Pedang Bunga Bwee Jilid 06

Jilid 06

KEJADIAN ini membuat Licm Kian Hoo jadi tertegun, agaknya ia tidak pernah mengira bahwa Hasan bisa ambil tindakan pengecut dengan melarikan diri dari kalangan.

Suku-suku leher panjang diempat penjuru yang menyaksikan kejadian itupun jadi gempar, mereka berkaok- kaok gusar bahkan gelang yang tergantung diatas lehernya yang panjang itupun sama sama di lepaskan.

Liem Kian Hoo mengira orang orang itu hendak menyerang dirinya serentak, buru-buru badannya meloncat kedepan untuk pungut kembali pedangnya dari tanah dan bersiap sedia melakukan perlawanan.

Sani buru-buru menghampiri dirinya seraya mencegah. "Kongcu, jangan salah paham, mereka bukan hendak

menghadapi dirimu !" serunya.

Belum sampai sianak muda itu habis melengak, ditengah teriakan-teriakan gusar suku suku leher panjang yang ada disekeliling tempat itu sudah bergerak ke hadapan Ku-li, gelang leher mereka sama-sama dihantamkan keatas mayat itu sehingga dalam sekejap mata jenasah bocah tadi sudah hancur berkeping-keping....

"Mengapa mereka menyerang sesosok mayat ?" tanya Liem Kian Hoo tercengang.

"Hasan adalah seorang kepala suku, tak disangka dia adalah seorang pengecut yang takut mati, dalam menghadapi seorang musuh ternyata sudah melarikan diri, hal ini boleh dikata merupakan suatu kejadian yang sangat memalukan bagi kami orang-orang Biauw, maka mereka bersama-sama merusak jenasah Ku li sebab dia adalah putra dari Hasan.".

"Tindakan ini tak bisa terhitung bahwa suku Biauw kami buas dan biadab, dalam tata cara orang Han kalianpun terdapat hal hal yang sebenarnya tidak masuk diakal, seorang berbuat dosa, seluruh sanak keluarganya ikut dijagal, bahkan yang telah matipun kuburannya dibongkar dan mayatnya dicambuk. Kongcu, bagaimana penjelasanmu mengenai tata cara bangsa Han kalian ini?..."

Liem Kian Hoo dibikin bungkam dalam seribu bahasa, merah jengah selembar wajahnya.

"Sungguh menyesal aku bukan seorang kaisar, kalau tidak pasti akan kuhapuskan tata cara yang sama sekali tidak masuk diakal ini!" serunya sementara itu dengan wajah berat orang- orang suku Leher Panjang itu pungut kembali gelang lehernya lalu dengan mulut membungkam sama-sama mengundurkan diri dari sana, tidak selang beberapa saat kemudian ditengah kalangan yang luas tinggal mereka berdua, bahkan sang dukun itupun lenyap entah kemana perginya.

"Apakah peristiwa ini berakhir sampai disini saja ?" Tanya Kian Hoo keheranan.

"Tidak ! ini hari boleh dikata merupakan hari yang paling memalukan bagi suku leher panjang, dewasa ini mereka buru- buru kembali keru-mah untuk mohon ampun pada dewanya masing-masing sebab tak dapat menuntubt balas kepadamdu, tapi mulai baesok kau sudah bjadi musuh umum dari seluruh anggota suku mereka, keujung langit atau dasar samudrapun mereka tidak akan melepaskan dirimu !"

"Dari mana mereka boleh bertindak demikian ? " teriak sianak muda itu gusar.

"Ku li mati karena bunuh diri sedang Hasan melarikan diri, sebalikpun urusan ini ada sangkut pautnya dengan diriku tapi akupun berbuat demikian demi membela diri. bagaimanapun

aku tak bisa berpeluk tangan membiarkan mereka bunuh diriku bukan ?".

Sani tertawa getir. "Setiap peristiwa yang terjadi dikolong langit tidak selalu sebanding dengan alasan-alasan yang sebenarnya, kalau tidak jagad akan damai dan aman tenteram." katanya.

" Aaaaaa, peristiwa ini telah terjadi, akupun terpaksa harus terima semua kenyataan ini, untung pembalasan dendam mereka baru dilakukan mulai besok, dewasa ini lebih baik kita segera berangkat untuk menyelesaikan urusan kita sendiri dimanakah letak bukit Srigala Langit yang kau maksudkan itu

?".

Sani menentukan arah lalu menuding kearah sebuah puncak gunung, sahutnya:

"Bukit itu akan segera kelihatan setelah melewati bukit seberang, tetapi Kongcu harus bertindak hati-hati, tempat belakang sana merupakan daerah kuil suci bagi suku suku Leher Panjang dan merekapun sangat pandai dalam hal membuat alat-alat jebakan sesempurna bangsa Han kalian namun sebagian besar mereka pasang alat jebakan itu disesuaikan dengan keadaan alam, kita harus hati-hati bertindak.".

"Kau pernah mengunggulkan ilmu hitam mereka yang dikatakan lihay, dan akhirnya terbukti bahwa kesemuanya ini cuma permainan anak kecil yang khusus untuk membohongi orang, dalam hutan belantara yang lebat itu sekalipun ada alat jebakan panah serta gunung golok bangsa Han kami, permainan tersebut tidak terhitung seberapa, apalagi ada cici disampingku, aku rasa persoalan ini tak perlu terlalu dirisaukan !"

Sani menggerakan bibirnya seperti mau mengatakan sesuatu, namun akhirnya ia cuma menghela napas panjang belaka dan melanjutkan perjalanan dengan mulut membungkam.

Liem Kian Hoo sama sekali tidak ambil perhatian terhadap peringatan perempuan itu, ia menyusul dari belakang dengan hati tenang, sepanjang perjalanan mereka lewati banyak sekali rumah penduduk suku Leher Panjbang, namun meredka tutup pintunaya rapat-rapat,b tetapi dari balik lubang jendela muncullah serentetan sinar mata penuh kebencian serta perasaan dendam.

Perjalanan dilakukan dengan mulut membungkam, rumah penduduk makin lama semakin berkurang dan akhirnya mereka tiba disebuah mulut selat yang sempit.

"Kongcu, mungkin kau tidak ambil perhatian terhadap ucapanku karena andalkan ilmu silat mu yang lihay serta nyalimu yang besar, tetapi aku sangat memahami keadaan dari suku Leher Panjang, aku harap kita jangan sampai berpisah !"

Mendengar ucapan gadis itu amat serius Liem Kian Hoo harus tarik kembali keangkuhan-nya, dalam hatipun semakin waspada.

"Harap cici berlega hati, aku pasti akan mendengarkan seluruh petunjukmu disaat dan keadaan seperti apapun ! " sahutnya.

Sani menghela napas panjang, tiba-tiba ia percepat langkahnya laksana terbang meluncur ke-arah bukit sebelah depan, Liem Kian Hoo ingat terus pesan Sani yang minta agar mereka jangan sampai terpisah, ia segera mengepos tenaga dan dengan kencang mengikuti terus dibelakang tubuhnya.

Jalan gunung yang sempit ini berada diantara tebing yang curam serta jurang yang dalam, lebar jalan tidak lebih hanya dua depa dan cukup dilalui seorang belaka.

Liem Kian Hoo takut gadis itu mendadak berhenti sehingga terjadi tumbukan dengan dirinya karena susah mengeram gerakan tubuhnya, maka selama ini ia tidak berani berjalan terlalu dekat dengan dirinya, meski demikian ia tidak paham apa sebabnya Sani bergerak demikian cepat. Setelah bergerak beberapa saat lamanya, jalan gunung itu makin lama semakin sempit, hampir boleh dikata kadang kala mereka harus bergerak dengan punggung menempel diatas dinding tebing, sekalipun begitu gerakan tubuh Sani sama sekali tidak berkurang, ia lanjutkan perjalanan dengan gerakan cepat.

Lama kelamaan Liem Kian Hoo tak kuasa menahan diri, teriaknya:

"Cici. bagaimana kalau kita lanjutkan perjalanan perlahan sedikit ?...".

Karena harus berrbicara, hawa mturni yang terkuqmpulkan jadi buryar, langkah kakinya makin bertambah berat... mendadak ia merasa kakinya menginjak tempat kosong. diikuti dari atas bukit berkumandang suara gemuruh yang amat keras, berpuluh-puluh batu cadas bagaikan hujan gerimis berguguran kebawah.

Liem Kian Hoo terperanjat dan segera mendongak tampaklah batu-batu cadas itu meluncur kebawah dengan hebatnya, tiga empat tombak di-sekeliling tubuhnya terjangkau dalam ancaman tersebut apalagi ia berada disuatu daerah yang ter-batas, tak mungkin baginya untuk menghindar ke-tempat lain, terpaksa sepasang telapaknya didorong kedepan untuk memunahkan datangnya ancaman tersebut.

Batu batu cadas itu bagaikan hujan gerimis rontok kebawah dengan hebatnya, suara gemuruh memekikan teiinga, Liem Kian Hoo terdesak hebat, laksana kilat badannya meluncur kearah depan ambil kesempatan batu pertama berhasil dipukul kesamping oleh serangannya.

Belum sampai beberapa tombak ia berlalu, rombongan batu yang kedua sudah turun kebawah dengan hebatnya. Untung Sani telah berhenti dan putar badan mengirim sebuah pukuIan, batu-batu cadas itupun berhasil dibendung oleh serangannya dan sama-sama terpental kearah jurang.

Menanti sianak muda itu berhasil tiba disisi tubuh Sani rasa kagetnya baru berhasil dilenyapkan beberapa saat ia membungkam, kemudian sambil menjulurkan lidahnya ia menghela napas panjang. Sungguh lihay ! sungguh lihay ! bagaimana mereka pasang alat jebakan semacam ini "

"Sekarang kongcu tidak akan mengatakan jebakan mereka sebagai suatu permainan anak kecil bukan ?" jengek Sani sambil tersenyum. Merah padam selembar wajah sianak muda itu.

"Cici, apa gunanya kau sindir diriku ? aku tidak menyangka kalau alat jebakan tersebut bisa mereka pasang diatas. "

"Aaaai...! aku sendiripun tidak tahu, dua puluh tahun berselang Kepala Suku Tiako pernah mengundang ayahku untuk berkunjung ketempat ini, ia beritahu kami bahwa jalan ini disebut jalan burung terbang, artinya jalan ini baru bisa dilalui apabila seseorang memiliki gerakan tubuh yang gesit dan ringan seperti burung terbang, maka sejak semula aku sudah bergerak maju dengan gerakan yang paling cepat, aku berusaha untuk meringankan tubuhku semampu kekuatanku...

Kongcu, bagaimana kau sampai menyentuh alat jebakan mereka ?"

Liem Kian Hoo termenung sejenak, kemudian baru berkata: "Karena harus berbicara, maka tekanan langkahmu agak

berat, seolah-olah aku merasa menginjak tempat kosong ".

"Nah, itulah dia ! diatas jalanan yang hendak kita lewati ini pasti mereka sudah membuat banyak sekali liang-liang kecil, setiap liang kecil itu dihubungkan dengan tumpukan batu yang ada diatas bukit akan tergerak dan segera bergelindingan kebawah.". "Lalu bagaimana cara mereka melampaui tempat ini ? aku tidak percaya kalau mereka dapat bergerak lebih ringan dan lebih gesit dari burung yang terbang diangkasa.".

"Kongcu, lucu benar pertanyaanmu ini" Sani tertawa cekikikan "jalanan ini bukan suatu jalanan yang bisa ditempuh oleh sembarangan orang, sekalipun hendak bersembayang kedalam kuil suci mereka, orang itupun harus mendapat petunjuk lebih dahulu dari orang yang paham dengan jalan ini, sebelum dilewati lubang lubang kecil tersebut mereka tutupi dengan papan kayu, seperti halnya ketika aku lewat ditempat ini tempo dulu, sepanjang perjalanan dilapisi papan kayu, hal ini me-nunjukan betapa ketat dan telitinya mereka bekerja"

"Aaaaaai ! sekarang aku baru tahu sampai ditaraf manakah kemampuan yang kumiliki.".

"Setelah mengalami satu peristiwa maka kecerdikan seseorang akan bertambah, asal dikemu-dian hari Kongcu bertindak lebih hati-hati, aku rasa itu sudah cukup.".

Habis berkata gadis Biauw inipun bagaikan seekor burung meluncur kembali kedepan, kali ini Liem Kietn Hoo tak berani berayal lagi, dengan kencang ia membuntuti terus dari belakang.

Beruntung sepanjang perjalanan mereka tidak jumpai mara bahaya lagi, sedang jalan gunungpun makin lama semakin lebar sehingga akhirnya mereka tiba didepan sebuah hutan dan berhenti.

Sani termenung beberapa saat lamanya sambil mengawasi keadaan disekeliling tempat ini, menyaksikan sang gadis berhentbi Kian Hoo segedra menghampiri aseraya bertanyab:

"Cici, mengapa berhenti dan tindak lanjutkan kembali berjalan ?" "Hutan yang ada dihadapi kita ini sungguh aneh sekali, sewaktu tempo dulu aku datang kemari bentuknya sama sekali berbeda." kata Sani dengan alis berkerut.

"Cici berkunjung kemari ketika dua puluh lahun berselang seandainya waktu itu ada bibit pohon yang baru tumbuh. maka setelah lewat dua puluh tahun pohon itupun sudah tumbuh lebat, tentu saja keadaannya jauh berbeda dengan keadaan dahulu".

"Tidak benar ! dua puluh tahun berselang, ditempat ini sama sekali tak ada pohon, bahkan pohon-pohon yang berada dihadapan kita saat ini berbentuk aneh sekali, belum pernah aku jumpai pohon macam ini dalam wilayah Biauw !"

Liem Kian Hoo ikut mengawasi hutan itu beberapa saat, lalu dengan nada tercengang iapun berseru:

"Tepat sekali ! ponon ini adalah Pohon Pak yang, kebanyakan tumbuh disekitar daerah Kang lam, bagaimana mungkin pohon semacam ini bisa tumbuh begitu lebat disini ? pasti ada orang sengaja menanam pohon tersebut ditempat ini, tapi apa maksudnya pohon Yang-Liuw ini ditanam ditengah pegunungan yang terpencil dan sunyi ?"

Sani tak habis mengerti, ia tak dapat pecahkan teka teki ini maka cuma menggeleng belaka, sedangkan Liem Kian Hoo menyelidiki lebih jauh mendadak dengan nada gembira teriaknya.

"Aaaah, sudah kutemukan, pohon pohon yang-liuw ini ditanam sesuai dengan letak barisan Ngo heng yang ampuh !"

"sampai seberapa jauh Kongcu memahami soal barisan tersebut ?" Tanya Sani sambil menyapu sekejap kearahnya.

"Terlalu dalam sih tidak, cuma guruku Liuw Boe Hwie mempunyai kepandaian terhadap barisan-barisan itu maka sedikit banyak aku mendapat didikan serta keterangannya, ditinjau dari letak posisi pohon Liuw ini aku rasa barisan ini adalah Ceng-Huan-Ngo-Heng~Tin, asalkan kita bergerak mengikuti perubahan dan temukan pintu hidup, dengan sendirinya hutan ini dapat kita lalui dengan gampang !".

Sembari berkata ia berputar beberapa kali didepan hutan itu seraya berguman seorang diri:

"Kiri tiga kanan empat, tengahb lima samping ddua, menjumpai daelapan mundur sbatu aaah benar, disinilah letak pintu hidup."

Sambil berkata ia tuding sebuah luang kosong diantara dua batang pohon, kemudian dengan penuh perasaan bangga ia tersenyum angkuh kearah Sani.

Menyaksikan tingkah laku sianak muda itu air muka Sani berubah amat serius, lama sekali ia membungkam kemudian baru berkata:

"Kongcu, lebih baik berhati-hatilah dalam setiap tindakan...".

"Haaaaa... haaaa... haaaaa... pasti benar dan tak bakal salah lagi ! kali ini giliranku untuk bertindak sebagai petujuk jalan bagi cici.".

Sani tidak langsung menyahut ia berpikir sebentar setelah itu baru katanya:

"Terhadap soal barisan aku sama sekali tidak mengerti. tentu saja Kongcu harus bertindak sebagai petunjuk jalanku !"

Liem Kian Hoo benar benar amat bangga, sementara ia siap melangkah masuk kedalam hutan tiba-tiba Sani melepaskan ikat pinggangnya dan berikan ujung sebelah kepada sianak muda itu, katanya:

"Meskipun aku tidak paham tentang barisan, namun aku tahu bahwa dalam barisan tersebut terdapat banyak perubahan diluar dugaan, dan ampuh sekali, maka aku berharap kongcu suka mencekal ujung ikat pinggang ini agar kita berdua jangan sampai saling berpisah !"

Terhadap ketelitiannya Lum Kian Hoo merasa amat kagum, ia segera menerima ujung ikat pinggang itu dan sambil tersenyum melangkah masuk kedalam hutan.

Sani pun ikut masuk kedalam, diantara kedua orang itu terpaut jarak sejauh lima enam depa, gerakan langkah mereka lambat sekali, Barisan yang ditanam dalam hutan tersebut persis seperti apa yang ia katakan, sepanjang perjalanan mereka dapat bergerak dengan lancar tanpa menjumpai halangan, ketika mendekati lohor dari antara pepohonan mereka dapat saksikan sebuah gunung menjulang didepan mata, jelas perjalanan sudah hampir mencapai akhir Liem Kian Hoo jadi amat bangga, sambil tertawa ia berpaling dan serunya keras-keras:

"Cici, coba lihat kita sudah hampir melewati...".

Belum habis ia bicara air mukanya sudah berubah hebat, kiranya diujung ikat pinggang tersebut tidak nampak Sani yang berwajah cantik lagi tapi sebagai gantinya di sana berdiri seorang makhluk aneh yarng mengerikan btentuknya. Makhlquk tersebut secrara dipaksakan boleh disebut seorang manusia bahkan seorang wanita.

Namun membicarakan soal raut wajahnya boleh dikata tiada berbeda dengan setan atau siluman apapun, rambutnya panjang dan awut-awutan terurai menutupi bahunya yang telanjang, dari wajah hingga ketubuhnya memancar selapis cahaya hitam, matanya sipit, lubang hidungnya menghadap keatas, dan mulutnya amat besar sehingga kelihatan jelek dan buruk sekali wajahnya.

Yang paling memuakan adalah sepasang buah dadanya yang besar dan tergantung kebawah bagaikan pepaya, sungguh menjijikan sekali, pinggangnya tertutup oleh secarik gaun pendek, sepasang pahanya yang kasar, besar lagi hitam tersungging didepan mata, rambut kasar berwarna hitam hampir-hampir menutupi seluruh perut dan pahanya.

Perawakan tubuh Kian Hoo boleh dikata tidak terlalu pendek, namun kalau dibandingkan dengan perempuan buruk itu ia masih belum apa apanya.

Ketika mendengar seruan sianak muda itu, ia segera menyeringai tertawa kegelian, dengan suara yang serak bagaikan tong bobrok ujarnya:

"Haaaa.... haaaa.... haaaa... bocah muda ! manis benar mulutmu, kok panggil aku sebagai cici ? Aduh mungkin

usiaku jauh lebih kecil dari umurmu.".

Melihat tampangnya saja Liem Kian Hoo sudah muak apalagi sewaktu ia berbicara dari mulutnya menyiarkan bau jengkol yang benar-benar amis dan memualkan, hampir- hampir saja pemuda itu jatuh kelenger.

Setengah harian lamanya ia dibikin "Mabok" oleh bau "jengkol" nya yang istimewa itu, akhirnya sianak muda itu berteriak:

"Kau. siapa kau ? dimana enciku ?"

"Hiiiii... hiiiiii... hiiiiii... bukankan aku adalah encimu ? Hiiii...

hiiii... hiiiii..." Genit benar gadis buruk ini, sambil tertawa cekikikan ia berlagak macam gadis pemalu.

"Omong kosong !" Bentak Kian Hoo naik pitam, "Yang kumaksudkan adalah orang lain ".

Gadis buruk itu goyangkan badannya sehingga sepasang tetek yang tergantung kebawah bagaikan buah pepaya itu ikut bergondal gandul tiada hentinya, ngeri benar keadaannya membuat perut jadi mual dan kepingin muntah.

"Hiilii... hiiiii... hiiiii... orang lain ?" serunya sambil celingukan kesana kemari "Kok tidak ada orang ? sudah lama ku-ikuti dirimu, selama ini pula kau seorang yang berputar kayun dalam hutan ini !".

"Omong kosong !" kembali Kian Hoo membentak gusar. "Terang-terangan enciku mengikuti aku dibelakang, bahkan ia cekal ujung ikat pinggang tersebut, kau sudah apakah dirinya

?".

"Eeeehmmm...! agaknya ada seseorang pernah terjebak dalam hutan ini, apakah dia adalah encimu ?"

"Tidak salah, sekarang dia berada dimana ?".

"Tiga hari berselang ia sudah ditangkap oleh simonyet tua

!".

"Kentut makmu !" maki Kian Hoo, " Belum lama berselang

enciku sama-sama aku masuk kedalam hutan ini".

"Waaaah ! kalau begitu aku sih tidak tahu, aku cuma lihat kau berputar dalam hutan seorang diri bahkan jalan yang kau lewati adalah jalan kematian semua, sebenarnya aku tidak mau ikut campur, namun setelah kulihat bahwa wajahmu ganteng maka aku tidak tega biarkan kau mati dalam hutan, oleh sebab itu buru-buru aku membuntuti dari belakang !".

Menyaksikan gadis buruk itu berbicara terus terang dan blak-blakan, tidak mirip seorang penipu. Liem Kian Hoo jadi keheranan.

"Kemana perginya enci Sani ? " serunya. "Bagaimanapun tak mungkin ia lenyap begitu saja ! sekalipun ia mengalami bencana, tidak seharusnya aku buta dan tuli sama sekali tidak merasakan kejadian itu. Eeeei ! sejak kapan kau pegang ujung ikat pinggang tersebut ?".

"Kurang lebih satu jam berselang ! " jawab Gadis buruk itu setelah berpikir sejenak.

"Kutemui kau berputar putar dalam hutan seorang diri sambil menyeret ikat pinggang tersebut.". "Omong kosong ! sejak aku masuk kedalam hutan sampai sekarang belum sampai melewati satu jam " gembor Kian Hoo dengan amat gusar.

Gadis buruk naik pitam, sambil mencibirkan bibirnya yang tebal lagi hitam serunya:

"Kapan aku pernah membohongi dirimu ? aku sudah berdiam selama belasan tahun dalam hutan ini, setiap mengitari tiga ratus batang pohon berarti seperempat jam, aku sudah ikuti dirimu mengitari seribu batang pohon, kalau dihitung bukan berarti sudah lewati satu jam ?".

Liem Kian Hoo tertegun, ia merasa sepanjang perjalanan agaknya tidak sampai menjumpai begitu banyak pohon, tapi ditinjau dari ucapan gadis buruk itu agaknya ia tidak sedang berbohong, untuk sesaat ia jadi bingung dan tidak habis mengerti. Tiba tiba gadis buruk itu tertawa.

"Aaaah, sekarang aku tahu sudah, kau melewati Hwie-Sian- Bun maka tidak tahu berapa lama sudah kau lewati, seandainya jejakmu tidak berhasil kutemui mungkin sepanjang hidup kau bakal berputar terus didalam hutan ini !".

"Omong kosong. terang terangan aku berja lan masuk lewat pintu hidup, sebentar lagi akan kutembusi hutan ini !". Sekali lagi sigadis buruk itu tersenyum.

"Kau hendak keluar lewat mana ?" tanyanya. Liem Kian Hoo angkat kepala dan memandang kearah mana dijumpai gunung tadi, namun dengan cepat ia berseru kaget, kiranya dalam wak tu singkat itulah pemandangan dihadapannya sudah berubah, gunung yang dijumpainya secara lapat-lapat tadi sekarang sudah berubah jadi bayangan pohon yang tak terhingga banyaknya, gadis buruk itu segera tertawa cekikikan.

"Saat ini kau berada diperbatasan antara jalan Hwie-sian dengan jalan sesat, tentu kau telah menjumpai pemandangan yang menyesatkan bukan? apabila tidak cepat berhenti ditempat ini, sebentar kemudian kau akan berada dalam jalan mati..".

Liem Kian Hoo tersentak kaget, dengan hati terperanjat serunya: "barisan apakah yang dipasang disini ?".

"Aku sendiripun tidak tahu barisan apakah ini, barisan ini di susun oleh ayahku serta si monyet tua !".

"Siapakah ayahmu ? dan siapa menyet tua itu?"

"Ayahku sudah mati sedang monyet tua seperti kalian, diapun seorang pria tetapi berhubung raut wajahnya mirip monyet dan iapun she-Kauw maka aku serta ayah panggil dia sebagai monyet tua. sedang aku sendiri bernama Tong-Kauw, si-monyet tua panggil aku dengan sebutan si Bligo".

Mendengar kata "Bligo" Kian Hoo tak tahan ingin tertawa, sebab badan gadis buruk ini memang persis seperti buah Bligo.

Melihat sianak muda itu tertawa, sigadis buruk itu jadi bangga, ujarnya:

"Eeeei bocah muda. ayoh tertawalah sekali lagi. sungguh manis kalau kau tertawa, senyuman simonyet tua tidak seindah dan semanis dirimu".

Liem Kian Hoo tahu gadis buruk ini bukan saja berwajah jelek bahkan tololnya luar biasa, ia jadi kheki.

"Sudah... sudah... jangan banyak bacot yang tak berguna, aku hendak pergi mencari enciku ! " teriaknya.

"Percuma... ! kau tidak bakal temukan dirinya ! ".

Mendengar perkataan itu suatu ingatan berkelebat dalam benak sianak muda itu, buru buru ia tertawa dan berkata: "Tong-Kauw, hapalkah kau dengan keadaan hutan ini ?" "Tentu saja hapal ! sejak kecil aku dibesarkan dalam hutan ini, setiap batang pohon yang terletak disini aku berputar satu kali ? aku hendak temukan kembali enciku "

Gadis buruk itu tertegun, kemudian serunya:

"Bukankah tadi kau panggil aku sebagai enci ? setelah aku jadi encimu, apa gunanya kau cari orang lain lagi ?".

"Tadi aku tidak tahu kalau kau...". "Tapi sekarang kau kan sudah tahu !".

Menyaksikan wajahnya yang buruk dengan sebaris gigi yang runcing, Liem Kian Hoo merasa seram, hatinya bergidik.

"Kau anggap sebutan cici boleh digunakan buat setiap orang ?" Kalau kau tak mau bawa jalan, aku akan pergi sendiri, Hmmm ! cuma andalkan sedikit perubahan macam ini, belum tentu benar-benar bisa mengurung diriku...".

Selesai bicara ia siap meninggalkan tempat itu. Dengan cepat gadis buruk itu menghadang dihadapannya sambil berteriak:

"Tidak boleh, kau tidak paham dengan perubahan yang terdapat dalam barisan ini, kalau menerjang masuk kedalam seenaknya maka hanya satu jalan kematian saja bagimu !".

"Enyah dari sini ! sekalipun mati kaupun tak usah turut campur !".

Namun gadis buruk itu tetap menghadang dihadapannya, Liem Kian Hoo habis sabarnya ia segera ayun kepalannya mendorong bahunya, Siapa sangka gadis buruk itu memiliki tenaga yang luar biasa sekali, bahkan dari balik tubuhnya secara lapat-lapat terdapat segulung tenaga pantulan yang hebat.

Baru saja telapak tangan Kian Hoo menempel diatas bahunya, ia sudah terpental balik oleh daya pental yang memancar keluar dari tubuh gadis buruk itu, badannya mundur lima enam langkah kebelakang dengan sempoyongan, akhirnya ia menumbuk diatas sebuah pohon tadi patah jadi dua bagian.

Seketika itu juga suasana disekelingnya berubah jadi gelap gulita, angin guntur menderu deru... dari dalam hutan muncul selapis kabut yang tebal mulai menutupi seluruh pemandangan

xx xOx x x

Liem Kian Hoo seketika merasakan tubuhnya bagaikan terjerumus dalam kegelapan yang tak terhingga, begitu gelap suasana disekitarnya membuat lima jari sendiripun tak dapat dibedakan, lebih-lebih jangan harap bisa melihat keadaan diluar, tapi ia dapat bedakan dan rasakan segulung daya tekanan dibalik deruan angin puyuh serta sambaran guntur.

Daya tekanan yang tak berwujud itu makin lama makin besar dan makin rapat sehingga membuat ia terengah-engah. Bukan saja daya tekanan itu menghalangi pernapasannya bahkan menggencet dirinya ditengah, seolah-olah tubuhnya hendak di-remuk redamkan jadi bubuk.

Ia tahu apa yang telah terjadi, sebab Liuw Boe Hwie gurunya pernah menceriterakan keampuhan dari barisan tersebut, walaupun cuma beberapa batang pohon serta batu yang diatur sedemikian rupa, namun cukup untuk menghancurkan setiap orang yang memasukinya.

Tadi, secara gegabah ia menyerang gadis buruk itu, siapa nyana daya pental yang terpancar keluar dari badannya begitu mengejutkan, bukan saja ia sekarang terjerumus dalam keadaan sulit...

Ia sadar gelisahpun percuma apalagi dalam keadaan seperti ini, maka ia mulai pusatkan perhatiannya, mengatur pernapasan dan berjuang melawan tenaga tekanan yang tak berwujud tersebut. Perlahan.... perlahan.... lama kelamaan tenaga tekanan tak berwujud itu makin berkurang namun empat penjuru masih gelap gulita, ia tarik napas panjang panjang, seluruh kekesalan serta kesesakan dalam dadanya dihembuskan keluar meski demikian badannya tak berani berkutik barang sedikitpun jua.

Sebab ia tahu asal badannya sedikit bergerak maka ia bakal terjerumus dalam barisan itu semakin dalam, entah mara bahaya apa lagi yang bakal dijumpai.

"Sungguh aneh ! terang terangan barisan ini diatur dengan posisi Ceng-Huan-Ngo-Heng-Tin, sedang akupun masuk lewat pintu hidup, tapi mengapa bisa terjadi begini ? apakah cara yang diajarkan suhu kepadaku salah besar ?".

Baru saja ingatan tersebut berkelebat lewat, tenaga tekanan diluar tubuhnya semakin hebat, buru-buru ia buang seluruh pikiran yang tak berguna dan berdiri dengan hati tenang, pikirannya sama sekali tak berani bercabang memikirkan persoalan lain lagi.

Entah lewat berapa saat lamanya, ia rasakan ada sebuah telapak tangan yang kasar sedang merasa amat tersiksa, namun ia tak berani berkutik bahkan ingatan untuk menyingkirkan telapak itu pun tak berani.

Diikuti terdengar suara yang kbasar dan serak dbagaikan tong Baobrok berkumandbang datang:

"Eeeeeei ! bocah muda, kau betul-betul hebat, ditengah gencetan angin puyuh serta guntur yang menyerang dari empat penjuru, kau belum mati juga !".

Jelas suara itu berasal dari gadis buruk itu, begitu ngeri suaranya sampai perut kontan jadi mual dan ingin muntah, tapi ia tidak berani berpikir yang bukan-bukan.

Beberapa saat lamanya gadis buruk itu meraba tubuhnya kemudian baru menarik bajunya kearah depan, Tanpa sadar Liem Kian Hoo ikut terseret keluar dari dalam barisan mengikuti kekuatan daya tarik itu, sepertanak nasi lamanya ia baru merasakan pandangan matanya jadi terang, bahkan udarapun jadi lebih segar,

Saat itulah ia berani buka mata untuk memperhatikan keadaan sekelingnya, tampak bintang bertaburan diangkasa, bayangan pohon menutupi seluruh pemandangan dan ia sudah berada di luar hutan, Tampak Tong-Kauw sambil pantang bibirnya yang tebal lebar-lebar tertawa cekikikan tiada hentinya.

"Saudara cilik, kau betul-betul luar biasa" pujinya. "Dua jam terperosok ditengah barisan angin dan guntur, ternyata kau tetap sehat walafiat tanpa menderita luka barang sedikitpun juga." senyuman itu sangat jujur dan polos membuat Liem Kian Hoo meski mendongkol namun tak sanggup mengutarakan kemangkelannya.

"Terima kasih kau telah menolong aku lolos dari mara bahaya." katanya hambar, Tong Kauw mendongak tertawa terbahak-bahak.

"Haaaa... haaaaa... haaaa... kau tak usah berterima kasih kepadaku, tadi aku benar benar tersiksa rasanya, aku tidak tahu kalau tenagamu begitu besar, kalau tidak sewaktu kau hantam diriku aku tidak akan berani melawan dengan gunakan ilmu sin-kang pantulan atau Huan Kie-Sin-kang, ilmu tersebut diajarkan ayahku untuk melindungi keselamatanku makin besar tenaga yang menyerang diriku makin besar pula tenaga pantulan yang memancar keluar dari tubuhku, kalau kau menghantam tidak terlalu keras, mungkin tubuhmu tidak akan terlempar kedalam barisan Hong-Loei-Tin bagaikan layang- layang putus benang, Saudara cilik, apakah kau terluka ?".

Setelah dihantam gadis buruk itu malah menguatirkan keselamatannya, hal ini membuat Kian Hoo jadi jengah sampai pipinyab berubah merah dpadam, sahutnyaa gelagapan: "Akbu baik sekali, sama sekali tidak terluka barang sedikitpun."

"Haaaa.... haaaa.... haaaa.... kalau begitu bagus sekali, kalau tidak aku bisa sedih sepanjang hidup, seandainya kau tidak beruntung dan mati, maka akulah yang sudah mencelakai dirimu, belum pernah kujumpai lelaki seganteng dirimu, aku benar-benar serasa tidak tega membiarkan kau mati!"

"Tong Kauw, cukup sudah ! jangan ucapkan kata-kata yang tidak genah, kau harus bantu aku untuk temukan kembali enciku itu !".

"Hmmm ! kenapa sih kau selalu memikirkan encimu itu ?" Seru Tong Kauw cemberut, wajahnya berubah membesi "Apakah aku tidak boleh jadi encimu ? ".

Liem Kian Hoo naik pitam, kepingin sekali ia gablok mulut gadis buruk itu. tapi teringat pelajaran yang barusan diterima dengan paksa ia tekan hawa amarah tersebut sianak muda ini segera mendengus dingin sebagai jawaban.

Menunggu setengah harian lamanya belum juga mendengar Liem Kian Hoo menjawab, Tong Kauw jadi amat kecewa, keluhnya sambil menghela napas:

"Saudara cilik, aku tahu kau tak sudi karena wajahku terlalu buruk!". Nada ucapannya penuh mengandung rasa kesal, murung dan sedih.

Liem Kian Hoo jadi tega, dengan suara rendah bisiknya: "Tong Kauw, aku bukan bermaksud demikian...".

Tak usah bicara lagi " Tong Kauw meng geleng dengan sedih. "Aku sendiripun paham, jangan dikata kau sampai ayahku sendiripun mengatakan aku jelek sekali seperti wewe kantong, ia tidak suka kepadaku, walaupun wariskan ilmu silat kepadaku namun jarang sekali bergaul dengan diriku, ia selalu suruh aku jaga hutan ini seorang diri, maka ketika ia mati aku sama sekali tidak sedih, hanya Saudara cilik, keadaanmu berbeda, sejak pertama kali bertemu dengan dirimu, aku sudah merasa senang. bahkan sewaktu kau menggaplok diriku tadi akupun tidak marah, kalau kau benar-benar benci dengan diriku, aku hiduppun tak berarti... aku jelek, aku buruk dan sejak dilahirkan aku selalu begini sebab memang aku ditakdirkan demikian sering kali aku berharap wajahku bisa berubah rada menarik.".

"Tong Kauw, janrganlah berpikirt demikian " hibqur sianak muda ritu dengan suara halus, ia benar-benar dibuat terharu, "seseorang boleh punya beberapa orang enci, asal kau suka bantu aku untuk menolong enciku itu, bagaimana kalau akupun panggil kau sebagai enci ?".

"Sungguh ? kau tidak akan menipu diriku?" teriak Tong Kauw kegirangan.

"Tentu saja sungguh, buat apa aku membohongi dirimu !".

Tong Kau tertawa, tapi dengan cepat ia jadi murung kembali. katanya:

"Tapi dalam hutan ini benar-benar tak ada encimu, aku selalu berjaga disini dan belum pernah menemukan tanda tanda atau jejak orang lain.".

"Omong kosong ! terang-terangan aku datang kemari bersama-sama...".

"Aaaaai! kalau kau berkeras tidak mau percaya, akupun tak bisa berbuat Iain. dalam hutan memang ada seseorang terkurung di-situ, tapi dia adalah seorang pria.".

Dari sikap serta lagak gadis buruk itu, Kian Hoo merasa yakin bahwa ia bukan sedang berbohong. dalam keadaan apa boleh buat terpaksa ia berkata:

"Kalau begitu bawalah aku menuju ketem-pat dimana pria itu terkurung !". Tong Kauw tidak segera berangkat, ia bertanya kembali: "seandainya aku tak berhasil temukan encimu, apakah kau tak suka memanggil diriku sebagai enci ?"

Liem Kian Hoo tidak ingin banyak cingcong dengan dirinya, segera ia berseru:

"Asal kau suka membantu dinku, perduli berhasil ditemukan atau tidak aku pasti akan menganggap dirimu sebagai enciku ".

Tong Kauw jadi kegirangan, ia tertawa cengar-cengir. "Saudara cilik, kau baik sekali aku pasti akan membawa kau

untuk menjelajahi seluruh hutan ini".

Seraya berkata dengan hati girang ia buka jalan dan masuk kembali kedalam hutan Liauw itu, berputar kekiri berbelok kekanan sambil berjalan sianak muda itu mengawasi terus perubahan yang terkandung didalamnya, beberapa saat kemudian ia berteriak keras:

"Aaaaah kiranya hutan ini kecuali diatur dengan posisi barisan Ceng-Huan-Ngo-Heng-Tin, masih terselip pula perubahan dari barisan Pat-kwa, tidak aneh kalau aku tersesat".

" Saudara cilik, kau amat cerdik. hanya memandang sekilas saja barisan ini berhasil kau tebak dengan tepat, tapi perubahan dalam barisan ini banyak sekali, diantaranya terdapat Ceng-Huan -Ngo-Heng, Khie-Bun-Pat-Kwa, Kioe- Kong, Hoo-Toh, Yu-Uong-Hwie-Yen, Liat-Siu serta Poo-Loo- Ban Hiang, ayahku serta simonyet tua telah membuang banyak tenaga dan pikiran baru berhasil membangun hutan ini. sedang aku sendiripun cuma tahu bagaimana lewati tempat ini, apakah artinya dan bagaimana perubahannya aku sama sekali tidak tahu. sekarang ayahku sudah mati, aku pikir cuma simonyet tua seorang yang benar-benar mengerti akan makna serta rahasia barisan ini..."

"Siapa sih monyet tua itu ?". "Monyet tua yaa monyet tua, aku cuma tahu ia she-Kauw dan seperti ayahku, diapun seorang kakek tua, cuma kepandaiannya sangat lihay, lebih baik kau jangan cari gara- gara dengan dirinya.".

Liem Kian Hoo merasa banyak kagum gadis buruk ini punya pengetahuan yang luas, tapi ada pula beberapa bagian yang tololnya luar biasa, sekalipun ditanya lebih jauh belum tentu ia dapatkan yang dicari, maka ia segera alihkan pokok pembicaraan kesoal lain. katanya:

"Teringat tadi kau pernah berkata bahwa tiga hari berselang simonyet tua itu berhasil menangkap seseorang dalam hutan ini, benarkah demikian ?".

Tidak salah, tiga hari berselang ada sepasang laki perempuan memasuki hutan ini, agaknya yang pria sedang dikejar oleh wanita itu. akhir simonyet tua membawa pergi wanita itu dan tinggalkan sang pria disini, karena begitu buka suara tadi kau lantas tanyakan encimu, maka aku mengira perempuan itu adalah encimu !"b.

"Macam apakahd perempuan itu a?" buru-buru Kiban Hoo bertanya.

Tong Kauw berpikir sejenak kemudian baru menjawab: "Usianya lebih tua darimu, wajahnya cantik jelita, bajunya

warna putih dan kepandaian silatnya sangat lihay.".

Liem Kian Hoo jadi sangat terperanjat sebab menurut apa yang dituturkan Tong-Kauw barusan berarti perempuan itu ada kemungkinan adalah Toan Kiem Hoa, ia jadi amat getisah.

"Kita tak usah mencari ciciku itu, mari tengok dahulu pria yang kau ceritakan tadi" serunya.

Tong Kauw tidak habis mengerti apa sebabnya secara tiba tiba sianak muna itu berubah niat, tapi ia sangat penurut sekali, mendengar seruan itu iapun putar arah. Tidak selang beberapa saat kemudian tiba tiba ia tuding kcsebuah pohon dan berkata:

"Itu dia, pria tersebut berada disana, mungkin sudah mati

!".

Liem Kian Hoo segera lari kesitu, air mukanya berubah

hebat sebab ia segera kenali orang itu bukan lain adalah Luga, wajahnya hitam pekat darah kental mengalir keluar dari tujuh lubang inderanya, jelas ia mati kerena keracunan, jari tangannya masih tertancap diatas dahan pohon dan diatas dahan itu terukir beberapa patah kata yang berbunyi:

"Karena mendengar hasutan manusia laknat aku telah mengecewakan suhu, meski mati aku tidak menyesal. Suhu menemui kesulitan, harap cici segera maju kedepan.".

Jari tangannya terakhir masih hendak mengukir tulisan, mungkin saat ajalnya telah tiba sebelum ia sempat menyelesaikan pesannya, tulisan akhir cuma diukir separuh saja.

Membaca tulisan itu air muka Liem Kian Hoo berubah hebat, ditinjau dari pesan terakhir yang ditinggalkan Luga jelas menunjukan bahwa bukan saja Toan Kiem Hoa sudah menjumpai mara bahaya, ditinjau tulisan " Cici " yang terukir pasti ia maksudkan diri Sani, atau dengan perkataan ini Sani tentu sudah datang kemari.

Disamping itu disisi mayat Luga masih tertinggal sebilah pisau belati, menyaksikan kesemuanya ini ia jadi tertegun dan berdiri termangu-mangu. Melihat keadaan sianak muda itu Tong Kauw jadi keheranan, segera tegurnya:

"Saudara cilik, kenapa kau ?".

"Tong Kauw ! dalam hutan ini kbecuali dirimu mdasih ada siapa alagi yang bisa bmasuk keluar dalam hutan ini tanpa halangan ?". "Tentu saja simonyet tua itu !". Hawa gusar segera memancar keseluruh tubuh Kian Hoo, teriaknya keras-keras:

"Kalau begitu segera bawa aku menuju kesana !". "Bukankah kau hendak mencari encimu ? hutan ini masih

ada separuh yang belum kita lewati ! " kata Tong Kauw tertegun.

"Tak usah dicari lagi ! enciku telah ditangkap oleh monyet tua !...". Tong Kauw jadi merandek dan kelihatan murung sekali.

"Saudara cilik " katanya. "Kalau kau ingin cari simonyet tua itu untuk bergebrak, lebih baik tak usah saja, sebab sekalipun aku membantu dirimu belum tentu bisa menangkap dirinya.".

"Aku tidak membutuhkan bantuanmu ! aku harus pergi kesana untuk menyumpai monyet keparat ltu, sebab bukan saja ia sudah menangkap enciku, bahkan sudah menangkap pula...".

Kata selanjutnya sulit diutarakan, sebab ia sendiripun tak tahu harus memanggil Toan Kiem Hoa dengan sebutan apa.

Tong Kauw tetap ragu ragu dan berdiri melongo. Liem Kian Hoo tak dapat menahan sabar lagi, dengan suara kasar teriaknya:

"Eeeei... kalau kau tak mau bawa aku kesitu, sekarang juga aku akan pergi mencari sendiri, kau takut kepadanya tapi aku tidak takut, setelah berhasil kutangkap dirinya, aka kubeset dan kukupas kulit monyetnya yang sudah keriputan itu.".

"Baik... pergi... pergi, kita segera berangkat, demi kau aku rela bentrok dengan monyet tua itu mempunyai kepadatannya yang lihay kaupun tak usah bentrokan dengan dirinya demi kau, sebab bagiku sekalipun harus korbankan jiwa pun harus kulawan dirinya, urusan ini tidak menyangkut dirimu". "Tidak bisa jadi, asal ia berani melukai dirimu, aku tidak akan mengampuni jiwanya." Kian Hoo tahu gadis buruk itu sudah bulatkan tekad, sekalipun dinasehati juga percuma, maka ia berkata:

"Baiklah ! tunggu saja setelah ia lukai diri-ku, kau baru ada jiwa dengan dirinya, sekarang cepat bawa aku kesitur !".

Dengan multut membungkam TqongKauw putar bradan dan berjalan kembali kedepan, setelah keluar dari hutan mereka berjalan masuk lewat sebuah jalan gunung.

Ketika itu fajar telah menyingsing, kabut yang tebal membuat hawa udara jadi amat dingin sekali membuat si anak muda itu bersin beberapa kali, menyaksikan tubuh Tong Kauw yang telanjang ia jadi tidak tega, segera tegurnya:

"Tong Kauw, apakah kau tidak kedinginan ? mengapa kau tidak berpakaian ?".

"Tidak dingin. sepanjang tahun empat musim aku selalu berada dalam keadaan seperti ini." jawab Tong Kauw sambil tertawa bangga. "sebenarnya ayahku suruh aku berpakaian, tapi setelah kupakai baju itu maka badanku terasa bagaikan tersiksa, maka segara kulepas pakaian itu dan sampai sekarang tetap telanjang.".

Liem Kian Hoo geleng kepala, dalam hati ia tak tahu bagaimanakah perasaannya pada saat ini, tapi ia tidak muak lagi seperti ketika berjumpa untuk pertama kalinya tadi, meskipun raut wajah gadis ini amat jelek dak buruk namun hatinya mulia, sikap baik terhadap dirinya selama inipun muncul dari dasar sanubari yang bersih, tidak terkandung pikiran sesat, mungkin gadis buruk ini masih belum mengerti akan hubungan cinta antara muda mudi, lebih-lebih mengenai napsu birahi dan hubungan sex.

Mendapat perhatian khusus dari sianak muda itu, Tong Kauw kegirangan setengah mati, sam bil berjalan naik keatas bukit ia tuding kedepan seraya berseru: "Monyet tua itu berdiam diatas sana, semula tempat itu merupakan kuil Suci dari suku Leher Panjang, tapi setelah simonyet tua datang kemari kuil suci itu segera didudukinya, ia larang orang orang suku Leher Panjang itu datang kesana untuk bersembahyang, karena perbuatannya ini maka orang- orang suku Leher Panjang sangat membenci dirinya, tapi jeri pula terhadap dirinya..."

Pada saat ini sianak muda tersebut sedang diliputi ketegangan, ia tidak ingin banyak bicara, mendengar simonyet tua itu berdiam diatas bukit. tubuhnya segera berkelebat terjang keatas, hal ini membuat Tong Kauwjadi gelisah dan buru buru berteriak:

"Saudara cilik, jangan terburu napsu, tunggu aku sebentar

!".

Liem Kian Hoo tidak ambil gubris, ia terus kan gerakkan

meluncur kedepan tidak selang beberapa jauh. mendadak dari hadapannya meluncur datang titik titik cahaya hijau.

Melihat datangnya ancaman, Liem Kian Huo miringkan badan sambil siap menyambut datangnya serangan itu,

Tong Kauw yang ada dibelakang buru buru berteriak keras: "Saudara cilik- jangan dipegang. benda itu adalah api setan.".

Berada ditengah udara ia kirim sebuah pukulan kedepan membuat dua titik cahaya hijau itu segera terbabat dan rontok diatas rumput disisi jalan, begitu terkena benda cahaya hijau itu menyebar keempat penjuru dan berkobarlah jilatan api yang amat dahsyat, bahkan disertai pula bau busuk yang sangat menusuk hidung.

Sekarang Liem Kian Hoo baru sadar bawa dua titik cahaya hijau yang mengancam kearahnya tadi adalah senjata rahasia yang tersebut dari belirang, api macam ini mengandung hawa racun yang luar biasa, asal menempel diatas benda segera terbakar. Untung Tong Kauw lepaskan serangan untuk merontokkan ancaman itu, kalau tidak niscaya telapaknya sudah habis terbakar. Kewaspadaannya berlipat ganda, segera bentaknya: "Bangsa tikus darimana berani melancarkan serangan bokongan ".

"Tak usah ditanya lagi, pasti hasil karya dari si-mayat hidup itu." sahut Tong Kauw cepat.

Hanya dia seorang yang suka main api, api setan yang dinamainya im-Leng-To-Kut - Ciam. Hmmm ! orang-orang suku Leher panjang justru pada takut dengan anak panahnya ini."

Sianak muda ini jadi dibikin kebingungan se tengah mati, mula-mula ada orang yang dinamakan simonyet tua sekarang muncul pula seseorang yang dinamakan Mayat hidup, siapakah nama sebenarnya mereka tak ada yang diketahui maka ia bertanya:

"Siapakah simayat hidup itu ?".

"Si-Mayat hidup yaa si - Mayatb hidup." aku cudma tahu ia melaaksanakan segalab pekerjaan mengikuti perintah dari simonyet tua, kalau kau ingin menanyakan pelbagai persoalan kepadanya, biar ku tangkap simayat hidup itu dan tanyalah sendiri kepadanya.".

Seraya berkata badannya menubruk kedepan teriaknya: "Eeeei mayat hidup, ayoh keluar saudara cilikku hendak

bertanya kepadamu !".

Dari balik batu yang besar kembali melucur keberapa titik cahaya hijau langsung menyerang tubuh Tong Kauw.

Namun terhadap datangnya ancaman itu sigadis buruk itu tidak ambil perduli, telapaknya yang besar segera diayun dan terus api itupun seketika buyar keempat penjuru.

"Eeee... mayat hidup, kalau kau sudah bosan hidup, teruskan permainan setanmu itu untuk mengganggu aku !" teriaknya sambil tertawa. Badannya segera menerjang kebalik batu, dan tidak lama kemudian ia sudah muncul sambil menarik seorang kakek tua.

Menjumpai sikakek itu Liem Kian Hoo melengak, kiranya simayat hidup yang dimaksudkan oleh Tong Kauw bukan lain adalah sikakek bangsa Han yang berdandan sebagai dukun ketika berada dalam dusun suku Leher Panjang tadi, ketika itu keadaannya mengenaskan sekali sebab jenggotnya yang panjang dibetot seenaknya oleh Tong Kauw.

"Eeeei. Tong Kauw, kau benar-benar bangsat, telur busuk

yang goblok ! . . . maki orang tua itu. " Ayoh cepat lepaskan aku !".

"Lepaskan dirimu ? Ooouw... tidak gampang ! tadi, apa sebabnya kau melepaskan api setan untuk membokong saudara cilikku tanpa mengeluarkan sedikit suarapun ?"

"Sejak kapan bangsat cilik ini jadi saudaramu ?" Teriak sikakek marah-marah. dengan amat gembira Tong Kauw tertawa terbahak-bahak.

"Soal ini tak usah kau campuri, pokoknya sekarang kau harus berdiri dengan tenang, apa yang ditanyakan saudara cilikku lebih baik jawablah sejelas-jelasnya, kalau tidak akan kubetot jenggotmu ini sampai gundul kelimis !".

Dari sepasang mata kakek tua itu memancar keluar cahaya buas, tapi terhadap Tong Kauw agaknya ia merasa sangat jeri,b setelah diancadm ia bungkam daalam seribu bahabsa, Liem Kian Hoo yang menyaksikan keadaan tersebut jadi tidak tega, kepada Tong Kauw ujarnya:

"Lepaskan dia, agar ia berdiri sendiri "

"Tidak bisa jadi, bajingan tua ini licik sekali, kalau kukendorkan cekalannya ia bakal main setan.".

Sianak muda itu berpikir sebentar, tiba tiba ia totok sebuah jalan darah diiga kakek tua itu, kemudian menabok pula punggungnya, Sikakek tua itu mendengus dengan berat, badannya perlahan-lahan terduduk keatas tanah, namun jenggotnya masih dicekal Tong Kauw maka badan nya jadi setengah tergantung keatas, kelihatan sekali ia kesakitan hebat.

"Tong Kauw " sianak muda itu berkata kembali, " sekarang kau tak usah cemas, aku telah melepaskan sendi-sendi tulangnya, sekalipun kepingin bergerakpun ia tak bakal bisa berkutik lagi."

Karena mendengar ucapan itu Tong Kauw pun lepas tangan, sedikitpun tidak salah sikakek tua itu segera duduk keatas tanah dan mendengus tiada hentinya.

Menyaksikan kejadian ini sigadis buruk ini jadi kegirangan serunya:

"Saudara cilik, bagus sekali caramu ini, ayah ku cuma mengajari diriku bagaimana cara memukul orang dan bagaimana cara menerima pukulan, tidak seperti kau, orangpun bisa dikuasahi, Eeeeei kapan-kapan kau harus ajarkan kepandaian ini kepadaku".

Liem Kian Hoo tidak banyak menggubris obroIan gadis buruk itu, dengan wajah adem hardiknya kepada sikakek tua itu:

"Mengingat usiamu sudah lanjut, sebenarnya tidak pantas aku bersikap kasar kepadamu, tapi meninjau dari caramu melepaskan api beracun untuk mencelakai diriku tanpa mengeluarkan sedikit suarapun, membuktikan kalau kau bukan manusia baik-baik. Sekarang aku hendak bertanya beberapa pertanyaan kepadamu lebih baik jawablah sejujurnya. dari pada mencari penyakit buat diri sendiri."

Kakek tua itu bungkam dalam seribu bahasa, dari sepasang matanya memancar keluar cahaya penuh dendam. Liem Kian Hoo berpikir sebentar lalu bertanya: "Beberapa hari berselang benarkah ada beberapa orang sambil membawa seorang gadis datang ketempat ini ?"r.

"Keparat cilitk she-Liem, kauq tak usah banyark bacot lagi." teriak kakek itu sambil melotot gusar.

"Lima hari berselang Loo Sian Khek bersama Ceng-Tiong- Su-Hauw serta Be Si Coen dari Tiong-Chiu telah datang kemari. mereka membawa seorang pria dan seorang gadis suku Biauw, suku Biauw yang pria baru berdiam dua hari telah melarikan diti turun gunung, ia terkurung dalam barisan dan mungkin sekarang sudah modar..".

"Soal itu aku tahu. yang kutanyakan adalah gadis itu". "Gadis suku Biauw itu sudah ditahan majikan diatas

gunung, bahkan tiga hari berselang suhu dari gadis biauw itupun ikut datang, ia terjebak dalam hutan dan kena ditangkap majikan. sekarang mereka dikurung diatas gunung semua."

"Bagaimana keadaan mereka sekarang ?" tanya sianak muda itu dengan air muka berubah hebat. Kakek tua itu tertawa dingin.

"Belum modar, tapi merekapun tidak akan hidup terlalu

!ama !".

"Sebenarnya bagaimana keadaan mereka ?"

"Mereka berani membangkang perintah ma jikan maka mereka dikurung dalam gua Hek-Hong Hiat, cepat atau lambat mereka pasti modar, kecuali kalau mereka suka mengabulkan permintaan majikan, mungkin masih ada jalan hidup.".

"Apa permintaan majikanmu terhadap mereka berdua ?". "Heee... heee... heee... majikan kami adalah seorang tokoh

sakti yang pandai dalam soal Boen (sastra) maupun Boe (silat), kepandaiannya tiada tandingan dikolong iangit...".

" Aku tidak menanyakan soal itu ". "Walaupun simonyet tua sudah lanjut usia, tapi dia paling doyan main perempuan " sela Tong Kauw dari samping.

"Diatas gunung ia pelihara banyak sekali gadis-gadis muda.".

"Benarkah ada kejadian seperti ini ?" bentak Kian Hoo sambil mencekik leher orang tua itu.

Karena dicekik, si orang tua itu tak bisa bernapas. matanya jadi melotot semakin gede apa lacur tangan serta kakinya tak bisa bergerak maka ia tak sanggup meronta.

Sianak muda itu takut cekikannya mencabut jiwa kakek tua itu, beberapa saat kemudian ia lepas tangan dan membanting tubuhnya keatas tanah. Napas kakek tua itu terengah-engah, tapi tidak lama ia berhasil menguasai diri. sambil mendengus ujarnya:

"Benar atau tidak itu urusan majikanku, apa gunanya kau menyiksa dan mengganggu diriku ? majikan kami memang sudah tertarik oleh gadis Biauw itu, justru karena hal inilah maka sang pria yang ikut datang jadi gusar melarikan diri. kemudian suhu dari bocah perempuan itu datang, majikan semakin tertarik tapi kedua orang gadis itu bersikeras menolak."

Hmmm ! terhadap mereka boleh dikata majikan cukup sungkan, perduli mereka memaki dan mencaci maki macam apapun ia tidak membinasakan mereka, mereka hanya dikurung dalam gua angin hitam belaka."

Setelah mengetahui Watinah serta Toan Kiem Hoa meski tertangkap namun belum ternoda, Kian Hoo pun berlega hati, dengan gemas ia angkat tubuh kakek tua itu dan sekali lagi dibanting keatas tanah keras-keras.

"Tidak lama berselang masih ada gadis tertangkap pula oleh majikan kalian, dimanakah gadis itu ?". "Omong kosong." Tukas sikakek sambil melotot "Gadis itu memang berparas cantik, tapi ia sendiri yang datang mencari majikanku, majikan kami sama sekali tidak menangkap dirinya." Ucapan ini membuat Kian Hoo melengak, wajahnya kelihatan sangsi.

"Apa? enciku bisa secara sukarela naik keatas gunung untuk menjumpai majikanmu ?".

"Apa yang kuketahui sudah kukatakan kepadamu, apakah tentang soal inipun aku hendak berbohong ?"

Liem Kian Hoo berdiri tertegun, bagaimana pun juga ia tidak percaya Sani dapat berbuat demikian, tapi sikap serta nada ucapan kakek tua ini membuat dia mau harus percaya.

"Mungkin encimu suka dengan monyet tua itu..." Timbrung Tong Kauw berlagak pinter.

"Ngaco belo ! dia bukan perempbuan macam itu !d".

Bentakan gusaar ini membuat bTong Kauw jadi mengkeret dan tak berani bicara lagi. Sementara itu pemuda tersebut berpikir sejenak kemudian tanyanya lagi kepada sang kekek:

"Siapakah nama majikanmu ? dia adalah seorang manusia macam apa ?...".

"Majikanku she-Kauw bernama Heng-Hu".

"Tok-Chiu-Suseng sisastrawan bertangan keji Kauw Heng Hu! kiranya bajingan tua itu bersembunyi disini !".

"Bajingan cilik, darimana kau bisa tahu gelar majikan kami...".

Kian Hoo tidak ambil gubris, ia berguman seorang diri: "Dua puluh tahun, Kau Heng Hu bisa peroleh kemajuan

sepesat ini, sungguh suatu kejadian yang tak terduga,

diantara tiga belas sahabat aku sudah bertemu lima orang, dan ditinjau dari lima orang yang kutemui sebelumnya mereka belum seberapa.".

Menyaksikan pemuda itu berguman seorang diri, Tong Kauw jadi gelisah serunya.

"Saudara cilik, sudah selesai belum kau bertanya ? agaknya kau kenal dengan tua tua itu ? benarkah kita mencari dirinya hendak diajak berkelahi ?".

Dengan wajah keren Kian Hoo menabok tubuh sikakek tua itu dibeberapa bagian agar gerak-geriknya bisa pulih kembali seperti sedia kala, setelah itu dengan suara keren ujarnya:

"Cepat enyah dari sini dan sampaikan kepada Kauw Heng Hu, sahabat karibnya si manusia berkerudung yang pernah dijumpai dalam hutan bambu hijau dua puluh tahun berkunjung datang !".

Si kakek tua itu lemaskan otot-otot pinggangnya kemudian dengan wajah curiga dan gusar segera berlalu dari sana.

Ketika Liem Kian Hoo serta Tong Kauw lambat-lambat berjalan diatas sebuah lapangan, sang surya sudah memancarkan sinarnya keseluruh jagad. Cahaya matahari menyoroti sebuah kuil yang berdiri angker diatas bukit, didepan kuil merupakan sebuah tanah lapangan, semula tempat ini merupakan kuil Suci orang-orang suku Leher ranjang untuk menghormati dewanya, tapi sekarang telah diduduki oleh tamu misterius.

Tong Kauw berjalan didepan dan Kian Hoo ada dibelakang, ketika tiba dilapangan luar kuil gadis buruk itu segera berteriak kepbada seorang leldaki setengah baaya yang beperawbakan kurus pendek:

"Eeeei... monyet tua, aku membawa saudara cilik datang kemari untuk ajak kau berkelahi !"

Lelaki setengah baya itu berdiri lima enam orang, mereka adalah Ceng-Tiong-Su-Hauw beserta Be Si Coen sang loo-toa dari Tiong-Chiu-Siang Kiat, ditambah sikakek tua tadi, sedangkan bayangan Sani serta Loo Sian Khek tidak nampak sama sekali.

Perlahan-Iahan Liem Kian Hoo bergeser kedepan sinar matanya memancarkan cahaya kegusaran membuat Ceng- Tiong-Su Hauw serta Be Si Coen dengan perasaan jeri mundur selangkah kebelakang, namun mereka tidak menunjukan reaksi apapun. Lama sekali lelaki setengah baya itu mengawasi Kian Hoo, setelah itu sambil tertawa dingin jengeknya:

"Manusia berkerudung yang muncul dua puluh tahun berselang apakah dirimu seorang keparat cilik ?".

"Tentu saja bukan, aku adalah wakilnya !"

"Haaaa... haaaa... haaaa... bagus, bagus sekali ! setelah berpisah dua puluh tahun, aku ingin sekali pergi mencari dirinya sungguh tak nyana ia sudah kirim seorang wakil datang kemari, Keparat cilik ! berapa banyak kepandaian yang telah diwariskan kepadamu ? kau bisa mewakili dirinya sampai dimana ?".

"Kauw Heng Hu, jangan kau anggap dirimu luar biasa, walaupun tidak seberapa kepandaian silatnya yang berhasil kuwarisi, tetapi aku sudah mendapat perintahnya untuk mengawasi dan menyelidiki tingkah laku kalian tiga belas sahabat selama dua puluh tahun ini, dengan perbuatanmu yang jahat, terkutuk dan biadab, sudah sepantasnya kalau manusia laknat macam kau harus segera dienyahkan dari muka bumi".

"Haaaa... haaaa... haaaa... meskipun kau telah mewarisi seluruh kepadaian silat yang dimilikipun aku tidak ambil perduli, selama dua puluh tahun setiap saat aku kepingin berduel dengan dirinya, sayang jejaknya tak berhasil kutemukan, sekalipun kau tidak datang aku siap muncul kembali didaratan Tionggoan, akan kukumpulkan seluruh rekanku dahulu dan membentuk kembali persekutuan tiga belas sahabat, tujuanku tidak lain untuk pancing agar ia munculkan diri, sungguh tak nyangka malaikat elmaut sudah kirim kau datang kemari, beginipun lebih bagus, aku tak rusah repot lagit, aku percaya dqengan umpan dirrimupun ia pasti akan munculkan diri !".

"Tok-Chiung-Suheng ! kau jangan mimpi disiang hari bolong." Teriak Kian Hoo amat gusar. "Banyak diantara tiga belas sahabat yang tersohor tempo dulu telah bertobat dan tidak melakukan kejahatan lagi, mereka tidak bakal sudi mengikuti kemauanmu !"

"Soa! inipun tidak terlalu penting." Kata Kauw Heng Hu sambil tertawa hambar, " Maksudku untuk mengumpulkan kembali Tiga Belas sahabat pun tidak lebih hanya sebagai kedok belaka, dengan kemampuan yang kumiliki sekarang tidak akan kupikirkan keuntungan bagi orang ke-dua, sekalipun tiga Belas Sahabat itu benar-benar bisa dikumpulkan paling banter aku cuma mendapat beberapa orang pembantu untuk melaksanakan maksudku belaka. Apalagi kejadian ini tidak mungkin, maka tak usah kita bicarakan lagi, "Si Leng Yan-Khek" Sun Tong Hay telah modar, perempuan jelek yang ia tinggalkan pun tak mungkin bisa menutupi kekosongan tersebut, maka lebih baik tak usah kita bicarakan lagi !".

"Monyet tua, kau berani maki aku ?" Tong Kauw berkaok- kaok marah.

"Hmmm ! memangnya aku maki dirimu, kau mau apa ? Nyawa nu tidak sampai kukirim keakhirat bersama-sama sisetan tua itu sudah cukup untung bagimu...".

"Tong Kauw " Liem Kian Hoo segera mencegah. "jangan ribut dahulu, tunggulah sampai duduknya perkara jadi terang

!"

Kena dicegah, Tong Kauw pun jadi tenang kembali dan mengundurkan diri ke belakang. "Hmmm ! sekarang sudah tak ada urusan yang dibicarakan lagi" Seru Kauw Heng Hu sambil tertawa dingin. "Mula-mula aku masih menduga jagoan macam apakah yang telah muncul di daratan Tionggoan sehingga dapat memaksa Ceng Tiong- Su-Hauw serta Tiong-Chiu Siang-Kian melarikan diri terbirit- birit macam anjing kena digebuk, kiranya keparat cilik macam dirimulah orangnya... hanya saja, mengingat kau datang mewakili simanusia berkerudung itu, aku tidak heran dengan kehadiranmu ini. Bocah keparat, ada beberapa pertanyaan apakah bisa kau terangkan lebih dulu ?"

"Apa yang ingin kau tanyakan ?" Kian Hoo tercengang. "Siapakah sebenarnya simanusia berkerudung itu ? dan

sekarang dia berada dimana ?".

"Maaf, apa yang kau tanyakan tak bisa kujawab semua, namun aku bisa kasih keterangan kepadamu, orang itu masih hidup dalam sehat walafiat dan ia tidak akan mencampuri urusan dunia persilatan lagi, semua tanggung jawabnya telah ia serahkan kepadaku ".

Kauw Heng Hu tertawa dingin.

"Tidak segampang itu bocah ! Kau masih belum sesuai untuk memikul tanggung jawab ini, kau tidak mau bicarapun tidak mengapa, cepat atau lambat aku bisa menemukan jejaknya, Kini aku ingin menanyakan persoalan kedua, apa hubungan Toan Kiem Hoa dengan orang itu ?"

"Sama sekali tak ada hubungan !".

"Hmmm ! kau jangan berbohong, ilmu silat nya memiliki gerakan yang sejenis dengan kepandaian orang itu... mungkin dialah si tetamu berkerudung itu !".

"Sama sekali bukan ".

" Haaaa... haaaa... haaaa... perduli benar atau tidak, yang Toan Kiem Hoa saat ini sudah terjatuh ketanganku, aku bisa suruh ia menjawab sendiri persoalan ini, sudahlah. eeeei bocah keparat, akupun tidak ingin banyak bertanya lagi, sekarang kau boleh utarakan maksud kedatanganmu!..."

"Aku minta kau serahkan tiga gadis serta manusia-manusia sampah masyarakat itu kepadaku !".

"Bocah keparat, kau bukan sedang mimpi ?" jengek Kauw Heng Hu sambil tertawa tergelak.

"Aku sudi menerima permintaanmu ini,Hm ...mmm ! seorang bocah bayi yang belum hilang bau tetek macam kaupun berani perintah-perintah aku ?".

"Kalau kau tidak menurut, terpaksa aku laksanakan perintah orang itu, dan tuntut keadilan atas perbuatanmu." hardik sianak muda itu gusar.

Kauw Heng Hu tetap berdiri sambil tertawa sinis, tubuhnya sama sekali tidak berkutik, dengan keras lawan keras ia terima datangnya serangan tersebut.

"Braaaak !" diiringi bentrokan dahsyat pundaknya bergetar keras, sedangkan Liem Kian Hoo sendiri dipaksa mundur sejauh dua tiga langkah ke-belakang, sepasang lengannya jadi linu dan sakit.

Menyaksikan peristiwa itu Tong Kauw jadi amat cemas, buru-buru teriaknya:

"Saudara cilik, berbicara soal berkelahi kau belum mampu, kau tak bakal menangkan dirinya !".

Seraya berteriak badannya menubruk kedepan, sepasang lengannya meluncur bagaikan panah sedikitpun tidak membawa desiran suara.

Terhadap datangnya ancaman ini Kauw Heng Hu tak berani berhayal, buru-buru ia mengengos kesamping kemudian teriaknya marah-marah:

"Gentong nasi, perempuan lonte, si Bligo jelek, kau cari mati ? ". Ingosan itu membuat serangan Tong Kauw mengenai sasaran kosong, namun tubuhnya cukup gesit dengan cepat ia putar pinggang, sisa tenaga pukulan yang terpancar keluar dari telapaknya seketika menghantam diatas tembok kuil yang berada beberapa tombak dihadapannya sehingga ambrol dan sebuag lubang yang sangat besar.

Debu pasir berguguran suara gemuruh memekikkan telinga.

Ceng-Tong-Su-Hauw serta Be si Coen yang berdiri paling dekat dengan dinding tembok itu seketika terhajar oleh percikan batu, mereka kesakitan dan berkaok kaok sambil mundur kebelakang, sejak itu tak seorangpun berada berdiri lebih dekat kalangan.

Liem Kian Hoo sindiri dibikin tertegun dan lupa meneruskan serangannya, ia telah dibikin kaget dan tercengang oleh kedasyatan angin pulan yang dilepaskan Tong Kauw.

"Eeei monyet tua ! " terdengar Tong Kauw berteriak.

"Kau berani menganiaya saudara cilikku, aku akan adu jiwa dengan dirimu !".

"Perempuan jelek, bligo busuk, akan ku jagal dirimu lebih dahulu kemudian baru bikin perhitungan dengan bangsat cilik itu !" maki Kauw Heng Hu pula dengan wajah gusar.

-oo0dw0oo-