Misteri Rumah Berdarah Jilid 06

Jilid 06

Bab 16 Perkampungan Lui Im San Cung

MENDENGAR perkataan itu Pek Thian Kie tertawa. “Dugaan Tong-heng sedikitpun tidak salah,” jawabnya

sambil mengangguk.

“Terhadap persoalan yang terjadi didalam dunia kangouw siaute memang merasa rasa asing, aku ada beberapa persoalan yang ingin minta petunjuk dari heng- thay!”

“Oooouw ….! Urusan apa? Coba kau sebutkan!” “Tahukah kau orang tentang seorang manusia yang

bernama Kiang To?”

Mendengar disebutnya nama Kiang To, Tong yong lantas kerutkan dahinya.

“Soal orang itu aku hanya mengetahui sedikit sekali.” “Bagaimana kalau kau beritahukan apa yang kau ketahui

itu kepada diriku?”

“Sudah tentu boleh saja.”

Ia merandek sejenak untuk tukar napas, kemudian katanya kembali : “Pertama, dia adalah seorang bajingan cabul yang paling terkutuk. Katanya didalam beberapa hari yang lalu sekaligus ada empat gadis yang sudah diperkosa olehnya…..!”

“Sungguh-sungguhkah peristiwa semacam ini?” teriak Pek Thian Kie dengan air muka berubah hebat.

“Sedikitpun tidak salah! Keempat orang gadis tersebut sama-sama diperkosa dalam waktu hampir bersamaan. Bangsat itu memasuki kamar gadis-gadis tersebut menjelang kentongan ketiga tengah malam buta. Dan pada hari kedua mereka ditemukan tergeletak diatas pembaringan dalam keadaan telanjang bulat dan mabok oleh obat bius. Serta disisi pembaringannya pasti tertancap sebuah panji kecil!”

“Sungguh cabul dan buas tindakan bangsat itu,” tak kuasa lagi Pek Thian Kie ikut berteriak gusar.

“Tidak salah, ia memang amat cabul, dan buas didalam soal perkosaan kaum gadis. Sedang mengenai keganasan tindak tanduknya, selama ini sudah beratus-ratus jagoan kangouw yang menemui ajalnya di tangan bangsat tersebut.”

“Sungguhkan perkataanmu itu ?” “Sedikitpun tidak salah.”

Mendengar perkataan itu Pek Thian Kie ikut merasakan hatinya bergidik, tindak-tanduk yang demikian kejam dan buasnya memang betul-betul membuat hati setiap orang pasti merasa gemas, benci dan marah. Tidak aneh kalau orang-orang Bu-lim begitu membenci manusia yang bernama Kiang To itu.

Setelah berpikir beberapa saat lamanya, kembali Pek Thian Kie bertanya : “Lalu dengan alasan apa ia hendak menjagali jago-jago lihay begitu banyak ?” “Mana aku bisa tahu?”

Pek Thian Kie mengangguk, sesudah berdiam beberapa saat lamanya, kembali ia bertanya :

“Heng-thay ! Selain Istana Harta serta Istana Arak, aku dengar masih ada sebuah tempat yang disebut Istana Perempuan. Untuk dapatkan syarat yang terakhir yaitu gadis cantik, apakah ada seharusnya aku harus berkunjung kesana. Tahukah kau dimanakah letak “Istana Perempuan” tersebut ?”

“Siaute tahu letak Istana Perempuan tersebut !”

“Kalau begitu, tolong heng-thay suka menjelaskan letak Istana Perempuan tersebut lebih jelas, aku segera akan berangkat kesana.”

“Istana Perempuan terletak ditengah hutan Hong Siauw Liem gunung Kun Kauw-san. Dari tempat ini kau boleh berjalan menuju kearah timur, kemudian setelah melewati enam, tujuh lie akan tiba disebuah bangunan besar yang megah, itulah letaknya Istana Perempuan.”

“Terima kasih atas petunjuk dari heng-thay,” kata Pek Thian Kie kemudian sambil tertawa. “Untuk mempercepat selesainya tugas ini, maka aku segera akan berangkat kesana, kitapun berpisah dulu sampai disini!”

Saking terharu dan terima kasihnya, lama sekali Tong Yong tak dapat mengucapkan sepatah katapun, lama ……..

lama sekali ia baru berkata :

“Heng-te akan pulang dulu ke rumah, guna menjenguk isteri serta puteraku kemudian aku akan berangkat lagi untuk menemui dirimu.”

“Emmm …… silakan!” Belum jauh ia berlalu, mendadak kembali Tong Yong menghentikan langkahnya dan menoleh.

“Pek-heng, aku tahu kalau kau orang belum pernah mengunjungi Istana Perempuan, sebelum kau pergi kesana, aku ada sebuah urusan hendak kusampaikan kepadamu.”

“Urusan apa ?”

“Didalam Istana perempuan tersebut berpenghuni ratusan orang gadis-gadis berwajah cantik. Dan setiap orang mempunyai daya tarik yang mempesonakan. Tetapi diantara ratusan orang gadis cantik tersebut hanya seorang gadis yang bernama “It Peng Hong” sebagai gadis yang tercantik dan paling mempesonakan ….”

“It Peng Hong? Apakah It Peng Hong ini nama seorang gadis cantik …?”

“Benar!” Tong Yong mengangguk.

“It Peng Hong adalah nama samarannya. Dan ia memiliki kecantikan wajah yang sangat luar biasa. Tapi

…… aku nasehati dirimu lebih baik jangan mencari dirinya.”

“Kenapa? Kenapa aku tidak boleh mencari gadis yang bernama It Peng Hong itu ? Bukankah seperti apa yang kau katakana, dia merupakan gadis yang paling cantik diantara seluruh penghuni istana perempuan ?”

“Heeiiiiiii …… “ kembali Tong Yong menghela napas panjang. “Kendati begitu, tapi menurut apa yang aku dengar dari pembicaraan orang, gadis It Peng Hong tersebut sudah di borong oleh Kiang To si bangsat cabul dan ganas itu. Ada beberapa orang jagoan lihay dari bu-lim tidak suka mendengarkan peringatan yang diberikan kepada mereka, dan banyak diantaranya hampir-hampir saja menemui ajalnya di tangan Kiang To.” Pek thian kie yang mendapatkan keterangan tersebut diluaran, tidak ingin benyak membantah, maka ia tersenyum dan mengangguk saja.

“Kau boleh berlega hati u akan ingat keteranganmu ini

..”

“Kalau begitu kaupun harus baik-baik berjaga diri.” “Heng-thay, silakan berlalu …”

Setelah merangkap tangannya menjura, Tong Yong

segera menggerakkan badannya berkelebat meninggalkan tempat itu.

Menanti bayangan punggung dari Tong Yong sudah lenyap dari pendangan. Pek thian kie baru menghembuskan napas panjang, iapun putar badan dan berlari menuju kearah sebelah timur.

Kini diantara ketiga buah istana, yaitu Istana Harta, Istana Perempuan serta Istana Arak, tinggal sebuah saja yang belum dikunjungi.

Ia harus mendapatkan seorang gadis cantik dari istana perempuan tersebut guna melengkapi syarat-syarat untuk menyewa rumah aneh itu, maka bila setelah komplit ia segera akan pergi ke rumah aneh tersebut dan menemui majikan rumah itu.

Tanpa banyak membuang waktu lagi pek thian kie segera mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya meluncur kesebelah timur.

Ketika sang surya kembali muncul diufuk sebelah timur, Pek Thian Kie sudah dapat menemukan Istana perempuan yang merupakan banguanan besar, megah dan menempati tanah seluas berpuluh-puluh hektar itu. Mungkin karena kedatangan Pek Thian Kie terlalu pagi, maka pintu Istana Perempuan tersebut masih tertutup rapat- rapat.

Diatas pelataran pintu depan, berdirilah seorang kakek tua berbaju kuning.

Dam sewaktu melihat munculnya Pek Thian Kie disana, ia sudah lantas maju mendekat dan rangkap tangannya menjura :

“Bocah sungguh pagi benar kau sudah tiba disini?” tegurnya sembari tertawa.

Air muka Pek Thian Kie kontan berubah jadi merah padam saking jengahnya mendapatkan teguran tersebut.

Bab 17

"Loo-tiang, tolong tanya apakah bangunan ini benar2 adalah istana Perempuan?" Akhirnya dengan menahan rasa malu ia bertanya.

"Benar! Inilah Istana Perempuan, saudara! Apakah maksud kedatanganmu sepagi ini hendak mencari gadis untuk ber-senang2?"

"Sedikitpun tidak salah!. . ."

Kembali siorang tua berbaju kuning itu tertawa. "Saudara! Kedatanganmu terlalu pagi!"

"Terlalu pagi? Ini sudah jam berapa? Bagaimana mungkin kau katakan terlalu pagi?"

"Benar, memang sekarang sudah tidak pagi lagi, tapi Istana perempuan ini baru mulai dibuka melayani para tamu setelah sore hari hingga pagi, sehingga pada kentongan kelima, Sekarang mereka sudah tidur pulas, untuk merangkak bangunpun tak mungkin bisa."

"Jadi maksudmu aku harus balik lagi nanti sore?" "Benar!"

Mendengar jawaban tersebut, Pek Thian Ki lantas berpikir keras, ia merasa jikalau pihak lawan sudah mengatakan kalau Istana Perempuan baru akan dibuka dan melayani tamu setelah sore hari, maka sudah tentu bagaimanapun juga ia harus menunggu hingga sore hari menjelang datang, Berpikir sampai disitu, ia lantas menoleh lagi kearah siorang tua berbaju kuning itu.

"Loo-tiang! Baiklah, terima kasih atas petunjukmu, nanti sore aku akan balik lagi."

"Tidak usah berterima kasih, tidak usah berterima kasih, nanti sore kau boleh datang lagi."

Setelah berjalan keluar dari Pintu depan Istana Perempuan, Pek Thian Ki berjalan lambat2 tanpa arah tujuan dan untuk beberapa waktu pemuda ini benar2 merasa kebingungan kemana ia harus pergi.

Akhirnya ia berjalan mendekati sebuah pohon besar dan tertidur pulas dibawah dedaunan yang rindang itu, Entah lewat beberapa waktu lamanya. mendadak ia dikejutkan

oleh suara langkah kaki manusia yang berjalan mendekati arahnya, Kontan membuat pemuda itu tersentak bangun dari tidurnya.

Sinar mata dengan tajam menyapu empat penjuru, dengan amat mudah sekali ia berhasil menemukan sesosok bayangan manusia berwarna hijau dengan langkah cepat berjalan menuju kearahnya, Dan orang itu pasti bukan lain adalah Tong Ling yang sedang menyaru jadi seorang pria. Ditempat dan keadaan semacam ini, mendadak Tong Ling bisa munculkan dirinya ditempat itu, Hal ini sedikit banyak berada diluar dugaan Pek Thian Ki. Lama sekali ia berdiri tertegun tanpa bisa mengucapkan sepatah katapun.

Per-lahan2 Tong Ling berjalan kesisi tubuh Pek Thian Ki, setelah melirik sekejap kearahnya sambil tertawa, ujarnya; "Sebegini pagi, kau sudah tiba di istana Perempuan untuk mencari kesenangan?"

"Tidak. . .tidak. . ." buru2 Pek Thian Ki membantah dengan air muka berubah menjadi merah padam, "Aku ada urusan untuk diselesaikan ditempat ini!"

Tong Ling tersenyum, ia melirik sekejap kearah pintu besar Istana Perempuan yang tertutup rapat2, kemudian godanya lagi; "Kemungkinan sekali nona-nona cantik itu baru saja tertidur pulas bukan?"

"Benar, Cayhe. . .kedatangan cayhe rada terlalu pagi. .

.Nona Tong.     "

"Pada saat ini aku sedang memakai pakaian pria, lebih baik kau sebut diriku dengan sebutan Tong-te saja."

"Tapi. . .hal ini mana bisa jadi?" Seru Pek Thian Ki sambil tertawa pahit.

"Kenapa tidak bisa jadi?"

"Karena kau adalah seorang gadis, mana boleh aku orang memanggil dirimu dengan sebutan Tong Loo-te?"

"Tapi, bukankah pada saat ini aku sedang menyaru sebagai seorang pria? Sungguh amat lucu juka seorang pria kau panggil dengan sebutan nona. "

"Heeeei.    baik, baiklah, aku akan panggil dirimu dengan

sebutan Tong Loo-te!" Ia merandek sejenak dan tertawa. "Tong-te! Kau adalah seorang nona, apalagi gadis suci, tidak seharusnya datang kemari hanya untuk mencari gadis ber-senang2 bukan?"

"Benar, secara kebetulan saja aku lewat ditempat ini." "Tolong tanya Nooo. . .Tong Loo-te, hendak kemana?" "Aku? Oooooouw. . .aku hendak kegunung Lui Im San!" "Gunung Lui Im San?"

"Benar!"

Mendengar perkataan itu, Pek Thian Ki merasakan hatinya sangat terperanjat, secara mendadak ia teringat akan sesuatu, Bukankah dara cantik berbaju hijau yang ditemuinya sewaktu berada di Istana Harta juga mengajak dia orang untuk bertemu digunung Lui Im San?

Teringat akan persoalan ini, tak terasa lagi tanyanya; Tong Loo-te! Tolong tanya, apa maksudmu pergi kegunung Lui Im San?"

"Melihat keramaian!" "Melihat keramaian?" "Benar!"

"Keramaian apa?"

"Ini hari adalah ulung tahun kelima puluh dari Hu Toa Kan itu Cung-cu dari perkampungan Lui Im San Cung, Berbagai jagoan lihay dari semua daerah pada berdatangan untuk memberi selamat kepadanya!"

"Hu Toa Kan? Macam apakah orang itu?" tanya Pek Thain Ki rada melengak.

"Sejak Sam Ciat Sin-cun meninggal, boleh dikata dikolong langit pada saat ini kepandaian silatnya terhitung menduduki kursi pertama." "Siapakah itu Sam Ciat Sin-cun?" "Ayah dari Kiang To. . .Kiang Lang!"

Pek Thian Ki merasakan hatinya tergetar sangat keras, ia tidak menyangka kalau Hu Toa Kan adalah seorang jagoan yang angkat nama sejajar dengan Kiang Lang ayah dari Kiang To.

"Lalu kau tahu urusan apa yang menyangkut orang ini?" tanyanya lebih lanjut.

"Kurang jelas!"

"Dia dengan Kiang Lang apakah kawan baik ?"

"Penah bersahabat karib, tapi saat ini Kiang Lang sudah mati."

Pek Thian Ki mengerutkan dahinya, belum sempat ia mengucapkan sesuatu, kembali Tong Ling sudah berkata:

"Tetapi, diantara dia dengan Kiang Lang agaknya masih ada sedikit ikatan dendam, Didalam ulang tahunnya yang kelima puluh ini ada kemungkinan Kiang to pun bakal munculkan diri."

"Apa? Kiang To bisa munculkan dirinya didalam pesta ulang tahun tersebut."

"Benar, bahkan kelihatannya hendak mencari kerepotan terhadap diri Hu Toa Kan."

"Apa kira2 yang hendak ia lakukan?"

"Soal ini rada sulit untuk dibicarakan, dahulu Hu Toa Kan dengan Sam Ciat Sin-cun adalah merupakan sepasang sahabat karib, Menurut apa yang aku ketahui, Hu Toa Kan sudah menjodohkan putrinya kepada diri Kiang To."

"Oooouw. . ." Tak kuasa lagi Pek Thian Ki berseru tertahan. "Tapi, terhadap tindak tanduk dari Kiang To kedengarannya Hu Toa Kan sudah membenci hingga merasuk kedalam tulang sumsum." Ujar Tong Ling kembali. "Maka dari itu, dengan menggunakan kesempatan diadakannya pesta ulang tahun ini, ada kemungkinan dihadapan para tamu Hu Toa Kan akan membatalkan ikatan perkawinan tersebut."

Pek Thian Ki mengangguk.

"Cuma aku duga Kiang To pasti tak akan menyetujuinya," tambah Tong Ling lebih lanjut.

"Soal ini sudah tentu bakal terjadi, lalu entah bagaimana dengan pendapat putrinya?"

"Putrinya entah setuju atau tidak dengan keputusan ini, aku duga sampai waktunya tentu ada suatu keramaian bakal terjadi, oleh sebab itu aku ingin pergi kesana untuk menonton keramaian.

"Kapan pesta ini akan dilangsungkan?" "Nanti sore?"

"Aku ingin ikut pergi kesana untuk menambah pengetahuan." seru Pek Thian Ki tiba2 sambil tertawa.

"Kau ingin pergi?" "Benar!"

"Waaah. . .kebetulan sekali, mari kita berangkat bersama-sama." Demikianlah, kedua orang itupun ber- sama2 lantas lari menuju kearah gunung Lui Im San.

Perkampungan Lui Im San Cung terletak disebelah selatan gunung Lui Im San, Bangunan perkampungan tersebut mencapai ratusan hektar luasnya dengan bangunan rumah yang ber-deret2, Bukan saja megah, bahkan memperlihatkan keseraman dan keangkeran yang bukan kepalang.

Siang hari itu Pek Thian Ki serta Tong Ling sudah tiba diatas gunung Lui Im San. Tampaklah ber-puluh2 orang Bu-lim saling susul menyusul memasuki perkampungan Lui Im San Cung, kebanyakan orang2 ini merupakan jago2 yang datang untuk memberi selamat, Tetapi ada pula sebagian besar yang datang hanya hendak menonton keramaian saja.

Pek Thian Ki serta Tong Ling pun membaurkan diri mereka kedalam gerombolan orang2 itu, sewaktu tiba didepan pintu halaman perkampungan Lui Im San Cung yang dikelilingi dengan tembok tinggi, tampaklah beberapa orang kakek tua berbaju merah secara terpisah menyambut dan melayani kawan2 Bu-lim itu.

Setelah masuk halaman luas, terlihatlah didepan pintu besar sebuah loteng besar lampu teng-tengan bergelantungan dengan tulisan "So". Suasana amat meriah dan ramai.

Dibawah pimpinan seorang kakek tua berbaju merah, Pek Thian Ki pun dipersilahkan memasuki sebuah ruangan besar, Suasana hiruk pikuk ramai dengan pembicaraan manusia, kurang lebih ada ratusan orang banyaknya para jago yang datang memberi selamat.

Sinar mata Pek Thian Ki menyapu sekejap kesekeliling tempat itu, ia merasa kedudukan Hu Toa Kan jelas tidaklah rendah, hal ini terbukti dari banyaknya para tamu yang datang memberi selamat.

Didalam desakan2 serta ruangan yang sumpek kebanyakan tamu, lama kelamaan Pek Thian Ki tak bisa menahan hawa panasnya lagi, ia melirik sekejap kearah Tong Ling, lalu katanya; "Tong-te! Sungguh udara panas, mari kita jalan2 saja ketempat luaran. . ."

Dengan penuh kegembiraan Tong Ling mengangguk, demikianlah mereka berdua lantas berjalan keluar ruangan, Ketika itu, masih banyak jago yang saling susul menyusul memasuki perkampungan Lui Im San Cung.

"Tong-te!" mendadak Pek Thian Ki berseru, agaknya ia sudah teringat akan suatu urusan. "Aku ingin menanyakan suatu urusan kepadamu!"

"Urusan apa?"

"Apa kau pernah berjumpa dengan putrinya Hu Toa Kan itu?"

"Belum. . ." Tong Ling menggeleng, sepasang matanya yang jeli ber-kedip2, "Mengapa dia?"

"Aku ingin tahu bagaimanakah wajahnya?" seru Pek Thian Ki sambil tertawa.

"Aku dengar kecantikan wajahnya tiada bandingan diseantero kolong langit pada saat ini."

"Oooouw yaaa. . .? waaaah. . .kalau cantik sekali wajahnya, aku ada maksud ingin melihat sekejap wajahnya."

"Eeeeei. . . .Pek-heng, kau jangan membawa maksud tidak baik loh terhadap gadis tersebut," goda Tong Ling sembari tertawa.

"Mana. . .mana. . .cayhe tak akan berani berniat jahat."

Pada waktu itulah mereka berdua sudah tiba disebuah kebun bunga dibelakang ruangan besar itu, dimana tumbuh beraneka warna bunga yang memancarkan bau harum semerbak, ditengah kebun itu terdapat kolam dibalik kota tersusun gunung2an, Pemandangannya sangat indah dan mempesona.

"Waaah. . .sungguh indah pemandangan ditempat ini. .

." Tak terasa lagi pemuda itu berguman.

"Pek-heng, coba kau lihat siapakah itu?" mendadak Tong Ling berteriak tertahan.

"Dimana?" seru Pek Thian Ki melengak. "Itu diatas loteng depan kita."

Mengikuti arah yang ditunjuk Pek Thian Ki alihkan sinar matanya, tampaklah disamping jendela bangunan loteng dihadapannya berdiri seorang gadis cantik berbaju warna merah.

Usianya kurang lebih tujuh, delapan belas tahunan, boleh dikata wajahnya amat cantik dan mempesonakan setiap orang yang memandang. Untuk beberapa saat lamanya perhatian Pek Thian Ki benar2 terpesona atau lebih tepatnya terpikat oleh kecantikan wajah gadis tersebut.

Lama sekali ia memandang dara berbaju merah itu dengan pandangan mendelong. "Sungguh amat cantik!" Pujinya tanpa terasa.

"Ehmmm. . .ia memang seorang gadis yang amat cantik," sambung Tong Ling dengan cepat.

Air muka Pek Thian Ki langsung saja berubah merah jengah, ia terpaksa tertawa jengah, "Benar, dara tersebut betul2 amat cantik, entah siapakah dia orang. ?"

"Kemungkinan besar adalah putri dari Hu Toa Kan!" "Tidak salah! Ada kemungkinan besar. . ." Teriak Pek

Thian Ki tak tertahan, Hatinya merasa bergetar sangat

keras. Belum habis pemuda itu menyelesaikan kata2nya, mendadak dari belakang punggung mereka berkumandang datang suara langkah manusia yang memecahkan kesunyian, Seorang kakek tua berbaju merah tahu2 sudah tiba dibelakang tubuh mereka berdua.

"Kongcu berdua, maaf aku orang mengganggu sebentar ketenangan kalian," seru orang tua itu sambil tertawa.

"Ada urusan apa?"

"Tolong tanya apakah kalian berdua datang kemari hendak menyampaikan ucapan selamat buat Loo-ya kami?"

"Benar!"

"Kawan-kawan Bu-lim kini sudah mulai menyampaikan ucapan selamat mereka, kalian berdua mari ikuti diriku."

Pek Thian Ki tersenyum dan mengangguk, tapi tidak urung ia melirik kembali sekejap kearah dara cantik diatas loteng tersebut, kemudian baru berlalu dari sana. Pek Thian Ki serta Tong Ling dengan mengikuti dari belakang kakek tua berbaju merah itu berjalan masuk kedalam ruangan pesta, Tampaklah ditengah ruangan yang besar itu teratur empat, lima puluh buah meja perjamuan, Diatas dinding sembahyang terpancang sebuah kata 'So' yang amat besar dan terbuat dari kertas warna emas.

Disamping tulisan besar itu tergantung pula beberapa deret tulisan yang kira2 berbunyi sebagai berikut "Panjang Usia bagaikan tingginya gunung Lam San, Banyak rejeki bagaikan Lautan Tong Hay."

Lampu lilin warna merah memancarkan cahaya terang benterang menerangi seluruh ruangan yang penuh diliputi rasa kegembiraan. Diatas kursi kebesaran duduklah seorang kakek tua berusia limapuluh tahunan dengan wajah memancarkan cahaya merah pula, tubuhnya memakai jubah warna merah yang terukirkan kata2 'So' dari benang emas. Pada saat itu ia sedang mengangguk menerima ucapan selamat dari para jago Bu-lim yang hadir diruangan tersebut.

"Orang inikah yang bernama Hu Toa Kan?" Bisik sang pemuda dengan suara yang lirih.

"Benar!"

Suasana kembali berubah jadi hening, sunyi dan tidak kedengaran sedikit suarapun.

Pada waktu itulah. . . .

Ucapan selamat sudah selesai, dan Hu Toa Kan sambil tersenyum bangun berdiri, ujarnya lantang;

"Didalam merayakan ulang tahunku, kawan2 sekalian tiada kenal lelah, jauh2 dari ujung dunia datang mengikuti perayaan ini, dalam hati aku orang she Hu benar2 mengucapkan banyak terima kasih atas perhatian dari saudara-saudara sekalian."

Sinar matanya per-lahan2 menyapu sekejap keseluruh ruangan.

"Dari tempat jauh saudara sudah datang kemari, aku orang she Hu tiada barang yang berharga untuk dijamukan, biarlah aku gunakan air arak sebagai tanda terima kasihku."

ooo O ooo

Ditengah suara teriakan 'Hidangkan Arak', tampaklah pelayan2 mulai mengatur sayur serta arak diatas meja perjamuan.

"Saudara-saudara sekalian, aku orang she Hu akanmenghormati kalian dengan secawan arak sebagai tanda terima kasihku," Seru Hu Toa Kan kemudian dengan cawan arak diangkat keatas.

Semua hadirin sama-sama pula angkat cawan dan meneguk habis isinya. Seorang kakek tua yang duduk dimeja depan mendadak bangun berdiri.

"Kitapun sudah seharusnya balas menghormati secawan arak buat Hu-heng!" serunya keras.

Kembali para hadirin bangun berdiri dan balas menghormati secawan arak buat Hu Toa Kan. Mengambil kesempatan tersebut Tong Ling ikut angkat cawan keatas, kepada Pek Thian Ki serunya;

"Pek-heng, menggunakan kesempatan ini, akupun ungin menghormati secawan arak kepadamu."

"Tidak bisa jadi!" Pemuda itu tertawa dan menggeleng. "Mungkinkah Pek-heng ada maksud menampik?" "Bukan. . . bukannya begitu, karena ditengah jalan tadi

sakit hati dari siauwte sudah kumat satu kali, maka aku tidak berani minum arak."

"Mengapa kau tidak berani?"

"Sebelum tenaga dalamku puluh enam bagian, siauwte benar2 tidak berani ikut minum arak."

"Baiklah, kalau memang begitu sesukamulah!"

Pek Thian Ki tersenyum, ia angkat cawan dan ditempelkan saja keatas bibirnya.

"Tong-te, terima kasih!"

Tong Ling tersenyum, senyuman tersebut amat menarik, mempesonakan dan menggairahkan, hal ini membuat Pek Thian Ki jadi kepincut dan merasakan hatinya berdebar amat keras, Terutama sekali dari tubuhnya melayang keluar segulung bau harum yang sangat aneh sekali, hal ini semakin membuat Pek Thian Ki jadi mabok. Melihat sikap sang pemuda yang me-longo2 seperti kehilangan nyawa, Tong Ling jadi melengak.

"Pek-heng, mengapa kau memandang diriku terus menerus?"

"Kau. . .kau sangat cantik?" "Ngaco belo!. . ."

"Bukan ngaco belo. tapi. . .suuung. .sungguh. . .sungguh!

Kau benar2 amat cantik,"

"Bagaimana jika dibandingkan dengan nona tadi?"

Bila kau berganti dengan pakaian perempuan, kecantikanmu tak akan kalah dari kecantikan gadis tadi?"

"Eeeei. . .kau jangan pakaikan topi kebesaran diatas kepalaku. Pek Thian Ki tertawa riku, Mendadak terdengar suara bentakan keras bergema memecahkan kesunyian.

"Kawan2 sekalian, tunggu sebentar, maaf aku akan menganggu kalian sebantar."

Para tamu yang sedang minum arak dengan ramainya sama2 meletakkan cawannya kembali keatas meja dan alihkan sinar matanya kearah mana berasalnya suara tersebut.

Tampaklah Hu Toa Kan dengan wajah yang keren sudah bangun berdiri, sinar matanya berkilat dan dari ujung bibirnya tersungging satu senyuman tawar.

"Terpaksa cayhe harus mengganggu ketenangan kalian untuk minum arak, aku ada suatu urusan yang mau tak mau harus diberitahukan kepada saudara2 sekalian." "Hu Cungcu, ada urusan apa? Silahkan kau orang utarakan keluar," jawab seorang kakek berbaju kuning dengan suara lantang.

"Tolong tanya, diantara kalian pernahkah mendengar seorang jagoan yang bernama Kiang To?"

Mendengar disebutkannya nama orang itu, rata2 air muka semua hadirin berubah hebat, agaknya mereka menaruh rasa jeri dan takut terhadap manusia ganas yang amat lihay itu, Seketika itu juga suasana ditangah ruangan besar jadi sunyi senyap, tak kedengaran sedikit suara apapun! Air muka Pek Thian Ki sendiripun rada berubah setelah mendengar disebutnya nama orang itu.

"Hu Cungcu! Tolong tanya, mengapa dengan dirinya?" tanya seseorang yang tidak dapat menahan sabar lagi.

"Heee. . . . .heeee. . . .heeee.        ia sudah datang!"

"Apa? Ia sudah datang? Dimanakah sekarang orangnya?" Dengan diiringi suara teriakan tertahan, para jagoan berseru keras, rata2 semua hadirin sudah dibuat bergidik hatinya oleh berita ini.

Sinar mata Pek Thian Ki pun dengan tajam memperhatikan wajah Hu Toa Kan tanpa berkedip, Suasana ditengah ruangan jadi hening, tapi dibalik itu terlintas napsu membunuh yang amat menyeramkan.

"Kiang To!" Terdengar Hu Toa Kan membentak keras, "Kau ingin keluar sendiri ataukah memaksa aku orang yang menarik kau keluar dari ruangan ini?"

Para hadirin mulai saling bertukar pandangan dengan pikiran penuh tanda tanya, agaknya orang yang duduk dihadapannya merupakan Kiang To yang sedang disebut itu, suasana berubah semakin sunyi lagi. "Tong Loo-te! Apakah dia orang benar2 sudah datang?" bisik Pek Thian Ki dengan suara yang amat lirih.

"Kemungkinan besar!"

Hu Toa Kan yang melihat lama sekali Kiang To tidak suka unjukkan diri, air mukanya segera berubah hebat; "Kiang To! Kau sungguh2 tidak mau keluar? Apakah kau ingin paksa aku orang turun tangan sendiri?" kembali bentaknya.

Ruangan tetap sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun. Sinar mata Pek Thian Ki pun melototi diri Hu Toa Kan semakin tajam.

"Heee. . . .heee. . .heee. . .Kiang To! Kalau memang kau tiada maksud untuk keluar sendiri, terpaksa aku harus turun tangan sendiri untuk mengundang kau keluar." seru Hu Toa Kan sambil tertawa dingin.

Para jago Bu-lim yang ada didalam dunia Kangouw rata- rata mulai mengalihkan sinar matanya keatas wajah Hu Toa Kan, tampaklah siorang tua itu selangkah demi selangkah mulai berjalan diantara meja2 perjamuan.

Suasana didalam ruangan amat sunyi, hening dan tidak kedengaran sedikit suarapun, Kecuali suaar langkah kaki Hu Toa Kan yang teratur, hampir2 membuat jarum yang jatuh keatas tanahpun kedengaran.

Mendadak. . . Hu Toa Kan berbelok dan langsung menuju kearah meja yang ditempati oleh Pek Thian Ki serta Tong Ling, hal ini membuat kedua orang itu jadi terkejut dan saling bertukar pandangan.

Waktu itu Hu Toa Kan telah tiba disisi tubuh Pek Thian Ki, Air muka pemuda itu langsung saja berubah hebat, jantungnya terasa berdebar keras. "Heee. . .heee. . .heeee. . . Kiang To! Kalau memang sudah datang kemari, mengapa kau orang tidak langsung menyambangi diriku secara terang2an dan blak2an?" tegur siorang tua itu sambil tertawa seram.

"Apa? Dia adalah Kiang To?" terdengar suara jeritan tertahan dari para jago yang hadir didalam ruangan.

"Kiang To adalah pemuda kurus itu?" ". Apakah betul mereka?"

Suasana berubah jadi gaduh, teriakan-teriakan tidak percaya mulai tersebar simpang siur, rata-rata air muka para jagoan pun mulai berubah hebat.

"Apa kata kau?" terdengar Pek Thian Ki pun berseru tertahan.

"Hmmmm! Kau adalah Kiang To!" "Kau sedang ngaco belo!"

"Ngaco belo?"

"Benar, kau sedang ngaco belo, aku bukan Kiang To, aku bernama Pek Thian Ki."

"Heeee. . . heeee. . . heeee. . . aku tahu kalau kau bernama Pek Thian Ki," seru Hu Toa kan sambil tertaw dingin. . .Tetapi nama tersebut nama samaranmu, dan namamu yang sebenarnya adalah Kiang To."

"Kurang ajar, aku harap kau jangan ngaco belo lagi!" Saking gusarnya Pek Thian Ki membentak keras.

"Hmmm! Kalau memang tujuanmu datang kemari untuk menyatroni diriku, mengapa tidak berani pula untuk mengakui?"

Mendadak Pek Thian Ki pun tertawa dingin, "Jadi kau suruh aku mengakui kalau aku adalah Kiang To?" "Sedikitpun tidak salah!"

"Tapi, aku kan sudah berkata kalau aku bukan orang itu."

"Aku punya cara untuk membuktikan."

"Heeee. . . .heeee. . . heeee. . . aku ingin tahu dengan menggunakan cara apa kau ingin membuktikan diriku adalah Kiang To," Tantang Pek Thian Ki sambil tertawa dingin.

"Mari silahkan!"

Ditengah suara seruan tersebut, dengan langkah lebar Hu Toa Kan sudah melangkah keluar ketengah ruangan. Pek Thian Ki tertawa dingin, ia pun dengan mengikuti dari belakang tubuh Hu Toa Kan berjalan keluar dari meja perjamuan langsung menuju ketengah ruangan.

Sinar mata semua orangpun mulai dialihkan keatas tubuh kedua orang itu, mereka mulai memperhatikan dengan cermat dan penuh perhatian. Setibanya ditengah ruangan, mereka berdua ber-sama2 menghentikan langkah kakinya dan putar badan saling ber-hadap2an.

"Hu Cungcu, kau hendak menggunakan cara apa untuk membuktikan kalau aku adalah Kiang To?"

"Hmmm! Semua jago diseantero dunia pada tahu kalau kau Kiang To setelah melakukan kejahatan tentu akan meninggalkan sebuah panji kecil disamping korban, Sekarang aku perintahkan kau untuk copot pakaian luarmu untuk aku periksa, Dan akan kulihat apakah didalam sakumu terdapat panji kecil itu atau tidak!"

Air muka Pek Thian Ki kontan berubah hebat. Pada saat ini didalam sakunya memang ada subuah panji kecil yang didapatkan disamping korban Kiang To sewaktu berada di Istana harta, sudah tentu ia tak dapat melepaskan pakaian luarnya dihadapan orang banyak.

Bukankah jika ia berbuat demikian sama halnya dengan telah membuktikan jika ia betul-betul adalah Kiang To? Dan pemuda ini sama sekali tidak mengira, kalau panji kecil yang disimpan dalam sakunya bakal mendatangkan banyak kerepotan buat dirinya, Untuk beberapa saat lamanya ia berdiri tertegun ditengah kalangan.

"Heee. . .heeee. . .heee. . . bagaimana? Kenapa pakaian luarmu tidak kau lepaskan?" jengek siorang tua itu sambil tertaw dingin.

Didalam hati Pek Thian Ki tahu bahwa persoalan ini tak bakal disa dibikin jelas, maka air mukanya tambah berubah hebat.

"Tidak salah, aku tak akan melepaskan pakaian luarku," sahutnya tegas.

"Mengapa?"

"Karena tiada kepentingannya!"

"Jadi kau sudah mengakui kalau dirimu adalah Kiang To?" teriak Hu Toa Kan dengan air muka berubah hebat.

"Tidak!"

Air muka Hu Toa Kan berubah semakin hebat. "Kau akan paksa aku untuk turun tangan sendiri melepaskan pakaian luarmu itu? teriaknya semakin murka.

Suara bentakan dari Hu Toa Kan ini penuh mengandung napsu membunuh, sepasang matanya berkilat dan memancarkan cahaya tajam melototi wajah Pek Thian Ki, dengan tidak berkedip.

Air muka pemuda tersebut berubah semakin hebat pula, hatipun terasa berdebar semakin keras, Pada saat ini apabila ia membuka pakaian luarnya, maka seketika itu juga dihadapan para jago yang sedemikian banyaknya akan terbukti bila ia adalah Kiang To.

Pada saat itu. . . .

"Bangsat! Kau suka melepaskan pakaian luarmu tidak?" bentak Hu Toa Kan ketus.

"Bagaimana jika aku orang tidak mau lepaskan?" jengek pemuda itu dingin.

"Aku sudah berkata bahwa aku bisa turun tangan sendiri!"

"Oooouw. . . begitu? Hu Cungcu, bolehkah aku orang menanyakan satu persoalan dulu kepadamu?"

"Cepat kau katakan!"

"Kenalkah kau orang dengan Kiang To?" Mendapat pertanyaan ini Hu Toa Kan jadi melengak.

"Aku tidak kenal dengan dirinya!"

"Hmm! Lalu apakah diantara dirimu dengan diri Kiang To ada ikatan dendam?"

"Ikatan dendam?" "Benar!"

"Tidak ada.   "

"Heee. . .heeee. . .heee. . . Hu Cungcu! Jika demikian adanya, kaulah yang salah!" potong Pek Thian Ki dengan cepat sambil memperdengarkan suara tertawa sinis yang tidak sedap didengar. "Kalau memang kau orang tidak kenal dengan Kiang To, lalu secara bagaimana kau bisa menuduh akulah Kiang To?" Menerima pertanyaan yang amat diluar dugaan ini, Hu Toa Kan jadi tertegun dan berdiri ter-mangu2. Sedikitpun tidak salah! Kalau ia sendiripun belum pernah bertemu dengan Kiang To, bagaimana mungkin bisa menuduh Pek Thian Ki sebagai Kiang To?. . . .

Tetapi, bagaimanapun juga Hu Toa Kan tidak malu kalau disebut sebagai seorang jago Kangouw yang punya nama, maka segera dia orang tertawa dingin.

"Kiang To, bukankah perkataanmu itu kau ucapkan sia- sia belaka?"

"Sia-sia belaka?"

"Benar! Padahal hingga sampai saat serta detik ini, mana ada jagoan Bu-lim yang pernah berjumpa dengan manusia yang bernama Kiang To?. "

"Kalau begitu, Mengapa kau menuduh aku adalah Kiang To?"

"Karena wajahnya amat mirip.   "

Baru saja Pek Thian Ki hendak menjawab, Tong Ling yang duduk disisinya dengan suara yang dingin sudah menyambung; "Hu Cungcu, apakah kau tidak mirip?"

"Kau?"

"Benar! Apakah aku tidak mirip dengan Kiang To?"

Hu Toa Kan kontan dibuat cep kelakep untuk beberapa saat lamanya tak sanggup untuk mengucapkan sepatah katapun. Sedikitpun tidak salah, Bagaimana pun ia tak dapat menuduh sembarangan orang sebagai Kiang To! Akhirnya ia tertawa paksa.

"Kau.   kaupun mirip." "Kalau memang aku mirip Kiang To, lalu bagaimana dengan dia itu?"

"Ia pun mirip!"

"Perkataan macam begini mana bisa diutarakan dari mulut seorang manusia semacam Hu Cungcu?" teriak Tong Ling dengan air muka berubah hebat.

"Apa salahnya?"

"Kau sebagai seorang Cungcu dari suatu perkampungan besar, betapa mulia dan terhormatnya kedudukanmu, tetapi sebelum suatu persoalan kau selidiki sampai jelas kenapa berani sembarangan membuat tuduhan kepada orang lain? Apakah kau tidak takut dibuat lelucon oleh para kawan2 Bu-lim sehingga lepas giginya saking kegelian?"

Beberapa patah perkataan ini diucapkan amat cengli tak terbantahkan, memang tidak salah, sebagai seorang Cungcu yang terhormat, mana boleh sembarangan menuduh orang lain tanpa mempunyai suatu bukti yang cukup?

Tetapi, agaknya ia merasa amat yakin kalau Pek Thian Ki adalah penyaruan dari Kiang To. Tak terasa lagi siorang tua itu tertawa dingin tiada hentinya.

"Kalau begitu kalian berdua sama2 tidak mengakui kalau kalian adalah Kiang To?"

"Kami tidak mengakui juga tidak akan mungkir, hanya saja harapan kami Cungcu suka memberikan suatu alasan yang tepat."

Sinar mata Hu Toa Kan dengan tajam dialihkan keatas wajah Pek Thian Ki, kemudian sambil tersenyum sinis ujarnya;

"Aku mau tanya, mengapa kau tidak berani untuk melepaskan pakaian luarmu?. . ." "Kenapa aku harus lepaskan pakaian luarku?" "Aku ingin membuktikan!"

"Membuktikan? Membuktikan apa? Kau ingin membuktikan aku adalah Kiang To?"

"Sedikitpun tidak salah!"

"Menggunakan cara apa kau hendak membuktikan hal ini?"

"Bila kau adalah Kiang To, maka disakumu pasti ada panji tanda pengenalmu."

"Heee. . .heee. . .heee. . .Hu Cungcu! Mengapa kau tidak suruh semua kawan2 Bu-lim yang hadir didalam kalangan pada saat ini sama2 pada melepaskan pakaian luarnya untuk diperiksa?" jengek Pek Thian Ki sambil tertawa dingin, "Jikalau mereka pada setuju, sudah tentu aku Pek Thian Ki akan mengiringi."

Pek Thian Ki bukan saja memiliki nyali serta kecerdikan yang melebihi orang, bahkan ucapannyapun tajam sekali, Jikalau bukannya disebabkan karena baru saja sakit hatinya kumat, iapun tak bakal suka berbicara demikian baik dengan dirinya.

Pada saat ini tenaga dalamnya baru saja pulih sepertiganya, sudah tentu ia mengetahui jelas bila dirinya bukanlah tandingan dari Hu Toa Kan, Oleh sebab itu untuk sementara waktu mau tak mau ia harus menahan rasa mangkelnya ini.

Hu Toa Kan sendiripun sadar kalau perkataannya amat cengli, tetapi bagaimanapun juga, ia tak dapat turun dari panggung dengan demikian saja. Pada hari2 biasa ia sangat memandang kosong siapapun dan terlalu anggap kedudukannya sangat tinggi, sudah tentu ia tak akan memandang sebelah matapun terhadap diri Pek Thian Ki.

"Heee. . .heee. . .heee. . . aku suruh kau lepas pakaian, maka kau harus tetap lepas pakaian!" teriaknya dingin.

Air muka Pek Thian Ki berubah hebat, mendadak ia meloncat bangun. "Hu Cungcu! Sungguh besar benar lagakmu!" teriaknya.

Keadaan Hu Toa Kan pada saat ini mirip dengan menunggang diatas punggung harimau, bagaimanapun juga ia harus keraskan kepala untuk menyelesaikannya.

"Bocah!" Aku sedang bicara sungguh-sungguh." teriaknya sambil tertawa tawar.

"Kau hendak mengandalkan apa? Kepandaian ilmu silat?"

"Anggap saja perkataanmu itu benar."

"Heee. . .heee. . .heee. . .Hu Cungcu, ini hari adalah hari apa? Membuat ruangan perayaan ulang tahun jadi berceceran darah, rasanya tidak akan mendatangkan kebaikan buat dirimu," jengek pemuda itu ketus.

"Haaa. . . .haaa. . .haaa. . . aku tak akan memperdulikan soal itu, jikalau kau tidak suka mengakui kalau kau adalah Kiang To, terpaksa aku harus menggunakan cara ini."

Tong Ling pun mendadak meloncat bangun. "Hu Cungcu, apa kau anggap kepandaian ilmu silatmu tiada bandingnya dikolong langit?" teriaknya.

"Aku tidak pernah mengucapkan kata2 seperti itu." "Kalau memang demikian, kenapa kau tantang orang

untuk bertempur pada saat diadakannya perayaan hari

ulang tahun?" Kembali ia tertawa dingin tiada hentinya, "Jikalau kau kepingin men-coba2 kepandaian silat orang lain, mari! Cayhe pun ingin minta beberapa petunjuk dari dirimu."

"Kau?. . ." jengek Hu Toa Kan dingin, Diatas wajahnya terlintaslah suatu senyuman menghina.

"Tidak salah, cayhe pernah dengar orang berkata, katanya kepandaian silat Hu Cungcu luar biasa dahsyatnya, Kini cayhe ingin minta beberapa petunjuk dari dirimu. . ."

"Sangat bagus sekali.     "

"Tapi, aku masih ada satu syarat lagi bagi dirimu." "Syarat apa lagi?"

"Kita bertaruh dalam tiga jurus jika aku kalah, maka aku akan segera bantu kau orang untuk menemukan kembali Kiang To tersebut. "

"Bila aku yang kalah?"

"Pertama, jangan menaruh curiga kalau dia adalah Kiang To, dan kedua, suruh puterimu keluar untuk melayani kami minum arak."

"Apa kau kata?" teriak Hu Toa Kan teramat gusar, air mukanyapun berubah sangat hebat.

"Aku minta puterimu keluar melayani kami minum arak?

Bagaimana.     "

"Kentut!    "

"Eeeei.   Hu Cungcu! Kau takut kalah?"

Selebar wajah Hu Toa Kan saking khekinya berubah jadi merah padam, ia anggap Tong Ling terlalu tidak pandang sebelah mata terhadap dirinya. Dia adalah seorang jagoan kenamaan didalam dunia persilatan, bukan saja nama besarnya serta kedudukannya, bahkan kepandaian silat yang ia milikipun terhitung sebagai seorang jagoan kenamaan, Maka rasa mangkel tersebut mana sanggup ditelan begitu saja kedalam hati? Padahal, ia sendiripun tidak pandang sebelah mata terhadap diri Tong Ling!

"Baik!" sahutnya kemudian sambil tertawa dingin. "Hu Cungcu, apa kau tidak menyesal?"

"Selama melakukan pekerjaan Hu Toa Kan belum pernah ingkar janji barang satu kalipun."

"Bagus. . . .bagus. . . ." seru Tong Ling lantang, sinar matanya per-lahan2 menyapu sekejap keseluruh hadirin, "Para cianpwee sekalian, atas kebaikan hati Hu Cungcu yang suka pandang tinggi diri cayhe Tong Ling, sehingga mau bertaruh dengan diriku dalam tiga jurus aku merasa sangat berterima kasih sekali, Bilamana aku kalah, maka aku akan segera menyeret keluar Kiang To, dan bila ia yang kalah, maka aku larang dia orang menuduh kawan Pek adalah Kiang To, bahkan mengundang putri kesayangannya untuk melayani kami minum arak, entah siapa diantara kalian yang suka bertindak sebagai saksi?" Begitu perkataan tersebut berkumandang keluar suasana didalam ruangan jadi teramat gaduh.

Bab 18

Lama. . . lama sekali baru tampaklah seorang kakek tua berbaju hijau bangun berdiri dan berkata;

"Hu Cungcu paling memegang teguh ucapan sendiri, aku rasa dia orang tak bakal salah janji."

"Jadi kalian suka menjadi saksi?"

"Tidak salah kami suka menjadi saksi. . ." "Kami sanggup. . . " "Kami tanggung. . ." Suara teriakan para hadirin segera meledak dan membuat suasana didalam ruangan tersebut jadi amat gaduh.

Sudah tentu ada sebagian diantara mereka yang hanya bertujuan menonton keramaian dan ada sebagian lagi yang menginginkan pemuda ini bisa dikalahkan oleh Hu Toa Kan sehingga ia harus menyeret keluar Kiang To simanusia yang mendatangkan keseraman bagi siapapun juga.

Pek Thian Ki sendiripun jadi melengak dibuatnya. Alisnya dikerutkan rapat2, agaknya ada sesuatu urusan sedang dipikirkan, tetapi seperti pula sedang mengambil suatu keputusan tentang suatu hal yang tidak dipahami olehnya dan terjadi disekeliling tubuhnya sendiri.

Siapakah Tong Ling itu? Kepandaian silat yang ia miliki tidak berada dibawah kepandaian sendiri, dan mungkinkah gadis ini dapat berhasil merobohkan Hu Toa Kan didalam tiga jurus seperti halnya tempo dulu ia sendiri merobohkan Tong Jong itu anak murid dari sijagoan pedang penakluk naga dalam tiga jurus pula?

Jikalau ia kalah, apakah gadis tersebut sanggup menemukan Kiang To yang amat misterius itu? Sudah tentu peristiwa ini merupakan suatu kejadian yang tidak mungkin, jadi ia mempunyai kepercayaan seratus persen bahwa dirinya mempunyai kepandaian untuk merobohkan Hu Toa Kan?

Pada saat inilah didasar hati Pek Thian Ki mendadak terlintas suatu ingatan yang sangat aneh, Ia sangat mengharapkan agar Tong Ling menderita kalah, sehingga ia akan menarik keluar manusia yang bernama Kiang To itu. Sudah tentu pikiran aneh ini bisa muncul, karena memang didasar hatinya sejak semula sudah ada maksud untuk menemui manusia yang bernama Kiang To itu. Pada saat itu. . . .

"Heee. . .heee. . .heee. . .hampir2 saja saja aku lupa menanyakan nama besar dari Tong Siauw-hiap?" Seru Hu Toa Kan dingin.

"Cayhe she Tong bernama Ling!"

"Oooouw, kiranya Tong Siauw-hiap, mari kita keluar rumah."

Tanpa banyak bicara Tong Ling putar badan dan langsung menuju keluar rumah. Ketika itulah semua hadirin pada ikut bangun berdiri dan berjalan keluar dari ruangan tersebut untuk menonton jalannya suatu pertarungan yang sengit.

Sambil bergendong tangan, dan dongakkan kepala keatas, Pek Thian Ki pun ikut berjalan keluar menuju ruangan depan, Sepasang matanya dengan tajam memperhatikan wajah kedua orang itu.

Per-lahan2 Hu Toa Kan melepaskan jubah panjangnya, sehingga kelihatan pakaiannya yang ringkas, dengan sinar mata ber-api2, ia melototi diri Tong Ling tajam2.

"Tong Siauw-hiap, silahkan." serunya dingin.

"Lebih baik Hu Cungcu turun tangan terlebih dahulu." "Tidak bisa jadi, terhadap seorang angkatan muda

semacam kau, bagaimana aku orang boleh turun tangan terlebih dahulu?"

"Kalau memang begitu, cayhe pun terpaksa menurut perintah saja!" Begitu perkataan terakhir meluncur keluar dari bibirnya, tangan kanannya dengan cepat diayunkan kemuka melancarkan satu cengkeraman dahsyat.

Serangan cengkeraman ini kelihatannya sangat biasa tanpa ada variasi yang aneh, sehingga Hu Toa Kan tertawa dingin, tangan kanannya pun dengan sebat menangkis keatas sedang tangan kirinya dengan gencar balas mengirim satu serangan.

Serangan yang dilancarkan oleh Hu Toa Kan ini boleh dikata amat cepat laksana sambaran kilat, ada sebagian jago yang tak dapat menahan rasa kaget lagi, mereka pada berteriak tertahan dan mengucurkan keringat dingin.

Tetapi bagi Tong Ling sendiri, agaknya ia sudah menduga kalau bakal datangnya serangan tersebut, maka pada waktu Hu Toa Kan mengirim serangan tangan kiri kedepan itulah tangan kiri gadis itupun ikut menerobos kearah luar.

Bayangan jari berkelebat bagaikan petir, tahu2 ia sudah berhasil menggagalkan serangan dari Hu Toa Kan dan disusul bayangan manusia berkelebat lewat tangan kiri Tong Ling sekali lagi mengirim satu pukulan gencar.

Kecepatan gerak betul2 membuat orang sukar untuk melihat jelas, diantara berputarnya bayangan manusia masing2 pihak saling memencar dan mengundurkan diri kebelakang.

Siapa menang, siapa kalah, tak ada yang berhasil melihat jelas, kecuali Pek Thian Ki seorang yang berdiri disisi kalangan. Per-lahan2 Pek Thian Ki menghembus napas ringan. . .

Suara helaan napas itu kedengaran amat jelas sekali ditengah kesunyian yang mencekam seluruh ruangan, bahkan sangat menusuk telinga. Hanya saja disebabkan, perhatian semua pada orang waktu itu sedang tertumpah ketengah kalangan, maka tak seorangpun diantara mereka yang menoleh melihat kearah Pek Thian Ki. "Hu Cungcu! Kepandaian silatmu benar2 sangat mengagumkan," seru Tong Ling sambil tertawa tawar.

Hu Toa Kan berdiri mematung ditengah kalangan, lagaknya mirip seperti seorang yang kehilangan nyawa. Melihat kejadian tersebut, semua orang jadi berdiri tertegun, pikiran mereka pada dibuat kebingungan apa yang baru saja terjadi.

"Sebenarnya apa yang sudah terjadi?. . ." terdengar suara seseorang berteriak keras.

"Siapa yang menang?. . ." "Siapa yang kalah?. . ."

Suara manusia bergema memenuhi angkasa membuat suasana jadi gaduh, mendadak terdengar seorang berteriak keras; "Aaaah. . . Hu Cungcu kalah setengah jurus. . ."

"Apa?. . ." Tak terasa lagi semua jago yang hadir disana pada menjerit kaget.

"Ia kalah?. . ."

Seketika itu juga semua orang dibuat terperanjat oleh hasil pertandingan tersebut. Ketika Pek Thian Ki mengalihkan sinar matanya kearah orang tersebut, maka tampaklah orang yang baru saja berteriak bukan lain adalah seorang kakek tua bercambang yang memakai jubah warna kuning.

Ditengah suara gaduh yang memenuhi empat penjuru, dengan perasaan amat malu Hu Toa Kan menundukkan kepalanya rendah2, Ia sama sekali tidak mengira kalau nama baik dirinya selama ini ternyata hancur ditangan seorang Boanpwee yang tidak bernama dan tiada berpengalaman. Bukan saja ia sudah kalah, bahkan menderita kekalahan yang amat mengenaskan. . . walaupun selama hidup ia sudah pernah jatuh kecundang beberapa kali ditangan orang lain, tetapi selama ini belum pernah ia menderita kekalahan sehebat dan mengenaskan seperti kali ini.

Didalam tiga jurus menderita kalah ditangan seorang Boanpwee tak ternama, peristiwa ini benar2 sangat memalukan, hendak dilemparkan kemanakah wajahnya?

"Hu Cungcu, terima kasih atas bantuanmu yang suka mengalah, disini Boanpwee ucapkan banyak terima kasih." kata Tong Ling sambil tersenyum. Selesai berkata, ia lantas merangkap tangannya menjura.

Terang sudah perkataan tersebut bernadakan mengejek, hal ini mana mungkin tidak membuat Hu Toa Kan jadi kheki, sehingga tidak dapat mengucapkan sepatah katapun. Mendadak. . .

"Sudah. . . .sudahlah. . ." mendadak siorang tua itu berteriak keras. Telapak tangannya segera diangkat keatas, kemudian dihajarkan keatas batok kepalanya sendiri.

Pada saat itu Hu Toa Kan benar2 ada maksud untuk bunuh diri, karena nama baiknya yang dipupuk selama ini ternyata sudah hancur ditengah jalan, ia mana punya muka lagi untuk tancapkan kakinya didalam dunia persilatan? Daripada menerima malu, lebih baik menemui ajal. . . .

Maksud Hu Toa kan yang ingin bunuh diri ini benar2 berada diluar dugaan semua orang, Tetapi, sekonyong- konyong. . . .

Sesosok bayangan manusia dengan sebat mencelat kehadapan Hu Toa Kan, kemudian tangannya berkelebat mencengkeram tangan siorang tua itu yang sudah siap hendak dihajarkan keatas ubun2 sendiri itu. "Kau cari mati?" bentak Hu Toa Kan keras, saat ini ia tidak ingin ada orang yang menghalangi maksudnya untuk bunuh diri.

Tanpa banyak perhitungan lagi, pukulan yang mengandung hawa pukulan seberat ribuan kati ini dihantamkan keatas tubuh orang tersebut dengan gerakan yang cepat dan aneh. Pihak lawan dengan gesit menyingkir kesamping meloloskan diri dari datangnya serangan tersebut.

"Hu Cungcu! Apa maksudmu?" bentak orang itu keras.

Hu Toa Kan yang melihat serangannya tidak mencapai hasil, ia rada melengak, sinar matanya dengan cepat dialihkan kearah orang itu. Kiranya orang yang sedang mencengkeram pergelangan tangannya bukan lain adalah seorang kakek tua bercambang.

Gerakan tubuh dari kakek tua bercambang itu amat gesit dan sebat, hal ini membuat Pek Thian Ki rada bergidik juga dibuatnya.

"Siapa kau?" bentak Hu Toa Kan gusar.

"Hu Cungcu, siapakah diriku, untuk sementara kau tidak perlu tahu," jawab sikakek bercambang itu sambil tertawa, "Cuma ada sepatah dua patah kata aku ingin beritahu kepadamu, Menang kalah dalam suatu pertarungan merupakan suatu kejadian yang biasa, Buat apa kau orang ambil keputusan untuk bunuh diri, hanya disebabkan karena kalah setengah jurus?"

"Heeee. . .heeee. . .heeee. . . Hu Cungcu! Bilamana kau tidak suka menerima kekalahanmu itu, akupun tidak ingin menang lagi," sambung Tong Ling sambil tertawa dingin.

Beberapa patah perkataan ini langsung membuat wajah Hu Toa Kan diliputi kegusaran, dia adalah seorang jagoan yang paling mengutamakan muka sendiri, Dan kini bukan saja sudah jatuh kecundang ditangan orang lain, bahkan diejek dan dihina pula, hal ini betul2 membuat hatinya amat mendongkol.

Tetapi. . . kendati ia mendongkol perasaan tersebut sukar untuk dilampiaskan keluar, oleh sebab itu siorang tua itu segera memperdengarkan suara tertawa yang amat menyeramkan.

"Saudara aku orang she Hu benar2 kagum terhadap dirimu. . ."

"Saudara terlalu memuji!"

"Dan kaulah satu2nya orang yang membuat aku orang she Hu menderita kekalahan dengan demikian mengenaskan. . ."

"Haaaa. . .haaaa. . .haaaa. . . saudara tidak usah sungkan-sungkan lagi."

"Hmm! Apa yang kau inginkan pada saat ini?" "Melaksanakan sesuai dengan syarat yang kita janjikan

tadi."

Air muka Hu Toa Kan berubah jadi serba salah, ia kelihatan kikuk dan jengah, Baginya untuk menjalankan syarat yang pertama sangat gampang sekali, tetapi syarat yang kedua. . . hal ini bukan suatu urusan yang boleh dilaksanakan.

"Heee. . .heeee. . .heee. . . Hu Cungcu bagaimana?" Kembali Tong Ling mengejek.

"Sejak kapan aku pernah mengingkari janji?" teriak Hu Toa Kan amat murka.

"Yaaa. . .yaaa. . . kalau kau suka melaksanakan hal ini amatlah bagus." "Kalau begitu kau tidak usah banyak bicara lagi!"

Tanpa banyak bicata ia putar badan dan langsung menuju keruangan tengah. Para hadirin lainnya pun dengan cepat mengikuti dari belakang tuan rumah berjalan masuk kedalam ruangan.

Kini ditengah kalangan tinggal Pek Thian Ki seorang diri yang berdiri mematung disana, melihat hal tersebut, Tong Ling segera berjalan mendekati sisinya.

"Eeeeei. . . kau kenapa?" tegurnya dingin.

"Tidak mengapa!" pemuda tersebut hanya menggelaeng sambil tertawa pahit.

"Lalu mengapa tadi kau orang menghela napas panjang?" "Oooouw. . . .tiii. . .tidak mengapa."

"Bagaimana? Kau kecewa?"

"Kecewa?" seru Pek Thian Ki kaget hatinya berdebar keras.

"Tidak salah, aku tahu kalau hatimu merasa amat kecewa, bukan begitu?"

"Apa yang perlu aku kecewakan?"

"Kau kecewa kenapa aku tidak dapat dikalahkan oleh Hu Cungcu!"

Dengan perasaan terperanjat Pek Thian Ki memandang sekejap kearah Tong Ling, agaknya ia merasa bergidik oleh ucapan yang diutarakan oleh gadis tersebut, karena ia tidak menyangka kalau pihak lawan bisa mengetahui jelas apa sebabnya ia menghela napas panjang.

"Pek-heng, aku tidak menyangka kalau watakmu busuk dan berpikiran sangat licik!" kembali Tong Ling memaki. "Apa yang kau katakan?"

"Heeee. . . .heeee. . . heeee. . .Pek-heng, walaupun persahabatan diantara kita tidak terlalu erat, tetapi aku sudah bantu kau orang membebaskan diri dari kesulitan, tahukah kau bahwa perytarunganku melawan Hu Toa Kan kali ini tidak lain hanya disebabkan karena dirimu?. . ."

"Aaaaa. . .aku. . . aku tahu!"

"Sebaliknya kau mengharapkan aku menderita kalah, sehingga terpaksa Kiang To harus aku seret keluar, Tahukah kau orang bahkan bilamana aku kalah, kecuali mati, maka tak mungkin bagiku untuk menemukan Kiang To. . ."

"Kau. . .kaupun tidak tahu dimana Kiang To berada?" "Tidak salah, sedang kau ternyata meng-harap2kan agar

aku bisa menderita kalah, bahkan kau. . ." Berbicara sampai

disini, ia tak dapat menahan diri lagi, sepasang matanya jadi merah, bahkan hampir2 saja membuat air mata jatuh berlinang, air mukanya jelas kelihatan amat murung.

Pek Thian Ki sendiripun merasa amat menyesal didalam hatinya atas perasaan yang sudah ia tunjukkan tadi.

"Terhadap dirimu, aku benar-benar merasa kecewa," kembali Tong Ling berseru dengan suara yang amat menyedihkan. "Aku Tong Ling tidak ingin bergaul dan bersatu dengan orang yang serakah dan terlalu mementingkan diri sendiri, baiklah kita berpisah saja sampai disini. . ." Habis berkata dengan langkah yang gontai    ia    hendak    berlalu     dari     tempat     itu. Melihat tindakan yang diambil gadis tersebut Pek Thian Ki jadi sedih bercampur menyesal. Dengan uring-uringan Tong Ling berhenti dan menoleh.

"Ada urusan apa?" "Ha. . . hara. . . harap kau jangan. . . jangan salah paham."

"Salah paham? Hmmm! Raba dulu hatimu sendiri, pernahkah aku orang menaruh rasa salah paham terhadap dirimu?"

"Heeei. . . kalau begitu katakan saja kau suka memaafkan kesalahanku!" seru Pek Thian Ki rada merengek.

Perkataan yang diucapkan oleh pemuda tersebut agaknya jauh berada diluar dugaan Tong Ling, ia rada tertegun dibuatnya.

"Aku bisa memaafkan dirimu," sahutnya kemudian sambil memandang diri pemuda itu setelah termenung sejenak," tapi bukan pada saat ini, aku harus baik2 berpikir keras. . ." Kembali ia putar badan dan melangkah pergi dari sana.

Dengan perasaan menyesal, gegetun dan sayang, Pek Thian Ki memandang bayangan punggungnya, Selama hidupnya belum pernah dia orang pernah menaruh rasa cinta pada seseorang. . . terutama seorang gadis semacam dia. . . .

Sewaktu Pek Thian Ki sedang berdiri termangu-mangu, tiba-tiba. . . .

"Pek-heng, tahan dirinya!" Serentetan suara yang lembut seperti suara nyamuk berkumandang masuk ketelinganya.

Mendengar perkataan tersebut, Pek Thian Ki jadi terperanjat, karena ia merasa suara tersebut rasanya pernah dikenal olehnya. Setelah lama sekali berpikir, akhirnya ia berhasil menemukan kalau suara tersebut kiranya berasal dari sang pemuda miterius Cu Tong Hoa. Sekali lagi Pek Thian Ki merasakan hatinya berdesir. Cu Tong Hoa minta dia orang mencegah jalan pergi dari Tong Ling, tapi apa alasannya? Agaknya dibalik segala persoalan ini masih tersembunyi suatu rahasia yang tidak gampang.

Cukup meninjau dari adal usul Cu Tong Hoa sudah amat mencurigakan pertama, dia adalah Tong-cu urusan bagian luar dari kaum pengemis didaerah luar perbatasan. Kedua, dia adalah Pangcu dari perkumpulan Pek Hoa Pang. Dan yang ketiga, dia adalah majikan dari Istana Harta. Lalu diantara ketiga buah kedudukannya ini, mana yang benar2 merupakan jabatannya?

Selagi Pek Thian Ki dibuat tertegun Cu Tong Hoa dengan menggunakan ilmu untuk menyampaikan suara, kembali mengirim berita; "Eeeei. . . kenapa kau masih ter- mangu2? Kenapa tidak cepat-cepat cegat jalan perginya?"

Kontan Pek Thian Ki merasakan hatinya berdesir. Mendadak. . . agaknya ia memahami sesuatu, Apakah mungkin Cu Tong Hoa sudah menaruh curiga kalau Tong Ling adalah hasil panyaruan dari Kiang To?

Teringat akan diri Kiang To, sang pemuda tersebut kembali merinding sehingga bul kuduknya pada berdiri semua. Urusan ini tak bisa dikatakan tiada kemungkinan2nya, Tong Ling adalah seorang gadis yang menyaru sebagai kaum pria tak dapat diketahui orang, sedang kepandaian silat yang ia milikpun sangat luar biasa dahsyatnya, tidak dapat disalahkan kalau ia menaruh curiga kalau Tong Ling adalah Kiang To. Teringat akan hal tersebut, tak terasa lagi Pek Thian Ki berguman;

"Ehmmm.      sedikitpun tidak salah, kemungkinan besar

dia adalah penyamaran dari Kiang To. . ." Teringat akan persoalan itu, tubuhnya dengan cepat berkelebat dan melakukan pengejaran kearah depan. "Tong-te!" teriaknya keras.

Tong Ling yang melihat jalan perginya secara mendadak dihadang oleh pemuda tersebut, alisnya segera dikerutkan. "Kau hendak berbuat apa?"

"Tong-te!" seru Pek Thian Ki sambil tertawa pahit, "Sekalipun aku sudah berbuat salah, seharusnya kaupun jangan marah seperti macam begini."

"Kapan aku memperlihatkan rasa marahku dihadapanmu?"

"Lalu mengapa kau tidak suka ikut bersama-sama diriku!"

"Tidak! Aku tidak ingin bersama-sama dirimu." "Mengapa? Apa salahnya kalau kita berkumpul jadi satu

sebagai kawan?"

"Aku tahu siapakah dirimu!"

"Kau tahu siapakah aku? Coba kau sebut siapakah diriku?"

"Kiang To!"

"Apa?" saking kagetnya Pek Thian Ki berteriak tertahan, tubuhnya tanpa terasa sudah mundur beberapa langkah kebelakang. "Kau mengatakan aku adalah Kiang To?"

"Sedikitpun tidak salah."

Mendadak Pek Thian Ki tertawa tergelak, ia baru menyadari kalau Tong Ling bukanlah seorang manusia yang gampang, Ada kemungkinan besar bila gadis tersebut sudah merasa bila dirinya telah menaruh curiga, bahwa sigadis adalah Kiang To, oleh karena itu sengaja mengucapkan kata2 tersebut. "Apa yang kau tertawakan?" terdengar gadis itu mendadak menegur sambil memperhatikan senyuman Pek Thian Ki tajam-tajam.

"Bagaimana kau bisa mengetahui kalau aku adalah Kiang To," balik tanya Pek Thian Ki dengan wajah keren.

"Kecuali kau, rasanya dikolong langit pada saat ini tak ada manusia lain yang memiliki watak sebuas seganas dan sekejam dirinya,"

"Heeeei. . . ." Perlahan-lahan Pek Thian Ki menghela napas panjang dan tertawa pahit, "Haruslah kau ketahui, aku bukan menghela napas panjang karena persoalan ini, tapi aku menghela napas karena ada suatu persoalan lain yang mengganjel hatiku."

"Urusan apa?"

"Karena kau adalah seorang gadis, Ternyata dapat memiliki kepandaian ilmu silat yang demikian tingginya, oleh sebab itu aku menghela napas panjang saking kagumnya,"

"Hmmm! Aku tahu apa yang kau ucapkan ini sebenarnya sama sekali berlainan dengan apa yang kau pikirkan dalam hatimu tadi."

"Kalau memang kau berpikiran demikian, akupun tak dapat berbuat apa-apa lagi, mau percaya atau tidak terserah pada pendapatmu sendiri."

"Sebetulnya kaulah satu2nya orang yang paling aku percaya, tetapi sekarang. . . . aku tak dapat mempercayai dirimu lagi, ayoh cepat minggir, kalau tidak, aku tak akan perduli siapakah dirimu dan akan bertindak tegas terhadap kau orang." Berbicara sampai disitu, suatu hawa napsu membunuh tampak melintas diatas wajahnya. Pek Thian Ki kontan merasakan hatinya bergidik, alisnya dikerutkan sedang matanya terbelalak lebar-lebar.

Setelah lewat beberapa saat lamanya, mendadak pemuda itu tertawa dingin bahkan tawa tersebut begitu misterius mengandung maksud pandang rendah pihak lawannya.

"Apa yang sedang kau tertawakan?" tegur Tong Ling agak melengak.

"Aku kini tahu siapakah dirimu!" "Siapa?"

"Kiang To!"

"Apa?" Tak terasa lagi Tong Ling berseru tertahan. "Kau mengatakan aku adalah Kiang To?"

"Benar! Kau adalah Kiang To." "Ngaco belo. . ."

"Aku bukan sedang ngaco belo, tapi nyata.

"Hmmm! Kau bisa mengatakan begitu, tentu punya alasan yang kuat bukan? Coba katakan apa alasanmu."

"Alasannya amat jelas sekali, kau adalah Kiang To, karena orang lain tidak mengenal wajahmu maka kau lantas ikut aku datang kemari. "

"Hmmm! Siapa yang sedang ikut dirimu? Apa kau kira aku tak dapat datang kemari seorang diri?"

"Sudah tentu dapat, hanya saja dikarenakan kau tidak ingin berada dalam keadaan seorang diri untuk waktu yang panjang, maka kau mencari seorang kawan untuk diajak melakukan perjalanan bersama-sama, dan kini kau hendak melaksanakan rencanamu itu, maka menggunakan kesempatan ini kau lantas ingin berlalu dan meninggalkan diriku. "

"Kau. . . kau.    kau ngaco belo!"

"Biarpun kau anggap aku sedang ngaco belo, tapi aku merasa urusan ini seratus persen ada kemungkinan benar."

"Saking khekinya air muka Tong Ling berubah hebat. "Jadi kau hendak menghasut aku, sehingga hatiku menjadi panas?" teriaknya keras.

"Anggap saja tuduhanmu itu benar."

"Baiklah, aku akan membuktikan dihadapanmu bahwa aku bukanlah Kiang To seperti yang kau tuduhkan."

"Jadi kau suka tetap tinggal disini?" "Sedikitpun tidak salah."

Baru saja Tong Ling selesai berbicara, mendadak dari belakang punggung mereka berkumandang suara teguran dari seseorang;

"Kongcu berdua, Cung-cu kami mengundang kalian!"

Dengan pandangan dingin Tong Ling melirik sekejap kearah pelayan tersebut, akhirnya ia menoleh kearah pemuda tersebut.

"Mari kita masuk kedalam!" ajaknya.

Tidak menunggu jawaban dari pemuda itu lagi, ia sudah melangkah terlebih dahulu untuk masuk kedalam ruangan pesta dengan langkah lebar.

Pek Thian Ki sedikit mengerutkan alisnya, kemudian sambil tertawa paksa dia mengikuti dari dari belakang Tong Ling berjalan masuk kedalam ruangan besar. Teka-teki yang menyelubungi Kiang To tetap tak berhasil dipecahkan. Dan diantara berpuluh-puluh jago lihay angkatan muda yang hadir didalam ruangan tersebut, mulai pada saling menebak dan saling menerka satu sama lainnya.