Misteri Ular Hitam

Pengarang : Aryani W
Bab 1

MATAHARI bersinar di ufuk barat pertanda senja telah mendatang. Cahayanya yang keemasan menembus dan menimpa daun-daun di hutan itu menimbulkan pemandangan yang sangat indah. Batang pohon dan dedaunan bagaikan disaput sinar keemasan. Ada cahaya menembus rimbunnya dedaunan, bagaikan tangga emas menuju ke atas. Hutan itu sungguh indah, suara satwa pulang ke sarang memenuhi pohon-pohon. Bercoetan saling sapa di antara teman. Suara nyaring burung bercicit, menceritakan pengalamannya di siang hari. Keindahan yang menentramkan hati. Keindahan itu agaknya terganggu oleh datangnya seekor kuda yang dilarikan kencang. Menembus jalan setapak di tengah hutan itu, membuat burung-burung yang sedang bercengkerama kaget, terbang sambil mengeluarkan bunyi kepak sayapnya yang membelah udara. Kuda itu membedal cepat, penunggangnya seorang gadis cantik. Tampak gagang pedang menyembul di belakang punggung. Agaknya seorang pendekar wanita yang sedang melakukan perjalanan. Ketika kuda itu melewati sebuah pohon yang tinggi, rimbun oleh daun yang memenuhi cabangnya.

“Siut-siut-siutt!!!”

Tiba-tiba tampak sinar putih membelah udara, melesat ke arah si penunggang kuda. Tiga sinar belati menuju ke dada dan kepala, dengan kecepatan kilat.

“Haaiiittt…..!” Sambil mengeluarkan teriakan nyaring, perempuan itu melenting ke atas. Meloncat menghindar dari sambaran belati yang melesat bagaikan kilat. Ketiga belati yang tidak mengenai sasaran itu lewat dengan cepatnya di bawah kakinya, meninggalkan desir angin dingin. Tubuh perempuan itu melayang turun, dengan ringannya kakinya menapak ke tanah tanpa menimbulkan suara sedikitpun, menandakan ilmu meringankan tubuhnya sudan lumayan.

Baru saja kedua kakinya menginjak tanah, kembali lima belati meluncur cepat ke arah tubuh dan kakinya. Dua belati mengarah kedua pahanya, dan dua belati lagi mengarah pada perut dan dadanya, sedangkan yang terakhir tepat mengarah ke wajah perempuan itu. Saking cepatnya gerak tangan kanannya dalam mencabut pedang, tahu-tahu tangannya telah menghunus sebatang pedang. Memutarnya di depan tubuh, bagaikan sebuah baling-baling cepatnya putaran pedang itu. Melindungi tubuh Dagian depan dari ancaman senjata yang meluncur ke arah tubuh dengan kecepatan bagai kilat.

“Tinggg-tinggg-tinggg-tinggg…..!!!”

Empat belati yang meluncur tertangkis oleh pedang itu. Sedangkan belati yang mengarah kaki sengaja ditendang kembali menuju dari mana senjata-senjata itu tadi berasal. Belati itu meluncur cepat sekali menuju ke gerumbulan semak di mukanya. Namun, ketika belati itu menerobos semak, hilang begitu saja tanpa mengenai sesuatu. Kenangasari, demikian nama gadis itu, mengerutkan alisnya, dia memandang ke semak-semak di mana tadi belati itu melesat dan menanti apa yang akan terjadi. “Bangsat curang! Hayo keluar, jangan hanya berani menyerang secara pengecut! Tunjukkan batang hidungmu!” bentak Kenangasari. Kedua matanya mengawasi semak-semak di dekat pohon besar. Pohon yang rimbun oleh daun sehingga sukar untuk melihat jelas. “Hayo, keluar! Hadapilah Kenangasari kalau kau memang bukan pengecut!”

Hening! Teriakan Kenangasari tidak mendapat sambutan. Hanya suara cicit burung di dahan terdengar dengan jelas. Orang yang menyerang tetap tidak menampakkan diri. Kenangasari tetap waspada, seluruh perhatiannya ia siagakan, siap untuk menanggulangi apabila ada serangan mendadak. Pedang diangkat depan dada, mata ditebarkan ke sekeliling untuk mengawasi dan telinganya bergerak-gerak halus. Mendengarkan gerakan yang tidak wajar. Urat di sekujur tubuh menegang, dipenuhi dengan tenaga dalam yang mengalir membentengi diri. Pedang di tangannya bergetar, penuh disaluri tenaga dalam.

“Ha-ha-ha-ha……. Kenangasari, bocah ayu, aku berada di sini. Ha-ha-ha…..!”

Suara tawa mengumandang memenuhi hutan. Burung-burung menjadi kaget dan terbang pergi sambil me-ngepakkan sayapnya. Suara itu seakan-akan datang dari segala penjuru. Sukar untuk me-nentukan dengan tepat di mana orang yang mengeluarkan suara itu. Bagaikan suara iblis saja karena orangnya tidak nampak.

“Iblis…..! Tunjukkan dirimu kalau engkau memang manusia jantan. Bukan hanya berani menyerang secara pengecut!” Kembali Kenangasari membentak. Sedikitpun ia tidak merasa gentar menghadapi orang itu. Kenangasari maklum, mendengar ketawa yang mengandung getaran hebat itu, lawan itu tentulah seorang yang mempunyai tenaga dalam hebat. Ini terbukti dari suara yang tidak keras dan mengumandang di sekelilingnya, memenuhi tempat itu. Sehingga sukar ditebak di mana orang yang mengeluarkan suara itu bersembunyi.

“Ha-ha-ha…..!! Aku datang, manis!” Belum hilang gemanya dari atas meluncur sesosok bayangan hitam, bagaikan burung besar menyambar turun. Tahu-tahu di depan Kenangasari telah berdiri seorang yang mengenakan topeng.

Kain topengnya menutup dari bawah mata ke bawah. Sepasang mata itu mengeluarkan sorot tajam seakan dapat menembus langsung pada yang dipandangnya. Orang bertopeng itu memandang lekat-lekat tubuh Kenangasari, seakan dengan pandang matanya ia menggerayangi kemontokan tubuh di depannya itu. Melihat kemuncullan orang bertopeng, tanpa memberi kesempatan lagi Kenangasari membabatkan pedangnya. Berkeredepan pedang itu mengarah leher orang bertopeng dengan kecepatan bagai kilat di kala hujan. Agaknya Kenangasari bermaksud dengan sekali serang dapat membuat kepala lawannya menggelinding ke bumi.

Tetapi apa yang terjadi? Orang bertopeng itu mengeluarkan dengusan pendek. Melihat kelebatan pedang yang mengarah leher nya, tanpa berpindah tempat dia lalu menekuk kedua lututnya sehingga tubuhnya menjadi pendek. Pedang itupun lewat di atas kepala dengan meninggalkan desir angin dingin.

Kenangasari lalu memutar pergelangan tangannya dan pedang yang tidak mengenai sasar an itu berubah arah, memhabat ke pinggang lawan. Ketika lawannya meloncat ke atas menghindarkan diri dari babatan pedang, ia susuli dengan pukulan tangan kiri menggunakan Aji Tapak Gunting. Angin pukulan mengandung hawa panas menerjang dada orang bertopeng di tengah udara.

“Sungguh berbahaya! Sayang gerakanmu kurang cepat, bocah ayu! Ha-ha-ha…..” Sambil membuat putaran di udara, orang bertopeng itu mengelakkan pukulan Kenangasari yang mengarah dada tanpa mengalami kesukaran sedikitpun juga. Agaknya tipu silat Kenangasari itu telah dikenalnya dengan baik. Kenangasari lalu keluarkan semua kepandaiannya. Pedangnya berkeiebatan menyilaukan mata, mengejar ke mana lawannya itu mengelak dari cecaran pedangnya.

Tubuh kedua orang itu tidak nampak lagi, yang ada hanya bayangan pedang yang berkelebatan dan bayangan hitam berputaran di sekeliling Kenangasari. Ilmu meringankan tubuh orang yang bertopeng itu sungguh hebat. Hujan serangan pedang Kenangasari dielakkannya dengan mudah seakan tubuh itu hanya sehelai bulu ayam dimainkan angin!

“Tingggg….!!” Tubuh Kenangasari terhuyung ke belakang beberapa langkah. Ternyata pedangnya telah tersentil oleh jari lawan. Entah bagaimana pedang yang berkelebatan itu dapat disentil. Tenaga yang menyentil pedangnya sungguh luar biasa membuat tangan kanan itu gemetaran. Kenangasari merasa angin kuat mendorong dari orang bertopeng itu membuatnya terhuyung.

”Ha-ha-ha…… Kenangasari, coba sambut seranganku ini!” Sambil tertawa ia menyerang Kenangasari. Tubuhnya berkelebat cepat hanya nampak bayangan menyambar-nyambar tubuh Kenangasari. Kenangasari cepat memainkan pedangnya, memutar pedang di sekeliling tubuh. Menabas bayangan hitam yang mendekati dirinya. Dengan mengerahkan seluruh tenaga dalam disalurkan ke ujung pedang membuat pedang itu bergetar-getar mengeluarkan suara berdengung. Akan tetapi orang bertopeng itu sungguh hebat, dengan tertawa-tawa dia mempermainkan lawannya.

“Menyerahlah saja, Kenangasari. Aku cinta padamu, manis! Sudah lama aku menahan rindu ku kepadamu. Ha-ha-ha… !”

“Bangsat! Iblis….! Mampuslah!!” Kenangasari melompat memapaki bayangan hitam itu dengan tetakan pedangnya. Seleret sinar menabas bayangan hitam. Ujung pedang bergetar menjadi tiga mengarah tiga bagian mematikan di tubuh bayangan hitam itu. Begitu serangan tidak mengenai sasaran, dia bolang-balingkan pedang itu menjadi kelebatan menyilang menabas tangan lawan yang menyelonong masuk ke arah dada.

“Hampir kena….. eit, hampir….. hampir. Ha-ha-ha!” Orang bertopeng menarik tangannya sambil tertawa. “Kenangasari, kau tidak akan menang melawanku. Percuma saja kau membuang tenaga. Lebih baik kau menyimpan tenaga untuk melayaniku! Ha-ha-ha……!”

“Keparat! Hayo tunjukkan kepandaianmu. Jangan mengelak saja, setan! Kalau kau punya kepandaian kalahkan Kenangasari, murid Ki Jenggrik.”

Tangan kanan diangkat ke atas lalu diturunkan lagi ke bawah bersamaan dengan tangan kiri membuat lingkaran di depan dada. Dari gerakan ini keluarlah angin di sekitar tubuh Kenangasari. Ketika ia memutar pedangnya keluarlah angin menderu merontokkan daun-daun di sekitar tubuhnya. Sungguh hebat Ilmu Pedang Badai Mengamuk! Kenangasari bagai mendapat tenaga tambahan dari udara di sekitar dia berdiri. Sayang sekali Kenangasari belum menguasai ilmu itu seluruhnya.

Melihat ini orang bertopeng kaget. Kenanga sari agaknya telah menguasai Ilmu Pedang Badai Mengamuk dari Ki Jenggrik. Ilmu pedang langka yang menjagoi di dunia kependekaran. Melihat gerakan yang dimainkan diapun maklum bahwa Kenangasari belum menguasai ilmu itu secara sempurna. Mungkin hanya tiga empat bagian saja. Hatinya menjadi lega. Dia menekuk kedua kakinya, merendahkan tubuh dan tangan kanan ditaruh depan dada membentuk cakar elang sedangkan tangan kiri menyentuh tanah. Tubuhnya bergetar, lalu tangan kanannya bergerak naik turun. Dari gerakan ini keluarlah hawa yang melindungi tubuhnya. Sepasang matanya bagaikan bersinar, mengawasi gerak-gerik lawan.

Dengan memajukan kaki kirinya, Kenangasari lalu memutar pedangnya memainkan Ilmu Pedang Badai Mengamuk. Dari putaran pedang itu keluar angin menderu, berputaran menerjang orang bertopeng. Orang bertopeng menggelinding maju mendekati dengan tangan kiri terbuka memukul ke depan. Dari tangan kirinya keluarlah angin dingin mendorong ke arah pedang dan tangan kanannya bergerak cepat melakukan cakaran ke arah kedua paha.

“Wutttt! Duukkkk!” Tangan kanan Kenangasari terpental dan pahanya terancam cakaran jari tangan. Cakaran itu didahului oleh angin dingin menerpa paha. Kenangasari melenting ke atas mengelak dari cakaran itu, dari atas pedangnya berputar membabat tengah tubuh. Angin pedang menderu menerpa tubuh lawan dan dedauan di belakang ikut tersapu rontok berhamburan. Lawannya mengelak dan membalas, keduanya lalu terlibat kembali dalam pertempuran yang seru. Tipu dibalas tipu, saling serang silih berganti. Saling elak dan hindar. Keduanya mengeluarkan jurus-jurus ilmu silat tingkat tinggi.

Ketika orang bertopeng melihat lowongan di dada Kenangasari, tangan kanannya bagaikan kilat menyelonong ke depan. Kenangasari yang sedang mengangkat pedang tidak sempat untuk menangkis. Sedang tangan kiri yang menangkis tendangan itu tidak keburu untuk ditarik mundur.

”Bretttt…..! Aihhhh…..!”

Suara kain sobek disusul teriakan Kenangasari. Baju atas Kenangasari terkena cakaran elang. Robekan kain berada di tangan lawan. Tampak kutang merah muda menonjol ke depan. Membungkus sepasang bukit kembar, menimbulkan pemandangan yang aduhai. Sambil meloncat mundur Kenangasari berusaha menutupi dadanya dengan tangan kirinya. Kulit di atas penutup dada itu nampak halus. Membuat mata orang bertopeng melotot lebar.

“Ha-ha-ha….. harum baunya…. sedapppp! Kenangasari, jangan ditutup bukitmu itu…. ha-ha-ha…..!” Orang bertopeng ini sejak tadi agaknya hanya mempermainkan Kenangasari. Bermaksud menguras tenaga Kenangasari dari membuatnya lengah, ini terbukti dengan disobeknya kain penutup dada itu. Serangan yang kurang ajar! Ketika melihat sepasang bukit kembar di balik kain merah itu sepasang matanya melotot! Tatapan matanya seakan meremas kedua bukit itu. Dengan mengangkat pedang di depan, tangan kiri menutupi sepasang bukit Kenangasari siap membela diri mati-matian. Lebih baik mati daripada terhina! Demikian tekatnya. Melihat lawannya maju mendekat, Kenangasari lalu menyongsong dengan babatan pedang ke arah pinggang dan tangan kiri yang menutup dada dipukulkan ke depan mengarah dada lawan dengan tenaga penuh. Melihat lawan mengelak mundur, kaki kiri Kenangasari maju menyerampang disusul babatan pedang ke arah leher lawan.

“Ehh, sabar….. tidak usah ngotot! Heh-heh-heh….!” Sambil menghindar tangan orang bertopeng menyampok pedang, disusul cakaran tangan kiri mengarah muka. Gerakannya cepat sekali, membuat Kenangasari gugup, dengan susah payah mengelak dari cakaran itu. Serangan yang luput itu diteruskan dengan cakaran saling susul mengarah tubuh depan.

Kenangasari mundur-mudur, pedangnya berusaha membabat tangan di depan itu. Babatan itu tiada yang mengenai sasaran, tidak membawa hasil seperti yang diharapkan! Orang bertopeng menyapukan kakinya, Kenangasari meloncat ke atas menghindarkan diri. Lawannya menerjang maju menggerakkan kedua tangan dan……

”Brett……!!” Robeklah celana Kenangasari.

Nampaklah paha yang putih di balik robekan kain itu. Begitu turun Kenangasari mem balik cepat. Tangan kiri berusaha menutup di tempat kain terobek itu. Usahanya ini sia-sia belaka, kain yang terobek terlalu lebar sehingga tetap saja pahanya yang putih mulus itu terlihat nyata! “Uwahhh…… harumnya…..! Betul-betul denok ayu merak ati, hemmm…. harumnya!” Orang ini tanpa malu- malu, lagi membawa robekan kain celana itu ke mukanya dan menciuminya di depan Kenangasari.

“Kubunuh kau, bangsat! Lebih baik aku mati daripada tidak dapat menghancur lumatkan tubuhmu!” Dengan teriakan lantang Kenangasari mengamuk dengan pedangnya. Dia sudah tidak memperdulikan lagi penjagaan dirinya lagi. Menyerang kalang-kabut, niat hati membunuh atau terbunuh! Kenangasari telah mata gelap. Merasa harga dirinya diinjak-injak dan kehormatannya sebagai pendekar wanita telah dinodai orang bertopeng itu.

Melihat ini, sambil tertawa mengejek orang bertopeng itu menggunakan kelincahan tubuhnya mengelak ke sana-sini. Tadipun ketika Kenangasari menggunakan Ilmu Pedang Badai Mengamuk dia berlaku agak hati-hati. Ilmu Pedang Badai Mengamuk telah lama malang melintang di dunia persilatan dan jarang menemui tanding saking hebatnya. Sayang sekali, tenaga dalam Kenangasari yang belum sempurna itu tidak menunjang. Apabila tenaga dalam yang dimiliki Kenangasari lebih tinggi dua tingkat dari sekarang agaknya sukar untuk mengalahkannya dengan mudah. Apalagi kini Kenangasari tidak menggunakan Ilmu Pedang Badai Mengamuk. Mengikuti emosi dan mata gelap. Amarah yang berlebihan itu membuat serangan pedang tidak terarah lagi.

Sambil tertawa-tawa mengejek dia berkelit dan tangannya dengan Ilmu Cakar Elang menyambar- nyambar tubuh Kenangasari. “Brett-breett-breett….!”

Terdengar kain robek beberapa kali. Kenangasari hampir telanjang dibuatnya, tubuhnya yang putih mulus menyembul dari lubang kain yang terobek. Cakaran itu sedikitpun tidak menyentuh kulit. Ilmu Cakar Elang betul- betul hebat sekali! Orang bertopeng itu agaknya tidak ingin mencelakai Kenangasari, hanya ingin mempermainkan saja.

“Sungguh elok….. bagus sekali…. hemm…..mulus dan menggairahkan!”

Kenangasari berusaha untuk menutupi tempat-tempat rahasia dengan kedua tangannya. Pandang matanya mencorong, bagaikan ada bunga api dalam sepasang matanya. Seakan dengan pandang mata itu Kenangasari hendak membakar wajah di balik topeng itu.

“Setan! Siapakah kau sebenarnya? Buka topengmu, bangsat!!”

“Ha-ha-ha……, sampai matipun engkau tidak akan mengenalku, Kenangasari! Ha-ha-ha…..!!” Melihat kemarahan Kenangasari orang bertopeng iru malah tertawa-tawa. “Kau ingin tahu siapa diriku, baik! Akulah orang yang membuat heboh di Wonowoso! Ha-ha-heh- heh….. ”

“Keparat! Kiranya engkaulah Iblis Cabul Elang Hitam, pemerkosa dan pembunuh gadis-gadis itu!”

“Ha-ha-ha……! Terlambat, Kenangasari! Terlambat kau mengetahui ini semua. Ha-ha-ha….. sekarang cepat letakkan pedangmu! Kalau kau dapat memuaskan hatiku, kau tak-kan kubunuh, ha-ha-ha….! Aku sayang padamu, bocah ayu!” “Lebih baik mati! Siapa sudi melayani nafsu bejadmu!” “Ha-ha-ha…..!”

Kenangasari mengangkat pedangnya di atas kepala. Pedang itu ujungnya bergetar-getar. Semua tenaga disalurkan ke tangan kanan sampai ke ujung pedang.

Kenangasari yang merasa tidak akan dapat meloloskan diri dari nafsu bejad si Iblis Cabul, mengambil keputusan nekat. Lebih baik ia bunuh diri dari pada menjadi barang permainan si Iblis cabul!

Dia bermaksud membuat kecewa Iblis Cabul agar tidak dapat menyalurkan nafsu iblisnya terhadap tubuhnya. Tangan kanannya bergerak bukan untuk menyerang lawan, melainkan menusuk perutnya sendiri. Pedang di tangan kanannya meluncur cepat ke perut!

“Tranggg…..! Bukk!” Pedang Kenangasari terlempar entah ke mana. Tahu-tahu tubuh Kenangasari telah berada dalam pelukan si Iblis Cabul.

Orang bertopeng ini agaknya dapat membaca maksud dan tujuan Kenangasari. Bagaikan kilat saja tubuhnya meluncur ke depan. Tangan kanan melempar pisau belati. Pedang yang meluncur turun terkena lemparan pisau belati yang mengandung tenaga dalam yang hebat. Begitu kena pisau belati, pedang di tangan Kenangasari terlempar jauh entah ke mana? Disusul tubuh Kenangasari yang menjadi lemas oleh totokan jari tangan.

”Ha-ha-ha-ha……!!”

Sambil tertawa bergelak, Iblis Cabul memondong tubuh Kenangasari di pundaknya. Tubuh Kenangasari tidak dapat bergerak, lemas terkena totokan. Sekali berkelebat tubuhnya lenyap di balik gerombolan pohon. Hanya suara kepuasan si Iblis Cabul yang tinggal.

(Oo-dwkz-oO) Bab 2

MATAHARI telah masuk keperaduan. Kegelapan datang menggantikannya. Hutan itu menjadi gelap. Pohon-pohon besar yang tinggi di hutan itu, kelihatan seperti raksasa-raksasa tinggi besar. Siap menerkam siapa saja! Burung-burung yang tadinya bercoetan saling tegur dan sapa antara mereka, tak terdengar lagi suaranya. Tidur melepaskan lelahnya di balik kerimbunan daun, setelah siang tadi bekerja mencari makan untuk anak-anaknya. Melepaskan lelah di balik rimbunnya daun, merasa hangat di balik daun-daun yang melindungi dari serangan angin malam! Binatang-binatang yang biasa keluar malam, mulai bermunculan. Keluar dari sarang mereka. Mencari makan di gelap malam. Kelepak sayap kelelawar terdengar riuh memenuhi pohon buah. Sesekali terdengar teriakan burung hantu. Agaknya dia melihat sesuatu yang tidak dapat dilihat oleh mata manusia biasa. Bunyi kerik jengkerik pun ikut memeriahkan datangnya malam! Jauh di tepi sungai, katak-katak bernyanyi riang, saling sahut dan sambung- menyambung menambah indah suasana malam!

Tetapi bagi kita manusia? Kegelapan membuat hati kita tidak karuan. Perasaan kita menjadi tidak menentu. Bayangan-bayangan seram menghantui pikiran, cerita- cerita tentang hantu bermuncullan di kala berada di tempat gelap dan sepi! Rasa takut mencekam hati! Pohon yang bergoyang tertiup angin, kita kira hantu yang meloncat keluar sarang! Binatang kecil melintas jalan membuat kita meloncat kaget dan denyut jantung menjadi lebih cepat, keringat dingin keluar dari tubuh bagaikan hujan. Tubuh gemetaran tidak karuan! Belum lagi kalau berjalan tanpa penerangan apapun. Kegelapan membuat kita tidak dapat memilih jalan rata, mungkin kaki dapat terantuk batu! Masuk lubang yang tidak kelihatan karena gelapnya dan terpeleset ke dalam jurang yang dalam, tak terukur dalamnya! Berjalan menubruk-nubruk dan tidak mengenal arah yang dituju. Bagaikan seorang buta yang kehilangan tongkat! Puji Tuhan Penguasa alam semesta! Kita telah dikaruniai akal budi untuk mengatasi segala rintangan yang menghalang di depan kita! Dapat mengatasi kesulitan yang menimpa, dengan segala usaha dan segala daya untuk menanggulangi kegelapan itu. Membuat api untuk mengusir gelap, menerangi sekitarnya dan memberi tanda dari kejauhan. Walaupun kecil nyala api itu, tetapi dapat membuat tenteram hati, membuat kita dapat melihat apa yang terjadi di sekitar.

Memilih jalan untuk dilalui dengan selamat, kaki kita tidak akan masuk ke dalam jurang yang dalam karena cahaya terang yang terpancar keluar itu. Menerangi jalan di muka yang aman dilalui serta melihat jelas benda- benda dan binatang yang akan mendekati kita. Dengan cahaya kita dapat memilih jalan. Menghindari jalan berbatu penuh onak duri dan lubang-lubang yang memenuhi jalan !

Hati orang yang dicengkeram oleh kuasa kegelapan, membuat hidupnya mengikuti dorongan nafsu. Tidak melihat jelas apa akhir dari jalan yang ditempuhnya! Hati dan akal pikirannya telah diselimuti oleh kuasa kegelapan, tidak akan melihat dan mau tahu akan jalan terang yang telah ditunjukkan-Nya! Bersuka ria di dalam dosa, tidak mau tahu perbuat-annya itu merugikan orang lain maupun dirinya sendiri. Tidak menyadari bahwa dirinya dituntut ke tempat penyiksaan nan abadi!

Terang diturunkan di dunia! Menerangi hati yang gelap oleh kuasa kegelapan. Membawa manusia menuruti jalan yang menjadi kehendak Nya. Menyelamatkan manusia dari kejatuhan abadi! Membawa kedamaian hati dan kesuka citaan dalam melalui hutan kehidupan dan membawa keselamatan manusia menuju tujuan-nya! Kita berserah diri dalam kuasaNya dan Dia akan membimbing kita dengan KasihNya, membawa kita ke tempat penuh dengan suka cita! Hanya dengan seutuhnya kita mengikuti jalan yang ditunjukkan, kita akan selamat sampai di tujuan dan suka cita dalam terang akan membimbing kita selama-lamanya!

Perbuatan orang berkedok hitam yang hanya menuruti nafsu yang memperbudaknya itu sungguh jauh dari jalan kebenaran. Hanya menuruti nafsu setan yang mengeram dalam-dalam di relung hati. Membuat tindakannya tidak terpuji. Merugikan orang lain dan diri sendiri! Merasa senang bila berhasil mencelakakan lain orang!

Di balik gerumbul semak, di tengah lapangan rumput yang membentang luas di tengah, tampak dua sosok tubuh bergelut dengan hebatnya. Di bawah cahaya bintang yang berkelap-kelip, setan berpesta atas kemenangannya dalam diri si Iblis Cabul.

Dalam menikmati kemenangannya, Iblis Cabul menjadi lengah. Kenangasari yang merasa tubuhnya sudah bisa digerakkan, walaupun semua terasa sakit, tiba-tiba menggerakkan tangan merenggut topeng di wajah itu, begitu dapat melihat wajah di balik topeng diapun tidak dapat menahan kagetnya. ”Kau….. kau….. kiranya kau…..!”

Orang berjuluk Iblis Cabul Elang Hitam itupun kaget tak terkira. Kain penutup wajahnya telah direnggut Kenangasari, dia menjadi sadar sepenuhnya dari keadaannya. Cepat dia mengenakan pakaiannya. Sewaktu Iblis Cabul Elang Hitam dengan tergesa mengambil baju, Kenangasari juga menarik baju itu. Tangannya tepat memegang kancing baju. Putuslah kancing baju itu!

Iblis Cabul Elang Hitam begitu melihat kenekadan Kenangasari, menggerakkan tangan kanannya menotok. Tanpa ampun lagi tubuh Kenangasari menjadi lemas terkena totokan itu. Akan tetapi si Iblis Cabul tidak menyadari kalau tangan kanan Kenangasari menggenggam kancing bajunya. Dalam keadaan tak berdaya itu, Kenangasari teringat akan semua kejadian yang baru-baru ini di rumahnya. Terbayang kembali semuanya dengan jelas di pelupuk matanya…..

Hari telah menjelang malam ketika dia memasuki gerbang rumahnya. Begitu turun dari kuda dan menyerahkan kuda itu kepada seorang penjaga, Kenangasari lalu memasuki pendapa. Kaget melihat ruang depan itu penuh banyak laki-laki yang mengelilingi meja besar. Agaknya sedang membicarakan sesuatu yang penting, ia melihat pula Ki Wonowoso orang yang paling berkuasa di Wonowoso itu duduk di sebelah kanan ayahnya. Juga tidak ketinggalan para sesepuh dan kepala perajurit mengelilingi meja.

Semua orang yang sedang duduk begitu melihat dia memasuki ruangan itu menghentikan sejenak pembicaraan mereka. Pandang mata mereka tertuju kepada dirinya. Penuh kagum dan gairah, terutama sekali pandang mata Ki Wonowoso. Bagaikan mata elang melihat ayam gemuk. Tidak mau melepaskan dirinya, sampai ia memasuki ruang dalam.

Lapat-lapat dari ruang dalam ia mendengar pembicaraan itu. Bagaimana langkah selanjutnya untuk menghadapi Iblis Cabul Elang Hitam. Mengambil keputusan yang dirasa tepat. Dipimpin sendiri oleh Ki Wonowoso, sesepuh dukuh. Pembicaraan berlangsung sampai larut malam. Kenangasari lalu memasuki kamar itu tidur melepaskan lelah.

Keesokan harinya, ayahnya menemuinya di taman belakang. Wajahnya agak pucat karena kurang tidur. Begitu melihatnya lalu menegur, “Kenangasari, mengapa kau datang? Apakah ada sesuatu yang penting sehingga kau diutus gurumu untuk pulang?”

“Ayah,” Kenangasari mengawasi ayahnya, lalu menghela napas panjang sebelum meneruskan, katanya kemudian, “guru mendapat laporan dari penduduk yang kebetulan datang ke kota. Bahwa di kota kita, banyak terjadi pencurian dan perkosaan gadis. Malah penjahat itu melakukan pembunuhan setelah memperkosa korbannya.”

“Memang benar.” Ki Jagabaya menghela napas panjang, memenuhi dadanya dengan udara segar untuk melonggarkan perasaannya yang terhimpit.

Kenangasari memandang ayahnya penuh perhatian. Ki Jagabaya lalu meneruskan. “Bangsat itu sungguh kurang ajar, memainkan para penjaga dengan terang-terangan. Ketika terjadi pencurian di rumah Juragan Batik Srimpi, aku bersama dengan para perajurit memergokinya. Akan tetapi, seakan mengejek Iblis itu memapaki kedatanganku. Tubuhnya berkelebat menerjang maju dan kamipun jatuh sungsang sumbel. Hanya aku yang dapat bertahan, akan tetapi akhirnya, inilah hasilnya…..!” Sambil menunjukkan luka di dadanya.

“Begitu hebatkah iblis itu, ayah?” Kenangasari menjadi khawatir melihat roman muka ayahnya yang putus asa. Lalu tanyanya, “Apa-lagi yang membuat ayah merasa putus asa? Kalau hanya iblis itu, kiraku ayah tidak akan seloyo ini. Ayah dapat memanggil para jagoan untuk menghadapinya.”

Ki Jagabaya melihat anaknya dengan sayu. Belum habis persoalan Iblis Cabul Elang Hitam, datang lagi persoalan baru. “Begini, Kenangasari. Tadi malam Ki Wonowoso melamarmu untuk dijadikan selirnya. Aku belum berani memberi keputusan sendiri, aku menangguhkan keputusan itu untuk bertanya sendiri kepadamu.”

“Tidak, ayah. Aku tidak mau!” jerit Kenangasari. “Tapi…. tapi anakku…. bagaimana aku harus

menjawabnya?”

“Bilang saja aku telah ditunangkan, aku tidak mau menjadi selir bandot itu!”

“Tapi…. tapi…..”

“Jangan takut, ayah. Aku akan kembali menghadap guru untuk minta pertolongan dalam menghadapi pinangan ini.” Sampai di sini Kenangasari tersentak kaget. Lamunannya buyar mendengar suara tawa terkekeh di sampingnya. Ternyata Iblis Cabul telah selesai mengenakan pakaiannya. Memandangnya penuh ejekan. Kenangasari menyesal sekali kenapa baru sekarang dia sadar dan mengetahui rahasia itu. Dia yang memburu si iblis, malah diperkosa…. dan ternyata iblis itu bukan lain adalah..,. belum sampai lamunan ini dilanjutkan. Si iblis berkata.

“Kenangasari, kau telah mengetahui rahasiaku. Jalan kemuliaan tidak mau lalui, sekarang terimalah hadiahku ini…..” tangan kanan.Iblis Cabul Elang Hitam bergerak ke depan. Kenangasari yang tidak berdaya itu melihat berkelebatnya tangan ke arah dada….. lalu semuanya gelap.

Ternyata dada Kenangasari telah tercakar robek menganga lebar. Napasnya putus bersama dengan terobeknya dada itu. Iblis Cabul melihat sebentar tubuh Kenangasari yang tergolek, meludah dan berkelebat lenyap di kegelapan malam!

(Oo-dwkz-oO) Bab 3

WONOWOSO!

Tidak seperti biasa, siang itu keadaan di pedukuhan Wonowoso masih nampak ramai. Banyak sekali orang- orang memasuki pintu-pintu gerbang pedukuhan itu, mereka beriringan dengan tertib memasuki pedukuhan.

Seorang kakek memikul hasil kebunnya, dua keranjang penuh dengan buah-buahan tampak berjalan cepat, dan di belakang kakek ini berjalan seorang perempuan tua. Berikat-ikat daun pisang memenuhi keranjang di punggung. Tingginya sampai melebihi kepala. Tampak pula pemuda dengan dua keranjang yang dipikul berisi pisang masak. Mereka berjalan beriringan bagaikan berjalan di pematang sawah. Suatu kebiasaan yang tidak dapat dihilangkan begitu saja. Jalan pedukuhan yang lebar itu tetap saja membuat mereka berjalan tertib berurutan ke belakang! Walaupun mereka bicara dengan teman di muka dan belakang. Mereka tetap tidak menoleh. Berjalan lurus mengikuti yang di depan.

Rombongan ini masih disusul oleh rombongan lain, tetapi semua orang tetap berjalan menurut orang paling depan! Rombongan pertama memasuki dukuh dengan wajah penuh senyum. Semua orang yang memasuki Wonowoso, tersenyum dan memberi salam kepada penjaga pintu gerbang. Empat orang berjaga di luar pintu dengan tombak panjang di tangan kanan. Pedang panjang nam-pak tergantung di pinggang. Walau peluh memenuhi dahi mereka, wajah mereka tetap ce-rah, penuh harapan dan pandang mata berseri. Mereka telah lupa akan kelelahan tubuh mereka. Begitu memasuki Wonowoso, hati terasa lega. Rejeki dan uang yang diperoleh terbayang di depan mata.

Keadaan dalam dukuh Wonowoso lebih ramai lagi. Jalan-jalan penuh dengan orang berlalu-lalang dan di tepi jalan itu penuh pula orang berjualan, baik hasil bumi maupun kebutuhan sandang, digelar di tepi jalan. Mereka terpaksa berjualan di situ, pasar-pasar yang ada telah penuh dengan para pedagang yang berdatangan dari luar Wonowoso. Orang-orang yang datangnya kesiangan tidak mendapatkan tempat lagi. Para pedagang masih terus berdatangan! Baik pintu gerbang, jalan-jalan utama maupun jalan kampung, semua dihias amat indahnya. Apalagi di depan rumah penduduk. Semua dihias! Berbagai bentuk hiasan baik dari kertas maupun dari janur. Kertas warna-warni dan umbul-umbul beraneka warna menghiasi semua tempat, menambah indahnya pemandangan dan semaraknya suasana di Wonowoso!

Walaupun panas matahari menyengat tubuh, namun mereka seakan tidak perduli. Wajah semua orang kelihatan ceria. Berjalan-jalan melihat keramaian, sambil berbelanja. Membeli kebutuhan mereka. Para bangsawan berpakaian indah dan gemerlapan, sangat menyolok sekali dibandingkan dengan pakaian para penduduk pedusunan. Para puteri bangsawan dan hartawan tidak ketinggalan pula ikut melihat keramaian. Mereka diiringkan dengan para pengawal.

Di tengah ramainya orang, nampak seregu perajurit berjalan. Menjaga ketertiban dan keamanan jangan sampai ada terjadi kerusakan karena banyaknya orang yang memasuki Wonowoso. Walaupun tugas mereka bertambah namun wajah mereka tetap ceria. Menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab.Sesekali, jalan yang sudah padat dengan orang berlalu-lalang dan berjualan itu, masih ditambah dengan lewatnya kereta bangsawan.

“Minggir, minggir! Awas, kereta kuda mau lewat!” seru pengawal di depan.

”Tar-tar-tar!”

“Minggir! Cepat minggir….!” Orangpun semakin berdesakan ke tepi, takut ketabrak kuda. Kedua pengawa! itu nampak keren berwibawa dengan tubuh mereka yang besar dan tegap. Duduk di atas kuda yang tinggi besar. Berteriak-teriak mencari jalan sambil melecutkan cambuk. Begitu rombongan ini lewat. Ada penjual buah tomat mengeluh panjang pendek.

“Heiii, hati-hati mas….! Jangan…. jangan mundur lagi!” Karena terus didesak, orang itu lalu nekat melangkah dan…. kakinya masuk ke tempat…. hamparan buah tomat di atas tikar itu. Dan tak dapat dicegah lagi….. remuklah buah-buah tomat itu!

“Maaf, kang. Itu lho, orang depan mendesak terus.” Ketika pedagang tomat mau marah, tiba-tiba terdengar suara tawa bergelak banyak orang. Mereka berdua lalu menoleh, memandang bengong ke ujung jalan. Apakah yang terjadi di sana? Seorang bertubuh gendut dengan badan penuh tepung! Tadi saking asyiknya tawar- menawar, orang gendut itu tidak mendengar teriakan pengawal. Membungkuk untuk membayar dan mengambil tepung yang dibelinya. Orang-orang yang menepi ada yang menabraknya. Tubuhnya yang gendut itu terjerembab ke depan. Tidak ampun lagi muka dan tubuhnya jatuh ke tepung itu. Ketika berusaha bangkit berdiri tangannya malah menarik  tepung di keranjang kecil di depannya. Tepung putih itupun tidak ampun lagi menyiram tubuh nya! Melihat kejadian itu, orang yang menginjak buah tomat tertawa terpingkal-pingkal.

“Ha-ha-ha-ha……!!” kedua tangannya memegangi perut yang terasa kaku. Oleh karena terlalu emosi dalam tertawa, tidak sadar kakinya menginjak kulit pisang!

“Siuttt…. bleekkkk!” Tubuhnya terpeleset, pinggulnya jatuh tepat di mana tadi kakinya menginjak tomat.

“Ha-ha-ha….. ha-ha-ha……!!”

Ketawa berderai memenuhi jalan itu, orang orang menjadi geli melihat peristiwa yang beruntun itu. Berjalan sambil tertawa geli teringat akan kejadian yang lucu itu!

Rumah-rumah makan di Wonowoso penuh dengan pengunjung, baik para langganan tetap maupun orang- orang yang berdatangan dari luar daerah. Salah satu rumah makan di utara, dekat dengan pintu masuk atau gerbang utara itu juga penuh dengan pengunjung. Karena banyaknya pengunjung, orang yang ingin masuk terpaksa menunggu dengan sabar.

Kala itu, dari luar pintu gerbang, masuklah seorang pemuda dengan menaiki kuda. Begitu memasuki gerbang, pandang matanya mengawasi keadaan sekeliling. Menarik kendali kuda dan membawa kuda mengarah ke rumah makan itu. Kebetulan pada saat itu seorang pelayan melihat ada meja kosong. Baru saja pemuda itu selesai menalikan tali kendali kuda itu, pelayan rumah makan menyambutnya dengan ramah. Pemuda tampan berkulit putih kekuningan, senyum manis menghias bibirnya yang tipis dan lekukan dagu di bawah bibir itu menambah kuat daya tariknya. Usianya sekitar tujuh belasan tahun. Pakaiannya putih dari kain kasar saja. Sambil membungkuk hormat pelayan itu menyambut.

“Silakan masuk, den. Kebetulan di dalam masih ada meja yang kosong!” Pelayan itu tersenyum lebar. Melihat senyum ramah itu si pemuda juga tersenyum. Wajahnya makin menarik dan tampan kalau tersenyum. Pemuda inipun mengangguk, mengikuti si pelayan masuk rumah makan.

“Makanan apa yang perlu disediakan, den? Nasi gudeg, nasi opor, pecel lele, atau rames, masakan spesial kami hari ini adalah sambel goreng hati.” Begitu melihat tamunya telah duduk, langsung saja, bagaikan senapan mesin memuntahkan pelurunya, pelayan itu menawarkan. “Masih banyak lagi makanan dan masakan yang lain.”

“Uwaahhh, banyak sekali macamnya? Bagaimana aku harus memilih, Paman?”

“Betul, den. Di sini memang menyediakan masakan bermacam-macam. Apalagi dengan adanya keramaian ini. Rumah makan kami ini sudan terkenal di Wonowoso. Para pembesar pun banyak yang memesan masakan dari sini.” Pelayang itu menerocos terus, mempromosikan rumah makannya. “Dan yang paling terkenal di rumah makan kami adalah pecel lelenya! Sambel pecelnya, bukan main! Lezaaatt…!”

“Kalau begitu, boleh deh nasi pecel lelenya! Tolong bawakan sekalian teh manis, tapi gulanya jangan terlalu banyak. Cukupan saja, Paman!” “Baik, den!”

“O ya, Paman. Panggil saja namaku! Suryo, tidak pakai den-denan segala!” Suryo menahan pelayan itu untuk memberi tahu namanya.

Pelayan itu berlalu sambil masuk mengangguk, dalam hati merasa heran. Sudah menjadi ke biasaan dia memanggil tamu yang datang dengan sebutan Raden, ndara dan sebagainya. Panggilan untuk menghormat tamu. Sekarang ada anak muda yang tidak mau dipanggil den! Setelah pelayan pergi, pemuda itu menebarkan pandangnya. Mengawasi seluruh ruang makan itu, melihat kalau-kalau ada orang yang mungkin telah dikenalnya. Akan tetapi tiada seorang pun yang dikenalnya. Ia lalu mengalihkan pandangannya ke jalan, melihat orang berlalu-lalang. Tiba-tiba Suryo merasa tertarik melihat seorang pengemis tua dikelilingi oleh lima orang pengemis muda, dan lapat-lapat terdengar pembicaraan mereka.

“Tua Bangka tak tahu diri! Tidak diam mencari jalan terang, malah usil!”

“Hajar saja! Biar mampus!”

“Sungguh sialan, Kalau kita dapat rejeki, semua akan kebagian.” sambung pula lainnya.

“Kalau tidak dihajar dia tidak tahu siapa kita!”

Pengemis tua menunduk saja. Tidak mengacuhkan lima pengemis yang marah-marah kepadanya itu. Diam! Tangan kanan memegang tongkat penunjang tubuh. Dengan tenangnya tangan kirinya melepas caping penutup kepala. Begitu caping itu terbuka, rambut pengemis itu masih kelihatan hitam. Hanya alisnya telah putih seluruhnya. Perlahan sekali, mungkin karena otot- otot kakinya telah kaku, berusaha duduk di tepi jalan, tidak acuh terhadap kemarahan lima pengemis muda itu.

“Untung kita cepat lari! Kalau sampai ada yang tertangkap, sekarang kau mampus kubunuh!”

Perhatian Suryo terpecah dengan kedatangan pelayan. Pelayan itu menaruh makanan di atas meja depan mukanya. Mempersilakan Suryo lalu mundur, kembali untuk menyambut tamu lain yang datang.

“Tunggu! Tolong bungkusan nasi pecel lele satu lagi!” Sebelum pelayan pergi Suryo berkata. Pelayan itupun mengangguk dan berlalu.

Suryo menyantap nasi pecel lele, tidak tergesa-gesa. Menikmati masakan itu dengan hati penuh puji syukur atas makanan pemberianNya Pelayan datang membawa bungkusan pesanannya. Sebelum bungkusan itu ditaruh di meja, Suryo berkata. ”Paman, boleh saya meminta tolong?”

“Tentu saja. Apa yang dapat aku bantu?”

“Bungkusan itu tolong berikan bapak pengemis tua di ujung itu, paman!” Suryo menunjuk pengemis tua berambut hitam beralis putih yang duduk di ujung rumah makan itu.

“Nasi ini diberikan pengemis tua?” Pelayan itu memandang heran penuh tanya.

“Betul, paman.”

“Baik.” Pelayan itu berlalu menuju keluar. Dalam hatinya merasa heran, nasi yang mahal harganya itu diberikan begitu saja. Biasanya, hanya makanan sisa dari tamu saja yang diberikan pada gelandangan di depan rumah makan.

“Betul-betul aneh! Jangankan diberikan, baru melihat saja kebanyakan orang sudah memalingkan muka. Anak muda ini betul-betul lain dari kebanyakan orang!” katanya dalam hati. Pelayan berjalan keluar sambil berulang kali geleng kepala, kemudian menyerahkan bungkusan kepada pengemis tua itu. Agaknya terjadi pembicaraan singkat. Kentara dari tangan pelayan menunjuk-nunjuk ke arah Suryo!

Empat orang bertampang keren masuk rumah makan. Wajah mereka bengis dan pandang mata liar jelalatan. Pakaian mereka menunjukkan pakaian para jawara. Berwarna hitam-hitam dan pinggang nampak gagang golok menyembul keluar di balik baju. Dengan dada terangkat mereka memasuki rumah makan. Lagak mereka merasa paling jago sendiri!

Baru sampai di pintu, seorang pelayan muda menyambut dengan terbongkok-bongkok hor-mat.

“Maaf, maafkan…… tu…. tuan, me…. ja…. pe….pe….nuh.” katanya gagap.

Empat orang itu melotot. Membuat si pelayan gemetar kedua kakinya. Orang yang bertanda codet di mukanya membentak.

“Keparat! Minggir kau!” Tangannya bergerak mendorong.

Pelayan itu terhuyung-huyung ke belakang. Seolah- olah dia diseruduk gajah! Kelihatannya tangan si Codet belum menyentuh tubuh pelayan itu, tetapi nyatanya si pelayan terhuyung-huyung. Si Codet dan kawan- kawannya ini mempunyai kepandaian yang berarti.

“Hayo mundur! Ha-ha-ha…… tidak lekas menyediakan makanan untukku? Minta ditampar kepalamu, ya?” bentak pula orang berkumis tebal.

Para pelayan lain tidak ada yang berani maju. Takut kalau-kalau nanti mendapat hajaran mereka. Mereka tahu bahwa empat orang itu jagoan-jagoan di Wonowoso. Empat Golok Setan! Ya, mereka menyebut diri mereka sendiri Empat Golok Setan. Permainan golok mereka memang hebat dan jarang menemui tanding. Di Wonowoso mereka adalah cabang atas!

Memasuki ruangan mata mereka jelalatan, mengawasi semua orang yang duduk depan meja. Orang-orang yang bertemu pandang dengan mereka lalu menunduk tidak berani menatap langsung lama-lama! Mereka lalu berjalan menuju ke arah Suryo yang sedang makan. Mengitari meja dan si Codet membentak. ”Bocah! Minggat kau! Meja ini kupakai!”

Suryo menunda makannya, mengangkat muka, memandang wajah empat orang itu bergantian. Tepat di hadapannya si Codet. Mukanya tampak menyeramkan oleh codetnya itu. Di kanan si Codet berdiri, terlihat wajah dengan kumis tebal dan brewok kasar bagaikan kawat memenuhi muka. Sepasang mata sebesar jengkol melotot bengis. Sedangkan dua orang yang berdiri di belakang kanan kiri keduanya wajahnya hampir serupa, agaknya orang kembar, keduanya berkumis tipis. Yang seorang mempunyai tahi lalat di pipi kanan. Tahi lalat sebesar kedelai. Sedangkan yang seorang lagi di dagu. Mereka berdiri bertolak pinggang. Suryo tersenyum, sebelum dia bicara telah didahului oleh orang yang berkumis tebal dan brewoknya kasar itu.

“Brakkk!!” Jari-jari tangan sebesar pisang ambon menggebrak meja. Membuat air teh di dalam gelas meloncat keluar. Sebagian memasuki nasi di piring. Suryo seketika hilang nafsu makannya! Walaupun Suryo orangnya sabar, lagak mereka berempat itu membuatnya marah juga. Berbuat sewenang-wenang di tempat ramai sungguh sudah keterlaluan, apalagi mengganggu orang sedang makan. Melewati batas namanya! Akan tetapi belum sampai Suryo menjawab, di dahului oleh si Codet.

“Pergi, cepat! Tinggalkan meja ini, kalau tidak ingin kuhajar!” Si Codet mengancam, tangan kanannya diamangkan ke muka Suryo.Suryo perlahan-lahan bangkit berdiri. Senyum makin lebar melihat tingkah empat orang itu. Kemarahan tidak nampak di wajahnya! Empat orang itu sungguh tidak tahu aturan. Katanya dalam hati!

Si Codet yang melihat Suryo berdiri ayal-ayalan dan senyum lebar sekali menghias mulutnya seakan ditantang dan dipandang rendah anak kecil. Hilang sabar! Tangan kanannya melayang ke arah muka yang tersenyum itu.

“Wutttt!” Ketupat bengkulu menyambar wajah tampan Suryo. Apabila pukulan itu mengenai sasaran dapat dipastikan akibatnya. Mungkin paling ringan membuat pemuda itu jatuh pingsan. Tetapi untungnya kepalan itu luput! Suryo yang melihat datangnya pukulan itu miringkan tubuh, dan kepalan itu lewat di depan hidung. Membawa bau tidak enak dari baju yang tidak pernah dicuci! “Ya ampun…..baunyaaa…..!” Suryo menutup hidung dan sepasang matanya memandang geli. Dia mundur untuk mencari posisi.

Para tamu rumah makan yang melihat kejadian itu lalu berusaha untuk menghindar. Takut kalau nanti terbawa- bawa. Sedang pemilik rumah makan dan para pelayan berdiri bengong, tidak tahu apa yang harus mereka lakukan! Untuk melerai mereka tidak berani. Mereka semua tahu siapa Empat Golok Setan itu. Mereka hanya geli melihat ulah si pemuda.

Si Codet bertambah marah, pukulannya tadi dapat dielakkan begitu mudahnya oleh si pemuda. Maju melayangkan tangan menyerang. Tangan kanan membacok leher dan tangan kiri menggedor dada. Apabila salah satu dari serangan itu mengenai sasaran, dapat dipastikan si pemuda akan terluka parah.

Suryo yang melihat datangnya serangan itu, meloncat ke samping kanan dan merendahkan tubuh, dengan menekuk kaki kanannya dan tangan kanannya menyodok ke tulang iga.

Tergesa-gesa si Codet menarik tangan kanan, melindungi iga kanannya dari sodokan.

“Dukkkk!” Dua tangan beradu dan Suryo terdorong ke belakang. Ternyata dia kalah tenaga. Si Codet kembali menyerang dan dielakkan Suryo. Saling serang menyerang terjadilah dengan cepat. Gerakan Suryo lincah, mengelak mengitari rubuh si Codet. Pukulan si Codet mengandung tenaga, mengeluarkan angin menderu tatkala melayang. Pertempuran itupun bertambah ramai dan seru. Para penonton yang masih berada di ruangan itu berdebar-debar. MengkhaWatirkan nasib si pemuda!

Si Brewok menjadi tidak sabar. Lalu maju mengeroyok, tidak malu bahwa yang dikeroyok itu seorang pemuda ingusan. Suryo bertambah repot. Baru menghadapi si Codet saja dia sudah kewalahan, apalagi sekarang dia dikeroyok dua. Ilmu silat yang dimainkan Suryo sudah lumayan sayang tenaganya tidak menunjang. Dengan lincah bocah itu mengelak ke kanan kiri, kadang melompati bangku, mengajak kedua lawannya main kucing-kucingan.

Sayang sekali akhirnya dia terpojok ke pagar yang membatasi ruangan dalam itu dengan jalan.

Dalam mengelakkan pukulan si Codet ke arah muka, Suryo tidak melihat tendangan si Brewok dari samping. Tanpa ampun lagi lambungnya kena tendangan dengan telak.

“Buukkk!” Suryo terpelanting keluar pagar. Si Codet melompat tinggi meriyusul dengan melakukan tendangan terbang. Melihat datangnya tendangan Suryo menggulingkan tubuh berkali-kali. Menggelinding pergi! Si Brewok menyusul, melompat pagar.

Kembali dua orang itu mengeroyok Suryo. Pertempuran berat sebelah terjadi di depan rumah makan. Orang-orang berhenti memenuhi jalan untuk menonton perkelahian itu.

Pengemis Alis Putih menonton sambil berulang kali berdecak. Ia mengenai ilmu silat di pemuda. Alis putih ditarik ke atas. Berkerut kening itu melihat gaya dan ulah Suryo. Mengapa bocah itu tidak mengeluarkan tenaga dalam? Kalau saja pemuda itu mengeluarkan tenaga dalam tentu dengan mudah dia akan mengalahkan dua orang lawannya! Pikirnya.

Suryo berulang kali dapat memasukkan pukulan ke tubuh lawan. Sayang, semua pukulan itu tidak membuat kedua lawannya bergeming. Agaknya kekebalan tubuh dua orang itu sangat kuat dan semua pukulan Suryo seakan belaian gadis saja ketika mengenai tubuh mereka.

Dua orang lawan itu mencecer dengan serangan silih berganti. Kadang pukulan mereka masuk ke tubuh Suryo. Terkena pukulan Suryo terdorong ke belakang. Semua ini membuat keadaan Suryo bertambah payah. Mereka tidak peduli bahwa perbuatan mereka itu telah membuat jalan menjadi macet. Dua orang itu merasa bangga dapat menunjukkan kegagahan mereka kepada khalayak ramai.

(Oo-dwkz-oO) Bab 4

SEORANG penjaga berlarian menuju rumah gedung Ki Jagabaya. Ketika sampai di pintu depan gedung, napasnya ngos-ngosan. Dua orang penjaga lain menegur. Menahan untuk memasuki gedung Ki Jagabaya. Dengan gagap penjaga itu mengutarakan maksudnya untuk memenuhi Ki Jagabaya. Ada sesuatu yang sangat penting untuk diberitahukan.

“Tolong laporkan Gusti Jagabaya. Penjaga pintu gerbang utara mohon menghadap, tolong cepat!”

“Ya, tapi urusan apa? Sampai-sampai engkau berani merepotkan Gusti Jagabaya.” Salah seorang penjaga berkata. Lalu lanjutnya. “Apa kau tidak takut mendapat marah beliau?”

Penjaga gerbang utara itu membanting-banting kakinya. Ia merasa jengkel terhadap rekannya itu. Dia tahu berita yang dibawanya sangat penting sekali bagi Ki Jagabaya.

“Antarkan saja, aku! Biar nanti aku yang bertanggung jawab kalau Gusti marah!”

“Baik, mari!” Salah seorang dari penjaga itu lalu mengajak masuk. Ia merasa khawatir juga melihat rekannya itu ngotot hendak menghadap. Pasti ada sesuatu yang serius yang dibawa, kalau tidak, tidak mungkin rekannya itu bertingkah seperti itu. Dia takut kalau nanti mendapat teguran dari Jagabaya yang terkenal galak itu. Ketika keduanya sampai di pelataran depan. Ki Jagabaya baru keluar dari dalam, menuju tempat duduk di pendapa itu. Melihat penjaga itu memasuki halaman lalu menegurnya. “Ada keperluan apa kalian masuk? Itu penjaga dari gerbang utara mengapa kelayapan sampai di sini? Apa komandanmu tidak tahu kalau aku sedang istirahat!”

Ki Jagabaya tahu bahwa yang datang adalah penjaga pintu gerbang utara. Memang para petugas jaga diberinya tanda khusus. Semua diaturnya dan diberi tanda-tanda yang memudahkan untuk membedakan para petugas jaga. Sabuk yang dikenakan penjaga di utara hitam, untuk di timur memakai sabuk berwarna putih, sedangkan yang di selatan sabuknya berwarna kuning dan di barat memakai sabuk merah. Ini semua diaturnya untuk memudahkan dia meneliti kalau ada terjadi sesuatu. Semua ini diaturnya setelah dia menjabat kepala keamanan.

“Lapor, Gusti! Penjaga utara mohon menghadap! Ada sesuatu yang katanya penting sekali.”

“Hemmm….., suruh maju ke sini! Kau boleh kembali ke depan!” kata Ki Jagabaya. Penjaga itu memberi hormat lalu membalik. Pergi ke tempatnya kembali.

Penjaga utara itu maju, menyembah lalu duduk bersila di lantai, depan Ki Jagabaya. Kepala tunduk dan tangan menopang di atas paha. Sejenak Ki Jagabaya mengawasi. Pandang matanya mencereng, lalu katanya. “Hemmm….., keperluan penting apa yang membuatmu datang ke sini? Kenapa tidak komandanmu ke sini, menemui aku?”

“Ampun, Gusti. Hamba mohon ampun sebesarnya apabila telah membuat Gusti tidak berkenan. Begini….. Gusti, begini…… hamba, hamba pernah beberapa lama menjadi petugas di sini. Pagi tadi, ketika hamba mendapat tugas jaga di pintu gerbang utara, hamba…. melihat….. hamba melihat……!”

“Ya……, teruskan, jangan ragu-ragu!” Ki Jagabaya berkata kepada penjaga itu. Ia melihat menjaga itu agak takut-takut untuk menceritakan apa yang dilihatnya itu. Ki Jagabaya lalu menenangkannya agar supaya penjaga itu tidak merasa takut.

“Anu, Gusti….. anu….. begini, Gusti. Tadi ketika hamba sedang bertugas jaga hamba melihat masuknya pemuda tampan. Pemuda itu masih berusia belasan tahun.” Penjaga itu berhenti sejenak. Ki Jagabaya mendengarkan dengan penuh perhatian, karena hatinya mulai tertarik.

“Ya, lalu apa?”

“Pemuda itu menaiki seekor kuda putih. Hamba mengenal kuda putih itu. Hamba pernah merawatnya ketika berada di tempat ini. Kuda putih itu bukan lain adalah kuda Den Roro Kenangasari, maka hamba lalu melapor kepada komandan jaga di sana.”

“Lalu kenapa tidak komandanmu sendiri yang datang ke sini?”

“Komandan jaga memerintahkan hamba sendiri untuk menghadap paduka. Menurut komandan jaga, bamba lebih mengetahui tentang kuda itu. Maka hamba lalu berlari ke sini, menghadap Gusti Jagabaya sendiri.”

“Hemmm….., terus bagaimana? Ke mana pemuda remaja itu perginya?”

“Hamba tadi mengawasi ke mana perginya pemuda itu. Mungkin anak muda itu sedang lapar, sebab tadi kudanya ditambatkan depan rumah makan. Sekarang ini kemungkinan sedang makan di tempat itu. Ki Jagabaya bertepuk tangan tiga kali. Terdengar keras sekali. Tak lama kemudian, muncul seorang laki-laki berpakaian pelayan dari dalam gedung. Dengan jalan jongkok lelaki ini datang menghadap. Ki Jagabaya memerintahkan kepada pelayan itu.

“Siapkan kudaku di depan! Suruh segenap perajurit yang tidak berjaga untuk menanti di depan!” Ki Jagabaya berdiri. Sebelum berlalu untuk berganti pakaian ia berkata kepada penjaga utara itu. “Kaujalan di depan sebagai penunjuk jalan!”

“Sendika dhawuh, Gusti.” Penjaga itu menyembah lalu berjalan jongkok keluar dari ruangan pendapa itu, menuju keluar, menanti bersama dengan perajurit yang lain.

Ketika Ki Jagabaya keluar dengan menunggang kuda, di depan telah berbaris rapi perajurit. Begitu melihat semua telah siap, segera saja ia memerintahkan untuk berangkat. Penjaga gerbang utara segera berjalan di depan diikuti Ki Jagabaya di belakangnya. Dua orang perajurit disuruh membuka jalan, sedangkan lainnya mengikuti di belakangnya.

Perjalanan rombongan itu i tidak dapat cepat. Jalan- jalan yang penuh dengan orang berjualan dan lalu- lalangnya orang yang melihat-lihat maupun sedang belanja kebutuhan itu. Agak menghambat rombongan itu menuju ke tempat di mana pemuda tadi memasuki warung.

Sesampai di jalan di mana terdapat rumah makan itu, jalan sudah penuh oleh kerumunan penonton yang melihat perkelahian. Melihat itu, para penjaga sibuk mendorong orang-orang yang memenuhi jalan itu.

Sedang Ki Jagabaya mengawasi dengan pandang matanya yang tajam mencari-cari. Begitu melihat kuda putih dan pelana yang dikenakan di punggungnya, Ki Jagabaya segera mengenal kuda tersebut. memang betul kuda itu kuda tunggangan Kenanga sari, anaknya! Kedua alisnya berkerut. Hatinya bertanya, ada hubungan apa anak muda itu dengan anaknya? Kenapa anak muda itu menaiki kuda Kenangasari? Ketika Ki Jagabaya mengawasi depan rumah makan. Melihat orang berkelahi, kedua matanya mencereng. Marah! Ada orang berani mengganggu keramaian dan pesta di Wonowoso. Lalu bertanya kepada penjaga gerbang utara. “Mana anak muda yang menaiki kuda itu?”

“Itu, Gusti! Anak muda yang sedang dihajar itu!” Penjaga itu menjawab sambil menunjuk ke arah medan perkelahian.

“Tahan! Berhenti kataku! Mundur semua….. mundurrrr!!” Suara bentakan ini menggeledek. Orang- orang menjadi kaget dan mundur. Sedang si Codet yang sedang menghajar anak muda itu juga kaget, menoleh bersamaan dengan kawan-kawannya. Begitu melihat siapa yang telah mengeluarkan bentakan, dia lalu mundur, berdiri dengan lengan tergantung di samping kanan kiri tubuhnya. Sedang Suryo yang terbebas dari hajaran kedua orang lawannya berusaha berdiri.

Suryo merasakan seluruh tubuhnya sakit, tulang- tulang tubuhnya terasa hilang. Dengan sempoyongan Suryo mendekati Ki Jagabaya, agar jangan sampai dihajar lagi. “Siapa yang memulai keributan di sini? Hayo mengaku!” Ki Jagabaya membentak. Sepasang matanya mengawasi Empat Golok Setan yang berdiri agak jauh dari tempatnya. Agaknya dia dapat menduga bahwa keempat orang itu pastilah yang membuat ulah. Dia telah mengenai betul siapa empat orang itu. Dan bagaimana tingkah lakunya.

“Ampun, Gusti. Sebetulnya hamba berempat tidak membuat kerusuhan! Anak muda itu terlalu memandang rendah hamba. Dia mengejek hamba, maka hamba lalu menghajarnya!” kata si Codet sambil menunduk tidak berani menentang pandang mata Ki Jagabaya.

“Bohong, Gusti, ketika hamba sedang makan, empat orang raksasa ini datang dan menumpahkan air teh hamba. Hamba tidak mengejeknya, Gusti.”

“Baik! Untuk membuat terang perkara ini, kalian semua ikut aku!” Ki Jagabaya berkata. Ia ingin mengetahui kenapa anak muda itu sampai menaiki kuda Kenangasari. Ki Jagabaya merasa bahwa bertanya di tempat itu sungguh tidak pada tempatnya. Ini adalah urusan pribadi, orang lain tidak boleh ada yang tahu. Kenangasari telah disuruhnya untuk menyelidiki pencuri dan pemerkosa serta pembunuh yang menamakan dirinya Elang Hitam!

Ki Jagabaya memberi isyarat kepada para perajurit. Lalu kelimanya dibawa ke rumah Ki Jagabaya. Kuda putih itupun dituntun oleh seorang perajurit.

Orang-orang melihat iring-iringan ini dengan penuh tanda tanya! Mereka tidak mengetahui kenapa kelima orang itu ditangkap dan bertanya-tanya, dan sebentar saja berita ini tersebar ke seluruh penjuru Wonowoso. Empat Golok Setan ditangkap bersama dengan seorang bocah laki-laki tampan. Dibawa ke rumah Ki Jagabaya.

Seorang pengemis tua beralis putih, memegang tongkat di tangan kanan mengikuti dari jauh. Pengemis ini tertarik melihat jurus-jurus anak muda itu, ia mengenai baik ilmu silat itu. Ilmu silat Mliwis Putih! Sebetulnya siapakah anak muda itu? Bagaimana bisa memainkan ilmu silat Mliwis Putih dengan baiknya? Kenapa tenaga dalam anak muda itu tidak ada? Pertanyaan ini memenuhi benak si Pengemis Alis Putih.

Ki Jagabaya sesampainya di rumah, menyuruh membebaskan Empat Golok Setan. Lalu membawa pemuda itu ke ruangan pendapa. Para perajurit disuruh kembali ke tempat. Dia membebaskan Empat Golok Setan, keempatnya sebetulnya empat orang jagoan yang dipanggil-nya untuk menangkap dan menghadapi Elang Hitam. Sedangkan anak muda itu ditahannya untuk dimintai keterangan sehubungan dengan kuda putih milik Kenangasari. Kenapa sampai sekarang Kenangasari tidak kembali, dan kuda putihnya malah dinaiki oleh anak muda itu.

“Bocah bagus, kau tahu mengapa kau kubawa ke sini?” tanya Ki Jagabaya sambil mengawasi anak muda di depannya. Kagum melihat ketampanan dan daya tarik anak muda itu.

“Hamba tidak tahu, Gusti.” Suryo menjawab sederhana.

“Hemm, begini, bocah bagus!” Ki Jagabaya berhenti sejenak, lalu lanjutnya. “Siapa namamu? Dan dari mana asalmu serta hendak pergi ke mana?” “Hamba bernama Suryo, dari Mataram dan hendak merantau meluaskan pengalaman, Gusti.” Suryo menjawab singkat. Dia tidak ingin orang lain mengetahui rahasianya mengapa dia sampai di sini.

“Suryo (Matahari), nama yang bagus. Kelana dari Mataram?” Ki Jagabaya mengerutkan kening. Apakah anak muda ini seorang pangeran yang menyamar? Karena nama Suryo biasanya dipakai oleh para orang dalam. Maksudnya keraton! Ki Jagabaya memutar untuk tidak kentara bahwa dia menyelidiki Suryo.

Suryo pun tidak tahu, dirinya tengah diselidiki. “Benar, Gusti.”

“Kuda putihmu kuda yang bagus.”

“Terima kasih, Gusti. Dia memang kuda hebat.”

Ki Jagabaya memancing, ingin mendapat penjelasan dari Suryo. Tapi agaknya maksudnya ini tidak kesampaian. “Apa kamu mengenal empat orang tadi? Mengapa sampai kau dihajar?” Kembali Ki Jagabaya bertanya sambil melihat Suryo yang meringis kesakitan.

Suryo merubah cara duduknya, kakinya terasa sakit sekali. Suryo lalu menjawab. “Hamba sekali sekali tidak mengenalnya, Gusti. Melihat pun baru sekali ini. Hamba tidak tahu mengapa datang-datang mereka menyerang hamba. Agaknya hendak merampas kuda hamba Gusti.”

“Hemm, begitu! Apakah kuda itu kaudapat dari ayahmu? Kuda seperti itu jarang dimiliki oleh orang kebanyakan, hanya orang-orang berharta dan berpangkat saja yang mempunyai kuda semacam itu!” Kembali Ki Jagabaya memancing. Suryo tersenyum, lalu menggeleng kepala. Heran mengapa orang ini selalu berbicara mengenai kuda. Tidak mengatakan mengapa me nangkapnya dan membebaskan empat orang itu!

“Mengakulah saja, Suryo! Demi kebaikanmu sendiri, lebih baik kau berterus terang kepadaku!” Ki Jagabaya lalu membuka kartu. Dia berterus terang tentang kuda itu. Kuda milik Kenangasari itu merupakan kuda pemberiannya, tadi ia mendapat laporan dari penjaga, bahwa kuda pemberiannya itu dinaiki orang lain. Dia membuktikan sendiri. Dan….. sekarang Suryo telah berada di depannya. Tidak ada orang lain di ruangan itu selain mereka berdua. Ki Jagabaya dengan halus minta Suryo untuk menceritakan bagaimana kuda itu sampai menjadi milik Suryo.

Mengetahui hal ini Suryo kaget. Suryo sama sekali tidak menyangka menemukan pemilik kuda itu dengan mudah. Ia tidak tahu bahwa Ki Jagabaya ini ayah dari gadis yang dikuburnya. Gadis yang telah diperkosa dan dibunuh dengan sadis di tengah hutan. Mayatnya dibiarkan begitu saja, terlantar di tengah lapangan!

Suryo lalu menceritakan, bagaimana dia sampai ketemu dengan kuda itu!

(Oo-dwkz-oO) Bab 5

GEROBAK SAPI itu berjalan perlahan. Jalan di perbukitan yang menaik itu membuat dua ekor sapi berjalan dengan bertatih-tatih. Mungkin karena terlalu berat beban di gerobak itu. Isi gerobak terlalu penuh, ditumpuk-tumpuk melebihi takaran. Agaknya si empunya ingin sekali angkut dapat menyelesaikan tugasnya. Pemilik gerobak agaknya tidak perduli dengan binatang yang menjadi penghelanya. Terbayang keuntungan yang besar dengan dapat mengangkut barang-barang itu dengan sekali angkut. Rasa kasihan terhadap hewan peliharaannya menipis! Ini semua masih ditambah dengan lecutan-lecutan di punggung kedua sapi itu. Bilur-bilur panjang membekas di punggung ketika lecutan itu mendarat dengan kerasnya!

Si empunya barang bertubuh gendut, duduk di muka, dekat kusir sambil mengantuk. Juragan gendut itu merasa diayun-ayun oleh gerobak yang berjalan perlahan itu sehingga membuatnya tertidur di tempat duduknya. Memang nikmat sekali kalau orang naik gerobak sapi. Jalannya yang tetap pelan dan suara klinting di leher sapi, serta goyangan-goyangan yang dibuat roda gerobak. Semua ini membuat orang yang naik gerobak menjadi terlena. Santai sampai terkantuk-kantuk, duduk di kayu yang keras. Terkadang kaget kalau roda kena batu, goncangan keras membuat kaget dan membuka mata.

Tidak lama kemudian, mata tiada kuasa lagi terbuka, kembali ke alam mimpi! Delapan orang bertampang jagoan, berjalan di belakang gerobak. Tampang keren, pakaian ringkas. Di pinggang tergantung golok besar. Langkah mereka mantap dan pandang mata tajam. Mereka adalah para tukang pukul yang disewa oleh Pedagang Gendut untuk mengawal ke Wonowoso. Untuk menjaga keselamatannya dari gangguan para perampok. Telah dua kali mereka lolos dari cegatan para perampok. Delapan orang tukang pukul itu dapat mengusir perampok dengan mudah! Sehingga rombongan itu akan sampai di tempat yang dituju dengan selamat.

Angin bertiup dari depan agak kencang. bau bangkai terbawa angin melanda rombongan ini. Pedagang Gendut tersentak kaget. Begitu pula kusir dan delapan orang pengawal itu.

Mereka semua terkejut. Ada apa gerangan yang menanti di depan? Kenapa bau bangkai sampai tercium di tempat ini. Tanpa sadar delapan orang pengawal itu memegang gagang golok. Bau bangkai yang terbawa angin itu mereka kenal betul! Bangkai orang mati!

Pedagang Gendut menoleh ke kanan kiri. Matanya jelalatan, hatinya was-was. Takut kalau-kalau ada lagi perampok yang datang mencegat. Kedelapan pengawal sekarang berjalan di samping gerobak. Agak ke depan berjalan dua orang, di kanan kiri gerobak dijaga dua orang, dan sisanya berjaga-jaga di samping belakang. Semuanya berjalan dengan hati dag-dig-dug, jantung berdenyut kencang. Tangan yang memegang golok siap membacok siapa saja yang berani menghadang!

“Itu…. itu…. di sana, ada bangkai! Cepat, cepat tinggalkan tempat ini!” Pedagang Gendut berteriak. Tangan menunjuk-nunjuk samping kiri. Di mana sesosok tubuh tergolek telanjang. Lapat-lapat terdengar suara ringkik kuda. Si kusir, tanpa diperintahpun telah melecut punggung sapinya. Sambil berdiri dan berteriak-teriak. Kedua sapi penarik gerobak yang kaget dan kesakitan itu, sekuat tenaga untuk menarik.

Gerobak itupun berjalan lebih cepat dari tadi. Semua pengawal berlari kecil mengikutinya. Tanpa menoleh lagi ke arah mayat itu. Mereka sama sekali tidak mau mendekat. Baru melihat saja mereka telah panik! Takut akan sesuatu yang mengganggu mereka. Lebih mementingkan keselamatan gerobak dan barang-barang yang dibawanya. Pedagang Gendut takut kalau sampai ada apa-apa yang membuatnya merugi. Dia selalu memandang semua persoalan dengan untung-rugi buat dirinya.

Gerobak itu berlalu dengan cepat. Meninggalkan tempat itu dengan suara geluduk-geluduk dari roda kereta yang melanggar batu. Sekali-kali teriakan kusir membelah udara! Tidak berapa lama kemudian rombongan itu lenyap di balik tikungan!

Tidak berapa lama, setelah gerobak itu lewat. Terdengar suara kaki kuda yang dilarikan cepat. Tampak lima penunggang kuda, beriring-an datang dengan cepat. Melihat pakaian yang menempel di tubuh mereka, terang bahwa mereka berlima itu pastilah para ahli silat. Pakaian yang ringkas dan pedang yang tersembul di balik punggung, menandakan bahwa kelimanya orang yang biasa merantau dan berkepandaian. Ini terlihat nyata dari cara mereka menunggang kuda. Tubuh tegak naik turun seirama dengan goncangan naik turun punggung kuda. Begitu sampai di tempat itu, kuda-kuda mereka meringkik keras. Mencium bau mayat! Kelimanya berusaha menenangkan kuda masing-masing. Setelah kuda dapat ditenangkan, me-rekapun maju mendekat. Terlihatlah mayat perempuan cantik telanjang di tempat itu. Mayat yang terlantar! Sambil menutupi hidung, karena bau mayat yang menyengat dari tubuh yang telah membusuk. Wajah wanita itu cantik dan tubuhnya juga aduhai! Sejenak mereka mengawasi mayat itu. Orang tertua berkata. “Hayo, kita pergi saja! Urusan kita sudah cukup banyak! Biar mayat ini menjadi santapan binatang buas!”

Salah seorang turun untuk memungut pedang yang tidak jauh dengan tubuh wanita itu. Baru dua langkah dia berjalan, terdengar bentakan keras.

“Wiro! Naiki kudamu! Kita telah ditunggu-tunggu, nanti terlambat! Hayo cepat!”

Orang yang dipanggil Wiro menoleh. Lalu menunjuk pedang yang menggeletak itu dan berkata. “Pedang itu kelihatannya sangat bagus, lihat cahayanya, kang!”

“Buat apa pedang itu, hayo cepat naiki kudamu! Kita berangkat!” Wiro mengangkat kedua pundaknya. Menggerutu, tetapi kembali menaiki kuda dan mengejar teman-temannya yang telah membalapkan kudanya. Kelimanya lalu meninggalkan tempat itu. Tidak peduli akan apa yang telah dilihatnya. Seperti melihat bangkai seekor binatang saja! Salah seorang malah hanya melihat pedang yang tergeletak. Tidak mau tahu tentang mayat manusia yang terlantar itu. Biarpun telah meninggalkan bau yang menyengat hidung. Mereka tidak mau kehilangan tenaga untuk menguburkan. Agaknya hati kelimanya telah mengeras, bagaikan batu hitam yang keras. Hanya mementingkan diri sendiri saja. Seharusnya mereka berlima dapat saja menguburkan mayat itu. Tetapi kenapa tidak mau? Melihat mereka berlima terang adalah ahli silat, seharusnya sebagai pendekar mereka berhati emas. Bukan berhati batu! Semua ini terlihat nyata, mereka berlima terang bukanlah pendekar-pendekar yang berhati welas asih. Pembela kebenaran dan keadilan! Tetapi kelimanya adalah jagoan-jagoan yang mencari untung demi diri sendiri! Ini nampak dari sikap mereka yang menemui mayat wanita itu.

Matahari telah naik tinggi, sinarnya yang terang dan mengandung kehidupan itu menyengat panas. Tanah- tanah yang basah oleh embun, menguap terkena sinar matahari. Jalan setapak di hutan itu telah sepi dan jarang sekali orang lewat. Kalau kebetulan ada orang lewat, mereka menutup hidung. Tidak menoleh ke kanan kiri. Tidak mau tahu di mana asal bangkai itu.

Suara tembang itu melantun lantang di tengah hutan. Terdengar bening dan empuk menyanyikan lagu gembira dan jenaka. Penyanyinya agaknya seorang yang riang dan jenaka. Makin lama makin jelas, agaknya orang itu mendekati hutan itu. Tampaklah seorang pemuda tampan berusia belasan tahun. Melangkah santai dan sesekali berloncatan kecil, seakan kelinci yang sedang bercanda. Senyum manis tidak pernah meninggalkan bibirnya, dan sepasang mata itu bagaikan sepasang matahari kembar yang berseri-seri melihat pemandangan dan segala sesuatu yang tertangkap oleh lensa Sepasang matanya. Rambut itu tidak tebal, berwarna hitam diikat dengan kain putih. Membuat wajah itu semakin menarik karena lekukan kecil di tengah dagunya. Apabila kebetulan ada orang yang melihatnya akan ketularan melihat keriangan anak muda itu!

Ketika dia mencium bau menyengat. Dia berhenti. Menoleh ke kanan kiri, mencari dari mana bau itu berasal! Siapakah pemuda ini? Dia bukan lain adalah Suryo pengelana dari Mataram! Suryo memandang ke arah semak, sepasang bola mata itu memandang seakan bertanya-tanya. Langkah kaki ringan ketika maju sambil menahan napas untuk mengurangi bau busuk yang menyengat. Uhhhhh!! Matanya terpaku pada penglihatan di dekat semak! Kasihan!! bisiknya pelan. Suatu bisikan yang keluar begitu dari lubuk hatinya. Tanpa disadari, keluar secara spontan! Tajam, sepasang matanya mengawasi sekeliling. Mencari sesuatu yang dapat membantunya menguak misteri mayat perempuan itu. Ketika pandang matanya melihat sebatang pedang menggeletak tak begitu jauh dari semak serta melihat sinar pedang itu. Mulutnya tersenyum lebar. Tanpa ragu lagi, Suryo mengambil pedang dan mencari tempat yang baik. Lalu tanpa ragu kedua tangannya bergerak, membuat lubang yang cukup dalam. Walaupun pekerjaan ini bukanlah pekerjaan yang ringan, tapi dia melakukannya dengan bersiul-siul. Wajahnya tetap ceria, hatinya berbunga melakukan pe-kerjaan itu. Tidak mau tahu biarpun matahari makin condong ke barat.

Setelah lubang itu cukup dalam, dia memandang ke arah mayat. Maju mendekat. Meneliti, mungkin ada sesuatu yang dapat dijadikan tanda. Tanpa sengaja pandang mata Suryo tertuju ke arah tangan kanan! Dia pun berjongkok, membuka telapak tangan itu. Benda bersinar hitam tersembul dari telapak tangan itu. Sebuah kancing baju! Ketika mendekati mayat itu ujung hidungnya telah ditutup dengan kain pembungkus kepala yang didalamnya telah ia isi dengan bunga. Membuat bau menyengat tidak begitu mempengaruhinya. Dengan hati-hati, Suryo mengangkat jenazah itu. Diturunkannya sendiri ke dalam lubang yang dibuatnya, setelah selesai semuanya diapun lalu mencari daun-daun untuk menutupi tubuh. Tanah urukan dimasukkannya perlahan, setelah selesai dengan pekerjaannya itu Suryo pun menoleh ketika mendengar langkah seekor kuda datang mendekat. Kuda putih itu mendengus-dengus di gunduk- an tanah. Perlahan Suryo mendekat, tangannya mengelus leher kuda. Aneh! Kenapa kuda itu menjadi jinak. Agaknya kuda itupun tahu bahwa anak muda yang mendekatinya tidak bermaksud jahat. Diam, mengangguk-anggukkan kepala seakan mengucapkan terima kasih atas semua yang telah dilakukan terhadap tuannya.

Suryo pun girang, lalu menuntun kuda ke jalan. Menoleh sekali lagi ke arah gundukan tanah yang baru itu. Ia tidak tahu nama wanita itu dan siapa yang telah membunuhnya? Hanya kancing baju hitam yang berada di tangan wanita itu mungkin milik si pembunuh. Dia akan berusaha untuk menyingkap tabir ini!

Perbuatan Suryo ini dilandasi oleh kasih terhadap sesama! Kasih yang diajarkan ayahnya, tatkala dia masih kecil. Pelajaran tentang kasih, di mana semua manusia itu sama, mereka adalah saudara-saudara kita! Ibadah kita haruslah hidup. Bukan mati! Hidup berarti berkembang! Berkembang dan berbuah! Hasilnya untuk sesama, mengenalkan jalan lurus menuju yang Empunya yang telah menciptakan langit bumi beserta isinya! Menjauhkan diri dari jalan yang menjadi larangannya. Menaati jalan yang telah ditunjukkan! Kita akui dosa- dosa kita dihadapanNya, kita tidak dapat berbuat apa- apa. Semua hanya karena kasihNya! Kita serahkan semuanya dalam tanganNya dan Dialah yang akaa menyelamatkan kita. Menuntun kita di jalan yang menjadi kehendakNya dan menjauhkan kita dari yang jahat. Kita percaya bahwa Dia telah mendahului kita di jalan yang kita tuju! Ke manapun kita pergi! tidak berbohong, Gusti. Apa yang hamba ceritakan semua benar adanya.” Suryo kembali berkata. Tetapi tentang kancing baju hanya disimpannya untuk dirinya sendiri. Suryo hanya menceritakan bahwa dia mengubur jenazah itu di hutan jati. Semua diceritakannya dengan singkat dan jelas.

“Suryo….. perempuan yang tidak kau kenal itu, dia….. dia…. Kenangasari….., anakku…..”

Ki Jagabaya berkata sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Menangis pelan, air mata menetes di kedua pipinya. Tiada suara keluar dari mulutnya dan dadanya turun naik, menahan kesedihan yang menyesak. Suryo terlongong. Tidak mengira sama sekali. Tertunduk penuh haru dan tidak tahu harus berkata apa. Keduanya diam dengan pikiran masing-masing memenuhi benaknya, sehingga bagaikan patung saja diam membisu.

Setelah dapat menguasai perasaannya, Ki Jagabaya menarik napas panjang berulang-ulang untuk mengisi dadanya penuh dengan hawa. Menghilangkan sesuatu yang membuat dadanya terasa sesak. Setelah merasa dirinya tenang, iapun berkata. “Suryo, untuk sementara menginaplah kau di sini sambil menanti luka-lukamu sembuh. Setelah sembuh barulah kita menengok ke tempat di mana anakku dikuburkan!”

“Terima kasih, hamba siap untuk mengantar.” Ki Jagabaya memanggil pelayan,disuruhnya menyiapkan kamar untuk tempat Suryo menginap dan juga tidak lupa pula untuk membuat boreh. Obat luka memar yang terdiri dari beras, kencur dan lain-lain akar yang dicampur dengan arak.

(Oo-dwkz-oO) Bab 6

BERKELEBAT bayangan hitam dari iuar tembok. Gerakannya gesit dan lincahnya cepat bagaikan segumpal asap hitam berlalu pergi tertiup angin. Begitu cepat gerakan itu sehingga apabiia kebetulan ada orang yang memergoki dan melihatnya, pastilah orang itu akan menganggap bahwa yang berkelebat tadi hanyalah seekor burung terbang lewat!

Ketika kedua kakinya jatuh menginjak tanah tidak menimbulkan suara, bagaikan kaki seekor kucing yang menubruk mangsa. Atau kucing yang jatuh dari atas pohon karena terpeleset, melayang dan kakinya menginjak tanah dengan tepatnya tanpa menimbulkan suara!

Tanpa membuang waktu, menyusuri dinding sebelah dalam di bawah gelapnya bayangan pohon. Kadang orang ini berhenti sejenak dan sepasang matanya yang tajam meneliti keadaan. Lalu meloncat dari balik pohon ke pohon yang berada di dalam kebun belakang rumah itu. Bagaikan bayangan setan yang berkeliaran tanpa menimbulkan suara!

Di bawah pohon tanjung di tengah-tengah taman orang berkedok itu berhenti. Berdiri tegak dengan kedua lengan bersedakap atau bersilang tumpang tindih di depan dada dan kepala menunduk dengan sepasang mata dipejamkan. Mulutnya nampak bergerak-gerak komat-kamit dalam membaca mantera! Udara di sekitar tempat itu menjadi semakin dingin, penuh dengan getaran ajaib. Dari tubuh orang bertopeng itu keluar pengaruh magis yang amat kuat memenuhi tempat itu dan membuat orang-orang yang terkena menjadi tidur tanpa terasa lagi.

Sebetulnya siapakah orang bertopeng itu? Dia bukan lain adalah penjahat yang mengacau di Wonowoso dan sekitarnya! Orang yang telah membunuh Kenangasari dengan kejam setelah menikmati tubuhnya di dalam hutan jati! Iblis Elang Hitam! Ya, Iblis Elang Hitam begitulah namanya dan di tubuh-tubuh korban yang telah dibunuhnya terdapat tanda cakaran memanjang. Bagaikan bekas cakaran burung elang!

Apa yang sedang dilakukan oleh Iblis Elang Hitam di bawah pohon itu? Ternyata Iblis Elang Hitam telah mengeluarkan aji panyirepan yang ampuhnya menggila! Tenaga magis ini sangatlah hebatnya dan orang-orang di sekitar lingkungan tempat tinggal Ki Jagabaya itu, baik yang berada di dalam rumah maupun yang ada di luar tembok di mana aji ini masih dapat menjangkaunya, tertidur pulas oleh pengaruh aji panyirepan itu. Sedangkan Ki Jagabaya sendiri tidak terluput dari pengaruh ini, apalagi hanya para pelayan dan tukang kebun. Mereka semua tertidur bagaikan orang yang sedang pingsan saja.

Penjaga yang bertugas jaga di depan atau di regol (gerbang muka) tidak terluput pula, mereka semua telah tertidur di tempat itu. Di mana mereka itu berada dan nampak lucu keadaan posisi mereka saat itu. Bersandar di tembok dengan tangan masih mendekap tombak di dada, bagaikan sedang memeluk guling layaknya.Tidak jauh dari tempat itu, di mana terdapat gardu penjagaan nampak pula orang tertidur tidak karuan. Ada yang saling tumpang tindih dan ada pula yang mulutnya masih menempel sebatang rokok kelobot (rokok yang dibungkus dengan daun jagung muda) yang apinya berkelap-kelip tertiup angin.

Sedangkan kepala jaga tidur tengkurap ditindih oleh seorang perajurit gendut. Ini semua terjadi tatkala kepala jaga sedang menikmati pijitan dari perajurit gendut bawahanya itu. Meram melek merasakan tangan perajurit gendut itu memijit tubuhnya bagaikan tangan seorang ahli pijat. Ketika itulah tenaga magis aji panyirepan itu datang melanda. Tanpa ampun lagi membuat kedua orang itu saling tumpang tindih dalam keadaan tertidur.

Kejadian lucu dan menggelikan terjadi pula di samping tembok luar di tempat yang agak jauh dari situ. Ternyata ada penjual makanan dan minuman yang diusung (dipikul). Orang-orang itupun terkena hikmat aji itu dan ada orang yang mulutnya sedang menggigit pisang goreng, tidur di atas meja. Di sebelahnya nampak seorang laki-laki sedang memasukkan sebuah bungkusan ke dalam sarung, sedangkan si penjual makanan tangannya masuk ke dalam tempat cucian gelas dan kepalanya jatuh tertidur di atas nasi tumpang yang belum siap dihidangkan!

Kalau kebetulan ada orang lewat di tempat itu dan melihat para penjaga sedang tertidur, mungkin mereka itu memaklumi! Mengira karena lelahnya telah tertidur dengan tanpa terasa. Tiigas tambahan jaga itu membuat mereka tidak dapat menahan kantuk.

Elang Hitam melangkah maju dengan pasti. Percaya penuh bahwa ajinya telah bekerja dengan baik, langkahnya tetap tanpa ragu sedikit pun dan agaknya dia telah mengenai tempat itu dengan baik. Tanpa mencari- cari lagi, langsung menuju ke sebuah jendela di mana agaknya Suryo sedang menginap. Tangan kanan meraba daun jendela.

“Takk!” Bunyi kayu pengganjal daun itu patah. Tenaga dalam Elang Hitam mampu menembus daun jendela dan mematahkan kayu di balik daun jendela itu. Angin dingin menyerbu masuk melalui jendela yang terbuka itu. Kelambu dalam kamar tersingkap dan membuka tutup dimainkan angin. Dalam keremangan itu nampaklah sesosok tubuh yang tergolek di tempat tidur. Tubuh Suryo dan mukanya yang tampan kelihatan nyata terkena sinar penerangan dari luar. Nampak senyum kecil menghiasi mulut itu dalam keadaan tertidur itu.

“Takkk!” Sebuah benda mendarat di kepala Elang Hitam.

Elang Hitam kaget setengah mati. Mengapa ada benda mengenai kepalanya walaupun tidak menimbulkan rasa sakit. Penuh keheranan bercampur dengan rasa ngeri! Bagaimana dia dapat terkena sambitan tanpa dapat mendengar desir angin tatkala benda itu melayang?

Memang mengherankan bagaimana benda yang melayang cepat tanpa menimbulkan desir atau kesiur angin. Sungguh tak mungkin sama sekali. Dia yang telah mempunyai ilmu silat yang tinggi dan pendengaran yang tajam terlatih, akan tetapi bagaimana dia sampai dapat terkena benda itu. Terkena kepala, malah!

Bagaikan gasing saja tubuhnya berputar. Membalik cepat untuk meneliti dari mana benda itu berasal. Pandang matanya yang tajam bagaikan mata elang itu mengawasi semua tempat dengan teliti. Suatu gerak kecil saja tidak akan terlewat oleh pandang matanya. Tetapi aneh. Tidak nampak sesuatupun yang dapat membuat ia menjadi curiga! Pendengarannya yang tajam pun tidak dapat menangkap sesuatu.

Elang Hitam merasa heran sekali melihat kenyataan ini. Tidak mungkin tidak ada orang yang menyambitnya. Pasti ada, tapi di mana? Iapun lalu membalik lagi, mungkin benda yang jatuh pikirnya. Karena terlalu memperhatikan calon korbannya dia menjadi lengah dan tidak menyadari benda jatuh dan menimpa kepalanya. Terbukti benda tadi tidak membuat kepala sakit sedikitpun juga.

Kembali tubuhnya bergerak. Elang Hitam bermaksud memasuki jendela kamar itu. Begitu Elang Hitam membalik, kembali datang meluncur sebuah buah tanjung.

“Plaakkkk!” Sekarang pipinya yang terkena. Sekarang Elang Hitam melihat dari mana benda itu meluncur.

“Siutt-siuuttt-siuuuttt!!” Tiga kali belati terbang meluncur saling susul ke arah daun-daun gelap di pohon tanjung. Elang Hitam menanti sebentar untuk melihat hasil dari sambitannya. Dia merasa pasti bahwa orang itu bersembunyi di balik rimbunnya daun itu. Tiga belati yang melayang itu tidak menimbul kan suara apapun, hanya suara belati ketika menembus daun lalu senyap tiada apa-apa lagi. Hilang entah kemana?

Elang Hitam tidak jadi memasuki kamar itu, dengan sekali enjotkan kaki tubuhnya meluncur bagai anak panah terlepas dari busurnya. Berkelebat cepat ke kiri, di mana ia menyambitkan ketiga belati itu. Tangan kanan nya bergerak memukul. ”Dukkk!” Dengan tenaga terarah Elang Hitam memukul pohon. Batang pohon tanjung itu bergetar dan buah-buah tanjung setengah masak berhamburan ke bawah, berjatuhan bagaikan hujan saja layaknya. Akan tetapi yang dikehendakinya meleset! Belum habis semua buah tanjung yang berjatuhan, sebuah benda menyambar kembali ke arah Elang Hitam yang sedang berdiri mengawasi.

“Taaakkkk!” Tahu-tahu kepala Elang Hitam mendapat hadiah buah tanjung lagi. Elang Hitam mencak-mencak marah sekali dan rasa penasaran mengaduk-aduk hatinya, membuatnya seperti elang kebakaran ekornya!

“Wiirrr!!” Bagaikan kilat cepatnya tubuh Elang Hitam meluncur, kini ke kanan ke arah pohon tanjung di sudut taman itu. Sekali menjejakkan kaki tubuhnya melayang naik menembus rimbunnya dedaunan, lalu berloncatan di cabang-cabang pohon itu. Hasilnya nihil! Hanya burung- burung saja yang kaget melihat ulahnya dan terbang pergi sambil menggerutu.

“Buus-syyeeeettttt…….!!”

Elang Hitam kembali turun dengan hati yang mendongkol sekali. Entah setan mana yang mengganggunya kali ini. Elang Hitam pun lalu nekat untuk memasuki kamar di mana Suryo telah tertidur karena terkena aji panyirepnya itu. Bagaikan seekor burung yang besar tubuhnya meluncur memasuki kamar Suryo dari jendela yang terbuka.

Kembali terjadi keanehan! Ketika Elang Hitam meluncur datang mendekati jendela, dari dalam kamar bertiup angin dingin yang lembut. Angin yang halus mengusap di wajah yang tidak tertutup topeng itu. Akan tetapi akibatnya sungguh hebat!

Bukannya dapat memasuki kamar di mana jendela yang terbuka itu menantinya, akan tetapi tubuh Elang Hitam yang meluncur itu bagaikan mendapat dorongan membalik dan membuat luncurannya membalik ke atas dan meluncur kembali ke belakang dengan cepatnya tanpa dapat dikuasainya lagi. Ketika kedua kaki Elang Hitam dapat menyentuh tanah, tak ampun tubuhnya terhuyung-huyung karena hebatnya tenaga yang mendorongnya!

“Aaiihh….. iblis, setan laknat!” Keluarlah umpatan kemarahan dari mulutnya. Elang Hitam tidak dapat mengontrol dirinya lagi. Kemarahan telah naik ke ubun- ubun kepalanya membuatnya menjadi mata gelap. “Keluar kau bangsat! Hayo hadapi aku, kalau kau memang jantan. Tunjukkan batang hidungmu, setann!” Tantangan dari Elang Hitam ini tidak mendapat sambutan sama sekali dan yartg menyambutnya malah bunyi burung hantu di pojok taman. Elang Hitam bertambah marah dan ia menantang-nantang terus.

Tiba-tiba berkelebat sinar putih bergulung-gulung datang dari atas tembok. Meluncur cepat ke arah di mana Elang Hitam berdiri. Angin dingin mendahului kelebatan pedang yang bergulung-gulung menyerang Elang Hitam itu. Dengan elakan cepat sekali Elang Hitam pun lalu membalas serangan itu dengan cakaran tangan kanan. Sedangkan pedang yang dielakkan dan luput mengenai sasaran itu diputar menahan serangan tangan Elang Hitam. Keduanya lalu terlibat dalam pertempuran yang sengit. Hanya kelebatan sinar putih dari pedang yang bergulung- gulung membuat pandang mata menjadi nanar, bergulat dengan asap hitam yang tertiup pergi datang di antara sambaran pedang. Pemandangan yang indah namun mendebarkan hati. Serang menyerang silih berganti, dengan jurus-jurus pilihan.

Pada suatu saat, Elang Hitam dapat menyentil pedang itu. Suara berdenting nyaring terdengar dan kedua bayangan itupun terpisah. Nampak seorang gadis yang cantik sekali berdiri dengan pedang di tangan kanan. Pedang yang bersinar putih saking tajamnya dan berkilat tertimpa cahaya lampu di sudut taman. Gadis itu masih muda sekali dan mengenakan pakaian serba hijau sehingga kulitnya yang putih nampak menyolok di malam yang agak gelap itu.

Elang Hitam memandang kagum pada gadis yang berdiri di depannya ini. Sungguh cantik bukan main, pikirnya. Walaupun usianya masih muda sekali, sekitar lima belasan tahun. Kulit nya yang putih itu agak kemerahan karena darah yang naik ke wajahnya dan oleh gerakan pedangnya dalam menyerang orang berkedok membuat darahnya berjalan lebih cepat. Pemandangan di depannya ini membuat Elang Hitam tanpa terasa mengeluarkan pujian.

“Cantik sekali, bagaikan dewi yang turun dari surgaloka. Hemmm!”

“Bangsat hina! Apa yang kaucari malam-malam berada di tempat ini!” bentak gadis itu.

“Ha-ha-ha…… aku mencarimu, bocah ayu.Aku rindu kepadamu!” Mendengar jawaban ini sepasang mata gadis yang jeli itu membelalak marah. Bagaikan ada api kecil di sepasang matanya yang memandang orang berkedok di depannya.

“Bangsat mau mampus. Hadapilah Melati, murid Ki Jenggrik !”

Elang Hitam tersenyum di balik kedoknya mendengar kata-kata si gadis itu. “Keluarkanlah seluruh kepandaianmu, bocah ayu yang merak ati! Aku ingin main-main denganmu di malam yang dingin ini. Malam akan terasa lebih nikmat bila kita dapat bersama memadu kasih. Ha-ha-ha……”

“Mampus kau bangsat!” Pedang itu membabat leher Elang Hitam dengan kecepatan kilat. Elang Hitam runduk-kan kepala lalu memajukan kaki kanan dan tangan kanannya terulur menyambar sepasang bukit di dada Melati. Melihat pedangnya tidak mengenai sasaran dan dia mendapat serangan balasan yang kurang ajar itu Melati mengeluar kan dengusan mengejek. Memutar pergelangan tangannya dan membuat pedang itu membalik cepat menangkis tangan yang kurang ajar itu.

Sambil tertawa Elang Hitam menarik tangan kanannya dan membuat putaran kaki, sebuah tendangan kaki yang cepat sekali meluncur mengarah tangan Melati yang meme-gang pedang. Melati waspada, melompat ke samping lalu membalas menyerang lagi dengan hebatnya. Ia mengeluarkan Ilmu Pedang Badai Mengamuk. Elang Hitam menghadapinya dengan hati- hati sambil mengeluarkan ilmu Cakar Elangnya yang jarang menemui tanding itu. Pertempuran yang berlangsung kini bertam bah seru. Jurus-jurus pedang pilihan dilawan dengan ilmu Cakar Elang yang jarang menemui tanding. Saling mengincar kelemahan lawan, kalau Melati dengan niat agar dapat membunuh lawan, sedangkan Elang Hitam hanya ingin me-nangkap saja. Sehingga Elang Hitam agak kesukaran dalam gerakannya. Kalau untuk membunuh lawannya terang akan dapat dilakukan dengan mudah, tetapi kalau untuk dapat menangkap hidup-hidup tanpa melukainya itulah susahnya!

Kepandaian yang dimiliki Melati ternyata masih lebih tinggi dari kepandaian Kenangasari. Ini terasa sekali oleh Elang Hitam. Tadinya ia memandang rendah murid Ki Jenggrik yang masih muda ini. Karena gadis yang lebih muda dari Kenangasari yang telah menjadi korbannya itu, pasti tidak mempunyai kepandaian yang berarti. Maka pertempuran itu kini berlangsung seru, lambat tapi pasti Elang Hitam mendesak Melati yang melawan dengan mengeluarkan seluruh kepandaiannya itu. Elang Hitam mengejek sambil mengeluarkan kata-kata jorok, mengacaukan pemusatan konsentrasi Melati dalam memainkan jurus-jurus ilmu pedangnya. Melati mengeluarkan keringat dingin karena dia tidak mengangka sama sekali bahwa lawannya sekali ini betul- betul hebat di luar perhitungannya. Kata-kata yang jorok itu sungguh sangat mengganggu dirinya.

Sambil mundur-mundur karena didesak oleh serangan cakar elang, Melati berusaha untuk memperbaiki posisi agar dapat menyerang lawan. Tiba-tiba telinganya mendengar suara halus bagaikan orang yang sedang berbisik di telinganya.

“Melati, pergilah kau, nak. Iblis ini bukan lawanmu, mintalah pada gurumu untuk mengajarkan ilmunya yang terakhir. Kakak seperguruanmu, si Kenangasari telah dibunuh oleh lawan mu ini. Kaularilah, nak!”

Sepasang mata bintang Melati terbelalak memandang tak percaya. Hatinya tidak karuan rasanya mendengar berita bahwa kakak seperguruannya Kenangasari telah tiada. Dibunuh orang bertopeng di depannya ini. Kemarahan menguasai hatinya dan ingin rasanya ia dapat melumatkan orang bertopeng ini. Tapi apa daya, kepandaiannya tidak menunjang. Benar bisikan aneh di telinga yang memperingatkannya itu. Dia harus segera melaporkan pada gurunya Ki Jenggrik. Tentang apa yang telah terjadi yang menimpa dirinya dan kakak seperguruannya, Kenangasari. Melati memutar pedangnya mengarah dada lawan dan tangan kirinya menyusul bergerak, jarum-jarum halus menyerang Elang Hitam dari jarak dekat, akan tetapi si iblis ini betul-betul hebat. Lengkingan yang tinggi dan nyaring keluar dari mulut Elang Hitam lalu tubuh nya meloncat ke atas, di udara tubuhnya membuat putaran sampai tiga kali baru meluncur turun jauh dari tempat itu.

Akan tetapi alangkah menyesalnya hati Elang Hitam ketika ia telah berdiri kembali ternyata tidak melihat Melati berada di situ. Agaknya serangan tadi hanyalah tipuan saja. Maksud yang sebenarnya ialah meloloskan diri dari depannya.

”Siialaannnn…..!!”

Elang Hitam pun teringat dengan maksud tujuan kedatangannya ke sini, yaitu ingin membunuh anak muda yang menjadi tamu Ki Jagabaya. Dia agaknya merasa takut kalau anak muda itu mengetahui rahasianya. Elang Hitam takut akan bayangannya sendiri karena kedok mukanya telah terengut oleh Kenangasari dan Kenangasari telah mengetahui siapa sebenarnya dirinya!

(Oo-dwkz-oO) Bab 7

“HEH – HEH -HEH……. sungguh hebat! Sungguh perkasa kau, Elang Hitam!”

Elang Hitam membalik dengan kaget, bagaimana tahu- tahu di belakangnya telah ada orang yang tertawa-tawa. Sepasang matanya mengawasi dengan tajam. Ternyata yang berdiri di depannya sekarang adalah seorang pengemis. Pengemis tua yang alisnya telah putih semua! Keheranan memenuhi lubuk hatinya karena dia sama sekali tidak tahu kapan pengemis ini datang ke tempat itu dan pendengarannya yang tajam kenapa tidak dapat menangkap kehadirannya!

“Siapa kau?”

“Aku siapa……. hayo….. aku siapa….. heh-heh- heh…..!”

“Bangsat tua bangka! Sebutkan namamu sebelum kau mampus di tanganku!”

“Heh-heh……. aku….. aku….. heh-hehh!”

“Sebutkan! Apa kau ingin mampus tak bernama?” Bentakan ini dikeluarkan oleh Elang Hitam yang sebetulnya merasa keder. Pengemis ini betul-betul aneh, bagaimana tahu-tahu berada di belakangnya. Apa bukan kakek ini yang telah main-main dengannya tadi! Elang Hitam mengancam hanya untuk membesarkan hatinya sendiri.

Pengemis Alis Putih hanya tersenyum saja dan terkekeh geli. Dia tahu apa yang dipikirkan oleh Elang Hitam. Tatapan matanya yang lembut itu berseri memandang sepasang mata Elang Hitam dan sorot matanya tenang bagai air telaga yang dalam. Menghanyutkan orang yang dipandangnya. Elang Hitam menjadi salah tingkah dan kemarahan yang memuncak membuat ia menjadi nekad. Tubuhnya meloncat maju menerjang ke arah Pengemis Alis Putih. Dengan mengerahkan seluruh tenaga dalamnya ke ujung jari-jari tangan yang membentuk cakar elang itu, membuat serangan itu mengeluarkan angin yang dahsyat mendahului menerjang ke depan.

“Heh-heh-hehh……!” Pengemis Alis Putih tertawa dan serangan itupun lewat di samping tubuhnya. Tangan kirinya bergerak ke depan.

“Tasss!” Telinga kiri Elang Hitam kena disentil. Tidak terlalu keras tetapi cukup mendatangkan rasa pedas di telinga yang tersentil itu.

Semangat Elang Hitam bagai melayang meninggalkan tubuhnya. Agaknya pengemis ini bukan manusia, pikirnya. Mungkin setan gentayangan yang datang menggodanya! Serangan yang dahsyat tadi, menurutnya telah mengenai tubuh pengemis itu dengan telak, akan tetapi kenapa Pengemis Alis Putih tidak merasakan sama sekali? Pukulannya tadi tidak membekas seakan ia memukul sebuah bayangan saja. Bulu-bulu di sekujur badannya berdiri semua melihat kenyataan ini. Hatinya yang penasaran membuat ia kembali menyerang dengan bertubi-tubi melancarkan cakaran dengan tangan kiri dan kanannya bergantian ke arah tubuh Pengemis Alis Putih. Sedangkan sepasang kakinya juga turut membantu dengan tendangan-tendangan yang dapat membuat batang pohon sebesar lengan menjadi patah. “Hi-hi-hi……..!” Bagai asap saja Pengemis Alis Putih berputaran dan anehnya semua serangan itu bagaikan menyerang asap. Tubuh itu sama sekali tidak dapat disentuh oleh serangan yang datang bagaikan hujan itu. Seperti ada hawa ajaib berputaran melindungi di sekitar tubuhnya, membuat semua serangan meleset sebelum mengenai tubuh yang berputar.

“Tas-tas-tas-tass……!” Kembali telinga kanan dan telinga kiri Elang Hitam mendapat hadiah sentilan jari tangan. Walaupun sentilan itu tidak mendatang kan luka, akan tetapi tetap saja terasa pedas di telinganya. Ulu hati Elang Hitam seakan tertusuk oleh jarum-jarum beracun ketika dia mendapat perlakuan yang seperti itu. Hatinya mencelos, entah bagaimana pengemis ini bergerak dan ilmu apa yang dihadapinya ini. Mengapa semua kepandaiannya tidak berdaya dan si pengemis ini seperti seorang guru yang menghukum murid mbeling (nakal).

Elang Hitam pun berkata dengan gagahnya, walaupun sebetulnya dia telah merasa gentar sekali.

“Huhh, aku merasa lelah sekali setelah bertempur tadi. Aku tidak punya waktu untuk melayanimu lebih lama, aku pergi dulu!” Sekali kakinya menjejak tanah tubuhnya telah mela-yang ke atas genteng rumah dan lenyap di balik wuwungan rumah.

Pengemis Alis Putih hanya tersenyum saja dan ia membiarkan orang bertopeng itu pergi. Lalu melangkah perlahan memasuki jendela dan mengangkat tubuh Suryo terus dipanggulnya di pundak. Sekali enjot tubuhnya telah melayang keluar dari kamar dan lenyap di balik tembok.

“Suryo, tahukah kau mengapa kubawa ke sini?” “Saya tidak tahu, eyang. Mohon petunjuk eyang yang bijaksana.”

“Hemmm, agaknya sudah menjadi suratan bahwa yang selama ini kutunggu-tunggu dan harapkan telah menjadi kenyataan. Terima kasih, segala puja puji atas kebesar-Mu!” Pengemis Alis Putih bicara sendiri, tidak menjawab pertanyaan Suryo.

“Eyang, saya tidak mengerti maksud eyang.”

“Nanti kau akan mengerti sendiri, Suryo. Kau akan kumatangkan dulu ilmu silatmu Mliwis Putih ajaran ayahmu itu. Kugembleng di sini, di tepi Bengawan Solo ini. Serta ilmu tongkatku akan kuturunkan kepadamu, yaitu Ilmu Tongkat Pengemis Gila. Ilmu silat ini ciptaanku sendiri dan pernah kucoba untuk menghadapi tokoh- tokoh besar di dunia persilatan dewasa ini dan hasilnya……. hi-hi-hi….”

Memang benar Pengemis Alis Putih telah malang melintang di dunia persilatan dan jarang sekali dia mendapat lawan yang dapat menghadapi ilmu tongkatnya. Suatu keuntungan yang besar sekali diterima oleh Suryo ketika dia digembleng oleh pengemis ini.

Mulai saat itu Suryo digembleng oleh kakek pengemis yang beralis putih itu. Mungkin sekali pengemis ini tertarik kepada Suryo ketika melihat Suryo memainkan ilmu silat Mliwis Putih. Apalagi dia menerima nasi pecel lele dari anak muda itu ketika sedang duduk di dekat rumah makan dekat pintu gerbang utara itu. Ilmu silat Mliwis Putih adalah ilmu silat dari sahabat karibnya yang telah lama tidak dijumpainya. Melihat ilmu itu dimainkan Suryo, membongkar kenangan lamanya dengan sahabat nya itu. Ketika Suryo dibawa dan disuruh mencerita kan tentang kuda putih itu di rumah Ki Jagabaya, tanpa sepengetahuan orang-orang di sana Pengemis Alis Putih ini telah mendengarkan semua pembicaraan itu. Dengan duduk nongkrong di atas cabang pohon di dekat ruangan pendopo.

Maka ketika secara kebetulan ia melihat kedatangan Iblis Elang Hitam yang menyatroni rumah kediaman Ki Jagabaya. Ia hanya melihat untuk mengetahui maksud kedatangan iblis itu di sana. Dia sengaja tidak membuyarkan pengaruh sirep yang dilepas Elang Hitam. Hanya mempermainkan Elang Hitam dengan sambitan buah-buah tanjung itu. Akan tetapi kedatangan Melati di luar dugaannya sama sekali dan iapun lalu membisikkan kata-kata melalui tenaga dalam yang hebat yang hanya dapat terdengar oleh orang yang dibisikinya saja. Setelah mengusir pergi Elang Hitam iapun lalu pergi dengan memanggul tubuh Suryo yang masih tetap dalam pengaruh aji panyirep dari Elang Hitam dan membawanya menuju ke tepinya Bengawan Solo.Suryo lalu membuat pondok darurat dan iapun lalu menerima gemblengan ilmu silat tingkat tinggi dari kakek pengemis itu. Caranya mengajar kakek ini sungguh berbeda dengan cara ayahnya mengajar. Sehingga sebentar saja semua ilmu silat yang dikuasainya telah menjadi berlipat ganda ampuhnya. Segala petuah dan nasehat kakek inipun tidak terluput dari perhatian Suryo. Pada suatu malam, Pengemis Alis Putih mengajak Suryo ke tepi bengawan. Air kali bengawan yang melimpah itu terkena sinar bulan. mengkilap bagaikan jalan raya beba hambatan. Pengemis Alis Putih menyerahkan dua batang bambu, lalu menyuruh Suryo untuk turun ke sungai. Merendam tubuh sebatas leher dengan kedua tangan memegang bambu.

“Dua batang bambu itu kaucengkeram yang kuat, kerahkan seluruh tenagamu dan salurkan ke sepasang tanganmu. Jangan memikirkan apapun, hanya ikuti tenaga yang mengalir di tubuhmu itu dan air sungai yang deras akan membantu menimbulkan tenaga berlipat ganda. Atur pernapasanmu dan ikuti ilmu terakhir yang kuberikan. Apapun yang terjadi janganlah mempengaruhi dirimu, serahkan semua kepada-Nya.”

Sambil menerima dua bilah bambu Suryo berkata, “Semua petunjuk eyang, akan saya lakukan.”

Keduanya lalu turun ke sungai untuk membiasakan diri dengan ilmu ini. Suryo menyelam tiga kali dan memasang kuda-kuda. Tubuhnya telanjang terendam air dan yang nampak hanya kepalanya di atas air. Pengemis Alis Putih lalu naik dan duduk bersila di tepi sungai, bersamadhi dengan khusuknya! Ketika tengah malam baru saja berlalu, tiba-tiba terdengar suara ledakan dari arah di mana Suryo berada. Ternyata kedua bilah bambu yang dipegang di kedua tangan Suryo telah pecah! Pengemis Alis Putih lalu membisikkan sesuatu ke telinga Suryo. Kedua tangan Suryo tampak bergerak-gerak aneh. Keduanya lalu tenggelam dalam keadaan masing-masing. Entah untuk berapa lama Pengemis Alis Putih itu menggembleng Suryo di Bengawan Solo itu.

(Oo-dwkz-oO) Bab 8

HARIPUN berlalu dengan cepatnya. Tanpa terasa lagi oleh manusia yang disibukkan oleh problem setiap harinya itu. Pagi pun berganti sore dan malam berlalu untuk kembali lagi digantikan oleh pagi hari. Begitu seterusnya, tanpa kita sadari lagi telah menelan segala sesuatu. Tahu-tahu kita telah menjadi tua dan diganti oleh kelahiran bayi yang mungil! Semua berlalu tanpa terasa oleh kita lagi dan kita terkadang kaget melihat kenyataan ini! Padahal ini sudah menjadi hukum yang berlaku di dunia ini! Tiada yang kekal di dunia ini, semua akhirnya akan kembali kepada-Nya! Semua hanya terjadi menurut kehendakNya semata!

Kita manusia bebas untuk menentukan jalan yang akan kita lalui! Ke mana jalan itu menuju? Inilah yang menjadi persoalan! DIA menginginkan kita kembali kepadanya dan dengan kasihNya telah menunjukkan jalan untuk ditempuh dan dilewati oleh manusia, jalan lurus menuju ke sorga di mana ada kehidupan yang abadi!

Tetapi kenapa? Kita acap kali tidak mendengar suaraNya yang memanggil nama kita! Malah menuruti kemauan sendiri dan hidup me nurut kehendak pribadi. Tidak peduli akan Dia dan meninggalkannya begitu saja. Menutup mata dan menulikan telinga! Mengikuti bisikan setan yang menawarkan janji-janji kosong dan kesenangan dunia yang semu. Akhirnya kita pun akan menjadi budaknya dan berkumpul di neraka jahanam. Api neraka yang abadi menjadi upah para pengikut setan! Kita yang acap kali membuat dosa ini masih dikasihi dan diampuni dosa-dosa kita. Asal saja kita mau bertobat dan menyerahkan diri kita sepenuhnya kepadaNya! Menyerah dengan penuh ketulusan, dengan segala akal budi kita yang lama dan siap untuk diganti oleh yang baru. Dia akan mengubah kita menjadi baru dan membimbing kita di jalan yang benar. Akan membawa kita ke padang rumput yang menghijau dengan air bersih yang melimpah ruah!

Elang Hitam yang telah menjadi budak iblis itu perbuatannya semakin menggiriskan! Mencuri, memperkosa dan membunuh orang di daerah Wonowoso dan sekitarnya. Para pesilat golongan putih menjadi marah dan berusaha untuk menangkap atau kalau perlu membunuhnya. Tetapi sampai saat ini belum juga ada yang dapat menangkapnya.

Banyak sudah korban diantara para pesilat yang berusaha untuk melawannya. Dibunuh dengan sadisnya tanpa mengenai kasihan lagi. Sekalipun begitu, tetap saja berdatangan para jago silat dari delapan penjuru. Mencoba untuk membasmi Elang Hitam.

Tiga bulan telah berlalu semenjak kejadian di rumah Ki Jagabaya. Sekarang pedukuhan Wonowoso penuh dengan kedatangan para pesilat dari berbagai golongan. Banyaknya para pesilat ini di samping menimbulkan rasa tenang dan tenteram, juga menimbulkan persoalan baru lagi. Perkelahianpun tak terelakkan lagi terjadi di sembarang tempat dan di sembarang waktu. Semua ini masih ditambah lagi dengan gangguan dari orang-orang yang mengail di air keruh, mencari keuntungan demi menyenangkan diri sendiri. Merampok rumah-rumah penduduk dusun maupun orang yang kebetulan lewat di jalan yang sunyi. Merampas harta benda tanpa pilih bulu lagi! Semua ini bukan meringankan tugas para perajurit, tetapi malahan menambah beban yang tidak ringan. Para petugas berusaha untuk menanggulangi para perampok dan pencoleng amatiran ini. Tetapi karena jumlah petugas yang sedikit sekali dibandingkan dengan kejadian-kejadian yang terjadi hampir setiap hari dan di sembarang tempat itu. Membuat kewalahan Ki Jagabaya dan semua perajurit yang bertugas menjaga keamanan!

Untung sekali para pendekar dari golongan putih tidak tinggal diam dan berpeluk tangan saja. Mereka selalu berusaha untuk mencegah apabila ada penindasan yang dilakukan oleh si kuat terhadap yang lemah. Membasmi para pencoleng dan perampok yang mengganggu penduduk dan menolong orang-orang di mana saja mereka berada! Para pendekar tanpa pamrih ini betul- betul membantu para petugas keamanan dan menjadi pelindung orang-orang yang lemah dari perbuatan sewenang-wenang.

Di desa Kalikebo yang terletak di sebelah timur Wonowoso, ramai sekali dengan banyaknya orang-orang yang berdatangan. Para pesilat dengan golok dan pedang di pinggang dan bermacam-macam senjata di tubuh mereka juga memenuhi desa itu. Desa Kalikebo hari ini jatuh pada hari pasaran yang hanya terjadi sepasar (lima hari) sekali. Di mana para penduduk biasanya berbelanja untuk memenuhi kebutuhan mereka. Apalagi dengan peristiwa pembunuhan di desa itu dua hari yang lalu, dan yang menjadi korbannya Elang Hitam adalah anak kepala desa.

Para pesilat berdatangan untuk mencari jejak dan kalau mungkin menemukan di mana iblis itu bersembunyi. Membasminya sekalian untuk membuat aman dan tenteram desa-desa yang berada di Wonowoso dan sekitarnya.

Dalam ramainya orang berlalu-lalang di desa itu, seorang gadis cantik berjalan di tengah keramaian pasar. Pakaiannya yang berwarna hijau itu ketat membungkus tubuhnya sehingga menonjolkan lekuk lengkung tubuhnya yang aduhaaiiii….! Baju yang berwarna hijau itu membuat kulitnya yang putih nampak sangat menyolok. Seakan bercahaya saja layaknya. Membuat wajahnya yang cantik itu tambah menarik! Walaupun tanpa bedak dan pemerah bibir. Mulutnya yang kecil dengan bibir yang tipis itu tersenyum menantang, membuat orang yang memandang menelan ludah. Sepasang bintang kembar menghiasi wajah yang berseri- seri seakan mengajak orang tersenyum, apabila kebetulan ada yang bertemu pandang dengannya.

Rambutnya disisir rapi dan dijadikan satu. Diikat dengan sutera hijau bagaikan bentuk ekor kuda. Bergerak-gerak manis sekali dan sedap dipandang mata. Karena gerak tubuhnya membuat rambut itu bergoyang- goyang, indah bukan main. Untaian bunga melati segar menutupi pita itu. Meninggalkan bau harum di belakangnya kalau dara ini lewat.

Sungguh seorang dara pilihan. Siapa yang melihatnya akan terpukau! Terpesona oleh keelokan dan senyu’m di bibir serta sorot mata berseri-seri itu. Akan tetapi, sebatang pedang yang menghiasi punggungnya membuat orang segan untuk berbuat kurang ajar. Dilihat dari depan nampak gagang pedang yang menyembul ke atas di belakang pundak membuatnya nampak gagah perkasa! Kedua kakinya melangkah bagaikan orang yang sedang menari saja layaknya. Begitu gesit dan ringannya kedua kakinya melangkah di jalan, menggoyang pinggul, dan membuat pinggul itu menari-nari sangat indah. Mempunyai daya tarik tersendiri dan membuat orang berkhayal yang bukan-bukan! Dara yang berjalan ini bukan lain adalah Melati, murid Ki Jenggrik. Melati mohon izin turun gunung untuk mencari pembunuh kakak seperguruannya, Kenangasari! Melati merengek kepada gurunya agar diizinkan untuk menuntut balas!

Ki Jenggrik berusaha menahan karena ilmu yang baru saja diturunkan dan dikuasai Melati belumlah sempurna betul. Masih banyak keku-rangan yang dibuat oleh Melati, tetapi Melati nekad mencari Elang Hitam untuk menuntut balas.

Melati yang berjalan di tengah pasar, melihat-lihat keadaan di situ dan tersenyum memandang ke kanan kiri. Kadang dia menyenggol tubuh orang lain karena jalan itu penuh sesak.

Tiga orang lelaki bertampang keren berjalan di belakang Melati. Salah seorang yang bermuka codet, mengulur tangan kanan untuk mengelus pinggul yang merangsang hatinya. Agaknya si Codet ini tidak dapat menahan diri melihat keindahan pinggul dara jelita ini dan pikiran kotor telah meracuni otaknya! Melati bergoyang sedikit, tangan terulur ke belakang dan menangkap serta menarik tangan yang kurang ajar itu. Tanpa dapat dicegah si pemilik tangan menyelonong ke depan. Kaki Melati bergerak sedikit dan si Codet kakinya terkait sehingga tubuhnya menubruk penjual telur di depan……!

Penjual telur yang manis itu terpekik kaget melihat dirinya ditubruk. Sayang sekali…… tubuh yang menyelonong itu tidak sampai pada si penjual telur yang hitam manis itu. Mukanya jatuh tepat di tempat telur yang didasarkan di depannya. Tak ampun lagi si Codet mukanya bagaikan batu menghantam telur!

“Preekkkk….! Crootttt……!!”

Ketika si Codet berdiri, bangun dari kejatuhannya itu ternyata wajahnya telah dihiasi cairan putih dan kuning! Kedua orang kawannya hanya berdiri dengan melongo. Mereka kaget melihat ulah temannya itu. Bagaimana sedang berjalan di keramaian dapat tersandung jatuh. Si Codet dengan kedua tangannya berusaha untuk membersihkan muka dari cairan itu. Memandang mencereng ke arah Melati dengan sepasang mata mengancam penuh kemarahan karena” melihat Melati yang sedang tertawa geli. Si Codet lalu mengajak kedua temannya untuk lekas-iekas meninggalkan tempat itu.

“Eeee….. pak….. e-eee Pakde….. tunggu! Eeee pak- pakde eeee den…… eeee tungguu….! E Pak Pakde……, e- e den tunggu!!”

Sambil berteriak-teriak penjual telur berusaha untuk menahan si Codet, untuk minta tanggung jawabnya dan mengganti kerugian karena telah memecahkan banyak telur.

Baru saja penjual itu nekad mau mengejar ketiga orang yang berlalu pergi itu, pundaknya terpegang orang dan hal ini membuatnya berhenti. Kiranya Melati telah menahan pundaknya sambil tersenyum dan mengulurkan uang.

“Ini untuk mbakyu. Tidak perlu dikejar lagi! Uang ini cukup kan?” Penjual telur yang hitam manis itu mengawasi tangan kanan yang menerima uang dan kedua matanya terbelalak heran. Begini banyak uang pengganti kerugiannya, ia tidak percaya. Tanyanya ragu. “Seee….. see…. semua, den roro!”

“Iya, semua itu untuk mbakyu.” Melati tersenyum lalu pergi meninggalkan tempat itu. Mencari penginapan untuk melewatkan malam.

Tiga bayangan hitam mengendap-endap di belakang rumah penginapan dan menuju ke tempat di mana tadi Melati memasuki kamar. Jendela yang terletak di belakang dicokel dengan golok sehingga terbuka lebar. Kamar itu gelap karena tiada penerangan sama sekali sehingga tidak nampak gerakan di dalam kamar.

Si Codet masuk dengan cara meloncati jendela dan tangan kanan memegang golok terhunus. Agaknya si Codet ingin membalas dendam. Maka siang tadi ia bersama dengan si Kembar menguntit ke mana Melati pergi. Ketika Melati memasuki penginapan, Giyo saiah seorang dari si Kembar mengikuti masuk. Melihat ke arah kanan yang akan ditempati oleh Melati. Setelah tahu, Giyo pun pergi dari penginapan itu untuk menemui si Codet.

“Buk-buk-bukk!” Terdengar suara benda dipukul di dalam kamar gadis itu. Tiba-tiba sesosok tubuh terlempar dari jendela dan jatuh berdebuk di tanah, si kembar Giyo dan Giman maju mendekat. Kagetlah mereka melihat si Codet telentang di tanah. Membangunkannya lalu mereka bertiga bersiap dengan golok telanjang di tangan. Entah pergi ke mana teman nya si Brewok salah seorang dari Empat Golok Setan itu. Mengapa tidak bersama mereka!

Melati berkelebat datang dan mengawasi mereka bertiga dengan senyum mengejek. “Orang-orang yang tak tahu diri. Setelah kuampuni siang tadi masih berani lagi menunjukkan batang hidung di depanku. Agaknya kalau kalian tidak dihajar, kalian tidak akan kapok!” katanya kepada tiga orang itu.

“Keparat! Hari ini, jangan harap kau dapat terlepas dari tanganku. Ketahuilah kami bertiga adalah sisa dari Empat Golok Setan. Menyerahlah sebelum golokku ini yang bicara!” Si Codet mengenalkan diri dan mengancam Melati.

Sedangkan yang diancam hanya mengeluarkan suara mengejek. “Majulah kalian tiga kerbau dungu. Nonamu akan memberi hadiah yang adil. Kalian bertiga akan menerimanya segera!” Melati menatap ketiga lawannya. Berdiri tenang di tengah siap untuk menerima serangan lawan.

Si Codet yang pertama kali membuka serangan. Goloknya berkelebat mengarah leher dan Giyo serta Giman datang membantu. Giyo membacok kaki sedangkan Giman menusukkan goloknya ke arah perut. Melati yang diserang dari tiga jurusan, melompat ke samping kanan menghindar sambil memutar kaki dan melayangkan tendangan ke arah Giyo.

“Plaakkkk!” Tangan Giyo yang memegang golok terkena tendangan. Ini semua terjadi karena Giyo memandang rendah gadis remaja itu. Tidak tahunya gadis yang masih begitu muda itu ternyata telah memiliki kegesitan dan kecepatan yang sangat mengagumkan. Melihat temannya dalam sekali serang telah tertendang tangannya. Ketiganya lalu berlaku hati-hati. Mereka menyerang secara teratur dan rapi, saling melindungi dalam serangan yang saling bantu bergantian.Melati berkelebatan cepat di antara sambaran golok lawan. Kadang tangannya bergerak cepat mengadakan serangan balasan. Pertempuran itu telah membangunkan para penghuni penginapan, yang merasa berani lalu keluar sambil membawa obor.

Diterangnya cahaya sinar obor, ketiga orang itu mengamuk dengan golok mereka berkelebat an mencari mangsa. Telah puluhan jurus mereka bertempur dan Ketiga Golok Setan merasa kecele. Dara remaja lawannya itu ternyata adalah dara pendekar yang luar biasa. Walau pun dengan tangan kosong ia dapat membuat ketiga orang itu kewalahan.

Melati yang melihat kedatangan para penghuni penginapan merasa bahwa saatnya telah tiba untuk segera bertindak. Ternyata sejak tadi Melati yang hanya mengelak saja dari serangan ketiga orang itu kini mulai melakukan serangan balasan.

”Plakk! Plakk! Plakkk!”

Terdengar suara nyaring dari pipi yang tertampar. Entah bagaimana tahu-tahu ketiga orang itu telah mendapat tamparan di pipi kanan. Kini ketiganya semakin bertambah marah. Tamparan itu walaupun tidak keras namun karena sekarang telah banyak orang menonton perkelahian itu mereka merasa malu sekali.

”Mampus kau!” Si Codet memutar goloknya menerjang. Dua orang menjaga di kanan kiri. Kelebat golok si Codet dielakkan dengan loncatan tinggi di udara dan kedua kakinya me-nendang ke kanan kiri. Tahu-tahu kedua orang kembar menjerit di belakangnya. Ketika si Codet menengok, sepasang matanya terbelalak! Apakah sebetulnya yang terjadi? Ternyata Giyo dan Giman telah menggeletak pingsan akibat terkena tendangan terbang Melati. Tendangan yang mengenai kepala keduanya hampir berbareng.

Si Codet merasa jerih, tanpa dapat dicegah lagi tubuhnya gemetar. Mau lari, malu kepada para penonton yang memenuhi tempat itu dan kalau tidak lari dia akan celaka. Daripada menjadi korban cemoohan lebih baik ia melawan mati-matian untuk mempertahankan kebesaran nama Empat Golok Setan. Walau kalah namanya tidak akan terlalu jatuh di mata para penghuni penginapan itu. Memang kemarahan akan membuat darah berjalan lebih kencang karena jantung lebih cepat berdenyut. Sabar itulah jalan yang terbaik, sabar menerima keadaan yang menimpa diri dan mengakuinya dengan terbuka. Bukannya kemarahan yang menguasai hati dan meng gelapkan jalan pikiran. Si Codet seharusnya menyadari kekalahannya. Secara jantan mengaku kalah dan menyadari kesalahan yang telah diperbuatnya. Bukannya malah menggerakkan golok dan menyerang membabi buta seperti yang dilakukan oleh si Codet terhadap Melati.

Tanpa kesukaran Melati lalu menghajar orang yang telah menjadi nekat ini. Begitu golok si Codet datang membelah kepala, Melati miringkan tubuhnya dan tangan kirinya bergerak mengetok sambungan siku serta kaki kirinya menyusul dengan tendangan menyam-ping. Tanpa ampun lagi perut si Codet terhajar dengan telak dan isi perut bagaikan dihantam besi. Tangan kanan yang memegang golok begitu kena totokan, membuat golok yang dipegangnya terlepas. Tanpa ampun lagi si Codet terpental dan pingsan sebelum mencapai tanah.

Melati melihat sejenak ketiganya lalu memanggil orang-orang yang menonton di situ untuk membantu mengangkat tubuh ketiga orang Golok Setan yang pingsan dan membawa mereka ke dalam penginapan. Orang-orang itu setelah meletakan ketiganya di meja lalu berusaha untuk menyadarkannya! Melati lalu ke tempat kasir dan membayar sewa kamar. Ia tidak mau menjadi perhatian dan pembicaraan penghuni penginapan itu. Dia memutuskan untuk segera meninggalkan tempat itu. Dia kembali ke kamar mengambil bekalnya dan keluar dengan cepat menggunakan ilmunya meringankan tubuh. Sekali menggenjot kaki, tubuhnya telah melayang menembus gelapnya malam. Dengan cepat Melati lalu me ninggalkan desa Kalikebo, mencari tempat untuk bermalam di tempat terbuka.

(Oo-dwkz-oO) Bab 9 (Tamat)

“CEPAT DI SANA. Cegatt! Jangan sampai lolos!” “Kepungggg…..! Tangkaappp….!!”

“Dia beriari ke utara! Haayooooo, keejaarrr……!”

Teriakan banyak orang menguak keheningan malam. Para pesilat yang memergoki Elang Hitam berusaha untuk mencegat dan mengeroyok dengan senjata mereka. Akan tetapi, Elang Hitam dapat meloloskan diri dan lari menuju ke utara, ke arah hutan yang membentang dengan lebatnya.

Teriakan-teriakan riuh memenuhi udara di malam yang dingin itu ketika mengejar ke utara dengan senjata terhunus dan menyambit dengan segala macam senjata rahasia. Tiba-tiba berkelebat bayangan kecil menghadang di depan Elang Hitam. Tanpa banyak suara terus melakukan serangan dengan pedang menusuk perut. Elang Hitam mengelak kesamping dan tangan kanannya mencakar wajah. pielakkan lawan dan dibalas dengan putaran pedang membabat lehernya. Elang Hitam membungkuk mengelak, dan tangan kanannya kembali mencakar perut dengan maksud membelah perut orang yang telah membuat pelariannya menjadi tertunda. Elang Hitam agaknya hendak menewaskan lawannya ini dengan cepat. Serangan susulan dengan ganas sekali menggebu datang ketika serangannya tadi dapat dielakkan. Ternyata yang mencegatnya ini adalah seorang dara remaja yang cantik jelita, mengenakan pakaian hijau yang bukan lain adalah Melati! Benar! Melati yang melihat orang berkejaran dari arah selatan dan sayup-sayup terdengar teriakan-teriakan dari banyak orang yang mengejar penjahat Elang Hitam yang beriari cepat menuju ke arahnya. Maka tanpa ragu sedikitpun, biarpun hanya seorang diri Melati mencegat Elang Hitam. Dia ingin mem balas dendam atas kematian kakak seperguruannya, Kenangasari!

Begitu bayangan Elang Hitam datang, pedangnya berkelebat menyambutnya, sayang sekali tidak mengenai sasaran. Elang Hitam sekarang ini piawai luar biasa dan agaknya ada daya gaib yang membentengi badannya. Cakaran Elang Hitam mengeluarkan desir angin dingin yang berbau amis, mungkin sekali tangan itu mengandung racun yang sangat ampuh.

Melati pun segera mengeluarkan segala ilmu yang telah dipelajarinya dari Ki Jenggrik gurunya. Berusaha untuk menahan serangan Elang Hitam dan membalas tak kalah hebatnya. Keduanya segera terlibat dalam pertempuran yang seru dan memperjuangkan untuk dapat dengan cepat membunuh lawan. Melati yang ingin membalas dendam terhadap pembunuh kakak seperguruannya itu, sedangkan Elang Hitam ingin cepat dapat meloloskan diri dan lepas dari pengejaran para pesilat di belakangnya. Suara kaki para pengejar sudah semakin nyata terdengar, menandakan tidak berapa lama lagi mereka akan datang ke tempat itu.

“Keroyokkk! Maajuuuuu…… bunuh Elang Hitam!!” “Kawan-kawannnn…… majuuuu…..! Kita bikin lumat

tubuh Elang Hitam keparat itu! Maajuuuuu……!!”

Dan hujan senjata meluruk ke arah Elang Hitam. Sambil mengeluarkan suara melengking nyaring Elang Hitam menggerakkan tangan mengibas senjata yang datang. Angin menderu keluar dari tangan yang mengibas membuat banyak senjata terpental ke udara dan jatuh di tanah mengeluarkan suara nyaring. Tetapi para pengeroyok berdatangan semakin banyak. Melati sendiripun menjadi tidak leluasa geraknya karena banyaknya para pengeroyok membuat permainan pedangnya tidak dapat dikembangkan. Melati hanya berjaga-jaga saja dan kadang menyerang untuk mengundurkan Elang Hitam yang mendesak para pengeroyok itu.

Kemarahan yang meluap-luap melebihi takaran memenuhi benak Elang Hitam, kedua tangannya lalu bergerak ke balik baju dan cepat sekali kedua tangan itu ditarik keluar memba-bat ke arah pengeroyoknya.

”Wuttt! Wuttt-wutt-wuttt!!” “Aduhhhhh mati aku!” “Aduhhh perutku robek!” “Edan ane. Sikilku kecakar!”

“Aduhhh…. aduhhhh, tolonggggg!!”

Teriakan-teriakan kesakitan terdengar saling susul dari orang-orang yang terluka. Melihat hasil ini Elang Hitam tertawa bergelak-gelak saking senangnya dapat membuyarkan pengepungan itu dalam sekali serang saja. Tanpa mengenai ampun Elang Hitam menggerakkan cakar besi di tangan mencari mangsa, mencakar tubuh- tubuh yang belum menjadi korbannya. Dengan buas dan kejamnya Elang Hitam menggerakkan cakarnya merajang tubuh yang telah berjatuhan itu. Korbanpun berjatuhan dengan cepatnya. Pesilat-pesilat yang masih tanggung- tanggung itu bagaikan rumput-rumput yang dibabat saling susul berjatuhan! Melati mengeluarkan siulan tinggi melengking menembus kegaduhan. Pedangnya diputar cepat sekali di depan muka sehingga dari ujung pedang yang diputar cepat itu keluar angin menyedot yang kuat sekali. Pakaian Elang Hitam berkibar karena tarikan ini. Elang Hitam kaget sekali melihat dara remaja ini ternyata telah mendapat ilmu yang ampuh sekali. Agaknya ilmu yang baru saja diciptakan Ki Jenggrik, karena belum pernah ia mendengar pedang dapat mengeluarkan angin yang dapat menyedot. Sedotan yang luar biasa kuatnya seakan angin pusing beliung berlalu yang menghancurkan semua yang dilanda. Inilah yang menjadi inti ilmu pedang Melati.

Elang Hitam mengeluarkan lengkingan tinggi menggetarkan jantung. Membuat para pendekar yang tidak kuat tenaga saktinya saling berjatuhan sambil mendekap dada dan telinga bergantian. Mereka bingung mana yang terasa lebih sakit, jantung atau telinganya. Saking sakitnya mereka tidak dapat mengontrol dirinya lagi. Bergulingan di atas tanah sambil menahan sakit. Malah ada yang menjerit-jerit.

Belum hilang gema lengkingan itu, tangan kanan Elang Hitam mendorong ke depan. Senjata yang tadi dipegang di tangan kanan telah pindah ke tangan kirinya. Sinar kehitaman meluncur dari tengah telapak tangan itu langsung menuju ke tengah pusaran pedang Melati.

“Duarrrr!”

Ledakan dahsyat sekali terdengar akibat dari dua tenaga raksasa yang bertemu. Keduanya terpelanting ke belakang, Elang Hitam terlempar dua langkah sedangkan Melati terlempar bagaikan sehelai daun kering tertiup angin kencang. Dengan kepala lebih dulu meluncur ke arah sebatang pohon di belakang dengan cepat. Dapat diduga nasib Melati! Kepala itu pasti akan pecah kalau kena batang pohon! Ternyata Melati telah pingsan akibat benturan tenaga tadi!

Berkelebat bayangan bagaikan asap menanti tubuh Melati di depan pohon, tangannya terulur menerima tubuh Melati. Bagaikan menangkap benda yang ringan sekali orang itu menerima tubuh Melati lalu membaringkannya di tanah. Memeriksa sebentar, lalu mengurut sana-sini menyadarkan Melati. Melati membuka mata dan melihat wajah tampan penuh senyum di atasnya, segera dia meloncat berdiri dengan kaget dan heran sekali, bagaimana dia dapat terbaring di dekat pohon.

“Siapa kau?”

“Tenang, nona. Nona tidak kurang suatu apa. Hanya pingsan akibat benturan tenaga dalam yang membalik membuat nona jatuh pingsan.”

“Ohh,” Melati ingat apa yang baru saja terjadi. Ketika ia memutar pedang menahan pukulan Elang Hitam dan terjadi benturan dahsyat. Dia mengawasi ke arah pertempuran di mana Elang Hitam masih dikeroyok banyak pesilat.

Suryo mengawasi wajah di depannya penuh kagum. Sungguh cantik dan senyum itu…. wah, manisnya! Bagai tertarik magnit seluruh perha tian Suryo menatap wajah nan jelita di depannya. Suryo kaget ketika Melati menegur. “Apa yang kau pandang? Mengapa tidak lekas membantu mereka?”

“Aku…. aku…. cantik…. aku cantik, ohh cantik!”

Melati tertawa melihat si pemuda gagap. Pertanyaannya mendapat jawaban yang lucu. Tidak sejalan. “Sialan!” pikirnya. Tampan-tampan kok linglung! Melati menunjuk ke arah pertempuran dan kembaii berkata. “Bantulah mereka!”

Suryo sadar! Warna merah jambu memenuhi wajahnya yang tampan. Pandangan matanya beralih dari wajah itu dan melihat ke arah medan pertempuran. Begitu melihat Elang Hitam membantai para pengeroyok, tanpa berkata sesuatu Suryo menggerakkan kakinya. Bagaikan asap saja tubuhnya telah lenyap dari depan Melati. Begitu hebatnya kepandaian pemuda yang tampan itu. Melati pun meleletkan lidahnya! Tangan kanan pemuda baju putih itu terulur ke depan, menyambar ke arah senjata cakar di tangan kanan Elang Hitam. Melihat angin dingin meluncur ke arah senjata Elang Hitam mengeluarkan dengus mengejek. Tangan kanannya berputar menyambut tubuh itu dengan sejata cakar besinya.

”Plakkk!”

Para penonton hanya melihat tubuh Elang Hitam yang terlempar ke udara, akan tetapi tidak tahu bagaimana pemuda itu bergerak. Elang Hitam sendiripun kaget tidak terkira! Begitu cakar besinya menyambut bayangan itu, tiba-tiba ia merasa tangan yang memegang cakar besi itu lumpuh dan tahu-tahu tubuhnya telah dilempar ke udara. Semangat Elang Hitampun terbang melayang mengikuti tubuhnya yang mengapung cepat seakan bola yang dilempar ke udara. Elang Hitam menenangkan diri dan mengatur keseimbangan tubuhnya ketika meluncur turun. Elang Hitam mengawasi lawan yang baru datang dan pandang matanya bertemu dengan sepasang mata yang tajam, akan tetapi lembut. Wajah seorang pemuda belasan tahun yang tampan sekali dengan senyumnya yang menawan. Elang Hitam menjadi penasaran! Tidak mungkin bocah itu telah memiliki kepandaian yang begitu tinggi dan dalam satu gebrakan saja dapat membuatnya terlempar. Mungkin tadi ia terlalu memandang rendah lawannya.

Suryo memandang ke sekeliling sambil tersenyum, lalu berkata perlahan. “Harap semua mundur. Biarlah saya yang menghadapi iblis ini sendiri saja.” Begitu habis ucapannya, Suryo melihat dari arah utara datang serombongan orang. Nampak paling depan berjalan Ki Jagabaya. Sungguh. tajam sekali pandang mata Suryo sekarang yang dapat melihat orang dalam jarak sedemikian jauhnya! Elang Hitam pun menoleh ke belakang. Celaka dari depan dan belakang dia telah terkepung. Para pesilat yang berada di Wonowoso agaknya juga mendapat kabar. Sehingga dipimpin oleh Ki Jagabaya sendiri datang mencegat. Mata di balik topeng itupun menyorot tajam penuh kemarahan yang menyala di sepasang matanya. Diapun lalu membuat gerakan untuk mengeluarkan ilmu yang tertinggi yang dimilikinya. 

Melihat lawan telah membuat persiapan untuk menyerangnya, Suryo pun lalu menyiapkan dirinya. Kedua kakinya bergerak maju mundur depan dan ringan sekali. Menanti kalau lawannya menyerang lebih dahulu untuk dapat membalas dengan tepat.

Elang Hitam melihat Suryo hanya maju mundur di tempat dan senyum mengejek tersungging di mulut, menjadi tidak sabar. Tanpa memberi peringatan lebih dulu dia lalu menggerakkan sepasang cakar besinya. Tangan kanan mengarah pelipis dan tangan kiri merobek perut.

Melihat serangan ini Suryo berputar cepat sambil tundukkan kepala mengelak dan melangkah maju ke depan menghindari cakaran kearah perut. Ia seolah dapat membaca serangan lawan. Kalau ia mundur mengelak, maka sepasang cakar itu pasti datang menyerang tanpa ampun lagi. Tanpa memberi kesempatan untuk menyusun strategi. Suryopun lalu menggerakkan tangannya untuk menusuk ketiak lawan yang terbuka. Mengarah jalan darah ke jantung.

Elang Hitam pun bukanlah jagoan kemarin sore. Dia telah berpengalaman dengan pertem-puran seru dan telah banyak lawan-lawan tangguh dibabatnya dengan mudah. Mampus oleh senjata cakar besinya, sehingga sampai sekarang dia dapat malang melintang dan merajalela mengumbar nafsunya yang bejad dan kesadisan dalam membunuhi lawan yang dikalahkannya.

Elang Hitam meloncat maju ke depan lalu membalik dan tangan kanan bergerak menyerang ke belakang kepala Suryo didahului angin dingin yang menyambar. Suryo menekuk sebelah kakinya dan membalik dengan cepat sambil menyapu kedua kaki Elang Hitam. Elang Hitam kaget sekali mendapat sapuan beruntun ini yang kelihatannya sederhana, akan tetapi semua gerakan silatnya sungguh mengagetkan dan di luar dugaan.

Begitu mendapat serangan balik itu Elang Hitam meloncat ke atas dan dari atas kedua cakar besinya bergerak bergantian. Suryo pun mengelak dan membalas serangan itu. Serangan ilmu silat cakar itu dilawan dengan ilmu silat Mliwis Putih yang kelihatan jinak namun sukar sekali ditangkap. Keduanya berkelebatan cepat yang nampak hanya bayangan hitam dan putih bergabung menjadi saling belit dan berkejaran cepat, terkadang berputar-putar.

Penonton yang memenuhi lapangan di dekat hutan selatan Wonowoso menjadi kagum dan heran, merekapun menduga-duga siapa gerangan anak muda yang tampan dengan senyum di bibir amat manisnya. Tiada seorangpun yang mengenai pemuda itu.

Ki Jagabaya telah sampai di tempat itu. hatinya marah sekali. Inilah orang yang telah melukainya dan membunuh anaknya, Kenangasari. Ingin dia menuruti dorongan hatinya untuk mencacah Elang Hitam dijadikan bakso. Tapi, melihat pertempuran itu hatinya mendelong! Keduanya sungguh sukar untuk dilihat mana yang menang mana yang kalah, tidak seorangpun yang tahu. Melihat juga datang mendekat untuk dapat melihat dengan jelas, dia maju untuk bersiap diri kalau-kalau elang Hitam dapat mengalahkan pemuda itu.

Begitu melihat kedatangan Ki Jagabaya Melati lalu menghampiri untuk memberi salam dan keduanya bercakap-cakap sambil menonton perkelahian adu nyawa itu. Ki Jagabaya menanyakan siapa sebenarnya pemuda itu. Melati menerangkan ciri-ciri si pemuda sambil menunjuk ke arah pertempuran. Ki Jagabaya mengerutkan kening, mengingat-ingat, mungkinkah anak itu anak yang lenyap dari rumahnya secara misterius? Diapun kembali teringat kejadian itu. Tatkala dia tersadar dari pengaruh aji penyirepan orang. Ki Jagabaya mengolet menarik otot-otot punggung yang terasa kaku, Sejenak bingung mengapa ia tertidur di kursi, pastilah ada yang tidak beres di rumahnya, hatinya berdebar dan dia meneliti seluruh ruangan dan kamar, akan tetapi kamar Suryo kosong dan jendela kamar itu terbuka. Pergi ke mana gerangan anak itu? Otaknya penuh tanda tanya.

Ketika Ki Jagabaya memeriksa para penjaga, diapun bertambah kaget melihat para penjaga tertidur. Tidak biasanya semua ini terjadi dan Ki Jagabaya semakin bingung. Harta bendanya masih lengkap tidak ada yang hilang, hanya anak muda yang menjadi tamunya. itu lenyap tak berbekas. Ki Jagabaya melihat ke arah adu jiwa itu. Tepat pada saat kedua orang yang sedang bertarung itu terpisah beberapa langkah. Ki Jagabaya mengawasi si pemuda tampan dan tak terasa berbisik. “Tak salah lagi! Pasti dia. Wajahnya itu….. aku tak akan lupa sampai kapanpun. Suryo….. ya, Suryo….. kelana dari Mataram itu!!”

Orang yang di samping kirinya dan Melati yang berada di kanannya itu menoleh memandang Ki Jagabaya yang berbisik pelan. Salah dengar membuat orang mendengar nama SURYO LELONO dari Mataram. Tanpa sadar lagi, berteriaklah orang yang berdiri di kiri Ki Jagabaya.

“Hidup Suryo Lelono! Pendekar Suryo Lelono…… hiduuuppppp!!” Teriakan ini disambut oleh teriakan yang sambung menyambung dari banyak pesilat membelah angkasa.

“Hidup Suryo Lelono! Hidup Suryo Lelono!” “Hiiduuppppppp… !!”

“Hiiduuupppppppp !!”

“Bunuh Elang Hitam!!” “Buunuuuhhhhhhh… !!”

Sorakan gegap gempita ini menciutkan hati Elang Hitam. Matanya jelalatan memandang ke sekeliling. Ternyata dia telah terkepung. Tanpa sadar para pesilat itu telah membuat lingkaran mengepung Elang Hitam sambil berteriak-teriak memberi semangat dan mengacung-acungkan senjata ke atas. Suara teriakan ini membuat Elang Hitam menjadi lengah.

Tangan Suryo yang menyambar dari jarak dekat tadi tak dapat dielakkannya, pundaknya terkena tamparan tangan kiri dan kancing baju depan dadanya lepas tercomot sambaran tangan kanan Suryo. Suryo mengamati kancing baju itu. Tangannya merogoh saku bajunya mengeluarkan kancing baju hitam yang dipungutnya dari tangan Kenangasari di hutan itu. Mengamati kedua kancing baju itu dan melihat persamaannya. Ternyata keduanya sama benar! Jadi inilah iblis yang sadis dan telah membuat teror di Wonowoso itu.

Melihat keadaan pemuda itu, Elang Hitam mengira mendapat kesempatan baik. Sambil meloncat Elang Hitam menggerakkan sepasang cakarnya menyerang Suryo yang sedang diam mematung itu. Inilah kesalahan fatal yang dibuat Elang Hitam. Sebetulnya Suryo selalu siaga menghadapi lawan ini. Melihat serangan sepasang cakar besi itu Suryo menggerakkan kedua tangan menyambut dilambari dengan tenaga dalam yang hebat.

“Plaakk! Plaakkkk!!”

Sepasang cakar mencelat ke udara! Melayang jauh entah ke arah mana? Akibat tangkisan Suryo yang telah mengetahui siapa Elang Hitam itu.

Para penonton yang melihat serangan Elang Hitam tatkala Suryo sedang menunduk melihat kancing itu, kaget dan merasa pasti bahwa pemuda itu tentulah menjadi korban sepasang cakar besi yang ampuhnya menggila. Tapi, apa yang terjadi sungguh-sungguh di luar dugaan mereka semua!

“Hooreeeee… !!”

“Mampus kau sekarang elang keparat!”

“Menyerah saja! Aku akan membuat perkedel dari dagingmu!”

Tubuh Elang Hitam kelihatan menggigil, gentar! Tetapi kemarahan lebih menguasai hatinya maka diapun lalu berkata. “Keparat aku belum kalah!”

“Mampus kau sekarang, elang brondoll!” “Ha-ha-ha……!!”

Elang Hitam menggerak-gerakkan tangan. Suara berkerotokan terdengar nyata. Mata penonton melotot melihat tubuh Elang Hitam bergetar hebat. Tiba-tiba dari tubuhnya keluar lah asap hitam melindungi tubuh itu dari pandangan. Elang Hitam telah terbungkus kabut hitam yang berbau bangkai! Inilah agaknya ilmu tingkat tinggi yang dianut Elang Hitam. Suatu ilmu hitam yang dahsyat dari pemuja setan yang sudah tidak ketulungan lagi!

Udara dingin menyelimuti arena pertempuran. Orang- orang yang bersorak-sorai menjadi sirap dan meremang bulu kuduk mereka. Semua terkena pengaruh ilmu yang dikeluarkan Elang Hitam. Suryo menatap tajam semua gerakan yang dilakukan Elang Hitam, hati kecilnya berbisik, “Sungguh hebat itu. Orang ini agaknya sudah menjadi budak setan, dan kuasa gelap telah me nyelimuti tubuh itu sampai tiada nampak lagi!” Teringat Suryo akan petuah gurunya, Pengemis Alis Putih. Terang akan mengalahkan kuasa gelap. Semua kuasa gelap tiada satupun yang akan dapat mengalahkan terang dari Tuhan. Suryo menetapkan hatinya dan memejamkan sepasang matanya, menujukan segenap akal budi, hati, dan jiwanya kepada Dia! Menggerakkan kedua tangannya dan…… kedua tangan itu bergetar makin lama makin cepat saking cepat nya kelihatan seakan-akan berhenti! Suryo membuka matanya lalu memandang ke depan. Sepasang mata itu bersinar lembut menembus segala kabut yang menutup tubuh Elang Hitam. Iapun dapat melihat gerakan yang dilakukan Elang Hitam di dalam kabut hitam itu. Tiba-tiba ia melihat Elang Hitam menggerakkan kedua tangannya mendorong ke depan.

Bau bangkai menyengat hidung dan nampak kedua tangan bercahaya, dari tengah-tengah telapak tangan itu keluar sinar hitam meluncur ke arah Suryo berdiri. Suryo pun mengangkat kedua tangan dan mendorongkannya ke depan.

Orang-orang yang mengelilingi tempat itu melongo, takjub! Kejadian malam ini tidak akan mereka lupakan seumur hidup! Menjadi dongeng bagi anak cucu mereka, apa yang dilihatnya malam ini. Sungguh sukar diterima oleh akal akan tetapi mereka menyaksikannya dengan mata kepala sendiri. Tangan Suryo yang mendorong ke depan dan memapaki dorongan kedua tangan Elang Hitam itu dari tengah-tengah telapak kanannya meluncur sinar merah, sedangkan tangan kiri itupun tengahnya keluar sinar putih. Kedua sinar merah dan putih meluncur ke depan menyongsong sinar hitam!

Apa yang terjadi kemudian? Kedua sinar merah dan putih itu bertemu dengan kedua sinar hitam di tengah udara di antara mereka berdua. Sinar merah dan putih itu mendorong kedua sinar hitam kembali ke arah pemiliknya tak tertahankan oleh apapun. Menembus kabut hitam!

“Aauuhhh……!” Terdengar teriakan lirih Elang Hitam.

Kabut hitam menghilang! Elang Hitam telentang di atas tanah, mati! Kedua matanya melotot tak percaya!

Ternyata sinar dwiwarna telah melanggar dadanya. Tiada luka yang nampak di kulit. Aneh tetapi nyata! Jalan hitam tak dapat menahan ampuhnya dwiwarna, senjata sinar yang bersatu padu! Menghancurlumatkan angkara murka yang dikuasai iblis yang mengganggu ketenangan dan ketenteraman penduduk dan rakyat di sekitar Wonowoso. Hanya dengan persatuan sinar merah dan putih itu dapat menerobos kuasa gelap yang dikeluarkan Elang Hitam.

Orang-orang yang tadinya terkesima, kemudian bersorak lalu maju sambil mengangkat senjata. Siap untuk membuat daging cacahan dari tubuh Elang Hitam. Mereka bergerak se-rentak maju bagaikan mendapat komando. ”Tahan! Tahan saudara. Tahan senjata!”

Terdengar suara lantang mencegah. Orang-orang itu berhenti. Akan tetapi siap untuk maju kembali. Senjata di tangan mereka bergerak-gerak. Suryo berdiri sambil mengangkat kedua tangan. “Jangan tergesa dulu, tunggu! Kita semua bukanlah iblis yang haus darah! Ingat, tubuh Elang Hitam itu tidak berdosa sama sekali. Biarpun perbuatan Elang Hitam telah nyata, tidak perlu kita contoh!” Suryo memandang tajam ke sekeliling. Orang yang bertemu pandang menunduk, malu! Mereka sadar telah terbakar emosi dan mau menghancurkan jasad yang tiada tahu apa-apa itu. Ucapan anak muda itu menyadarkan mereka! Mereka mundur kembali, menanti apa yang akan terjadi. Kemarahan dan sakit hati telah terusir pergi dari hati mereka. Memandang tubuh Elang Hitam yang tergolek di tengah.

”Buka topengnya!!”

Entah siapa yang bicara ini. Semua hampir bersamaan menyambut.

“Setujuuu!!” Mereka semua ingin tahu, siapakah orang bertopeng yang telah mengacau dan membuat kerusuhan di Wonowoso dan sekitarnya itu. Ki Jagabaya maju ke depan, menarik kedok hitam dan…… bengong terlongong dengan mulut terbuka dan matanya terbelalak lebar! Mukanya pucat, pandangan matanya tak percaya!

Mengapa Ki Jagabaya sampai terlongong begitu kedok itu terbuka dan melihat wajah itu. Ia segera mengenalnya dengan baik! Elang Hitam ternyata adalah Ki Wonowoso, orang yang paling terpandang dan terhormat di Wonowoso! Hatinya seakan membantah melihat kenyataan ini. Tidak mungkin orang yang demikian baik, rela mengorbankan banyak uang untuk berpesta tiga hari tiga malam. Ternyata adalah penjahat terkutuk!

Sedangkan Ki Wonowoso telah mengumumkan, barang siapa dapat membekuk atau membunuh Elang Hitam si penjahat keji, akan menerima hadiah seribu uang emas, pengumuman ini dipasang di seluruh tempat di Wonowoso. Tetapi apa kenyataannya? Kiranya dia sendirilah biang keladinya. Sungguh sukar untuk diterima dengan akal sehat, tetapi kenyataannya tidak dapat dibantah! Kenyataan adalah bukti paling kuat. Bukti dari segala perbuatan yang kita lakukan dan lihat atau dengarkan.

“Dia…… dia Ki Wonowoso!!”

“Ya benar. Aku juga mengenalnya!” “Uaaahhhhhh, edan….. kurang apalagi orang itu?” “Busyeeettttt…….!”

“Remuk saja mayatnya, beres!!” Orang-orang itu bicara saling sahut tidak karuan. Begitu mereka mengenai orang di balik topeng itu! Mendongkol, marah, tidak percaya dan entah perasaan apalagi yang memenuhi benak mereka! Sambil menyumpah-nyumpah mereka pergi, kembali ke tempat masing-masing di mana mereka tadi menginap. Yang tertinggal di tempat itu hanyalah Melati, Ki Jagabaya dan para perajuritnya, Suryo juga belum meninggalkan tempat itu, memandang wajah Melati yang membetot pandang matanya.

Ki Jagabaya lalu menyuruh para perajurit untuk mengurus jenazah Ki Wonowoso. Mengubur mayat itu dengan semestinya. Ki Jagabaya memandang Melati dan Suryo bergantian dan berkata, “Melati, semua telah selesai dengan lancar. Rahasia Elang Hitam telah tersingkap dan semua sungguh di luar dugaan. Aku tidak menyangka sama sekali! Ki Wonowoso yang begitu baik, dermawan dan terhormat itu adalah…..” Ki Jagabaya tidak meneruskan bicaranya. Termenung! Lama sekali ia berada dalam keadaan seperti itu.

Suryo dan Melati saling beradu pandang, diam dalam keadaan seperti patung. Semua orang berdiam diri mengikuti jalan pikiran masing-masing.

Suryo sadar dari keadaan yang tidak semestinya itu dan diapun lalu berkata. “Paman Jagabaya.” Suryo sekapang memanggil Ki Jagabaya dengan sebutan paman. Ki Jagabaya tersentak, lalu memandang Suryo sejenak kemudian memandang Melati. Pasangan yang serasi, bisiknya dalam hati. Kemudian ia menjawab.

“Suryo, paman mengucapkan terima kasih sebesar- besarnya. Paman juga mewakili seluruh penduduk sekitar Wonowoso mengucapkan terima kasih kepadamu yang telah berhasil menyingkap misteri Elang Hitam!”

“Aahhh, Paman. Itu sudah sewajarnya, Paman tidak usah repot-repot mengucapkan terima kasih segala.”

“Tidak Suryo. Paman tadi benar.” Melati pun menyela. “Ha-ha-ha…….. mengapa harus bertengkar?” Dan

ketiganya saling pandang, tertawa hampir bersamaan karena merasa lucu. Lucu tentang keadaan mereka ini. Suryo pun teringat bahwa dia belum memberitahu di mana tempatnya Kenangasari dikuburkan. Lalu iapun menjelaskan kepada Ki Jagabaya di mana letaknya kuburan Kenangasari itu. Melati memandang Suryo penuh kagum. Ini semua tidak terlepas dari pandang mata Ki Jagabaya yang telah banyak pengalaman. Hemmm, agaknya si Melati menaruh hati pada anak muda itu. Sebelum Ki Jagabaya berkata, Suryo telah mendahului. “Paman, semua persoalan telah selesai. Saya mohon pamit, untuk melanjutkan perjalanan.”

Melati tidak dapat menahan diri untuk tidak berbicara, tetapi tidak jadi. Memandang wajah Suryo penuh pertanyaan.

Suryo kebetulan juga menoleh memandangnya dan dua pasang mata beradu pandang. Berbagai perasaan mengaduk dalam hati kedua teruna itu dan membuat keduanya tersenyum dan wajahnya kemerahan tersipu malu.

”Ke mana nak Suryo akan pergi?”

Pertanyaan ini membuyarkan kedua teruna itu dari keadaannya. Tanpa disadari hampir berbareng keduanya menunduk, sambil tersenyum kecil.

“Melanjutkan perjalanan untuk mencari arti kehidupan dan meluaskan pengalaman, Paman.”

“Sungguh nikmat dan senangnya. Dapat mengembara bagaikan seekor burung di udara terbang bebas ke mana pun ia suka.” Melati menyela.

“Melati, mari, antarkan aku untuk mencari tempat di mana kakak seperguruanmu itu dimakamkan.”

Ketiganya lalu berpisah. Suryo kembali ke timur, berjalan pelan. Baru belasan langkah menoleh ke arah Ki Jagabaya dan Melati yang pergi berdua menuju utara. Kebetulan pada saat itupun Melati menoleh, memandang ke arah mana Suryo tadi berjalan dan tidak dapat dicegah lagi merekapun saling beradu pandang. Suryo dan Melati hampir bersamaan melambaikan tangan. Ki Jagabaya menoleh lalu ikut pula melambaikan tangan! Lambaian tangan perpisahan, entah kapan lagi dapat bertemu dan bercengkerama sepuasnya, menceritakan keadaan diri masing-masing saling menuturkan pengalaman-pengalaman yang dialami setelah perpisahan ini!

Dalam sekejap mata saja dua sosok bayangan yang menuju ke utara itu lenyap di kegelapan, tertutup kabut pagi. Sebentar lagi agaknya Sang Bagaskara bangun dari peraduannya. Membawa sinar kehidupan dan cahayanya yang membakar, menggugah semangat untuk mencari makan demi keluarga dan anaknya! Cahaya kemerahan muncul dari timur di balik Gunung Lawu.

Mentari pagi membangunkan segala makhluk ciptaanNya untuk memulai hidup baru! Hidup penuh kesukacitaan. Hidup di dalam terang mentari dan dapat melihat jelas apa yang dilakukan di siang hari. Bangun dari mimpi dan melihat kenyataan hidup yang scsungguhnya! Bukan lagi alam mimpi di kala tidur! Suryo berjalan sambil berdendang riang. Suaranya melengking nyaring memecah keheningan di pagi itu. Sinar matahari yang menyehatkan menimpa tubuhnya seakan menambah tenaga untuk melakukan tugasnya dalam mengarungi kehidupan ini. Dengan penuh percaya diri dia berjalan sambil bernyanyi-nyanyi dan terkadang melompat kecil, melompati parit yang menghalang di jalan. Di dalam terang nampak nyata jalan yang membentang di depannya. Semua dijalani dengan sukacita penuh dengan percaya diri! Sampai di sini, kita berpisah dengan Suryo kelana dari Mataram itu. Karena salah dengar maka orang-orang lalu menyebutnya Suryo Lelono. Dan kitapun selanjutnya akan menyebutnya begitu dan bertemu dengan SURYO LELONO ini dalam pengalamannya yang lain. Semoga buku ini dapat menjadi penghibur di kala senggang.

Sampai jumpa lagi di lain kisah!

T A M A T