Mustika Gaib Bab 03

 
Bab 03

KANG HOO, dilarikan kuda melesat meninggalkan perkampungan.

Badan Kang Hoo tertelungkup di atas sadel kuda itu bergerak-gerak digoyang langkah lari kuda yang semakin keras.

Sang kuda yang merasa kedua samping perutnya terus-terusan dibentur-bentur oleh kepala dan kaki Kang Hoo, menyangka kalau si penunggang kuda itu menyuruhnya lari kabur lebih keras, sedang dua utas tali kekang kuda, laksana dua ekor ular lompat-lompatan di atas kepala kuda yang lari cepat itu.

Ketika Kang Hoo sadar dari pingsannya, hari sudah gelap ia jadi kaget, karena tubuhnya sedang menelungkup seakan dibawa terbang.

Karena kekagetan itu hampir saja tubuh Kang Hoo jatuh dari sadel kuda, tapi ia seorang pemuda yang berkepandaian silat dengan cekatan ia bergerak bangun lalu duduk di atas sela kuda, kedua tangannya menjambret dua tali kekang yang seakan lompat- lompatan terbang di atas kepala kuda. Setelah itu ia menarik tali kekang kuda tadi. Dan kuda yang ditarik meringkik keras, mengangkat kedua kaki depannya ke atas. Lalu lompat lagi ke depan, kemudian berhenti, menggoyang-goyangkan kepala.

Kang Hoo lompat dari atas punggung kuda, ia memperhatikan empat penjuru tempat itu, ternyata itulah sebuah rimba.

“Dimana ini?” pikir Kang Hoo.

Hari tambah gelap, Kang Hoo kehilangan arah, ia niat untuk pulang ke rumahnya tetapi ia tidak tahu kemana jalan harus ditempuh. Ia tiba ke tempat itu dibawa lari oleh kuda dalam keadaan pingsan. Keadaan di tempat itu merupakan hutan belukar di sana sini hanya gerombolan-gerombolan pohon.

Selagi ia kebingungan, mendadak dari antara sela- sela gerombolan pohon di bawah bantuan cahaya bintang yang kelap-kelip matanya melihat berkelebatnya bayangan merah lari menuju ke arah utara.

Dalam keadaan bingung itu Kang Hoo tidak banyak pikir, ia lompat ke atas punggung kuda lalu mengejar ke arah berkelebatnya bayangan merah tadi, ia tidak perduli bayangan itu manusia, setan, atau binatang buas, yang perlu ia mesti mencari jalan untuk dapat keluar dari rimba gelap ini. Melewati beberapa tombak Kang Hoo kehilangan jejak bayangan merah tadi.

Di bawah sinar bintang yang kelap kelip ia memacu kudanya menerobos semak-semak belukar, setelah berjalan sejauh lima enam lie, mendadak ia mengangkat kepalanya memandang ke depan, serunya dalam hati,

“Di depan sana tampak mencorot sebatang sinar penerangan, menembusi sela-selanya ranting pohon tentu tidak jauh dari tempat ini terdapat sebuah perkampungan.”

Kang Hoo menggeprak kudanya, lari ke jurusan sinar api tadi. Setelah melewati jarak dua lie betul saja diantara lebatnya gerombolan pohon terdapat sebuah rumah atap.

Sekeliling rumah atap itu, dipagari pagar bambu, sedang di bagian lainnya tak terdapat bangunan rumah lagi.

Sejenak Kang Hoo ragu-ragu, pikirnya, “Rumah itu terpencil di dalam hutan, apakah penghuninya tidak kuatir kalau diganggu binatang buas atau diganggu orang jahat? Apakah tidak mungkin kalau rumah atap itu merupakan sarangnya berandal?” Tapi mengingat keadaan dirinya yang sehari penuh itu belum makan atau minum, sedang sang perut sudah kerocokan. Ia tidak lagi memperdulikan apakah itu rumah sarang penjahat atau rumah setan, ia jalan terus karena ia juga ingin menanyakan pada penghuni rumah atap itu tempat ini berada dimana.

Kang Hoo lompat turun dari atas kudanya lalu jalan menghampiri pagar bambu. Dengan bantuannya bintang di langit, Kang Hoo mengintip di sela-sela pagar bambu, dari sana ia bisa melihat dari daun kertas jendela rumah atap itu tampak menyorot ke luar sinarnya pelita.

Di depan pintu pagar rumah atap itu, Kang Hoo mengetuk pintu, dan baru saja ia mengetuk dua kali, suara ketukan mana membuat kaget seekor anjing, yang lantas lari menggonggong di dalam pagar.

Berbarengan dengan suara gonggongan anjing dari dalam rumah gubuk terdengar suara bertanya,

“Siapa diluar pagar?”

Itulah suara pertanyaan seorang perempuan!

“Aku orang liwat jalan, hendak menumpang nginap satu malam?” jawao Kang Hoo cepat.

Belum lagi jawaban Kang Hoo habis diucapkan pintu rumah atap itu sudah terbuka, dari sana jalan keluar menghampiri pagar bambu seorang perempuan tua, dari balik pagar bambu perempuan tua itu memperhatikan dengan teliti perawakan Kang Hoo, setelah memandang penuh selidik perempuan tua tadi, tersenyum lalu mengusir anjingnya yang terus-terusan menggonggong.

Sang anjing mengerti, sambil menggoyang- goyangkan buntutnya ia lari pergi.

Perempuan tua tadi lalu membukakan pintu pagar dan berkata,

“Bukankah kau ini bernama Kang Hoo?”

Mendengar namanya disebut si nenek, Kang Hoo melengak, ia kaget memperhatikan wajah keriput nenek itu, tapi seumurnya ia belum pernah kenal dengan si nenek, maka dengan rasa heran bertanya,

“Dari mana nenek tahu aku?” berkata sampai di situ Kang Hoo tidak berani meneruskan ucapannya. Ia ingin merahasiakan siapa dirinya. Si nenek jadi tertawa, katanya,

“Kau tidak perlu takut menyebut namamu, masuklah, belum lama seorang tua dengan nama Beng Cie sianseng telah datang ke tempat ini, ia mengatakan kalau menemukan seorang pemuda bernama Kang Hoo supaya dapat memberikan bantuan, dan cepat-cepat suruh menyusulnya ke kota raja. .”

“Aaah. . . . jadi suhu sudah sampai di sini.” Tanya Kang Hoo, melangkah masuk, sambil jalan memasuki pekarangan, ia berkata lagi,

“Kalau begitu, aku tidak bisa lama-lama tinggal di sini, hanya tolong beri tahu kemana jalan yang mesti kutempuh untuk menuju ke kota raja. Dan tolong berikan aku sedikit air untuk menghilangkan rasa hausku.  ”

“Mana bisa!” Kata si nenek sambil jalan di depan Kang Hoo, “Dalam keadaan malam gelap, bagaimana kau bisa menempuh perjalanan, lebih-lebih tempat yang akan kau lewati sangat berbahaya, belakangan ini kaum berandal merajalela, sebaiknya kau tunggu sampai fajar nanti baru kau melanjutkan perjalananmu. Dan eh ya,

rumahku ini terlalu sempit, aku tinggal di sini seorang diri, maka tempat ini kurang terurus, kau boleh pilih tempat sendiri.”

“Tidak apa,” jawab Kang Hoo “Kalau malam ini aku tidak bisa meneruskan perjalanan, aku bisa tidur di mana saja, asal ada tempat untuk membaringkan diri. Begitupun aku sudah merasa berterima kasih.”

“Kalau begitu kau masuklah duduk di dalam.” kata si nenek.

“Di luar masih ada kudaku,” kata Kang Hoo “Kalau bisa aku minta sedikit rumput untuk makan binatang itu. Ai . . . aku hanya membuat kau orangtua repot saja.”

“Jangan bilang begitu,” kata si nenek, “Beng Cie sianseng tadi, telah berpesan kalau bertemu dengan kau ia minta tolong untuk memberikan bantuan padamu, ia juga telah menitipkan sejumlah uang untuk bekalmu dalam perjalanan. Dan katanya, kau tidak perlu lagi kembali ke rumahmu …..”

“Hmmm ….” Kang Hoo bergumam mendadak saja tanpa disadari matanya digenangi air mata. Teringat akan nasib sang ayah.

Sementara itu si nenek berlalu ke belakang rumah, lalu kembali lagi dengan membawa rumput, dan Kang Hoo, juga telah menarik masuk kudanya, yang terus dikasi makan.

Setelah mana si nenek menyilahkan Kang Hoo duduk di dalam kamar, lalu ia mengambil secangkir air teh.

Kang Hoo yang memang sudah merasa haus ia segera menyambut pemberian air teh itu dan sekali minum telah habis isinya, ia merasakan air teh itu sangat wangi sekali.

Si nenek kembali menuang teh ke dalam cawan, baru ia duduk di depan sang tamu muda, dan bertanya,

“Sebenarnya kau she apa, bagaimana bisa kelayapan ke tempat ini. Ada hubungan apa dirimu dengan Beng Cie sianseng.”

Kang Hoo menceritakan siapa dirinya, tapi ia tidak menyebutkan tragedi pembunuhan misterius yang dilakukan oleh orang-orang seragam hitam itu.

“Oh, kiranya kau satu kongcu bangsawan aku sungguh berlaku kurang hormat,” kata si nenek, “Si tua Beng Cie sianseng itu keterlaluan, ia tidak menyebutkan asal usul dirimu, ia hanya berpesan agar aku memberikan bantuan pada kau bila kebetulan kau lewat ke tempat ini. Kukira dalam perjalanan kau telah mendapatkan sengsara, tentunya dalam perutmu sudah kerocokan kelaparan, tunggu sebentar aku akan ambil makanan, cuma di sini di dalam tempat yang terpencil tidak terdapat arak dan sayuran, yang mana sungguh kurang pantas untuk melayani kongcu.”

Setelah berkata demikian si nenek lalu masuk ke kamar belakang, dan tak berapa lama ia telah datang lagi dengan membawa satu nampan berisi nasi dan makanan yang terdiri dari dua macam sayur dan dua potong daging, yang masih mengepulkan asap lalu diletakkan di atas meja.

“Kongcu silahkan makan sedikit,” kata si nenek.

Kang Hoo menghaturkan terima kasih, sebelum ia memakan hidangan yang disediakan si nenek, ia bertanya,

“Nenek ini daging apa?”

“Aaaah.....” wajah si nenek sedikit berubah. “Di tempat ini tak terdapat makanan enak, inilah daging menjangan yang telah dikeringkan. Binatang ini juga hasil buruanku sendiri dalam hutan. Apakah kongcu merasa jijik dengan makanan ini.”

“Tidak! Tidak! Terima kasih sebenarnya aku tak suka makan daging babi! Maka aku tanyakan pada nenek ”

“Oh, ... .ini betul-betul daging menjangan, kongcu jangan ragu-ragu.” jawab si nenek tersenyum. Tapi hatinya merasa heran mengapa anak hartawan ini tidak doyan daging babi.

Kang Hoo yang mengetahui kalau daging itu daging menjangan, ia tidak ragu-ragu lagi memakan semua apa yang dihidangkan hingga perutnya dirasa kenyang.

Setelah Kang Hoo selesai makan, si nenek membereskan sisa makan itu. Lalu ia kembali duduk di depan si pemuda.

“Numpang tanya,” tanya Kang Hoo, “Kau orang tua mempunyai she apa, dan bagaimana bisa tinggal di dalam tempat yang begini sepi, cara bagaimana kau bisa tangkap seekor menjangan?”

“Aku she Cu,” jawab si nenek, “Almarhum suamiku she Hek, ia seorang pemburu, dari suamiku almarhum aku mempelajari bagaimana membuat perangkap untuk menangkap binatang, dengan kepandaianku itu, aku menyambung hidup dalam gubuk terpencil ini di dalam rimba!”

Mendengar kalau si nenek istri dari seorang pemburu, Kang Hoo cepat berkata,

“Oh, . . . kalau begitu nenek juga pandai ilmu silat.” “Seorang perempuan sepertiku bagaimana pandai

silat?” kata si nenek tertawa “Aku lihat kongcu yang

begini muda dan gagah, dengan sendirian menunggang kuda melakukan perjalanan jauh, tentunya paham ilmu silat.”

Kang Hoo yang mendapat umpakan demikian ia merasa jengah, karena tibanya ia di tempat ini, ia sendiri tidak sadar dalam keadaan pingsan, maka cepat-cepat ia berkata,

“Soal ilmu silat, cuma sedikit mengerti.” jawab Kang Hoo “Beng Cie sianseng pernah mengajar aku beberapa jurus ilmu silat.”

Si nenek mengangguk kepala. Kemudian berkata lagi,

“Kongcu tentunya sudah lelah, nah pergilah istirahat.”

Baru saja si nenek menutup kata-katanya mendadak saja pintu rumah atap itu didobrak orang. Di sana bermunculan lima orang seragam dan berselubung hitam.

Si nenek kaget, ia bangkit bangun, kemudian bentaknya,

“Manusia liar dari mana berani main gila di sini!” “Nenek peot!” bentak salah seorang jubah hitam

berselubung muka, “Serahkan bocah itu. Kau jangan turut campur urusan!”

“Hmmm .. .” si nenek mendengus “Kalian keluar, jangan ganggu orang dalam rumah ini!”

Sementara itu Kang Hoo sudah bangkit berdiri, ia memperhatikan lima orang berseragam hitam itu. Hatinya sedikit bingung bagaimana ia harus menghadapi manusia-manusia ini. Kalau ia lari meninggalkan mereka ini tentunya mereka akan membuat susah si nenek, kalau ia melakukan perlawanan pastilah setidak-tidaknya ia mesti membunuh orang. Sedangkan pembunuhan itu diharamkan menurut ajaran agama yang dianutnya. Ia sendiri sebenarnya tidak mengerti mengapa orang-orang seragam hitam berselubung muka ini memusuhi keluarganya.

Selagi Kang Hoo masih bingung si nenek sudah berkata,

“Kalian manusia-manusia liar, ayo cepat keluar tinggalkan gubuk ini!”

Lima orang seragan hitam berselubung muka itu, pada tertawa, salah seorang membentak,

“Nenek pikun, kalau kau ingin meneruskan daging- daging keriputmu di atas dunia ini sebagusnya kau minggir saja.”

“Nenek!” Seru Kang Hoo, menyelak ke depan. “Menyingkirlah, biar kuhadapi manusia-manusia ini.”

Si nenek mundur, merapatkan tubuhnya pada dinding.

“Kita bertempur di luar.” seru Kang Hoo, berbarengan dengan seruannya, tubuh si pemuda melambung ke atas, membentur atap gubuk rumah itu.

Disinari cahayanya bintang kelak kelik di langit, tampak beberapa sosok bayangan berlompatan menerobos keluar dari atas atap gubuk di dalam rimba itu.

Di dalam kegelapan malam enam bayangan saling kejar, menerobos semak-semak belukar. Kang Hoo yang paling depan, karena memang ia memancing orang- orang seragam hitam berselubung ini meninggalkan gubuk si nenek agar mereka tidak mencelakai jiwa nenek tak berdosa itu.

Setelah lari satu lie. Napas Kang Hoo sudah tersengal-sengal. Bayangan-bayangan hitam yang mengejarnya masih terus lari ke arah dirinya.

“Kalau lari terus begini, aku bisa kehabisan napas,” pikir Kang Hoo, “Biar kuhadapi mereka, kalau perlu apa boleh buat aku harus melanggar larangan agama!”

Setelah berpikir begitu, mendadak saja badan Kang Hoo melesat ke atas. Lalu berdiri di atas dahan pohon.

Gerakan lesatan Kang Hoo sangat cepat luar biasa, lebih-lebih medan di situ merupakan semak belukar yang gelap, suasana malampun banyak membantu Kang Hoo melarikan diri maka kelima orang yang lari mengejar di belakangnya itu tak melihat kalau Kang Hoo sudah lompat ke atas. Mereka terus lari ke depan.

Di atas dahan pohon yang lebat itu Kang Hoo menunggu lima orang seragam hitam berselubung muka itu lewat. Begitu mereka lewat di bawah dahan pohon tadi, Kang Hoo menunggu hingga orang terakhir berada di bawahnya, kemudian ia lompat turun menubruk seorang yang lari paling belakang.

Lompatan Kang Hoo dari atas dahan pohon itu merupakan jurus Pok-tee-houw, Macan menubruk tanah. Kedua kaki Kang Hoo, tepat mengenai kedua tulang pundak orang seragam hitam berselubung itu, sedang kepalan tangannya menghajar batok kepala orang tadi. Tak ampun lagi tubuh orang itu, lantas jatuh ambruk di atas semak senak, pedangnya terpental.

Setelah berhasil merobohkan lawan, ia lompat ke arah terpentalnya pedang lawan.

Sementara itu empat orang seragam hitam berselubung mendengar suara berisik di belakang mereka, serentak menghentikan larinya membalik badan, tampak di atas semak belukar sang kawan telah roboh terjengkang. Dalam kegelapan malam berbintang itu, badan si jubah hitam tadi mulai mencair. Sedang pemuda yang dikejar telah berada di depannya dengan mencekal sebatang pedang. Itulah pedang sang kawan yang telah binasa.

Menyaksikan kalau kawan mereka berhasil dirobohkan oleh Kang Hoo, keempat orang tadi jadi kaget, mereka tak menduga semula kalau pemuda yang sejak tadi lari kabur itu bisa merobohkan salah seorang kawan mereka, bahkan berhasil merebut senjata. Mereka serentak lompat, membuat posisi mengurung di tiga segi.

Sinar bintang berkelap kelip di langit bulan masih belum nongol. Lima orang dalam kegelapan malam di tengah rimba siap bertempur mempertahankan nyawa masing masing.

Empat bilah pedang terhunus di tangan orang-orang seragam hitam berselubung, sinarnya berkeredap ditimpa cahaya bintang. Mengurung Kang Hoo.

Meskipun di tangan Kang Hoo telah memegang sebatang pedang, ia masih sedikit bingung, karena selama melatih ilmu silat di bawah asuhan Beng Cie sianseng ia hanya mempelajari jurus-jurus serangan tangan kosong. Belum pernah melatih diri menggunakan senjata, meskipun sang guru sendiri dalam melakukan serangan latihan pada dirinya selalu menggunakan senjata tongkat bambu tujuh ruas.