Patung Emas Kaki Tunggal Jilid 17

 
Jilid 17

ORANG ITU MENURUNKAN bibir matanya, katanya : “Thio siocia tidak mau terima tamu!”

Koan San gwat benar benar marah, kata nya: “Jawabanmu tidak pantas seharusnya nona Thio sendiri yang mengucapkannya!”

Orang itu tertawa, lalu sahutnya tawar: “Aku yang bicara juga sama, sejak nona Thio berada diatas gunung, ia bertekad putus hubungan dengan dunia ramai, siapapun tidak mau menemui aku!”

“Aku hanya omong saja, kalau tidak percaya, silahkan kau tanya sendiri.”

Koan San gwat tertawa dingin, ujarnya: “Meski tiada jalan tembus keatas, masa dapat mempersulit diriku? ”

“Sudah tentu! Kau bisa sampai disini, meski memiliki kepandaian yang lumayan, mari perlihatkan!”

Koan San gwat melotot sekali kepadanya kedua kaki menjejak, badan segera melambung dua tambak lebih, lekas kedua tangannya menarik akar rotan yang menjulur turun, waktu ia turun kebawah, dilihatnya orang itu sudah mencabut keluar gada malaikat mas nya, sedang bolak balik memeriksa dengan teliti, sudah tentu terkejut Koan San gwat di buatnya, lekas ia lepas tangan serta berteriak: “Hai! Itu barang milikku, jangan kau sentuh!” Baru saja tubuhnya melayang turun di panggung batu orang itu tersenyum sambil mengacungkan malaikat mas keatas, tiba tiba ia melayang tinggi melampaui kepala Koan San gwat, terus hinggap diatas akar rotan, beberapa kali lompatan, ia sudah berkelebat lenyap dibalik awan.

Melihat gerak gerik orang yang begitu enteng dan lincah serta tangkas itu, diam diam Koan San gwat meleletkan lidah, sejak orang itu muncul, dia sudah menduga bahwa dia tentu bukan sembarangan orang, cuma tidak terpikir olehnya bahwa orang berkepandaian setinggi itu.

Yang lain tidak perlu dipersoalkan, bahwa orang dapat mencabut keluar malaikat masnya yang amblas seluruhnya kedalam batu dengan gampang, lalu membawanya pula dari

… lari bagai terbang naik keatas, betapa lincah dan cekatan gerak gerikanya, walaupun dirinya bertangan kosong belum tentu dapat memadai.

Apakah diatas puncak berpenghuni orang orang kosen yang lihay pula? Dari bicara orang itu jelas bahwa bukan dia seorang yang menetap di sana membuktikan pula bahwa Thio Ceng Ceng memang berada diatas puncak.

Cara bagaimana pula Thio Ceng Ceng bisa bergaul dengan orang orang itu?

Lalu terbayang akan tingkah laku serta kata Peng Kiok jin yang serba takut dan rahasia, lambat laun ia mulai paham.

Didunia ini banyak tokoh tokoh kosen yang mengasingkan diri dan tidak suka namanya tersiar di luar, Liong hwa hwe yang kocar kacir itu merupakan contoh yang nyata. Dilihat dari kepandaian orang tadi, bekal ilmu silatnya tentu lebih tinggi dari beberapa to tertentu dari anggota Liong hwa hwe, tak heran mereka melarang Peng kiok jin membocorkan rahasia …

Karena analisanya ini, maka Koan San gwat, menghadapi persoalan pelik. “Manjat keatas? Atau cuci tangan sampai di sini saja? ”

Kalau keatas jelas tidak akan memperoleh sambutan bukan mustahil timbul pertikaian yang sulit diselesaikan. Kalau turun tak bisa menemui Thio Ceng Ceng. Teringat akan pengorbanan gadis yang harus dikasihani, dia merasa tidak pantas menyia nyiakan kebaikan nya itu.

Dari penuturan Peng Kiok jin ia berkesimpulan bahwa Thio Ceng Ceng tidak ditekan atau diancam, namun pasti hatinya amat berduka. Kalau tidak masa Peng Kiok jin membawa dirinya kemari …

Setelah direnungkan bolak balik, akhirnya ia berkeputusan untuk manjat keatas. Pertama untuk menjenguk Thio Ceng Ceng, meski perasaannya terhadap gadis yang harus dikasihani ini tidak sehangat cinta Thio Ceng Ceng terhadap dirinya. Kehidupan mengasingkan diri sejak kecil sudah mendarah daging dalam relung hatinya sehingga ia merasa tawar terhadap hubungan kaum adam dan hawa, tapi demi keadilan antara cinta dan budi, ia mewajib menjengukanya. Tujuan kedua karena orang itu membawa pergi senjatanya, bagaimina juga secara tradisi perguruannya pantang hilang di tangannya, di harus memintanya kembali.

Setelah berkeputusan, mulai ia mempersiapkan diri memanjat keatas, waktu kakinya bergerak lututnya sedikit ditekuk, perlahan lahan ia menarik napas panjang, tiba tiba badan nya melambung tinggi meraih akar rotan, seperti kera layakanya ia manjat keatas.

Rotan yang tumbuh memanjang itu berbeda beda ada yang besar ada yang kecil bergoyangnya sudah tentu berlainan pula, yang besar tidak bergeming yang kecil bergoyang gontai. Koan San gwat merasa tindakannya benar meninggalkan senjata malaikat masnya dibawah, kalau membawa benda yang begitu besar, mungkin ia bisa terjungkal jatuh dibawah, karena berat yang tidak tertahan oleh akar akar rotan itu.

Namun orang itu bisa membawanya naik begitu gampang, dari sini dapatlah dibuktikan bahwa kepandaian silat orang itu pasti sulit diukur.

Penghuni puncak gunung ini adalah orang kosen yang lihay menurut perkiraan Koan San gwat, maka ia berlaku sangat hati hati dan waspada. Lambat laun ia merasa sudah hamipir tiba diatas puncak, karena pandangan matanya cukup terang, dilihatnya langit nan terang dan biru cemerlang ditimpa cahaya bulan sabit yang redup.

Awan tebal dibawah kakinya menjadi lautan gelap yang bergulng gulung, dua tiga umbak tak jauh dimukanya tumbuh sepucuk pohon siong, yang amat tua, kokoh dan kekar, lebih atas sudah tidak kelihatan sesuatu benda lagi.

Meski tidak terlalu letih, namun Koan San gwat cukup payah, maka perasaannya lambat laun menjadi kendor, begitu ia mengerahkan tenaga pada lengannya terus menggentak keatas, badannya melejit jumpalitan keatas, sekali raih ia pegang sebatang dahan pohon liong.

Dahan pohon itu sebesar lengan tangan nya, mestinya kuat menahan berat badannya tapi waktu tenaga dikerahkan, mendadak didengarnya suara “Krak!” yang keras dahan pohon itu patah tepat disebelah ujung tangannya, kontan badan dan dahan pohon itu melorot kebawah dan terjungkal kedalam jurang.

Mimpi juga Koan San gwat tidak menduga, bila terjadi hal ini, karena tidak siaga, sementara tubuhnya sudah meluncur tiga tumbak ke bawah, dalam gugupnya timbul akal cerdikanya, lekas ia lemparkan dahan ditangannya meminjam daya lemparan ini ia jejakkan tubuhnya diatas merapat kedinding gunung. Lekas ia mengerahkan tenaga kelima jarinya mencakar amblas kedalam dinding batu cadas.

Ternyata dinding batu cadas ini teramat empuk, tangannya amblas seluruhnya, sementara ia bisa bertahan tidak sampai terjungkal kehawah. Tapi dinding yang empuk itu tidak kuat menahan badannya, batu kerikil sudah berjatuhan, kelihatannya sebentar lagi ia bakal melorot turun pula kebawah. Untunglah Koan Ssn gwat sudah digembleng serta dipupuk dasar pengalaman yang matang, meski menghadapi bahaya tidak menjadi gugup, segera ia melolos Pek hong kiam dari pinggangnya, beruntun ia menusuk dan membacok diatas dinding.

Pek hong kiam memang tajam luar biasa sebentar saja berhasil dikeduknya setuah lubang lubang yang cukup besar, menggunakan ilmu cecak merambat Koan San gwat merapatkan badannya didinding batu lalu kakinya berpijak masuk lubang yang dibuatnya pelan pelan ia menghirup napas, tiba tiba tumit kakinya mengerahkan tenaga, badannya melejit tiga empat tumbak tingginya badannya jumpalitan hinggap diatas dahan pohon siong.

Kali ini dia lebih hati hati, badannya tidak berhenti lama diatas dahan, sedikit meminjam tenaga, badannya melayang turun di tanah datar. Menurut perhitungannya dahan pohon tidak akan patah sebab, kecuali terkena suatu tekanan besar atau dikerjakan orang. 

Betul juga baru saja ujung kakinya meninggalkm dahan pohon itu, dahan tempat ia berpijak itu patah mengeluarkan suara nyaring. Matanya yang tajam melihat berkelebatnya selarik sinar putih. Terbukti akan perbuatan seseorang yang disengaja.

Koan San gwat berkobar amarah, baru berdiri tegak kontan memaki “Kunyuk dari mana yang suka membokong orang, menggelindinglah keluar!”

Suaranya menggelepar diatas, namun keadaan tenang tidak ada reaksi apa apa, di hadapannya terbentang serumpun hutan bambu, keadaan sepi hanya terdengar keretakan daun bambu yang dihembus angin Koan San gwat menduga orang yang membokong Itu pasti sembunyi didalam hutan bambu itu, maka ia berteriak memaki lagi “Bangsat rendah yang penakut, berani membokong kenapa bersembunyi? ”

Baru saja lenyap suaranya dari hutan bambu terdengar sebuah suara berat berkata “Barang tak berguna, sekedar permainan saja sudah ketakutan begitu rupa!”

Mendengar suara amat dekat terbakar amarah Koan San gwat, sambil menghardik ia menyerbu seraya mengobat abitkan Pek hong kiam, dimana sinar perak menyambar terdengarlah suara keresekan yang riuh, empat lima kaki sekitar tubuhnya, pohon bambu terbabat tumbang berserakan, ditengah ramainya pohon pohon bambu itu tumbang tidak terlihat bayangan seorangpun.

Keruan Koan San gwat melongo heran kepandaian dengar suara menubruk bayangan sudah ia latih beberapa tahun, ia percaya akan kepandaiannya dia tidak mungkin gagal, namun kenyatannya ia menubruk tempat kosong. Bahna herannya ia jelajahkan pandangannya, maka dilihatnya diantara batang pohon bambu yang roboh berserakan itu ditengah sana terdapat sebuah batu hijau yang datar seperti sebuah meja, dikedua sampingnya. terdapat pula dua bongkah baru sebagai kursi duduk, diatas meja berserakan biji biji catur warna hitam dan putih.

Setelah dekat dilihatnya diatas meja batu itu diukir garis garis catur, permainan agaknya belum selesai, jelas ada orang sedang main catur disini, orang yang membokong dirinya tentu berada disini, sementara senjata rahasia yang digunakan adalah biji catur ini pula, cuma kedua orang itu cekatan melarikan diri menghindari serangannya.

Tengah ia berpikir, dari hutan sebelah sana terdengar seorang berkata “Sui ki! Kelakarmu keterlaluan, hutan sebaik ini kau obrak abrik akan kulihat cara bagaimana kau laporkan hal ini kepada Gwat hoa hujin.” Menyusul dari belakang hutan bambu beruntun muncullah dua bayangan orang.

Meminjam sinar bintang Koan San gwat melihat kedua pendatang ini seorang tinggi yang lain penedek buntek, yang pendek bercambang bauk lebar seperti duri duri landak, kedua mata orang ini bersinar tajam.

Koan San gwat tahu satu diantara kedua orang ini adalah yang membokong diri nya, dari percakapan tadi ia tahu orang itu bernama Sui Ki, entah yang mana diantara ke dua orang ini, maka dengan suara keras dan kereng ia bertanya “Siapa yang membokong aku? ”

Siorang pendek mendelik mata, sahutnya : “Aku. Bocah kau memang sembrono, aku cuma berkelakar, kenapa kau lantas marah hutan bambu ini kau babat semua, cara bagaimana kau mengganti kerugian ini? ”

Sipendek mengelus cambang baukanya lalu berkata : “Anak muda, jangan kau memaki orang ya, bilang guyon ya guyon, kalau aku ingin menamatkan jiwamu, kedua biji caturku tadi, tidak akan mengincar dahan pohon …”

Mendengar orang berani berdebat, berubah air mukanya, amarahnya sudah tak tertahan lagi. Lekas setinggi menggoyangkan tangan katanya “Siheng tidak usah marah marah, Sui Ki memang hanya mempermainkan belaka tiada niat mencelakai jiwamu, seandainya Siheng terjauh juga tidak akan mati!”

Koan San gwat mendelikkan mata, semprotnya penuh kebencian : “Bohong! Tempat setinggi itu kalau terjatuh …”

Sitinggi tertawa, ujarnya : “Dibawah ada dipasang jaring besar, paling Siheng menderita kaget setengah mati saja “

Koan San gwat melongo, sikap si tinggi ini ramah dan supel lagi maka ia percaya ucapan orang bukan bualan, dengan masih sangsi ia berkata “Mana aku tahu …” Sipendek mendengus, jengekanya “Huh, jika kau tahu, maka kelakar inipun tiada artinya lagi!”

Koan San gwat teramat benci terhadap sipendek ini katanya : “Meski ada jaring di bawah kau tidak pantas berbuat begitu, berapa tinggi tebing curam ini, kalau seorang yang tidak bisa silat terjatuh kesana, tanggung mampus ketakutan

…”

“Orang yang tidak bisa silat jangan harap bisa manjat kemari,” demikian jengek si pendek. “Menurut Tay Su kau kelihatan pintar, tak tahunya goblok melebihi kerbau dungu!”

Koan San gwat benar benar kena didebat, mulutnya terkancing, sipendek senang, ujarnya “Anak muda! Masih ada omongan apa yang hendak kau katakan! Begitu ceroboh kau menggunakan pedang hendak melukai orang, cari bagaimnaa kau mengganti hutan bambu ini, kau tahu untuk menanam pohon bambu diatas puncak ini, memerlukan jerih payah …”

Koan San gwat hendak mengumbar amarahnyi lagi, lekas lekas si tinggi bicara “Sui Ke jangan kau mengingkari tanggung jawab, meski dia yang membabat habis bambu disini diusut asal mulanya kau tidak lepas dari tanggung jawab, siapa suruh kau berkelakar dengan jiwa orang.”

Sipendek jadi gugup, teriakanya . “Jing Tho kenapa kau membela orang luar.”

“Aku bicara menurut aturan, kesalahan memang padamu, meski dilaporkan kepada Gwat hoa hujin, aku percaya kau tetap berada dipihak yang salah.”

Sipendek mencibirkan bibir, lalu menggerutu “Salah, paling lari ke Tay ceng san kerja berat tiga bulan membantu sibunguk itu memegangi sibotak air sumber hidup kembali, untuk menyambung bambu bambu ini!”

“Pikiranmu sederhana, pertama sibungkuk itu tiada gampang diajak bicara, mau tidak mau memberi kepada kau sulit dikatakan, meski dia mau memberi, kerja berat selama tiga bulan rasanya cukup membuat kau menderita !”

“Apa boleh buat, siapa suruh aku mencari gara gara, beginilah akibatnya!”

“Meski kau memperoleh air sumber hidup kembali, tiga bulan kemudian, bambu bambu inipun sudah kering dan mati layu….”

Karuan si pendek semakin gelisah, katanya sambil garuk garuk kepala “La.. lu bagaimana baikanya? Anak muda! Kau benar benar membuat aku serba susah …”

Melihat keadaan orang yang runyam, Koan San gwat jadi tidak tega, amarahnya menjadi tawar katanya lembut: “Lo siansing ini tak usah gelisah, aku yang rendah terlalu sembrono menghancurkan bambu bambu ini, akupun punya kesalahan….”

“Apa gunanya ucapanmu ini, seperti kentut belaka, kalau Gwat hoa Hujin betul betul mengusut perkata ini, kau mau mewakili aku menanggung akibatnya!” demikian teriak si pendek.

Tergerak hati Koan San gwat, Sudah beberapa kali ia mendengar nama Gwat hoa Hu jin, sesuai dengan namanya Gwat hoa Hujin sudah tentu seorang perempuan …

Laki laki dibawah puncak yang menggelari dirinya “Gila buku” bernama Tay Su, si pendek ini bernama Sui Ki, sementara sitinggi bernama Jing Tho, kelihatannya tingkat kedudukan mereka sama rata, sementara Gwat hoa hujin jelas berkedudukkan lebih tinggi dari mereka, orang orang macam apa dan apa pula hubungan mereka satu sama lain? Demikian Koan San gwat bertanya tanya dalam hati, maka ia berkata “Tidak jadi soal, seluruh kesalahan biar aku yang tanggung.”

“Cara bagaimana kau hendak menanggung kesalahan ini? ” “Akan kukatakan bambu ini akulah yang membabatnya hancur, sekecappun tidak ku singgung soal kelakarmu.”

Dari bersungut si pendek menjadi tertawa lebar, katanya: “Baik sekali kalau kau mau berbuat demikian … baik sih baik, lalu bagaimana kau hendak mencari alasan?”

“Gampang saja, katakan saja aku bentrok dengan kalian, lalu berkelahi dan kubabat habis seluruh hutan bambu ini …”

Si tinggi tertawa, ujarnya “Tindakan Siheng memang dapat membantu kesulitan Sui Ki ketahuilah Khong ham kong mempunyai sepuluh pemandangan alam, Gwat hoa Hujin justru paling menyukai hutan bambu ini, kalau kesalahan ditimpahkan Sui Ki memang cukup menderita untuk memikul hukumannya, namun Siheng adalah orang luar, Gwat hoa Hujin mungkin tidak akan mempersulit dirimu! Dan lagi aku dan Sui Ki kan bisa minta ampun bagi kesalahan tidak sengaja ini …”

Saking girang sipendek tertawa lebar, katanya “Begitu saja rencana kita, setelah berhadapan dengan Gwat hoa Hujin, jangan kau bicara ketus!”

“Sudah tentu , tapi … orang macam apakah Gwat hoa Hujin itu? ”

Kedua orang itu tertegun, sesaat baru sipedek menyahut “Siapa Gwat hoa Hujin kau tidak tahu, kenapa kau manjat kepuncak gunung ini? ”

Ganti Koan San gwat yang melengak, sahutnya : “Kedatanganku bukan untuk mencari Gwat hoa Hujin, aku hendak menjenguk seorang nona Thio!”

“Thio Ceng ceng!” teriak kedua orang bersama.

Koan San gwat manggut manggut, kata nya “Tidak salah! kudengar dia berada di …” “Aneh !” mata sipendek berputar, “Kenapa Tay Su tidak bicara sejelasnya …”

Lekas si tinggi memberi tanda dengan tangannya, katanya lirih: “Jangan banyak mulut! aku tahu maksudnya …” lalu ia berputar menghadap Koan San gwat dan bertanya “Dari mana saudara tahu bila nona Thio berada disini ?”

Koan San gwat sangsi untuk menjelaskan karena ia tahu Peng Kiok jin sengaja hendak menyembunyikan rahasia ini, tentu ada sebab musababnya, mungkin akibatnya tidak menguntungkan bagi dia.

Tanpa menanti jawaban sitinggi sudah menyanbung: “Kuduga tentu nenek tua she Peng yang beritahu kepada kau, sementara kau she Koan, Koan toako yang selalu disebut oleh nona Thio dan tak pernah dilupakan itu!”

Mendengar orang sudah bicara blak blak kan, tak enak rasanya mengingkari, maka Koan San gwat manggut manggut, sahutnya “Benar. Aku yang rendah Koan San gwat

…”

Sikap sitinggi serius, katanya menekan suara: “Setelah bertemu dengan Gwat hoa Hujin lebih baik jangan kau sebut nama aslimu, jangan pula kau singgung nenek tua she Peng itu, lebih penting lagi jangan kau menyinggung nona Thio.”

“Kenapa? ” Tanya Koan San gwat heran.

“Jangan tanya kenapa,” timbrung sipendek, “Kalau kau ingin bertemu dengan nona Thio, kau harus patuh pesan kami! Kelak kita akan bantu kau mencari akal secara pelan pelan …”

Koan San gwat menjadi bingung, ingin ia bertanya lebih lanjut, namun sikap sipendek kelihatan gelisah, ujarnya “Ada orang datang, kemungkinan adalah Jip Hoat, biarlah aku melihatnya kesana. Jing Tho, boleh kau memberi pesan beberapa hal yang harus diketahui, jangan membuang waktu terlalu lama.” Selesai berkata bergegas ia berlari pergi.

Cepat sitinggi menuding pedang Koan San gwat sambil berkata “Kau simpan dulu pedangmu, dengarlah beberapa keteranganku…..”

Lekas Koan San gwat menyarungkan pedangnya, sitinggi segera berkata :” Didalam Khong kam kiong Gwat hoa Hujin ini, semua ada tujuh orang pembantu, aku Sui Ki dan Tay Sui kau sudah melihatnya, selain itu masih ada Cio Bing, Jip Hoat, Tan Kiam dan Hwi Kak berempat, diantaranya cuma Tam Kiam seorang laki laki diapun akan membantu kau, kepada tiga cewek yang lain itu, jangan sekali kali kau membocorkan rahasia asal usulmu, masih ada satu …”

Belum habis ia bicara dari hutan bambu sebelah sana terdengar jeritan Jip Hoat. Sitinggi menjadi kaget dan tutup mulut, lalu menepuk pundakanya, makaudnya dia berlaku hati hati.

Maka didengarnya suara perempuan berkata : “Hujin memberi perintah supaya bocah itu lekas dibawa menghadap! Apa kalian lakukan di sini, main sembunyi? ”

Tampak bayangan orang melayang tiba, tahu tahu Sui Ki hinggap dihadapan mereka membawa seorang perempuan berpakaian mewah berusia delapan sembilan likuran, parasnya elok, bertubuh montok berpinggang ramping. Begitu tiba kedua matanya laksana aliran listrik mengawasi Koan San gwat dari atas sampai kebawah, sekian lamanya baru mulutnya berkecek, katanya : “Tay Su mangatakan anak muda ini bertubuh ganteng dan gagah, jarang terlihat dalam dunia ini, semula aku tidak percaya, kini setelah menyaksikan sendiri, memang kelihatannya cukup tampan dan hebat, saudara kecil! Apakah kau ini Bing Jian li? ”

Koan San gwat menjublek, lekas Tay Sui buka suara “Benar Bing lote berwajah tampan ilmu silatnyapun amat hebat dari aliran tersendiri, beberapa jurus permainan pedangnya membuat aku dan Jin Tho terdesak keripuhan …”

Sembari berkata matanya berkedip kedip memberi isyarat kepada Koan San gwat. Baru sekarang Koan San gwat paham bahwa “Bing Jian li nama barunya yang mereka pilih, tentu buah karya Yay Sui itu, digubah jadi Bing tho jian li, meski hatinya kurang senang terpaksa harus mengakui, lekas ia bersoja katanya : “Cayhe Bing Jian li, harap tanya..”

Siu Ki lekas memperkenalkan “Inilah Jip Hoat, usianya lebih besar dari kau, boleh kau memanggilnya Toa suci saja!”

Jip Koat tertawa terkekeh kekeh, seru nya : “Toa suci ya Toa cilah, siapa suruh usiaku lebih tua dari kau! Bing hengte, menurut Tay Su kau pandai menulis, kedua tua bangka ini memuji kau pintar main pedang, kau masih bisa apa lagi? ”

Jing Tho segera menyela :”Bing Iote serba bisa, ahli memetik harpa, pemain catur yang tiada lawannya, bersanjak membuat syair juga mahir, cuma minum arak dan teh saja yang kami belum sempat uji!”

Mulut jip Hoat berkecek memuji, katanya “Tentu kau tidak asor kedua bidang itu. Khong ham kiong ketambah Bing hente menjadi lengkap seluruhnya. Aku harus cepat laporkan kepada

… oh ya, kami setiap orang hanya bisa sebuah bidang, sebalikanya Bing heng te serba bisa, bagaimana seharusnya kita memanggilnya? ”

“Itu urusan Hujin,” ujar Sui Ki tertawa kering, “Kau tidak perlu ribut? ”

“Benar” ujar Jip Hoat manggut. “Aku tiada hak menentukan, Bing hengte, lekas jalan!”

“Setelah ia memutar tubuh, baru dilihat potongan bambu yang berserakan itu, mendadak ia menjerit “Wah! siapa yang mengobrak abrik Jui hong yu king, kalau Hujin tahu bagaimana baikanya …? ” Lekas Sui Ki menggerakkan mulut kearah Koan San gwat sikapnya mohon bantuan. Koan San gwat lekas maju beberapa langkah, katanya : “Akulah yang merusakanya.”

“Heh!” seru Jip Hoat gugup, “Kenapa kau membuat kesalahan sebesar ini!”

Sui Ki batuk batuk kering, katanya terta tawa “Untuk menguji ilmu silat Bing lote, kami merintangi ia di sini, Bing lote marah, lalu cabut pedang menyerang kami berdua, untung kami keburu melarikan diri. Celaka adalah rimbun bambu ini yang menjadi kocar kacir….”

Jip Hoat membanting kaki, serunya : “Kalian keparat, ditempat mana saja kalian boleh membuat keributan, kenapa mesti ditempat ini …”

Sui Ki pura pura getir, sahutnya : “Kami tidak tahu adat Bing lote yang keras! Lihatlah usianya masih muda, siapa menyangka ilmu pedangnya demikian hebat …”

Jip Hoat angkat pundak dan membuka kedua tangannya, ujarnya: “Ini … bagaimana harus lapor kepada Hujin! Baru saja Bing lote tiba lantas terjadi keonaran besar …”

Dengan lantang Koan San gwat berkata : “Urusan sudah ketelanjur, apa pula yang disesalkan, dihukum atau dibunuh akulah yang bertanggung jawab!”

Lekas Jip Hoat mengulap tangan, katanya! “Bing hangte! Kalau berhadapan dengan Hujin sikapmu jangan kasar dan ketus, bicaralah sopan, dari samping kita akan membela dan mohon pengampunannya, mungkin Hujin tidak mengusar panjang perkara ini …”

“Benar!” timbrung Sui Ki, “Hujin paling suka denagar kata katamu, pada waktunya harap kau suka bicara demi keselamatan Bing lote, sedapat mungkin kau puji kebaikan dan kepintaran, Bing lote, bila Hujin ketarik padanya urusan mudah diselesaikan …” Jip Hoat berpikir sejenak lalu katanya , menghela napas “Ya, begitulah caranya yang terang aku akan berusaha sebisa mungkin, siapa suruh aku menjadi Toa cinya tadi! Bing hengte! Jangan kau kira aku suka mengagulkan diri, aku sekali melihat kau aku lantas …”

Tampak oleh Koan San gwat dalam bicara orang memicingkan mata, menunjukkan sikap genit yang memalukan, kuatir orang bicara tidak genah lekas ia menjura serta berkata. “Sekali bertemu seperti sahabat lama! Harap Toa ci suka memberi perlindungan kepadaku!

“Benar! Sekali lihat lantas tidak asing lagi, seperti sahabat kental! Meski bara pertama kali melihat kau, sebetulnya sudah lama aku ingin berkenalan dengan kau. Selanjutnya kuharap kita bisa bergaul lebih intim!”

Sui Ki mengelus jenggotnya, katanya: “Kita bergaul sudah lama, kenapa kau tidak berlaku mesra dan intim kepada kami!”

“Cis tidak tahu malu!” damprat Jip Hoat dengan muka merah, “Setan pendek jangan kau cerewet, awas kucomot hancur seluruh cambang tikusmu itu!”

Lekas Sui Ki mengkereteken lehernya Jip Hat jadi geli sendiri, secepat ia berkata kepada Koan San gwat: “Bing hengte! Kau tidak merasa Toa sucimu terlalu kasar bukan? ”

Koan San gwat serba runyam, tak tahu apa yang harus dikatakan. Lekas Jin Tho menimbrung “Jip Hoat ayo lekas jalan. Jangan kau bikin Hujin marah karena terlalu lama menunggu!”

“Benar!” seru Jip Hoat sadar, “Hujin suruh aku menyusul kemari supaya kalian lekas menghadap! Mari lekas.”

“Jip Hoat!” ujar Jing Tho tertawa berseri, “Silahkan kau lari lebih dulu memberi lapor kepada Hujin segera kami membawa Koan lote kesana. Ingat agulkan Bing lote lebih dulu, supaya Hujin menaruh kesan baik kepadanya!”

Jin Hoat manggut manggut, katanya: “Aku tahu, kalau Hujin marah, kalian berduapun pasti menerima akibatnya!”

Sembari bicara ia menggerakan pinggang nya , tahu tahu badannya berpusar seperti angin lesus lalu lenyap. Meski Koau San gwat merasa lega, namun melihat gerak tubuh orang waktu melayang pergi, diam diam bersekat sa ubarinya.

“Lote!” kata Sui menghampiri Koan San gwat, “Kau bakal ketiban rejeki, perempuan gila itu agakanya kepincut kepada kau, agakanya sekali pandang lantas jatuh cinta. Asal kau berhubungan intim dengan dia, didalam Khong ham kiong leluasa berbuat apa saja!”

Merah padam muka Koan San gwat.

Lekas Jing Tho menegor temannya itu “Sui Ki! Kau membual apa, orang sudah memikul tangung jawab kesalahanmu, tapi kau masih menggodanya, Koan siheng, kulihat gendik itu memang jatuh hati kepada kau. Sudah tentu kau tidak akan ketarik padanya namun kami harap kau jangan membuat runyam dan malu, di dalam Khong ham kiong kecuali Gwat hoa Hujin, dialah yang berkepandaian paling tinggi …”

“Apa? Jadi aku harus memberi hati dan merayu dia? Tidak bisa begitu melilat dia aku lantas mual. Sungguh aku tidak mengerti apa yang sedang kalian ributkan, tanpa hujan dan angin tahu tuhu mengganti namaku seenak udel sendiri kini aku harus …”

“Koan siheng, sabarlah.. sabar” demikian bujuk Jing Tho, “Soal ganti nama mungkin adalah maksud Tay Sui, harap kau percaya bahwa kami sedang bantu kau, bantu nona Thio, kini tiada tempo kujelaskan, kelak kalau ada waktu, kami akan memberi penjelasan kepada kau…” Koan San gwat marah marah, katanya “Urusan lain aku tidak perlu tahu tapi kalian harus jelaskan kepadaku. Gwat hoa Hujin siapa bila berhadapan supaya aku bisa bertindak menurut keadaan!”

Jing To menghela napas, lalu berkata pelan pelan, aku cuma bisa beritahu kepadamu bahwa ilmu silatnya sudah mencapai puncak tertinggi! Cukup kau tahu akan hal ini saja. Marilah kita berangkat, kalau terlambat Hujin bisa marah, harus ku betitahu pula kepadamu, bahwa Jip Hoat sebetulnya orang yang baik hati, tindak tandukanya mambuat kau sebal dan mual, tapi sebetulnya amat bijaksana dan saleh, jangan kau pandang rendah dirinya.” Sampai disini ia menghela napas pula, lalu angkat tangan mendesak : “Lekas berangkat tabiat Hujin amat keras, bila beliau menunggu terlalu lama, memang bisa runyam akibatnya!”

Sui Ki lantas tarik lengan baju Koan San gwat terus diseret kedepan seperti menuntun binatang layaknya, setelah melewati rumpun bambu mereka terus beranjak kedepan.

Terasa oleh Koan San gwat tenaga orang amat besar, tanpa kuasa ia ditarik maju kedepan, rasanya kurang biasa, namun tenaga tarikan Sui Ki amat aneh, tangan menarik disebelah depan, namun tenaga nendorong disebeleh belakang seolah olah dirinya didorong dari belakang sehingga ia tidak mampu mengerahkan tenaga untuk berontak.

Setelah keluar dari hutan sampailah mereka disebuah taman kembang yang amat luas, berbagai tanaman kembang berkelompok berbeda beda, disebelah taman kembang adalah sederetan bangunan rumah berpetak petak yang serba indah dan megah, berloteng lagi deretan paling depan berpintu gerbang besar dengan daun pintu terbuat dari batu pualam putih, di atas belandar tergantung sebuah pigura besar yang bertuliskan Khong gam kiong tiga huruf emas.

Disaat mereka tiba didepan pintu gerbang menaiki tangga batu, tampak oleh Kon San gwat laki laki bernama Tay Su yang pernah dilihatnya dibawah gunung itu memapak maju, air mukanya gelisah. Belum lagi Koan San gwat sudah angkat tangan dan berkata “Tay Sui, Aku maklum akan kesulitanmu tak usah dikatakan lagi.”

Sedikit berubah air muka Tay Su, katanya: “Aku hanya ingin mendarma baktiku tenagaku, kuharap kau memberi maaf karena aku mengganti namamu soalnya terpaksa, baru kuajak kau naik kemari untuk bertemu dengan Hujin, jangan kau manyinggung nona Thio ..!”

Jing Tho menyala “Kita sudah manjelaskan kepadanya, kau tidak usah rewel lagi …” belum lagi Koan San gwat mengambil sikap, Jip Hoat muncul dengan suara keras berseru lantang “Hujin memberi ijin Bing Jian li segera menghadap!”

Meski Koan San gwat tahu bahwa Gwat hoa Hujin seorang tokoh yang segani, tapi dirinya harus munduk munduk didepan seorang tokoh yang disegani, betapapun tidak sudi. Maka dengan sikap acuh tak acuh ia beranjak dengan lekas.

Begitu memasuki balairung, pandangannya menjadi terang.

Balairung besar dan panjang ini perasis istana raja, sangat hebatnya dibuat dan batu Tay li, lantainya batu hijau yang mengkilap di tengah balairung dibangun sebuah panggung batu persegi, sekeliling panggung dikeliling pagar pendek setengah tumbak terbuat dari emas, disebelah depan terdapat sembilan tangga batu dari jade, diatas panggung terletak sebuah kursi kebesaran yang terukir dan bertatakan perhiasan berbagai macam bentuk dari jambrud, manikam dan berlian yang tak ternilai harganya, diatas kursi kebesaran bercokol seorang perempuan pertengahan umur yang berpakaian mewah dan perlente, tak usah disangsikan lagi bahwa perempuan ini Gwat hoa Hujin adanya.

Usia Gwat hoa Hujin kelihatan baru empat puluh, rambut kepalanya tersanggul, menggunakan jubah panjang warna putih yang terbuat dari sutra kembang, wajahnya cantik mengandung wibawa, sikapnya angker dan agung, benar benar orang menaruh hormat dan tunduk kepadanya.

Di belakangnya berdiri dua perempuan berpakaian seperti Jip Hoat, usia mereka tiga puluhan, mereka adalah Hui Kak dan Coa Ping, dipanggung sebelah kiri berdiri seorang laki laki pertengahan umur, sikapnya garang gagah, mukanya bercambang bauk tebal warna hitam, berpakaian Bucu (kaum persilatan) mengenakan sepatu panjang, pinggangnya menyoren pedang panjang, jelas bahwa orang inilah yang bernama Tam Kiam.

Biasanya Koan San gwat amat sombong, namun ia tertekan oleh sikap agung dan wibawa sinar mata Gwat hoa Hujin, air mukanya mengunjuk sikap hormat, segera ia bersoja, serta berseru “Cayhe, Bing … Jian li menghadap Hujin!”

Hampir suji ia memperkenalkan nama aslinya sebagai Bing tho ling cu Koan San gwat, Tay Su, Jing Tho dan Sui Ki, yang mengintil dibelakangnya menarik napas lega.

Sikap Gwat hoa Hujin amat tawar, tidak menunjukkan sesuatu reaksi, salah satu perempuan yang berada dibelakangnya membentak sambil melotot. “Kenapa tidak berlutut? ”

Berdiri alis Koan San gwat, timbul sikap pongahnya, serunya angkat dada : “Kenapa aku harus berlutut? ”

Perempuan itu menegur, baru saja hendak mengumbar amarah, mendadak Gwat hoa Hujin mengulap tangan serta berkata perlahan. “Hwi Kik! Tidak perlu cerewet, dia baru datang sebelum paham tata krama disini, kelak harus diajaikan padanya.”

“Bing jian li! coba kau maju lebih dekat!”

Koan San gwat maju beberapa tindak, terpaut setengah tumbak dari kaki tangga di depan panggung, dengan cermat Gwat hoa Hujin mengamat amati sebentar lalu manggut manggut ujarnya “Ehm, perawakkanmu kekar dan gagah, Tay Su mengatakan tulisanmu amat bagus, tadi Jip Hoatpun mengatakan dengan pedangmu kau berhasil mengalahkan Sui Ki dan Jing Tho, kelihatannya kau serba pandai dalam ilmu sastra dan ilmu silat!”

Suaranya merdu, namun mengandung wibawa yang tidak boleh dibangkang, namua bagi Koan San gwat hal ini tidak dianggapnya, dengan tertawa sombong ia berkata “Cayhe sekolah belajar kungfu kepalang tanggung pujianmu ini sungguh tidak berani kuterima.”

“Bing Jing li,” seru Jip Hoat gugup melihat sikapnya yang kurang ajar, “Mana boleh kau bicara kasar dengan Hujin? ”

Koan San gwat anggap lupa pesan tadi tanyanya dengan pongah: “Bagaimana aku harus bicara?”

Seau sudah tahu? ” “Ya, pernah kudengar:”

Jip Hoat menjadi gugap dan membanting kaki, sebalikanya Gwat hoa Hujin tertawa, katanya : “Hoat! Kaupun tidak usah turut campur, sikapnya terang tidak mau tunduk, kalau tidak tunduk tentu ada alasannya, sebab sampai detik ini, kalian tiada berhasil membuatnya takluk”.”

Kali ini bicara lebih lembut dan halus, tidak mengandung wibawa sewajarnya, karuan Jip Hoat dan lain lain menjadi heran dan tercengang.

Sembari tertawa berkata pula Gwat hoa Hujin : “Ketujuh pembantuku ini memiliki semacam kepandaian, yang berbeda mungkin kau sudah tahu ?”

“Ya, pernah kudengar.”

“Nama mereka ditentukan sesuai dengan kepandaian masing masing, aku menganggap mereka ahli ahli didalam dunia ini, namun kudengar kau lebih unggul dari mereka …” Koan San gwat rikuh katanya tertawa kikuk : “Terima kasih akan pujian yang berkelebihan ini Yang benar aku pernah menulis beberapa huruf, sebalikanya gaya tulisan Su sinseng amat kuat dan bagus, nila nila karyanya itu betapapun tidak memadai!”

Gwat hoa Hujin berpaling kesamping Tay Su menjadi gugup dan berkeringat, katanya tersipu sipu : “Hujin! Bing lote memerlukan latihan yang lebih matang, padahal bakat bakat dan kepandaiannya amat hebat, bila berlatih beberapa lamanya pasti dapat melampaui hamba …”

“Maka itu! Dengan latihannya dalam usia begini muda, aku percaya tiada tandingannya diseluruh kolong langit, terhadap nya kau merendah kuduga penilaian mu tentu tidek meleset! Mengenai kekalahan Sui Ki dan Jing Tho …”

Bergegas Sui Ki tampil kedepan katanya, membungkuk “Ilmu pedang Bing lote benar benar hebat …”

Gwat hoa Hujin tersenyum tanyanya. “Yang kutanyakan bukan soal pedang, dalam bidang ini kalian memang jauh …”

Sui Ki mengkeretekan leher, sahutnya tertawa. “Dalam bidang musik dan catur sebetul nya kami belum pernah bertanding, namun dalam percakapan Bing lote dapatlah dinilai sampai dimana tingkatnya …”

“Baik, kau tidak usah banyak omong, aku hanya heran, kalian biasanya tidak mau tunduk pada orang lain, kenapa terhadap anak muda ini belum bertanding sudah mengaku asor? ”

Kata kata terakhir suaranya menjadi ketus dan kereng penuh wibawa, karuan Sui Ki, Jing Tho dan lain lain mencelos hatinya, bergegas Tay Su tampil kedepan serta katanya: “Hamba sekalian melihat Bing lote punya bakat yang luar biasa dan merupakan pilihan yang tiada bandingannya, maka kami ingin mengundangnya kemari untuk dihadapkan kepada Hujin!” “Apa persoalannya begitu saja?” jengek Gwat hoa Hujin, “Kalian memujinya setinggi langit, aku jadi kurang percaya, Tan Kiam cobalah kau gebrak beberapa jurus dengan dia. Tam Kiam yang berpakian Busu segera mengiakan sambil menjura, dari pinggangnya ia melolos sebilah pedang panjang, batang pedangnya bersinar hijau gelap, kelihatannya tidak menyolok, cuma bentuknya kelihatan kuno!

Koan San gwat melengak, katanya “ Aku kemari bukan untuk bertanding pedang.”

Gwat hoa Hujin melirikanya, tanyanya:”Lalu untuk apa kau kemari!”

Saking gelisah muka Tay Su basah oleh keringat, Koan San gwat melihat kelakuan orang gagap dan kuatir, maka dengan tawar ia berkata: “Tay Su sianseng mengundangku kemari untuk berkenalan dengan beberapa orang kosen!”

Tay Su kelihatan bernapas lega, cepat ia menimbrung “Hamba mematuhi petunjuk Hujin, tidak berani sembarangan memberi keterangan keadaan di sini kepadanya, namun betapa sulit mendapat seseorang seperti Bing lote yang berbakat dan bertulang begitu bagus, sengaja kuundang kemari ingin kuperkenalkan dengan Hujin ….”

Gwat hoa Hujin mendengus, katanya:

“Jadi tadi kau ngapusi aku ?”

Gemetar badan Tay Su, lekas Jing Tho menyela: “Tay Su tidak ngapusi Hujin, dia memberi pesan setelah kami, bertemu dengan Bing lote, baru akan menjelaskan keadaan disini kepadanya, hal ini sudah kami terangkan kepada Bing lote!”

Gwat hoa Hujin beralih kepada Koan San gwat tanyanya: “Kalau kau sudah tahu kenapa tidak ingin diuji menurut ketentuan? ”

“Ujian apa?” tanya Koan San gwat melengak. “Sute kenapa kau begitu pelupa,” lekas Jing Tho berseru. “Bukankah tadi sudah kuberitahu, untuk menetap di Khong ham kiong diharuskan mempunyai suatu kepandaian khusus, Hujin menyuruh Tam Kiam bertanding pedang dengan kau merupakan salah satu ujian bagi kau.”

Melihat tampang orang yang harus dikasihani, Koan San gwat jadi kasihan. Untuk membongkar bualannya, segera ia tertawa, katanya. “Kiranya begitu, aku tidak jelas, tadi hanya kudengar katanya harus adu senjata, tidak dijelaskan soal ujian segala. Dan lagi aku kemari bukan untuk adu jiwa, tanpa sebab kenapa harus menggerakkan senjata? ” Sikap acuh tak acuh amat takabur, karuan Gwat hoa Hujin dongkol, hidungnya mendengus.

“Mari silahkan!” Tam Kiam merangkap kedua tangan lalu bergaya, pedangnya melintang menunggu serangan Koan San gwat. Melihat gaya kuda kuda orang Koan San gwat jadi melongo dan terkejut, karena gaya kuda kuda itu amat dikenalnya, itulah gaya permulaan dari Siu la kiam hoat jurus pertama.

Siu lo jit sek adalah bekal kepandaian Cia Ling im yang diajarkan pekli Put ping ilmu pedang tunggal perguruan mereka rahasia, dari mana orang inipun dapat mempelajarinya? Tapi justru selanjutnya belum lagi dilancarkan jadi belum berani memastikan.

Perlahan lahan Koan San gwat melolos Pek hong kiam, dibawah sinar pancaran pedangnya yang menyilaukan mata, dilihatnya rona wajah Gwat hoa Hujin berubah.

Melihat Koan San gwatpun sudah melolos, segera Tam Kiam berkata enteng “Silahkan Bing heng memberi petunjuk!”

Untuk membuktikan jurus jurus pedang orang adalah Siu lo kiam hoat, Koan San gwat menjawab sambil geleng kepala : “Tidak Silahkan Sianseng mulai!” Tam Kiam tidak sungkan lagi, pedang diangkat kedepan, sebelah kakinya maju selangkah terus menyerang. Gaya serangannya tidak salah persis dengan tipu tipu pedang Siu lo jit sek, jurus pertama adalah Hau jan cu jiu yang berbeda hanyalah batang pedangnya tidak merembes gulungan asap tebal serta suara seperti jeritan setan neraka, namun perbawa dan kekuatan nya jauh lebih besar.

Tiada pilihan bagi Koan San gwat terpaksa harus keluarkan ajaran Tay lo kiam hoat untuk melayani, Pek hong kiam bergerak dengan jurus Kao kun sip ting.

Dua jalur hawa seketika berputar dan saling bentrok dengan hebatnya, namun benrokan kali ini tidak mengeluarkan suara, namun kejap lain tahu tahu kedua pihak mental mundur berpencar.

Koan San gwat menarik napas lega, diam diam merasa beruntung. Karena Siu lo jit sek dibawah permainan Tam Kiam hakikatnya jauh lebih hebat dan besar kekuatannya dari Cia ling im tempo hari, namun karena tiada asap tebal menutupi udara hingga mengelabui pandangan mata, maka ia melihat jelas gerak perubahan ilmu pedang lawan, justru Tay lo su sek memang diciptakan khusus untuk mematahkan dan mengatasi segala gerak perubahan rumit dari siu lo su sek, maka beruntung ia dapat menandingi jurus pertama tadi.

Tapi lain pandangan mereka yang menonton, kecuali Gwat hoa Hujm, termasuk Tam Kiam sendiripun mengeluarkan sorak pujian malah Jing Tho, Siu Ki dan Tay Su bertiga memberi reaksi lebih hebat lagi.

Hening sejenak, Tam Kiam mulai melancarkan jurus kedua, yang dilancarkan adalah jurus pedang dari Siu lo kiam hoat pula yaitu Siu hun toh pek.

Tanpa ayal atau ragu sedikitpun Koan San gwat melawan dengan jurus San gak eng si. Hawa pedang saling gubat dan untuk kedua kalinya, kali ini Koan San gwat tidak kelihatan enak dan enteng seperti jurus pertama, lwekang Tam Kiam masih diatas kemampuan Cia Ling im, kekuatan lwekangnya yang hebat menggerakan pedangnya dengan berat hingga menekan amat hebat, hampir saja ia tidak kuasa bergerak, untunglah San gak eng si merupakan jurus pertahanan yang maha ampuh, ia berhasil menangkis dan mengatasi jurus serangan lawan Tam Kiam menarik pedang lalu mundur dua langkah, air mukanya menunjukan yang sulit dilukiskan.

Demikian juga Gwat hoa Hujin tidak menguasai ketegangan hatinya, tak tertahan hidungnya bersuara keheranan.

Sejenak Koan San gwat mengatur napas dan mengembalikan semangat, tiba tiba ia bergerak lebih dulu, mendadak Pek hong kiam memancarkan cahaya lebih terang dan melebar dengan kecepatan kilat beruntun mendesak maju melancarkan dua jurus serangan sekaligus, yaitu Si jit tang sang seng dan Pek hong koan ju. Kedua jurus ilmu pedang ini termasuk tipu penyerangan yang maha dasyat namun tindakannya ini justru melanggar kebiasaannya.

Tempo hari waktu berhadapan dengan Cia Ling im, ia menunggu pihak lawan menyerang lebih dulu, baru ikut bergerak menyesuaikan gerak serangan musuh. Dalam prakteknya Tay lo su sek memang harus demikian, karena keempat jurus ilmu pedang berinti ketenangan untuk mengatasi gerakan, terutama untuk mengatasi rangsakan musuh lalu manyusup lobang kelemahan lawan dan memunahkan serangan lawan.

Akan tetapi Koan San gwat tidak mau mematuhi ketentuan itu, serangan pedang Tam Kiam kelihatannya tidak menunjukan lubang kelemahan yang diharapkan kalau dia harus menunggu orang menyerang, terpaksa dia harus bertahan dan membela diri belaka, kalau tidak kuat bertahan berarti dirinya bisa kalah secara konyol.

Bekal lwekang yang dimiliki Tam Kiam, bagaimana juga Koan San gwat tidak akan mampu melawannya, kecuali ia menyerang lebih dulu, tindakkan ini secara untung untungan belaka.

Jurus Si jit tang eng merupakan serangan menyeluruh yang amat dahsyat, lekas Tam Kiam angkat pedang mentabirkan cahaya pedang yang amat kokoh didepan badannya, laksana lapisan mega membendung sinar matahari, sehingga serangan Koan San gwat seluruhnya dibendung dan dipunahkan.

Namun jurus kedua Pek hong koan jit merupakan titik serangan yang dirobah menjadi tusukan lurus, serangannya teramat cepat lagi sehingga Tam Kiam tidak sempat lagi merubah gerakkan permainan pedangnya untuk menghadapi tusukkan lawannya, tusukkan lawannya bagaikan airbah yang dilandasi ketajaman Pek hong kiam yang menembus pertahanan cahaya tabir pedangnya.

“Trang!” dua senjata sakti itu saling bentur dengan keras sekali sehingga memercikkan kembang kembang api yang sangat terang.

Koan San gwat tergentak mundur selangkah, telapak tangannya terasa pedas dan kesemutan, sekuatnya ia memegang kencang senjatanya supaya jangan sampai terlepas jatuh, namun rona wajahnya tampak terkejut keheranan, yang dikejutkan bukan gaya permainan pedang lawan namun, adalah kehebatan lwekangnya yang amat aneh sekali.

Jelas bahwa tusukkan pedang Koan San gwat sudah berhasil menembus kelemahan lawan sungguh tidak terpikir olehnya pada saat yang sangat kritis itu Tam Kiam masih mampu menyalurkan kekuatan lwekangnya di batang pedangnya sehingga pedang kuno yang sakti itu berubah menjadi semacam besi sembrani, dan keluarlah tenaga sedot yang amat besar, maka Pek hong kiam tersedot balik dan membentur batang pedang lawan dengan keras. Pedang lawan yang berwarna hijau gelap itu memang kelihatannya aneh, bentrokkan yang begitu kerasnya dengan pedang Pek hong kiam tapi tidak mendapat cidera sedikitpun, malah mengeluarkan daya sentulan yang amat keras pula, sehingga pedangnya hampir terlepas dari pegangannya.

Keadan Tam Kiam begitu tidak runyam, pedang panjangnya teracung tinggi lalu menukik terus berputar dan masuk kedalam serangkanya dengan berdiri tegak, lalu ia menghadap kearah Koan San gwat dan menjura, serta katanya “Ilmu pedang Bing heng memang teramat hebat, hamba bukan tandingan!”

Koan San gwat melengak, dalam gebrak yang berlangsung tadi, jelas dirinyalah yang berada dipihak yang kalah, kenapa orang itu mengaku kalah. Sejenak ia berpikir akhirnya ia teringat akan pesan Jing Tho, bahwa Tam Kiam akan membantu dirinya, bukan mustahil orang sengaja mengalah kapadanya. Dapatkah aku menerima kebaikannya? Segera Koan San gwat berkata tertawa dingin: “Sianseng terlalu sungkan pedangku tidak sampai lepas, aku sudah mendapat muka …”

Tam Kiam tertawa ngeri tanpa bersuara lagi.

Segéra Jip Hoat tampil kedepan, serunya “Bing heng, tidak kira ilmu pedangmu begitu lihay, kecuali Hujin, Tam Kiam biasanya mengagulkan ilmu pedangnya, namun kau berhasil mengalahkan dia …”

“Aku mengalahkan dia?” teriak Koan San gwat. “Tidak salah,” ujar Jip Hoat cekikikan, “Kalau dia tidak

menggunakan Ceng so kiam sudah pasti tusukan pedangmu

mungkin sudah mengenai kepalanya! Hal ini membuktikan bahwa ilmu pedangmu berada diatas tingkatannya, boleh dikata ahli pedang nomor wahid diseluruh jagat …”

Sampai disini ia sadar ucapannya sudah keliru, lekas ia mènambahkan “Sudah tentu yang kumaksud kecuali Hujin …” Maka Gwat hoa Hujin berbicara “Jip Hoat! Kau salah lagi! Mungkin aku bisa mengalahkan dia dengan lwekang. namun bila dinilai permainan pedangnya, aku sendiri belum unggul melawan Tam Kiam, mana mungkin aku dapat mengalahkan dia!” kata kata ini membuat semua orang jadi melongo, cuma Koan San gwat kelihatan heran, karena seluruh perhatiannya tumplek pada nama Ceng so kiam yang berada ditangan Tan Kiam itu.

Diwaktu Koan San gwat menerima Pek hong kiam dari Oen Kiau, orang tua itu pernah menjelaskan kepada Kaon San gwat kecuali Pek hong kiam yang sakti ini diatasnya masih ada Ci seng, Ceng so kiam dan lain lainnya yang kesaktiannya melebihi Pek hong kiam, sungguh tidak nyana ternyata Ceng so kiam berada ditangan Tam Kiam …

Kalau demikian jurus Pek hong koan jit tadi memang benar benar membuat lawan sukar untuk menandingi serangan pedangnya, bahwa Tan Kiam bisa selamat dari tusukkan pedangnya tidak lain karena ia mengandalkan dari keampuhannya Ceng so kiam, tidak heran kalau dia mau mengaku kalah.

Sementara itu tampak Gwat hoa Hujin mengulum senyum lebar, katanya: “Bing Jian li, sejak saat ini kau sudah termasuk salah satu penghuni Khong ham kiong kita!”

“Tidak!” teriak Koan San gwat tegas, “Aku … ..tidak mungkin …”

“Kenapa tidak mungkin? ”

“Aku tidak mungkin menjadi pembantu Hujin…”

“Sudah tentu aku tahu kau berbakat dan mempunyai ilmu, jabatan pembantu sudah tentu merendahkan derajatmu, benar tidak? ”

“Bukan begitu maksudku.” “Aku maklum akan maksudmu, kau punya kepandaian mencakup berbagai bidang, kedudukan kecil tidak akan memuaskan hatimu, namun kau perlu berpikir secara obyektif, kau hanya unggul dalam bidang permainan pedang, kecuali dari itu seperti memetik harpa main catur, dan menggambar

… Cukup meletihkan untuk kau pelajari, anak muda kau bersikap tinggi hati adalah baik, tapi kalau berkelebihan akhirnya akan menjadi sombong dan ponggah …”

Berkerut alis Koan San gwat mendengar komentarnya, baru saja hendak bicara Gwat Hujin melanjutkan lagi, “Aku tahu kau belum puas aku jadi kehilangan akal, tapi… aku memang ketarik akan bakat dan kepandaianmu, begini saja, kau kuangkat sebagai Hu hoat Su cia (duta pelindung) Khong ham kiong kita ketujuh pembantuku ini kuserahkan kepada kau bisa untuk memimpinnya, bagaimana sudah puas belum!”

Melihat Koan San gwat masih ingin menolak, lekas Jip Hoat menimbrung: “Bing heng te! Begitu tinggi penghargaan Hujin kepadamu mungkin kami bertujuh tidak terpandang dalam matamu, tapi dapat selalu mendampingi Hujin, setiap saatkan dapat mohon petunjuknya berapa besar manfaat yang kau peroleh…” sembari bicara ia mengedipkan mata seperti membujuk dia lekas menerima anugrah ini. Begitu pula Tay Su dan lain lain mengunjuk rasa kuatir.

Koan San gwat menjadi geli, kalau urusan berlarut, kapan ia bisa menyelesaikan tujuannya, akhirnya ia nekad, katanya bergelak apapun lantang: “Bicara memang begitu, bagaimana pun tinggi jabatanku tetap sebagai orang bawahan, aku tidak Paham dalam hal apa Hujin memberi manfaat diriku …”

Berubah air muka Jip Hoat, teriakanya “Bing lote! Gila kau!

Jangan kau kurang ajar terhadap Hujin …”

Koan San gwat tertawa lebar tanpa bersuara.

Diluar dugaan Gwat hoa Hujin malah tersenyum manis, katanya: “Dalam hal ini tidak bisa salahkan dia, keadaan sudah berlarut, kalau aku tidak menunjukan sejurus dua permainan, memang sulit menundukan dia. Anak muda, menurut kau dalam bidang apa kau lebih unggul untuk bertanding dengan aku?”

“Aku tahu Hujin punya kemampuan apa maka sulit menjawab pertanyaan ini!”

Gwat hoa Hujin tertawa katanya: “Judul apapun yang kau ajukan pasti kuladeni!”

Amat sombong, tapi sikap Koan San gwat tebih pongah katanya bergelak tertawa: “Apa yang Hujin bisa! Aku yakin dapat mencobanya.”

Baru sekatang Gwat hoa Hujin tretegun dalam Khong ham kiong baru pertama ini ia mendengar orang bicara demikian kepadanya tujuh orang lainnya juga berdiri menjublek sepihak, mereka kuatir akan keselamatan Koan San gwat, dilain pihak merekapun takjup oleh kesombongannya, tak tahu apa yang harus mereka lakukan …

-oo0dw0oo-