Misteri Rumah Berdarah Jilid 05

Jilid 05

Bab 13 Murid jagoan Pedang Penakluk Naga

SANG pemuda yang menggembol pedang ini pernah munculkan dirinya didalam Istana Harta. Seratus persen kedatangannya kedalam Istana Arak pasti disebabkan arak “Giok Hoa Lok” tersebut.

Kini sudah jelaslah terbukti kalau pemuda menggembol pedang itu ada maksud untuk menyewa rumah aneh tersebut, hanya saja ia belum berhasil mengetahui asal-usul serta keadan yang sebenarnya dari pihak lawan, serta mengapakah ia melakukan tindak tanduk yang demikian rahasianya ?”

Sewaktu Pek Thian Kie sedang berpikir keras didalam hatinya, dara berbaju hijau itu sudah bertanya kepada sang pemuda menggembol pedang :

“Saudara ingin minum arak yang macam apa ?”

“Aku dengar didalam istana kalian terdapat semacam arak terkenal yang luar biasa wanginya ?”

“Bukan kami mengibul, arak yang terdapat dalam Istana kami kendati dari tingkatan terendah pun jauh lebih keras dari arak tingkatan teratas yang ada dijual dalam kota,” ujar dara berbaju hijau itu sambil tertawa. “Soal ini aku sih tahu, apakah ada arak yang bernama Giok Hoa Lok ….?”

“Arak Giok Hoa Lok?”

Dara berbaju hijau itu tak dapat menahan rasa kejut dalam hatinya sehingga ia berseru tertahan.

Pek Thian Kie sendiripun terperanjat, Aaaaakh ….! Sedikitpun tidak salah, kedatangan pemuda menggembol pedang ini tidak lain dikarenakan arak “Giok Hoa Lok”.

“Tidak salah ! Arak Giok Hoa Lok.” Terdengar sang pemuda menggembol pedang itu sedang menyahut.

“Tapi arak golongan ini tidak diperuntukkan buat orang- orang bu-lim !”

“Aku tahu dan aku ingin arak macam itu !” Dara berbaju hijau tersebut lantas tersenyum.

“Ada dua macam orang saja yang bisa minum araj ini,” katanya

“Siapa saja! Coba nona terangkan!” “Orang perempuan dan anak-anak!”

“Kalau begitu aku tak bisa minum arak itu?”

“Benar, bahkan walaupun arak ini hanya diperuntukan buat kaum gadis dan anak-anak, ada syarat-syaratnya pula. Pertama dengan tenaga Iweekang yang paling tinggi, tumpahkan dulu arak dalam cawan keatas meja, setelah itu menghisap kembali, sehingga masuk kedalam botol.”

Lama sekali pemuda menggembol pedang itu berdiam diri tidak berkata, sesaat kemudian dengan suara yang rendah bisiknya : “Sedikit benda ini aku berikan buat nona untuk beli bedak dan gincu, harap kau sudah sedikit memahami kesulitanku !”

Pek Thian kie miringkan matanya melirik, tampaklah benda yang diberikan pemuda menggembol pedang tersebut kepada dara berbaju hijau itu bukan emas, melainkan sebutir permata warna hijau yang memancarkan cahaya tajam.

Setelah diberi sebutir permata sedemikian indahnya, sikap dari dara berbaju hijaupun berubah, terdengar ia tertawa merdu.

“Kalau begitu, akan kucarikan akal buat dirimu,” sahutnya.

Habis berkata dengan langkah yang lemah gemulai, ia berlalu dari sana.

Pek Thian Kie kerutkan alisnya, dalam hati ia berpikir keras untuk mencari sebuah akal yang bagus …………

Waktu itulah, dara berbaju hijau itu sudah kembali lagi, kepada sang pemuda uajarnya :

“Bilamana saudara ingin minum arak kelompok teratas tidak sukar, asalkan kau suka perlihatkan sedikit kepandaian agar aku bisa menilai apakah kau berhak untuk minum arak kelompok teratas ini atau tidak.”

“Ooooou      soal itu tidak sulit !”

Sembari berkata Pek Thian Kie mengerakan tangan kanannya menggapai kedepan, cawan arak yang berada di tangan seorang lelaki bercambang dihadapannya tahu-tahu sudah melayang kearah pemuda tersebut.

Melihat cawan arak yang berada ditangannya mendadak melayang sendiri ketengah udara, lelaki bercambang itu jadi terperanjat sekali, sepasang matanya terbelalak besar bagaikan genta.

Ketika cawan arak itu melayang tiga depa dihadapan Pek Thian Kie, kembali pemuda tersebut menggerakkan tangan kanannya kebelakang, cawan arak yang semula sudah melayang jauh kemuka saat ini melayang kembali keatas tangan lelaki bercambang tersebut !

Demontrasi ini kecuali si dara berbaju hijau serta wanita setengah baya yang bertindak sebagai Ciang-kwee, orang lain tak ada yang melihat dengan jelas apa yang telah terjadi.

Melihat kedasyatan dari pemuda tersebut, dara berbaju hijau itu jadi terperanjat alang-kepalang.

“Heeeee……….heeeee…………heeeee…… berdasarkan kepandaianku ini entah dapatkah minum arak kelompok teratas ?” seru Pek Thian Kie dingin.

“Boleh, boleh, akan kuambilkan sebotol arak !” Terburu-buru ia berlalu dari sana.

Waktu itu sang dara berbaju hijau yang melayani pemuda menggembol pedang itupun sudah berjalan balik, ditangannya mencekal sebuah baki kayu yang berisikan sebotol arak serta sebuah cawan.

Dan pada sat yang bersamaan. Dara berbaju hijau yang melayani Pek Thian Kie pun sudah membawa arak datang mendekat.

“Arak ini adalah “Hoa Siang Ciu” coba saudara rasakan dulu,” kata dara berbaju hijau itu.

Habis berkata, ia lantas berlalu. “Kurang ajar ….. maknya ….. ini hari aku sudah bertemu dengan setan …………” Gumam si lelaki bercambang dihadapannya secara mendadak.

Walaupun ia bergumam sendir, tapi sampai detik ini masih belum juga ia ketahui peristiwa apa yang sudah terjadi.

“Saudara ! Inilah arak Giok Hoa Lok …..” Dara berbaju hijau yang berada dibelakang tubuhnya bekata

“Terima kasih ………. Terima kasih ”

Sesaat dara berbaju hijau itu selesai berbicara, lalu Pek Thian Kie mengambil cawan yang ada di meja dan disambitkan kearah lelaki bercambang tersebut.

Sang lelaki bercambang yang baru saja angkat cawan hendak minum, mendadak terasa angina dingin menyambar lewat disusul dengan pecahnya cawan tersebut jadi berkeping-keping, hatinya jadi sangat terperanjat.

Tidak ampun lagi seluruh wajah serta tubuhnya basay kuyup oleh arak yang muncrat keempat penjuru itu.

Dengan penuh kegusaran matanya segera menyapu kesekeliling, dengan suara yang keras dan kata-kata yang kasar, makinya kalang kabut.

“Maknya ……. Bajingan dari mana yang berani bergurau dengan aku si orang tua ? Kurang ajar …… kurang ajar ……. Telur busuk maknya ”

Suara makian tersebut keras, sehingga menggetarkan seluruh atap, perhatian semua orang yang hadir dalam ruangan itupun tak terasa pada terpikat semua kearahnya. Berpuluh-puluh pasang sinar mata dengan memancarkan perasan keheranan pada melototi lelaki bercambang tersebut. “Hey bajingan, siapa yang berani main-main dengan diriku, maknya ! Ayo cepat berdiri  !”

Belum habis ia berkata, guci arak yang berada didepan wajahnya mendadak mencelat ketengah udara dan langsung menyambar masuk kedalam mulutnya.

“Pluuuuuuuk ………. !” Tidak ampun lagi, seluruh mulutnya sudah penuh tersumbat oleh guci arak tersebut, sehingga ia tak bisa bicara lagi. Akhirnya setelah bersusah payah sebentar, tercabut juga guci itu dari dalam mulutnya.

Tetapi, dengan kejadian ini, diapun tidak berani memaki lagi.

Seluruh orang yng hadir dalam ruangan itu setelah melihat kejadian ini ikut merasa terperanjat, air muka mereka pada berubah hebat.

Diantara mereka semua hanya Pek Thian Kie seorang yang tetap duduk tenang, waktu ia sedang angkat cawan hendak meneguk …… mendadak terdengar pemuda yang menggembol pedang itu berteriak kaget.

“Aaaaakh …………… aaaa ………. Arak arak-

ku ?”

Sedikitpun tidak salah ! Arak berharga “Giok Hoa Lok” yang ada diatas baki pada sat itu sudah lenyap tak berbekas hanya tinggal sebuah cawan saja.

Yang jelas sebotol arak “Giok Hoa Lok” pada saat ini sudah berada didalam saku Pek Thian Kie.

Kiranya dengan menggunakan kesempatan sewaktu seluruh jago yang ada dalam ruangan tersebut mengalihkan perhatian kearah sang leleki bercambang yang sedang berteriak-teriak keras itu, Pek Thian Kie dengan diam-diam menggunakan Ilmu Menghisap “Lie Gong Si Wu” telah menyedot Arak “Giok Hoa Lok” dari pemuda yang menggembol pedang itu dan disembunyikan kedalam sakunya.

Gerakannya ini bukan saja terlalu depat, bahkan tepat dan hebat.

“Aaaaakh ………. Dimana arakku ?” kembali pemuda menggembol pedang itu berteriak kaget.

Pek Thian Kie tertawa tawa ! Tapi ia tetap tidak ambil pkomentar.

Karena teriakan yang penuh diliputi perasaan cemas, kembali sinar mata seluruh jago dialihkan ketas wajah pemuda yang menggembol pedang itu.

Sinar mata Cong-koan dari Istana Arak nenek

setengah baya itu beserta sinar mata dari dara berbaju hijau itu dengan perasaan tegang, lantas dialihkan kearah cawan arak ditangan Pek Thian Kie.

Pada waktu itu Pek Thian Kie sedang angkat cawannya siap menengak habis isi araknya.

Sekonyong-konyong ……….

Serentetan cahaya putih laksana sambaran petir menymbar kearah pangkuannya, dengan diiringi sambaran angina tajam, sebuah benda sudah terjatuh kedalam cawan ditangannya.

Dan benda tersebut bukan lain adalah segumpal kertas !

Pek Thian Kie benar=benar dibuat tertegun juga oleh kejadian ini.

Jika ditinjau dari kecepatan gerak dari orang tersebut, jelas sekali kalau ia memiliki kepandaian silat yang luar biasa dasyatnya, hanya saja sang pemuda tersebut tidak mengerti siapakah diantar orang-orang tersebut tidak mengerti siapakah orang-orang yang hadir isana yang memilki kepandaian setinggi itu.

Air muka Pek Thian Kie mendadak berubah hebat, sinar matanya berapi-api dan mulutnya tergigit kencang. Terlihatlah diatas kertas tersebut vertuliskan kata-kata :

“Arak pemabok, jangan diminum. Aku nasehati dirimu lebih baik jangan mengganggu rumah sewaan tersebut. Kalau tidak ……….. Hmmmm ! sampai waktunya kau salahkan aku orang akan mengambil tindakan telengas

………..”

Selesai membaca surat tersebut, kembali Pek Thian Kie merasakan hatinya bergidik, karena manusia yang paling menakutkan pada saat ini, Kiang To telah memperingatkan dirinya untuk kedua kalinya.

Tapi sebentar kemudian pemuda tersebut tersenyum kembali, karena semakin pihak lawan melarang ia berbuat demikian, semakin sengaja ia akan ikut campur dan menyewa rumah misterius tersebut. Karena dengan wataknya yang keras kepala, ia tidak ingin tunduk dibawah perkataan oran lain.

Pek Thian Kie melirik sekejap keatas cawan arak ditangannya kemudian tertawa dingin tidak hentinya.

“Arakmu hilang ?”

“Benar …… ! Sudah Hilang ……” “Aaaaaakh …… ! Tidak mungkin ?”

“Suuuuu ……. Suuuuuuung sungguh !”

Saking cemasnya pemuda menggembol pedang itu jadi kalang kabut sendiri sehingga seperti semut diatas kuali panas, keringat sebesar kacaang kedelei mengucur keluar tiada hentinya, sedang sinar matanya perlahan-lahan berhenti diatas wajah Pek Thian Kie kurang lebih lima depa dihadapannya.

Dan ketika itu Pek Thian Kie sedang memikirkan perlan lain yang memberatkan pikirannya.

Pemuda penggembol pedang yang melihat keadaan Pek Thian Kie sangat mencurigakan, mendadak ia bangun berdiri dan langsung mendekati diri Pek Thian Kie.

“Maaf kawan, cayhe sedikit mengganggu,” tegurnya setibanya disisi Pek Thian Kie.

Perlahan-lahan Pek Thian Kie menoleh dan memandang pemuda tersebut sambil tersenyum.

Begitu melihat siapakah orang yang berada disana, kontan muka pemuda menggembol pedang itu berubah hebat, tanpa terasa ia sduah mundur satu langkah kebelakang.

“Aaaaaakh …. ! Kiranya kau ?” teriaknya tak tertahan. “Sedikitpun tidak salah, memang betul cayhe !” Pek

Thian kie tersenyum dan mengangguk.

“Heeeee……….heeeee…………heeeee…… tidak kusangka kita bakal berjumpa lagi disini !”

Maksud dari perkataannya ini, mengapa kau selalu menguntit diriku, hingga samapi disini.

“Tidak salah !” Pek Thian Kie tertawa “Akupun sudah sampai disini ! Haaaa …….. haaaaaa Haaaaa

…………”

Dengan pandangan yang tajam, pemuda tersebut menyapu sekejap pada wajah Pek Thian Kie, mendadak ia melihat kalau disaku pemuda tersebut tersendul keluar sebuah benda yang kelihatan sangat jelas mirip sebuah guci arak. Hatinya jadi teramat gusar. Saudara ! Manusia budiman tak akan melakukan pekerjaan gelap. Cepat kembalikan guci arakku!” Teriak pemuda menggembol pedang itu dingin.

“Arak ? Arak Apa ?” seru Pek Thian Kie pura-pura melengak.

“Hmm ! Kau jangan berlagak pilon lagi, cepat keluarkan guci arakku yang kau sembunyikan dalam saku.”

“Arak apa toh yang sudah hilang ?” “Arak Giok Hoa Lok !”

“Apa ? Giok Hoa Lok ?

“Tidaka salah ! Ayoh. Cepat bawa kemari. Hmmmm ! Kalau tidak, jangan salahkan aku bila bertindak tidak sungkan lagi.”

“Tidak benar ……… tidak benar …… tidak mungkin benar ….” Gumam Pek Thian Kie menggeleng.

“Apanya yang tidak benar, bangsat ! Cepat serahkan arak tersebut kepadaku.”

“Didalam Istana Arak ini tidak ada arak semacam ini ! dari mana aku bisa mengambil arak Giok Hoa Lok mu itu

?”

“Bangsat !” Kau tidak usah banyak bacot lagi, ayo cepat serahkan guci ark tersebut. Hmmmm ! Kalau tidak, aku akan segera turun tangan !”

Diatas wajahnyapun terlintaslah suatu hawa nafsu membunuh yang mendesak wajah Pek Thian Kie dalam- dalam, agaknya ia sudah ada maksud untuk turun tangan.

“Dalam Istana Arak ini betul-betul ada arak semacam ini

! Kembali Pek Thian Kie berteriak. Baru saja Pek Thian Kie selesai berkata, pemuda tersebut sudah membentak keras. Telapak tangannya laksana sambaran kilat menyapu tubuh Pek Thian Kie keras-keras.

Dengan sebat Pek Thian Kie angkat tangan kanannya pula menangkis.

“Tunggu sebentar !” bentaknya keras.

“Hmmm ! Apa kau sudah berubah pikiran dan hendak mengembalikan arak ku yang sudah kau curi ?”

“Saudara, apakah kau melihat dengan mata kepalamu sendiri, kalau arakmu itu aku yang curi ?”

“………………….Seketika itu juga pemuda tersebut dibikin bungkam seribu bahasa oleh perkataan Pek Thian Kie tersebut.

Pada saat itulah dara berbaju hijau tersebut tersenyum sudah berjalan mendekat, tegurnya dengan suara yang merdu.

“Eeeeei ….. kalian berdua ada urusan apa >” Pek Thian Kie tertawa.

“Nona ! Tolong Tanya didalam Istana kalian apakah ada semacam arak yang bernama Giok Hoa Lok ?”

Muka dara berbaju hijau itu kontan saja berubah hebat, lama …… lama sekali, ia baru menjawab :

“Ada ….!”

“Tadi aku sudah tanyakan soal ini kepada nona itu sambil menunjuk nona yang dibelakangnya, dan mengapa ia bilang tidak ada ?”

“Ka …… karena ………… karena arak ini haaaaa

…..hanya diperuntukan buat kaum wanita dan ……. Dan bocah cilik !” “Oooouw ….. jadi kau sudah memberi arak “Giok Hoa Lok” untuk saudara ini minum ?”

Walaupun tidak secara langsung, namun pertanyaan ini bermaksud menyindir pemuda menggembol pedang itu.

Dara berbaju hijau itu rada tertegu, sebentar, tetapi kemudian ia sudah tertawa tawar.

“Saudara suka bergurau…..”

“Tidak …… ! Cayhe tidak sedang bergurau. Aku bersungguh-sungguh. Ada orang menuduh aku mencuri sebotol arak “Giok Hoa Lok –nya , bukankah hal ini sangat lucu ?’

Perkataan dari Pek Yhian Kie ini diucapkan dengan suara yang keras, sehingga hampir semua orang dapat mendengar perkataan tersebut dengan amat jelas.

Tidak terasa lagi, kembali sinar mata semua orang ditujukan kepada wajah Pek Thian Kie.

Sedangkan pemuda ini sendiri dengan sinar mata yang tajam melototi dara berbaju hijau itu tanpa berkedip, ia menantikan jawabannya.

Dara berbaju hijau itu bagaikan orang bisu kena getah, ada kesulitan sukar untuk diutarakan keluar. Lama … lama sekali ia baru berkata :

“Dia menuduh kau sudah mencuri arak Giok Hoa Lok- nya ?”

“Benar ! maka dari itu akuingin bertanya kepadamu. Dia bukannya seorang perempuan atau bukan pula seorang bocah seharusnya kau tak mungkin memberi arak “Giok Hoa Lok” kepadanya bukan ?” Baru sajja perkatan tersebut meluncur keluar, keempat penjuru sudah dipenuhi dengan gelak tertawa yang riuh rendah.

Air muka pemuda menggembol pedang itu berubah merah jengah, ia benar-benar kena dipermainkan Pek Thian Kie sehingga tanpa bisa memberikan serangan balasan.

“Sudah tentu ….. sudah tentu dia orang tiiii ….tidak mungkin minum arak Giok Hoa Lok……” sahut dara berbaju hijau itu kemudian.

Agaknya pemuda menggembol pedang itu tak dapat menahan rasa gusar dihatinya lagi, belum habis dara berbaju hijau itu menyelesaikan kata-katanya, ia sudah mengembor keras.

“Bangsat Cilik ! Hitung-hirung kau lebih pintar, tapi tunggu saja pada suatu hari pasti akan ku balas sakit hati ini.”

Buru-buru ia putar badan dan berlalu.

Dengan kepergian pemuda menggembol pedang ini, maka suasana didalam kalangan pun kembali berubah jadi tenang dan hening.

Dengan gemas dara berbaju hijau itu melototi sekejap kearah Pek Thian Kie, kemudian putar badan dan berjalan ke meja sang Ciang-kwee.

Dengan tangan kanan mencekal guci arak dan tangan kiri mencekal cawan arak mendadak Pek Thian Kie bangun berdiri.

Melihat tindakan pemuda tersebut, dengan perasaan terperanjat dan penuh waspada, wanita setengah baya serta dara berbaju hijau itu melototi diri Pek Thian Kie tajam- tajam. Bab 14 Kemurkaan Pek Thian Kie

SETELAH RADA merandek sejenak, pemuda itu langsung berjalan kearah dara berbaju hijau itu.

Air muka gadis tersebut kontan saja berubah pucat pasi, kakinya tanpa terasa sudah mundur satu langkah kebelakang.

“Nona ! Siapakah namamu ?” tegur Pek Thian Kie sembari berhenti kurang lebih satudepa dihadapannya.

“Aku bernama A Ing.” Sahut dara berbaju hijau itu rada melengak.

“Ooooouw ……… ! Nona A Ing, berapa usiamu tahun ini ?”

“Aku …… delapan belas apa maksudmu bertanya

soal ini ?”

Diatas wajah Pek Thian Kie terlintaslah satu senyuman yang misterius, sedang cawan araknya diangkat keatas, kemudian tertawa.

“Nona ! Sudah berapa lama kau berada didalam Istana Arak ini ?”

“Lima Tahun !”

“Oooooouw ……… sudah lima tahun berada disini, Waaaaah ….. kalau begitu nona sudah tentu sangat ahli didalam soal arak. Nona A Ing yang baik ! Mari, aku hormati satu cawan arak uat dirimu.”

“Aku ….!”

Kontan A Ing mundur dua langkah kebelakang, air mukanya kelihatan sangat ketakutan sehingga berubah jadi pucat pasi bagaikan mayat. “Benar, kau kenapa ?” seru Pek Thian Kie tersenyum. “Aku ……. Aku tidak terbiasa minum arak !”

“Tidak terbiasa minum arak ?”

“Aaaaakh …….! Masa ? Tidak mungkin !”

“Sungguh ……. Aku …….. aku tidak terbiasa minum

…”

“Tidak mengapa ……tidak mengapa, Cuma minum secaan arak, tak bakal bisa mabok.”

“Tidak ……… tidak ……….. tidak ”

Dengan penuh ketakutan, A Ing mundur terus kebelakang, ia tetap berusaha untuk menghindarkan diri dari desakan pemuda tersebut.

“Heeeee……….heeeee…………heeeee…… nona A Ing, aku lihat lebih baik kau minum saja samapai habis,” dengus sang pemuda ketus.

“Tidak ! Aku tida terbiasa minum arak       “

Bagaikan sambaran kilat, Pek Thian Kie meloncat maju kedepan, bentaknya dingin :

“Ayo, cepat minum ! Jika kau tidak mau minum sendiri, maka aku terpaksa akan menggunakan caraku untuk pekasa kau menghabiskan arak ini.”

Selintas hawa nafsu membunuh berkelebat diatas wajah Pek Thian Kie, hal ini membuat A Ing nyiut nyalinya. Jikalau ia tidak mau menghabiskan arak tersebut, maka urusan dengan gampang akan terbentang dihadapannya dan kemungkinan besar, Pek Thian Kie segera akan turun tangan membinasakan dirinya.

Akhirnya ia terima juga cawan arak itu, seluruh tubuhnya gemetar amat keras sedang air mukapun berubah jadi pucat pasi bagaikan mayat. Nyalinya benar-benar sudah dipukul pecah.

“Haaaaaa   …………….    Haaaaaaaaaaa    …………….

Haaaaaaaaaaa ……… bagus, bagus sekali. Ayoh, cepat habiskan.” Seru Pek Thian Kie sambil tertawa seram.

Ditengah suara tertawa yang tidak sedap didengar, secara samara-samar terlintaslah nafsu untuk membunuh.

Sambil menggertak gigi kencang-kencang, akhirnya A Ing meneguk habis isi dari cawan tersebut.

Dari tangannya Pk Thian Kie terima kembali cawan tersebut, lalu tertawa dingin tidak hentinya.

“Terima kasih atas kerelaaan nona untuk kasih muka kepadaku,” serunya mengejek.

Baru saja perkataan Pek Thian Kie selesai diucapkan, tampaklah tubuh A Ing sempoyongan keras, lalu roboh ketas tanah dengan menimbulkan suara yang amat keras.

Melihat kejadian itu, seluruh jago yang hadir di ruangan tersebut jadi gempar, suasana berubah sangat ramai.

Hawa nafsu membunuh yang melintasi diatas wajah Pek Thian Kie semakin menebal, ia meloncat maju kedepan mendekati Ciang-Kwee kemudian mendengus dingin.

Air muka wanita setengah baya itu kontan berubah hebat, tak terasa ia sudah mundur satu langkah kebelakang.

“Kau cong-koan dari IStana Arak ?” jengek Pek Thian Kie sambil melototi sekejap wanita setengah baya itu dan tertawa dingin.

“Sedikitpun tidak salah !” “Aku sudah menghormati secawan arak untuk anak muridmu dan sekarang mari ! Akupun ingin menghormati secawan arak pula kepadamu !”

Sembari berkata, ia memenuhi kembali cawan araknya dan diletakkan diatas meja, sinar matanya dengan tajam terus melototi wanita setengah baya itu tanpa berkedip.

Hal ini sudah tentu membuat perempuan tersebut jadi merinding dan merasakan hatinya berdebar-debar.

“Ayo cepat minum !” bentak Pek Thian Kie dingin. “Jika aku tidak mau minum ?”

“Aku punya cara untuk paksa kau minum arak tersebut, bahkan gentong-gentong arak yang berada dibelakangpun terpaksa akan hancur berantakan oleh satu pukulanku.”

Tanpa banyak cakap lagi wanita setengah baya tersebut angkat cawan yang diangsurkan oleh Pek Thian Kie itu dan siap hendak ditempelkan dekat bibir.

Mendadak …….

Terdengar wanita setengah baya itu membentak keras, cawan ditangannya lasana sambaran kilat meluncur kearah Pek Thian Kie. Gerakan serangan tersebut datangnya samat cepat lagi aneh, bahkan tenaga pukulannyapun sangat luar biasa.

“Kau berani …….! Bentak Pek Thian Kie keras.

Telapak tangannya diangkat, serangan dasyat segera menyambar keluar menghantam wanita setengah baya itu.

Dibawah serangan sang pemuda yang amat dasyat, wanita tersebut laksana sambaran kilat telah mencelat ketengah udara kemudian menubruk kearah Pek Thian Kie, seranagannya bukan alang-kepalang. Gerakan yang sebat dan lincah ditambah pula dengan kedasyatan angina pukulan, bagaikan ambruknya gunung thay-san. Tubuh Pek Thian Kie tak dapat bertahan lagi terdesak mundur dua langkag kebelakang.

Waktu itulah serangan ketiga dari wanita setengah baya itu kembali sudah meluncur datang.

“Kau cari mati ………” bentak Pek Thian Kie dingin.

Tubuhnya berputar kemudian menerjang kedepan, iapun balas mengirim satu pukulan dasyat kemuka.

Serangan dari Pek Thian Kie kali ini sudah menggunakan hampir seluruh tenaga yang dimilikinya, bagaikan ambruknya gunung dan tumpahnya air ditengah samudera diiringi suara bentrokan dengan keras lawan keras, wanita setengah baya itu menerima datangnya serangan tersebut.

Tubuhnya kontan terpukul mundur sejauh sepuluh langkah kebelakang.

Sedangka tubuh Pek Thian Kie mnecelat ketengah udara, jurus kedua kembali telah menyambar datang.

Bayangan manusia berpisah diiringi suara dengusan berat. Tampaklah badan wanita berusia setengah baya itu sudah berhasil diangkat oelh Pek Thian Kie ketengah udara.

Gerakan serangan yang baru saja dilancarkan ini, betul- betul amat cepat, sudah entu kejadian tersebut kontan saja memancing rasa terkejut dalam hati semua jago yang hadir didalam ruangan istana Arak tersebut.

“Hmmmmmm ! Kau juga ingin binasakan diriku ?” Masih terpaut sangat jauh !” Bentak Pek Thian Kie dengan wajah diliputi nafsu membunuh. “Aaa …… apa …… apa yang hendak kau lakukan !” seru wanita setengah baya tersebut dengan nada gemetar.

“Heeeee……….heeeee…………heeeee…… tidak apa- apa, aku Cuma ingin menanyakan satu persoalan saja kepadamu!”

“Urusan apa ?”

“Obat pemabok yang terdapat didalam arak ku ini, apakah hasil dari perbuatan kau orang ?”

“Tiiii ….tidak salah !”

“Mengapa ? Diantara kita bukankah tiada ikatan dendam sakit hati apapun? Kenapa kau hendak meracuni diriku ? Ayo cepat jawab …!”

“Karena …….. karena ……… karena kau adalah Kiang To !”

“Kalau aku betul Kiang To, apa yang akan kau lakukan ?

Dan apa pula hubungannya dengan dirimu ?”

“Kau tidak akan mendatangkan kebaikan buat Istana Arak kami ….. “ jawab wanita setengah baya itu ragu-ragu.

“Karena itu, kau lantas taruh obat pemabok didalam arak yang hendak aku minum ?”

Sedikitpun tidak salah !”

“Cuma sungguh saying …… aku bukan bernama Kiang To. Terus terang aku beritahu kepadamu, aku bernama Pek Thian Kie, sudah dengar belum ? Pek ….. Thian ….. Kie ! Dimana majikanmu ?”

“Majikan kami ? Dia tak ada disini.”

Suara tertawa sinis dari Pek Thian Kie segera berubah semakin menyeramkan, bahkan secara samara-samar terselip nafsu untuk membunuh. Dengan badan merinding dan bulu kuduk pada bangun berdiri, wanita setengah baya itu melototi wajah Pek Thian Kie yang penuh dengan senyuman sinis menyeramkan.

“Tahukah kau, apa yang hendak aku lakukan untuk menghadapi diri ?” Tanya pemuda itu tib-tiba sambil menarik kembali senyumannya.

“Kau ! ”

Pek Thian Kie tertawa dingin memotong perkatannya yang belum selesai itu.

“Istana kalian dengan diriku selama ini tiada ikatan sakit hati apapun, tetapi secara diam-diam kau sudah taruh obat pemabok kedalam cawan arakku. Bilama bukannya cayhe menemukan kejadian ini dengan cepat, heeeee……heeee………… bukankah selembar nyawaku bakal lenyap ditanganmu ?”

“Aku !      ”

“Kau boleh berlega hati, aku tidak ingin menolong diriku, juga tidak ingin membinasakan dirimu. Cuma aku ingin kau menjawab satu persoalan ini. Kejadian ini apakah diperintahkan langsung oleh Majikan Istana Arak ?”

“Dia ……… dia tiii ………tidak tidak tahu.”

“Hmmm ! Aku sudah tahu kalau diriku tak mungkin berhasil menemukan tempat persembunyiannya. Karena itu terpaksa aku harus memaksa dia untuk munculkan diri dengan sendirinya.”

Sembari berkata tangan kanan pemuda itu mendadak dibabatkan keatas lemari arak yang berderet-deret dihadapannya.

“Braaaaaak ……..” diiringi suara ledakan yang amat keras, angina pukulan Pek Thian Kie seberat ribuan kati ini dengan cepat menghajar diatas almari arak dibelakang meja Ciang-Kwee.

Almari ambruk kebawah, berpuluh-pluh guci besar arak wangi jatuh berantakan dan hancur lebur, arak berceceran memenuhi seluruh permukaan tanah memberikan bau sedap keempat penjuru.

Kembali Pek Thian Kie tertawa dingin tiada hentinya. “Aku sudah katakana, aku tak akan membinasakan

dirimu. Tolong kau sampaikan kepada majikanmu bahwa

seluruh arak tersebut, aku Pek Thian Kiel ah yang memusnahhkan, jika ia punya kepandaian carilah diriku untuk mencari balas.”

Habis berkata ia banting tubuh wanita setengah baya itu keatas tanah keras-keras, kemudian putar badan dan berlalu dari sana.

Melihat peristiwa ini, hampir boleh dikata sebagian besar jago-jago yang hadir didalam Istana Arak tersebut dibuat tertegun dan bergidik. Rata-rata tiada yang berani pentanag bacot cari gara-gara.

Dengan hati puas, akhirnya Pek Thian Kie berjalan keluar dari Istana Arak itu, tetapi belum jauh ia berlalu, mendadak tampaklah sesosok bayangan manusia menyambar datang dihadapannya.

Dengan perasaan terperanjat Pek Thian Kie dongakkan kepalanya menengok, tampaklah pemuda menggembol pedang itu dengan membawa hawa nafsu membunuh diatas wajahnya, perlahan-lahan mendesak mendekat, sinar matanya yang tidak berkedip melototi wajah pemuda lawannya tajam-tajam.

“Oooooouw ……. Aku kira siapa, tak tahunya kau !” sapa Pek Thian Kie kemudian sambil tertawa tawar. “Sedikitpun tidak salah, memang aku !”

“Entah apa maksud tujuan kedatangan saudara kemari

?”

“Heeeee……….heeeee…………heeeee…… saudara

betul-betul amat ganas ” Maki pemuda menggembol

pedang       itu       sambil       tertawa       dingin.       “Cuma

……heeeee……….heeeee…………heeeee…… jika kau adalah seorang yang cerdik, maka cepat-cepat kembalikan arak Giok Hoa Lok tersebut kepadaku.”

Sekalipun sang pemuda menggembol pedang itu tidak menyebut didalam hati Pek Thian Kie pun mengerti apa maksud kedatangannya.

Segera ia tertawa dingin, air mukanya berubah keren …. “Arak Giok Hoa Lok-mu ?

“Sedikitpun tidak salah, kau ambil arak tersebut dan sekarang kau tidak usah berlagak pilon lagi.”

Sekali lagi Pek Thian Kie tertawa dingin.

“Kau melihat dengan mata kepala sendiri kalau arak Giok Hoa LOk tersebut aku yang curi?”

“Sekalipun aku tidak melihat sendiri arak tersebut kau yang curi, tapi aku tahu perbuatan ini pasti hasil kerjamu.”

“Apa alasannya !”

“Hmmm ! Coba jawab, barang apa yang berada sakumu itu ?”

“Arak !” “Arak apa ?”

“Maaf ….. maaf …..! Soal ini aku tidak kepingin beritahukan padamu.” “Kau tidak ingin bicara?” “Benar!”

Air muka pemuda menggembol pedang itu berubah hebat, melintas nafsu membunuh berkelebat diatas wajahnya.

“Manusia she Pek,” bentaknya gusar. “Kau suka kembalikan arak Giok Hoa Lok ku tidak ?”

Pikiran Pek Thian Kie dengan cepat berputar, mendadak ia menyengir dingin.

“barang yang ada didalam sakuku memang sebotol arak Giok Hoa Lok, Cuma aku boleh berikan kepadamu asal kau suka memenuhi satu syaratku. Beritahukan kepadaku siapakah kau ?”

“Hmmm ! Soal ini tak akan kuberitahukan kepadamu.” “Kalau begitu, akupun tak dapat serahkan arak Giok

Hoa Lok tersebut kepada sauadara.”

“Kau paksa aku untuk turun tangan?” teriak pemuda menggembol pedang itu dingin.

“Jika kau punya kepercayan bisa menangkan diriku, boleh coba-cobalah turun tangan merebut !”

Baru saja perkataan Pek Thian Kie selesai diucapkan, pemuda menggembol pedang tersebut sudah membentak keras. Tubuhnya dengan cepat mendesak maju kedepan, tangannya laksana sambaran petir menghajar dada Pek Thian Kie sang pemuda tersebut.

Pemuda menggembol pedang yang berulang kali dipermainkan dan dicemoohkan oleh Pek Thian Kie, pada saat ini sudah tak dapat menahan sabarnya lagi, sehingga serangan yang baru saja dilancarkan ini sudah menggunakan hampir seluruh kekuatan yang dimilikinya selama ini. Kehebatannya luar biasa dan laksana ambruknya gunung thay-san dan bobolnya bendungan besar.

Tempo dulu karena penyakit sakit hati dari Pek Thian Kie kambuh, sehingga menyebabkan tenaga dalamnya punah dan tidak than terhadap satu serangannya saja, maka kali ini pemuda menggembol pedang tersebut sama sekali tidak memandang sebelah matapun terhadap Pek Thian Kie.

Ia mengangaap kepandaian silat yang dimiliki Pek Thian Kie bukan merupakan tandingannya.

Melihat pihak lawan melancarkan serangan dasyat. Pek Thian Kie tertawa dingin tiada hentinya, tubuhnya dengan cepat mencelat kearah belakang.

Sewaktu Pek Thian Kie sedang berkelebat lewat itulah, sang pemuda menggembol pedang dengan membawa suara bentakkan nyaring sekali lagi menubruk kearah muka, sehingga serangan keduanyapun menekan datang dengan amat santar.

“Hmmmm ! cari mati …”

Dengan cepat Pek Thian Kie putar badan kemudian langsung mengirim sebuah serangan balasan.

Didalam serangannya ini, Pek Thian Kie telah menggunakan enam bagian tenaga pukulannya, kedasyatan dari serangan tersebut hebat bagaikan tiupan angina taupan.

“Braaaaak ………!” Ditengah suara bentrokan yang amat keras, tubuh pemuda menggembol pedang itu kena terpental sejauh sepuluh kaki dengan sempoyongan. Sedang Pek Thian Kie sendiri tetap beridir tegak dtempat semula. “Siapa Kau ? Ayoh cepat katakana !” bentak Pek Thian Kie keras, selintas nafsu membunuh mulai berkelebat diatas wajahnya.

Denhan kejadian ini, air muka pemuda menggembol pedang itupun berubah hebat. Untuk beberapa sat lamanya ia berdiri mematung ditempat itu dan memandang kearah Pek Thian Kie dengan pandangan mendelong.

Agaknya ia sama sekali tidak menduga kalau kepandaian silt yang dimiliki Pek Thian Kie demikian dasyat.

“Kawan ! Cepat katakana siapakah namamu ? seru Pek Thian Kie sambil tertawa dingin.

“Soal ini kau tidak perlu tahu.”

“Apa maksudmu mencari arak Giok Hoa Lok ini ?” “Sioal ini pun kau tidak perlu tahu.” “Heeeee……….heeeee…………heeeee…… kawan !

Tadi kau minta uang seribu tahil emas di Istana Harta, kemudian ditambah lagi dengan sebotol Arak “Giok Hoa Lok” aku terka setelah ini kau pasti hendak mencari gadis cantik di dalam Istana Perempuan bukan ?”

“bagaimana kau bisa tahu ?” pemuda menggembol pedang itu tersentak kaget, air mukanya pun pucat pasi.

Pek Thian Kie yang mendengar jawaban tersebut, dalam hatinyapun merasa agak tergetar, sedikitpun tidak salah ! Pemuda menggembol pedang ini benar-benar ada maksud untuk   menyewa   rumah   tersebut.   Tapi tidak

seharusnya ia bersikap demikian misterius !

Setelah berpikir keras, akhirnya kembali ia membentak dingin :

“Bukankah kau orang hendak menyewa rumah aneh didalam hutan Tauw Liem tersebut ?” Air muka pemuda menggembol pedang itu semakin hebat, seluruh tubuhnya kini gemetar keras ………

“Baaaaa …….. bagaimana …….. bagaimana kau bisa tahu ?”

Setelah didalam hati Pek Thian Kie berhasil membuktikan persoalan ini, pikirannya dengan cepat berputar.

“Kalau begitu, kau sungguh-sungguh ingin pergi menyewa rumah tersebut ?”

“Sedikitpun tidak salah !”

“Sekalipun benar kau ada maksud untuk menyewa rumah itu, lalu mengapa jejak serta tindak-tandukmu amat misterius dan mencurigakan ?”

“Tentang soal ini …….. maaf …! Aku tak bisa memberi penjelasan.

“Eeeeeei ……. Kawan ! Siapakah kau sebetulnya ?” “Bukankah tadi sudah aku katakana dalam hal ini maaf

aku tak bisa memberi penjelasan!”

“Jadi kau sudah bulatkan tekad untuk menyewa rumah tersebut ?”

“Benar !”

“Mengapa ?” desak Pek Thian Kie lebih lanjut.

“Aku tidak ingin beritahukan persoalan ini kepadamu.” “Kau sunggug-sungguh tidak ingin berbicara ?”

“Benar, aku tidak ingin berbicara.”

“Jika aku npaksa kau untuk memberitahukan persoalan ini ?” “Jadi kau ingin memaksa ?”

“Bilamana kau tidak suka bicara terus terang, terpaksa aku harus mengambil jalan ini.”

Seluruh tubuh pemuda menggembol pedang itu gemetar amat keras, matanya melotot lebar-lebar.

“Urusan ini tiada sangkut pautnya dengan dirimu, buat apa kau harus tahu rahasia ini ?”

“Bagaimana kau bisa tahu kalau persoalan ini tiada sangkut pautnya dengan diriku ……..” Mendadak Pek Thian Kie merasa ia sudah salah berbicara, buru-buru gantinya dengan perkataan lain :

“Apakah persoalan ini ada sangkut pautnya dengan dirimu ?”

“Benar!”

“Apa sangkut pautnya ?”

“Maaf ! Aku tak dapat memberi penjelasan kepadamu.” “Tapi aku rasa sekalipun kau terangkan juga, tidak

mengapa ?” Pek Thian Kie coba memaksa.

“Sudah tentu tak bisa ! Sudah, pokoknya aku tak dapat menerangkan persoalan ini kepadamu !”

“Dan akupun sudah berkata, pokoknya kau harus bicara

!”

“Jadi jadi kau ingin paksa diriku ?’

“Kemungkinan benar.”

“Hmmm! Aku sudah berkata, persoalan ini tak mungkin

aku katakana,” seru pemuda menggembol pedang itu dingin.

Air muka Pek Thian Kie berubah hebat. “Kau sungguh-sungguh tidak ingin bicara ?” bentaknya keras.

Sembari berkata tangan kanannya diangkat keatas lambat-lambat, jika pemuda menggembol pedang itu tidak suka boicara, mungkin ia benar-benar akan turun tangan ganas.

“Heeeee……….heeeee…………heeeee…… Benar, aku tak akan bicara !”

“Hmmm ! Akan aku lihat kau benar-benar suka bicara atau tidak !”

Bab 15 Ilmu “Ciang Liong Kiam Hoat”

BAYANGAN MANUSIA berkelebat lewat, kiranya ia sudah menubruk kearah pemuda menggembol pedang ini dan melancarkan satu serangan dasyat.

Didalam hati Pek Thian Kie sadar, bilamana ia tidak menggunakan kekerasan pada pemuda menggembol pedang ini pasti tak akan menceritakan rahasianya mengapa hendak menyewa rumah aneh tersebut.

Oleh sebab itu, serangan yang dilancarkan Pek Thian Kie barusan ini luar biasa dasyatnya, begitu tubuh pemuda mengembol pedang itu tersapu oleh serangan tersebut, tubuhnya kontan mencelat sejauh satu kaki dari tempat semula.

Belum sempat pemuda menggembol pedang itu melakukan gerakan serangan kedua dari Pek Thian Kie kembali sudah menghajar datang.

Serangan yang dilancarkan kali ini jauh lebih cepat jika dibandingkan dengan serangan yang pertama, dimana bayangan manusia berkelebat lewat tahu-tahu ia sudah mencelat kebelakang punggung pemuda menggembol pedang itu, hal ini membuat pemuda tersebut tidak sempat untuk berkelit lagi.

“Braaaaaaak ……… !”

Ditengah suara gebukan keras, tubuh pemuda menggembol pedang itu sudah dipukul pental sejauh sepuluh langkah lebih dan pada saat yang bersamaan serangan cengkeraman dari Pek Thian Kie kembali sudah menyambar datang. Terdengar suara dengusan berat memenuhi angkasa, tangan kanan dari pemuda menggembol pedang itu kena dicengkeram oleh Pek Thian Kie.

Air mukanya kontan berubah jadi pucat bagaikan mayat, keringat dingin sebesar kacang kedelai mengucur membasahi seluruh tubuhnya.

“Kau suka bicra tidak ?” Bentak Pek Thian Kie keras. “Hmmm! Apa yang harus aku bicarakan?”

“Mengapa kau begitu ngotot hendak menyewa rumah tersebut?”

“Aku tak dapat menjawab pertanyaanmu itu ?”

“Kawan ! Aku lihat lebih baik kau bicara terus terang saja daripada harus menjadi siksaan buat diri sendiri !”

“Heeeeee   ……….heeeeeee………….heeeee    …………

apa kau kira ancaman tersebut membuat aku bergidik ?”

“Baiklah ! Jika kau tidak ingin bicara, maka aku akan menggunakan ilmu memisah otot menggeser urat untuk menotok jalan darahmu, aku akan biarkan kau dalam keadaan mati tak dapat hidup pun tersiksa. Akan kulihat seberapa kuat daya tahanmu !” Bangsat ! Kau manusia terutuk. Sekalipun kau siksa, aku tetap[ tak akan berbicara !”

Pek Thian Kie tertawa seram. Air mukanya berubah beringas kejam, sinar matanya berapi-api.

“Sebenarnya kau suka bicara tidak ?”

“Mengapa kau ingin mengetahui persoalan oaring lain ?” Akhirnya pemuda menggembol pedang itu mengubah sikapnya.”

“Karena aku ingin menyelidiki jejak suhuku. Kemungkinan sekali ia sudah menemui ajalnya dalam rumah aneh itu.”

“Siapa suhumu ?”

“Sin Mo Kiam Khek atau si jagoan pedang iblis sakti !” “Apa ? Sin Mo Kiam Khek adalah suhumu ?” teriak

pemuda menggembol pedang itu tersentak kaget.

Melihat pemuda tersebut memperlihatkan sikap terharu dan kegirangan, tak terasa Pek Thian Kie pin merasa hatinya bergidik.

“Ehmm ………hanya saja aku belum berani memastikan benarkah dia adalah nama suhuku.”

“Apa maksudmu? Aku tidak paham perkataanmu itu !” “Aku katakana. Sin Mo Kiam khek belum tentu nama

suhuku.”

“Jadi kau sedang ngaco belo ?”

“Apa kau sendiripun tidak tahu siapakah nama suhumu

?” teriak sang pemuda menggembol pedang dengan mata terbelalak lebar-lebar.

“Sedikitpun tidak salah.” “Mengapa ?”

“Selama ini dia belum pernah memberitahukan namanya kepadaku.”

Agaknya pemuda menggembol pedang tersebut dibuat tertegun oleh perkatan itu.

“Aaaaaakh ……. Tidak mungkin ?”

“Mau percaya atu tidak itu terserah pendapatmu sendiri.”

“Lalu apakah gurumu menggunakan pedang sebagai senjata?”

“Tidak salah.”

“Kau tidak punya senjata ? Kalau begitu sudah tentu kau bukan anak muridnya.”

“Aaaaaaakh ….. kau salah, suhuku tidak ajari aku menggunakan pedang, ia Cuma memberi aku sejilid kitab aneh dan seluruh kepandaian silat yang kumiliki saat ini hasil belajarku dar kitab aneh tersebut !”

“Oooooouw …..”

“Padahal tenaga dalam suhuku paling banter hanya seperti dari tenaga dalamku.”

Mendengar perkatan tersebut Pemuda menggembol edang itu dibuat setengah percaya setengah tidak, lama sekali ia tidak bersuara.

Kurang lebih seperminuman teh kemudian, agaknya secara tiba-tiba ia sudah teringat akan sesuatu.

“Aaaaaakh benar !” teriaknya tertahan. “Kau benar-benar bernama Pek Thian Kie ?”

“Sedikitpun tidak salah, aku bernama Pek Thian Kie.” “Aku dengar suhuku pernah berkata bahwa “Sin Mo Kiam Khek” juga bernama Pek Thian Kie.”

Mendengar perkataan itu, tidak ampun lagi Pek Thian Kie merasakan hatinya tergetar keras. Sekarang persoalan sudah dibuktikan dengan nyata bahwa ia serta “Sin Mo Kiam Khek” memiliki nama yang sama, jelas dibalik kesemuanya ini tak akan lolos dari suatu hubungan yang sangat erat.

“Siapakah suhumu ?” Tanyanya kemudian sesudah termenung sejenak.

“Soal ini …..”

Agaknya pemuda menggembol pedang itu merasa serba salah untuk menjawab pertanyaan tersebut.

“Sebetulnya kesulitan apa tokh yang membuat kau jadi seba salah dan merasa sulit untuk menjawab persoalan ini?”

“Aku …….. heeeiiiii ……… !”

Kembali pemuda menggembol pedang itu menghela napas panjang.

“Kawan ! Pada saat ini aku sedang menyelidiki suatu urusan, diterangkan juga rasanya tidak mengapa bukan ?” desak Pek Thian Kie lebih lanjut.

“Kau ……. Kau tak akan tahu !” “Sebenarnya apa tokh yang telah terjadi ?”

Agaknya pemuda menggembol pedang itu ingin mengutarakan isi hatinya, tapi iapun tidak tahu apa yang harus dibicarakan terlebih dahulu.

“Kau ingin pergi menyewa rumah aneh tersebut, aku rasa dibalik kesemuanya ini tentu ada sebab-sebabnya. Apalagi seharusnya kau sudah mengerti jelas bukan, setiap jago lihay yang pergi menyewa rumah aneh tersebut, akhirnya sudah menemui ahalnya semua ?”

“Aaa ….. aaaku ……. Aku tahu.”

“Lalu, apa kau sudah bulatkan tekad untuk menghantar kematian sendiri ?”

“Benar!” “Mengapa ?” “Aku …..”

Hampir setengah harian lamanya ia mengucapkan kata- kata “Aku “ tapi kata-kata selanjutnya tak diutarakan kembali.

“Kalau memang kau ada maksud untuk menghantar kematian sendiri, seharusnya pula kau memberikan suatu alasan terlebih dahulu !”

“Kau anggap aku sungguh-sungguh ada maksud untuk memamsuki rumah aneh itu untuk menghantar kematian sendiri ?” seru pemuda menggembol pedang itu sambil tertawa sedih.

“Kalau memang kau tak ada maksud untuk hantar kematian sendiri, mengapa kau harus berbuat begini ?”

“Karena aku sedang menjalankan tugas !” “Menjalankan tugas ? Tugas dari siapa ?”

“Heeeeei ……….. !” Pemuda menggembol pedang itu menghela napas panjang. “Sekalipun aku utarakan kaupun belum tentu paham, Cuma yang jelas aku sedang menjalankan tugas suhuku.”

“Siapakah sebenarnya suhumu itu ?” “Baiklah ……… beritahu padamu pun tak ada halangan.” Akhirnya pemuda menggembol pedang itu berseru ……… apa kau sudah pergi melihat kedaan rumah aneh tersebut ?”

“Benar !”

“Siapa saja yang mati dirumah tersebut ?”

“Delapan orang jagoan pedang dari sembilan jagoan pedang dari kolong langit.”

“Sedikitpun tidak salah, seharusnya kau tahu bukan, kalau diantara kesembilan orang jagoan pedang tersebut pada saat ini masih tersisa seorang …..”

“Apa ? Suhumu adalah “Ciang Liong Kiam Khek.” Atau si jagoan pedang penakluk naga ?” seru Pek Thian Kie tak tertahan.

“Sedikitpun tidak salah !”

Pek Thian Kie rada bergidik, didalam sekejap mata itulah dengan perasan terperanjat ia telah melototi pemuda menggembol pedang itu, karena ia merasa peristiwa ini benar-benar ada diluar dugaannya.

Kedelapan orang yang sudah menemui ajalnya semua itu adalah kedelapan orang jagoan pedang dari “Sembilan jagoan pedang dari kolong langit.”

Dan kini orang yang hendak pergi menyewa rumah aneh tersebut adalah anak murid dari pentolan sembilan jagoan pedang, “Ciang Liong Kiam Khek” atau si jagoan pedang penakluk naga. Karena si jagoan “Ciang Liong Kiam Khek” sudah mati, sekarang muridnyalah yang mewakili.

Apakah orang-orang itu menerima perintah untuk menyewa rumah tersebut ?” Kalau benar, lalu mereka telah menerima perintah siapa

?

Kejadian ini benar-benar merupakan suatu teka-teki yang

mengejutkan dan menggetarkan hati semua orang.

“Jadi ….. jadi karena suhumu sudah mati, maka kau menerima tugas untuk menyewa rumah tersebut ?” Tanya Pek Thian Kie dengan perasaan amat terperanjat.

“Sedikitpun tidak salah !”

“Menjalankan tugas serta menjalankan perintah suhumu apakah tidak sama ?”

“Benar tidak salah!” “Dimana letak alasannya?”

“Yang menerima tugas adalah suhuku. Dan aku sedang menjalankan perintah dari suhuku.”

“Jadi sebelum suhumu meninggal sudah beritahu kepadamu untuk pergi menyewa rumah aneh itu ?”

“Benar ! Ia meninggalkan pesan tersebut kepadaku”

Pek Thian KIe yang mendengar perkataan tersebut dijadikan keheranan.

“Apakah suhu mengiginkan kau pergi mengantar kematian ?” tanyanya ragu-ragu.

“Tidak ! Sebelum suhuku meninggal, rumah aneh itupun belum pernah munculkan diri”

“Jadi ia tak tahu tentang peristiwa munculnya rumah aneh yang disewakan ini ?”

“Bukan …… bukan ! Ia tahu jika setiap orang yang pergi menyewa rumah tersebut bakal memperoleh kematian.:”

Lama sekali Pek Thian Kie kerutkan keningnya berpikir. “Aku masih tidak mengerti,” ia menggeleng setelah lama tidak berbicara.

“Benar ! Kau tidak mengerti dan aku sendiripun kurang mengerti. Cuma aku tidak rela pergi menyewa rumah tersebut karena aku sudah punya istri dan punya anak.”

Mendengar perkataan tersebut dalam hati Pek Thian Kie pun ikut merasa hatinya sedih.

“Sedikitpun tidak salah, ia sudah mempunyai isteri dan punya anak pula, sudah tentu ia tidak ingin menyewa rumah aneh tersebut untuk menghantar kematian sendiri.” Pikirnya dihati.

Hal ini tidak aneh, manusia mana yang rela nyawa sendiri direnggut orang setelah mengetahui jika menyewa rumah tersebut pasti mati ?

………. Inilah suara hatinya ! ……………..

Suara hatinya yang pedih. Bilamana ia Cuma seorang diri, sebatang kara, sudah tentu tak akan merisaukan soal mati.

Tapi, keadaan pada saat ini tidaklah sama.

Karena itu, dari dasar hati kecil Pek Thian Kie muncul perasaan sedih bercampur kasihan dan simpatik, ia ikut merasa berduka bagi seseorang yang mendekati ajalnya ini.

“Lalu, kau sudah bulatkan tekad untuk menyewa rumah tersebut?” kata Pek Thian Kie sedih !

“Benar !”

“Jika akupun pergi menyewa rumah tersebut ?”

“Kau tak mungki bisa, karena syaratnya tidak cukup.” “Syaratnya tidak cukup?” “Benar, karena tujuan mereka dalam penyewaan rumah kali ini adalah diriku.”

“Tidak, Suhumu,” sambung Pek Thian KIe cepat

“Tapi, suhuku sudah mati, maka tujuan si penyewa rumah tersebut adalah diriku.”

“Begini saja ……….” Setelah berpikir sangat lama, Pek Thian Kie mengajukan usulnya. Bagaimana kalau aku pergi mewakili dirimu untuk menyewa rumah tersebut ?”

“Tidak bisa !” “Mengapa tidak bisa ?”

“Kau tidak dapat menggunakan kepandaian silat suhuku.”

“Cuma itu saja yang kau risaukan ?” “Benar.”

“Haaaaa ………… haaa …………… haaaa ………….

Soal itu gampang sekali untuk diatasi. Bukankah aku bisa belajar ilmu silat tersebut dari dirimu ?”

“Belajar ? Belajar kepandaian silat suhuku dari aku orang

?”

“Benar, apakah tidak bisa ?”

Sinar mata pemuda menggembol pedang itu berkilat. “Kau ingin wakili diriku untuk hantar kematian ?” “Boleh dikata begitulah !”

“Tapi ingin belajar ilmu silat bukanlah suatu pekerjaan

yang bisa diselesaikan didalam dua tidga hari saja ”

“Bukannya cayhe bicara besar, ilmu silat semua partai yang ada diseantero dunia asalakan dapat aku latih satu kali saja selamanya pasti tak akan dapat cayhe lupakan kembali.”

“Kau sungguh-sungguh memiliki kepandaian semacam ini ?” teriak pemuda menggembol pedang itu terkejut bercampur girang.

“Sedikitpun tidak salah.”

“Aaaaaakh ……… aku rasa masih tak bisa dijalankan,” sahut pemuda tersebut dengan sedih sambil menggeleng. “Bagaimanapun aku tidak dapat melihat kau orang pergi mewakili aku mati dengan hati lega.”

“Haaaaa    …………    haaaaaaa haaaa

…………. Soal ini kau boleh legakan hati. Karena soal ini adalah atas dasar kemauanku sendiri, apakah akhirnya aku akan mati atau tidak, soal ini tidak bisa diputuskan sedemikian paginya !”

Saking terharunya pemuda menggembol pedang itu, sampai mengucurkan air mata mendadak ia jatuhkan diri berlutut kemudian menyembah dengan penuh rasa berterima kasih.

“Terima kasih tuan penolong yang suka membantu diriku !”

“Eeeeeeeei ………… ! eeei Kenapa kau harus

menjalankan penghormatan sedemikian besarnya ? Pek Thian Kie tak sanggup untuk memikulnya,” seru Pek Thian KIe dengan gugup dan buru-buru membimbing ia bangun.

“Keselamatan seluruh keluargaku telah mendapat budi bantuan yang amat besar dari Heng-thay ……”

“Soal ini aku tidak usah sungkan-sungkan lagi, karena persoalan inipun ada sangkut pautnya dengan diriku !......

Ooooouw yaa, bnar siapakah nama besar Heng-thay ?” “Aku bernama Tong Yong. Ini tahun berusia duapuluh sembilan tahun !”

“Oooouw ……… kiranya Tong-heng. Kawan, saat ini kau boleh mainkan satu kali ilmu pedang suhumu agar aku bisa memperhatikan dengan cermat.”

“Suhuku dengan mengandalkan ilmu pedang “Ciang Liong Kiam Hoat” atau ilmu pedang Penakluk naga memimpin delapan pedang lainnya, maka dari itu kepandaian silat yang sudah suhu ajarkan kepadaku adalah kesembilan jurus ilmu pedang penakluk naga itu saja. Sekarang kau perhatikanlah baik-baik, aku akan mainkan satu kali dihadapanmu.”

Sembari berkata, dari punggungnya ia mencabut keluar sebilah pedang panjang, terasalah cahaya pedang berkilauan menyilaukan mata, secara samara-samar terasalah hawa dingin menusuk tulang. Pedang tersebut benar-benar merupakan sebilah pedang mustika.

“Pek-heng, harap kau mulai ambil perhatian.” Seru Tong Yong seraya menggerakkan pedangnya. “Aku akan mulai berlatih.”

“Ehmmm silakan !”

Demikianlah, Tong Yong lantas gerakan pedangnya dan mulai memainkan ilmu pedang “Ciang Liong Kiam Hoat” nya.

Kiranya ilmu pedang penakluk naga ini mengutamakan kecepatan untuk mendesak musuh, perubahan pedang tersebut amat banyak sukar diraba bahkan memiliki pula suatu daya kekuatan yang mata hebat. Benar-benar tidak malu kalau disebut ilmu pedang seorang jagoan kenamaan.

Sembilan jurus dengan cepat berlalu Tong Yong pun sambil menarik pedangnya mengundurkan diri kebelakang. “Pek-heng. Coba kau lihat bagaimana ?”

“Haaaaa    …………    haaaaaaa haaaa

…………. Aku rasa berlatih dua kali sudah lebih dari cukup.”

….. Tong Yong menganggk, iapun berturut-turut memainkan ilmu pedang tersebut sebanyak dua kali, kemudian tanyanya lagi kepada Pek Thian Kie.

“Coba kau lihat bagaimana ?”

“Bagus, sudah cukup ! Coba kau serahkan pedang itu kepadaku adan akan aku mainkan satu kali dihadapanmu. Bilamana ada kesalahan harap kau suka memberi banyak petunjuk kepadaku.”

Tong Yong lantas memberikan pedang itu kepadanya, kendati begitu didalam hatinya masih belum percaya penuh jika Pek Thian Kie bisa memainkan ilmu pedangnya cukup hanya dengan menonton dirinya berlatih tiga kali saja.

Tetapi Pek Thian Kie pribadi agaknya mempunyai perhitungan yang masak, sambil tertawa ia menerima pedang tersebut kemudian, sambil silangkan pedangnya didepan dada.

“Tong-heng harap memberi petunjuk. ””Pek-heng, silakan !”

Pek Thian Kie tak banyak bicara lagi, pedangnya disilangkan kedepan dada sebagai jurus pembukaan, setelah itu sejurus demi sejurus ia mainkan ilmu pedang “Ciang Liong Kiam Hoat” tersebut dengan penuh kekuatan.

Tampak cahaya dengan berkilauan memenuhi seluruh angkasa, angina dingin menekan empat penjuru, hanya didalam sekejap mata, jurus-jurus ilmu pedang penakluk naga tersebut sudah selesai dilatih. “Bagaimana ?” tanyanya kemudaian sambil tersenyum.

Dengan hati terperanjat dan bergidik Tong Yong berdiri termangu-mangu disamping kalangan, hampir boleh dikata ia tidak mempercayai pada sepasang matanya.

Bukan saja Pek Thian Kie berhasil memainkan “jurus- jurus ilmu pedang “Ciang Liong Kiam Hoat” tersebut dengan amat sempurna, bahkan jauh lebih sempurna dari permainan sendiri. Inilah disebabkan karena tenaga dalam yang dimiliki Pek Thian Kie jauh lebih sempurna.

“Coba kau lihat bagaimana dengan hasil latihanku?” kembali Pek Thian Kie menegur sambil tertawa

“Suuuuung …….   Sungguh   ……….   Sungguh   hebat

………. Jauh berada diluar dugaanku.” Sahut Tong Yong dengan gelgapan saking terkejutnya.

“Apakah ada kesalahan?”

“Sedikitpun tak ada yang salah, bahkan jauh lebih sempurna daripada permainan siuwte sendiri.”

“Aaaaakh ….. kau terlalu memuji.” “Bukannya memuji, tapi benar-benar !

“Kalau begitu kita putuskan demikian saja, aku akan segera pergi mewakili dirimu untuk menyewa rumah aneh tersebut.”

“Terima kasih atas budi pertolongan dari Heng-thay !” “Eeeeeei ….. Tong-heng, kenapa harus mengucapkan

kata-kata semacam itu ? Apakah aku sudah cukup sempurna untuk pergi menyewa rumah aneh itu ?”

“Belum ! Masih ada beberapa urusan harus kau selesaikan dulu.”

“Masih ada ? Coba kau sebutkan urusan apa saja ?” “Aku sendiripun tidak tahu jelas siapakah majikan dari rumah aneh itu Cuma sebelum suhu meninggal, ia pernah memberitahu kepadaku bahwa semisalnya didunia persilatan muncul sebuah rumah aneh yang hendak disewakan maka kau harus pergi menyewanya, dan diatas pintu bangunan tersebut ada tertepel sebuah plakat yang berisi tentang syarat-syarat menyewa rumah tersebut, yaitu :

Uang emas seribu tahil Arak Giok Hoa Lok

Dan yang ketiga, seorang gadis cantik.”

“Dan rumah yang muncul saat ini adalah rumah aneh yang dimaksudkan suhumu bukan ?”

“Sedikitpun tidak salah, sewaktu suhu menjelang ajalnya ia berkata tiada larangan untuk menyewa rumah tersebut seorang diri. Tapi nyatanya setiap tahun rumah tersebut hanya boleh disewa oleh seorang saja, ia masih berkata pula bahwa semua sembilan jagoan pedang dari kolong langit mengetahui jelas persoalan ini.”

“Betul, mereka semua tahu persoalan ini, kalau tidak mana mungkin mereka dapat dibunuh mati semua.”

“Pek-heng ! Kau harus ingat betul-betul, sewaktu kau berhasil menemui majikan dari rumah tersebut maka benda ini harus kau serahkan kepadanya !”

Sembari berkata dari dalam sakunya ia mengambil keluar sebuah bungkusan sutera dan diserahkan ketangan Pek Thian Kie.

Sang pemuda she Pek juga menerima bungkusan sutera tersebut, mendadak hatinya bergerak kemudian bergetar keras, karena suatu ingatan sudah berkelbat didalam benaknya. “Apakah isi didalam buntalan sutera ini ?” tak terasa tanyanya.

“Aku sendiripun tidak tahu,” perlahan-lahan Tong ong menggeleng.

“Jadi kau sendiripun tidak apa isi dari benda yang ada didalam kantong sutera ini ?”

“Benar!”

“Mengapa?’ Bukankah barang ini sudah lama ada disakumu? Apakah belum pernah memeriksa isi kantong tersebut ?”

Sekali lagi Tong Yong menggeleng.

“Waktu itu, ketika suhu menyerahkan kantong sutera ini kepadaku beliau tidak mengucapkan sesuatu dan tidak pula beritahu kepadaku apa isi dari kantong ini. Ia hanya berkata setelah bertemu muka dengan majikan rumah aneh tersebut maka kantong ini harus diserahkan kepadanya.”

Mendengar perkataan itu Pek Thian Kie merasa hatinya semakin terperanjat, ia merasa benda yang berada didalam kantong sutera ini pasti suatu benda yang amat penting !

……. Kalau tidak tak mungkin urusan dirahasiakan sedemikian rapat.

Mendadak ………..

Agaknya Pek Thian Kie teringat akan sesuatu hal, air mukanya berubah hebat, ia teringat akan diri “Sin Mo Kiam Khek”

Si jagoan pedang inipun pernah menyimpan semacam barang didalam istana harta ………. Apakah orang yang dititipkan itupun merupakan benda semacam kantong sutera ini ? Sudah tentu hal ini mempunyai kemungkinan yang sangat besar !

“Kau maksdukan kantong sutera ini harus diserahkan kepada majikan rumah aneh itu ?’ Tanya Pek Thian Kie kemudian.

“Benar “

“Kanng sutera itu hanya diserahkan kepadanya begitu saja tanpa bicara apa-apa lagi ?”

“Benar-benar ! …… oooouw yaa ….. sewaktu kau bertemu dengan dirinya, ia akan berkata kepadamu. Serahkan seperembembilanmu itu ! ….”

“Apa katamu ? Sepersembilan ? Jadi sembilan jagoan pedang dari Kolong Langit memiliki benda ini ?”

“Tidak salah ! Jikalau pihak lawan tidak mengucapkan kata-kata tersebut kepadamu, maka kaupun tidak perlu serahkan barang ini kepadanya.”

“Ehmmmm …..! Aku sudah tahu.” Pek Thian Kie mengangguk.

“Disamping itu, untuk membuktikan asal-usulmu yang benar dalam penyamaranmu sebagai anak murid suhuku. Terpaksa pedang penakluk naga “Ciang Liong Kiam” ini harus aku serahkan padamu.”

Pek Thian Kie lantas menerima pedang penakluk naga itu sambil ucapnya :

“Masih ada urusan lain lagi yang belum kau sebutkan ?” “Sudah tak ada lagi, seluruh persoalan aku serahkan

kepada Heng-thay untuk Menyelesaikannya.”

“Haaaa ……… haaaa haaaa …… kau tidak perlu

sungkan-sungkan lagi.” “Jika dilihat dari tindak-tanduk heng-thay, agaknya baru pertama kali kau orang terjun diri dalam dunia persilatan?”

“Benar!”

“Tidak aneh kalau kau masih merasa asing terhadap seluruh peristiwa yang terjadi didalam dunia kangouw……”

----------- ooo O ooo -----------