Naga Kemala Putih Bab 14. Buku Harian Palsu Tio Kian

Bab 14. Buku Harian Palsu Tio Kian

Makin lama aku merasa badanku semakin lemah.

Kuputuskan untuk mengorbankan diriku guna terwujudnya kejayaan Tayhong-tong. Tapi pengorbanan bagaimana baru berharga? Nekad menyerbu ke Benteng Keluarga Tong dan membantai mereka sekeluarga? Atau masih ada cara yang lain?

Aku mengundang Sugong dan Siangkoan dan setelah berunding cukup lama akhirnya Sangkoan Jin mengusulkan rencana penyusupan. Menurutnya, kalau toh aku bakal mati, lebih baik kita mencari seorang jago dari Taybong-tong untuk dengan membawa batok kepalaku pergi bergabung ke Benteng Keluarga Tong. Katakan saja bahwa dia bergabung karena telah membunuh aku, pihak Benteng Keluarga Tong pasti akan percaya alasan ini.

Kami bertiga setuju sekali dengan rencana ini Tapi siapa yang akan diutus menjadi pengkhianat dan melaksanakan tugasi ini? Bukan pekerjaan yang gampang untuk mengbabisi nyawaku, kecuali orang itu sangat dekat dan sangat akrab hubungannya denganku. Hanya orang kepercayaanku yang mempunyai kesempatan itu.

Kami berunding setengah harian lamanya, akhirnya aku berkata kepada mereka bahwa hanya salah satu diantara kalian berdua yang bisa melaksanakan tugas ini.

Sugong segera menggeleng sambil menolak keras, ia bilang tak bakal mau melaksanakan tugas ini. Dalam keadaan terdesak, akhirnya Siangkoan menerima tugas ini kendati dengan perasaan berat.

Ooo)))(((ooo

Kesehatanku makin lama makin buruk. Berulang kali kudesak Siangkoan untuk segera melaksanakan rencana ini.

Kami menamakan rencana besar ini Rencana Harimau Kemala Putih dan

menjelaskan segala sesuatunya diselembar kertas yang tersimpan dalam patung Hanmau Kemala Putih itu. Tujuannya adalah untuk mengembalikan nama baik Siangkoan di kemudian hari

Segala sesuatunya sudah siap, namun Siangkoan belum juga turun tangan. Aku benar-benar kuatir, aku takut orang lain mengetahui penyakitku, bila hal ini sampai tersiar ke pihak Benteng Keluarga Tong, jelas akan berpengaruh besar pada kelancaran Rencana Harimau Kemala Putih.

Tapi Siangkoan berdalih, lebih baik rencana itu dilaksanakan setelah terselenggaranya pesta perkawinan Bu-ki. Tentu saja aku sangat setuju dengan usul ini, dapat melihat Bu-ki naik pelaminan, merupakan harapankuyangterakhir.

Dalam berapa hari terakhir ini aku selalu memikirkan bagaimana caranya agar pelaksanaan Rencana HarimauKemala Putih bisa berlangsung sehebat dan segempar mungkin. Setiap orang didunia persilatan harus mengetahui kejadian ini, karena hal ini akan semakin menguatkan kepercayaan Benteng Keluarga Tong sewaktu menerima penggabungan Siangkoan.

Tiba-tiba terpikir olehku, mengapa tidak kulaksanakan rencana ini tepat dihari perkawinan Bu-ki? Bila di saat seperti itu aku terbunuh, beritanya pasti akan menggemparkan seluruh dunia persilatan! Aku merasa cara ini sangat bagus, namun tindakanku ini akan membuat Bu-ki menderita. Aku juga tak akan menyaksikan keramaian di rumahku saat berlangsungnya perkawinan itu.

Bagaimanapun Bu-ki akhimya telah berkeluarga, meski aku harus mati pun rasanya tak perlu disesali lagi.

Satu-satunya yang membuat aku amat tersiksa adalah tak dapat menceritakan rencana ini kepada Bu-ki, agar dia mempunyai persiapan batin jauh sebelumnya. Tapi, apa boleh buat.

Kuputuskan pembunuhan akan terjadi pada hari itu.

Siangkoan menyetujuinya.

Besok adalah hari pernikahan Bu-ki, juga saat kematianku. Menghadapi kematian yang menjelang tiba, aku sama sekali tidak merasa takut atau sedih. Aku hanya mengeluh kepada Thian, kalau memang meimberi kehidupan kepadaku, mengapa pula harus memberi siksaan penyakit kepadaku?

Membayangkan semua ini, tanpa terasa aku berjalan sampai ke kamar Siangkoan. Kudorong pintu dan masuk ke dalam, tapi tak kujumpai Siangkoan disitu.

Ketika aku akan meninggalkan kamar itu, tiba-tiba kutemukan sebungkus obat terletak diatas meja. Kuambil bungkusan itu dan memeriksanya, benar saja, isinya memang bubuk obat.

Aku mencoba untuk membauinya. Aneh sekali, bau obat itu sudah sangat kukenal. Segera kuambil secawan teh dan mencampurkan sedikit bubuk obat itu ke dalamnya. Bubuk obat itu seketika larut dan menyatu dengan air.

Kucoba untuk mencicipinya. Tak salah lagi, bau ini memang sudah sangat kukenal, bau yang kukenal setiap hari.

Mendadak perasaan ngeri bercampur takut menyergap hatiku Kuambil lagi

sedikit bubuk obat itu dan membawanya ke seorang tabib kenamaan di kota.

Hasil pemeriksaan tabib itu menyatakan bahwa bubuk obat itu adalah racun yang bekerjanya sangat lambat. Racun itu menyebabkan orang merasakan tubuhnya lemas tak bertenaga,panas tinggi...

Aku tak sanggup untuk mendengarkan lebih jauh, sebab semuanya sangat mirip dengan gejala penyakitku. Penyakit yang membuatku putus asa karena beranggapan tak mungkin bisa disembuhkan lagi. Berbagai pikiran dan kecurigaan segera berkecamuk dalam benakku. Mengapa Siangkoan memiliki racun ini? Mengapa setelah minum obat itu aku merasakan gejala penyakit seperti yang kualami? Jangan jangan Siangkoan, dia....

Aku tak berani berpikir lebih jauh. Siangkoan adalah saudara angkatku, saudara yang sudah banyak tahun berjuang mati hidup bersamaku, mengapa ia berlaku begitu keji terhadapku?

Mengapa harus terjadi? Mengapa ia mencelakaiku? Demi nama? Namanya dalam perkumpulan Tayhong-tong sudah sangat tinggi. Demi uang? Selama hidup ia tak pernah kekurangan, apapun yang diinginkan selalu tersedia. Lalu mengapa?

Aku tak berhasil menemukan alasan yang tepat, apa sebabnya dia ingin mencelakaiaku.

Tapi semua bukti dan kenyataan ada di depan mata. Apalagi dia yang akan membawa batok kepalaku untuk bergabung dengan pihak musuh. Rencana inipun pemikiran dan usul yang diajukannya...

Oh Thian! Mengapa urusan jadi begini?

Aku ingin menemui Sugong untuk membahas persoalan ini, tapi ia baru besok pagi tiba disini. Aku ingin mencari Bu-ki, tapi ke manapun tak kutemukan jejaknya.

Apa yang bisa kulakukan sekarang? Apakah aku harus bertindak lebih hati-hati, besok pagi?Atau harus kutemukan obat penawar racunnya? Menurut tabib, jika seseorang menelan obat ini melebihi setengah tahun lamanya, jangankan manusia, dewapun tak akan mampu menyelamatkan nyawamu!

Mati! Tampaknya aku pasti akan mati Tapi, jika Siangkoan benar-benar menggunakan batok kepalaku sebagai jaminannya untuk bergabung dengan Benteng Keluarga Tong, aku sangat tidak rela.

Sekarang waktu sudah tak banyak lagi, keadaan badanku juga terasa makin lemah. Jelas aku bukan lagi tandingan Siangkoan.

Apa yang harus kulakukan sekarang?

Semalam suntuk aku memutar otak mencari akal Akhirnya hanya bisa kusembunyikan buku harianku ini ke dalam patung Naga Kemala Putih, seandainya aku benar-benar mati, aku berharap suatu hari nanti Bu-ki datang ke kamar-bacaku, menemukan rahasia ini dan membalaskan dendam atas kematianku.

Selain ini, apa lagi yang bisa kuperbuat? Aku tak berani menitipkan buku harian ini kepada orang lain, apalagi kepada para pelayan. Kalau mereka sudah disuap Siangkoan dan mengkhianati aku, bukankah rahasia buku harianku bakal terbongkar?

Satu-satunya yang bisa kuperbuat sekerang adalah berdoa dan mohon kepada Thian. Semoga Bu-ki bisa secepatnya menemukan buku harianku ini, jangan sampai tertipu oleh siasat Harimau KemalaPutih. Dia harus tahu wajah asli Siangkoan, kalau tidak, Tayhong-tong bakal musnah untuk selamanya!

Tayhong-tong benar-benar sudah musnah! Itulah perasaan pertama yang dirasa Wi Hong-nio seusai membaca buku harian itu.

Ia merapatkan kembali buku harian itu, perasaan dan pikirannya amat kalut.

Bagaimana sekarang? Ke mana harus menemukan Bu-ki? Ia harus menyampaikan kabar ini kepada Bu-ki, makin cepat makin baik. Kalau tidak, Tayhong-tong benar-benar akan musnah.

Perubahan wajahnya telah mencerminkan seluruh kepanikan dan kegelisahan dalam hatinya. Tong Hoa dapat melihat semua itu dan tertawa terbahak-bahak dalam hatinya. Bagaimanapun, rencana Naga

Kemala Putih sudah menunjukkan hasilnya dan mulai mendekati puncak keberhasilan.

Tentu saja perasaan girang itu tidak ditampilkan keluar, sebaliknya dengan lagak murung bercampur kuatir ia berkata kepada Wi Hong-nio, “Kau pasti sedang berpikir, ke mana harus menemukan Tio Bu-ki bukan?”

Dengan pandangan penuh rasa terima kasih Wi Hong-nio menatap wajah pemuda itu, katanya, “Aku tahu, kau pasti punya akal, kau pasti dapat membantuku bukan?”

“Permintaanmu yang mana yang tak pernah kulaksanakan?” sahut Tong Hoa tertawa.

Tentu saja tak ada yang tidak dilaksanakan. Balikan dia tahu kalau Bu-ki sedang dalam perjalanan menuju ke sana. Untuk menemukan dia, pada dasarnya jauh lebih gampang ketimbang meraba ujung hidung sendiri!

“Sungguh?” seru Wi Hong-nio kegirangan.

“Tentu saja, asal aku keluar sebentar untuk menyerap kabar, segera akan kubawakan kabar baik untukmu!”