Naga Kemala Putih Bab 16. Kecerobohan

Bab 16. Kecerobohan

Sepeninggal Bu-ki, Wi Hong-nio hanya duduk sendirian di dalam gardu kebun, dia tidak kembali ke kamarnya. Sambil duduk ia membayangkan kembali seluruh kenangannya bersama Bu-ki, dia merasa nasib telah mempermainkan mereka berdua.

Hari perkawinan yang sebenarnya merupakan hari paling bahagia tiba-tiba berubah jadi hari kematian ayah Bu-ki, hari terbunuhnya Tio Kian, kejadian yang membuat perkawinan mereka batal dilangsungkan.

Kemudian ketika bersua dalam sekilas pandangan di bukit Kiu-hoa-san, dia nyaris tak bisa mengenali wajah Bu-ki.

Selanjutnya mereka berjumpa di kamar rahasia dalam Benteng Keluarga Tong, perjumpaan sekejap yang diikuti perpisahan, perpisahan yang terasa bagaikan perpisahan antara mati dan hidup.

Dan baru saja, lagi-lagi mereka hanya berjumpa dalam sekejap, jangan lagi bermesraan, untuk mengucapkan sepatah kata pun tak sempat.

Nasib macam apakah kehidupan mereka ini?

Wi Hong-nio terbungkam, dengan termangu-mangu diawasinya langit jauh di atas sana. Walaupun awan putih telah berlalu, tetap tak ada satu jawaban pun yang bisa menjawab semua kegundahan di hatinya.

Semakin jauh berpikir, tiba-tiba dari hati kecilnya muncul satu pemikiran yang aneh.

Ia berpikir, mungkinkah Bu-ki tiba-tiba berbalik kembali ke sana hanya karena ingin berkumpul lebih lama dengannya, berbagi kehangatan bersamanya?

Terhadap pemikiran semacam ini dia merasa sedikit agak geli, mana mungkin Bu-ki akan berbuat demikian? Dia seorang pemuda berdarah panas yang mementingkan balas dendam, belum pernah sikap dan pendiriannya berubah hanya karena persoalan cinta kasih. Walaupun ia merasa jalan pikiran seperti ini amat menggelikan, namun ia tetap berpikir terus bahkan berharap jalan pikirannya itu menjadi kenyataan.

Itulah sebabnya dia duduk terus di gardu, duduk menanti sambil mendengarkan suasana di luar pintu, memperhatikan semua gerakan di situ.

Harapan berlalu sangat lambat, tapi lambat atau tidak, waktu tetap bergulir terus tanpa henti.

Biarpun matahari bergeser sangat lambat, namun akhirnya sampai juga di langit barat, tenggelam di kaki langit dan akhirnya lenyap dari pandangan.

Langit dari warna biru berubah jadi merah, lalu dari merah berubah jadi kelabu, akhirnya dari kelabu berubah jadi hitam, kemudian bintang-bintang bertaburan di angkasa, berkelap-kelip tiada henti.

Di saat Tong Hoa berkunjung sekali lagi ke Pesanggrahan Kemala Putih, tiba-tiba Wi Hong-nio mendengar suara langkah kaki di luar pintu gerbang rumah.

Dia tidak bergerak, ia hanya mendengarkan dengan hati- hati, sementara pikirannya bergolak. Bu-ki kah yang datang? Apakah dia benar-benar telah balik?

Dia menunggu, menunggu terus dan akhirnya... “Blaaam!” sesuatu jatuh di depan pintu.

Dengan amat terperanjat ia memburu ke luar pintu, tapi begitu pintu gerbang terbuka, lagi-lagi ia dibuat terkesiap.

Ia menjumpai Pek Giok-khi roboh terjerembab di lantai, dalam tangan kanannya tergenggam setumpuk kertas yang cukup tebal.

Ia membungkuk sambil memeriksa napas Pek Giok-khi dengan jari tangannya, namun tak ada tanda-tanda kehidupan, menunjukkan bahwa orang itu sudah mati.

Mengapa ia datang kemari dalam keadaan luka separah itu? Mau apa dia datang kemari? Minta pertolongan? Sambil berpikir Wi Hong-nio mulai membuka jari tangan orang itu dan mengambil tumpukan kertas yang digenggamnya.

Ia membuka lembaran kertas itu dan mulai membacanya, tak lama kemudian ia berdiri tertegun, terkejut bercampur ngeri. Kenapa isinya sama persis seperti isi buku harian yang dibacanya? Setelah berpikir sejenak, tiba-tiba ia tersadar kembali, ia tahu apa yang terjadi.

Bersama dengan itu, dia pun paham dan mengerti kejadian apa yang sebenarnya sedang berlangsung.

Dia segera mengingat-ulang semua kejadian yang telah dialaminya selama ini, dimulai dari Tong Hoa berusaha mendekatinya, mengajaknya kabur dari Benteng Keluarga Tong, kembali ke tempat ini, menemukan ruang rahasia dan akhirnya menemukan buku harian...

Dengan cepat gadis ini menemukan banyak kecerobohan yang telah dia lakukan selama ini, kecerobohan yang sama sekali tidak disadarinya.

Kenapa Tong Hoa bisa begitu tergila-gila kepadanya?

Sedemikian tergila-gilanya hingga tak segan mengkhianati Benteng Keluarga Tong dan membawanya melarikan diri? Ia kelewat bodoh, kelewat tolol, atau mungkin inilah penyakit yang sering diderita kaum gadis muda? Selalu mengira orang lain sudah tergila-gila kepadanya, menganggap dirinya sangat memukau, sangat memabukkan, walaupun ia belum tentu menyukai orang tersebut.

Inilah kecerobohan pertama yang dia lakukan.

Ketika Tong Hoa mengajaknya melarikan diri dari Benteng Keluarga Tong, kendati dia berkata sangat hapal dengan semua jalur keluarnya, tapi... mungkinkah sedemikian gampangnya mereka berhasil kabur dari situ? Apalagi sewaktu menggunakan bahan peledak untuk meledakkan lorong rahasia. Mungkinkah suara ledakan yang begitu keras tak sampai memancing perhatian para jago Benteng Keluarga Tong?

Kenapa di tempat itu tiba-tiba bisa muncul sebuah lorong rahasia? Masa ada kejadian yang begitu kebetulan? Inilah kecerobohannya yang kedua.

Setibanya di gedung keluarga Tio, ternyata Tong Hoa berhasil menemukan tombol rahasia yang membuka ruangan tersembunyi, lalu dia pun berhasil menemukan patung Naga Kemala Putih. Memangnya pemuda itu luar biasa lihaynya sehingga segala sesuatu berhasil dia pecahkan seorang diri? Padahal Bu-ki sangat hapal dengan tempat itu, dia pun tidak menemukan apa-apa setibanya di situ, kenapa justru Tong Hoa yang datang belakangan bisa menemukan semua rahasia itu? Inilah kecerobohannya yang ketiga.

Setelah berhasil menemukan buku harian, dalam waktu singkat ternyata Tong Hoa berhasil juga mendapat tahu kalau Bu-ki dalam perjalanan pulang, bahkan berdalih kurang leluasa bila tetap tinggal di sana, lantas berpamitan. Bukankah dia pernah bilang kalau dirinya tergila-gila padanya? Bahkan harus terjun ke lautan api pun dia tak akan menolak? Kenapa sekarang malah berpamitan hanya untuk alasan kurang leluasa?

Inilah kecerobohannya yang keempat.

Kecerobohan yang luar biasa, kecerobohan yang tak bisa dimaafkan!

Memang begitulah manusia, harus menyaksikan dulu seluruh kenyataan yang ada, baru menyaksikan kelemahan-kelemahan yang telah dilakukannya dulu.

Reaksi pertama yang dilakukan Wi Hong-nio adalah segera pergi mencari Tio Bu-ki.

Ia memperhatikan mayat itu sebentar, satu ingatan segera melintas dalam benaknya. Orang itu dengan mempertaruhkan nyawa telah berusaha datang ke sini, jelas tujuannya adalah untuk mengungkap kejadian yang sebenarnya, sebagai balas jasa kebaikan itu, bukankah dia berkewajiban untuk menguburkan mayatnya?

Tapi ingatan lain kembali melintas, orang ini diburu seseorang untuk dibunuh, berarti ada orang ingin membungkam mulutnya serta menghilangkan saksi. Seandainya sang pembunuh menyusul sampai ke sini dan tidak menemukan mayatnya, pembunuh itu masih akan menghubungkan hilangnya sang mayat dengan kehadiran dirinya di situ, atau dengan perkataan lain, pembunuh itu sadar kalau dia telah mengetahui duduk perkara yang sebenarnya.

Dengan begitu pihak Benteng Keluarga Tong pasti akan merubah rencananya, bisa jadi mereka akan menggunakan siasat lain yang lebih keji untuk menghadapi Tio Bu-ki dan paman Siangkoan.

Mana bisa dia membiarkan orang Keluarga Tong tahu bahwa dirinya telah mengetahui duduk persoalan yang sebenarnya?

Setelah mengambil tumpukan kertas yang yang ada di tangan mayat itu, buru-buru dia kembali ke dalam rumah bahkan sengaja memasang lentera dan duduk di tepi jendela, ia berlagak seakan tidak tahu ada yang telah terjadi di luar sana. Dia percaya pembunuh itu segera akan tiba di situ, datang dengan mengikuti bercak darah yang berceceran sepanjang jalan.

Ternyata dugaannya tepat sekali, sayang dia tak tahu kalau orang itu adalah Tong Hoa. Lebih-lebih ia tidak tahu sejak kapan pemuda itu tiba di sana. Berada di dalam kamarnya, dia tak bisa memperhatikan keadaan di luar, ditambah lagi gerakan tubuh Tong Hoa memang sangat ringan sehingga tidak menimbulkan sedikit pun suara.

Maka Wi Hong-nio hanya bisa menunggu dan menunggu, makin menunggu hatinya makin gelisah bercampur cemas, apakah orang itu sudah datang?

Dia ingin sekali keluar dari kamar untuk memeriksanya, tapi kuatir bertemu dengan orang itu. Tapi dia pun ingin secepatnya pergi mencari Bu-ki dan menyampaikan berita ini kepadanya, dia tak ingin kekasih hatinya ini termakan oleh rencana busuk Benteng Keluarga Tong.

Menanti dalam suasana gelisah dan tak tenang memang amat menyiksa batin, bukan saja pikirannya bertambah kalut, sang waktu pun seolah berjalan dengan merayap.

ooooOOoooo

Akhirnya kentongan kedua tiba juga, Wi Hong-nio memutuskan untuk tidak menunggu lagi, sebab menurut perkiraannya, orang yang seharusnya datang semestinya sudah datang sejak tadi, bisa jadi orang itu jauh lebih tak sabaran ketimbang dirinya.

Tergopoh-gopoh dia keluar dari kamar, menuju ke pintu gerbang dan membukanya.

Kini ia bisa menghembuskan napas lega, ternyata mayat orang itu sudah lenyap. Hal ini membuktikan kalau dugaannya tepat, orang yang membunuh Pek Giok-khi telah berkunjung ke sini dan menyingkirkan mayat itu. Tentu saja ia kuatir kalau sampai diketahui jati-dirinya.

Sedikit banyak ia berterima kasih juga kepada orang itu, karena telah membantunya menguburkan mayat orang itu hingga dirinya tak perlu membuang waktu dan tenaga lagi.

Bila punya uang, setan pun bisa diperintah untuk menggiling tepung, apalagi hanya menyewa kereta kuda untuk melakukan perjalanan malam? Kendati Wi Hong-nio sangat jarang berkelana dalam dunia persilatan, namun dia masih cukup tahu arah benteng Siangkoan-po.

Si kusir kuda adalah pedagang tulen, setelah menerima uang sewa tentu saja ia bekerja keras, kereta kudanya dilarikan kencang, sedemikian kencang membuat gadis itu agak pusing kepalanya. Tapi demi menyusul Bu-ki, apa artinya pusing kepala?

Dalam hati ia terus menerus berdoa, dia berharap Bu-ki tidak menempuh perjalanan malam, dia berharap saat itu Bu-ki sedang beristirahat, dengan begitu ia baru punya kesempatan untuk menyusulnya, tiba lebih dulu di Benteng Siangkoan-po.

Kentongan ketiga sudah lewat, Tong Hoa masih meneguk arak seorang diri, setiap kali habis meneguk secawan, dalam pikirannya terbayang pula wajah seseorang yang tak diketahui namanya. Wajah itu sangat buram, wajah yang tak mungkin bisa berubah jadi jernih dan terang, karena yang sedang ia pikirkan adalah orang yang telah mengambil naskah asli dari tangan Pek Giok-khi.

Baru setelah ia menghabiskan cawan yang keduapuluh tujuh, satu ingatan melintas dalam benaknya. Mungkinkah Wi Hong- nio yang telah melarikan naskah asli itu? Mungkinkah dia yang sedang bermain sandiwara?

Dengan cepat ia melompat bangun, dia menyesal, mengapa selama ini selalu mengesampingkan pemikiran semacam ini.

Dipukulnya batok kepalanya sendiri keras-keras, kemudian menerjang keluar dari kamar dan langsung menuju ke gedung keluarga Tio.

Tiba di depan pintu gerbang dia pun tidak mengetuk pintu, dengan sekali lompat dia melewati pagar pekarangan langsung turun di tengah halaman.

Ia menemui kamar Wi Hong-nio masih seperti tadi, cahaya lentera menerangi seluruh ruangan.

Perlahan-lahan dia menghampiri jendela, dengan jari tangan yang dibasahi ludah dia membuat sebuah lubang kecil di kertas jendela kemudian mengintip ke dalam.

Ternyata Wi Hong-nio tidak ada di situ.

Ia menerjang masuk, membuka pintu dan mendekati pembaringan. Seprei masih dalam keadaan rapi, tanda perempuan itu tidak pernah membaringkan diri, dia menghampiri lemari dan membukanya. Ternyata isi lemari kosong, semua pakaian yang semula ada di situ kini hilang lenyap.

Semua ini menunjukkan apa? Tentu saja tanda kalau Wi Hong-nio sudah meninggalkan tempat itu!

Goblok! Tolol! Dogol! Tak hentinya dia memaki diri sendiri.

Biarpun dalam hati memaki terus, kakinya sama sekali tak berhenti berlari. Dia keluar dari gedung keluarga Tio kemudian mencari tahu apakah ada seorang gadis yang melakukan perjalanan malam.

Jawaban diterima dalam waktu singkat. Dia pun mencari seekor kuda lalu melakukan pengejaran dengan cepat.

Ooo)))(((ooo

Benteng Siangkoan-po.

Ketika Tong Ou dan Siangkoan Ling-ling tiba di situ, kedatangan mereka disambut dengan sangat meriah.

Di Benteng Siangkoan-po, Tong Ou sengaja tiap hari menemui Sangkoan Jin untuk diajak merundingkan rencana berikut dalam usahanya menyerbu benteng Tayhong-tong, setiap kali berunding dia sengaja pulang larut malam.

Setiap kali selesai berunding sampai larut malam, dia pun sengaja memberitahukan hal ini kepada Siangkoan Ling-ling, agar gadis itu tahu kalau ayahnya amat penat dan menderita. Tentu saja dia mendesaknya agar menjalankan kewajibannya sebagai seorang putri yang berbakti.

Untuk menunjukkan bakti serta cintanya, tentu saja tak ada cara yang lebih baik daripada membuatkan semangkok jinsom berusia ribuan tahun.

Tentu saja cara ini merupakan cara yang paling berbakti.

Oleh sebab itu setiap hari, setiap kentongan pertama nona ini selalu turun tangan sendiri membuatkan semangkuk kaldu ayam untuk ayahnya.

Menyaksikan cinta dan bakti putrinya, Sangkoan Jin sebagai seorang ayah tentu saja tak pernah menaruh curiga.

Maka setiap kali disuguhi kaldu ayam, dia selalu meneguknya hingga habis. Tong Ou ikut girang. Tapi yang membuatnya sangat gembira adalah setiap kali melihat mangkuk berisi kaldu itu diteguk Sangkoan Jin hingga habis, setetes pun tak tersisa.

Dia tahu, rencananya makin lama makin mendekati puncak keberhasilan yang gemilang.

Racun yang digunakan adalah racun bersifat lambat, bila tidak mengerahkan tenaga dalam, siapa pun tak akan menemukan gejala atau tanda-tanda yang mencurigakan. Bahkan sewaktu mengatur napas pun tak akan dirasakan.

Racun itu baru bekerja bila seseorang sudah mengerahkan tenaga dalamnya hingga mencapai paling puncak. Saat itulah seluruh kekuatannya akan runtuh, bahkan untuk mengerahkan tiga bagian tenaganya pun tak akan mampu.

Tong Ou percaya, dengan kepandaian silat Tio Bu-ki, bukan masalah bagi pemuda itu untuk bertarung hingga ratusan jurus melawan Sangkoan Jin.

Sebaliknya bagi Sangkoan Jin, pertarungan sebanyak seratus jurus akan banyak menguras tenaganya bahkan kekuatannya akan mengalami goncangan keras.

Keadaan semacam inilah yang dia harapkan karena akan mencipta-kan kesempatan bagi Bu-ki untuk membunuh Sangkoan Jin.

Menanti pemuda itu berhasil menghabisi Sangkoan Jin, Tong Ou baru akan menceritakan kejadian yang sesungguhnya bahwa rencana Naga Kemala Putih adalah hasil rancangannya, rencana yang khusus dia ciptakan untuk menandingi siasat Harimau Kemala Putih.

Dia bisa membayangkan reaksi Tio Bu-ki pada saat itu, dia pasti akan merasakan pukulan batin yang amat berat, seluruh jiwanya pasti akan roboh.

Berpikir sampai di situ Tong Ou tak bisa menahan diri lagi, ia segera tertawa terbahak-bahak.

Jika Tio Bu-ki sudah rontok, jago mana lagi yang bisa diandalkan Tayhong-tong? Saat itu, bukankah seluruh dunia persilatan akan jatuh ke dalam cengkeramannya?

Dengan penuh rasa bangga dia menenggak arak seorang diri. Dia yang biasanya kurang begitu suka minum arak, hari ini telah menenggak susu macan hingga setengah mabuk, sedemikian mabuknya hingga dia sendiri pun tak tahu sejak kapan dia sudah tertidur di atas ranjangnya.

Bu-ki tahu dengan jelas kapan dia naik ke ranjang untuk tidur, sebab dia sudah menempuh perjalanan siang malam, jangan lagi makan, air setetes pun belum pernah membasahi kerongkongannya apalagi memejamkan matanya untuk beristirahat.

Tapi berjalan terlalu lama membuatnya benar-benar penat. Ia tahu dirinya sudah tak memiliki kekuatan cukup untuk menempuh perjalanan, jika tidak dipaksakan untuk beristirahat, jangan harap dia bias mengalahkan Sangkoan Jin.

Maka dia harus mencari tempat untuk beristirahat dan tidur yang nyenyak. Lebih baik agak terlambat membalas dendam daripada sama sekali tak berkesempatan melakukan pembalasan.

Itu alasannya mengapa dia mencari sebuah rumah penginapan dan tidur dengan nyenyaknya.

Ooo)))(((ooo

Tidak demikian dengan pemikiran Wi Hong-nio, yang ia pikirkan waktu itu adalah melakukan perjalanan secepat-cepatnya. Pada pendapatnya, kereta boleh berjalan terus sementara dia bisa menggunakan kesempatan itu untuk beristirahat dalam kereta.

Dia cukup tahu, tidur sangat penting untuk memulihkan kekuatan, orang yang kurang tidur tubuhnya akan lemah.

Kusir kuda yang dia sewa dua orang, mereka bisa tidur secara bergiliran, karenanya kereta kuda tetap dilarikan kencang- kencang.

Goncangan kereta tidak membuat tidur Wi Hong-nio kurang lelap, dia justru tertidur sangat nyenyak, saking nyenyaknya sampai bermimpi.

Entah berapa lama waktu sudah lewat, mendadak ia terbangun dari tidurnya. Begitu terbangun, hatinya merasa kaget.

Kenapa kereta kuda tidak berlari lagi? Ini alasan pertama yang membuatnya tercengang.

Buru-buru dia bangkit berdiri, menyingkap tirai kereta dan melongok keluar. Dua orang kusirnya sudah tak nampak lagi batang hidungnya, yang tersisa hanya dua ekor kuda penghela kereta yang sedang makan rumput. Dia keluar dari kereta dan celingukan ke empat penjuru, ternyata kereta itu diparkir di bawah sebuah pohon besar yang rindang, tapi karena hari baru saja terang tanah, suasana di sekelilingnya tampak hening dan sepi.

Ke mana perginya kedua orang kusir kereta itu? Karena lupa menanyakan nama mereka, maka dia pun tak tahu bagaimana harus memanggil orang-orang itu.

Dalam keadaan begini terpaksa dia hanya bisa duduk di luar kereta, mengawasi kuda-kudanya yang merumput dengan termenung.

Sementara itu mendadak ia merasa seakan ada seseorang sedang mengawasinya, dia mengira para kusir kereta telah kembali, maka dia pun mendongakkan kepalanya.

Hampir saja jantungnya berhenti berdetak, apa yang terlihat olehnya hampir-hampir membuatnya mati lantaran kaget. Ternyata orang yang sedang mengawasinya bukan sang kusir kereta, melainkan Tong Hoa.

Tong Hoa berdiri di bawah pohon dengan senyuman menghiasi wajahnya. Sambil tersenyum selangkah demi selangkah ia berjalan mendekat.

Untuk sesaat Wi Hong-nio jadi gelagapan, dia tak tahu harus membalas senyuman itu atau jangan, sikapnya amat kalut, tapi akhirnya dia mengulumkan juga senyumannya.

“Nyenyak tidurmu?” sapa Tong Hoa sambil berjalan mendekat.

Wi Hong-nio tidak menjawab, untuk sesaat dia hanya bisa mengawasi pemuda itu dengan termangu.

“Aku khusus kemari untuk mencarimu,” kembali Tong Hoa berkata, “tapi karena melihat tidurmu amat nyenyak, maka aku menunggu sambil berjalan-jalan di sekitar sini.”

Wi Hong-nio celingukan memandang sekeliling tempat itu sekejap, tanyanya, “Mana kusir kudaku?”

“Mereka sudah kusuruh pergi. Jangan kuatir, aku tak nanti membunuh mereka yang tak bersalah!”

“Ada urusan apa kau datang mencariku?” tanya si nona kemudian setelah berhasil menenangkan pikirannya.

“Tidak ada yang penting, aku hanya rindu padamu!” “Rindu padaku? Kalau begitu, bagaimana kalau kau temani

aku melanjutkan perjalanan?” “Bagus, tentu saja bagus. Jelas merupakan satu kehormatan bagiku!”

Sambil berkata, dia segera naik ke atas kereta dan duduk di kursi kusir, sekali sentak tali les kuda, kereta pun berputar arah.

“Jangan, jangan, jangan ke sana!” seru Wi Hong-nio lagi, “aku mau pergi ke arah sana!”

“Kau keliru,” kata Tong Hoa seraya berpaling, “aku hanya bisa menemanimu untuk balik ke arah sana!”

“Kenapa?”

“Sebab aku tidak berharap kau berjumpa lagi dengan Tio Bu-ki!” “Tampaknya cemburumu semakin besar saja?”

“Aku justru melihat kemampuan sandiwaramu makin lama makin hebat!”

“Aku bersandiwara? Aku sedang bermain sandiwara?

Sandiwara apa?”

Tong Hoa tertawa licik, kembali dia menghentikan lari kudanya sambil berkata, “Kemarin, kau sudah membohongi aku semalaman suntuk, apakah sekarang kau masih ingin membohongi aku lagi?”

Wi Hong-nio tahu, rupanya pemuda itu sudah mengetahui duduk persoalan yang sebenarnya, maka segera jawabnya, “Siapa suruh kau menipuku lebih dulu dengan menggunakan siasat busukmu?”

“Aku hanya melaksanakan perintah,” dengan sikap apa boleh buat Tong Hoa mengangkat bahunya.

“Bagaimana sekarang? Menghalangi kepergianku juga merupakan bagian dari perintah itu?”

“Tentu saja bukan, ini kemauanku sendiri.” “Kalau memang begitu, biarkan aku pergi!” “Tidak bisa.”

“Kenapa tidak bisa?”

“Jika kau ke sana berarti rencana Naga Kemala Putih akan terancam gagal total. Itu berarti tugas yang kujalankan telah gagal, atas kegagalan ini aku akan menerima hukuman. Tentunya kau tidak berharap aku memperoleh hukuman bukan?”

“Keliru!” teriak Wi Hong-nio lantang, “aku justru berharap rencana kalian itu bakal gagal total!” Habis berkata tiba-tiba ia mencabut pedangnya dan langsung ditusukkan ke tubuh Tong Hoa.

Tentu saja Tong Hoa tak akan memandang sebelah mata ilmu silat yang dimiliki gadis ini, dalam anggapannya dia adalah seorang gadis yang memegang pedang pun tak becus. Karenanya dia menghindar ke samping sekenanya dan sudah lolos dari tusukan tersebut.

Padahal Wi Hong-nio memang sengaja menusuk sekenanya, sebagaimana diketahui ia pernah belajar ilmu pedang dari Siau

Tang-lo ketika berada di bukit Kiu-hoa-san, ditambah lagi ia memang memiliki bakat yang bagus maka kepandaiannya dalam menggunakan pedang sudah mencapai satu taraf yang cukup hebat.

Hanya saja gadis ini tak ingin bertindak gegabah, dia sadar kemampuan yang dimilikinya masih bukan tandingan Tong Hoa. Jika ingin memenangkan orang itu maka dia harus mengunggulinya dengan menggunakan akal dan kecerdasan.

Dengan pikiran itulah maka dia sengaja berlagak tak tahu ilmu silat dan menusuk sekenanya.

Benar saja, perbuatannya itu berhasil mengelabui Tong Hoa, di saat dia berkelit dengan sekenanya itulah mendadak Wi Hong-nio mempercepat gerak serangannya, pedang yang ada di tangannya seakan sekuntum bunga yang sedang mekar, tiba-tiba mengebas ke kiri lalu menyelinap ke kanan, langsung menusuk jalan darah penting di dada lawan.

Tong Hoa jadi gelagapan dibuatnya, untung ilmu silatnya terhitung cukup hebat, kalau tidak mungkin dia sudah tewas di ujung pedang gadis itu.

Kendati begitu, ia keteter juga dibuatnya hingga tersudut dalam kondisi yang berbahaya. Pakaian yang dikenakan tampak tertusuk di beberapa tempat hingga robek tak karuan.

Sejak belajar ilmu pedang dari Siau Tang-lo, baru pertama kali ini Wi Hong-nio menggunakannya untuk menyerang orang, pada mulanya gerak serangannya masih kelihatan kaku, namun makin lama gerakannya makin lancar dan cepat, pedangnya digerakkan sedemikian rupa hingga membentuk selapis jaring pedang yang luar biasa.

Begitu melepaskan serangannya yang keenam, ujung pedangnya yang tajam berhasil menyambar pergelangan tangan kiri Tong Hoa, darah segar segera menyembur keluar dari luka yang memanjang itu.

Dengan cekatan Tong Hoa menjatuhkan diri ke tanah, kemudian bagaikan gasing dia menggelinding menjauh dan menyelinap ke balik kereta kuda.

Menggunakan kesempatan itu buru-buru dia meloloskan pedangnya dan bersiap-siap menghadapi serangan berikutnya.

Wi Hong-nio memang tak punya pengalaman dalam bertarung, ketika melihat Tong Hoa kabur ke belakang kereta, dia pun tidak berusaha untuk mengejar, sebaliknya gadis itu malah berdiri di atas kereta sambil mengawasi lawannya tanpa berkedip.

Diam-diam gadis itu merasakan jantungnya berdebar keras, bagaimanapun selama hidupnya baru pertama kali ini dia melukai tubuh orang hingga berdarah, untuk beberapa saat lamanya dia hanya berdiri diam tanpa melakukan sesuatu.

Tong Hoa bukan orang dungu, dari perubahan raut muka gadis itu, dia segera dapat menebak apa yang sedang dipikirkan, mendadak dia buang pedangnya ke tanah dan berjalan menghampiri sambil serunya, “Bunuhlah aku bila kau ingin melakukannya!”

Wi Hong-nio malah dibuat tertegun oleh ucapan tersebut, pedang nya kembali diturunkan, dengan wajah menyesal katanya, “Biarkan aku pergi!”

“Tidak, jika kau akan pergi, bunuhlah aku lebih dahulu. Toh sekembaliku ke Benteng Keluarga Tong, aku tetap akan diganjar mati, daripada mati tersiksa lebih baik mati saja di ujung pedangmu.”

Untuk beberapa saat lamanya Wi Hong-nio terbungkam, ia memandang pedang dalam genggamannya sekejap lalu memandang pula ke arah Tong Hoa, pikiran dan perasaannya amat kalut, untuk sesaat dia tak tahu apa yang harus diperbuat.

Menggunakan kesempatan itu Tong Hoa berjalan mendekat, kembali katanya, “Ayoh, cepat turun tangan!”

Ketika Wi Hong-nio masih tetap sangsi, Tong Hoa sudah maju mendekat dan merebut pedang di tangannya.

Perempuan itu sama sekali tidak menjadi gusar atau terkesiap, reaksinya tetap tenang, karena baru saja dia mengambil keputusan, apa pun yang bakal terjadi, dia tak ingin tangannya ternoda darah. Setelah merampas pedang itu, dengan wajah menyesal Tong Hoa berkata lagi, “Aku terpaksa harus bertindak begini, harap kau jangan marah.” Wi Hong-nio tertawa getir.

“Tidak apa apa, toh aku sudah putuskan, tak akan membunuh siapa pun.”

Ketika Tong Hoa menyodorkan kembali pedangnya, Wi Hong-nio segera menggeleng, “Sudahlah, aku tidak membutuhkan pedang itu lagi, ambil saja buatmu!”

“Apa gunanya aku punya dua bilah pedang? Lebih baik simpan sebilah untuk menjaga diri,” ujar Tong Hoa sambil tertawa.

“Tidak, ilmu pedang yang kupelajari adalah ilmu untuk membunuh manusia, bukan untuk melindungi diri, tidak baik bila kusimpan terus pedang itu.”

“Bila ingin melindungi diri dari ancaman, tentu saja kau harus berusaha untuk membunuh lawan!”

“Aku tahu, itulah sebabnya kuputuskan tidak akan menggunakan pedang lagi.”

“Kalau begitu buang saja, aku harus pergi sekarang!” “Pergi?” paras muka Tong Hoa agak berubah, “hendak ke

mana kau?”

“Pergi mencari Bu-ki!”

Mendadak Tong Hoa mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.

“Hei, apa yang kau tertawakan?” tegur nona itu. “Aku sedang menertawakan kau!” “Menertawakan apa?”

“Menertawakan dirimu yang kelewat bodoh.” “Aku bodoh? Di mana letak kebodohanku?”

“Kau tidak merasa kalau dirimu bodoh? Sekarang kau sudah tak berpedang, memangnya aku akan membiarkan kau pergi?”

“Kenapa kau melarangku pergi? Bukankah barusan aku telah berhasil mengunggulimu? Aku hanya tak ingin membunuhmu saja, kenapa aku tak boleh pergi?”

Sekali lagi Tong Hoa tertawa tergelak, dia tertawa dengan riangnya.

“Bukankah sudah kukatakan? Jika kau bersikeras akan pergi, bunuhlah aku terlebih dulu!”

“Aku tetap akan pergi dari sini, namun aku pun tak akan membunuhmu!” “Bagaimana caranya?”

“Caranya? Kau pergi ke tempat yang kau suka, aku pun akan pergi ke tempat yang kupilih, bukankah semua jadi beres?”

“Tidak bisa nona besarku, aku tak akan membiarkan kau pergi ke sana!”

“Bagaimana sih kamu ini? Mengapa terus-terusan ngotot? Sudah kalah masih belum mau mengakui kekalahannya? Kau tetap tidak membiarkan aku pergi?”

“Menang atau kalah bukan persoalan, yang penting dalam masalah ini, justru adalah mati atau hidup, asal kau bunuh aku, kau boleh pergi, bila membiarkan aku tetap hidup maka kau tak boleh ke sana.” dirimu.” “Baiklah! Kalau begitu kembalikan pedangku, akan kubunuh

Sekali lagi Tong Hoa tertawa terbahak-bahak, “Ha ha ha ha... coba lihat, sudah begini masih belum mau mengaku kalau dirimu bodoh? Dalam keadaan seperti ini, memangnya aku akan menyerahkan pedang ini kepadamu? Apalagi kemenangan yang berhasil kau raih tadi hanya kebetulan saja, kau menyerang di saat aku tak siap. Sekarang, biarpun kau berpedang belum tentu sanggup mengungguli aku!”

“Jadi kau memang manusia macam begitu?” “Bukan, aku bukan manusia begitu!”

“Bagus sekali kalau begitu,” seru Wi Hong-nio kemudian, “aku tahu, kau memang sengaja berkata begitu bukan?”

“Salah besar! Sekalipun aku bukan manusia macam begitu, namun situasi yang mendesak memaksa aku mau tak mau harus berbuat begitu.”

“Maksudmu, kau tetap tidak membiarkan aku pergi?”

“Aku terpaksa harus berbuat begitu, maaf.” Wi Hong-nio jadi sewot setengah mati, dengan napas terengah-engah karena menahan luapan emosi, serunya, “Ternyata aku telah salah menilai dirimu!”

“Aku benar-benar minta maaf.”

“Sudahlah, tak usah banyak bicara lagi, aku tetap akan pergi dari sini, tampaknya kali ini tiba giliranmu yang harus membunuh aku.”

Selesai berkata, ia segera beranjak pergi dengan langkah

lebar. Tong Hoa sama sekali tidak menghalangi, dia hanya mengintil terus di samping Wi Hong-nio, mengikutinya ke mana pun dia pergi.

“Kenapa kau tidak menghalangi aku?”

“Sebab bila melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki, kau tak akan mampu menyusul Tio Bu-ki!”

“Lalu kenapa kau masih mengikuti diriku terus?” “Pertama aku harus melindungi dirimu, kedua, aku harus

menghalangi kau menyewa kereta kuda.”

“Kau. ” dengan napas tersengal karena marah, Wi Hong-

nio menuding hidung Tong Hoa, makinya, “kau memang manusia yang payah!”

“Aku telah mengemukakan semua maksud dan tujuanku secara jelas, kenapa kau bilang aku payah?”

Wi Hong-nio berpaling sekejap ke arah lain, lalu ujarnya, “Sudahlah, aku tak ingin berdebat denganmu, toh akhirnya aku yang kalah, Cuma kau harus tahu, apa pun yang terjadi aku tetap akan ke sana, aku pun pasti akan menemukan kembali kusir keretaku untuk melanjutkan perjalanan!”

“Baiklah, kalau kau memang bersikeras terus, biar aku yang menghantar kau menuju ke sana.”

Wi Hong-nio seakan tak percaya dengan pendengaran sendiri, ia membelalakkan matanya lebar-lebar, diawasinya wajah Tong Hoa tanpa berkedip.

Sungguh? serunya tertahan.

“Tentu saja sungguh, mari, kita segera balik ke kereta!”

Setelah naik ke atas kereta, Wi Hong-nio baru percaya kalau apa yang dikatakan Tong Hoa memang benar.

Tong Hoa duduk di tempat kusir, dia menarik tali les kuda dan kereta pun mulai bergerak meninggalkan tempat itu.

Pada mulanya Wi Hong-nio merasa sangat gembira, karena ternyata Tong Hoa bersedia membantunya, tapi setelah berjalan beberapa saat ia baru sadar bahwa ada sesuatu yang tidak beres, ternyata arah yang ditempuh kereta kuda itu menuju ke tempat yang berlawanan.

“Berhenti!” ia segera berteriak.

Tong Hoa segera menghentikan keretanya. “Ada apa?” dia bertanya.

“Kau sedang membohongi aku! Bukankah ini jalan balik?” “Benar, bukankah aku sudah bilang akan mengantarmu pulang?”

“Kau tak usah berlagak pilon, seperti tidak tahu ke mana aku hendak pergi! Apa maumu?”

“Tentu saja aku tahu ke mana kau hendak pergi, tapi dengan keadaan dan kedudukanku sekarang, mana mungkin aku bisa mengantarmu ke sana?”

“Lalu kenapa kau mengatakan akan mengantarku?” “Apa salahnya kalau kuantar kau pulang ke rumah?

Bukankah sejak awal sudah kukatakan, kau hanya bisa melanjutkan perjalanan dengan kereta jika tujuanmu adalah balik ke Gedung Keluarga Tio?”

“Segera hentikan keretamu, aku mau turun sekarang juga!”

Melihat gadis itu bersiap-siap melompat keluar dari keretanya, Tong Hoa menghentakkan tali les kudanya hingga kereta kembali bergerak. Tindakan sangat mendadak ini menyebabkan Wi Hong-nio hampir jatuh terjerembab.

“Lepaskan aku!” teriak perempuan itu lagi.

Tong Hoa sama sekali tidak menggubris, dia malah melarikan kudanya makin kencang.

“Jika kau tidak segera menghentikan keretamu, aku akan melompat keluar!” kembali Wi Hong-nio mengancam.

Namun Tong Hoa sama sekali tidak menggubris, dia tetap melarikan keretanya kencang-kencang.

Wi Hong-nio menjadi nekad, ia benar-benar melompat dari atas kereta lalu bergulingan di tanah. Menyaksikan ini Tong Hoa terpaksa menghentikan keretanya dan membangunkan perempuan itu.

“Jangan sentuh aku!” teriak perempuan itu penuh amarah, “Aku tak ingin bertemu lagi denganmu!”

“Buat apa kau mesti marah-marah? Baiklah, kali ini aku putuskan untuk benar-benar menghantarmu.”

“Sungguh?”

“Tekadmu sudah begitu bulat, aku tahu tak akan berhasil mengha-langimu. Mari, segeralah naik ke kereta!”

Kali ini Wi Hong-nio menolak untuk masuk ke dalam kereta, ia bersikeras duduk di samping Tong Hoa, katanya, “Aku akan mengawasimu, jika kau berusaha main gila lagi, aku segera akan lompat turun dari kereta!” Kali ini Tong Hoa tak berani main gila lagi, ia benar-benar melarikan kudanya ke arah benteng Siangkoan-po, bahkan kudanya dilarikan kencang.

Menyaksikan hal itu Wi Hong-nio menjadi sangat girang. Sayang kegembiraannya hanya berlangsung satu jam lebih sedikit, setelah itu tiba-tiba Tong Hoa menghentikan keretanya. Dengan heran Wi Hong-nio segera menegur, “Kenapa kau hentikan keretamu?”

“Masa kau tidak bisa melihat sendiri?”

“Melihat apa? Wajahmu tetap segar, sama sekali tak nampak penat atau masuk angin, mengapa kau harus menghentikan kereta?”

“Tentu saja aku tidak penat, masa perjalanan sependek ini membuatku kelelahan? Tapi coba kau lihat ke depan!”

Kini Wi Hong-nio baru mendongakkan kepalanya memandang ke depan.

Ternyata mereka tiba di depan sebuah persimpangan, bukan hanya bercabang dua tapi tiga!

“Oh, jadi kau tidak kenal jalan?” tanya si nona.

“Aku tentu saja kenal, tapi kau sendiri bagaimana? Kenal jalan ini tidak?”

“Aku tidak tahu...” “Nah itu dia!”

“Apa ada yang tak beres? Jalan saja seperti yang kau tahu!” “Tapi, apakah kau percaya padaku?”

Begitu kata-kata itu diucapkan, langsung Wi Hong-nio terbungkam seribu bahasa. Apakah ia percaya orang ini? Bagaimana kalau secara sengaja dia memilih jalan yang salah?

Dia tak tahu, benar-benar tak tahu.

Lantas apa daya? Wi Hong-nio merasa pikirannya bertambah

kalut.

Menyaksikan kebingungan si nona, Tong Hoa kembali

tertawa licik, ujarnya, “Itu sebabnya aku sengaja berhenti di sini, agar kau bisa memilih jalan mana yang harus dilewati. Aku tidak mau disalahkan karena salah memilih jalan!”

“Aku tak akan menyalahkan dirimu, jalankan saja keretamu menuju ke arah benteng Siangkoan-po.”

“Lebih baik kau saja yang pilih,” Tong Hoa bersikeras dengan pendiriannya. Dengan sorot mata tajam Wi Hong-nio mengawasi Tong Hoa tanpa berkedip, kemudian serunya, “Jadi kau punya tujuan lain?

Sejak awal kau sudah tahu bahwa di sini terdapat jalan bercabang tiga kan?”

“Benar,” ternyata Tong Hoa mengakui, “dan aku tak bisa membantumu untuk memilihkan jalan yang harus diambil, lebih baik kau pilihlah sendiri, jadi kalau sampai keliru, kau jangan marah kepadaku!”

Dengan termangu Wi Hong-nio mengawasi tiga persimpangan jalan yang terhampar di depan matanya. Ia sangsi, jalan yang mana yang harus dipilih? Akhirnya, setelah berpikir sebentar, “Baiklah, aku turuti pilihanmu!”

Tong Hoa mengerling ke arahnya, tiba-tiba ia menghentakkan tali les kudanya dan menjalankan kereta itu menuju ke cabang jalan yang tengah.

“Berhenti!” tiba-tiba gadis itu berteriak lagi. “Ada apa?” “Jangan memilih jalan yang itu!”

“Lalu harus lewat yang mana?”

“Kau boleh memilih jalan yang lain kecuali jalan itu!” Dalam pikiran Wi Hong-nio, jalan yang pertama kali dipilih

Tong Hoa pastilah jalan yang keliru maka dia sengaja menyuruh pemuda itu memilihnya terlebih dulu, dengan begitu akan tersisa dua pilihan saja.

Tapi persoalannya sekarang adalah Tong Hoa akan memilih jalan yang mana? Kini pemuda tersebut sudah tahu kalau dia sedang mencoba kejujurannya, apakah dia akan memilih jalan yang benar atau tetap sengaja memilihkan jalan yang salah?

Untuk sesaat Wi Hong-nio jadi sangsi, dia tak tahu bagaimana mesti memutuskan persoalan ini.

Tentu saja Tong Hoa sama sekali tidak memedulikan apa yang sedang dipikir Wi Hong-nio, dia segera mencemplak kudanya dan memilih jalan sebelah kanan.

Sebenarnya Wi Hong-nio ingin menggunakan siasat itu untuk mencoba kejujuran Tong Hoa, tak disangka siasatnya itu sekarang justru mempersulit diri sendiri!

Jalan yang sekarang dipilih Tong Hoa benarkah jalan yang

benar?

Dia tahu, sulit sekali baginya untuk membuktikan kejujuran

pemuda itu. Dia mencoba berpaling, mengawasi wajah Tong Hoa dari samping, tapi wajah itu sangat tenang, seolah tak pernah terjadi sesuatu apa. Dia hanya berkonsentrasi mengemudikan keretanya.

Ketenangan pemuda itu membuat Wi Hong-nio semakin sangsi, dia tak bisa menduga apa yang sedang dipikirkan Tong Hoa saat itu.

“Berhenti!” mendadak teriaknya lagi.

Tong Hoa sangat penurut, dia benar-benar menghentikan keretanya.

“Ada apa lagi?”

“Benarkah arah yang kau pilih sekarang?” sengaja gadis itu bertanya, dia berharap Tong Hoa tanpa sengaja memperlihatkan jawaban yang sebenarnya.

“Tentu saja benar!”

Baru saja Wi Hong-nio merasa gembira, terdengar Tong Hoa berkata lebih jauh, “Aku telah menuruti pilihanmu, mana bisa keliru?” jengkel. “Lihay amat orang ini!” pikir Wi Hong-nio yang menjadi amat

“Sekarang kita lewat yang mana?” terdengar Tong Hoa bertanya lagi.

“Pilih jalan yang sebelah kiri!”

Tong Hoa menurut dan membelokkan keretanya ke kiri. “Yang ini bukan?” sengaja tanyanya.

Wi Hong-nio hanya bisa melotot, tapi tak sepatah kata sanggup diucapkannya.

Sambil tertawa, kembali Tong Hoa bertanya, “Kau benar- benar akan menggunakan jalan yang ini?”

Wi Hong-nio berpikir sebentar, akhirnya dia berteriak keras, “Sudahlah, tak usah ke mana-mana!”

“Tak usah ke mana-mana? Mau menanti di sini saja?” “Benar!”

“Aku tak punya usul lain!”

“Aku memang tidak membutuhkan usulmu!”

“Aku tahu, kau membutuhkan usul dan pendapat dari orang lain bukan?”

Wi Hong-nio tidak menjawab. Kembali Tong Hoa berkata, “Terus terang, biar kau menanti sampai besok pagi pun jangan harap bisa bertemu seseorang di tempat ini karena jalan ini sudah lama dilupakan orang! Atau mau tanya arah pada orang lewat? Janganlah mimpi di siang hari bolong!”

Mendengar rahasia terbongkar, merah padam selembar wajah gadis itu. Katanya kemudian, “Kau tak usah mencampuri urusanku, mau berjumpa dengan orang lewat atau tidak, itu urusanku sendiri. Kalau memang terjadi seperti itu, aku akan terima nasib!”

“Baiklah, kalau begitu akan kutemani kau sampai ketemu orang lewat nanti!”

“Kau tak perlu menemani aku, toh aku tidak butuh dirimu!” Tong Hoa tidak menggubris sindiran itu, dia hanya tertawa, “Masa kau tidak merasa, sepanjang perjalanan sampai kemari apakah kau pernah berjumpa dengan seseorang? Sia-sia saja penantianmu itu.”

“Siapa tahu akan muncul seseorang dari depan sana!” Sekali lagi Tong Hoa tertawa, kali ini dia hanya tertawa tanpa menanggapi.

“He, apa yang kau tertawakan?” tak tahan Wi Hong-nio menegur.

“Menertawakan kebodohanmu!” “Kenapa?”

“Coba bayangkan sendiri, orang yang datang dari arah depan sana itu datang dari mana? Seandainya berasal dari benteng Siangkoan-po, berarti dia adalah anggota Keluarga Tong, bila dia adalah anggota Keluarga Tong, memangnya mereka bersedia memberi petunjuk jalan kepadamu?”

“Itu kan belum tentu. Asal saja kau tidak bersuara, mereka pasti akan memberitahu...”

“Apa sangkut-pautnya aku bersuara atau tidak?”

“Tentu saja besar sekali pengaruhnya, jika kau bersuara maka orang akan tahu tujuanku, tentu saja mereka segan memberitahu.”

“Baiklah, kalau begitu aku berjanji tak akan membuka suara, bukan saja tidak bicara, aku akan bersembunyi di dalam kereta agar tidak diketahui orang lain, puas?”

Tentu saja Wi Hong-nio sangat puas.

Maka Tong Hoa pun masuk ke dalam kereta, memejamkan matanya dan beristirahat.

Sementara Wi Hong-nio tetap di luar kereta, dengan mata melotot besar dia mengawasi sekeliling tempat itu sambil berharap ada seseorang yang muncul.