Patung Emas Kaki Tunggal Jilid 11

 
Jilid 11

SEMAKIN menanyak tinggi perjalanan semakin sukar, angin pegunungan menghembus semangkin keras, It lun dan Ban li melangkah mangkin cepat lagi, unta sakti dapat berlenggang seenakanya saja tanpa kepayahan adalah kuda Lok Siau hong mangkin ketinggalan jauh, napas sudah engos engosan kuda itu tidak kuasa berjalan ditempat sukar.

Koan San gwat lantas berseru kearah depan: “Cianpwe mohon berjalan pelan pelan saja…”

Ban li berteriak dengan gelisanh. “Liong hwa hwe akan dibuka nanti lohor, sekarang hampir setengah hari kalau terlambat kita tidak bisa masuk, harapan kita selama beberapa tahun akan menjadi nihil sama sekali.”

Terpaksa Koan San gwat berkata kepada Lok Siau hong, “Tinggalkan kudamu, duduklah dibelakangku “ Memang Lok Siau hong sudah mangkel menghadapi kudanya yang bandel ini, dengan tertawa riang segera ia melompat naik kepunggung unta dan duduk dibelakang Koan San gwat, kedua tangannya menyikap pinggang orang.

Meski ditambah satu orang lagi, langkah unta sakti masih ringan dan cepat laksana terbang, dua orang didepan itu malah berlari makin kencang.

Waktu matahari tepat bercokol ditengah cakrawala merekapun sudah tiba didepan sebuah papan baru besanyang berdiri tegak di pinggir jalan, diatas batu diukir tiga huruf yang bercoret indah dan dalam, ketiga huruf itu berbunyi “Siau ae thian!”.

Kecuali dua barisan anak anak kecil berdiri jajar terbagi dua, seorang whesio berdiri tegak ditengah jalan, whesio ini bukan lain adalah Go hai ci hang yang telah menuntun mereka memasuki hutan pekat di Kiam bun san tempo hari. Sambil menghela napas lega Ban li berkata: “Untung belum terlambat!”

Memandang kearah mereka Go hay cu hang berkata sambil menarik napas: “Baru saja Lolap bersyukur kukira kalian sudah melihat keseluruhannya, siapa tahu ternyata masih….”

“Kepala gundul.” tukas Ban li dingin : “Tak usah kau umbar budi darmamu terhadap kami, memang kami sengaja menjebloskan diri! nanti malah kami mengharap kau memberi kelonggaran atau bila sebalikanya kami mohon supaya kau suka mempersembahkan demi arwah kami!”

Go hai chiang menghela napas tanpa bersuara, matanya beralih kearah Koan San gwat dan Lok siau hong, “untuk apa kalianpun datang kemari?”

Koan San gwat sudah merasa simpati padanya, lekas saja ia berkata ”Wanpwe datang untuk tambah pengalaman!” “Omitohud! Tempat terlarang ini paling banyak memusingkan kepala, kenapa kalian mencari kesukaran malah!’

“Baik buruk tergantung mulut berkata, kesulitan karena tingkah laku yang suka ugal ugalan, soalnya wanpwe tidak dapat mengendalikan diri, aku ingin menyelidiki beberapa hal yang mencurigakan, terpaksa kami ikut   menerobos kemari!” demikian.

“Gampang masuk kedalam pintu, keluar sesulit manyat langit. Kebetulan Lolap ditugaskan menyambut tamu, kuberi nasehat kepada kalian berdua lekaslah kembali saja, persoalan dunia ini memang…..”

Cepat Koan San gwat menyambung. “Ti dak seperti kehidupan bebas para dewata Harap loa suhu suhu memberi jalan!”

“Dengan baik hat Lelap menasehati kalian tapi kalian masih berkukuh terpaksa kujalani aturan disiplin disini.”

“Kepala gundul! Jangan kau banyak cingcong, mereka membawa Giok hu milik Sian cu, berani kau melarang mereka masuk?” Ban berseru gusar.

Terpaksa Koan San gwat keluarkan Giok hu dan diangsurkan kedepan, Go hay ci hang, berubah air mukanya, katanya menghela napas panjang : “Ai, takdir menghendaki demikian, buat apa kau banyak kata lagi. Mari, silakan !” sembari berkata ia membungukan tubuh lalu menyingkir kesamping. Lekas Koan San gwat membalas hormat. Anak anak kecil laki perempuan itupun ikut menjura hormat. Maka terdengarlah musik mengalun mengiringi perjalanan mereka yang dipimpin dua anak kecil laki perempuan yang membawa taburan kembang.

“Untuk apa itu?” tanya Koan San gwat melengak. “Kalian ada membawa Giok hu milik Sian cu maka termasuk tamu agung dalam pertemuan besar ini, menurut aturan taburan kembang harus menunjuk jalan diiringi alunan musik gembira. Silakan!” Koan San gwat mengatakan sambil menyatakan terima kaih, lalu sambil menarik untanya ia mendahului melangkah kedepan menerobos kabut tebal yang mengembangkan di jalan berliku, tak berapa lama kemudian tiba tiba pandangan mereka menjadi lebar dai terang, kabut dan mega hilang sama sekali, kiranya mereka sudah dipinggir lapangan luas.

Dilapangan besar ini hadir banyak terdiri dari berbagai rupa dan golongan, kebanyakan berusia lanjut atau pertengahan umur hanya beberapa pemuda yang hadir, mereka terbagi beberapa kelompok dan sedang mengobrol atau tercakap cakap, entah duduk entah berdiri.

Dilapangan besar sudah berderet meja kursi yang sudah siap ditaruh makanan dan buah buahan yang aneh, perjamuan belum di mulai, maka meja meja itu masih penuh dan lengkap.

Banyak pelayan pelayan kecil laki perempuan berpakaian seragam yang hilir mudik mempersilahkan para hadirin menempati meja kursi itu.

Karena mendengar iringan musik, semua hadirin kaget dan menoleh heran dengan pandangan aneh dan sikap yang lucu.

Koan San gwat bersikap wajar dengan sorot matanya ia menjelajah keseluruh pelosok, tiba tiba dilihatnya Peng Kiok jin Lok Heng kun, Lok Siang kun dan Liu Ju yang berkumpul dengan beberapa orang pertengahan umur lainnya, entah apa yang mereka bicarakan dengan bisik bisik. Tergerak hati Koan San gwat, baru saja ia hendak menghampiri, lekas Peng Kiok jin memberi syatat dengan kelapan tangan merintangi maksudnya. Demikian juga Lok Sian hong dìdelikì oleh Lok Hang kun sehingga tidak berani banyak bertingkah, dengan uring uringan ia menggerutu : “Kenapa ibu tidak hiraukan aku lagi?”

“Mana aku tahu, tapi kukira mereka punya alasan, sekarang tak usah kau gelisah, nanti kalau ada kesempatan tanyakan kepada mereka….” Saat mana mereka sudah tiba dihadapan sebuah meja batu, Koan San gwat melompat turun, di sini Koan San gwat dibuat melongo dan kaget, karena tidak jauh disebelah sana dilihatnya Thio Hun cu juga sedang menduduki sebuah meja tersendisi, dengan nanar matanya sedang mengawasi diri nya.

Tampak oleh Koan San gwat air muka Thio Hun cu pucat dan badannya rada kurus namun semangatnya kelihatan lebih menyala kulit mukanya yang kekuning kuarngan itu kelihatan bersemu merah setelah saling berpandangan sekian saat, akhirnya Koan San gwat maju menyapa : “Paman Thio! Bagaimana kau pun disini?”

Thio Kun cu bergelak tawa ujarnya: “Hah kiranya kau adanya, sejak tadi kuamat amati kau, kelihatannya mirip tapi aku belum yakin….”

Koan San gwat melongo, tanyanya : “Paman! Kami berpisah baru setahun lebih, apakah Siautit ada banyak perobahan?”

“Perubahan sih tidak begitu besar, cuma aku sulit percaya kau masih bidup…… kalau begitu, nenek tua di Kun lun san itu memang cukup lihay?”

Koan San gwat terlongong sejenak lalu katanya “Kepandaian pengobatan Soat lo Thay thay memang cukp lihay, setelah makan  waktu satu tahun baru  berhasil menyembuhkan seluruh penyakitku…”

Thio Hun cu bersuara dalam tenggorokan wajahnya menunjuk mimik yang aneh dan lucu, lalu dengan sikap acuh tak acuh ia bertanya: “Dimana Ceng ji? Kenapa kau tidak ikut kemari?”

Menyinggung Thio Ceng Ceng Koan San gwat jadi melengak, betapa besar cinta gadis itu terhadap dirinya, sebalikanya selama perjalanan dirinya terlalu sibuk memikirkan persoalan Liong bwa hwe jarang sekali ia teringat dan memikirkan keselamatannya, kini setelah ditanyakan baru ia benar benar merasa menyesal, setelah berpikir ia baru menyahut: “Adik Ceng beberapa waktu yang lalu sudah berpisah dengan aku, entah kemana dia pergi…”

Sikap Thio Hun cu masih tenang dan wajar, katanya “O, bukankah dia begitu terpincut kepada kau? Terhadap ayah kandung nya sendiripun dia berani membangkang dan mendurhakai, bagaimana mungkin dia rela berpisah dengan kau?”

Koan San gwat jadi mendongkol, suaranya meninggi dan ketus, katanya “Justru gara gara paman pula sehingga adik Ceug nekad meninggalkan aku…”

Thio Han cu tertawa sambil menggelengkan kepala, katanya : “Masa terjadi hal demikian, setahun yang lalu dia sudah mengakui aku ayah kandungnya ini….”

Persoalan lama itu Koan San gwat tahu jelas, maka melihat sikap dingin Thio Hun cu ia kurang senang, debatnya : “Meski adik Ceng mengingkari maksud dan kehendak paman, tulisan yang dia tinggalkan untuk paman kan sudah menjelaskan secara gamblang, semestinya paman mamaafkan dia……”

“Bukan soal memberi maaf, soalnya aku anggap urusan sudah terlanjur, apa itu hubungan kandung sedarah daging, kenyataan palsu belaka, yang paling penting dan diutamakan bagi anak gadis sekarang bukan lain adalah pujaan hatinya, dengan susah payah orang tuanya mengasuh dan membimbingnya menjadi besar, setelah besar rela minggat dengan seorang laki laki yang bara saja dikenalnya, budi kebaikan orang tuanya, sudah dilupakan sekali, anak perempuan diseluruh kolong langit kebanyakan demikian, maka akupun tidak perlu merasa sedih bagai urusan anak Ceng lagi!”

Karuan merah muka Koan san gwat, ucapan Thio hun cu terang sepihak dan berat sebelah, namun apa yang diucapkan menang ada benarnya, setelah termenung sebentar akhirnyi Koan San gwat menjawab: “Asal paman sudi mengingat perjodohan paman dengan bibi diwaktu muda dulu, maka semestinya kau ikan merasa iba dan simpati akan nasib adik Ceng sekarang…”

Berubah air muka Thio Hun cu, katanya: “Terhadap pengalamanku dulu agakanya kau sudah tahu semunya?”

“Benar Soa lo Thay thay sudah mengakui adik Ceng sebagai cucunya malah seluruh kepandaian keluanga Soat sudah beliau ajarkan kepada adik Ceng….

Kecuali ilmu pengobatan, kepandaian lain keluanga Soat lumayan saja tiada perlu dibanggakan… oh, tadi kau katakan anak Ceng lari pergi lantaran aku sebetulnya apakah yang terjadi?”

“Seharusnya tanya kepada paman sendiri, apa saja yang paman lakukan selama bulan bulan lalu?”

“Tiada apa apa yang kulakukan!”

Sesaat Koan San gwat tidak berani memastikan bahwa kejadian itu memang perbuatan Thio Hun cu, maka dengan menekan sabar ia bertanya lebih lanjut: “Apakah dalam waktu dekat ini paman bertanding keberbagi partai golongan besar?”

“Tidak salah! bertanding, aku cuma memilih beberapa diantaranya untuk jalan jalan saja!”

“Jadi betul kalau begitu!”

“Betul atau tidak apa segala, coba jelaskan lebih lanjut!” “Mencelakai para Ciangbunjin dari berbagai partai dan golongan besar, merebut barang pusaka atau buku rahasia pelajaran silat mereka …”

“Uraiamu kedengarannya seperti menusuk kuping, duduk perkara sebenarnya tidak begitu penting dan seberat apa yang kau katakan…”

“Anak murid berbagai partai dan golongan itu tersebar luas mencari jejak paman….”

“Silahkan kau pergi mencari kabar pula, para Ciangbunjin itu sudah kembali, malah memperoleh hasil yang baik dan bermanfaat bagi mereka, perbuatanku itu bertujuan baik dan menguntungkan mereka…”

Sambil menahan amarah Koan San gwat menekankan “Tiong sian Taysu dari Siauw lim si diracun hingga lumpuh, Thian Ki Totiang dari Butong mati keracunan, apakah perbuatan paman itu baik dan menguntungan mereka ?”

“Hal itu ada sebab musabab lainnya, kalau kau tidak percaya silahkan kau meluruk kesana dan tanyakan sendiri, merek sudah memilh Ciang bunjin yang baru, asal mereka membaca surat warisan kedua tokoh itu, pasti mereka tidak akan benci kepadaku!”

Melihat orang bicara dengan tenang dan mantap Koan San gwat ragu ragu dan tertegun sesaat kemudian ia bersuara pula: ‘“’Lalu peristiwa yang menyangkut pihak Bu khek kiam pay dari Im san, cara bagaimana paman memberi penjelasan?”

Thio Hun cu membalikan matanya, dengusnya “Apa itu Bu Khek kiam pay dari Im san bahwasannya aku belum dengar adanya golongan pedang itu ?”

Koan San gwat berkata gusar. “Disana …… memperkosa putrid terkecil Ciang bun jin Im Siok kun yang bernama Im Le hoa, gadis itu kau guna guna, sedang tekun dan penuh kasih mesra menunggu kedatanganmu…”

“Bohong!” sentak Thio Han cu dengan berubah marah, “Kau anggap apa aku ini?”

“In Siok kun teramat benci ketulang sumsummu, apakah kejadian ini hanya tipuan belaka?”

“Selamanya aku belum pernah melihat Im Siok kun, dan tak mungkin aku Melakukan perbuatan lakanat macam itu, mungkin mereka salah melihat orang.

“Menurut apa yang digambarkan Im Siok kun aku yakin bahwa orang itu memang benar kau adanya.”

Thio Hun cu berpikir sebentar lalu katanya: Urusan ini masih banyak segi liku liku nya yang harus kuselidiki, nanti sebentar mungkin bisa dibikin jelas …. sungguh tidak nyana terjadi peristiwa macam itu, kelihatan nya, memang tahu, orang tahu muka tidak tahu hatinya…”

Koan San gwat tertegun dibuatnya, tanyanya: “Pa……man, apakah yang telah terjadi?”

Sekarang jangan banyak tanya, cepat atau lambat aku pasti akan menyelesaikan urusan ini… . jadi karena urusan ini anak Ceng…“

“Benar!” sahut Koan San gwat manggut, “Urusan ini merupakan pukulan berat bagi sanubari adik Ceng, dengan nekad dan marah marah ia tinggal pergi, begitu saja katanya hendak mencari paman….“

“Buset! “dengus Thio Hun cu, “Terhadap ayah sendiripun ia kurang pengertian,” berhenti sejenak lalu ia bertanya pula “Kalau kaupUn membiarkan dia pergi begitu saja ?”

“Tidak! Hwi thian ya ce Peng Kiok jin cianpwe ada ikut dan memberi perlindungan. Akulihat Peng cianpwe juga ada disini, sebentar nanti akan kutanyakan, dimana sekarang adik Ceng berada?”

“Sabar! Sabar!” ujar Thio Hun cu geleng kepala, “Masih banyak urusan yang harus di selesaikan, sementara tak usah perdulikan urusan kecil itu!”

Koan San gwat bertanya : “Untuk apa paman kemari? Apa kau pun sudah menjadi anggota Liong hwa bwe?”

“Boleh dikatakan demikian,” sahut Thio Hun cu, “Sekarang aku belum menjadi anggota nanti sebentar akan. …jangan bicara soal ini! kau sendiri sudah tiba disini, tentu kau tahu tidak boleh sembarangan omong tentang persoalan itu, duduk dan menontonlah dengan tenang? kau akan paham sendirinya.”

Bimbang Koan San gwat dibuatnya, duduk menepekur sebentar, tiba tiba didengarnya suara gendrang dipukul bertalu talu, suasana seketika menjadi sepi dan hening, semua berdiri meluruskan tangan, wajah kelihatan tegang dan hikmat.

Thio Han cu ikut berdiri, dengan lirikan mata ia memberi isyatat kepada Koan San gwat supaya ia berdiri, terpaksa ia menurut. Diatas panggung batu besar ditengah lapangan berdiri dua baris anak anak kecil laki perempuan berseragam mewah dan perlente, salah seorang anak perempuan dengan nada melengking suaranya yang tinggi memberi pengumuman: “Liong hwa hwe dimulai, harap para hadirin berdiri menurut urutan masing masing supaya diabsensi!”

Hadirin bergerak serabutan tanpa suara dalam sekejap mereka sudah berkelompok sendiri sendiri terdiri dari tiga barisan.

Waktu Koan San gwat menjelajah pandang, tampak dalam barisan Sian pang ia hanya kenal Ouw hay ih siu pok iang cun saja. Demikian juga dalam kelompok Mo pang yang dikenal hanya Lok Heng kun dan Liu Jiu yang bertiga. Sementara Hwi thian ia ca Peng Kiok jin berada dalam Kui pang, Sip tha yu … yang kelihatan hanya si Rasul ungu Siau It ping.

Suara lengking anak perempuan itu terdengar pula: “Para pimpinan dari barisan silahkan keluar mengabsen anggotanya”

Tampak Go hay ci hang melayang turun dari luar lapangan dan berseru paling dulu dengan suara rendah kuat “Kecuali dua Ling cu yang tercantum, dan dua calon penggantinya, Sian pang hadir selurahnya!”

Anak perempuan itu bertanya pula “Calon penggantinya apa sudah tiba?”

Go hay ci hang menjawab “Dua orang tercoret untuk diganti, serta tiga calon yang mendaftarkan diri semuanya hadir!”

Anak perempuan itu menepukan tangan nya kebawah dari gombrong lengan bajunya mengepul segulung asap yang terhembus angin terus naik ketengah udara, lama kelamaan asap itu membentuk sebuah huruf “Sian”, seperti digantung ditengah udara layakanya asap itu berhenti tidak sampai buyar, warnanya hijau pupus.

Ki Houw mengenakan pakaian serba putih, sebuah tangannya masih tertekuk dan terikat, memasuki gelanggang dari jurusan lain, seirunya lantang: “Mo pang hadir seluruhnya!”

Seperti yang pendahulu, anak perempuan itu melepaskan segumpal asap warna merah yang mengepul tinggi menjadi huruf “Mo”

Terdengar Ki Houw berseru pula: “Pimpinan Mo pang mohon diberi ijin membuka ikatan benang merah, supaya dapat memimpin barisan menyambut kedatangkan para Sian cu!”

Tanpa bersuara anak perempuan itu mendongak kelangit, seolah olah sedang menunggu petunjuk, sekejap kemudian baru terdengar ia menjawab dengan suara bocah: “Ijin diberikan!”

“Terima kasih akan kemurahan hati Sian cu!” seru Ki Houw sambil membungkuk tubuh, air mukanya kelihatan lega.

Di waktu ia meluruskan badan pula tangan yang tertekuk itupun sudah turun lutut cuma tidak bisa lempang, mungkin karena tertekuk terlalu lama.

Dari luar lapangan sebelah samping meluncur masuk seorang perempuan berpakaian serba hitam, raut mukanya tertutup cadar hitam pula, dari rambutnya yang panjang serta porongan tubuhnya yang langsing gemulai tentu orang tahu bila dia seorang perempuan.

Sambil membungkukkan tubuh ia berseru : “Anggota Kui pang seluruhnya berjumlahsembilan puluh dua orang! Siap menunggu perintah !”

Anak perempuan itu mengerutkan alisnya: “Kenapa tidak dibikin genap seratus.”

Perempuan berkedok membungkuk lagi serta menjawab hormat: “Sulit mencari orang!”

Anak perempuan itu mendongak kelangit lagi, sebentar kemudian baru berkata: “Di ijinkan hadir, di perintahkan untuk bikin genap selekasnya.”

“Terima kasih akan kemurahan hati Sian cu!” perempuan berkedok itu menyahut riang.

Jantung Koan San gwat berdebar keras, pikirnya Liong hwa hwe ternyata sangat mengesankan, anak perempuan itu usianya masih kecil, latihan lwekangnya ternyata sudah mencapai tingkat tinggi. Hanya menepuk tangan mengeluarkan asap yang berkumpul sehingga tidak sampai buyar, jelas ia menggunakan ilmu khikang dari aliran lwekeh yang hebat. Di dalam sari hawa murni dari pusar disalurkan ke jalan darah Thian kim maka warnanya menjadi hijau. Kalau melalui urat darah dan dilandasi dari jantung mengepul warna merah. Sebalikanya kalau dikepulkan dari pori pori kulit maka warnanya berubah hitam.

Anak perempuan kecil yang berusia dua belas dapat membentuk tiga warna asap, benar benar tidak boleh dipandang ringan, setiap kali ia menghadapi kesulitan dan tidak dapat memberi jawaban lalu mendongak ke langit, menerima petunjuk, mungkinkah orang yang memberi petunjuk itu benar berada diatas awang awang yang diselimuti mega tebal itu?

Sedang ia bertanya tanya dalam hati, anak perempuan itu sudah berseru lantang ke atas langit “Harap para Hwe cu turun ke panggung memimpin upacara besar!”

Maka terdengarlah irama musik mengalun halus ditenagah udara, semakin tegang hati Koan San gwat. Sebab ia tahu bahwa gurunya termasuk salah satu Hwe cu, sebentar lagi ia bakal melihat beliau.

Awan tebal ditengah udara ini tiba tiba tersibak kesamping dan tampaklah sebuah lubang, dari lubang itu beruntun melayang turun empat orang badannya meluncur dengan lambat lambat saja, kain baju mereka melambai terhembus angin, seolah olah malaikat yang turun dari langit.

Sebagai seorang ahli segera Koan San gwat tahu bahwa ginkang keempat Hwe cu ini sudah mencapai tingkat yang paling sempurna, mereka kuat mengepos napas mengembangkan tubuh, seringan mungkin.

Keempat orang itu melayang turun pelan pelan, dikala hampir tiba diatas panggung, Koan San gwat membuka lebar matanya, ia hendak mencari gurunya diantara keempat orang itu, namun ia menjadi kecewa. Keempat orang itu pertengahan umur dua diantaranya mengenakan baju panjang warna hijau, wajahnya putih bersih, rambutnya dan jenggotnya masih hitam gelap, seorang yang lain mengenakan jubah merah, jambang hitam tebal, sikapnya kereng, seorang lagi mengenakan pakaian hitam, badannya kurus kering tanpa berjenggot…

Tokko Bing tidak ada diantara mereka, seluruh hadirin saling berbisik dan suasana rada ribut, agakanya hal ini diluar dugaan hadirin.

Anak perempuan itu segera membentak: “Hwe cu tiba dilarang ribut! Yang melanggar dihukum sesuai aturan !”

Seketika sirap dan tenang di bawah panggung, dua barisan anak kecil diatas panggung serempak membungkuk tubuh menunduk kepala, demikian jaga anak perempuan yang mengeluarkan perintah itu ikut membungkuk serta katanya : “Hamba beramai menyambut kedatangan para Hwe cu!”

Salah seorang laki laki baju hijau berseru : “Terima kasih!

Membikin repot Ling koh saja ?”

Anak perempuan yang dipanggil Ling koh tersenyum lebar iapun mengundurkan diri kesamping.

Semua hadirin dibawah panggung membungkuk tubuh serta berseru lantang : “Hormat kepada yang mulia para Hwe cu.”

Laki laki baju hijau menyambut pemberian hormat ini, sahutnya tertawa : “Terimakasih akan perhatian saudara saudara sekalian… sang waktu berjalan dengan cepat, tanpa terasa dua tahun sudah berselang, saudara baik baik saja selama berpisah?” terdengar pula menyahut bersama dari bawah panggung : “Berkat kebijaksanaan para Hwe cu!”

Dengan tujuan laki laki berbaju hijau menjelajah keseluruh lapangan, katanya: “Para sahabat lama dalam Liong hwa hwe kini sudah tidak lengkap lagi, patah tumbuh hilang berganti, beruntung para ketua yang sudah lanjut mangkat punya penerus, generasi muda jauh lebih perkasa. Demikian pula para sahabat yang baru saja menjadi anggota kulihat tidak kalah pula gagah dan Perwiranya, Losiu berani merasa beramat beruntung dan bersyukur pula !” Dari berbagai pelosok lapangan dibawah Panggung terdengar penyahut yang tidak rata: “Terima kasih akan perhatian Hwe cu !”

Laki laki baju hijau tertawa lebar, kata nya pula?”’Perempuan hari, ada sedikit perubahan, soalnya terjadi dalam keadaan mendadak sehingga Losiu belum sempat mengumumkan, adanya kesempatan ini baiklah kita saling beramah tamah satu sama lain, Ketua Hwa cu kali ini Ut ho Siang jin berhalangan hadir karena suatu keperluan,, terpaksa Losiu mengundang Kih Cu seng untuk menjabat sementara…”

Tiba tiba Koan San gwat berteriak : “Suhu pergi kemana?”

Semua hadiran melengak demikian juga laki laki baju hijau tercengang, sekilas, ia melirik dengan pandangan penuh tanda tanya karena tak tahu asal usul Koan San gwat. Anak perempuan yang bernama Ling koh maju berbisik dipinggir telingannya.

Baru sekarang laki laki baju hijau unjuk senyum lebar serta menyahut. “Tak lama lagi gurumu pasti akan datang, harap saudara sadar jangan banyak tanya supaya tidak mengganggu jalannya acara.”

Dengan tercengang Koan San gwat berdiri diam, laki laki baju hijau itu angkat tangan kembali bicara kepada semua hadirin: “Silahkan saudara saudara sekalian menempati tempat duduknya masing masing setelah perjamuan selesai Thian gwat thian dan para pimpinan Sian, Mo dan Kui harap naik kedepan pangung mulai mengadakan pembetulan serta koreksi terhadap barisan masing masing.”

Selesai bicara ia memberi tanda dengan lambain tangan, maka terdengarlah irama musik mengalun pula, seluruh barisan kembali menempati meja meja perjamuan kini tiada perbedaan tinggi rendah kedudukan, tua muda bergaul dan campur aduk menjadi satu, suasana mulai ramai dengan percakapan dan senda gurau.

Barisan anak kecil diatas panggung masih ditempatnya, sementara keempat Hwe cu sudah turun panggung dan berpencar dalam perjamuan dibawah, tampaklah pelayan pelayan kecil laki perempuan sibuk hilir mudik membawa arak menambah hidangan.

Lok Siau hong berada disamping Koan San gwat tak tahan berteriak : “Koan toako, kemanakah ibuku?”

Tanya menanti jawaban sekali berkelebat cepat sekali ia menyelinap kearah tempat Lok Heng kun tadi berada, baru saja Koan San gwat hendak menyusul, tahu tahu sebuah bayangan melayang di depannya, kiranya laki laki baja salah satu dan Hwe cu tadi menghadang jalan, sapanya : “Siheng! Jangan pergi, mari kita mengobrol!”

Memang Koan San gwat hendak tanya keadaan gurunya, sudeh tentu ia setuju akan ajakan orang cepat ia bersoja serta berkata : “Cianpwe silakan duduk, memang wanpwe ingin mohon sedikit petunjuk!”

Sambil tertawa lebar si baju hijau duduk, dikursi batu depannya, sementara Ling koh menghampiri sambil membawa poci arak dan dua cangkir serta mangkok dan sumpit, katanya berdiri disamping : “Hamba akan melayani!”

Laki laki baju hijau segera menjiwil pipinya serta katanya tertawa “Budak kecil, kau selalu mengawasi gerak gerikku, jangan kuatir, orang tua ini tidak akan sembarangan omong!”

Ling koh memicingkan mata, godanya: “Banyak bicara pasti bisa terlanjur omong, apalagi bila Lyacu kebanyakkan air kata kata (arak), mulut tentu usil, maka Liu Ih yu Sian cu menyuruh aku kemari menemani kau, untuk mengontrol mulutmu yang cerewet.” laki laki baju hijau kelihatan tertegun, “Siapa bilang tiada hubungan, Koan kongcu adalah tamu agung undangan Ih yu Sian cu, kalau tidak mana bisa dia duduk ditempat ini.”

“O,jadi begitu duduk perkaranya. San dara kecil, benar benar kejadian yang menggembirakan, selamanya Ih yu Sian cu tidak pernah pandang mata terhadap orang, namun kelihatannya begitu besar perhatian terhadap kau, betul betul….”

Ling koh segera mendengus, tukasnya “Lo yacu, kau belum minum arak! Kenapa sudah mulai ngelantur!”

Laki laki baju hijau meleletkan lidahnya, katanya : “Maaf!

Kakek tua ini kelupaan.”

Melihat sikap tua dan muda yang bebas tidak terikat ini Koan San gwat jadi heran, tapi perhatiannya sedang tertarik pada persoalan lain, karena Thio Hun cu yang duduk tidak jauh berkumpul sama Kih Cu seng, mereka bicara menunduk dan bisik bisik, kelihatannya sedang mendebak sesutu, laki laki jubah merahpun ikutpun dalam perdebatan ini….

Laki laki baju hitam menarik bajunya serta berkata “Saudara muda! Mari minum arak dan mengobrol, jangan kau melihati kunyuk kunyuk iblis itu, ular tikus satu sarang kerjaan apa pula yang mereka lakukan!”

Suaranya keras seperti sengaja biar didengar oleh pihak sana. Laki laki tua jubah mereka hanya tersenyum geli tanpa bersuara. Tapi Kih Ca seng marah, segera ia menanggapi : “It ouwheng! Kalau bicara harap kenal sopan santun!”

Laki laki baju hijau terbahak bahak, serunya : “Kih Cu seng! Jangan kau kira aku menghargaimu maka kuangkat kau sebagai pejabat Hwe cu, ketahuilah dalam pandanganku kau tidak lebih seperti anjing busuk yang sudah sekarat, jikalau Ui ho tidak pesan wanti wanti, aku lebih suka mengundang Ouw hay sibelut licin itu…” Agakanya Kih Cu seng marah luar biasa, sambil menggebrak meja ia berjingkrak bangun, hendak melaharak kemari.

Laki laki baju hijau segera mencegah : “Duduk, duduk, sekarang bukan saatnya berkelahi, nanti masih ada waktu, cuma aku kuatir kau tidak tahan pada detik terakhir, jangan lupa kau cuma pejabat sementara, kalau orang lain ingin naik tingkat dan melewati ujian harus berhadapn dulu dengan kau, bila seseorang dari Kui pang dapat merobohkan dari panggung akan kulihat kemana kau akan menyembunyikan mukamu yang lonjong itu!”

Kata kata “muka lonjong” diucapkan lebih keras, sehingga seluruh hadirin tertawa ramai.

Soalnya bentuk muka Ki Cu seng memang panjang menyerupai muka kuda, maka olok olokanya itu rada tepat sesuai keadaan.

Gusar Kih Cu seng bukan kepalang: “Plak” ia mengeprak meja teriakanya: “Lo…”

“Cepat laki laki jubah merah menariknya serta menarik: “Menghadapi urusan kecil tidak sabar dan menggagalkan urusan besar, tempat ini terlalu berisik, mari kita pindah tempat saja!” lalu ia tarik Kih Cu seng bersama Thio Hun cu ketempat lain.

“Kau tidak takut mereka berkelompok menghadapi kau !” “Takut apa!” jengek laki laki baju hijau dengan sombong,

“Menang aku sudah lama ingin membuat perhitungnan deagan para cecunguk iblis ini!”

Ling koh mengulurkan tangannya menekuk jari seperti huruf delapan, katanya lirih, “Kau tidak takut dia mencari gara gara kepada kau ?” Tergerak hati laki laki baju hijau setelah menghela napas, ia berkata pelan pelan “ Kau memang pintar mengolok … memang, aku tak kuat melawan mereka tapi, para Sian…”

Berubah kereng sikap Ling koh, tukasnya “Loya Cu, hati hatilah kau bicara!” walau nadanya kereng tapi suaranya lirih. Laki laki baju hijau terkejut, sesaat ia menjublek kalau katanya, “ Yah tak perlu banyak mulut lagi. Setan kecil tugasmu melayani kami makan minum, mana araknya, makananpun tidak kau hidangkan apa kami harus tangsel angin melulu…”

Ling koh terawa geli, sahutnya “Lo yacu ! kau adalah pentolan Sian pang, minum angin atau gegares batu adalah kebiasannmu!”

“Huh! pentotan Sian pang apa, Ui ho memang cerdik, ia minggat diam diam, menyerahkan tugas dan tanggungjawab ini kepada aku dan hwesio tua yang satu ngurus atas yang lain ngurus bahwa, begitu letih seperti kuda ….”

Ling koh cekikikan sambil mengisi cangkir mereka katanya: “Ya, Lo yacu ! Silahkan minum, kenapa cerewet saja!”

Baru sekarang laki laki baju hijau sempat angkat cawan mengajak Koan San gwat minum “Benar saudara muda, mari minum, lebih baik minum sampai mabuk!”

Koan San gwat angkat gelasnya, tanyanya “Harap tanya siapakah sebutan Cianpwe yang mulia?”

Sekali tenggak laki laki baju hijau habiskan araknya lalu menepuk kepala sendiri serta sahutnya, “Benar benar konyol aku ini, bicara sekian lama lupa perkenalkan diri! Aku bernama “Sian yu cu kang sian It sah ouw” nama ini terlalu panjang dan tidak enak diucapkan maka kalanya kusingkat menjadi Sian yu it ouw, lebih gampang lagi boleh panggil It ouw…”

Dengan ramah Koan San gwat mengiakan, kantanya tertawa : “Cianpwe setaraf dengan guruku mana boleh ….” Ling koh menimbrung “Lo yacu memang suka terus terang tanpa ikatan. Apa yang dia katakan turuti saja, kalau kau panggil dia Cianpwe, dia makin takkabur dan ponggah…”

It ouw terkekeh kekeh, ujarnya “Setan keparat, mulutmu memang pandai mengoceh olok olokmu tepat menggaruk jantungku yang gatal…”

Ling koh mengunjuk senyum penuh arti ejekanya : “Tempat yang paling gatal ditubuh Lo yaco, kukira siapapun tiada yang bisa menggarukanya…”

Merah muka It ouw, dengusnya merengut : “Setan kecil, kau harus dihajar,” sembari berkata tangannya menepuk pelan dipundak Ling koh, Ling koh cekikikan kesenangan, hampir saja ia terjatuh kedalam pelukan It ouw, tua muda berkelakar bebas dan riang seolah olah tiada perbedaan tingkat kedudukan.

Orang orang sekelilingnya berpaling sambil tersenyum manis dan geli mendengar banyolan yang lucu ini, tiada orang yang berani menimbrung, agakanya kedudukan mereka terpaut cukup jauh, diam diam Koan San gwat perhatikan tingkah laku orang disekitarnya. lalu bertanya kepada Ling koh

: “Siapakah adik cilik ini?”

Ling koh menunduk kepala, sahutnya : “Hamba adalah pelayan Sian cu saja.”

“Gendut cilik kenapa sungkan!” olok It ouw, “Kenapa tidak kau katakan sebagai lawan tangguh dari para malaikat.”

Angkat kepala Ling koh angkat tangan seperti hendak memukul kepala It ouw. Mendadak suara genta bertalu talu diangkasa, begitu keras bunyi genta itu sampai menusuk telinga dan menggetar hari semua hadirin, semua hadirin melongo dan menghentikan makan minum serta percakapan mereka, semua menengadah ke angkasa. It ouw tertegun katanya : “Kenapa King sian ciong (tanda bahaya) bisa bergema?”

Kedua lengan baju It ouw mengebas ke bawah laksana burung kuntul badannya melejit menembus mega, disusul laki laki tua jubah merah serta Kih Cu seng dan yang terakhir laki laki kurus tua berpakaian hitam itu gerak badan mereka enteng seperti meteor meluncur dengan gaya yang indah.

Kontan Koan San gwat berseru memuji : “Bagus ! Ling hun sin hoat seperti itu sulit dicari tandingan dalam dunia ini…..”

Ling koh juga keliharm gelisah dan was was, kepalanya mendongak keangkasa dengan harap harap cemas, setelah keempet Hwe cu itu naik keatas gema genta berhenti namun orang orang di bawah lantas dicekam kesunyian yang menekan sanubari setiap orang.

Melihat keadaan orang yang gugup itu, berkatalah Koan San gwat “Adik cilik! Kenapa kau tidak ikut naik melihat keadaan di sana ?”

Ling koh memonyongkan mulut kata nya “Hari ini adalah pembukann pertemuan besar, Thian gwat thian menjadi daerah terlarang, hanya para Hwe cu yaag diijinkan naik kesana…”

Koan San gwat tahu aturan, aturan disini sangat keras maka iapun tidak berkata lebih lanjut.

Setelah berpikir sebentar berkatalah Ling koh “Ah, Kau saja yang bawa aku keatas mau tidak?”

Koan San gwat terkejut, katanya : “Kau sendiri tidak boleh, apalagi aku?”

Ling koh malah menggeleng, ujarnya “Tidak jadi soal kau belum jadi anggota, jika kau naik belum terhitung melanggar larangan, dan lagi Ih yu Sian cu pasti akan membela dan melindungi kau. Kau boleh lari di muka aku pura pura mengejar kau tentu kita bisa sama sama naik!” Ling koh makin gopoh, katanya “Tentu bisa, tingginya cuma dua puluh tombak, di balik awan ada tempat berpijak, walau kau tidak mampu lompat setinggi itu nanti aku bantu kau !”

Mana Koan San gwat mau dibantu anak kecil, cepat ia gentakkan kedua lengan laksana bangau melejit badannya terbang menjulang tinggi ketengah awan, kontan terdengatlah seruan ramai diseluruh lapangan.

Awan yang bergulung gulung itu ternyata hanya selapis saja, begitu badan menembus masuk, maka ia dihadapi sebuah puncak yang lebih tinggi, begitu kakinya berhasil berpijak pada sebuah batu menonjol, sementara Ling kohpun sudah menyusul tiba diatas ngarai dan tebing tinggi itu tiada kelihatan bayangan seorangpun juga.

“Sebelah kanan “ ajak Ling koh lirih sambil menarik lengannya, “Ikut aku!”

Tubuh kecil itu meleset terbang bagaikan meteor dan berloncatan segesit kera, Koan San gwat berkeringat mengintil dibelakangnya hampir saja jantungnya copot dari rongga dadanya saking tegang dan gugup.

Kiranya tempat berpijak Koan San gwat adalah puncak runcing sebuah batu yang menonjol sendirian di tengah awan, disebelah dengan mega tebal bergulung gulung, beruntun berjajar dan tersebar tidak teratur puluhan puncak puncak gunung ditengah awan itu, puncak runcing itu paling besar hanya sebesar kepalan tangan, jarak satu dengan yang lain kira kira ada puluhan tumbak.

Untung sejak kecil Koan San gwat sudah mendapat pupuk dasar ilmu kepandaian yang cukup hebat dibawah gemblengan gurunya, jangan kata harus berdiri dan berloncatan ditempat tinggi dan gunung yang begitu berbahaya, hembusan angin dahsyat di tengah ombak merah yang bergelombang itu cukup melempar tubuh segede gajah tanpa bekas. Karena Koan San gwat tidak sempat menikmati pemandangan alam yang menakjupkan ini, yang terpikir hanyalah mengatur napas menentramkan gejolak jantungnya, belum lama ia berhenti, dilihatnya Ling koh sudah berdiri dibawah sebuah pohon besar sambil meleletkan lidahnya kearah dirinya, katanya “Maaf Koang kongcu! Aku terburu napsu lupa memberitahukan kepada kau bahwa aku berada dibelakangmu melindungi kau, untunglah aku dapat tiba disini dengan selamat, bila sampai terpeleset dan jatuh kebawah sana, wah aku bakal menjadi orang yang paling berdosa didunia ini…”

Karena godaan ini muka Koan San gwat merah mau malu, ujarnya tertawa “Adik cilik sungguh hebat kau, paling tidak aku lebih lama belajar silat sepuluh tahun dari kau, tapi meihat Ling khong hwe toh yang kau lakukan tadi, sungguh aku harus malu diri…”

Ling koh mengedipkan mata, sahutnya : “Jangan kau agulkan diriku, jalan ini setiap hari sudah biasa kulewati, sudah tidak perlu dibikin heran atau aneh lagi, adalah kau sendiri baru pertama kali ini, namun bisa bergerak begitu lincah dan cekatan, para kakek tua dari barisan Sian pang itu cuma beberapa orang saja yang berani naik kemari, tidak kalah heran In yu Sian cu menghargai dirimu….”

Koan San gwat tidak ingin membuang waktu, cepat ia bertanya “Dimana mereka berada?”

“Didepan itulah!” sahut Ling koh menunjuk kedepan, “Aku sedang menunggu kau menunjuk jalan!”

Koan San gwat melengak, katanya. “Apa aku yang harus menunjuk jalan?”

Ling koh cekikikan, sahutnya: “Aku mengejar kau masa yang mengejar lari didepan.”

Baru sekarang Koan San gwat tahu bahwa sebenarnya bocah ini takut dihukum karena melanggar larangan, maka dengan tertawa ia berkata “Baiklah aku berada didepan kuharap kau memberi petunjuk dari belakang, supaya aku tidak kesasar jalan!”

“Tidak akan salah, didepan hanya terdapat sebuah jalan datar!”

Dilain saat Koan San gwat melesat kedepan, setelah melewati beberapa puncak, tampak depan terdapat sebuah hutan pohon siong tumbuh rimbun dan tinggi menembus langit di tengah hutan ini terdapat sebuah jalan liku liku, karena tiada jalan lain dia terus memerjang kerah sana, cukup lama enam lompatan ia sudah menerobos masuk, tiba tiba didengarnya Ling Koh berteriak memperingatkan dia: “Awas atas …”

Koan San gwat segara menghentikan langkanya, namun dari atas kepalanya terasa samplokan angin yang menindih berat, dari dia sosok beyangan putri, dalan keadaan gawat dan tidak siaga belum lagi ia melihat jelas benda apa secara reflek kedua tangannya memukul kearah dua bayangan putih itu.

Siapa nyana kekuatan terjangan kedua bayangan putih itu ternyata begitu bear dan dahsyat, kontan ia merasa telapak tangannya luka kesakitan, kontan ia terdorong mundur dan roboh terguling ditanah, maka terdengarlah bayangan putih itu berpekik panjang terus melambung lebih tinggi ketengah angkasa.

Begitu melejit dan menjejakan kakinya cepat sekali Koan San gwat sudah melompat berdiri, baru sekarang ia tahu bahwa yang menyerang dirinya barusan adalah sepasang burung bangau yan teramat besar, keduanya berputar putar ditengah udara siap menukik dan menyerang dirinya pula.

Dari belakang terdengar Ling koh memaki bengis: “Binatang kurang ajar! Dia adalah tamu agung undangan Ih yu Sian cu, kalian sudah bosan hidup ya, berani melukai dia!” Terdengar kedua burung bangau itu berpekik panjang hinggap di pucuk pohon siong yang tertinggi. Lingkoh menghampiri serta bertannya penuh perhatian “Koan kong cu, kau tidak terluka bukan?”

Karena pertanyaan ini baru Koan San gwat sadar akan rasa sakit di kedua telapak tangannya yang belepotan darah, kiranya tangannya sudah berlobang besar dan darah mengalir deras, tersipu sipu Ling koh membuka tali pinggangnya untuk membalut luka luka itu, katanya dengan rasa menyesal : “Maaf!

Aku lupa beritahu kepada kau…”

Koan San gwat merasa heran dan aneh katanya : “Cuma dua ekor binatangpun ternyata begitu lihay…”

Sahut Ling koh sambil membalut luka nya “Untung lwekangmu cukup tangguh, kalau tidak dibawah serangan Lui thing It kip besi bajapun dicakar hancur olehnya…”

Tengah mereka bicara, sesosok bayangan melayang tiba, tahu tahu Ih yu Sian cu sudah berdiri dihadapan mereka, begitu melihat Koan San gwat ia melengak dan katanya heran “Bagaimana kau bisa naik kemari, terluka lagi…”

Bergegas Ling koh melangkah mundur sambil membungkuk, sahutnya: “Koan kong cu terluka oleh cakar Lui ji…”

Lekas Liu Ih yu melangkah maju membuka balut, dengan seksama ia periksa luka luka itu, lalu dari dalam kantong bajunya mengeluarkan sebutir pil warna merah terus remas hancur dan dipoleskan pada luka lukanya.

Koan San gwat tidak sabaran, katanya : “Sian cu luka sekecil ini tidak menjadi soal! Bagaimana dengan guruku…”

Liu Ih yu tidak menjawab pertanyaan malah mendelik dan berkata bengis kepaaa Ling koh “Goblok kau! Besar nyalimu berani bawa dia naik kemari!” Ling koh tidak berani menjawab, cepat Koan San gwat yang bicara, sahutnya “Bukan urusannya, aku sendiri yang naik kemari.”

Liu Ih yu mendengus hidung, katanya pula kepada Ling koh

: “Apa orang orang di bawah itu sudah mati semua, kenapa tidak ada yang merintangi….”

Baru sekarang Ling koh menjawab dengan muka cemberut: “Gema King sian ciong, terlalu mendadak, sehingga semua orang tidak memperhatikan dia, gerakan Koan kongcu teramat cepat lagi, terpaksa hamba mengejar di belakangnya, tapi tak berhasil menyusulnya…”

Sekilas Liu Ih yu melirik ke arah Koan San gwat, katanya : “Kau cukup hebat, bisa melesat terbang melewati lautan mega….”

Ling koh menimbrung “Kepandaian Koan kongcu amat tingg, di bawah serangan Lui thing it kip ia hanya terluka sedikit ditangan nya!”

“Apa gunanya!” dengus Lio Ih yu, “Kalau aku sedikit terlambat tiba, jiwanya tidak akan tertolong lagi….”

“Mana mungkin? Hamba segera menyusul datang….”

“Kau mapu apa ?” semprot Lio Ih yu gusar, “Kau tahu cakar Lui ji sudah dipolesi racun yang amat jahat.”

“Kenapa?” Ling koh kelihatan lebih kaget. “Apa…”

“Banyak mulut lagi !” teriak Lio Ih yu gusar, “Kecil kecil besar nyalimu, kau sangka permainanmu dapat mengelabui aku… jelas kau sendiri yang ingin naik, kau seret Koan kongcu kemari alasan belaka….!”

Ling koh berlutut dan minta ampun : “Harap Sian cu tidak, hamba sangat kuatir…”

Tiba tiba Liu Ih yu menghela napas, ujarnya : “Sudahlah! Kedatanganmu memang diperlukan, lekas kau putar kebelakang, pergilah kekamar Toa suci dan ambillah Pek hong kiam kemari, hati hati jangan sampai terlihat orang lain…”

Berubah hebat air muka Ling koh. Cepat Liu Ih yu membentaknya pula “Masih ayal ayalan lagi, kalau terlambat kita semua…!”

Pucat muka Ling koh, tersipu sipu ia berlari bagai angin lesus.

Dengan heran Koan San gwat bertanya “Apakah yang telah terjadi, apakah ada sesuatu ?”

“Bukan hanya perubahan belaka, huru hara telah terjadi, semua gara gara guru mestikamu itu membuat celaka orang lain… “

Dengan berjingkrak kaget Koan San gwat bertanya “Bagaimana dengan guruku?”

“Dia tinggal pergi habis perkara, malah menipu Toa suci ikut dia pergi, perkara besar ini ditinggalkan untuk kami hadapi sendiri…”

Koan San gwat semakin heran dan kejut lekas Liu Ih yu mengulapkan tanganya katanya : “Aku tiada tempo menjelaskan, lekas kesana! Setindak terlambat mereka akan menyergap dan mengeroyok Ji suci…”

Sambil menggosok tangan Koan San gwat berkata “Obat Siancu sungguh mustajab, sekarang sudah tidak sakit lagi..” Lega juga Liu Ih yu, katanya “Syukurlah. Mungkin nanti kau harus menjaga keselamatan dirimu sendiri!”

“Sebetulnya apakah yang telah terjadi di atas?” “Sebentar kau akan tahu dan jelas duduk perkaranya!”

Sembari bicara mereka melesat terbang kedepan, langkah Lu Ih yu seperti berlenggang seenakanya, namun Koan San gwat harus mengerahkan tenaga baru bisa mengejarnya, setelah membelok dan melewati sebuah tanah lapang berumput, didepan terlihat pintu bertuliskan “Ci bi sian hu” tulisan warna kuning emas mengkilap, dari kejauhan sudah terlihat jelas.

Di depan deretan rumah gedung terdapat sebuah tanah lapang luas, dua kelompok rombongan orang saling berhadapan, rombongan disebelah kanan jumlahnya sedikit, hanya seorang nenek tua beruban dan laki laki baju hijau yang menyebut namanya sebagai Sian yu it ouw.

Kelompok lain terdiri berbagai bentuk manusia. Koan San gwat hanya kenal Kih cu seng, laki laki tua jubah merah dan si kurus berpakaian hitam, selain itu terdapat dua orang berpakaian putih seorang tua muda dan seorang perempuan jelek berpakian hitam.

Ditengah kedua kelompok dua orang berpedang panjang sedang beradu kepandaian, seorang perempuan pertengahan masih kelihatan cantik molek, lawannya adalah laki laki pertengahan umur berpakaian merah, mukanya kelihatan cakap dan kedua matanya bersinar terang.

Melihat kedatangan Koan San gwat, It ouw memapak serta bertanya : “Lui thing memberi peringatan, apakah yang teijadi?”

“Bukan apa apa!” Liu Ih yu menjelaskan “Dia ini naik kemari.”

It ouw melirik Koan San gwat, lalu berkata sambil menghela napas: “Ai! saudara kecil, sunguuh kebetulan keributan disini dapat kau saksikan. Kalau terjadi sesuatu nanti mungkin kau akan menjadi sahabatku di tengah memaju akherat. Sebenarnya kuharap kau tidak kemari kali ini.”

Koan San gwat heran, tanyanya “Lo ouw Sebenarnya apakah yang telah terjadi? Katanya guruku sudah pergi apa benar?” “Benar! Dia memang pintar, akhirnya ia insaf dan tahu persoalannya kelana sesuka hati tanpa ada yang melihat dirinya. Tapi tindakannya ini justru mempersulit orang lain, entah kenapa dia pergi dalam detik yang gawat ini.”

Liu Ih yu uring uringan, semprotnya : “Lo ouw kau cerewet apa. Setelah aku pergi, beberapa gebrak sudah mereka lewatkan?”

It ouw menyahut:” Baru tiga jurus, kelihatannya masih perlu makan waktu lama …”

Liu Ih yu manggut mangut tanpa bersuara dengan seksama ia ikuti jalannya pertempuran, sebetulnya masih banyak ingin Koan San gwat tanyakan, lekas It ouw mencegah dengan gerakan mulut keruan Koan San gwat melengek terpaksa ia batalkan niatnya dan menonton pertempuran di tengah lapangan.

Gerak gerik kedua lawan sangat lambat, setiap tindak langkah mereka sangat hati hati dan diperhitungkan kadang kala sepihak melancarkan jurus ilmu pedang, sementara pihak lain menangkis atau balas menyerang pula dengan tipu jurus yang menakjubkan serangan menyerang dilakukan dengan gerakan lambat namun penuh perhatian dan tumplek penuh semangat.

Bagi orang yang pasti anggap mereka sedang latihan atau senda gurau belaka. Akan tetapi para penonton disekelilingnya kelihatan lebih tegang dari kedua orang yang sedang betempur. Malah Koan San gwat juga merasa gatal dan berkesan. Bagi pandangan seorang akhli akan tahu bahwa lawan ditengah gelanggang sedang mengadu jiwa dengan mainan ilmu pedang tingkat tinggi, bagi tokoh mempalajari ilmu pedang pasti tahu, semangkin lambat gaya pertempuran berarti semangkin mantap dan tinggi kepandaian ilmu pedang mereka, apa lagi adu kepandaian macam kerbau tua merusak keren ini jauh lebih membuktikan bahwa kepandaian mereka sudah mencapai tingkat tinggi. Setiap jurus pedang yang dilancarkan pelan pelan itu sebetulnya mengandung banyak perubahan yang tidak bisa dihitung dan dilukis dengan kata kata, tapi cara mematahkan serangan lawan ini pun tidak kalah pula lihai dan hebatnya.

Dati situasi yang dihadapi ini Koan San gwat menduga perempuan itu pasti salah seorang suci Liu Ih yu, ini berarti diapun salah satu dari Thian gwat thian yaitu dewa diantara dewa ! Sebalikanya lawan itu kalau bukan iblis diantara ablis tentu setan diantara setan namun ia lebih condong bahwa laki laki pakaian merah itu adalah iblis diantara iblis, karena dalam beberapa kejap saja ia menghadiri pertemuan besar ini ia sudah dapat menyelami sampai dimana batas perbedaan antara dewa, iblis dan setan dalam Liong hwa hwe ini. Para anggota Sian pang mengadakan pakaian hijau, sebalikanya Tokoh Kui pang mengenakan pakaian hitam. Hanya orang Mo pang mengenakan warna merah atau putih.

Laki laki pertengahan ini mengenakan pakaian merah tentu dia pimpinaan Mo pang kalau tidak masa ada harganya berhadapan dengan tokoh tertinggi dari Thian gwat thian. “Bukankah tujuh anggota dari Thian gwat thian adalah Suheng moay? Bagaimana mereka, saling bentrok dan berkelahi sendiri? Malah dari gaya serangan kedua pihak jelas diketahui bahwa mereka bertempur mati matian…” Demikian Koan San gwat menduga duga dan curiga, namun dengan seksama matanya mengikuti jalannya perkelahian ini.

Dari pertempuran pedang yang hebat ini Koan San gwat mencangkok banyak inti dari permainan mereka, hingga lubang permainan ilmu silat sendiri bisa ia tambal dan sempurnakan dengan menyeluruh, jelasnya dia dapat menghayati kepandaian silat sendiri dari hasil serta perkelahian orang lain. Sementara pertempuran sudah terjalan kira kira setengah jam, tapi kedua pihak baru melancarkan lima enam jurus serangan pedang. Lambat laun Koan San gwat dapat memyaksikan bahwa laki laki pakaian merah itu lebih unggul sedikit, karena setiap jurus perubahan ilmu pedangnya lebih banyak menyerang dari pada menjaga diri, akan tetapi pertahanan pihak perempuan itupun cukup tangguh dan rapat, betapapun gencar dan hebat rangsakan pedang lawan, sedikitpun tidak, berdaya mengalahkan dia.

Dengan gugup terdengar Lui In yu berseru : “Suci! Kenapa kau tidak gunakan Tay lo jit sek saja?”

Belum sempat perempuan itu memberi jawaban, laki laki pakaian merah itu menjawab tersenyum “Tay lo.jit sek adalah inti dari ilmu pedang, tapi dibawah permainan ka lian, akupun anggap sepele saja. Kecuali Lim Hiang ting, tidak pernah memikirkan lawanku yang kedua!”

Liu Ih yu mendengus gusar, serunya marah marah : ‘“Cia Ling Im ! Jangan takabur, Siu lo su tay sek kebanggaanmu itu kapan dapat menandingi kami “

Sekarang Koan San gwat tahu lebih lanjut bahwa laki laki berpakaian merah itu bernama Cia Ling Im. Terdengar orang itu menjawab sambil menyengir “Soalnya aku tidak ingin Lim Hiang ting tahu titik kelemahanku maka tidak pernah kumainkan sampai puncak kemampuanku, Lim Hiang ting sudah merasa, kalau kalian penasaran boleh silahkan lancarkan Tay lo jit sek, aku berani tanggung dalam tiga jurus Siu lo su sekku, kalau dia tidak melepaskan pedangnya, aku terima dipotong kepala, bagaimana? Li Sek hong! Kuanjurkan kau menyerah dan serahkan Cu sian ling kepadaku!”

Perempuan lawannya itu bernama Li Sek hong, kelihatan napasnya sudah memburu, dengan kertak gigi ia menjawab “Cia Ling Im Bakan satu dua hari kau mengincar senata pusaka itu. Kalau Cu sian ling terjatuh ketanganmu, apakah kami bisa hidup aman?” Cia Ling Im gelak gelak, serunya “Mengingat kita masih terhitung saudara seperguruan, aku tidak akan bunuh kalian, namun sedikit derita dan sengsara sih terpaksa kalian resapi bersama,”

“Cis!” Li Sek hong berludah, makinya bengis : “Jangan mimpi disiang hari bolong, lebih baik aku mati di bawah pedangmu dari pada kau hina.”

“Mana boleh hal ini dianggap menghina! Hubungan kita sudah puluhan tahun, lagi bukan sekali ini saja bukan, dulu sebelum ini bukankah kita baik baik saja? Begitu Suhu meninggal, Lim Hian ting pegang kuasa, maka kaitan lantas tumbuh diatas kepala….”

“Tidak malu kau menyinggung persoalan lama ….?” bentak Li Sek hong gusar.

“Kenapa malu menyinggungnya, dulu ada Suhu yang menekan, sehingga aku tidak berdaya menghadapi kalian dengan seluruh perhatian dan kekuatan, sejak detik ini aku berjanji tidak akan bikin kalian kecewa…..”

-oo0dw0oo-