Naga Kemala Putih Bab 07. Penantian

Bab 07. Penantian

Menanti adalah pekerjaan yang paling membosankan, waktu selalu terasa begitu lambat berlalu, apalagi tempat Bu-ki menanti adalah ruang batu yang keempat penjurunya tertutup rapat.

Ketika Tong Ou mengajak Bu-ki ke tempat itu, sesaat setelah berada dalam sebuah lorong yang panjang, sempit dan gelap, ia berkata kepada pemuda itu, “Tempat ini mirip sekali dengan kamar tahanan, kau berani menanti di tempat semacam ini?”

Bagi Tio Bu-ki tak ada urusan yang tak berani dia lakukan, dengan pertaruhkan nyawa menyelinap masuk ke dalam Benteng Keluarga Tong saja sudah merupakan satu perbuatan yang sangat berani, kenapa dia mesti takut untuk memasuki sebuah ruang batu yang kecil? 
Tio Bu-ki segera mendengus, sahutnya sambil tertawa, “Rasanya tak ada yang perlu kutakuti!”

“Kau tidak kuatir aku akan mengurungmu di sini?” kembali Tong Ou bertanya.

“Sekarang kau sudah berhasil mengetahui identitasku yang sebenarnya, aku rasa bukan satu perkara yang gampang bila aku ingin meninggalkan Benteng Keluarga Tong, sedang kau pun sudah berjanji akan membiarkan aku pergi dari sini, jika sekarang kau benar-benar akan mengurungku di tempat ini, tampaknya aku pun harus menerima kenyataan ini!”

“Bagus sekali! Kalau begitu aku perlu memberitahumu bahwa tempat ini adalah tempat rahasia yang biasa dipakai Keluarga Tong untuk merundingkan masalah-masalah penting atau urusan- urusan sangat rahasia, dinding kelilingnya terbuat dari bebatuan cadas yang tebal lagi kuat, tak akan ada orang yang bisa mencuri dengar semua pembicaraan yang sedang berlangsung di tempat ini.”

Tong Ou mengajak Bu-ki masuk ke dalam ruang batu itu, di dalamnya terdapat sebuah meja batu dengan enam buah bangku yang juga terbuat dari batu, di atasnya tersedia sebuah teko berisi air teh panas.

“Nanti ada orang yang akan mengantar makan malam,” kata Tong Ou lagi, “kira-kira selepas makan malam, orang itu akan muncul di sini untuk bertemu dengan kau. Asal pintu ini kau tutup maka tak ada orang lain yang bisa mengganggu kalian lagi, setelah berjumpa nanti, berapa lama pun kalian ingin berbicara silahkan. Hanya ada satu hal yang harus kau ingat, ketika pergi dari sini, kau hanya boleh pergi seorang diri.”

“Bagaimana kalau kami pergi berdua?”

“Aku telah menurunkan perintah ke seluruh penjuru Benteng Keluarga Tong, selama kau pergi seorang diri, tak seorang pun dari Keluarga Tong akan menghalangi kepergianmu, tapi jika kau pergi berdua maka mereka akan berusaha membunuh kalian berdua dengan cara apa pun.”

“Sebetulnya kau ingin menahan siapa?” “Segera kau akan tahu sendiri!”

Sekarang, air teh telah habis diminum, sayur, nasi dan arak baru saja dihidangkan, namun Bu-ki merasa seolah-olah telah berada di situ selama tiga hari tiga malam. Dalam penantian itu ia terus berusaha mengendalikan diri untuk tidak menduga-duga siapa yang akan dijumpainya nanti, dia berusaha menyatukan pikiran serta perhatiannya untuk mencari jalan menghadapi rencana keji Tong Ou.

Tong Ou sudah berkata terang-terangan kalau mereka akan menyerbu markas besar Tayhong-tong, tapi markas mana yang akan mereka serang duluan? Dengan cara apa mereka akan melancarkan serangannya?

Bu-ki sudah memikirkan berbagai cara untuk melakukan perlawanan atas datangnya serbuan, dia juga membayangkan berbagai cara berbeda-beda di tempat yang berbeda-beda pula untuk menghadapi serbuan, tapi kemudian ia menyadari bahwa hal terpenting yang harus dia pikirkan bukanlah cara menanggulangi datangnya serbuan, melainkan markas mana yang akan diserang Tong Ou lebih dahulu?

Besok sekeluarnya dari Benteng Keluarga Tong, Bu-ki bisa langsung tiba di lembah Boanliong-kok yang jaraknya paling dekat, tapi dia juga bisa berputar sedikit dan dalam setengah hari ia akan tiba di benteng yang dulu dijaga Sangkoan Jin.

Ia sadar, waktu setengah hari itu bisa menjadi waktu kunci yang bisa mengubah sejarah. Jika ia pergi ke Boanliong-kok lebih dulu, sedangkan Tong Ou ternyata menyerang benteng Sangkoan Jin, sedangkan pemimpin benteng Sangkoan Jin itu saat ini adalah Kwik Koan-kun, yang jelas tak akan punya persiapan apa-apa, maka datangnya serangan tiba-tiba itu bisa membuat mereka gelagapan dan kalang kabut. Akibatnya benteng Sangkoan Jin kemungkinan besar akan terjatuh ke tangan musuh dengan mudah.

Sebaliknya bila Bu-ki pergi ke benteng Sangkoan Jin dulu, sedang Tong Ou ternyata menyerang lembah Boanliong-kok lebih dulu, bukankah akibatnya sama runyamnya?

Selain soal itu, masih ada satu hal lagi yang tak kalah pentingnya, yaitu adakah kesempatan bagi Sangkoan Jin untuk mengirimkan peringatan dini ke tempat yang bakal diserang Tong Ou lebih dulu itu?

Bukan hanya itu, masih ada satu soal lagi yang menguatirkan Bu-ki saat ini. Ia takut jika orang yang akan dijumpainya malam ini adalah Sangkoan Jin!

Dia kuatir Tong Ou telah berhasil mengetahui tujuan sesungguhnya Sangkoan Jin bergabung dengan Benteng Keluarga Tong dan karena itu dia sengaja menyuruh Sangkoan Jin bertemu dengannya di sini. Sesudah itu Tong Ou membiarkan hanya dia pergi seorang diri, sedang Sangkoan Jin tetap ditahan di sini. Kecuali dia, Bu-ki tidak berhasil menemukan orang lain yang cukup berharga bagi Tong Ou untuk tetap ditahan dalam Benteng Keluarga Tong.

Pikiran dan perasaan Bu-ki sangat kalut, dia curiga, mungkinkah dia sedang dijadikan permainan Tong Ou, mungkinkah ia cuma salah satu pion permainan orang itu dalam menjalankan rencana besarnya?

Mendadak timbul perasaan menyesal dalam hatinya, ia menyesal kenapa dulu terlalu suka bermain hingga tidak rajin berlatih, dia pun menyesal kenapa tidak sejak dulu mempelajari ilmu siasat perang yang ternyata amat berguna di saat-saat seperti ini.

Seperti saat ini, Tong Ou membiarkan ia pergi dari situ dengan bebas padahal sudah memberitahunya bahwa mereka akan menyerbu markas besar Tayhong-tong, sikap percaya diri seperti ini menunjuk¬kan bahwa tahu atau tidaknya Bu-ki dalam rencana ini seperti tak ada pengaruhnya. Ini saja sudah cukup membuktikan bahwa ilmu siasat perang Tong Ou jauh di atas kemampuannya.

Benteng Keluarga Tong betul-betul merupakan sebuah tempat yang sangat menakutkan, tidak gampang-gampang dihadapi seperti yang disangkanya semula, saat itu barulah ia merasakan betapa hebat dan luar biasa rencana ayahnya yang rela mati demi siasat Harimau Kemala Putih untuk menyusupkan orang ke tubuh lawan. Di lain pihak dia pun merasa bahwa pengorbanan ayahnya tidak cukup berharga, sebab Tong Ou terbukti seorang tokoh persilatan yang benar-benar luar biasa, seandainya ia berhasil membongkar tujuan Sangkoan Jin yang sesungguhnya, atau pun jika dia mulai curiga dan tidak mempercayai Sangkoan Jin, bukankah semua pengorbanan serta perencanaan yang cermat itu j adi sia-sia belaka? Daripada berkorban dalam keadaan yang terjepit, bukankah jauh lebih berharga mati dalam pertempuran yang gagah berani hingga titik darah penghabisan?

Berpikir sampai di situ, tiba-tiba saja timbul rasa duka yang mendalam di dasar hati Bu-ki. Pada saat itulah ia mendengar ada suara langkah kaki manusia yang sangat ringan berjalan mendekat, dia tahu, orang yang harus dijumpainya akhirnya muncul juga.

Walaupun dia hanya menunggu tidak sampai dua jam, namun bagi Bu-ki dua jam itu adalah waktu yang amat panjang.

Sepanjang apapun penantian Bu-ki tidak sepanjang yang dirasakan Wi Hong-nio, perempuan itu merasa seakan-akan dunia berhenti berputar, waktu seakan akan merangkak lambat-lambat...

Perasaan kalut dan gelisah yang dirasakan Wi Hong-nio tercatat semua dalam buku hariannya.

Bulan lima tanggal dua.

Kemarin, meskipun aku baru tertidur menjelang datangnya fajar, namun anehnya hingga sekarang aku tidak merasa mengantuk, ketika kupaksakan untuk tidur sejenak, itupun hanya tidur-tidur ayam.

Dari kejauhan suara kokok ayam jago mulai terdengar, dalam pendengaranku suara itu sangat memuakkan karena kokok ayam merupakan tanda dimulainya satu hari yang baru, padahal hatiku amat gelisah, aku gelisah dan ingin segera bertemu dengan orang itu. Aku tahu, kemungkinan besar orang itu adalah Bu-ki.

Setelah ayam jago berkokok berulang kali, kuputuskan untuk tidak melanjutkan tidurku, aku bangkit dari pembaringan, menuju ke depan meja rias dan mulai bercermin.

Aku mulai mencoba berlagak, seandainya orang yang akan kujumpai itu benar-benar Tio Bu-ki, apakah reaksi yang tampil pada wajahku saat itu, aku ingin mengetahui ekspresi mukaku dari balik cermin.

Aku berusaha mengendalikan gejolak perasaanku, wajah yang tampil dari balik cermin itu ternyata biasa saja, tidak terlihat ada perubahan apapun. Aku berlatih dan berlatih terus sampai kuanggap ekspresi wajahku tak akan berubah walaupun orang yang kujumpai nanti benar-benar adalah Bu-ki, aku baru berhenti berlatih setelah penampilanku benar-benar memperlihatkan ekspresi wajah yang sangat tenang seakan-akan baru saja bertemu dengan orang asing.

Ketika Siau Tang-lo mengutus orang untuk mengundangku sarapan, aku tidak menyahut, aku pura-pura masih tidur karena aku masih merasa segan untuk keluar dari kamarku. Tapi sesaat kemudian hatiku mulai menyesal, bagaimana seandainya orang itu muncul disaat sarapan tadi?

Buru-buru aku keluar dari kamar dan berlari-lari menuju ke tempat tinggal Siau Tang-lo. Baru saja pintu kuketuk, Siau Tang-lo sudah tahu aku yang datang dan segera menyuruhku masuk.

Aku segera bertanya kepadanya, kapan akan mengajakku bertemu dengan orangku?”

Dengan nada mengejek Siau Tang-lo segera menjawab, “Coba kau lihat wajahmu, sepertinya kau yakin kalau orang yang akan kau jumpai betul-betul Tio Bu-ki “

Aku tidak menggubris ejekan itu, aku mendesaknya terus, aku ingin tahu kapan aku akan bertemu dengan orangku.

JawabSiau Tang-lo, “Barusan Tong Ou telah mengutus orang memberi kabar, dia mengundangku makan siang, tapi hanya mengundangaku seorang.”

Aku segera bertanya kenapa begitu, tapi dia sendiripun tidak tahu. Aku meminta dia membuat janji dengan Tong Ou nanti di waktu bertemu makan siang dan dia berkata pasti akan membuat janjiku. Kemudian ia bertanya apakah semalam aku tidur nyenyak, aku menjawabya, dia minta aku tidur cukup agar kesehatan badan terjaga.

Terus terang, mana mungkin aku bisa tidur nyenyak dalam suasana seperti ini? Satu siang itu aku hanya duduk di muka jendela, mengenang kembali saat-saat manis ketika masih berkumpul dengan Bu-ki, kadang aku melatih kembali raut wajahku, agar nanti aku tidak menunjukkan perasaan kaget dan terharu.

Aku dapat merasakan debaran jantungku yang begitu kencang, aku sadar ternyata aku diliputi ketegangan luar biasa, aku mulai kuatir tak mampu mengendalikan diri kuatir aku tak bisa menahan rasa haruku ketika berjumpa dengannya nanti. Aku tak berselera untuk makan siang. Dengan penuh kegelisahan aku menunggu berita dari Siau Tang-lo.

Waktu berjalan begku lambat, sepertisiput merangkak, untung saja sepanjang apapun penantian, akhirnya akan tiba juga ujungnya. Siau Tang-lo mengutus orang untuk memberi kabar bahwa Tong Ou menyuruh aku bertemu dengan orang itu malam nanti.

Mengapa harus menunggu sampai jam tujuh malam nanti?

Kenapa aku harus menunggu lagi?

Penantian benar-benar pengalaman yang menyiksa batin.

Menunggu tibanya sore hari ternyata jauh lebih lambat daripada menunggu datangnya tengah hari tadi Mulai terbayang kembali sore hari disaat aku akan melakukan upacara pernikahan dengan Bu-ki, sore yang sangat panjang dan amat menakutkan. Mengenang kembali kisah tragis disaat akan melakukan upacara pemikahan dulu, aku mulai kuatir, mulai cemas lagi, apakah penantian yang kulakukan hari ini akan berakhir lagi dengan kisah tragis seperti dulu?

Aku betul-betul sangat gelisah, gelisah setengah mati. Dengan susah payah akhirnya senja menjelang juga. Ketika

Keluarga Tong mengutus orang untuk mengundangku, hatiku mulai terasa tegang dan berdebar-debar.

Pelayanku mengantarku ke sebuah kamar dan menyuruh aku menunggu disitu.

Lagi-lagi menunggu!

Ada orang datang! Semula kukira orang yang ingin kujumpai telah datang, ternyata orang yang tadi muncul kembali, dia masuk sambil membawa nasi dan hidangan.

Ketika kuperiksa, ternyata hanya sebuah mangkok dengan sepasang sumpit. Kenapa hanya satu mangkok? Segera kutanyakan hal ini kepada pelayan itu, tapi dia menjawab tidak tahu, majikannya hanya seperti itu dan menyuruhaku bersantap dalam ruangan.

Apa yang akan dilakukan setelah bersantap nanti?Apakah akan mengajakku menjumpai orangitu? Kembali pelayan menjawab tidak tahu.

Hatiku jengkel sekali, mendongkol bercampur perasaan cemas, bayangkan saja, mana aku punya selera untuk bersantap dalam keadaan begini? Tapi aku tidak menyuruh pelayan itu membawa pergi nasi dan hidangan, bagaimanapun orang itu hanya seorang pelayan, seorang petugas yang menjalankan perintah majikannya, aku tahu tak ada gunanya marah-marah terhadap orang seperti itu, karenanya aku hanya mengucapkan terimakasih dengan nada selembut mungkin.

Sayur yang dihidangkan bercorak Sucoan yang harum baunya, saying selera makanku benar-benar telah habis. Dalam ruangan aku hanya bisa berjalan bolak-balik dengan gelisah. Tiba- tiba aku mendengar suara orang bertengkar dari ruangan sebelah. Suara ribut itu mengundang perhatianku, akupun bangku berdiri dan keluar dari ruangan, mendekati ruang sebelah.

Tiba didepan jendela, aku mendengar dua orang sedang bertengkar, yang satu, suara yang belum pernah kudengar sebelumnya, sedangkan yang lain pernah kudengar. Mula-mula tak terpikir olehku suara siapakah dia, tapi sejenak kemudian aku mulai ingat, itu suaranya sigendut yang mengaku bernama Tong Koat.

Akupun dengan jelas menangkap inti masalah yang sedang diributkan kedua orang itu.

Terdengar Tong Koat berkata, “Aku usul, kita serang perkampungan keluarga Tio lebih dulu!”

“Kenapa?” tanya orang kedua.

“Sebab Tio Kian sudah mampus sedang Tio Bu-ki juga tak ketahuan kabar beritanya, saat ini suasana didalam perkampungan keluarga Tio pasti sangat kalut, jika kita serang perkampungan itu lebih dulu, sudah pasti serangan kita akan berhasil. Jika pertempuran pertama berhasil kita menangi secara gampang, hal ini akan meningkatkan semangat tempur rekan-rekan yang lain.”

“Kau anggap kita tak sanggup meraih kemenangan jika menyerang tempat lain? Kau terlalu memandang enteng kekuatan kita.”

“Tidak, aku tidak bermaksud begitu, “sahut Tong Koat. “Kalau begitu, aku perlu beritahukan satu hal padamu, tak

ada gunanya kita serang perkampungan keluarga Tio!” “Kenapa tidak berguna?”

“Perkampungan keluarga Tio merupakan kekuatan yang berada pada garis belakang Tayhong-tong, jika kita serang garis belakang mereka dulu maka akan memberi peluang bagi pos-pos penjagaan mereka yang berada lebih depan untuk membuat persiapan, apalagi perjaknan kita akan semakin jauh, pasukan kita bakal kelelahan sebelum melancarkan serangan.” “Lalu kau akan menyerang mana dulu?”

“Kita serang dulu pos jaga yang dipimpin Sugong Siau-hong, pertama karena jaraknya dekat, kedua kita paling banyak menyuap orang-orang di sana. Dengan bantuan orang dalam, kita semakin mudah mengalahkan mereka ketimbang harus menyeran gperkampungan keluarga Tio.”

Tanya jawab mereka selanjutnya tidak kucatat lagi karena apa yang mereka ributkan hanya tempat mana yang akan diserang dulu. Kemanapun mereka akan menyerang, bagiku merupakan masalah yang penting karena semua tempat yang mereka sebut berada di bawah kekuasaan Tayhong-tong.

Ketika pertikaian itu mencapai puncaknya, dengan suara jengkel bercampur dongkol Tong Koat berseru, “Baik, baiklah, kau adalah kakak, aku akan menuruti perkataanmu!”

Saat itulah aku baru tahu, ternyata orang yang diajak bertikai itu adalah Tong Ou.

Sasaran yang hendak diserbu Tong Ou adalah benteng yang dijaga Sugong Siau-hong, waktunya adalah bulan lima tanggal lima. Sekarang aku sudah mengetahui rahasia mereka, buru-buru aku balik ke kamarku dan Mengambil sumpit pura-pura sedang makan, padahal hatiku berdebaran sangat keras. Untung saja tak ada yang muncul, kalau tidak, wajahku saat itu pasti akan membongkar rahasia bahwa aku mencuri dengar perdebatan mereka.

Secara garis besar aku mulai membuat perhitungan, hari ini baru tanggal dua, untuk mencapai wilayah Tayhong-tong dibutuhkan dua hari perjalanan, berarti kalau besok pagi mereka sudah berangkat maka malam tanggal empat sudah tiba di tujuan, berarti tanggal lima sudah dapat mulai melancarkan serangan.

Dengan cara apa aku harus menyampaikan peringatan ini kepada paman Sugong? Aku jadi teringat dengan Siau Tang-lo,hanya dia yang bisa dimintai tolong, aku harus segera mencarinya dipenginapan, aku akan minta tolong dia untuk menyampaikan pesan ini kepada paman Sugong.

Tapi, maukah Siau Tang-lo mengabulkan permintaanku?Aku rasa pasti mau, asal aku memintanya secara halus dan lembut, dia pasti akan menurut. Buru-buru kuletakkan kembali sumpitku dan siap keluar dari ruangan, tapi sebelum kubuka pintu kamar itu, seseorang telah membuka pintu itu lebih dulu. Aku benar-benar sangat terperanjat, saking kagetnya aku sampai berseru tertahan. Orang yang membuka pintu itu segera minta maaf padaku, dia mengatakan seharusnya ia mengetuk pintu lebih dulu sebelum masuk Kucoba mengamati wajahnya, dia adalah seorang lelaki kekar dan tinggi besar, wajahnya amat tampan, garis-gark kegagahan tampak diantara kerutan matanya.

Ia memperkenalkan diri sebagai Tong Ou. Sebelum aku membuka suara untuk memperkenalkan diriku, ia sudah berkata dulu, dia tahu bahwa aku adalah istri Tio Bu-ki yang belum dinikahi resmi, WiHong-nio. Dia juga menjelaskan bahwa ia mengundangku kemari bukan karena keinginannya sendiri, tapi atas permintaan Siau Tang-lo.

Aku benar-benar berterimakasih kepada Siau Tang-lo, tapi perkataan Tong Ou selanjutnya membuat aku tertegun dan untuk beberapa saat tak tahu apa yang mesti kuucapkan. Dia bilang, sebenarnya Siau Tang-lo ingin memintaku untuk mengenali seseorang, ada seseorang yang tidak jelas identitasnya. Tidak diketahui apakah dia TioBu-ki atau bukan, tapi dia mengatakan bahwa sekarang sudah tak perlu, sebab orang itu sudah mengaku kalau dia adalah Tio Bu-ki.

Dengan perasaan gelisah akupun bertanya kepadanya, apa yang telah dia lakukan terhadap Bu-ki? Sambil tertawa ia menjawab bahwa ia tidak berbuat apa-apa, malah akan mengijinkan aku untuk bertemu dengannya.

Ai, ucapan itu sungguh mengharukan hatiku, hanya selanjutnya aku berpikir lagi, kenapa ia memberi kesempatan kepadaku untuk bertemu dengan Bu-ki? Apakah ada rencana busuk di balik semua itu?

Tong Ou bertanya kepadaku apakah aku mau bertemu dengan Bu-ki? Tentu saja kujawab mau, kemudian aku bertanya kepadanya, apakah dia mempunyai maksud tertentu dengan membiarkan aku berjumpa Bu-ki?

Ternyata ia sangat jujur, dia jawab memang ada tujuannya, dia punya syarat

Aku tanya, apa syaratnya? Dia jawab selesai pertemuan nanti, dia hanya membiarkan satu diantara kami berdua yang boleh pergi meninggalkan Benteng Keluarga Tong, mengenai siapa yang tinggal dan siapa yang pergi, kami bisa memutuskan sendiri.

Aku segera memahami maksudnya, ia sedang mencari alasan untuk membunuh Bu-ki. Dia tentu mengirasetiap orang pasti akan menyayangi nyawa sendiri, kalau satu diantara kami berdua boleh pergi dan keputusan boleh kuputuskan sendiri, siapapun pasti akan memilih diri sendiri.

Tapi aku... aku justru tidak!

Bila Bu-ki mati dan Tayhong-tong berhasil dibasmi Benteng Keluarga Tong, apa lagi makna kehidupanku selanjutnya? Aku rela mati asal Bu-ki bisa hidup bahagia, melihat Bu-ki senang, akupun akan tenteram, apalagi baru saja aku telah mencuri dengar rencana penyerbuan mereka.

Asal aku dapat bertemu dengan Bu-ki rahasia yang kudengar pasti akan kusampaikan kepadanya, kalau dia segera pulang ke Tayhong-tong dan berdampingan dengan paman Sugong melakukan perlawanan, serbuan dari Keluarga Tong pasti bias mereka patahkan. Kalau terbukti bahwa kepergian Bu-ki bisa menuai banyak keuntungan dan kebaikan, kenapa aku tidak memilih dia saja yang pergi dari sini?

Maka kepada Tong Ou aku menjawab. Aku yang tetap tinggal di sini!

Tong Ou masih mengulang kembali pertanyaan itu beberapa kali apakah aku rela tetap tinggal di sini?Apakah aku rela dengan keputusan itu? Aku jawab, ya, aku rela!

Selanjutnya dia berkata akan mengajakku berjumpa dengan

Bu-ki.

Dia mengajakku keluar dari kamar, belok ke kanan, berjalan

duapuluh lima langkah menyusuri lorong, lalu belok ke kiri dan berjalan lagi tujuh belas langkah untuk akhirnya berhenti di depan sebuah gardu peristirahatan ditengah taman bunga. Ia mendekati gardu itu lalu memutar sebuah bangku batu ke kanan dan dari bawah meja batu pelan-pelan muncul sebuah lorong bawah tanah.

Dia masuk ke lubang bawah tanah itu lebih dulu, aku mengikutinya di belakang, kami menuruni enam belas buah anak tangga sebelum belok ke kanan, kemudian menyusuri sebuah lorong batu yang panjang sekali, dua belas batang obor menerangi lorong panjangitu.

Aku bertanya kepadanya, apakah dia mengurung Bu-ki di tempat ini? Sambil tertawa dia menjawab tidak. Bu-ki sendiri yang rela menunggu di situ, dia menambahkan bahwa tempat ini bukan penjara, melainkan tempat rahasia yang biasa digunakan Keluarga Tong untuk mengadakan rapat rahasia, iapun menjelaskan, ia sengaja memilih tempat semacam ini sebagai tempat pertemuan kami lantaran dia tak ingin pembicaraan mesra kami berdua didengar orang lain.

Pembicaraan mesra? Kata-kata yang sangat memalukan!

Pipiku merona jengah mendengar kata-kata itu. Tong Ou mengajakku berjalan sampai ke ujung lorong itu kemudian belok lagi ke kiri, kembali dua belas batang obor menerangi lorong yang panjang itu, hanya kali ini di ujung lorong terlihat pintu yang sedikit terbuka.

Sambil menunjuk ke ruangan di balik pintu itu Tong Ou berkata, “Bu-ki ada di dalam, aku tak enak mengganggu kalian lagi.”

Selesai berkata ia memandangku sambil tertawa, kemudian membalik badan dan berlalu dari situ. Aku berdiri mematung memandang pintu ruangan itu, jantungku terasa berdebar semakin kencang, setiap kuayun langkahku, jantungku berdebar makin keras.

Ooh Bu-ki! Sebentar lagi aku akan bertemu denganmu!

Akhirnya sampai juga aku di muka pintu batu, kudorong pintu itu kuat-kuat, ketika mendorong pintu, tiba-tiba suatu ingatan melintas di benakku, setelah aku masuk nanti, apakahTong Ou akan segera menutup rapat pintu ruangan dan mengurungku bersama Bu- ki untuk selama-lamanya di situ?

Pikiran itu hanya sekilas melintas, sebab aku segera memberitahu diriku sendiri, alangkah bahagianya bila aku bersama Bu-ki terkurung untuk selamanya di tempat ini. Akhirya pintu terbuka lebar, semula aku pikir aku akan pingsan karena terkejut, tapi kenyataannya aku masiht etap tenang, tenang sekali perasaanku.

Aku telah melihat Bu-ki, mula-mula aku melihat sepasang matanya, aku pun dapat menangkap ia tampak tertegun sewaktu pandangan pertama melihat kemunculanku, menyusul kemudian sinar kegembiraan memancar dari wajahnya, ini menandakan kalau dia tak tahu kalau akulah yang akan muncul disitu.

Mengapa Tong Ou tidak memberitahunya? Apakah dia ingin membuat kejutan baginya? Aku tidak berpikir lebih lanjut, sebab kulihat Bu-ki telah bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menghampiriku, dia menjulurkan tangannya, akupun mengulurkan tanganku. Ketika akhirnya tangan kami saling bersentuhan, aku merasakan tubuhku menggigil keras, menggigil saking gembiranya.

Ooh, aku merasa betapa bahagia saat itu! Bu-ki menggenggam tanganku erat-erat, ia menarikku hingga menempel dengan tubuhnya, lalu mengawasi wajahku tanpa berkedip, tatapan itu membuat wajahku semakin merah jengah. Setelah itu dia baru berkata, “Kau tambah kurus!”

“Kau juga,” kataku.

Ia tertawa ringan dan menggandengku untuk duduk di bangku, kemudian ia duduk di hadapanku dan menuangkan secawan arak untukku. Sambil mengangkat cawan, dia memandangi terus wajahku tanpa berkedip. Akupun mengangkat cawan itu dan mereguknya dalam satu tegukan, andai saja arak ini arak pertukaran dalam upacara perkawinan, oh, alangkah senangnya hatiku!

Bu-ki masih mengawasi terus wajahku seperti orang bodoh, sampai lama kemudian ia baru bertanya kepadaku, “Mengapa kau datang ke Benteng Keluarga Tong?”

Dengan ringkas aku menceritakan perjalananku, kemudian ia juga mengisahkan apa yang di alaminya selama ini. Saat itulah aku baru teringat akan urusan yang lebih penting, aku segera menceritakan kalau aku telah mencuri dengar pertikaian antara Tong Koat dengan Tong Ou, aku juga bercerita bahwa Tong Ou berpesan kepadaku, hanya satu di antara kita berdua yang boleh meninggalkan BentengKeluarga Tong.

Bu-ki tampak termenung dan berpikir cukup lama setelah mendengar penuturanku itu, aku tahu sedang terjadi perang batin dalam hatinya, ia pasti amat sedih dan menderita. Aku mencoba menghiburnya, kubilang aku tak akan apa-apa dalam Benteng Keluarga Tong, dengan nama besar serta reputasi Keluarga Tong dalam dunia persilatan selama ini, mustahil mereka akan menganiaya seorang gadis lemah macam aku.

Bu-ki berkata bahwa apa yang kuucapkan memang masuk di akal, tapi ia tetap berkuatir. Kutanya, apa yang dia kuatirkan?

Dia berkata ia takut pihak Keluarga Tong akan menggunakan aku sebagai sandera, seandainyapihak Tayhong- tongberhasil mengalahkan Keluarga Tong, mereka bisa menggunakan kau untuk menekan mereka agar menyerah.

Dengan tegas aku berjanji kepada Bu-ki, “Kau tidak usah kuatir, bila mereka benar-benar memakai aku sebagai sandera untuk memaksakan kehendaknya, mintalah kepada mereka untuk bertemu lebih dulu denganku, kemudian aku baru akan mengambil keputusan.”

Bu-ki bertanya, mengapa begitu? Jawabku, “Bila tiba saatnya, demi Tayhong-tong dan demi kau, aku rela mengorbankan diriku sendiri, aku tak akan membiarkan orang Keluarga Tong meraih keuntungan dariku sehingga dengan begitu, kau bisa memusatkan seluruh pikiran dan perhatianmu untuk menang dalam pertempuran. Kau tak perlu menguatirkan diriku lagi!”

Bu-ki tidak berbicara lagi, tapi aku dapat menangkap sinar kepedihan dan kedukaan yang terpancar dari matanya, i meneguk araknya secawan demi secawan....

Aku tidak berusaha menghalanginya, hanya ketika ia menghabiskan cawan arak yang ketiga, barulah aku berkata, “Jangan lupa, kau masih perlu menyampaikan peringatan dini kepada paman Sugong!”

Dia segera meletakkan kembali cawan araknya dan sinar mata penuh rasa terima kasih. Aku tertawa kepadanya, aku percaya tertawaku saat itu pasti mengandung kegetiran yang mendalam. Tak tertahan, akupun menyambar cawan arakku dan meneguk habis isinya, tiba-tiba aku ingat, mungkin malam ini akan menjadi malam terakhirku berkumpul bersama Bu-ki. Tampaknya Bu-ki juga terbawa perasaanku, kembali dia meraih teko arak dan memenuhi cawannya.

Aku sadar, aku tak boleh terus memperlihatkan duka dan penderitaanku, aku harus menggunakan sikap tegar dan teguh menghadapi Bu-ki, agar ia tenang, agar dia tak usah menguatirkan aku. Baru dengan begitu ia bisa memusatkan seluruh pikiran dan perhatiannya untuk melawan serbuan Benteng Keluarga Tong.

Maka aku segera tertawa, aku berusaha mengingatkan kenangan lama saat kita sedang bergembira dahulu untuk mengajaknya bicara. Mula-mula dia agak tertegun, tapi tak lama kemudian diapun seperti aku, hanyut dalam kenangan lama yang penuh keceriaan dan kegembiraan. Sayang, betapapun riang dan gembiranya suasana, pada akhirnya harus disudahi juga. Apalagi saat itu, ketika selesai membicarakan kenangan gembira, duka dan sedih muncul kembali.

Sungguh, begitu kami berhenti berbicara, suasana diruangan itu langsung tenggelam kembali dalam suasana duka yang mendalam. Aku sudah tak tahu lagi yang harus kuperbuat, aku juga tak tahu bagaimana harus bersikap agar Bu-ki tetap gembira dan bersemangat. Aku mencoba mengamati wajah Bu-ki, tampaknya diapun punya pikiran dan perasaan yang sama seperti aku, dia seperti ingin mencari bahan pembicaraan yang menggembirakan untuk menghibur hatiku.

Pada saat itulah api yang menerangi ruangan tiba-tiba padam, suasana dalam ruangan jadi gelap-gulita, padamnya api obor melipatgandakan sendu dan duka dalam hati kami berdua.

Aku berbisik pada Bu-ki, “Api telah padam, berarti fajar segera akan menyingsing, hari yang baru segera akan muncul”

Bu-ki tidak berkata-kata, dia hanya mengangguk, mengiakan.

Aku tak tahan untuk tidak meninggikan nada suaraku, kataku kepada Bu-ki, “Apa kau tak menyadari ini menandakan apa?”

Bu-ki memandangku bingung agaknya dia belum memahami maksudku.

“Artinya kau harus mempercepat langkahmu untuk segera kembali ke Tayhong-tong, mengerti?”

Bu-ki segera bangkit berdiri, tapi sesaat kemudian ia duduk kembali, bisiknya, “Ini berarti kita harus berpisah!”

A irmataku nyaris meleleh keluar, tapi aku berusaha sekuatnya agar tidak menetes, dengan nada menghibur aku berkata, “Asal ada jodoh, aku percaya kita pasti akan berkumpul kembali “

Aku tahu, nada suaraku saat itu pasti tak lancar, aku tak tahu bagaimana perasaan Bu-ki saat itu, sebab dia sudah bangkit berdiri dan berkata kepadaku sambil membelakangi tubuhku, “Kau harus baik-baik menjaga diri.”

Tanpa berpaling lagi ia melangkah mendekati pintu ruangan, langkah kakinya begitu kuat dan mantap. Begitulah, dengan langkah tegap dan tak pemah menoleh lagi dia berjalan keluar, keluar dari pandanganku.

Dalam hati aku menjerit, hampir-hampir saja keluar dari tenggorokanku, tapi aku tahu aku tak boleh berteriak, sekali aku bersuara dia pasti akan berpaling dan bila ia berpaling raut wajahku yang teramats edih tentu akan terlihat olehnya, akibat selanjutnya aku tak berani membayangkannya....

Tapi. apakah dia akan pergi begitu saja?

Apakah dia akan berjalan keluar dari hidupku untuk seterusnya? Sesuatu yang panas tiba-tiba menggumpal dalam hatiku, sesuatu yang menyakitkan. Air mataku tak terbendung lagi, kucuran air mata segera membasahi seluruh wajahku. Aku tengkurap di atas meja dan menangis tersedu-sedu... entah berapa lama aku menangis, sewaktu membuka kembali mataku, aku melihat ada sepasang kaki berdiri tak jauh dari hadapanku. Mula-mula aku merasa kegirangan, ooh, Bu-ki, ternyata kau tak rela meninggalkan aku, tapi hanyas ebentar, rasa girang itu segera lenyap kembali, sebab aku berpendapat Bu-ki tak mungkin balik lagi, tak mungkin ia mengorbankan kepentingan Tayhong-tong hanya karena urusan cinta.

Sewaktu aku menengadah, untunglah... ternyata dia bukan Bu-ki, dia TongOu!

Tong Ou berdiri dengan wajah kikuk, dia seperti ingin tertawa padaku, tapi melihat raut mukaku saat itu, mana mungkin ia bisa tertawa? Kalau tidak tertawapun rasanya salah, karena kurang menunjukkans antun, maka raut mukanya waktu itu lucu sekali.

Akhirnya dengan nada rikuh dia berkata, “Ayoh, kuantarkau pulang.”

Aku mengerti, yang dimaksud pulang adalah balik ke rumah penginapan, bukan meninggalkan Benteng Keluarga Tong, dia memang merasa perlu untuk menahanku, agar di kemudian hari ia bisa memperalat aku untuk kepentingannya. Aku mengikut di belakangnya keluar dari ruang batu itu, ketika muncul di atas gardu taman, aku barut ahu, ternyata hari sudah terang.

Ketika hampir tiba di rumah penginapan, tiba-tiba aku teringat pada Siau Tang-lo. Dengan ilmu silat yang dimiliki Siau Tang-lo, mungkinkah baginya untuk mengungguli Tong Ou?Aku percaya seandainya Siau Tang-lo tidak mengandalkan tongkat penyangga untuk berdiri, ia pasti dapat mengalahkan Tong Ou. Tapi sekarang ia butuh tongkat penyangga untuk menopang tubuhnya, aku tak yakin dia bisa menang.

Bagiku, menang atau kalah bukan persoalan, yang kubutuhkan hanya membawaku keluar dari sini dengan selamat. Berpikir sampai di situ, tanpa terasa muncul harapan baru di hatiku, rasa sedihku segera banyak berkurang, bahkan sedikit rasa gembira mulai muncul dalam hatiku.

Tong Ou berhenti didepan pintu setelah membukakan pintu kamar, katanya kemudian, “Cepat kau benahi semua barang- barangmu.”

Aku bertanya buat apa? Dia menjawab, “Siau Tang-lo sudah pergi, kami akan menyediakan kamar yang lebih besar dan lebih nyaman untuk kau tinggali “

Aku berdiri termangu-mangu seperti orang bodoh, lama sekali aku diam, ternyata Siau Tang-lo telah pergi. Kini semua harapanku musnah sudah,tak ada setitikpun harapan lagi bagiku untuk pergi meninggalkant empat ini.

Dengan perasaan tertahan aku bertanya kepada Tong Ou, kapankah Siau Tang-lo pergi?

Kata Tong Ou, dia sudah pergi sebelum fajar menyingsing, katanya mau mencari siMayat Hidup untuk membantunya melancarkan peredaran jalan darahnya.

Mengapa ia pergi tanpa pamit? Menurut Tong Ou karena ia tak berhasil menemukan aku. Kenapa bisa tak berhasil menemukan aku?

Kata Tong Ou, “Sebab aku memberitahunya, kau sudah pergi meninggalkan BentengKeluarga Tong bersama Bu-ki “

Dengan murka aku menegurnya, “Kenapa kau membohonginya?”

Jawab Tong Ou, “Bukankah lebih bagus begini? Agar dia bisa mematikan perasaannya. Memangnya kau rela mengikut dia?”

Aku tidak berkata-kata lagi, semua yang dikatakan Tong Ou memang benar, buat apa aku harus menyiksa perasaan Siau Tang- lo? Perasaan dan tubuhku hanya kuberikan untuk Bu-ki seorang, kenapa aku harus terus memperrnainkan perasaan Siau Tang-lo?

Tiba-tiba saja perasaan tersinggung, dengan nada garang aku berkata, “Aku suka ada orang mendampingiku, apa tidak boleh?”

Tong Ou segera tertawa bergelak mendengar ucapanku itu, sahutannya ternyata sama sekali di luar dugaanku, dia bilang, “Bagus sekali kalau begitu, aku malah kuatir kau tak senang bila ada yang mendampingimu!”

Dengan bingung dan tak habis mengerti aku menengok ke arahnya, kembali dia berkata, “Sejujumya, bukan aku yang meminta kau pindah ke dalam taman.”

Lalu keinginan siapa?

Keinginan Lo-cocong si Nenek Moyang?

Kata TongOu, “Bukan sepenuhnya keinginan Lo-cocong, Tong Hoa yang memohon kepada Lo-cocong untuk ini “

Tong Hoa? Siapa Tong Hoa? “Tong Hoa adalah adik misanku,” kata Tong Ou, “karena dia suka main perempuan di sana-sini maka ia jarang sekali berkelana di dunia persilatan, jadi kau pasti belum pernah mendengar namanya. Beberapa hari yang lalu secara tak sengaja, ia melihat lukisan wajahmu. Ia terpesona kecantikanmu dan sejak itu dia selalu merecoki kami untuk menemukanmu. Kebetulan kau berkunjung kemari sehingga begitu tahu, ia segera memohon kepada Lo-oocong untuk menahanmu.”

Sekarang aku baru tahu mengapa mereka memaksa menahanku disini. Aku paham, aku betul-betul sangat paham, kenapa aku selalu sial?

Tanpa banyak bicara aku segera mengemasi seluruh barang bawaanku dan ikut Tong Ou menuju ke taman bunga, kali ini dia mengajak aku masuk ke dalam sebuah kamar tidur yang sangat indah dengan perabot yang mewah.

Dia menyuruh aku beristirahat, katanya sebentar lagi Tong Hoa akan datang menjumpaiku. Menggunakan kesempatan ini buru- buru kucatat semua kejadian yang kualami ke dalam buku harian, siapa tahu sebentar lagi akan terjadi banyak peristiwa lagi?