali, tanda-tanda yang mencurigakan ini hanya terdapat pada tubuhnya dan tak ada dalam tubuh Tong Kauw, maka mayat mayat hidup tersebut hanya jeri kepadanya seorang.

Tanpa sadar Liem Kian Hoo lantas meraba kea-rah dadanya, dimana segera memancar keluar segulung cahaya keperak perakan yang sangat menyilaukan mata.

Ketika tangannya muncul kembali dari saku maka diantara telapaknya telah bertambah dengan sebutir mutiara yang memancarkan cahaya tajam. Mutiara tersebut bukan lain adalah mutiara yang mula-mula terletak diujung hioloo Ci- Liong-Teng kemudian Toan Kiem Hoa mengembalikan kepadanya, dengan andalkan cahaya mutiara yang aneh dan tajam inilah ia berhasil mempelajari ilmu silat yang tercatat didalam hioloo tersebut.

Oleh sebab itu setelah ia selesai berlatih, untuk menjaga segala hal diluar dugaan maka dari dalam ruang semedi Toan Kiem Hoa ia ambil sebutir mutiara yang kurang lebih besarnya sesuai dengan mutiara aslinya dan diletakkan diatas hioloo tersebut, sedangkan mutiara yang asli ia sembunyikan didalam dada.

Ia tahu banyak jago kangouw mebngetahui rahasida yang menyangkaut hioloo Ci-Libong-Teng tersebut, maka dari itu apabila mutiaranya disembunyikan maka ia akan terhindar dari banyak kesulitan yang tidak diinginkan, contohnya saja keadaan pada saat ini, meski Hioloo itu kena dirampas Kauw Heng Hu namun si monyet tua itu gagal untuk mendapatkan ilmu silat yang tercantum disana. Sungguh tak nyana bukan saja mutiara itu punya keistimewaan tersebut, benda itupun punya kasiat untuk memusnahkan segala bentuk ilmu hitam serta pengaruh setan.

Demikianlah ketika mutiara itu diambil keluar dari dalam saku, mayat-mayat hidup itu jadi kacau balau tidak karuan, mereka sama-sama mundur kebelakang dan pontang-panting cari tempat persembunyian sementara sinar yang terpancar ke luar dari mutiara itupun semakin tajam dan semakin cemerlang sehingga sangat menyilaukan mata.

Menyaksikan dirinya berhasil menemukan cara untuk mengusir mayat-mayat hidup itu, Liem Kian Hoo kegirangan setengah mati, sambil mencekal mutiara tadi ia mendesak kedepan lebih jauh.

Rombongan Mayat mayat hidup tadi semakin kalut dan mereka sama-sama lari terbirit-birit.

"Saudara cilik." jerit Tong Kauw dengan suara gembira, "Mustikamu betul-betul luar biasa sekali, bagaimana kalau hadiahkan kepadaku ?".

Liem Kian Hoo tidak menggubris ocehan gadis Blo'on itu, ia putar badan dan lanjutkan pengejarannya kearah mayat- mayat hidup tersebut, membuat mayat-mayat tadi lari tunggang langgang keempat penjuru dan bersembunyi ditempat kegelapan, dalam sekejap mata tak sesosok mayatpun berani menekati tubuhnya terlalu dekat.

Meski demikian Liem Kian Hoo pun tidak berani mengejar lebih jauh, sebab masih ada Tong Kauw disitu, ia takut budak goblok ini dilukai oleh mayat mayat hidup itu, Mendadak . . . .

dari tengah udara kembali berkumandang suara jeritan setan yang sangat menyeramkan.

Jeritan setan ini muncul dari mayat gadis bunting itu, begitu keras dan tajam suaranya membuat telinga seperti ditusuk-tusuk dengan jarum, agaknya jeritan ini bermaksud untuk menenteramkan mayat-mayat lainnya.

Terbukti setelah suitan tajam itu diperdengarkan, maka mayat mayat hidup lainnya segera jadi tenang kembali rbahkan mereka mtulai membentuk qsuatu barisan pranjang.

Agaknya mayat gadis bunting itu merupakan pemimpin diantara mayat-mayat hidup lainnya, ia berdiri dibarisan belakang dan dari mana perdengarkan jeritan jeritan aneh yang mengerikan.

"Kiiikkk... kiiikkk... kiiikkk..."

Mayat hidup yang berdiri dipaling depan segera menubruk kedepan mengikuti komando tersebut, sepasang jari tangannya yang kering dan tajam segera dipentangkan lebar lebar menubruk ke arah mutiara ditangan Liem Kian Hoo.

Sianak muda itu rada tertegun dan terjelos hatinya menyaksikan mayat hidup itu secara mendadak tidak jeri pada cahaya mutiara lagi bahkan melakukan perampasan, buru- buru sepasang telapaknya didorong kedepan secara serentak melancarkan sebuah serangan, cahaya mutiara menyambar kedepan dan angin pukulan mengulung lewat dari telapak yang lain.

Baru saja mayat hidup itu menubruk sejauh setengah depa, gerakannya segera terbendung oleh angin pukulan sianak muda itu.

"Bruuuuk !" ditengah bentrokan dahsyat, mayat hidup itu kena dihantam telak, badannya segera hancur dan tulang belulang rontok serta tersebar diatas tanah, seketika itu juga ia musnah dan berantakan.

"Kiiiikkk... kiiiikkkk.... kikkk. !".

Jeritan ngeri berkumandang tiada hentinya, sesosok demi sesosok mayat mayat hidup itu seca ra teratur melancarkan tubrukan dahsyat kemuka. Liem Kian Hoo pun menggunakan cara yang sama, satu persatu menghadapi mayat-mayat hidup itu dan memusnahkannya.

Dalam sekejap mata seluruh permukaan tanah sudah dipenuhi dengan tulang tengkorak putih yang berserakan dimana-mana, sedang mayat-mayat hidup itupun tetap menerjang maju kedepan, bagaikan kunang-kunang menubruk api, satu persatu dimusnahkan dengan gampangnya.

Walaupun selama ini Liem Kian Hoo tidak terluka oleh serangan lawan, namun menyaksikan mayat-mayat yang dipergunakan orang ini ia merasa tidak tega, bahkan hatinya mulai tidak benar.

Berhubung mayat-mayat hidup itu bergerak karena mendapat perintah dari mayat gadis bunting itu lewat jeritannya. timbullah suatu ingatan dalam benak sianak muda ini untuk menangkap penyamun tangkap rajanya lebih dahulu.

Ia membentak, sambil mencekal mutiara sakti itu badannya meleset ketengah udara kemudian langsung menubruk kearah mayat gadis bunting tadi.

Menyaksikan sianak muda itu berlalu, Tong Kauw jadi sangat cemas, buru buru teriaknya:

"Saudara cilik, jangan tinggalkan aku seorang diri, tunggu aku sejenak...".

Iapun segera enjotkan badan dan ikut melesat kedepan.

Agaknya mayat gadis bunting itu punya perasaan yang tajam, ketika menyaksikan Liem Kian Hoo menubruk datang, iapun bersuit nyaring lalu mengigos kesamping.

"Setan bunting, kau hendak lari kemana"?" bentak Liem Kian Hoo penuh kegusaran.

Ia enjotkan badannya dan mengejar kemuka dengan kecepatan laksana sambaran kilat. Namun gerak-gerik mayat gadis bunting itu pun tidak kalah hebatnya, dengan lincah dan gesit ia melarikan diri lewat jalan-jalan gunung ditempat itu.

Liem Kian Hoo tak mau lepaskan mayat tadi begitu saja, dengan kencang ia mengejar terus dibelakangnya disusul Tong Kauw dibelakang si anak muda itu, demikianlah kejar mengejar antara dua orang manusia dengan sesosok mayat hiduppun segera berlangsung dengan serunya.

Beberapa saat lamanya mereka saling berkejar kejaran, akhirnya tibalah mereka didepan sebuah gua yang sangat besar, mayat gadis bunting tadi langsung menerobosi gua itu dan masuk kedalam.

Liem Kian Hoo tidak berani gegabah, ia segera berhenti didepan pintu gua dan putar otak dengan alis berkerut, ia takut didalam gua telah tersedia pelbagai permainan busuk.

Sebaliknya Tong Kauw yang berada disisinya telah tertahan sambil menuding kearah gua itu:

"Saudara cilik, inilah -gua- Angin Hitam !".

Mendengar gua tersebut adalah gua Angin Hitam, Liem Kian Hoo tersentak kaget, ia segera teringat akan nasib Watinah serta Ton Kiem Hoa.

Tanpa pikir panjang lagi tubuhnya segera berkelebat masuk kedalam gua, suasana ditempat itu memancarkan cahaya tajam sehingga mereka dapat melanjutkan pengejarannya kedalam gua dengan leluasa.

Kembali mereka saling berkejaran beberapa saat lamanya, akhirnya sampailah mereka diujung gua, agaknya mayat gadis bunting itu merasa tiada jalan lagi untuk melarikan diri, ia menempel keatas dinding gua, sepasang matanya memancarkan cahaya biru tua, sebaris giginya yang tajam menyeringai seram, keadaan mayat itu jauh lebih mengerikan lagi. Liem Kian Hoo mendengus dingin, telapaknya disiapkan kemudian dengan diarahkan kearah mayat gadis bunting itu ia melancarkan sebuah serangan.

Mendadak

Sebelum ia sempat melancarkan serangan, dari balik kegelapan kembali terdengar suara me-ngikik yang amat mengerikan, sesosok bayangan hitam menubruk datang dengan hebatnya.

Liem Kian Hoo mengira kembali ada sesosok mayat hidup yang bersembunyi didalam gua itu melancarkan serangan bokongan, dengan cepat ia dorong cahaya mutiaranya kearah depan, Siapa sangka, mayat hidup yang muncul kali ini sama sekali tidak jeri dengan cahaya mutiara, gerakan tubrukannya sama sekali tidak terhalang bahkan jauh lebih dahsyat.

Liem Kian Hoo didesak hebat, mau tak mau terpaksa ia alihkan telapaknya yang penuh dengan hawa murni itu menghantam bayangan hitam tersebut.

"Bluuuuk !" Termakan oleh angin pukulan yang amat dahsyat itu, bayangan hitam tadi menjerit keras, diikuti suara desiran tajam meluncur dari tubuhnya mengancam empat penjuru.

"Sreeet ! Sreeet ! Sreeet !" berpuluh-puluh gulung desiran angin dingin menyambar kemuka menembusi angin pukulannya dan langsung menghantam tubuh Kian Hoo.

Berada dalam keadaan seperti ini, tidak sempat bagi sianak muda itu untuk mengigos, ia terancam bahaya dan tidak tahu bagaimana harus menghadapi situasi yang sangat kritis ini.

Ontunglah pada saat yang sangat berbahaya ini Tong Kauw yang berada dibelakangnya telah tiba disana, gadis tolol itu segera lintangkan badannya didepan tubuh Kian Hoo. "Duuuk... duuuk... duuuk...!" berpuluh-puluh gulung desiran angin dingin tadi diiringi suara bentrokan keras bersarang di tubuhnya semua.

Diikuti kemudian suara dentingan nyaring menggema memecahkan kesunyian Dan terakhir terdengar jeritan ngeri yang menyayatkan hati menghalau seluruh irama dentingan tadi. Setelah itu suasana pulih dalam keheningan, sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun.

Liem Kian Hoo tertegun beberapa saat lamanya, tiba-tiba ia teringat akan keselamatan Tong Kauw, buru-buru cahaya mutiaranya dialihkan ke sisi tubuh gadis tolol itu.

Tampak si Gadis Blo'on tadi sedang pentang mulutnya lebar lebar dan menyengir kuda, sedikitpun tidak menunjukkan tanda tanda teriuka, ia jadi lega hati.

"Tong Kauw." katanya dengan nada penuh rasa kuatir, "Bagaimana perasaanmu saat ini ?"

"Aku sama sekali tidak merasakan apa-apa. aku tidak tahu setanpun bisa melepaskan senjata rahasia, untung badanku memiliki tenaga sinkang daya pental yang maha hebat, bukan aku yang kerluka malahan dia yang terluka malahan dia yang terbinasakan !"

Liem Kian Hoo tertegun lalu perlahan-lahan menggeserkan mutiara itu keatas tubuh bayangan hitam tadi, sekarang ia baru temukan kalau bayangan hitam tersebut ternyata bukan lain adalah Hasan kepala suku Leher panjang yang pernah ditemuinya tempat dulu.

Saat ini badannya sudah hancur lebur termakan oleh gelang leher sendiri, kematiannya benar benar mengerikan sekali.

Setelah mengalami kekalahan total sewaktu berduel melawan Liem Kian Hoo dibawah gunung tempo dulu, sebenarnya ia harus tebus kekalahan itu dengan kematian, namun ia takut mati dan melarikan diri sehingga timbulkan amarah rakyatnya, sungguh tak nyana meski ia sudah bersembunyi di tempat ini namum gagal untuk lolos dari kematian.

Sementara si anak muda itu masih berdiri termangu- mangu, mendadak terdengar pula suara bantingan keras menggema datang, seolah-olah ada suatu benda berat yang roboh keatas tanah.

Buru-buru ia alihkan cahaya mutiaranya, tampaklah mayat gadis bunting yaug melarikan diri kedalam gua tadi, mendadak secara otomatis roboh sendiri keatas tanah.

Tong Kauw jadi kebingungan dan tidak habis me ngerti, serunya:

"Eeeeei ! coba lihat, kenapa setan perempuan ini tiba-tiba bisa mati sendiri ?"

Tong Kauw tidak paham namun Liem Kian Hoo mengerti apa yang sebenarnya telah terjadi. Hadangan-hadangan mayat hidup yang ditemuinya tadi bukan lain adalah hasil permainan setan dari Hasan secara diam-diam, maka dari itu setelah Hasan mati dan hawa panasnya buyar maka mayat- mayat hidup itupun kehilangan tenaga yang mengendalikan mereka, termakan pula oleh cahaya mutiara maka sirnalah kekuatan tersebut.

Namun ia malas untuk menjelaskan duduknya perkara ini kepada Tong Kauw, maka seraya menendang mayat Hasan kesamping gua katanya:

"Sudah selesai, kini mayat mayat hidup itu sudah sirna dan hancur, ayoh cepat kau bawa aku ketempat penjara yang biasa digunakan oleh Tong Kauw Hu !".

Tong Kauw kurang percaya, ia periksa dulu keadaan mayat gadis bunting itu, setelah yakin bahwa mayat tadi telah tak berkutik lagi dengan hati gembira ia berseru: "Saudara cilik, kau benar-benar punya kepandaian, setan- setan ini telah berhasil kau hancurkan semua, lain kali akupun tak takut dengan setan lagi, penjara dari si Monyet tua itu terletak didepan sana !"

Sambil busungkan dada gadis tolol ini segera maju kedepan, jelas hatinya merasa amat gcmbira. Setelah berjalan beberap saat lamanya, sampailah mereka ditempat yang dituju, tempat itu merupakan sebuah ruang batu yang tinggi besar, secara lapat-lapat terdengar suara angin menderu-deru dari empat belah dinding hawa dingin merembes masuk tiada hentinya membuat badan jadi sakit dan tulang jadi linu.

"Ditempat inilah si Monyet tua itu biasa menyekap orang." kata Tong Kauw sambil menuding ruang batu tersebut. "Angin yang berhembus dalam ruangan ini berasal dari bawah tanah, menurut ayahku katanya selama sebulan angin itu berhembus terus tiada hentinya, seseorang yang kena terhembus tubuhnya dapat hancur bagaikan bubuk.".

Liem Kian Hoo tidak menggubris ocehannya, ia awasi keadaan ruangan itu dengan harapan bisa menemukan jejak dari Toan Kiem Hoa serta Watinah.

Namun ia dibikin kecewa, ternyata ruang batu itu kosong melompong, tak sesosok bayangan manusiapun yang nampak ada disana.

Kedua orang gadis yang dicari tiada dalam ruangan tersebut, mati hidupnya susah diduga, meskipun mereka meninggalkan suatu tanda atau jejak. tidak mungin jejak itu masih tertinggal disana, tentu benda-benda tadi sudah terhembus lenyap oleh deruan angin tajam.

Dalam pada itu ketika Tong Kau menyaksikan sianak muda itu sedang melakukan pencarian diempat penjuru, meski tidak tahu apa yang sedang dicari namun dengan senang hati iapun ikut bantu melakukan pencarian.

Beberapa saat kemudian tiba tiba gadis tolol itu berseru: "Coba lihat, benda apakah ini ?".

Buru-buru Liem Kian Hoo lari menghampirinya, tampak gadis tolol itu sedang ambil keluar sebuah selendang sutera dari balik celah celah tembok, tak kuasa lagi jantungnya berdebar keras.

Kain sutera yang ditemukan Tong Kauw barusan bukan lain adalah barang miliknya, ketika berada didusun orang Biauw dimana tempat itu sedang melangsungkan pesta Bulan Purnama, kain sutera tersebut telah ia hadiahkan buat Watinah sebagai balasan atas pemberian kain sutera oleh gadis itu, maka sekilas pandang saja Kian Hoo kenali barang miliknya ini.

Dan selama ini Watinah selalu menyimpan kain sutera itu baik-baik, kini ia temukan kain ta di berada disini, hal ini sama halnya membuktikan bahwa- gadis ini jauh lebih banyak bahaya dari pada beruntung.

Buru-buru ia buka kain sutera tersebut, tampaklah diatas kain tadi tertera beberapa patah kata yang ditulis dengan darah segar.

TuIisan itu kira kira berbunyi demikian: "Siauw-moay serta suhu telah ditawan oleh musuh tangguh, walaupun kesadaran untuk sementara punah namun keselamatan tidak terancam.

"Musuh terlalu ampuh, mau tak mau terpaksa siauw-moay harus gunakan kesucian badanku untuk turuti napsu binatangnyab, untuk sementadra waktu siauw-amoay serta suhub aman."

"Bajingan itu tidak berhasil menemukan jejak kongcu disekitar tempat ini dan mengira ilmu silatnya sudah tiada tandingan, kini ia sudah tinggalkan wilayah Biauw untuk terjun kembali kedaratan Tionggoan guna angkat nama dan bikin onar, untuk menjaga keselamatan suhu siauw-moay akan selalu menyertai bajingan namun hati tetap milik kongcu, semoga Thian mengasihani diriku dan suatu saat kita dapat berjumpa kembali. "

Walaupun tiada tangan, namun ditinjau dari nada tulisan tersebut jelas merupakan surat yang dibuat oleh Sani.

Selesai membaca surat itu, dalam hati Liern Kian Hoo berpikir:

"ia takut aku kehilangan jejak setelah mengejar sampai disini, maka dibuatnya secarik surat agar aku tahu kemanakah mereka pergi, demi Watinah dan Toan Kiem Hoa, pengorbanannya benar benar sangat besar."

Disatu pihak ia merasa kuatir buat keselamatan Watinah serta Toan Kiem Hoa, dipihak lain ia terharu oleh pengorbanan dari Sani, mencekal kain sutera itu untuk beberapa saat lamanya. Kian Hoo tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Lama sekali ia berdiri termenung, akhirnya sianak muda ini menghela napas panjang dan bergumam seorang diri:

"Aaaaai !, agaknya aku harus kembaki kedaratan Tionggoan untuk mengejar mereka !"

"Saudara cilik, apakah kau membawa pula diriku ?" sela Tong Kauw dengan cepat.

Menjumpai keadaan gadis tolol itu patut dikasihani, Liem Kian Hoo tidak tega meninggalkan dia seorang diri ditempat itu, terpaksa sahutnya:

"Bisa saja aku bawa serta dirimu, tetapi kau harus berjanji untuk mendengarkan perkataanku dan dandananmu pun tak boleh macam sekarang ini, daerah Tionggoan berbeda dengan tempat ini, pertama tama kau harus mengenakan pakaian lebih dahulu.".

Mengetahui sianak muda itu suka membawa serta dirinya, Tong Kauw kegirangan setengah mati sambil meloncat-loncat seperti anak kecil, soraknya: "Baik, baik, tentu akan kuturubti semua perkatdaanmu, kau suruah aku jilat-jilbat air kencing mu pun aku mau."

Liem Kian Hoo menghela napas panjang, dengan hati murung ia tinggalkan ruang batu itu dan keluar dari gua.

oOo

Seorang lelaki kekar berwajah hitam dan seorang pemuda ganteng dengan menunggang dua ekor kuda jempolan perlahan lahan muncul dari balik tikungan.

Dua orang ini bukan lain adalah Liem Kian Hoo serta Tong Kauw, berhubung gadis tolol itu memiliki perawakan tubuh yang tebal maka sengaja Liem Kian Hao mendadani dirinya sebagai seorang pria disamping memberi pula nama samaran baginya yaitu Soen Tong.

Soen adalah she dari ayahnya Leng-Yan-Khek serta Tong adalah nama aslinya, maka ia cuma lenyapkan kata Kauw saja. Dengan demikian Tang Kauw pun dengan wajah yang baru, nama yang baru menuju ke penghidupan serta dunia yang baru pula baginya.

Sekalipun ia sudah berdandan sebagai seorang pria, namun wajahnya yang luar biasa dan mengerikan itu sepanjang perjalanan telah banyak mendatangkan kerepotan bagi Liem Kian Hoo, tetapi untuk mewujudkan pesan terakhir dari Seon Tong Hay maka selama ini sianak muda itu hanya bersabar belaka.

Diiringi suara derapan kaki kuda yang nyaring, mereka berdua telah memasuki sebuah jalan yang menghubungan jalan gunung dengan sebuah dusun. Pada saat itulah tak kuasa lagi Liem Kian Hoo berpesan:

"Tong Kauw, mulai saat ini aku hendak sebut dirimu dengan nama A-Tong, sedang kaupun harus selalu ingat bahwa pada saat ini kau memakai baju seorang pria, maka dalam tingkah laku maupun gerak-gerik harus mirip seorang pria !" Tong Kauw atau sekarang bernama Soen Tong mengangguk dan tertawa bodoh.

"Aku tahu, akan kuingat selalu pesanmu itu " katanya. "Apabila aku berjumpa dengan seorang nona cilik yang berwajah lumayan, aku tidak akan sembarangan menarik narik tangannya lagi..."

"Ehmmm! disamping itu kaupun harus ingat bahwa sekarang kita sedang pergi menengok guruku, dia orarng tua sedang mterawat lukanya qditempat ini marka ketika berjumpa dengan beliau nanti kau harus bersikap hormat dan tahu sopan santun, jangan bertindak liar dan kasar macam orang hutan belaka !"

"Aku tahu, aku tahu, akan ku anggap dia sebagai ayahku sendiri !".

"Nah, begitulah baru betul !".

Berbicara sampai disitu, Kian Hoo pun lantas ceplak kudanya melanjutkan perjalanannya kedepan diikuti Soen Tong dari belakang.

Beberapa saat kemudian sampailah mereka didepan sebuah jembatan tersebut untuk masuk kedalam dusun.

Haruslah diketahui pada saat itu musim dingin telah tiba, air sungai telah membeku jadi salju yang tebal, banyak sekali bocah bocah cilik sedang bermain ski diatas permukaan salju tersebut suasana riang gembira dan ramai sekali.

Ketika Liem Hoo tiba diujung jembatan, tiba-tiba dengan wajah serius ia loncat turun dari kuda dan meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki Soen Tong yang menyaksikan perbuatan sianak muda itu jadi tercengang, dengan suara yang serak dan keras teriaknya:

"Saudara cilik, jembatan ini kokoh dan kuat sekali, sekalipun kita lewat dengan menunggang kudapun jembatan ini tidak bakal bobol !". Liem Kian Hoo berpaling memandang gadis tolol itu sekejap, lalu dengan wajah serius jawabnya:

"Orang dungu, apa yang kau ketahui ? suhuku berdiam didalam dusun ini, dan aku melanjutkan perjatana dengan berjalan kaki ini berarti suatu penghormatan besar bagi dia orang tua, beginilah cara kita orang-orang dari angkatan muda menghormati cianpweenya!".

"Huuuu... sungguh merepotkan." Keluh Soen Tong dengan bibir dicibirkan. "Saudara cilik! macam apa sih gurumu itu ? dia galak atau tidak ?..."

Sianak muda itu berpikir sebentar, untuk menghindari segala kerepotan sengaja ia menakut-nakuti gadis tolol itu.

"Ooooouw... suhuku adalah seorang jago yang lihaynya luar biasa, semua kepandaian silat yang kumiliki adalah hasil ajarannya semua, nanti kalau berjumpa dengan dia orang tua, kau harus berhati-hati, jangan sampai menimbulkan hawa amarahnya !".

Soen Tong jadi mengkeret ketakutan.

"Kalau begitu aku tidak ikut masuk saja bagaimana kalau aku tunggu disini saja?"

"Bagaimana kalau aku berada disana lama sekali, apakah kau akan menunggu terus disini ?".

"Tidak mengapa, aku boleh saja ikut main ski es dengan bocah bocah cilik itu, coba lihat mereka bermain kesana kemari, oooouw... sungguh menyenangkan sekali !". Sinar matanya yang memancarkan cahaya aneh segera ditujukan kearah bocah bocah cilik yang sedang bermain itu.

Liem Kian Hoo tahu bahwa sifat kekanak-kanakannya masih belum lenyap, maka sambil tertawa ia menggeleng. "Sudahlah, jangan ngaco belo terus-terusan, kau sudah segede ini masa kepingin bermain dengan bocah-bocah cilik

?".

Soen Tong tak bisa berbuat lain, terpaksa sambil tundukkan kepala sedih ia melanjutkan perjalanannya kedepan.

Tiba-tiba... dari tengah permukaan salju itu berkumandang suara jeritan kaget, ternyata seorang bocah cilik yang sedang bermain diatas permukaan salju itu kurang hati-hati dan menginjak permukaan saIju yang tipis, tidak ampun lagi badannya segera tercebur kedalam air sungai didalam nya.

"alaupun air didalam sungai itu tidak terlalu dingin, namun dalam sekali, setelah bocah cilik tadi terjerumus kedalam sungai badannya seketika lenyap tak berbekas.

Liem Kian Hoo jadi gugup, buru-baru ia lari ketempat kejadian, tampaklah bocah tadi sudah terbawa arus sungai dan lenyap didasar air.

Meskipun Sianak muda itu punya kepandaian yang sangat lihay diatas daratan, namun ia sama sekali tidak mengerti akan ilmu berenang, menyaksikan peristiwa ini ia jadi kehabisan akal dan tak berkutik.

Soen Tong pun ikut lari keten pat kejadian, tanpa mengucapkan sepatah katapun ia bongkokkan pinggang dan segera terjun kedbalam sungai lewdat lubang es taadi.

Liem Kian Hboo jadi kaget.

"Tong Kauw !" serunya, "Apakah kau bisa ilmu berenang

?".

Namun Soen Tong tidak sempat menjawab pertanyaan lagi,

badannya yang besar dan kasar telah terjun kedalam sungai dan lenyap dari permukaan.

Sianak muda itu jadi kehabisan akal, terpaku dengan hati gelisah dan cemas menanti diluar gua salju tadi. Dalam pada itu bocah-bocah lainnya sudah menangis tersedu-sedu karena ketakutan.

Dalam sekejap mata peristiwa ini sudah tersiar keseluruh dusun, semua penduduk dusun, semua penduduk dusun itu jadi gempar dan sama-sama lari menuju ketempat kejadian, pelbagai ocehan dan pendapat berkumandang diangkasa, suasana amat ramai dan ribut sekali.

Kembali beberapa saat sudah lewat, tiba tiba dari atas permukaan air bergema suara getaran yang sangat keras, orang orang dusun takut mereka pun ikut tercembur kedalam sungai, mereka pada lari keatas daratan sehingga suasana semakin gaduh.

Liem Kian Hoo merasa kuatir buat keselamatan Soen Tong serta bocah itu, ia tetap berdiri disamping gua salju tadi, ketika hatinya semakin gelisah itulah mendadak lima enam tombak dari tempat kejadian itu terjadi bentrokan keras diikuti munculnya sebuah lubang yang sangat besar, Soen Tong dengan badan basah kuyup sambil mengepit tubuh bocah malang itu tahu-tahu sudah muncul diatas permukaan.

Liem Kian Hoo sangat kegirangan, buru-buru ia tarik tubuhnya naik kedaratan, setelah itu serahkan bocah tadi kepada orang tuanya yang segera menerima dengan isak tangis, ucapan terima kasih segera mengalir dari empat penjuru ditujukan buat gadis tolol tadi.

Wajah Soen Tong yang hitam pekat saat in telah berubah jadi kehijau-hijauan, setelah merangkak keluar dari air dan menyemburkan banyak air dari perutnya ia baru gelengkan kepalanya berulang kali.

"Oooouw! sungguh lihay, sungguh lihay, hampir hampir saja aku mati karena kehabisan napas, sungguh tidak enak berdiam lama di-dasar air sungai ini."

"Tong Kauw.... eeei... A-Tong, kira-kiranya kaupun pandai ilmu berenang ?" seru Kian Hoo tercengang. Namun dengan cepatb Soen Tong mengdgeleng.

"Aku tiadak bisa, coba bbayangan ditempat kediamanku sana sama sekali tak ada sungai ataupun kali, dari mana aku bisa belajar ilmu berenang ?" katanya.

"Lalu bagaimana mungkin kau bisa turun kedalam air dan menolong bocah itu ?".

"Aku sendiripun tidak tahu." sahut Soen Tong dengan mata terbelalak besar "Dahulu aku pernah lihat si monyet tau memelihara ikan emas, aku mengira berenang sangat gampang, sungguhi tak nyana dugaanku sama sekali tidak benar, tadi aku cuma berpikir bagaimana caranya untuk menolong bocah itu maka tanpa pikir panjang aku langsung terjun kedalam air, setelah berada diba-wah air aku lihat bocah itu sedang bergerak didepan, akupun tak tahu bagaimana caranya mencengkeram tubuhnya, semakin tak kuketahui bagai mana pula caranya aku berhasil keluar dari air

!" jawaban ini membuat Liem Kian Hoo tertegun, ia percaya gadis tolol ini tidak habis mengerti. Ketika itulah tiba-tiba terdengar seorang kakek tua berseru sambil menghela napas panjang:

"Berkorban untuk menolang orang, tidak pikirkan keselamatan sendiri menempuh bahaya, beginilah baru perbuatan seorang pendekar sejati !"

Liem Kian Hoo berpaling memandang ke arah orang yang berbicara barusan, ia segera kenali orang itu bukan lain adalah suhunya si Rasul seruling Liuw Boe Hwie adanya, kelihatan wajah nya kusut dan sebuah lengan bajunya kosong melompong dan berkibar tertiup angin, tak kuasa lagi sambil menjerit tertahan suaranya:

"Suhu ! kau telah keluar selama beberapa waktu apakah kau berada dalam keadaan sehat walafiat ?".

Liuw Boe Hwie tersenyum. "Yaaaah, boleh dikata untung belum mati tak bisa dikatakan terlalu baik, aku selalu menantikan kehadiranmu kembali, kepergianmu kali ini sungguh lama sekali !".

Liem Kian Hoo sangat terharu, beribu-ribu masalah ingin ia utarakan keluar namun tak tahu dari mana ia harus bicara.

Menyaksikan keadaan muridnya, Liuw Boe Hwie lantas tertawa.

"Perlahan-lahan, jangan terburu napsu, bimbinglah dahulu sahabatmu itu kedalam ruangan, pada jaman seperrti ini jarang tsekali bisa ditqemui orang yangr berjiwa besar macam dia !".

Sebaliknya Soen Tong yang ada diatas tanah tiba-tiba berteriak:

"Saudara cilik, aku amat beredih hati, adakah sikakek tua ini adalah suhumu ? mengapa ia cuma punya sebuah tangan belaka ?".

"A-Tong. jangan ngaco belo ! " hardik Si anak muda itu gusar, "jangan bersikap kurang-ajar terhadap guruku !".

Buru-buru kepada Liuw Boe Hwie sambungnya: "Suhu, harap kau jangan marah, dia adalah seorang dungu !".

"Sekalipun tidak kau katakan akupun tahu, hanya manusia polos dan sederhana macam dialah baru punya kebesaran jiwa yang murni dan sejati, aku hanya menghormati dan kagum pada dirinya, tak mungkin bisa marah oleh perkataan itu !"

Dalam pada itu bocah yang tercebur kedalam sungai tadi telah mendusin, ia beserta orang orang tuanya segera datang mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas pertolongan itu, Liem Kian Hoo takut urusan semakin merepotkan buru-buru ia tarik tangan Soen Tong untuk mengikuti dibelakang Liau Boe Hwie menuju kedalam sebuah bangunan rumah. MuIa-mula ia suruh Soen Tong ganti pakaian dahulu, kemudian memberi semangkok wedang jae untuknya diminum, setelah itu baru paksa ia naik kepembaringan untuk tidur.

Menanti Soen Tong telah diatur, barulah si anak muda itu menceritakan kisah perjalanannya menuju keselatan selama ini, tentu saja banyak bagian yang serasa tidak sesuai untuk dibicarakan ia rahasiakan didalam hati...

Dengan tenang Liuw Boe Hwie mendengarkan si-anak muda itu bercerita, menanti ia telah menyelesaikan kisahnya sambil menghela napas panjang katanya.

"Hao-jie ! sejak dulu kalau aku tahu bahwa ayahmu adalah seorang jago lihay, akapun tidak usah bersusah payah untuk wariskan kepandaian silatku kepadamu !".

"Suhu ! harap kau jangan berkata begini, walaupun ayahku pandai bersilat tetapi ia sangat menghormati diri suhu, lagi pula sejak dua puluh tahun berselang ia sudah tak pernah membicarakan soal dunia persilatan lagi, maka dari itu beliau lantas suruh tecu angkat suhu sebagai guru, menanti suhu mengalami celaka dan lengannya kutung, Beliau baru menceritakan rahasia tersebut, disamping itu berhubung tecupun harus melaksanakan tugas berat yang dibebankan si Bunga Mawar Putih cianpwee kepadaku, mau tak mau ia wariskan beberapa kepandaian kepadaku, dengan pesan agar tecu temukan kembali mutiara diatas hioloo Ci-Liong-Teng dan mempelajari isi-nya, kemudian menggunakan tenaga sin kang diatas hioloo tadi bantu suhu serta Pek cianpwee pulihkan kembali tenaga dalamnya."

"Aaaaai... walaupun kau mendapat bantuan dari sahabat karib ayahmu tempo dulu sehingga mutiara itu bisa didapat kembali, namun hioloo Ci-Liong-Teng kembali kena dirampas orang, agaknya harapan untuk pulihkan kembali tenaga lweekangku hanya sia sia belaka. ". " Tidak ! suhu, tecu telah menghapalkan seluruh pelajaran rahasia tenaga sin-kang itu hingga hapal diluar kepala." buru- buru sianak muda itu menanggapi "Lagi pula kunci utama untuk mengembalikan tenaga Iweekang suhu terletak pada mutiara tersebut dan bukan hioloo nya, maka sungguh beruntung mutiara sakti ini tidak lenyap, harapan suhu untuk pulihkan kembali ilmu silat yang telah punah pun masih sangat besar."

"Sungguh ?" seru Liau Boe Hwie dengan sinar mata terharu, "Sungguh tak nyana pada suatu hari aku orang she- Liauw berhasil juga memenuhi harapan tersebut.".

Suaranya diiringi sesenggukan, sehingga hampir-hampir saja tidak kedengaran apa yang sedang di ucapkan.

"Suhu, sepanjang hidup kau orang tua berjuang, belum pernah melakukan perbuatan yang merugikan umat manusia, Thian akan selalu melindungi orang budiman. Thian tidak akan suruh kau orang tua menderita terus sepanjang masa !"

Liuw Boe Hwie termenung sejenak, mendadak ia berkata: "Harapan untuk memulihkan kembbali tenaga lweedkangku

mungkin amasih ada, tetabpi bagaimana dengan sinenek tua she-Pek. "

"Menanti tenaga Iweekang suhu telah pulih kembali seperti sedia kala, tecu akan segera berangkat untuk menolong Pek loocianpwee !".

"Kau masih banyak tugas yang belum diselesaikan disamping harus mengejar Kauw Heng Hu, kaupun harus menolong Ku-Sin-Poo serta dua orang murid perempuannya, Toan Kiem Hoa punya hubungan istimewa dengan ayahmu, terutama sekali gadis yang bernama Watinah, dia adalah bakal istrimu, mana boleh kau biarkan mereka terjatuh ditangan kaum bajingan ? persoalan ini tak dapat dibiarkan berlarut- larut, mana kau ada waktu sebanyak itu untuk mengurusi segala persoalan tetek bengek ?". Liem Kian Hoo menghela napas panjang.

"Jagad begini luas, aku harus pergi kemana untuk menemukan mereka ?" keluhnya. "lagi pula mencari manusia bukanlah urusan yang gampang, maka terpaksa tecu akan bertindak sesuai dengan keadaan, bertemu dengan pesoalan apapun akan kukerjakan lebih dahulu."

"Mungkinkah ayahmu bakal terjun kembali kedunia persilatan...".

"Tidak mungkin ayahku mencampuri persoalan ini lagi, kalau tidak, ia tak akan serahkan tecu untuk angkat suhu sebagai guru, Tecu bocorkan rahasia ini dihadapan suhupun sudah melanggar pesan-pesannya, maka dari itu tecu harap suhu suka melupakan saja persoalan ini !".

Kembali Liuw Boe Hwie termenung beberapa saat lamanya, lalu ia berkata:

"Ayahmu bisa tahu gelagat dan segera mengundurkan diri dari percaturan Bu-Iim, tindakan ini merupakan suatu tindakan yang tepat dan cerdik, tapi apa sebabnya ia malah menyeret dirimu untuk terperosok kedalam masalah dunia kangouw ?"

"Tentang soal ini tecu sendiripun kurang jelas, tetapi tecu rasa dia punya suatu tujuan serta maksud tertentu... Suhu, sekarang akan kuserahkan mutiara ini kepadamu, disamping itu akan kuberikan pula rahasia pelajaran sin-kang tersebut, waktu tidak banyak lagi, kami akan berangkat..."

Begitulah, dalam rumah gubuk yang jelek segera terpancarlah serentetan cahaya tajam yang menyilaukan mata.

Sang surya muncul ditengah awabn. cahaya keemads- emasan menyoraoti seluruh jagbad mengusir hawa dingin yang mencekam permukaan bumi. Ketika salju telah meleleh dan hawa jadi hangat maka daun daun hijaupun mulai tumbuh disetiap dahan pepohonan. Ditengah sebuah hutan bunga Bwee diluar dusun kecil yang ada ditengah bukit, berdirilah seorang kakek tua berlengan tunggal sedang mengawasi bunga bwee itu dengan termangu- mangu.

Ketika kakek tua itu mendongak, terlihatlah titik titik air mata jatuh berlinang, Apa yang sedang ia sedihkan ? Dari tempat kejauhan tiba tiba muncul seorang pemuda yang berwajah sangat tampan, sambil berlari mendekat serunya dengan nada terharu.

"Suhu, kiong-hie. kiong-hie, bukan saja tenaga Iweekangpun telah pulih seperti sedia kala, bahkan kesehatan serta kesegaranmu berlipat ganda, ilmu pukulan " Han-Hian- Ci-Kut " atau Bau Harum Merasuk tulang yang barusan kau gunakan benar-benar luar biasa sekali, bukan saja tidak menimbulkan suara bahkan tidak tampak tanda apapun, hal ini membuktikan bahwa tidak sia-sia kau orang tua menderita selama banyak tahun !"

Kakek tua itu menyeka air mata yang membasahi pipinya, lalu tertawa getir. Dibelakang pemuda ganteng itu berdiri seorang lelaki kekar yang tinggi besar dan berwarna hitam, terdengar ia tertawa dengan suara serak:

"Suhu, mengapa kau menangis ? sekalipun bunga berguguran, tidak pantas kalau kau tangisi begitu sedih !".

"A-Tong, kembali kau ngaco belo." tegur sianak muda itu sambil berpaling. "Suhu meneteskan air mata kegirangan sebab tenaga dalamnya telah pulih kembali."

"Kalau gembira mestinya tertawa, mengapa ia malah menangis ?" bantah lelaki hitam itu kurang percaya.

Sepasang alis pemuda itu berkerut kencang ia ada maksud memaki lelaki hitam tadi dengan beberapa patah kata pedas, namun keburu dicegah oleh kakek tua itu dengan goyangan tangan ramah. "Hoo-jie, jangan kau tegur diri A-Tong lagi, " katanya. " ia tidak tahu urusan, lagipula apa yang ia ucapkan tadi memang tepat sekali, tetesan air mataku tadi memang muncul karena sedih atas gugurnya bunga rbunga bwee ini t!"

Mendengar diqrinya dibelai srikakek tua itu, lelaki berwajah hitam tadi jadi bangga, tampak ia tertawa senang, sebaliknya sianak muda itu jadi melengak.

"Suhu, persoalan apa yang membuat hatimu sedih ? ".

" Aaaaai... perasaan seperti ini tak bakal kau pahami, kecuali kalau kau sudah berusia seperti aku sekarang."

Sianak muda itu bungkam dalam seribu bahasa, suasana didalam hutan itupun pulih kembali dalam keheningan.

Beberapa saat kemudian Liem Kian Hoo baru ambil keluar sebatang seruling pendek dari sakunya kemudian dengan sangat hormat dipersembahkan kepada kakek tua itu.

"Suhu !" ujarnya, "Kini tenaga lweekang mu telah pulih seperti sedi kala, sudah sepantasnya kalau seruling kumala ini kau terima kembali !".

Air muka Liuw Boe Hwie berubah hebat,

"Hoo-jie, apakah kau sudah tidak sudi me ngakui aku sebagai gurumu lagi ?...".

"Tecu tidak berani punya pikiran demikian ! tecu berhasil jadi orang berkat didikan suhu, budi kebaikanmu berat bagaikan bukit thay-sandan dalam bagaikan samudra...".

"Aaaai, sudahlah, jangan kau berkata begitu walaupun aku pernah wariskan ilmu silatku kepadamu tetapi sekarang kalau dibandingkan dengan dirimu aku bukan apa-apanya, maka aku rasa seruling ini tidak berguna bagiku tapi sangat bermanfaat buat dirimu, apabila kau kembalikan seruling ini kepadaku sekalipun kulit mukaku lebih tebal-pun aku tidak berani anggap diriku sebagai gurumu lagi". " Suhu, tecu sama sekali tak ada maksud demikian, sehari jadi guru maka selama hidup tetap adalah guru, rasa hormat tecu kepada suhu tidak pernah padam sepanjang masa, hanya saja berhubung suhu angkat nama karena seruling maka tecu ada maksud mengembalikan seruling yang merdu merayu dapat berkumandang kembali dikolong langit.".

Liuw Boe Hwie tertawa getir, sambil angkat lengannya yang kutung ia mengeluh:

"Dengan sebuah lengan belaka, dapatkah aku bermain seruling ?".

Liem Kian Hoo melengak, akhirnya dengan tersipu-sipu ia menunduk.

"Tecu patut mati...".

Dengan sedih Liuw Boe Hwie goyangkan tangannya.

"Hoo-jie, aku tahu hatimu jujur dan polos, tidak mungkin bisa timbul rasa kurang hormat dalam hatimu, tetapi aku sang guru yang tak berguna cuma bisa menghadiahkan barang itu kepadamu, suatu nama kosong belaka yang dapat kuberikan buat kau."

"Suhu, apakah gelar kebesaran mupun hendak kau serahkan kepada tecu ?...".

"Tidak salah, setelah berkelana hampir separuh hidupku aku baru berhasil mendapatkan tadi, tahukah kau bagaimana aku bisa dapatkan nama tersebut ?"

"Tecu tahu, pada empat puluh tahun berselang ketika digunung Huangsan diadakan pertemuan besar kaum Bu-lim, suhu telah menggunakan seruling emas ini untuk menundukan jago jago lihay dari suluruh jagad, maka untuk mengagumi kehebatan suhu, semua jago menghadiahkan gelar tersebut kepada kau orang tua !". Mengungkap masa yang silam, Liuw Boe Hwie jadi bersemangat kembali, ujarnya lagi sambil menghela napas:

"Justru karena nama ini aku dapatkan dengan susah payah, maka sengaja kuhadiahkan kepadamu, walaupun sang peniup seruling belum mati namun sang peniup seruling itu telah cacad. di kolong langit jangan sampai lenyap seorang Nabi Seruling, maka dari itu nama besar ini terpaksa harus kuserahkan kepadamu".

Dengan wajah serius Liem Kian Hoo jatuhkan diri berlutut diatas tanah. ujarnya dengan penuh rasa hormat:

"Tecu mengucapkan terima kasih atas hadiah yang suhu berikan kepada diri tecu, tecu berjanji tidak akan menyia- nyiakan harapan suhu sehingga irama seruling dapat selalu berkumandang diseluruh jagad !".

"Sudahlah, jangan terlalu sungkan." tukas Liuw Boe Hwie sambil membimbing bangun muridnya. "Kalau dibicarakan sepantasnyab akulah yang medngucapkan terimaa kasih kepadambu, dengan kemampuan yang kau miliki saat ini mungkin tidak terbatas sampai disitu saja, Nabi Seruling dua patah kata ini mungkin malah merendahkan derajatmu. tetapi aku berbuat demikian berhubung ingin mewujudkan suatu keinginan pribadiku, atau boleh dikata suatu permohonan ".

"Suhu, katakanlah apa kemauanmu, tecu pasti akan melaksanakannya dengan seksama !".

"Irama seruling adalah suatu kepandaian bunyi-bunyian yang digunakan melumpuhkan syaraf musuh, namum kau harus tahu dikolong langit bukan cuma aku seorang yang menguasahi kepandaian tersebut".

"Tecu tahu, tujuh senar alat pie-pa dari Pek loocianpwee pun merupakan suatu kepadaian silat lewat irama yang sangat ampuh.".

Dengan cepat Liuw Boe Hwie menggeleng. "Walaupun irama Pie-pa dari nenek Pek merupakan kepandaian yang luar biasa, namun kepandaian tersebut belum dapat menaklukan hatiku meski pada sepuluh tahun berselang kami sama-sama terluka setelah melangsungkan suatu duel sengit namun aku dapat membuktikan kalau kelihayannya belum seberapa, sebab namanya tidak terkenal karena kepandaian itu, disamping itu aku pun masih memiliki sebuah irama lagu yang belum sampai kugunakan, sebab aku sadar seandainya irama itu kugunakan niscaya ia tak bakal kuat menahan diri, dalam hati kecilku sekarang cuma ada dua orang yang boleh dikata sangat ampuh.".

Dengan hati terperanjat Liem Kian Hoo membelalakkan matanya lebar-lebar, menyaksikan keadaan muridnya Liuw Boe Hwio berkata kembali:

"Harapanku yang paling besar selama hidup ku kali ini adalah mengunakan irama pembetot sukma itu untuk beradu dengan mereka berdua, siapa sangka selama ini aku tidak mendapatkan kesempatan tersebut, dan kini aku sudah jadi cacad maka harapanku terpaksa harus kuserahkan kepadamu untuk melaksanakannya !".

"Siapakah kedua orang itu ?".

"Si Dewa seruling Im It serta si raja Tambur Loei Thian Coen !".

"Belum pernah tecu dengar nama besar dari kedua orang ini dalam dunia persilatan".

"Tidak salah, kedua orang ini bjauh lebih tahud bagaimana caraa menyembunyikanb diri daripada aku, jarang sekali mereka munculkan diri dalam dunia kangouw maka jarang sekali orang mengetahui harapan ini !".

"Suhu, belum pernah kau ceritakan persoalan ini kepada tecu ! ". "Irama pembetot sukma adalah suatu sinkang irama tingkat tinggi, dahulu belum mencapai puncak kesempurnaan maka percuma kalau kuwariskan kepandaian tersebut kepadamu, bukan kemajuan yang akan didapat sebaliknya malah akan mengalutkan pikiranmu, Iain halnya dengan saat ini, tenaga dalammu sudah mencapai puncak kesempurnaan tentu saja irama sakti ini boleh kau pelajari "

Seraya berkata perlahan-lahan dari sakunya ia ambil keluar sebuah gulungan kertas warna kuning dan diserahkan kepada sianak muda itu sambil berpesan:

"Seluruh kepandaian yang kumiliki dewasa ini ialah irama pembetot sukma paling dahsyat nah, terimalah kepandaian ini dan baik-baiklah menggunakan".

Dengan penuh keseriusan Liem Kian Hoo jatuhkan diri berlutut diatas tanah kemudian menerima pemberian tadi dan dibaca sementara, sekilas rasa kaget dan girang melintas diatas wajahnya.

Menyaksikan perubahan air muka muridnya dengan hati riang Liauw Boe Hwie menegur:

"Hoo-jie, apakah dibalik kepandaian tersebut ada bagian yang bermanfaat bagimu ?".

"Terlalu bagus, terlalu bagus bagiku, dengan demikian masalah pelik yang sedang kuhadapi pun bisa diatasi, tidak aneh kalau jurus " Giok Sak Ci Hun yang kugunakan selalu tak dapat mencapai puncak kehebatan, kiranya kepandaianku belum mencapai tujuan.".

"Jurus Giok Sak Ci Hun bukankah merupakan kepandaian silat ajaran orang tuamu ? apa sangkut pautnya dengan irama pembetot sukma ?".

"Jurus ini punya hubungan yang erat sekali dengan irama tersebut, sebelum melancarkan ju rus tersebut terdapat beberapa bait syair yang belum pernah kuselidiki dengan seksama, sedang sedang sewaktu ayahku wariskan kepandaian itu kepadaku pun aku belum pernah tahu akan maknanya, tapi sekarang aku sudah paham, ternyata irama seruling ini mempunyai pengetahuan yang sama dengan jurus ampuh tersebut".

Liauw Boe Hwie rmengulangi pulat empat bait syaqir yang diucapkran sianak muda itu, mendadak dengan terharu ia cekal tubuh Kian Hoo sambil berseru:

"Hoo jie, apakah kau benar benar sudah paham ?".

"Tecu telah paham, semua kepandaian dasarnya adalah hati naluri sendiri, segala tindakan segala gerakanpun didasari oleh hati naluri sendiri, apabila irama seruling tidak muncul karena naluri, dan jurus tidak dilancarkan mengikuti naluri maka keampuhan akan punah tak berbekas."

Dengan termangu-mangu Liauw Boe Hwie lepaskan tubuh sianak muda itu lalu menghela napas.

"Aaaai ! ayahmu betul betul seorang pendekar aneh yang selama banyak tahun aku berada dalam alam impian, seandainya sejak dulu aku mendapat petunjuk, niscaya aku tidak akan jadi macam begini...".

"Tidak mungkin, aku rasa ayahkupun belum pernah berpikir sampai kesana, ilmu silat di kolong langit asalnya adalah satu, seandainya ayahku bisa saling berunding dan bekerja sama dengan suhu mungkin kedua belah pihak akan sama-sama mendapat kemajuan, hanya dia orang tua sudah tidak pernah memikirkan soal dunia persilatan lagi, sekalipun kita beritahukan kepadanya saat inipun percuma !".

Liauw Boe Hwie menghela napas dan menggeleng, akhirnya ia alihkan pokok pembicaraan ke soal lain:

"Untung ayahmu maupun aku ada maksud untuk wariskan kepandaian ini kepadamu, dikemudian hari kau tentu akan cemerlang dan tersohor dikolong langit, keberhasilanmu pasti berada diatas ayahmu, lebih lebih aku tak usah dikatakan lagi

!".

Ditengah kegembiraan iapun membawa perasaan sedih, buru-buru sianak muda itu berkata:

"Tecu masih banyak membutuhkan petunjuk serta nasehat suhu !".

"Haaaa... haaaaa... haaaaa... sudah... sudahlah, aku mengakui kepandaianku terlalu cetek, tetapi dengan adanya ahli waris buat gelar Nabi Serulingku ini maka akupun tak usah kecewa, ayoh jalan, kita pulang kerumah untuk membereskan barang-barang keperluan, demi aku pribadi kau telah banyak membuang waktu."

"Apakah suhu mengijinkan tecu selalu mendampingi diri suhu ? ".

"Haaaaa... haaaa... Hoo-jie, kau tak perlu terlalu sungkan, sekarang aku tidak lebih hanya seorang manusia cacad, tidak banyak yang bisa kuberikan kepadaku, namun bagaimanapun juga aku tak mau tunggu saat ajalku sambil ongkang- ongkang, maka aku putuskan untuk ikut dirimu pergi lemaskan otot !".

Soen Tong yang selama ini bungkam terus disamping lama kelamaan tak kuat menahan diri, apalagi setelah mengetahui bahwa mereka hendak berangkai sambil tertawa lebar selanya:

"Aku segera siapkan kuda !". Tanpa banyak cincong lagi ia lari kemuka untuk siapkan kuda-kuda tunggangan. Memandang bayangan punggungnya yang menjauh, Liem Kian Hoo tertawa dan berkata:

"Sudah berapa hari lamanya budak ini kita kurung dalam kamar, mungkin ia sudah jemu dan tidak tahan, namun apa boleh buat, seandainya kita lepaskan dia keluar, mungkin banyak kerepotan bakal ia tinggalkan buat kita !". "Perempuan ini belum hilang sifat kekanak-kanakannya, dan ia merupakan sekeping kumala yang belum diasah, aku sih amat suka kepadanya !"

"Kalau begitu harap suhu suka menerima dirinya sebagai muridmu. ayahnya banyak meninggalkan kepandaian yang maha sakti, apabila suhu tidak jemu harap kau orang tua suka bantu menurunkan ilmu tadi kepadanya".

"Eeeeei... bocah, kembali kau main licik dihadapanku, terang terangan kau suruh aku ikut mempelajari kepandaian dalam kitab pusaka Koei Hu-Pit-Kip, kenapa sok cari alasan macam2 ?". Liem Kian Hoo menggeleng dan tertawa.

"Tecu tidak berani punya pikiran demikian, kepandaian yang ditinggalkan Leng-Yan-Khek di-atas tulangnya terlalu banyak dan dalam, artinya tecu pun hanya mengerti separuh belaka, Suhu jauh lebih pandai dan banyak pengetahuan, asal diselidiki tidak sulit untuk memecahkannya, justru tecu yang ingin nunut cari keuntungan !".

"Tidak salah, sungguh tak nyata setelah jadi tua dan punya dua orang murid, semuanya malah gantian memberi pelajaran kepadaku, ayoh jalan, kitab pusaka Koei-Hua-Pit-Kip pasti mengandung ilmu yang mendalam, sembari melakukan perjalanan kita selidiki perlahan-lahan kalau kita harus berdiam beberapa hari lagi disini, mungkin gubukku pun akan dibongkar oleh budak busuk ini".

Sambil tertawa guru dan murid dua orang segera bergerak menuju kedusun !...

Tiga ekor kuda jempolan berlarian diatas permukaan salju untuk mulai suatu perjalanan jarak jauh.

Berhubung tiada tujuan maka merekapun berjalan sekenanya, mereka hanya melakukan pencarian sekenanya belaka. Lie Hong Hwie entah membawa si Bunga mawar Putih bersembunyi dimana ?

Kawanan penjahat dibawah pimpinan Kauw Heng Hu pun entah membawa Toan Kiem Hoa, Watinah serta Sani bersembunyi dimana.

Dalam sekejap mata musim dingin telah berlalu dan musim semi pun menjelang tiba, kalau dihitung-hitung sejak pertempuran ditelaga So-Si-Auw satu tahun telah lewat, selama setahun ini banyak perubahan yang telah terjadi.

Liem Kian Hoo yang mengembara kesana kemari tanpa tujuan mulai rindu akan kampung halamannya, secara lapat lapat ia merasa rindu akan orang tuanya, rumahnya...

Ketika maksud hatinya ia sampaikan kepada sang guru, Liuw Boe Hwie termenung sejenak lalu sambil bertepuk tangan ia berseru:

"Sepantasnya sejak dulu kita harus pergi ke kota Yang- Chiu, sekarang aku rasa rada terlambat!"

"Suhu, apa maksud ucapanmu ini ?" tanya Kian Hoo dengan hati terperanjat.

"Sejak ayahmu secara diam diam menghancurkan persekutuan tiga belas sahabat, ketiga belas orang itu tentu selalu mencari jejak ayahmu, Kauw Heng Hu sebagai salah satu diantara tiga belas sahabat, apakah tidak mungkin pergi mencari jejak ayahmu pula ?".

"Aaaaah, tidak mungkin, dahulu ayahku muncul sebagai manusia berkerudung, mereka sama sekali tidak kenal raut wajah ayahku, lagipula tecu pun belum pernah membocorkan rahasia ini".

"Aaaaai...! Loo Sian Khek sendiripun mungkin tidak tahu, tetapi setelah ia ceritakan keadaanmu kepada Kauw Heng Hu, maka dari tubuhmu ia akan peroleh tanda tangan yang mencurigakan, sejak kau tinggalkan kota Yang-Chiu mendadak tenaga dalammu peroleh kemajuan pesat sedang kaupun tidak berjumpa dengan orang yang licik dan keji didalam, ramah diluar, orang she-Loo itu tentu akan mencurigai akan diri ayah mu."

Keterangan ini membuat Kian Hoo jadi sangat gelisah, dengan hati terperanjat serunya.

"Belum pernah tecu berpikir sampai kesitu kalau begitu mari kita berangkat pulang ! ".

"Aaaaa..! sekalipun kita berangkat saat ini juga, kedatangan kitapun sudah terlambat satu dua bulan lamanya, Untung ilmu silat ayahmu luar biasa, ia tentu punya kemampuan untuk berjaga diri !".

"Tentang soal ini sukar untuk dikatakan, tenaga dalam Kauw Heng Hu belum tentu bisa menangkan ayahku, tetapi seandainya mereka membokong dan mencelakai secara diam- diam, maka keadaan yaahu jadi berbahaya sekali.

Liauw Boe Hwie berpikir sejenak, lantas berkata:

"Ayahmu sebagai seorang pembesar Kerajaan, aku rasa tentu sikap dan cermat dalam setiap tindakan, aku rasa ia tidak akan tertipu mentah-mentah, lagi pula Kauw Heng Hu sebagai seorang kangouw belum tentu punya keberanian sebesar ini untuk cari gara-gara dengan pihak pemerintah meski demikian memang jauh lebih baik kalau kita segera berangkat kesitu, lagi pula ditinjau dari penuturanmu jelas hubungan Ku Sin Poo dengan ayahmu bukan hubungan sahabat biasa, setelah perempuan itu kena ditawan sudah sepantasnya kalau kita kabarkan berita ini kepadanya".

Selesai berunding Liem Kian Hoo merasa makin cemas, ia kepingin sekali punya sayap hingga dapat terbang kembali kekota Yang chiu.

-oo0dw0oo-