Naga Kemala Putih Bab 19. Kejadian yang Sebenarnya

Bab 19. Kejadian yang Sebenarnya

Ketika Bu-ki sedang melakukan peninjauan di sekitar Bukit Singa, Wi Hong-nio pun sedang mengambil satu keputusan. Ia putuskan untuk balik ke gedung keluarga Tio. Dia berpendapat bahwa menyusul ke Siangkoan-po adalah tindakan bodoh, ia tak ingin Bu-ki memikul beban berat, tak ingin pemuda itu merasa menyesal sepanjang hidupnya.

Dia tak tahu, ketidakhadirannya di Siangkoan-po justru merupakan tindakannya yang paling bodoh, tindakan yang membuat Bu-ki harus menanggung sesal sepanjang hidupnya.

Tong Hoa sendiri tidak bermaksud membohonginya, dia berpendapat meski menyusul ke Siangkoan-po pun tak ada gunanya karena waktu itu Bu-ki pasti sudah selesai bertarung melawan Sangkoan Jin, jadi bujukan itu sesungguhnya muncul dari niat baiknya.

Dia sama sekali tidak tahu kalau waktu yang dijanjikan Sangkoan Jin adalah esok, sebab dia selalu berpendapat, Bu-ki pasti akan langsung menyerbu ke benteng Siangkoan-po untuk melakukan pembalasan. Mimpi pun dia tak menyangka bahwa anak muda itu ternyata lebih memilih beristirahat dulu semalam sebelum bertindak lebih jauh.

Mungkin takdirlah yang telah mengatur semua ini hingga Wi Hong-nio memutuskan untuk tidak berangkat ke Siangkoan-po. Bila takdir telah berbicara begitu, siapa yang bisa merubahnya?

Bu-ki tak pernah kembali ke rumah penginapan, ia terus berdiam di atas Bukit Singa karena ia telah menemukan sebuah batu besar di tanah datar itu, batu besar yang cukup dipakai untuk berbaring sepanjang hari. Seharian ia berbaring di atas batu sambil mengawasi mega yang bergerak di angkasa, menikmati waktu senggang sambil mempersiapkan diri menghadapi pertarungan besok.

Dia suka dengan perasaan seperti ini, setiap kali hendak melakukan pertarungan ia memang biasa menenangkan dulu pikirannya, agar dalam pertarungan nanti, dia dapat menggunakan segenap kekuatan yang dimilikinya.

Dalam suasana dan keadaan seperti inilah, tanpa terasa Bu- ki mulai tertidur.

Ketika sadar kembali, bintang telah bertaburan di angkasa, indah sekali.

Agak termangu dia mengamati sejenak bintang di langit, baru kemudian duduk bersila dan mulai mengatur napas. Ketika terjaga untuk kedua kalinya, fajar telah menyingsing.

Bu-ki segera bangkit berdiri, mengambil pedangnya, melompat turun dari batu cadas dan menuju ke jalan masuk menuju ke Bukit Singa.

Ia berdiri tegak di tengah jalan, mengawasi setiap gerakan di seputar tempat itu.

Entah berapa saat sudah lewat, akhirnya ia menyaksikan sesosok bayangan manusia sedang bergerak mendekat. Tak salah lagi, orang itu adalah Sangkoan Jin.

Ia segera berlalu, berjalan menuju tanah lapang yang telah dilihatnya kemarin dan memilih posisi bagian tengah sebelah kanan untuk bersiap sedia.

Sangkoan Jin segera menyusul tiba.

Ia berjalan sampai di hadapan pemuda itu dan baru berhenti setelah mencapai jarak satu tombak, tanyanya, “Apakah kedatanganmu untuk mencari aku?” Bu-ki mengangguk.

“Ada urusan penting?” “Ada!”

“Apa urusanmu?” “Datang membunuhmu!”

Bu-ki sangat tenang, suaranya juga tenang, membuat dia mau tak mau harus memuji ketenangan penampilannya sekarang.

Sangkoan Jin sendiri bersikap sangat tenang, dia hanya menyahut, “Oh ya?”

Kemudian mereka berdua diam, sama-sama membungkam, sama-sama saling memandang. Sampai lama kemudian Sangkoan Jin baru bertanya, “Kenapa?”

“Karena kau telah membunuh ayahku!”

“Bukankah kau sudah tahu tentang siasat Harimau Kemala

Putih?”

“Benar, tapi aku tak tahu kalau di balik rencana tersebut

ternyata masih ada rencana lain, Naga Kemala Putih!” “Naga Kemala Putih?”

“Benar, kau pasti tercengang bukan? Dari mana aku bisa mengetahui tentang rencana ini?”

“Betul, aku memang amat tercengang, rencana apa pula itu?” “Masa kau tidak tahu?” “Aku memang tidak tahu.”

“Sangkoan Jin, kau tak perlu berlagak pilon lagi!” nada suara Bu-ki mulai bergolak, mulai dipengaruhi emosi, “Kau telah membunuh ayahku secara licik!”

“Aku tidak mengerti apa yang sedang kau bicarakan...” “Kau telah meracuni ayahku secara perlahan-lahan,

menggunakan racun yang bersifat lambat, itulah sebabnya ayahku menderita penyakit yang tak bisa disembuhkan. Dengan begitu kau baru memperoleh kesempatan untuk menjalankan rencana Harimau Kemala Putih. Padahal sejak awal kau sudah berniat mengkhianati Tayhong-tong, kau sudah berencana untuk bergabung dengan Benteng Keluarga Tong, bukan begitu?”

Sangkoan Jin membelalakkan matanya lebar-lebar, diawasinya wajah pemuda itu sampai lama sekali, kemudian ia baru bertanya lagi, “Kau punya bukti?”

“Punya!”

“Di mana?”

“Dalam buku harian ayahku!”

“Buku harian ayahmu?” Sangkoan Jin bertanya keheranan, “Ayahmu pernah menulis buku harian?”

“Rupanya kau pun tidak tahu soal ini? Betul, persoalan ini merupakan rahasia ayahku, semua kecurigaan dan kesaksiannya telah dia catat dalam buku harian itu.”

“Dan kau percaya?”

“Tidak ada alasan bagiku untuk tidak percaya!” “Maka kau datang untuk membunuhku, membalaskan dendam bagi ayahmu?”

“Benar!” jawaban Bu-ki kali ini diucapkan sangat tenang, “tapi aku akan memberi kesempatan yang sangat adil untukmu, kita bisa bertarung di tempat ini.”

Seraya berkata dia mulai menghimpun tenaga dalamnya, bersiap melancarkan serangan.

Sangkoan Jin tertawa, kesedihan dan perasaan apa boleh buat terselip di balik senyuman itu, hanya saja Bu-ki tidak melihat atau merasakannya.

Sangkoan Jin tahu, kejadian ini pasti merupakan rencana busuk Keluarga Tong. Dia tahu, tak ada gunanya ia menjelaskan persoalan ini kepada anak muda tersebut, tak mungkin Bu-ki mau percaya pada semua omongannya.

Lantas apa daya sekarang? Menerima tantangan Bu-ki untuk bertarung? Bertarung mati-matian? Seandainya dia memperoleh peluang untuk menang, tegakah dia membunuh Bu-ki?

Kalau tidak melakukan perlawanan, apakah dia mandah dibunuh? Mati terbunuh di tangan Bu-ki sambil membawa kesalahan dan dosa yang sesungguhnya tak pernah ia lakukan?

Untuk beberapa saat Sangkoan Jin merasa bingung, dia tak tahu apa yang mesti dilakukan.

Sewaktu naik ke bukit tadi, dia memang sengaja tidak membawa senjata, bagaimana pun tujuan kedatangannya memang bukan untuk bertarung, namun setelah melihat Bu-ki meloloskan pedangnya, mau tak mau dia mulai mencoba untuk menghimpun tenaga dan bersiap sedia.

Begitu dia coba mengerahkan tenaga, saat itu juga ia menemukan sesuatu yang tak beres, ternyata ia tak mampu lagi menghimpun tenaga dalamnya.

Kenapa bisa begini? Paras mukanya berubah hebat, ia mulai membayangkan kembali semua kejadian yang dialaminya selama beberapa hari terakhir.

Dia masih ingat, semenjak kedatangan putrinya di benteng Siangkoan-po, dia tak pernah menghimpun tenaga dalamnya lagi, hal ini membuktikan kalau masalah ini muncul pada saat ini, saat setelah kehadiran putrinya. Mendadak perasaan hatinya tercekat, hawa sedingin salju mendadak muncul dari telapak kakinya dan langsung menerjang ke rongga dada.

Selama ini dia sudah cukup waspada, cukup berhati-hati menjaga kemungkinan niat keluarga Tong untuk meracuninya, satu- satunya hal yang tak pernah dia risaukan selama ini adalah kuah jinsom yang dihidangkan putrinya sesaat sebelum ia pergi tidur.

Mungkinkah putrinya yang telah meracuni dia?

Apakah Siangkoan Ling-ling sudah berpihak kepada Keluarga Tong? Tidak, tidak mungkin, sudah pasti pihak keluarga Tong yang telah mencampuri kuah jinsom itu dengan racun di saat Siangkoan Ling-ling tidak ada.

Mendadak dia seperti memahami semua rencana busuk yang sedang dipersiapkan Benteng Keluarga Tong. Jelas tujuan Keluarga Tong adalah meminjam tangan Bu-ki untuk menyingkirkan dirinya.

Rencana busuk yang mereka rencanakan merupakan sebuah rencana berantai, mula-mula mereka merekayasa satu cerita agar Bu-ki salah paham dan menyangka dialah pembunuh ayahnya, kemudian meminjam tangan Ling-ling untuk mencampur racun ke dalam kuah jinsom, agar tenaga dalamnya lenyap, dengan keadaan seperti ini Bu-ki pasti dapat mengalahkan dirinya tanpa harus bersusah payah.

Menilik semua tindakan yang dilakukan Keluarga Tong, semua ini membuktikan bahwa sejak awal mereka berencana untuk melenyapkan dirinya dan ingin memperalat Bu-ki untuk mencapai tujuannya. Mereka tak ingin turun tangan sendiri, kuatir perbuatannya akan berakibat orang lain enggan bergabung dengan mereka.

Begitu memahami apa yang telah terjadi, perasaannya malah semakin lega, ia tak takut menghadapi kematian namun dia tak ingin mati dengan cara begini, dia harus membuat perhitungan dengan Keluarga Tong, atau dengan perkataan lain dia tak ingin mati saat ini.

Berpikir sampai di situ, ia pun berkata, “Bagaimana kalau pertarungan ini sementara kita tunda dulu?”

“Tidak bisa.”

“Biarpun aku meminta sebagai paman Siangkoan?” “Kau sudah bukan pamanku lagi!”

“Kau tidak takut menyesal?” “Apa yang perlu kusesalkan?”

“Kau tidak kuaur sudah terjebak rencana keji yang disusun Benteng Keluarga Tong?”

Bu-ki melengak kemudian memandang wajah Sangkoan Jin dengan termangu.

“Pernahkah kau bayangkan,” kembali Sangkoan Jin berkata, “Benteng Keluarga Tong ingin melenyapkan aku tapi tak leluasa untuk

turun tangan sendiri, mereka kuatir di kemudian hari tak ada yang mau bergabung lagi, maka mereka merencanakan siasat ini agar kau yang membunuhku?”

“Kemungkinan semacam ini memang selalu ada, hanya saja aku tak percaya.”

“Kenapa?”

“Sebab cara ini kelewat bodoh.” “Apa dasarnya kau berkata begitu?”

“Kepandaian silatmu jauh di atas kemampuanku, memperalat aku untuk membunuhmu, apakah tindakan ini tidak kelewat bodoh?”

“Kalau sudah tahu begitu, kenapa kau tetap datang mencariku?”

“Dendam kematian ayahku tak boleh tak dibalas, biar tahu aku bukan tandinganmu tapi aku tetap harus mencoba. Bila seseorang sudah terdesak hingga terpaksa mengadu jiwa, kejadian apa pun bisa terjadi...”

“Itu berarti kau punya kemungkinan bisa membunuhku bukan?” “Benar!”

“Apa yang bisa kau duga memangnya tak bisa diduga pihak Benteng Keluarga Tong, khususnya oleh Tong Ou?”

“Tentu saja bisa, tapi aku masih belum percaya kalau kejadian ini merupakan bagian dari rencana keji mereka.”

“Kalau begitu kuberitahukan padamu, aku pun sudah keracunan, kau percaya?”

“Kau?” dengan mata terbelalak Bu-ki mengawasi wajah Sangkoan Jin.

“Benar, baru berapa hari ini aku terkena racun yang bersifat lambat, barusan aku mencoba menghimpun tenaga, tapi segera kujumpai kalau peredaran hawa murniku tersumbat.” “Sungguh?”

“Sungguh, kenapa aku mesti membohongimu? Memangnya kau anggap aku adalah manusia kurcaci yang takut mati?”

“Kenapa bisa begitu kebetulan?”

“Kejadian yang diatur secara teliti dan seksama baru meninggalkan kesan seolah kejadian tesebut adalah kejadian yang kebetulan, bukan begitu?”

“Belum tentu, kau pernah mendengar istilah yang mengatakan: ibarat baju langit yang terjahit rapi?”

“Jadi kau masih belum mempercayai aku?” “Aku tak punya alasan untuk percaya padamu.”

“Berarti kau tetap besikeras hendak menantangku untuk bertarung?”

“Benar, kita tak akan berhenti bertarung sebelum ada yang mati!” jawab Bu-ki tandas.

Dengan pandangan mata tajam Sangkoan Jin mengawasi anak muda itu, lama kemudian ia baru berkata, “Baiklah! Karena persoalan sudah berkembang jadi begini rupa, tampaknya sudah saatnya untuk membuka semua kejadian yang sebenarnya, kemarilah, aku akan mengisahkan satu cerita dulu, selesai mendengar kisah itu kau pasti akan percaya kepadaku.”

Berbicara sampai di situ dia mengajak Bu-ki menuju ke batu besar di tengah tanah datar dan duduk di situ. Setelah duduk, Sangkoan Jin mempersilahkan Bu-ki ikut duduk.

Dengan melintangkan pedangnya di depan dada, Bu-ki duduk persis berhadapan dengan pamannya itu.

“Tahukah kau kapan kau dilahirkan?” tanya Sangkoan Jin tiba-tiba.

Bu-ki agak tertegun, dia tak habis mengerti kenapa Sangkoan Jin mengajukan pertanyaan yang seaneh itu. “Tentu saja aku tahu,” sahutnya.

“Bukankah kau dilahirkan pada tanggal lima bulan sebelas jam Cho-si?”

Tidak aneh jika Sangkoan Jin mengetahui hari kelahirannya, sudah banyak tahun ia berkumpul dengan ayahnya, tentu saja ia ketahui hal ini dari ayahnya. Hanya herannya, kenapa ia bisa mengingatnya sejelas itu?

Dengan perasaan heran bercampur kaget anak muda itu mengangguk, “Benar!” “Di kaki kiri dekat sisi kananmu terdapat sebuah tanda berwarna hijau bukan?”

“Jadi ayahku juga menceritakan soal ini kepadamu?” Sangkoan Jin tidak menanggapi pertanyaan tersebut,

kembali ujarnya sambil tertawa getir, “Masih ingat ketika terjatuh dari atas pohon pada usia tiga tahun? Jidat kirimu membengkak besar sekali, masih ingat terjatuh dari pohon apa?”

Bu-ki menggeleng.

“Kau terjatuh dari sebuah pohon waru,” Sangkoan Jin bicara lebih jauh, “waktu itu kau diajak ibumu bermain di kebun belakang, karena teledor kau tak ditemukan meski sudah dicari ke mana-mana. Ibumu memanggil-manggil namamu tapi tidak kau gubris, ketika ia mulai cemas hingga nyaris menangis tiba-tiba kau memanggil 'ibu!' dari atas pohon, ibumu yang gelisah bercampur gusar kontan mencaci maki, saking kagetnya kau pun terjatuh dari atas dahan.”

Ketika bercerita sampai di situ, wajahnya nampak sangat murung, seakan sedang membayangkan kembali kejadian di masa lalu.

Makin didengar Bu-ki semakin tercengang dibuatnya, kejadian masa dulu yang dia sendiri pun sudah lupa, kenapa paman Siangkoan nya malah ingat begitu jelas?

“Kemudian sewaktu kau berusia duabelas tahun, hari itu kau sedang berlatih ilmu pedang dengan ayahmu, karena kurang hati- hati, ayahmu sempat melukai lengan kirimu, apakah hingga sekarang masih meninggalkan bekas luka yang dalam?”

Tentu saja Bu-ki masih ingat kejadian ini, tanpa terasa dia lipat bajunya sambil memperhatikan bekas luka yang dimaksud.

“Ini dia, masih membekas sampai sekarang!” Sekali lagi Sangkoan Jin tertawa getir.

“Sekalipun sudah tertusuk hingga terluka, kau sama sekali tidak mengaduh atau mengeluh, bahkan masih melanjutkan latihanmu, darah segar pun berhamburan ke mana-mana mengikuti gerakan tubuhmu. Menyaksikan kejadian ini, ayahmu merasa sedih bercampur bangga.”

“Dari mana kau bisa tahu tentang perasaan ayahku?” Kembali Sangkoan Jin tertawa getir.

“Dari mana aku bisa tahu perasaan ayahmu? Segala sesuatu mengenai ayahmu, aku mengetahui jauh lebih jelas dari siapa pun!” “Sudah pasti!” seru Bu-ki setelah terkesiap sejenak, “kau sudah banyak tahun bergaul dengan ayahku, tentu saja apa yang kau ketahui jauh lebih banyak dari siapa pun.”

“Tidak, maksudku adalah semua yang kuketahui mungkin sama banyaknya seperti apa yang ayahmu ketahui.”

“Kenapa bisa begitu? Apakah setiap urusan ayah selalu bercerita padamu?”

“Mungkinkah begitu?”

“Tentu saja tidak mungkin, tapi... dari mana kau bisa tahu tentang urusan ayahku bahkan sebanyak apa yang ayahku ketahui?”

“Coba pikirlah sendiri, dalam keadaan seperti apa hal ini baru mungkin terjadi?”

Bu-ki termenung sambil berpikir lama sekali, ia tetap menggeleng.

“Tidak terpikir olehku.”

“Mana mungkin? Padahal sederhana sekali masalahnya!”

Bu-ki terkesiap, dipandangnya Sangkoan Jin dengan wajah tertegun, kemudian dengan mulut ternganga dan mata melotot besar bisiknya, “Kecuali...”

“Betul!” Sangkoan Jin manggut-manggut, “Kecuali aku adalah ayahmu bukan?”

Benar, perkataan ini memang yang hendak diucapkan Bu-ki.

Tapi, mungkinkah itu?

Sampai lama sekali Sangkoan Jin saling berpandangan dengan Bu-ki, kemudian ia baru bertanya lagi, “Kau masih belum paham?”

“Paham soal apa?”

“Akulah ayahmu!” tiba-tiba nada suara Sangkoan Jin berubah, sama sekali berbeda dengan logat bicaranya tadi.

Belum selesai mendengar perkataan itu, sekujur badan Bu-ki sudah gemetar keras, agak tergagap bisiknya, “Kau... kau...”

“Aku adalah ayahmu!” dengan menggunakan logat bicara yang paling dikenal Bu-ki, Sangkoan Jin berseru.

Seketika itu juga Bu-ki merasakan kepalanya amat pusing, nyaris dia jatuh tak sadarkan diri. Betul, suara itu memang suara yang sudah didengar selama banyak tahun, suara yang amat dikenalnya semenjak dilahirkan, tapi... bukankah orang yang berada di hadapannya adalah paman Siangkoan? Kenapa bisa berubah jadi ayahnya? Tak kuasa lagi dia mengamati wajah Sangkoan Jin dengan seksama, dia ingin menemukan titik terang dari garis wajah orang itu. Namun kecuali logat bicaranya, ia tak berhasil menemukan sesuatu yang mencurigakan.

Wajah Sangkoan Jin tidak mirip dengan wajah seseorang yang mengenakan topeng kulit manusia, terlebih dia amat dekat dengan ayahnya, tapi kenapa tidak ditemukan sesuatu pertanda yang mengarah ke situ?

“Kau tak akan menemukan apa-apa dari wajahku,” ujar Sangkoan Jin sambil tertawa.

“Tak bisa menemukan apa-apa?”

“Wajahku sudah dirombak, sudah diubah menjadi wajah lain.” “Aku tidak percaya!”

“Aku tahu kau tak bakal percaya, sebab waktu itu bahkan aku sendiri dan paman Siangkoanmu juga tidak percaya, apalagi kau!”

Logat bicara Sangkoan Jin ternyata logat Tio Kian!

Bu-ki membelalakkan matanya semakin lebar, ia benar- benar tak percaya pada yang dikatakan orang ini, biar digebuk sampai mampus pun dia tak akan percaya.

Kembali terdengar Sangkoan Jin berkata, “Kau pernah mendengar istilah tentang 'wajah suami istri'?”

“Pernah!”

“Dan tahu secara jelas arti dari perkataan itu?”

“Tahu. Jika suami istri sudah hidup bersama terlalu lama maka lambat laun paras muka mereka berdua akan semakin mirip satu sama lainnya.”

“Benar. Kecuali suami istri, sahabat yang berkumpul terlalu lama pun akan mengalami kejadian yang sama, tahu soal itu? Aku dan paman Siangkoan sudah duapuluhan tahun berjuang bersama- sama, mati hidup bersama, lambat laun paras muka kami berdua mendekati kemiripan, apa kau tidak merasakannya?”

Setelah berhenti sejenak, katanya lebih jauh, “Tentu saja kau tak akan merasakannya, sebab termasuk kami berdua pun tidak merasakannya, namun ada satu orang yang menemukan kemiripan ini.”

“Oya? Siapa?”

“Biau-jiu, si Tangan Sakti Li Thian-hui!” “Biau-jiu si Tangan Sakti Li Thian-hui?” “Pernah tahu tentang orang ini?”

“Aku pernah mendengar, tapi bukankah dia hanya salah satu tokoh dalam cerita dongeng?”

“Tidak! Benar-benar ada manusia seperti dia.” “Benar benar ada manusia macam dia? Benarkah dia

sehebat seperti yang didengungkan orang selama ini, bisa mengubah paras muka seseorang menjadi paras muka orang lain?”

“Bukankah aku adalah salah satu contoh hidupnya?”

Sekali lagi Bu-ki mengamati wajah Sangkoan Jin sampai lama sekali, tapi akhirnya dia tetap menggeleng.

“Aku masih belum percaya.”

“Kenapa kau masih belum mau percaya?” kata Sangkoan Jin, “baiklah, akan kuceritakan sebuah kisah lagi, moga-moga saja kau bersedia mendengarkan.”

Bu-ki tidak menjawab, dia hanya mengawasi lekat-lekat. “Masih ingat apa yang terjadi di musim gugur tiga tahun

berselang?”

“Masih ingat,” sahut Bu-ki setelah berpikir sejenak, “kau bersama ayahku lenyap hampir setengah bulan lamanya.”

Bicara sampai di situ mendadak ia terperangah, serunya gagap, “Jadi kau...”

“Benar, kami telah bertemu Li Thian-hui,” tukas Sangkoan Jin cepat, “begitu bertemu kami, ia nampak terperangah dan berulang kali menyatakan aneh.”

“Kenapa?”

“Dia bilang kalau wajah suami istri sudah banyak yang dilihatnya, tapi wajah sahabat belum pernah dijumpai, waktu itu kami keheranan dan bertanya apa yang dimaksud wajah sahabat, dia bilang, sama seperti suami istri, jika sahabat berkumpul terlalu lama, raut muka mereka lambat laun akan semakin mirip.”

Bicara sampai di sini Sangkoan Jin berhenti sejenak, kemudian sambungnya lagi, “Maka Li Thian-hui pun mengajukan satu pertanyaan kepada kami.”

“Pertanyaan apa?”

“Dia bertanya kepada kami, ingin tidak berganti peran. Mula- mula kami kurang begitu paham dengan kemauannya, maka dia pun berkata lagi, katanya dia mampu memindahkan wajahku menjadi wajahnya dan wajahnya menjadi wajahku.” Bu-ki tidak bicara lagi sebab apa yang diungkap Sangkoan Jin kelewat aneh, kelewat tak masuk di akal, membuatnya setengah percaya setengah tidak.

Sangkoan Jin sama sekali tidak menggubris perubahan wajah Bu-ki, secara ringkas dia pun menceritakan apa yang dialaminya tiga tahun berselang.

Ooo)))(((ooo

Ternyata Sangkoan Jin dan Tio Kian tertarik sekali setelah mendapat tawaran dari Li Thian-hui, mereka bertekad untuk saling bertukar wajah, sebab mereka berpendapat, dengan berganti posisi dan identitas siapa tahu akan memperoleh hasil yang sama sekali di luar dugaan.

Bagaimanapun juga mereka sudah lama saling mengenal, kedua belah pihak sama-sama memahami persoalan yang dialami rekannya sehingga tidak terlalu sulit untuk menyamar sebagai rekannya.

Maka mereka pun mengajak Li Thian-hui kembali ke rumahnya dan membiarkan ia melakukan perubahan wajah.

Kepandaian ilmu merubah muka yang dimiliki Li Thian-hui sangat hebat, ia melakukan operasi besar dan mengubah wajah kedua orang itu, tentu saja dengan bantuan tusuk jarum hingga mereka tak perlu merasakan penderitaan dan siksaan.

Tiga hari kemudian, ketika mereka mulai bercermin, kedua orang itu benar-benar terperanjat bercampur heran. Sewaktu mereka saling berjumpa dan saling berpandangan, rasa kaget mereka semakin menjadi.

Untuk meyakinkan kalau perubahan wajah itu tidak meninggalkan bekas yang bisa menimbulkan kecurigaan orang, mereka saling mengamati kembali wajah rekannya, ternyata memang tak ditemukan titik kelemahan sekecil apa pun.

Maka mereka mulai mempelajari dan menirukan kebiasaan hidup rekannya, setelah lewat tiga tahun lagi, gerak-gerik mereka baru benar-benar mencapai puncak kesempurnaan, mereka sudah terbiasa menganggap rekannya sebagai diri sendiri.

Berapa lama kemudian mereka mulai berpikir bahwa kejadian semacam ini sangat melanggar kebiasaan, timbul perasaan menyesal, maka mereka pun bertanya kepada Li Thian-hui apakah ada kemungkinan untuk memulihkan kembali wajah mereka.

Jawaban yang diterima membuat mereka berdua tertegun. “Hal ini mustahil bisa dilakukan, memangnya kalian anggap

perubahan ini hanya sebuah permainan? Mau dirubah lantas dirubah sekehendak hati?”

“Mengapa kau bisa mengubah wajah kami tapi tak dapat memulihkan kembali seperti sedia kala?” tanya Tio Kian.

“Karena kulit kalian sudah terluka, sudah ditarik hingga berubah bentuk, tentu saja tak dapat dipulihkan seperti wajah dahulu!”

“Andaikata kami ingin menunjukkan identitas kami yang sebenarnya, lalu apa caranya?”

“Tak ada caranya.”

Jawaban itu terasa amat kejam, bagai sebilah pisau tajam yang menghujam ke dada Sangkoan Jin dan Tio Kian, mereka terkejut bercampur sedih.

“Kalian harus berganti peran, selamanya berganti peran!” kembali Li Thian-hui berkata.

Tio Kian dan Sangkoan Jin saling berpandangan sampai lama sekali, kemudian baru menegaskan, “Benar-benar tak ada jalan keluar?”

“Sebenarnya masih ada satu cara.” “Bagaimana caranya?”

“Sebuah cara yang amat menderita dan tersiksa.” “Cara yang menyiksa?”

“Benar!”

“Kenapa?”

“Sebab aku harus menguliti seluruh wajah kamu berdua, agar wajah yang sekarang musnah. Kemudian membiarkan kulit wajah kalian tumbuh kembali perlahan-lahan, kulit muka yang tumbuh kemudian akan berwujud wajah kalian yang dulu!”

Tio Kian maupun Sangkoan Jin merasa teramat gusar, mereka tidak menyangka kalau Li Thian-hui menggunakan mereka berdua sebagai kelinci percobaan.

Tanpa banyak bicara lagi serentak mereka berdua mengayunkan telapak tangannya dan dihantamkan ke dada Li Thian- hui. “Dan Li Thian-hui tewas di tangan kalian berdua?” tanya Bu- ki setelah selesai mendengarkan kisah tersebut.

“Ilmu merubah wajahnya memang hebat dan tiada tandingan, tapi kepandaian silatnya teramat cetek, mana mungkin tidak mampus?”

“Kalau mendengar kisahmu ini, berarti di dunia saat ini tak akan ditemukan lagi saksi yang bisa membuktikan kebenaran ini?”

“Jadi kau masih tetap tidak percaya kepadaku?” tanya Sangkoan Jin sambil menatap anak muda itu tajam.

Bu-ki tertawa.

“Bagaimana mungkin aku bisa percaya? Ceritamu terlalu khayal, kelewat tak masuk di akal!”

“Terlalu khayal? Tapi yang kuceritakan adalah kisah yang sebenarnya. Tahukah kau, kadang-kadang kejadian sesungguhnya bisa kedengaran agak khayal?”

“Tapi ceritamu itu...”

“Apa yang mesti kulakukan agar kau percaya kepadaku?” tukas Sangkoan Jin tiba-tiba.

Bu-ki segera terbungkam, tak mampu menjawab.

Dengan wajah yang sangat serius Sangkoan Jin mengawasi pemuda itu, sekejap kemudian ia baru berkata, “Coba pinjamkan pedangmu kepadaku.”

Bu-ki memandang Sangkoan Jin sekejap, dia pun tidak bertanya apa-apa dan menyodorkan pedangnya.

Setelah menerima pedang itu, paras muka Sangkoan Jin berubah makin serius, dia mencabut pedang itu, mengawasi bagiannya yang tajam kemudian perlahan-lahan dia palangkan mata pedang yang tajam itu ke lehernya sendiri.

“Hey, mau apa kau?” tegur Bu-ki terkesiap. Sangkoan Jin tertawa sedih.

“Bukankah hanya dengan cara begini kau baru akan mempercayaiku?”

Berubah hebat paras muka Bu-ki.

“Jadi kau hendak merusak wajahmu sendiri?” ia bertanya. “Tidak, aku hanya akan memulihkan kembali wajah asliku,”

jawab Sangkoan Jin tenang.

Pikiran dan perasaan Bu-ki bergolak keras, untuk sesaat dia tak tahu bagaimana harus menghadapi kejadian ini. Memang hanya cara ini yang bisa membuatnya dapat melihat wajah orang ini yang sesungguhnya, hanya dengan jalan menyayat kulit wajah yang ada, dia baru bisa membuktikan apakah orang ini ayahnya atau bukan.

Tapi, andaikata dia benar-benar adalah ayahnya? Bukankah wajahnya akan hancur musnah? Bukankah wajah itu akan berlumuran darah? Tapi seandainya bukan? Mungkinkah tindakan yang ia lakukan hanya bertujuan untuk membohonginya?

Andaikata orang yang berada di hadapannya adalah Sangkoan Jin? Dia cerdas dan banyak akal, terbukti dia sanggup mencelakai ayahnya, ini berarti bukan urusan yang sulit baginya untuk memulihkan wajah aslinya. Dia pasti sengaja berbuat begitu karena sudah menduga pemuda itu pasti akan mencegahnya.

Pelik, persoalan ini betul-betul teramat pelik. Apa daya sekarang?

Memandang mata pedang di tangan Sangkoan Jin yang siap menyayat wajah sendiri, ia bingung dan tak tahu apa yang mesti diperbuat.

Ooo)))(((ooo

Berita kehadiran Bu-ki di benteng Siangkoan-po dengan cepat sudah tersiar luas, Tong Ou pun mendengar berita ini.

Dia pun tahu, tujuan Bu-ki mendatangi rumah judi adalah untuk menarik perhatian Sangkoan Jin, maka sejak awal dia sudah mengutus orang untuk mengikuti secara diam-diam dan memperhatikan arah kepergiannya.

Pertarungan antara Sangkoan Jin melawan Tio Bu-ki, tentu saja dia ingin menjadi penonton saja, maka ia berpesan pada orang yang mengawasi gerak-gerik Sangkoan Jin agar segera memberi kabar bila menemui sesuatu yang tidak biasa, dia sudah siap untuk menyusul.

Tapi yang membuat ia tercengangadalah dalam seharian penuh hari kedua, Sangkoan Jin sama sekali tidak melakukan sesuatu.

Kemudian pada hari ketiga, petugas yang mendapat perintah untuk melakukan pengintaian itu baru muncul dengan wajah pucat sambil melaporkan lenyapnya Sangkoan Jin.

Sejak kapan Sangkoan Jin meninggalkan tempat tinggalnya? Tak seorang pun yang melihat. Kejadian ini sungguh membuat Tong Ou tercengang dan tak habis mengerti. Kenapa Sangkoan Jin harus pergi secara rahasia di luar tahu siapa pun? Apakah di antara dia dan Tio Bu-ki benar-benar ada rahasia yang amat besar?

Dia tidak tahu, tapi ia segera mengutus orang untuk menyelidiki jejak Sangkoan Jin ke empat penjuru dan hasilnya tetap tidak ada yang tahu ke mana dia pergi. Sementara menurut laporan pelayan rumah penginapan yang didiami Bu-ki, sejak kemarin ia naik ke Bukit Singa, anak muda itu juga tak pernah balik lagi.

Begitu mendapat laporan tersebut, Tong Ou langsung menyambar pedangnya dan berangkat ke Bukit Singa. Menurut perhitungannya, Sangkoan Jin pasti sudah mengundang Tio Bu-ki untuk berjumpa di Bukit Singa.

Ketika Tong Ou berangkat, waktu sudah mendekati tengah

hari.

Perasaan itu timbul karena dia teringat akan satu hal.

Pedangnya!

Sebelum meninggalkan tempat itu Sangkoan Jin sama sekali tidak mengembalikan pedang itu kepadanya.

Dengan langkah cepat dia menerjang ke muka, sembari melesat teriaknya keras, “Jangan!”

Sayang semua sudah terlambat, segala sesuatunya sudah

terjadi.

Tatkala Bu-ki berhasil menyusul, Sangkoan Jin telah

menghentikan langkahnya, menanti Bu-ki sepuluh langkah di belakangnya dan tiba-tiba ia membalik tubuhnya.

Bu-ki segera berhenti di hadapan Sangkoan Jin, kini jarak mereka tinggal dua-tiga langkah dan Sangkoan Jin sudah membalikkan seluruh badannya.

Dalam waktu singkat Bu-ki berdiri dengan mata terbelalak lebar dan mulut melongo, darah bercucuran dalam hatinya, dia menjerit. Kenapa? Kenapa? Kenapa?

Yang dia saksikan adalah selembar wajah yang penuh berlepotan darah!

Rupanya setelah beranjak pergi tadi, dalam jarak sepuluh langkah dia berjalan, secara diam-diam ia mulai menyayati kulit wajahnya. Ia baru berhenti sambil membalikkan badan ketika mendengar Bu-ki menjerit kalap.

Ternyata dia adalah Tio Kian! Ayah kandung Tio Bu-ki! “Ayah!” jeritan Bu-ki seakan terhenti di tenggorokannya, dia tak sanggup menjerit, tak mampu berteriak.

Sekulum senyuman pedih tersungging di ujung bibir Tio

Kian.

Sebuah senyuman yang amat mengenaskan, senyuman

yang mengerikan di balik wajahnya yang hancur berantakan. Sekalipun kelihatan amat menyeramkan, namun pandangannya nampak begitu lembut, begitu ramah dan penuh kasih sayang. Suatu pernyataan yang membuktikan bahwa ia sama sekali tidak menyalahkan putranya.

Airmata mulai jatuh bercucuran membasahi wajah Bu-ki, ia bertekuk lutut dan menjatuhkan diri menyembah di tanah, bersembah sujud di hadapan Tio Kian.

“Ayah!” akhirnya dengan suara yang parau tapi mengenaskan dia memanggil.

Tio Kian tcrt awa sedih, sahutnya, “Kau tak perlu kelewat sedih, aku berbuat begini bukan hanya