Mustika Gaib Bab 14

 
Bab 14

HARI PAGINYA. Sehabisnya sembahyang subuh, Kang Hoo memulai lagi latihannya.

Haji Kong-sun But Ok masih duduk bersila di atas ranjang kayu, memperhatikan sang murid yang lompat ke atas memukul-mukul ikatan simpul sobekan baju di atas langit-langit goa. Gerakan lompatan Kang Hoo, dalam melakukan serangan pukulan ke atas itu begitu indahnya, ia menggunakan jurus-jurus ilmu silat yang pernah ia pelajari dari Beng Cie sianseng. Tapi pagi ini setelah beberapa kali, ia melakukan serangan pukulan itu, ia tidak dapat berdiri tegak lagi begitu turun di bawah, badannya seringkali terguling roboh di atas lantai batu goa. Begitu ia jatuh roboh, terasa bagaimana kulit badannya dibikin lecet oleh benturan pada lantai goa tadi. Tapi mendadak saja semangatnya terbangun, ia bangkit berdiri lagi dan melakukan serangan pukulan ke atas. Berulang kali gerakan itu dilakukannya, berulang kali pula tubuhnya terguling jatuh di lantai. Sementara itu Kong-sun But Ok terus memperhatikan dari atas pembaringan kayu.

Sang matahari di timur menggelusur naik mengikuti putaran bumi. Dan ketika sinar matahari berada empatpuluh derajat di timur keadaan Kang Hoo sudah demikian rupa. Ia seperti tidak sanggup lagi untuk melakukan serangan pukulan ke atas. Begitu kakinya lompat dan tangannya bergerak memukul, mendadak badannya roboh terguling. Kang Hoo merasakan keanehan itu muncul tiba-tiba, ia mengerutkan kening, pikirnya, “Apakah aku sudah kehabisan tenaga?”

Setelah berpikir begitu, kembali ia lompat menerjang ke atas, tapi gerakkannya kini tak dapat lompat tinggi, begitu ia bangun dan mengayun tangan tubuhnya mendadak terguling lagi.

Kong-sun But Ok yang menyaksikan kalau muridnya terus-terusan jatuh terguling, ia tersenyum-senyum sambil mengangguk kepala. Sementara itu Kang Hoo tambah sengit, begitu ia roboh terguling, tanpa merasakan lagi sakitnya luka-luka pada kulit, ia segera meletik, menggunakan jurus Ikan Gabus Meletik ia lompat ke atas. Tapi sungguh aneh, jurus Gabus meletik yang biasanya begitu hatinya bergerak lantas badannya bisa meletik lompat bangun, kini tak berguna, karena begitu sang hati ingin menggunakan jurus itu, begitu keadaan tubuhnya menjadi kaku tak dapat digerakkan hingga ia hanya berkutetan di lantai goa.

“Cukup!” mendadak Haji Kong-sun But Ok berseru. Waktu itu Kang Hoo masih rebah di atas lantai goa, ia baru saja berkutetan ingin meletik bangun, begitu mendengar perintah sang suhu, maka dengan tersengat ia bangkit duduk. Kini terasa bagaimana seluruh badannya terasa perih karena lukanya.

“Bangun!” perintah sang guru. “Latihanmu sudah selesai!”

Mendengar kalau latihan Kang Hoo sudah selesai, ia jadi heran, bukankah tambah lama Kang Hoo tambah tak becus untuk melakukan serangan pada tiga ikatan simpul sobekan baju. Mengapa kini sang suhu mengatakan latihannya sudah selesai, dengan membawa rasa herannya, ia bangun berdiri menghadapi gurunya, lalu tanyanya, “Guru, apa maksudnya?”

“Anak tolol!” seru Haji Kong-sun But Ok, “Dengan latihanmu yang terakhir itu kau telah berhasil menciptakan hawa amarah!”

“Aaaaaa. . . . . ” teriak Kang Hoo, ia memandang ke atas langit goa dimana terdapat sobekan kain bersimpul tiga yang menancap di batang suling perak gurunya. “Nah, kau dengarlah,” kata Kong sun But Ok.

Kang Hoo kembali memandang gurunya dengan sinar mata heran. Sementara itu sang guru sudah berkata lagi, “Bukankah pada akhir-akhir latihanmu, begitu kau niat hendak melakukan serangan, seperti ada sesuatu yang membuat badanmu menjadi kaku hingga kau tak dapat melakukan gerakan serangan. Bukankah begitu?”

Mendengar pertanyaan sang guru Kang Hoo mengkerutkan kening, kemudian ia mengingat-ingat kejadian selama ia melakukan latihan, lalu mengangguk kepala, katanya perlahan, “Benar, memang aneh, pertama kali dengan mudah aku bisa memukul tiga simpul sobekan kain di atas ini, tapi mengapa tambah lama seperti ada sesuatu kekuatan yang membuat gerakanku jadi kaku dan aku roboh terguling. Bagaimana bisa jadi begitu?”

Mendengar ocehan sang murid, Kong-sun But Ok tersenyum, katanya, “Itulah karena kau telah berhasil menciptakan hawa amarahmu.” “Jadi?” tanya Kang Hoo masih tidak mengerti.

“Sulit untuk kau pahami. ” kata sang guru di atas pembaringan kayu, “Karena inilah dasar ilmu tenaga dalam yang akan kuturunkan padamu. Ilmu itu kuambil dari dua intisari kekuatan bathin, yang diambil dari kekuatan ilmu bathin Islam dan kekuatan ilmu bathin Budha. ”

“Guru. ” potong Kang Hoo, “Guru mengatakan kalau guru seorang haji, tentunya menganut agama Islam itu, tetapi bagaimana selama dua hari ini teecu tidak pernah melihat guru melakukan sembahyang lima waktu. Tapi menyuruh teecu melaksanakannya, sedang guru sendiri hanya nongkrong di atas pembaringan. ”

“Nggg . . . ” Kong-sun But Ok menggereng. “Sudah kubilang, kedua ajaran agama itu telah kupelajari matang, Budha sudah menjadi darah dagingku. Islam sudah mengelotok dalam kepalaku, hingga aku tak perlu mesti bersusah payah melaksanakan ajaran agama itu. Kalau aku mati tentunya aku juga bisa memilih masuk sorga atau masuk nirwana? Dengan hasil penyelidikanku selama bertahun-tahun aku telah berhasil menemukan sesuatu. Itulah perpaduan dari intisari kekuatan bathin. Itulah suatu ilmu yang sangat luar biasa. Tentunya ilmu itu adalah ilmu dari aliran putih. Selama kau dalam didikanku, kau harus melakukan sembahyang lima waktu menurut agama yang kau anut, sebenarnya latihan itu bisa juga diiringi dengan latihan semadhi, tapi dengan melaksanakan sembahyang lima waktu itu, itu lebih dari cukup. Bersemadhi dan berolah raga melancarkan jalan darah di tubuhmu. Bukankah setiap rakaat yang kau lakukan dalam sembahyang itu, melakukan gerakan dan pemusatan pikiran, dengan demikian, berarti sekaligus kau sudah melakukan semadhi dan mengatur membuka jalan darahmu yang beku. ”

Kang Hoo mendengarkan penuturan sang guru aneh itu, dengan penuh perhatian, sementara sang guru masih terus berkata, “Latihan pukulanmu pada sobekan kain di atas langit-langit goa ini, adalah merupakan latihan pertama, kau sendiri merasakan bagaimana pada hari ini mendadak badanmu terasa tertekan oleh sesuatu kekuatan, bila kau melakukan serangan. Nah aku tanya, apakah dalam kau melakukan pukulan itu hatimu marah, penuh angkara murka?”

Mendengar pertanyaan sang guru, Kang Hoo mengangguk, katanya, “Benar, tambah lama, teecu jadi tambah sengit, lebih-lebih setelah hamba jatuh mendapat lecet, mendadak kemarahan teecu muncul tiba-tiba, dan ketika itu mulainya adanya keanehan tambah teecu bernafsu tambah tak dapat bergerak. ”

“Hehebeeeheeeeeee. . . . . . ” Kong sun But Ok tertawa terkekeh, “Nah dari pelajaran pertama itu kau mesti dapat menarik satu kesimpulan? Apa kau sudah dapat memahami?”

Mendengar pertanyaan demikian Kang Hoo melompongkan mulut, ia tidak bisa menjawab pertanyaan sang guru, kesimpulan apakah yang telah dihasilkan dari hasil latihan pertama itu. Setelah lama ia berpikir, akhirnya ia menggeleng kepala. Kong-sun But Ok menyaksikan kebingungan yang murid ia tersenyum katanya, “Mungkin otakmu terlalu tolol! Bukankah dengan hawa amarahmu kau tak bisa berbuat apa-apa. Nah setiap manusia mempunyai itu kelemahan. Kelemahan itulah yang menghancurkan diri mereka. Kemarahan dan hawa amarah yang menggelora dalam dirinya sebenarnya melenyapkan tenaganya. Merusak susunan syaraf. Tinggal sekarang apakah kita bisa menggunakan kesempatan itu untuk merobohkan mereka dengan mudah. Tanpa senjata tanpa banyak mengeluarkan tenaga? Hmmmm. Puluhan tahun umurku kukorbankan untuk mencari rahasia ini, dan setelah aku mengembara ke negeri Arabia, kasrak kusruk ke negara Bagdad akhirnya aku menemukan sesuatu dari ajaran agama Islam. Kemudian kupadukan penemuanku itu dengan ajaran Budha akhirnya terciptalah ilmu yang akan kuterapkan dalam dirimu. ”

Berkata sampai di situ, haji Kong-sun But Ok, menatap ke atas langit-langit goa dimana terdapat kain bersimpul tiga. Lalu ia berkata lagi, “Sobekan kain itu telah kubuatkan tiga simpul apa kau tahu maksudnya?”

Kang Hoo memandang ke atas langit-langit goa kemudian ia menatap wajah sang guru lalu katanya,“Tidak tahu!”

“Hmm. Sobekan baju itu telah kuisi dengan satu kekuatan bathin. ” kata sang guru “Itulah ilmu bathin yang kuciptakan, dan karena ilmu bathin itu berdasar atas kejiwaan, maka ilmu itu kuberi nama ilmu Karakhter. ”

“Ilmu Karakhter?” guman Kang Hoo “Apakah ilmu itu bukan semacam ilmu Hoat-sut?”

“Tidak!” jawab tegas Haji Kong-sun But Ok, “Ilmu Karakhter bukan ilmu Hoat-sut. Itulah ilmu bathin yang paling murni bersumber dari jiwa dan darah daging manusia itu sendiri, dan ilmu itu sebenarnya sudah ada sejak manusia itu lahir ke atas dunia. ”

Mendengar keterangan sang guru, kembali Kang Hoo melompongkan mulutnya, tambah lama ucapan sang guru tambah tak bisa dimengerti.

“He . . . . heee         ” Kong-sun But Ok tertawa, “Kau tambah lama kelihatan tambah tolol. Apa yang membuatmu itu jadi tolol?”

“Guru,” kata Kang Hoo memandang gurunya, “Ilmu Karakhter itu menurut guru sudah ada pada setiap manusia lahir ke dunia, kalau begitu, untuk apa perlu dilatih. Dan tentunya setiap manusia itu adalah jago-jago yang luar biasa. ”

“Hmmm. Kalau setiap manusia itu bisa mengerahkan kekuatan Karakhter yang diwariskan sejak ia lahir, di dunia ini tidak akan ada kekacauan. Dunia ini tidak akan ada pembunuhan, saling fitnah dan saling caci maki . Karena setiap orang yang betul-betul ingin mengerahkan kekuatan Karakhter yang ada pada dirinya ia mesti melenyapkan hawa amarahnya Menenangkan pikiran. Menjauhi segala angkara murka. Maka kekuatan itu akan muncul melindungi dirinya. Kalau tidak, huh. Iblis dan setanlah yang akan mengeram dalam jiwa orang itu!”

Mendengar ucapan guru ini, kembali Kang Hoo dibikin pusing, dalam penjelasan itu dikatakan kalau ilmu Karakhter itu mesti melenyapkan hawa amarah dan angkara murka, tapi bagaimana sang guru ini, melatih ia melakukan serangan pukulan pada sobekan kain guna menciptakan hawa amarah, maka sambil menggaruk kepala, Kang Hoo bertanya, “Guru. Kalau begitu untuk apa guru melatih aku menciptakan hawa amarah. Dan itu kekuatan Karakhter sebenarnya kekuatan apa dari mana sumbernya?”

“Anak tolol. ” kata Kong-sun But Ok. “Latihan mengerahkan hawa amarah itu penting, dengan kau dapat mengerahkan hawa amarahmu maka kau juga bisa memadamkan hawa marah itu dan melenyapkan seketika. Dan sumber kekuatan Karakhter itu adalah merupakan kekuatan tersembunyi yang terdapat pada diri tiap-tiap manusia sejak ia lahir. Bukankah kau dalam kandungan ibumu meronta-ronta ingin keluar dari rahim ibumu. Bagaimana waktu itu kau tahu, bahwa di luar perut ibumu itu masih ada dunia yang mesti kau masuki. Apakah ketika kau masih bayi itu sudah merasakan kehendak hatimu untuk keluar dari dalam kandungan itu? Setiap manusia tentu tidak! Gerakan bayi itulah membuktikan adanya kekuatan Karakhter. Itulah kekuatan Karakhter. Dan kekuatan itu begitu sang bayi lahir, lambat-lambat tertutup oleh kekotoran dunia, lenyap hari tambah hari, tahun ke tahun. Hingga kekuatan Karakhter itu bagaikan sebuah permata terpendam dalam lumpur. Nah, dengan hasil penyelidikanku itu aku berhasil menemukan cara membersihkan permata itu agar bersinar kembali. Dan kekuatan Karakhter itu muncul lagi dalam diri manusia. Itupun kalau kau menghendakinya. Syarat pertama tentunya kau mesti mentaati ajaran agama. Tidak perduli agama apa, Budha ataukah agama yang kau anut. Itu sama saja. Apa kau mengerti?”

Kang Hoo menggarukkan kepala, ia tidak bisa menjawab mengerti apa tidak. “Sudahlah, waktu ini sudah waktu Dhuhur nah lakukanlah ibadahmu. ” kata Kong sun But Ok. “Setelah itu kau boleh istirahat. Dan besok pagi kau akan mendapat latihan yang kedua!”

Dengan membawa perasaan herannya, Kang Hoo keluar goa, menggunakan akar rotan menuruni tebing. Membersihkan diri.