Naga Kemala Putih Bab 13. Naga Kemala Putih

Bab 13. Naga Kemala Putih

Tong Hoa dan Wi Hong-nio melakukan perjalanan setiap malam menjelang tiba dan sesudah melewati sepuluh hari, tibalah mereka di tempat tujuan.

Tempat tinggal Wi Hong-nio sesungguhnya adalah gedung keluarga Tio, meskipun ia belum resmi menikah dengan Tio Bu-ki, namun ia beranggapan sudah menjadi menantu keluarga Tio, maka rumahnya adalah gedung keluarga Tio.

Sejak Tio Kian ditemukan tewas, kemudian Tio Bu-ki dan adiknya hilang tanpa kabar, semua pembantu yang bekerja di keluarga Tio boleh dibilang sudah bubar dan pulang ke rumah masing-masing.

Tio Cian-cian memang pernah pulang, tetapi setelah menyaksikan bangunan rumahnya dipenuhi sarang laba-laba dan debu, tanpa berhenti sejenak pun ia langsung berlalu.

Tak heran ketika Tong Hoa dan Wi Hong-nio tiba di sana, gedung keluarga Tio sudah berubah menjadi sebuah bangunan yang terbengkalai.

Tong Hoa bekerja keras membersikkan debu dan sarang laba-laba dari setiap sudut rumah, sementara Wi Hong-nio membenahi kamar tidur.

Ketika gedung keluarga Tio sudah bersih dan pulih kemegahannya, senja sudah menjelang tiba.

Tong Hoa bertanya kepada Wi Hong-nio apakah akan keluar rumah untuk mencari makan dan ketika perempuan itu menjawab belum lapar, Tong Hoa berkata, “Kalau begitu aku akan keluar sebentar, nanti kubelikan beberapa macam hidangan untuk mengisi perut.”

“Baiklah, kau tak perlu terburu-buru,” sahut Hong-nio sambil mengawasi cahaya senja yang menyinari halaman rumah dengan termangu-mangu, tampaknya ia sedang membayangkan kembali saat-saat gembira di masa lalu.

Tanpa mengucapkan sepatah kata, Tong Hoa berlalu. Dengan cepat ia berhasil menemukan Pesanggrahan Kemala

Putih dan menemui pemiliknya, Pek Giok-khi.

Tong Hoa mengeluarkan selembar kertas yang dibawanya dari Benteng Keluarga Tong lalu menyerahkannya kepada Pek Giok- khi. Kertas itu adalah surat yang ditulis Tio Kian. Kepada orang itu ia berkata, “Kau bisa meniru gaya tulisan orang ini?” Pek Giok-khi memperhatikan tulisan itu beberapa saat, kemudian mengangguk.

“Kecuali aku, rasanya di kolong langit dewasa ini tak akan ada orang ketiga yang bisa mengenali gaya tulisan itu sebagai gaya tulisanku!”

“Tidak mungkin! Aku tahu ada orang ketiga yang bisa mengenalinya.” Pek Giok-khi membelalakkan matanya lebar-lebar, dengan agak sangsi ia berkata, “Menulis saja belum, dari mana kau bisa begitu yakin kalau pasti ada orang yang mengenalinya?”

“Sebab ada orang yang menyuruh aku datang kemari, memangnya orang yang menyuruh aku kemari tidak tahu?”

Pek Giok-khi tertawa, hatinya langsung jadi lega. “Siapa orang itu?”

“Tong Ou!”

“Oh, kalau begitu kau adalah...” “Aku Tong Hoa.”

“Ah, maaf, maaf...”

“Tak usah sungkan, aku datang melaksanakan perintah Tong Ou. Dia tidak meminta kau menyalin isi surat ini, tapi membuat sebuah buku harian dengan meniru gaya tulisan itu.”

“Buku harian?”

“Benar, karenanya kau harus mencari kertas yang sudah agak menguning, agar jangan mendatangkan curiga orang. Jangan sampai orang tahu bahwa kertas itu baru, semakin tua semakin baik.”

“Aku mengerti, apa yang harus kutulis?”

Tong Hoa menjelaskan maksudnya panjang lebar, baru ia bertanya, “Kapan kau bisa menyelesaikan tugas ini?”

“Buru-buru?”

“Makin cepat makin baik!” “Besok pagi!”

“Besok pagi? Secepat itu?”

“Masa kau belum tahu julukanku?” “Apa julukanmu?”

“Si Tangan Kilat Sepanjang Malam.”

“Baik! Besok pagi aku akan datang mengambilnya, ukuran kertasnya jangan terlalu besar, lebih baik lagi jika dapat disisipkan dalam tabung.”

Ia menerangkan ukuran lubang rahasia yang terpasang di patung Naga Kemala Putih itu.

“Baik, segalanya akan kukerjakan. Datang saja besok pagi, kujamin semuanya pasti sesuai dengan keinginanmu!”

Keesokan harinya Tong Hoa mengambil buku harian palsu itu dan kembali ke gedung keluarga Tio dengan riang gembira. Baru setengah jalan, tiba-tiba dari arah belakang terdengar derap kaki kuda yang dilarikan kencang. Ia merasa agak heran bercampur curiga, tanpa berpaling lagi, tubuhnya segera menyingkir ke sisi jalan.

Tapi kuda itu nampaknya memang diarahkan kepadanya, sebab suara kaki kuda ikut bergeser tetap di belakang tubuhnya.

Dengan satu gerakan cepat ia membalik badan, memasang kuda-kuda dan mengawasi datangnya kuda itu dengan sorot mata tajam.

Tampaknya si penunggang kuda itu mahir menunggang kuda jempolan, ketika kuda sudah berada tiga kaki di depan Tong Hoa, mendadak ia menarik tali les kudanya yang seketika berhenti bergerak. Si penunggang langsung melompat turun.

Tong Hoa mengira orang itu akan menyergapnya, dengan satu gerakan sigap dia merentangkan telapak tangan kanannya ke depan, sementara tangan yang lain siap melancarkan serangan susulan.

Begitu tiba di hadapan Tong Hoa, tiba-tiba orang itu menjatuhkan diri berlutut dan memberi hormat. Dari caranya memberi hormat, Tong Hoa tahu kalau orang sendiri yang datang, maka tegurnya, “Ada urusan penting?”

“Benar.” “Katakan!”

“Tong Kongcu minta rencana pelaksanaan Naga Kemala Putih diundur dua hari.”

“Kenapa?”

“Sebab ada beberapa orang yang tak tahu diri telah menangkap Tio Bu-ki dan menggelandangnya balik ke Benteng Keluarga Tong. Mereka ingin minta uang jasa.”

“Lantas?”

“Tong Kongcu menganggap ketiga orang itu telah menyebabkan tertundanya rencana kita, maka ia membunuh mereka semua dan sekali lagi membebaskan Tio Bu-ki!”

“Lalu mengapa pelaksanaan rencana harus ditunda?” “Hamba menyusul kemari berjalan siang malam, sebaliknya

Tio Bu-ki melakukan perjalanan sangat lambat. Tong Kongcu kuatir bila pelaksanaan rencana terlalu awal, bisa jadi perempuan she Wi itu tak sabar menunggu kedatangan Tio Bu-ki dan menceritakannya kepada anggota Tayhong-tong yang lain. Jika sampai begitu, urusan bisa berabe.”

“Aku mengerti. Menurut perhitungan, kira-kira kapan Tio Bu- ki baru sampai di sini?”

“Seharusnya pada senja hari kedua ia sudah sampai di sini.” “Baik, kalau begitu akan kulaksanakan rencana itu dua hari

kemudian! Sampaikan kepada mereka semua, tak usah kuatir!” “Baik!”

Setibanya di gedung keluarga Tio, pertama-tama Tong Hoa memasukkan dulu catatan harian palsu itu ke dalam lubang rahasia di patung Naga Kemala Putih, kemudian diam-diam ia masuk ke kamar baca Tio Kian dan membuka kamar rahasia.

Tentu saja dia bisa tahu ruang rahasia itu karena Sangkoan Jin telah memberitahukannya kepada Tong Koat.

Sangkoan Jin berpendapat, tak ada salahnya membiarkan mereka tahu bahwa dia membunuh Tio Kian di tempat itu, agar mereka lebih percaya kalau dia telah melaksanakan tugasnya dengan sempurna.

Apalagi sesudah kematian Tio Kian, ruang rahasia itu pun tidak perlu dirahasiakan lagi.

Tentu saja mimpi pun dia tak menyangka kalau Benteng Keluarga Tong ternyata memanfaatkan ruang rahasia itu untuk melaksanakan rencana besar lain, yang bakal mendatangkan pukulan mematikan bagi Tayhong-tong.

Sewaktu semuanya sudah siap, Tong Hoa tinggal menunggu saat yang paling tepat untuk melaksanakan rencana besar itu.

Ia menggunakan waktu dua hari itu untuk dengan sengaja mengajak Wi Hong-nio berjalan-jalan menelusuri semua ruangan dalam gedung keluarga Tio. Di sore hari yang diperkirakan Tio Bu-ki sudah akan tiba, selesai bersantap siang ia mengajak Wi Hong-nio berjalan-jalan ke ruang baca Tio Kian.

Di situ dia dengan sengaja meraba dan menyentuh setiap benda yang ditemuinya, lagaknya seakan terdorong rasa ingin tahu.

Tiba-tiba tangannya menyentuh tombol rahasia pembuka ruangan rahasia. Begitu tombol tersentuh, pintu rahasia pun pelan- pelan terbuka.

Sesudah itu ia sengaja menjerit pelan, seperti merasa kaget

sekali.

Wi Hong-nio yang segera berpaling, ikut berseru tertahan. Sebenarnya tempat itu berupa rak buku, begitu tombol rahasia tersentuh, rak buku itu perlahan-lahan bergeser ke samping dan muncullah dinding kecil yang agak cekung ke bawah.

Di dinding yang cekung ke bawah itulah tampak sebuah patung berukir yang sangat indah, sebuah patung naga yang terbuat dari batu kemala putih.

Tong Hoa mengambil patung itu untuk kemudian diserahkan kepada Wi Hong-nio.

Dengan penuh rasa kagum Wi Hong-nio mengamat-amati ukiran patung itu, katanya kemudian, “Ukiran Naga Kemala Putih ini sungguh indah, tak heran kalau tersimpan di dalam bilik rahasia!”

“Benar,” kata Tong Hoa, “Patung ini memang sangat indah. Tetapi anehnya kenapa hanya patung naga itu yang disembunyikan di ruang rahasia? Padahal di sini banyak terdapat benda-benda indah lainnya.

“Ya, mengapa begitu? Jangan-jangan ada rahasianya?” “Mungkin saja,” sambung Tong Hoa, “Coba kuperiksa.”

Dia sengaja meraba sekujur badan patung naga itu, sesaat kemudian ia baru menyentuh tombol rahasia di patung itu.

“Plak!” diiringi suara lirih, sebuah batu kemala kecil meloncat keluar dari balik perut patung naga itu.

Ia segera merogoh ke lubang rahasia itu dan menarik keluar buku harian palsu yang terselip di situ. Sengaja ia membuka lipatan buku itu, baru kemudian diserahkan kepada Wi Hong-nio.

“Aku tak mau melihatnya,” seru Wi Hong-nio sambil menggeleng, ia mendorong balik buku harian itu ke Tong Hoa. “Kenapa?”

“Lebih baik aku tidak membaca barang-barang yang disimpan dalam ruang rahasia ini.”

“Kurasa lebih baik diperiksa dulu apa isinya, siapa tahu benda yang tersimpan secara rahasia itu juga menyimpan hal-hal yang rahasia. Mana bisa tak dilihat?”

Wi Hong-nio kelihatan agak sangsi, setelah berpikir sejenak katanya, “Kau saja yang melihatnya.”

“Aku?”

“Benar, kau yang lihat atau aku yang lihat kan sama saja?” “Baiklah kalau begitu,” sahut Tong Hoa kemudian sambil

tertawa. Ia mulai membuka buku harian itu, tapi karena kertas itu bekas dilipat-lipat maka agak susah juga untuk membuka halaman- halamannya.

Untuk membuka halaman buku itu, setiap kali Tong Hoa mesti membasahi jari tangannya, dengan demikian ia baru bisa membuka halaman buku harian itu dengan lancar.

Ia sudah tahu jelas isi buku harian itu, tapi ia sengaja berlagak amat tegang, membaca dengan amat hati-hati...

Dengan susah payah, akhirnya ia selesai juga membaca isi buku harian itu. Wajahnya sungguh-sungguh bercampur tegang ketika ia kemudian menatap wajah Wi Hong-nio.

“Kenapa kau?” tegur perempuan itu keheranan.

“Sungguh menakutkan, sungguh mengerikan. Lebih baik kau baca sendiri saja,” ujar Tong Hoa setengah berbisik.

Wi Hong-nio membaca isi buku harian itu, paras mukanya seketika berubah sangat hebat.

Ternyata isi buku harian itu adalah catatan harian Tio Kian sejak sebulan terakhir sebelum terjadinya peristiwa berdarah. Yang paling penting adalah catatannya selama berapa hari terakhir.