-->

Pedang Bunga Bwee Jilid 02

Jilid 02

SUARA itu sangat dikenal, Liuw Boe Hwie segera berpaling dan dengan cepat iapun berseru tertahan:

"Ooooow . . . . kiranya Tiong-liesen Chiu-Siang Kiat, Ceng- Tiong-Su-Hauw, Yap tootiang dari gunung Pa-san serta Thiat Bok Thaysu dari Siauw lim, Entah ada peristiwa besar apa yang mengejutkan kalian hingga sama-sama berkumpul disini

?"

Thiat Bok Thaysu dari partai Siauw-lim adalah seorang padri berusia setengah abad, ia segera maju rangkap tangannya menjura dan berkata:

"Pinceng serta para enghiong hoo-han datang kemari untuk melenyapkan seorang iblis Bu-lim yang telah banyak membunuh orang !".

"siapakah yang kalian cari ?" tanya si Rasul seruling lebih jauh, meski dalam hati ia sudah mengerti siapa yang dimaksudkan

"Dalam dunia persilatan dewasa ini, kecuali si Bunga Mawar Putih muncul kembali dikota Yang-Chiu, setelah mendapat berita ini pinceng sekalian segera berangkat kemari, dan mencari ke-tempat tujuan seperti yang kami ketahui, siapa sangka kedatangan kami rada terlambat selangkah, anak murid dua bersaudara Be dari Tiong-Chiu telah terluka !".

Liuw Boe Hwie tahu yang dimaksudkan sipadri ini tentulah orang-orang yang dilukai Lie Hong Hwie barusan, sepasang alisnya kontan berkerut.

Belum sampai ia kasi penjelasan dengan wajah gusar si Bunga Mawar Putih telah munculkan diri sambil berseru:

"Tua bangka she-Liuw, kau boleh menyingkir kesamping, persoalan ini adalah urusan pribadiku!"

Ucapan ini seketika mengejutkan semua orang yang ada di keempat penjuru, mereka tercengang sebab si Bunga Mawar Putih yang telah menggetarkan dunia persilatan puluhan tahun lamanya bukan lain adalah seorang perempuan cantik.

"Kau adalah si Bunga Mawar Putih ?" tanya Thiat Bok Thaysu tertegun sejenak. "Selama empat puluh hanya tua bangka she Liuw seorang kenal diriku, kalau kalian tidak percaya suruh saja ia buktikan kebenaran ini, benarkah aku si Bunga Mawar Putih atau bukan

?"

Sinar mata semua orang sama-sama dialihkan kearah Liuw Boe Hwie, terpaksa si Rasul seruling mengangguk.

"Tidak salah, dia adalah Pek Sbdabian-cu !".

"Aaaaah . . . . ! Liuw Thay-hiap tersohor karena tindak tindak tandukmu yang penuh bersifat pendekar, mengapa kau bisa bergaul dengan si Bunga Mawar Putih?..." seru Thiat Bok Thaysu tercengang.

Air muka Liuw Boe Hwife berubah hebat, baru saja ia hendak buka suara, si Bunga Mawar Putih sudah berseru sambil tertawa dingin:

"Kalian tak usah seret situa bangka she-Liuw sejalan dengan aku, kami adalah musuh bebuyutan dan baru saja selesai bertarung, sayang kalian tidak sempat saksikan sendiri kejadian itu. Aku Si Bunga Mawar Putih bukan manusia rendah, berani berbuat berani tanggung jawab, aku sudah mengerti jelas akan maksud kedatanganmu. Dahulu aku orang she-Pek pernah membunuh beberapa orang dan mungkin orang-orang itu ada hubungannya dengan kalian, maka kamu semua hendak menuntut balas, bukankah begitu ? Nah ! carilah satroni dengan diriku, dahulu aku orang she-Pek berani membunuh mereka, sekarang akupun tidak takut menghadapi kalian. Bukan aku menyesal karena kedatangan kalian agak terlambat sedikit!"

"Sungguh tak nyana sicu berani bicara terus terang, kamipun tak usah banyak bersilat lidah lagi." seru Thiat Bok thaysu dengan sepasang mata melotot bulat.

Si Bunga Mawar Putih tertawa sinis kearah Liuw Boe Hwie, jengeknya: "Tidak aneh kalau dari tempat kejauhan kami sudah mendengar irama seruling mengalun diangkasa, kiranya Liuw thay-hiap sedang pamerkan kehebatannya disini, Sayang kedatangan siauwte rada terlambat selangkah sehingga tak dapat ikut serta menyaksikan keramaian tersebut tetapi dengan adanya bantuan dari Liuw thay-hiap, aku rasa pertarungan hari ini untuk melenyapkan gembong iblis dari muka bumi bisa berjalan semakin lancar."

Liuw Boe Hwie benci dengan lagak tengik nya, ia cuma tertawa dingin dan tidak menjawab. Lie Kian Hoo yang berdiri disisi gurunya tak dapat menahan sabar, ia segera berseru:

"Anda sudah salah sangka, sepuluh tahun berselang guruku dengan Pek cianpwee memang pernah melakukan pertarungan dengan akhir seri, masing-masing pihak menaruh rasa kagum pada kepandaian masing-masing,rtqr kemudian menentukan untuk berjumpa kembali sepuluh tahun kemudian, kali ini mereka berdua tak mau turun tangan sendiri, maka pertarungan ini diwakili oleh aku serta nona Lie ahli waris dari musuh berubah jadi sahabat, belum sempat bercakap-cakap, kalian sudah datang mengganggu ketenangan kami !".

Sungguh lihay ucapan ini, bukan saja ia telah menjelaskan hubungan Liuw Boe Hwie dengan si Bunga Mawar Putih, bahkan secara lapat-lapat iapun menunjukan sikap mereka untuk memihak pada si Bunga Mawar Putih.

Dengan perasaan penuh berterima kasih Lie Hong Hwie melirik sekejap kearahnya, sebaliknya si Bunga Mawar Putih tak mau terima maksud baiknya, ia menegur:

"Bocah cilik, siapa suruh kau bicara tidak karuan apa gunanya kau beritahukan urusan itu kepada mereka ?"

"Boanpwee harus jelaskan dulu duduknya perkara, dari pada nantinya mereka seret guruku untuk sama-sama menghadapi dirimu !". "Hmmm ! meskipun situa bangka she-Liuw mau bantu mereka, akupun tidak ambil perduli!"

"Pek Sian-cu, kau jangan salah paham ". Buru-buru Liuw Boe Hwie menerangkan. "Aku orang she-Liuw sama sekali tidak salahkan perbuatan Sian-cu, akupun tidak akan gunakan kesempatan ini ! ". Air muka Be Si Coen berubah hebat.

"Liuw Thay-hiap ! ! kau adalah pendekar Bu-lim, mengapa pergaulanmu malah dengan manusia manusia macam begini." serunya.

"Perbuatan Pek cianpwee gagah dan utamakan keadilan, ia tak pernah salah membunuh seorang manusia baik !" teriak Liem Kian Hoo penuh semangat " Putra Be Hong Hwie telah melakukan banyak perbuatan terkutuk andalkan nama kalian berdua, sudah sepantasnya kalau manusia macam ini mati ditangan Pek cianpwee, Hmmm !terhadap perbuatan terkutuk putranya sendiri bukan malah mawas diri malah sebaliknya hendak bikin perhitungan dengan Pek cianpwee, kalian benar- benar manusia tidak tahu malu."

Merah padam selembar wajah Be Si Coen, dari malu ia dibikin gusar oleh sindiran tersebut, segera teriaknya:

"Liuw thay-hiap, sungguh sopan muridmu ini !". Liuw Boe Hwie tersenyum.

"Ucapan dari muridku mungkin rada sedikit keterlaluan namun dalam kenyataanya perbuatan serta tingkah laku putramu memang terlalu keliwat batas !. " serunya.

Air muka Be Si Coen berubah semakin hebat, tapi ia jeri akan nama besar dari si Rasul seruling maka tindak tanduknya tak berani gegabah sambil tertawa dingin segera serunya kepada para jago diempat penjuru:

"Dengan ikut campurnya Liuw Boe Hwie dalam peristiwa ini hari, aku takut urusan akan semakin berabe". Semua orang sama-sama terkesiap, sinar mata merekapun segera dialihkan kearah Thiat Bok Thaysu sebab membicarakan dalam soal ilmu Iweekang, dialah paling lihay diantara rombongan tersebut, Thiat Bok thaysu termenung beberapa saat lama-nya, kemudian dengan wajah berat katanya:

"Persahabatan antara Liuw thay hiap dengan si Bunga Mawar Putih tak bisa dicampuri oleh pinceng, tetapi demi nama baik Liuw thay-hiap serta kelancaran dalam usah melenyapkan bibit bencana dari muka bumi, aku harap thay- hiap, suka mengundurkan diri dari sini !".

Walaupun jejak Si Rasul seruling bagaikan bagaikan bangau diangkasa, ia tak pernah ikut serta dalam partai maupun perguruan apapun, namun dengan ilmu silatnya yang menjagoi Bu-lim, mau tak mau memaksa Thiat Bok thaysu harus bersikap sopan kepadanya, nada ucapannya mengandung maksud memohon, sebab ia tahu si Bunga Mawar putih seorangpun sudah cukup lihay apalagi kalau dibantu oleh Liuw Boe Hwie sekalian, kemungkinan menang bagi pihaknya akan semakin menipis.

Liuw Boe Hwie meninjau dahulu situasi yang terbentang waktu itu, ia tahu situasi pada malam ini sangat kritis, tentu saja ia tak dapat bersikeras untuk ikut terjun dalam masalah ini, tapi dengan watak serta nama besarnya, ia liesenmerasa malu untuk berpeluk tangan belaka, Maka dari itu setelah termenung sejenak, akhirnya sambil tertawa ia berkata:

"Kalau kalian cari si Bunga Mawar Putih karena dendam pribadi, tentu saja aku orang she Liuw tak akan ikut campur, tapi kalau kalian akan menganggap Pek Sian-cu sebagai pembunuh, maka terpaksa aku orang she-Liuw harus ikut campur !".

Ucapan ini amat lihay, diantara rombongan tersebut kepandaian silat Thiat Bok thaysu paling tinggi, tapi peraturan perguruan Sauw-lim pun paling ketat, anak murid partai tersebut tak seorang pun jadi korban si Bunga Mawar Putih, dengan dialihkan dendam umum jadi dendam pribadi maka paling sedikit ia berhasil mengesampingkan hweesio tua itu dari peristiwa didepan mata saat ini.

Si Bunga Mawar Putih yang ada disamping meskipun tidak berbicara tetepi ia merasa sangat kagum atas diri Liuw Boe Hwie, sekalipun ilmu silatnya telah musnah namun kecerdikan serta pengalamannya sama sekali tidak berkurang. Air muka Thiat Bok Thaysu berubah hebat setelah mendengar perkataan itu, segera serunya:

"Sudah lama aku mendengar thay-hiap banyak melakukan perbuatan muIia, mengapa dalam kenyataannya perbuatanmu malah kebalikannya ?"

"Apa salah aku orang she Liuw ? ? harap thaysu suka kasi petunjuk ?"

"Selama empat puluh tahun sudah ratusan jiwa melayang ditangannya, apakah perbuatan dari si Bunga Mawar putih dianggap benar ?".

"Siapa saja yang jadi korban Pek Sian-cu aku rasa thaysu pun pernah mendengar, coba katakanlah korban korban manakah yang tak pernah melakukan kejahatan dan perbuatan keji ? Thaysu sebagai anggota dari perguruan kenamaan aku rasa sepantasnya kalau setuju dengan perbuatan ini !"

"Lalu pinceng mau bertanya apa salah suhengku Thiat-Sim hingga dibunuh pula olehnya ? tanya Thiat Bok Thaysu dengan wajah sedih.

"Apa ? Thiat Sim Thaysu pun menemui kematian ?" seru Liuw Boe Hwie dengan air muka berubah.

"Tiga bulan berselangbdab suhengku telah mati dibawah puncak Cay-Wi-Hong digunung Siong-san, disisi mayatnya tertinggal sekuntum bunga mawar putih sebagai tanda, terhadap korban lain aku tak berani menjamin, tapi terhadap suheng dari pinceng ini, aku yakin bahwa dia tak pernah melakukan perbuatan keji atau kejahatan apapun . . ".

"Bagaimana penjelasan Pek Sian-cu terhadap peristiwa ini

?" Liuw Boe Hwie segera berpaling kearah si Bunga Mawar Putih. Mula mula si Bunga Mawar putih tertegun, kemudian tertawa dingin tiada hentinya.

"Tua bangka she-Liuw, aku rasa kau tentu paham akan kejadian ini, perlu apa bertanya lagi kepadaku ?".

"Liuw Boe Hwie melengak tapi ia segera paham maksud ucapannya, padri angkatan " Thiat" dari Sauw-lim adalah jago jago kosen, sedang ilmu silat si Bunga Mawar putih telah musnah, tak mungkin ia berhasil melukai dirinya, Sedang muridnya Lie Hong Hwie pun sejak tiga bulan berselang sudah ada dikota Yang-Chiu, tak mungkin peristiwa ini merupakan hasil karya mereka.

Thiat Bok Thaysu yang mendengar ucapan itu, tiba tiba salah mengartikan maksud kata kata tersebut, kepada Liuw Boe Hwie sambil tertawa dingin segera jengeknya:

"Oooouw . . . ! kiranya antara Liuw thay-hiap dengan si Bunga Mawar Putih telah terjalin ikatan yang dalam, sudah tahu masih pura pura bertanya ! ".

"Thaysu, harap kau jangan salah paham." buru buru Liuw Boe Hwie goyangkan tangannya.

"Suheng anda adalah padri sakti, kematiannya pasti bukan perbuatan dari Pek Sian-cu, aku orang she-Liuw berani menjamin dengan batok kepalaku ".

Liuw thay-hiap, sudahlah, kau tak usah coba bela diri lagi " Be Si Coen tertawa seram. "Thiat Sim Thaysu adalah seorang padri penuh welas kasih, selama hidup tak pernah ikat permusuhan dengan siapapun, kecuali si Bunga Mawar putih pembunuh sinting, tak ada orang lain yang berani turun tangan kepadanya, lagi pula ilmu silat yang dimiliki Thiat Sim thaysu sangat lihay, hanya andalkan kekuatan si Bunga Mawar Putih seorang belum tentu bisa mencelakai dirinya, mungkin Liuw thay hiap pun ikut serta ambil bagian dalam peristiwa ini

?"

Ucapan ini mengerakkan hati Thrtqriat Bok thaysu dengan sinar mata curiga ia lantas berpaling kea-rah si Rasul Seruling.

Liuw Boe Hwie naik pitam, dengan amat gusar ia tuding Be Si Coen lantas memaki:

"Hey orang she-Be, kau jangan mefitnah orang she-Liuw tidak sudi melakukan perbuatan seperti itu.".

"Hmmm . . . Hmmm . . . ! . cayhe hanya menduga belaka, tetapi ditinjau dari hubungan Liuw thay-hiap dengan si Bunga Mawar Putih, aku tetap menaruh curiga".

Liuw Boe Hwie benar2 sangat gusar hampir saja ia tempeleng wajah orang itu. Namun baru saja telapaknya diangkat setengah jalan ia turunkan kembali dan menhela napas panjang, ia menyesal tenaga dalamnya sudah punah !

Rasa curiga dalam hati Thiat Bok thaysu makin menebal setelah menyaksikan kejadian itu, ia mengira Liuw Boe Hwie ikut serta dalam peristiwa pembunuhan atas diri Thiat Sim thaysu, karena menyesal maka timbullah gerak gerik yang kurang Ieluasa.

"Mungkin ada alasan kuat yang mendasari kematian suhengku, dapatkah Liuw Thay-hiap katakan keluar ? " tanyanya serius, Liuw Boe Hwie teramat gusar, saking dongkolnya sampai ia tak sanggup mengucapkan sepatah katapun.

"Liuw loo-jie, kau tak usah melibatkan diri dalam persoalan ini." seru si Bunga Mawar Putih secara tiba-tiba, seraya maju kedepan. "Thiat Sim si keledai gundul itu memang mati ditanganku !.. tak ada orang lain yang membantu perbuatanku ini dan tiada alasan yang mendaki peristiwa tersebut aku bunuh dirinya karena tidak senang keledai gundul itu !"

Liuw Boe Hwie tahu, ucapan ini muncul karena hati yang mendongkol buru-buru ia berseru:

"Pek Sian-cu ! terus terangan bukan kau yang lakukan, apa perlunya terima dosa orang lain ?".

"Bunga Mawar Putih sudah menerima salah tafsir orang, lebih banyak membunuh seorangpun tidak mengapa !" sahut Bunga Mawar putih tertawa dingin.

Air muka Thiat Bok Thaysu segera berubah amat serius. "Pek sicu sudah mengaku, thayhiap ! apa yang hendak kau

katakan Iagi ?" katanya.

"Thaysu, harap kau jangan bertindak secara gegabah, jangan beri kesempatan bagi pembunuh sebenarnya untuk cuci tangan !"

"Liuw Loo-jie, sudahlah jangan banyak bicara macam perempuan" seru si Bunga Mawar Putih sambil ulap tangaannya. Kau adalah seorang lelaki namun tidak tidak seberani aku, bunuh orang bayar jiwa, hutang barang bayar uang, biarkanlah mereka bertindak..

"Omintohud !" Thiat Bok Thaysu segera rangkap tangannya. "Kalau memang Pek sicu telah berkata demikian, pincengpun terpaksa harus tuntut keadilan, kepada diri sicu !".

Si Bunga Mawar putih melirik sekejap kearahnya, mulut tetap bungkam dalam seribu bahasa. Lie Hong Hwie segera maju menghampiri gurunya ia berseru:

"Suhu ! biarlah tecu ".

"Nona cilik, lebih baik menyingkir saja, disini tak ada urusanmu." sela Thiat Bok thaysu dengan wajah serius. "Keledai gundul yang punya mata tak berbiji." teriak Lie Hong Hwie sangat gusar. "Kedudukan guruku sangat tinggi kau tidak pantas untuk berduel, nonamu akan turun tangan lebih dahulu menghantar kau pulang kenegeri barat !" Seraya berkata, alat Pie-pa tersebut langsung dihantamkan keatas tubuh padri itu.

Thiat Bok Thaysu kibaskan tangannya menangkis, Traaang

. . . . ! sisi telapaknya berhasil membabat diatas senjata itu sehingga menimbulkan suara nyaring.

Dalam bentrokan itu tubuh Lie Hong Hwie terdorong mundur sejauh tiga empat langkah, sedang Thiat Bok thaysu bergetar keras, ia kelihatan agak melengak.

Sedangkan Be Si Coen yang menyaksikan kejadian ini berseru tertahan, dengan nada terperanjat serunya:

"Bajingan perempuan ini lihay juga, bahkan muridnya saja begitu lihay apalagi gurunya, Aku lihat kita tak perlu ikuti peraturan Bu-lim lagi, untuk melenyapkan bibit bencana mari kita maju serentak !".

Para jago yang ada diempat penjurupun dibikin terkejut oleh kejadian ini, mereka jeri akan kehebatan tenaga dalam Lie Honlieseng Hwie, karena takut si Bunga Mawar Putih jauh lebih lihay maka mereka sama-sama maju meluruk kedepan, Lie Hong Hwie, karena ia takut mereka lukai gurunya, segera lepaskan Thiat Bok Thaysu dan putar badan menghadang si Bunga Mawar Putih, Pie-panya disapu kedepan menghajar orang orang itu!.

Tenaga dalam yang dimiliki Be Si Coen sekalian walaupun tidak sehebat Thiat Bok Thaysu namun merekapun jago jago kenamaan dalam dunia persilatan, tidak sampai beberapa gebrakan mereka berhasil paksa Lie Hong Hwie jadi kerepotan napasnya mulai tersengkal-sengkal.

Walaupun begitu untuk sementara waktu gadis tersebut masih sanggup mempertahankan diri, karena para jago tak berani mengurung terlalu dekat sebab mereka jeri akan diri si Bunga Mawar Putih yang selama ini hanya berdiri sambil berpeluk tangan beIaka.

Thiat Bok thaysu sendiri bagai manapun juga masih jaga gengsi dan kedudukannya ia malu untuk turut dalam kerubutan itu, bukan maju ia malah mundur kesisi kalangan.

Liem Kian Hoo mulai naik pitam dibuatnya setelah menyaksikan pengeroyokan itu. sambil cabut keluar pedangnya ia berteriak keras:

"Manusia manusia pengecut ! kalian sungguh tidak malu, manusia kenamaanpun beraninya main kerubut !".

Pedangnya berputar membentuk satu lingkaran kemudian terjang masuk kedalam kepungan dan bekerja sama dengan Lie Hong Hwie membendung serangan musuh, satu pedang satu Pie-pa bekerja sama dengan eratnya menyambut serangan-serangan gencar dari Tiong Chiu Siang Kiat, Ceng Tiong Su Hauw serta Yap Jeng Cie sijago pedang dari Pa-san tujuh orang.

Kedua orang itu pertama, berani dan bernyali besar bagaikan anak harimau baru turun dari gunung, kedua, telah mewarisi ilmu silat gurunya serangan serangan merekapun sangat dahsyat, bukan saja ketujuh orang kenamaan itu tak berhasil mendesak maju sebaliknya malah terdesak mundur kebelakang, tapi kaki merekapun bergeser selangkah demi selangkah makin menjauhi si Bunga Mawar putih.

Liuw Boe Hwie menghela napas panjang, ia saling bertukar pandangan sekejap dengan si Bunga Mawar Putih lalu tertawa getirbdab, mereka mengerti sekalipun bakat kedua orang muda mudi itu bagus namun hasil yang dicapai amat terbatas, seumpama satu lawan satu mungkin masih punya harapan untuk menang, sekarang mereka berdua harus melawan tujuh orang, soal kalah cepat atau lambat tentu akan terjadi, pada saat itulah tiba-tiba Thiat Bok Thaysu bergeser menuju kehadapan si Bunga Mawar Putih.

"Sicu !" tegurnya "Tadi kau mengatakan bahwa perbuatan tersebut kau lakukan sendiri dan akan kau tanggung pula seorang diri, apa gunanya kau paksa bocah bocah itu untuk adu jiwa ?".

"Partai Siauw-lim benar benar merupakan tulang punggung dari dunia persilatan." jengek si Bunga Mawar Putih dingin " Cukup ditinjau dari bala bantuan yang thaysu bawa, aku sudah merasa kagum akan kehebatan nama besar kalian." Thiat Bok Thaysu melirik sekejap kearah sembilan orang yang sedang bertarung lalu dengan wajah malu sahutnya:

"Pinceng sadar bahwa perbuatan kami agak kurang cemerlang. tapi demi melenyapkan bibit bencana bagi umat Bu-Iim!". Merah padam selembar wajah Thiat Bok thaysu ia segera berpaling kearah kalangan dan berseru:

"Harap kalian suka berhenti bertarung, tujuan kita bukan untuk menghadapi kedua orang siauw Pwee tersebut !".

Diantara para pengerabut, Yap Jeng Cie agak lebih baik, mendengar seruan itu ia lantas tarik diri dan meloncat mundur dari kalangan, sedangkan Tiong Chiu Siang Kiat serta Ceng Tiong Su Hauw tetap meneruskan gempuran2 gencarnya, di samping itu Lie Hong Hwie serta Liem Kian Hoo pun tidak sudi membiarkan mereka loloskan diri, semakin bahaya situasi yang mengancam si Bunga Mawar Putih serta Liuw Boe Hwie, makin gencar pula serangannya.

Cahaya pedang menggulung gencar, bayangan Pie-pa menyilaukan mata, keenam orang itu malah terkurung hingga tak sanggup lepaskan diri dari kalangan.

Makin bertarung Be Si Coen makin terperanjat tiba tiba teriaknya dengan suara keras: "Yap Tootiang, Thiat Bok Thaysu, dua orang bajingan cilik ini terlalu ampuh, biarlah kami kurung mereka berdua disini, kita bekerja dengan dua rombongan !"

Thiat Bok merasa ucapan itu certqrngli, ia lantas berseru keras pada si Bunga Mawar Putih:

"Pinceng jamin muridmu tak ada bahaya, harap Sicu jangan melepaskan diri dari pertanggungan jawab lagi !".

"Thaysu ingin memberi petunjuk dengan jalan bagaimana

?", tanya si Bunga Mawar Putih dengan angkuh.

Untuk beberapa saat lamanya Thiat Bok Thay su tak berani ambil putusan, sebab ia tahu si Bunga Mawar Putih tentu sangat dahsjat, apalagi disana masih ada pula Liuw Boe Hwie.

Sebaliknya Ci Kian yang tahu akan kejadian ini jadi gelisah, ia segera lari mendekat, serunya sambil menahan isak tangis:

"Hujien... kau...".

"Ci Kian ! tutup mulut dan menyingkir ke-samping." Hardik si Bunga Mawar Putih. "Tempat ini bukan hakmu ikut campur, mengerti ? baik-baiklah berdiri disamping, tak perduli kejadian apa yang menimpa diriku kau tak boleh datang ke-mari, kalau aku mati, kau masih ingat apa yang harus kau lakukan ?".

"Budak masih ingat !" Ci Kian mengangguk sambil menahan isak tangis dalam tenggorokkan.

"Kalau kau masih ingat itu lebih bagus, semoga kau dapat biarkan aku mati meram, dengan demikian tidak sia-sia aku pelihara dan didik dirimu sedari kecil hingga dewasa."

Air mata jatuh bercucuran makin deras membuat seluruh wajah Ci Kian basah dengan air matanya.

Pada saat itulah Thiat Bok Thaysu pun sudah ambil keputusan, ia berseru: "Pinceng ingin mohon beberapa petunjuk dari Sicu dengan ilmu Tat Mo Sam Si dari partai Siauw Lim."

"Haaa . . . haaa . . . haaa . . . bagus sekali, Tat Mo Sam Si merupakan ilmu paling hebat dari partai Siauw Lim, sungguh tak nyana pada akhir hajatku masih berkesempatan untuk menjajal ilmu sakti tersebut !".

Lie Hong Hwie serta Liem Kian Hoo jadi repot, yang seorang berteriak suhu dan yang lain berseru cianpwee, mereka berdua sama sama putar badan siap menghadang.

Agaknya Be Si Coen dapat menebak maksud hati mereka, buru buru teriaknya: "Kawan-kawan waspada dan perketat kepungan ! hati-hati dengan dua manusia rendah ini mau ngeloyor pergi"

Ceng Tiong Su Hauw putar badan menghadang jalan pergi mereka, delapan buah telapak sama-sama bergerak kedepan melancarkan selapis haw murni yang amat luar biasa, dengan kekerasan ia paksa kedua orang itu kembali kedalam kepungan.

Dipihak lain Thiat Bok Thaysu pun sudah mulai melancarkan serangan, telapak tangannya didorong kedepan dengan jurus Loei Tong Ban Wu atau Bendu Sejagad Tersambar Geledek, angin pukulannya menderu deru langsung mengancam ulu hati si Bunga Mawar Putih.

Perempuan berusia setengah baya ini berdiri tegak tak berkutik, dengan tiada gentar sedikitpun ia putar telapak tangannya membabat pergelangan.

Thiat Bok Thaysu, gerakannya cepat luar biasa dan malah lebih dulu mengancam tubuh padri -tersebut.

Thiat Bok Thay melengak, jalan darah pada tekukan lengannya cuma terasa agak kaku, namun sama sekali tidak mempengaruhi daya serangan serta kekuatan tenaga dalamnya. Sementara Thiat Bok Thavsu masih keheranan apa sebabnya tenaga dalam dari si-Bunga Mawar Putih begitu lemah, tubuh perempuan itu sudah bersalto ditengah udara mundur kebelakang kemudian roboh terjengkang keatas tanah.

"Thaysu, jangan..." Buru-buru Liuw Boe Hwie berseru, namun belum habis ia berseru badannya pun ikut roboh keatas tanah.

Ternyata dalam keadaan cemas buru-buru ia maju kedepan untuk mencegah, namun Yap Jeng Cie dari gunung Pa-san yang menyaksikan kejadian itu salah mengira ia hendak membokong Thiat Bok Thaysu, buru-buru pedangnya berkelebat menusuk kedepan.

Desiran angin pedang sangat tajam, Liuw Boe Hwie gerakkan tangannya membabat namun karena tiada bertenaga lengan sendiri malah terhebat kutung, badanpun tak kuasa ikut roboh terjengkang keatas tenah.

Hanya didalam satu jurus kedua orang tokoh sakti dari dunia persilatan ini telah roboh terjengkang keatas tanah, kemenangan yang diluar dugaan ini malah mencengangkan kedua orang itu.

Dengan berlangsungnya pertarungan disebelah sini, dengan sendirinya pertarungan dipihak kedua telah berhenti, Pertama-tama Lie Hong Hwie perdengarkan dahulu jeritan kagetnya.

"Suhu...".

Dengan cepat badannya menubruk kesisi si-Bunga Mawar Putih, tampak perempuan itu sedang muntah darah segar, wajahnya pucat pias, napasnya lemah tenaga untuk berbicarapun tak ada.

Liem Kian Hoo pun memburu kesisi gurunya Liuw Boe Hwie. mula-mula ia totok dahulu jalan darahnya agar darah berhenti mengalir, kemudian meloncat hangun, menuding Thiat Bok Thaysu sekalian dan memaki kalang kabut:

"Kalian pembunuh-pembunuh tak tahu malu, keberanian kalian cuma terbatas untuk menghadapi dua orang tua yang sama sekali tiada bertenaga untuk melawan.".

"Eeeh... sebenarnya apa yang telah terjadi ? " Tanya Thiat Bok Thaysu tergagap, ia masih belum paham.

Dengan air mata mengembeng dikelopak mata, Liem Kian Hoo menggembor keras:

"Apa yang terjadi ? kau masih belum mengerti ? dalam pertarungan sengit yang terjadi sepuluh tahun berselang suhuku serta Pek cianpwce telah menderita luka parah hingga ilmu silatnya musnah, kalau tidak, terhadap manusia-manusia tolol macam kau, tak mungkin merek berdua terluka."

"Benarkah sudah sudah terjadi peristiwa ini ? mengapa tidak mereka ucapkan sejak tadi ?"

"Mengapa harus mereka katakan ? dengan pribadi suhuku serta Pek cianpwee kau anggap mereka sudi minta ampun dan merengek-rengek kepada kalian untuk dilepaskan jiwanya."

Pucat pias seluruh wajah Thiai Bok Thaysu, ia bungkam dalam seribu bahasa.

Tiba-tiba Yap Jeng Cie dari gunung Pa-san cabut keluar pedangnya lalu dibabat keatas lengan sendiri, darah segar muncrat keluar membasahi permukaan, dengan tinggalkan kutungan lengan ia putar badan dan berlalu dari situ tanpa mengucapkan sepatah katapun.

"Kau anggap dengan mengutungi sebuah lenganmu lantas urusan sudah dianggap beres ??" Teriak Liem Kian Hoo kearah bayangan punggungnya, "Suatu saat aku hendak sembelih kalian satu persatu untuk cuci bersih penghinaan yang kami terima hari ini !". Yap Jeng Cie pura-pura tidak mendengar, tanpa berpaling barang sekejap pun ia berlalu dari situ.

Thiat Bok Thaysu pun tiba-tiba berjalan kesisi Lie Hong Hwie, seraya menjura dalam-dalam ujarnya:

"Ini hari pinceng telah bertindak gegabah hingga melukai suhu anda, kesalahan ini sudah sepantasnya ditebus dengan selembar jivvaku, namun misteri kematian suhengku belum jelas, pinceng mohon kelonggaran dari sicu untuk kasih kesempatan buat diriku selidiki persoalan ini, dilain waktu dosa ini pasti akan kutebus."

Dengan pandangan benci Lie Hong Hwie melirik sekejap kearahnya, ia mulutnya tetap membungkam dalam seribu bahasa.

Dengan wajah lesu dan sedih Thiat Bok Thaysu lantas menatap sekejap kearah keenam orang rekannya kemudian ia berbisik lirih: "Mari kita pergi ! ".

"Thaysu, untuk membabat rumput harus membabat seakar akarnya, dari pada meninggalkan bencana dikemudian hari!" seru Be Si Coen dengan hati tidak senang.

"Tidak boleh, setelah sekali salah kita tak boleh melakukan kesalahan untuk kedua kalinya !".

"Perbuatan si-Bunga Mawar Putih kejam lagi telengas, sekalipun thaysu cabut jiwanya paling banter. ".

"Tidak bisa kita bertindak demikian !" seru Thiat Bok thaysu sambil geleng kepala".

"Ilmu silatnya sudah punah sejak sepuluh tahun berselang, orang yang mencelakai suhengku bukan dia tapi orang lain, sekalipun si-Bunga Mawar putih tak mau menolak tuduhan tersebut namun pinceng sudah dibikin jelas duduk perkara!". "Hmmm ! Mungkin Thiat Siut Thaysu bukan mati ditangannya. tapi putraku benar-benar mati ditangannya." teriak Be Si Coen sambil memancarkan cahaya buas.

"Perbuatannya membuat aku tak punya turunan, aku hendak bunuh dirinya, membinasakan pula muridnya agar iapun tak punya ahli waris, tak punya keturunan."

"Urusan pribadi Be Sicu tiada sangkut pautnya dengan pinceng." Tukas Thiat Bok Thaysu gusar.

"Peristiwa yang terjadi malam ini timbul karena pinceng, sampai detik ini akulah yang bertanggung jawab atas segala akibatnya, tetapi kalau Be sicu niat membinasakan mereka, Hmm maaf, pinceng tak mau ikut campur !".

Tiong Chiu-Siang-Kiat saling bertukar pandangan sekejap, akhirnya dibawah tatapan sinar mata Thiat Bok Thaysu yang tajam, tanpa mengucapkan sesuatu apapun, bersama-sama Ceng-Tiong-Su Hauw berlalu dari situ.

Fajar mulai menyingsing, ditengah kesunyian yang mencekam hanya terdengar isak tangis Lie Hong Hwie serta Ci-Kian yang memilukan hati.

Liem Kian Hoo dengan mulut membungkam berdiri disisi Liuw Boe Hwie, pipinya penuh basah oleh air mata, sinar matanya berapi-api penuh dengan rasa dendam.

Kokokan ayam jantan lapat lapat berkumandang dari kejauhan, sinar sang surya lambat-Iambat mulai menyoroti kota Yang Chiu .

Musim gugur telah menjelang tiba, hampir setiap hari hujan deras membasahi seluruh permukaan bumi membuat udara jadi lembab dan tidak enak dibadan.

Senja telah menjelang tiba, hujan yang mengesalkan hati akhirnya berhenti juga setelah seharian penuh tertuang dari angkasa titik air saling berjatuhan dari batang batang pohon yang gersang membasahi tanah yang kendur hingga timbulkan suara dentingan yang nyaring.

Diatas sebuah jalan gunung yang sempit dan curam tiba tiba muncul dua ekoa kuda jempolan diatas kuda duduklah sepasang lelaki berpakaian ketat, baju mereka basah kuyup oleh air hujan jelas mereka telah kehujanan ditengah jalan, dari uap putih yang mengempul dari badan kuda menumpukan pula bahwa perjalanan ini dilakukan siang malam tanpa beristirahat.

Mengapa mereka melakukan perjalanan siang malam tanpa perduli basahnya air hujan dan teriknya sinar mata hari ?

-o O o-

Kedua orang itu bukan lain adalah Liem Kian Hoo serta Loo Sian Khek, jauh jauh menempuh perjalanan ribuan li dari kota Yang Chiu hingga kepropinsi Im-Lam, apa yang sedang mereka kerjakan ? sedang berpesiar ?.

Akhirnya kedua ekor kuda itu berhenti didepan sebuah persimpangan jalan, Loo Sian Khek membesut air hujan yang membasahi wajahnya lalu termenung beberapa saat, seolah- olah sedang menentukan kearah manakah mereka hendak menuju.

"Bagaimana ?" Tegur Liem Kian Hoo dengan hati gelisah " Loo toako ! apakah kau sudah tidak kenali jalan lagi ?".

"Benar! " sahut Loo Sian Khek sambil menggeleng. "Sepuluh tahun berselang aku pernah ikuti guruku berkunjung kebenteng keluarga Liok, tapi sekarang ingatanku sudah agak kabur, maka dari itu sulit bagiku untuk menentukan jalan manakah yang benar".

Liem Kian Hoo berpikir sejenak, kemudian katanya:

"Ceng Tiong Su Hauw adalah orang kenamaan dalam dunia persilatan, mari kita tanya saja kepada orang yang kebetulan kita jumpai, persoalan ini tak boleh diundur lagi, sebab bilamana kabar dari Tiong Chiu SiangKiat tiba lebih dahulu, mungkin mereka sudah bikin persiapan dan tidak menguntungkan bagi kita !".

"Sungguh enak ucapan dari loote." Loo Sian Khek tertawa getir "Coba pikirlah beberapa banyak rumah penduduk yang kita jumpai sepanjang jalan ? ditengah pegunungan yang terpencil, kadangkala sampai puluhan li jauhnya pun belum tentu ada jejak manusia !".

"Kalau begitu kita tetapkan saja salah satu jalan diantaranya, kalau beruntung kita akan tiba ditempat tujuan

!".

"Tidak sempurna caramu itu ! daerah sekitar tempat ini merupakan pegunungan semua, sekali salah jalan berarti dua tiga ratus li harus kita tempuh sebelum balik kembali ketempat semula perjalanan kitapun akan tertunda selama sehari!"

"Lalu bagaimana baiknya ?" seru Liem Kian Hoo semakin gelisah, "Bagaimanapun kita tak bisa selalu menunggu disini bukan !liesen". Loo Sian Khek termenung beberapa saat lamanya kemudian baru ujarnya sambil menuding salah satu jalan diantaranya:

"Benteng Keluarga Liok terletak disebelah Tenggara, aku rasa lebih besar betulnya apabila kita lewati jalan ini !".

Liem Kian Hoo tidak berdicara, ia segera cemplak kudanya maju kedepan.

"Loote ! aku hanya menduga belaka, tak berani kuyakini bahwa jalan itu adalah yang harus kita tempuh sebenarnya ! " buru buru Loo Sian Khek berseru sambil mengejar kedepan.

"Perduli amat ! bagaimana juga kita harus maju kedepan, setelah salah paling cepat putar kembali kejalan semula, sekalipun ada diujung langit dasar samudra, aku harus temukan kawanan bajingan itu dan bikin perhitungan dengan mereka ! " Loo Sian Khek ragu ragu sejenak, akhirnya ia menghela napas panjang.

"Padahal empat saudara dari keluarga Liok tidak terhitung terlalu jahat, paling banter mereka bertindak karena tidak selidiki dahulu duduknya perkara, dimana bisa ampuni jiwanya, seperti tindakan loote terhadap Be Si Coen."

Liem Kian Lloo tertawa dingin.

"Perbuatannya terhadap guruku serta Pek cianpwee keterlaluan sekali, meski dibunuhpun dosanya belum bisa diampuni untung aku cuma mencukil sebuah biji matanya belaka, kalau bukan orang she-Be itu cepat cepat meloloskan diri akan kutebas pula lidahnya, akan kulihat dikemudian hari dapatkah ia putar balik duduknya perkara dan menghasut orang lain !".

Loo Sian Khek termenung beberapa saat, kemudian ujarnya kembali:

"Reputasi Tiong Chiu Siang Kiat dalam dunia persilatan memang kurang baik, pantas apabila loote bersikap demikian terhadap mereka, tetapi Ceng Tiong Su Hauw tidak terlalu jahat, mereka masih sering melakukan perbuatan mulia, dapatkah loote bersikap agak longgar sedikit kepadanya . . ."

"Tidak bisa ! keempat orang ini lebih lebih harus dibunuh, kalau Tiong Chiu Siang Kiu hanya melakukan kejahatan kecil maka sebagai hukumannya mata harus dicukil lidah harus dipotong, Lain halnya dengan keempat orang itu, bukan saja aku hendak menuntut batas buat guru serta Pek-Cianpwec, bahkan diatas kitab kecil milik si bunga Mawar Putih yang muat nama nama orang Bu-lim yang harus dibunubdabh karena kejahatannya tercantum pula mereka, bahkan nama mereka berada dipaling atas, seandainya ilmu silat Pek cianpwee tidak punah, sejak semula mereka sudah dibunuh !" Ucapan ini membuat Loo Sian Khek melengak. "Hubungan persahabatan guruku dengat empat bersaudara keluarga Liok sangat akrab, mengapa beliau tidak tahu apabila mereka pernah melakukan perbuatan terkutuk".

"Tidak sedikit jumlah manusia dikolong langit yang diluar pura pura ramah dan penuh belas kasih, padahal didalam hatinya bejad dan banyak melakukan perbuatan terkutuk !".

"Dapatkah loote beritahu kepadaku?".

"Tidak bisa ! aku sudah menyanggupi permintaan dari Pek Cianpwee, kecuali berjumpa dengan orangnya pribadi, kejelekan mereka tidak akan diumumkan kepada siapapun, disinilah letak kebijaksanaan Pek cianpwee, sepanjang hidup membasmi kejahatan namun tidak sudi mengutarakan alasannya, ia rela menerima setiap kesalahan pahaman orang lain daripada menjelekan orang dihadapan umum, ia telah serahkan tugas yang belum selesai ini kepadaku, tentu saja aku tak mengecewakan harapannya !".

Loo Sian Khek menghela napas panjang.

"Dalam dunia persilatan tersiar berita bahwa si Bunga Mawar Putih adalah seorang pembunuh yang berjiwa dingin dan berhati keji, tak nyana dia orang tua adalah seorang pendekar sejati yang khusus membasmi kejahatan."

Perbuatan seorang pendekar sejati hanya terbatas pada keamanan umat dunia dan sama sekali tidak memperduli nama sarta pamor sendiri Pek clanpwee telah serahkan tugasnya kepadaku, aku takut tugas tersebut tak dapat keselesaikan secara baik sebab orang-orang yang tercantum namanya diatas kitab tersebut banyak bagaikan bintang dilangit, sebilah pedangku ini entah harus membunuh beberapa banyak orang !"

"Begitu banyak jumlahnya ?". Liem Kian Hoo menghela napas dan mengangguk. Loo Sian Khek tidak berani bertanya lebih jauh siapa saja yang tercantum dalam kitab tersebut ia tahu bertanyapun percuma, tanpa terasa wajahnya kelihatan makin murung. Kebetulan Liem Kian Hoo berpaling, menyaksikan perubahan wajahnya sambil tersenyum ia lantas berkata:

"Loo-heng boleh berlega hati. dari partai anda cuma susiokmu seorang yang tercantum namanya dan tugas itu telah diselesaikrtqran sendiri oleh Pek cianpwee! gurumu Tiang Coen cinjien adalah seorang manusia berjiwa besar, ia tidak akan terseret pula dalam bencana ini !".

Dengan hati lega Loo Sian Khek menghembuskan napas panjang lalu tertawa ringan.

"Sepanjang hidup guruku bertindak jujur dan adil, aku sih tidak menguatirkan hal ini . . . aneh ! bukankah Pek cianpwee sendiri punya ahli waris ? mengapa tugasnya yang belum selesai tidak diserahkan kepada nona Lie untuk menyelesaikan

?" Suatu ingatan berkelebat dalam benak Liem Kian Hoo, segera jawabnya lagi:

"Maaf urusan ini tak dapat kujelaskan kepadamu, lagipula nona Lie sendiripun tidak tahu akan adanya pekerjaan ini, seumpama dikemudian hari Loo heng bertemu dengan dirinya, harap kau suka menutupi rahasia ini !".

Dengan wajah tercengang Loo Sian Khek mengangguk tidak Iama kemudian ia teringat kembali akan satu persoalan, tak tahan tanyanya lagi:

"Masih ada satu persoalan yang membuat Ih-heng tidak jelas, bulan berselang ketika Loo-te bergebrak melawan Be Si Coen tidak sampai tiga gerakan kau berhasil mencukil sebuah biji matanya, aku lihat tenaga dalammu telah peroleh kemajuan pesat kalau dibandingkan sewaktu ada dikota Yang Chiu tempo dulu ! dengan kepandaian yang dimiliki Loote semestinya kau tidak akan sampai kalah oleh mereka, apa sebabnya loote simpan kepandaian lihaymu dan duduk menyakikan berlangsungnya peristiwa menyedihkan itu".

"Aaaaai.... sudah ditakdirkan demikian, dibicarakanpun percuma, harap Loo heng jangan banyak bertanya !".

Beruntun Loo Sian Khek mengajukan pula beberapa pertanyaan namun tidak mendapat jawaban semua ia mulai merasa bahwa sianak muda ini penuh diliputi kemisteriusan.

"Aaaaah salah . . . kita sudah salah jalan, tempat ini adalah dusun suku Biauw ! " tiba tiba Loo Sian Khek berseru setelah memeriksa keadaan disekelilingnya.

"Darimana Loo heng bisa tahu ?".

Sambil menuding rumah gubuk dihadapannya, orang she Loo itu menjawab:

"Hanya suku Biauw saja yang akan membangun atap rumahnya berbentuk bulat, asal kita lihat modelnya segera akan ketahui !"

"Aku rasa Loo heng sengaja hendak bawa aku kemari, bukankah begitu ?"

Merah jengah selembar wajah Loo Sian Khek.

"Kan tadi sudah kukatakan bahwa aku tidak begitu menguasahi jalan disini, persolan pada sepuluh tahun berselang mana bisa diingat lagi dengan begitu jelas ? lagi pula sewaktu aku menunjukan arah jalan, Loote telah memutuskan dengan cepat."

"Loo heng tak usah kasih penjelasan lagi" tukas Liem Kian Hoo tersenyum berarti. "Aku tahu hubungan pribadimu dengan Ceng Tiong Su Hauw saugat akrab, ketika kau bersembunyi di-jembatan kutung kota Yap Chiu pun disebabkan tidak ingin berjumpa dengan mereka, sejak memasuki propinsi In Lam kau sudah perlambat perjalanku dengan alasan hujan, sepanjang perjalanan setiap kali bertemu dengan persimpangan tidak pernah kau tunjukan jalan yang benar bagaimana bodohnya siauw-te, lama kelamaan aku tentu merasakannya pula, bukan begitu ?"

"Harap Loote suka maafkan perbuatanku ! sewaktu Ih-heng ikut suhu berkunjung kebenteng keluarga Liok pada sepuluh tahun berselang, kami telah mendapat pelayanan yang sangat baik, aku tidak tega melihat mereka terluka diujung pedang."

"Benar atau tak boleh tidak harus diterangkan keadilan dan kebenaran tak boleh tidak harus ditegakakan !".

"Aaaaai . . . . seandainya ada alasan yang buat kematian mereka, tentu saja lh heng tak akan mencegah maksud loote."

"Tak ada alasan untuk mengampuni kesalahan mereka, mengingat maksud mulia dari Loo-heng maka selama ini aku pura-pura bersikap bodoh dan ikuti dirimu salah jalan, baiklah

! paling banyak kuberi waktu selama dua hari bagi mereka untuk bikin persiapan, dapatkah mereka mencari jalan hidup selama dua hari ini, terpaksa harus kita lihat apakah mereka punya rejeki atau tidak !"

"Terima kasih loote !" Loo Sian Khek segera menjura dalam dalam. "Bantuan yang dapat lh-heng berikan kepada merekapun terbaliesentas sampai disini saja, kejadian dikemudian hari lh heng tidak akan ikut campur lagi !".

Liem Kian Hoo tersenyum, ia larikan kudanya menuju kearah sebuah rumah gubuk sambil berjalan serunya:

"Apabila kematian sudah menjelang tiba, siapa yang dapat menolong mereka ? bagaimanapun akhirnya manusia harus mati, sekalipun tidak dibunuh orang, iapun tak bisa selamanya hidup didunia, Loo-heng tak perlu berterima kasih kepadaku, bencana atau rejeki semuanya telah ditetapkan oleh Thian !".

Tibalah sianak muda itu didepan sebuah rumah gubuk yang rada besar dan lebar diantara rumah penduduk lain, ia loncat turun dari kuda dan mengetuk pintu. Tidak lama kemudian pintu segera terbuka kembali, Ternyata penghuni rumah itu belum tidur, ruangan dibagi jadi tiga bagian, paling depan adalah ruang tamu dimana kurang lebih ada lima enam orang gadis sedang berkumpul sambil bersulam, gadis yang buka pintu tadi berusia delapan sembilan belas tahunan, walaupun berpakaian aneh namun wajahnya amat cantik,

Liem Kian Hoo sendiri walaupun berasal dari keluarga kaya, dalam rumah banyak terdapat dayang, namun ia jarang bergaul dengan wanita terutama sekali kaum gadis remaja, maka dari itu berhadapan dengan sekelompok gadis muda ia rada tertegun dibuatnya, untuk beberapa saat lamanya tak sepatah katapun berhasil diucapkan.

Gadis yang buka pintu tadi jauh lebih bebas, sambil tertawa ia lantas mempersilahkan tamunya untuk masuk.

"Koan lang, silahkan masuk kedalam !".

Merah jengah selembar wajah si anak muda itu, sahutnya tergagap:

"Kami... kami sudah salah jalan sedang malam telah menjelang tiba, maka terpaksa kami ganggu ketenangan kalian pada saat seperti ini. Aku rasa tempat nona kurang leluasa bagi kami ! lebih baik kami cari tempat lain saja.".

"Koan-lang, kau tak boleh berkata begitu." seru gadis itu kurang senang hati, "walaupun rumah kami kecil namun pelayanan kami terhadap tamu tidak kalah dengan rumah lain, seandainya Koan-Lan pindah ke rumah lain, dari mana kami punya muka untuk bertemu lagi dengan orang lain !".

Liem Kian Hoo melengabdabk setelah mendengar perkataan itu, maka saat itulah Loo Sian Khek sudah turun dari kuda dan masuk kedalam ruangan, segera bisiknya:

"Keluarga suku Biauw paling suka menerima tamu, kita sudah mengetuk pintu rumahnya, dalam sopan santun tak mungkin bagi kita untuk pindah ketempat lain, kalau tidak maka mereka akan anggap kejadian ini sebagai suatu penghinaan."

Tanpa terasa Liem Kian Hoo segera melangkah masuk kedalam ruangan, gadis-gadis itupun sambil tertawa letakkan sulaman mereka keatas meja, tuang air teh dan melayani mereka dengan baiknya, Gadis pertama yang buka pintu tadi paling giat diantara gadis-gadis lain, sambil memerintahkan orang untuk siapkan makanan. ia tuangkan sendiri dua cawan air teh panas. ujarnya sambil tertawa:

"Koan Lang, kalian tentu sudah lapar bukan ? mari minum teh dulu ! arak dan sayur segera akan dihidangkan, kami merasa amat bangga bisa menerima kalian berdua sebagai tamu agung kami, tolong tanya siapakah Koan-lang ?".

" Oooouw, cayhe she-Liem bernama Kian Hoo, malam- malam datang menganggu ketenangan nona, hal ini membuat kami merasa tidak tenteram, harap kalian tak usah repot- repot. Cukup makanan seadanya saja untuk menangsal perut. Tolong tanya dalam rumah nona masih ada siapa lagi."

Berhubung ia temukan dalam rumah itu penuh dengan gadis muda dan hal ini membuat gerak-geriknya jadi rikuh, maka ia ajukan pertanyaan tersebut. Gadis itu tersenyum manis, lalu menjawab:

"Aku masih punya orang tua tapi ini hari tak ada dirumah semua, sedang mereka adalah saudara saudara misanku, mereka tinggal sangat jauh dari sini. Karena untuk menghadiri pesta bulan purnama besok malam, sengaja datang menginap dirumah kami, terpaksa untuk keperluan ini ayah serta ibuku pindah ketempat lain. Oooh yaa ! aku bernama Watinah, Koan-lang harap panggil saja dengan namaku, kau tak usah sungkan2 !".

Setengah harian lamanya Liem Kian Hoo mendengar perkataan gadis itu, namun tidak banyak yang ia pahami, namun ia tahu gadis suku Biauw lebih polos dan terbuka, terhadap hubungan laki perempuan tidak terlalu terikat, maka sikapnya pun jauh lebih bebas.

"Nona Wa!" segera tegurnya samrtqrbil tertawa, Gelak tertawa merdu bergema memenuhi ruangan, terutama sekali Watinah, ia tertawa sampai terbongkok-bongkok. Liem Kian Hoo tak tahu apa yang sedang mereka tertawakan, sikapnya jadi sangat kikuk. Lama sekali Watinah tertawa cekikian, kemudian baru berkata:

"Kami orang orang Biauw tidak punya she dan cuma punya nama kepanjangan belaka, aku bernama Watinah dan bukan berarti boneka, ayahku bernama Walian dan kalau mengikuti cara Koan lang maka ia jadi bernama Wawalian, kedengarannya jadi mirip ucapan bahasa Han kalian yang berarti simuka Bocah, Ooooo sungguh berarti sekali !".

Merah jengah sianak muda itu, buru-buru serunya tergagap:

"Aaaah . . . maaf , . . maaf     aku jadi tak enak hati.".

"Tidak mengapa ! adat istiadat masing-masing daerah memang berbeda, tentu saja kami tak bisa salahkan diri Koan- lang !"

Dalam pada itu dua tiga orang gadis telah muncul dari belakang ruangan sambil hidangkan sayur dan arak, bau harum segera tersebar memenuhi seluruh ruangan.

"Malam ini kami siapkan sayur terburu-buru sehingga tak dapat baik-baik melayani kalian berdua." kata Watinah dengan nada menyesal, "Biarlah besok saja kami siapkan sayur yang lebih baik, tanggung kalian berdua tentu akan puas !".

"Nona, kau tak usah repot-repot, besok pagi kami akan berangkat untuk melanjutkan perjalanan kembali !"

"Aaaah, mana boleh begitu ?" Seru Watinah kurang senang, "Kalian jauh jauh datang kemari, mana boleh berangkat sebelum hadiri pesta Bulan Purnama ? bukankah artinya kalian tak pandang sebelah mata terhadap kami ? tak boleh, bagaimanapun juga kalau mau berangkat harus tunggu sampai besok lusa !"

Sementara Liem Kian Hoo hendak menampik, sambil tertawa Loo Sian Khek telah berkata:

"Aku dengar pesta Bulan Purnama adalah suatu pesta besar yang dilakukan setahun sekali diwilayah Biauw, sungguh tak nyana kami bisa mendapat kesempatan sebaik ini, kalau tidak hadir sungguh sayang sekali, Loote ! bagaimana kalau kita berdiam diri sehari disini ?".

Liem Kian Hoo tahu kembali dia ciptakan kesempatan bagi Ceng Tiong Su Hauw untuk loloskan diri, ia tersenyum dan membungkam. Watinah mengira ia sudah setuju untuk tetap tinggal disana, ia jadi kegirangan setengah mati.

"Dengan ikut sertanya Koan-lang dalam pesta Bulan Purnama besok malam, suasana tentu akan semakin meriah, terutama sekali kami bisa undang tamu macam Koan-lang, benar-benar merupakan suatu penghormatan buat kami !"

Gadis-gadis lainnya pun ikut utarakan rasa gembira mereka, sinar matapun sama dialihkan kearah Liem Kian Hoo membuat sianak muda itu jadi jengah dan tersipu-sipu.

"Sebenarnya macam apa sih pesta Bulan Purnama itu ?" akhirnya ia bertanya dengan nada rikuh.

"Besok adalah hari Tiong-chiu juga merupakan pesta sembahyangan orang Biauw terhadap dewa rembulan, waktu itu lari dan nyanyi akan menghiasi suasana, tanggung Loote akan gembira dan tambah pengalaman !".

Liem Kian Hoo berpikir sejenak, tiba-tiba tanyanya:

"Kita sama-sama merupakan tamu, mengapa mereka teristimewa menahan diriku ?". Loo Sian Khek mendongak tertawa terbahak-bahak kembali sahutnya: "Loo-te masih muda lagipula ganteng, tentu saja disenangi oleh siapapun, berbeda dengan Ih-heng yang sudah tua lagi jelek, pelayanan baik yang kami terima malam inipun sebagian besar karena ikut mendapat sinar Loo-te !".

Liem Kian Hoo merasa kurang senang dengan ucapan itu, belum sempat ia bicara, Watinah telah berkata kembali, agaknya ia malah merasa gembira dengan ucapan itu:

"Loo-heng, ucapanmu terlalu sungkan, kami orang Biauw paling kagum dengan laki laki sejati. Terutama sekali terhadap lelaki kekar macam anda, tentu mendapat penyambutan yang hebat, aku tanggung besok malam kau tidak akan kesepian !".

"Haaaa . . . haaaaa . . . . haaaa . . . sepanjang hidup belum pernah aku terima pelayanan seindah ini, sungguh tak nyana nona begitu memuji diriku, mari kuhormati nona dengan secawan arak !".

Seraya berkata ia angkat cawanliesen dan diangsurkan dihadapannya Watinah, dengan cepat Watinah sambar cawan arak Liem Kian Hoo dan diangkat pula ketengah udara. Loo Sian Khek segera teguk habis isi cawan tersebut, kemudian dua jari tangannya ditutupkan keatas cawan, ujarnya sambil tersenyum:

"Aku telah menyampaikan maksud hatiku, terserah bagaimana sikap nona sendiri !".

Watinah tertegun, sinar matanya dialihkan kearah Liem Kian Hoo, biji matanya berkilat tajam, lama sekali ia baru menjawab:

"Terima kasih, aku tidak akan melupakkan budi anda ! ".

Habis berkata ia tempelkan cawan itu kesisi bibir lantas menegukkan hingga separuh, setelah itu di-serahkannya pula kehadapan Kian Hoo, tangannya kelihatan gemetar, dengan suara lembut katanya: "Koan-lang ! aku hormati separuh cawan arak untukmu !" Terhadap tindakan gadis tersebut, Liem Kian Hoo merasa melengak dan diluar dugaan, menjumpai pula arak yang sebenarnya berwarna semu hijau kini sudah berubah jadi merah kena gincu di-atas bibirnya, ia semakin tertegun, beberapa saat lamanya tak sanggup mengucapkan sepatah katapun. Melihat pemuda itu tidak menerima angsuran cawannya, air muka Watinah berubah hebat.

"Apakah Koan-lang tak mau menerima penghormatanku ?" tanyanya dengan suara sedih.

"Nona, adat istiadat kita berbeda, seumpama aku berbuat demikian aku takut hal ini malah kurang sopan terhadap diri nona !"

Air muka Watinah berubah makin mengenaskan air mata jatuh bercucuran membasahi wajah-nya, sementara gadis- gadis lain yang berada di-sekeliling tempat itupun berubah amat serius, sinar mata semua orang sama sama ditujukan kearah sianak muda itu, Liem Kian Hoo tercengang, ia segera berseru:

"Loo-heng, sebenarnya apa yang telah terjadi ?".

"Watinah menghormati dirimu dengan tata cara suku Biauw yang paling tinggi, seumpama loote tidak menerima maka hal ini dianggap sebagai suatu penghinaan serta suatu peristiwa yang sangat memalukan, untuk menebus semuanya itu maka hanya satu jalan saja baginya yaitu kematian ".

"Aaaah . . . . bagaimana bolehbdab jadi ? . . ." Teriak Kian Hoo terperanjat.

"Orang Biauw menganggap bibir seorang gadis perawan merupakan lambang kesucian seseorang, maka dari itu sisa arak yang diangsurkan kepadamu menunjukkan pula suatu penghormatan yang sangat tinggi." Loo Sian Khek menerangkan lebih lanjut. Meskipun Kian Hoo tidak percaya, tapi menyaksikan sikap Watinah serta gadis gadis lain, ia tahu apa yang dihadapi sekarang bukan gurauan belaka, dengan hati apa boleh buat terpaksa diterimanya juga cawan arak itu dan meneguk habis isinya.

Tempik sorak bergema memenuhi angkasa, dengan perasaan amat berterima kasih Watinah mengecup telapak tangan sianak muda itu, kemudian bisiknya lirih dengan air mata jatuh bercucuran:

"Terima kasih Koan-lang ! sepanjang hidup aku akan berterima kasih kepadamu !".

Liem Kian Hoo tergagap dan tak mengerti apa yang harus dibuat, separuh cawan arak yang telah masuk kedalam perutnya terasa panas merangsang namun wangi dan harum semerbak . . Gerak gerik Watinah ketika itu berubah jauh lebih lembut dan hangat, ujarnya kembali:

"Koan-lang, kau datang dari tempat kejauhan, kurangilah minum arak, dibelakang sana ada pembaringan, setelah bersantap pergilah beristirahat dan simpanlah tenagamu, agar besok kita bisa bergembira sepuas-puasnya !".

Liem Kian Hoo memang merasa rada lelah, namun sambil teriawa ujarnya pula:

"Setelah kita tempati pembaringanmu bagaimana dengan kalian sendiri ?".

"Kami tidak tidur. kami harus kerja lembur semalam suntuk !". " Nona, rajin benar kalian !".

Watinah tersenyum, "Puluhan hari hujan melulu membuat kami mengira pesta Bulan Purnama yang akan diadakan besok tidak jadi diselenggarakan ! maka siapapun tidak bersiap sedia, siapa tahu ketika senja menjelang tiba tadi hujan tiba- tiba berhenti, terpaksa semua orang harus kerja lembur untuk siapkan pakaian baru, bukan kami saja yang berbuat demikian, seluruh nona yang ada didalam dusun ini sama sama repot semua ! inilah rejeki yang dibawa oleh Koan-lang .

. . !".

Sekarang Kian Hoo baru tahu mengapa mereka kerja lembur sampai jauh malam, kiranya mereka sedang persiapkan pakaian baru untuk menghadiri pesta besok malam, iapun tersenyum.

"Mengapa tidak kalian siapkan rtqrsejak dulu dulu, bukankah sama saja artinya ?".

Para gadis tertawa cekikikan, Kian Hoo lantas tahu tentu dia sudah salah berbicara hatinya menyesal sekali.

"Koan-lang kau tidak paham dengan adat istiadat kami." Watinah menjelaskan "Satu stel pakaian baru mempunyai sangkut paut yang amat besar terhadap kami, pakaian tersebut harus dibuat apabila sudah yakin pas dengan potongan badan sendiri, seumpama pakaian itu sudah dibuat tapi tidak dipakai maka kejadian ini akan mendatangkan ketidak beruntungan sepanjang hidup, maka dari itu sampai menjelang saatnya, baju itu baru mulai dibuat Semoga Thian melindungi kami dan memberi malam yang cerah pada esok hari ! ".

"Nona, kau boleh berlega hali, besok malam bulan tentu muncul dengan cerahnya." Hibur Kian Hoo "Setiap hari Tiong- ehiu, bulan purnama akan menyinari seluruh jagad, aku ikut hadir dalam pesta tersebut dan menikmati tari nyanyi kalian, kejadian ini boleh dikata suatu pengalaman yang paling menggembirakan bagiku".

Loo Sian Khek tertawa terbahak-bahak.

"Tepat, teringat nyanyian para pelacur dikota Yang-Chiu" sering mereka nyanyikan bait syair Yong Tiaw Ko dari Siok Thay sipujangga dari ahala Song, isinyapun menyangkut soal rembulan, sayang lh-heng tak ngerti tulisan, jangan dikata bait syairnya meski irama lagunya pun lupa, Loo-te, sebagai seorang siucay kenamaan diwilayah Kanglam kau tentu tahu bukan !".

"Sungguh ?" Teriak Watinah dengan girang-nya, "Koan lang, bagaimana kalau kau bernyanyi untuk kami ? ".

Gadis-gadis lainpun mendesak pula, dalam keadaan apa boleh buat terpaksa Kian Hoo tarik suara dan bersenandung.

Ditengah alunan suara yang berat dan mempesonakan hati itulah Kian Hoo mengakhiri senandung-nya, suasana dalam ruangan sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun, para gadis yang hadir dalam ruangan sudah dibikin terpesona oleh kemerduan suara anak muda itu.

Dalam pada itu setelah bernyanyi Liem Kian Hoo merasa amat lelah, tanpa terasa ia tertidur diatas meja, lama . . . lama sekali . . . akhirnya Watinah disadarkan kembali dari lamunannya oleh dengkuran yang keras. Air mata jatuh berlinang membasahi seluruh wajahnya, dengan pandangan mesra ia tatap wajah sianak muda itu. tanpa terasa ia membelai rambutnya seraya berguman:

"Semoga diberkahi umur panjang, hidup sentausa hingga akhir jaman. Sungguh indah irama lagu ini Koan-lang

kau sudah mabok ! juga lelah ! akan kubimbing kau masuk kamar dan beristirahat !".

Demikianlah dibawah bimbingan Watinah, si anak muda itu dipayang masuk keruang belakang untuk beristirahat. Loo Sian Khek menghela napas panjang rasa menyesal terlintas diatas wajahnya, Ketika Watinah muncul untuk kedua kalinya ia lantas maju menjura sambil tertawa.

"Nona, kiong-hie, kiong-hie kau telah mendapat calon suami yang ganteng dan hebat !". Watinah menghela napas sedih.

"Tuan Loo ! apakah kau sudah punya bini ? ia bertanya. "Belum ada, aku hanya berharap kau bisa rayu dirinya dengan segala kelembutan serta kemesrahan hingga sepanjang masa tidak meninggalkan dirimu kembali! aku bisa serahkan dia kepada nona secantik dirimu, hatikupun bisa lega!"

"Aku tak berani berpikir demikian ! " Watinah geleng kepala sambil menghela napas panjang. "Walaupun aku sudah jatuh hati pada pandangan pertama, namun aku tak tahu bagaimana sikapnya terhadap diriku, mungkin ia tidak pandang sebelah matapun terhadap aku seorang gadis Biauw dan tak berpendidikan . ."

"Inilah sebabnya aku lantas memberi kisikan agar kau lepaskan racun kejimu ke dalam tubuhnya" Kata Loo Sian Khek tersenyum. "Aku tahu gadis-gadis suku Biauw paling lihay didalam menguasahi kekasihnya, sekalipun jauh ribuan li dari hadapan, kau bisa memanggil dia kembali kesisimu cukup dengan menggerakkan racun keji yang ada didalam tubuhnya kalau aku bukan temukan tanda khusus di depan pintu rumahmu, aku sama sekali tidak menyangka kalau kau adalah Ku Sin Li atau si dewi racun yang amat tersohor di seluruh wilayah Biauw. Racun apa yang

Telah kau lumerkan dalam air liurmu tadi ?"

"Racun Thian-Hiang-Si ?" seru liesenLoo Sian Khek terperanjat.

Dengan wajah sedih Watinah mengangguk.

"Tidak salah, sejak hari ini jiwa kita telah terikat jadi satu, aku rela mengikuti dirinya, bagaimana dengan dirinya..."

Malam Tiong-Chiu, Rembulan bersinar dengan cerahnya menyingkap kegelapan yang meliputi seluruh jagad, bintang bertaburan memenuhi angkasa, sinar keperak-perakkan yang indah menyorot keseluruh pelosok. Ditengah sebuah lapangan yang luas, api unggun berkobar dengan besarnya, laki perempuan suku Biauw dengan pakaian beraneka ragam menyanyi, menari dengan gembiranya. Dentungan tambur yang memperdengarkan irama jaman purba mengiringi tarian serta nyanyian muda mudi itu, mereka nyanyi bersarna, menari bersama dan gembira ria bersama- sama.

Kesemuanya ini menimbulkan kesan yang dalam bagi Liem Kian Hoo, dengan hati terpesona ia menikmati kesemuanya itu, seandainya ia tidak takut melanggar adat, ingin sekali sianak muda itu ikut terjunkan diri dan menari, menyanyi bersama sama muda mudi itu.

Sepanjang hari Watinah duduk disisinya dengan penuh kemesraan, disisi lain Loo Sian Khek duduk sambil meneguk arak sekuat mungkin, agaknya ia hendak meminjam pengaruh arak untuk lenyapkan kemurungan serta kesalahan dalam hatinya.

Diantara muda mudi yang sedang bergembira di- tengah kalangan, Liem Kian Hoo kenali beberapa orang diantaranya, mereka adalah saudara-saudara misan Watinah yang dijumpainya kemarin malam.

Tiba-tiba timbul rasa heran dalam hatinya, sianak muda itu segera bertanya:

"Nona, mengapa kau tidak turut serta dalam pesta pora ini

? ".

Dengan lembut Watinah menggeleng, ia tidak menjawab. Kebetulan seorang nona cilik berusia tiga belas tahunan berdiri disisi mereka, bocah itu segera menjawab:

"Watinah adalah kepala suku kami, tentu saja tidak sembarangan ia boleh ikut serta dalam pesta ini ! ".

" Oooooouw ! kiranya begitu, tidak aneh kalau semua orang bersikap hormat kepadamu, ternyata kau punya kedudukan yang begitu tinggi mengapa tidak kau katakan sejak semula ?".

"Seorang suku liar mana bisa dbdabibandingkan dengan keluarga Bangsawan dari Koan-lang ? daripada merasa malu, kan lebih baik jangan dikatakan bukankah begitu ?".

"Nona, salah kalau kau punya pikiran demikian, walaupun lingkungan pengaruhmu tidak luas, bagaimanapun juga kau adalah pemimpin dari sekelompok umat manusia, kalau dibandingkan dengan diriku, Waaaah, . . aku masih bukan apa-apamu..."

"Aku dengar tuan Loo mengatakan bahwa ayah Koan-Lang adalah seorang pembesar Kerajaan kelas satu !".

"Oooouw. . . itu urusan ayahku pribadi, kan pangkatnya tidak mungkin diserahkan kepada diriku, seumpama aku ingin naik pangkat seperti halnya orang lain, akupun harus belajar, ujian dan menempuh perjuangan setingkat demi setingkat !"

Berdasarkan kecerdikan Koan-lang ditambah hubungan ayahmu dengan atasan, aku rasa tidak sulit bagimu untuk menduduki pangkat tinggi.

"Nona, kau terlalu memuji. Watakku malas lagipula meskipun sudah jadi pembesar pengaruhpun dibatasi oleh undang-undang, tidak seperti halnya nona, pengaruhmu besar dan wibawamu luar biasa."

"Koan-Iang, kalau kau suka dengan jabatan ini, kedudukan kepala suku ini sekarang juga kuserahkan kepadamu !".

"Nona, kau bukan lagi bergurau ? " Seru Kian Hoo melengak.

"Aku tidak bergurau, asal Koan-lang suka maka anak buahku yang ada disekitar delapan ratus li dari sini serta lima ribu orang pendudukku akan tunduk dan taat pada perintah Koan-lang! " Dari nada ucapan yang tegas sianak muda itu sadar bahwa gadis itu tidak begurau, ia segera berkata pula dengan nada serius:

"Nona, harap kau jangan bergurau, pangkat kepala suku ini adalah jabatan turun temurun, mana boleh kau serahkan kepadaku begitu saja ? lagipula aku berjiwa pesiar, aku bercita-cita untuk mengunjungi semua tempat dikolong langit yang berpemandangan indah, maksud baik nona terpaksa aku terima dihati saja !"

"Aaaaai . . . ! akupun tahu kedudukan yang tak berarti semacam ini tak akan dipandang sebelah matapun oleh Koan- lang, kegagahan serta jiwa Koan-lang membuat aku merasa kagum, seandainya aku bisa lepaskan krtqredudukanku sebagai kepala suku, aku pasti mendampingi Koan-lang untuk berpesiar kescluruh kolong langit."

"Harap nona jangan berkata demikian." buru-buru Liem Kian Hoo menukas, " Kau pikul tugas yang sangat berat, kebahagiaan sukupun tergantung kepada kebijaksanaan nona, mana boleh kau tiru caraku yang tiada berarti ini ?".

Dengan amat sedih Watinah menghela napas panjang, titik air mata jatuh berlinang membasahi wajahnya. Liem Kian Hoo sendiripun diam-diam menyesal ia terlalu banyak bicara hingga mendatangkan kerepotan pada diri sendiri, mulutnya lantas membungkam dalam seribu bahasa.

-oo0dw0oo-