Pedang Bunga Bwee Jilid 04

Jilid 04

DI LUAR dugaan, setelah ditampar Liem Kian Hoo sama sekali tidak memberikan reaksi, ia malah berdiri termangu- mangu ditempat semula.

"Kau berani kurangajar lagi dengan diriku ?" Tegur Toan Kiem Hoa dengan nada dingin, serentetan cahaya aneh berkelebat diatas mata Kian Hoo.

"Cianpwee, kau..." serunya.

"Tidak usah banyak bicara lagi, aku sedang menanyakan bagaimana sikapmu ?". "Siap mendengarkan titah dari cianpwee." Liem Kian Hoo menyahut dengan sikap hormat.

Peristiwa ini tentu saja mencengangkan hati Tonghong It Lip serta Mong Yong Wan, mereka tidak tahu apa sebabnya sikap sianak muda itu bisa berubah demikian cepat, walaupun Liem Kian Hoo sudah kena ditampar, namun mereka tahu perubahan sikap si bocah muda itu pasti bukan disebabkan alasan tersebut.

Toan Kiem Hoa sama sekali tidak memberi kesempatan bagi mereka berdua banyak berpikir serunya dingin:

"Kenapa kalian belum juga berlalu ? apakah menunggu pesta perpisahan lebih dulu ?".

Tonghong It Lip serta Mong Yong Wan saling bertukar pandangan sekejap, kemudian putar badan dan berlalu.

Menanti bayangan kedua orang itu sudah lenyap dari pandangan, Toan Kiem Hoa baru berpaling kearah Watinah sembari memerintah:

"Gotong orang yang terluka itu kedalam rumahku, perjalanan harus dilakukan rada cepat, kalau tidak ia tidak akan tertolong lagi".

Yang di maksudkan adalah Loo Sian Khek, maka tanpa banyak bicara lagi Kian Hoo segera menggotong tubuhnya dan siap melanjutkan perjalanan. Dalam pada itu laksana seekor burung putih Toan Kiem Hoa sudah enjotkan badannya dan lenyap dibalik sebuah tikungan. 

Menantikan bayangan tubuh perempuan inipun lenyap dari pandangan, dengan rasa-tercengang Watinah baru berkata:

"Koan lang, sikap suhu aneh sekali, belum pernah ia bersikap murah hati kepada siapapun!"

Liem Kian Hoo tidak kasi komentar, ia cuma berseru: "Dimanakah suhumu berdiam ? mari kita segera kesana, jangan sampai terlambat sehingga mengakibatkan kematian Loo heng."

"Aku telah melanggar peraturannya perguruan, suhu pasti akan menghukum diriku, entah bagaimana nasibku selanjutnya...?" ujar Watinah pula dengan hati sedih.

"Kau boleh berlega hati, aku tanggung suhumu pasti akan mengampuni jiwamu.". Ucapan tersebut begitu yakin dan mantap memaksa Watinah tanpa sadar berpaling kearahnya, Liem Kian Hoo tersenyum, ujarnya kembali:

"Tak usah kau tanyakan apa alasannya, yang penting aku tidak membohongi dirimu !".

Habis bicara tanpa menanti jawaban lagi ia bergerak mengejar kearah mana Toan Kiem Hoa lenyapkan diri tadi, Watinah tertegun sesaat akhirnya iapun ikut mengejar dengan kencangnya.

-o0o-

Bukit terjal berdiri menjulang ke angkasa, kabut tebal menyelubungi sekeliling puncak tersebut Pohon bambu nan hijau, selokan dengan air yang jernih serta bunga bunga gunung yang indah semerbak membuat bukit tersebut indah dan mempersonakan hati siapapun juga.

Liem Kian Hoo benar-benar terpesona oleh pemandangan yang berada dihadapannya, ia tarik napas panjang-panjang dan ujarnya kepada Watinah yang ada disisinya:

"Tidak aneh kalau suku Biauw menganggap suhumu sebagai malaikat, cukup ditinjau tempat tinggalnya sudah mencerminkan liesensuatu tempat yang indah bagaikan nirwana. Aaaaai... begitu indah menawan pemandangan ditempat ini, membuat pikiran serta perasaanpun ikut terbuai kealam impian." Watinah tidak ingin menghilangkan kegembiraan orang, ia menghela napas dan menyahut:

"Koan-lang sudah lama hidup ditanah Tiong-goan yang penuh dengan pemandangan indah, apakah kau tertarik oleh kejelekan tanah Biauw kami yang gersang dan tidak menarik ini ?".

"Haaaa... haaaa... haaaa... dimanapun manusia berada tentu akan menjumpai bukit-bukit yang indah mempersonakan, kalau diingat dengan kata-kata orang kuno yang menyatakan gunung itu jelek dan mengerikan, maka aku rasa pujangga tersebut harus digablok mulutnya agar tahu rasa..."

Watinah tidak paham mengapa sikap sianak muda mendadak bisa berubah begitu riang dan gembira, sejak digablok oleh Toan Kiem Hoa, seolah-olah Liem Kian Hoo telah berubah jadi manusia lain, kegembiraannya bukan saja lenyap bahkan terlipat ganda, hal ini membuat ia tidak habis mengerti dan tidak menjawab.

Agaknya Liem Kian Hoo dapat merasakan kemurungan gadis itu, sambil tersenyum ia menegur:

"Watinah mengapa kau selalu tidak senang hati ? apakah kau kuatir suhumu tidak akan melepaskan dirimu ?".

Dengan sedih Watinah mengangguk, beberapa saat ia termenung lalu sambil menghela napas katanya: "sewaktu pertama kali ku temui diri Koan lang, aku telah sadar bahwa Koan lang memiliki ilmu silat yang sangat lihay, kemudian akupun kagum oleh tingkah laku serta watak Koanlang, maka dari itu dengan tidak tahu malu aku menyatakan perasaan hatiku kepadamu, bahkan aku sudah melupakan peraturan perguruan yang ketat. Sebetulnya aku masih mengharapkan dengan kepandaian yang Koan lang miliki bisa kalahkan suhu, meski akhirnya namaku rusak, namun bisa mengiringi Koan lang tidak sia sia pula hidupku. siapa sangka apabila Koan lang dibandingkan dengan suhu, maka kau masih selisih amat jauh maka aku tidak berani bayangkan bagaimana keaadaann kita selanjutnya".

"Tentang soal ini tak usah kau pikirkan lebih jauh, aku mengakui suhumu memang sangat lihay, jangan dikata aku bukan tandinganya, meskipun umat dunia yang ada dewasa inipun jarang sekali ada yang bisa menandingbdabi beliau, tetapi aku tak usah kuatirkan soal itu, aku percaya suhumu tidak akan menyusahkan diriku dan kaupun boleh berlega hati."

"Apakah Koan lang kenal dengan guruku ?" tanya Watinah dengan nada curiga. Liem Kian Hoo segera menggeleng.

"Boleh dikata kenal, boleh dikata pula tidak kenal, sebab aku belum pernah berjumpa dengan dirinya, tentu saja tak boleh dikatakan kenal, tetapi antara aku dengan dirinya pernah terkait selapis hubungan. dan hubungan ini tak berani kuberitahukan kepadamu, tunggu saja setelah aku selesai berunding dengan suhumu baru ambil keputusan bagaimanapun juga ia tidak akau menganggap aku sebagai musuh lagi."

Karena menjumpai sianak muda itu sangat merahasiakan persoalan tersebut, terpaksa Watinah memendam pertanyaannya kedalam hati. Dalam pada itu mereka berdua semakin mendekati puncak, kabut-pun semakin tebal menyelimuti jagat ditengah lapisan kabut yang tebal secara lapat-lapat tampak beberapa buah bangunan berdiri dengan megahnya disitu. Watinah segera menuding kedepah dan teriaknya:

"Guruku berdiam disana, beberapa deret bangunan yang paling depan adalah tempat kami berlatih ilmu silat, kemudian di belakangnya merupakan tempat dimana beliau bersemedi, sekalipun kami adalah anak muridnya namun di larang mengunjungi tempat itu." " Kalau begitu mari kita menunggu ditempat ini saja !" kata sianak muda itu sambil berhenti. Belum lama mereka menanti, dari balik kabut yang tebal muncul dua orang manusia, yang satu adalah Luga yang pernah ditemui sewaktu berada dalam pesta bulan purnama. dan yang lain adalah seorang gadis suku Biauw yang berusia dua pulu tahunan, namun wajahnya amat jelek sekali.

"Toa suci !" buru-buru Watinah menyapa seraya menjura. "Siauw Moay mendapat perintah da..."

"Suhu telah berpesan. beliau memerintah kau membawa Liem Kongcu menuju kebelakang dan serahkan orang yang terluka itu kepada Luga" tukas gadis jelek itu dengan dingin, selintas perasaan girang berkelebat diatas wajah Watinah, sementara Luga dengan wajah hambar maju menerima tubuh Loo Sian Khek dari tangan Liem Kian Hoo, secara lapat lapat sinar matanya masih mengandnng rasa benci dartqrn dendam.

Dengan rasa tidak tenteram Liem Kian Hoo awasi bayangan tubuh Luga sambil mengempit Loo Sian Khek masuk kedalam sebuah bangunan rumah agaknya gadis jelek tadi dapat meraba isi hatinya, dengan nada dingin lagi hambar serunya:

"Harap kongcu berlega hati, suhu telah memerintahkan Luga untuk merawat dan mengobati luka sahabatmu itu, aku rasa tak bakal ada persoalan yang terjadi."

Merah jengah selembar wajah Liem Kian Hoo.

"Cahye sama sekali tidak bermaksud demikian, harap enci jangan banyak menaruh curiga " katanya.

"Hmmm ! harap kongcu jangan panggil aku sebagai enci, aku tidak punya rejeki sebaik itu ". sebenarnya Liem Kian Hoo bermaksud baik, ia tidak mengira bisa ketanggor batunya, wajahnya berubah semakin merah hingga mirip babi panggang. Dengan sikap serta pandangan dingin gadis itu putar badan lalu berialu dari sana. Watinah yang ada di sisinya takut Liem Kian Hoo jadi riku, buru-buru ia maju dan berbisik lirih:

"Harap Koan-lang jangan tersinggung, selamanya toa suci ku memang berwatak demikian!"

"Eeehmm... watak toa sucimu ini memang hebat sekali." sambung sianak muda itu tertawa jengah.

"Aaaaai...! terhadap setiap orang Toa suci tidak selalu bersikap dingin dan hambar, terutama sekali terhadap diriku, ia sangat baik bagaikan terhadap saudara kandung sendiri, tapi ini hari... berhubung ada Koan-lang..".

Liem Kian Hoo melengak.

"Bukankah aku tidak menyalahi dirinya ? aku panggil dia enci berhubung usianya lebih tua daripada diriku ".

"Aaaai..! Toa suci paling dia benci dengan orang laki, terutama laki-laki bangsa Han. Dahulu dia adalah gadis cantik kenamaan dalam wilayah Biauw, entah bagaimana kemudian ia jatuh cinta dengan seorang lelaki bangsa Han, lelaki itu adalah seorang jual obat yang merantau kesana kemari, dengan rayuan yang manis serta janji yang muluk-muluk akhirnya lelaki itu berhasil mendapatkan hati Toa-ci, ternyata lelaki itu hanya mengincar harta serta kepandaian silatnya belaka.

Toa suci adalah murid kesayangan suhu dan merupakan kepala suku dari kelompok suku Huang-Kiem atau emas murni. Dalam wilayah sukunya banyak terdapat tambang emas yang ternilai harganya.

Setelah lelaki itu kawin dengan Toa suci dan berhasil mempelajari seluruh kepandaian silat yang dimiliki, diam-diam ia turun tangan keji hendak membunuh Toa suci dengan racun, kemudian membawa pasir emas yang dihasilkan dalam daerah tersebut melarikan diri balik kedaratan Tionggoan. Untung Toa suci berhasil diselamatkan jiwanya oleh suhu, tetapi wajahnya pun jadi rusak dan jelek macam begini...".

"Aaaah, tidak aneh kalau ia bersikap demikian Lelaki macam itu memang patut dibunuh, apakah Toa sucimu lepaskan dirinya begitu saja ?".

"Tentang soal ini akupun kurang jelas, sejak terjadi peristiwa tragis itu Toa suci selalu mendampingi suhu, bahkan jabatan kepala sukupun diserahkan kepada orang lain, bukan begitu saja nama lelaki itupun tak pernah diungkap olehnya, kejadian ini sudah berlangsung puluhan tahun berselang waktu itu aku masih kecil dan tidak begitu jelas terhadap semua kejadian."

"Sewaktu aku masih belajar silat digunung, ia selalu berpesan kepadaku agar jangan sekali-kali kawin dengan bangsa Han, ia menganggap setiap lelaki tak boleh dipercaya terutama lelaki bangsa Han, sikapnya kurang hormat terhadap dirimu, aku rasa hal ini tentu disebabkan laporan dari Luga.."

"Aaaaah, tidak boleh jadi, pendapatnya benar benar Bo cengli." seru Kian Hoo seraya menggeleng. "Mana boleh ia anggap seluruh bangsa Han adalah bajingan berhubung ia telah bertemu dengan seorang bajingan? kalau ada kesempatan aku pasti menjelaskan hal ini kepadanya.".

"Koan-lang, lebih baik jangan cari penyakit buat diri sendiri, watak toa suci kaku dan keras, tidak gampang ia suka mendengarkan nasehat orang bahkan suhupun tidak mengurusi dirinya, buat apa Koan-lang banyak urusan ?. ini hari, seandainya bukan ia ketahui bahwa kau punya hubungan dengan suhu, mungkin seketika itu juga ia akan bikin keonaran terhadap dirimu, ilmu silatnya terpaut tidak seberapa jauh dari Suhu, dus berarti ia sangat berbahaya bagimu. Asal di-kemudian hari Koan-lang bisa membuktikan bahwa kau bukanlah manusia seperti apa yang dibayangkan, dengan sendirinyaliesen kesalahan paham ini bisa hapus dengan sendirinya." "Bicara setengah harian, kiranya kau tidak percaya terhadap diriku?" seru sianak muda itu tersenyum.

"Pikiranku tidak secupat toa suci, setelah kuserahkan seluruh jiwa ragaku kepada Koan-lang berarti pula aku sudah siap menerima segala yang bakal terjadi, sekalipun Koan-lang adalah lelaki macam seperti aku tidak menggubris, bila kemudian hari Koan-lang merasa bosan terhadap diriku tak usah kau gunakan pelbagai cara untuk mencelakai diriku, katakan saja kepadaku maka seketika itu juga aku bisa membereskan nyawaku sendiri."

Liem Kian Hoo merasa amat terharu oleh ucapan-nya, segera ia berseru:

"Watinah, percayalah kepadaku, aku bukan manusia macam itu.".

"Hmmm ! terhadap lelaki yang pandai merayu lebih-lebih harus waspada dan hati-hati, sebab lelaki macam begini paling tak boleh dipercaya." mendadak dari sisi mereka berkumandang suara yang amat dingin,

Dengan kaget Liem Kian Hoo angkat kepala, kiranya perempuan jelek tadi telah muncul kembali disitu dan berdiri tidak jauh dari mereka.

Diam-diam ia dibikin kaget oleh kesempurnaan ilmu gin- kang nya, disamping itu hatinya pun merasa panas oleh perkataan tersebut Dengan wajah membesi serunya:

"Aku sedang menyampaikan isi hatiku kepada Watinah, apa sangkut pautnya dengan dirimu ? kau tidak puas terhadap bangsa Han itu urusanmu sendiri, kau tidak berhak untuk menilai dan bandingkan tingkah laku-ku, lebih-lebih kau curi dengar pembicaraan kami".

Diam-diam Watinah kuatir sekali, ia takut kekasihnya bentrok dengan perempuan jelek itu. Siapa sangka Toa suci dari Watinah itu tergerak hatinya, ia cuma berkata kembali dengan nada dingin:

"Aku tidak punya waktu sesenggang ituuntuk curi dengar rayuanmu itu, apa yang kau ucapkan sesuai dengan apa yang kau pikirkan !"

"Aku bertindak menurut isi hatiku, tak usah kau peringatkan diriku ! " teriak sianak muda itu marah-marah.

Dari sikapnya yang gagah dan sama sekali tidak menunjukkan perasaan takut ini. Gadis jelek itu malah tertawa, nada suarapun sbdabemakin lembut ujarnya ringan:

"Lebih bagus kalau kau bertindak demikian hitung-hitung aku sudah menguatirkan siauw sumoay ku dengan sia-sia belaka. Suhu telah menantikan kedatangan kalian, pembicaraan semacam ini lebih baik kita lanjutkan saja dikemudian hari".

Liem Kian- Hoo jadi agak sungkan setelah mendengar suara gadis jelek itu makin lunak, dengan wajah kalem iapun mengangguk.

"Harap cici-suka membuka jalan !". gadis jelek itu putar badan dan berlalu, terhadap sebutan cici itupun tidak menunjukkan reaksi lagi. Liem Kian Hoo serta Watinah segera menyusul diri belakang, melewati sederetan bangunan dan melewati sebuan jalan kecil yang penuh dengan rumput hijau.

Selama ini gadis jelek itu berjalan dengan mulut membungkam, bayangan punggungnya kelihatan molek dan menarik hati, Liem Kian Hoo menduga usianya baru dua puluh tahunan, tapi setelah mendengar cerita dan Watinah ia baru tahu bahwa usianya hampir mendekati empat puluh tahunan, terutama sekali teringat peristiwa tragis yang menimpa dirinya, sianak muda ini merasa simpatik dan lupakan segala tingkah lakunya yang kurang sopan. Bahkan dalam hati ia berjanji setibanya didaratan Tionggoan akan dicarinya lelaki tidak setia itu untuk dikasi pelajaran. Gadis jelek yang berjalan dengan didepan mendadak berpaling sambil berkata.

"Kau tak usah mencampuri urusan orang lain, persoalanku tidak ingin dicampuri orang lain !"

Liem Kian Hoo terperanjat tanpa sadar ia berseru "Cici, darimana kau bisa tahu apa yang sedang kupikirkan didalam hati..?". Gadis jelek itu berpaling dan bungkam dalam seribu bahasa. Liem Kian Hoo ingin bertanya lebih jauh, tapi ketika itulah mereka sudah tibadidepan sebuah bangunan bambu dan berhenti.

Dari balik ruangan berkumandanglah suara dari Toan Kiem Hoa:

"Sani dan Watinah tunggu diluar, biarkan bocah muda itu masuk kedalam seorang diri !".

Sekarang Liem Kian Hoo baru tahu bahwa, gadis jelek itu bernama Sani, ketika merasa mendengar pesan dari Toan Kiem Hoa kelihatan air mukanya menunjukkan rasa tercengang.

Sianak muda itu tersenyum, mendorong pintu dan masuk ke-dalam, perabot yang ada didalam ruangan itu sederhana sekali drtqran cuma sebuah tikar belaka, ketika itu Toaa Kiem Hoa sedang duduk bersila diatas tikar tadi sambil menatap mutiara diatas ujung ikat pinggangnya dengan mata mendeIong.

Dengan amat hormat Liem Kian Hoo menjura, lalu sapanya: "Cianpwee !".

"Kau cuma bisa panggil aku sebagai cianpwee belaka ?" tanya Toan Kiem Hoa sambil angkat kepala. "Boanpwee tidak tahu bagaimana harus memanggil diri cianpwee, sebab boanpwee hanya mendapat pesan untuk menyampaikan sepatah kata kepada orang yang membawa mutiara itu.".

"Apa yang hendak disampaikan ? dan urusan apa ?".

"Ia berharap mutiara tersebut bisa disatu padukan, disamping itu menyampaikan pula dua patah syair yang berbunyi:

"Hubungan kasih hanya sebagai kenangan indah. peristiwa laksana impian indah yang lenyap setelah mendusin...".

"Cuma dua patah kata ini belaka ?" tanya Toan Kiem Hoa dengan wajah sedih.

"Benar, Cuma dua patah kata ini !"

"Aaaaaai ! sedikitpun tidak salah, dua patah kata ini telah mencakup seluruhnya, pemuda tampan gadis cantik air mata bercucuran kecewa dan menyesal mengapa tidak berjumpa sebelum nikah, memang tidak pantas kami saling berjumpa, menghadiahkan mutiara tanpa cinta yang mendalam, mengapa aku harus menghambat pengembalian benda itu ? apakah mutiara ini harus di serahkan kepadamu ?".

"Benar, boanpwe membutuhkan mutiara itu, sebab dengan andalkan benda tersebut harus pergi melakukan pekerjaan ! ".

Tiba tiba air muka Toan Kiem Hoa berubah jadi lunak, ia tatap sianak muda itu tajam tajam, dibalik sinar matanya penuh mengandung rasa sayang yang tak terhingga, setengah harian lamanya ia bungkam kemudian baru menghela napas panjang.

Cukup meninjau dari wajahmu, sudah sepantasnya aku tahu siapakah kau, darimana kau bisa tahu akan diriku?"

"Boanpwee sendiripun tidak tahu, sewaktu mendapat perintahnya ia sama sekali tidak tahu pula kalau cianpwee ada diwilayah Biauw, dan akhirnya aku berhasil temukan cianpwee sedemikian cepat, hal ini boleh dikata merupakan takdir ".

"Takdir... takdir..." Toan Kiem Hoa ulangi kata-kata tersebut sampai beberapa kali, ia baru menghela napas.

"Mungkin perkataanmu benar, inilah kehendak takdir. Takdir memang ampuh dan tak bisa dihindari ! ia tidak tahu siapakah aku dan akupun tidak tahu siapakah dia, berkumpul sedetik untuk kemudian berpisah kembali, meski demikian... cinta kami bersemi diatas mutiara tersebut, dua puluh tahun sudah lewat, mutiara ini memang sudah sepantasnya dikembalikan kepadamu. Tahukah kau cara penggunakannya

?".

"Tahu. sewaktu hendak berangkat boanpwee pun membawa serta hioloo Ci-Liong Teng itu "

Toan Kiem Hoa termangu-mangu, beberapa kali bibirnya bergerak seperti mau mengucapkan sesuatu namun dibatalkan, sedangkan Liem Kian Hoo pun sedang memikirkan banyak persoalan, ia ingin bicara namun takut untuk mengutarakannya keluar.

Ketika masing-masing pihak menemukan keadaan yang serba rikuh ini, akhirnya Toan Kiem Hoa buka suara lebih dahulu, ia bertanya. "Apa yang hendak kau ucapkan ?"

"Mungkin tidak pantas bagi boanpwee untuk mengajukan pertanyaan ini, tempo dulu cianpwee dengan...".

"Apakah ia tidak menceritakan hal itu kepadamu ?".

"Tidak, boanpwee sedang berada dibalik kabut kemisteriusan, sedikit ilmu silat yang kumiliki pun berkat ajaran dari suhuku si Nabi seruling Liuw Boe Hwie, hingga musim semi tahun ini menjelang tiba, boanpwe baru mengetahui sedikit duduknya perkara dan belajar ilmu silat selama sepuluh hari untuk kemudian diutus keluar.". "Oooouw...! kiranya begitu, tidak aneh kalau jurus Giok Sak Ci Hun tersebut baru mencapai dua bagian kesempurnaan, kalau tidak niscaya aku masih tidak mengerti. Ditinjau dari keadaan ini, kau memang masih butuhkan latihan yang-rajin dan giat, ambillah mutiara ini. Tempatku ini, sangat hening dan tenang, gunakanlah tempat ini untuk perdalam ilmu silatmu..."

Ditengah sentilan jarinya yang enteng, mutiara tadi dengan menciptakan serentetan cahaya putih segera meluncur kehadapan Liem Kian Hoo.

Dengan cepat sianak muda itu menerimanya, sebelum ia bertindak sesuatu, Toan Kiam Hoa telah bangun berdiri sambil berdiri sambil berpesan:

"Dalam berlatih silat pikiran tak boleh bercabang, kaupun tak usah bertemu dengan Watinah lagi, aku akan lindungi keselamatanmu dari luar. Satu bulan kemudian kau boleh berlalu bersama-sama dirinya ! hitung-hitung rejeki bocah perempuan itu baik sekali, kalau tidak memandang diatas wajahmu, terhadap perbuatannya yang menghianati perguruan, aku pasti akan menghukum berat dirinya !".

Mendengar ucapan itu Kian Hoo jadi kegirangan setengah mati.

"Terima kasih cianpwee ! tempo dulu cianpwee..."

Tidak menanti ia selesaikan ucapannya Toan Kaem Hoa sudah mengerti apa yang sedang dipikirkan sianak muda itu, ia goyang tangan dan berseru:

"Apalagi ia tidak ceritakan kejadian masa silam kepadamu, akupun tidak ingin bongkar rahasia ini, berlatihlah disini dengan hati tenteram, jangan pikirkan hal hal yang tak berguna".

"Baik, boanpwee akan turut perintah !". Toan Kiem Hoa tersenyum, ia segera berjalan keluar dari ruangan itu, baru berjalan beberapa langkah mendadak ia berhenti dan bertanya dengan wajah serta sikap yang aneh.

"Apakah selama ini ia baik-baik saja? apakah masih seperti keadaan tempo dulu?".

"Ia sudah lebih tua dari keadaan semula, tidak seperti cianpwee tetap awet muda, hanya kesehatanmu tetap terjamin dan selalu dalam keadaan sehat walafiat."

"Aaaaai, dalam kenyataan akupun sudah tua, tua dalam pikiran dan perasaan, wajah serta lahiriah yang tetap muda tak bisa digunakan sebagai patokan. Manusia lambat laun akan semakin tua, kalau dipikir justru wajahku yang tetap awet muda ini malah menambah kelucuan pada diriku".

Ditengah helaan napas panjang, ia bergerak keluar dan lenyap dibalik pintu.

Dengan termangu-mangu Liem Kian Hoo duduk mendeprok dalam ruangan tersebut, pelbagai masalah berkecamuk dalam benaknya, lama.. lama sekali, tiba tiba korden tersingkap dan sigadis jelek Sani pun muncul sambil membawa sekeranjang buah-buahan. Ketika menyaksikan sianak muda itu duduk termangu-mangu, dengan suara keras ia segera menegur:

"Bukankah suhu perintahkan kau pusatkan pikiran dan jangan berpikir yang bukan-bukan ? ayoh, jangan buang waktu dengan percuma lagi, cepatlah, mulai dengan usahamu, kalau lapar makan buahan tersebut, selama sebulan ia tidak bakal datang kemari lagi, kalau ada urusan sampaikan saja kepadaku !".

Liem Kian Hoo terperanjat, buru-buru ia pusatkan pikiran dan menyahut.

"Baiklah, terima kasih cici !".

Sani mendengus dingin, ia putar badan dan berlalu. Beberapa saat Liem Kian Hoo duduk tenang, akhirnya ia ambil keluar hioloo Ci-Liong-Teng itu dari saku dan diletakan diatas tikar, kemudian meletakan pula mutiara tadi keatas tutup hioloo dimana semula mutiara tersebut terletak.

Kejadian aneh segera berlangsung didepan mata, mutiara tadi dengan cepat memancarkan cahaya keperak-perakan yang tipis membuat warna tembaga diatas hioloo itu jadi terang dan bening sekali, ditengah keheningan itulah secara lapat-lapat muncul pelbagai gambaran serta tulisan yang aneh di-atas dinding hioloo tersebut.

Beberapa saat lamanya Liem Kiem Hoo periksa tulisan tadi, mendadak sekilas cahaya kegirangan berkelebat lewat diatas wajahnya, diikuti tidak lama kemudian seluruh pikirannya telah terbenam dan tercurahkan diatas tulisan-tulisan itu...

Setelah melewati masa satu bulan yang panjang dan lama, akhirnya Liem Kian Hoo sadar dari keadaan yang kosong, suasana dalam ruangan sama sekali tidak berubah, kecuali tempat dimana selama ini ia duduk bersila muncul sebuah bekas lekukan yang dalam dan nyata.

Dibawah tikar sebetulnya beralasan batu hijau yang keras lagi kuat, ketika sianak muda itu bangun berdiri dan menyaksikan lekukan diatas batu tersebut sepasang alisnya kontan berkerut, diikuti ujung bajunya dikebas kedepan, bekas lekukan tadi seketika lenyap tak berbekas, permukaan batu jadi halus dan licin bagaikan sebuah permukaan cermin.

Liem Kian Hoo tersenyum, ia tahu usahanya selama ini telah berhasil, ia lantas menyingkap korden dan berjalan keluar, dimana terlihat Toan Kiem Hoa serta gadis jelek Sani berdiri menanti sambil tersenyum.

Belum sempat sianak muda itu buka suara, Toan Kiem Hoa telah lari mendekat sambil mencekal tangannya erat-erat ia berseru dengan hati penuh kegirangan:

"Bocah, akhirnya kau berhasil juga..." serentetan suara sesenggukan memecahkan kesunyian, titik air mata jatuh berlinang membasahi wajahnya. Liem Kian Hoo sendiri dibikin kelabakan dan berdiri melongo-longo oleh tindakan perempuan itu, ia tak tahu apa sebabnya Toan Kiem Hoa bisa begitu terharu.

Agaknya Toan Kiem Hoa pun mendusin akan perbuatannya yang keterlaluan, buru-buru ia lepas tangan dan berkata dengan nada kikuk:

"setelah menyaksikan kau berhasil dengan latihanmu, dan mengetahui pula keturunan sahabat karibku berhasil memiliki ilmu silat yang lihay, hatiku jadi kegirangan setengah mati, hampir saja melupakan segala hal...".

"Cianpwee, banyak terima kasih ! selama sebulan ini sudah terlalu banyak aku merepotkan diri cianpwee..." kata sianak muda itu pula dengan hati terharu.

Toan Kiem Hoa tersenyum lega dan membungkam dalam seribu bahasa, menanti beberapa saat tiada ucapan lain, Kian Hoo tak dapat menahan diri lagi, segera tanyanya :

"Dimanakah Watinah ? ".

Hilang lenyap senyuman yang semula menghiasi ujung bibir Toan Kiem Hoa. ia tidak menjawab.

Menyaksikan air muka perempuan itu menunjukan perubahan aneh, Liem Kian Hoo menyangka Watinah telah dijatuhi hukuman olehnya, ia jadi sangat gelisah.

"Cianpwee, bukankah kau sudah setuju untuk mengampuni segala kesalahannya ?" ia menegur.

Toan Kiem Hoa tetap membungkam dalam seribu bahasa. "Benarkah kau sangat memperhatikan keadaan Watinah ? "

Sela Sani dengan suara hambar.

"Tentu saja, kalian telah apakan dirinya ?" "Aaaaai...! nasibnya benar benar beruntung dan berhasil menjumpai manusia macam kau, tapi . . . kenapa Thian begitu keji dan kejam terhadap diriku ?"

Begitu sedih hatinya mengenang nasib buruk yang menimpa dirinya, Sani menangis tersedu sedu. Liem Kian Hoo jadi semakin cemas bercampur gelisah, teriaknya keras-keras:

"Sebenarnya bagaimana dengan diri Watinah ?"

"Ia diculik dan dibawa lari oleh Luga " kata Toan Kiem Hoa tiba tiba dengan nada benci.

"Binatang ini betul-betul terkutuk, seandainya aku berhasil menemukan dirinya, pasti akan kuhancur lumatkan tubuhnya, agar ia merasakan penderitaan dan siksaan bagaimana digigit dan digerumuti selaksa ulat ulat racun".

"Aaaaah ! sudah terjadi peristiwa semacam ini ?" Teriak sianak muda itu terperanjat.

Saking mendongkol dan marahnya, air muka Toan Kiem Hoa berubah pucat kehijau-hijauan, ia bungkam. Sani yang ada disisinya segera mewakili gurunya untuk menjawab:

"Watinah telah diculik dan dilarikan oleh Luga serta sahabatmu she Loo itu, selama ini bajingan tengik itu mengejar diri Watinah terus menerus, justru Watinah tidak tertarik kepadanya sungguh tak nyana kali ini ia berani melakukan perbuatan yang melanggar peraturan perguruan..."

"Lalu... ba... bbagaimana... bagdaimana jadinya a? Cianpwee ! subdahkah kau selidiki dan mengejar jejak mereka

?".

"Karena harus melindungi dirimu yang sedang melakukan latihan, maka suhu tak sanggup untuk pisahkan diri melakukan pengejaran." sahut Sani agak gusar, "sewaktu aku mengejar kearah tempat tinggal Luga, maka kutemui ia beserta orang she-Loo itu diikuti beberapa orang bangsa Han, dengan membawa Watinah melarikan diri tempat itu !" "Aaaah, mereka pastilah Ceng-Tiong-Su-Hauw empat manusia gagah dari Ceng-Tiong, tapi Loo Toako, mengapa ia bisa~ berbuat demikian.".

"Otak Luga sangat sederhana sekali, lagipula iapun tidak akan mempunyai nyali sebesar ini, aku rasa kejadian ini sebagian besar pasti muncul dari benak manusia she~Loo itu. Hmmm ! bukankah sejak semula aku sudah bilang, bangsa Han tak ada yang baik, mereka semuanya adalah manusia manusia jahanam, manusia manusia laknat !".

Liem Kian Hoo amat tersinggung, hawa gusar menyelimuti seluruh wajahnya. Menyaksikan kegusaran orang, buru buru Sani berkata kembali:

"Tentu saja terkecuali dirimu ! ".

Dalam keadaan serta situasi macam begini, Liem kian Hoo tidak ingin beradu mulut dengan perempuan jelek ini, buru buru ia berkata kembali:

"Ilmu silat Loo Sian Khek ada batasnya, sedangkan kepandaian silat yang dimiliki Luga pun tidak akan lebih lihay dari Watinah, secara bagai mana mereka dapat membekuk dan menculik Watinah ?".

"Watinah diculik dan dilarikan oleh mereka setelah dibius oleh obat pemabok " kata Toan Kiem Hoa dengan wajah membesi.

"Obat pemabok seperti itu cuma ada didaratan Tionggoan. oleh sebab itu kejadian ini pasti dipimpin oleh manusia she Loo itu, dia pastilah otak dari pada komplotan tersebut Hmm ! orang itu memang berwajah jujur dan gagah, sebenarnya ia licik, keji dan rendah martabatnya, seandainya ia tak ada hubungan dengan dirimu, aku pasti tak akan sudi menyelamatkan jiwanya ! dan seandainya aku bukan sedang melindungi dirimu, sejak tadi sudah ku kejar diri mereka." Liem Kian Hoo termenung dan bebrpikir beberapad saat lamanya, aia merasa gelisbahpun percuma, maka hatinya segera ditenangkan kembali.

"Benarkah mereka bisa bersembunyi sehingga bayangan dan jejaknya sama sekali lenyap tak berbekas ?" tanyanya.

"Seandainya aku tahu jejak serta tempat persembunyian mereka, buat apa menanti sampai detik ini...".

"Cianpwee, dapatkah kau wariskan kepandaian untuk menggerakkan ulat racun kepadaku ?" tanya LiemKian Hoo kembali setelah termenung beberapa saat, pertanyaan ini mencengangkan hati Toan Kiem Hoa.

"Kau bukan orang suku Biauw, mengapa hendak mempelajari kepandaian tersebut ? tanyanya.

"Watinah pernah menanamkan separuh dari Thian Hiang si nya kedalam tubuhku, aku dengar racun tersebut merupakan racun sakti pengganti sukma, meskipun berada beberapa ribu pal dari sini kedua belah pihak tentu akan merasakan reaksinya asal aku menggerakkan racun keji yang tertanam dalam tubuhku, bukankah dengan gampang aku berhasil temukan jejak mereka ?".

Toan Kiem Hoa tertawa dingin.

"Aku bergelar Ku Sin Poo, seandainya cara ini dapat di gunakan. kenapa aku harus menan ti sampai saat ini ?".

"Apakah sudah cianpwee jajal ?".

"Sejak semula aku telah melepaskan Ching Ku yang tertanam dalam tubuhku untuk melakukan pencarian, namun hasilnya nihil dan jejak mereka tak berhasil ditemukan, aku rasa agaknya mereka telah mendapatkan bantuan seorang ampuh untuk mensukseskan usahanya dan orang pasti mengerti sedalam-dalamnya kepandaian racun. maka dari itu ia berhasil memotong dan menghalangi perasaan halusku untuk mencari jejak mereka !" "Mungkinkah dikolong langit dewasa ini benar-benar ada orang yang memiliki ilmu racun, jauh lebih ampuh dari Cianpwee?" air muka Kian-Hoo berubah hebat.

Air muka Toan Kiem Hoa berubah hebat, ia kelihatan amat gusar sekali.

"Justru aku tidak percaya akan kejadian ini, tetapi peristiwa tersebut terang-terangan terjadi di hadapan ku, oleh karena itu aku bersumpah hendak selidiki peristiwa ini sampai jelas dan menemukan orangr yang secara ditam-diam melinduqngi serta membarntu mereka".

"Cianpwee, apakah kau punya keyakinan dapat menemukan mereka ?" Tanya sianak muda itu setelah tertegun beberapa saat lamanya. Kontan sepasang mata Toan Kiem Hoa melotot bulat-bulat.

"Kalau tidak berhasil temukan mereka, selama hidup aku malu berjumpa dengan manusia lagi ! " teriaknya.

Habis berseru, badannya laksana sebatang anak panah yang terlepas dari busurnya meluncur kedepan dan lenyap dari hadapan mereka berdua.

"Cianpwee ! jangan pergi dahulu, tunggu aku sebentar !" buru-buru Kian Hoo berteriak.

Tetapi suaranya hanya mengalun kosong di-angkasa, bayangan tubuh Toan Kiem Hoa tidak muncul kembali dihadapannya,

Dengan mendongkol Sani lantas menegur:

"Eeee...! kenapa sih kau bersikap demikian kurangajar terhadap suhu ? kenapa kau ucapkan kata kata semacam itu ? kau tahu, disebabkan peristiwa ini hatinya tertekan, dua jam setelah Luga menghianati perguruan, suhu telah mengetahui kejadian itu, seandainya ketika itu ia hendak cari mereka maka orang orang itu dengan gampang akan berhasil ditemukan, tetapi disebabkan dirimu, terpaksa ia harus tahan marah dan kegusaran yang meluap-luap untuk melindungi keselamatanmu..."

"Tapi, aku kan tidak membutuhkan perlindungannya ?". "Kau benar benar tidak tahu diri " seru Sani sambil tertawa

dingin. "pada waktu itu merupakan saat yang paling kritis bagimu dalam berlatih ilmu pernapasan, seandainya kau tak sanggup menguasahi diri maka kau bakal tertawa dan menangis sendiri seandainya bukan suhu salurkan hawa murninya lewat udara untuk bantu menenangkan hatimu, mungkin kau sudah habis sejak dulu. Selama hidup Su-hu berwatak keras hati, dalam wilayah Biauw pun-kcdudukannya sangai tinggi bagaikan malaikat, setelah terjadi peristiwa itu, nama besarnya mendapat pukulan hebat, tetapi demi dirimu ia tidak ambil perduli, aku benar benar tidak mengerti apa sebabnya ia bersikap begitu baik kepadamu, sudah banyak tahun aku mendampingi suhu, belum pernah kujumpai ia menaruh perhatian besar terhadap seseorang.".

Liem Kian Hoo yang mendengar perkataan tersebut jadi termangu-mangu dibuatnya, ditengah kebingungan ia mulai teringat, setiap kali ia berlatih hingga mencapai kekritisan selalu berhasil dihindari dengan lancarnya, ia tidak menyangka selama ini Toan Kiem Hoa membantu secara diam-diam.

Tapi, apa sebabnya Toan Kiem Hoa membantu dirinya ? apakah berdasarkan sedikit hubungannya dengan orang itu ? ditinjau dari nada ucapan Toan Kiem Hoa apakah hanya tempo dulu antara mereka berdua pernah ada hubungan yang cukup erat. Orang itu tak mau berterus terang, Toan Kiem Hoa pun tak mau bicara, sebenarnya apa yang terjadi tempo dulu ?

Setengah harian lamanya ia putar otak, namun gagal untuk menemukan alasan yang tepat. tapi ia sadar bahwa ucapan yang diutarakan tanpa maksud tadi sudah amat menyinggung perasaan halus Toan Kiem Hoa yang berwatak tinggi hati, maka ia berlalu dengan membawa hawa amarah. Teringat betapa cinta dan kasihnya perempuan itu terhadap dirinya, Kian Hoo merasa perbuatannya barusan memang kurang sopan, ia termenung beberapa saat lamanya, kemudian baru ujarnya kepada Sani:

"Demi Toan cianpwee, lebih lebih demi Wa-tinah, aku harus mencari Luga beserta komplotan-nya, hanya aku tak tahu arah tujuan, dapatkah cici memberi petunjuk kepadaku ?".

"seandainya guruku menjumpai bencana, sudikah kau membantu dirinya tanpa pikirkan keselamatan sendiri ?" tanya Sani setelah termenung sejenak, sepasang matanya menatap sianak muda itu tajam-tajam.

"Aaaah, mungkinkah Toan cianpwee menjumpai bencana ?" teriak Kian Hoo kaget.

"Aku sendiripun tidak tahu, tapi dalam perasaan hatiku selalu punya firasat tersebut, tahukah kau bahwa aku adalah berasal dari suku Huang Kiem atau Emas Murni, dalam suku kami terdapat sejenis ilmu hitam yang luar biasa, ilmu tersebut dapat meramalkan kejadianku belum sempurna, aku cuma dapat merasakan garis besarnya belaka !"

Terhadap ucapan ini Liem Kian Hoo percaya, sebab Sani pernah menebak tepat isi hatinya, setelah merandek ia baru berkata:

"Toan Cianpwec jauh lebih lihaby daripada diridku, dapatkah akau membantu diribnya ?"

"Dalam masalah ini persoalannya bukan mampu atau tidak, tapi sungguh-sungguhkah dirimu ? dan tulus iklas kah kau lakukan perbuatan ini ?"

"Jangan membicarakan soal budi yang pernah dilepaskan Toan cianpwee kepadaku, cukup ditinjau dari kedudukannya sebagai suhu dari Watinah, aku akan kerahkan segenap kemampuan ku untuk membantu dirinya, meski badan harus hancur lebur aku tidak akan menyesal !". "Bagus ! meninjau dari beberapa patah kata ucapanmu barusan, akan kurobah pandangan jelek-ku terhadap kalian bangsa Han, mari kita berangkat!"

"Hendak kemana ?"

"Tentang soal ini aku tak sanggup untuk menjawab, dengan kekuatan lari yang kita miliki dewasa ini tak mungkin bisa menyusul suhu lagi, tetapi menurut firasat yang muncul dalam hati sanubariku aku percaya disaat ia menjumpai situasi yang paling berbahaya kita sudah tiba disana!"

Liem Kian Hoo bungkam dan cuma mengangguk.

Demikianlah Sani segera pejamkan matanya, dengan kebatinannya yang kuat ia hendak tentukan arah yang harus dituju, kurang lebih seperempat jam kemudian ia baru buka mata, biji matanya berkilat dan teriaknya keras-keras:

"Ayoh berangkat! Malaikat pelindungku mengatakan arah yang harus kita tuju adalah selatan!"

Habis berkata ia berangkat lebih dahulu kedepan dengan gerakan cepat, Liem Kian Hoo masih menyangsikan ketepatan petunjuk yang didapatkan berdasarkan suara batinnya itu. namun dalam keadaan seperti ini tak mungkin baginya untuk berpikir panjang, badannya segera bergerak menyusul dari belakang.

Gerakan tubuh Sani amat cepat, badannya laksana segulung asap ringan meluncur kedepan melewati jalan gunung yang amat sempit lagi sulit dilalui. Mula-mula Liem Kian Hoo mengira ia tak bakal sanggup menyusul perempuan jelek itu, namun setelah mengepos napas ia baru sadar bahwa kemajuan yang diperoleh selama sebulan ini amat pesat sekali hingga berada diluar dugaan, badannya meluncur kemubka dengan ringadn dan enteng, maeski tak sanggubp melampaui namun tidak sampai tertinggal jauh. Demikianlah satu didepan dan yang lain di-belakang terbang mereka meluncur terus kedepan, ketika itu waktu sudah menunjukan senja hari, kurang lebih ada tiga jam lamanya mereka berlari dan beberapa ratus li telah dilewati tanpa terasa.

Jalan gunung tidak nampak lagi, mereka berlarian ditengah hutan yang lebat dan batu karang yang runcing dan berserakan dimana-mana, kabut tebal menyelimuti seluruh permukaan, binatang buas berkeliaran dimana-mana.

Selama ini Liem Kian Hoo hanya tahu melakukan perjalanan dan sama sekali tidak memperhatikan keadaan disekelilingnya, menanti perjalanan mereka terhadang oleh sungai, Sani baru berhenti disusul Kian Hoo pun ikut berhenti berlalu.

Menyaksikan Sani sigadis jelek itu beristitahat dengan napas tersengkal-sengkal dan keringat mengucur dengan derasnya, sianak muda itu sambil tersenyum lantas menegur:

"Cici, apakah kau merasa lelah sekali ?"

Sani mengerling sekejap kearahnya dan tersenyum. "Kongcu, kemajuan pesat yang kau peroleh selama sebulan

sama halnya dengan hasil latihan kami selama sepuluh tahun lamanya ! " ia berseru dengan nada memuji.

Liem Kian Hoo sendiripun tidak habis mengerti mengapa ia tidak merasakan badannya lelah, menyaksikan keadaan Sani ia sadar bahwa apa yang diucapkan sedikitpun tidak salah, terpaksa ia tertawa rikuh.

"Mungkin aku seorang lelaki, maka kekuatan tubuhku jauh lebih kuat dari pada kalian kaum wanita !".

"Kongcu, kau tak usah merendahkan diri, membicarakan dari kekuatan tubuhku tidak akan kalah dengan lelaki siapapun, kepandaian yang dipelajari kongcu hampir sebagian besar telah suhu wariskan kepadaku. Satu-satunya alasan yang masuk diakal adalah Kongcu betul-betul memiliki bakat yang luar biasa dan melebihi orang lain, tidak aneh kalau suhu memandang tinggi dirimu".

Tentu saja Liem Kian Hoo merasa kurang leluasa untuk mengakui alasan itu, namun iapun tidak punya alasan lain untuk menerangkan maka ia cuma tertawa bodoh sebagai jawabnya.

Dalam pada itu rSani termenung tbeberapa saat lqamanya, mendadark sambil menuding kearah air sungai yang terbentang dihadapan mereka ujarnya:

"Kongcu, tahukah kau tempat apakah ini ?"

Liem Kiem Hoo menggeleng, sungai tersebut tidak begitu lebar tetapi warna airnya sangat istimewa, air itu berwarna coklat kehitam-hitaman yang amat menyilaukan mata.

"Tempat ini merupakan daerah terlarang bagi suku Biauw kami, sungai ini disebut sungai Kematian, katanya ujung sungai ini bersumber dari Malaikat Kehidupan, tentu saja dongeng ini tak berfakta, tetapi tak ada pula manusia yang membantah tahukah Kongcu, apa sebabnya ?".

Liem Kian Hoo tidak mengerti mengapa ia ajukan pertanyaan tersebut, terpaksa ia menggeleng.

"AIasannya gampang sekali, sebab belum pernah ada orang yang berhasil tiba diujung sungai ini dan melakukan penyelidikan Air terjun, apabila ingin menyelidiki sumber air sungai itu maka seseorang harus menembusi air terjun itu lebih dahulu dan hingga sekarang belum ada orang yang berani melakukannya. Sebab air sungai ini mengandung bahan racun yang amat ganas dan dahsyat.

Barang siapa yang terkena air sungai ini maka badannya segera akan membusuk dan hancur, maka manusia manusia selihay suhupun tidak berani coba-coba melakukan penyelidikan Kongcu, tahukah kau apa maksudku membawa kau datang kemari ?". Liem Kian Hoo dibuat semakin bingung, dengan perasaan tidak habis mengerti ia menyahut:

"Aku rasa cici tidak bakal suruh aku terjun kedalam sungai untuk menyelidiki sumber air sungai ini bukan ...?"

"Itu sih tidak, aku datang kemari karena ingin mewujudkan cita-citaku, Kongcu sudah kau lihat wajahku ?".

Liem Kian Hoo masih belum mengerti maksud hatinya, tetapi menyaksikan sikapnya serius terpaksa ia menjawab:

"Aku dengar dari Watinah, tetapi disebabkan perbuatan manusia laknat maka wajahmu berubah jadi begini".

"Tidak salah ! Manusia laknat yang keji itu benar-benar terkutuk, aku rela mati dibunuh oleh-nya, tapi benci dan mendendam karena ia bertindak kejam dengan meracuni diriku hingga wajahku berubah jadi sangat jelek, satu-satunya harapan yang terkandung dalam hatiku selama ini adalah menuntut balas dan membinasakan manusia laknat tersebut."

"Memang tidak ada salahnya cici menuntut balas kepada munusia terkutuk itu, namun apa hubungannya dengan sungai ini ?"

"Hubungannya besar sekali. bajingan itu sangat licik dan banyak akal, seandainya aku keluar mencari dirinya dengar wajah macam begini, maka tujuanku akan kelihatan dengan nyata, begitu mendapat kabar pasti akan kabur dan bersembunyi. Oleh karena itu aku harus mengubah wajahku.

"Apa yang cici pikirkan memang benar, dalam wilajah Tionggoan kami banyak terdapat kepandaian untuk mengubah raut muka, aku dapat bantu dirimu untuk..".

"Tidak usah, aku hendak mengubah wajahku hingga berubah sama sekali bagaikan orang lain, akan kupancing dia untuk mencari diriku dengan sendirinya...".

"Cici, cara apa yang hendak kau lakukan ?" "Menggunakan air sungai ini " kata Sani sambil menuding kearah sungai dengan warna hitam tersebut "Aku sudah melakukan penyelidikan yang seksama dan mendapat kesimpulan bahwa bahan racun yang terkandung dalam air sungai ini merupakan tandingan dari racun yang mengeram dalam tubuhku, Agar wajahku mengalami perubahan maka aku membutuhkan bantuan dari kongcu, nanti apabila aku keluar dari air sungai maka segeralah kongcu jangan salurkan hawa murni berhawa Yang mu kedalam tubuhku dan tembusi Hian-hin-Kwan-Hiat ku. Kesempatan ini merupakan kesempatan yang telah kutunggu-tunggu selama puluhan tahun lamanya, aku harap kongcu jangan mengecewakan harapanku, sebab dalam kolong langit dewasa ini hanya Kongcu seoranbg yang, cocok ddengan syarat inai, lagipula menburut firasat batinku, tindakan ini mempunyai hubungan yang erat sekali dengan usaha Kongcu untuk menyelamatkan suhu dari lubang kematian.

Kongcu, asal kau suka membantu diriku sehingga harapanku terwujud, maka sepanjang hidup aku akan selalu berterima kasih kepadamu !".

Selesai bicara tanpa menantikan reaksi dari Liem Kian Hoo lagi, dengan gerakan yang cepat ia lepaskan seluruh pakaian yang ia kenakan sehingga beberapa saat kemudian Sani sudah berada dalam keadaan bugil, telanjang bulat tanpa sedikit benangpun menutupi bagian " Terlarang " nya.

Ditengah sorotan cahaya sang surya disenja hari dan ditengah ketegunan Liem Kian Hoo, tubuhnya yang montok, padat dan putih itu terjun kedalam air sungai yang penuh dengan ombak.

Waktu . . sedetik . . semenit berlalu dengan cepatnya, air sungai yang penuh dengan riak ombak tetap mengganas dan menggulung seperti sedia kala... tak kelihatan sesuatu apapun yang terjadi, sungai... hening... dan tak bersuara. Diam-diam sianak muda itu berdoa, semoga Sani berhasil memenuhi harapannya.

Ketika tubuh Sani yang telanjang bulat dan indah menawan muncul dihadapannya tadi, pendekar misterius yang berasal dari keluarga kaya ini kehilangan ketenangan hatinya, seluruh wajah berubah merah padam, jantung berdebar keras.

Selama dua puluh tahun ia selalu hidup dibawah didikan serta pengawasan yang ketat, meski ia dibesarkan dalam keluarga kaya, tidak sedikit dayang cantik berkeliaran dalam gedung Ti-hu, namun dayang-dayang itu tiada kesempatan untuk melayani Sauw Kongcu mereka.

Karena sianak muda ini selalu mendapat didikan Boen maupun Boe yang ketat, pelajaran sastra diterima secara terbuka dan pelajaran silat secara rahasia, sekalipun begitu baik Boen maupun Boe ia selalu berada dalam pengawasan yang ketat, Lie Hong Hwie pelacur kenamaan tersebut merupakan gadis pertama yang masuki kedalam hatinya, namun setelah mengetahui rahasia dibalik asal usul gadis tersebut tidaklah mungkin baginya untuk melanjutkan hubungan itu dengan suatu percintaan.

Menerima cinta kasih serta penbyerahan Watinahd merupakan kejaadian yang palinbg menghangatkan badannya, sekalipun begitu, hubungannya dengan Watinah selalu terjalin dalam keadaan saling hormat menghormati kedua belah pihak belum sampai melakukan hal-hal di luar tata sopan.

Dan sekarang, secara tiba-tiba Kian Hoo berhasil melihat rahasia sebenarnya dari seorang gadis, membuat ia paham dimanakah letak daya yang sebenarnya dari kaum hawa, Potongan badan yang padat montok, pahanya yang putih halus, kulitnya yang bersih, pinggangnya yang ramping, payudaranya yang penuh berisi serta segala sesuatunya mendebarkan hati jejaka tersebut.... Hanya sekilas ia memandang seluruh bagian tubuh gadis itu sesaat Sani terjun kedalam aliran air sungai yang berwarna hitam gelap itu, meski cuma sekejap namun cukup mengacaukan pikiran Kian Hoo, secara tiba-tiba... entah dari mana datangnya hawa napsu birahi yang meluap-luap muncul dan mempengaruhi seluruh benaknya....

Waktu berlalu dengan cepatnya, ditengah kesunyian serta keheningan yang mencekam seluruh angkasa itulah tiba-tiba air berwarna hitam itu memisah kesamping diikuti sesosok bayangan manusia yang putih bersih menubruk datang.

"Cepat ! Cepat, lakukan seperti apa yang kukatakan." terdengar Sani yang berseru dengan suara cemas.

Hampir boleh dikata tiada kesempatan baginya untuk berpikir, tubuh Sani yang masih basah dan bugil itu sudah menubruk kedalam pangkuannya, Liem Kian Hoo tak berani berayal, buru-buru telapaknya menekan diatas Sam-Ciat gadis itu, segulung hawa murni yang beraliran panaspun dengan cepat mengalir kedalam tubuhnya, (Yang dimaksudkan Sam- Ciat adalah bagian atas Lambung, bagian tengah lambung serta bagian atas selangkangan).

Mula-mula tubuh Sani bergetar keras, diikuti ia tak berkutik lagi. Liem Kian Hoo yang belum pernah pegang badan wanita, saat ini merasakan dimana telapaknya menekan merupakan suatu tempat yang lunak lagi halus, daya rangsang dalam badannya semakin berkobar mengikuti getaran badan Sani yang keras semakin meluap napsu birahi berkorban dalam dadanya.

Tanpa sadar Liem Kian Hoo mulai gunakan tangannya yang lain untuk meraba dan meremas remas buah dadarnya yang padat tberisi, dengan qkesadaran yang rmulai berkurang ia mulai gerayangi seluruh bagian terlarang gadis itu, napsu birahi sukar dikendalikan lagi dalam tubuhnya. Mula-mula Sani menggeliat, ia mendongak dan memandang kearah si anak muda itu dengan pandangan kaget dan tercengang.

Liem Kian Hoo tersenyum ringan, senyuman yang halus dan sama sekali tidak mengandung hawa jahat, tangannya tetap bergeser dari dada menuju keatas bahunya, kemudian dari bahu menuju kelehernya yang putih dan terakhir ia menghela napas panjang.

Sianak muda ini menghela napas setelah menyaksikan wajahnya yang jelek, seandainya ia tidak berwajah buruk, dengan rambutnya yang hitam, panjang serta berkilat serta kulit badannya yang halus putih dan bersih, boleh dikata Sani benar-benar seorang gadis yang sangat cantik.

Apalagi sepasang biji matanya yang bening laksana bintang timur, begitu cemerlang dan menawan hati, Agaknya Sani dapat membaca isi hati sianak muda itu dari helaan napasnya, ia tersenyum sedih dan berkata lirih:

"Liem Kongcu, keburukan wajahku telah merusak pemandangan matamu !".

"Tidak ! setelah bergaul agak lama dengan cici, aku sudah terbiasa memandang wajahmu."

Sani termenung sejenak, tiba-tiba dengan suara yang aneh ia berkata kembali:

"Kongcu, pandanglah wajahku yang buruk ini lebih lama ! raut wajahku yang jelek segera akan lenyap dari muka bumi untuk selama lamanya, aku berharap kau suka ingat-ingat bentuk mukaku ini, sebab hal ini akan memberi kebaikan bagimu".

"Tapi cici, mengapa sampai sekarang wajahmu belum juga berubah ?".

"Sebab sengaja kupertahankan beberapa saat lebih lama agar Kongcu dapat memandangnya.". "Kenapa ? aku kepingin cepat-cepat melihat wajah cici berubah jadi cantik kembali ".

Sani menghela napas panjang, lalu angkat telapaknya dan mulai menggaruk pipinya, Kejadian aneh tiba-tiba berlangsung didepan mata, mengikuti garukan itu kulit luar yang menyeramkan itu mulai mengupas segumpal demi segumpal dan beberapa saat kemudian muncullah wajah yang cantik, halus dan putih mempesonakan hati.

Hampir-hampir saja Liem Kian Hoo tidak percaya dengan mata sendiri dalam waktu singkat inilah raut muka Sani telah berubah sama sekali, ia kelihatan jauh lebih kurus, jidat yang semula bulatpun sekarang berubah jadi lancip.

Namun, meski demikian, wajahnya kelihatan jadi amat cantik sekali bagaikan bidadari yang baru turun dari kahyangan.

"Kongcu, periksalah wajahku, bagaimana keadaanku pada saat ini ?" Tanya Sani dengan suara gemetar.

Lama sekali Liem Kian Hoo tertegun, kemudian ia berseru tertahan.

"Cantik, sungguh amat cantik ! Cici, sayang ditempat ini tak ada cermin, aku tak berdaya untuk melukiskan bagaimana cantiknya dirimu saat ini"

"Benarkah ?" Begitu terharu gadis Biauw ini sehingga titik air mata mulai jatuh berlinang.

"Tentu saja sungguh ! kalau tidak percaya, pandanglah biji mataku, meski kecil mungkin dapat digunakan sebagai cermin untuk memeriksa bagaimana cantiknya dirimu sekarang".

Sani kedipkan matanya, air mata jatuh berlinang, ia tatap biji mata sianak muda itu tajam-tajam dan beberapa saat kemudian ia peluk tubuh Kian Hoo lalu menangis tersedu- sedu. Liem Kian Hoo memahami bagaimanakah perasaan hatinya ketika itu, ia belai rambutnya yang halus dan menghibur:

"Kiong-hie, kiong-hie ! Cici, akhirnya kau berhasil temukan kembali kecantikanmu, seharusnya kau bergembira dengan hasil tersebut kenapa kau malah sedih ?".

Sepasang bahu Sani bergetar tiada hentinya, sedang Liem Kian Hoo merasakan suatu perasaan yang aneh, gesekan kulit dengan kulit gadis itu menimbulkan panas yang aneh, Buru- buru ia dorong Sani seraya berseru:

" Cici ! kenapa kau ? mengapa tubuhmu berubah begini panas."

Sani tidak menjawab, lengannya peluk sianak muda itu semakin kencang, bahkan hampir seluruh tubuhnya ditempelkan di atas dadanya, pipi yang halus basah oleh air mata ditempelkan diatas tubuh Kian Hoo, biji matanya yang jeli memancarkan sinar yang aneh, kulitnya yang putih lambat laun berubah jadi merah.

Tiba-tiba lubang hidung Kian Hboo mencium bau dyang aneh sekalai, bau tadi menbgobarkan kembali napsu birahi yang berhasil ia tahan tadi, bahkan bergolak semakin dahsyat dari keadaan semula. Hawa panas yang tersebar dari tubuh Sani menembusi pakaiannya yang tipis dan membakar hatinya, belum pernah sianak muda itu merasakan keadaan seperti ini, ia benar-benar terpikat.

Tangannya yang bertahan diatas tanah makin lemah dan kehabisan tenaga, bahkan kakipun jadi lemas, ia tak kuat menahan bobot badannya lagi. mereka jatuh berbaring diatas tanah dan saling bertindihan satu sama lainnya...

Seluruh kesadaran lenyap, pikiran kosong. hanya napsu birahi yang berkobar makin dahsyat, hanya dengusan napas makin menderu... kencang,... keras... rintihan berkumandang... dan entahlah apa yang telah terjadi... Hujan badai telah lenyap... suasana jadi hening, sunyi tak kedengaran sedikit suarapun, kesadaranpun lambat laun pulih kembali mereka dapat berpikir kembali dengan sehat, keadaan jadi normal.

Ketika Kian Hoo buka matanya, ia temukan Sani duduk termangu mangu disisinya. ia tetap kelihatan cantik jelila, hanya air mata telah membasahi seluruh pipi dan wajahnya yang halus.

Liem Kian Hoo tertegun sesaat lalu teringat kembali apa yang sudah ia lakukan beberapa saat berselang, ia jadi kaget dan segera meloncat bangun sambil pukul jidatnya sendiri ia berteriak kalap, agaknya macam orang sinting.

"Kurangajar ! kurangajar ! aku harus mati . . . oooouw . . .

Thian ! apa yang telah kulakukan ?...".

Sani bangkit berdiri, ambil pakaiannya dan dipakaikan keatas badannya yang kekar, lalu dengan suara lembut ia berkata:

"Pakailah bajumu, kau bisa sakit kalau tetap telanjang.". "Cici..." jerit Kian Hoo sambil genggam tangannya, "Aku...

aku.... aku malu terhadap dirimu, aku telah bersalah kepadamu..."

"Kongcu, jangan terlalu ikuti suara hatimu ! peristiwa ini tak bisa salahkan dirimu, seharusnya akulah yang harus malu kepadamu, dan sepantasnya akulah yang harus lebih tenang, lebih waspada tetapi ketika aku tahu bahwa wajahku pulih kembali seperti sedia kala, aku lupa keadaan, hatiku betul- betul bebrgolak sehinggad tak kuasa menaahan diri."

Dibabwah hiburan Sani akhirnya sianak muda itu berhasil menenangkan hatinya, ia memandang tempat kejauhan dengan sinar mata kosong. hampa

"Aaaai...! air racun ini dinamakan sumber Kehidupan." kata Sani kembali sambil menghela napas, Sumber air ini mempunyai suatu daya kekuatan untuk mendorong napsu birahi manusia, merangsang seseorang untuk menikmati sorga dunia ! sering kali orang Biauw kami gunakan sumber air tersebut sebagai obat orang yang lemah syahwat. Kongcu, tahukah engkau apa sebabnya kita terangsang ? sewaktu Kongcu salurkan hawa murni kedalam tubuhku, kau telah terpengaruh oleh daya kerja air mujijat itu, namun sungguh tak nyana Kongcu punya daya tahan yang luar biasa, daya kerja air itu belum juga tunjukan reaksinya sementara aku telah berusaha menguasai diri... Aaaai ! tak disangka sedetik aku kurang rapat menjaga diri, akhirnya terjadi pula apa yang tidak diharapkan, peristiwa ini boleh dikata sebagai takdir.".

Liem Kian Hoo masih melongo-longo dan tidak habis mengerti, Sani yang menyaksikan keadaan sianak muda itu lantas menghela napas dan terangkan lebih lanjut:

"Tenaga Iweekang kongcu amat sempurna, sewaktu tubuhku menempel dalam badanmu, hawa dingin yang menyerang tubuhku sudah lenyap dan daging busuk diatas wajahku pun sudah hancur oleh air mujijat ini, tetapi aku tak mau ambil tindakan dengan cepat, hal ini dikarenakan aku hendak gunakan wajahku yang jelek untuk membendung napsu birahi yang berkobar dalam tubuh Kongcu, aku berharap napsu birahi Kongcu bisa dibendung setelah melihat mukaku yang seram ini."

"Lalu apa sebabnya tidak cici ceriterakan sifat dari sumber air itu kepadaku?"

"Aaaaai . . . ! inilah akibat sifat tamakku". sahut Sani tertawa getir. "Aku tahu bahwa kau adalah seorang lelaki sejati yang kukuh memegang tata kesopan, seandainya kuberitahukan dahulu hal tersebut, mungkin kau akan menampik permohonanku.".

Liem Kian Hoo termenung beberapa saat kemudian baru berseru dengan nada menyesal: "Cici kau jangan berkata begitu ! aku sendiripun merasa amat malu dan benci terhadap diri sendiri".

"Aaaai..! sebenarnya hal ini tak bisa salahkan dirimu, sewaktu pertama kali kau raba tubuhku, aku mengira dayra kerja sumber titu sudah mulaiq bereaksi, tetarpi dari sinar matamu aku tidak temukan napsu birahi, hal ini membuat aku jadi kaget bercampur tercengang, kemudian aku pikir mungkin hal ini disebabkan imanmu sangat kuat dan tahan terhadap segala godaan, maka aku mulai mengupasi kulit kulit busuk yang ada diluar, kemudian karena gembira kulepaskan penguasaan terhadap diriku, Aaaai . . . ! sungguh tak nyana karena hal ini terjadilah peristiwa yang tak disangka, tubuhku yang kotor dan tidak suci ini malah telah menodai kebersihan kongcu."

Liem Kian Hoo jadi terharu bercampur malu setelah mendengar perempuan itu tidak menyalahkan dirinya malahan menegur diri sendiri, ia berteriak:

"Cici ! aku Liem Kian Hoo bukan manusia yang tidak bertanggung jawab, aku bersumpah mulai hari ini..."

"Kongcu ! jangan kau teruskan ucapanmu itu, hatiku sudah layu, sudah semestinya kubalas kebaikanmu yang suka bantu aku pulihkan kembali wajahku yang buruk, yang kusesalkan hanyalah persembahanku kepadamu tak dapat dilakukan dengan badan yang masih perawan, untung wajahku telah pulih kembali, bagaikan hidup untuk kedua kalinya, aku telah persembahkan seluruh kesucianku dalam kehidupan yang kedua kalinya ini kepadamu, peristiwa yang terjadi tadi anggap saja sebagai balas jasaku kepadamu, kau tidak berhutang lagi kepadamu apa yang telah terjadi sebagai suatu impian indah, setelah mendusin semuanya lenyap dan hilang, keadaan kita tetap seperti sedia kala dan kau tak usah mengutarakan maksud apapun..."

"Apa yang cici ucapkan adalah menurut pendapatmu tapi lain halnya bagi diriku." seru Kian Hoo buru-buru. "Aku tak dapat menganggap peristiwa tersebut sebagai suatu impian belaka."

"Kongcu ! aku nasehati dirimu lebih baik jangan terlalu keras hati, aku kagum terhadap suami macam kau, kalau usiaku lima belas tahun lebih muda dan tidak pernah terjadi peristiwa terkutuk seperti yang kualami dahulu, dengan hati rela pasti aku akan menyertai dirimu. Tapi sekarang tak usah kita bicarakan lagi !".

"Usia bukan soal, apalagi wajah cici kelihatan masih amat muda. ".

"Tidak mungkin, tahun ini aku telah berusia tiga puluh sembilan tahun, kalau dibandingkan dirimu maka aku mirip rumput dimusim rontok yang hendak dibandingkan dengan bunga dimusim semi, kau masih ingat perkataan guruku ? Tuanya seorang manusia bukan terletak pada raut muka tapi pada hati, mungkin hatiku, jalan pikiranku jauh lebih tua berlipat-lipat ganda daripada usiaku yang sebenarnya. "

Liem Kian Hoo masih ingin mengucapkan sesuatu, tapi dengan wajah adem Sani telah menyambung:

"Kongcu, jangan lupa bahwa aku adalah istri orang lain, walaupun orang itu sudah tinggalkan diriku, walaupun aku sudah bermusuhan dengan orang itu, tapi aku merupakan istrinya yang sah, apakah Kongcu inginkan aku berhianat pada suamiku dan nyeleweng ?".

Mendengar perkataan tersebut Liem Kian Hoo jadi terperanjat ia tidak berani bicara lagi.

Sani menghela napas panjang, perlahan-lahan ia ambil pakaiannya yang tersebar diatas tanah dan mulai dikenakan, tubuhnya yang bugil dan indah-pun perlahan-lahan tertutup dan bersembunyi dibalik pakaian. Liem Kian Hoo memandang gerak gerik perempuan itu dengan sinar mata tertegun, ia merasa aneh dan tak habis mengerti.

-oo0dw0oo-