Naga Kemala Putih Bab 20. Sekali Lagi Berpisah Mati

Bab 20. Sekali Lagi Berpisah Mati

Melihat sikap ragu-ragu yang diperlihatkan Tio Bu-ki, tiba- tiba Sangkoan Jin menghela napas panjang, katanya, “Aku tahu kau pasti tak akan percaya, kau kuatir terjadi sesuatu yang di luar dugaan bukan?” Bu-ki tidak menjawab.

“Kurasa begini saja, besok kita bertemu lagi di sini, aku jamin sampai waktunya aku pasti dapat memperlihatkan bukti yang bisa membuat kau percaya, kau percaya kan?”

Bu-ki memandang Sangkoan Jin seketika, kemudian mengangguk. Memang tak mungkin baginya untuk menolak, sebab jika dia menolak, dapat dipastikan Sangkoan Jin akan segera merusak wajahnya sendiri, dan seandainya setelah wajah itu dirusak dan ternyata wajah ayahnya, apa yang akan dia lakukan?

Tentu saja ia pun berpikir lebih jauh, seandainya besok Sangkoan Jin tidak datang, apa yang akan dia lakukan? Tampaknya dia mesti bertaruh dalam urusan ini.

Seandainya besok Sangkoan Jin benar-benar tidak muncul, dia tetap saja dapat pergi mencarinya, bedanya ia menjadi tambah repot. Begitu melihat anak muda itu mengangguk, Sangkoan Jin segera membalikkan badan dan pergi. Bu-ki hanya berdiri termangu- mangu, berdiri diam memandang Sangkoan Jin membalikkan badan dan pergi. Menunggu pamannya itu sudah berada sejauh duapuluh langkah dari tempat semula, mendadak satu perasaan tak tenang muncul di hati kecilnya, dia merasa seperti ada sesuatu yang mengganjal, kedukaan yang mengenaskan segera akan berlangsung di depannya.

Perasaan itu timbul karena dia teringat akan satu hal.

Pedangnya!

Sebelum meninggalkan tempat itu Sangkoan Jin sama sekali tidak mengembalikan pedang itu kepadanya.

Dengan langkah cepat dia menerjang ke muka, sembari melesat teriaknya keras, “Jangan!"

Sayang semua sudah terlambat, segala sesuatunya sudah

terjadi.

Tatkala Bu-ki berhasil menyusul, Sangkoan Jin telah

menghentikan langkahnya, menanti Bu-ki sepuluh langkah di belakangnya dan tiba-tiba ia membalik tubuhnya.

Bu-ki segera berhenti di hadapan Sangkoan Jin, kini jarak mereka tinggal dua-tiga langkah dan Sangkoan Jin sudah membalikkan seluruh badannya.

Dalam waktu singkat Bu-ki berdiri dengan mata terbelalak lebar dan mulut melongo, darah bercucuran dalam hatinya, dia menjerit. Kenapa? Kenapa? Kenapa?

Yang dia saksikan adalah selembar wajah yang penuh berlepotan darah!

Rupanya setelah beranjak pergi tadi, dalam jarak sepuluh langkah dia berjalan, secara diam-diam ia mulai menyayati kulit wajahnya. Ia baru berhenti sambil membalikkan badan ketika mendengar Bu-ki menjerit kalap.

Ternyata dia adalah Tio Kian! Ayah kandung Tio Bu-ki!

"Ayah!" jeritan Bu-ki seakan terhenti di tenggorokannya, dia tak sanggup menjerit, tak mampu berteriak.

Sekulum senyuman pedih tersungging di ujung bibir Tio

Kian.

Sebuah senyuman yang amat mengenaskan, senyuman

yang mengerikan di balik wajahnya yang hancur berantakan. Sekalipun kelihatan amat menyeramkan, namun pandangannya nampak begitu lembut, begitu ramah dan penuh kasih sayang. Suatu pernyataan yang membuktikan bahwa ia sama sekali tidak menyalahkan putranya.

Airmata mulai jatuh bercucuran membasahi wajah Bu-ki, ia bertekuk lutut dan menjatuhkan diri menyembah di tanah, bersembah sujud di hadapan Tio Kian.

"Ayah!" akhirnya dengan suara yang parau tapi mengenaskan dia memanggil.

Tio Kian tertawa sedih, sahutnya, “Kau tak perlu kelewat sedih, aku berbuat begini bukan hanya bermaksud agar kau percaya kepadaku.”

Lantas karena apa? Apakah masih ada rahasia lain?

Demikian Bu-ki berpikir, namun ia tak mengutarakan keraguannya itu.

“Ayah sengaja berbuat begini, setengahnya karena ingin menebus dosa,” kembali Tio Kian menerangkan.

Menebus dosa? Menebus dosa apa?

“Aku berharap kau mulai mempersiapkan diri, bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan,” Tio Kian menyodorkan kembali pedang itu ke tangan putranya.

Dengan sorot mata penuh perasaan ragu dan heran Bu-ki mengawasi ayahnya, selama banyak tahun dia selalu mengira ayahnya telah mati, sungguh tak disangka hari ini telah terjadi perubahan yang sama sekali tak terduga olehnya.

ooooOOOoooo

Ada banyak persoalan yang ingin dia tanyakan, tapi ia tak pernah bersuara lagi, setelah menyaksikan cara ayahnya merusak wajah sendiri, dia tahu, ayahnya pasti akan memberikan penjelasan secara panjang lebar.

“Kau sangka paman Siangkoanmu telah membunuh aku?

Kini kau sudah yakin dengan identitasku, berarti kau pun pasti tahu bahwa orang yang terbunuh itu sesungguhnya adalah paman Siangkoan bukan?”

Bu-ki tidak bersuara, dia hanya mendengarkan dengan seksama.

“Padahal akulah yang merancang siasat Harimau Kemala Putih, tapi semenjak wajahku dan wajah paman Siangkoan dirubah oleh Li Thian-hui, tabiatku pun perlahan-lahan mulai berubah. “Aku sering berpikir, seandainya suatu hari perkumpulan Tayhong-tong dapat memusnahkan Benteng Keluarga Tong, maka seluruh dunia persilatan akan jatuh ke tangan kita dan saat itu kekuasaan tertinggi harus kubagi sama rata dengan paman Siangkoan serta paman Sugong.

“Tiba-tiba timbul niat serakahku, aku pikir, kenapa kekuasaan harus kubagi rata dengan mereka? Seharusnya aku seorang yang menguasainya!”

Berbicara sampai di sini Tio Kian berhenti sejenak, setelah menghela napas panjang lanjutnya, “Setelah muncul pikiran semacam ini, aku sering berubah jadi berangasan dan gampang marah, khususnya setiap kali bertemu dengan paman Siangkoanmu, aku pasti berpikir, bila ingin mengangkangi sendiri kekuasaan besar itu, aku harus menyingkirkan dia terlebih dulu.”

“Kau tak mempertimbangkan paman Sugong?” tak tahan Bu- ki bertanya.

“Paman Sugong-mu bukan orang yang punya ambisi besar, maka aku tak perlu merisaukan dirinya. Berbeda dengan paman Siangkoan, dia sama seperti aku, punya ambisi yang besar dan haus akan kekuasaan, satu-satunya keunggulanku adalah bahwa aku lebih cerdas dan banyak akal.”

Sambil berkata Tio Kian berjalan menuju ke batu besar dan duduk di situ, kini darah yang membasahi wajahnya sudah mengering, dari balik mukanya yang remuk lamat-lamat masih terpampang wajah aslinya, itulah wajah Tio Kian.

“Suatu hari,” kembali Tio Kian melanjutkan ceritanya, “akhirnya terpikir olehku untuk menjalankan siasat Harimau Kemala Putih. Selain bisa melenyapkan Sangkoan Jin dari muka bumi, aku pun bisa menggunakan kesempatan ini untuk menyusup ke dalam Benteng Keluarga Tong dan menunggu saat untuk membasminya.

Maka di hari perkawinanmu itulah kupanggil Sangkoan Jin masuk ke dalam ruang rahasia, mimpi pun dia tak mengira kalau aku bakal melancarkan serangan untuk membunuhnya, dan cerita selanjutnya tak perlu kuceritakan lagi, karena kau pasti sudah mengetahuinya.”

Raut muka Tio Kian menampilkan siksaan batin dan penderitaan yang luar biasa, sesudah tertawa getir lanjutnya, “Tahukah kau bahwa sebenarnya orang yang paling jahat adalah ayahmu?” Bu-ki tidak berbicara, dalam hati dia pun merasakan siksaan dan penderitaan yang luar biasa, perasaannya amat kalut. Dia tak menyangka ayahnya yang paling dihormati dan paling disayang selama ini ternyata adalah pembunuh yang sesungguhnya, seorang pembunuh berdarah dingin yang tak segan menghabisi nyawa sahabat sendiri, seorang sahabat yang telah mendampinginya puluhan tahun Sedangkan tujuannya tak lebih hanya ingin mengangkangi kekuasaan, ingin menguasai perkumpulan Tayhong- tong seorang diri, ingin membasmi Benteng Keluarga Tong dan seorang diri menguasai jagad.

Perbuatan semacam ini jelas merupakan tindakan yang biadab, perbuatan yang tak bisa dimaafkan Bu-ki, tapi apa yang bisa dia lakukan? Apa yang bisa dia perbuat jika si pelakunya ternyata tak lain adalah ayah kandung sendiri!

Bagaimana sekarang?

Dia awasi ayahnya, mengawasi wajah Tio Kian yang telah hancur berantakan, sama seperti perasaan hatinya sekarang, hancur lebur tak karuan.

“Kau tak perlu bersedih hati,” terdengar Tio Kian berkata lagi, “aku sengaja menghancurkan wajahku untuk membuktikan identitasku yang sebenarnya tak lain karena bertujuan untuk menebus dosa, aku tidak seharusnya mencelakai Sangkoan Jin.”

“Ayah!” Bu-ki tak mampu berkata-kata, dia hanya bisa menjerit dengan perasaan hancur lebur.

“Ayah sudah tak berguna.” “Kenapa?”

“Tong Ou si anak jadah itu telah meracuni aku!” “Mana mungkin?”

“Tong Ou memang seorang musuh yang lihay, aku yakin dia pasti telah memperalat Ling-ling untuk meracuni aku, mencampurkan racun ke dalam kuah jinsom yang tiap pagi dibuat anak itu untukku.”

“Jadi kau...”

“Barusan aku mencoba mengerahkan tenaga, ternyata peredaran darahku sudah tak lancar, kekuatan tenaga dalamku sudah lenyap empatpuluh persen, Tong Ou memang anak jadah!”

“Kenapa dia harus berbuat begitu?”

“Dia ingin memperalat kau untuk melenyapkan aku, berbareng dengan itu dia pun bisa menggunakan kesempatan ini untuk memberi pukulan batin yang terberat untukmu. Coba bayangkan saja, dia merekayasa semua kejadian dengan menciptakan siasat Naga Kemala Putih, jika kau termakan siasatnya dan berhasil membunuhku, kemudian dia mengungkap cerita yang sebenarnya, apakah kau tak akan menerima pukulan batin yang sangat parah?”

Bu-ki bisa membayangkan, saat itu saban hari dia pasti akan bermabuk-mabukan, tak punya selera untuk mengurusi persoalan lain, dengan begitu urusan perkumpulan Tayhong-tong pasti akan terbengkalai, tak ada yang memimpin dan tak ada yang mengurus. Jika kemudian Benteng Keluarga Tong memanfaatkan kesempatan itu untuk melancarkan serangan secara besar-besaran, bagaimana mungkin Tayhong-tong masih bisa menancapkan kakinya di dunia persilatan? Bisa jadi perkumpulan itu akan lenyap untuk selamanya dari muka bumi!

Kejam benar manusia ini! Bu-ki mengumpat dalam hatinya. “Sekarang, kita harus menghadapi siasatnya dengan siasat!” “Menghadapi siasatnya dengan siasat?”

“Benar, kau pura-pura berhasil membunuhku agar Tong Ou menceritakan kejadian yang sebenarnya kepadamu, lalu kau berpura-pura pikiranmu kalut, batinmu terpukul dan menyerang dia secara mem-babibuta.”

“Kau anggap aku sanggup menghadapinya?”

“Sulit untuk dikata, tapi kalau dilihat dari siasat yang dia gunakan terhadapmu, ini membuktikan bahwa dia pun tak yakin bisa mengungguli kemampuanmu. Kalau tidak, buat apa dia susah-susah menggunakan berbagai jurus kembangan untuk menghadapimu?”

“Benar!”

“Oleh sebab itu kau harus berlagak sangat marah, sangat menyesal hingga pikiranmu sangat kalut, agar dia memandang enteng dirimu. Selain itu, begitu mulai menyerang, kau harus berlagak seolah seranganmu kacau, banyak titik kelemahan dan banyak melakukan kesalahan, agar dia beranggapan kau sudah hampir gila.”

“Seandainya dia memanfaatkan titik kelemahan itu untuk membekukku, bukankah sama artinya dengan bunuh diri?”

“Tidak mungkin, dengan watak Tong Ou, tak mungkin dia langsung membekukmu, dia pasti akan mempermainkanmu seperti kucing menangkap tikus. Setelah membuat kau mati tak bisa hidup tak dapat, saat itulah dia baru akan membunuhmu.”

“Kau tidak berpikir cara ini terlalu berbahaya?”

“Kalau tidak berani nyerempet bahaya, mana mungkin bisa diperoleh hasil yang baik?” sahut Tio Kian, “Soal yang tersisa adalah waktu yang paling cocok untuk pergi mencari Tong Ou.”

Setelah berhenti sejenak untuk menarik napas, kembali ia meneruskan, “Sayang aku telah melakukan satu kesalahan!”

“Kesalahan apa?”

“Aku kuatir kau mencari aku karena ada urusan penting, maka sewaktu menuju kemari, aku telah bertindak sangat rahasia sehingga tak seorang pun anggota Keluarga Tong yang tahu ke mana aku pergi.”

“Apakah langkahmu itu keliru?”

“Kalau dipikir sekarang, rasanya memang keliru besar.” “Kenapa?”

“Sebab dengan watak Tong Ou, dia pasti mengutus orang untuk mengawasiku terus menerus, jika dia tahu bahwa aku datang kemari, sudah pasti dia akan segera menyusul kemari. Dia pasti ingin menyaksikan pertarungan kita berdua kemudian mulai mengejek dan mempermainkan dirimu.”

“Ayah tak usah kuatir, aku telah melakukan satu perbuatan yang sangat tepat dan benar!”

“Oh ya?”

“Aku sempat bertanya kepada pelayan rumah penginapan, harus lewat jalan mana untuk tiba di sini.”

“Bagus, kalau Tong Ou gagal menemukan jejakku, dia pasti akan mengutus orang untuk mencari tahu jejakmu di rumah penginapan. Saat ini dia pasti sudah tahu ke mana kau pergi.”

“Soalnya adalah aku tidak mengatakan kalau akan kemari, aku hanya bertanya harus lewat jalan yang mana untuk sampai ke sini.”

“Itu sudah lebih dari cukup, Tong Ou tali bakal melepaskan setiap titik terang yang berhasil dia dapatkan.”

“Berarti dia segera akan menyusul kemari?”

“Mungkin saja ia sudah mencari jejak kita di sekitar tempat ini.” “Lalu apa yang kita lakukan sekarang?” “Kita buat pengaturan di tempat ini.” “Pengaturan?”

“Betul! Kita lakukan pengaturan dan perubahan bentuk di sekitar sini, seolah baru saja berlangsung pertarungan yang amat seru, agar Tong Ou menyangka bahwa kita berdua sudah bertarung!”

“Bagaimana dengan ayah?”

“Aku? Gampang sekali, kini wajahku sudah hancur berantakan, jika aku berlagak mati, dia pasti dapat dikelabui.”

“Jadi kau akan berlagak mati?”

“Benar, dengan begitu Tong Ou tak akan menyangka kalau kau sedang bermain sandiwara!”

“Tapi...”

“Kenapa? Kau anggap kurang baik jika aku berlagak mati?” “Bukan, bukan begitu.”

“Lalu maksudmu...”

“Janji pertarunganku melawan Tong Ou!”

“Peduli amat dengan segala janji, kau harus memanfaatkan kesempatan yang sangat baik ini untuk menghabisinya, sebab tidak gampang untuk menemukan kesempatan lain. ”

“Kau ingin pegang janji? Terhadap manusia semacam ini pun kau ingin pegang janji? Hmm, jangan mimpi! Jadi kau anggap dia pun akan pegang janji?”

“Paling tidak aku ingin menjadi seseorang yang pegang

janji.”

“Baik, jadilah orang yang pegang janji. Hanya saja aku perlu

memberitahumu, setelah bertemu denganmu nanti, dia pasti akan memanas-manasi hatimu, memancing amarahmu agar kau menyerangnya.”

“Kalau sampai dia berbuat begitu, artinya bukan aku yang terlebih dulu ingkar janji!”

“Anakku, dunia persilatan itu penuh dengan kelicikan dan kemunafikan, kenapa sih kau harus menjadi seorang lelaki yang pegang janji? Kejujuranmu akan membuat kau kujur!”

“Tapi, bukankah pegang janji merupakan hal yang diutamakan dalam pergaulan dunia persilatan?”

“Cuh!” dengan gemas Tio Kian meludah, “Sudah banyak tahun aku hidup dalam dunia persilatan, selama ini belum pernah kujumpai orang yang pegang janji!” “Tapi, bukankah ayah selalu mengajariku untuk jadi seorang lelaki yang pegang janji?”

“Ajaran kembali soal ajaran, kenyataan jauh berbeda dengan ajaran, kalau kau tak pandai melihat keadaan, tak pandai menyesuaikan diri dengan keadaan, kaulah yang bakal hancur, mengerti?”

“Aku tidak tahu...”

“Kenapa kau masih berkeras kepala?” tukas Tio Kian jengkel, “Bayangkan saja, bila kita berhasil membasmi Benteng Keluarga Tong maka perkumpulan Tayhong-tong akan menguasai jagad, bayangkan sendiri, sampai waktu itu siapa yang akan memimpin seluruh dunia? Seluruh dunia persilatan akan menjadi milik siapa?”

“Tentu saja menjadi milik ayah!”

“Aku?” Tio Kian mendengus dingin, “mungkinkah itu?” “Kenapa tidak mungkin?”

“Kedokku sudah terbongkar, wajah asliku sudah ketahuan setiap orang, semua anggota Tayhong-tong tahu kalau aku yang telah membunuh Sangkoan Jin. Dalam keadaan begini apakah aku masih pantas, masih berhak untuk memimpin mereka?”

“Lalu...”

Tio Kian tertawa getir.

“Anak selalu menggantikan posisi ayahnya, Tayhong-tong akan menjadi milikmu, tahukah kau?”

“Aku?” Tio Bu-ki melengak, untuk sesaat dia tak tahu bagaimana harus menanggapi perkataan itu.

“Benar, aku sengaja merusak wajahku selain bertujuan untuk menebus dosa, aku masih mempunyai tujuan lain. Aku ingin mengumumkan bahwa mulai saat ini aku sudah melepaskan segala urusan Tayhong-tong, akan kuserahkan semua tugas dan tanggung jawab ini ke tanganmu!”

Melihat pemuda itu tidak bicara, kembali Tio Kian berkata, “Oleh karena itu, jika kau ingin memimpin Tayhong-tong dengan baik dan benar, kau mesti paham bahwa menyelesaikan urusan di depan mata adalah paling utama! Soal pegang janji? Hmm, itu tergantung dengan siapa kita berhadapan!”

“Apa yang ayah katakan tidak sesuai dengan watakku!” “Watak? Jika kau ingin mengikuti watak, lebih baik hiduplah

mengasingkan diri di atas gunung atau di dasar jurang! Kalau ingin bergaul dan hidup dalam dunia persilatan, yang diutamakan adalah mencapai tujuan dengan menghalalkan segala cara, jangan bicara soal watak atau segalanya!”

“Ayah, kau sangat berubah, kau berubah sekali...” “Jika seseorang sudah terlalu lama hidup dalam dunia

persilatan, mungkinkah dia tak berubah?”

“Benarkah kehidupan dalam dunia persilatan itu sangat berbahaya?”

“Jauh lebih berbahaya daripada apa yang kau bayangkan selama ini!”

Tiba-tiba Bu-ki menghela napas panjang, kesedihan muncul dalam hatinya. Mungkinkah baginya untuk hidup terus sebagai manusia dunia persilatan? Haruskah dia berjuang terus dalam dunia yang penuh kelicikan dan kemunafikan ini?

Pikiran ini hanya melintas sekejap dalam benaknya, karena perkataan Tio Kian telah memotongnya.

“Demi perkumpulan Tayhong-tong, demi melanjutkan perjuangan dan hasil karya yang berhasil kita bentuk selama ini, kau harus pandai menilai tiap suasana dalam dunia persilatan, pandai menghadapi kenyataan dan pandai memilah mana yang benar dan mana yang tidak, dengan begitu kau baru bisa bertahan sekuat batu karang.”

Aku tidak mau, aku tidak mau, aku tidak mau, dalam hati Bu-ki menjerit kalap.

Tapi Tio Kian sama sekali tidak mendengar jeritan tersebut, kembali ia berkata, “Kau harus menyanggupi permintaanku ini, gunakan kesempatan emas ini dan bunuhlah Tong Ou!”

“Ayah, mengapa kau paksa aku untuk melakukan perbuatan yang bertentangan dengan sifatku?” tak tahan, akhirnya Bu-ki berteriak.

“Sifat? Liangsim? Orang mati masih punya sifat? Orang mati juga masih punya liangsim? Jika kau tidak membunuh Tong Ou, Tong

Ou yang akan membunuhmu!”

“Aku lebih suka bertarung secara adil!”

“Bertanding secara adil? Hmh!” Tio Kian mendengus dingin, “Masa kau masih belum tahu jelas maksud Tong Ou menghadapimu menggunakan cara seperti ini? Kau anggap yang telah dilakukannya itu tindakan yang adil?” Bu-ki terbungkam. Tapi raut mukanya masih mencerminkan kekukuhan hati untuk mempertahankan pendiriannya.

Tentu saja sikapnya tak luput dari pengamatan Tio Kian.

Saking gelisahnya ia jadi geram sendiri, keras kepala amat anaknya ini, sudah berhadapan dengan maut masih belum juga mau sadar? Tio Kian merasa sedih sekali.

Tio Kian tahu, Tong Ou adalah orang yang sangat berbahaya, dari perbuatannya memperalat Siangkoan Ling-ling untuk meracuni ayahnya sendiri saja sudah memperlihatkan betapa licik dan busuknya hati orang ini. Yang dilakukannya ibarat 'sekali timpuk dua ekor burung', sebuah rencana berantai yang menakutkan.

Andaikata Bu-ki benar-benar membunuh dirinya, artinya sama saja pemuda itu telah membantu Tong Ou untuk melenyapkan orang yang ingin dia singkirkan. Sebaliknya jika Bu-ki bukan tandingannya, sementara dirinya sudah keracunan hingga tenaga dalamnya telah hilang empatpuluh persen, tentu saja Tong Ou jadi tak perlu mengua-tirkan kemampuannya sehingga setiap saat dia dapat menghabisi nyawanya

Sebaliknya Tong Ou sendiri sama sekali tidak menyangka kalau rencana kejinya, siasat Naga Kemala Putih, secara kebetulan terbentur dengan peristiwa lain yang pernah dilakukan Tio Kian terhadap Sangkoan Jin.

Mungkinkah takdir telah menentukan lain? Takdir menentukan kalau Benteng Keluarga Tong harus musnah dari muka bumi?

Tapi sekarang Bu-ki menunjukkan sikap bahwa dia enggan memanfaatkan peluang emas ini untuk membasmi Benteng Keluarga Tong! Bagaimana mungkin Tio Kian tidak panik dan bersedih hati?

Menyaksikan keteguhan hati Bu-ki, mau tak mau Tio Kian harus memutar otak mencari akal lain agar bisa mengubah pendirian putranya itu.

Untuk berapa saat lamanya mereka berdua hanya saling berpandangan dengan mulut terbungkam.

Sesaat kemudian tiba-tiba Tio Kian mendapat akal.

Ia menjerit keras, kemudian sambil memegangi perutnya ia mengerang kesakitan, wajahnya menunjukkan sakit dan derita yang luar biasa.

Dengan terperanjat Bu-ki segera berseru, “Ayah, kenapa

kau?” Sedemikian kesakitan yang diderita Tio Kian membuat orang tua itu tak sanggup berkata-kata, sesaat kemudian ia baru berbisik lirih, “Sungguh keji perbuatan Tong Ou!”

Bu-ki merasakan hatinya bagaikan disayat pisau melihat penderitaan yang dialami ayahnya, ia berbisik, “Tong Ou, dia...”

“Kau harus membalaskan dendam bagi penderitaanku ini!” tukas Tio Kian cepat. “Balas dendam?”

“Benar!” darah segar mulai meleleh keluar dari ujung bibirnya. “Ayah!” jerit Bu-ki sambil memegangi bahu ayahnya. “Sekarang kau tentu sudah tahu bukan betapa kejam dan jahatnya Tong Ou?”

Sekali lagi Bu-ki berdiri termangu, dia hanya bisa mengawasi ayahnya tanpa mampu berkata-kata.

“Racun yang dia gunakan paling pantang bertemu darah, sekali darah bercucuran maka aku pun akan berubah jadi begini.”

“Bagaimana keadaanmu sekarang ayah?”

“Saat ini usus dan isi perutku sakit bagai diiris-iris, pendarahan sudah terjadi di seluruh bagian dalam tubuhku!”

“Kenapa bisa begitu?”

“Di sinilah letak kekejian Tong Ou!” sekali lagi Tio Kian menekankan kekejaman lawannya, “Dia jelas tahu kalau aku akan bertarung melawanmu, karena kuatir aku akan memenangkan pertarungan ini maka diam-diam ia meracuniku, sedangkan racun itu pantang bertemu darah, maka begitu terjadi pendarahan maka aku... maka aku...”

Suara Tio Kian makin lama semakin bertambah lirih, akhirnya suaranya melemah.

“Ayo kita cari tabib.”

“Percuma! Aku tahu, tak ada obat yang bisa menyelamatkan jiwaku lagi!”

“Ayah!” jerit Bu-ki sambil berusaha memayang ayahnya, tapi niat itu segera dicegah Tio Kian.

“Kau tak usah membuang tenaga lagi, setiap orang pasti bakal mati, jadi kau pun tak usah terlalu bersedih hati.”

Air mata sudah mulai bercucuran membasahi wajah Bu-ki. “Sebelum ajal datang menjemput, aku punya dua keinginan,

semoga kau bisa memenuhi harapanku ini!”

“Katakanlah ayah,” suara Bu-ki semakin sesenggukan. “Pertama, kau harus menggunakan kesempatan ini untuk melenyapkan Tong Ou, sebab saat inilah peluang emas bagimu.”

Dengan airmata bercucuran Bu-ki mengangguk. “Kedua, kau harus baik-baik memimpin Tayhong-tong,

wujudkan cita-citaku yang belum tercapai!” Bu-ki tetap membungkam.

“Kau bersedia mengabulkan keinginanku ini?” sorot mata penuh harapan terpancar dari balik mata Tio Kian. Bu-ki tetap membungkam.

“Kau harus mengabulkan keinginanku ini,” suara Tio Kian bertambah lemah dan lirih. Akhirnya Bu-ki mengangguk.

Tio Kian tertawa kemudian tubuhnya roboh terkapar ke tanah. “Ayah!” jerit Bu-ki sedih.

Orang yang sudah mati tak mungkin bisa hidup kembali hanya lantaran jerit kesedihan. Yang membuat manusia sama sekali tak berdaya hanyalah kematian.

Tio Kian mati dengan gembira, sebab segala rencananya telah berjalan sesuai dengan jadwal dan semuanya lancar.

Sewaktu dia menjajal tenaga dalamnya dan menemukan bahwa kekuatannya sudah berkurang empatpuluh persen, ia tahu kalau racun yang digunakan Tong Ou adalah racun yang bersifat lambat. Biasanya racun semacam ini tak ada pemunahnya, jadi masalah mati hanya urusan cepat atau lambat, tapi pasti akan dialaminya.

Siapa pun pasti berusaha untuk hidup lebih lama di dunia ini, tapi keteguhan hati Bu-ki sudah sangat membahayakan rencananya, maka untuk mengatasi hal ini Tio Kian segera mengambil keputusan untuk mengorbankan diri.

Daripada akhirnya mati karena tersiksa, lebih baik dia gunakan kematian sendiri untuk melunakkan pendirian putranya. Dia sengaja melimpahkan semua tanggung jawab atas kematiannya itu ke pundak Tong Ou, agar Bu-ki membenci orang ini, agar ia ingin segera membunuhnya untuk membalas dendam.

Penyebab kematian Tio Kian yang sesungguhnya bukan lantaran keracunan, melainkan karena dia telah menghancurkan isi perutnya sendiri dengan tenaga dalamnya.

Cara mati seperti ini memang amat menyiksa, namun jauh lebih tersiksa bila melihat Benteng Keluarga Tong berhasil menguasai dunia. Karenanya kematian semacam ini bagi Tio Kian tidak dianggap sebagai suatu penderitaan lagi!

Tentu saja Bu-ki tidak tahu kalau sampai akhir hayatnya, ayahnya masih berusaha untuk menipu dirinya.

Rahasia kematian Tio Kian pun berlalu untuk selamanya, mengikuti nyawanya yang telah meninggalkan raganya, selamanya tak seorang pun akan tahu kejadian sebenarnya.

Kesedihan yang dialami Bu-ki saat ini tak terlukiskan dengan kata-kata.

Selama ini dia selalu menganggap ayahnya telah tewas ketika menjalankan siasat Harimau Kemala Putih, kemudian secara tiba-tiba ia menjumpai ayahnya ternyata masih hidup, siapa sangka baru berkumpul satu jam, kini dia benar-benar telah mati.

Dengan termangu-mangu ditatapnya wajah ayahnya yang mati sambil menahan penderitaan, ia biarkan air matanya jatuh bercucuran membasahi pipinya.

Diam-diam ia bersumpah di dalam hati, dia harus membunuh Tong Ou untuk membalaskan sakit hati ini!

Sambil mendukung jenasah ayahnya, dia berjalan turun dari atas batu besar kemudian menuju ke satu sudut di Bukit Singa. Di sebuah tempat dengan latar belakang pemandangan yang indah dia mengubur jenasah ayahnya.

Setelah itu dia berdiri lama sekali di situ, mengenang kembali semua perjalanan hidupnya bersama ayahnya di masa lalu.

Entah berapa lama sudah lewat... ia baru tersadar ketika mendengar suara langkah kaki yang ringan datang dari arah belakang.

Tong Ou telah muncul.

Bu-ki sama sekali tidak berpaling, sejak tadi airmatanya sudah mengering, yang tersisa saat ini hanya rasa benci dan dendam kesumat.

Ia mendengar suara langkah kaki itu makin lama makin dekat dan akhirnya berhenti kurang lebih tiga tombak di belakang tubuhnya.

“Ternyata hatimu cukup baik!” suara Tong Ou bergema dari belakang tubuhnya.

Perlahan-lahan Bu-ki membalikkan badan, mengawasi Tong Ou tanpa berkedip. Kini ia sudah dapat mengendalikan hatinya, tiada pancaran dendam dari matanya, juga tak ada raut gusar di wajahnya, ia berdiri di situ dengan sikap yang amat tenang.

“Ternyata kau masih bersedia menguburkan jenasah musuh besar yang telah membunuh ayahmu. Kelihatannya hubunganmu dengan paman Siangkoanmu memang sangat akrab!”

Bu-ki tidak menjawab, dia hanya berpikir bagaimana harus bersikap di hadapan Tong Ou agar tidak menimbulkan kecurigaan orang.

Tiba-tiba Tong Ou tertawa, dari senyum berubah menjadi gelak tertawa.

Menunggu sampai lawannya berhenti tertawa, Bu-ki baru bertanya, “Apa yang kau tertawakan?”

“Aku sedang menertawakan dirimu!” “Menertawakan aku?”

“Benar, menertawakan kebodohanmu, kau memang tolol, sangat tolol, teramat tolol!”

Diam-diam Bu-ki tertawa dingin, sebab siapa yang paling tolol hanya dia sendiri yang tahu.

“Aku sangat tolol?” dia balik bertanya.

“Tentu saja, kalau tidak goblok, mana mungkin sampai terjebak oleh siasatku?”

“Terjebak siasatmu? Siasat apa?”

“Tahukah kau bahwa kau telah salah membunuh orang baik?” Tentu saja Bu-ki tahu, tapi dia berlagak pilon. “Aku telah salah membunuh siapa?” tanyanya. “Sangkoan Jin!”

“Sangkoan Jin?” “Benar!”

“Salahkah jika kubunuh musuh yang telah membunuh ayahku?”

“Tidak!”

“Lantas kenapa kau mengatakan aku telah salah membunuh?”

“Masalahnya, dia bukan musuh besar yang telah membunuh ayahmu!”

“Oya?”

“Kau tidak percaya?” “Tentu saja tidak!” Bu-ki melanjutkan sandiwaranya, “Memangnya buku harian ayahku itu palsu?”

“Siapa bilang tak mungkin?” “Kenapa mungkin?”

“Karena akulah pengarang buku harian itu!” Mendadak Bu-ki mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.

“Apa yang kau tertawakan?” tegur Tong Ou. “Apakah kau tidak merasa geli? Mana mungkin kau yang mengarang buku harian ayahku?” sekali lagi dia tertawa terbahak-bahak.

“Oh, jadi kau tidak percaya?”

“Tentu saja tidak, apa tujuanmu berkata begitu? Sengaja memancing amarahku?”

“Benar, aku memang sengaja memancing amarahmu, agar kau sedih dan merasa amat menyesal.”

“Apa gunanya untukmu?”

“Aku bisa menggunakan kesempatan ini untuk membunuhmu!”

“Kenapa? Bukankah kita berjanji akan bertarung?” “Duel?” Tong Ou mendengus dingin, “kalau mesti duel

secara adil, belum tentu aku bisa mengungguli kemampuanmu.” “Kenapa?”

“Sebab ilmu pedang yang kau pelajari dari Siau Tang-lo adalah ilmu pedang nomor wahid di kolong langit, kelewat hebat!”

“Maka kau sengaja memancing amarahku, agar aku emosi dan tak mampu berkonsentrasi?”

“Tepat sekali!”

“Sayang karangan ceritamu kelewat jelek, bagaimana mungkin aku bisa mempercayai perkataanmu?”

“Aku tahu!”

“Jadi kita ubah hari dan tempat bertarung menjadi hari ini dan di tempat ini?”

“Aku tak akan keberatan.” “Kau tak akan menyesal?”

“Aku hanya menyesal karena telah salah membunuh paman Siangkoan.”

“Dalam kejadian ini, kau memang patut merasa menyesal, padahal aku lihat kau kelewat goblok, kelewat gampang ditipu orang, manusia macam dirimu tidak pantas untuk menjadi pemimpin Tayhong-tong!” Bu-ki tidak menjawab, dia tahu Tong Ou sedang menggunakan kelebihannya yaitu membuat panas hati orang.

Bu-ki mendengus dingin, dengan berlagak makin lama semakin bertambah gusar. Ia meraung keras, padahal dalam hati kecilnya dia jauh lebih tenang dari siapa pun juga.

“Tahukah kau, dalam keadaan seperti ini kau paling pantas jadi apa?”

“Jadi apa?”

“Jadi setan!” bicara sampai di situ Tong Ou segera tertawa terbahak-bahak, tertawa penuh kebanggaan.

Paras muka Bu-ki berubah jadi merah padam, dia menunjukkan sikap yang semakin gusar.

Diam-diam Tong Ou mengamati terus perubahan raut muka Bu-ki, dia tahu, sekaranglah saat yang paling tepat untuk turun tangan. Karena itu ujarnya, “Sekarang kita boleh bertarung secara adil!”

Diam-diam Bu-ki tertawa dingin, duel secara adil? Kau sengaja memancing emosiku, agar kemampuan silatku terperosok, inikah yang disebut adil?

Bu-ki semakin berlagak marah, dia memang sengaja berlagak begitu agar Tong Ou salah menilai dirinya, agar Tong Ou memandang enteng kemampuannya.

Memandang enteng lawan merupakan titik kelemahan yang sangat mematikan dalam satu pertarungan.

Maka bila ditinjau dari berbagai sudut, pertarungan ini jelas bukan sebuah pertarungan yang adil.