-->

Misteri Rumah Berdarah Jilid 12

Jilid 12

Bab 34

TUBUHNYA melesat, meloloskan diri dari datangnya serangan siorang berbaju hitam, kemudian maju selangkah kedepan, sepasang telapaknya didorong kedepan bergantian mengirim tiga buah serangan mematikan. Serangannya dilaksanakan dengan berat dan penuh tenaga.

Agaknya tenaga dalam yang dimiliki Cu Hoa bukan tandingan dari pihak lawan, setelah lewat tiga jurus, ia mulai kena terdesak sehingga mundur terus sejauh satu tombak lebih dari tempat semula.

Cu Hoa membentak keras, senjata Sam Ciat Tong-nya digetarkan mengirim satu babatan gencar kearah musuhnya. Sinar mata sibayangan hitam itu berkelebat lalu buru-buru mundur beberapa langkah kebelakang, teriaknya tertahan;

"Aaaaaaaach! Senjata Sam Ciat Tong.     "

"Sedikitpun tidak salah.     "

"Siii. . .siii. . . siapa kau?" Nadanya gemetar dan lirih penuh rasa ketakutan membuat hati orang bergidik. "Siapakah aku rasanya, kau masih belum berhak mengetahuinya, tapi ada satu urusan yang rasanya kaupun tentu paham. . ."

"Urusan apa?"

"Barang siapa yang telah melihat senjata Sam Ciat Tong berarti dia harus mati. . ."

Kata 'Mati' begitu meluncur keluar dari bibirnya, sang tubuhpun meluncur maju kedepan, senjata Sam Ciat Tong digetarkan dimana cahaya putih berkelebat lewat, ia sudah mengirim sebuah serangan yang luar biasa hebatnya kearah siorang bayangan hitam itu.

Bayangan hitam tersebut merasa sangat terperanjat, tangan kanannya didorong kedepan memunahkan datangnya serangan lawan, sedang sang tubuh mencelat balik kedalam Rumah Aneh itu.

"Hmmmmm! Kau anggap masih bisa melarikan diri???" bentak Cu Hoa dengan nada dingin.

Cahaya tajam berkelebat lewat, suara jeritan ngeri berkumandang memenuhi angkasa, tampak tubuh sibayangan hitam tersebut berkejit-kejit, akhirnya roboh keatas tanah.

Sekalipun kepandaian silat yang dimiliki siorang bayangan hitam itu sangat lihay, tapi baginya masih terasa amat sukar untuk meloloskan diri dari serangan senjata rahasia yang dilepaskan dari balik senjata Sam Ciat Tong tersebut, begitu terhajar badannya lantas roboh dan seketika itu juga menemui ajalnya.

Cu Hoa tertawa dingin, sembari tarik balik senjatanya ia menyimpan kembali Sam Ciat Tong tersebut kedalam saku.

Pada waktu itu. . . . Pek Thian Ki baru saja selesai menyembuhkan luka yang diderita Hu Li Hun, dan membuka kembali matanya, tepat bersamaan sewaktu Cu Hoa turun tangan membinasakan sibayangan hitam itu.

Ia rada melengak dibuatnya. "Cu Hoa, kau! Apa yang telah terjadi?" tanyanya.

"Ayo, cepat pergi dari sini! Aku lihat tempat ini bukan tempat yang bagus bagi dirimu."

"Apa ???? Pergi dari sini ????"

"Sedikitpun tidak salah, tempat ini bukan tempat yang baik bagimu, lebih baik kita cepat-cepat pergi dari sini.

"Tidak. . . . ." potong Pek Thian Ki dingin, "Untuk sementara aku masih tidak ingin pergi dari sini."

"Kau harus pergi dari sini!" bentak Cu Hoa lirih. "Pertama, jika dibicarakan dari tenaga lweekang yang kau miliki saat ini rasanya masih belum mampu untuk menyelidiki rumah aneh ini, apalagi mengandalkan keberanian serta kejantanan saja, hanya mendatangkan kematian yang mengerikan buat dirimu, Dan kedua, si Sin Si-poa ingin menemui dirimu!"

"Apa ???? si Tukang ramal itu ingin menemui diriku ???" "Benar, ia berhasil menyelidiki tahu, bahwa tahun yang

lalu sebelum Sin Mo Kiam Khek pergi menyewa rumah ini, ia telah pergi menemui seseorang terlebih dahulu. . ."

"Siapa???" teriak sang pemuda tak terasa, hatinya tergetar sangat keras.

"Persoalan ini akan menjadi jelas setelah kau pergi kesana, kemungkinan sekali orang ini mengetahui asal- usulmu yang sebenarnya, sudah tentu rumah aneh yang misterius ini harus kita selidiki sampai jelas, tapi rasanya jauh lebih jelas kita selidiki kembali rumah ini setelah mengetahui dahulu asal-usulmu."

"Apakah orang itu sungguh-sungguh dapat membuktikan asal-usulku?"

"Sedikitpun tidak salah!"

"Baiklah, aku akan pergi mengikuti dirimu!"

"Kepada nona Suma ini, si Sin Si-poa pun ada undangan untuknya."

"Sin Si-poa mengundang diriku? Apa yang ia inginkan?" seru Hu Li Hun tercengang.

"Soal ini kau bakal tahu sendiri setelah pergi kesana." "Tapi aku tak ingin pergi kesana!"

"Mengapa?"

"Persoalan yang kalian kerjakan sama sekali tiada sangkut pautnya dengan diriku, maka aku tidak ingin pergi."

"Nona! Kau harus pergi kesana karena ada suatu urusan yang punya sangkut paut dengan dirimu, semisalnya saja hubungan yang erat antara ibumu Hu Bei San dengan Sam Ciat Sin Cun. . ."

"Apa? Ibunya adalah Hu Bei San, adik dari Hu Toa Kan?" teriak Pek Thian Ki tertahan.

"Sedikitpun tidak salah!"

Kali ini Pek Thian Ki betul-betul dibuat berdiri mematung ditengah kalangan, karena ia merasa peristiwa yang barusan terjadi benar-benar berada diluar dugaannya. "Kau. . . . bagaimana kau bisa tahu kalau ibuku adalah Hu Bei San ???. . ." Hu Li Hun pun dibuat kaget sehingga melengak.

"Dugaan dari Sin Si-poa."

"Dasar apa si tukang ramal itu bisa mengatakan demikian???"

"Soal ini aku merasa kurang jelas, ia hanya beritahu kepadaku bahwa nona Suma Hun tersebut ada kemungkinan adalah putri dari Hu Bei San. . ."

"Nona Hu, benarkah ibumu adalah Hu Bei San?" tanya pemuda she Pek kaget.

"Sedikitpun tidak salah!" Ia merandek sejenak kemudian tambahnya. "Cukup berdasarkan perkataanmu barusan ini sudah seharusnya aku ikut kalian pergi menemui si tukan ramal Sin Si-poa itu.

"Kalau begitu, mari kita berangkat!" kata Cu Hoa. Pertama-tama ia yang berkelebat dulu kedepan melakukan perjalanan.

Pada saat ini pikiran Pek Thian Ki penuh diliputi oleh persoalan2 baru, ia berpikir keras sebenarnya apa hubungan antara Hu Bei San ibu dari Hu Li Hun dengan Sam Ciat Sin Cun Kiang Lang. . . Karena semakin dipikir semakin bingung, akhirnya ia enjotkan tubuhnya mengejar kebelakang punggung Cu Hoa.

Tiba-tiba. . . . Sewaktu Pek Thian Ki melesat kearah depan itulah, ditengah kesunyian yang mencekam sekeliling tempat itu berkumandang datang suara bentakan yang amat keras; "Berhenti!" Suara bentakan tersebut keras dan berwibawa, tanpa terasa lagi, Pek Thian Ki serta Hu Li Hun bersama-sama menghentikan langkah kakinya.

Ketika menoleh dari balik hutan Touw muncullah seorang sastrawan berusia pertengahan, orang itu bukan orang lain adalah simanusia yang menyebut dirinya sebagai si-tamu pencari bunga yang pernah ditemuinya sewaktu berada didalam Istana Perempuan.

Pek Thian Ki berdiri tercengang, Si-tamu pencari bunga itu memandang sekejap kearah Pek Thian Ki, lalu tanyanya;

"Bocah cilik, kau masih teringat dengan diriku bukan?" "Ooooouw. . .! Cianpwee kiranya kau orang." seru Pek

Thian Ki sambil tertawa hambar.

"Sedikitpun tidak salah!"

"Tolong tanya apa maksud cianpwee datang kemari?" "Aku? Oooouw. . . aku sedang mencari kau!" "mencari aku?"

"Sedikitpun tidak salah, bocah cilik, aku mau bertanya kepadamu, apa maksudmu datang kemari."

Pek Thian Ki rada tertegun mendengar pertanyaan itu, lama sekali ia termenung, kemudian baru sahutnya; "Menyewa runah aneh itu!"

"Sudah berhasil kau sewa?" "Belum!"

"Apa tujuanmu dengan menyewa rumah aneh itu?"

Oleh pertanyaan yang diajukan oleh pihak lawan ini Pek Thian Ki jadi berdiri membodoh ditengah kalangan, untuk beberapa saat lamanya, ia tak dapat menjawab pertanyaan tersebut.

"Baiklah, biar aku yang wakili kau untuk menjawab!" kata si-tamu pencari bunga, "Kau menyewa Rumah Aneh ini bukankah hanya ingin melihat rahasia apa yang sebenarnya terkandung didalam rumah aneh tersebut? Bukankah begitu?"

"Sedikitpun tidak salah!"

"Lalu apa yang telah berhasil kau lihat dan rahasia apa yang berhasil kau dengar?"

"Tidak ada?"

"Jikalau tidak ada yang kau peroleh, mengapa kau hendak pergi? Apakah tiada bernyali untuk menyelidiki rahasia rumah aneh tersebut?"

Air muka Pek Thian Ki berubah hebat. Cu Hoa sendiripun berubah muka, tanyanya lirih;

"Siapakah dia?"

"Aku sendiripun tidak kenal!"

Cu Hoa mengangguk, mendadak katanya kepada si sastrawan berusia pertengahan itu; "Tapi kita harus pergi dari sini!"

"Mengapa?"

"Karena kami ada urusan penting yang harus dikerjakan!"

"Pergi mencari Sin Si-poa?"

Mendengar pertanyaan itu, air muka mereka berdua sama-sama berubah hebat, setelah lama sekali berdiri ragu- ragu, akhirnya mengangguk juga; "Sedikitpun tidak salah!"

"Pek Thian Ki!" ujar si-tamu pencari bunga lagi sambil tertawa ringan. "Punya nyalikah kau orang untuk pergi menyelidiki runah aneh yang misterius itu ???"

"Siapa yang bilang aku tidak punya nyali ???" sahut pemuda tersebut dengan air muka berubah hebat.

"Kalau begitu, kau tidak seharusnya berlalu dari sini dengan tidak membawa sesuatu hasilpun!"

Selagi Pek Thian Ki hendak memberikan jawaban, Cu Hoa   yang   ada   disisinya   kembali    sudah    berbisik; "Pek Thian Ki, orang ini sangat mencurigakan, biarlah aku selidiki dulu siapakah dia!" Sembari berkata, ia melangkah kedepan mendekati si-tamu pencari bunga itu.

Air muka Pek Thian Ki rada bergerak, tapi ia tetap berdiri ditempat semula. Sinar mata si-tamu pencari bunga itu dengan tajam menyapu sekejap diri Cu Hoa, lalu tegurnya dingin;

"Bocah perempuan, apa yang kau kehendaki ???"

kata-kata 'Bocah perempuan' tersebut langsung membuat seluruh tubuh Cu Hoa gemetar sangat keras, karena hinga saat ini belum ada seorang jagoan dunia kangouw pun yang tahu jika dia adalah seorang gadis yang menyaru sebagai seorang pria.

"Hmmm! Ternyata kau lihay juga." dengus Cu Hoa dingin. "Aku ingin tahu siapakah sebenarnya dirimu?"

"Sekalipun kau sudah tahu juga percuma!"

"Mengapa kau paksa Pek Thian Ki masuk kedalam rumah aneh itu untuk antar kematiannya?" "Siapakah yang bilang Pek Thian Ki pasti mati setelah memasuki rumah aneh itu?" Si-tamu pencari bunga itu tertawa ringan.

"Aku!"

"Ooooouwu. . . . jadi kau adalah Majikan rumah aneh tersebut?"

"Bukankah perkataanmu itu hanya ngaco-belo belaka?" seru Cu Hoa melengak.

"Kalau memang, demikian, dari titik apa kau bisa mengambil kesimpulan bahwa Pek Thian Ki pasti mati setelah memasuki rumah aneh tersebut?"

"Saudara, aku mau bertanya, siapakah yang berhasil keluar dalam keadaan hidup setelah memasuki rumah itu?"

"Tapi bagaimanapun juga tak mungkin bisa dikatakan tiada pengecualian bukan?"

"Asal-usul saudara bukan saja misterius bahkan pembicaraanpun diliputi kemisteriusan, jikalau engkau tidak ingin memberitahukan siapakah dirimu, aku masih punya cara untuk paksa kau bicara!"

"Apa caramu itu ???? Ilmu silat!" "Sedikitpun tidak salah."

Kembali si-tamu pencari bunga itu tertawa. "Pek Thian Ki, jikalau kau punya nyali, bagaimana kalau aku temani dirimu memasuki rumah tersebut untuk mengadakan penyelidikan ????"

"Bagus sekali!" sahut Pek Thian Ki dengan air muka berubah hebat.

Tiba-tiba Cu Hoa tertawa dingin tiada hentinya; "Aku bisa menduga siapa saudara!" "Siapa ???"

"Majikan dari rumah itu."

Si-tamu pencari bunga segera tertawa terbahak-bahak. "Perkataanmu itu kedengarannya cukup membuat orang jadi kebingungan setengah mati, dari kesimpulan mana kau bisa mengatakan kalau aku majikan dari rumah itu ????"

"Karena kau menggunakan kata-kata menghasut Pek Thian Ki, agar suka memasuki rumah itu, kemudian membinasakan dirinya disana, Sehingga peristiwa berdarah yang pernah terjadi selama puluhan tahun ini, selamanya tidak berhasil memperoleh penyelesaian."

Dugaan yang diucapkan Cu Hoa memang sangat beralasan sekali dengan kenyataan yang terbentang didepan mata, tak urung Pek Thian Ki kena digerakkan juga hatinya.

Si-tamu pencari bunga tertawa. "Kau bocah perempuan sungguh tidak jelek, lebih baik kau jangan anggap dirimu terlalu pintar sehingga jadi keblinger!" Ia tersenyum ramah lalu tambahnya; "Pek Thian Ki, jika kau tidak ingin masuk, aku akan segera berangkat seorang diri." Habis berkata, ia melangkah kearah rumah aneh tersebut.

Cu Hoa berkelebat lewat menghadang didepan orang itu, teriaknya dingin; "Tungu sebentar!"

"Apa yang kau inginkan lagi?" "Aku ingin tahu siapakah kau?"

"Aku rasa pertanyaanmu itu tak mungkin aku jawab!" "Kau sungguh-sungguh tidak ingin berbicara?"

"Sudah tentu sungguh-sungguh, apa kau anggap hanya pura-pura, ya?" "Kalau begitu, rasakanlah kelihayanku!" Badan sang gadis yang menyaru sebagai pria ini mencelat ketengah udara, kemudian meluncur kedepan, tangan kanannya diayun melancarkan satu babatan dahsyat kearah si-tamu pencari bunga.

Serangan yang dilancarkan Cu Hoa sangat dahsyat bagaikan kilat, Dengan tenang si-tamu pencari bunga berputar, lantas berkelit kesamping, gerakannya luwes dan sama sekali tidak menggunakan banyak tenaga.

Pada waktu itu serangan kedua dari Cu Hoa sudah beruntun menggencet datang. Si-tamu pencari bunga tertawa dingin, tangan kanannya dibabat mengunci serangan lawan, sedang tangan kirinya mendadak didorong kemuka.

Daya kekuatan serangan tersebut sangat cepat dan aneh sekali, seketika itu juga Cu Hoa kena didesak mundur sejauh satu tombak lebih kebelakang.

"Bocah perempuan dengan mengandalkan kepandaian yang kau miliki masih belum merupakan tandingan dari aku orang!" seru si-tamu pencari bunga dingin.

"Kalau begitu, kau boleh coba-coba saja nanti!" Mendadak sang gadis she Cu ini mengeluarkan senjata Sam Ciat Tong-nya, lalu dimana tangannya sedikit digetarkan muncullah sebilah anak panah yang pendek.

"Haaaa. . . senjata Sam Ciat Tong?" si-tamu pencari bunga itu berseru tertahan.

"Sedikitpun tidak salah!"

Berturut-turut si sastrawan berusia setengah baya itu mundur tiga, empat langkah kebelakang. "Kau. . .

.darimana kau dapatkan senjata tersebut?" tanyanya dengan hati bergidig. "Soal ini kau tidak perlu tahu." "Aku tahu siapakah dirimu. . ." "Siapa?"

"Aku tidak ingin mengucapkannya keluar."

"Jikalau sudah tahu senjata Sam Ciat Tong ini, maka seharusnya tahu bukan, barang siapa yang melihat senjata ini berarti mati!"

Begitu ucapan terakhir meluncur keluar dari bibirnya, cahaya putih berkelebat lewat, ujung yang tajam dari senjata Sam Ciat Tong itu dengan dahsyat menyerang tubuh si-tamu pencari bunga tersebut. Begitu Cu Hoa melancarkan serangan, si sastrawan berusia setengah baya itupun tertawa dingin tiada hentinya.

"Senjata Sam Ciat Tong ini tak bakal bisa menakut- nakuti diriku!"

Bayangan manusia berkelebat lewat, ia bukan saja berhasil menghindarkan diri dari datangnya serangan lawan, bahkan balas melancarkan satu serangan dengan kecepatan tidak berada dibawah kecepatan Cu Hoa. Kejadian ini langsung saja membuat gadis she Cu itu merasa sangat terperanjat.

Ia tidak malu disebut sebagai seorang jagoan yang memiliki kepandaian silat sangat tinggi, sewaktu merasa sasarannya yang kosong pedangnya digurat berulang kali, hanya dalam sekejap mata beruntun telah mengirim tiga buah serangan sekaligus.

Kepandaian silat yang dimiliki Cu Hoa bukan termasuk golongan yang biasa, dibawah serangan beruntunnya ternyata keadaannya masih tetap seperti sediakala, sedikitpun tidak terjadi perubahan. Mendadak. . . .

Mengiringi suara bentakan dari si-tamu pencari bunga itu tampaklah tangan kanannya dipentangkan lebar2, lantas mencengkeram wajah Cu Hoa. Diam2 gadis itu merasa sangat terperanjat, pedangnya digetarkan membabat pinggang lawan untuk berusaha memaksa dia orang menarik kembali serangannya.

Pada saat itu Cu Hoa mengirim satu babatan kearah lawan, itulah si-tamu pencari bunga dengan serangan kosong jadi kenyataan tangan kirinya menotok kemuka. Kedua buah serangan yang dilancarkan si sastrawan berusia setengah baya ini kesemuanya dilancarkan dengan kecepatan laksana sambaran kilat.

Agaknya Cu Hoa tidak sempat untuk menghindarkan diri lagi, dengan niat mengadu jiwa bukannya menghindar, ia malah menerjang maju kedepan, tangan kanannya menekan tombol senjata rahasia.

Cahaya tajam berkelebat lewat, senjata rahasia meluncur kedepan bagaikan hujan gerimis. Bersama dengan melncurnya senjata rahasia tersebut menghajar tubuh lawan, suara dengusan berat bergema memenuhi angkasa, Cu Hoa telah kena tertotok dan roboh tak berkutik diatas tanah. Kejadian ini langsung membuat Pek Thian Ki jadi sangat terperanjat.

Pada waktu itu. . . .

Si-tamu pencari bunga sudah melayang mundur kebelakang, terlihatlah diatas baju bagian dadanya tertancap tiga batang jarum perak sepanjang dua cun. Melihat kejadian itu, sekali lagi pemuda itu merasakan hatinya bergidik. Ia sama sekali tidak menduga kalau kepandaian silat yang dimiliki si-tamu pencari bunga ini sangat tinggi dan telah mencapai taraf kesempurnaan, dengan mengerahkan hawa khi-kangnya, ternyata ia berhasil menahan datangnya ketiga batang senjata rahasia tersebut.

"Bocah perempuan, sungguh ganas seranganmu ini!" tegur si sastrawan berusia tengah baya ini dengan suara yang dingin.

Ia cabut keluar ketiga batang jarum perak itu, lalu dilemparkan keatas tanah, setelah itu dipungutnya senjata Sam Ciat Tong tersebut. Air mukanya hambar, sedikitpun tidak menunjukkan reaksi apapun, dengan teliti diperiksanya sebentar senjata Sam Ciat Tong itu, lalu digetarkan jadi tegak dan memasukkan kembali sang pedang kecil kedalam tabung.

Setelah itu, seraya memandang sekejap kearah Pek Thian Ki ujarnya; "Pek Thian Ki, menurut pandanganmu seharusnya aku beri sedikit hajaran atau tidak kepadanya.

"Beri sedikit pelajaran kepadanya?"

"Benar, bukankah tindakannya terlalu keji?"

"Menurut pandangan cayhe lebih baik sudahi saja urusan ini sampai disini!"

"Demikianpun baik. . ." akhirnya si-tamu pencari bunga itu mengangguk dengan alis dikerutkan.

"Cianpwee, menurut pandanganmu, mungkinkah dia adalah anak murid dari Sam Ciat Sin Cun tersebut?"

"Aku tidak tahu, cuma senjata Sam Ciat Tong ini memang merupakan tanda dari si Sam Ciat Sin Cun, sudahlah, kita tidak usah gubris dia lagi, aku cuma menotok jalan darah tidurnya saja, sebentar lagi ia bakal tersadar dengan sendirinya, mari kita pergi!"

"Pergi? Kemana?"

"Menyelidiki rumah aneh tersebut."

"Kau sungguh-sungguh hendak menyelidiki rumah itu?" tanya Pek Thian Ki melengak.

"Sedikitpun tidak salah, apa mungkin kau takut? Atau mungkin tidak ingin masuk kesana?"

"Apa yang aku takuti? Kau berani, sudah tentu akupun berani!" seru Pek Thian Ki dingin.

"Apakah kau tidak takut aku adalah Majikan yang sesungguhnya dari Rumah Aneh itu? Dan sekarang sedang memancing untuk kau masuk kedalam kemudian membinasakan dirimu?"

"Soal ini sih aku Pek Thian Ki boleh berlega hati!" "Berlega hati?"

"Benar, jikalau kau ingin membunuh mati aku, rasanya tidak perlu memancing masuk kedalam rumah, sekalipun disini kau masih sanggup untuk membunuh aku."

"Tidak salah, tidak salah ternyata kau bocah cilik mengerti juga akan persoalan ini, kalau begitu, mari kita berangkat!" Per-tama2 ia yang berlalu terlebih dahulu dari sana.

Pek Thian Ki mengikuti dari belakang tubuh si-tamu pencari bunga, ia melakukan perjalanan kearah depan.

"Pek Siauw-hiap!" Tiba-tiba Hu Li Hun berseru.

Mendengar teriakan itu, Pek Thian Ki berhenti dan menoleh; "Ada urusan apa?" "Aku tidak ingin ikut masuk kesana!" "Mengapa?"

"Aku tidak ingin mengetahui rahasia yang menyangkut soal rumah ini, aku mau pergi dari sini!"

"Tidak bisa jadi, kau harus ikut masuk kesana." sela si Sastrawan berusia setengah baya itu tiba-tiba.

"Mengapa?"

"Karena kami masih ingin mengetahui berbagai urusan yang menyangkut dirimu, mari jalan! Ada aku disini, kau boleh berlega hati, aku rasa kalian tak bakalan menemui ajal ditangan mereka."

Hu Li Hun ragu-ragu sejenak, akhirnya dengan alis berkerut ia mengiakan juga.

"Baiklah!"

Bab 35

MENGIKUTI dari belakang orang-orang itu, iapun melangkah pergi.

"Nona Hu! Mengapa kau menyaru sebagai Kiang To???" tiba-tiba Pek Thian Ki bertanya.

"Sudah tentu ada sebab2nya, asalkan kita berhasil keluar dari rumah ini, pasti akan kuberi tahu, dan inipun merupakan urusan yang pernah kusanggupi."

Dengan hati berat Pek Thian Ki mengangguk. Pada waktu itu. . . .Si-tamu pencari bunga telah tiba didepan pintu masuk, dengan tanpa sebab, mendadak ia berhenti berjalan dan mengalihkan sinar matanya keatas selembar kertas merah yang tertempel disisi pintu.  Ia berpaling memandang sekejap kearah Pek Thian Ki, kemudian tertawa dingin tiada hentinya; "Pek Thian Ki! Coba kau lihat, bukankah pengumuman ini sangat aneh sekali?"

"Aneh? ? ?" Tanpa terasa Pek Thian Ki pun ikut mengalihkan sinar matanya keatas lembaran kertas merah tadi.

Diatas kertas merah tersebut bertuliskan beberapa patah kata-kata sebagai berikut:

"RUMAH INI DISEWAKAN."

Langganan yang diutamakan: Orang-orang kangouw, terutama yang mengandalkan pedang.

Ongkos-ongkos sewa rumah: Pertama:     Uang      emas      murni      seribu      kati. Kedua     :     Giok      Hoa      Lok      sebotol      besar. Ketiga : Wanita cantik seorang.

Ketiga syarat tersebut harus dibayar lunas sebelum memasuki rumah ini, barang siapa yang berminat harap datang setiap tengah malam kentongan ketiga untuk menyerahkan syarat-syarat tersebut dan menempati rumah ini.

Catatan:

Jikalau ada yang bisa tahan mendiami rumah ini selama setahun, maka disamping itu akan diberi hadiah sebuah bangunan rumah merah yang indah. Tertanda: "Majikan Rumah ini."

Pek Thian Ki yang melihat pengumuman tersebut cuma bisa berdiri tertegun saja, sembari memandang si-tamu pencari bunga katanya;

"Aku tidak berhasil menemukan sesuatu hal yang aneh." "Benar, kau tidak bakal paham. . . .kau tidak bakal paham. "

"Apanya yang tidak paham ???"

"Coba kau lihat ketiga buah syarat untuk menyewa rumah ini, jikalau setiap patah kata yang pertama disambung jadi satu akan jadi kata-kata apa. "

"Ui Giok Mey.   "

"Ehmmm.   ! Coba mirip apa ???"

"Aaaaaah! Menyerupai nama dari seorang perempuan!" tiba-tiba Pek Thian Ki berseru tertahan.

"Sedikitpun tidak salah, memang nama seorang perempuan, tahukah kau bahwa Sam Ciat Sin-cun mempunyai seorang isteri yang bernama Tiap Hoa Sianci atau si Bidadari Kupu2 dan Bunga ???"

"Apakah Ui Giok Mey adalah nama dari Tiap Hoa Sianci tersebut ??? tanya sang pemuda dengan hati dak dik duk. . .

"Bukan!"

"Lalu siapakah sebenarnya ???" kembali Pek Thian Ki berdiri melengak.

"Tiap Hoa Sianci bernama Ui Mey Giok dan bukan Ui Giok Mey. "

"Maksudmu namanya terbalik ???"

"Benar! Nama bisa terbalik hal ini sudah tentu merupakan peristiwa yang tidak mungkin bisa terjadi. Syarat=syarat yang diajukan untuk menyewa rumah ini hanya memberi tahukan kepada Sembilan Jago Pedang dari kolong langit, bahwa orang yang mendiami rumah ini adalah Ui Mey Giok.      karena kesembilan orang jago dari

kolong langit mengetahui akan sesuatu persoalan.     "

"Persoalan apa ?????"

"Letak dari Rumah Berdarah." "Rumah Berdarah ????"

"Sedikitpun tidak salah, cacatan terakhir yang tercantum dipaling ujung dari pengumuman ini bukankah mengatakan bahwa siapa saja yang bisa mendiami rumah ini selama setahun ia bakal menerima hadiah sebuah rumah merah yang indah ????"

"Sedikitpun tidak salah!"

"Yang dimaksud Rumah Merah adalah Rumah Berdarah, sekarang kau sudah paham?"

"Aku paham. . . .aku paham, orang yang mendiami rumah ini adalah si Tiap Hoa Sianci Ui Mey Giok, ia ingin memancing kedatangan Sembilan Orang Jago dari kolong langit dengan tujuan ingin memperoleh Rumah Berdarah tersebut?"

"Sedikitpun tidak salah."

"Kalau begitu, mengapa namanya bisa salah tulis?" "Justeru persoalan terletak disini, menurut pendapatku,

orang yang mendiami rumah ini pasti adalah Tiap Hoa Sianci Ui Mey Giok!"

"Lalu, mengapa ia bunuhi sembilan jagoan dari kolong langit?"

"Persoalan ini masih membingungkan, cuma kita harus selidiki rahasia rumah ini sampai jadi jelas kembali."

"Tidak salah." seru Pek Thian Ki sambil kertak gigi. "Kita harus selidiki urusan ini sampai menjadi jelas." "Kalau begitu, mari kita masuk!"

"Cianpwee, sebenarnya siapakah kau?" tiba-tiba pemuda she Pek ini bertanya.

"Sebaliknya pada saat ini aku beritahu kepadamu tiada berguna, akhirnya kau bisa tahu sendiri!"

"Cianpwee, aku dibuat kebingungan setengah mati oleh asal-usulku sendiri, tentang Sam Ciat Sin-cun, Kiang To serta rumah aneh ini. "

"Ada satu persoalan aku bisa buktikan kepadamu yaitu kau adalah putra dari Sam Ciat Sin-cun dan merupakan Kiang To asli. "

"Berdasarkan apa kau bisa membuktikan bila aku adalah putra dari Sam Ciat Sin-cun dan bernama Kiang To ????"

"Ui Mey Giok yang berada dalam rumah ini bisa membuktikan persoalan ini dengan jelas."

"Kau.      apa kau kata ???"

"Sekarang banyak urusan yang tidak perlu kau tanyakan, karena aku sendiripun masih kurang jelas, untung saja peristiwa berdarah yang terjadi puluhan tahun yang lalu dengan misterius segera akan menjadi jelas kembali."

Sekali lagi Pek Thian Ki dibuat bingung oleh persoalan ini.

"Aku semakin bingung dibuatnya." ujar sang pemuda sambil memandang si-tamu pencari bunga itu.

"Jikalau begitu kau boleh bingung terus-menerus, mengerti lebih banyak malah tidak baik buat dirimu dan lebih baik untuk sementara kau tetap gunakan nama Pek Thian Ki saja."

"Mengapa?" "Asalkan Kiang To yang asli munculkan diri, maka seluruh dunia persilatan bakal dinodai dengan ceceran darah, karena itu untuk sementara. . . . sebelum peristiwa yang sebenarnya terungkap, kau masih bernama Pek Thian Ki."

Pemuda she Pek ini makin lama semakin terlempar seperti berada di-awang2, ia tidak mengerti peristiwa apa sebenarnya yang telah terjadi. . . . Ia tetap merasa tidak paham. Persoalan yang mencurigakan hatinya makin lama bertumpuk semakin banyak lagi.

"Sekarang kau tidak perlu terlalu banyak memikirkan persoalan yang tiada berguna," kata si-tamu pencari bunga itu menasehati, "Satu-satunya persoalan yang sedang kita hadapi saat ini adalah selidiki dahulu apakah orang yang menghuni rumah ini betul2 adalah Ui Mey Giok!"

Pek Thian Ki manggut. Ketika itu si-tamu pencari bunga sudah melangkah masuk kebalik pintu besar kemudian masuk keruangan dalam, sedang Pek Thian Ki pun dengan cepat mengikuti dari belakang.

Mendadak. . . .

"Berhenti!" Suara bentakan yang sangat dingin berkumandang memecahkan kesunyian. Membarengi suara bentakan tadi muncul sesosok bayangan manusia dengan kecepatan laksana kilat berkelebat kearah Pek Thian Ki, kemudian berdiri kurang lebih satu tombak dihadapan pemuda tersebut.

Sinar mata pemuda she Pek ini berkelebat lewat, air mukanya tiba-tiba berubah hebat karena ia menemukan orang itu adalah seorang dara cantik yang memakai baju warna hitam dengan rambutnya yang panjang terurai sepanjang pundak. "Aaaaach! Kau. . . .Tong Ling?" seru Pek Thian Ki tertahan.

"Heeeee. . . heeeee. . .heeee. . . sedikitpun tidak salah, juga bernama It Peng Hong!"

Diatas wajah Tong Ling terlintas hawa napsu membunuh yang sangat hebat, sembari mendekati pemuda itu selangkah demi selangkah, ia tertawa seram tiada hentinya. "Pek Thian Ki, bukankah aku pernah berkata kepadamu bahwa aku bisa balik kemari mencari dirimu?"

"Sedikitpun tidak salah!"

"Pek Thian Ki, aku bisa menolong kau, bisa pula membinasakan dirimu. . ."

Pek Thian Ki tertawa hambar. "Bagaimanapun selembar nyawaku adalah kau yang tolong, dikembalikan lagi kepadamu juga bukan suatu persoalan yang patut disayangkan. . ."

Belum habis pemuda itu berkata, tiba-tiba Hu Li Hun menjerit tertahan; "Kau. . . kau adalah Hek Mo Li atau si Iblis perempuan Hitam?. . ."

"Sedikitpun tidak salah!"

"Aaaaaach!. . ." Hu Li Hun menjerit tertahan kemudian berturut-turut mundur tiga empat langkah kebelakang.

Pek Thian Ki yang melihat kejadian ini segera merasakan hatinya merinding, sudah tentu ia masih belum mengerti bagaimana macam manusia yang disebut sebagai si Iblis Perempuan Hitam ini.

Terdengar Hek Mo Li Tong Ling tertawa dingin tiada hentinya; "Pek Thian Ki, selama hidupku belum pernah kubersikap baik kepada siapapun, tapi terhadap kau, aku sudah keluarkan seluruh kemampuanku untuk menyayangi dirimu, tetapi apa yang aku dapat dari dirimu? Pek Thian Ki, kaulah manusia pertama yang membuat aku berduka, aku hendak bunuh mati dirimu. . ."

"Apa yang kau inginkan, ucapkanlah secara terang- terangan."

"Tidak berat, aku hanya inginkan batok kepalamu." "Kalau begitu, kemarilah untuk ambil sendiri!" "Hmmm! Aku bisa melakukannya sendiri!"

Pada waktu Tong Ling sudah berada kurang lebih lima depa dihadapan Pek Thian Ki, hal ini membuat si-tamu pencari bunga kerutkan alisnya, Tiba-tiba ia mencelat kedepan menghadang diantara kedua orang itu, Tong Liong disebut orang-orang kangouw sebagai si Iblis Perempuan berhati hitam, hal ini disebabkan tindakannya keji, ganas, buas dan telengas, membunuh orang tak berkedip, bahkan munculnya kedalam dunia kangouw pun sangat misterius sekali, jarang ada orang yang tahu berasal dari manakah perguruannya.

Setelah gadis itu kena dihina habis oleh pemuda she Pek, kali ini ia munculkan dirinya kembali dengan tujuan untuk membalas penghinaan yang diterimanya tempo dulu. Tong Ling yang melihat si tamu pencari bunga menghadang didepannya, alisnya lantas dikerutkan rapat-rapat, tegurnya dingin;

"Apa yang hendak kau lakukan?"

"Buat apa nona mengumbar hawa marah disini? Jikalau diantara kalian berdua pernah mengadakan hubungan suami isteri, apa perlunya berbuat ribut-ribut karena suatu persoalan yang kecil? Sudahlah, anggap saja urusan selesai sampai disini." "Kentut makmu yang busuk!"

Walaupun si-tamu pencari bunga ketanggor batunya, tapi ia tetap senyum dikulum, kembali ujarnya;

"Begini saja, aku suruh Pek Thian Ki minta maaf kepadamu, bagaimana?. "

"Minta maaf? Aku Pek Thian Ki tak bakal melakukannya!" teriak sang pemuda dengan cepat.

"Akupun tidak butuh minta maafmu, ayoh cepat menyingkir!" teriak Tong Ling sambil tertawa dingin.

"Jikalau demikian adanya, kalian pasti hendak bertempur sampai salah satu menemui ajalnya?" sela si sastrawan berusia setengah baya itu dengan nada serius.

"Sedikitpun tidak salah."

"Ada aku disini kalian tak bakal bisa bertarung semuanya."

"Kalau bigitu, kau boleh coba-coba." Begitu selesai berbicara, Tong Ling segera mencelat kedepan bagaikan sambaran kilat, telapak tangannya dengan disertai tenaga dalam yang luar biasa hebatnya dihajarkan kearah si-tamu pencari bunga.

Serangan yang dilancarkan sigadis she Tong ini luar biasa cepatnya, dengan sebat orang itu menangkis dengan tangan kanannya.

"Tunggu sebentar!" bentaknya gusar.

"Kau masih ada pertanyaan apa lagi yang hendak disampaikan?"

"Kau orangkah yang bernama Tong Ling?" "Sedkitpun tidak salah." "Siapakah majikanmu?"

"Soal ini kau tidak perlu tahu. . ."

"Padahal sekalipun kau tidak suka bicara akupun bisa menduga separuh bagian, aku ada semacam barang, tolong kau sampaikan kepada majikanmu, beritahu kepadanya bahwa didalam sepuluh hari mendatang aku pasti pergi mencari dirinya!"

Dari dalam sakunya ia mengambil keluar sebilah pedang kecil yang panjangnya hanya lima cun dengan luas satu cun, lalu diangsurkan ketangan gadis tersebut.

Tong Ling menerima pedang kecil itu dan diperiksanya sebentar, mendadak air mukanya berubah hebat, karena ia dapat melihat diatas tubuh pedang tersebut berukirkan ombak air sungai yang menggulung-gulung berwarna biru serta seekor burung mementang sayap terbang diatasnya.

"Aaaaaach. . .! Kau?" Tiba-tiba saja gadis itu berseru tertahan.

"Emmmmm.     ! Mengapa?"

"Tiiii.      tidak mungkin?"

"Apanya yang tidak mungkin?"

"Tidak mungkin kau masih hidup dikolong langit!" "Bocah perempuan, apakah kau sudah tahu siapakah

aku?" seru si sastrawan berusia pertengahan itu sambil tertawa dingin.

"Tidak salah, aku pernah dengar orang membicarakan soalmu. Dan ada pula orang yang mengatakan kau sudah

mati!"

"Kalau begitu,  cepat  pulang dan beritahu kepada majikanmu, aku bisa pergi mencari  dirinya, sedang urusanmu dengan Pek Thian Ki, memandang diatas wajahku untuk sementara jangan diungkap kembali."

Air muka Tong Ling pada saat ini sudah berubah pucat- pasi bagaikan mayat, setelah berhasil menenangkan hatinya, ia berkata;

"Baiklah, aku akan sampaikan tandamu ini kepada majikanku." Habis berkata ia putar badan siap berlalu.

"Tong Ling!" tiba-tiba Pek Thian Ki menegur dingin. "Jangan pergi dulu, coba kau sebutkan siapakah dia?"

Mendengar suara bentakan tersebut, Tong Ling segera menghentikan langkahnya dan berpaling.

"Bagaimana? Apakah kau masih belum tahu siapakah kawanmu itu. . .?" tegurnya dingin.

"Jika aku sudah tahu, buat apa bertanya lagi kepadamu?"

"Kalau begitu, tanyakan saja sendiri kepadanya apakah kau tidak bisa bertanya?" Selesai berkata, tubuhnya mencelat ketengah udara dan berlalu dari sana dengan cepat.

Si Hek Mo Li ini adalah seorang iblis perempuan yang berhati ganas, dan keji, ternyata kali ini bisa merasa begitu takut kepada diri si-tamu pencari bunga, jelas hal ini menunjukkan bila orang itu adalah seorang yang sangat luar biasa sekali.

Sinar mata Pek Thian Ki perlahan-lahan dialihkan keatas wajah si sastrawan tersebut, tanyanya seraya tersenyum;

"Cianpwee siapakah sebenarnya kau?"

Si-tamu pencari bunga pun tertawa; "Soal ini sekalipun sudah kau ketahui juga percuma saja, mari kita masuk!" "Cianpwee, apakah kau tak bisa memberikan jawaban tersebut kepadaku. . .?"

"Mungkin!"

"Si Iblis Hek Mo Li ini sebetulnya termasuk perguruan yang mana ???"

"Hingga saat ini sukar ditentukan, kau tidak usah bertanya lagi, mari kita masuk."

"Baiklah."

Setelah menyahut, Pek thian Ki pun dengan mengikuti dari belakang si-tamu pencari bunga itu berjalan masuk kedalam ruangan rumah aneh tersebut.

Sudah tentu, didalam pikiran pemuda itu kembali bertambah dengan suatu persoalan yang ia tidak pahami, siapakah sebenarnya si-tamu pencari bunga yang sangat misterius ini ????

Pada waktu itu mereka bertiga telah memasuki ruangan rumah aneh tersebut yang ternyata merupakan sebuah ruangan tamu yang indah dan megah sekali, Diatas lantai ruangan masih menggeletak pedang Ciang Liong Kiam, Pek Thian Ki segera memungutnya kembali.

Tiba-tiba. . . .

"Aaaaach! Delapan bilah pedang!" Teriak Hu Li Hun tertahan.

Buru-buru pemuda tersebut mengalihkan sinar matanya mengikuti arah yang dilihat Hu Li Hun, Sedikitpun tidak salah diatas dinding ruangan tertancaplah delapan bilah pedang. Ketika sinar mata pemuda tersebut bertemu dengan pedang yang terakhir, tiba-tiba air mukanya berubah hebat. "Buuu. . . bukankah pedang itu adalah pedang Sin Mo Kiam. . .senjata. . .senjata guruku?" serunya tersendat- sendat.

"Tidak salah, pedang itu memang pedang Sin Mo Kiam!" Air muka Pek Thian Ki berubah semakin pucat lagi.

"Jadi guruku benar2 adalah Sin Mo Kiam Khek?" "Tidak salah!"

"Ia sudah mati?. . . ia benar-benar sudah mati?"

"Benarkah ia sudah mati, hingga ini hari masih susah untuk ditentukan karena banyak persoalan kadang-kadang berada diluar dugaan."

"Apa maksudmu?"

"Maksudku benarkah Sin Mo Kiam Khek sudah mati masih susah untuk dibicarakan."

"Dia. . ."

"Pek Thian Ki kau anggap diantara kuburan-kuburan yang berada didepan rumah itu sungguh-sungguh dikubur delapan jagoan pedang dari antara sembilan jagoan kolong langit?"

"Apakah itu palsu?"

"Palsu atau tidak, aku tidak berani memastikan, cuma diantara kedelapan buah kuburan tersebut, benar-benar terkubur manusia rasanya sukar untuk dipercaya."

"Jadi maksudmu kuburan itu hanya kosong belaka?"

"Menurut pendapatmu apakah ada kemnungkinannya?" Pertanyaan yang balik ditanyakan ini kontan membuat

Pek Thian Ki berdiri tertegun, sedikitpun tidak salah urusan memang ada kemungkinannya, karena ia belum pernah membongkar kuburan tersebut untuk dibuktikan apakah benar didalam liang sungguh-sungguh terkuburkan kedelapan orang jagoan pedang dari antara sembilan jagoan pedang dari kolong langit.

Lama sekali Pek thian Ki berdiri tertegun. "Aaaaaach. . .

.makin lama aku dibuat semakin bingung saja." serunya.

"Tapi sebentar lagi kau bakal menjadi jelas dengan sendirinya." Sambil berbicara si-tamu pencari bunga itu berjalan terlebih dahulu memasuki ruangan belakang.

Sedangkan Pek Thain Ki mengikuti dari belakangnya dengan hati berduka, pikirannya kacau-balau tidak karuan.

Suhunya benar-benar telah mati. Bersamaan itu pula kenyataan telah membuktikan jika suhunya bernama Sin Mo Kiam Khek Pek Thian Ki. . . . dan ia sendiri tidak bernama itu karena untuk sementara gurunya telah pinjamkan namanya itu untuk dia orang.

Lalu, apakah ia benar-benar bernama Kiang To? Agaknya persoalan ini sudah pasti benar, hanya belum memperoleh bukti yang nyata.

Mendadak. . . . Si-tamu pencari bunga yang berjalan didepan dibuat terkejut oleh suara tertawa dingin yang berkumandang keluar dari balik ruangan.

"Siapakah kalian bertiga? Apa maksud kalian sembarangan memasuki rumah orang lain?" Suara tersebut datangnya mendadak, kontan membuat mereka bertiga jadi terperanjat.

"Kawan, siapakah kau?" tegur si sastrawan tersebut dingin.

"Majikan rumah ini." "Sesungguhnya ada berapa banyak majikan rumah ini?" tegur sang sastrawan lagi dingin.

"Soal itu kau tidak perlu tahu, pokoknya yang jelas, rumah ini adalah milik bersama."

"Sesungguhnya ada berapa orang?" kembali si sastrawan mendesak lebih lanjut.

"Soal ini susah untuk dibicarakan, apa yang kalian bertiga inginkan?"

"Menyewa rumah ini!"

"Siapa diantara kalian yang ingin menyewa?" "Kami bertiga?"

Pihak lawan segera tertawa dingin tiada hentinya. "Maaf! Rumah kami hanya bisa disewakan setiap tahunnya satu orang, jikalau kalian bertiga ingin menempatinya bersama- sama, hal ini tidak bisa jadi!"

"Aku mau sewa rumah ini." bentak Pek Thian Ki dingin. "Kau?"

"Sedikitpun tidak salah."

"Tadi ada seorang membinasakan dua orang kawan kami, siapa diantara kalian yang melakukan?"

"Aku!"

"Kalau begitu rumah ini tak dapat disewakan kepadamu, setiap orang yang ingin menyewa rumah ini harus mempunyai asal-usul yang suci bersih, rumah ini tidak akan disewakan kepada seorang pembunuh!"

"Tapi aku sudah bulatkan tekad untuk menyewa rumah ini." "Bolehkah aku yang sewa???" Tiba-tiba si-tamu pencari bunga berseru dingin.

"Kau bisa menggunakan pedang ???" "Sedikitpun tidak salah."

"Ketiga syarat tersebut ???"

"Tidak ada. . . . cuma aku bisa menyusulkan barang- barang tersebut."

"Tidak bisa jadi!" "Tidak Bisa jadi ?????"

"Benar, harap kalian bertiga cepat-cepat mengundurkan diri dari rumah ini!"

"Mengundurkan diri dari sini ????"

"Benar! Kalau tidak, setelah sampai waktunya jika diantara kalian bertiga sampai tertimpa kemalangan, jangan salahkan kami tidak menerangkan terlebih dahulu."

"Kawan, aku ingin menanyakan satu persoalan kepadamu." ujar Pek Thian Ki dingin.

"Katakan!"

"Benarkah Sin Mo Kiam Khek sudah menemui ajalnya

???"

"Persoalan ini tak dapat aku jawab, karena kau bukan tamu penyewa rumah kami, sehingga tak dapat dikatakan punya hubungan, apalagi barang timbal balikpun tak ada, maka dari itu aku tidak ingin menjawab pertanyaanmu itu."

Si-tamu pencari bunga segera tertawa.

Bab 36 "Kawan, kau tidak berani menjawab ataukah tidak bisa menjawab?" Ejeknya. Setelah merandek sejenak, kemudian ujarnya seraya tertawa dingin; "Kawan, mengapa kau tidak suka unjukkan diri untuk berjumpa dengan kami?"

"Aku tidak ingin menemui kalian."

"Tapi aku justeru ingin sekali berjumpa dengan dirimu. .

."

oo (d)O(w) oo

Begitu ucapan terakhir meluncur keluar dari bibirnya

bayangan manusia berkelebat lewat, badannya sudah mencelat kearah dimana berasalnya suara tersebut, gerakannya benar-benar luar biasa cepatnya.

Ketika si-tamu pencari bunga ini tiba dibelakang ruang tersebut, ternyata telah menubruk tempat kosong, sesosok bayangan menusiapun tidak tampak.

Ia jadi melengak.

Pada waktu itu Pek Thian Ki sudah menyusul dari belakang.

"Woooooouw. . . .! Cepat benar gerakan badannya.     "

seru si-tamu pencari bunga kesal.

Suasana diruangan besar sunyi senyap, tak kedengaran sedikit suarapun. Pada waktu itu tiba-tiba sepasang mata si sastrawan berusia setengah baya yang sangat tajam telah terbentur dengan sebuah pintu kecil dibelakang ruangan tersebut, alisnya langsung dikerutkan, kaki kanan diayunkan melancarkan satu tendangan kilat keatas pintu tersebut.

Kena terhajar oleh tendangan tadi, pintu terpentang lebar, suasana didalam ruangan tersebut gelap gulita dan sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun. Pertama-tama si sastrawan berusia setengah baya itu berjalan masuk terlebih dahulu kedalam ruangan kecil, disusul oleh Pek Thian Ki dibelakang, pintu rahasia tersebut sempit lagi panjang.

Kurang lebih setelah berjalan sejauh tiga kaki sampailah mereka disebuah ruangan yang gelap, sukar melihat lima jari sendiri, hening, sunyi secara samar-samar menimbulkan rasa seram dihati semua orang.

Tiba-tiba, suara bentakan keras berkumandang memecahkan kesunyian disusul munculnya sesosok bayangan manusia melayang turun kurang lebih tiga tombak ditengah ruangan tersebut.

"Kawan, akhirnya kau munculkan diri juga," seru si- tamu pencari bunga dingin.

"Sedikitpun tidak salah, kalian sudah tiba disini, sudah seharusnya kami adakan sedikit penyambutan buat kedatangan kalian!"

Baru saja ia membungkam, mendadak dari balik ruang rahasia tersebut kembali muncul enam orang lelaki berbaju hitam yang segera mengepung ketiga orang itu ditengah kalangan.

Suasana mulai diliputi ketegangan, hawa napsu membunuh melintas memenuhi ruangan. Kembali si-tamu pencari bunga itu tertawa hambar.

"Ooooooouw. . . . . penyambutan kalian ternyata betul- betul luar biasa!" jengeknya sinis.

"Sudah tentu, karena kalian bertiga hanya manusia biasa- biasa saja!"

Sinar mata Pek Thian Ki dengan tajam menyapu sekejap keseluruh ruangan, ditemuinya wajah orang2 berbaju hitam itu rata2 berkerudung sehingga sulit untuk melihat wajah mereka yang sebenarnya.

"Siapakah sebetulnya kalian!" seru pemuda itu sambil tertawa dingin.

"Bukankah kami sudah pernah memberi tahu kepada kalian bahwa kami adalah Majikan Rumah ini?"

"Apakah diantara kalian masih ada orang lain?" "Tidak ada!"

"Lalu siapakah diantara kalian yang merupakan majikan sebenarnya?"

"Aku!" sahut siorang berbaju hitam yang berada dipaling depan.

"Kalian bertujuh siap hendak melakukan apa?" "Bukankah tadi sudah kukatakan bahwa rumah ini tidak

akan kami sewakan kepada kalian bertiga, tapi sekarang

kamu semua dengan maju paksa telah menerjang masuk kemari, maka akupun tidak perlu sungkan-sungkan untuk menghadapi kalian lagi."

"Haaaaa. . . .haaaaa. . .haaaaa. . . jadi kalian ingin menggunakan jumlah yang banyak untuk mengalahkan jumlah yang sedikit?" ejek si-tamu pencari bunga seraya tertawa.

"Terhadap kalian manusia-manusia yang tidak pakai aturan, terpaksa kami harus menggunakan cara begini untuk menghadapai kamu semua!"

Habis berkata tampak bayangan manusia berkelebat lewat, siorang berbaju hitam itu pertama-tama bergerak terlebih dahulu dengan gerakan yang aneh dan cepat langsung mengancam tubuh si-tamu pencari bunga. "Setelah datang rasanya tidak perlu sungkan-sungkan lagi, Nih! Lihat serangan!" Bentak si-tamu pencari bunga pula.

Pada waktu si lelaki berkerudung tadi melancarkan serangan kearahnya dengan cepat ia putar badan, lalu mencelat kesamping, kemudian diikuti oleh serangan dahsyat menggulung keluar.

Dengan sebat si-tamu pencari bunga silangkan sepasang tangan memmunahkan datangnya serangan lawan sedang waktu itu keenam orang berbaju hitam lainnya sudah bergerak menyerang Pek Thian Ki serta Hu Li Hun berdua.

Gerak-gerik keenam orang berbaju hitam itu laksana banteng luka, serangan yang dilancarkan rata2 cepat bagaikan kilat, tenaga pukulanpun luar biasa dahsyatnya, seketika itu juga Pek Thian Ki serta Hu Li Hun kena terdesak mundur sejauh tujuh delapan langkah lebih.

Pek Thian Ki membentak keras, pedangnya digetarkan dengan membentuk serentetan cahaya tajam berturut-turut mengirim dua serangan sekaligus.

Hu Li Hun pun membentak keras seraya mengirim satu hajaran dahsyat. Seketika itu juga seluruh kalangan dipenuhi dengan napsu membunuh yang menggidikkan hati, sepuluh orang bertarung jadi satu dengan ramainya, untuk beberapa saat sukar bagi masing2 pihak untuk merebut kemenangan.

Kepandaian silat yang dimiliki Pek Thian Ki bertiga betul2luar biasa sekali. Bayangan manusia menyambar lewat, angin pukulan menderu-deru, suasana diliputi dengan ketegangan.

Tiba-tiba. . . . Suara jeritan ngeri berkumandang memecahkan kesunyian, seorang lelaki berkerudung menemui ajalnya dengan sangat mengerikan dibawah tusukan pedang Ciang Liong Kiam dari Pek Thian Ki.

Waktu itu si lelaki berkerudung yang menyerang diri sastrawan berusia setengah baya pun telah digencet oleh lawannya, sehingga berada dalam keadaan berbahaya.

Tiba-tiba, si sastrawan setengah baya melancarkan suatu serangan dengan tangan kanannya membabat wajah lelaki berkerudung tersebut, serangannya cepat dan anehnya luar biasa.

Agaknya si lelaki berkerudung itu sama sekali tidak menduga kalau lawannya mempunyai kepandaian sebegitu dahsyat dan lihaynya, melihat si sastrawan setengah baya menyerang badannya, iapun mengirim satu serangan pula menerima datangnya serangan lawan dengan keras lawan keras.

Pada saat siorang berbaju hitam itu menerima datangnya serangan lawan dengan keras lawan keras itulah, tangan kiri dari si-tam pencari bunga sudah disapu kedepan.

"Braaaaak! Diikuti suara bentrokan keras, suara dengusan berat bergema saling susul menyusul, terlihatlah siorang berbaju hitam itu sambil muntahkan darah segar, badannya mencelat ketengah udara kemudian terbanting keatas tanah keras-keras.

Sekali terjang si-tamu pencari bunga itu sudah mencengkeram tubuh lelaki berkerudung tersebut, kemudian diangkat tinggi-tinggi keatas. Ketika itu juga jeritan ngeri kembali berkumandang memenuhi ruangan, seorang lelaki berkerudung kembali menemui ajalnya dengan sangat mengerikan ditangan Pek Thain Ki. Sedang pemuda itu sendiri juga terkena hajaran, sehingga badannya mundur kebelakang dengan sempoyongan.

Pada waktu itulah. . . .

Tiga sosok tubuh bayangan manusia berkelebat lewat, dengan kecepatan bagaikan anak panah yang terlepas dari busur menubruk kearah Pek Thian Ki, sedang angin pukulan ber-sama2 menyapu keluar. Melihat kejadian itu, si-tamu pencari bunga segera membentak keras.

"Tahan!"

Suara bentakan dari si-tamu pencari bunga ini keras bagaikan ledakan halilintar disiang bolong, membuat seluruh ruangan jadi berdengung dan orang-oran pada mundur kebelakang dengan hati terperanjat.

"Siapa yang berani turun tangan terhadap dirinya, akan kubunuh terlebih dahulu!" bentak si-tamu pencari bunga dengan wajah penuh hawa napsu membunuh.

Beberapa patah perkataan yang diucapkan si-tamu pencari bunga ini penuh diliputi hawa napsu membunuh, membuat setiap orang yang mendengar merasakan hatinya bergidik dan bulu roma pada bangun berdiri.

Sisanya empat orang berbaju hitam yang mendengar perkataan tersebut sama-sama merasakan badannya merinding dan memandang kearah si-tamu pencari bunga itu dengan mata mendelong, ternyata tak seorangpun diantara mereka yang berani turun tangan lagi.

Si sastrawan berusia setengah baya itu tertawa dingin, sinar matanya perlahan-lahan dialihkan keatas wajah simanusia berkerudung yang berada didalam cengkeramannya. "Siapakah sebenarnya kau orang ???" tanyanya dingin.

Pihak lawan cuma tertawa sinis, mulutnya tetap membungkam dalam seribu bahasa. Diatas wajah si-tamu pencari bunga perlahan-lahan terlintaslah hawa napsu membunuh.

"Kau benar-benar tidak ingin berbicara?" bentaknya dingin.

"Sedikitpun tidak salah!"

"Kau tidak suka bicara, apakah kau anggap aku tidak punya cara untuk paksa kau buka suara?" Habis berkata tangan kanan si-tamu pencari bunga itu ditotokkan keatas tujuh buah jalan darah kematian ditubuh lelaki berkerudung tersebut dengan ilmu peretak tulang pembotot otot.

Begitu jalan darah kena ditotok, si lelaki berkerudung hitam itu menjerit-jerit kesakitan seperti babi disembelih, seluruh tubuhnya gemetar keras dan makin lama semakin menyusut kecil. . . .

"Kau suka bicara tidak?" kembali si-tamu pencari bunga membentak keras.

"Aku.      aku bicara!"

"Heeeee. . . .heeeee. . . heeeee. . . , aku masih menganggap badanmu itu terbentuk dari besi baja." seru si- tam pencari bunga seraya tertawa congkak.

Tangannya segera berkelebat membebaskan orang itu dari totokan jalan darahnya, kemudian bentaknya; "Siapa kau? Ayoh jawab!"

Orang itu terengah-engah, setelah sedikit mengatur pernapasan jawabnya;

"Aku. . .aku adalah Tiong. . . .Aduuuuuuhh.      " Belum

habis    ia    berkata,    mendadak    suara    jeritan    ngeri berkumandang memenuhi seluruh ruangan, darah segar muncrat keempat penjuru dan tahu-tahu siorang berbaju hitam itu sudah menemui ajalnya.

Kejadian itu kontan saja menimbulkan rasa terkejut didalam hati semua orang. Tiba-tiba. . . . .

"Heeee. . . .heeee. . . .heeee.    barang siapa yang berani

membocorkan rahasia perguruan harus mati!" Serentetan suara tertawa dingin berkumandang datang.

Suara tersebut jelas berasal dari seorang perempuan, terlihat bayangan hitam berkelebat lewat ditengah ditengah ruangan rahasia yang sunyi senyap muncul kembali sesosok bayangan hitam.

Semua orang mendongak, dilihatnya seorang perempuan berusia tiga puluh tahunan dengan wajah kaku, dingin dan menyeramkan telah berdiri tegak disana.

"Heeee. . . heeee. . . heeee. . . .tidak kusangka ditempat yang seram bagaikan dineraka ini masih ada seorang gadis secantik kau, kejadian ini benar-benar merupakan suatu peristiwa yang sukar dipercaya," seru si-tamu pencari bunga sambil tertawa dingin.

"Siapa kau!"

"Si-tamu pencari bunga?"

"Ooooouw      sungguh indah sekali gelarmu itu."

"Sedikitpun tidak salah, tolong tanya, siapakah dirimu?" "Soal ini aku tidak ingin memberitahukan kepadamu,

justeru aku ingin minta pertanggungan jawab dari kalian bertiga yang berturut-turut telah membinasakan empat orang anak buah kami dalam ruangan ini."

"Siapa kau? Jikalau kau tidak menjawab bagaimana kami bisa mempertanggung jawabkan persoalan ini?" "Aku adalah salah seorang majikan dari rumah ini!"

"Apakah disamping itu masih ada majikan-majikan yang lain?"

"Kemungkinan sekali ada!"

"Mengapa tidak suruh saja majikan kalian untuk keluar?" "Karena kalian belum setimpal untuk menemui dirinya!" "Jadi aku cocok jikalau berjumpa dengan kau?"

Perkataan yang bergandeng erat ini seketika itu juga membuat perempuan berbaju hitam itu jadi malu, dan dari rasa malu jadi gusar, air mukanya berubah hebat.

"Apakah kalian bertiga sudah tahu barang siapa yang berani memasuki rumah ini, maka ia harus mati?"

"Tidak tahu!"

"Kalau begitu akan aku suruh kalian mengetahuinya." Sembari berkata selangkah demi selangkah, ia berjalan mendekati si-tamu pencari bunga.

Peristiwa dengan jelas sudah terbentang didepan mata, rumah yang berbentuk aneh dan penuh diliputi kemisteriusan ini tentu milik diri suatu perguruan tertentu.

Sedang perguruan tersebut dengan menggunakan rumah aneh ini telah membunuhi habis jago-jago lihay dari dunia kangouw termasuk sembilan jagoan pedang dari kolong langit.

Pada waktu itu. . . .

Si perempuan berbaju hitam itu telah tiba kurang lebih lima depa dihadapan si-tamu pencari bunga, mendadak ia memandang sembari bertanya dengan nada suara yang dingin; "Kalian bertiga, hendak turun tangan bersama-sama, ataukah satu persatu ???"

Si-tamu pencari bunga kembali tertawa dingin; "Begini saja, mari kita orang mengadakan suatu pertaruhan!"

"Taruhan apa? Taruhan jurus serangan?"

"Benar, kita tetapkan hanya terbatas sampai sepuluh jurus saja, jika aku kalah, maka kami bertiga rela menerima hukuman darimu, sebaliknya jika kau yang kalah, maka kau harus manjawab tiga buah pertanyaan yang aku ajukan."

"Apa pertanyaanmu?"

"Soal ini kau tidak perlu tahu, cuma seharusna kau tahu tiga lembar nyawa kami hanya diganti dengan tiga buah pertanyaan, sepatutnya kaulah yang beruntung."

"Sungguh-sungguhkah perkataanmu itu." tanya si perempuan berbaju hitam itu dengan air muka berubah hebat.

"Sedikitpun tidak salah."

"Apakah mereka berdua sama-sama setuju?"

"Aku rasa mereka bisa menyetujuinya." Sinar matapun perlahan-lahan dialihkan keatas wajah Pek Thian Ki serta Hu Li Hun, tanyanya; "Bagaimana menurut pendapat kalian berdua?"

Dengan air muka berat Pek Thian Ki serta Hu Li Hun mengangguk, mereka percaya kepandaian silat yang dimiliki si-tamu pencari bunga ini jauh berada diatas lawannya.

Setelah memperoleh persetujuan, Sasatrawan berusia setengah baya itu, kembali menoleh kearah perempuan berbaju hitam itu, tegurnya dingin; "Mereka sudah menyetujui, kau boleh berlega hati."

"Bagus sekali, jikalau didalam sepuluh jurus kau berhasil menemui kekalahan ditanganku, maka kalian bertiga harus menurut hukuman yang aku jatuhkan tanpa membantah."

"Benar!"

"Kalau begitu, kita boleh segera bergerak?" "Silahkan kau orang mulai turun tangan."

Sekali lagi siperempuan berbaju hitam itu melangkah maju kedepan, sinar matanya memancarkan cahaya penuh berhawa napsu membunuh melototi diri si-tamu pencari bunga itu tanpa berkedip.

"Cabut keluar senjatamu!" bentaknya dingin. "Tidak perlu."

"Kalau begitu, bagus sekali, silahkan saudara mulai turun tangan!"

"Terhadap seorang perempuan secantik dirimu, aku merasa sangat tidak tega untuk turun tangan jahat, lebih baik. "

"Bangsat! Kau sudah bosan hidup." Belum habis perempuan berbaju hitam itu selesai berbicara, bayangan hitam sudah menyambar lewat bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya, menerjang diri si-tamu pencari bunga itu, sebuah serangan dahsyat sudah menggulung keluar.

Si perempuan berbaju hitam ini benar-benar merupakan seorang jagoan yang memiliki kepandaian yang sangat lihay, cukup ditinjau dari badannya yang mencelat kedepan, sudah cukup mengejutkan hati setiap orang yang melihatnya. Buru-buru si-tamu pencari bunga angkat tangan kirinya menghalau datangnya serangan tersebut, sedang tangan kanan balas mengirim satu pukulan kemuka.

Bayangan manusia saling menyambar, masing-masing pihak dalam waktu yang amat singkat telah saling bertukar serangan sebanyak dua jurus, kecepatan geraknya membuat orang lain susah untuk melihat jelas bagaimanakah jurus serangan yang digunakan kedua orang itu.

Tangan kiri si sastrawan berusia setengah baya itu begitu menyerang, siperempuan berbaju hitam itupun menangkis dengan tangannya, dengan sebuah jurus bertahan yang indah. Jelas mereka berdua telah menggunakan cara bertempur adu jiwa untuk berusaha mengalahkan pihak lawannya dalam waktu sesingkat-singkatnya.

Pek Thian Ki menoleh dan memandang sekejap kearah Hu Li Hun, dilihatnya wajah gadis itu hambar sedikitpun tidak menunjukkan reaksi apapun, sinar matanya dengan tajam memperhatikan ketengah kalangan dimana telah berlangsung suatu pertarungan yang maha seru.

"Nona Hu !" tegur Pek Thian Ki lirih.

Suara teguran dari pemuda itu agaknya telah menggetarkan hatinya, ia tersentak kaget kemudian alihkan sinar matanya kearah sang perjaka.

"Ada urusan apa?" balik tanyanya.

"Aku ada satu persoalan yang saat ini hendak kutanyakan kepadamu."

"Katakanlah!"

"Antara ibumu dengan Sam Ciat Sin-cun apakah benar- benar ada hubungan yang erat?"

"Sudah tentu, dia adalah salah seorang isterinya!" "Ibumu sudah mati?"

"Soal ini aku tidak bisa menjawab, Cuma aku boleh beritahu kepadamu bahwa aku bukan dilahirkan oleh Sam Ciat Sin-cun."

"Mengapa?"

"Menanti sepeninggal dari rumah aneh ini, aku bisa memberitahukan persoalan ini kepadamu."

"Jadi saat ini kau tidak ingin menjawab seluruh pertanyaanku?"

"Benar."

Agaknya Pek Thain Ki dibuat kecewa oleh jawabannya itu, benar, hingga saat ini ia masih belum mengetahui hal- hal yang pernah dialami Sam Ciat Sin-cun pada masa yang lalu. Sebenarnya macam apakah orang itu?. . . .

Tiba-tiba. . . .

Suara bentakan keras berkumandang memenuhi angkasa, tampak bayangan manusia saling berkelebat, kedua orang itu kembali saling menyerang sebanyak delapan jurus. Ditengah suara bentakan keras itulah tubuh si-tamu pencari bunga itu kena dipaksa mundur lima enam langkah kebelakang oleh serangan dari siperempuan berbaju hitam itu, kejadian ini kontan saja membuat Pek Thian Ki serta Hu Li Hun merasa sangat terperanjat.

Tiba-tiba, pada saat si-tamu pencari bunga itu mengundurkan diri kebelakang itulah, tiba-tiba tubuh siperempuan berbaju hitam itu berputar kencang, kemudian laksana sambaran kilat menerjang maju kedepan.

Tapi si-tamu pencari bunga tidak ingin menunjukkan kelemahannya, melihat perempuan itu berputar kencang tangan kanannya dengan gerakan yang aneh tiba-tiba menotok kedepan.

Agaknya siperempuan berbaju hitam itu sama sekali tidak menduga kalau kepandaian silat yang dimiliki si-tamu pencari bunga itu bisa sedemikian lihaynya, buru-buru ia mengundurkan diri kebelakang.

Suara bentakan bergema memenuhi angkasa, kembali si- tamu pencari bunga tersebut mengirim satu pukulan kemuka. Kepandaian silat yang dimiliki si-tamu pencari bunga ini sekalipun digunakan untuk menghadapi tiga orang perempuan berbaju hitam macam itupun mungkin masih sanggup, apalagi hanya seorang, sudah tentu kemenangan pasti berada ditangannya.

Dalam serangannya yang terakhir ini ia telah menggunakan suatu serangan maut yang mematikan. Si perempuan berbaju hitam itu mana mungkin bisa berhasil menghindarkan diri dari datangnya serangan tersebut. . . .

"Breeeet. . .!" Pakaian dibagian dada dari siperempuan berbaju hitam itu telah kena tersambar robek satu depa lebih. Kain berwarna hitam hancur berkeping-keping dan rontok keatas tanah, sehingga kelihatan kutangnya yang berwarna merah.

"Maaaaf. . . maaf. . . terima kasih atas bantuanmu. . .

terima kasih! Terima kasih!"

Air muka perempuan berbaju hitam itu berubah pucat pasi bagaikan mayat, keringat sebesar kacang kedelai mengucur keluar membasahi keningnya, ternyata saking kagetnya ia sudah lupa mengenakan kembali pakaiannya yang hampir terbuka itu. "Haaaaa. . . .haaaaa. . . haaaaa. . . apakah kau sudah mengaku kalah?" ujar si-tamu pencari bunga sambil tertawa terbahak-bahak.

Seluruh tubuh perempuan cantik berbaju hitam itu gemetar keras bagaikan kena stroom bertegangan tinggi, wajahnya pucat pasi bagaikan mayat.

"Tidak salah, aku sudah kalah, apa yang kau inginkan?" "Ooooouw. . . mudah, mudah sekali, jawablah tiga

pertanyaan yang akan aku ajukan kepadamu!"

Perempuan cantik berbaju hitam itu kelihatan rada ragu- ragu, lama sekali ia baru bertanya;

"Pertanyaan apakah itu?"

"Pertama, siapakah majikan kalian."

"Kedua?" potong sang perempuan dengan cepat. "Tahukah kalian rumah berbentuk aneh ini adalah

rumah kediaman dari Tiap Hoa Siancu?" "Dan persoalan yang ketiga?" "Dimana letaknya Loteng Genta?"

Ucapan 'Loteng Genta' yang diutarakan paling belakang ini bukan saja membuat air muka siperempuan cantik berbaju hitam berubah hebat, sekalipun Pek Thian Ki yang ada disisi orang itupun ikut berubah wajah karena kata2'Loteng Genta' baru untuk pertama kali ini ia dengar disebut orang.

Apa kata-kata 'Genta' yang diucapkan siorang berbaju hitam tadi sesaat menemui ajalnya adalah mengartikan 'Loteng Genta' ini? Tapi macam pengurung apakah Loteng Genta itu? Dengan perasaan hati bergidik siperempuan cantik berbaju hitam itu berdiri mematung ditempat semula. Melihat perempuan cantik tersebut belum juga memberi jawaban barang sepatah katapun, si-tamu pencari bunga kembali menegur dengan nada yang dingin.

"Cepat jawab ketiga buah pertanyaanku!"

"Heeee. . . .heeeee. . . heeee. . . sayang, sayang. . .

.sungguh sayang sekali diantara ketiga buah pertanyaanmu tak sebuahpun bisa kujawab.      " sahut siperempuan cantik

berbaju hitam itu seraya tertawa hambar.

-0odwo0-