Naga Kemala Putih Bab 18. Waktu: Mao-si, Tempat: Bukit Singa

Bab 18. Waktu: Mao-si, Tempat: Bukit Singa

Ketika Wi Hong-nio masih sangsi dan tak tahu bagaimana harus mengambil keputusan, Tio Bu-ki telah menerima sepucuk surat rahasia.

Kapan surat rahasia itu dikirim. Ia sama sekali tak tahu, tatkala bangun dari tidurnya, di celah pintu kamarnya terselip sepucuk surat, surat rahasia itu. Dia tahu, surat itu tentu diselipkan secara diam-diam di tengah malam buta.

Sesudah dibuka, ternyata surat dari Sangkoan Jin, isinya amat singkat, hanya menerangkan kalau esok pada saat Mao-si (antara pukul 5 s/d 7 pagi) dia ditunggu di Bukit Singa.

Dia mencoba membuka jendela sambil melongok keluar, saat itu waktu sudah menunjukkan lewat pukul 7 pagi, ini berarti Sangkoan Jin mengajaknya berjumpa esok pagi, bukan hari ini.

Tapi Bukit Singa di mana letaknya? Ia sama sekali tidak risau, asal ditanyakan bukankah segera akan diketahui letaknya?

Mengapa Sangkoan Jin mengajaknya bertemu esok pagi dan bukannya hari ini? Apakah hari ini dia ada urusan? Atau hari ini dia tak mampu menghindari pengawasan orang-orang Keluarga Tong?

Semua ini tidak penting, yang paling penting saat ini adalah mencari tahu Bukit Singa itu sebenarnya bukit seperti apa? Cocokkah digunakan untuk bertempur menggunakan pedang?

Ia memutuskan untuk datang ke Bukit Singa dan memeriksa keadaannya.

Ia memanggil pelayan, menanyakan letak Bukit Singa, memesan sekati daging dan delapan biji mantau untuk menangsal perut.

Dia memang perlu makan agak banyak, sebab semalam ia sudah menghamburkan banyak tenaga untuk bertarung melawan Chee Tauke, pemilik rumah judi.

Jurus yang digunakan Chee Tauke memang sangat lihay, sedemikian hebatnya sampai Bu-ki mau tak mau harus bersorak memuji.

Sebenarnya dia akan mengaku kalah begitu saja karena tujuan kedatangannya bukan mencari keuntungan materi tapi untuk memancing perhatian orang banyak. Asal mulai menarik perhatian orang, pasti akan ada yang melaporkan kehadirannya kepada pemimpin mereka, dan pemimpin mereka adalah Sangkoan Jin. Asal Sangkoan Jin tahu, dia pasti akan berusaha menghubunginya.

Tadi ia sempat melihat kalau Chee Tauke membisikkan sesuatu ke telinga seseorang dan orang itu segera meninggalkan rumah judi Hap-hin-ho begitu mendapat kisikan. Ia yakin orang itu pasti sudah pergi memberi laporan.

Oleh sebab itu menang kalah dalam pertaruhan ini sudah tak ada artinya lagi. Tapi jurus yang digunakan Chee Tauke membangkitkan rasa herannya, ia jadi ingin tahu dan ingin mengalahkannya. Yang membuat rasa ingin menangnya muncul adalah tantangan dari lawannya, masa ia tak bisa memenangkan pertaruhan itu?

Dorongan rasa ingin tahu membuat pemuda ini memutar otak mencari akal, cara dia bisa memenangkan taruhan ini.

Dia menyambut sodoran mangkuk dari tangan Chee Tauke, mengawasi tiga batang jarum panjang yang menembusi dadu-dadu itu sambil otaknya mulai berputar. Dia ingin menemukan cara paling jitu untuk melemparkan tiga angka enam dalam lemparan berikut.

Dengan tangan kiri memegang mangkuk, tangan kanannya mencabuti ketiga batang jarum itu kemudian diserahkan kembal i ke tangan Chee Tauke.

Dengan perasaan puas bercampur bangga orang tua itu mengawasi lawannya. Tiba-tiba Bu-ki merasa senyuman orang itu amat memuakkan, dia muak melihat tampang lawannya yang seolah sudah yakin kalau kemenangan berada di pihaknya.

Hanya muak saja tak ada gunanya, dia harus menemukan cara untuk mengatasi kesulitan itu, ia mencoba perhatikan sekeliling arena. Ada sebagian orang sedang memandangnya dengan perasaan simpatik, ada pula yang memandang setengah mengejek, seakan menertawakan kekalahan yang bakal dialaminya.

Ketika berpaling lagi ke arah Chee Tauke, ia melihat senyuman kakek itu semakin melebar, terdengar ia sedang berseru, “Ayoh, silahkan!”

Bu-ki termenung sejenak, tiba-tiba ia menemukan satu gagasan bagus.

“Kau memang sangat lihay,” katanya kemudian. “Ehmm...” “Sayang aku mempunyai jurus yang jauh lebih hebat.”

“Oh ya?” Chee Tauke menunjukkan rasa tak percaya, “Orang muda, tak ada gunanya kalau hanya melulu omong besar, tunjukkan dulu kebolehanmu!”

“Kau tak percaya?” “Tentu saja tak percaya!”

“Bagus, kalau begitu bagaimana kalau kita lipat duakan uang taruhan?”

Chee Tauke agak tertegun, setelah mengamati lawannya sejenak ia baru menyahut, “Baik!”

“Tapi kita mesti mengganti cara kita berjudi!” “Ganti cara? Bagaimana gantinya?”

“Kalau aku bisa mendapat tiga angka enam, bukankah hasilnya seni?”

“Tentu, di sini tak berlaku bandar paling menang!” “Berati kita tidak bisa menentukan siapa menang siapa kalah.” “Kenapa?”

“Sebab aku tak pernah salah perhitungan!” “Jadi kau sangat yakin?”

“Tentu saja, kendati kau sudah melubangi setiap dadu sehingga bobotnya berubah, aku tetap punya cara untuk mendapatkan tiga angka enam!”

“Lantas kau ingin menang kalah ditentukan dengan cara

apa?”

“Setelah kulempar dadu itu, bukan saja kujamin akan

mendapatkan tiga angka enam, bahkan aku pun berani bertaruh jika kau melemparkan dadu itu lagi, kau pun akan peroleh tiga angka enam.” lain?” “Omong kosong, memangnya aku mesti pilih angka yang

“Maksudku, kecuali mendapatkan tiga angka enam, kau tak nanti bisa mendapatkan angka yang lain!” “Oh ya?”

“Jika kau bisa memperoleh angka selain tiga angka enam, anggap saja aku yang kalah!”

Tampaknya Chee Tauke mulai tertarik, ditatapnya Bu-ki lekat lekat.

“Bila lemparanmu kembali menghasilkan tiga angka enam, berarti akulah yang menang,” kembali anak muda itu berkata.

Mendadak Chee Tauke mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.

“Ha ha ha... anak muda, kali ini kau akan kalah dengan menyedihkan!”

Bu-ki tidak bicara, dia hanya tersenyum.

“Tak ada gunanya kalau cuma tersenyum!” Chee Tauke segera berpaling ke arah para penonton, kemudian terusnya, “Bukan begitu saudara sekalian?”

Semua orang segera mengiakan. “Apakah kalian ingin turut bertaruh?” kembali Chee Tauke bertanya.

“Bertaruh apa?” ada yang tanya.

“Bertaruh siapa di antara kami berdua yang bakal menang!” “Tentu saja Chee Tauke yang bakal menang!”

“Ada yang berani pegang aku kalah?” Tak ada yang menjawab.

“Berarti kalian semua bertaruh kalau Chee Tauke yang bakal menang?” sela Bu-ki tiba-tiba.

“Tentu saja!” serentak semua orang berseru.

“Kalau begitu kalian boleh pasang taruhan, aku akan bertaruh melawan kalian!”

“Sungguh?” kembali semua orang berseru. “Tentu saja sungguh!”

Maka para penonton pun mulai berbisik-bisik, ada yang mulai mengira-ngira ilmu simpanan apa yang akan digunakan pemuda itu, ada pula yang menilai tindakan orang ini kelewat goblok. Sebanyak apa pun pendapat dan pandangan orang tapi tindakan yang mereka lakukan ternyata sama dan seragam.

Mereka mengeluarkan seluruh uang yang ada di dalam saku untuk dipertaruhkan.

Meja judi nyaris tak muat untuk menampung semua uang taruhan itu.

Tiba-tiba Chee Tauke mengulapkan tangannya memberi tanda agar semua orang tenang, kemudian kepada pemuda yang ada di hadapannya dia bertanya, “Memangnya kau sanggup membayar semua taruhan ini?” Bu-ki tertawa, dari sakunya dia mengeluarkan sekeping goanpo dari emas, sambil diletakkan ke meja tanyanya, “Cukup tidak emas ini?”

Kembali Chee Tauke menyapu sekejap hancuran uang perak yang berserakan di meja, tanyanya lebih jauh, “Seandainya tidak cukup?”

“Kalau tidak cukup, kita bagi rata sama uang emas itu,” ada yang mengusulkan.

Semua orang berpendapat bahwa pertaruhan ini jelas akan mereka menangkan, ketimbang tak ada yang dibagi, peroleh sedikit keuntungan pun tidak apa-apa, maka serentak semua orang menyatakan setuju. “Baiklah,” kata Bu-ki lagi sambil tertawa, “kalau toh semua orang berbesar hati, aku pun akan memberi sedikit keuntungan untuk kalian semua, seandainya aku yang menang maka aku hanya akan mengambil sepuluh persen dari uang taruhan kalian!”

Sekali lagi terjadi kegaduhan, malah ada di antaranya yang sudah mengulurkan tangannya untuk menarik kembali uang taruhannya.

Mereka agak grogi juga setelah menyaksikan keyakinan pemuda itu, tak mungkin di dunia ini ada orang yang mau bertaruh jika yakin pasti akan kalah.

Menyaksikan kegaduhan itu, buru-buru Chee Tauke berseru, “Kalian tak usah kuatir, seandainya kalian kalah, aku bilang seandainya, biarlah aku yang membayar sepuluh persen yang menjadi tanggung jawab kalian semua.”

Begitu perkataan tersebut diutarakan, sekali lagi terjadi kegaduhan, siapa yang tak ingin ikut dalam pertaruhan yang jelas tak bakal rugi ini!

“Apakah kami masih boleh menambah uang taruhan?” ada yang tanya.

Sorot mata semua orang dialihkan ke wajah Bu-ki, sambil tersenyum sahut anak muda itu, “Lebih baik kalian tanyakan saja persoalan ini kepada Chee Tauke.”

“Kenapa mesti ditanyakan Chee Tauke?”

“Sebab ketika tiba saatnya untuk membayar, dia yang akan merogoh koceknya, bukan aku!”

Chee Tauke tak kuasa menahan diri lagi, ia segera tertawa terbahak-bahak, “Ha ha ha ha... silahkan kalau ada yang ingin menambah uang taruhannya, cuma aku lihat sekeping uang emas tak nanti mampu membayar seluruh taruhan yang ada!”

Bu-ki memandang sekejap uang taruhan yang semakin menggunung itu, katanya kemudian, “Baiklah, akan kutambah lagi dengan semacam barang.”

Sambil berkata dari sakunya dia mengeluarkan sebilah pisau yang sangat kecil, di bawah sinar lentera pisau itu memantulkan cahaya kekuning-kuningan yang amat menyilaukan mata.

Sebilah pisau kecil yang terbuat dari emas murni, selain amat tipis, tajamnya luar biasa.

“Pisau yang hebat!” tak kuasa Chee Tauke berteriak keras. “Bernilai?” “Sangat!”

“Cukup untuk membayar semua taruhan itu?” “Cukup sekali!”

“Bagus kalau begitu,” seru Bu-ki sambil memasukkan kembali pisau emasnya ke dalam saku.

“Kenapa tidak kau letakkan pisau kecil itu ke atas meja taruhan?”

“Aku punya kegunaan lain.” “Kau bermaksud ingkar janji?”

“Keliru besar, maksudku aku akan memanfaatkan pisau kecil ini, bukankah kau boleh menggunakan jarum, tentu saja aku pun boleh memakai pisau bukan?”

“Tentu saja.”

“Bagus, sekarang kalian boleh memasang taruhan.” “Baik!” serentak para penonton menyahut, mereka ingin

melihat apa benar Bu-ki memiliki kemampuan untuk mengalahkan Chee Tauke.

Bu-ki segera menggenggam dadu-dadu itu dan diletakkan dalam genggamannya, kepada semua yang hadir serunya, “Sekarang aku akan melempar dadu ini!”

Sambil menahan napas semua orang memperhatikan tangan kanannya.

Bu-ki menarik napas panjang, tiba-tiba ia melemparkan ketiga dadu itu ke atas udara, menyusul kemudian secepat kilat dia cabut keluar pisau emasnya dari balik saku.

Dengan gerakan lurus dia melayang ke udara, menerjang ke arah ketiga dadu itu. Di saat dadu-dadu meluncur ke bawah, pisau emasnya menyambar ke kiri, kanan, atas dan bawah, secara beruntun melepaskan lima tusukan.

Para penonton hanya menyaksikan pisau emas itu secepat sambaran kilat memancarkan limabelas kali kilatan sinar

tajam, tahu-tahu Bu-ki yang sudah melayang turun telah memegang mangkuk judi itu dan mengangkatnya ke atas.

Ting, ting, ting, tiga kali dentingan nyaring bergema di angkasa, tahu-tahu ketiga biji dadu itu sudah jatuh kembali di dalam mangkuk.

Untuk berapa saat suasana dalam ruang judi jadi hening, perhatian semua orang dialihkan ke atas mangkuk yang berada di atas kepala Bu-ki. Anak muda itu sendiri berdiri dengan wajah serius, tiada senyuman yang menghiasi bibirnya, karena apa yang dia lakukan sekarang belum pernah ia lakukan sebelumnya, dia tak tahu apakah berhasil atau tidak.

Perlahan-lahan ia turunkan mangkuk itu dan meletakkannya ke meja.

Suasana mendadak menjadi riuh rendah, seruan tertahan bergema memenuhi seluruh ruangan. Tiga biji angka enam!

Bukan saja tiga angka enam bahkan dengan sangat jelas terlihat kalau Bu-ki telah memapas angka-angka lainnya di permukaan dadu-dadu itu sehingga ukiran angka-angkanya sama sekali terhapus.

Sebuah gerak serangan yang cepat, tenaga dalam yang sempurna!

Setelah berseru tertahan kini perhatian semua penonton dialihkan ke wajah Chee Tauke, mereka ingin tahu dengan cara apa bandar judi itu akan menghadapi kesulitannya.

Berubah hebat paras muka Chee Tauke, dengan wajah hijau membesi dia mengawasi ketiga dadu itu tanpa berkedip.

Apa yang dikatakan Bu-ki sangat tepat, mulai saat ini, kecuali tiga angka enam, jangan harap Chee Tauke bisa memperoleh angka lain.

Tak dapat disangkal Chee Tauke sudah kalah!

Semua orang tak berani berkata-kata, mereka memang tak tahu harus mengucapkan kata apa. Dengan senyum dikulum Bu-ki duduk kembali di bangkunya.

Tiba-tiba Chee Tauke mengangkat kembali wajahnya yang hijau membesi, sambil memandang lawannya sekulum senyuman tipis tersungging di ujung bibirnya.

Kenapa dia malah tersenyum? Bukan hanya Bu-ki yang ingin tahu, para hadirin yang menonton keramaian pun ingin tahu.

Dengan senyuman menghiasi ujung bibirnya kembali Chee Tauke berkata, “Kali ini kau pasti kalah!”

Bu-ki tidak berbicara, dia hanya putar otak tiada hentinya, dalam keadaan apa ia baru bisa dianggap kalah?

“Aku beri tahu, dalam lemparanku berikut aku akan mendapatkan dua angka enam ditambah satu angka satu, cukup satu perubahan yang akan mengubah kekalahanku jadi kemenangan, ha ha ha Chee Tauke tertawa amat riang seakan kemenangan sudah pasti akan diraihnya, terdengar ia berkata lagi, “Sekarang letakkan pisau emasmu ke meja taruhan, karena aku akan membayarkan kekalahanmu itu!”

“Tak usah terburu napsu,” jengek Bu-ki sambil tertawa dingin, “hingga detik ini aku belum kalah!”

“Kau segera bakal kalah!”

Sambil berkata ia mengambil ketiga dadu yang tinggal angka enamnya itu dan diletakkan dalam genggamannya. “Sekarang perhatikan baik-baik!”

Sambil berkata kakek itu melemparkan ketiga biji dadu itu ke tengah udara.

Tak ada yang tahu obat apa yang sedang dijual kakek itu, jelas tinggal angka enam yang tersisa di permukaan dadu itu, mana mungkin dia bisa mengubahnya jadi angka satu?

Sekalipun berpikir begitu namun tak seorang pun berani bersuara, mereka hanya mengawasi semua kejadian dengan seksama.

Ketiga dadu itu sudah mencapai puncak lemparan dan kini mulai meluncur ke bawah.

Pada saat itulah mendadak Chee Tauke mengambil sebatang jarum kemudian disambitkan ke atas, menyongsong datangnya

dadu-dadu itu.

Bersamaan dengan tindakan tersebut, Chee Tauke ikut melejit sambil menyongsong arah meluncur jatuhnya jarum.

Tampaknya Bu-ki segera paham akan apa yang hendak dilakukan Chee Tauke, dengan cepat dia mempersiapkan pisau emasnya.

Benar saja, begitu memungut jarum tersebut Chee Tauke membalikkan badan seraya membuat satu tebasan ke permukaan dadu yang sedang meluncur turun.

Kini semua orang mulai paham obat apa yang sedang dijual Chee Tauke, ternyata dia ingin menggunakan jarumnya untuk mengukir angka satu di dadu itu.

Sementara para penonton siap bersorak-sorai, mendadak Bu-ki menyambitkan pisau emasnya ke depan, langsung menyambar ke arah jarum kecil yang dilepas Chee Tauke itu.

“Bagus!” mendadak Chee Tauke berseru keras sambil tertawa terbahak-bahak. Sambaran pisau emas itu sangat tepat, begitu disambit ke udara, jarum itu segera terhajar hingga mencelat ke samping.

Situasi semacam ini jelas sangat tidak menguntungkan kakek itu, mengapa ia justru meneriakkan kata bagus?

Belum habis semua orang tertegun, tangan kiri Chee Tauke kembali diayun ke depan melepaskan sebatang jarum lagi dan kali ini jarumnya tepat menancap di salah satu dadu itu.

Rupanya orang tua itu sudah menduga kalau Bu-ki pasti akan melemparkan pisau emasnya untuk menghalangi. Di saat ia melambung ke udara tadi, diam-diam tangan kirinya mempersiapkan lagi sebatang jarum, ketika perhatian semua orang tertuju pada tangan kanannya, diam-diam ia menggunakan jarum di tangan kirinya membuat ukiran angka satu di permukaan dadu, kemudian baru menyambitkannya ke atas. Maka tanpa sempat dicegah oleh Bu-ki lagi, terwujudlah angka 'satu' di dadu itu.

Dua biji dadu yang jatuh duluan tentu saja berangka enam, tapi dadu yang jatuh belakangan ternyata berangka satu.

Apa yang dikatakan Chee Tauke memang tidak keliru, angka satu telah mengubah posisi kalahnya menjadi posisi menang.

Semua orang bersorak-sorai kegirangan, sementara Chee Tauke pun tertawa terbahak-bahak saking senangnya.

Bu-ki sudah kalah, namun ia tidak sedih atau murung lantaran kejadian ini, malah sambil bertepuk tangan pujinya, “Hebat, hebat, sungguh hebat! Sangat mengagumkan, kali ini aku harus mengakui kekalahan!”

Selesai bicara ia lemparkan pisau emasnya ke meja dan siap beranjak pergi dari situ.

“Tunggu dulu!” mendadak Chee Tauke menghalangi. “Ada urusan lain?”

“Kau tak ingin mengembalikan kerugianmu?”

“Lain hari saja! Aku rasa nasibku hari ini kurang mujur, bila bertaruh terus kekalahanku akan makin besar, bukan begitu?”

“Benar, tampaknya kau sangat memahami kebiasaan orang berjudi, setiap saat akan kunantikan kedatanganmu!”

“Pasti!”

“Boleh tahu namamu?”

“Dalam perjudian hanya ada kata menang atau kalah, peduli amat siapa namamu?”

“Ehmm, masuk di akal, boleh bersahabat denganmu?” “Dalam arena perjudian tak kenal siapa ayah siapa anak, aku rasa tak perlu,” kemudian sambil menjura kembali Bu-ki menambahkan, “Selamat tinggal!”

Selesai berkata, tanpa berpaling lagi anak muda itu berjalan meninggalkan rumah judi Hap-hin-ho.

Suara pujian dan helaan napas terdengar bergema dari kerumunan orang banyak, mereka kagum atas kebesaran jiwa pemuda itu, terutama keberaniannya mengakui kekalahan.

Tentu saja mereka tak tahu kalau tujuan kehadiran Bu-ki di arena perjudian itu bukan untuk mencari kemenangan melainkan agar Sangkoan Jin tahu akan kehadirannya, sehingga dia sama sekali tidak mempersoalkan menang kalahnya, tak heran kalau sikap dan penampilannya begitu santai dan tenang.

Balik kembali ke rumah penginapan, Bu-ki baru menyadari kalau dia sudah menguras banyak tenaga untuk bertarung di arena perjudian tadi, karena merasa sangat lelah maka begitu merebahkan diri di ranjang, dia pun segera tertidur.

Saking nyenyaknya tidur, dia sampai tak tahu kalau ada orang telah menyisipkan sepucuk surat ke kamarnya.

Untung saja si pendatang tidak bermaksud jahat, coba kalau ia melepaskan bubuk pemabuk atau obat racun lainnya, niscaya saat ini dia sudah mati secara mengenaskan.

Dalam perjalanan menuju ke Bukit Singa, Bu-ki terbayang kembali kejadian yang dialaminya semalam, keteledoran ini membuatnya termangu, berada di wilayah musuh, kenapa ia bisa tidak meningkatkan kewaspadaan sendiri, bahkan berlaku begitu ceroboh?

Tiba di Bukit Singa, ia menjumpai di puncak bukit itu terdapat sebuah tanah datar yang cukup luas. Dia tahu, di sinilah dia bakal menantang Sangkoan Jin untuk bertarung.

Ia suka tanah lapang yang luas, karena bila dipakai untuk bertarung maka dia tak akan merasa tertekan atau terkekang gerak- geriknya.

Dia tak senang memakai perintang untuk memuluskan serangannya, dia anggap pertarungan semacam ini bukan satu pertarungan yang jujur, tapi cenderung main akal busuk dan tipu muslihat. Selama hidup ia paling benci menggunakan akal busuk dan tipu muslihat. Dalam pandangannya, bila ingin bertarung, bertarunglah secara jujur dan terbuka, penggunaan tipu muslihat meninggalkan kesan curang, dia tak ingin melakukan perbuatan yang memalukan seperti itu.

Walaupun ia sadar, kepandaian silatnya masih bukan tandingan Sangkoan Jin!