Misteri Rumah Berdarah Jilid 14 (Tamat)

Jilid 14 Tamat

Bab 40

"Itulah disebabkan semacam obat racun yang luar biasa ganasnya," sambung Kiang Ing lebih lanjut, "Sewaktu kau tidak ambil perhatian. . . .mungkin ketika minum teh atau bersantap, secara diam2 ia campurkan racun tersebut kedalam makanan atau minumanmu. "

"Benar, benar, benar. . . . pada tiga tahun berselang, waktu aku bersantap, secara tiba-tiba kedapatan suatu bau yang aneh dalam santapanku, aku lantas tanyakan hal ini pada suhu, tapi ia bilang tidak apa-apa, lewat tiga empat hari kemudian, aku mulai menderita sakit hati," teriak sang pemuda tersentak kaget.

"Nah, itulah dia!"

"Tapi mengapa ia hadiahkan sejilid kitab kepadaku, agar aku melatih ilmu silatku?" "Semuanya ini bertujuan agar kau terkenal dan tersohor dalam dunia kang-ouw, memperoleh perhatian banyak orang, dengan demikian barulah salah seorang perempuan yang belum sampai mati, bisa mengetahui akan dirimu, dan akan datang mencari kau, coba bayangkan setelah ilmu silatmu berhasil mencapai puncak kesempurnaan, siapa yang tidak ambil perhatian kepadamu? bukankah begitu?"

"Benar, memang beralasan!"

"Tujuh delapan tahun setelah peristiwa itu, agaknya para jago kang-ouw sebagian besar sudah melupakan kejadian ini, dan saat itulah mulai timbul peristiwa penyewaan rumah. Sudah tentu Sin Mo Kiam Khek Pek Thian Ki tak dapat meminta peta rumah berdarah tersebut setelah membinasakan Sam Ciat Sin-cun serta menghancurkan perkampungan Im San Piat Yen-nya, Kalau tidak maka seluruh jago Bu-lim dikolong langit akan menaruh curiga kepadanya, bukankah begitu. . . ??"

"Tidak salah."

"Maka dari itu setelah peristiwa tersebut lewat delapan tahun, ia baru mengumumkan soal penyewaan rumah, disamping ia hendak mencari peta rumah berdarah, ia berbuat demikian karena juga diriku.."

"Kau??" seru Kiang To keheranan.

"Benar!" Perlahan-lahan Kiang Ing mengangguk, "Tempo dulu rumah ini hasil rancanganku, aku serta Tiap Hoa Siancu pernah melewati beberapa waktu yang indah dan menyenangkan didalam rumah ini. . . dan hal tersebut memang diketahui si Tangan Pencabut Bunga, maka dari itulah setelah rumah ini disewakan dalam anggapannya asal aku masih hidup, tentu masih bisa datang kemari, Tetapi. . .

. berhubung aku harus melatih semacam ilmu sinkang telah mengasingkan diri hampir sepuluh tahun lamanya, inilah sebabnya kenapa Pek Thian Ki menganggap aku betul-betul sudah mati."

"Rahasia peta rumah berdarah itu berada dalam rumah yang disewakan ini?" tanya Kiang To kembali.

"Benar, hanya saja alasan yang sebenarnya aku sendiripun tidak tahu, tentang perjumpaan Pek Thian Ki dengan Hu Bei San sebelum pergi menyewa rumah ini pun merupakan berita palsu. "

"Palsu?"

"Benar, ia sama sekali tidak tahu Hu Bei San berada dimana, sedang ia sendiri ingin pergi mencari Hu Bei san, dan persoalan ini diketahui perempuan she Hu ini dengan sangat jelas, justeru bersembunyinya Hu Bei San selama ini dikarenakan adanya alasan yang tidak kita mengerti. "

"Tapi Pek Thian Ki telah pergi ke Istana Harta untuk menitipkan peta rumah berdarah itu!" mendadak Cu Hoa menimbrung.

"Peta rumah berdarah itu adalah palsu yang asli tak mungkin Pek Thian Ki suka menitipkan kepada orang lain, ini pun merupakan satu siasat untuk mengelabui mata orang lain, setelah itu ia suruh si Iblis Sinting munculkan diri untuk beritahu kepada Kiang To bahwa Pek Thian Ki sudah mati, dengan sendirinya oleh berita ini semua orang akan tahu apabila Sin Mo Kiam Khek sebenarnya bernama Pek Thian Ki."

"Sungguh hebat siasat yang mereka susun!" seru Kiang To kagum.

"Sedikitpun tidak salah!"

"Lalu apa tujuan si Iblis Sinting sengaja menyaru sebagai Kiang To. " "Agar kau pergi mencari dirinya, sedang ia tak suka menemui dirimu dengan wajah aslinya, Dengan begitu ia baru bisa merencanakan siasat selanjutnya, seluruh perbuatan jahatnya yang dilakukan selama ini akan kau pikul dosa-dosanya!"

"Ooooouw. . . .sekarang aku sudah paham. . . ." teriak Kiang To sambil kertak gigi! "Orang ini betul-betul sangat keji, aku Kiang To sebelum berhasil melumat badan mereka, aku bersumpah tak akan berhenti. "

"Semoga saja kau bisa hidup lebih lama lagi.   "

"Apa? Aku hampir mati?" Pemuda ini betul-betul terperanjat mendengar ucapan tersebut.

"Ehmmm. . . sudah hampir, paling banter tinggal sebulan. "

"Aku hanya bisa hidup satu bulan lagi?"

"Satu bulan hanya merupakan dugaanku secara kasaran saja," kata Kiang Ing dengan nada berat, "Yang jelas paling sedikit kau hanya bisa hidup setengah bulan lagi."

Air muka Kiang To langsung berubah pucat pasi bagaikan mayat sehabis mendengar ucapan tersebut.

"Aaaaa. . . . kau tidak usah khawatir." kata Kiang Ing sambil menghela napas panjang, "Nasib manusia ada ditangan Tuhan, kemungkinan sekali sampai waktunya akan muncul suatu penemuan yang aneh bagimu."

Ia tertawa pedih, setelah merandek sebentar, ia berpaling seraya berkata kembali; "Nona Hu, aku ada urusan hendak ditanyakan kepadamu. "

"Urusan apa?" seru Hu Li Hun tercengang, ia berpaling dan memandang sekejap wajah Kiang Ing ini.

"Mengapa kau menyaru sebagai Kiang To?" "Karena ibuku sedang mencari dirinya!"

"Ooooouw. . . ibumu mencari aku?" ujar Kiang To keheranan.

"Benar!"

"Ada urusan apa?"

"Aku tidak tahu!" perlahan-lahan gadis itu menggeleng. "Kiang To yang per-tama2 kujumpai dan bergebrak

melawan dirinya sewaktu berada dalam Istana Perempuan, apakah hasil penyaruanmu?"

"Sedikitpun tidak salah!" "Mengapa?"

"Karena aku benci kau main cinta dengan perempuan lain!" seru Hu Li Hun tanpa tedeng aling-aling, Ia merandek untuk tukar napas, lalu tambahnya; "Jikalau si Iblis Sinting ini benar-benar adalah simanusia yang menyaru sebagai Kiang To, maka semua tindakannya amat bagus! Ia tantang aku berduel ditepi telaga Hiat Suw Than, lalu mencuri balik kertas tantangan tersebut, agar kau yang berikan kembali kepadaku, dengan berbuat demikian siapa yang akan menduga kalau dia adalah Kiang to?"

"Nona Cu, suhumu masih hidup?" sela Kiang Ing seraya berpaling kearah Cu Hoa.

"Benar, beliau masih hidup, hanya kini dia orang tua sudah mengasingkan diri dari keramaian dunia persilatan, ia memberi pelajaran ilmu silat kepadaku bahkan memberikan pula dua pertiga dari tenaga sinkangnya untukku, Sekarang beliau sudah kehilangan tenaga sinkangnya, beliau memerintahkan aku secara misterius muncul diketiga Istana dan perintah aku jadi majikan ketiga buah istana tersebut, Hingga kini si penguasa ketiga istana tersebut masih belum mengetahui wajah asliku, karena setiap kali berjumpa, aku selalu munculdengan wajah yang berlainan, inilah perintah dari suhuku dan kini kuketahui maksudnya!"

"Lalu bagaimana dengan dua buah kedududkanmu yang lain. " tanya Kiang To rada tercengang.

"Tongcu dari perkumpulan pengemis yang bermaskas diluar perbatasan Cu Tong Hoa adalah sahabat karibku, sedangkan mengenai Pangcu dari Pek Hoa Pang sesaat Pangcu tersebut menemui ajalnya aku telah berjumpa dengan dirinya, ia beritahu kepadaku tentang pengkhianatan Pek Hoa Coa yang kini telah menggabungkan diri dengan pihak Istana Harta. "

"Siapakah penguasa ketiga Istana tersebut?"

"Setelah ketiga penguasa istana-istana tersebut menerima perintahku, mereka sangat jarang berkelana didalam dunia persilatan, bahkan anak murid mereka sendiripun belum tentu tahu siapakah mereka!"

"Waktu itu kau membinasakan diri Pek Hoa Coa, tindakanmu tersebut disebabkan hendak membalaskan dendam bagi Pangcu Pek Hoa Pang? Ataukah karena ia telah membocorkan barang yang dititipkan Pek thian Ki kedalam istana kalian?"

"Keduanya sama-sama penting, karena ia membinasakan Pangcu dari Pek Hoa Pang, maka aku harus membunuh dirinya, sedangkan soal membocorkan rahasia Pek Thian Ki yang titip barang berharaga dengan istana kami, pada mulanya aku mengira tindakan tersebut karena ingin memancing datangnya Kian To, sekarang aku baru tahu kiranya Pek Hoa Coa sudah dibeli pihak mereka untuk memancing datangnya para jago kang-ouw, kemudian membiarkan si Iblis Sinting dengan menyaru sebagai Kiang To membinasakan delapan orang jago, orang yang tidak tahu tentu saja akan menjatuhkan hutang berdarah ini atas nama Kiang To, ini berarti mereka hendak mencelakai dirimu. . ."

"Tidak salah!"

Ketika Kiang To menyelesaikan kata-katanya, si Iblis Sinting telah tersadar kembali dari pingsannya, pemuda ini segera memburu kedepan sembari membentak dengan suara yang dingin;

"Eeeeei. .Iblis Sinting, sungguh keji perbuatan kalian, bukan saja kau sudah membinasakan orang tuaku, bahkan ingin mencelakai pula diriku dengan menggunakan siasat yang keji, Aku ingin bertanya, Ayahku mati ditangan siapa?"

"Tidak tahu!"

"Siapa yang memerintah kalian dari balik layar?" bentak Kiang Ing pula dengan suara dingin.

"Tidak tahu!"

"Kau sungguh-sungguh tidak mau bicara?" "Tidak ada ucapan yang harus kuutarakan!"

"Bagus sekali, kalau begitu, terpaksa kau harus kubawa untuk menemui Ui Mey Giok, bukankah iapun termasuk salah seorang pembunuh dalam peristiwa keji tersebut?. . .

."

"Dia. . ."

"Ada orang berkata, bahwa ia masih ada disini!" sambung Kiang Ing dengan cepat tidak menanti orang itu menyambung kata-katanya.

"Aku tidak ingin berjumpa dengan dirinya!" "Tidak ingin berjumpa? Kau takut?" seru Kiang Ing dengan nada mengejek.

"Apa yang harus aku takuti.     " Kata-kata terakhir baru

saja meluncur keluar dari ujung bibirnya, memdadak laksana sambaran petir ia menerjang kearah Kiang To sembari melancarkan sebuah serangan dahsyat.

Untuk kesekian kalinya si Iblis Sinting melancarkan serangan tanpa memperdulikan keadaan luka dalamnya yang parah, satu-satunya yang ia tuju hanyalah meloloskan diri dari cengkeraman orang2 itu.

Dalam keadaan tidak bersiap sedia hampir-hampir saja tubuh Kiang To tersapu serangan lawan, buru-buru ia berkelit dan menyingkir kesamping. Bersamaan dengan

gerakan Kiang To berkelit kesamping, tubuh si Iblis Sinting langsung menerjang keluar.

Melihat orang itu mau melarikan diri, Kiang To membentak keras; "Kau kira begitu gampang bisa pergi dari sini?"

Bayangan manusia berkelebat lewat, ia mengirim sebuah serangan kearah pihak musuhnya. Serangan yang dilancarkan Kiang To barusan dilakukan dengan kecepatan bagaikan sambaran petir, tetapi tindakannya ini jauh kalah dengan gerakan dari Cu Hoa.

Tahu-tahu orang she Cu ini sudah meluncur kemuka seraya membentak keras;

"Iblis Sinting, kau tak akan berhasil lolos dari sini." Tangan kanannya diayun kedepan mengirim sebuah serangan totokan yang gencar.

Luka parah yang diderita si Iblis Sinting belum sembuh betul, mana ia sanggup untuk menerima serangan dari dua orang musuh sekaligus? Suara dengusan berat bergema memenuhi angkasa Tahu-tahu jalan darahnya sudah kena ditotok oleh serangan Cu Hoa.

"Kiranya saudara adalah sipembunuh yang ku-cari2 selama ini." teriaknya gusar. "Tidak aneh sewaktu berada didepan pintu Istana Perempuan kau bisa pura-pura terpukul, siapakah orang yang menghajar dirimu itu?. . ."

"Tidak tahu!"

"Maksudmu terkena pukulan lawan, bukankah ingin menyelidiki rahasiaku?. . ."

"Tidak tahu!"

"Kiang To, kuserahkan dirinya kepadamu!" Hilanglah rasa sabar Cu Hoa sehingga ia berseru dingin.

Kiang To pun tertawa dingin tiada hentinya. "Iblis Sinting, apakah rumah ini kau yang sewakan?"

"Bukan!"

"Heeeee. . .heeee. . .heeeee. . . .aku rasa tidak demikian gampang. . . .baik2lah kau beritahu urusan ini kepadaku maka aku Kiang To akan memberikan sebuah jenazah yang utuh bagimu, kalau tidak. "

"Hmmm! Kau anggap aku takut dengan ancamanmu, silahkan mulai turun tangan!"

Air muka Kiang To berubah hebat, hawa napsu membunuh memenuhi seluruh wajahnya "Lalu dimanakah Pek thian Ki sekarang berada?" tanyanya kembali.

"Tidak tahu."

"Kau sungguh-sungguh tidak mau bicara apapun?" "Aku rasa tak ada yang bisa dibicarakan!" "Heee. . .heee. . . cuma sayang aku tidak percaya kalau kau tak bisa bicara," jengek sang pemuda she Kiang sambil tertawa dingin.

Sepasang jari tangan kanannya dengan menggunakan ilmu pelepasan tulang secara ber-turut2 menotok empat buah jalan darah kematian disekitar badan Iblis Sinting. Dimana ujung jari Kiang To menyambar lewat, mendadak si Iblis Sinting merintih kesakitan, dari jidatnya mengucur keluar keringat sebesar kacang kedelai, wajahnya kelihatan amat menderita.

Setelah jalan darah si Iblis Sinting kena ditotok oleh Kiang To dengan ilmu totok manunggal, setiap bagian otot maupun tulangnya terasa sakit susah ditahan, air mata mulai jatuh berlinang.

"Iblis Sinting, kau suka bicara tidak?" teriak Kiang To sambil kertak gigi.

Si Iblis Sinting hanya menggertak gigi kencang-kencang dan bungkam dalam seribu bahasa, akhirnya ia pentang mulut muntahkan darah darah segar, dan jatuh tidak sadarkan diri.

"Sungguh keras kepala orang ini!" seru Kiang Ing dingin. "Paman, bagaimana kalau kita bunuh saja orang ini?"

teriak Kiang To gemas.

"Jangan, kita bawa dia pergi menjumppai Tiap Hoa Siancu!"

"Baiklah. . ." pemuda she Kiang ini segera mengangkat tubuh Iblis Sinting untuk dibawa pergi, "Paman, mari kita berangkat!"

Kiang Ing mengangguk dan bergeser terlebih dahulu dari sana disusul Kiang To dari belakang. "Kiang Siauw-hiap!" tiba-tiba Hu Li Hun yang ada dibelakang berseru.

Mendengar seruan tersebut Kiang To berhenti dan berpaling memandang sekejap wajah Hu Li Hun, tampak wajahnya penuh diliputi oleh kesedihan.

Ia jadi melengak, "Ada urusan apa ??" tanyanya halus. "Aku. . . aku mau pergi!"

"Kenapa?"

"Aku rasa lebih baik aku pergi dari sini, jangan lupa aku adalah puteri musuh besarmu. . ."

Hu Li Hun tak dapat menahan diri lagi air mata jatuh bercucuran membasahi seluruh wajahnya, sedangkan Kiang To marasa hatinya berdebar keras, Bilamana kenyataan memang demikian dan Hu Li Hun adalah hasil hubungan Hu Bei San dengan Pek Thian Ki, maka dia adalah musuh besarnya.

"Nona Hu, kau tak boleh pergi, kami masih ingin pergi menjumpai ibumu. . ." kata Kiang Ing.

"Kalian pergilah sendiri kesana, aku akan beritahu tempatnya!"

"Tentang soal ini. . ." Kiang Ing termenung sebentar, akhirnya ia manggut, "Demikian baiklah!"

"Ibuku tinggal ditebing Thiat Ki Yen diatas gunung Thiat San, kami akan menanti kedatangan kalian!" Sehabis berkata, ia putar badan dan berlalu, langkahnya berat dan gontai, hal ini menunjukkan betapa hancur dan sedih hatinya saat ini.

Ia telah pergi. . . pergi dengan membawa hati yang pedih,      hancur      dan      putus      harapan.      .      .      .

Dengan termangu-mangu Kiang To memandang bayangan punggungnya, Akhirnya Cu Hoa menghela napas panjang memecahkan kesunyian yang mencekam.

"Aaaai. . . orang ini patut dikasihani."

Kiang To berpaling memandang sekejap kearah gadis itu, lalu tertawa getir, ia dapat menangkap maksud dibalik ucapan Cu Hoa ini.

"Kiang Siauw-hiap!" kembali gadis she Cu itu berkata. "Jikalau ia benar-benar puteri Pek Thian Ki, Apa yang hendak kau lakukan?"

"Aku sendiripun tidak tahu!"

Ketika itulah Kiang Ing menghela napas panjang seraya menyela; "Urusan selanjutnya kita bicarakan lagi perkembangan dikemudian hari, mari kita masuk kedalam!"

Dari sebuah pintu rahasia Kiang Ing menerobos masuk terlebih dulu disusul oleh Kiang To serta Cu Hoa dari belakang.

Didalam pandangan Kiang Ing, rumah aneh ini meninggalkan kenangan-kenangan lama yang pahit dan getir bagi dirinya, Ia bangun sendiri bangunan rumah ini beserta alat-alat rahasianya, tapi justeru hidupnya hancur pula dari sini. . . .

Setelah masuk kedalam ruangan rahasia kurang lebih tiga tombak, kembali Kiang Ing meraba keatas dinding. "Krak. . .!" dari atas tanah mendadak muncul sebuah jalan rahasia dibawah tanah.

Bab 41

Kiang Ing segera memimpin jago yang lain memasuki lorong tersebut, Lorong rahasia itu panjang sekali, kurang lebih ada sepuluh tombak lebih, pada ujung lorong muncul enam buah pintu kecil.

Dari pintu yang ada ditengah Kiang Ing melanjutkan langkahnya masuk kedalam. Setelah berjalan ber-liku2 entah berapa jauhnya, sampailah mereka didalam sebuah ruangan berbatu.

"Paman, sudah sampai?" tanya Kiang To. "Belum, kita harus berjalan beberapa saat lagi." "Ooouw. . . belum sampai?"

"Benar!"

"Tampak bangunan ruangan dibawah tanah ini amat luas dan megah, barang-barang perabot yang disini rata-rata indah, dan menarik hati.

"Loocianpwee, bangunan ruangan ini adalah hasil kerjamu sendiri?" tanya Cu Hoa.

"Benar!"

"Aaaaach! Tidak kusangka kecuali loocianpwee mempunyai kepandaian silat yang sangat lihay, bahkan kecerdikanpun luar biasa."

Mendengar pujian tersebut, Kiang Ing hanya tertawa hambar, dari wajahnya dapat dilihat ia begitu sedih, dan hambar. Seperti ia sedang mengenang kembali kejadian lama. . . .

Teringat kembali olehnya akan seorang perempuan yang mencintai dirinya, tapi akhirnya ia telah mencelakai perempuan tersebut, sama halnya ia sudah membinasakan kekasihnya sendiri. . . .

Ia menghela napas panjang. . . . hatinya pedih tak terhingga. . . . Kembali beberapa orang itu melanjutkan perjalanannya memasuki ruangan besar dan menuju keruang belakang. Diruang itu berdiri sebuah patung perempuan berwajah cantik sekali. Arca tersebut terbuat dari batu, tetapi ukirannya hidup, sehingga terlihat betapa cantiknya wajah perempuan itu.

"Ehmmm. . . sebuah patung perempuan yang amat cantik," tak kuasa lagi Kiang To memuji.

"Dia cantik?" seru orang itu sedikit berguman.

"Benar sangat cantik. . ." mendadak Kiang To teringat akan sesuatu. "Apakah dia. . . dia adalah Tiap Hoa Siancu?"

"Benar, dia. . ."

Kiang To tertegun, wajah patung ini amat mempesonakan, apalagi wajah orang yang sebenarnya, tentu jauh lebih menggiurkan lagi.

"Ooouw. . . seorang perempuan yang memiliki kecantikan tiada bandingan dikolong langit." puji Cu Hoa pula.

"Mungkin kau lebih cantik! goda Kiang Ing tertawa." Oleh   pujian   itu   Cu   Hoa   malah   dibuat   tertegun.

"Loocianpwee, kau sedang bergurau, kecantikanku mana

bisa menandingi dirinya?"

"Padahal kau pun amat cantik, aku pernah menjumpai wajah aslimu!"

Merah padam selembar wajah Cu Hoa saking jengahnya, tak sepatah katapun bisa ia ucapkan. Perlahan Kiang Ing alihkan kembali sinar matanya keatas wajah patung tersebut, ia mulai dibuat terpesona dan berdiri melamun. . .

Setelah berpisah sepuluh tahun lamanya, ia merasa agak asing dengan wajah bekas kekasihnya ini. Tempo dulu ia pernah jatuh cinta kepadanya, pernah angkat sumpah untuk sehidup semati, tapi beberapa waktu kemudian ia meninggalkan perempuan ini, ia telah memberikan semua penderitaan serta kesedihan kepadanya.

Kenangan manis berlalu, dendam kebencian mengalir bagaikan sungai Yang Tze. . . .

Cinta ada awalnya. . . ada pula akhirnya. . . .

Tapi selembar wajahnya yang cantik selalu tak terhapus dari benaknya, ia selalu merindukan, mencintai dirinya. . . .

.

"Loocianpwee, patung arca inipun hasil karyamu?" tanya Cu Hoa memecahkan kesunyian.

"Benar!"

"Sungguh indah pembuatannya, hidup bagaikan manusia biasa!"

Kiang Ing tertawa getir, ia menghela napas panjang- panjang. . . .

"Loocianpwee, kau sungguh pandai mencari simpati perempuan, kau buatkan patung untuk memuji dan menyanjung dirinya, entah berapa lama harus kau buang waktu untuk menyelesaikan hasil karyamu ini?"

"Setahun!"

"Sungguh patut dikagumi semangatmu!"

"Aaaai. . . ia dibuat oleh tenagaku, dan kini seharusnya hancur dengan tenagaku pula!" Mendadak tangan kanannya diayun keatas kemudian laksana kilat dihajarkan keatas patung tersebut.

"Braaaaak. . . .!" dengan menimbulkan suara ledakan yang keras, arca 'Tiap Hoa Siancu' hancur berantakan diatas tanah. Kiang to serta Cu Hoa sama-sama dibuat tertegun oleh sikap orang tua ini.

Kiang Ing benar-benar dibikin terharu oleh kejadian yang tertera dihadapannya, air mata jatuh berlinang membasahi wajahnya, ia merasa pedih dan perih. . . . .

Agaknya Jiang To memahami perasaan pamannya, ia tidak ingin Kiang Ing terlalu lama mengumbar kesedihan disana.

Segera ajaknya; "Paman, mari kita pergi!"

Dengan wajah berat Kiang Ing mengangguk, ia menggeser sebuah meja batu kesamping dan muncullah sebuah pintu rahasia dari atas dinding. Tanpa banyak bicara lagi Kiang Ing melangkah masuk kedalam ruangan rahasia tersebut.

"Loocianpwee, bangunan ruangan rahasia ini amat sempurna dan indah sekali."

"Kau suka?" "Sudah tentu!"

"Bila kau sungguh suka, biarlah dikemudian hari kuhadiahkan rumah ini sebagai hadiah perkawinanmu!" ujar Kiang Ing tertawa.

"Loocianpwee, kau seorang yang amat menarik hati, dalam keadaan bersedih hati masih tidak lupa untuk menggoda orang."

"Apa yang aku ucapkan adalah sungguh-sungguh, apakah kau tidak ingin kawin dengan orang lain?"

"Sudah tentu aku akan kawin dengan orang, hanya orangnya hingga kini belum berhasil kudapatkan.."

"Eeei.     bukankah kau sudah berhasil menemukannya?" "Orang lain tidak tertarik padaku, ia sudah punya calon isteri sendiri. "

Melihat kedua orang itu kasak-kusuk, Kiang to kelihatan agak melengak. "Eeeeei. . . . sebenarnya apa yang sedang kalian bicarakan?"

"Membicarakan soal dirimu," seru Kiang Ing sambil tertawa. "Nona Cu mengatakan kau sudah mempunyai calon isteri."

"Aku. . ." nada suaranya gemetar dan bergidik, secara mendadak ia teringat kembali akan Hu Siauw In putri Hu Toa Kan yang memiliki kecantikan wajah melebihi siapapun.

Dengan termangu-mangu ia memandang sekejap wajah pamannya Kiang Ing, lalu jawabnya;

"Paman, sebenarnya Hu Toa Kan adalah seorang baik atau jahat?"

"Baik pun tidak akan baik sampai begitu rupa."

"Kalau begitu bisa menemukan dirinya berarti kita bisa memperoleh kabar berita tentang diri Pek Thian Ki serta si Tangan Pencabut Bunga."

"Ada kemungkinan?"

"Sudah tentu ada kemungkinannya."

Perlahan-lahan Kiang To menghela napas panjang. "Putrinya adalah seorang gadis yang baik hati. ia sangat

ramah dan mulia."

"Tidak salah, dia memang ramah dan mulia."

"Paman, hampir-hampir saja aku lupa untuk menanyakan dua macam urusan. . ." seru Kiang To secara tiba-tiba. "Urusan apa?"

"Pertama, anak murid siapakah si Hek Mo Li atau si Iblis Perempuan Hitam itu?"

"Mungkin dia adalah anak murid dari Pek Thian Ki." "Siapa pula si Iblis Perempuan Loteng Genta?" "Mungki. . . .mungkin. . . .mungkin adalah. "

"Siang Hwi Giok Li!"

"Aaaaa. . .!" tidak kuasa lagi Kiang To bereru tertahan setelah mendengar ucapan tersebut, ia tidak menyangka apabila si Tiong Loo Mo Li kemungkinan besar adalah Siang Hwi Giok Li.

Ia merasa urusan ini memang ada kemungkinannya, hanya saja mimpipun belum pernah ia berpikir sampai kesitu.

Saat itu, mendadak terdengar Cu Hoa menghela napas panjang.

"Eeeei.   " tegur Kiang Ing agak tercengang.

"Aaach. ." tidak apa-apa!"

"Keponakanku!" perlahan-lahan Kiang Ing alihkan sinar matanya memandang sekejap wajah pemuda she Kiang. "Bagaimanakah perasaanmu terhadap diri nona Cu?"

"Aku.   "

"Orang lain sudah memiliki seorang calon isteri yang mempunyai kecantikan wajah melebihi bidadari, sudah tentu tak akan memandang sebelah matapun terhadap diriku."

Oleh ucapan tersebut, Kiang To tertawa getir. "Selama hidup belum pernah aku mencintai orang, Aaaai. belum pernah pula orang mencintai diriku, apalagi.       mungkin

aku tak bisa mencintai orang lain lagi, jikalau aku tidak mati ditangan musuh besarku, paling juga umurku tinggal satu bulan saja."

"Ooooouw. . . sungguh halus penolakanmu!" seru Cu Hoa tak tertahan lagi sambil tertawa getir.

"Apakah kau. . . kau sungguh-sungguh bisa mencintai diriku?"

"Kenapa? Tidak boleh?" sahut Cu Hoa dengan sepasang mata terbelalak besar.

"Aku takut diriku tidak mencukupi syaratnya.     "

"Kau tidak buta, tidak kekurangan sesuatu apapun, tidaj cacad, syarat apa yan tidak cukup? Walaupun kau kurus tetapi sepasang matamu sangat mempesonakan, mungkin aku tertarik karena pandangan matamu yang tajam. "

"Nona Cu, aku sangat berterima kasih kepadamu, selama hidup tak akan kulupakan cinta kasihmu kepadaku," seru Kiang To dengan terharu, "Tetapi aku Kiang To sudah hancur ditangan Hek Mo Li Tong Ling. "

"Antara kau dan dia.     "

"Eeeeehmmm. . .!" Kiang To mengangguk, "Antara aku dengan dia sudah melakukan hubungan!"

"Aaaaakh. . . .kenapa?" agaknya Cu Hoa rada sedikit kecewa oleh berita tersebut.

"Ia menyaru sebagai It Peng Hong.   "

"Ooooouw. . . lantas kalian.     "

"Benar!"

"Cuma, menurut apa yang aku ketahui, ia sungguh- sungguh mencintai dirimu, kalau tidak, ia tak akan berbuat demikian! Hanya saja apa akibat yang bakal terjadi dengan peristiwa ini masih belum bisa diduga mulai sekarang, hal ini membuat orang merasa cemas. . ."

Kiang To hanya tertawa getir. Tong Ling adalah perempuan pertama yang pernah ia cintai, ia sudah memperkosa dirinya, merenggut perawannya, tetapi kesedihan yang ia berikan pun cukup banyak, cukup menderita bagi ia sendiri.

Bagaimanakah hubungan mereka selanjutnya? Apakah sungguh-sungguh selesai sampai disini saja? sudah tentu tidak! mereka belum menyelesaikan sandiwara babak yang paling menyedihkan ini.

Terdengan Kiang ing menghela napas panjang. "Aaaai. .

. mari kita maju kedepan!"

Kedua orang muda-mudi itu dengan mengikuti dari belakang Kiang Ing berjalan masuk kedalam ruangan rahasia tersebut.

Lorong itu ber-liku2 dan panjangnya ada lima tombak lebih, beberapa saat kemudian sampailah mereka disebuah tempat yang bercahaya terang, hal ini membuat Kiang To serta Cu Hoa sama-sama dibuat berdiri tertegun.

Tampak sebuah lembah yang indah dan tertutup oleh tebing yang tinggi menjulang keangkasa muncul dihadapan mata, tempat ini amat indah dan tidak mudah ditemukan orang dari atas puncak.

Berbagai macam bunga tumbuh memenuhi seluruh lembah, bau harum semerbak memencar menusuk hidung, pemandangan indah merasuk hati dengan sebuah kolam ditengah-tengah aneka bunga, sebuah bangunan loteng yang megah dan menarik berdiri disisi kolam. "Paman, dia berdiam didalam loteng tersebut ??" tanya Kiang To tercengang.

"Jikalau ia masih berada disana, seharusnya ada diatas loteng!"

Dalam pembicaraan tersebut Kiang Ing serta kedua orang muda-mudi itu sudah berada didepan loteng tersebut. Pintu loteng tertutup rapat-rapat, diatas pintu tertera papan nama yang bertuliskan:

"LOTENG KUPU-KUPU dan BUNGA"

Nama tersebut sangat cocok sekali dengan pemandangan disekitarnya dimana bunga bertaburan dimana-mana dengan kupu-kupu yang terbang kian kemari menambah kesemarakannya pemandangan.

Kiang Ing berjalan mendekati pintu, lama sekali ia berdiri termangu-mangu dan akhirnya mendorong pintu, lalu berjalan masuk kedalam.

Sesaat Kiang Ing melangkah kedalam, serentetan suara bentakan yang amat dingin bergema memenuhi angkasa.

"Siapa?" Suara tersebut keras dan dingin membuat seluruh badan Kiang Ing gemetar kencang, bahkan Kiang To serta Cu Hoa pun ikut merasakan badannya tergetar keras.

Kiang Ing tertegun dan tak bisa menjawab barang sepatah katapun. Buru-buru Kiang To maju kedepan.

"Siapa yang ada diatas loteng?" Balik bentaknya keras.

Uvapan Kiang To ini sama halnya dengan kata-kata yang mengatakan'Setelah tahu buru-buru bertanya' kecuali Tiap Hoa Siancu yang mendiami loteng tersebut masih ada siapa lagi? Suara jawaban dari perempuan itu tidak kalah dinginnya bergema datang, "Pertanyaan saudara bukankah diutarakan terlalu aneh? Pertanyaan adalah aku ajukan terlebih dahulu, kini balik kalian yang bertanya kepadaku. . .?"

Air muka Kiang To berubah hebat. "Kaukah yang bernama Ui Mey Giok?"

Agaknya pihak lawan merasa kaget dengan ucapan tersebut, lama sekali tak kedengaran suara jawaban. Seperminum teh kemudian baru terdengar suara itu bergema kembali.

"Bagaimana kau bisa tahu? Apakah saudara datang kemari karena hendak mencari diriku?"

"Tidak salah." "Siapa kau?"

Kiang To tidak menjawab, sekali loncat ia menerjang masuk kedalam ruangan, sinar matanya dengan tajam menyapu sekejap suasana didalam ruangan tersebut. Suara langkah kaki manusia turun dari tangga bergema memecahkan kesunyian, seorang perempuan cantik berbaju hijau perlahan-lahan turun dari atas loteng.

Wajah perempuan itu boleh dikata amat cantik sekali melebihi kecantikan bidadari, walaupun usianya sudah lanjut tetapi ke-ayuannya sama sekali tidak berkurang. Dengan termangu-mangu perempuan itu melototi wajah Kiang To, wajahnya kelihatan agak tertegun.

"Siapa kau?"

Perasaan Kiang To saat ini benar-benar bergolak, hawa napsu membunuh memenuhi seluruh benaknya.

"Kaukah yang bernama Ui Mey Giok!" bentaknya dingin. "Tidak salah, dan siapakah saudara?" "Kiang To!"

"Apa?" perempuan cantik berbaju hijau itu tersentak kaget, air mukanya berubah hebat.

Agaknya ucapan ini jauh berbeda diluar dugaannya semula. Dengan badan gemetar dan sinar mata bergidik, dipandangnya wajah pemuda itu tajam-tajam.

Bagaikan menemui suatu peristiwa yang mengerikan saja, badannya gemetar keras, keringat dingin mengucur keluar membasahi seluruh badannya. . . .

Pada waktu itu. . . . Kiang Ing melangkah masuk kedalam ruangan, melihat munculnya orang itu mendadak si perempuan cantik berbaju hijau itu menjerit tertahan bagaikan orang histeris. . .

"Kau. . . kau.   "

Wajah Kiang Ing penuh diliputi rasa jengah, kikuk, sedih, berduka dan perasaan lain yang susah dilukiskan dengan kata-kata. . .

Kembali mereka berjumpa muka.

Tujuh belas tahun berselang ia pergi meninggalkan dirinya, ia berikan rasa kecewa dan sedih buat dirinya, Seluruh penghidupannya telah musnah semua.

Dan kini tujuh belas tahun kemudian, kembali mereka berjumpa muka. . .Pertemuan ini bagaikan tidak disengaja, peristiwa ini lebih mirip Kiang Ing pulang kembali untuk mencari dirinya dan menyambung kenangan manis yang telah lama terputus.

"Kau? Benar-benar kau?. . ." sekali lagi perempuan itu menjerit. Kiang Ing gigit bibir sendiri, ia telan mentah air mata yang mengucur keluar membasahi pipinya.

"Benar aku. . . .aku.     " desisnya lirih.

"Aaaaaach. . .!" suatu jeritan yang mengenaskan memecahkan kesunyian diruangan tersebut.

Mendadak air mata mengucur keluar membasahi pipinya, air mata yang mengenaskan akhirnya membasahi pula pipinya serta wajahnya yang cantik jelita.

Ia merasa terkejut, gembira dan terharu.    karena orang

yang dinanti-nantikan selama ini akhirnya kembali juga, ia sudah lupa lelaki ini pernah mencelakai dirinya, ia lupa seluruh hidupnya telah musnah dan hancur ditangan orang ini.

Mendadak. . . .

"Ing-ko, benar-benar kau?" desisnya dengan nada gemetar.

"Benar!"

"Ooooouw. . . .engko Ing, akhirnya kau kembali juga. "

Jeritnya penuh rasa haru.

Saking tak kuat menahan gejolak dalam hatinya, bagaikan kalap dan histeris ia lari turun dari loteng dan menubruk masuk kedalam pelukan Kiang Ing.

Tindakan yang mendadak dan tak terduga ini membuat kesadaran Kiang Ing jadi pudar, iapun balas memeluk perempuan itu erat-erat.

Masa indah tempo dulu, kini balik kembali.

Sudah tentu, pemandangan pada saat ini amat romantis, mereka telah melupakan penderitaan selama ini untuk saling mengisi kekosongan, kerinduan yang terpendam dalam hati mereka masing-masing.

"Engkoh Ing.     benar-benar kau!" jeritnya lirih.

"Benar!.   "

"Oooouw, engkoh Ing. . ." Jeritannya lirih, dan penuh kesedihan akhirnya meledaklah suara tangisan yang memekakkan telinga. . .

Tangisannya amat menyedihkan, amat memilukan hati setiap orang yang ikut mendengar. Cu Hoa ikut terharu oleh suasana yang dihadapinya didepan mata, air mata secara tiba-tiba meluncur keluar membasahi pipinya, dengan sedih ia ikut tundukkan kepala rendah-rendah.

Gadis ini merasa tidak tega melihat peristiwa yang menyedihkan itu berlangsung didepan matanya. Kiang To yang melihat peristiwa itupun ikut bersedih hati, diam-diam ia menghela napas panjang.

Ketika itulah terdengar Tiap Hoa Siancu berkata lirih. "Engkoh Ing, kenangan indah yang telah lalu, kini sudah kembali lagi. "

"Benar, sudah kembali, sudah kembali.   "

"Engkoh Ing. . . aku mengira sepanjang hidupku selanjutnya tak bakal bisa berjumpa dengan dirimu lagi. . .

."

"Aku. . ." saking sesenggukan kata-kata selanjutnya tak sempat meluncur keluar.

"Engkoh Ing, aku. . .aku tahu kau bisa kembali lagi. .

.tujuh belas tahun. . .oouw. . . sungguh panjang masa ini. . .

."

"Benar, sangat panjang!" "Kau. . .akhirnya, kau kembali. .aku selalu mengharapkan. . selalu menantikan hari macam ini. ."

Saking sedihnya Kiang Ing tak bisa bicara lagi, hanya air mata jatuh bercucuran makin deras. . .ia tidak tahu ucapan apa seharusnya diutarakan dalam keadaan seperti ini, benar, ia tidak dapat bicara lagi, terpaksa ia membungkam.

"Giok moay, aku. . .aku merasa sangat menyesal terhadap dirimu. . ."

Ucapan ini langsung menyadarkan kembali Tiap Hoa Siancu dari rasa bahagia dan terharu, ia segera mendorong badan Kiang Ing kedepan, sedangkan ia berdiri meloncat mundur sejauh tujuh delapan langkah kebelakang.

Selama beberapa detik sepertinya ia sudah teringat akan sesuatu. . .

Mendadak ia tertawa, tertawa kalap dengan suara yang menggidikkan, menyeramkan membuat bulu kuduk pada bangun berdiri. . . .

"Kenapa kau?" tanya Kiang Ing dengan rasa terperanjat.

Senyuman yang menghiasi wajah Tiap Hoa Siancu lenyap tak berbekas, kini air mukanya berubah pucat pasi bagaikan mayat.

"Kiang ing!" bentaknya keras. "kau. . . kau sudah kembali. . .haaaa. . .haaaa. . .haaaaa. sekarang kau baru

bisa menyesali perbuatanmu? Kiang Ing.     "

"Giok moay    "

"Tutup mulut, aku sudah bukan Giok moay-mu lagi!" Air mukanya berubah hijau membesi, kembali bentaknya; "Sekarang baru tahu kau menyesal kepadaku?"

Perlahan-lahan Kiang Ing menundukkan kepalanya rendah-rendah. "Kiang Ing. . . kenapa kau datang kemari?" bentak Tiap Hoa Siancu keras-keras.

"Aku. . ."

"Kiang Ing, aku tahu kau bisa datang kemari, tapi bukan karena cinta, melainkan karena mencari balas kepadaku, bukankah begitu?"

"Tidak salah!"

"Kiang Ing, aku mau tanya, sepanjang hidupku pernahkah aku Tiap Hoa Siancu bersikap tidak baik kepadamu?"

"Aku sama sekali tidak pernah mengatakan kau bersikap tidak baik kepadaku!"

"Jadi, kau ada maksud mempermainkan diriku?" "Soal ini. . ." Kiang Ing jadi gelagapan dibuatnya.

"Kiang Ing, walaupun aku Tiap Hoa Siancu bukan berasal dari gadis seorang kenamaan, tetapi akupun seorang perempuan Bu-lim yang berkelakuan baik, tetapi kau. . . setelah mempermainkan diriku lantas ditinggal pergi. . .kau.

. ."

"Aku. . ."

"Kau tidak mencintai diriku bukan?" kembali Tiap Hoa Siancu menjengek sambil tertawa dingin. . ."Kiang Ing, jikalau kau tidak menyukai diriku, mengapa kau mempermainkan badanku, kehormatanku? Ayo jawab!. . ."

"Aku tidak pernah mengatakan aku tidak suka kepadamu. . ."

Kembali perempuan itu tertawa dingin, selangkah demi selangkah ia mendekati Kiang Ing. "Kiang Ing!" teriaknya sambil kertak gigi. "Apa yang kau cintai dariku? Perawanku? Badanku? atau Permainan diatas ranjang?"

"Tidak. . .!"

"Kau tidak tahu bukan, aku sudah punya anak? Tahukah sewaktu kau pergi didalam perutku sudah mengandung anakmu? Jawab!"

"Aku tahu!"

"Setelah kau tahu, mengapa kau pergi? Sekalipun kau tidak suka kepadaku, apakah anakmu pun tidak kau mau-i lagi?"

"Aku. . . aku mengaku salah!"

"Mengaku salah? Kau mengakui kesalahanmu? Heeee. . . heeee. . .heeee. . .Kiang Ing! Apa gunanya kau ucapkan perkataan tersebut kepadaku? Apa yang telah kau berikan kepadaku selama ini?" seru Tiap Hoa Siancu sambil tertawa dingin.

Benar! Kiang Ing tidak pernah memberikan sesuatu apapun kepadanya, ia hanya memberi kesedihan, kepedihan kepadanya, belum pernah ia memberi kesenangan, kegembiraan kepada perempuan ini.

"Ayoh jawab, apa yang pernah kau berikan kepadaku?" teriaknya setengah menjerit.

"Aku. . .aku memberi penderitaan buatmu!"

"Benar, kau telah memberi penderitaan kepadaku, kemudian bagaikan barang dagangan saja kau hadiahkan badanku buat dipakai engkohmu Kiang Lang. . . Kiang Ing, kau anggap aku sebagai apa? Kau anggap aku pelacur? yang bisa diberikan dan dipakai oleh setiap orang?"

"Aku. . ." "Kiang Ing penghidupanku selama ini telah hancur ditanganmu, kau tidak menampik tuduhan ini bukan?"

"Aku tidak membantah!"

"Bagus sekali, hutang-hutang diantara kita selama ini harus kita bereskan. . ." Diiringi jeritan keras, mendadak badannya menerjang kehadapan Kiang Ing, bentaknya; "Kiang Ing, ayoh turun tangan!"

Dengan pandangan bergidik, Kiang Ing memandang sekejap wajah Tiap Hoa Siancu, ia merasa makin menyesal lagi.

"Tidak!" akhirnya ia menolak.

"Kiang Ing, kau takut? Setelah kau merusak hidupku, mengapa tidak sekalian kau bunuh diriku? Ayoh cepat turun tangan. . ."

"Tidak!"

"Kiang Ing! Jadi kau tidak ingin turun tangan?" "Benar. . ."

"Bagus, kalau begitu aku harus turun tangan sendiri!" Badannya yang langsing laksana sambaran petir meluncur kedepan, tangan kanannya diayun keatas, kemudian dengan menggunakan sebuah jurus serangan yang amat gencar menghajar diri Kiang Ing.

Kali ini Tiap Hoa Siancu turun tangan dengan maksud mengadu jiwa, ia sudah membenci lelaki ini sampai merasuk ketulang sumsum, kepingin sekali dalam sekali hantaman membinasakan dirinya.

Setelah Tiap Hoa Siancu turun tangan, Kiang Ing tidak berani berdiam diri lagi, buru-buru ia mundur kebelakang untuk berkelit. Tetapi serangan kedua dari Tiap Hoa Siancu kembali meluncur datang mengurung seluruh badannya. Kepandaian silat yang demikian, yang dimiliki Tiap Hoa Siancu bukan biasa-biasa saja, serangan ini benar-benar mengejutkan hati. Karena terdesak, terpaksa Kiang Ing angkat tangan kanannya untuk menangkis datangnya serangan dari Tiap Hoa Siancu ini.

Bayangan manusia berkelebat lewat, secara beruntun Tiap hoa Siancu mengirim tiga buah serangan gencar mengancam tubuh lawan.

Sudah sejak lama Kiang Ing menyesali perbuatannya terhadap diri Tiap Hoa Siancu, saat ini mana ia berani balas menyerang? Sekalipun perempuan itu melancarkan tiga buah serangan beruntun, ia hanya berani berkelit belaka.

Bab 42

Mendadak. . . .

"Tahan!" bentak Kiang To keras-keras.

Bentakan ini bagaikan guntur yang membelah bumi disiang bolong, membuat setiap orang yang mendengar merasakan telinganya mendengung dan sakit sekali.

Terburu-buru Tiap Hoa Siancu menarik kembali serangannya dan mundur kebelakang. Kiang To segera maju setindak kedepan, langsung mendesak kehadapan Tiap Hoa Siancu.

"Apa yang kau kehendaki?" bentak Tiap Hoa Siancu dingin.

Selapis hawa membunuh melintasi seluruh wajah Kiang To.

"Tiap Hoa Siancu, coba kau lihat siapakah dia?" teriaknya. Ditengah suara bentakan tersebut, ia angkat tubuh si Iblis Sinting keatas lantas diayun kearah Tiap Hoa Siancu. Ketika perempuan itu dapat mengenali orang itu, air mukanya langsung berubah hebat.

"Tiap Hoa Siancu, siapakah dia?" teriaknya. "Si Iblis Sinting!"

"Dia adalah pembunuh ayahku?" kembali pemuda itu berteriak.

"Oooouw. . . benar, ayahmu bernama Sam Ciat Sin-cun bukan?. . ."

"Tidak salah!"

"Kalau bigitu benar, dia adalah salah seorang pembunuh orang tuamu. . ."

"Termasuk kau?" ujar Kiang To penuh napsu. "Benar!"

"Mengapa kalian membinasakan mereka? Jawab!" "Heee. . .heeeee. . .heeee. . . benci! Aku benci dirinya!"

"Sekalipun kalian benci kepadanya, tidak seharusnya membunuh ayahku!"

"Tetapi yang kubenci adalah orang-orang she Kiang, tahu? Kami akan menghancurkan mereka. . ."

"Kecuali kau serta si Iblis Sinting, masih ada siapa lagi?" "Aku percaya Kiang Ing sudah beritahu kepadamu!" "Kurang ajar, justru aku minta kau yang bicara sendiri!" "Masih ada lagi si Tangan Pencabut Bunga serta Sin Mo

Kiam Khek Pek Thian Ki!" "Siapa yang berdiri dibelakang layar memberi perintah pada kalian?. . ."

"Kau boleh tanyakan sendiri dengan diri Pek Thian Ki," jawab perempuan itu hambar.

"Kenapa kau tidak sampai mati ?? Bukankah kau terlibat dalam peristiwa berdarah itu?"

"Sewaktu perkampungan Im San Piat Yen terbakar, aku berhasil meloloskan diri. . ."

"Siapa yang membakar rumah tersebut?" sela sang pemuda sebelum perempuan itu melanjutkan kata-katanya.

"Si Tangan Pencabut Bunga serta si Iblis Sinting yang bakar perkampungan, sedang Pek Thian Ki bertanggung jawab dalam membunuh orang, dalam keadaan tidak bersiap sedia, hampir-hampir saja aku mati ditangan Pek Thian Ki. . ."

"Eeeee. . . Bukankah kalian bersekongkol? Kenapa dia ada maksud sekalian membinasakan dirimu?"

"Inilah dikarenakan hati lelaki tak seorangpun yang bisa dipercaya, lelaki dikolong langit kejam semua, Mereka ingin tutup mulutku, maka aku sekalian akan dibunuh, tetapi akhirnya dengan membawa luka aku berhasil melarikan diri dari lorong rahasia, sedang mereka menganggap aku sudah mati. ."

"Sekarang Pek Thian Ki ada dimana?" kembali pemuda itu menyela.

"Aku tidak tahu."

"Si Tangan Pencabut Bunga?" "Aku juga tidak tahu!"

"Kau tahu soal rahasia peta rumah berdarah?" "Sudah tentu tahu!" "Kalau begitu, bicaralah!"

"Peta rumah berdarah adalah barang mustika Bu-lim yang berhasil didapatkan ayahmu, kecuali Giok Mey Jin seorang tak seorangpun yang tahu ia sembunyikan benda itu dimana. "

"Dan kau tahu soal penyewaan rumah?" desak sang pemuda she Kiang lebih jauh.

"Tahu, hal ini dikarenakan peta rumah berdarah!" "Peristiwa ini ada sangkut pautnya dengan dirimu?"

pemuda ini coba memancing.

"Mungkin ada, mungkin tidak ada hubungan, apa maksudnya kau menanyakan persoalan ini?"

"Eeeeeei. . . .apa maksudmu bicara demikian? Kan aku hanya ingin tahu saja?"

"Hmm!" Perempuan itu mendengus dingin, setelah termenung beberapa saat, akhirnya ia berkata juga, "Karena mereka hendak gunakan rumahku untuk disewakan kepada orang lain, juga menggunakan namaku untuk pekerjaan ini, maka aku termasuk salah seorang pembunuh didalam kejahatan tersebut. "

"Kau ada hubungan dengan Loteng Genta?"

"Loteng Genta? Nama ini baru pertama ini kudengar." "Tiap Hoa Siancu!" ujar Kiang To kemudian dengan

dingin. "Kau telah membinasakan orang tuaku, juga termasuk salah seorang perencana dari kejahatan tersebut, aku tak dapat mengampuni dirimu.."

"Ooooouw     jadi kau ingin membalas dendam?" Jengek

si Bidadari Kupu-kupu dan Bunga ini. "Tidak salah!"

"Kalau begitu, silahkan mulai turun tangan!"

Air muka Kiang To penuh diliputi napsu membunuh, selangkah demi selangkah ia mendekati diri Tiap Hoa Siancu. . . .

Melihat kebulatan tekad sang pemuda, Kiang Ing sebagai pamannya tak dapat berbuat apa-apa kendati yang dimusuhi adalah bekas kekasihnya, dengan wajah sedih ia menyingkir kesamping.

Tiba-tiba. . . .

Suara bentakan bergema memenuhi angkasa, ditengah suara bentakan yang keras itulah tubuh Kiang To mendesak maju kedepan diiringi sebuah serangan dahsyat mengancam bagian bahaya diatas tubuh Tiap Hoa Siancu, Serangan yang dilancarkan Kiang To cepat laksana sambaran kilat, apalagi tenaga dalamnya pada saat ini sudah mencapai pada saat-saat puncaknya, serangan ini laksana ambruknya gunung Thay-san dan menggulungnya ombak ditengah samudra.

Tiap Hoa Siancu membentak keras, ia segera mengirim sebuah serangan pula mengunci datangnya serangan lawan.

Serangan yang dilancarkan kedua belah pihak sama- sama cepatnya, tampak bayangan manusia berkelebat lewat, masing-masing telah mencelat kebelakang dengan sempoyongan, jelas didalam serangan ini kedua belah pihak tak ada yang berhasil mengungguli lawannya. 

"Tiap Hoa Siancu! Sungguh dahsyat tenaga sinkangmu," bentak Kiang To keras-keras.

"Kaupun tidak lemah!" Ketika itulah mendadak Kiang Ing melangkah maju kedepan menghadang dihadapan Tiap Hoa Siancu.

"Ui Mey Giok, bolehkah aku menanyakan satu urusan kepadamu?" ujarnya.

"Cepat katakan!"

"Di. . . dimana anakmu?"

"Mungkin sudah mati ditelan kobaran api, kau sangat gembira bukan. . .?"

Dengan bersedih hati Kiang Ing menunduk dan mundur kembali kebelakang.

"Tiap Hoa Siancu, terima kembali sebuah seranganku!" sekali lagi Kiang To membentak.

Badannya meluncur kedepan, telapak tangannya berkelebat kiri kanan mengirim satu pukulan kedepan. Serangan pertama baru meluncur, serangan kedua siap dilancarkan kembali. . .

Pada saat itulah Tiap Hoa Siancu tak dapat menahan rasa gusar didalam hatinya lagi, tangan kiri diayun kedepan melemparkan tubuh si Iblis Sinting kearah datangnya serangan Kiang To tersebut.

Suara jeritan bergema memenuhi angkasa, tubuh Iblis Sinting hancur berantakan seketika itu juga, ia menemui ajalnya dengan darah segar muncrat memnuhi lantai.

Menggunakan kesempatan itulah, dengan kecepatan penuh Tiap Hoa Siancu balas mengirim sebuah serangan gencar. Serangan yang dilancarkan perempuan itu sungguh ada diluar dugaan, kontan Kiang To terdesak mundur tiga empat langkah kebelakang.

Setelah berhasil merebut posisi diatas angin, Tiap Hoa Siancu melancarkan kembali tiga buah serangan berantai. Dengan demikian Kiang To makin terdesak lagi, sehingga susah untuk melancarkan serangan balasan.

Cu Hoa yang ada disisi kalangan, setelah melihat kejadian itu, hatinya mulai khawatir, keringat dingin mengucur keluar membasahi tubuhnya.

Mendadak suara bentakan kembali bergema, serangan Tiap Hoa Siancu laksana ambruknya gunung dan tumpahnya samudra menggulung tubuh Kiang To, Serangan itu datangnya amat cepat, sehingga sama sekali tidak memberi kesempatan bagi Kiang To untuk berkelit, terpaksa pemuda ini kertak gigi menerima datangnya serangan tersebut dengan keras lawan keras.

Mengambil ketika pemuda itu mengunci datangnya serangan tangan kanan, Tiap Hoa Siancu mengebutkan tangan kirinya menghantam dada pemuda she Kiang tersebut.

"Braaaaak!" Kiang To muntah darah segar, badannya terpental dan menggeletak diatas tanah.

Tiap Hoa Siancu segera menerjang lebih kedepan untuk menambahi sebuah serangan kembali.

"Aaaaach. . .!" saking kagetnya Cu Hoa berseru tertahan.

Mendadak. . . Kiang To yang menggeletak diatas tanah secara tiba-tiba meloncat bangun, kaki kirinya mengirim sebuah tendangan kilat mengancam lambung perempuan tersebut.

"Braaaaak, Tiap Hoa Siancu yang tidak menyangka akan datangnya tendangan kilat dari sang pemuda, dengan telak kena terhajar, badannya mencelat ketengah udara dan akhirnya terbanting keras-keras diatas tanah, dari mulutnya muntahkan darah segar. . . Dengan payah Kiang To merangkak bangun, selangkah demi selangkah ia mendekati Tiap Hoa Siancu, napsu membunuh makin menebal meliputi wajahnya.

Sekonyong-konyong. . . .

Tangan kanannya perlahan-lahan diangkat keatas bentaknya; "Tiap Hoa Siancu, serahkan nyawamu!"

Ditengah suara bentakan yang keras, telapaknya perlahan-lahan diayun kearah tubuh perempuan tersebut. Tetapi secara mendadak ia tarik kembali tangannya, tindakan tersebut tentu saja membuat Cu Hoa serta Kiang Ing tercengang, mereka tidak menduga pemuda itu bisa tarik kembali telapaknya.

Seraya menggertak gigi, pemuda itu angkat seluruh tubuh Tiap Hoa Siancu keatas, dan tepat ketika itu perempuan tersebut telah sadar kembali dari pingsannya. Ia pandang wajah Kiang To dengan sayu, air mukanya pucat pasi bagaikan mayat.

Kiang To tertawa dingin tiada hentinya. "Heee. . .heee. .

.heee. . . Tiap Hoa Siancu, tak kau sangka dirimu bisa menemui kejadian seperti ini hari bukan. ?" jengeknya.

"Ayoh cepat turun tangan!"

"Tiap Hoa Siancu." teriak Kiang To sambil menggertak gigi, "Ayahku bersikap sangat baik kepadamu, diantara kalian tiada ikatan dendam ataupun sakit hati, mengapa kau begitu tega untuk bersekongkol dengan orang untuk bersama-sama mencelakai dirinya? Hatimu benar-benar amat keji!"

"Hmmm!" Sudah tidak usah banyak bicara, ayoh cepat turun tangan bunuh diriku!" "Heee. . .heee. . .heee. . . Tiap Hoa Siancu, aku ingin bertanya lagi kepadamu, dimanakah si Tangan Pencabut Bunga serta Pek Thian Ki kini berada?"

"Aku tidak tahu!"

"Siapa yang memerintahkan kalian berbuat demikian?" "Sudah kukatakan, aku tidak tahu!"

Habis sudah kesabaran dari pemuda ini, seraya menggertak gigi, bentaknya keras-keras;

"Tiap Hoa Siancu, aku tak akan membinasakan dirimu. .

. tapi aku ingin beritahu satu hal kepadamu, aku bisa pergi mencari Pek Thian Ki serta si Tangan Pencabut Bunga!" Seraya berkata ia banting tubuh perempuan Bidadari Kupu2-dan Bunga ini keatas tanah.

"Kenapa tidak sekalian kau bunuh dirinya?" Perlahan Kiang Ing bertanya dengan nada sedih.

Kiang to menghela napas panjang. "Aku tidak ingin membunuh dirinya, karena selama ini kau telah banyak menyiksa dan membuat ia menderita, maka aku suka mengampuni dirinya satu kali, aku ingin bayarkan hutangmu kepadanya."

Air mata jatuh berlinang membasahi seluruh kelopak mata Kiang Ing, ia merasa amat sedih. "Aku telah mencelakai seorang perempuan, menghancurkan banyak soal. . . seluruh dosa, akulah yang mulai. "

Kiang To pun tertawa getir melihat kesedihan pamannya. "Kadang kala suatu tindakan yang tanpa sengaja dan tanpa mengandung maksud tertentu dapat menciptakan berpuluh-puluh macam kesedihan, aaai. . .

paman, mari kita pergi!" Kiang Ing mengangguk, dipandangnya sekejap wajah perempuan bekas kekasihnya, lalu putar badan dan berlalu dari sana. Demikianlah mereka bertiga segera berjalan keluar dari rumah misterius itu menuju kearah luar.

Beberapa saat kemudian, mendadak Kiang Ing berhenti berlari. "Kalian berangkatlah terlebih dulu!" serunya tiba- tiba.

"Kau? Kenapa kau paman?"

"Aku. . ." ia tertawa getir dan menghela napas panjang, "Aku ingin baik-baik berpikir, aku ingin mengenang kembali apa yang telah kulakukan sepanjang hidupku, soal apa dan siapa saja yang kuhancurkan hidupnya. kalian

pergilah dahulu, pada suatu ketika aku bisa datang mencari diri kalian lagi!"

"Paman.   "

"Pergi dan carilah Hu Toa Kan, kemungkinan besar ia tahu dimana Pek Thian Ki sekarang berada!"

Mendengar ucapan tersebut seluruh tubuh Kiang To tergetar keras, tak kuasa ia berseru tertahan. "Apa? Hu Toa Kan tahu dimanakah Pek thian Ki si bangsat terkutuk itu kini berada?"

"Kemungkinan besar benar, karena menurut dugaanku, diapun termasuk salah seorang yang berkomplot dalam persekongkolan dengan mereka untuk berbuat peristiwa sekeji ini."

Kiang To mengangguk, dengan ter-mangu2 ia memandang wajah Kiang Ing pamannya yang berdiri ter- mangu2 disana, Untuk beberapa saat lamanya, ia merasa hatinya ikut sedih dan pilu mengingat penderitaan yang dijalani pamannya selama ini. Akhirnya dengan hati berat dan kesedihan yang ditekan, ia putar badan berlalu dari sana diikuti Cu Hoa dari belakang.

Sekeluarnya dari hutan Touw, tiba-tiba Cu Hoa menyapa dengan suara yang halus;

"Kiang Siauw-hiap!" "Ehmm. . .!"

"Akupun seharusnya pergi dahulu meninggalkan dirimu untuk sementara waktu."

"Apa?. . . kau. . . kaupun hendak pergi? Kau hendak pergi kemana?"

Air muka gadis itu berubah amat sedih, kepalanya tertunduk rendah-rendah dan membungkam dalam seribu bahasa. Melihat gadis itu membungkam, air muka Kian To pun ikut berubah penuh kesedihan, perlahan-lahan ia menghela napas panjang.

"Nona Cu, kau telah banyak menolong diriku, aku merasa sangat berterima kasih kepadamu."

"Hal itu sudah seharusnya," gadis itu tertawa sedih. "Cuma aku berharap pada suatu ketika kau dapat mengunjungi lembah Bu Cing Kok kami, karena suhu ingin berjumpa dengan dirimu. . ."

"Aku pasti akan pergi kesana, pada suatu hari aku berjanji akan mengunjungi gurumu!"

"Kalau begitu aku pergi dulu, baik-baiklah kau berjaga diri dan sampai jumpa lain waktu!"

Kiang To mengangguk perlahan. "Pergilah !. . ." Dengan hati yang sedih, gadis tersebut perlahan-lahan putar badan dan melangkah pergi dari sana.

Melihat gadis itu berberat hati meninggalkan dirinya, jantung Kiang To berdebar keras, tak tertahan lagi ia berseru;

"Nona Cu. . ."

Mendengar teguran itu Cu Hoa berhenti, perlahan-lahan putar badan.

"Kau masih ada urusan apa lagi?"

"Aku?. . .aku. . .aku. . ." Mendadak ia menubruk maju kedepan, bagaikan seekor binatang liar dengan kasar dan penuh napsu ia terjang tubuh gadis tersebut, kemudian dipeluknya erat-erat.

Selama ini Cu Hoa selalu berharap pada suatu ketika ia bisa berbuat demikian, kini ketika dirinya dipeluk oleh pemuda idaman hatinya ia mendesis lirih;

"Kiang Siauw-hiap?. . ." Ia balas pelukan perjaka tersebut dengan tidak kalah eratnya.

Cinta yang bersemi dan selalu dipendam dalam hatinya kini tak bisa dibendung lagi, mengalir keluarlah perasaan yang selalu ditekan selama ini.

Ia cium gadis itu dengan penuh mesra, bibirnya yang merah merekah dan kecil mungil menambah kenikmatan dari ciuman tersebut. . . .

Gadis itu tidak mau kalah, dengan bernapsu dibalasnya ciuman pemuda itu dengan suatu kecupan yang hangat dan bergairah.

Saat itu juga ia telah menyerahkan dan persembahkan seluruh cinta kasihnya buat pemuda ini, cinta yang suci bersih serta kehangatan tubuhnya yang menggiurkan. . . . . Lama. . . lama sekali Kiang To baru melepaskan pelukan gadis tersebut, ia temukan Cu Hoa sedang terisak, air mata jatuh berlinang membasahi seluruh kelopak matanya.

"Eeeei. . . kenapa kau?" tanya Kiang To tertegun. Gadis itu bungkam dalam seribu bahasa.

"Apakah perbuatanku yang terlalu kasar, sehingga menyakiti dirimu?"

"Tidak. . . !" gadis itu menggeleng. "Lalu kenapa. . .?"

"Sudahlah, jangan terlalu kau pikirkan hal ini, Kiang Siauw-hiap! Karena rasa girang, bisa menerima cintamu, aku mengucurkan air mata kegirangan, semoga saja kau tidak menerima cinta kasihku yang suci sebagai barang mainan. "

"Aku tak akan berbuat demikian nona Cu, kau percayalah, aku benar-benar mencintai dirimu."

"Selama hidupku, aku hanya mencintai kau seorang, Kiang Siauw-hiap, moga-moga kau selalu mengingat akan diriku."

"Aku dapat mengingat dirimu selalu, sampai mati tak akan kulupakan dirimu!"

"Kiang Siauw-hiap kalau begitu, aku harus pergi dulu, semoga kau tidak akan menyia-nyiakan harapanku. "

"Nona Cu, jangan khawatir, tak akan kulupakan dirimu selama hidup. "

"Aku akan pergi dulu, setelah kau tiba digunung Lui Im San, janganlah menyalahi Hu Siauw In, dia adalah isterimu, sejak dahulu sampai akhir hidupmu dia tetap merupakan isterimu, mengerti?" "Aku mengerti!"

"Nah, pergilah, jikalau didalam sepuluh hari ini kau tak sempat mencari aku, maka aku bisa pergi mencari dirimu."

"Baik, kita janji begini saja!" Dan merekapun berpisah. . .

Perpisahan ini membawa rasa sedih yang tak terhingga. .

. tetapi mengandung pula harapan yang tiada batasnya.

Kiang To langsung menuju kegunung Lui Im San, sedang Cu Hoa gadis tersebut pergi menyelesaikan tugas sendiri.

Mereka berpisah untuk sementara dan akan berjumpa kembali dikemudian hari.

Kisah inipun tamat untuk bagian pertama, untuk kemudian disambung bagian dua dengan judul: "CINTA DAN DENDAM'

TAMAT