Naga Kemala Putih Bab 21. Duel (Tamat)

Bab 21. Duel (Tamat)

Perubahan alam merupakan hal yang paling sukar diramalkan, apalagi perubahan cuaca, boleh dibilang jauh lebih rumit ketimbang perubahan watak manusia.

Matahari yang selama ini bersinar cerah di Bukit Singa, tiba- tiba berubah menjadi redup dan gelap, perubahan itu terjadi di saat Tong Ou dan Bu-ki siap bertarung.

Menyusul kemudian awan gelap menutup seluruh angkasa, menghalangi cahaya matahari, membuat suasana jadi gelap remang- remang. Angin mulai berhembus kencang, udara pun turut terasa lembab, pertanda sebentar lagi akan turun hujan angin.

Hembusan angin kencang yang menderu-deru membuat ujung baju kedua orang yang sudah berdiri berhadapan itu berkibar kencang.

Yang tidak terpengaruh oleh hembusan angin kencang itu hanya tubuh mereka berdua, berdiri tegar bagaikan Bukit Singa, serta pedang yang berada dalam genggaman mereka.

Pedang yang digunakan untuk menentukan mati hidup lawan, pedang yang saling mengancam dada lawan, keduanya sama sekali tak bergerak kendati dihembus angin yang lebih keras.

Tangan-tangan yang menggenggam pedang itu nampak begitu kokoh, nampak begitu siap untuk menghabisi nyawa lawannya. Tangan kokoh yang menggenggam pedang kokoh, bagi

Tong Ou merupakan lukisan yang sangat tepat dan nyata.

Tapi bagi Bu-ki keadaan ini jauh berbeda, gambaran yang keliru bagi saat dan tempat seperti ini.

Sebab dia sedang marah, dia sedang dicengkeram nafsu. Orang yang sedang marah pasti rapuh pertahanannya, orang yang dipengaruhi nafsu genggaman pedangnya pasti tak kokoh.

Ketika ini terlihat oleh Tong Ou, diam-diam ia merasa terperanjat. Bukan karena ia telah menemukan rahasia Bu-ki, tapi ia mempunyai pandangan lain terhadap sikap Bu-ki dalam menghadapi lawan.

Dia tak menyangka bahwa dalam keadaan marah dan penuh nafsu, Bu-ki bisa bersikap begitu tenang selagi menghadapi lawan, kemampuan semacam ini jauh di luar dugaan dirinya.

Bu-ki sendiri tercekat ketika menangkap perasaan kagum yang melintas di balik mata Tong Ou, dia segera sadar kalau dirinya telah melakukan kesalahan, dia pun mengerti kenapa Tong Ou menampilkan perasaan kagum terhadapnya.

Dia tak boleh membiarkan Tong Ou menaruh perasaan kagum terhadapnya, dia ingin Tong Ou memandang enteng dirinya, dengan begitu dia baru memperoleh kesempatan untuk menemukan titik kelemahan Tong Ou dan mengalahkannya.

Maka ia segera berganti sikap.

Tangannya mulai melakukan gerakan gemetar, dia sengaja menggetarkan perlahan tangannya, ia sadar dengan kemampuan Tong Ou, tidak sulit baginya untuk melihat gerakan itu. Benar saja, Tong Ou segera melihatnya, tanpa terasa ia tertawa dingin. Rupanya Bu-ki tidak setenang seperti yang dibayangkan semula.

Walaupun Tong Ou sudah menangkap kalau tangan kanan Bu-ki mulai gemetar, namun dia tidak segera turun tangan. Saat ini bukan saat yang tepat untuk turun tangan, peluang terbaik masih harus ditunggu.

Dia harus menunggu lagi.

Bu-ki diam-diam mengagumi sikap Tong Ou, musuhnya benar-benar pandai mengamati lawan dengan kepala dingin. Tidak turun tangan secara sembarangan dan hanya menyerang jika menganggap saatnya telah tiba, manusia semacam ini sangat jarang dijumpai dalam dunia persilatan!

Tangan Bu-ki bergetar perlahan sementara hatinya bergetar sangat keras, sebab dia harus segera menemukan cara baru untuk menghadapi ketenangan Tong Ou, bila bertahan terus dalam posisi seperti ini, lambat laun dialah yang akan dirugikan.

Ia berencana memancing musuhnya agar melancarkan serangan dengan melakukan satu gerakan.

Mendadak ia menjerit sekeras-kerasnya, seakan-akan sedang meluapkan seluruh kekesalan hatinya, kemudian sekaligus dia melepaskan tigabelas tusukan pedang ke tubuh lawan.

Ilmu pedang yang ia gunakan saat ini adalah jurus pedang yang ia dapat dari ayahnya.

Sesuai dengan nama Tayhong-tong, ilmu pedang ini dinamai Tayhong-capsah-si atau Tigabelas Jurus Ilmu Pedang Angin Topan.

Ketigabelas tusukan yang dilontarkan Bu-ki itu merupakan jurus pertama dari Ilmu Pedang Angin Topan yang disebut Tayhong- kihun (Angin Topan Bermunculan). Dalam ilmu pedang ini, setiap jurus serangannya terdiri dari tigabelas gerakan, gerakan yang satu lebih cepat dari gerakan sebelumnya, ibarat disapu angin topan, serangan saling susul secara bertubi-tubi.

Tong Ou sama sekali tidak melancarkan serangan balasan, dia mengambil sikap mempertahankan diri. Sambil mengincar datangnya ancaman, tubuhnya mengegos ke kiri, menghindar ke kanan, dengan gampang dia lolos dari ketigabelas tusukan itu.

Selesai melancarkan serangan pertama, Bu-ki mundur selangkah ke belakang disusul kemudian tubuhnya menerjang lagi ke depan. Kali ini dia melancarkan serangan dengan menggunakan jurus kedua, Siahong-si-ih (Angin Serong Hujan Gerimis).

Serangan ini pun terdiri dari tigabelas gerakan, kali ini yang diarah adalah tigabelas jalan darah penting di tubuh lawan.

Sesuai dengan nama jurusnya, Angin Serong Hujan Gerimis, setiap jurus serangan yang dilancarkan hampir semuanya bergerak menyerong, dari atas atau dari bawah, dari kiri atau dari kanan hampir semuanya menusuk jalan darah lawan secara miring.

Kali ini Tong Ou tidak berusaha menghindar lagi, dalam kenyataan memang tidak mungkin bagi seseorang untuk berkelit terus-terusan menghadapi datangnya ancaman.

Benturan nyaring bergema silih berganti, dalam waktu singkat pedang mereka berdua sudah saling bentur dua-tigabelas kali.

Inilah ciri khas ilmu pedang Keluarga Tong, dalam setiap gerak serangannya mereka pasti akan berusaha membentur senjata lawan secara keras melawan keras!

Kepandaian silat yang paling diandalkan Keluarga Tong memang bukan ilmu pedang, andalan mereka yang paling ampuh justru senj ata rahasia.

Ilmu pedang Keluarga Tong bukan ilmu pedang yang bertarung jarak jauh, tapi lebih cocok untuk pertarungan jarak dekat karena ruang lingkupnya juga sangat kecil.

Ruang lingkup yang kecil ditambah seringnya terjadi benturan senjata mendatangkan keuntungan yang luar biasa bagi orang-orang Keluarga Tong.

Sebab mereka bisa memanfaatkan kedekatan dan keberisikan itu untuk melepaskan senjata rahasia.

Untuk menghindari datangnya serangan senjata rahasia dari jarak dekat sudah merupakan satu urusan yang sulit, terlebih jika orang yang melancarkan serangan adalah jago dari Keluarga Tong yang termashur akan keampuhan ilmu am-ginya!

Tapi Bu-ki sama sekali tidak jeri, dia bahkan menerjang terus tanpa berhenti, sambil menyerang, tiada hentinya pedang mereka saling beradu.

Dia tahu, jika Tong Ou hendak melukainya dengan senjata rahasia, ia sudah melakukannya sejak tadi dan tak perlu menunggu sampai sekarang.

Dalam hal ini Bu-ki merasa sangat yakin. Tong Ou sendiri juga tahu kalau lawannya sadar kalau dia tak akan melukainya dengan senjata rahasia, namun dia memang tidak takut menghadapi Tio Bu-ki.

Kecuali yakin dengan kemampuan silat sendiri, dia pun berpendapat bahwa Bu-ki saat ini sedang pada saat yang paling tidak menguntungkan baginya.

Bagaimana tidak? Baru saja dia telah salah membunuh pamannya, Sangkoan Jin!

Oleh sebab itu Tong Ou memutuskan untuk menghadapi lawannya dengan mengandalkan ilmu pedang, dia tak akan mempergunakan senjata rahasia.

Tentu saja kecuali ilmu pedang Bu-ki membuatnya keteter sehingga jiwanya terancam! Kalau tidak, ia enggan menggunakan senjata rahasia.

Ketika Bu-ki selesai melancarkan serangan dengan jurus keduanya Siahong-si-ih, ia segera sadar kalau dirinya keliru besar.

Dia tidak seharusnya menggunakan dua jurus pertama dari Ilmu Pedang Angin Topan, sebab kedua jurus serangan ini terlalu lembut, kelewat lamban, setidaknya jika dibandingkan dengan jurus- jurus berikutnya.

Saat ini pikiran dan emosinya sedang labil, dia butuh pelampiasan, mana mungkin melancarkan serangan dengan jurus yang lembut?

Dia perlu jurus serangan yang ganas dan kalap, kalau perlu jurus-jurus serangan yang mirip orang nekad!

Dengan cepat dia merubah cara bertarungnya, dengan jurus kesebelas Honghong-ci-ih (Angin Puyuh Hujan Deras) ia mendesak musuhnya habis-habisan.

Di mana hawa pedangnya menyambar lewat, terdengar suara deru angin tajam menggelegar, daun dan ranting pohon yang berada di sekeliling tempat itu ikut beterbangan dan gugur ke tanah.

Semua gerak serangannya mirip serbuan orang kalap, seakan-akan ada manusia gila yang sedang melampiaskan semua amarah dan dendamnya, menyerang secara ganas, mengancam secara brutal.

Angin puyuh membuat ujung baju Tong Ou berkibar kencang.

Hujan badai menyambar ke sekujur badan Tong Ou, menusuk jalan darahnya. Tong Ou memang hebat! Biar diterpa angin puyuh dan hujan badai, ia sama sekali tak bergerak, tubuhnya tetap berdiri kokoh bagaikan batu karang.

Pedang yang berada di tangannya bergerak cepat bagai titiran angin, membendung semua serangan yang datang bagai air bah itu.

Tigabelas kali benturan nyaring menggelegar di angkasa, kemudian semuanya selesai.

Angin telah berhenti berhembus, hujan pun sudah mereda.

Peluh sebesar kacang kedele membasahi jidat Bu-ki. Tapi paras mukanya merah membara, merah bagaikan orang yang sedang murka.

Penampilan macam ini memang disengaja oleh Bu-ki.

Sewaktu menggunakan jurus serangan tadi, ia sengaja mengerahkan tenaga dalamnya dan memaksa wajahnya berubah jadi merah membara, dia ingin musuhnya salah menduga, salah mengira, dia sedang mencapai puncak kemarahannya.

Menyusul kemudian ia segera mengeluarkan jurus serangannya yang keduabelas, Pohong-po-ih (Angin Topan Hujan Dahsyat).

Kecepatan gerak serangannya kali ini jauh di atas kemampuan jurus kesebelas tadi, sementara arah serangannya pun sama sekali berbeda.

Kalau dalam serangannya tadi dia hanya merangsek maju dari sisi depan musuhnya, maka pada jurus serangannya kali ini dia menyerang masuk dari tigabelas arah yang berbeda, tigabelas arah yang tak menentu jurusan dan sasarannya.

Terhadap gerak serangan ini tampaknya Tong Ou seperti sangat mengenal dan hapal, sebab ia bergeser mengikuti gerakan tubuh Bu-ki, ke mana pun anak muda itu bergerak, dia selalu bergeser tepat di hadapannya dan “Tringg!” diiringi dentingan nyaring selalu berhasil membendung datangnya ancaman.

Yang lebih lihay lagi adalah ketika Bu-ki sengaja membuka sebuah titik kelemahan kecil di saat melancarkan serangannya yang keduabelas, ternyata secepat sambaran kilat Tong Ou sudah menerjang masuk sambil menghadiahkan sebuah tusukan ke tubuh lawan melalui lubang kelemahan itu.

Untung saja Bu-ki memang sengaja berbuat begitu sehingga jauh sebelumnya dia sudah mempersiapkan cara untuk mengatasinya. Meski begitu, Bu-ki sendiri tetap belum berhasil menemukan peluang untuk melancarkan serangan balasan.

Maka sadarlah anak muda ini bahwa dia tak boleh memancing musuhnya dengan sengaja membuka lubang kelemahan, untuk mengalahkan lawan dia perlu menggunakan kepandaian sesungguhnya dan lagi tak boleh bertindak gegabah.

Ketika Bu-ki memperlihatkan lubang kelemahan tadi sebenarnya Tong Ou sudah kegirangan. Tapi begitu tahu bahwa musuhnya segera menyadari akan hal itu dan menutup kembali lubang tersebut, rasa girangnya segera saja sirna.

Mendadak ia jadi sadar, titik kelemahan itu sengaja dibuat Bu-ki untuk menjebaknya, jelas dia mempunyai maksud untuk memancingnya masuk, agar dia masuk perangkap.

Di samping itu dia juga mulai curiga, jangan-jangan kemarahan yang diperlihatkan Bu-ki hanya pura-pura. Mungkin ada sesuatu yang tidak beres di balik semua ini.

Maka ketika Bu-ki melancarkan serangan dengan menggunakan jurus yang terakhir dari tigabelas jurus Ilmu Pedang Angin Topan, dia segera merubah cara bertarungnya.

Dari bertahan, kini dia mengubah dirinya menjadi menyerang.

Jurus ketigabelas yang digunakan Bu-ki ini disebut Luitian- ciauka (Guntur dan Petir Saling Menyambar), pancaran tenaga dalam yang disalurkan ke dalam pedang menerbitkan suara nyaring bagai guntur, di samping itu perubahan yang terjadi dalam setiap gerakan selalu disertai kilatan cahaya bagaikan petir.

Selain itu sambaran pedang yang disertai kilatan cahaya menimbulkan gelombang tenaga serangan yang mengerikan, semuanya tertuju ke setiap jalan darah penting di pinggang lawan.

Selama ini Tong Ou selalu bangga dengan kecepatan gerak yang dimilikinya, sekali ini dia tak menyangka kalau ilmu pedang yang dimiliki Bu-ki sedemikian lihaynya.

Jika ia tetap mempertahankan cara bertarungnya seperti tadi, mungkin sekarang dia sudah tak mampu lolos dari ancaman maut. Paling banter yang bisa dia lakukan hanya mengadu nyawa, bahkan itu pun harus menggunakan senjata rahasia, baru bisa menghabisi nyawa lawannya!

Padahal dia sangat tak ingin melakukan tindakan seperti itu. Kalau tadinya dia masih memandang enteng musuhnya, sekarang pikiran semacam itu langsung lenyap! Sebagai gantinya ia meningkatkan kewaspadaannya.

Sambil menghimpun tenaga ia menghindar ke kiri menerobos ke kanan, pedangnya bagaikan seekor ular berbisa mematuk tubuh pedang lawan yang berusaha menghampirinya.

Jelas ilmu pedang yang dia gunakan saat ini bukan ilmu pedang keluarga Tong, itulah ilmu Pedang Ular Berbisa yang diperolehnya dari Siau Tang-lo ketika ia datang menukar obat pemunah racun.

Bu-ki pernah juga mempelajari ilmu pedang tersebut, akan tetapi dia tak sanggup melukai lawannya, menyentuh pun tak sanggup.

Mengapa bisa begitu?

Rupanya Tong Ou telah menggabungkan ilmu Pedang Ular Berbisa ini dengan ilmu melepaskan senjata rahasia dari keluarga Tong dan ini membuat jurus serangan yang digunakannya selalu mengarah pada sasaran yang jauh berbeda dengan jurus aslinya.

Kejadian ini bukan saja membuat Bu-ki tak mampu melukai lawannya, dia nyaris jatuh jadi pecundang di tangan lawan!

Menghadapi serangan ilmu pedang ini, boleh dibilang Bu-ki telah hapal di luar kepala, dia menguasai setiap perubahan dalam ilmu pedang itu dan tahu sasaran mana yang dituju. Oleh sebab itu dia seperti tahu semua ancaman yang dilancarkan Tong Ou tertuju ke mana.

Ini sama artinya dia menguasai titik kelemahan lawan, asal pedangnya diarahkan ke titik itu, maka ancaman lawan pasti akan gagal total.

Tapi Bu-ki sama sekali tak menyangka kalau Tong Ou telah merubah jurus serangan itu, maka ketika dia menusuk titik kelemahan di tubuh Tong Ou, bukan saja titik kelemahan itu gagal dijebol, sebaliknya dia malah terperangkap dalam jebakan musuh!

Untung saja jurus Luitian-ciauka ini mengutamakan kecepatan gerak sehingga di balik kecepatan itu Bu-ki sempat meloloskan diri dari perangkap! Kalau tidak, mungkin dia sudah tewas di ujung pedang Tong Ou!

Selesai menggunakan jurus itu, Bu-ki segera melompat mundur ke belakang, berikutnya dia menyerang dengan menggunakan jurus Kuijiu-patsi (Delapan Jurus Tangan Setan).

Tong Ou tak ingin musuhnya memperoleh kesempatan untuk berganti napas, begitu serangan lawan berhenti, ia segera menggetarkan senjatanya sambil merangsek ke depan, dengan jurus Lengcoa-juttong (Ular Lincah Keluar dari Gua) ia menusuk pergelangan tangan kanan lawan.

Tak sempat mengubah jurus untuk memunahkan ancaman yang datang, terpaksa Bu-ki melompat mundur lagi satu langkah.

Tong Ou merangsek lebih ke depan, tetap dengan jurus Lengcoa-juttong ia meneruskan tusukannya ke arah pergelangan tangan kanan anak muda itu.

Bu-ki terdesak, mau tak mau, sekali lagi dia mundur selangkah!

Masih menggunakan jurus yang sama Tong Ou menusuk pergelangan kanan Bu-ki!

Jurus serangan yang sebenarnya sangat sederhana ini ternyata bisa mendatangkan hasil luar biasa. Baru pertama kali ini Bu-ki menjumpainya, sayang orang yang menggunakan jurus itu bukan dia melainkan lawannya, kendati begitu dia berhasil juga menarik makna di balik semua ini.

Kali ini dia tidak mundur, tangan kirinya menggunakan sebuah jurus yang sederhana Lohan-tuicha (Orang Tua Mendorong Kereta), berusaha menabok tubuh lawan.

Mau tak mau Tong Ou harus menangkis datangnya ancaman itu, dia tak ingin beradu jiwa, tak ingin sama-sama terluka. Meskipun nanti tusukannya berhasil melukai pergelangan tangan Bu-ki, namun jika kena tabokan itu, jelas dialah pihak yang lebih rugi!

Karenanya pedang yang semula dipakai untuk mengancam pergelangan tangan lawan segera berputar arah, kali ini dia menyerang tangan kiri.

Siapa tahu jurus serangan yang digunakan Bu-ki di tangan kirinya hanya jurus tipuan. Memanfaatkan peluang di saat Tong Ou mengubah gerakan pedangnya, pedang yang ada di tangan kanannya dengan jurus Kuikui-koaykoay (Aneh dan Menyeramkan), bagai sukma gentayangan tanpa menimbulkan suara sedikit pun, menusuk delapan jalan darah di dada.

Dengan terperanjat buru-buru Tong Ou mundur satu langkah, dia menggunakan perubahan dari ilmu Pedang Ular Berbisa untuk membendung datangnya ancaman itu. Pertarungan pun berlangsung amat seru, satu jam sudah lewat namun serangan demi serangan masih dilancarkan kedua belah pihak, peluh sudah mulai bercucuran dan membasahi tubuh mereka.

Begitu serius dan rapat mereka berdua bertempur, sampai tak seorang pun tahu akan kejadian lain di dekat situ, juga tak ada yang menaruh perhatian pada keadaan di sekitar sana.

Mereka tidak sadar atas kehadiran beberapa orang, ada penjual kue, ada penjual manisan... Rombongan itu muncul tanpa bersuara sedikit pun, begitu sampai segera bersembunyi di balik pepohonan sambil menonton jalannya pertempuran.

Lama kelamaan Tong Ou sadar, jika pertarungan berlanjut terus, pada akhirnya dia bukanlah tandingan Bu-ki. Jika ingin menang, satu-satunya jalan adalah menggunakan senjata rahasia, tindakan yang sebenarnya sangat tak ingin dia lakukan. Tapi jika nyawa saja sudah mulai terancam, apakah ada waktu baginya untuk memedulikan nama serta kedudukan?

Tangan kirinya merogoh ke dalam saku, menggenggam segenggam senjata rahasia.

Tatkala pedang Bu-ki membabat tiba, mendadak ia menangkis serangan itu keras lawan keras, sehingga tubuh mereka berdua sama-sama tergetar mundur beberapa langkah.

Menggunakan kesempatan ini, Tong Ou melepaskan senjata rahasia andalannya!

Dia menyangka serangan itu pasti akan berhasil, semua senjata rahasia yang dilepaskannya pasti akan terhunjam di tubuh Bu-ki. Di luar dugaan, hampir semua am-ginya rontok dan berguguran ke tanah.

Bukan dipukul rontok oleh Bu-ki, tapi dijatuhkan oleh sambitan berbagai jenis hidangan seperti kue, pia, cakue, saupia dan lain sebagainya. Makanan-makanan kecil itu melesat datang dengan membawa desingan angin tajam, menghajar tiap senjata rahasia yang muncul dan merontokkannya tepat di depan tubuh Bu-ki.

Tak terlukiskan rasa kaget Bu-ki menghadapi kejadian ini, peluh dingin bercucuran membasahi tubuhnya. Sebelum dia sadar sepenuhnya akan apa yang terjadi, satu kejadian lain yang sama sekali di luar dugaan telah berlangsung.

Tong Ou telah tewas, tewas dibantai kawanan penjaja makanan kecil itu! “Mengapa kalian membunuhnya?” tanya Bu-ki keheranan.

Dia kenal orang-orang itu, kawanan penjaja makanan kecil ini adalah jago-jago yang memiliki ilmu silat hebat, mereka semua pernah mendapat didikan langsung dari Siau Tang-lo.

Sedemikian setianya kawanan penjaja makanan kecil ini terhadap Siau Tang-lo, sehingga setiap kali diundang datang, berapa pun jauhnya mereka berada, kawanan itu segera akan menyusul datang.

“Karena dia telah membunuh majikan kami!” si penjual kue menerangkan.

“Siapa majikan kalian? Siau Tang-lo?”

“Benar, dia telah membunuh Siau-ongya dengan cara yang licik dan keji.”

“Raja muda Siau? Majikan kalian itu raja muda?”

“Dulu dia adalah raja muda. Tapi bagi kami, selamanya dia adalah raja muda kami.”

Tiba-tiba Bu-ki memahami segala sesuatunya, kenapa Siau Tang-lo bisa memiliki harta dan uang yang tiada habisnya, sampai- sampai di depan guanya, di bukit Kiu-hoa-san pun dibangun istana yang begitu megah, ternyata dia pernah menjadi seorang raja muda!

“Dengan cara licik apa Tong Ou membunuh Siau-ongya?” tanya Bu-ki lagi.

“Setiap tahun Ongya pasti menggunakan berbagai jenis mustika dan barang berharga lainnya untuk ditukar dengan obat pemunah, ada kalanya dia pun menggunakan ilmu pedang sebagai barang persembahan. Tentunya kau sudah tahu bukan mengapa dia sampai berbuat begitu?” kata si penjual kue.

Bu-ki manggut-manggut, dia tahu Siau Tang-lo selalu mengguna¬kan obat pemunah itu untuk mengobati si Mayat Hidup, sebagai imbalannya Mayat Hidup dengan menggunakan ilmunya yang ampuh mengurut jalan darah dan nadi di tubuh Siau Tang-lo.

“Tahun ini Tong Ou menyerahkan obat pemunah lagi untuk Ongya, tapi yang dia serahkan bukan obat pemunah melainkan racun!”

Bu-ki sangat kaget. Mengapa Tong Ou melakukan perbuatan se¬perti ini? Dia tak berani memercayainya!

Tapi dia bisa membayangkan apa yang kemudian terjadi.

Ketika si Mayat Hidup minum obat pemunah yang sebenarnya racun dan kemudian keracunan, dia pasti menggunakan tangan beracun pula untuk mengurut nadi penting di tubuh Siau Tang-lo. Akibatnya kedua tokoh sakti itu mati bersama secara mengenaskan!

“Sudah kami selidiki, ternyata ada orang yang sengaja menukar obat pemunah itu dengan racun,” kembali si penjual kue berkata.

“Oh, siapa yang melakukan penukaran itu?” “Tong Koat!”

“Tong Koat? Kenapa?”

“Karena dia ingin mencelakai kakaknya, agar Benteng Keluarga Tong jatuh ke tangannya!”

Bu-ki tidak bicara lagi, dia percaya Tong Koat dapat melakukan perbuatan seperti itu, sebab dia memang manusia semacam itu.

“Tapi Tong Koat keliru besar!” kata si penjual kue lagi, “Dengan berbuat begitu, bukan saja dia tak dapat mengangkangi Benteng Keluarga Tong, malah sebaliknya dia telah menghancurkan tonggak pondasi yang paling kuat Keluarga Tong!”

“Kenapa?”

“Karena hampir semua tokoh utama Benteng Keluarga Tong telah kami bantai hingga ludas, Tong'Ou merupakan korban kami yang terakhir!”

Bu-ki membelalakkan matanya lebar-lebar, ia tak mampu bicara lagi. Apakah dengan begitu kekuatan Benteng Keluarga Tong jadi musnah?

“Dunia persilatan di masa mendatang merupakan dunia persilatan milik Tayhong-tong kalian!” seru si penjual kue.

Berbicara sampai di situ, ia segera berbenah dan siap beranjak pergi.

“Harap tunggu sebentar,” seru Bu-ki tiba-tiba. “Ada urusan apa lagi?”

“Aku ingin tahu nama kalian serta bagaimana caranya untuk mengontak kalian semua di kemudian hari!”

“Aku rasa tidak ada perlunya lagi! Ongya adalah bekas raja yang kehilangan kekuasaan, selama ini kami mengikutinya dengan harapan suatu saat dapat membangun kembali kerajaan kami. Tak dinyana nasibnya sangat jelek, dia harus tewas di tangan orang- orang Keluarga Tong. Bagaimanapun kami sudah terbiasa hidup mengembara dalam dunia bebas, aku rasa dunia inilah yang akan menjadi rumah kami sepanjang masa. Nama tak penting untuk kami semua karena tak bermakna apa-apa. Anak muda, kau harus pandai menjaga diri!”

Selesai berkata ia segera memberi tanda, kemudian bersama rekan-rekannya segera berlalu dari situ. Bukit Singa yang luas sekali lagi tercekam dalam keheningan. Kecuali desiran angin di bukit, tak kedengaran lagi suara manusia.

Bu-ki mengubur mayat Tong Ou di sisi kuburan ayahnya, lama sekali dia berdiri termenung di depan dua kuburan baru itu, pikirannya bergolak keras. Pagi tadi, kedua orang ini masih hidup, mereka masih merupakan tokoh-tokoh paling tangguh dalam dunia persilatan. Tapi sorenya mereka berdua telah terkubur sebagai mayat di tempat ini!

Dunia persilatan benar-benar sangat berbahaya! Jangan lagi terha¬dap orang lain, terhadap sesama saudara pun ada yang tega untuk membunuh, contohnya seperti nasib tragis yang dialami Tong Ou. Kini Bu-ki mulai sadar, pikirannya mulai terbuka, dunia persilatan memang bukan tempat yang nyaman, bukan tempat yang patut didiami.

Kini Tayhong-tong memang sudah menguasai seluruh dunia persilatan, tapi siapa yang berani menjamin tak ada kekuatan besar lainnya yang bakal muncul? Pertikaian, pertentangan, pertarungan hanya merupakan peristiwa yang cepat atau lambat pasti akan terjadi. 

Apakah tidak lebih baik menyerahkan semua persoalan ini kepada orang lain saja? Kenapa tidak ia serahkan saja kepada paman Sugong, agar dia yang dibikin pusing?

Bu-ki memutuskan akan mengundurkan diri dari dunia persilatan, mundur dari segala pertikaian yang penuh bau anyir darah. Dia memutuskan untuk kembali ke bukit Kiu-hoa-san, tempat yang tenang dan nyaman untuk berpikir, berlatih dan melamun.

Bila ada kesempatan nanti, mungkin saja dia akan turun gunung, berkelana sambil menolong mereka yang butuh pertolongan.Tapi, sebelum berangkat ke bukit Kiu-hoa-san, dia harus pergi menemui seseorang dulu.

Kekasih yang paling dicintainya. Wi Hong-nio!

TAMAT