Naga Kemala Putih Bab 17. Bertaruh

Bab 17. Bertaruh

Setelah tidur sangat nyenyak, Tio Bu-ki bersiap untuk mengganjal perutnya yang lapar. Dia memerintah pelayan untuk mengantar sarapannya ke dalam kamar, sambil makan otaknya berputar terus mencari akal guna menghadapi Sangkoan Jin.

Tentu saja Sangkoan Jin belum tahu kalau dia sudah mengetahui sebab musabab kematian ayahnya. Ketika ia menemuinya, Sangkoan Jin pasti tidak mempunyai persiapan apa pun.

Berhasil atau tidak mengalahkan Sangkoan Jin, bagi Tio Bu- ki bukan sesuatu yang terlalu dipikirkan, sebab niatnya untuk membalas dendam sudah bulat. Buat dirinya paling banyak beradu jiwa dengan musuhnya dan kehilangan nyawa.

Yang dia kuatirkan justru bagaimana caranya agar bisa bertemu empat mata dengan Sangkoan Jin, sebab tempat yang akan didatanginya sekarang sudah termasuk wilayah kekuasaan Benteng Keluarga Tong. Bertemu berdua saja dengan pamannya itu bukan pekerjaan yang mudah. Bukan hanya itu, seandainya bisa bertemu pun dia tidak tahu jago mana saja yang akan mendampinginya.

Andaikan sebelum berhasil bertarung melawan Sangkoan Jin ia sudah keburu dikepung jago-jago Benteng Keluarga Tong, kejadian ini pasti akan sangat mengenaskan. Karena itulah dia harus dapat mengajak Sangkoan Jin untuk bertemu satu lawan satu.

Tapi bagaimana caranya? Sampai selesai bersantap pun Tio Bu-ki belum berhasil menemukan cara yang tepat. Di akhirnya ia putuskan untuk melanjutkan perjalanan sambil berpikir.

Ketika hampir tiba di Siangkoan-po, akhirnya ia mendapat suatu akal.

Dengan menyamar sebagai seorang pedagang, ia menyusup masuk ke dalam Siangkoan-po dan tinggal rumah penginapan yang terbaik.

Setelah memesan arak dan sayur, seorang diri ia bersantap sambil menikmati air kata-kata.

Pelayanan di sana ternyata sangat baik. Penyakit lama para pelayan penginapan adalah asal melihat orang kaya selalu akan menunjukkan muka manis. Ketika Bu-ki memberi kode ke arah mereka, seorang pelayan segera berlari mendekat sambil bertanya, “Tuan, mau pesan apa lagi?”

“Tidak, aku hanya ingin bertanya apakah di sekitar tempat ini ada rumah judi?”

“Ooh, ada, ada... Setelah keluar pintu gerbang, belok ke kanan, rumah judi itu terletak pada deretan yang ke delapan. Di depan rumah tergantung papan nama yang bertuliskan 'Hap-hin- ho'!”

“Itu rumah judi?”

“Benar, tapi rumah judi itu kelas atas, tidak sembarang orang dapat memasukinya!”

“Bagus!” setelah memberi sekeping perak, dia buru-buru beranjak pergi meninggalkan rumah makan itu.

Tio Bu-ki merasa mustahil baginya untuk masuk gedung kediaman Sangkoan Jin dan bertemu muka dengan pamannya itu, maka dia mengatur rencana lain, dia ingin semua orang yang ada di benteng itu tahu akan kehadirannya.

Bila semua orang tahu akan kehadirannya, jago-jago Keluarga Tong pasti akan mengatur rencana untuk menghadapinya. Sangkoan Jin pasti akan tahu juga akan kehadirannya dan dalam keadaan begini, dia pasti akan berusaha untuk mengadakan pertemuan empat mata dengannya. Dan hal inilah yang diharapkan.

Tempat yang paling tepat untuk membuat keributan dan keonaran adalah rumah judi. Apalagi judi lempar dadu yang menjadi kepandaian andalannya, siapa yang mampu menandinginya?

Ia tahu tempat ini merupakan pusat keramaian dalam benteng Siangkoan-po, bila kabar kehadirannya tersiar, dengan cepat pihak

Keluarga Tong akan mengetahui kehadirannya, dengan sendirinya Sangkoan Jin juga akan segera tahu atas kehadirannya.

Dengan penuh keyakinan dan rasa percaya diri dia berangkat ke rumah judi Hap-hin-ho.

Benar seperti yang dikatakan pelayan rumah penginapan tadi, rumah judi Hap-hin-ho merupakan rumah judi kelas atas, hampir semua penjudi adalah orang-orang kaya dengan dandanan yang perlente.

Kalau di rumah judi seumumnya, adalah bandar yang melempar dadu dan pemain tinggal pasang besar atau kecil. Tetapi di sini baik bandar maupun pemain sama-sama melempar dadu, jumlah mata dadu terbesar atau paling kecil yang menjadi pemenangnya.

Permainan seperti ini yang paling disukai Bu-ki, sebab permainan dengan cara ini paling gampang menimbulkan keributan yang disusul dengan keonaran. Memang keributan yang menjadi tujuan utamanya!

Untung dalam rumah judi Hap-hin-ho tersedia banyak meja judi, ada meja judi yang banyak dikerumuni orang, ada pula yang sedikit orangnya.

Meja demi meja diperiksa Tio Bu-ki satu per satu. Tidak seberapa lama kemudian ia segera paham alasan perbedaan yang menyolok mata itu.

Ternyata meja taruhan terkecil, antara sepuluh hingga seratus tahil perak paling banyak dikerumuni orang, seribu tahil hingga sepuluh ribu tahil agak jarang. Di atas sepuluh ribu tahil perak paling sedikit petaruhnya, waktu itu termasuk bandar hanya ada tiga orang.

Di meja judi itu bandar duduk di tengah, dua petaruh ada di sisi kiri dan kanannya, membiarkan bangku di depan bandar kosong. Tanpa banyak bicara Bu-ki segera menempatkan diri di situ.

Setelah menganggukkan kepala kepada tiga orang itu, Bu-ki berkata, “Apa aku boleh melihat dulu cara mainnya?”

“Tentu saja boleh!”

Dalam pertaruhan kali ini petaruh sebelah kiri memasang duaribu tahil sementara petaruh sebelah kanan memasang seribu tahil. Setelah tiga putaran, ada yang kalah ada pula yang menang.

Ia lalu mengeluarkan berapa lembar uang kertas dan diletakkan ke meja sambil serunya, “Kali ini aku ikut bertaruh!”

Bandar menghitung uang taruhan, ternyata limaribu tahil.

Maka sebagaimana peraturan yang berlaku di rumah judi Hap-hin-ho ini, bandar melemparkan dulu dadunya, kali ini dia mendapat angka empat.

Petaruh sebelah kiri mendapat angka tiga, berarti kalah. Kini giliran Bu-ki, pikirnya, “Agar cepat terjadi keributan, biar aku langsung unjuk kebolehanku!”

Maka dia melemparkan ketiga dadu itu dengan mengerahkan sedikit tenaganya, begitu berhenti ternyata angka lima, maka dia yang menang. Anak muda ini sama sekali tidak mengambil uang taruhannya, melihat itu sang bandar segera bertanya, “Kau ingin bertaruh sepuluh ribu tahil?” Tio Bu-ki mengangguk.

Bandar tidak bicara lagi, dia mengambil dadu dan melempar ke meja. Lagi-lagi Bu-ki memenangkan pertaruhan ini.

Seperti pertama kali tadi, kali ini pun dia tidak menarik uangnya.

“Mau bertaruh duapuluh ribu tahil?” bandar bertanya sambil tertawa, diam-diam ia memaki kebodohan orang. “Mana ada penjudi yang memasang seluruh uangnya dalam sekali taruhan?”

Kegembiraan bandar tidak berlangsung lama, untuk kesekian kalinya kembali Bu-ki berhasil meraih kemenangan.

Dalam waktu singkat uang taruhan yang dipasang Bu-ki sudah mencapai delapanpuluh ribu tahil perak.

Sekarang peluh sebesar kacang kedele mulai bercucuran membasahi jidat bandar, untuk sesaat dia hanya bisa memegang dadu tanpa berani melemparnya ke meja.

Pada saat itulah mendadak muncul seorang kongcu berbaju perlente, setelah memandang meja judi dan Bu-ki sekejap, katanya kepada bandar, “Kau boleh mundur dari sini.”

Bandar itu menyahut dan buru-buru menyingkir dari situ. “Aku pemilik rumah judi ini,” kongcu itu memperkenalkan

diri, “Bagaimana kalau aku yang melayani permainan tuan sekalian? Tidak keberatan bukan?”

“Tentu saja tidak,” sahut Bu-ki sambil tertawa.

Dua orang petaruh yang lain buru-buru menarik kembali uang taruhannya seraya berseru, “Kami akan jadi penonton saja.”

“Baiklah, aku she Chee, boleh tahu nama anda?” tanyanya kepada Bu-ki.

“Aku she Tio.”

“Bagus sekali, masih tetap dengan pasangannya?” “Benar, pasanganku delapanpuluh ribu tahil perak!”

Chee Kongcu manggut-manggut, diambilnya ketiga biji dadu itu dan seperti gerakan yang dilakukan Bu-ki tadi, ia melempar dadu- dadu itu ke dalam mangkuk sambil mengerahkan tenaga dalamnya dan... ia mendapatkan angka enam sebanyak tiga biji.

Sebuah kepandaian melempar dadu yang hebat.

Bu-ki merasa sangat gembira, dia tahu sekaranglah saat yang tepat untuk menunjukkan kebolehannya. Dia bersama Chee Kongcu masing-masing melempar satu kali dadu dan sama-sama menghasilkan angka enam, maka lemparan dadu kembali diulang.

Sudah enam kali mereka saling melempar dadu, namun angka yang diperoleh tetap sama-sama angka enam. Kejadian ini menyulut kehebohan, para penjudi lainnya berbondong-bondong mengerubungi meja itu dan ikut menyaksikan pertarungan ini.

Sekarang adalah lemparan yang ketujuh, Bu-ki tahu inilah saatnya untuk beraksi, apalagi ulahnya telah berhasil menarik perhatian orang banyak, maka ketika dua dadu yang dilempar kongcu itu mendapat angka enam, diam-diam ia mengerahkan tenaga dalamnya dan menambahi tenaga pukulan dadu ketiga secara diam-diam.

Dadu itu berputar lebih kencang, ketika akhirnya terhenti ternyata angkanya adalah lima.

Berubah hebat paras muka Chee Kongcu, tapi hanya sejenak kemudian sudah pulih lagi seperti sediakala, hanya saja diam-diam dia mengawasi lawannya dengan lebih seksama.

Ketika tiba giliran Bu-ki yang melempar dadu, tentu saja angka yang diperolehnya adalah tiga angka enam.

Uang sebesar delapanpuluh ribu tahil perak pun berubah jadi seratus enampuluh ribu tahil perak.

Tak lama kemudian uang itu kembali membengkak jadi tigaratus duapuluh ribu tahil perak.

Dalam keadaan begini Chee Kongcu mulai kehilangan ketenangan hatinya, peluh mulai bercucuran membasahi dahinya.

Kini uang taruhan sudah meningkat menjadi enamratus empat-puluh ribu tahil perak. Ini menunjukkan bahwa bandar lagi- lagi menderita kekalahan! Bukan saja peluh telah membasahi jidatnya, bahkan telapak tangannya mulai basah dan gemetar, meskipun sudah memegang dadu namun sampai lama sekali belum berani juga melemparnya.

Bukan saja ia tak berani melemparkan dadu itu sebaliknya malah celingukan ke sana kemari, seperti sedang menunggu kedatangan seseorang untuk membebaskan dirinya dari kesulitan.

Siapa yang ia tunggu? Dengan cepat jawaban diperoleh karena seorang kakek berambut putih tampak sedang berjalan menghampiri mejanya. Begitu melihat kemunculan kakek itu, Chee Kongcu kelihatan mulai lega dan segera menghembuskan napas panjang.

Menyaksikan hal ini tanpa terasa Bu-ki turut mengalihkan perhatiannya ke wajah orang tua itu.

“Ayah!” Chee kongcu segera berseru kegirangan.

Ternyata orang tua ini adalah tauke yang sebenarnya dari rumah judi Hap-hin-ho.

Dalam hati Bu-ki tertawa dingin. Dia tak bakal takut menghadapi siapa pun, meski saat itu ada tiga batang jarum yang dilontarkan ke arah mangkuk di atas meja judi. Sebatang demi sebatang datang saling susul, semuanya terarah ke dadu-dadu yang ada dalam mangkuk dan kelihatannya datang dari arah yang berbeda-beda!

Menyusul kemudian tampak Chee Tauke menyambar mangkuk itu, tangan kanan menahan dasar mangkuk sementara tangan kiri disilangkan di depan dada, perlahan ia duduk di bangkunya.

Tampak ketiga batang jarum itu masing-masing menembusi dadu dalam mangkuk sampai tembus ke baliknya. Tiga batang jarum dengan tiga dentingan, semuanya tembus dari dadu sampai tembus di dasar mangkuk.

Yang lebih mengerikan lagi adalah bahwa ketiga batang jarum itu mampu menembusi dasar mangkuk porselen itu dan memantek tepat di tengah-tengahnya.

Serangan yang tepat, ketajaman mata yang hebat dan tenaga dalam yang sempurna, tak kuasa semua yang hadir bersorak-sorai memuji.

Bukan hanya penonton yang bersorak, bahkan Bu-ki sendiri mau tak mau harus memuji kehebatan kakek itu.

“Sekarang giliranmu,” ujar Chee Tauke kemudian sambil menyodorkan mangkuk itu ke depan Bu-ki.

Kini sorot mata semua orang dialihkan kepada anak muda itu, semua orang ingin tahu dengan cara apa Bu-ki akan memenangkan pertaruhan itu.

Sekulum senyuman menghiasi wajah Chee Tauke, memang dia tak mampu lagi membendung kegirangannya, sebab saat ini dia sudah

berada dalam posisi tak terkalahkan apalagi dia telah menggunakan jarum panjang menembusi dadu-dadu itu kemudian memanteknya menjadi satu, bagaimana mungkin dadu itu bisa berubah lagi?

Dengan cara apa Bu-ki akan mengatasi tantangan itu?

Semua orang yang hadir di arena mulai menguatirkan nasibnya.

Di saat Chee Tauke sedang melemparkan dadunya, Wi Hong-nio pun sedang menanti dengan perasaan gelisah bercampur cemas.

Sungguh aneh dan mengherankan, sepanjang hari, benar seperti apa yang dikatakan Tong Hoa, tak nampak seorang pun yang melewati tempatku.

Tong Hoa benar-benar menepati janjinya, dia hanya duduk bersemedi di dalam kereta dan sama sekali tidak memedulikan keadaan di luar.

Wi Hong-nio sudah tak sanggup menahan diri lagi, tiba-tiba teriaknya keras, “He!”

“Ada apa?” dengan malas-malasan Tong Hoa menggeliat lalu pelan-pelan bangun duduk.

“Aku tak ingin menunggu lagi!”

“Tidak menunggu lagi? Lantas apa yang akan kau lakukan?” “Aku mau pergi saja!”

“Pergi? Lewat jalan yang mana?”

“Kau berharap aku lewat jalan yang mana?” Wi Hong-nio balik bertanya.

“Aku?” untuk sesaat Tong Hoa pun tak tahu bagaimana harus menjawab, setelah berpikir sejenak baru sahutnya, “kalau aku sebenarnya berharap kau memilih jalan yang kiri.”

“Kenapa?”

“Kenapa?” Tong Hoa menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal, “tidak karena apa-apa, aku hanya menyampaikan harapanku saja.”

“Baiklah! Kalau begitu kita menuju jalan yang menjadi harapanmu itu!”

Tong Hoa melengak.

Sebenarnya semua ini merupakan satu pertarungan mental, tujuan Wi Hong-nio adalah ingin menyelidiki niat Tong Hoa.

Andaikata pemuda itu memberikan jawaban sekenanya setelah ditanya, hal ini menandakan kalau jalan itu sudah pasti tidak tembus ke Benteng Siangkoan-po. Tapi nyatanya Tong Hoa baru menjawab setelah mempertimbangkannya beberapa saat, ini menunjukkan kalau dia pun sedang menduga-duga bagaimana reaksi dirinya setelah mendengar jawaban tersebut. Atau dengan kata lain, bisa jadi jalan tersebut adalah jalan yang benar. Dia sengaja mengatakan kalau jalan itu adalah jalanan yang dia harapkan, tujuannya jelas untuk mengalihkan pikirannya agar dia mengambil jalan yang lain.

Sayang Wi Hong-nio kalah pengalaman, sekarang ia masuk perangkap, justru dia digiring untuk memilih jalan yang memang menjadi harapan Tong Hoa.

Apakah jalan yang dipilih Tong Hoa adalah jalan yang benar? Kecuali Tong Hoa sendiri, tak ada yang tahu.

Memandang Tong Hoa yang masih termangu, kembali Wi Hong-nio menegur, “Bagaimana? Kau batal untuk pergi?”

“Siapa bilang tak mau pergi? Ayoh jalan, kita lanjutkan perjalanan!”

Jawaban dari Tong Hoa membuat perasaan Wi Hong-nio semakin tenang, dia mengira pilihannya sudah tepat.

Dengan lagak seolah-olah berat hati Tong Hoa naik kembali ke posisi kusir dan perlahan-lahan menjalankan lagi kereta kudanya.

“Ada apa? Kenapa begitu lambat?” kembali nona itu menegur.

“Suasana gelap gulita, berbahaya sekali nona.” “Berbahaya? Aku lihat kau memang sengaja memperlambat

jalanmu, sengaja mengulur waktu bukan?” “Kenapa aku mesti mengulur waktu?”

“Sebab kau tahu kalau jalan ini menuju ke benteng Siangkoan-po!”

Tong Hoa tidak menjawab, ia membungkam diri dalam seribu bahasa.

“Benar bukan?” desak Wi Hong-nio lebih jauh.

“Kalau kau menganggap benar, ya benar. Tapi terus terang, aku berbuat demikian hanya karena memikirkan keselamatanmu!”

“Hmm! Hanya setan yang mau percaya!” walaupun di mulut ia tetap ngotot, namun perempuan itu pun tahu kalau perjalanan memang tak bisa dilakukan cepat karena permukaan tanah memang bergelombang.

“Kau merasa gembira sekarang?” tanya Tong Hoa kemudian ketika didengarnya gadis itu mulai bersenandung kecil. “Tentu saja gembira, aku berhasil menebak isi hatimu, tentu saja aku jadi gembira.”

“Aku rasa lebih baik kau pergi tidur saja, esok kau akan mengetahui dengan jelas apa yang terjadi.”

“Hmm, baiklah, aku akan pergi tidur, tapi ingat, jangan berputar haluan!”

“Memangnya aku manusia kerdil macam begitu?” “Moga-moga saja memang bukan.”

Kereta kuda melanjutkan perjalanan sangat lambat, tapi Wi Hong-nio segera terlelap tidur. Sewaktu ia bangun dari tidurnya, matahari sudah bersinar terang sementara kereta masih bergerak- gerak tiada hentinya.

Baru saja dia melompat bangun, tiba-tiba kereta itu berhenti.

Buru-buru dia melongok keluar, tapi yang terlihat membuatnya kembali tertegun.

Ternyata di hadapannya muncul lagi persimpangan jalan, satu mengarah ke kiri yang lain menuju ke kanan.

Tong Hoa tahu gadis itu sudah mendusin, maka ujarnya sambil tertawa, “Coba kau berpalinglah dan tengok ke belakang!”

Ketika gadis itu berpaling, lagi-lagi dia terperangah.

Ternyata di belakang tubuhnya terbentang pula tiga jalan, tempat mereka berhenti saat itu tepat berada di tengah simpang lima itu. “Apa yang terjadi?” tak tahan ia bertanya.

“Tadi kita berjalan melalui jalanan yang itu,” ujar Tong Hoa sambil menuding jalan di belakangnya, “sementara dua jalan yang lain adalah jalan yang hendak kau pilih kemarin.”

“Maksudmu ketiga jalan itu semuanya tembus balik ke sini?” “Benar.”

“Bagaimana sih kamu ini? Kau tahu, perbuatanmu telah membuang banyak waktuku?”

“Tentu saja tahu, sebab memang itu tujuanku!”

“Kau. ” Wi Hong-nio hanya mengucapkan sepatah kata dan

segera membungkam diri, dia tahu tak ada gunanya marah-marah pada Tong Hoa pada saat seperti ini, yang paling penting adalah bagaimana caranya agar bisa tiba di Siangkoan-po secepatnya.

“Dari sisa dua jalan yang ada, jalan mana yang betul?” tanyanya kemudian.

“Jalan di sebelah kiri.” “Kau tidak menipuku?” “Aku tak akan menipumu.” “Kenapa?”

“Sebab bila kita menempuh perjalanan tanpa berhenti, paling tidak malam nanti kita baru bisa tiba di Siangkoan-po!”

“Sungguh?”

“Aku berani bersumpah.”

“Kalau begitu kita lewat jalan sebelah kiri.” “Aku usulkan lebih baik kita sarapan dulu.”

“Tidak... Aku sangat gelisah, lebih baik segera lanjutkan perjalanan!”

“Menurut perhitunganku, biar lebih awal tiba di situ pun tak ada gunanya, paling banyak kau hanya akan mengurus sesosok mayat, kenapa mesti terburu-buru?”

“Kau...” kali ini Wi Hong-nio hanya mengucapkan sepatah kata dan tidak dilanjutkan lagi. Ia cukup memahami watak Bu-ki, setelah tahu kalau Sangkoan Jin adalah pembunuh ayahnya, pemuda itu pasti tak akan menunda sedikit waktu pun untuk pergi mencari musuhnya dan berusaha membunuhnya.

Berpikir sampai di situ, dia mulai merasa bahwa apa yang dikatakan Tong Hoa cukup masuk di akal, buat apa ia terburu-buru tiba di tujuan kalau hanya untuk mengurusi mayat Sangkoan Jin? Apalagi meski terburu-buru sampai di sana, nasi toh sudah berubah jadi bubur, Bu-ki tetap sudah melakukan kesalahan besar, bila dia mengungkap kejadian yang sebenarnya, bukankah hal ini malah akan membuat pemuda itu merasa menyesal sepanjang masa?

Tentu saja dia tak ingin kekasihnya menderita.

Kalau memang demikian, lalu apa gunanya terburu-buru melanjutkan perjalanan?

Berpikir sampai di situ, akhirnya dia pun mengangguk, “Baiklah, kita sarapan dulu!”

“Jadi pikiranmu sudah terbuka sekarang?” tanya Tong Hoa sambil tertawa puas.

Wi Hong-nio mengangguk pelan.

“Padahal, tidak seharusnya kau datang ke Siangkoan-po,” kembali Tong Hoa berkata. “Kenapa?”

“Sebab bila kau bertemu Bu-ki, dia pasti akan bertanya, ada urusan penting apa hingga kau datang menyusulnya.”

“Lantas bagaimana?” “Kehadiranmu menunjukkan kalau kau punya urusan penting yang akan disampaikan kepadanya,” ujar Tong Hoa lebih jauh sambil menatap tajam perempuan itu, “Apakah kau sanggup membuat sebuah karangan cerita untuk membohonginya?”

Wi Hong-nio termenung tanpa bicara, sejujurnya, mampukah dia mengelabui Bu-ki?

“Kalau tak mampu mengelabui dia, berarti kau harus menceritakan duduk perkara yang sebenarnya,” ujar Tong Hoa lebih jauh, “padahal ia sudah terlanjur membunuh Sangkoan Jin, apakah pengakuanmu tidak malah membuat hatinya makin tersiksa dan menderita?”

Apa yang diucapkan Tong Hoa benar dan sangat masuk di akal, dia memang tak boleh menjumpai Bu-ki. Yang benar dia harus balik ke Gedung Keluarga Tio, berlagak seolah-olah tak ada kejadian apa-apa sambil menunggu kedatangan pemuda itu.

Tapi, andaikata Sangkoan Jin berhasil membunuh Bu-ki?

Perasaan Wi Hong-nio sangat kalut, ia bingung, gelisah dan cemas. “Kau kuatir yang mati adalah Bu-ki?” tiba-tiba Tong Hoa

bertanya lagi.

Wi Hong-nio tidak menjawab, dia tak ingin mengucapkan kata-kata yang bisa mendatangkan sial ke alamat kekasihnya.

“Kalau memang itu kekuatiranmu, baiklah, mari kita berangkat ke sana untuk mengurusi jenasahnya!”

“Tidak! Bu-ki tak bakal mati!” teriakannya mendadak bertambah keras, saking kerasnya nyaris membuat dia sendiri kaget.

“Bila kau yakin kalau dia tak bakal mati, seharusnya pulang saja ke rumah dan menunggu kedatangannya di sana.”

Wi Hong-nio bertambah sangsi, untuk sesaat dia tak tahu bagaimana harus memutuskan hal ini.