Pedang Bunga Bwee Jilid 05

Jilid 05

"KONGCU, mengapa kau memandang diriku terus menerus?" mendadak Sani menegur sambil tertawa, Merah jengah selembar wajah Kian Hoo.

"Aku hendak mengucapkan sepatah kata yang mungkin tidak sesuai untuk diutarakan, Cici benar benar amat cantik, kau adalah seorang gadis yang paling cantik dikolong langit".

"Oouw, didaratan Tionggoan banyak tersebar gadis cantik, aku tidak berani menerima pujian kongcu itu !"

"Tapi aku bicara sebenarnya."

"Kecantikan seseorang gadis kadangkala merupakan bibit bencana bagi diri sendiri atau racun keji bagi orang lain. Kongcu, camkanlah ucapanku ini, kurang berhati-hati kau bertindak, bisa jadi kau dicelakai oleh kecantikan gadis lain."

Liem Kian Hoo tundukan kepala membungkam.

Agaknya Sani merasa apa yang diucapkan terlalu berat, ia tertawa sedih dan berkata kembali:

"Tentu saja aku percaya kau bukan seorang lelaki hidung belang... aku hanya berharap kau bisa melupakan hubungan senggama yang pernah kita lakukan ini !".

"Melewati samodra akan bertemu air, mendaki gunung tertutup kabut, cici ! kau telah memberi satu persoalan yang amat sulit bagiku."

"Kongcu, kau...". "Cici, kau adalah gadis pertama yang masuk dalam lembar hidupku, terhadap Watinah aku memang menaruh cinta. tapi cinta seorang pria bukan segampang seperti yang kau pikirkan, terutama sekali terhadap suatu kejadian yang sukar dilupakan !"

Titik-titik air mata jatuh membasahi wajah Sani. serunya gemetar:

"Kongcu, seandainya kau benar-benar serius, setiap kali kau membutuhkan katakanlah kepadaku, aku pasti akan mengabulkan permintaanmu tanpa pikir panjang, kecuali kawin dengan dirimu yang tak dapat kulakukan."

"Cici, kau anggap aku lelaki macam apa ?".

"Aku hanya dapat melakukan sebanyak itu Kongcu, harap kau jangan terlalu mendesak diriku !".

"Sudah... sudahlah, selama ini cici sudah terlalu banyak menaruh kebaikan kepadaku, tiada berhak bagiku untuk mohon lebih banyak darimu satu kali berbuat salah, kesalahan tersebut tak boleh diulang kembali Cici, kaupun tak usah berkata demikian lebih-lebih tak usah berkorban lebih banyak bagiku, akan kuusahakan sekuat mungkin untuk menguasahi diri sendiri dan kecantikanmu akan selalu kuberi tempat dalam lubuk hatiku !"

Habis berkata ia kenakan bajunya dan berdandan selesai segalanya mendadak ia temukan se pasang mata Sani memandang kedepan dengan cahaya hampa, ia jadi keheranan sementara hendak bertanya tiba-tiba Sani tertawa dan berkata:

"Ayoh berangkat ! barusan aku berdoa dan mohon kepada Malaikat untuk memberi petunjuk kearah mana kita harus pergi !".

"Lalu bagaimana jawabnya ?" "Malaikat beritahu kepadaku agar berangkat keselatan, dalam bayangan benakku ia tunjukkan suatu tempat dan apabila ingatanku tidak salah tempat itu seharusnya adalah bukit Srigala langit digunung Mang Chiong San !".

Walaupun Kian Hoo tidak percaya, namun ia bertanya juga: "Jauhkah gunung Mang Chiong San dari sini ?".

"Walaupun gunung Mang Chiong San terletak diwilayah In- Iam namun masih termasuk daerah suku Biauw kami, apabila kita potong jalan maka dalam dua hari akan tiba disana, firasat dalam hatiku agaknya memberi kisikan adanya mara bahaya ditempat itu, aku rasa kita harus cepat-cepat berangkat kesitu !"

"Mungkinkah Watinah serta Toan Cianpwee berada disana

?" tanya sianak muda itu cemas.

"Tidak begitu jelas, tapi kita harus percaya pada petunjuk Malaikat, selamanya petunjuk dari Malaikat tak bakal salah".

"Kalau Malaikat betul-betul tahu, mengapa ia tidak kasi petunjuk yang lebih jelas lagi ?".

"Disinilah letak percobaan Malaikat terhadap kita, kepercayaan serta ketulusan hati kita dicoba dan diuji oleh Malaikat, apabila kita percaya dengan petunjuk " Nya ", maka kita tak boleh mencurigai salah atau betulnya petunjuk itu. kalau kita tidak percaya kepada "Nya", iapun tak usah membaiki kita dengan memberitahukan segala hal kepada kita".

Liem Kian Hoo menggeleng, ia tetap tetap tidak percaya tapi iapun tidak berani menunjukkan penentangan, maka dari itu setelah Sani menetapkan arah iapun segera menyusul kemana gadis itu pergi.

Demikianlah kedua orang itu mulai mengembara ditengah hutan belantara yang lebat dan jarang dijamah manusia, dalam keadaan seperti ini Sani menunjukan kematangan pengetahuan seorang suku Biauw, seringkali ia kasi petunjuk kepada Kian Hoo buah-buahan apakah yang boleh dimakan dan sumber air apa yang boleh diminum, kemudian menggunakan sejenis dedaun untuk menunjukan arah yang benar.

Dua hari sudah lewat, mereka berdua selalu melakukan perjalanan ditengah hutan belantara yang lebat dan lembab dari cahaya matahari, makin hari sianak muda itu makin tak sabar, ia tak tahu sampai kapan mereka baru bisa keluar dari hutan tersebut, kalau lapar mereka bersantap, kalau lelah beristirahat walaupun Sani selalu menasehati dirinya agar sabar namun penderitaan selama beberapa hari ini cukup membuat ia tersiksa.

Untung keadaan semacam ini tidak berlangsung lama, disaat batas-batas kesabarannya sudah hampir habis keluarlah mereka dari dalam hutan belantara, dan tibalah disebuah tanah rumput yang amat luas.

Diujung padang rumput itu menjulang tinggi sebuah gunung yang besar lagi megah, puncak gunung lenyap dibalik awan, tinggi curam dan mengerikan.

"Itulah gunung Mong-Chiong-San !" kata Sani sambil menghembuskan napas panjang. "Bukit Srigala Langit terletak dilambung gunung, dari tempat ini menuju bukit tersebut kita harus lewati daerah kekuasaan dari suku Leher Panjang yang masih liar dan biadab, setelah berjumpa dengan mereka nanti harap Kongcu bertindak hati-hati, jangan sampai timbulkan kesalahan paham dengan mereka."

"Kenapa ? apakah Suku Leher panjang masih Liar dan belum pernah berhubung dengan dunia luar."

"Suku Leher Panjang adalah suku paling cerdik diantara suku Biauw kami, namun merekapun merupakan suku Iain tetapi dalam hati mereka masih tertancap sifat yang paling buas, paling biadab dari suku apapun, terhadap bangsa asing baik itu bangsa Han maupun Biauw sendiri mereka selalu anggap musuh, bahkan niat balas dendam mereka kuat sekali, asal kita salah, salah seorang diantara mereka, maka seluruh anggota suku akan bersama-sama musuhi kita, sebelum korbannya dibunuh mati mereka tak akan puas, oleh sebab itu jarang sekali suku Biauw kami berhubungan dengan mereka".

"Apakah cici dengan kepandaian silat yang dimiliki saat ini masih jeri terhadap mereka ?".

"Jangan berkata demikian." seru Sani seraya menggeleng. "Kedua belah pihak sama-sama berasal dari suku yang tak berbeda, aku tidak ingin terjadi bentrokan dan saling bunuh dalam suku sendiri, lagipula orang-orang dari suku Leher Pan- jang masih memiliki banyak ilmu senjata rahasia serta ilmu hitam, serangan mereka tak bisa dijaga-jaga tibanya..."

"Haaaa... haaaa... haaaa... kalau cuma senjata rahasia sih tak perlu kukuatirkan apalagi ilmu Hitam, lebih lebih tak boleh dipercaya."

"Kongcu ! jangan lupa, tujuan datang kemari bukan hendak angkat nama dan menjagoi suku suku lain !".

"Bagaimana kalau seandainya mereka menyerang kita lebih dahulu ?".

"Soal ini tak mungkin terjadi, asal tidak melanggar pantangannya aku rasa mereka tidak bakal sengaja cari gara- gara dengan kita, apalagi aku punya ikatan persahabatan dengan kepala suku mereka, aku percaya mereka tidak akan sampai menyusahkan kita".

"Cici, kau jangan lupa bahwa wajahmu sekarang telah berubah, mereka belum tentu bisa kenali dirimu lagi." seru Kian Hoo memperingatkan.

Sani berpikir sebentar, kemudian dari sakunya ambil keluar sebuah cincin baja dan dikenakan diatas jarinya, lalu sambil tertawa ia berkata: "Benda ini dihadiah kepala suku mereka yang terdahulu kepada ayahku sebagai tanda mata, dengan adanya cincin ini mereka pasti akan lepaskan kita berlalu tanpa banyak merintangi usaha kita, sebab tempo dulu ayahku pernah selamatkan jiwa kepala suku mereka yang terdahulu, maka sebagai rasa terima kasih dan bersahabat mereka hadiahkan cincin ini".

Setelah mendengar perkataan itu Liem Kian Hoo tidak bersuara lagi, mereka berdua segera lewati padang rumput itu dan menuju kekaki gunung.

Tidak selang beberapa saat kemudian mereka sudah tiba didepan sebuah benteng yang dibangun terdiri dari bambu, pintu benteng itu tepat didirikan dimulut lembah untuk menuju keatas gunung.

Puluhan tombak diluar tembok bambu merupakan tebing tinggi yang curam dan terjal, jadi pintu benteng itu merupakan satu2-nyba jalan penghubdung.

Dengan cepaat kedua orang bitu masuk kedalam benteng, belum jauh mereka masuk Liem Kian Hoo berdua telah dikurung oleh sekelompok manusia yang berbentuk aneh sekali.

Setelah menjumpai kelompok manusia-manusia tersebut, sianak muda itu baru sadar apa sebabnya mereka dinamakan suku Leher Panjang, kiranya setiap orang yang ada didalam benteng itu memiliki leher yang panjang sekali, lebarnya seperti lengan dan panjang beberapa depa, menyungging batok kepala yang menjulang diatas, keadaan mereka jadi kelihatan amat lucu dan menggelikan sekali.

Ketika orang-orang itu mengurung mereka berdua, mulutnya komat-kamit mengucapkan kata kata yang tak dimengerti tangannya tuding kemari menunjukan perasaan heran, bahkan perasaan gelipun terpancar diatas wajah mereka, mulut terbentang dan senyuman menghiasi semua orang, Liem Kian Hoo tidak mengerti apa yang sedang mereka ucapkan, kepada Sani yang ada disisinya segera ia bertanya:

"Apa yang sedang mereka bicarakan ?".

"Mereka sedang mentertawakan kita punya bentuk yang menggelikan !".

"Apa ? mereka bilang bentuk badan kita mengelikan ? lalu apakah bentuk badan macam mereka baru dikatakan cantik dan menarik ?".

"Patokan kecantikan bagi suku Leher panjang terletak pada pendek dan panjangnya leher seseorang, makin panjang leher mereka makin cantik pula orang itu. Sedang leher kita terlalu pendek tentu saja mereka anggap kita sebagai manusia yang paling jelek dikolong langit !".

Belum pernah Kian Hoo mendengar kisah semacam ini, ia jadi tertarik.

"Waaaah... kalau begitu, asal kita punya leher yang panjangnya mencapai tiga depa, mereka pasti akan menganggap kita sebagai manusia yang paling cantik didunia

!".

"Sedikitpun tidak salah, teringat Bini kepala suku yang terdahulu dianggap gadis tercantik dari seluruh suku, aku pernah menjumpai dirinya sewaktu masih kecil, meski lehernya tidak mencapai tiga depa, paling sedikit ada dua depa setengah panjangnya !".

"Waaaduuuh! kalau didaratan Tionggoan terdapat manusia semacam ini, seluruh penduduk akan menganggap manusia itu sebagai setan gantung yang baru muncul dari akhirat." Teriak Liem Kian Hoo sambil menjulurkban lidahnya.

"Kdalau kecantikana macam begini, baku sih lebih baik mengundurkan diri saja". Sani tertawa. " Adat istiadat tiap daerah selalu berbeda, " katanya, "seumpama sejak dilahirkan kau berdiam di sini, tanggung kaupun akan merasa bahwa orang yang berleher panjang merupakan manusia tercantik didunia bahkan kau akan berusaha dengan segala macam daya upaya untuk menarik panjang leher sendiri".

"Apakah leher mereka sejak dilahirkan sudah sepanjang itu

?".

"Mana mungkin terjadi ? Manusia yang di lahirkan dalam

kolong langit, kecuali terdapat sedikit perbedaan yang tak begitu menyolok boleh dikata tak bakal terjadi selisih perbedaan yang begitu besar, Leher-leher mereka yang panjang tentu saja hasil karya manusia itu sendiri setelah lahir, dalam suku Leher panjang terjadi kebiasaan setiap bayi yang dilahirkan, leher mereka segera dikalungi dengan gelang besi, mengikuti usianya yang makin lama semakin bertambah, bobot gelang besi itupun makin diperberat sesuai dengan bobot badan orang itu sendiri, panjang pendeknya leher seseorangpun ditetapkan menurut tingkatan serta patokan sampai dimanakah kecantikan yang dibutuhkan.

Ketika bocah itu sudah berusia dua puluh tahun dan bobot gelang emas yang telah ditetapkan telah mencapai batasnya maka leher tersebut akan diukur panjangnya, apabila leher orang itu lebih panjang dari ukuran normal maka dia akan mendapat kebahagiaan, serta kehormatan yang luar biasa dalam suku itu, sebaliknya bila panjang leher itu tidak mencapai ukuran normal maka orang itu kadangkala akan tersiksa hidupnya, bahkan seringkali tercekik mati oleh gelang besi itu sendiri."

"Sungguh ganas ! sungguh ganas ! adat istiadat ditempat ini benar-benar melanggar peri kemanusiaan.".

"Kecantikan dan peri kemanusiaan kadangkala tak bisa berdiri sejajar..." ujar Sani sambil tersenyum. "Demi kecantikan, bukankah gadis-gadis didaratan Tionggoan kalian memeram kaki sendiri sehingga kecil sekali ? apakah inipun tidak melanggar peri kemanusian ? Mengapa Kongcu tidak merasa bahwa perbuatan itu ganas ?".

Liem Kian Hoo dridesak sampai btungkam dalam seqribu bahasa, karrena malu terpaksa ia alihkan sinar matanya kesekeliling tempat itu.

Kebetulan ada seorang bocah lelaki berusia dua belas tahunan berjalan disisinya, sebuah gelang besi tergantung diatas lehernya yang panjangnya mencapai satu depa setengah itu, kepalanya besar menjulur diangkasa.

Karena ingin tahu tanpa terasa sianak muda itu meraba sebentar keatas gelang besi tersebut Tindakan ini dilakukan tanpa maksud apa apa, namun Sani yang menyaksikan perbuatan itu kontan berubah air muka.

"Kongcu, jangan ! " teriaknya.

Tapi terlambat, saku Leher Panjang yang ada disekeliling tempat itu sudah jadi gempar, masing-masing mundur beberapa tumbak kebelakang dan mengurung mereka berdua ditengah kalangan dengan ketatnya.

Sedangkan bocah yang gelang besinya diraba tadi sudah menjerit aneh lalu lari meninggalkan tempat itu dengan gerakan yang amat cepat.

Ketika mendengar jeritan Sani kemudian menyaksikan orang orang suku Leher Panjang menunjukan reaksi yang aneh, Liem Kian Hoo dibikin kebingungan dan tidak habis mengerti. Saat itulah Sani telah berkata kembali dengan nada cemas.

"Kongcu ! kau telah timbulkan bencana hebat, gelang besi diieher suku Leher panjang dianggap keramat dan benda paling agung diantara barang-barang lain, kecuali orang tua mereka sendiri siapakah dilarang menyentuh gelang tersebut. Mengapa justru kau telah melanggar pantangan terbesar bagi mereka ?".

"Darimana aku bisa tahu dengan pantangannya ?" seru Liem Kian Hoo terperanjat. "Bagaimana sekarang baiknya ?".

"Tak ada cara lain ! kau telah melakukan suatu penghinaan besar terhadap bocah itu sehingga ia mengalami rasa malu yang hebat, demi mempertahankan nama baiknya serta kebersihan dirinya terpaksa ia akan ajak kau untuk berduel, untuk mencuci bersih penghinaan dan rasa malu mereka ia cuma punya satu jalan, yaitu membinasakan dirimu lalu mencuci gelang besi itu dengan darah segarmu !".

"Duel ? aku harus berduel melawan seorang bocah cilik ?" "Tidak salah ! bagaimanapun juga kau harus menerima

tantangannya, apabila kau tidak ingin mati maka satu-satunya jalan bagimu adalah membinasakan bocah itu agar ia mencuci bersih penghinaan serta rasa malunya dengan darah segar sendiri.".

Hampir hampir saja Liem Kian Hoo meloncat keangkasa saking kagetnya, ia berteriak keras: "Tidak bisa jadi ! mana boleh aku bunuh seorang bocah ? Cici ! apakah kau punya jalan lain untuk menyelesaikan peristiwa ini ?".

"Tak ada jalan lain lagi!" sahut Sani sam bil mengeleng "Kehormatan seorang suku Biauw jauh lebih berat daripada nyawa sendiri, segala-penghinaan dan rasa malu cuma dapat dicuci bersih dengan darah segar saja, apabila darah itu bukan milik musuh maka harus menggunakan darah sendiri, dalam wilayah Biauw kami, setiap orang tidak akan membiarkan manusia pengecut hidup dikolong langit !".

"Lalu bagaimana baiknya ? bagaimanapun juga tak mungkin bagiku untuk membinasakan seorang bocah, seumpama kita berbicara sesuai dengan keadaan pada umumnya, setelah aku cari gara-gara dengan dirinya pantas kalau nyawaku harus berkorban ditangannya, tetapi aku rasa kematian yang tidak jelas duduk perkaranya ini terlalu tidak berharga bagiku ! cici cepatlah carikan jalan lain untuk mencegah peristiwa ini ! gunakanlah cincinmu untuk mencari kepada suku mereka, jelaskan kesalah pahaman ini, kalau tidak aku akan pentang kaki untuk ngeloyor pergi".

Dengan wajah murung dan sedih Sani menggeleng, "Aku harap kau jangan ngeloyor pergi, dengan kepandaian silat yang kbau miliki mungkdin bisa lolos daari sini denganb selamat, tetapi bocah yang kau tinggalkan itu bakal menderita ia tidak dapat mencuci bersih segala penghinaan yang tertimpah pada dirinya, terpaksa untuk menebus rasa malu itu dia harus bunuh diri sedang orang tua serta sanak keluarganya pun harus mengiringi kematian tersebut dengan bunuh diri pula, bahkan kematian mereka tidak cemerlang. Bagi suku Biauw kami, dalam kolong langit cuma ada dua benda yang dianggap paling bersih, yaitu darah serta api apabila mereka gagal mendapatkan darah segar dari musuh besarnya maka segenap isi keluarganya terpaksa harus bakar diri untuk menebus penghinaan itu".

"Waaaah, kalau begitu cepatlah kau te

mui kepala suku mereka dan jelaskan masalah ini.." "Panjang leher bocah itu beberapa depa, pakaian yang di

kenakan adalah pakaian bangsawan, dia justru adalah putra kandung dari kepala suku sendiri !".

Liem Kian Hoo tidak menyangka rabaan yang dilakukan secara tidak sengaja dapat mengakibatkan kerepotan yang demikian besar, untuk "berlalu tidak mungkin, untuk terima berduelpun tidak mungkin, saking cemas dan gelisahnya ia jadi mencak mencak dan tidak tahu bagaimana harus bertindak.

Dalam pada itu suku Biauw yang ada di sekelilingnya sedang menatap mereka berdua dengan sinar mata buas, lehernya yang kecil panjang menyungging sebutir batok kepala yang besar mengerikan, keadaan mereka tidak berbeda dengan ular-ular beracun yang angkat kepalanya karena gusar, sinar mata mereka berapi dan penuh diliputi perasaan dendam.

Dengan hati gelisah Liem Kian Hoo menanti setengah harian lamanya, menyaksikan situasi di sekeliling kalangan tetap tenang sedangkan bocah itupun tidak kelihatan muncul kembali, tanpa terasa ia bertanya:

"Dimanakah bocah itu ? mengapa belum muncul Juga ?". "Ia sedang berdo'a minta do'a restu dari dukun, tidak

selang beberapa saat kemudian bocah itu pasti akan muncul".

Liem Kian Hoo gendong tangan menghela napas panjang, dalam keadaan seperti ini ia benar benar tak kuasa menahan diri.

b"Kongcu. lebih dbaik kau berhatai hati." bisik bSani dengan suara yang lirih. "Ilmu yang dimiliki suku Leher panjang amat lihay, apalagi ayah bocah itu adalah kepala suku, terhadap ilmu hitam sedikit banyak pasti telah dikuasai, dikala berduel nanti harap Kongcu mantapkan hati dan berusaha merebut kemenangan secepat mungkin !".

Liem Kion Hoo tidak percaya akan ilmu hitam, tentu saja ia tidak takut terhadap ilmu hitam, tetapi ia tidak rela berduel melawan seorang bocah, setelah putar otak setengah harian lamanya mendadak sekilas cahaya berkelebat diatas matanya.

"Aku temukan suatu cara ! " serunya.

Sani tidak tahu apa yang berhasil ia dapatkan, belum sempat bertanya mendadak suasana di sekeliling kalangan jadi gempar dan riuh rendah dengan suara teriakan, disusul para suku Leher Panjang yang mengurung tempat itu sama-sama membuka satu jalan.

Dari tempat kejauhan muncul tiga orang langsung menuju ketengah kalangan, Bocah yang gelang lehernya diraba tadi berjalan dipaling depan, dibelakangnya mengikuti dua orang, salah satu diantaranya memiliki perawakan tubuh yang tinggi besar, badannya penuh dengan tato lehernya yang kecil dan panjang itu mencapai dua depa lebih, kepalanya besar tersungging diudara, wajahnya buas dan mengerikan jelas dia adalah ayah dari bocah itu atau kepala suku dari suku Leher Panjang.

Disisi kepala suku itu mengikuti seorang lelaki yang berusia hampir sebaya dengan kepala suku itu, perawakan tubuhnya kekar pula, seluruh tubuhnya penuh tertancap bulu binatang, dandanannya mirip seorang dukun dan raut wajahnya tidak mirip seorang suku Biauw, jelas dia adalah seorang bangsa Han.

Menyaksikan dukun dari suku Leher panjang ternyata adalah seorang bangsa Han, meski heran Liem Kian Hoo jadi kegirangan, buru buru ia lari kedepan menyongsong kedatangan orang itu, kurang lebih dua tiga tombak dari mereka ia berhenti dan menjura.

"Loo Sianseng, agaknya kaupun berasal dari daratan Tionggoan" serunya cepat.

"Dapatkah anda bantu diri cayhe untuk menjelaskan kesalah pahaman ini..."

Lelaki setengah tua itu tetap bungkam dalam seribu bahasa, ia berlagak pilon, sebaliknya kepala suku itu denganr bahasa Han yantg lancar segeraq menghardik kerras-keras:

"Ciiis ! kalian anjing bangsa Han betuI-betul bernyali, berani menghina dan bikin malu putraku siapakah namamu ?".

sekalipun Kian Hoo merasa tidak senang hati karena ucapannya yang tajam serta menyinggung perasaan itu namun dikarenakan kesalahan terletak pada dirinya maka ia tetap bersabar diri. "Cayhe she Liem bernama Kian Hoo." sahutnya memperkenalkan. "Dan aku berasal dari kota Wie Yang di- daratan Tionggoan, oleh sebab satu persoalan maka aku telah tiba ditempat anda, siapa tahu karena tidak sengaja cayhe telah melanggar pantangan suku kalian dan menyalahi putramu, harap kepala suku dapat memberi maaf karena kejadian ini muncul akibat kesalahpahaman belaka."

"Anjing cilik bangsa Han ! kau anggap gelang leher dari suku Leher Panjang kami boleh di sentuh dan dengan seenaknya ?- setelah kau bernyali berani datang kemari, seharusnya cari kabar dahulu siapakah aku dan apakah pantangan suku kami. Anjing cilik bangsa Han ! aku kira kau sudah bosan hidup dikolong langit !"

Lama kelamaan Liem Kian Hoo dibikin naik pitam juga oleh makian tersebut, air mukanya berubah keren.

"Sudah cayhe jelaskan bahwa peristiwa ini terjadi karena salah paham, mengapa kepala suku bagiku tidak pakai aturan

? lagipula Nabi pernah berkata bahwa empat penjuru adalah tetangga, tidak dikarenakan kalian adalah suku asing lantas berpandangan lain, apa maksudmu memaki diriku sebagai bangsa Han.".

"Anjing bangsa Han. kaisar dari bangsa Han kalianpun tidak lebih hanya seorang kepala suku belaka, kedudukannya sejajar dengan diriku dengan andalkan apa kalian hendak paksa kami tunduk kepala dan takluk ? dan apa alasannya pula kalian usir kami hingga harus hidup ditengah gunung yang terpencil ? setiap kali berjumpa dengan anjing bangsa Han macam kau, sudah kheki Ayoh anak anak ! tangkap anjing cilik ini !"

Seraya berteriak ia beri kode kepada suku-suku Leher Panjang yang ada dibelakangnya, namun orang orang itu tidak ambil suatu tindakan apapun. Kepala suku semakin naik pitam, dengan suara kalap teriaknya: "Gentong nasi ! bangsa cecunguk ! kalian berani membangkang perintahku ? barang siapa yang tidak mau turun tangan, aku segera akan suruh Hoat Su untuk bacakan mantera agar sukma kalian digaet dan disiksa dalam neraka, kemudian menindihi kalian dengan batu !".

Walaupun beberapa patah kata itu diucapkan dengan bahasa Han, namun orang orang suku Leher Panjang itu dapat memahami maksudnya dari gerak tangan itu. mereka sama sama berseru keras kemudian selangkah demi selangkah maju mendesak kedepan, air muka mereka mencerminkan tindakan itu dilakukan sangat terpaksa.

"Tunggu sebentar " .. tiba-tiba Sani meloncat kedepan. "Apakah kau adalah putra dari kepala suku Tiako ?"

Kepala suku itu tertegun, lama sekali ia baru bertanya: "Kau berasal dari suku mana ? apa hubunganmu dengan

Tiako ?"

" Aku berasal dari suku pasir Emas, cincin ini adalah tanda mata yang diberikan kepala suku Tiako kepada kami." sahut Sani seraya tunjukkan cincin yang berada dijari tangan kanannya.

"Ia pernah berkata dengan andalkan cincin ini, maka aku boleh mencari sahabat dan teman macam apapun dalam dusun suku Leher Panjang!".

Air muka kepala suku itu berubah hebat, sebab sebagian besar suku Leher panjang yang sedang bergerak maju segera berhenti bergerak setelah menjumpai cincin besi itu, sisanya walaupun tidak berhenti namun langkah mereka lambat sekali, jelas orang-orang itu merasa takut terhadap cincin besi itu.

Air muka Kepala suku itu berubah jadi amat jelek, dengan suara keras kembali ia berteriak:

"Tiako sudah modar, sukmanya telah berubah jadi setan iblis, kau membawa cincinnya berarti kau adalah jelmaan dari setan iblis. aku Ha-san kepala suku paling gagah dari suku Leher Panjang punya malaikat pelindung dari Hoat su. aku tidak takut setan iblis."

Sanipun tertegun oleh teriakan itu, mendadak ia mendusin dan segera bentaknya:

"Kepala suku Tiako pasti mati bditanganmu, kaud telah merampasa dan mengangkanbgi kedudukannya ! kau adalah seorang pembunuh!".

Omong kosong ! Tiako sendiri yang cari mati, dia telah berbuat dosa terhadap Malaikat, maka Malaikat menghukum mati dirinya dengan sambaran geledek, orang itu betul-betul berdosa, sampai sukmanya yang gentayanganpun masih mencelakai orang.".

Sani tertawa dingin.

"Aku tidak mau ambil perduli atas persoalan yang terjadi dalam suku kalian, Tiako sudah mati berarti cincin ini tidak berguna lagi, ini nan aku dengan kedudukanku sebagai kepala suku Pasir Emas hendak mohon dirimu untuk menerima peraturan yang telah ditetapkan Malaikat, orang bangsa Han ini telah meraba gelang leher putramu sehingga meninggalkan penghinaan dan rasa malu ini dengan cara yang telah ditetapkan oleh malaikat !"

Hasan tertegun, sedang orang orang suku Leher Panjang disekeliling kalangan yang mengerti bahasa Han segera bersorak menyatakan setuju, bahkan maksud itu segera disampaikan kepada rekan-rekan lainnya, tidak selang beberapa saat kemudian semua orang suku Leher Panjang sama sama berteriak menyatakan persetujuannya.

Beberapa saat lamanya Hasan berdiri tertegun, akhirnya ia cabut keluar golok yang tersoren dipinggangnya dan diserahkan kepada bocah itu, teriaknya keras-keras: "Kuli, gunakanlah golok ini untuk memenggal batok kepala anjing bangsa Han itu, gunakan darah segarnya untuk mencuci bersih gelang lehermu itu, percayalah ! Hoat-su dapat melindungi keselamatanmu, Malaikat dapat menghadiahkan kekuatan kepadamu !".

Berbicara sampai disitu suaranya kedengaran agak gemetar dan dengan pandangan jeri ia melirik sekejap kearah Dukun bangsa Han yang berdiri disisinya itu. Air muka dukun itu tetap dingin dan hambar, sama sekali tidak menunjukkan perubahan apapun.

Sebaliknya Ku Li setelah menerima golok tersebut dengan wajah riang gembira dan gagah selangkah demi selangkah maju mendekati tubuh Liem Kian Hoo benar tidak ingin melayani apa lagi ajak ia berduel, maka selangkah demi selangkah pula ia mundur kebelakang untuk menghindar.

Suasana sekeliling kalangan jadi sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun, setiap suku Le-her panjang yang hadir disana bsama sama curahdkan perhatiannyaa ketengah kalabngan dengan wajah puas, Setelah mundur belasan langkah kebelakang sianak muda itu tidak sabaran lagi, kepada Sani teriaknya:

"Cici ! cepat-cepatlah carikan satu jalan keluar, bagaimanapun juga tidaklah pantas bagiku untuk berduel melawan seorang bocah cilik ! ".

Air muka Sani pada saat inipun telah berubah jadi berat, ia awasi terus tingkah laku bocah cilik itu sementara mulutnya memberi jawaban:

"Satu-satunya bantuan yang dapat kuberikan kepadamu pada ini adalah memberikan sebilah golok kepadamu. agar kau bisa menghadapi serangan musuh tidak dengan tangan kosong belaka !".

Dikala Liem Kian Hoo masih berdiri tercengang, dengan suatu gerakan yang amat cepat ia berkelebat kesini sianak muda itu, kemudian mencabut keluar sebilah senjata pendek dari pinggangnya dan diserahkan ketangannya.

"Hati-hati dengan serangan bokongan, perhatikan ujung golok !" Bisiknya lirih.

Dengan perasaan bingung dan tidak habis mengerti Liem Kian Hoo menerima pemberian senjata tajam itu.

"Bagus sekali! " dalam pada itu Ku-Li sang bocah cilik itu sudah berteriak dengan hati gembira, "sebenarnya aku tidak rela membinasakan seorang musuh yang tidak memberikan perlawanan, sekarang kau telah bersenjata. Nah hati-hatilah! aku akan mulai dengan seranganku !".

Tanpa menungu reaksi dari Liem Kian Hoo dengan ganas ia melancarkan sebuah babatan ke depan langsung mengacam bahu seranganku !.

Sianak muda itu tiada maksud untuk memberi perlawanan melihat datangnya serangan ia sabetkan senjata kesamping dengan gerakan seenaknya... Traang...! diiringi suara bentrokan yang sangat memekikan telinga, percikan bunga api muncrat keempat penjuru.

Kekuatan sibocah cilik itu betul betul luar biasa sekali, dalam bentrokan barusan senjata yang ada dalam genggaman LiemKian Hoo terpukul hingga mencelat ketengah udara.

Suasana jadi gempar, orang-orang suku Leher panjang yang nonton jalannya pertarungan dari sisi kalangan sama- sama bersorak sorai, sedangkan Hasan pun mengendorkan wajahnya yang tegang dan bergranti dengan mukta kegirangan. Kqetika menjumpair serangannya yang pertama berhasil merontokan senjata lawan, Ku-li kegirangan selengan mati, teriaknya keras-keras:

"Eeeei anjing bangsa Han ! pungut kembali senjatamu, dipandang badanmu yang tinggi besar sungguh tak nyata kau adalah seorang lelaki yang sama sekali tak berguna, aku benar benar merasa malu dan menyesal buat ketidak becusanmu, ayoh cepat ! pungut kembali senjataku itu, aku tidak rela membinasakan seorang musuh dalam keadaan tangan kosong."

Walaupun nada suaranya agak sombong dan tinggi hati, namun secara lapat lapat menumpukan kegagahannya, niat bermusuhan yang ada dalam hati Kian Hoo semakin hambar lagi, sambil tertawa ia berkata:

"Sahabat cilik, diantara kita sama sekali tidak terikat dendam sakit hati sedalam lautan, sekalipun tadi secara tidak sengaja aku telah menyalahi dirimu, mengapa hanya disebabkan persoalan sekecil itu harus saling beradu jiwa ? Apabila kau merasa bahwa persoalan ini baru bisa diselesaikan apalagi gelang lehermu telah dicuci dengan darah-ku, aku rela membiarkan golokmu membacok di-atas lenganku, kemudian gunakan darah yang mengalir keluar untuk menyelesaikan kesulitan tersebut !".

Inilah cara penyelesaian yang dianggap paling tepat oleh Liem Kian Hoo, sebab kesalahan terletak pada dirinya maka ia rela menahan sedikit penderitaan untuk menghapuskan salah paham tersebut dengan sendirinya nada ucapan ini kedengaran lebih halus dan ramah. Siapa sangka air muka Ku- li segera berubah sinis setelah mendengar perkataan itu, ia tertawa dingin tiada hentinya.

"Hmmm ! kiranya kalian anjing bangsa Han adalah manusia pengecut yang takut mati, sungguh membuat aku pandang hina diri kalian, kau jangan mimpi disiang hari bolong ! Untuk menghilangkan penghinaan yang diterima gelang leherku, hanya darah panas yang mengalir keluar dari leher yang bisa mencucinya hingga bersih, apabila kau takut sakit, baik- baiklah berlutut diatas tanah sekali tebas akan kuberi kepuasan kepadamu kalau tidak, bertindaklah sebagai seorang satria, pungut kembali senjatamu dan kita langsungkan kembali satu pertarungan terbuka." Ucapan ini membangkitkan kegusaran dalam hati Kian Hoo, ia naik pitam dan tak kuasa menahan diri lagi teriaknya:

"Karena kau seorang bocah, aku tidak ingin cari gara gara dengan dirimu, tapi kau kurang ajar berani bicara yang bukan- bukan. Hmmm ! kalau kau mendesak terus menerus, jangan salahkan aku tidak akan berlaku sungkan sungkan lagi terhadap dirimu".

Ku-li lintangkan goloknya didepan dada dan tertawa tergelak

"Haaaa.... haaaa... haaaa... bocah cilik dalam suku Biauw kami jauh lebih bernyali daripada orang dewasa anjing bangsa Han kalian, seperti kau, Hmm seorang manusia pengecut yang takut mati, betul-betul tidak lebih berharga dari seekor anjing. Tak usah banyak bicara lagi ! cepat pungut kembali senjatamu untuk terima kematian ! Kau bisa berjumpa dengan aku boleh dikata agak beruntung, sebab paling sedikit aku dapat memberi kesempatan bagimu untuk mati secara seorang enghiong !".

"Kentut busuk !" Teriak Liem Kian Hoo sangat gusar " Binatang cilik, aku orang she-Lim adalah seorang lelaki sejati, aku tidak akan menggunakan senjata untuk menghadapi seorang setan cilik macam kau, apalagi dalam tiga jurus aku tak berhasil merampas senjatamu, akan kerentangkan leherku agar bisa dipenggal olehmu dengan gampang."

Ku-li meraung gusar, sambil rentangkan goloknya ia segera maju dan melancarkan sebuah bacokan, Liem Kian Hoo sudah merasakan keampuhan tenaganya maka ia tidak kasi hati lagi, tangannya berkelebat kedepan kemudian mengirim sebuah sentilan kearah ujung golok tersebut.

"Traaaang . . !" . diiringi suara bentrokan nyaring, ujung golok Ku-li kena disentil hingga gumpil sebagian, golok itu sendiri termakan oleh tenaga sentilan kontan mengayun balik kebelakang, Air muka Ku-li berubah hebat, badannya buru- buru mundur ke belakang untuk memunahkan tenaga tekanan yang menyerang datangi dengan susah payah akhirnya ia berhasil juga untuk mempertahankan goloknya tidak sampai lepas dari genggaman.

Orang orang suku Leher panjang yang ada disekeliling kalangan sama berseru kaget, agaknya mereka tidak menyangka kalau Liem Kian Hoo memiliki ilmu silat yang amat sempurna.

Yang paling cemas adalah Hasanb, cinta kasih sdeorang ayah terahadap putranya bmemang agung, saking menguatirkan keselamatan putranya hampir-hampir saja ia ikut terjun kedalam kalangan. Dukun bangsa Han yang berdiri disisinya segera mendengus dingin.

"Harap kepala suku perhatikan ! persoalan ini menyangkut mati hidup putramu ! lebih baik nantikan dengan hati tenang, Malaikat pasti melindungi kaum ksatria ! aku lihat Ku-li jauh lebih gagah daripada dirimu sendiri !".

Meskipun Hasan adalah seorang kepala suku, namun kelihatan ia terhadap dukun bangsa Han itu, mendengar teguran ia segera berhenti dan alihkan kembali sinar matanya ketengah kalangan dengan hati kebat kebit.

Dalam pada itu setelah Ku-li berhasil mempertahankan tubuhnya ia berteriak keras, goloknya kembali dibabat kedepan tanpa membawa sedikit desiran angin seranganpun, Liem Kian Hoo tersebut gerakannya tepat lagi mantap.

Ketika golok Ku-li baru saja membabat sampai separuh jalan, telapak Kian Hoo sudah menyambar datang, mendadak bocah itu rendahkan tangannya kebawah, ujung golok tiba- tiba berputar menghindari jari tangan lawan dan sekarang mengancam tengkuk.

Menghadapi perubahan tersebut Liem Kian Hoo sama sekali tidak jadi gugup, ia miringkan badannya kesamping lalu mengetuk perlahan tubuh golok itu " jurus kedua " serunya. "Dalam jurus selanjutnya akan kurampas golokmu ini !".

Termakan ketukan itu tubuh Ku-li maju dengan sempoyongan lalu terjungkal keatas tanah, namun bocah itu sebat sekali dengan cepat ia meloncat bangun sementara tangannya telah bertambah lagi dengan sebilah senjata pendck, golok Kian Hoo yang disampok jatuh tadi.

setelah menggenggam senjata disepasang tangannya, Ku-li maju sambil gertak gigi, mendadak lengannya diayun ke depan, serentetan cahaya tajam yang amat menyilaukan mata segera berkelebat kedepan, kiranya ia gunakan pisau pendek, yang dipungut dari atas tanah itu sebagai senjata rahasia.

Liem Kian Hoo bertindak cepat menyambar gagang pisau belati itu, seketika ia merasakan cahaya dingin merasuk tulang, hatinya jadi tergerak.

Kiranya sewaktu Sani menyerahkan pisau belati tersebut kepadanya, berhubung bentuk pisau itu tiada yang aneh maka ia anggapb sebagai senjatda biasa dan tidaak ambil perhatbian, bahkan sewaktu tersampok jatuh keatas tanahpun, ia malas untuk punggutnya kembali.

Namun setelah Ku-li menggunakan pisau itu sebagai senjata rahasia, dan dari ujung pisau memancarkan serentetan agin dingin yang merasuk tulang, bahkan apabila tenaga dalamnya tidak mengalami kemajuan pesat niscaya akan terluka oleh hawa dingin yang terpancar keluar dari ujung pisau itu, sianak muda ini baru sadar, pisau belati yang tidak menarik ini sebenarnya adalah sebilah senjata mustika, dan sekarang iapun mengerti apa sebabnya Sani suruh ia perhatikan ujung pisau.

Mula mula ia mengira Sani suruh ia perhatikan ujung pisau lawan, sungguh tak nyana dalam kenyataan ia sedang beritahu kepadanya bahwa ujung pisau belatinya punya kasiat lain. Sementara ia masih termenung, tiba tiba Ku li memperdengarkan suitan panjang, suara suitan itu menggemaskan dan mengerikan sekali, sama sekali tidak mirip suara yang dipancarkan oleh seorang bocah yang baru berusia sebelas dua belas tahunan, bersamaan itu pula batok kepalanya yang tersungging diatas leher yang panjang berubah jadi mengerikan sekali, cahaya hijau memancar dari sepasang mata, bagaikan hembusan angin puyuh badannya menubruk kedepan, golok panjangnya dengan membawa desiran angin tajam segera menyapu datang.

Liem Kian Hoo merasa tercengang, sebab ia temukan deruan angin serangan yang terpancar kali ini istimewa sekali, walaupun membawa desiran tajam namun sama sekali berbeda dengan keadaan sebelumnya.

Meskipun demikian ia menyambut juga datangnya serangan dengan telapak, dan tepat ia berhasil menggencct pergelangan Ku-li, tiga jarinya menjepit ke arah urat nadi kemudian merampas golok lawan, bersamaan itu pula sebuah tendangan dilancarkan menghajar bocah itu sampai mencelat.

Dasar hati pemuda ini tulus dan welas kasih ia merasa tiga jurus serangan yang dilancarkan sudah cukup memberi peringatan buat bocah itu, maka dalam tendangan berikutnya ia sama sekali tidak desertai dengan tenaga serangan yang hebat, ia cuma menghalau tubuhnya agar mencelat kebelakang belaka.

Tubuh Ku-li menrcelat kebelakantg dan bergulingq guling diatas rtanah kemudian merangkak bangun lagi, mulutnya yang lebar dan besar di pentangkan dan sekali lagi ia perdengarkan suitan panjang yang memekikkan telinga, ditengah suitan tersebut penuh terkandung hawa napsu membunuh yang meluap luap.

Suitan yang begitu nyaring memekikkan telinga serta menggetarkan hati itu membuat pikiran Kian Hoo bercabang, pada saat itulah mendadak segulung tenaga dorongan yang amat besar menggulung kearah tangannya, golok panjang yang berhasil ia rampas tadi seakan-akan dikendalikan orang secara otomatis lepas dari cengkeramannya dan langsung menusuk keulu hatinya.

Peristiwa yang terjani diluar dugaan ini memaksa Kian Hoo jadi tertegun dan tidak tahu ba gaimana harus menghadapinya, sebelum otaknya berputar dan pikiran kedua berkelebat lewat, golok panjang tadi dengan membawa desiran angin tajam telah merobek pakaiannya dan menerjang kedalam perut.

Menyaksikan kejadian itu Sani jadi amat ter peranjat, buru buru ia loncat kesisi tubuhnya sambil berteriak:

"Liem Kongcu ! kenapa kau...".

Liem Kian Hoo berdiri tertegun, ia tak sanggup menjawab pertanyaannya dan tidak menunjukkan reaksi apapun, sementara golok panjang itu sudah menembusi tubuhnya hampir mencapai dua coen, bahkan tubuh golok yang menancap diatas dada sianak muda itu masih bergetar keras.

Sani amat cemas,sambil menangis serunya:

"Bukankah sejak tadi aku sudah suruh kau berhati-hati, ilmu hitam suku Leher Panjang...".

"Anjing bangsa Han t sekarang kau sudah tahu lihay bukan." teriak Ku - li ditempat kejauhan sambil tertawa seram. Tiba tiba Liem Kian Hoo tertawa panjang, dadanya membusung kedepan dan golok panjang itu mencelat lima enam depa dari tubuhnya kemudian diiringi suara nyaring rontok keatas tanah, pakaian bagian dadanya robek namun tidak nampak darah yang memancar keluar.

Kejadian ini bukan saja membuat suku-suku Biauw yang ada disekeliling tempat itu jadi gempar dan berteriak kaget, bahkan Sani yang ada di sisi tubuhnya pun hampir saja tidak percaya dengan pandangan mata sendiri. "Cici kau ! telah tertipu oleh kata kata " Dukun " seru Kian Hoo sambil tertawa, "padahal dalam bacokan tadi sama sekali tidak disertai ilmu hitam, tapi termasuk suatu sim-hoat ilmu silat yang agak lihay, aku pernah dengar guruku si Nabi seruling Lie Boe Hwie berkata bahwa kepandaian semacam ini mungkin dinamakan "Kian Si-Sin-Kang", sewaktu dilancarkan harus pinjam benda lain untuk melakukannya, mula-mula memang tidak menunjukan reaksi dan tenaga dalam tersembunyi dalam benda tersebut, tapi beberapa saat kemudian barulah kelihatan reaksinya, yaitu melukai orang dikala korbannya tidak siap. sebenarnya aku tidak percaya bisa terjadi peristiwa semacam ini, tetapi ketika merampas senjata tadi aku berhasil mendapatkan senjata itu terlalu mudah, maka timbullah kecurigaan dalam hatiku, menanti aku teringat akan hal ini keadaan sudah terlambat..."

"Perduli amat dengan segala macam ilmu yang penting lukakah dirimu...?" tukas Sani dengan hati gelisah.

"Tidak, coba lihat, bukankah aku sehat wal afiat ?"

Sani agak sangsi, sinar matanya dialihkan kearah pakaiannya yang robek itu.

"Kau tentu anggap akupun memiliki serangkaian ilmu silat yang luar biasa bukan ?" ujar sianak muda itu kembali sambil tertawa, "padahal kalau sudah kukatakan sama sekali tidak aneh, aku berhasil menghindari bokongan dari ilmu Kian-Si kang tersebutpun tidak lain disebabkan suatu kebetulan saja".

Sembari berkata dari dalam sakunya ia ambil keluar sebuah benda yang berwarna hitam gelap, inilah hioloo Ci-Liong-Teng pusaka keluarga-nya, berhubung benda itu tidak terlalu besar dan harganya tak ternilai maka selama ini sianak muda itu menyimpannya dalam saku.

Saat ini, sambil mengambil keluar hioloo tersebut, ujarnya sambil tertawa: "Aku bisa lolos dari kematian tidak lain karena andalkan benda ini, tusukan golok tadi dengan tepat dan kebetulan sekali menusuk keatas hioloo ini terbuat dari bahan yang kuat maka aku sama sekali tidak terluka, bahkan untuk menggirangkan hati bocah itu, sengaja kusalurkan hawa murniku untuk menghisap golok tadi agar tidak sampai jatuh..."

sewaktu ia menyebut tentang " Kian-Si-Singkang " air muka lelaki setengah baya bangsa Han yang berdandan sebagai dukun itu rada ber-ubah, apalagi ketika Liem Kian Hoo mengeluarkan hiolbo Ci-Liong Teng, sepasang biji matanya memancarkan cahaya tajam,namun tak seorangpun yang memperhatikan perubahan aneh itu.

Terdengar Ku-li meraung keras, air mukanya berubah mengganas sekali, tiba-tiba ia menyalurkan lehernya yang paling panjang sehingga leher yang sudah sepanjang beberapa depa makin panjang setengah depa lagi sehingga kelihatanlah daging lehernya yang berwarna abu-abu dan mirip bambu itu.

Diikuti suara bentrokan nyaring bergema memekikkan telinga, gelang leher yang tergantung pada lehernya secara otomatis merekah membentuk gelang kecil dan terjatuh keatas tangannya. Menyaksikan perubahan itu Sani menjerit kaget, teriaknya:

"Aduh celaka, cepat serahkan pisau belati itu kepadaku."

Tetapi teriakan itu terlambat setindak, Ku-li sudah ayunkan sepasang tangannya, berpuluh gelang besi yang kecil itu dengan menciptakan selapis bayangan hitam telah meluncur datang.

Dalam keadaan gugup Liem Kian Hoo melancarkan sebuah babatan, namun angin pukulan yang menderu-deru laksana gulungan ombak ditengah samudra ini gagal membendung bayangan gelang tersebut diiringi desiran tajam yang memekikkan telinga gelang-gelang itu tetap meluncur datang, bahkan dari mulut retakan diatas kutungan gelang itu tersebarlah bubuk bubuk warna kuning.

Makin cepat gelang-gelang itu berputar makin luas bubuk kuning itu tersebar diangkasa, de ngan cepat benda tersebut telah meluncur kehadapan mereka berdua.

Dalam keadaan apa boleh buat terpaksa Liem Kian Hoo gerakkan pisau belatinya ketengah udara, disaluri hawa murni yang dahsyat ia ciptakan selapis dinding cahaya untuk membendung datangnya ancaman terhadap dia serta Sani.

Cahaya dingin yang memancar keluar dari ujung pisau belati itu menunjukkan kehebatannya, serentetan cahaya hijau yang tajam dan menyilaukan mata seketika menyapu lenyap bubuk bubuk kuning yang menyebar datang, diikuti suara dentingan nyaring yang amat memekikkan telinga menggema diangkasa, belasan gelang kecil yang mengancam datang itupun segera terbabat hancur ja di berkeping keping dan rontok keatas tanah.

Perubahan ini terjadi dalam waktu sekejap mata belaka, ketika Liem Kian Hoo tarik kembali cahaya dingin ditangannya, kembali Ku-li perdengarkan jeritan ngeri yang menyayatkan hati, batok kepalanya besar dan tersungging diatas itu dibanting keatas tanah, dari antara leher yang panjang segera menyembur keluar sumber darah segar .... Plaaaak ! tahu tahu batok kepalanya sudah menggeletak ditanah.

Kiranya dalam bantingan keras barusan, mentah-mentah ia sudah patahkan leher sendiri yang panjang itu jadi dua bagian.

Agaknya Liem Kian Hoo tidak menyangka peristiwa tersebut bisa berubah jadi begini serius.

Berhubung kesalahan terletak pada dirinya, maka sepanjang berduel ia selalu bertindak sungkan, meski dalam keadaan bahayapun ia mencari jalan selamat belaka tanpa masud untuk melukai atau membunuh pihak lawan, siapa nyana ditengah berkelebatnya gelang besi Ku-li telah mati bunuh diri, kejadian ini benar-benar ada diluar dugaannya.

Memandang mayat Ku-li yang masih berkelejitan diatas tanah, sianak muda itu tertegun dan tak sanggup mengucapkan sepatah katapun, ia merasa meski aku tidak bunuh Pek-Jin, namun Pek-Jin mati karena aku...

Dengan penuh air mata Hasan menubruk ke atas jenasah anaknya Ku-li lalu menangis tersedu-sedu, setelah itu meloncat bangun dan "Waala...waaallaaa..." berteriak dan berkaok-kaok keras dengan bahasa Biauw.

Mengikuti teriakan itu orang orang suku Biauw yang ada disekeliling tempat itu ikut berteriak keras, suasana jadi ramai dan hiruk pikuk.

Liem Kian Hoo tidak tahu apa yang telah terjadi, buru buru ia bertanya kepada Sani.

"Apa yang mereka katakan ?"

"Ia minta agar putranya dikubur dengan upacara penguburan yang paling mulia."

"Kalau benar demikian adanya, aku harus ikut hadir dalam upacara penguburan ini dan baik baik berdoa dihadapan kuburannya, aku tidak menyangka bocah cilik itu punya jiwa ksatria dan gagah, meskipun ia tidak mati ditanganku namun..."

"Aaaaai ! buat suku Leher Panjang, gelang leher merupakan pertanda jiwa mereka. gelang tetap ada manusia tetap hidup, gelang hancur manusiapun mati. maka gelang leher mereka meski merupakan sejenis senjata rahasia yang amat lihay, apabila tidak mencapai keadaan yang kritis dan mengancam keselamatannya tidak akan digunakan secara sembarangan. Kongcu telah membabat hancur gelang lehernya ini ia berarti mati ditanganmu...". "Adat istiadat macam apakah ini ?... kenapa begitu boe- cengli..." teriak Kian Hoo.

"Kongcu, tak usah kau urusi dahulu soal adat istiadat dan cengli, hadapi dahulu situasi yang terbentang didepan mata saat ini ! ".

"Dewasa ini apa yang harus kita lakukan ?"

"Kepala suku Leher Panjaog, Hasan mohon semua orang untuk menyetujui permintaannya yaitu mengubur jenasah putranya dengan upacara paling meriah, tapi semua orang tidak setuju dan sekarang mereka kemudian kita baru siapkan rencana selanjutnya !".

"Apa hubungannya antara persiapan kita dengan hasil rundingan mereka ?..." Tanya Kian Hoo tidak mengerti, matanya terbelalak lebar.

"Apabila jenasahnya dikubur dengan upacara paling meriah, maka ini berarti semua suku Leher Panjang akan musuhi kita secara serentak, kita akan dibunuh lebih dahulu kemudian dengan gunakan jantung serta isi perut kita untuk menghormati jenazah bocah itu. Hasan adalah kepala suku Ku-Li adalah putra kepala suku, sesuai dengan peraturan memang seharusnya bertindak demikian, tetapi ketika Ku-li meninggal dunia ia telah kehilangan gelang lehernya merupakan suatu hal yang memalukan semua anggota suku, maka orang orang suku Leher panjang tidak sudi mengakui Hasan sebagai kepala suku lagi, karena keluarga Hasan telah ternoda."

Terhadap pelbagai urusan tetek bengek macam ini sebenarnya Liem Kian Hoo tidak mengerti, tapi setelah dijelaskan Sani iapun menghela napas panjang.

"Manusia yang telah mati tak mungkin hidup kembali, apa gunanya berbuat tetek bengek yang tak berguna dalam upacara penguburannya ? apalagi bersembahyang dengan gunakan jantung serta hati manusia sebagai sajian, betul betul suatu perbuatan biadab, dengan mereka aku tak pernah ikat tali permusuhan atau perselisihan meski kematian bocah itu disebabkan aku namun tidak seharusnya mereka seret pula dirimu dalam masalah ini !"

Sani termenung beberapa saat, tiba tiba dengan nada berat ujarnya:

"Aku melihat dibalik peristiwa ini agaknya ada hal-hal yang patut dicurigakan, terutama sekali kepala suku mereka Hasan, sikap serta tindak tanduk yang ia perlihatkan sangat mencurigakan sekali, belum pernah ia berjumpa dengan dirimu tetapi terhadap segala sesuatu mengenai dirimu dirimu agaknya ia tahu jelas, maka mula pertama putranya Ku-li hendak tantang-kau untuk berduel ia sudah menunjukan sikap menolak permintaannya, jelas ia sudah tahu sampai dimanakah taraf kepandaianmu.".

"Cinta kasih orang tua terhadap putranya suci dan agung, siapapun dikolong langit punya perasaan yang sama, hal ini tak dapat salahkan dirinya...".

Sani tertawa dingin. "seumpama kau adalah seorang manusia biasa, apabila harus bergebrak melawan bocah itu, ada berapa besar harapanmu untuk rebut kemenangan ?" tanyanya.

Liem Kian Hoo tertegun, setelah berdiam diri beberapa waktu ia baru menjawab: "Meskipun usia bocah itu masih kecil. namun kekuatan serta kepartdaianya sangat hebat, puluhan lelaki dewasa biasa belum tentu merupakan tandingannya.".

"Nah, itulah dia, setelah mempunyai seorang putra yang begini kosen dan hebat, yang jadi ayah apa gunanya merasa kuatir dan cemas? kecuali ia sudah tahu sampai dimanakah kelihayan pihak lawan maka ia tunjukan perasaan gelisah, bahkan hendak menggunakan kekuasaan yang dimilikinya untuk merusak peraturan.". Liem Kian Hoo berdiam diri beberapa saat untuk putar otak, lalu ujarnya kembali:

"Anggap saja apa yang cici katakan benar, dan ia sudah tahu asal usulku, tapi apa sangkut pautnya dengan persoalan ini ?".

"Hal ini membuktikan bahwa petunjuk yang diberikan Dewa kepadaku tepat sekali, rombongan dari Luga tentu sudah melewati tempat ini dan pernah berhubungan dengan dirinya, maka ia tahu segala sesuatu tentang dibrimu!...".

Makidn dipikir Liem aKian Hoo merasab hal ini sangat masuk diakal, ia jadi kegirangan setengah mati.

"Aaaaah, kalau benar begitu sungguh bagus sekali..." serunya.

Belum habis ia berkata, perundingan antara Hasan dengan orang orang suku Leher Panjang itu telah selesai, semua orang anggota suku mundur ketempat semula dan menanti dengan tenang sedangkan Hasan lantas berunding dengan lelaki setengah baya berdandan sebagai dukun itu.

"Bagaimana perundingan mereka ?" tanya Kian Hoo lagi. "Mungkin sangat menguntungkan bagi posisi kita, mereka

minta Hasan dengan kedudukannya sebagai kepala suku tantang kau untuk berduel lebih dahulu, apabila dia menang maka mereka akan mengabulkan permintaannya dengan mengubur jenasah bocah itu dengan upacara penguburan paling meriah, seandainya ia kalah dan mati dalam pertempuran maka seluruh anggota sukupun telah menyanggupi untuk bersama-sama melakukan pembalasan dendam."

"Kalau begitu perduli dia menang atau kalah yang jelas tidak akan menguntungkan kita, mengapa kau katakan malah menguntungkan..." "Peristiwa yang kita hadapi saat ini tidak seburuk seperti apa yang kau bayangkan " kata Sani sambil tersenyum. "Menurut dugaanku, walaupun Hasan adalah seorang kepala suku namun dalam kenyataan dia adalah seorang pengecut yang tak bernyali, ia tidak bakal berani tantang dirimu untuk berduel..."

"Bagaimana kau bisa tahu ? bukankah kau mengatakan setiap lelaki yang ada dalam wilayah Biauw adalah ksatria yang takut mati ?"

"Diantara ksatria terdapat pula sampah masyarakat, dan bajingan ini termasuk salah satu diantaranya, sekarang ia sedang mohon kepada sang dukun untuk menghadapi dirimu dengan ilmu hitamnya.."

Liem Kian Hoo tertegun dan dengan wajah tegang segera alihkan sinar matanya kearah kedua orang itu, sedikitpun tidak salah nampak Hasan sedang gerakkan tangan kakinya menunjukkan sikap merengek, yang aneh ternyata lelaki bangsa Han itu, geleng kepala tiada hentinya, seakan-akan ia menampik permohonan dari kepala suku itu.

Suku suku Leher panjang yang berada di sekeliling kalangan sudah tidak sabar menunggu, mereka berkaok-kaok minta Hasabn untuk segera dtampil kedepan.a

Menjumpai harabpannya sia-sia belaka, dengan wajah kesal Hasan bergeser ketengah kalangan sinar matanya memancarkan cahaya kebencian yang meluap-luap, dengan suara keras teriaknya:

"Anjing cilik bangsa Han ! kau telah mem binasakan putraku, dalam daratan Tionggoan kalian ada pepatah mengatakan: Hutang uang bayar uang, hutang darah bayar darah, bagaimana pertanggungan jawabmu sekarang terhadap diriku ?".

Liem Kian Hoo tertegun dan tidak tahu bagaimana harus menjawab, Sani yang berada disisinya segera berkata: "Saat ini si bangsa Han tersebut sedang berada didalam wilayah Biauw kami, maka ia harus mentaati peraturan dari suku bangsa Biauw kita, buat seorang ksatria hanya ada satu jalan yang bisa ditempuh yaitu kalau bukan membunuh dia akan mati terbunuh, putramu mati dalam suatu duel tapi sayang ia pengecut, sebelum merasakan bacokan golok musuh ia sudah bunuh diri, sukmanya yang lepas dari raganya kotor itu maka kau harus wakili dirinya untuk melakukan yaitu mencuci dengan darahmu atau darah musuhmu !"

Ucapan ini gagah dan penuh semangat jantan membuat suku Leher panjang yang ada di sekeliling kalanganpun ikut bersorak memuji.

"Perempuan lonte busuk ! kau adalah seorang suku Biauw, mengapa kau malah membantu anjing bangsa Han untuk mengerubuti diriku ?".

"Cahaya murni Dewa hanya menyoroti kaum ksatria dan tidak membedakan suku bangsa, pedang keadilan hanya menebas batok kepala kaum pengecut, aku harap kau suka jaga nama baik suku Biauw dengan menerima tantangan berduel ini, jangan lakukan permainan licik yang terkutuk lagi."

Sekali lagi orang-orang suku leher panjang bersorak sorai dengan ramainya. Air muka Hasan berubah jadi merah padam, sambil berkaok-kaok gusar teriaknya:

"Baik ! Heei lonte busuk, akan kubereskan dahulu anjing bangsa Han ini, kemudian akan kuhadapi dirimu !"

Sani tetap bersikap tenang, kepada Kian Hoo pesannya: "Kongcu, bertindaklah yang mantap dan percayalah pada

diri sendiri, dalam pertarungan yang menentukan antarra hidup dan matti kau tak boleqh memiliki keharlusan hati seorang wanita, bersikap murah hati kepada musuh berarti bertindak kejam terhadap diri sendiri, jangan lupa bahwa kita masih ada banyak urusan yang harus diselesaikan." Liem Kian Hoo bungkam dalam seribu bahasa.

Dalam pada itu Sani telah meloncat keluar dari kalangan, sedang dua orang suhu Leher panjang dengan wajah serius telah muncul sambil membawa sepasang tombak, sepasang gendewa serta sekantong anak panah.

Hasan memilih tiga batang tombak, sebuah gendewa dua belasan batang anak panah, setelah itu dua orang suku Leher panjang tadi persembahkan tombak serta golok tersebut kehadapan Liem Kian Hoo agar iapun memilih senjata untuk hadapi tantangan itu.

Dengan angkuh sianak muda itu menolak pemberian senjata, ia loloskan pedang yang tersoren dipinggang dan berkata lantang:

"Sebilah pedang tersoren ditangan, menjagal naga menusuk harimau bagaikan menebas anjing, pedang berkelebat angin awan berubah bentuk, di-bawah ujung pedang batok kepala manusia laknat bergelindingan.".

Ditengah seruan lantang yang gagah perkasa itu, dua orang suku Leher panjang tadi berlalu dengan wajah gembira, Hanya Sani yang kelihatan amat gelisah teriaknya:

"Kongcu, kau menolak yang panjang dan memilih yang pendek, dalam tindak tanduk harus berhati-hati.".

Liem Kian Hoo melemparkan sebuah senyuman manis lalu berdiri tegak ditengah kalangan siap menantikan serangan lawan.

Dalam pada itu dipihak Hasan telah merentangkan gendewa dan pasang anak panah, ditengah desiran angin tajam sebilah anak panah telah meluncur datang laksana sambaran kilat mengancam ulu hatinya.

Sianak muda itu tetap tenang, melihat datangnya ancaman pedang mustika dalam genggamannya segera ditebas kebawah, dengan tepat dan pas ia punahkan datangnya ancaman tersebut.

"Traaaang !" suara bentrokan nyaring bergetar memenuhi seluruh angkasa, meski Kian Hoo berhasil merontokan datangnya ancaman tersebut, diam diam iapun merasa terperanjat sebab daya luncur anak panah yang dilepaskan Hasan jauh diluar dugaannya, pergelangan dimana ia mencekal pedang itu terasa sakit dan kaku.

Hasan tidak memberi kesempatan baginya untuk bertukar napas. "Sreeet !... Sreeet !... Sreeet !. " beruntun ia lepaskan

kembali tiga batang anak panah yang meluncur datang saling susul menyusul, kecepatan dan kekuatannya benar benar luar biasa.

Ketika anak panah pertama meluncur sampai ditengah jalan, anak panah ketiga telah dipasang di atas busur, kesebatan serta kecepatan geraknya betul-betul luar biasa.

Dengan adanya pengalaman pahit tadi, kali ini Liem Kian Hoo tidak berani menangkis datangnya serangan dengan pedang, ia tarik panjang panjang, badannya segera meloncat keangkasa menghindari anak panah pertama, setelah itu badannya segera berjumpalitan dan berdiri pada anak panah kedua, mengikuti daya luncur senjata itu badannya ikut meluncur beberapa tombak jauhnya dari tempat semula, setelah itu dengan gerakan Monyet tua berloncatan didahan ia gantung badannya kebawah, meminjam sedikit tenaga yang masih tersisa ia tendang datangnya ancaman dari anak panah ketiga sehingga arahnya berubah dan meluncur keangkasa.

Agaknya orang orang suku Leher panjang yang ada disekeliling tempat itu belum pernah menyasikan adegan sehebat ini, sekalipun Liem Kian Hoo adalah musuh mereka namun tak urung orang-orang itu pada bersorak memuji . Liem Kian Hoo sendiripun merasa amat bangga setelah berhasil menghindari datangnya ancaman dengan suatu gerak tubuh yang lincah dan sebat.

Ia melirik sekejap kearah Sani, ditemuinya diatas wajah yang cantik terlintas kekesalan serta kesedihan yang luar biasa, untuk sesaat ia tidak habis mengerti apa sebabnya gadis itu murung.

Dalam pada itu dengan wajah hijau membesi Hasan telah membentak:

"Anjing bangsa Han, terimalah kembali tiga batang anak panahku ini !"

Ditengah bentakan nyaring, ia bcabut tiga batadng anak panah daan sama-sama dibpasang diatas busur, lalu merentangkan gendewa tadi dan sekali lagi melepaskan anak anak panah itu kearah lawan.

Datangnya serangan dari tiga batang anak panah ini aneh sekali, senjata tersebut tidak meluncur dengan garis lurus melainkan serong dan berputar kesamping, kemudian yang satu diatas dan yang lain dibawah laksana gulungan ombak ditengah samudra mengacau datang.

Mimpipun Kian Hoo tidak pernah menyangka dalam permainan anak panahpun terdapat kepandaian sehebat ini, berhubung datangnya ancaman tiga batang anak panah itu tak menentu terpaksa ia menanti ditengah kalangan dengan tenang untuk sementara waktu tidak menunjukan gerakan apapun.

Anak panah meluncur datang dengan cepat-nya, ketika berada tujuh delapan depa di hadapannya, anak panah yang berada ditengah mendadak berputar arah dan menyerang dari arah kanan, sedang dua batang sisanya mengancam datang dengan arah yang makin kacau, kiri kanan saling bersambaran entah arah mana yang sebenarnya diancam, membuat orang jadi kebingungan setengah mati. Ditengah rasa kaget dan melengak, tidak ada waktu bagi Kian Hoo untuk berpikir panjang, terpaksa ia harus menghadapi dahulu anak panah yang mengancam datang lebih dahulu itu, pergelangannya dikerahkan tenaga, ujung pedang membentuk kuntum kuntum bunga pedang dan segera membabat keatas anak panah itu.

Sreeeet ! Sreeet ! ditengah desiran nyaring, batang bambu diatas anak panah tersebut berhasil dihancurkan lumatkan dan rontok keatas tanah, tetapi ujung panah yang terbuat dari besi berhasil menembusi pertahanan bunga bunga pedang dan langsung mengancam keatas tubuhnya.

Air muka Liem Kian Hoo berubah hebat, buru-buru ia gunakan tangannya sebelah untuk mencengkeram ujung anak panah itu pula ditengah desiran tajam dua batang anak panah lainnya telah mengancam datang.

Sianak muda itu kehabisan akal, mengikuti gerakan yang sama ia getarkan bunga bunga pedang uutuk menyambut datangnya serangan itu. Criiiiing .. . ! anak panah kedua berhasil mencelat kesamping. Kraaaak . . . ! anak panah ketiga patah jadi dua bagian.

sekalipun begitu mara bahaya bbelum lenyap, andak panah yang maencelat keangkabsa itu berputar satu lingkaran ditengah udara kemudian meluncur kembali kebawah dan mengancam dari belakang punggung, sedangkan anak panah yang berhasil dibabat patah itu mengikuti desiran tajam meluncur pula mengancam tubuhnya.

Dalam keadaan terdesak dan apa boleh buat terpaksa sianak muda itu membentak keras, pedang dalam genggamannya segera disentil kearah anak panah itu, kemudian seluruh hawa murni yang dimiliki disalurkan kedalam tubuh membuat baju-nya, menembusi hawa khie- kang pelindung badan dan menggurat kulit badan, meski serangan berhasil menembusi pertahanan lawan namun sianak muda itu cuma terluka sedikit saja. Liem Kian Hoo jadi teramat gusar, sinar matanya berapi api, ia membentuk keras, pedangnya diiringi cahaya hijau laksana kilat meluncur kearah tubuh Hasan, ujung pedang laksana jilatan lidah ular beracun langsung menusuk tenggorokannya.

Menyaksikan sianak muda itu berhasil menghindarkan diri dari ancaman panah bergelombang yang dilepaskan, Hasan tertegun dan melengak, belum sempat ia berpikir lebih jauh ujung pedang lawan telah mengancam datang, terpaksa ia gunakan busur dalam genggamannya untuk menangkis datangnya ancaman tersebut

"Kraaaak....!" gendewa itu patah jadi dua bagian terbabat pedang lawan, busur yang menekuk segera memantul kembali dan menyambut datangnya serangan berikutnya, dalam bentrokan ini Liem Kian Hoo merasakan pergelangannya jadi kaku dan panas, pedangnya tak sanggup dipertahankan lagi dan lepas dari tangan.

Hasan sendiripun tergetar mundur sejauh tiga langkah lebih, busur itu tak dapat dipertahankan dan mengetarkan lewat, bersama itu pula telapak tangannya terluka sepanjang setengah coen, darah segar mengucur keluar dengan derasnya membuat ia kesakitan sekali.

Ditengah rasa sakit yang menyerang badan-Hasan menjadi kalap, ia sambar sebatang tombak langsung ditusukan ketubuh sianak muda itu.

Setelah pedangnya tergetar lepas, sianak muda itu jadi tak bersenjata, terpaksa ia sambut datangnya serangan dengan tangan kosong. Ditengah desakan hebat, Kian Hoo kerahkan seluruh tenaga yang dimilikinya, ditengah suatu babatan yang tajam ia berhasil mematahkan tombak yang mengancam datang itu jadi dua bagian.

Mimpipun Hasan rtidak menyangkat pihak lawan meqmiliki tenaga srakti sehebat itu, ia tak berani maju lagi kecuali berkaok-kaok gusar, Liem Kian Hoo tak ingin bertindak malang tanggung, ia sambar pula dua batang tombak lain yang tertancap diatas tanah, sepasang lengannya bergerak dan mentah-mentah dua batang tombak tadi berhasil ditekuk hingga jadi dua buah gelang tembaga, diiringi suara nyaring gelang tersebut rontok keatas tanah.

Air muka Hasan berubah hebat, ia menjulurkan lehernya yang panjang dan kecil itu lalu melepaskan gelang leher yang tergantung pada lehernya tersebut.

Liem Kian Hoo tahu ia sudah terdesak hebat maka orang itu bersiap sedia mengunakan gelang lehernya untuk melakukan pertarungan yang menentukan antara hidup dan mati, ia tidak berani berayal hawa murninya segera disalurkan mengelilingi seluruh badan.

Hasan ayunkan tangannya, gelang leher itu segera meluncur datang dengan hebatnya, Liem Kian Hoo tahu lihay sedang pisau belati milik Sani pun tak ada dalam genggaman, terpaksa ia kerahkan tenaga dalamnya membabat kearah gelang tersebut.

Siapa sangka diatas gelang leher Hasan itu dipasang sebuah mata rantai yang kecil, tidak menanti gelang tersebut bersentuhan dengan ujung telapak Kian Hoo, lengannya sudah disentakan ke belakang dan gelang leher itupun meluncur balik kebelakang.

Kemudian ia bersiul nyaring, suaranya keras memekikkan telinga, badannya yang tinggi besar berputar, meloncati beberapa orang dan segera melarikan dari tempat itu dengan terbirit-birit.

-oo0dw0oo-