Patung Pembawa Maut

Pengarang : Aryani W
S A T U

PELABUHAN SEMARANG ramai sekali dengan pedagang yang bongkar muat dagangan di kapal. Pedagang dari manca negara banyak berdatangan di Nusa Jawa dengan melalui pelabuhan ini. Para kuli angkut naik turun dengan punggung berisi muatan, di bawah kapal dekat dengan barang yang ditum-puk, seorang pedagang Cina berkepala gundul pelontos. Berdiri sambil memegang sebuah kotak berukir. Di belakangnya dua orang centeng bertubuh gempal dengan kumis melintang seperti Raden Gatotkaca menjaga dengan patuhnya.

“Ayaaa, lambat betul olang-olang itu keljanya! Owe mau makan dulu, Dul. Awasi olang-olang itu sebental!” katanya dengan suara cedal. Pedagang Cina ini tidak dapat mengucapkan huruf dengan benar, dia selalu mengucapkan r dengan l. Pedagang Cina yang bernama Lim Hok Coan itu memerintahkan Dullah salah seorang centengnya.

“Baik, Tuan Lim. Jangan khawatir, sebentar lagi kalau sudah selesai saya kabari.” Dullah menjawab cepat sambil membungkukkan tubuh. Hati-hati lu jaga! Jangan dikasih hati kalau ada yang malas!” kata Babah Lim lagi. “Owe pelgi, Dul. Hati-hati!”

Dengan mengempit kotak berukir Lim Hok Coan berjalan menuju ke Rumah Makan SEDAP di perempatan jalan dekat pasar. Memasuki ruangan dengan langkah berat, tubuhnya yang gendut itu menaiki tangga batu agak kesukaran.

“Selamat pagi, Juragan Lim.” sambut pelayan. Dia telah mengenal Juragan Lim Hok Coan ini dengan baik karena juragan ini adalah langganan tetap rumah makan ini. “Disediakan seperti biasa, Juragan.”

“Iya, sepelti biasa! Tolong alaknya dua guci!” “Baik, juragan!” Juragan Lim Hok Coan duduk di sudut seorang diri. Kotak berukir ditaruh di atas meja. Sambil menanti pesanan datang dia berkipas-kipas mengusir panas! “Pagi, Juragan Lim.”

Juragan Lim Hok Coan menengok ke samping. Ternyata yang menegurnya adalah seorang yang memakai pakaian bagus dengan kain sutera hitam. Wajahnya tampan tanpa kumis, akan tetapi sepasang matanya liar bergerak ke sana-sini. Tubuhnya tinggi kurus.

“Aiyaaa, kapan datang? Ada belita apa lagi?” sapa Lim Hok Coan. “Ayo duduk dulu, kita bicala santai!” Sancaka duduk di depan Juragan Lim. Melihat kotak berukir, tangannya terulur.

“Jangan sentuh!” bentak Juragan Lim. Sancaka menarik tangannya cepat seakan kena patukan ular cobra. Mengawasi Juragan Lim penuh tanya. “Apakah itu barang ... ?”

“Nanti saja bicala di lumah! Di sini banyak olang!” katanya pelan sambil berkedip dengan sebelah mata kiri. Pelayan datang membawa makanan dan arak dua guci. Menaruh di meja lalu membongkok pergi dengan hormat.

“Kita makan dulu.” katanya sambil menawarkan. Sancaka tanpa malu-malu lalu mengambil makanan yang terhidang, juga minum arak. keduanya makan dengan diam. Akan tetapi pandang mata Sancaka tidak pernah lepas dari kotak berukir di atas meja depan Juragan Lim.

“Aku permisi dulu, juragan. Ini, mau mengantarkan untuk Juragan Cakra.” Sancaka minta diri. Memberi salam lalu berlalu dengan cepat keluar dari rumah makan. Sancaka membelok ke dalam pasar dan lenyap di kerumunan orang!

Setelah selesai makan. Juragan Lim kembali ke tempat penurunan barang-barang di dermaga. itu.

Dullah yang melihat kedatangan tuannya menyambut.

“Tuan Lim, tadi tuan Coa ke sini.” katanya cepat. “Tuan Coa bilang akan ke rumah nanti malam.” “Oya, Kalau begitu masukkan semua dalam gudang! Aku mau pulang sekalang!” Lim Hok Coan

lalu menuju ke kereta yang menarrti di sudut jalan. Menaiki kereta lalu menyuruh kusir untuk mengantar pulang. Dua orang centeng lain naik di belakang kereta mengawalnya pulang.

Malam itu di rumah Juragan Lim Hok Coan. Seorang tamu yang berbadan kurus memakai hancinco hitam dengan kepala tertutup topi kopiah hitam pula. Kumisnya tipis panjang sampai di bawah dagu, sepasang matanya sipit. Dia bukan lain adalah Coa Bo Gie seorang pedagang barang-barang antik.

“Bagaimana, Lim-toako? Asli atau tidak patung itu?” tanya Coa Bo Gie. Mereka berdua bicara menggunakan bahasa asalnya. Bahasa Cina.

“Asli! Ini terang asli! Orang dari Surabaya itu telah meneliti dengan seksama.” jawab Lim Hok Coan dengan suara pasti. “Penjual patung .berani menanggung bahwa patung ini asli.”

“Boleh aku melihatnya sebentar?” kata Coa Bo Gie kemudian.

“Mari, kita masuk saja ke ruang belakang! Di sana kita dapat meneliti lagi. Coa-te sebagai penjual barang antik tentu lebih tahu.” Lim Hok Coan lalu bangkit berdiri, mengajak tamunya untuk mengikutinya ke belakang. Menuju ke ruang khusus tempat ia menyimpan benda-benda keramat dari berbagai daerah. “Mari, mari silakan masuk saja!” “Ck-ck-ck ... !” Coa Bo Gie begitu melihat koleksi benda-benda di ruangan itu berdecak kagum! “Luar biasa, sungguh luar biasa sekali! Sungguh tak pernah kusangka bahwa Lim-toako mempunyai begini banyak benda berharga!” katanya penuh kagum.

“Aiyaaa, kau ini bisa saja! Kan ini koleksi sejak dari tanah leluhur sana!” katanya sambil tersenyum bangga. Lim Hok Coan yang melihat temannya itu kagum merasa bangga sekali. Sebagai pedagang barang antik tentu saja Coa Bo Gie ini lebih dapat menilai!

Lim Hok Coan menuju ke sebuah lemari kaca di sudut kamar, membukanya lalu mengambil sebuah kotak berukir. Menaruh di atas meja di tengah ruangan serta membuka tutupnya. “Mari, lihatlah!”

“Terima kasih!” Coa Bo Gie maju mengawasi isi kotak berukir. Ketika tangannya terulur akan mengambil patung dalam kotak terdengar bentakan menggeledek!

“Tahan! Jangan pegang patung itu!” Berkelebat sesosok bayangan tinggi besar di tengah ruangan. Kedua orang yang di dalam tersentak kaget sekali. Bagaimana tahu-tahu tamu tak diundang ini dapat masuk ke ‘ruang belakang tanpa diketahui para penjaga di luar! 

“Maafkan, pinceng datang tanpa diundang!”

“Tan-suhu ... ” Hampir berbareng Lim Hok Coan dan Coa Bo Gje berseru. Bagaimana pendeta ini dapat mengetahui bahwa dia mempunyai Patung Batari Durga?

“Kebetulan Tan suhu datang. Sebetulnya besok pagi saya mau menghaoap suhu di kelenteng!” Lim Hok Coan cepat-cepat berkata untuk menutupi rasa kagetnya. Siapakah yang memberi tahu pendeta ini sehingga malam-malam datang ke rumahnya dengan menggunakan kepandaiannya! “Pinceng tadi ketika bersamadhi seakan-akan ditarik-tarik untuk pergi ke mari! Kiranya memang ada sesuatu di sini!” kata Tan suhu halus sambil merangkapkan kedua tangan depan dada. Menjura kepada Lim Hok Coan dan Coa Bo Gie. Kedua orang nupun membalas penghormatan itu dengan segan. Hanya alasan saja, pikir keduanya.

“Tan suhu, mengapa mencegah saya untuk memegang patung itu?” tanya Coa Bo Gie.

“Begini, menurut apa yang kudengar dari kelenteng di Surabaya. Patung Batari Durga itu mengandung kekuatan yang menyesatkan! Banyak sudah orang menjadi korbannya!” Menerangkan demikian, Tan suhu maju ke depan mengawasi patung. Mulutnya berkemak-kemik membaca mantera serta tangannya memutar-mutar tasbih yang dibawanya.

Kedua orang itu saling pandang. Tidak percaya! Sudah biasa kalau benda seni itu mengandung daya magis, pikir keduanya. Tetapi semua itu dapat dicari penangkalnya!

“Tapi suhu kan bisa memberi penangkal? Tolonglah Patung Batari Durga ini jangan memberi bencana di rumah ini. Patung ini berharga sangat mahal, suhu.”

Tan suhu mengangguk. Lalu duduk di depan patung di atas bantal yang disediakan oleh tuan rumah. Lim Hok Coan serta Coa Bo Gie juga duduk di bantal di belakang hwesio ini, mengikuti ucapan mantranya. Suasana di dalam kamar menjadi syahdu dengan adanya irama mantram ketiga orang itu. Tiba-tiba mengepulah asap putih dari peti berukir di mana Patung Batari Durga berada. Lim Hok Coan dan Coa Bo Gie terbelalak! Memandang ke arah asap yang membubung naik itu dengan keheranan meliputi hatinya. Asap itupun semakin tinggi, seakan membentuk bayangan seorang wanita! “Hi-hi-hik ... kenapa aku kausuruh pergi?

Di sini tempatku bersemayam! Siapapun tidak dapat menyuruh aku pergi!” Entah siapa yang mengeluarkan suara ini. Mungkin hanya Tan suhu saja yang dapat menebaknya?

Tan suhu semakin keras membaca mantram. Dari dahinya telah keiuar keringat sebesar kedele memenuhi mukanya. Tiba-tiba dia berhenti membaca mantram dan tubuhnya dalam keadaan duduk itu telah melayang ke atas. “Siapapun adanya kau, kuminta jangan mengganggu rumah ini!” Sambil melemparkan tasbihnya ke arah peti berukir di meja! “Buuussss ... !!!”

Api kemerahan memancar keluar dari sepasang mata patung. Menahan tasbih di udara, begitu tasbih turun ternyata peti itu telah pindah tempat! Sekarang ada di meja di sudut kamar.

Tan suhu menulis huruf-huruf di udara dan mengacungkan kedua jari telunjuk serta jari tengahnya. “Wuuuusssss!!” Jari-jari itu menyala ketika diarahkan ke patung.

Entah bagaimana caranya meloncat? Tahu-tahu peti berukir telah tidak ada di tempat tadi ketika api menyambar datang! “Hi-hi-hik ... kau kira sudah menundukkan aku!”

Kembali ada suara mengejek. “Terimalah ini!”

Tahu-tahu Tan suhu telah dibungkus oleh api yang berkobar. Kembali terjadi keanehan. Tan suhu yang terbakar api tidak berteriak kesakitan sama sekali. Api itu seakan-akan tidak dapat menembus hawa yang melindungi tubuhnya!

“Daaarrrrr ... !!!”

Ledakan dahsyat terdengar memekakan telinga yang mendengarnya. Tan suhu terlihat kembali telah duduk di bantal dengan napas terengah-engah. Pendeta yang ahli kebatinan dan silat ini belum mampu membendung serangan dari Patung Batari Durga yang entah berisi makhluk siapa itu!

“Amitaba ... !” Tan suhu memuji kebesaran Sang Buddha. Agaknya dia sadar bahwa belum waktunya patung dapat dimusnahkan. Kedua orang di belakangnya ternyata telah bersujud berkali-kali sambil mengucapkan kata-kata yang tidak jelas!

Tan suhu berdiri lalu mohon pamit pada Lim Hok Coan. Coa Bo Gie juga mengikuti hwesio, berpamit kepada tuan rumah. Juragan Lim sendiri juga takut berada di kamar itu sendiri, mengikuti kedua orang keiuar kamar. Menutupkan daun pintu, setelah itu mengantar kedua tamunya keiuar dari rumahnya. Ketika sampai di pintu depan Tan suhu berkata.

“Kuharap malam ini jangan ada yang masuk kamar! Apabila matahari telah bersinar baru boleh masuk!” pesannya. “Pesan suhu akan saya pelhatikan.”

“Besok siang saja kita lanjutkan pembicaraan kita, Lim-toako. Sekarang lebih baik saya pulang dulu.” kata Coa Bo Gie sambil memberi isyarat mata. Juragan Lim mengangguk!

Setelah kedua tamunya pergi Juragan Lim masuk ke rumah. Memanggil seluruh penghuni rumah untuk berkumpul di ruangan besar. Dia memesan siapapun untuk tidak membuka pintu kamar tempat barang seni. “Besok setelah telang tanah balulah boleh! Bial aku saja yang membuka. Nanti setelah kubuka balu dibelsihkan oleh pala pembantu!” katanya pelo. “Ada apakah sebetulnya ayah?” Anak perempuan satu-satunya bertanya.

“Wahh, nanti saja kubelitahu. . Sekalang semua boleh bubal!” kata Lim Hok Coan kepada anak perempuannya dan semua orang yang berada di ruangan itu.

Semua orang lalu kembali ke tempat masing-masing hanya puterinya yang masih duduk di dekat ayahnya. Setelah semua orang pergi barulah Juragan Lim melanjutkan keterangannya. “Begini, Hwa.” Juragan Lim menceritakan peristiwa yang baru saja terjadi di kamar belakang. Puterinya Lim Gin Hwa mengangguk-angguk sambil memandang ayahnya dengan kedua mata tak percaya? “Lebih baik kau tidul kembali! Hari sudah malam, Hwa!”

Lim Gin Hwa mengiyakan. Lalu dara ini menuju ke kamarnya sendiri. Ketika semua telah pergi Juragan Lim pun menuju ke kamar untuk mengaso! D U A

PERGURUAN SILAT Balung Wesi terletak di sebuah bukit di tepi laut utara. Rumah perguruan itu besar sekali dan dikelilingi oleh pagar tembok tinggi. Pintu gerbangnya tertutup oleh daun pintu yang terbuat dari kayu jati yang tebal. Ketua perguruan Balung Wesi bernama Ki Jaluwesi telah berusia sekitar enam puluhan tahun. Ketua ini dibantu oleh adik seperguruannya yang berumur lima puluhan tahun bernama Ki Pentet Prawirayuda sebagai wakil ketua perguruan silat Balung Wesi. Siang hari itu di pelataran depan penuh dengan pemuda yang sedang berlatih pencak silat. Diawasi langsung oleh kedua gurunya.Di sudut samping empat orang yang memegang golok besar sedang mencoba kekebalan temannya.

“Dukk! Dukk! Dukk! Dukkk!”

Empat batang golok silih berganti menghunjani tubuh bertelanjang dada. Golok terpental kembali tanpa sedikitpun melukai kulit hanya meninggalkan bekas kemerahan di tubuh si pemuda.

“Hati-hati Parta! Sekarang balaslah menyerang!” kata salah seorang pemegang golok. “Baik! Kerahkan seluruh tenaga kalian!”

“Wirrrr ... ! Plakkk!” Sebuah babatan golok dari depan ditangkis Parta, terlempar ke udara! Ternyata pemegang golok di depan tidak dapat memegangi goloknya akibat tertangkis tangan Parta.Ketiga temannya menyusuli dengan serang-an golok mereka. Bagaikan hujan saja layaknya babatan golok melanda tubuh Parta. Parta menggunakan geseran-geseran kaki serta gerak kilat kedua tangannya ia dapat mengelak dari hujan serangan golok.

“Ciaaattttt! Plakk! Plakk! Plakk!”

Ketiga temannya terlempar ke kanan kiri terkena tamparan di pundak masing-masing. Parta menerima babatan golok dengan tubuhnya dan membarengi dengan tamparan. Ketika golok menimpa tubuh terpental dan tamparan Parta mengenai pundak lawan tanpa dapat dielakkan saking cepatnya.”Bagus Parta. Sekarang engkau telah maju pesat!” puji Ki Pentet Prawirayuda yang melihat gerakan murid didiknya. Dia maju men-dekati Parta yang sedang berdiri memandang rekannya.

“Terima ini!” seru Ki Pentet Prawirayuda sambil melayangkan sebuah pukulan ke dada.

Parta menggeser kaki ke kiri lalu tangannya menggedor lambung gurunya. Ditangkis, serta disusul serangan bertubi melanda tubuhnya. Parta memainkan ilmu silatnya sebaik mungkin dalam menghadapi pelatihnya Ki Pentet Prawirayuda ini. Sesekali membalas serangan lawan.

“Plakkk! Duukkk!!”

Ternyata dada Parta terkena pukulan. Ketika tadi menangkis serangan pancingan lawan dadanya terbuka sehingga dimanfaatkan oleh pelatihnya ini. Tanpa ampun lagi Parta terlempar ke belakang!

“Bagus. Ternyata Ilmu Tameng Wajamu sudah sempurna.” Puji Ki Pentet Prawirayuda. Senang melihat kemajuan yang diperoleh oleh Parta.

“Terima kasih, paman guru.” Ki Pentet Prawirayuda mengawasi sekeliling, tiba-tiba dia tertarik melihat seorang murid tinggi besar menyerang temannya. Murid nya itu membawa sebuah balok sebesar lengan diputar-putar lalu terayun ke arah pemuda bertubuh kurus di depannya!

“Wuuutttttt ... dukkk-kraakkkk!!”

Akibat pukulan balok sebesar lengan itu sungguh di luar dugaan. Balok yang deras menerpa tubuh kurus kering itu malahan patah menjadi dua tatkala menimpa tubuhnya. Sungguh hebat sekali ilmu yang diperlihatkan oleh si kurus kering ini. Bejo si raksasa pemegang balok membuang sisa balok ke pinggir, mendekati pemuda kurus.

“Hebat kau Pardi! Balok sebesar lengan dapat patah dan membuat tanganku terasa sakit.” Bejo memuji dengan lantang terdengar oleh rekan di kanan kirinya.

“Yang hebat bukan aku, kang Bejo. Ilmu Tunggak Waja ajaran guru inilah yang hebat!” Pardi menjawab merendah.Ki Jaluwesi yang mendengar omongan ini tersenyum kecil. Murid kecilnya ini sungguh menyenangkan hatinya. Dia pandai membawa diri dan bakatnya dalam ilmu kanuragan sungguh luar biasa. Semua jurus yang ia berikan dilalapnya dengan mudah.

“Kuummpuuulllll ... !!!” Ki Jaluwesi menyuruh para muridnya untuk berkumpul. “Berjajar seperti biasa!” Sambil berlarian para murid mengikuti perintah ini. Ketika semua telah rapi di pelataran, Ki Jaluwesi memberi isyarat kepada adik seperguruannya. Ki Pentet Prawirayuda mengerti maksud kakaknya ini, dia lalu memberi aba-aba.

“Satu ... ! Dua ... ! Tiga ... ! Empattt!!” Begitu aba-aba itu diulang beberapa kali. Para murid melakukan jurus-jurus pencak siiat ajaran Perguruan Balung Wesi. Semua gerakan para murid ini mendatangkan angin saking kerasnya. Ki Jaluwesi puas melihat hasil ini. Ketika dia hendak berlalu seorang penjaga berlarian dari pintu luar.

“Lapor guru. Di luar menanti Tan suhu dengan Juragan Lim.” “Hemmm, suruh masuk saja keduanya! Kutunggu di ruang samping.”

Penjaga itupun berlalu menyampaikan perintah gurunya kepada tamu di depan pintu benteng. “Silakan masuk. Andika berdua ditunggu di bangunan samping.” kata si penjaga.

“Telima kasih. Mali tolong antalkan kami beldua!” kata Juragan Lim dengan logat bicara nya yang pelo. Salah seorang dari penjaga mengantar kedua tamu menuju keruangan samping di mana sang guru telah menanti. Begitu kedua tamu telah diterima gurunya diapun mengundurkan diri, melanjutkan tugas menjaga pintu benteng depan!

Tan suhu (pendeta Tan). Kebiasaan penduduk Cina memanggil para hwesio dengan sebutan suhu (guru) dan Juragan Lim memberi salam kepada Ki Jaluwesi, dibalas oleh tuan rumah dan dipersilakan duduk. Tak berapa lama kemudian datanglah seorang murid yang membawa namptin berisi air teh dan makanan kecil. Menaruh di atas meja depan ketiga orang itu lalu mengundurkan diri kembali ke belakang!

“Angin apakah yang membawa Tan suhu datang di kediamanku yang buruk ini?” tanya Ki Jaluwesi. “Angin baik, Ki Jaluwesi.” Tan suhu menjawab. “Aku mengantar Lim Hok Coan juragan kapal di

Semarang ini.” “Lho ada apa? Apakah ada sesuatu yang membutuhkan bantuanku?”

“Aiyaaa, saya menjadi malu sendili. Begini, tuan Jaluwesi. Aku membutuhkan banyak olang untuk menjaga balang yang kukilim ke Plambanan!” katanya langsung pada persoalan.

Ki Jaluwesi mengawasi Juragan Lim dengan penuh perhatian. Aneh juragan ini, di Semarang kan banyak para pengawal barang antaran. Ki Jaluwesi lalu bertanya. “Mengapa tidak menyewa orang-orang di sana?” Tan suhu menceritakan semua kejadian yang menimpa keluarga Juragan Lim dengan adanya peti berukir berisi patung! Diceritakannya secara jelas dan rinci!

“Barang itu mau dikirimkan kepada guruku di Prambanan.” kata Tan suhu. Dia mengawasi Ki Jaluwesi yang keheranan mendengar ceritanya tentang Patung Batari Durga. “Kami membutuhkan pengawalan orang-orang sakti.”

“Iyaaa, tolonglah saya tuan Jaluwesi. Benda ini sangat bertuah, saya sungguh mohon kesediaan tuan Jaluwesi untuk menjaganya sendiri.” Desak Juragan Lim.

Ketika itu masuklah Ki Pentet Prawirayuda. Ki Jaluwesi menyuruhnya untuk duduk di samping kirinya. Dia lalu memperkenalkan kedua tamunya kepada Pentet Prawirayuda. “Perkenal kan ini adikku seperguruan atau boleh dibilang wakilku sendiri, Pentet Prawirayuda.”

Tan suhu berdiri memberi salam. “Saya pendeta Tan, dari kelenteng di Semarang.”

“Owe Julagan Lim Hok Coan!” Juragan Lim juga memperkenalkan dirinya. “Saya senang dapat belkenalan dengan tuan Plawilayuda.” Keempatnya lalu bicara ke sana ke mari. Tan suhu kembali mengulang peristiwa di rumah Juragan Lim beberapa malam yang lalu, semua diceritakan tanpa tedeng aling-aling. Untuk menyakinkan kedua tamunya kedua orang guru itu lalu mengajak tamunya ke tempat latihan. “Mari silakan memilih sendiri murid-murid kami!”

Keempatnya berjalan ke pelataran di mana para murid masih giat berlatih sendiri-sendiri. Juragan Lim terbelalak melihat latihan murid Perguruan Balung Wesi, sungguh tidak pernah disangkanya sama sekali bahwa badan yang kurus kering itu ternyata mampu menahan babatan dan tetakan golok yang tajamnya menggiriskan. Apalagi ketika melihat seorang yang tinggi besar memukul dengan sebuah balok ke arah pemuda kerempeng!

“Bleekkkk! KraaakkkkH”

“Hebat, hebat sekali. Hatiku menjadi tenang, Tan suhu.” Juragan Lim memuji lalu menyatakan kesenangan hatinya kepada Tan suhu. Kedua orang itu lalu memohon diri untuk kembali ke Semarang. Menyatakan hari pemberangkatannya. Ki Jaluwesi dan Ki Pentet Prawirayuda menyanggupi permintaan itu untuk siap mengawal pada hari yang telah ditentukan. Kedua tamunya diantar sampai di depan pintu luar. Setelah kereta berjalan pergi barulah dua ketua perguruan Balung Wesi kembali masuk ke dalam benteng.

“Kita harus meny iapkan diri. Memilih murid-murid yang telah pandai untuk menjadi pengawal. ‘ Ki Jaluwesi mengutarakan maksudnya.

“Kakang Jaluwesi, apakah tidak sebaiknya kalau saya sendiri saja yang mengawal?” usul Ki Pentet Prawirayuda kepada kakak seperguruannya. “Kukira ini tidak perlu dibuat khawatir. Prambanan bukanlah tempat yang jauh. Dalam sehari saja kukira dapat sampai di sana. Apalagi kalau aku mengendarai kuda.” “Jangan gegabah, adi! Agaknya semua orang telah mengetahui benda bertuah itu!” “Kalau begitu bagaimana baiknya, kakang.” tanya Ki Pentet Prawirayuda.

“Lebih baik kaubawa sepuluh murid terpandai membantumu!” “Baik, kakang.”

Pada hari yang telah ditentukan berangkatlah Ki Pentet Prawirayuda dengan disertai oleh sepuluh orang murid perguruan Balung Wesi. Rombongan ini berangkat dengan gagahnya mereka semua menaiki kuda yang dikirim dari Juragan Lim Hok Coan. Kuda-kuda tinggi besar, kuda Arab. Semua membawa golok besar digantung di punggung!

Ketika rombongan ini tiba di tempat kediaman Juragan Lim, ternyata di sana telah menanti tiga kereta tertutup tirai hitam. Juragan Lim begitu melihat kedatangan rombongan Balung Wesi ini maju menyambut. “Aiyaaa, sudah sedali pagi menanti. Tuan Pentet Plawilayuda, bolehkah sekalang juga kita belangkat?”

“Maafkan kami, Juragan Lim. Ada sesuatu yang mesti kulakukan sehingga kedatanganku terlambat.” Ki Pentet mohon maaf.

“Tidak apa, tidak apa. Bagaimana? Kita belangkat sekalang, ya?” “Boleh. Mari, silakan.” kata Ki Pentet Prawirayuda tegas.

Juragan Lim, puterinya Lim Gin Hwa dan Tan suhu menaiki kereta yang di tengah. Ki Pentet Prawirayuda setelah melihat ketiga orang itu menaiki kereta lalu memberi isyarat. Rombongan itupun bergerak maju. Ternyata jumlah pengawal ini ada tiga puluhan orang lebih. Ki Pentet Prawirayuda memacu kudanya ke depan diiringi oleh kedua murid perguruan Balung Wcs’ vang sudah mempunyai ilmu cukup tinggi yaitu Parta dan adiknya si Pardi!

Dengan cepat rombongan ini keiuar dari kota Semarang menuju ke arah selatan. Karena banyaknya pengawal yang mengawal kereta, maka perjalanan tidak dapat dilakukan dengan cepat. Apalagi Juragan Lim meminta agar rombongan tidak tergesa-gesa. Dia ingin menikmati keindahan pemandangan alam perjalanan ini! Ketika hari telah sore, rombongan ini berhenti di Desa Sambungmacan. Kepala desa datang menyambut sendiri. Dia tidak tabu bahwa yang datang bukan rombongan bangsawan tinggi, tetapi rombongan Juragan Lim Hok Coan.

“Mari, silakan masuk!” katanya. Ki Pentet Prawirayuda memasuki pendapa kalurahan. Lalu memberi tahu maksudnya ingin menyewa beberapa rumah penduduk untuk tempat menginap anggota rombongan. “Saya tidak ingin menyusahkan warga di sini, Pak Lurah. Tolong saja, saya ingin menyewa tiga buah rumah untuk mereka semua.”

“Tiga rumah? Apakah tidak terlalu banyak, kisanak.” tanya Pak Lurah dengan wajah menunjukkan keheranan. “Tidak, Pak Lurah. Kami tidak mau terganggu oleh orang luar.” kata Ki Pentet Prawirayuda menjelaskan. Bapak Lurah mengetahui maksud tamunya, lalu menyuruh ponggawa kelurahan untuk meminta kesediaan penduduk warga desa meminjamkan tiga rumah untuk bermalam. “Ini uang penggantinya, Pak Lurah.” Sambil menyerahkan uang pengganti Ki Pentet lain memohon diri dari bapak lurah untuk mengatur anak buahnya. Dengan cepat dia menemui Juragan Lim dan menyilakan juragan itu untuk memilih tempat bermalam.

Mereka lalu berpencar menuju tempat yang telah ditentukan itu. Melihat semua berjalan lancar Ki Pentet Prawirayuda lalu menuju rumah besar, di mana Juragan Lim Hok Coan menginap bersama ketiga kereta. Ketiga kereta ditaruh di halaman depan yang luas dan dijaga oleh sepuluh orang pengawal. Sedangkan yang lainnya menuju ke arah dua rumah di kanan kiri tempat itu.

“Tuan Pentet. Kuhalap tidak teljadi apa-apa malam nanti!” Juragan Lim berkata dengan wajah yang penuh kekhawatiran.

“Tenang tak usah khawatir. Saya akan ikut menjaga kereta itu.” kata Tan suhu menenangkan Juragan Lim. “Betul, juragan. Tak usah khawatir. Pen-agaan telah kuatur supaya mereka berjaga bergiliran.” Sambung Ki Pentet Prawirayuda.

Mereka lalu mengobrol ke sana ke mari. Tanpa terasa malam telah mendatang. Ki Pentet Prawirayuda lalu mernohon diri untuk mengaso. Juragan Lim dan Tan suhu pun saling berpisah, Juragan Lim memasuki kamarnya dan Tan suhu juga menuju ke tempat yang disediakan untuk dirinya! Ki Pentet Prawirayuda sebelum memasuki kamar memeriksa keadaan di luar, setelah merasa semua dalam keadaan baik diapun lalu memasuki kamarnya!

Di tempat para pengawal berjaga, tampak lima orang sedang mengelilingi api unggun. Mengusir dingin sambil membakar singkong. Salah seorang mengorek-orek api agar tetap menyala sedangkan dua orang penjaga yang lain sudah menikmati ubi kayu yang masih panas sambil bicara simpang siur menceritakan pengalaman mereka sendiri-sendiri.

Lima orang penjaga yang lain berjalan meronda mengelilingi tiga buah kereta kuda.

Ketika menjelang tengah malam penjagaan diganti oleh yang Jain. Sepuluh orang penjaga menggantikan penjaga pertama! Terdengar suara derap kaki kuda memecah kesunyian malam dan tak lama kemudian dua ekor kuda membalap cepat di jalan utama dusun. Kedua penunggangnya hanya menengok sekilas ke arah kereta yang ditaruh di halaman depan rumah. Dalam sekejab saja telah tidak tampak lagi hilang di kelokan jalan. Sepuluh orang penjaga itu tidak menaruh hati curiga sedikitpun juga, mereka mengira sudah biasa ada orang kemalaman dari perjalanan jauh sehingga membalapkan kuda tunggangan mereka.

Malam pun semakin larut. Para penjaga terkantuk-kantuk di dekat kereta, sedangkan yang lainnya sebanyak lima orang asyik bermain gaple! Di dekat pintu masuk ke halaman dua orang penjaga berdiri sambil menikmati rokok.

“Kloootaaakkkk! Reeeettttt!!”

“Siapa!” bentaknya. Salah seorang penjaga menghampiri belakang kereta dengan golok siap di tangan kanan. “Dukkkk! Adduuuhhhh!”

Penjaga itu terlempar ke belakang dengan dada terbuka lebar mengalirkan darah. Sesosok bayangan hitam melompat ke atas genteng!

“Tangkap penjahat! Siaaappppp ... ! Ada penjahat ... !” Para penjaga pun berlarian ke arah kereta masih sempat melihat sesosok bayangan hitam melompat ke atas genteng. Sesosok tubuh gendut menggelinding keluar mendengar teriakan ini.

“Ada apa? Apa yang dibawa pen jahat?” teriak Juragan Lim penuh kekhawatiran. Dia tidak bisa tidur teringat akan harta bendanya yang berada di kereta. Takut kehilangan peti berukir berisi Patung Batari Durga yang ditaruh di bawah tempat duduk di dalam kereta. “Ha-ha-ha ... tunggu saja. Nanti akan kuambil lagi!”

Begitu habis berkata bayangan hitam itu telah meloncat ke belakang rumah. Ketika dikejar oleh para penjaga ternyata telah tidak nampak lagi bayangannya. Entah lari ke mana bayangan hitam yang meloncat turun dari atas genteng tadi? Kegelaman malam telah menyulitkan para penjaga untuk mencari dengan teliti karena tidak tahu ke arah mana bayangan itu melarikan diri. Ki Pentet Prawirayuda juga keluar dari kamarnya, dia sebetulnya baru ingin merebahkan diri untuk mengaso setelah melihat bahwa hampir tengah malam tiada kejadian apa-apa yang patut dicurigai. Ketika baru memasuki kamarnya, tiba-tiba terdengar teriakan penjaga sehingga dengan cepat dia keluar lagi dan mendekati seorang penjaga yang menggeletak mandi darah di dekat kereta. Ternyata penjaga itu telah menemui ajalnya terkena babatan senjata tajam di dadanya!

“Kuharap kalian lebih berhati-hati! Sekarang terbukti ada orang-orang yang menginginkan isi kereta barang kita!” katanya sambil mengawasi para penjaga satu persatu.

“Kami akan lebih waspada menjaga kereta ini, tuan Pentet.” kata salah seorang penjaga yang menjadi kepala mereka. “Iya betul. Keleta ini belisi balang langka! Kuhalap kalian tidak semblono dalam menjaganya!” kata Juragan Lim dengan pelo.

Juragan ini meminta pengawal untuk menjaga lebih waspada. Kedua orang itu lalu kembali ke dalam rumah. Penjagaan lalu ditambah oleh lima orang pengawal lagi menggantikan teman mereka yang telah tewas. Karena ada salah seorang rekan mereka tewas maka sekarang mereka berjaga dengan penuh kewaspadaan, tidak berani lengah!

Sampai hari menjelang pagi ternyata tidak ada lagi peristiwa yang mengganggu mereka. Kereta lalu disiapkan di depan, kuda-kuda dipasang kembali untuk menarik kereta. Para pengawal setelah mengubur teman mereka bersiap kembali menjaga keamanan dan keselamatan kereta Juragan Lim Hok Coan dan keluarganya.

“Kita sekarang tahu bahwa rombongan ini tentu akan dihalangi oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab,” Ki Pentet Prawirayuda berhenti sejenak. Mengawasi para pengawal satu persatu, lalu kembali berkata.

“Untuk menjaga supaya jangan ada korban lagi, kuharap kalian selalu waspada di dalam perjalanan nanti!”

Para pengawal mengangguk mengerti mereka sadar bahwa sekarang ini bukan hanya sekedar mengawal kereta. Akan tetapi jiwa mereka juga terancam!

“Maajuuuu ... !” Ki Pentet Prawirayuda berteriak memberi perintah. Rombongan inipun rnulai bergerak meninggalkan desa dan debupun mengepul tebal ketika kuda-kuda mereka ber-lari congklang di jalan desa. Para penduduk dusun mengantar mereka dengan pandang mata penuh tanda tanya. Dua ekor kuda melintas di belakang rombongan itu menuju ke simpangan jalan di belakang pasar, dalam sekejab mata telah hilang dari pandangan karena tertutup debu tebal akibat lari kudanya!

Ki Pentet Prawirayuda hanya menengok sebentar ke arah kedua penunggang kuda itu, lalu membedal kudanya ke depan berendeng dengan Parta dan Pardi. Berkata perlahan-lahan untuk jangan sampai terdengar oleh orang lain yang berada di pinggir jalan. Kembali lagi ke belakang kereta terus menuju belakang rombongan! Dengan cepat desa itu telah ditinggalkan oleh rombongan Juragan Lim. Semua pengawal berwajah tegang karena peristiwa ma lam tadi, akan tetapi semangat mereka tidak menurun walanpun teman me’reka telah tewas seorang! TIGA

SURYO memandang kepergian gurunya, Pengemis Alis Putih. Bayangan putih berkelebat cepat sekali menuju ke timur. Dalam beberapa detik saja bayangan itu telah hilang dari pandangan. Suryo menghela napas panjang, lalu duduk di bawah pohon, termenung!

Rombongan orang berkuda itu melewatinya. Debu yang beterbangan membuat Suryo berdiri dan menyingkir dari tepi jalan, menghindar.

“Uwahh, melarikan kuda kok tidak pakai aturan! Lihat dulu, dong.” gerutunya keras.”Siapakah pemuda itu, Di.” tanya Parta.

“Entahlah, kang Parta! jangan-jangan dia mata-mata?” sahut Pardi. “Suruh semua teman untuk waspada!”

“Baik, kang.” Setelah menjawab, Pardi melarikan kudanya ke belakang menemui gurunya. “Ada apa, Pardi.” tanya Ki Pentet Prawirayuda.

“Saya curiga pada seorang pemuda pakaian putih.” sahut Pardi. “Dia tadi menyelinap ke balik pohon.

Ketika kami melewatinya.”

“Hemmm!” Ki Pentet Prawirayuda lalu membedal kudanya. “Semua waspada!”

Akan tetapi ketika Ki Pentet Prawirayuda tiba di dekat pohon pemuda berpakaian putih telah lenyap. Kecurigaannya menjadi bertambah, diapun lalu memerintahkan Parta maupun Pardi untuk lebih waspada. Kedua orang itu lalu melarikan kudanya ke depan memata-matai keadaan di depan rombongan. Pardi memberi isyarat dan rombongan itu melanjutkan perjalanan kembali! Setelah rombongan itu tidak tampak lagi Suryo meloncat turun dari atas pohon. Dia tadi bersembunyi sekitar dua tombak dari jalan, mendekam di cabang yang tinggi. Suryo lalu berjalan ke arah yang berlawanan dengan rombongan itu. Belum begitu jauh ia berjalan, dua ekor kuda dibalapkan oleh penunggangnya hampir menyerempet dirinya.

“Buusyeetttt!” Suryo menggerutu.

“Agaknya rombongan itu baru melewati jalan ini, Drun!” kata salah seorang penunggang kuda. “Benar, Man. Jejak roda itu masih terlihat jelas!” sahut Timan singkat. Tak lama kemudian ia

berkata lagi. “Kita harus cepat memberi tahu kakang Simo Gendeng!”

Suryo yang lapat-lapat mendengar pembicaraan dua orang penunggang kuda itu menjadi curiga. Agaknya rombongan itu terancam oleh dua orang penunggang kuda berpakaian hitam. Siapakah orang bernama Simo Gendeng? Ahh, lebih baik aku kembali saja! Mungkin rombong an itu membutuhkan bantuanku? Katanya dalam hati. Langkahnya lalu berubah arah seratus delapan puluh derajat. Suryo kembali mengikuti rombongan yang telah jauh meninggalkannya.

Mendengar suara kuda yang dipacu kencang orang di belakang rombongan berteriak memberi tahu. Rombongan dan kereta bergerak ke tepi memberi kesempatan dua orang berkuda itu lewat. Kedua kuda itupun tanpa mengendorkan lari nya melewati rombongan dan salah seorang dari penunggang kuda menoleh ke samping, mengawasi tiga kereta. Dengan cepat keduanya berialu pergi meninggalkan rombongan itu jauh di belakang. Dalam sekejab mata keduanya telah tidak nampak lagi, hilang di kelokan jalan.

“Gilaaa!! Kedua orang itu agaknya telah mendem gadung!” kata Bejo murid perguruan Balung Wesi yang tinggi besar seperti Aria Werkudara.

“Husshhh! Hati-hati kalau omong, Bejo!” tegur Ki Pentet Prawirayuda dari belakangnya. “Maaf,

guru.”

“Sudahlah! Cepat kau pergi ke depan!” perintah Ki Pentet Prawirayuda. Begitu Bejo mau berlalu, Ki

Pentet Prawirayuda berkata lagi. “Suruh Pardi meneliti hutan di depan, Jo!”

“Baik, guru.” Bejo lalu membedal kudanya ke arah Parta dan Pardi. Diapun lalu menyam paikan perintah gurunya kepada Pardi. Pardi lalu membedal kudanya ke depan mendahului rombongan untuk meneliti keadaan di depan yang akan dilewati rombongan.

Kembali dari belakang terdengar suara kaki kuda yang dilarikan kencang. Ternyata sekarang ada empat ekor kuda yang berlari cepat, kembali rombongan itu memperlambat jalannya kereta, dipinggirkan. Keempat kuda itupun melewati rombongan tanpa memperlambat lari kudanya. Debu mengepul tinggi akibat lari kuda, akan tetapi, keempat penunggang kuda tak peduli. Dengan membungkuk rapat di perut kuda mereka melarikan kuda-kudanya bagaikan sedang berlomba saja.Para pengawal menyumpah- nyumpah meihat ulan orang-orang itu. “Gila! Agaknya siang hari ini, banyak orang gila naik kuda!”

“Kau sendiri yang gila! Apa kau tidak naik kuda, Dul? Memaki orang seenak perut sendiri!” sahut teman dari belakang Dullah. Salah seorang centeng Juragan Lim.

Rombongan itu lalu melanjutkan perjalanan kembali. Begitu mereka membelok di tepi hutan, tiba- tiba mereka melihat seorang laki-laki sedang bertempur dikeroyok empat.

“Itu Pardi! Cepat bantu!” Bejo berteriak lantang.

Parta yang juga mengenal adiknya segera membedal kudanya. Begitu dekat dia meloncat dari atas kuda. Tubuhnya melayang bagaikan seekor burung alap-alap menerkam mangsa.

“Plakkk! Duukkkk!!” Terjangan Parta mendapat sambutan hantaman ruyung. Parta menangkis dengan tangan kanannya, tapi kakinya dapat menggedor dada lawan. Tanpa ampun lawan yang memegang ruyung terpelanting ke belakang! Melihat kedatangan teman-teman lawannya, keempat orang berbaju hitam segera meninggalkan Pardi, meloncat ke atas kuda dan melari-kan diri memasuki hutan. Lenyap dalam rimbunnya semak perdu hutan.

Rombongan itu melanjutkan perjalanan mereka sampai matahari terbenam, rombongan baru saja keluar dari dalam hutan. Ketika mereka melewati tanah lapang, Ki Pentet Prawirayuda berteriak keras. “Berhenti di sini! Kita akan melewatkan malam di tempat ini!”

Kereta lalu disejajarkan. Juragan Lim, puterinya Lim Gin Hwa dan hwesio Tan (Tan suhu) menemui Ki Pentet Prawirayuda.

“Mengapa kita halus belhenti di sini? Matahali masih belsinal, sebaiknya kita melanjutkan peljalanan! Kenapa belhenti?” tanya Juragan Lim yang merasa keheranan melihat rombongan berhenti di tepi hutan. “Kalau kita melanjutkan perjalanan. Kita akan kemalaman di tengah hutan!” kata Ki Pentet Prawirayuda menerangkan. Diapun memandang Juragan Lim dengan tajam. Lalu katanya kemudian. “Apa juragan lebih senang bermalam di hutan?”

“Aiyaaaa, tentu saja tidak! Lebih baik di tempat telbuka sepelti ini.” Juragan Lim kaget mendengar akan menginap di tengah hutan. Maka cepat ia menyatakan pendapatnya.

Ki Pentet Prawirayuda dihampiri Tan suhu, diajak menuju ke sebuah pohon yang agak jauh dari tempat itu. Tan suhu lalu mengatakan apa yang jadi pikirannya. “Tuan Pentet, ku-harap kau tidak berkecil hati. Menurut pendapat saya, pendapat tuan benar. Akan tetapi harap semua disiagakan penuh!”

“Tentu Tan suhu. Setelah peristiwa siang tadi aku menjadi was-was selalu! Kukira rombongan ini telah diincar orang sejak keluar dari Semarang!”

“Saya juga menduga demikian, tuan Pentet.” sahut Tan suhu pelan sambil memandang ke arah rombongannya. Ki Pentet Prawirayuda lalu meminta diri untuk mengatur para pengawal maupun murid- muridnya. Para penjaga kereta bawaan Juragan Lim lalu mencari kayu bakar. Mereka membuat api unggun di tengah. Dekat dengan kereta.

Kegelapan menyelimuti bumi. Di tengah lapangan itu banyak bayangan hilir mudik menjaga kereta dan teman-teman mereka yang mengusir hawa dingin di dekat unggun. Juragan Lim dan puterinya tidak kelihatan di antara mereka. Mereka berdua lebih merasa hangat berdiam di dalam kereta. Tan suhu kelihatan membuka kereta kedua di samping kanan, masuk untuk mengaso. Di kejauhan beberapa sosok tubuh berpakaian hitam. Merayap mendekati tempat itu, tidak kurang dari lima belas orang jumlahnya. Di tangan kanan mereka nampak beberapa tombak yang diseret. Tanpa menimbulkan suara sama sekali bagaikan geleser ular berjalan dilindungi oleh kegelapan malam, tahu-tahu mereka telah berada di dekat rombongan para penjaga. “Kulikk! Kulikk! Kulikk!”

“Wirrr! Wirrr! Wirrr!” hampir bersamaan tombak itu telah melayang menuju sasaran! “Tranggg! Aduhhh!”

“Trangg! Trangg-trrangg-traaanggg!!”

Suasana malam dipecahkan oleh teriakan kesakitan dan senjata yang beradu. Orang-orang yang berada di dekat api unggun segera memadamkan api. Malahan ada yang berteriak untuk memberi tahu.

“Kita diserang! Siaaapppp ... ! Padamkan api!”

Suara saling sahut menambah kacaunya para pengawal. Dari tempat gelap kembali melayang belasan tombak. Orang-orang yang tidak memiliki kepandaian tinggi yaitu para pengawal kereta jatuh termakan tombak-tombak!

“Parta, Pardi dan kau Bejo. Maju! Terjang musuh!!” teriaknya.

Ki Pentet Prawirayuda mendahului menerjang ke depan. Parta, Pardi dan Bejo mengikuti gurunya menerjang lawan yang bersembunyi di gelapnya malam.

“Tang-ting-tang-ting buukk-dukk-blekkk!!”

Beradunya senjata disusul muncratnya bunga api menerangi kegelapan malam dalam sekejap. Tubuh-tubuh berpentalan karena terkena pukulan atau tendangan sambil me-ngeluarkan teriakan mengerikan! Keempat orang itu mengamuk tanpa mengenal kasihan lagi. Tubuh lawan berjatuhan terkena senjata mereka.

Melihat ini, pemimpin penyerang berteriak keras. “Munduurrrr ... ! Lawan terlalu keras, munduuuurrrrr!”

Dengan cepat orang-orang berpakaian hitam itu melarikan diri sambil berusaha membawa kawan- kawan mereka yang terluka atau terbu-nuh! Dalam waktu yang singkat saja mereka telah hilang di dalam gelapnya malam, apalagi pakaian mereka yang serba hitam sangat mem bantu mereka dari pandangan lawan. Ketika Juragan Lim, Tan suhu dan Ki Pentet memeriksa sambil membawa obor, ternyata tidak kurang dari belasan orang telah menjadi korban tombak lawan! Yang tertinggal hidup hanyalah sepuluh orang murid perguruan Balung Wesi. Ternyata kekebalan tubuh mereka telah banyak membantu dan menolong mereka dari hujan senjata lawan.

”Kita kubur mereka sekarang juga! Besok pagi-pagi buta kita melanjutkan perjalanan!” Ki Pentet Prawirayuda memberi perintah.

“Baik, guru. Murid menjalankan perintah!” Salah seorang murid Balung Wesi menyahut.

Mereka lalu membagi kerja untuk membuat lubang sederhana guna mengubur teman-teman seperjalanan mereka yang tewas karena menjadi korban serbuan kedua ini.

“Apa olang-olang itu tidak kembali lagi? Bagaimana kalau meleka kembali?” Juragan Lim Hok Coan bertanya dengan suara gemetar dan tubuh gendutnya menggigil.

“Tidak perlu takut! Kukira malam nanti tidak akan ada serangan lagi.” sahut Tan suhu.

“Betul juragan! Silakan juragan mengaso dengan tenang.” pinta Ki Pentet Prawirayuda. Dia pun lalu berjalan menuju ke tempat bekas pertempuran di kegelapan untuk mencari sesuatu yang dapat dijadikan penyelidikannya. Mengapa Suryo tidak datang membantu? Pergi ke mana anak muda itu? Pertanyaan ini tentu saja agak sukar dijawab. Lebih baik kita mengikuti pengalamannya, mengapa Suryo Lelono tidak dapat membantu rombongan kereta yang diserang oleh orang-orang berpakaian hitam. Apabila ada pemuda itu pastilah tidak akan terjadi korban manusia sampai belasan orang!

Melihat rombongan berhenti di lapangan rumput, Suryo mencari tempat yang baik untuk mengawasi. Ketika kegelapan telah menyelimuti bumi Suryo turun untuk menuju ke sebuah sungai kecil. Tiba-tiba pemuda ini men dengar suara orang bercakap-cakap.

‘T-lati-hati, jangan sampai benda itu lolos!”

“Tapi ... tapi, benda itu berada di dalam kereta! Entah kereta yang mana?” katanya lirih. Menjawab perintah orang berbaju hitam yang bertubuh kurus.

“Kalau perlu bakar kereta itu! Peti berukir harus menjadi milikku!” “Baik! Saya akan berusaha untuk mendapatkannya.”

Suryo mengintai ke tepi sungai. Dua orang berpakaian hitam sedang berdiri berhadapan. Salah seorang bertubuh besar dengan kepala gundul plontos. Sedangkan yang bertubuh kecil malahan agak kurus. Seperti bentuk perempuan yang bertubuh sedang dan langsing. “Siapakah sebetulnya dua orang berpakaian hitam itu? Mengapa mereka bertemu di sini? Benda apakah yang sangat berharga?” Suryo ingin sekali mengetahui jawaban ini. Dia meng ambil keputusan untuk mengikuti orang yang mempunyai kepala gundul plontos. “Si gundul akan mengambil benda itu, lebih baik kuikuti!” katanya dalam hati.

Orang gundul yang berpakaian hitam menyelinap dalam kegelapan malam bagaikan bayangan iblis saja geraknya di antara pepohon an dalam hutan. Suryo akan kesukaran mengikutinya. Dia hanya melihat kepala gundul yang kadang kala terlihat di kegelapan terkena cahaya bintang-bintang di angkasa! Sampai jauh sekali dia menguntit. Entah berapa lama tak merasa lagi. Tiba-tiba orang gundul itu lenyap ketika meloncat ke dalam desa. Suryo mengikuti dengan berjalan biasa, memandang ke kanan kiri, akan tetapi tidak nampak bayangan orang gundul berpakaian serba hitam tadi. Entah pergi ke mana dia?

“Lebih baik aku masuk ke warung saja. Memberi makan cacing-cacing yang kurang ajar ini.” Bisiknya pelan. Dengan santai Suryo masuk warung makan, duduk, dan memesan makanan dan teh panas. “Tolong pak, saya minta nasi pecelnya. Oya, teh manisnya sekalian.”

Dengan cepat penjual nasi menyediakan pesanannya. Ketika Suryo sedang menikmati makannya, datang dua orang berpakaian hitam yang bagus. Wajahnya tampan tanpa kumis, sepasang matanya liar bergerak ke sana ke mari. Sedangkan salah seorang agaknya orang Cina. “Pak minta nasi dua, sediakan tuak kalau ada.” Orang Cina berpakaian hitam dengan kopyah seperti mangkok berwarna hitam memesan makanan.

Keduanya menikmati makan minum yang disediakan tanpa banyak bicara. Begit selesai, mereka lalu membayar dan berlalu pergi. Suryo keheranan melihat tingkah laku kedua orang itu. Yang satu terang orang Cina, tetapi lelaki satunya yang bertubuh tinggi kurus dan mengenakan pakaian bagus dari sutera hitam terang orang pribumi. Siapakah gerangan dia? Mengapa makan tanpa bicara? Pergi dengan cepat tanpa menoleh ke kanan kiri? Suryo pun mengambil keputusan untuk mencari tempat menginap di kampung ini. Dia tidak akan mengikuti rombongan itu. Melainkan akan menanti rombongan lewat di kampung ini. Mengawasi dari rumah penginapan! Karena keputusan ini, maka Suryo tidak mengetahui kalau rombongan itu mendapat musibah. Semua ini agaknya telah menjadi suratan yang tidak dapat diubah lagi.

Sudah takdir! EMPAT

ROMBONGAN ini berjalan dengan lesu. Tiga kereta itu masing-masing hanya ditarik seekor kuda saja. Sedangkan sisa para pengawalnya semua berjalan kaki. Ke mana perginya kuda mereka? Ternyata ketika terjadi serangan di malam hari. Kuda-kuda mereka telah dicuri oleh para anak buah orang yang berpakaian hitam yang lain.

Ketika Ki Pentet Prawirayuda dan ketiga murid kepala perguruan Balung Wesi mencari ke dalam hutan, mereka hanya dapat mene-mukan tiga ekor kuda saja. Agaknya kuda-kuda ini terpisah dari rombongan. Dengan cepat mereka menangkapnya dan dibawa ke tempat berkumpulnya rombongannya. “Aiyaaaa, sungguh celaka! Mengapa kuda pun hilang. Sialaaan benal!” Juragan Lim meng gerutu.

“Bagaimana kita dapat melanjutkan perjalanan kembali? Sialan, betul, betul, sialan!”

“Ayah, tenang. Serahkan saja semua kepada Tuan Pentet!” kata Lim Gin Hwa menyabarkan ayahnya.

Dara ini merasa malu oleh ulah ayahnya.

“Kita masih mempunyai kereta. Jangan menggerutu saja. Itu tidak baik.” Tan suhu pun menimpali.

Mengingatkan Juragan Lim untuk tidak selalu menggerutu.

Ketika itulah Ki Pentet Prawirayuda datang dengan membawa tiga ekor kuda. Parta dan Pardi menaiki seekor kuda dengan berboncengan, sedangkan Bejo juga menaiki kuda sendiri!

“Seekor kuda untuk sebuah kereta!” kata Ki Pentet Prawirayuda, memberi tahu kepada Parta dan Bejo. Keduanya lalu memasang kuda di kereta. Pardi meminta kuda dari Ki Pentet Prawirayuda untuk dipasang di kereta yang lain.

Ki Pentet Prawirayuda lalu mengatur anak muridnya untuk menjaga di samping kereta. Dia sendiri berjalan di depan rombongan. Parta, Pardi dan Bejo berjalan di belakang kereta sebagai pengawal belakang. Ketiga orang ini telah mempunyai kepandaian yang dapat diandalkan. Bara murid yang lain saling bergantian naik ke tempat kusir untuk menjaga ketahanan tubuh mereka. Menjaga kalau nanti ada serangan mendadak!

Perjalanan tidak dapat dilakukan dengan cepat. Sehingga ketika matahari hampir silam di balik bukit, rombongan ini baru memasuki dusun dengan tubuh pengawal yang nampak kuyu dan kelelahan! “Kita mengaso di dusun ini! Dalam satu dua hari lagi kita akan berangkat lagi.” Ki Pentet Prawirayuda memberi perintah. Dia berjalan memasuki sebuah penginapan satu-satunya di dusun itu, menemui pemiliknya meminta kamar. Juragan Lim turun dari kereta sambil membawa sebuah bungkusan besar.

“Boleh, boleh, kita mengaso di sini dua hali! Aku juga ingin mengembalikan dulu kesehatanku.” kata Juragan Lim. Begitu melihat puterinya mengikuti diapun berkata. “Hwa, suluh olang-olang menyediakan ail panas! Aku ingin belendam di ail panas!”

“Baik, ayah.” Gin Hwa dengan cepat ber-lalu menemui pemilik penginapan untuk menyediakan permintaan ayahnya. Sedangkan Tan suhu tetap berada di dalam kereta. Dia duduk bersamadhi di dalam kereta. Tidak ingin menginap di dalam rumah penginapan. Ketika Suryo keluar kamar. Terjadi tabrakan yang tidak sengaja dengan Gin Hwa. Ini terjadi karena Gin Hwa berjalan sambil menoleh ke belakang, sehingga tanpa disengaja menabrak Suryo yang baru keluar dari pintu kamar.

“Aihh, maaf saudara.” jerit Gin Hwa. “Tidak apa-apa, nona.”

Kedua pasang mata beradu pandang. Sejenak keduanya saling terpesona oleh keindahan masing- masing. Mereka berdua hanya berdiri seperti patung.

Gin Hwa menundukkan mukanya yang kemerahan lalu berkata lagi. “Maaf, maaf ... , maafkan saya.”

Cepat-cepat ia berlalu menuju ke kamarnya. Ketika akan memasuki pintu menoleh dan tersenyum ke arah si pemuda lalu lenyap di balik pintu.

Suryo masih memandang dengan bengong. “Uwahh, cantiknya!” katanya dalam hati. Diapun lalu masuk kembali ke dalam kamar. Tidak jadi keluar, ternyata rombongan kereta itu telah tiba. Dia akan mengamati saja dari jauh, pikirnya.

Malam kembali datang. Suasana kampung menjadi sepi dengan kedatangannya rombongan ini. Entah apa sebabnya? Semua rumah penduduk desa, dari matahari terbenam telah menutup pintu dan jendela dikunci dari dalam. Akan tetapi kesunyian ini dipecahkan oleh teriakan banyak orang yang datang secara tiba-tiba.

“Bakarrr! Serbuuuuu!” “Wirrr! Wirrr! Wirrrrr!”

“Kereta terbakar! Tolong ... cepat padam kan api!”

“Kebakaran ... ! Kebakaran ... !” Orang-orang berpakaian hitam menyerang ketiga kereta dengan tombak berapi! Dengan cepat ketiga kereta terbakar. Membuat para pengawal menjadi kacau dan panik. Sambil berlarian ke sana ke mari, berusaha untuk memadamkannya.

“Ciiaaattt ” Teriak seorang kepala gundul berpakaian hitam. Dengan senjatanya yang menggiriskan yaitu kampak besar menyerang para murid Balung Wesi.

Bett! Bett! Bettt!

Senjatanya mengampak tiga murid. Ternyata kampaknya berhasil menembus kekebalan tubuh murid Balung Wesi. Ketiga murid terpelanting dengan kepala pecah!

“Tranggg-criiinggg!” Kampaknya tertahan sebatang golok di tangan Ki Pentet Prawirayuda. Melihat ini dia melayangkan kakinya menendang. Ki Pentet meloncat ke belakang menghindari tendangan ke arah perutnya. Tendangan yang kuat sekali didahului angin deras menyambar.

“Ha-ha-ha ... hayo anak-anak serbuuuu!” teriak si Gundul ini menggeledek.

Perang campuh terjadi di depan penginapan ii bawah bintang-bintang di angkasa yang menyaksikannya. Tubuhnya bergelimpangan termakan golok atau senjata lain. Oleh karena penyerang berbaju hitam lebih banyak maka para murid Balung Wesi menjadi terdesak hebat.

“Ha-ha-ha ... hayo mana lagi jagomu! Ini Simo Gendeng raja hutan Krendowahana. Ha-ha-ha ... !” Ki Pentet Prawirayuda kaget mendengar ini. Dia pernah mendengar perampok Simo Gendeng dari Krendowahana yang namanya telah terkenal di kalangan persilatan. Dia lalu mengerahkan seluruh kepandaiannya maju menyerang dengan goloknya. Ditangkis kampak di tangan Simo Gendeng. Dibalas dan dielakkannya lalu dia membalas membabat, dielakkan lawan. Pertempuran sekarang menjadi sengit sekali. Saling serang dan tangkis. Beradunya kedua senjata menimbulkan bunga api yang menyilaukan mata, tanpa terasa seratus jurus telah terlewati, akan tetapi keduanya masih belum nampak ada yang kalah atau yang menang. Mereka berimbang ilmu kepandaiannya.Di belakang rumah penginapan ltupun terjadi pertempuran yang tak kalah hebatnya. Ketika Suryo keluar kamar untuk menolong kereta yang terbakar, begitu keluar kamar dia mendengar jeritan seorang wanita.

“Tolooonggggg ... !!” Suryo menoleh dan melihat wanita yang menabraknya tadi dalam pondongan orang berpakaian hitam. Tanpa membuang waktu tangan Suryo bergerak ke depan.

“Dukkkk!!”

Penculik tertotok kaku. Dengan cepat Suryo menolong si dara cantik jelita. “Terima kasih. Tolong bebaskan ayahku.” Lim Gin Hwa berkata.

Bagaikan kilat tubuh Suryo menerjang ke dalam kamar. Akan tetapi dia tidak melihat siapapun di kamar itu, ia lalu keluar lagi menemui si dara jelita. “Di kamar tidak ada siapapun.”

“Kebakarannnn! Kebakarannn ... !!”

Keduanya menjadi pucat. Suryo dengan cepat menuju ke depan diiringi Gin Hwa. Ternyata ketiga kereta telah terbakar habis. Suryo berkelebat cepat ke arah pertempuran, tongkatnya bergerak ke kanan kiri dan ke mana tongkat itu bergerak, tubuh orang ber-baju hitam tertotok lumpuh.

Melihat ini dengan cepat Simo Gendeng berteriak. “Muunnduuurrrrr ... !!”

Dalam sekejab orang-orang berpakaian hitam telah meninggalkan medan pertempuran. Teman- teman mereka melindungi mundur mereka dengan melepas anak panah berapi! Ketika Ki Pentet Prawirayuda meneliti anak buahnya yang tinggal hanyalah Parta, Pardi dan Bejo. Yang lainnya ternyata telah menjadi korban tombak bambu atau terbelah kampak Simo Gendeng!

“Ayahku ... tolonglah ayah ... !” Lim Gin Hwa dengan tersedu meminta tolong. Ki Pentet Prawirayuda mengawasi Suryo dengan pan-dang mata curiga, tetapi dia lalu bertanya. “Kenapa Juragan Lim? Di mana dia?”

“Dia diculik penjahat berpakaian hitam!”

“Keparat! Ternyata Simo Gendeng telah . menipu kita! Dia menyerang kereta hanya untuk mengalihkan perhatian. Setaaannn!!” Ki Pentet Prawirayuda marah-marah. “Di mana Tan suhu? Kenapa sejak tadi tidak kelihatan?”

Semua orang baru teringat. Kenapa Tan suhu tidak muncul sedari tadi? Sedangkan dia adalah seorang ahli silat yang handal! Mereka lalu mencari Tan suhu, tetapi hasilnya nihil.

Ketika Ki Pentet Prawirayuda teringat sesuatu dia lalu bertanya kepada Lim Gin Hwa. “Bagaimana dengan peti berukir itu? Apakah masih selamat?” Lim Gin Hwa pun kaget ketika diingatkan hal ini. Dia lalu berlari kecil ke kamarnya, tetapi betapa kagetnya Gin Hwa ketika melihat kamarnya telah diacak-acak tidak karuan! Peti berukir itupun telah lenyap dari tempat simpanannya!

“Peti itu telah lenyap! Ahh, ini semua gara-gara Patung Batari Durga!” “Apa? Patung Batari Durga?” Ki Pentet Prawirayuda bertanya dengan kaget.

Ternyata benda berharga itu adalah Patung Batari Durga yang telah menghebohkan. Patung peninggalan Nyi Calon Arang!

Seperti teringat sesuatu dia menoleh ke belakang. Hatinya mencelos ketika apa yang diduganya terbukti. Pemuda tampan berpakaian putih itu telah lenyap tanpa dia ketahui sama sekali. Ketika dia bertanya kepada tiga orang muridnya, mereka juga tidak tahu.

“Dia tadi masih berdiri di samping si Pardi. Ketika paman menengok kamar, pemuda itupun ikut.” jawab Parta singkat.

“Betul, paman. Pemuda itu tadi berada di sampingku.” Pardi pun menjelaskan. “Bagaimana dia dapat hilang begitu saja? Siapakah dia, paman?”

Ki Pentet hanya menggeleng kepala. Lalu dia bertanya kepada Lim Gin Hwa. Akan tetapi jawaban yang diperolehnya tidak memuaskan hatinya.

“Saya tidak mengenalnya! Dia menginap di kamar sebelah dan tadi ketika aku mau diculik, aku ditolongnya. Ketika mendengar teriakan kebakaran kami berdua pergi ke depan dan berusaha menolong!”

“Siapakah nama pemuda tadi?’ “Saya tidak tahu.”

Ki Pentet Prawirayuda hanya menggeleng kepala. Sialan, pikirnya! Sungguh baru sekali ini dia mendapat teka teki yang sukar dijawab. Diapun lalu berunding untuk mencari jalan keiuar dari kesulitan ini dan mencari hilangnya Juragan Lim Hok Coan yang diculik penjahat pimpinan Simo Gendeng!

******* L IM A

BUKIT GAJAH!

Karena bentuknya seperti gajah maka orang-orang menyebutnya Bukit Gajah. Jangan coba-coba untuk menaikinya, karena sudah banyak sekali orang-orang yang berusaha pergi berburu ke bukit itu hilang tanpa meninggalkan bekas! Maka bukit itu juga disebut Bukit Setan oleh penduduk di sekitar kaki bukit!

Setelah matahari hampir tenggelam, banyak bayangan berkelebat menuju ke atas puncak Bukit Gajah atau Bukit Setan. Apabila ada orang dusun yang melihatnya pastilah dia percaya bahwa Bukit Gajah atau Bukit Setan telah kedatangan para penghuninya!

“Adi Mangkurat, kenapa banyak sekali orang menaiki bukit?” tanya Bango Dolok kepada adiknya. “Mungkin Nyai mengundang banyak tamu, Kakang Dolok.”

“Untuk apa? Biasanya Nyai tidak suka dengan orang-orang persilatan.” “Entahlah?” jawab Mangkurat sambil mengangkat kedua pundaknya.

Percakapan keduanya terhenti. Dua orang lelaki berbaju hitam berlari datang dari belakang mereka. Salah seorang jelas orang asing, seorang Cina yang berpakaian serba hitam dan wajahnya dihiasi kumis tipis dan panjang sampai di bawah dagu. Sedangkan temannya seorang tinggi kurus mengenakan pakaian bagus dari sutera hitam. Ketika melihat ada dua orang di depannya salah seorang menegur.”Maaf, kisanak. Bolehkah saya bertanya?”

“Hemmm, boleh! Apa yang ingin diketahui?” Bango Dolok menjawab kaku. “Betulkah di puncak itu tempat tinggalnya Nyi Langen Asmara?” tanya Sancaka. “Saudara ini siapa? Apa perlunya bertanya tempat tinggalnya Nyai?”

“Maaf, maaf. Saya bernama Sancaka dan saudara ini Coa Bo Gie pedagang barang antik dari Semarang.” Sancaka menjawab cepat. Memperkenalkan diri dan temannya. “Kami mempunyai urusan penting! Ingin minta pertolongan Nyai!”

“Hemm, begitu. Aku Bango Dolok dan dia adikku Mangkurat! Kami berdua adalah murid beliau!” kata Bango Dolok sambil memandang tajam kedua orang di depannya.

“Maaf, maaf. Kami tidak tahu bahwa andika berdua adalah murid beliau!” kata Sancaka. Dia meminta maaf. Tidak menyangka akan bertemu dengan murid Nyai.

“Mari kita bersama menghadap beliau.” ajak Mangkurat.Keempatnya lalu berangkat kembali menaiki puncak Bukit Gajah. Sambil mengutarakan maksudnya Sancaka juga mohon pertolongan kepada kedua murid itu untuk membantu.Bango Dolok dan Mangkurat menyanggupi akan membantu. Babah Coa Bo Gie lalu mengeluarkan sebuah pundi-pundi dan menyerahkan kepada Bango Dolok.”Ini sekedar tanda persahabatan. Hanya sedikit, kok.”

Begitu Bango Dolok membuka pundi-pundi matanya terbelalak. Mangkurat pun melongok, dan keduanya lalu saling pandang. Dengan wajah berseri Bango Dolok memasukkan pundi-pundi ke dalam saku. Sekarang sikapnya menjadi ramah. Dengan adanya kedua murid Nyi Langen Asmara perjalanan ke puncak dapat dilakukan dengan cepat. Ketika mereka berempat tiba di puncak, ternyata di depan goa telah penuh dengan orang-orang yang mengenakan pakaian hitam.Nyi Langen Asmara berdiri di atas batu besar. Mendengarkan laporan Simo Gendeng kepala rampok Krendowahana. Di sebelahnya berdiri pula orang yang mengenakan pakaian serba hitam dengan kepala tertutup kerudung hitam pula. Hanya nampak sepasang matanya yang bersinar tajam dan genit.

“Seperti rencana semula, hamba telah mem bakar kereta mereka. Akan tetapi ketika teman hamba menculik anaknya telah dihalangi seorang pemuda berpakaian putih.” Simo Gendung melaporkan misinya. “Bagaimana dengan peti berukir itu?”

Seorang di belakang Simo Gendeng maju dan menjawab. “Kamar di mana ayah dan anak itu telah hamba bongkar. Ternyata tidak ada! Juga Juragan Lim tidak nampak dalam kamar. Entah sembunyi di mana dia?”

“Hi-hi-hik ... , kenapa orang-orang tolol ini selalu gagal. Tahu begini, lebih baik aku pergi sendiri!

Hi-hi-hik ... !”

“Guru, menurut pendengaran murid mereka menuju ke Prambanan!” Begitu maju ke depan Bango Dolok berkata. Setelah mereka dekat dan mendengar laporan itu dengan cepat Bango Dolok berkata untuk mencari muka di depan gurunya.

“Hi-hi-hik ... , kaukah itu, Dolok? Sini ... sini, mendekatlah ke mari!”

Bango Dolok dan Mangkurat maju. Duduk di depan Nyi Langen Asmara. Melaporkan apa yang menjadi kehendak kedua orang teman seperjalanannya. Nyi Langen Asmara memandang ke arah Sancaka dan Coa Bo Gie sejenak lalu kembali dia berkata.

“Cegat Juragan Lim di dekat Prambanan! Rampas peti berukir berisi Patung Batari Durga!”

Perintahnya kepada Simo Gendeng. Simo Gendeng menyembah lalu berlalu dengan anak buahnya. Sedangkan Bango Dolok dan Mangkurat masih tetap duduk di situ. “Kalian berdua bantu mereka!”

“Baik, guru!” Keduanya juga berlalu. Bango Dolok segera mengajak kenalan barunya untuk berlalu dari tempat itu. Tidak berani membantah perintah gurunya.

“Hi-hi-hik ... tinggal kita berdua saja bocah ayu! Hi-hi-hiik aku kangen kepadamu! Hayo masuk ke dalam!” katanya. Nyi Langen Asmara mengandeng tangan orang berbaju hitam ke dalam goa. Tak lama kemudian dari dalam goa terdengar lenguh kenikmatan dan kekeh kegelian dari dua orang wanita memecah kesunyian tempat itu. Entah berapa lama mereka berhal seperti itu? Hanya mereka sendiri yang tahu!

*****

“Kita belhenti sebental! Ini kaki sudah mau patah lasanya!” Dengan suara pelo Juragan Lim mengeluh. Orang gundul yang bukan lain adalah Tan suhu menghentikan larinya. Juragan Lim segera menjatuhkan dirinya ke atas rumput tebal. Napasnya megap-megap seperti ikan dilempar ke darat. Semalaman dia ditarik Tan suhu melarikan diri. Ternyata begitu mendapat serangan, Tan suhu meloncat keluar dari kereta. Menyelinap ke belakang rumah penginapan. Melihat dua orang berpakaian hitam menerobos melalui jendela.

Ketika salah seorang memondong tubuh Juragan Lim sambil membawa peti berukir meloncat dari jendela dan melarikan diri. Diam-diam dia membayangi. Begitu lawan berpakaian hitam telah jauh dari desa dan memasuki sebuah hutan, tanpa mengeluarkan suara Tan suhu menyerangnya.”Plakkk!” Kepala orang berpakaian hitam terkena tamparan. Jatuh bersama dengan tubuh Juragan Lim yang masih dipondongnya sambil membawa peti.

“Aduuhhhh! Cilaka ... !” jerit Juragan Lim menggelinding pergi.

Tan suhu cepat membangunkannya. Dia menarik tangan Juragan Lim diajaknya melarikan diri.

Juragan Lim mencoba untuk membantah.

“Kita mau lali ke mana? Bagaimana dengan lombongan dan puteliku?”

“Nanti kita urus belakangan! Yang penting peti dan engkau selamat dahulu!” tukas Tan suhu dengan cepat. “Hayo cepat! Orang-orang jahat itu nanti keburu mengejar!”

Keduanya lalu melarikan diri sampai pagi hari telah menjelang. Begitu kaki Lim Hok Coan telah mogok, minta berhenti, barulah mereka berdua mengaso di rerumputan di dekat hutan itu. Tanpa terasa lagi Juragan Lim tertidur saking lelahnya! Melihat ini Tan suhu lalu duduk bersamadhi untuk memulihkan diri. Menjaga kesegaran kondisinya untuk menjaga keselamatan mereka! Begitu membuka mata, keduanya kaget sekali. Mereka telah dikurung oleh orang-orang yang mengenakan pakaian serba hijau! Tan suhu sendiri juga kaget, bagaimana dapat terjadi demikian. Kenapa dia tidak mendengar kedatangan mereka ini?

“Maafkan kami berdua kalau telah melanggar wllayah tuan.” kata Tan suhu penuh hormat. “Ha-ha-ha ... tidak ada maaf-maaf segala.Tangkap mereka!” bentak seorang tinggi besar.

Sambil mengeluarkan pekik menyeramkan majulah orang-orang berpakaian serba hijau menuruti perintah pimpinannya. Tan suhu segera mencabut golok yang dia sembunyikan di balik jubah pendetanya.

“Wutt-wutt-wutt!”

Goloknya diputar di atas kepala mengeluarkan bunyi mendesir kuat sekali lalu maju mener-jang ke depan memapaki lawan.

“Trangg-trangg-bukk-plakk-plakkk!”

Golok Tan suhu menangkis senjata pengeroyok, membuat senjata di tangan lawan ter pental ke udara. Kakinya juga tak ketinggalan membagi-bagi tendangan di tubuh lawan. Lawan yang terkena tendangan terjungkal dan tak dapat bangun kembali saking kuatnya’ te-naga kaki yang menendangnya. Akan tetapi bagaikan air bah datang para pengeroyok dari berbagai penjuru. Juragan Lim mundur-mundur ketika tiga orang berpakaian hijau mendekatinya. Membalikkan tubuh hendak berlari pergi. Tiba-tiba tubuhnya berhenti mendadak! Di depannya telah berdiri seorang raksasa berpakaian hijau dengan membawa ruyung yang bergerigi besi!

“Ammmppuuuunnnnn ... saya jangan dibunuh! Tooolooongg ... !” ratapnya. “Ringkus dia!” Seru Sugriwa Yaksa kepada anak buahnya. Dengan cepat para anak buah berbaju hijau maju menubruk Juragan Lim. Kaki dan tangan nya diikat lalu sebuah kayu panjang dipakai untuk memikul tubuhnya. Seperti orang memikul hewan buruan!

Sugriwa Yaksa maju ke depan ruyungnya terayun ke arah kepala Tan suhu. “Wirrrr ... !”

Melihat datangnya ruyung yang didahului angin deras menyambarnya, Tan Suhu menangkis dengan goloknya. Kedua senjata beradu di tengah udara, bunga api berpijaran akibat pertemuan senjata ini. Akan tetapi golok Tan suhu terpental ke samping. Sugriwa Yaksa menyusuli serangan ruyung dengan tendangan kakinya. Dielakkan lawan dibalas babatan ke arah pinggang.

“Traaanngggg ... !!”

Golok Tan suhu terpental ke angkasa. Sugriwa Yaksa menyusuli dengan tendangan yang tak dapat dielakkan Tan suhu saking cepat gerak kakinya.

“Bleeekkkkk!” dadanya terkena tendangan telak. Tanpa ampun lagi Tan suhu terlempar dalam keadaan pingsan!

Para anak buah berbaju hijau menubruk maju. Tan suhu diikat seperti mengikat hewan buruan. LaJu beramai-ramai dipanggul menuju markas mereka. Mereka berjalan sambil ber-sorak-sorak saking gembiranya. Sugriwa Yaksa berjalan paling depan dengan memanggul ruyung gerigi besinya.Ketika mereka tiba di markas, Sugriwa Yaksa memerintahkan para anak buahnya untuk menggantung kedua orang itu.

“Gantung dia seperti biasa. Siapkan peralatan untuk pesta malam nanti!”

“Hoorreeeee!” Hampir bersamaan anak buah nya bersorak. Mereka lalu berlarian mencari kayu bakar. Ada yang menyiapkan sebuah kuali yang panjang dan besar. Membuat api unggun dan memotong- motong buah dimasukkan dalam kuali!

“Toolonggg ... ! Tolongggg ... ! Saya jangan digantung! Kepala ini lasanya mau meledak! Tolongggg!” Juragan Lim berteriak ketakutan karena darahnya telah memenuhi kepala membuat kedua telinganya mendengar bunyi yang mengaung-ngaung.

“Babi gemuk itu siapkan dulu! Sekarang pentang di kayu!”

Kedua orang itu lalu diturunkan dari gantungan. Diseret ke tempat pementangan dan kaki tangannya diikat di kayu. Sedangkan peti berukir hanya ditaruh dekat tempat duduk Sugriwa Yaksa. Agaknya orang ini tidak peduli akan isi peti, lebih mengilar terhadap daging keputihan kedua orang itu. Agaknya Sugriwa Yaksa ini adalah pemakan daging manusia!

Ketika hari menjelang malam, Lim Hok Coan didunkan dan pamentangan. Diseret begitu saja. Orang gemuk ini menjerit-jerit ketakutan. Apalagi ketika tubuhnya digantung di atas kuali besar yang panjang dan besar di mana air yang ada di dalamnya telah mendidih sedari tadi!

“Aiyaaa ... akuu mau diapakan? Tolong aku jangan dibunuh! Nanti kubeli uang yang banyak!” Juragan Lim membujuk.

“Ha-ha-ha ... he-he-he ... he-he-he-he!!”

Hanya kekeh tawa ini yang menyambut permintaannya. Semua orang menari-nari mengelilingi api yang berisi. air mendidih. Sambil menyuarakan nyanyian ritual. Sugriwa Yaksa duduk di atas kursi yang ditilami kulit hari-mau tutul. Duduk dengan anggunnya melihat semua yang disajikan anak buahnya. Dia memberi tanda dengan tangan diangkat ke arah Juragan Lim.

Dua orang anak buah berpakaian hijau maju. Dengan paksa menarik pakaian juragan gendut. “Breeetttt, breettttt!”

Baju dan celana Juragan Lim telah terobek. Tubuhnya yang putih mulus telah telanjang. Juragan Lim menggerinjal-gerinjal tidak karuan.

“Ha-ha-ha ... ! Sungguh sedap daging babi gemuk itu.” Sugriwo Yaksa sampai mengeluarkan air liur melihat daging juragan gendut. ”Cepat turunkan dia!”

Anak buah yang bertugas menurunkan adalah empat orang yang bertubuh besar mengulur tali gantungan. Juragan Lim yang melihat air mendidih menyambutnya di bawali apalagi uap panas telah menyengat tubuhnya tidak kuasa untuk menahan takutnya lagi.

“Tolongggg, tolonggg!” Sambil berteriak dia berputaran di tali gantungan. Pelan-pelan tubuhnya meluncur turun ke arah air mendidih dalam kuali besar.

Sesosok bayangan putih berkelebat. Tepat sekali menyambut tubuh yang meluncur turun. “Taassss! Byuuurrrrr!”

Tali pun terpotong. Sedangkan kuali besar itu telah pecah. Airnya tumpah, membuat orang yang mengelilinginya berteriak-teriak kesakitan. Berusaha untuk menghindar dari guyuran air panas yang menyerang!

“Cepat pakai! Tolong lepaskan temanmu!”

Juragan Lim menerima sarung dengan cepat dia kenakan dan mendekati Tan suhu. Dengan susah payah akhirnya dapat juga dia melepaskan tali pengikat tangan. Tan suhu berusaha membuka tali pengikat kakinya sendiri. Ketika keduanya menengok ke arah pemuda berpakaian putih, ternyata pemuda itu sedang beterbangan ke kanan kiri. Di mana bayangan tiba pastilah orang berbaju hijau mencelat untuk tidak bangun kembali, pingsan!

Sugriwa Yaksa yang melihat kejadian yang tidak pernah diduganya ini terbelalak. Siapakah pemuda baju putih yang mengobrak-abrik anak buahnya itu? Akan tetapi tidak lama dia berhal seperti ini. Sambil mengeluarkan teriakan menyeramkan ruyung gerigi besi di tangannya mengemplang bayangan putih!

“Auuuggghhhhh ... wuuusssss! Plakk-plakk!”

Ternyata Suryo sambil menangkis ayunan ruyung ke arah kepala, tangan kirinya memukul dada. Sugriwa Yaksa tergetar tangannya yang memegang ruyung akibat tangkisan lawan dan ketika melihat dadanya terancam dengan sebat tangan kirinya membabat ke depan dada. Membuat dua tenaga raksasa bertemu di udara. Akibatnya sungguh rnengherankan hati Sugriwa Yaksa, dia terpental ke belakang tiga langkah!

“Bojleng-bojleng ... setan alas, demit kemimit! Siapa kau bocah lancang!” bentaknya.

“Ooo lhaa dhaa lah! Ketemu yaksa (raksasa atau buta) awakku ini! Hee, Yaksa. Aku bangsane manusia biasa, bukan raksasa pemakan manusia!” Suryo menjawab seenaknya. Sambil menyeringai mengejek. Melihat lawan mengejeknya Sugriwa Yaksa bertambah marah. “Demit, iblis, setan bekasakan! Sebutkan siapa dirimu sebelum kau mampus tanpa nama!” bentaknya dengan wajah berubah merah padam. “Kau ingin tahu siapa aku?” tanya Suryo.

“Hiiyyaaaa! Cepat sebutkan namamu! Sebelum gada rujak polo ini menghancurkan kepala mu!” Sambil mengamangkan ruyungnya ke arah kepala Suryo, Sugriwa Yaksa berkata lantang. Tangan kirinya berkacak pinggang. “Namaku Suryo!” jawab Suryo singkat.

“Mampus kau!” Begitu lawan menjawab dan menyebutkan namanya, ruyungnya telah mengemplang kepala. Dengan mudah Suryo mengelak ke samping dan tongkat pendeknya me-ngait kaki lawan.”Eit, eit ... berkelahi kok tidak pakai aturan.” seru Sugriwa Yaksa. “Hayo mengadu kebalnya kulit kerasnya tulang! Jangan main gait begitu!”

Suryo tertawa geli melihat raksasa pemakan daging ini marah-marah. Baru tertarik kakinya sudah mencak-mencak tidak karuan, malah menantang mengadu kekebalan. Baik kalau itu maunya raksasa ini. Dia harus melayani untuk menundukkan raksasa pemakan bangkai ini. Dalam hati pemuda ini merasa geli bukan main. Apa ada berkelahi pakai aturan! Seperti latihan atau bersilat di atas panggung saja.

“Kalau itu maumu, aku ladeni! Hayo pilihlah sendiri!” tantang Suryo pelan sambil memasang kuda- kuda dan mengerahkan ajinya Gedong Wesi Kuning.

“Pecah kepalamu!” Ruyung bergerigi menyambar dahsyat ke arah kepala Suryo yang berdiri tegak. “Wussss!” Ruyung bergerigi lewat di atas kepala. Tubuh Sugriwa Yaksa terpelanting ke depan karena hebatnya tenaga yang mengayun ruyung! Ternyata Aji Gedong Wesi Kuning telah menunjukkan khasiatnya. Ruyung bergerigi besi meleset begitu mendekatinya.

Melihat keadaan lawan seperti itu, Suryo menggerakkan tongkat memukul belakang telinga raksasa itu. “Duukkkk!” tanpa ampun lagi tubuh Sugriwa Yaksa tersungkur ke depan. Berusaha bangun, akan tetapi baru setengah jalan tubuhnya kembali menelungkup untuk terus pingsan!

Para anak buah berpakaian hijau berlarian tak tentu arah. Mereka ketakutan melihat pemimpin mereka dikalahkan begitu mudahnya, hanya terpukul oleh sebuah tongkat berwarna hitam. Dengan sekali pukul malah! Suryo lalu mendekati Juragan Lim dan Tan suhu. Menceritakan tentang peristiwa di pe- nginapan serta menceritakan bahwa puteri babah gendut itu selamat. Sambil memandang ke arah Tan suhu, Suryo berkata. “Tan suhu, tolong hubungi puteri juragan dan Ki Pentet Prawirayuda. Biar juragan ini aku yang antar.”

“Baik! Aku akan mengajak mereka untuk . meneruskan perjalanan ke Prambanan. Kita bertemu di sana!” Tan suhu mengiyakan per-mintaan pemuda. Kepada Juragan Lim, Tan suhu berkata. “Tuan Suryo ini akan mengantar mu ke tempat tinggal suhuku di Prambanan.”

“Telima kasih. Tolong puteli owe dijaga, suhu! Agal menyusul secepatnya!” pinta Juragan Lim.

Ketiganya lalu berpisah. Tan suhu kembali untuk menemui rombongannya. Sedangkan Suryo mengantar Juragan Lim yang membawa peti berukir menuju ke tempat guru Tan suhu di Prambanan!

******** E N A M

”MALI kita mampil di walung itu dulu!” ajak Juragan Lim. Suryo berhenti sejenak, tongkatnya memukul batu bundar di tanah.

“Tasss!”

Batu melayang mengenai buah mangga di tepi jalan. Berjatuhan menimbulkan suara beruntun buk- buk-bukk! Suryo memungut mangga-mangga itu dan dimasukkan ke dalam saku. Juragan Lim yang tidak mendapat tanggapan ajakannya tadi berkata lagi.

“Hayolah! Mampil dulu di walung! Aku sudah lapal, nih.” “Haaaa, lapar? Ya, ya, mari!”

“Nha, gitu kan enak!” Bersicepat Juragan Lim menuju warung di dekat hutan itu. Warung satu- satunya yang ditemuinya sejak perjalanan sedari pagi hari tadi. Suryo mengikuti dari belakang.

“Mari silakan masuk, den!” Seorang dara yang cantik berkulit kuning langsat menyambut kedatangan Juragan Lim. “Telima kasih, telima kasih.”

Lalu tubuh gendut juragan ini memasuki warung. Sepasang mata yang sipit itu mengawasi sekeliling, tiada seorangpun yang berada di dalam warung ini. Tanpa sungkan lagi Juragan Lim duduk di kursi, bersebelahan dengan si pemuda yang mengenakan pakaian putih. 

”Makannya apa juragan?”

“Ooooo, nasi pecel, kalau ada telul golingnya sekalian.” Juragan Lim menjawab cepat. “Telul gulingnya yang tidak ada, juragan.”

“Itu tu, itu ... telul ... lalu digoleng! Aiyaa telul mata sapi. Ya betul, telul mata sapi!” Sambil menunjuk telur ayam yang ditaruh di atas meja. Juragan Lim menerangkan maksudnya. Memang si pelayan cantik ini tidak dapat menangkap maksud tamunya yang bicara cedal itu maka dia cepat bertanya. Setelah mengerti bahwa orang gemuk ini tidak dapat menyebut huruf r dengan benar, maka sambil tertawa dia memenuhi pesanan juragan gemuk.

“Telur goreng?”

“Iya ... iya betul itu! Kopi manisnya sekalian, ya ... !”

Dara cantik ini segera berlalu memasuki dapur. Tak berapa lama ketjudian telah keluar lagi sambil membawa pesanannya. Diikuti oleh seorang dara yang hampir sebaya, yang ini berwajah hitam manis. Apalagi senyumnya sungguh menarik hati. Menantang lawan jenisnya.Begitu hidangan telah tersedia di meja.

tanpa basa basi lagi Juragan Lim mengajak Suryo untuk menyikatnya! Keduanya menikmati hidangan dengan pelan, ditunggui kedua dara manis dan cantik di samping pintu! “Brukkkk! Duukkkkk!” Baru saja menghabiskan dua cangkir kopi, keduanya telah tertidur. Juragan Lim terjengkang ke belakang sehingga tubuhnya yang gendut ketika terjatuh mengeluarkan suara keras. Sedangkan Suryo menggeletak di bangku. Melihat ini, kedua dara tersenyum kecil. Saling pandang sejenak, lalu keduanya mendekati kedua korbannya. Setelah memeriksa, salah seorang menutup warung. Hampir berbareng keduanya mengangkat tubuh dua orang itu. Si hitam manis dengan ringannya mengangkat tubuh Lim Hok Coan yang gemuk, seakan-akan tanpa mengeluarkan tenaga sama sekali. Sedangkan yang berkulit kuning langsat membawa Suryo. Mereka memasuki dua kamar di belakang! Suryo membuka matanya. Begitu sepasang matanya dapat melihat jelas wajahnya berubah kemerahan. Dia ingin meloncat bangkit, akan tetapi tubuhnya tidak dapat digerakkan. Dengan terpaksa sekali dia menanti apa yang akan terjadi selanjutnya.

Apa yang dilihat Suryo sehingga membuat wajahnya kemerahan?

Ternyata perempuan itu sedang menanggalkan pakaiannya. Tubuhnya yang bahenol terlihat nyata menantang gairah lelaki. Gadis itu maju mendekat ke tepi pembaringan. Dengan gerakan tangan seorang ahli dia membelai dada Suryo. Bibirnya mendekati leher mengecup dan menyedot! Berusaha membangkitkan gairah Suryo! Suryo hanya bisa mengatur napas untuk menguasai dirinya. Entah mengapa darahnya bergerak cepat sekali. Dan tubuhnya tidak dapat digerakkan. Suryo lalu berusaha untuk mendeteksi keadaannya. Betapa kaget hatinya ketika mengetahui bahwa dia telah keracunan. Entah racun apa yang dipergunakan oleh kedua orang dara di warung itu!

Di kamar sebelah terdengar dengusan-dengusan liar. Bunyi berderak dipanpun mengganggu konsentrasi Suryo yang berusaha untuk mengusir pengaruh racun dalam dirinya! Bibir serta tangan yang membelainya tidak ia rasakan sama sekali. Seluruh inderanya hanya ditujukan untuk mengendalikan jalan darahnya!

Gejolak perempuan di atasnya telah menyesak dada. Bibirnya bagaikan lintah menyedot bibir Suryo dengan sedotan yang membuat napasnya hampir sesak! Akan tetapi tiba-tiba racun yang mengeram dalam dirinya menguap dan darahnya menjadi normal kembali. Suryo merasakan bibir lawan jenisnya yang menghisap dirinya. Tiba-tiba kemarahan menyesak dadanya, membuatnya ingin pelampiasan!

“Hiiiiyyaaaaattttttt ... !!!”

Gadis berkulit kuning terlempar menabrak dinding kamar. Pingsan dengan tubuh masih telanjang. Dengan cepat Suryo mengenakan pakaiannya kembali lalu keluar dari kamar. Ketika dia sampai di pintu hampir saja tubuhnya menabrak tubuh telanjang berkulit hitam manis. “Haiit! Kurang ajar!” perempuan itu berseru keras. Apalagi setelah melihat temannya rebah pingsan atau mati di pojok dinding! Dari telinganya gadis berkulit kuning nampak keluar darah! Tanpa ba-bi-bu lagi dia menyerang Suryo dengan sepasang tangan dan kakinya. Dengan berputaran Suryo menghindari serangan lawan yang bertelanjang ini. Sepasang matanya tidak berani dibuka. Penglihatan yang mengagumkan itu sungguh membuat dirinya menjadi risih.

“Plakkkk! Dukkk!!”

Si gadis manis terlempar keluar kamar. Jatuh menimpa meja dan tidak bangun kembali karena telah pingsan!

Suryo lalu menuju ke kamar samping. Begitu memasuki kamar ternyata Juragan Lim tengah menelungkup dengan wajah membayangkan kepuasan. Ternyata Juragan Lim telah pulas. Suryo lalu mengurut punggung dan memijat ibu jari kakinya. Tidak berapa lama kemudian Juragan Lim tersadar, kaget melihat dirinya telah telanjang di kamar itu. Dia tadi seperti sedang bermimpi bercumbu dengan seorang bidadari yang binal! Yang terang telah menguras semua tenaganya, membuatnya te-rasa lemas seluruh persendian tubuhnya!

“Apa yang telah teljadi? Mengapa aku belada di sini?”

“Nanti saja kuterangkan! Lebih baik sekarang Babah Lim berpakaian dulu!” Suryo tidak menjawab pertanyaan Juragan Lim. Dia meminta Juragan Lim untuk mengenakan pakaian dulu. “Kita harus cepat pergi dari sini!”

Dengan tergesa-gesa Lim Hok Coan mengenakan pakaiannya. Saking kesusunya malahan tidak dapat cepat, bajunya dipakai untuk celana! Suryo yang melihat ini, menjadi tertawa terpingkal-pingkal. Dia lalu berjalan keluar, ternyata kedua gadis itu masih tidak sadarkan diri! Begitu selesai berpakaian Juragan Lim lalu menuju ke tempat meja makan. Wajahnya menjadi cerah ketika melihat peti berukir masih di atas meja. Cepat disambarnya dan lari mengikuti Suryo yang telah berjalan keluar lebih dahulu!

“Tungguuuu ... ! Jangan cepat-cepat jalannya! Sulyo ... tuungguuuu!!” teriaknya.

Suryo menoleh ke belakang. Melihat tubuh gendut Juragan Lim berusaha untuk mengejarnya. Diapun menjadi kasihan lalu menanti di bawah pohon. Begitu Juragan Lim datang dekat lalu duduk mengaso di bawah pohon dengan napas ngos-ngosan. Tubuhnya yang gendut itu sahgatlah sukar untuk dipakai berlari mengejar Suryo!

Suryo menceritakan pengalamannya ketika di dalam warung! Juragan Lim menjadi terheran-heran. Sungguh aneh sekali, kenapa di dusun yang terpencil itu ada dua dara yang berbuat begitu. Entah apa maksudnya? Mereka berdua lalu melanjutkan perjalanan-nya kembali!

*****

Ketika keduanya mau memasuki hutan yang berada di depan, jalan hutan yang memotong. Begitu kedua orang itu menginjak jalan masuk ternyata telah dikurung oleh orang-orang ber-pakaian serba hitam. Seorang gemuk memegang senjata kampak besar dengan kepala gundul pelontos maju membentak. Dia agaknya pemimpin gerombolan baju hitan ini.

“Berhenti! Serahkan peti itu kalau mau selamat!” Suaranya menggeledek keras.

“Tenang! Biarlah semua ini serahkan padaku!” kata Suryo menenangkan Lim Hok Coan. “Untuk mencegah tuan dari incaran mereka, lebih baik peti itu kubawa!”

“Baik! Bawalah peti ini!” jawab Juragan Lim sambil menyerahkan peti berukir ke tangan Suryo.

Lim Hok Coan mengerti akan maksud si pemuda yang ingin menyelamatkan dirinya dari incaran orang berpakaian serba hitam ini. Maka tanpa ragu sedikitpun ia menyerahkan barangnya kepada si pemuda.Melihat peti berukir sepasang mata Simo Gendeng pemimpin gerombolan bersinar.

“Cepat serahkan peti itu kalau mau hidup!” serunya. Sambil mengamangkan kampaknya! “Ha-ha-ha ... kiranya kalian menghendaki peti ini!” ejek Suryo sambil maju ke depan. Peti berukir diikat di punggungnya. Tongkat pendek ditodongkan ke depan mengarah ke dada Ki Simo Gendeng. Simo Gendeng marah sekali melihat ulah pemuda berbaju putih. “Bunuh pemuda itu! Rebut petinya!” perintahnya.

“Serbuuuuu!” Salah seorang anak buah berteriak dan bagaikan hujan senjata golok melanda tubuh Suryo. Suryo memutar tongkat dengan Ilmu Tongkat Pengemis Gila menangkis senjata yang mendekati tubuhnya. Akibatnya sungguh hebat. Para pengeroyok yang senjatanya kena ditangkis tubuhnya berpelantingan ke kanan kiri bagaikan disapu angin badai!

“He-he-he ... kenapa anak buahmu semua gentong kosong?” ejeknya sambil memandang wajah pemimpin perampok berpakaian hitam.

Simo Gendeng membanting-banting kakinya. Kemarahan telah naik ke kepalanya melihat anak buahnya dalam sekali serang telah ma-wut. Tanpa memberi peringatan lagi kampaknya terayun mengampak leher Suryo.

“Mampus kau jahanam!” “Wirrrrr! Tuk-tuk-tukk!”

Kampak mendesir lewal atas kepala dan angin dingin menerpa wajahnya. Akan tetapi tongkat pendek kayu cendana berwarna hitam telah mengetuk tulang kaki kiri lawannya. Kiranya sambil mengelak sambaran kampak pemuda ini menggerakkan tongkatnya menyerang tubuh bawah lawan yang terbuka.

“Huaaaduuuhhhh ... sssstttt ... adduuhhh biyunggg tulunggggg ... !!” Simo Gendeng meloncat-loncat sambil mengeluh panjang-pendek. Tulang kaki kirinya yang terpukul tongkat kayu cendana dengan dialiri tenaga terarah membuat tulang kaki itu patah tidak retak juga tidak. Akan tetapi sakitnya menusuk jantung! “He-he-he ... petinya di sini! Kenapa malah menari monyet. Ini kemarilah ambil!” ejek si pemuda.Sambil menahan sakit Simo Gendeng mengobat-abitkan kampaknya ingin menghancurkan tubuh si pemuda yang meloncat ke kanan kiri. Akan tetapi sampai keringat membasahi tubuh nya, tak satupun babatan kampak mengenai sasaran. Apalagi mengenai sasaran, menyentuh baju Suryo saja tidak dapat!

Pada suatu saat Simo Gendeng membelah kepala Suryo dengan senjatanya ketika melihat pemuda ini bergerak lambat!

“Mampus kau sekarang!”

Suryo miringkan tubuhnya dan menarik kaki ke samping. Kampak menyambar lewat di samping tubuhnya. Tongkat kayu cendana memukul ke depan mengarah kepala gundul Simo Gendeng!

“Takkk ... !”

Tongkat yang digerakkan dengan melalui belakang tubuh mengenai kepala. Sebutir telur angsa tumbuh di atas kepala Simo Gendeng!

Tangan kiri Simo Gendeng mengusap-usap kepala bertanduk itu. Kepala rampok Krendo-wahana ini bertambah marah. Mulutnya berkomat-kamit membaca mantera! “Cuh! Cuh! Cuh!”

Simo Gendeng meludahi tangan kirinya tiga kali! Begitu tangan kiri mengusap kepala telur angsa itupun lenyap. Kepala itu kembali menjadi licin mengkilap! Agaknya Simo Gendeng mulai mengeluarkan kesaktiannya. Tangan kirinya nampak merah membara seakan-akan tangan itu dicat kemerahan. Dengan kemarahan meluap diapun lalu menerjang kembali sambil mengayun senjata kampak. Tangan kirinya membarengi dengan pukulan yang mengandung bau amis sekali! “Wirrr! Wutt-wuttt!!”

Suryo melenting ke udara menghindar dan dari udara tongkatnya bergerak memukul. Ditangkis lawan, lalu disusul kampakan bertubi ke udara! Tanpa kesukaran Suryo membuat putaran di udara dan tongkatnya diputar menangkis.

“Tak-tak-takk!”

Akibatnya sungguh hebat! Tangkisan Suryo di tengah udara itu membuat senjata Simo Gendeng membalik! Tak ampun lagi kepala Simo Gendeng terbelah oleh senjatanya sendiri! Tanpa mengeluarkan suara lagi tubuhnya telah ambruk di tanah, mampus oleh senjata sendiri yang entah telah rnakan berapa jiwa tak ber-dosa yang menjadi korbannya!

Suryo merasa menyesal sekali melihat hasil tangkisan tadi. Sebetulnya tiada niat sedikit pun juga untuk membinasakan lawan. Tadi dia menangkis dengan menambah sedikit tenaga, akan tetapi karena Simo Gendeng telah terlalu kecapaian dan gemetar tangannya yang memegang senjata. Akibatnya dia tidak kuasa untuk menguasai senjatanya sendiri.

Para anak buah berbaju hitam yang melihat pemimpin mereka tewas dengan mengerikan, lalu berteriak keras sambil melarikan diri mencari selamat! Juragan Lim Hok Coan yang bersembunyi di balik batang pohon melihat kemenangan pemuda itu segera keluar dari tempat persembunyiannya.

“Uwaahhhh hebat sekali! Sungguh lual biasa! Ck-ck-ck ... !” Sambil mengacungkan kedua jempolnya (ibu jari tangannya) Juragan Lim memuji si pemuda. Akan tetapi yang dipuji tidak menjawab. Berjalan ke depan dan mengambil sebuah golok besar yang tercecer. Tanpa berkata sesuatu dia melangkah ke tepi jalan mencari tempat yang baik untuk mengubur jenazah Simo Gendeng!

“Eeeelho, mau apalagi ini? Kenapa kau membawa golok itu? Buat apa?” Juragan Lim keheranan melihat ulah si pemuda.

“Saya mau mengubur jenazah ini, meng-gangu orang lewat!” katanya singkat.

Suryo lalu mengerjakan goloknya membuat lubang yang cukup dalam. Begitu selesai dia lalu mengangkat mayat bekas lawannya dan dikuburkan. Selesai itu semua dia bersembahyang sejenak. Semoga arwah almarhum diterima di sisiNya, sesuai dengan amal dan perbuatannya serta diampuni dosa-dosanya yang diperbuatnya.

Hari telah menjelang sore ketika mereka berdua melanjutkan perjalanan. Belum sampai gelap mereka berdua telah tiba di sebuah dusun. Suryo mengajak Babah Lim untuk mencari penginapan dan melewatkan malam di desa itu!

********

TUJUH ”ILMU KEBAL ini khusus mengambil dari sinar matahari! Tubuhmu harus terkena sinar matahari! Kau tidak boleh terkena air ketika menekuninya!” Nyi Langen Asmara berkata kepada perempuan muda di depannya. Dia sedang mengajarkan ilmu kebal yang mengambil sari cahaya matahari! Ilmu kebal yang sangat iangka dipunyai oleh orang persilatan di masa sekarang.

“Hamba siap! Apapun saratnya Ayu siap menjalani!” dara itu menjawab.

Dia telah menjadi kekasih gurunya Nyi Langen Asmara, pertapa di Gunung Gajah. Ternyata setelah kedok hitamnya ditanggalkan, dia adalah seorang gadis yang cantik manis dengan sepasang mata laksana bulan kembar bundar berseri. Lirikan matanya dapat meruntuhkan iman lelaki.

Sebetulnya siapakah dara jelita yang menghadap Nyi Langen Asmara dan diberi pelajaran ilmu kebal ini?

Dara ini sebetulnya masih mempunyai darah keturunan dari Bali, ibunya berasal dari Bali dan ayahnya adalah Juragan Cakra dari Semarang. Seorang juragan yang bergerak di bidang perikanan. Dara ini bernama Ayu Lestari.

Bagaimana dia dapat berkenalan dengan Nyi Langen Asmara?

Ketika dara ini berumur sekitar sepuluh tahun, diajak ibunya untuk pergi ke candi. Ibunya yang menjadi selir Juragan Cakra adalah penyembah Batari Durga. Dia adalah pengikut yang tekun sekali serta taat menjalankan ibadah.Ketika itu Nyi Langen Asmara sedang berada di candi melihat kedatangan ibu dan anak ini, hatinya tertarik sekali. Diam-diam Nyi Langen Asmara mengerahkan ilmunya, memelet ibu dan anak. Dengan mudah sekali ia menguasai diri Nyi Rati dan anaknya. Jadilah ibu Ayu Lestari menjadi kekasihnya, dengan adanya hubungan mi secara otomatis Ayu Lestari yang kala itu masih seorang bocah yang cantik manis menjadi muridnya pula.

Ketika ayahnya, Juragan Cakra kedatangan Sancaka. Ayu Lestari sedang berada di belakang pintu. Sebetulnya ketika itu dia mau keluar, akan tetapi tanpa sengaja mendengar pembicaraan ayahnya dengan tamunya. Dia menjadi tertarik!

“Betulkah patung itu Patung Batari Durga? Patung peninggalan Nyi Calon Arang?” kata Juragan Cakra. Ingin memastikan keaslian patung itu.

“Betul juragan. Babah Coa sendiri telah menyaksikan dengan mata kepala sendiri! Dia berani tanggung bahwa patung itu aseli!” Kata Sancaka menyakinkan.

“Hemmm, berapa dia minta? Asal patung dapat menjadi kepunyaanku, berapapun harganya, aku bayar!”

“Akan tetapi Juragan Lim tidak mau menjualnya. Mau disimpan di tempat barang-barang antik di rumahnya.” ucap Sancaka menerangkan.

Sepasang mata Juragan Cakra terbelalak!

Heran dia. Untuk apa patung itu bagi Babah Lim Hok Coan itu? Dia kan penganut agama yang menyembah di kelenteng. Diapun menawarkan sejumlah uang yang membuat mata Sancaka terbelalak ketika mendengarnya! Menurut isterinya yang ke tiga, apabila dapat mempunyai Patung Batari Durga yang berasal dari Bali, patung yang menjadi sesembahan Nyi Calon Arang. Hidupnya dan keluarga selamanya akan terjamin dan terhindar dari segala macam malapetaka! Maka mendengar bahwa Babah Lim mempunyai patung itu hanya untuk koleksi saja diapun lalu menawarkan sejumlah uang yang cukup untuk membuat mengilar hati orang!

“Pokoknya patung itu menjadi kepunyaanku! Bagaimana caranya, terserah kau dan Babah Coa yang mengatur!” ujarnya dengan menyerah kan sebuah pundi-pundi. “Ini sebagian sebagai uang panjar! Nanti kalau patung sudah berada di tanganku, akan kuberi sepuluh kali lipat dari uang yang berada di pundi-pundi itu.”

“Jangan khawatir, juragan. Pasti patung itu akan saya serahkan kepada juragan.” Sambil membuka pundi-pundi, Sancaka menegaskan.

Patung Batari Durga pasti akan diserahkan kepada Juragan Cakra!

Ketika tamu ayahnya telah berlalu, Ayu Lestari lalu keiuar dan menemui ibunya. Dia memberi tahu ibunya tentang adanya patung itu. Ibunya terbelalak! Menyuruh anaknya untuk mencari bantuan Nyi Langen Asmara untuk menguasai patung itu sendiri! Patung yang sangat ampuh apabila dapat menggunakannya. Semua permintaannya akan dipenuhi dan dikabulkan asal saja tahu cara membuka rahasianya!

Sambil menanti di Gunung Gajah atau Gunung Setan, Ayu Lestari menimba ilmu kesaktian yang langka. Nyi Langen Asmara telah mengutus Simo Gendeng, anak buahnya yang menjadi kepala rampok di Krendowahana. Dia telah memesan kepada Ki Simo Gendeng sendiri ketika disuruh oleh gurunya. Dengan mengenakan kerudung hitam agar jangan dikenal oleh Juragan Lim maupun Tan suhu yang telah mengenal keluarganya dengan baik.

“Kalau begitu siang ini juga dapat kau mulai!” kata Nyi Langen Asmara.

Pertapa ini merasa terikat dengan kekasih barunya ini. Nyi Langen Asmara telah membuat ibu Ayu Lestari menjadi kekasihnya, sekarang anaknya. itupun menjadi kekasihnya pula! Dia tidak akan puas sebelum mendapatkan dara yang menjadi muridnya ini. Sekarang dara ini telah menjadi seorang gadis yang cantik sekali, mem punyai daya tarik yang hebooaatt sekali!

Ayu Lestari menanggalkan seluruh pakaiannya. Dengan bertelanjang dia naik ke atas batu datar di puncak itu. Nyi Langen Asmara lalu memandikan tubuhnya dengan air yang mengandung sari bunga! Setelah itu iapun lalu menyuruh Ayu Lestari untuk tetap bersamadhi dalam keadaan berdiri!

Telah tiga hari tiga malam Ayu Lestari berdiri di atas batu. Ketika siang hari itu matahari telah menjadi sangat panasnya. Tepat bersinar di atas kepalanya, Nyi Langen Asmara membawa sebuah golok yang berkilau saking tajamnya. Ketika tanganhya bergerak ke arah batu gunung, golok itu bagaikan kilat menyambar batu.

“Crasssss ... !”

Batu pun terbelah menjadi dua, bagaikan agar-agar terbelah pisau tajam. Nyi Langen Asmara tersenyum menyaksikan ini!

“Bangun, bocah ayu! Terimalah ini!” Sambil berkata Nyi Langen Asmara menggerakkan goloknya membabat punggung Ayu Lestari. “Daakkkk ... !!”

Golok yang tadi membelah batu gunung bagaikan membelah tahu sekarang terpental ke belakang. Ternyata ketajaman golok itu tidak dapat menembus kekebalan tubuh Ayu Lestari. Nyi Langen Asmara menggerakkan goloknya bertubi-tubi, mencacah tubuh Ayu Lestari. Akan tetapi agaknya tidak terasa sama sekali oleh dara itu. Dia tetap berdiri tegak! Seakan-akan babatan-babatan golok itu usapan tangan halus saja!

“Bangun! Ayu ... bangunlah! Ilmumu telah sempurna!”

Ayu Lestari membuka sepasang matanya! Dia kembali meramkan matanya karena silau. Sambil menutupi dengan kedua tangan diapun kembali membuka mata. Nyi Langen Asmara berdiri di depannya sambil memegang sebuah golok yang telah rompal tajamnya! Ayu Lestari keheranan!

“Guru! Apa yang telah terjadi?” tanyanya.

“Hi-hi-hik ... kau berhasil, bocah ayu! Ini, lihatlah golok ini.” Nyi Langen Asmara mengelus dada yang membusung itu. Ayu Lestari menggerinjai Tubuhnya bagaikan ada bara api yang menjalar di seluruh jalan darahnya. “Ihhh, guru ... !”

“Hi-hi-hik ... , mari, mari kumandikan dulu. Kau harus kumandikan dulu, setelah itu kita makan dan mengaso.”

“Baik, guru.” Ayu Lestari menjawab dengan patuh. Setelah melakukan semuanya, kedua orang itu lalu memasuki goa. Apa yang diperbuat di dalam goa tidak dapat terlihat dari luar, hanya kadang terdengar rintihan. Rintihan orang mengalami kepuasan!

Pada suatu pagi, kedua orang itu berlatih silat. Ayu telah mendapat tambahan ilmu yang tidak sedikit ketika berada di goa pertapaan gurunya ini. Dua bayangan tubuh yang ramping sedang berkelebatan dan berputaran diiringi oleh kilatan cahaya senjata yang berkelebatan! Sangat cepat sekali, sesekali terdengar denting beradunya senjata dan terkadang senjata bertemu dengan tubuh. Pakaian keduanya telah tak karuan. Terobek di sana-sini, semua ini akibat kelebatan senjata yang diterima dengan tubuh atau ditangkis tangan telanjang!

Ketika sedang sengit-sengitnya kedua orang itu berlatih. Beberapa sosok bayangan hitam berlarian naik ke atas Bukit Gajah. Beberapa kali terjatuh. Agaknya saking lelahnya orang-orang dalam menempuh perjalanan!

Siapakah mereka?

Mereka bukan lain adalah anak buah Simo Gendeng kepala rampok Krendowahana! “Aduuuuhhhh ... katiwasan ... Nyi Dewi!”

Begitu dekat tempat kedua orang itu berlatih. Salah seorang berseru, mereka semua menjatuh kan diri berlutut. Malahan ada yang terguling, pingsan atau tertidur, agaknya saking lelahnya!

Nyi Langen Asmara dan Ayu Lestari meloncat ke belakang. Begitu melihat keadaan orang-orang berpakaian hitam itu, alisnya terangkat. Apalagi ia tidak melihat si Simo Gendeng, anak buahnya tersayang! “Ada apa kalian ini? Mana Simo Gendeng?” tanyanya ketus. “Hayo cepat jelaskan! Apa kalian menunggu kepala kalian melayang dulu?”

“Maafkan kami, Nyi Dewi. Kakang Simo telah tewas. Dia telah terbunuh oleh seorang pemuda berpakaian putih bersama Suryo.” Salah seorang yang menjadi pembantu Simo Gendeng memberi tahu.

Dia lalu menceritakan bagaimana mereka semua tidak berdaya meng-hadapi tandang pemuda baju putih yang bersenjatakan tongkat itu. Tak dinyana sama sekali bahwa ketua mereka yang sudah terkenal sakti dapat dikalahkan oleh si pemuda dengan mudah. Nyi Langen Asmara dan Ayu Lestari yang mendengarkan cerita ini menjadi marah sekali.

“Bangsat kurang ajar! Apa kalian yang terdiri dari puluhan orang tidak dapat membunuh seorang bocah yang masih hijau?” tanyanya dengan suara yang mengandung getar kemarahan!

Para anak buah yang berpakaian hitam itu tubuhnya menggigil. Mereka ketakutan sekali melihat kemarahan Nyi Langen Asmara. Mereka tahu bahwa wanita ini dapat membunuh orang yang mempunyai kesalahan yang tidak berarti.

“Ammmpoouuunnnn ... ! Ampuunnkan kami Nyi Dewi!” ratap mereka hampir berbareng. Terdengar salah seorang yang berada di belakang berkata.

“Dia ... dia, pemuda itu agaknya tidak berniat membunuh kami semua. Karena, itu, kami semua dapat membuat laporan ke ... ”

“Wiirrrrr ... ceeppppp!”

Ternyata belum selesai orang itu berkata, sebuah golok telah menembus dadanya!

Nyi Langen Asmara telah menggerakkan tangan yang memegang golok. Tahu-tahu goloknya telah meluncur tanpa dapat diikuti pandang mata! Mendengar laporan itu, dia seakan mendapat cemoohan dari lawan. Apalagi yang berkata ini adalah anak buah Simo Gendeng. Sungguh memalukan! Maka dia segera membungkam mulut yang tidak tahu malu itu! Semua orang yang berada di situ, yaitu anak buah Simo Gendeng yang berpakaian serba hitam, menjadi semakin ketakutan sekali. Tiada seorangpun yang mengangkat muka. Menyembah-nyembah sambil meratap minta ampun!

“Babi, babi tak tahu aturan! Sudah membawa kabar jelek masih memuji perusuh! Pergi! Pergi semua dari depanku!”

Bagaikan mendapat pengampunan mereka menyatakan terima kasih. Bergegas mereka pergi meninggalkan tempat itu dengan berlari. Mereka takut keputusan tersebut berubah sewaktu-waktu. Siapa tahu isi hati orang yang sangat galak itu! Melihat orang-orang berlarian saling adu cepat Ayu Palupi menjadi sebal. Lalu kakinya menendangi batu-batu di depan kakinya.

“Siut-siut-siuttt! Tak-tak-takkk!” Tiga orang berbaju hitam yang paling belakang mendapat hadiah batu di belakang kepala. Tanpa ampun ketiganya terhuyung ke depan dan menggelinding dengan kepala berlubang! Melihat ini kawan-kawan mereka bertambah ketakutan. Sehingga terjadilah tubrukan di antara mereka! Sialnya, kembali ada orang yang terjatuh ke dalam jurang! Saking takutnya teman di sampingnya telah mendorong orang itu sehingga memasuki jurang! Ini semua terjadi karena terlalu paniknya mereka!

“Hi-hi-hik ... kecoa-kecoa seperti itu sebetulnya tak pantas diberi hidup!” “Sungguh menyebalkan!” kutuk Ayu Palupi. “Lebih baik kita cari sendiri. Hayo Ayu, kita pergi!” “Baik guru!”

Kedua guru dan murid itu menuruni Bukit Gajah. Tubuh keduanya bagaikan dua ekor burung terbang turun dengan cepat sekali. Dalam sekejab saja hanya nampak dua bayangan hitam meluncur cepat. Tak berapa lama kemudian lenyap ditelan kelebatan hutan di bawah bukit!

*****

Kabut pagi masih tebal sekali. Pandang mata hanya dapat melihat sekitar tiga tombak saja! Udarapun dingin sekali. Hutan itu bertambah dingin dengan embun yang menyelimuti dedaunan. Kalau tidak berhati-hati, orang dapat menabrak pohon di depannya karena karena terhalang kabut! Akan tetapi hawa yang dingin sekali itu agaknya tidak membuat keempat orang itu menunda perjalanan mereka!

Bagaikan hantu kesiangan keempatnya menembus kabut. Agaknya mereka tidak terganggu oleh hawa yang dingin itu, menandakan bahwa mereka adalah orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi. Entah apa yang menjadi tujuan mereka sehingga keadaan yang dingin di pagi itu tidak dapat menghalangi maksud mereka!

“Kita harus mencegat mereka dekat dusun di depan!” kata salah seorang dari mereka.

“Betul, kang Dolok. Aku setuju, kita harus mengambil jalan pintas saja. Lebih cepat dan kita dapat menanti mereka!” sahut temannya si Mangkurat.

Ternyata mereka adalah rombongan Bango Dolok dan adik seperguruannya si Mangkurat, dengan Sancaka dan Coa Bo Gie. Agaknya mereka telah menemukan jejak Juragan Lim Hok Coan yang hendak pergi ke Prambanan. Maka berusaha untuk mencegat di depan sebelum kedua orang itu memasuki dusun. Bango Dolok mengutarakan siasatnya untuk mengepung kedua orang yang membawa peti berukir berisi Patung Batari Durga!

Tidak jauh di depan mereka tampak pula rombongan orang berpakaian hijau. Karena warna pakaiannya, maka mereka itu tidak dapat dibedakan dengan keadaan hutan. Ternyata mereka adalah gerombolan Sugriwa Yaksa. Agaknya raksasa ini masih merasa penasaran karena dapat dipecundangi demikian mudah oleh anak muda berbaju putih itu. Ketika melihat anak buahnya kembali, yaitu setelah ia tersadar dari pingsannya. Sugriwa Yaksa lalu memilih sepuluh orang untuk mengejar pemuda baju putih untuk menuntut balas!

Ternyata mereka dapat menemukan jejak Suryo dengan Babah Lim Hok Coan yang menuju ke Prambanan. Mereka tadi malam menginap di dalam hutan. Sugriwa Yaksa bermaksud untuk mencegat keduanya di tanah datar di luar dusun, maka dia mengajak teman-temannya untuk melalui hutan dengan jalan memotong jalan, sehingga dengan sendirinya akan dapat tiba di tempat yang dimaksud dengan cepat!

Ternyata kedua rombongan itu terpisah cukup jauh. Dengan adanya kabut mereka tidak mengetahui kalau di depan maupun di belakang ada orang yang menuju ke tempat yang sama dan mempunyai tujuan yang sama pula. Akan tetapi berbeda. Kalau rombongan Bango Dolok menginginkan peti berisi patung, sedangkan rombongan Sugriwa Yaksa ingin membunuh pemuda baju putih untuk mehebus kekalahannya yang memalukan di tempatnya sendiri itu!

Sampai matahari telah naik tinggi kedua rombongan itu menanti kedatangan orang yang diincarnya. Dengan tekunnya mereka menanti di dalam hutan dekat dusun, tanpa bergerak sama sekali atau berpindah tempat sehingga keduanya tidak mengetahui akan kehadiran masing-masing! Dua orang berjalan dengan saniai di jalan setapak hutan. Salah seorang masih muda, berwajah tampan serta mengenakan pakaian serba putih. Di tangan kanannya nampak sebuah tongkat pendek berwarna kehitaman. Pada punggungnya nampak sebuah bungkusan besar. Sambil berjalan pemuda ini tiada hentinya bersiul-siul. Sedangkan yang berjalan di sampingnya adalah seorang laki-laki yang bertubuh gemuk. Langkahnya tertatih mengikuti langkah si pemuda yang gesit dan ringan itu. Agaknya saking gemuknya sehingga diwaktu berjalan jauh keringatnya telah memenuhi tubuhnya bagaikan orang kehujanan!

“Ayaaa, kita belhenti dulu! Ini kaki sudah tidak mau digelakkan lagi. Itu ada pohon yang lindang, kita mengaso di sana,” keluh Juragan Lim.

Ternyata kedua orang itu adalah Suryo lelono dengan Juragan Lim Hok Coan yang sedang menuju ke Prambanan. Mendengar keluhan teman seperjalanannya, Suryo tidak menjawab. Langkahnya dipelankan, lalu berkata. “Kita sudah dekat dengan dusun. Lebih baik kita mengaso di dusun! Menikmati makanan dan dapat mengaso dengan enak!”

“Ooooo ... iya tho. Kalau begitu, boleh dah.”

“Mari kita percepat saja jalannya!” ajak Suryo. Dia ingin segera sampai di dusun. “Ooooeeeeee ... , tungguuu ... tunggu. Saya mau buang air kecil dulu!”

Suryo berhenti dan menoleh. Ternyata Juragan Lim telah berlari ke arah gerumbulan semak di tepi jalan. Tiada lama kernudian telah keluar lagi, berlari kecil untuk mengejar Suryo yang telah melanjutkan perjalanannya kembali!

********* D E L A P A N

“BERHENTI! Serahkan bungkusan itu!” bentakan ini disusul dengan berkelebatnya empat bayangan ke depan. Mengurung Suryo dan Juragan Lim. Suryo mengawasi keempat orang itu, akan tetapi tiada seorangpun yang dikenalnya. Akan tetapi Juragan Lim segera mengenal dua orang yang telah mencegatnya itu, maka iapun menyapa.

“Eeelho kilanya kau! Mengapa kau mencegatku, Sancaka?” Setelah menyapa Sancaka lalu Babah Lim mengawasi seorang Cina yang mengenakan pakaian hitam dan menegurnya pula. “Ayaaaaa, ini sobatku Coa Bo Gie. Kenapa ada pula di sini?”

“Lim, serahkan saja patungmu kepada kami! Daripada kau menjadi korban, lebih baik serah kan petimu!” Coa Bo Gie langsung mengutarakan maksudnya.

“Betul, juragan. Serahkan peti itu kepada kami dan kami akan berlalu. Tidak akan mengganggu seujung rambutpun! Akan tetapi ... ” Belum habis Sancaka berkata, Suryo telah memotongnya.

“Kalian menghendaki peti berukir? Ini, ambillah sendiri!”

Mendengar tantangan ini, Bango Dolok dan Mangkurat maju sambil melayangkan tangan. Bango Dolok memukul ke arah muka sedangkan Mangkurat menubruk dari belakang, berusaha mengambil bungkusan di punggung Suryo.

”Ciaaattttt ... !!” Pukulan Bango Dolok yang mengarah muka lawan dapat dielakkan dengan miringkan kepala. Sedangkan tubrukan Mangkurat dari belakang disambut dengan tendangan kakinya. Tanpa ampun lagi Mangkurat menjerit keras karena perutnya telah menerima tendangan tidak terduga ini.

“Blekkkk!! Aduuuhhhh ... !”

Tubuh Mangkurat terlempar ke belakang sekitar dua tombak jauhnya dan terbanting ke tanah dengan pinggul yang menimpa tanah terlebih dahulu. Begitu bangun, kedua tangan mengusap-usap pinggulnya. Agaknya pinggulnya tadi mengenai batu tepat di tulang kataknya!

Melihat ini ketiga kawannya lalu maju menyerang hampir berbareng. Mereka mengeluarkan jurus- jurus silat pilihan masing-masing. Setiap pukulan maupun tendangan mereka selalu mengeluarkan angin keras saking kuatnya! Akan tetapi dengan mudahnya Suryo menghadapi hujan serangan dari keempat orang itu. Ternyata Mangkurat setelah dapat menguasai rasa sakitnya ikut pula maju mengeroyok! Dia ingin membalas kekalahannya tadi. Masa baru segebrakan saja dia telah mendapat hadiah tendangan di perutnya. Seakan memberi makan perutnya yang telah lapar!

Akan tetapi kembali ilmu siMliwis Putih menunjukkan keampuhannya. Tubuh Suryo dapat menyelinap di bawah hujan serangan keempat orang lawannya. Ketika sampai di jurus ke dua puluh, Suryo malahan memberi hadiah masing-masing sebuah sodokan di perut.

“Duk-duk-duk-duk!!”

“Ufffff ... !!” hampir berbareng keempat orang itu membungkuk. Mungkin ulu hatinya telah terkena sodokan ujung jari Suryo. Seakan pecah dan berserakan isi perutnya dan menyesakan rongga dada! Akan tetapi tak lama kemudian keempatnya sudah dapat menguasai diri mereka. Dengan muka agak pucat karena sakit, mereka lalu menghunus senjata masing-masing. Bango Dolok mencabut goloknya dan Mangkurat juga mengeluarkan senjata rantai baja yang ujungnya diberi bandul besi bergerigi. Sedangkan Sancaka mencabut sebatang keris yang berwarna kehitaman, dan Cina tinggi kurus berpakaian hitam itu mengeluarkan pula senjatanya. Bentuk senjatanya agak aneh, se-perti kaitan yang bercabang! Tanpa memberi isyarat keempatnya telah menggerakkan senjata andalan mereka sendiri.

Suryo melenting tinggi untuk mengelak dari kepungan empat senjata lawan. Begitu kakinya menginjak tanah, tongkat disodokkan ke belakang dan tangan kirinya menangkis keris Sancaka dengan kibasan tenaga dalam.

“Wussss ... , plakkk!!”

Dua orang yang mendapat serangan balasan ini meloncat mundur. Sedangkan golok Bango Dolok dan senjata rantai Mangkurat dielakkan dengan membuat salto di tanah tiga kali. Tubuhnya berputaran di tanah bagaikan roda saja layaknya. Akan tetapi kedua senjata itupun tidak dapat menyentuh ujung bajunya sedikit pun! Tanpa menunggu lawan memperbaiki posisi, Suryo segera memainkan tongkat kayu cendananya dengan Ilmu Tongkat Pengemis Gila! Keempat lawannya kebingungan melihat jurus-jurus silat yang aneh sekali. Sukar sekali diduga geraknya, seperti keadaan orang yang sedang dalam keadaan tidak stabil. Tidak ada aturannya sama sekali. Kadang berjongkok, kadang berputaran di udara.

Setelah merasa cukup mempermainkan keempat lawannya Suryo lalu mengirim totokan yang cukup untuk membuat tubuh keempat lawan menjadi lemas.

“Tuk-tuk-tuk-tukk!” Hampir beruntun totokan mengenai keempat lawannya. Tanpa ampun lagi keempatnya tergejlek dengan tubuh tiada daya untuk melanjutkan pertempuran!

“Serrbuuuu ... ! Bunuh pemuda baju putih ... !” Sugriwa Yaksa berteriak memberi tanda kepada anak buahnya. S

uryo melihat ke arah belakangnya, ternyata orang-orang berpakaian hijau maju menyerang dengan senjata yang beraneka ragam! Dipimpin oleh seorang yang bersenjata ruyung bergerigi, Sugriwa Yaksa!

“Trang-tring-trang-tringg ... !”

Terdengar benturan senjata berulang kali dan nampak banyak senjata beterbangan di udara! Tubuh- tubuh orang berpakaian hijau mencelat ke kanan kiri. Hanya ruyung milik Sugriwa Yaksa saja yang masih dapat dipertahankan. Walaupun tangannya terasa kesemutan seakan-akan kulit telapak tangannya terbeset akibat bertemunya ruyung dengan tongkat kecil berwarna hitam di tangan si pemuda.”Tahannn!! Mengapa kalian tidak kapok setelah kuampuni!”

“Tidak ada dalam kamusku untuk kalah begitu saja! Belum lecet tulangku dan belum patah daging kulitku. Mengapa harus merasa kalah.” Sumbar Sugriwa Yaksa sebagai jawaban atas kata-kata si pemuda. Raksasa ini sesumbar tanpa aturan, dibolak-balik tidak karuan!

“Agaknya kalian minta dihajar! Kalau itu maumu? Mari, mari ... , majulah ke mari!”

“Makanlah rujak poloku! Pecah kepalamu!” Sambil mengayun ruyung ke arah kepala, Sugriwa Yaksa membarengi dengan tangan kiri menyebar benda kehijauan ke arah Suryo. “Ting-tang-ting-tang! Wusss ... !”

Suryo memutar tongkatnya menangkis sinar hijau yang datang lebih dulu. Miringkan tubuh untuk mengelakkan pukulan ruyung ke arah kepala dan tangan kirinya bergerak menyodok

ulu hati. Dielakkan lawan dengan meloncat ke belakang dan kembali maju lagi sambil mengo-bat- abitkan ruyungnya. Dengan lincah Suryo menghadapi serangan lawan ini, hanya sesekali saja dia membalas untuk mengurangi tekanan ruyung yang datang menggebu. Pertempuran itu walaupun kelihatan seru sekali akan tetapi sebetulnya Suryo Lelono tidak menggunakan seluruh kepandaiannya. Dia agaknya hanya ingin menyadarkan raksasa ini. Setelah merasa cukup kembali Suryo menotok tubuh depan yang terbuka dari lawannya. Akan tetapi saking kuatnya Sugriwa Yaksa menubruk maju, dadanya telah tertembus ujung tongkat!

“Aduhhhh ... mati aku!” Jerit Sugriwa Yaksa.

Para anak buah yang berpakaian hijau dapat bergerak dari pengaruh totokan atau terlempar ke kanan kiri dengan menderita luka-luka ringan. Segera maju untuk menolong pemimpin mereka. Akan tetapi ternyata bahwa pemimpin mereka telah menghembuskan napasnya yang penghabisan. Kakinya berkelojotan tatkala nyawanya mau meninggalkan tubuhnya!

Tanpa berani menoleh lagi orang-orang berpakaian hijau mengangkat tubuh Sugriwa Yaksa dan memapah orang-orang yang terluka. Menyusup ke dalam gerumbulan semak hutan. Karena warna pakaiannya yang kehijauan itu dalam sekejab saja mereka telah hilang dari pandangan mata!

“Jangan dibunuh ... !” Teriakan Suryo yang menggeledek itu ternyata terlambat.

Juragan Lim yang merasa marah sekali akibat telah kehilangan banyak anak buah serta kehilangan harta, menggerakkan goloknya untuk menusuk orang terakhir dari keempat orang itu.

“Croootttt ... !”

Darah muncrat dari dada Coa Bo Gie ketika golok dicabut Juragan Lim. Sebagian mengenai pakaian Juragan Lim. Mendengar bentakan Suryo, Juragan Lim Hok Coan menengok, akan tetapi, semua sudah terlanjur!

Keempat orang itu mati dengan penasaran sekali! Dalam keadaan tidak berdaya serta tak dapat membela diri sama sekali telah ditusuk golok! Mati secara mengenaskan di tangan seorang yang tidak bisa silat sama sekali. Setelah melihat korban-korbannya, Juragan Lim maju mendekati Suryo.

“Saya halus membalas dendamnya olang-olang yang telah mengantal aku ke Plambanan! Kenapa kau tidak mau membunuh meleka? Mengapa membialkan meleka melalikan dili?” Juragan Lim berkata sambil mengusap peluh yang membasahi dahinya.

Golok di tangan dibuang ke samping, berjalan pergi untuk mengaso di bawah pohon! Suryo hanya menggeleng kepala.

Ah, hanya sebuah patung telah menewaskan begitu banyak orang, pikirnya! Dia lalu memungut golok dan membuat lubang untuk mengubur keempat jenazah itu. Dengan cepat sekali tangannya bergerak, dalam waktu yang tidak berapa lama sebuah lubang cukup besar telah dibuatnya.

“Mari ... , bantu aku menguburkan mayat-mayat ini!” “Ayaaaa, sudah lelah disuluh mengubul mayat lagi! Siaallaannnn ... !” gerutunya.

Lim Hok Coan berdiri dengan ogah-ogahan. Akan tetapi dia ikut membantu juga. Suryo yang melihat ini menjadi gembira, biarpun babah gemuk itu telah membunuh lawan yang tidak berdaya akan tetapi, dia masih mau membantu untuk memasukkan mayat ke dalam lubang kubur. Berarti tidak percuma saja dia menolong juragan ini. Kalau saja juragan ini tidak mau membantu. Entah apa yang akan diperbuatnya mengenai urusan patung itu?

“Hi-hi-hi-hikk ... ! Ternyata kalian berdua telah menyiapkan kuburmu sendiri. Hi-hi-hik    !!”

Suryo kaget mendengar suara di belakangnya ini. Suara kekeh genit seorang perempuan. Entah sejak kapan berdirinya, ternyata di belakanganya ada dua orang wanita yang berdiri sambil bersedakap! Sungguh piawai sekali dua perempuan ini, pikirnya. Kedatangannya tidak dapat terdengar oleh pendengarannya yang tajam luar biasa itu. Tetapi dengan tenang sekali dia maju menghadapi kedua orang wanita itu.

”Bocah! Apa yang di punggungmu itu? Jawab!”

“Bolehkah saya mengenai siapa andika?” jawab Suryo kalem.

“Hi-hi-hik   , bocah tampan, majulah kesini!” perintah Nyi Langen Asmara. Dia ingin melihat jelas

pemuda ini. Ayu Lestari pun mengawasi pemuda tampan dengan sepasang matanya yang lebar. Begitu Suryo telah datang dekat, Nyi Langen Asmara berkata lagi.

“Hi-hi-hi-hik ... , ini muridku yang ayu. Namanya Ayu Lestari. Aku adalah Nyi Langen Asmara, penguasa Bukit Gajah! Hi-hi-hi-hik !”

“Ooohhh!” Hanya itulah yang keluar dari mulut si pemuda. Agaknya pemuda ini menjadi kaget juga mengetahui siapa adanya wanita setengah tua itu. Dia pernah mendengar tentang pertapa wanita penganut Batari Durga yang bernama Nyi Langen Asmara. Kabarnya wanita itu telah berusia tujuh puluhan tahun! Akan tetapi yang berdiri di depannya ini, usia nya pasti tidak lebih dari empat puluhan tahun!

“Hi-hi-hik    , bocah tampan bungkusan apa yang berada di punggungmu itu? Apakah bukan peti

berisi patung Sang Batari?” tanyanya.

Sebelum menjawab Suryo telah mempersiap kan dirinya lebih dulu. Dia tahu agaknya hanya patung itu yang menjadi perebutan para tokoh-tokoh silat di seantero Nusa Jawa ini!

“Benar! Ini adalah patung itu. Akan tetapi akan kuantar ke Prambanan!”

“Hi-hi-hikk , lebih baik kauserahkan kepadaku, bocah! Kalau kau masih ingin melihat matahari

terbit esok hari!”

“Patung ini bukan kepunyaanku. Tidak akan kuserahkan pada siapapun juga.” “Sebelum kau mampus, lebih baik sebutkan namamu. Hi-hi-hi-hikk !”

“Aku bernama Suryo!” jawabnya singkat.”Hi-hi-hi-hik Suryo. Terimalah ini!” Begitu habis kata-

katanya Nyi Langen Asmara menggerakkan tangan kanannya. Uap tipis keluar dari telapak tangan membawa bau harum yang memabokkan. Menyerang wajah Suryo.

“Haitt!” Tubuh Suryo telah melayang tinggi menghindar dari serangan uap tipis. Dari atas tangan kanannya bergerak dengan pengerahan tenaga sakti mengibas ke arah kepala lawan.

“Dukkk!” Dua tenaga bertemu di udara. Membuat pohon-pohon yang berada di sekitar tiga tombak bergoyang- goyang terlanda angin pukulan itu. Nyi Langen Asmara tersurut mun-dur lima langkah, sedangkan Suryo sendiri kembali terlempar ke atas hampir mencapai tiga tombakan!

“Hebatt ... ! Sekarang terimalah ini!”

Setelah memuji Nyi Langen Asmara menggerakkan tangan kanan kirinya dengan berbareng. Dari kedua telapak tangannya kembali mengepul uap putih kehijauan. Sekarang membawa bau yang tidak enak. Sepertinya bau bangkai busuk!

Ketika ada angin dingin menyambar tubuhnya yang sedang turun, Suryo membuat gerakan membalik dan kembali tubuhnya naik. Tangan kirinya memegang cabang pohon, sekali menarik, tubuhnya telah meluncur pergi jauh dari tempat itu! Kembali serangan ini dielakkan dengan mudahnya. Melihat ini Nyi Langen Asmara menjadi marah juga. Dengan cepat kakinya menjejak tanah dan tahu-tahu bagaikan kilat telah menerjang ke arah si pemuda.

Kembali Suryo mengelak lalu membalas serangan itu dengan tak kalah cepatnya. Semua ilmu kesaktian dikeluarkan oleh kedua orang itu. Tubuh keduanya telah hilang dari pandangan mata. Yang nampak hanyalah dua bayangan saling libat dengan cepatnya. Pohon-pohon ada yang tumbang akibat pukulan yang tidak mengenai sasaran atau dielakkan lawan!

Keduanya memiliki ilmu yang hampir sempurna. Batu dan debu berhamburan ke udara. Terkadang terdengar ledakan dahsyat memekak kan telinga akibat benturan kedua tenaga sakti dari aji yang menggiriskan! Seratus jurus berlalu dengan cepat, akan tetapi tiada nampak yang kalah atau yang menang! “Tahan! Kalau tidak Cina ini mampus!”

Kedua bayangan itupun berpisah. Suryo kaget sekali melihat perkembangan baru ini. Sungguh tidak , pernah disangkanya bahwa seorang tokoh besar menyuruh muridnya berbuat seperti itu! Celaka, pikirnya.”Hi-hi-hikk ... ! Ada apa Ayu? Mengapa kau mengganggu orang sedang bermain-main?”

“Cepat serahkan peti itu! Awas jangan membuat gerakan yang mencurigakan! Kalau ingin babah ini dalam keadaan hidup!” Ayu Lestari mengancam.

“Bagaimana kalau peti ini kubawa lari?” Suryo berusaha menjajaki kemungkinan ini.

“Bocah! Dapatkah kau lari dariku? Cepat serahkan, jangan bertindak bodoh!” Nyi Langen Asmara memperingatkan.Suryo menimbang-nimbang untung ruginya bagi dirinya dan Juragan Lim. Memang peti itu bukan miliknya akan tetapi milik Juragan Lim yang sedang terancam bahaya maut sekarang ini. Dia ingin mengetahui bagaimana reaksi si empunya barang. Sambil tersenyum Suryo berkata kepada Lim Hok Coan yang disandera itu.

“Bagaimana keputusanmu, Juragan Lim?”

“Selahkan saja! Selahkan saja benda sialan itu!” katanya dengan tubuh gemetar.

“Baik! Kalau begitu terimalah!” Setelah berkata demikian Suryo melemparkan peti ke atas! Peti melayang ke udara tinggi sekali, begitu Nyi Langen Asmara bergerak untuk menyambut. Tiba-tiba nampak bayangan hitam menyambar peti!

“Ha-ha-ha-ha ... , akhirnya menjadi milikku juga! Ha-ha-ha ... ” “Bangsat jangan lari!” Nyi Langen Asmara mengejar dengan cepatnya bayangan yang melarikan peti berisi Patung Batari Durga. Melihat ini Ayu Lestari. juga meloncat mengejar. Akan tetapi sebelum dia pergi tangannya bergerak menampar!

“Plakkkk!”

Tubuh Juragan Lim tersungkur ke depan dengan cepatnya, bagaikan karung

beras tubuhnya yang gemuk menimpa tanah. Suryo yang melihat ini tidak jadi mengejar pencuri peti melainkan cepat menghampiri tubuh Juragan Lim untuk memeriksa. Hatinya lega ketika mendapat kenyataan bahwa Juragan Lim hanya pingsan saja.

“Ayahh ... !” Terdengar teriakan nyaring memecah kesunyian.

Seorang gadis berlari cepat mendatangi diiringi empat orang lelaki. Mereka bukan lain adalah Ki Pentet Prawirayuda, Tan suhu, Parta dan adiknya si Pardi. Ternyata mereka telah dapat menyusul sampai di sini.

”Bagaimana keadaan ayahku? Apakah ... apakah ... ?” Lim Gin Hwa bertanya kepada Suryo yang sedang memeriksa ayahnya.

“Dia tidak apa-apa, nona. Hanya pingsan.” “Oohhhh ... !”

“Bagaimana dengan peti itu? Apakah masih selamat?” Tan suhu juga bertanya.

“Tentang peti? Ohh, baru saja dia direbut sesosok bayangan. Entah siapa?” Suryo menjawab cepat. Lalu dia berkata kepada mereka. “Tolong jaga Juragan Lim. Aku mau mengejar para perampas itu sekarang!”

Begitu selesai berkata tubuhnya telah lenyap dari hadapan mereka. Membuat bengong orang-orang itu. Tatkala itulah Lim Hok Coan sadar dari pingsannya. Mengeluh kesakitan sambil meraba tengkuknya yang terpukul tadi.

“Aduuhhhh ... sakit ... ! Ehh, kapan kalian datang? Nama anak muda itu?” Setelah melihat anaknya dan teman-temannya berada di situ Juragan Lim langsung bertanya. Menanyakan ke mana perginya anak muda penolongnya.

“Dia telah menyusul pencuri peti, ayah. Dan kita disuruh untuk melanjutkan perjalanan dulu.” Lim Gin Hwa menjawab pertanyaan ayahnya.

“Ayaaaa ... sungguh peti berisi patung itu selalu membawa bencana! Lebih baik dimusnakan saja!

Agal tidak membawa kolban lagi.” keluh Juragan Lim.

“Sebaiknya begitu.” Tan suhu menimpali. Dia juga melihat sesuatu yang tidak benar dengan adanya isi Patung Batari Durga itu. Maka kalau kayu itu dimusnakan akan lebih baik lagi.

“Sekalang bagaimana baiknya? Aku hanya menulut saja.”

“Kita tetap melanjutkan perjalanan seperti yang diminta si pemuda baju putih itu. Entah siapakah nama pemuda itu?” Ki Pentet Prawirayuda menyarankan.

“Pemuda itu bernama Sulyo.” kata Juragan Lim Hok Coan.

“Suryo ... ? Suryo apa kelanjutannya?” Kembali Ki Pentet Prawirayuda bertanya. “Aku tidak tahu! Hanya Sulyo itu saja yang aku tahu. Dia sungguh seolang pesilat yang handal, hemmm ... !”

Merekapun lalu berjalan kembali menuju ke Prambanan. Akan tetapi mereka terpaksa menginap lagi di dusun yang ada di balik hutan itu. Babah Lim meminta untuk menunggu barang dua hari, baru nanti setelah merasa si pemuda tidak dapat kembali dalam waktu dua hari baru mereka berangkat. Semua orang menyatakan setuju dengan usul ini.

Juragan Lim Hok Coan menceritakan semua pengalamannya setelah berpisah dengan Tan suhu. Yaitu ketika mereka berdua ditolong dari anak buah orang berpakaian hijau yang hendak memasak mereka itu. Teman-temannya mendengarkan dengan takjub cerita itu.

Tan suhu juga menceritakan pengalamannya ketika disuruh untuk mencari anaknya Juragan Lim dan rombongannya. Ketika dalam perjalan an kembali ke rumah penginapan dia bertemu dengan Gin Hwa dan Ki Pentet Prawirayuda serta sisa para pengawal dari murid-murid perguruan Balung Wesi. Yaitu Parta dan Pardi. Sedangkan Beja tidak terlihat bersama mereka. Tan suhu lalu mengajak mereka untuk mengejar kedua orang yang sedang pergi ke Pram-banan. Sampai malam mereka bercakap-cakap, tanpa terasa telah hampir tengah malam.

“Oooohhaaaaheeemmmmm ... ! Lebih baik kita pelgi tidul. Ini mata sudah tidak bisa dibuka lagi!” Setelah menguap panjang Juragan Lim mengajak teman-temannya untuk tidur mengaso!

******** SEMBILAN

BAYANGAN itu berkelebat cepat sekali. Seakan-akan terbang saja layaknya ketika melompati jurang-jurang yang mem bentang menghadang jalannya. Tubuhnya kadang kadang meloncat naik ke puncak pohon, ber-loncatan dari puncak pohon ke puncak yang lain dengan lincahnya. Sesekali terkekeh riang sambil menciumi peti berukir berisi Patung Batari Durga di tangan kanannya. Setelah melewati dua bukit, tiba-tiba bayangan itu mendengar suara kekeh genit seorang wanita. Begitu dia menggerakkan kepala menoleh ke belakang, mukanya berubah!

Kiranya jauh di belakang nampak dua titik mendatangi cepat sekali mengejarnya!

“Sialan! Nenek iblis itu tidak mau menga-lah!” umpatnya dalam hati. Akan tetapi. dia tidak mengendorkan larinya.”Hi-hi-hi-hik ... ! Mau lari ke mana, kakek tua? Kerahkan seluruh iimu kepandaianmu, aku Nyi Langen Asmara pasti dapat menangkapmu!”

Ternyata kekeh genit itu adalah kekeh Nyi Langen Asmara yang mengejar bersama muridnya Ayu Lestari yang juga mengikuti di belakangnya. Kedua orang itu tidak mau ketinggalan atau kehilangan orang yang membawa peti berisi Patung Batari Durga. Mengejar terus biarpun hari telah berubah menjadi malam. Di bawah sinar bintang mereka tidak mau kehilangan jejak pencuri itu! Ketiganya saling kejar dan berlarian semalam suntuk. Sampai matahari bersinar di ufuk timur, kakek itu tidak dapat meloloskan diri dari Nyai Langen Asmara dan Ayu Lestari yang berada di belakangnya. Dengan napas ngos-ngosan dia berhenti di sebuah puncak bukit yang datar, menanti kedatangan kedua orang pengejarnya.

Begitu dia berhenti sejenak di bukit itu, berkelebat dua bayangan di depannya. Ternyata Nyi Langen Asmara dan Ayu Lestari telah tiba di situ pula. Begitu datang nenek itu lalu berkata sambil terkekeh.

“Hi-hi-hik ... , mengapa berhenti? Sudah loyo ya kakimu itu? Hi-hi-hik ... heh-heh-heh!”

“Iblis betina! Mengapa kau tidak mau me-ngalah kepadaku! Kita dapat bergantian menggunakan patung ini!” katanya. Ternyata dia adalah seorang kakek yang sudah berumur enam puluhan tahun. “Tua bangka! Kau kira aku tidak tahu akal bulusmu? Hi-hi-hik ... kita i_dah sama-sama tua, Jaluwesi!”

Ternyata kakek itu adalah Ki Jaluwesi ketua dari perguruan silat Balung Wesi. Mengapa dia agaknya kenal Nyi Langen Asmara? Sebetulnya keduanya adalah kakak adik seperguruan. Murid dari seorang pertapa penganut Batari Durga. Kedua orang ini telah melakukan hubungan suami-isteri yang lama sekali sebelum berpisah untuk melanjutkan kesukaan masing-masing, yakni berguru ilmu yang tinggi di kalangan kaum pertapa.

Ki Jaluwesi sebetulnya adalah seorang yang sesat. Hanya saja wajahnya yang halus dapat menutupi sesuatu yang tersembunyi di hatinya. Ki Pentet Prawirayuda adalah adik seperguruan yang terakhir ketika dia berguru kepada seorang pertapa di lereng Gunung Kendil!

Gurunya yang terakhir ini bernama Wasi Sangga Langit!

Dia hanya mempunyai dua orang murid, yakni Ki Jaluwesi dan Ki Pentet Prawirayuda. “Sari, kuharap kau mengalah sekali ini! Aku sudah lama sekali menginginkan patung ini.” kata Ki Jaluwesi halus. Dia memanggil nama kecil Nyi Langen Asmara. Langensari.

“Jaluwesi, tak perlu kau merayuku! Aku sudah muak melihat tampangmu!”

“Ha-ha-ha ... , Sari, apa kau tidak ingat akan masa lalu? Saat kau merayu dan merengek-rengek terhadapku?” ejeknya.

“Gombal! Siapa yang merengek-rengek? Kau atau aku!” “Ha-ha-ha ... !”

“Serahkan patung itu kepadaku! Akan kuingat selalu kebaikanmu ini. Kalau tidak ... ”

“Kalau tidak bagaimana? Apa kau kira kau saja yang dapat membuka rahasia patung ini? Jangan lupa siapa aku ini, Sari!”

“Hi-hi-hik ... , tua bangka macammu ingin menguasai patung! Lihat dulu tampangmu! Sebentar lagi kau akan menuju liang kubur!” ejek Nyi Langen Asmara. Dia ingin membuat Ki Jaluwesi lengah dan mendapat kesempatan untuk menjalankan siasat selanjutnya.

“Ha-ha-ha ... , kau kira aku tidak tahu maksudmu, Sari. Kau yang sudah nenek-nenek malahan ingin mengeyam daun muda! Lihat muridmu memandang dirimu dengan muak? Mengetahui siapa sebenarnya dirimu sebenarnya!”

“Bangsat ... ! Kubunuh kau, keparatt!” Nyi Langen Asmara menjerit sambil melompat maju menyerang dengan hebatnya. Dari kedua telapak tangannya keluar asap kehijauan menerpa ke arah Ki Jaluwesi.

”Darrrr! Plak-plak-plak-plakkk!”

Begitu dirinya diserang dengan uap hijau, Ki Jaluwesi juga mengeluarkan tenaga saktinya. Menyongsong dengan menjulurkan kedua tangan disertai loncatan ke depan menyongsong kedua pukulan lawan. Terjadilah benturan tenaga dalam di tengah udara. Keduanya terpental ke belakang. Lalu keduanya bergerak cepat saling serang dan tangkis berulang kali. Pertandingan terjadi dengan cepat dan dahsyat nya.

Melihat pertempuran sengit yang sedang berlangsung. Ayu Lestari melihat kesempatan baik untuk mengambil peti berukir yang tadi ditaruh di atas sebuah batu di tepi jurang. Dengan kecepatan kilat tubuhnya menyambar ke arah peti. Ki Jaluwesi yang sedang bertempur itu sebetulnya selalu mengawasi peti berukir. Maka ketika melihat murid Nyi Langen Asmara menggunakan kesempatan selagi dia terlibat dalam pertandingan dengan gurunya, meluncur maju untuk mengambil peti. Dia mengeluarkan lengking tinggi menusuk jantung! Tubuhnya membalik menyerang murid Nyi Langen Asmara.

“Desssss ... !!”

Tubuh Ayu Lestari terlempar beberapa meter. Punggungnya terkena tendang an terbang Ki Jaluwesi yang melayang menge-jarnya.

“Huuaaaeeekkkk!”

Ketika berusaha bangun Ayu Lestari memuntahkan darah segar dari mulutnya. Ternyata tendangan terbang itu telah melukai dalam dadanya. Walaupun tubuhnya kebal terhadap senjata tajam, akan tetapi tendangan yang mengandung tenaga sakti itu dapat menembus kekebalan kulit dagingnya. “Ha-ha-ha ... dikira mudah mengambil peti yang berada di tanganku.” Ki Jaluwesi tertawa terbahak, mengejek dara jelita itu. Dia mengambil Patung Batari Durga. Dibawa depan dada, mulutnya berkomat- kamit membaca mantera.

Nyi Langen Asmara yang melihat murid atau kekasihnya terkena tendangan dan memuntahkan darah. Menjadi naik pitam, menggosok-gosok kedua telapak tangannya sambil membaca mantera. Hawa dingin menyelimuti tubuhnya ketika dia mengeluarkan Aji Limut Mahameru (Kabut Mahameru).

“Terimalah ajiku ini, kakek tua keparat!!”

Hawa dingin menyerbu tempat berdirinya Ki Jaluwesi. Merasakan aji bekas kumpul kebo nya demikian hebat dia tidak berani sembrono. Ki Jaluwesi meloncat ke atas berputaran lima kali menghindar ke samping.

“Wussss ... !! Kerotok-kerotok ... !!”

Angin dingin yang tidak mengenai sasaran melanda pohon-pohon yang berada di belakang Ki Jaluwesi tadi berdiri. Akibatnya sungguh luar biasa!

Pepohonan menjadi kaku dan daun-daunnya berguguran ke bawah dengan kaku! Agaknya hawa dingin luar biasa itu mengandung racuh ampuh, disamping hawa dingin yang menghancurkan saluran- saluran darah atau urat-urat pohon! Dengan cepat Ki Jaluwesi menggerakkan Patung Batari Durga untuk senjata. Menyerang dengan dahsyatnya. Nyi Langen Asmara tergetar tubuhnya, tak kuasa melawan kekuatan gaib yang berada di dalam patung. Sambil memukul-mukul dengan pukulan jarak jauhnya Nyi Langen Asmara berusaha untuk tidak terlanggar langsung dengan patung di tangan lawannya.

Ayu Lestari setelah dapat mengobati luka dalamnya lalu maju menyerang. Membantu gurunya menghadapi Ki Jaluwesi dengan senjata pedang di tangan. Mereka bertiga segera terlibat dalam pertempuran yang sangat seru. Akan tetapi kedua perempuan itu tidak dapat mendesak lawan. Perbawa Patung Batari Durga sungguh hebat luar biasa!

“Ha-ha-ha ... , hayo keluarkan kesaktianmu,Sari! Kalau ingin mampus, majulah ke mari!” ejek Ki Jaluwesi. “Keparat! Kau kira telah menang! Terimalah ini!”

Tangan kiri Nyi Langen Asmara bergerak. Sinar kehitaman berkelebat ke depan dengan cepatnya.

Ternyata dia telah menyebar jarum pencabut nyawanya. “Wirrrrr ... , ting-ting-ting-ting!!”

Begitu melihat sinar hitam berhamburan datang. Ki Jaluwesi berdiri tegak sambil meng angkat patung depan dada. Keanehan terjadi! Jarum-jarum yang melayang cepat begitu men dekati patung menjadi hilang dayanya dan membalik ke arah tuannya. Melihat ini Nyi Langen Asmara dan Ayu Lestari menjadi kaget sekali. Dengan gentayangan mereka berusaha mengelak dari senjata makan tuan.

“Mampus kau nenek genit!” Ki Jaluwesi meloncat maju menyerang kembali tatkala melihat hasil senjata patungnya. Nyi Langen Asmara dan Ayu Lestari kewalahan menghadapi perbawa patung itu. Berusaha untuk menghindar dengan meloncat jauh. “Aaaaaaa ... !” Jeritan panjang keluar dari mulut Nyi Langen Asmara. Ternyata dadanya telah tergores kepala patung itu. Ketika mengelak tadi dia seperti tertahan sesuatu, tahu-tahu dadanya telah tergores patung!

Asap mengepul tinggi menyelimuti tubuh Nyi Langen Asmara. Ketika asap menipis lenyap, terlihatlah seorang nenek penuh keriput. Rambutnya telah putih semua dan tubuhnya bongkok ke depan. Ternyata Nyi Langen Asmara telah berubah seperti nenek-nenek yang berusia ratusan tahun!

“Ihhh! Jangan ... , jangan ... jangan maju!” Ayu Lestari menjerit histeris.

Nenek itu gentayangan maju ke depan beberapa langkah, terjatuh ke tanah. Ayu Lestari mendekat. Kaget sekali hatinya melihat perubahan itu. Dengan ujung kakinya dia mencokel tubuh Nyi Langen Asmara. “Oohhh!!” Kedua tangannya menutupi mulut menahan jeritnya. Ternyata Nyi Langen Asmara tidak

bernapas lagi. Mampus dengan tubuh berubah mengerikan sekali!

“Ha-ha-ha ... , bocah ayu, bocah denok. Menyerahlah saja! Aku akan mengampunimu asalkan ... ” “Keparat! Lebih baik mati!”

Pedangnya digerakkan ke depan menabas leher Ki Jaluwesi. Ayu Lestari mengerahkan seluruh tenaganya untuk memenggang kepala lawan yang telah membinasakan gurunya. Akan tetapi Ki Jaluwesi hanya berdiri tegak menanti datangnya pedang itu. “Wirrrrrr ... takkkk! Pletakkk!!”

Pedang yang melayang cepat begitu menge nai leher Ki Jaluwesi terpental ke belakang! Hanya tinggal gagangnya yang dipegang Ayu Lestari. Ternyata pedang itu telah patah! Saking kuatnya tenaga yang mengayun pedang dan kebalnya leher Ki Jaluwesi, pedang tidak kuat dan menjadi patah akibat dua tenaga yang saling bentur!

“Ha-ha-ha ... ! Sekarang bagaimana, bocah ayu? Mau diteruskan atau kau menyerah untuk ... ha-ha- ha ... !”

“Tidak! Tidak! Tidak sudi ... !” Ayu Lestari menjerit. Membalikkan tubuh hendak lari. “Mau lari ke mana? Ha-ha-ha ... lebih baik menyerah saja!”

“Tidak! Tidak Sudi ... !”

Ayu Lestari meloncat ke depan untuk meloloskan diri. Akan tetapi baru saja beberapa tindak, berhenti mendadak. Ki Jaluwesi telah menghadang di depannya. Tangan kirinya bergerak menotok. Ayu Lestari menjadi lemas terkena totokan. Tanpa banyak kesukaran lagi dia lalu memondong tubuh yang bahenol itu ke atas batu. Satu persatu membuka pakaian Ayu Lestari, begitu selesai dia lalu mengangkat Patung Batari Durga untuk membelek dada dara itu!

“Takkk! Blukkkkk!”

Tubuh Ki Jaluwesi terlempar ke samping beberapa langkah. Patung Batari Durga terlempar ke udara. Bayangan putih meluncur naik dan dalam sekejab saja telah menangkap patung! Ternyata Suryo Lelono datang tepat pada waktunya dan menyelamatkan Ayu Lestari dari korban Patung Batari Durga!

“Keparat! Siapa kau?” seru Ki Jaluwesi dengan wajah berubah pucat.

Patung Batari Durga telah terlepas dari tangannya. Dipegang di tangan pemuda tampan berpakaian putih-putih yang tersenyum penuh pengertian. “Namaku Suryo, Paman. Siapakah paman ini? Apa yang mau paman perbuat terhadap dara itu?” jawab pemuda baju putih pelan.

“Keparat! Kembalikan patung itu! Cepat serahkan kalau kau tak ingin mampus di tangan Ki Jaluwesi!”

“Kiranya paman Jaluwesi! sungguh tak ku-sangka sama sekali. Seorang tokoh besar berbuat demikian keji terhadap seorang dara!”

“Ha-ha-ha ... kau anak kecil tahu apa. Cepat serahkan patung itu!”

“Sebentar paman. Apakah patung ini milik paman? Kenapa harus. kuserahkan kepada paman?” Dengan kalem Suryo menjawab permintaan Ki Jaluwesi.

Ki Jaluwesi menjadi marah sekali. Tanpa berkata lagi dia maju menerjang ke depan. Kedua tangannya bergerak memukul bergantian, dari gerakan tangan itu keluar uap hitam menyerang wajah si pemuda. Sedangkan kakinya mencuat ke arah tangan yang memegang patung. Berusaha untuk merebut patung!

“Ayaaaaa ... sungguh ganas!”

Dengan melenting tinggi Suryo mengelak tangan kirinya mengibas. “Dukkkk! Plak-plak-plakk!!”

Kedua tangan bertemu di udara dan berulang kali saling tangkis dan saling serang dalam satu gebrakan saja. Begitu menginjak tanah Suryo lalu bergerak dengan ilmu silatnya Mliwis Putih. Dengan tenang dia menghindarkan semua serangan yang datang menggebu. Tubuhnya bergeser ke kanan kiri, kadang me-liuk ke belakang dan ke depan. Anehnya semua serangan dari Ki Jaluwesi tiada yang dapat menyentuh bajunya.

Ki Jaluwesi menjadi semakin marah. Dia meloncat mundur, lalu mengangkat kedua tangan ke atas, diturunkan depan dada membentuk sembah serta mulutnya komat-kamit. Tiba-tiba tubuhnya bergetar, makin lama makin kuat. Ketika sepasang matanya dibuka, dari sepasang mata itu keluar cahaya yang menggiriskan. Pelan-pelan tubuhnya berubah menjadi besar!

“Geerrrrr ... ! Mammmpooouuuusss kau!”

Kedua tangan yang berubah besar meraup ke depan. Angin berbau wengur menerpa Suryo. Suryo mengangkat tangan kiri menangkis.

“Dessss!”

Tubuhnya terlempar ke belakang dua tombak. Ternyata tenaga Ki Jaluwesi berubah menjadi iuar biasa kuatnya! Suryo lalu menge-rahkan tenaga Api Suci di tangan kirinya. Tangannya pelan-pelan berubah, bagaikan dibungkus sinar keputihan. Begitu pemuda ini mengibas ke depan, angin dingin disertai kilatan sinar putih menerjang maju ke arah dada Ki Jaluwesi!

“Dukkkkk! Ayaaaaaa ... !”

Bagaikan layangan putus talinya tubuh Ki Jaluwesi terlempar ke belakang jauh sekali. Membentur tebing gunung dan melorot jatuh. Ketika berusaha bangun, dia muntahkan darah segar. Ki Jaluwesi telah terluka oleh tenaganya yang membalik tatkala beradu dengan Api Suci! “Huek-uhhukkk ... hoooeeekkkkk!”

Kembali darah segar menggelogok keluar dari mulutnya. Wajahnya berubah menjadi pucat seperti kertas. Berdiri sempoyongan, berusaha mengerah-kan tenaga untuk membalas serangan lawan!

“Jangan mengerahkan tenaga, Paman! Paman dapat tewas!”

Akan tetapi terlambat! Ki Jaluwesi tidak mau menurut saran anak muda itu. Dia nekat menyalurkan tenaga saktinya. Mengangkat tangan ke atas dan ... “Auuuuuggggghhhhh ... !”

Begitu mengeluarkan teriakan tubuh Ki Jaluwesi terguling ke depan. Sesosok bayangan kecil menerjang maju dan “crakkkkkk!” leher Ki Jaluwesi putus!

Ayu Lestari berdiri di depan tubuh Ki Jaluwesi. Mengamati mayat kakek itu, meludah.

Ternyata dia telah memegang potongan pedang di tangan kanan. Karena kulitnya kebal dengan mudah dia menabas kepala Ki Jaluwesi yang telah menghinanya itu! Setelah melihat kepala kakek itu terpisah, Ayu Lestari lalu membuang pedang, menutupi wajahnya dengan kedua tangan, menangis, sambil berlari pergi dari tempat itu. Tanpa menengok satu kalipun dia menuruni bukit. Suryo tidak dapat mencegah kejadian itu. Dia tadi agak kesima tatkala Ki Jaluwesi masih berusaha mengerahkan tenaga dan menyerangnya! Ketika tubuh Ki Jaluwesi tergolek dan melihat sesosok bayangan meloncat ke arah kakek itu, dia tidak menduga jelek. Akan tetapi begitu tahu maksud si bayangan, dia terlambat untuk mencegah!

“Lagi-lagi korban patung! Sungguh benda kecil ini telah menimbulkan banyak korban!”

Kedua tubuh disejajarkan, diapun mencari kayu kering dan menumpuk kedua mayat itu di atas kayu. Membakarnya! Setelah selesai itu semua diapun lalu menuruni bukit. Jalannya perlahan saja seakan-akan memikirkan sesuatu!

Untuk apakah sebuah patung ini. Mengapa menjadi rebutan? Semua ini memenuhi benaknya. Berbagai pertanyaan telah bermunculan di benaknya tatkala dia berjalan menuruni bukit. “Ahh, lebih baik aku menyusul Juragan Lim! Nanti aku dapat tanyakan kenapa patung ini menjadi rebutan!”

Setelah mendapat suatu keputusan Suryo menjejak tanah. Dalam sekejab tubuhnya telah berada beberapa tombak di depan, meluncur terbang bagaikan kilat menembus kelebatan hutan. Mengejar rombongan yang menuju ke Prambanan! Rombongan Juragan Lim dengan para pengawalnya!

Begitu pemuda ini memasuki dusun untuk mencari rumah penginapan. Baru saja dia mau meminta kamar, seorang laki-laki gendut keluar dari dalam kamar. Melihat kedatangannya, wajah yang penuh gajih dari lelaki ini berseri-seri. Lalu menegurnya. “Ayaaaaa ... , kebetulan sekali! Bagaimana, nak Suryo? Apakah belhasil mengejal penculi itu?”

Logat bicaranya sungguh khas! Babah ini tidak dapat mengucap kan huruf r dengan benar. Dia selalu berkata r menjadi l! Lidahnya terlalu pendek agaknya!

Suryo menoleh. Melihat Babah Lim mendatangi pemuda ini tersenyum. Menyongsongnya, mengajak Babah Lim duduk di depan rumah penginapan. “Baik, Babah Lim. Akan tetapi sebelum aku menyerahkan patung, aku ingin mengetahui apa sebabnya patung ini menjadi rebutan!”

“Tentu, tentu ... , mali silakan kita bicala di kamal saya! Owee akan mencelitakan patung sialan itu!” Ajak Juragan Lim. Wajahnya menjadi keruh setelah mengetahui bahwa patung itu dapat direbut kembali! Mereka berdua lalu memasuki rumah penginapan kembali. Menuju ke kamar di mana Juragan Lim menginap. Begitu anak perempuan nya mau keluar kamar, berpapasan dengannya. Juragan Lim lalu menyuruh anaknya.

“Hwa, tolong suluh semua belkumpul di kamalku! Aku ingin membicalakan sesuatu yang amat penting!”

“Baik, ayah.” Lim Gin Hwa cepat berialu mencari Tan suhu dan Ki Pentet Prawirayuda beserta kedua muridnya.Setelah semua berkumpul di kamar itu. Juragan Lim mengutarakan maksudnya. Tan suhu juga menyetujui. Biar rahasia patung itu didengar mereka semua, karena telah banyak korban jatuh akibat rebutan patung itu.

“Sebetulnya aku hanyalah seolang yang suka mengumpulkan benda seni. Mengetahui ada sebuah patung yang dapat membuat olang beltambah lejeki, saya lalu belusaha untuk mendapatkannya!”

Juragan Lim berhenti sejenak. Ketika dia mau meneruskan Tan suhu mencegahnya. “Lim, lebih baik aku saja yang menceritakan.”

“Boleh, boleh. Begitu juga lebih baik!”

Tan suhu lalu menceritakan dengan singkat kenapa dia sampai mau membawa patung itu ke Prambanan. Ketika di rumah Lim Hok Coan, dia berusaha untuk mengusir roh halus yang mendiami patung itu. Akan tetapi tidak kuat.

“Maka saya lalu menyuruh bawa patung itu kepada suhuku yang berada di Prambanan. Mungkin suhu dapat mengusir roh jahat dalam patung!” Semua yang mendengarkan menjadi bengong.

Apalagi Ki Pentet Prawirayuda dan kedua muridnya. Mereka lalu saling berbisik, karena tidak tahan untuk mengetahui lebih banyak lagi cerita tentang Patung Batari Durga, Ki Pentet Prawirayuda bertanya. “Bagaimana bentuk patung itu? Apakah sangat. hebat sekali?”

Suryo lalu mengeluarkan patung itu dari dalam buntalannya. Menaruh di atas meja. Semua orang melihat patung kecil itu penuh takjub! Sebetulnya tidak ada keanehan dari patung itu, akan tetapi kenapa ada roh jahatnya? Pertanyaan ini tidak kuasa dibendung di benak Ki Pentet Prawirayuda. “Kiranya hanya begitu saja bentuknya! Bagaimana dia dapat membuat rejeki dan kejaya an orang yang memilikinya? Apa tidak salah?”

Sebelum Suryo menjawab Tan suhu telah mendahuluinya. Sebagai seorang pendeta di kelenteng dia percaya akan segala roh halus dan kerap kali menemuinya. Maka Tan suhu lalu menerangkan dengan jelas kepada Ki Pentet Prawirayuda dan kedua muridnya itu. Parta dan Pardi terlongong keheranan mendengar cerita itu.

“Sulyo, siapakah laki-laki yang melebut patung itu? Kau tahu namanya?” Juragan Lim bertanya. Dia teringat ketika dijadikan sandera dan Suryo menyerahkan patung dengan melemparnya. Sesosok bayangan telah menyam but dan melarikan diri!

“Secara kebetulan saja saya dapat mengejar nya. Menurut pengakuannya kakek itu bernama Ki Jaluwesi!”

“Ki Jaluwesi ... ?” “Ki Jaluwesi ... !”

Hampir berbareng mereka berseru kaget mendengar nama ini. Suryo menjadi keheranan melihat ulah mereka. “Apakah kalian telah mengenalnya?”

Ki Pentet Prawirayuda cepat berkata. “Dia adalah kakak seperguruanku. Ketua perguruan Balung Wesi!”

“Haaaaaaa!!” Seru Suryo kaget. Sungguh tak disangkanya bahwa Ki Jaluwesi adalah ketua dari perguruan Balung Wesi. Mengapa begitu?

Ki Pentet Prawirayuda lalu menerangkan barang sedikit tentang kakak seperguruannya. Didengarkan mereka dengan tenang.

Suryo setelah mengetahui semua lalu menyarankan kepada Juragan Lim. “Sebetulnya semua rejeki dan kewibawaan itu bukan berasal dari patung ini. Hanya Hyang Maha Kuasalah yang empunya. Kita semua wajib mengucapkan syukur oleh anugrahnya yang telah diberikan berlimpahan kepada kita.” Suryo berhenti sejenak, memandang kepada Babah Lim. Keduanya saling pandang sejenak, Suryo meneruskan.

“Sekarang bagaimana maksud Juragan Lim seterusnya?”

Juragan Lim memandang mereka satu persatu. Menghela napas panjang dan berkata pelan. “Itu bukan patung lejeki. Melainkan patung maut. Saya tidak membutuhkannya lagi.”

Suryo tersenyum, lalu mengawasi mereka semua satu persatu. Setelah hening sejenak tiada yang bicara, diapun lalu mengusulkan. “Bagaimana kalau Patung Pembawa Maut ini dimusnakan saja!”

“Oweee, setuju saja.” Juragan Lim cepat menyahut. Semua orang hanya mengangguk.

Suryo meminta untuk dibuatkan api dan dibawa ke dalam kamar ini. Lim Gin Hwa keluar untuk meminta kepada pemilik penginap an. Tidak berapa lama kemudian dia kembali diiringi seorang pelayan yang membawa sebuah anglo besar berisi api yang menyala. Begitu pelayan keluar kamar. Suryo berdiri dan meng ambil patung di atas meja. Diam sejenak untuk menyerahkan diri kepadaNya. Melemparkan patung kayu Batari Durga ke dalam api!

“Hehh! Lihat patung itu menangis!!” Parta berteriak keras. Semua orang melihat ke arah api di mana patung itu dibakar!

Memang aneh sekali! Dari kedua mata Patung Batari Durga itu menetes keluar air mata! Mengapa terjadi demikian? Ternyata roh halus itu menangis ketika disuruh pergi meninggalkan kayu yang dibakar! Dia pergi untuk tidak dapat kembali lagi me-ngacau manusia dengan menimbulkan korban yang tidak sedikit! Sebetulnya roh itu tidak mau pergi, akan tetapi atas kehendak Hyang Maha Kuasa saja semua telah terjadi! Tempat bersemayamnya telah dihancurkan! Roh itu tidak akan disembah manusia lagi dan mengganggu orang dengan kuasa gelapnya!

Setelah semua berakhir. Suryo berpamit kepada mereka semua. Juragan Lim dan anaknya, serta Tan suhu mengucapkan terima kasih nya. Ki Pentet Prawirayuda dan kedua muridnya juga mengantar kepergian pemuda itu keluar dari penginapan. Mereka semua akan mengenang Suryo Lelono sebagai seorang pendekar muda yang selalu memberi jalan dan petunjuk untuk kembali ke jalan benar. Jalan yang telah ditunjukkan oleh Sang Hyang Widhi Wasa. Jalan menuju hidup yang kekal di sorga!

Sampai di sini kita akhiri cerita ini. Semoga buku ini dapat menjadi penghibur di kala senggang!

Pengisi waktu yang berguna dan bermanfaat!

T A M A T