Misteri Rumah Berdarah Jilid 04

Jilid 04

Bab 10 Meminjam uang di Istana Harta

SAAT INI hari baru saja terang tanah pintu Istana harta pun baru saja dibuka.

Kiang To telah melakukan pembunuhan didalam Istana harta tersebut sehingga ada tujuh, delapan orang jatuh korban, tetapi keadan didalam istana harta pada saat ini tenang seperti sediakala, suasana sunyi-senyap seperti belum pernah terjadi suatu peristiwapun.

Kali ini Pek Thian Kie bisa mengunjungi kembali Istana Harta, tujuan yang terutama sudah tentu hendak mencari tahu keadaan dari si jagoan pedang penakluk naga beserta rahasia hubungan antara Istana Harta dengan rumah misterius itu.

Jikalau orang yang ingin menyewa rumah tersebut pada tahun ini benar-benar adalah si jagoan pedang penakluk naga, pemimpin dari sembilan naga, maka urusan bisa diketahui dengan sangat mudah, karena untuk memperoleh emas murni seribu kati bagaimnapun juga, ia pasti akan mendatangi Istana Harta ini.

Bersamaan itu pula ia ingin menggunakan kesempatan ini menyelidiki siapakah majikan dari Istana Harta ini.

Ketika Pek Thian Kie tiba didepan pintu si lelaki berpakaian perlente penjaga pintu tersebut agaknya masih ingat dengan diri pemuda tersebut.

Air mukannya kelihatan berubah sangat hebat, buru-buru ia menjura memberi hormat.

“Ooooouw ……. Kiranya Pek Thay-hiap ……” Sedikitpun tidak salah, memang cayhe adanya!”

…… Tolong Tanya apa maksud Pek Thay-hiap datang kemari?”

“Kalau tidak pinjam uang, buat apa aku harus datang kemari? ………” seru pemuda itu ketus.

“Sungguh maaf, Istana harta kami hanya mengizinkan satu orang pinjam uang satu kali saja dari sini !”

“Tetapi kemarin hari aku tidak pinjam uang!”

Si lelaki berpakaian perlente itu tertawa, sinar matanya perlahan-lahan dialihkan keatas wajah Tang Liem.

“Dan apa pula maksud saudara ini datang kemari?” tanyanya lagi.

“Cayhepun ingin pinjam sedikit uang.” “Mau pinjam berapa?”

“Tidak banyak, Cuma seratus tahil perak saja.” “Berasal dari perguruan mana?”

“Cayhe Tang Liem berasal dari perguruan Bu-Tong Pay!”

“Kenapa?”

“Karena …….karena ………..” agaknya si pemuda berbaju hijau itu merasa serba susah juga untuk mengajukan alasannya, lama sekali baru jawabnya :

“Cayhe ingin bertemy muka dengan majikan kalian !” “Sungguh maaf, majikan kami tak ada disini.”

“Kalau begitu aku ingin bertemu dengan Cong-Kooan atau Ciang-kwee kalian!”

“kalau memang saudara mempunyai kesulitan, baiklah, mari ikut aku masuk,” ujar si lelaki berpakaian perlente itu kemudian.

Selesai berkata dengan memimpin pemuda yang menyoren pedang itu ia berjalan masuk kedalam ruangan.

Pek Thian Kie yang dapat melihat seluruh kejadian ini, diam-diam dalam hatinya mulai menaruh rasa curiga

…………….

Kemarin malam pemuda tersebut sudah pergi menengok rumah aneh itu dan kini ingin pinjam uang pula kemari, ada sepuluh bagian ia pasti hendak menyewa rumah tersebut.

Lalu siapakah dia ?

Selagi Pek Thian Kie dibuat kebingungan itulah, si lelaki berbaju perlente itu sudah mempersilakan mereka masuk.

“Saudara berdua silakan masuk!” Pek Thian Kie melirik sekejap kerah pemuda berbaju hijau yang menyoren pedang itu kemudian tanpa menoleh lagi melnjutkan perjalannya kedalam.

Ciang Kwee Istana harta masih tetap si Kakek tua tersebut, sewaktu dia orang melihat munculnya Pek Thian Kie disana air mukanya segera berubah hebat.

“Aaaaaakh ………… kau ……….. “ Serunya tak tertahan.

“Benar Cayhe!” Pek Thian Kie tersenyum? “Kan ……… apa maksudmu datang kemari?” “Mau pinjam uang!”

“Kiang         ”

“Cayhe bernama Pek Thian Kie, apakah kau sudah lupa?” buru-buru pemuda itu memotong perkataannya yang belum selesai.

“Benar…………..benar    …………benar Pek

Thay-hiap ingin pinjam berapa?”

“Tidak tentu, mungkin Cuma tiga, lima tahil kemungkinan lima ribu tahil kemungkinan Cuma lima ribu tahil emas murni!”

Didalam anggapan Ciang-kwee lijin seratus persen Pek Thian Kie sebetulnya adalah Kiang To, ia menganggap korban tujuh, delapan orang yang mati didalam Istana harta adalah hasil perbuatannya.

Melihat bagaimana luar biasa dasyatnya ilmu silat pemuda tersebut, sudah tentu bagi sang Ciang-kwee tersebut menemui dia, seperti pula menemui musuh tangguh yang sangat mengerikan. “Saudara ini adalah …….” Serunya kemudian Ciang- kwee ini berhasil menenangkan hatinya.

“Cayhe Tang Liem, anak murid partas Bu-tong. “Kau ingin pinjam berapa?”

“Seratus tahil perak sudah cukup. Bila dibicarakan sungguh memalukan sekali Cayhe sudah kehabisan bekal ditengah jalan, terpaksa aku harus pinjam uang dari Istana Harta kalian ”

“Orang-orang yang sering melakukan perjalanan ditempat luaran, kekurangan uang sudah merupakan suatu kejadian yang sangat luar biasa ………” Kata ciang-kwee lojin itu tertawa, “Hal ini bukan termasuk suatu kejadian yang sangat memalukan, tetapi Istana kami harus menyelidiki dulu asal-usul kalian sehingga jelas, setelah itu baru bisa mengambil keputusan dipinjami uang atau tidak.”

“Soal ini tidak mengapa!”

“Kalau begitu, kalian berdua boleh pergi istirahat…   ”

Si lelaki berbaju perlente itu dengan cepat membawa kedua orangitu menuju keruangan belakang, sengaja Pek Thian Kie memperlambat langkah kakinya.

Terdengar si lelaki berpakaian perlente yang ada dibelakangnya, pada saat itu sedang berkata.

“Dialah Ciang-Kwee dari Istana harta kami,”

Buru-buru si lelaki berbaju hijau itu menjura memberi hormat.

“Ciang kwee, terimalah penghormatanku!” serunya. “Saudara tidak perlu sungkan-ungkan, apakah

kedatangan saudara kemaripun ingin pinjam uang?”

“Benar!” “Siapa nama saudara?”

“Tolong Tanya Ciang-kwee, namaku serta perguruanku apakah bisa dirahasiakan?’

“Soal ini saudara boleh berlega hati selama puluhan tahun ini belum pernah istana kami membocorkan nama kawan-kawan dunia kangouw yang datang pinjam uang kemari …… bukan saja terhadap orang yang pinjam uang, sekalipun terhadap orang-orang yang menitipkan barang berharganya disinipun selalu pegang rahasia rapat-rapat, inilah perturan dari Istana kami, karena itu harap saudara boleh berlega hati.

Diam-diam Pek Thian kei merasa dangat kaget, ia tidak menyangka kecuali Istana Harta meminjamkan uang kepada orang lain, merekapun dapat menyimpankan harta benda pusaka milik orang lain didalam istna tersebut, kejadian ini benar0-benar berada diluar dugaannya.

Tak terasa lagi ia memperhatikan orang itu lebih tajam lagi, tampaklah ketika itu si pemuda berbaju hijau tersebut sedang membisikkan sesuatu ketelinga sang Ciang-kwee lojin.

Selesai dibisiki, air muka Ciang-kwee lojin berubah hebat, ia mengangguk tida hentinya.

“Kau ingin pinjam berapa?” Tanyanya kemudian. “Seribu kati emas murni!”

“Asal-usul saudara tidak perlu diselidiki lagi. “sang Ciang-kwee lojin itu mengangguk. “mari aku hant kau pergi keruangan biru!”

“Terima kasih atas bantuanmu!”

Selesai berkata dengan memimpin pemuda berbaju hijau itu, ia lantas berjalan keruangan kedua sebelah paling kiri, tampaklah diatas pintu tertera sebuah tulisan yang bertuliskan kata-kata :

“Ruan Biru !”

Pek Thh=ian Kie yang dapat melihat seluruh keadaan tersebut dengan amat jelas, tidak terasa lagi mengerutkan dahinya, langkah yang semula berjalan sangat lambat, mendadak sama sekali terhenti.

“Eeeee……. Saudara kenapa?” tegur si lelaki berpakaian perlente itu.

“Aku sekarang juga ingin pinjam uang!” “Sekarang?”

“Tidak salah, agaknya asal-usulku pada saat ini tidak perlu diselidiki lagi bukan?”

“Benar!”

“kalau begitu, kau bawa saja kawan Tang kebelakang!”

Selesai berkata ia langsung berjalan menuju keruang yang ditempati Ciang-Kwee tersebut.

Ketika itu kebetulan sang Ciang-kwee lojin baru saja keluar dari ruangan biru, sewaktu dilihatnya Pek Thian Kie berjalan bali, air mukanya segera berubah hebat.

“Pek Thay-hiap, kau ada urusan apa!” “Aku ingin pinjam uang sekarang juga!”

“Sekarang …………?” Ciang Kwee lojin itu benar-benar merasa amat terperanjat.

“Sedikitpun tidak salah, sekarang juga aku ingin pinjam uang tersebut.”

“Mau mau pinjam berapa ?” “Lima laksa tahil emas murni!” “Apa? Lima laksa tahil emas murni ?” “Sedikitpun tidak salah.”

“Baik……. Baik ……baik ……” dengan gugup dan ketakutan Ciang-kwee lojin mengiakan.

“Heeeee……….heeeee…………heeeee…      heei Ciang-

kwee, aku ingin menanyakan lagi suatu persoalan!” seru Pek Thian Kie sambil tertawa dingin tida hentinya! “Apakah Istana kalian juga khusus menyimpan harta serta barang pusaka milik orang lain?”

“Benar!”

“Apakah ada orang yang khusus menjaga barang-barang tersebut!”

“Maaf …….. soal ini adalah rahasia kami, bagaimanapun juga tak bisa aku bocorkan.”

“Kalau begitu, aku ingin pinjam uang saja,” kata pemuda itu kemudian setelah berpikir sebentar.

“Soal ini ” seru Ciang-kwee lojin agak ragu-ragu.

“Ayoh, cepat bawa aku keruang merah!” Potong Pek Thian Kie dengan mata melotot lebar-lebar.

“Baik ………. Baik ………..baik ”

Dengan langkah yang gugup, Ciang-kwee lojin itu segera membawa Pek Thian Kie menuju keruangan yang terakhir, pada saat ini dari dalam ruangan Biru kedengaran suara bentakan-bentakan keras berkumandang keluar.

Tidak usah ditanya lagi, jelas sekali menunjukkan bila sang pemuda berbaju hijau itu sedang bergebrak melawan Tongcu dari ruang Biru. Dengan cepat Pek Thian Kie elah tiba diruangan merah, tanpa disuruh lagi Ciang-kwee lojin itu segera mengetuk pintu dengan nada yang gencar.

“Siapa?” dari balik ruangan berkumandang keluar suara bentakan nyaring.

“Cong-koan, tecu adalah Ciang-kwee!” “Masuk!”

“Baik……baik…..”

Ciang-kwee lojin itu segera mendorong pintu berjalan masuk kedalam, ketika Pek Thian Kie dapat melihat Tongcu dari ruang merah tersebut ternyata adalah si setan darah Tong it san, ia lantas tersenyum.

Lain halnya dengan Tong It san, sewaktu melihat orang yang bertindak masuk kedalam ternyata Pek Thian Kie, saking kaget dan takutnya, paras mukanya kontan saja menjadi berubah hebat.

“Aaaaakh ………. Kau? ” Serunya tak tertahan.

“Sedikitpun tidak salah, memang aku!” “Kau kau mau apa datang kemari?”

“Heeeee……….heeeee…………heeeee… sudah tentu

pinjam uang, apa kau kira aku khusus datang hendak mencari setori?’

“Kau …… kau ingin pinjam berapa?’

“Kau pikir dari ruang merah ini bisa pinjam uang seberapa besar untuk aku?”

“Lima ……lima laksa tahil emas murni?’

“Sedikitpun tidak salah, apakah kita harus bergebrak kembali?. ” “Tidak perlu!!!”

“kalau begitu terima kasih atas perhatian Cong-koan yang suka memberi muka untuk diriku, kalau begitu harap kalian segera persiapkan emas tersebut karena sekarang juga aku hendak pergi dari sini!”

“Ciang-kwee!” buru-buru Tong It San menoleh kearah Ciang-kwee lojin tersebut. …… Emas murni dalam gudang apakah cukup untuk membayar sejumlah itu?’

“Pek Thay-hiap, dapatkah kau orang memberi kelonggaran beberapa hari untuk pihak Istana kami ?” dengan cepat Ciang-kwee lojin berseru. “Terus terang saja aku beritahu bahwa simpanan uang didalam gudang kami sampai ini hari masih belum cukup untuk membayar jumlah tersebut, tetapi didalam tiga hari ……”

“Aku orang tak bakal sanggup menunggu sedemikian lamanya!”

“Pek Thay-hiap !” seru Ciang-kwee lojin kembali, “Bukankah kau hendak menyusahkan pihak istana kami? Bukannya kami tidak mau memberi uang tersebut kepadamu. Melainkan karena jumlah uang disini masih kurang, maka dari itu …….. harap ……….. harap Pek Thay-hiap suka memaklimi …….”

“Tidak bisa jadi!”

Kedatangan Pek Thian Kie ketempat itu adalah bertujuan pinjam uang, jika menurut keadaan yang sebetulnya, jangan dikata pinjam uang, sekalipun menagih hutangpun semisalnya orang tersebut minta waktu beberapa hari, dia tak bisa berbuat apa-apa, apalagi Pek Thian Kie adalah khusus oinjam uang dari tempat itu. Sudah seharusnya ia tidak boleh mengelak permintaan itu, siapa sangka ternyata pemuda tersebut dengan ngotot sudah menolak.

Pemuda tersebut menolak permintaan Ciang-kwee itu sudah tentu hatinya mempunyai alasan-alasan tertentu.

Apalagi tujuan utama dari kedatangannya kemari adalah pinjam uang disamping hendak paksa majikn “Istana harta” itu untuk unjukkan diri menemui dirinya.

Begitu perkataan dari Pek Thian Kie meluncur keluar dari ujung bibir, air muka Ciang Kwee lojin serta Tong Cong-koan segera berubah hebat.

“Kau ingin berbuat apa?” teriak Tong It San keras. “Ingin pinjam uang!”

“Bukankah kami sudah berkata kalau uang didalam Istana kami sedang kekurangan ?”

“Kalau begitu silakan kalian undang keluar majikan Istana harta!”

“……….. selamanya majikan kami tidak menetap disini!”

“kalau begitu, kalian boleh beritahu kepadanya jika ia tidak suka serahkan uang tersebut pada saat ini juga, maka aku akan baker habis Istana harta ini.”

“Jadi kedatangan saudara kemari sengaja hendak mencari gara-gara dengan pihak kami ?”

“Boleh kalian anggap begitu !”

“Hmm ! Apa menurut pendapat saudara, kami orang- orang dari Istana Harta bisa dipermainkan sesuka hatimu ?” teriak Tong It San sambil mendengus dingin. “Delapan lembar nyawa kau bunuh kemarin hari, dari pihak majikan kami belum melakukan perhitungan ”

“Heeeee……….heeeee…………heeeee…….. soal ini belum pernah cayhe pikirkan didalam hati.”

“Mengenai uang lima laksana tahil emas tersebut, pada saat ini Istana kami tak sanggup untuk membayarnya sekaligus, dua hari kemudian ”

“Tadi aku sudah bilang tidak bisa!” bentak Pek Thian Kie dengan air muka berubah hebat.

“Kenapa tidak bisa jadi?”

“Istana kalian sendiri yang mengeluarkan syarat serta peraturan, bila ini hari tidak kalian bayar uang itu, maka aku akan menggunakan nyawa kalian sebagai jaminan.”

“Cara bagaimana kau ingin menggunakan jaminanmu?” Pek Thian Kie tertawa dingin tiada hentinya.

“Bila aku ingin membinasakan kalian, soal itu merupakan suatu pekerjaan yang sangat mudah seperti membalik telapak tangan sendiri.

Sewaktu berbicara, selintas hawa nafsu membunuh mulai berkelebat diatas wajahnya, nada ucapanpun kedengaran sangat menyeramkan ……….. membuat hati siapapun terasa bergidik.

…….. kau orang bisa diajak bicara tidak?” teriak Tong It San dengan setengah suara menggembor air mukanya berubah hebat.

………Yang tidak pakai aturan adalah kalian, kenapa kamu harus salahkan diriku?”

“Kentut !” maki Tong Cong-koan amat gusar. “Aku akan mengadu jiwa dengan dirimu bangsat cilik !” Begitu perkataan terakhir meluncur keluar, badannya segera berkelebat kedepan menubruk Pek Thian Kie sedang telapak tangannya dengan disertai angina pukulan yang menderu-deru dihajarkan kedepan.

“Jelas, Tong It San dibuat tidak sabar dan tidak tahan lagi oleh sikap Pek Thian Kie yang ingin menang sendiri, oleh karena itu saking tak tahannya ia melancarkan serangan dasyat kedepan.

Menggunakan kesempatan yang sangat baik inilah Pek Thian Kie ingin lebih memperbesar persoalan tersebut.

“Bagus sekali, kau ingin cari mati?” teriaknya gusar.

Tangan kanannya segera disilangkan didepan dada menangkis datangnya pukulan musuh, sedang tangan kirinya didorong kedepan mengirim serangan balasan.

Dua buah telapak tangan dengan cepat terbentur satu sama lain diikuti suara ledakan keras, tubuh Tong It san tak kuasa untuk menahan diri lagi seketika itu juga ia terdesak mundur sejauh lima, enam langkah.

“Haaaaa …………   haaaa   ……………haaaa………..

tidak salah, aku memang mencari mati, jauh lebih baik lagi jika aku ditemani dirimu ”

Sekali lagi tubuhnya bergerak kedepan menubruk tubuh Pek Thian Kie yang sudah bersiap sedia.

Mendadak …………

“Ada urusan apa?” serentetan suara yang amat dingin berkemandang masuk kedalam ruangan.

Mendengar suara teguran tersebut, baik Pek Thian Kie maupun Tong It San sama-sama menarik kembali serangannya dan mundur kebelakang. Dengan cepat Pek Thian Kie menoleh kearah belakang

………

“Haaa …… kau ? …..” tak tertahan lagi ia menjerit.

Orang yang baru saja munculkan dirinya disana ternyata bukan lain adalah si pengemis muda, Cu Tong Hoa adanya.

Cu Tong Hoa ternyata belum meninggalkan tempat itu, hal ini benar-benar berada diluar dugaan Pek Thian Kie.

“Oooouw ……… aku kira siapa ….. tidak tahunya kau orang …….” Seru Cu Tong Hoa ketika itu juga sambil tertawa dingin.

“Sedikitpun tidak salah, memang cayhe ….” “Apa yang lebih terjadi?”

“Cu Tongcu, kau bilang aku patut keki tidak,” seru Tong It San dengan gemas. “Saudara ini hendak meminjam uang dengan Istana Kita, dan uang yang diminta belum cukup jumlahnya. Kami minta waktu tiga hari, ternyata dia orang tidak setuju.”

“Benar-benar sudah terjadi kejadian ini ?”

“Sedikitpun tidak salah !” Pek Thian Kie tertawa dingin. “Pek-heng, kau ingin pinjam berapa?”

“Lima laksa tahil emas murni!”

“Kalau orang lain tidak punya, lebih baik kau mengalah dan kasih waktu beberapa hari buat mereka ………”

“Tidak bisa jadi!”

“Begini saja,” seru Cu Tong Hoa kemudian setelah termenung sebentar. “Kalian semua lihatlah diatas wajahku, kasihlah waktu setengah hari !” “Waaaaah …….. tidak bisa jadi, bagaimana mungkin dalam setengah hari kita bisa dapatkan uang sebanyak itu ?” teriak Tong It San tidak setuju.

“Tong Cong-koan aku lebih baik kau setujui saja keputusan ini. Kalau tidak bilamana Istana Harta sampai dihancurkan orang, maka seluruh tanggung jawab ini harus kau pikul sendiri …….”

“Baik baik, kita undur setengah hari!”

“Jikalau aku tidak setuju? Mendadak Pek Thian Kie tertawa dingin

“Tidak setuju?”

“Benar, aku tidak setuju.” “Heeeee……….heeeee…………heeeee…         Pek-heng!

Kenapa kau harus membuat orang lain susah ?” tegur Cu

Tong Hoa sambil tertawa dingin.

“Ooooouw kawan Cu, agar aku setuju, tidak sukar

syaratnya. Asalkan kau suka beritahu asal-asulmu yang benar !”

“Tetapi ……… Pek-heng ! Apa      apa perlumu ?”

“Jika kau tidak setuju lebih baik cepat menggelinding pergi dari sini, menanti perhitunganku dengan Tong Congkoan telah selesai, aku bisa pergi mencari kau dengan sendirinya.

“Pek-heng, kau sungguh-sungguh tidak suka memberi muka kepadaku?”

“Benar! Jikalau benar-benar tak ada uang disini, harap kalian panggil keluar Majikan Istana Harta untuk berbicara dengan diriku ” “Pek Thian Kie, tindakanmu salah besar …….” Tiba-tiba air muka Cu Tong Hoa berubah hebat.

“Tindakanku yang mana dianggap salah ?”

“uang yang mereka miliki tidak cukup, tidak seharusnya kau orang menggunakan cara paksaan !”

“kalau aku hendak menggunakan kekersan kau mau apa

? untuk batalkan niatku ini mundur saja kalian boleh

panggil majikan Istana Harta untuk keluar dan berbicara beberapa patah kata dengan diriku !”

“Air muka Cu Tong Hoa berubah semakin hebat.

Bab 11 Cu Tong Hoa Majikan Istana Harta

KAWAN PEK ! Mari ……… mari ……. Mari ……..

selama hidup, aku memang paling suka mencampuri urusan orang lain, sikap serta tindakan-tindakanmu ini sangat tidak enak dipandang, maka itu aku sudah putuskan untuk mencampuri urusan ini, “ teriaknya keras.

“Heeeee……….heeeee…………heeeee…….. kalau begitu sangat bagus sekali,” teriak Pek Thian Kie pula sambil tertawa dingin. “Orang she Kiang, kedelapan lembar nyawa yang mati didalam Istana Harta adalah kau yang turun tangan membinasakan mereka, tidak kusangka sekarang kau bisa memperlihatkan wajah yang begitu rmah- tamah. Hmmmm ……….. justru aku ingin mencari kau untuk bikin perhitungan.”

“Kaulah yang bernama Kiang To!” “Kentut !”

“Haaaaaaa ? Kau berani memaki aku Bagus ! Aku

bunuh dulu kau orang bentak Cu Tong Hoa gusara. Begitu selesai berbicara badannya segera menubruk kedepan sambil melancarkan serangan dasyatnya.

Dalam hati Pek Thian Kie pun mengerti bila kepandaian silat dari Cu Tong Hoa tak boleh dipandang enteng, sewaktu Cu Tong Hoa sedang menggerakkan badannya meloncat kedepan, telapak tangannya segera disilangkan kedepan dada menanti datangnya serangan tersebut.

Bayangan manusia berkelebat saling menyambar untuk kemudian berpisah kembali.

Ilmu silat yang dimiliki, Cu Tong Hoa ternyata amat tinggi sekali, sehinggarada diluar dugaan Pek Thian KIe, tetapi sewaktu teringat bahwa nama besar Kiang To bisa begitu terkenal di dalam dunia kangouw sudah tentu kepandaiannya sangat lihay.

Oleh sebab itu, ia tidak begitu merasa kaget. “Heeeee……….heeeee…………heeeee…       nama besar

Kiang To ternyata bukan nama kosong belaka ”

jengek pemuda itu dingin.

“Terima kasih ……….. terima kasih ”

Tubuhnya kembali bergerak kedepan, serangan-serangan yang dilancarkan keluar semakin santer, agaknya ia bermaksud menjatuhkan Pek Thian Kie dalam waktu yang singkat.

Pek Thian Kie sendiripun tidak ingin menunjukkan kelemahannya, iapun membentak keras, sedang telapak tangannya dengan membuat gerakan setengah lingkaran ditengah udara dengan cepat ditabokkan kedepan.

Hanya didalam sekejap mata kedua orang itu masing- masing sudah mengirim tiga jurus serangan terhadap pihak lawan aja. “Pek Thian Kie !” Mendadak terdengar Cu Tong Hoa membentak dengan suara yang rendah. “Kau dengarlah, jikalau kau merasa urusan berada diluar dugaanmu, lebih baik jangan hentikan gerakkan tanganmu !”

Mendengar perkataan tersebut, Pek Thian Kie jadi melengak, dengar sinar mata keheranan, ia memandang si pengemis tersebut tajam-tajam.

“Terus terang aku beritahu kepadamu,” bisik Cu Tong Hoa kembali. “Akulah Majikan dari Istana Harta ini

………”

“Apa ?” Kali ini Pek Thian Kie tak bisa membendung perasaan kagetnya lagi, ia berseru tertahan.

Beberapa patah perkataan tersebut terasa bagaikan halilintar yang membelah bumi disiang hari bolong. Kepalanya terasa pening seperti dimartil. Kejadian ini betul- betul berada diluar dugaannya.

“Pek Thian Kie, seluruh perkataanku adalah nyata ! Aku tahu apa sebabnya kau paksa aku keluar, bukankah kau mengira antara Istana Harta dengan Rumah Rejeki yang disewakan ada sangkut pautnya ? Kau benar-benar bodoh

………..”

“Apa maksudmu ?”

“Kau benar-benar terlalu tolol, jikalau antara Istana Harta dengan Rumah Rejeki yang disewakan ada sangkut pautnya, mengapa tulisan tersebut bisa ditulis demikian jelas sehingga sekali pandang saja orang-orang Bu-lim sudah memahami semua ?”

Pek Thian Kie termenung, ia merasa perkataan tersebut sedikitpun tidak salah. “Pada mulanya aku anggap kau adalah Kiang To,” ujar Cu Tong Hoa lebih lanjut. “Tetapi sekarang aku baru tahu bahwa dugaanku ternyata tidak benar. Kau bukan manusia itu, karena kemaren sewaktu kau lagi bergebrak melawan orang lain, ia sudah masuk dan membinasakan wakil Majikan Istana Harta, ketika kau masih berada diruang belakang.”

Pek Thian Kie jadi tertegun.

“Apakah antara Kiang To dengan Istana kalian ada ikatan permusuhan yang mendalam ?” tanyanya.

“Tidak ada ……… kau tahu mengapa aku sudah turun tangan membinasakan si ular seratus bunga ?”

“Kenapa ?”

“Eeeei …. Aku beritahu padamu, tahun yang lalu sebelum “Sin Mo Kiam Khek” Pek Thian Kie memasuki rumah tersebut, ia sudah titipkan sebuah benda didalam Istana Harta ini !”

“Benda apakah itu ?” Sang Pemuda berteriak tertahan. “Soal ini kau jangan bertanya terlebih dahulu, benda ini

kendati kelihatannya tidak berharga, tapi “Sin Mo Kiam Khek” sudah menggunakan tiga butir permata sebagai uang tanggungan. Karena barang tersebut mahal harganya. Cong-koan tidak berani terima dan laporkan urusan ini kepadaku, akhirnya aku setuju untuk menyimpan barang itu.”

Cu Tong Hoa merandek sejenak kemudian sambil menghembuskan napas panjang sambungnya kembali :

“Selama ini barang-barang yang disimpan dalam Istana harta, rahasianya bisa kita pegang tegug-teguh. Tetapi mengenai peristiwa ini tidak disangka ternyata sudah tersiar keseantero dunia kangouw…”

“Jadi Pek Hoa Coa si ular seratus bunga itu yang membocorkan rahasia ini ?”

“Tidak salah ! si ular seratus bunga sudah kepincut dengan Kiang To !”

“Kau ……. Kau maksudkan itu Si ular seratus

bunga ………… usia si ular seratus bunga masih sangat muda ?

“Sedikitpun tidak salah !” kembali Cu Tong Hoa mengangguk.” Ia baru berusia duapuluh tahun. Coba kau bayangkan ! Setelah peristiwa ini tersiar, ternyata Kiang To sudah bersumpah akan mendapatkan benda ini, jelas sekali kalau benda yang disimpan oleh kami sedikit banyak punya hubungan erat dengan Kiang To ”

“Ehmmm tidak salah, tidak salah.”

“Bila kita tinjau persoalan tersebut lalu dihubungkan pula dengan bangunan rumah aneh yang disewakan itu, aku rasa agaknya peristiwa inipun hasil perbuatan dari Kiang To !”

“Dari mana kau dapatkan alasan ini ?”

Karena sebelum Sin Mo Kiam Khek menyewa rumah tersebut, agaknya ia sudah dapat mengetahui segala- galanya, karena itu benda tersebut baru ia simpan didalam Istana harta kami, bukankah sudah jelas sekali bila tujuan dari si penyewa rumah tersebut hanya bermaksud untuk memperoleh barang itu ?” Pek Thian KIe merasa pendapat ini sedikit tidak salah, tanyanya lagi : “Kalau sudah melihat sendiri barang yang dititpkan Sin Mo Kiam Khek ?....... “Belum ia minta setahun kemudian barang itu harus diserahkan kepada seseorang!”

“Siapa ?” “Kiang To !”

“Apa ?” Pek Thian Kie ini betul-betul tersentak kaget.

“Ia perintahkan aku untuk serahkan barang itu kepada muridnya Kiang To.”

“Lalu kenapa kau tidak serahkan kepadanya ?”

“Terus terang, aku beritahu padamu, dia bukan Kiang To!”

“Apa maksud dari perkataanmu itu ?”

“Jikalau dia adalah Kiang To, maka sekalipun tidak pergi mencuripun sama saja akan peroleh barang itu !

“Ehmmmmm ….. sangat beralasan ……. Sangat beralasan.”

“Sin Mo Kiam Khek beritahu pada kami bahwa muridnya baru akan muncul setahun kemudian,” sahut Cu Tong Hoa kembali. “Sedangkan Kiang To itu sudah muncul setengah tahun yang lalu, jelas sekali kalau Kiang To yang asli pasti bukan dia!”

Mendadak …….. agaknya Pek Thian Kie pun sudah menyadari akan sesuatu, ia pernah bertemu dengan orang itu dan pihak lawanpun pernah berterus terang mengatakan bila ia bukan Kiang To yang asli. Kiang To adalah orang lain.

Siapakah orang itu ? Apa mungkin dirinya sendiri ?

Berbagai keadaaan yang ditemui selama ini membuktikan bila kemungkinan besar dirinyalah Kiang To. Cma samapai kini ia masih belum bisa memastikan, jika dia adalah anak murid dari “Sin Mo Kiam Khek:,

Berpikir akan persoalan tersebut, Pek Thian Kie kembali memandang wajah kawannya tajam-tajam.

“Benarkah Sin Mo Kiam Khek bernama Pek Thian Kie

?”

“Tidak salah !” Bahkan kemungkinan besar kau adalah

anak muridnya.

“Bagaimana kau bisa tahu ?”

“Karena kau adalah manusia yang mendatangi Istana Harta kami setahun kemudian. Tempo dulu kau belum pernah munculkan diri didalam dunia kangouw, bahkan kaupun bernama Pek Thian Kie.”

Ketika itulah Pek Thian Kie mulai memastikan jika dialah Kiang To yang dimaksudkan ……… Cuma ia belum berhasil membuktikan kebenaran dari dugaan tersebut. “Bukankah rumah itu sudah sangat lama sekali disewakan kepada orang lain ?” seru Pek Thian Kie kemudian sk mungkin kalau peristiwa ini hasil seperti sudah menyadari akan sesuatu. “Tidak mungkin kalau peristiwa ini hasil kerja dari Kiang To ……”

“Mungkin ! karena dari saku Sin Mo Kiam Khek ia tidak berhasil menemukan barang yang dicari, maka terpaksa mau tidak mau ia harus munculkan diri kedalam dunia kangouw. Sekarang kau sudah paham bukan ?”

“Paham !”

“Kemungkinan besar, pada saat ini Kiang To masih berada dalam Istana Harta.” Bisik Cu Tong Hoa lirih. “Karena itu aku terpaksa harus berada di dalam ruangan belakang terus dan melarang anak buahku membocorkan asal-usulku yang sebenarnya… ”

“Macam apakah Kiang To itu ?”

Kejam, ganas, licik, banyak akal. Kesemua ini merupakan watak yang sudah melekat dihati sanubarinya. Sekarang kau boleh pergi, kau pergilah mengurusi pekerjaanmu, jika ada persoalan aku bisa pergi mencari dirimu, bagaimana pun juga kita harus bikin jelas persoalan Kiang To ini.”

“Tapi ……… banyak persoalan aku masih belum jelas!

……..” teriak Pek Thian Kie melengak.

“Soal ini aku tahu,” potong Cu Tong Hoa tidak menanti selesai berbicara. Tapi aku bisa beritahu kepadamu, sekarang kau tidak usah tinggal disini lagi, karena hal ini hanya mendatangkan banyak kerepotan saja buat diriku, dan mulai sekarang kau harus bekerjasama dengan ku.”

“Bagus ! Kapan kau akan datang mencari diriku ?” “Beberapa hari ini!”

“Aku percaya padamu.”

Seluruh pembicaran ini mereka lakukan masih dalam keadaan bergebrak, apa lai nada ucapannya amat perlahan dan lirih, karena itu kecuali mereka berdua tak ada yang mendengar lagi apa yang sedang mereka bicarakan.

Mendadak ………….

Cu Tong Hoa membentak keras, telapak tangannya dengan gencar mengirim satu pukulan mendesak mundur musuhnya kemudian badannya mencelat mundur sejauh satu kaki lebih.

“Tahan !” “Ada apa ?” sengaja Pek Thian Kie berseru ketus, sambil menarik kembali serangannya, iapun meloncat mundur kebelakang.

“Dengan kepandaian silat serta kesempurnaan tenaga iweekang yang kita miliki sekalipun bergebrak selama tiga hari tiga malampin tak ada habis-habisnya, diantara kita tiada ikatan sakit hati maupun dendam, kenapa kau tidak suka kasih sedikit muka untukku ?”

“Baiklah !” pura-pura Pek Thian Kie berpikir sebentar, “Tapi didalam tiga hari mendatang aku pasti akan datang kembali untuk ambil uang tersebut.”

Ketika Pek Thian Kie baru saja selesai berbicara, mendadak pintu ruangan biru terbuka, dan muncullah sang pemuda yang menggembol pedang tadi mengikuti dari belakangnya seorang kakek berpakaian perlente.

“Ciangkwee !” terdengar si kakek tua berpakaian perlente itu berseru. “Kepandaian ilmu pedang dari saudara ini sangat mengagumkan sekali, berikanlah kepadanya seribu tahil emas.”

“Baiklah,” sang Ciangkwee itu menoleh dan memandang sekejap kearah sang pemuda tersebut, “Seribu tahil emas ini kapan hendak kau ambil ?”

“Dalam Tiga hari kemudian.”

“Baik……. Baik ……. Kami akan persiapkan untuk saudara, bila kau merasa buruh setiap saat boleh datang untuk mengambil.”

“Terima kasih cayhe mohon diri terlebih dahulu.”

Melihat kejadian itu berbalik Pek Thian Kie yang dibuat tertegun, ia tidak mengerti mengapa sang pemuda yang menggembol pedang ini tidak sekalian membawa pergi uang seribu tahil emasnya, malahan dititipkan untuk sementara waktu disana ?

Sementara pemuda itu berlalu, Pek Thian Kie menoleh kearah sang Ciang-kwee.

“Siapa orang itu ?” tanyanya perlahan.

“Maaf hamba tak berani memberi jawaban, aku orang punya kewajiban untuk merahasiakan namanya.”

Pek Thian Kie tertawa tawar, tanpa banyak cakap lagi ia lantas berlalu meninggalkan tempat itu dan menguntil dari belakangnya.

Didalam hai ia ada maksud untuk mengetahui siapakah dia dan apa maksudnya minta uang sebesar seribu tahil emas.

Selagi Pek Thian Kie sedang melakukan penguntilan itulah mendadak dari belakang badannya berkumandang datang suara teguran : “Pek-heng, kau mau berangkat ?”

Terlihatlah Tong Liem, kawan yang baru saja ia kenal tidak lama sudah muncul dari belakang tubuhnya.

Pek Thian Kie lantas mengangguk

“Tidak salah, aku mau pergi, maaf aku harus berlalu satu langkah lebih cepat.”

“Pek-heng, kenapa kita tidak berangkat bersama-sama?” “Bukankah kau ingin pinjam uang?”

“Benar …… benar…… Cuma …… aku takut berada disini seorang diri. Aku lihat tempat ini bukan suatu tempat yang aman, aku tidak jadi pinjam uang.”

Mendengar perkataan tersebut, tiba-tiba Pek Thian KIe merasakan hatinya rada bergerak. “Ia sudah datang kemari untuk pinjam uang, tapi sewaktu melihat aku ingin berlalu, ia lantas batalkan maksudnya ……… dia ………. Mungkinkah ia sedang menguntit diriku ? …… “ pikirnya didalam hati …… baiklah ! ….. Aku ingin melihat siapakah kau orang …..”

Berpikir akan persoalan tersebut, ia balik bertanya. “Jadi maksudmu ?”

“Aku ingin berangkat mengikuti dirimu.”

Kontan Pek Thian Kie merasakan hatinya tergetar sangat keras. Sedikitpun tidak salah ! Terang-terangan orang ini ada maksud hendak menguntit didinya. Tak kuasa sang pemuda tersebut merasakan badannya merinding, bulu roma pada bangun berdiri.

“Apa mungkin dialah si manusia yang bernama Kiang To ?” kembali pikirnya.

Pek Thian kie merasakan hatinya samakin bergidik, diam-diam matanya melirik sekejap.

Ketika itu Tong Liem masih beridir ditempat semula dengan satu senyuman manis menghiasi bibirnya,

“Kalau kau ingin ikut marilah !” sahutnya kemudian. Selesai berkata dengan cepat ia meluncur keluar dari

Istana. Sekarang, Pek Thian Kie harus mengejar pemuda

yang menggembol pedang itu dan lihat berasal dari manakah pemuda tersebut, betulkah dia orang sunggug- sungguh berniat untuk menyewa rumah aneh itu ?

Jikalau dugaannya benar, ia harus turun tangan menghadang atau setidak-tidaknya mendahului pemuda itu satu tindak ! Pek Thian Kie sekeluarnya dari pintu Istana, laksana kilat ia meluncur kurang lebih sepuluh kaki kedepan kemudian berkelebat kearah muka, sebentar kemudian ditemuinya pemuda misterius tersebut sedang berjalan menerobosi sebuah hutan.

Pek Thian Kie menguntit lebih jauh.

Mendadak pemuda tersebut berhenti dan mencelat secepat kilat menoleh kebelakang, empat mata bertemu jadi satu tak terasa lagi Pek Thian Kie menghentikan langkah kakinya.

Agaknya sang pemuda tersebut sudah menemukan bila jejaknya sedang dikuntit orang lain, setelah berdiri tertegun beberapa saat kembali melanjutkan perjalanannya kemuka.

Pek Thian Kie yang melihat jejaknya konangan alisnya kontan dikerutkan, mulai saat ini ia tak dapat melakukan pengintai lagi secara terang-terangan.

Ia merandek sejenak, menanti sang pemuda tersebut sudah berlalu agak jauh ia baru melanjutkan kembali kuntitannya kearah muka.

Siapa nyana, didalam waktu yang amat singkat itulah bayangan tubuh dari pemuda tersebut sudah lenyap tak berbekas.

“Aduuuuh ……. Celaka !” teriak Pek Thian Kie dalam hati, tubuhnya menyambar lewat dan melakukan pengejaran secepat kilat.

Gerakan tubuh dari Pek Thian Kie kali ini benar-benar amat cepat, dimana bayangan tubuh berkelebat lewat, ia sudah berada ditempat semula pemuda tersebut berdiri. Matanya dengan cepat menoleh keempat penjuru, telingga dipentang lebar-lebar dan perhatian dipusatkan jadi satu. Tapi tak sesosok bayangan manusiapun yang nampak.

Tak terasa lagi Pek Thian Kie jadi melengak dibuatnya. Suara tertawa dingin bergema memecahkan kesunyian,

sesosok bayangan turun dari tengah udara dan tahu-tahu sudah berdiri dihadapan Pek Thian Kie.

Pek Thian kie merasa bergidik hatinya, buru-buru ia mundur satu langkah kebelakang.

Terlihatlah pemuda yang menggembol pedang tadi pada sat ini sudah berdiri dihadapannya dengan sikap dingin, angkuh dan menyeramkan.

“Aaaaaakh ……!” Pek Thian Kie berteriak tertahan, hatinya berdesir dan ia mengerti bila dirinya sudah kena dijebak.

“Kawan !” Tegur sang pemuda menggembol pedang itu dengan wajah penuh kegusaran. “Apa maksudmu menguntit perjalanan cayhe ?”

Untuk beberapa waktu Pek Thian Kie tak sanggup mengucapkan sepatah katapun, ia membungkam dalam seribu bahasa.

Melihat pihak lawan tidak memberi jawaban, air muka pemuda tersebut berubah semakin hebat.

“Cepat jawab, siapakah kau ?” bentaknya murka. “Heeeee……….heeeee…………heeeee……. dan saudara

sendiri ?” balas Pek Thian Kie sambil tertawa dingin.

“Jawab dulu siapakah kau dan apa maksudmu menguntit perjalanan cayhe ! jika kau membandel hmm ! Jangan salahkan cayhe segera akan turun tangan kejam.” Beberapa patah kata ini diutarakan dengan nada yang dingin, kaku dan ketus, sepasang matanya dengan memancarkan cahaya dingin melototi wajah Pek Thian Kie tak berkedip.

“Heeeee……….heeeee…………heeeee……. jalanan ini juga bukan milikmu, aku mau lewat disini atau tidak, apa sangkut pautnya dengan dirimu ? Belum tentu aku sedang menguntit kau orang !”

“Ooooouw ….. jadi kau masih ingin berlagak pilon ?” “Bukannya berlagak pilon, tapi kenyataan !”

“Bangsat ! Kau mau berterus terang tidak kepadaku, apa maksudmu menguntit diriku ?” Sekali lagi pemuda itu membentak Pek Thian Kie dengan sepasang mata melotot lebar-lebar.

“Jika aku tidak suka bicara ?”

“Akan kupaksa kau untuk menjawab !”

Tak kuasa lagi Pek Thian Kie mendongakkan kepala tertawa tergelak.

“Haaaa……….haaaa…………haaaa……. kalau begitu kau boleh coba-cba.”

“Bangsat kau cari mati …..”

Belum habissuara teriakan tersebut meluncur keluar, satu pukulan yang dasyat sudah menerjang kearah dada Pek Thian Kie.

Pek Thian Kie yang di serang segera mendengus dingin, badannya miring satu langkah kesamping, tangannya dengan gerakan dari bawah menuju keatas menunci dirinya dari serangan musuh.

“Tahan !” teriaknya cepat “Apa yang ingin kau ucapkan kembali ?”

“Kau benar-benar ingin paksa aku untuk turun tangan ?” “Tidak salah, kecuali kau suka menyebutkan siapakah

kau ?”

“Aku lihat lebih baik kau urungkan saja niatmu itu

….heeeee……….heeeee…………heeeee……. karena aku lihat yang bakal rugi adalah kau sendiri.”

“Kalau kau tak percaya …… Nih ! cobalah bagaimana rasanya kepalanku !”

Begitu pemuda tersebut selesai berteriak, bayangan tubuh berkelebat lewat, sekali lagi ia melanjutkan tubrukan kedepan.

Serangan yang dilancarkan kali ini betul-betul cepat laksana sambaran petir, bahkan kesempurnaan dari jurus serangannya sangat luar biasa. Pek Thian Kie merasakan hatinya bergidik, buru-buru ia menyingkir kesamping.

Baru saja ia berhasil meloloskan diri, serangan kedua dari pihak lawan kembali sudah menggulung datang.

Bab 12 Jatuh Cinta

PEK THIAN KIE tertawa dingin telapak tangannya disilangkan didepan dada menangkis datangnya serangan.

Kepandaian ilmu silat yang dimiliki Pek Thian Kie saat ini sudah mencapai taraf kesempurnaan, bilamana tangkisannya ini ia menggunakan seluruh tenaga, jangan dikata sang pemuda yang menggembol pedang ini tak akan sanggup untuk menerimanya, sekalipun siapapun jangan harap bisa menahan pukulan tersebut. Tetapi didalam tangkisannya barusan ini, ia Cuma menggunakan enam, tujuh bagian tenaga saja.

“Braaaak …… !” ditengah suara bentrokan yang sangat keras tubuh pemuda penggembol pedang itu tergetar mundur tiga langkah kebelakang, sedangkan Pek Thian Kie sendiripun tergetar mundur dua langkah kebelakang.

Belum habis mereka mengatur pernapasan, sang pemuda penggempol pedang itu sudah menggembol keras dan sekali lagi menubruk kearah musuhnya.

Bayangan manusia berkelebat menyilaukan mata, berturut-turut ia sudah mengirim tiga buah pukulan sekaligus.

Tiba-tiba …….

Seluruh tubuh Pek Thian Kie berkerut dan menyusut diikuti gemetar sangat keras.

“Aduuuuh …… celaka !” teriakanya terperanjat.

Kiranya setiap hari setelah mendekati waktu ini, maka penyakit sakit hatinya akan kumat kembali, dan kini sewaktu menghadapi musuh tangguh ternyata penyakit tersebut kembali sudah kambuh.

Diiringi suara jeritan ngeri yang menyayatkan hati, tubuhnya oboh keatas tanah.

Pemuda itu roboh bukan disebabkan terkena pukulan, melainkan karena penyakitnya kambuh, saking sakitnya seluruh tubuh berkerut kencang dan seperti ditusuk-tusuk dengan beribu-ribu batang anak panah, sehingga akhirnya saking tak tahannya, ia roboh keatas tanah.

Melihat musuhnya roboh sang pemuda penggembol pedang tersebut dangan cepat menyambar ujung baju Pek Thian Kie dan diangkatnya keatas. “Heeeee……….heeeee…………heeeee…… dengan mengandalkan kepandaian secetek itu, kau masih ingin menguntit diriku …… Hmm ! Sungguh tidak tahu diri,” ejekan sambil tetawa dingin.

“Sungguh suatu lelucon ? Pemuda penggembol pedang tersebut masih mengira Pek Thian Kie roboh disebabkan terkena angina pukulannya.

Waktu itu, saking sakitnya hampir-hampir saja Pek Thian KIe roboh tak sadarkan diri, merasakan dirinya diangkat, ia tak dapat berkutik bahkan untuk berbicarapun tak sanggup.

“Siapa kau ?” kembali pemuda itu membentak keras.

Tapi ….. dapatkah Pek Thian Kie buka suara pada waktu itu ?

Tiba-tiba ……..

“Kawan, lepaskan orang itu !” dari balik hutan bergema suara bentakan seseorang yang sangat dingin.

Terlihatlah Tong Liem dengan sebat sudah meluncur masuk ketengah kalangan.

“Siapakah kau ?” tegur pemuda itu sembari tertawa dingin.

“Soal ini kau tak perlu tahu.” “Orang ini apakah kawanmu ?” “Tidak salah.”

“Apa maksudnya dia menguntit diriku ?”

“Benarkah dia sedang menguntit dirimu, soal ini aku merasa kurang jelas, pokoknya aku perintahkan sekarang juga kau lepaskan orang itu !” “Jika aku merasa keberatan ?’ Tong Liem tertawa dingin semakin seram

“Jika aku kepengin membinasakan dirimu, gampang seperti membalikkan telapak tangan sendiri, kau tidaka percaya ?”

“Sungguh besar bacot anjingmu. Aku lihat kau hendak gunakan cara apa untuk membinasakan diriku.”

“Jadi kau sungguh tiada maksud untuk melepaskan dirinya ?” bentak Tong Liem dengan air muka berubah hebat.

“Betul …… betul …… aku tidak akan lepaskan orang ini, akan ku lihat kau punya kepandaian seberapa lihay.”

“Bangsat, kau cari mati …….”

Ditengah suara bentakan yang sangat keras, tubuh Tong Liem sudah meluncur maju kedepan.

Ditengah berkelebatnya cahaya tajam yang menyilaukan mata, ia sudah melancarkan satu cengkeraman kearah punggung pemuda tersebut.

Serangan cengkeraman ini boleh dikata cepat laksana sambaran kilat ditengah udara.

Tergopoh-gopoh pemuda tersebut berkelit kesamping, lalu menangkis dengan tangan kanannya, setelah itu menggunakan kesempatan yang sangat baik itu mundur kearah belakang.

Sungguh patut disayangkan, gerakan pemuda tersebut rada terlambat satu tindak, tahu-tahu telapak kiri pihak lawan sudah menyambar kembali dihadapan wajahnya.

“Aduuuuuuuuuh ……. Cialat ……. !” tak kusangka lagi pemuda itu menjerit tertahan, terburu-buru berkelit kesebelah kiri. Tetapi, tangan kanan dari Tong Liem sudah menyambar lewat dan tepat menghajar diatas badannya.

Suara dengusan berat bergema memenuhi angkasa, tubuh pemuda yang menggembol pedang itu sudah kena tertotok sehingga berdiri kaku ditengah kalangn, sedangkan tubuh Pek Thian Kie yang berada ditangannpun terjatuh kembali keatas tanah.

Hanya didalam tiga jurus serangan ternyata Tong Liem berhasil menotok roboh sang pemuda menggembol pedang itu, kelihayan dari ilmu keoandaiannya benar-benar mengejutkan sekali.

“Saudara!” terdengar Tong Liem menegur sambil tertawa dingin. “Jika aku kepingin mencabut nyawamu , bukankah sangat gampang seperti membalik telapak tangan sendiri ?”

Nyali pemuda tersebut benar-benar sudah dibuat pecah oleh kelihayan ilmu silat pihak lawan. Selama hidup rasanya belum pernah dia melihat seseorang memiliki kepandaian silat yang sedemikian lihaynya. Kejadian ini boleh dikata merupakan peristiwa yang belum pernah terbayangkan selama ini.

Kembali Tong Liem tertawa manis.

“Mengingat antara kau dengan diriku tiada ikatan sakit hati apa-apa, maka aku tidak ingin menyusahkan dir lebih jauh.”

Tangan kanannya dengan cepat digerakkannya menepuk bebeas jalan darah sang pemuda tersebut.

“Sekarang kau boleh berlalu !” bentaknya. Pemuda itu tetap berdiri tertegun ditengah kalangan, hampir-hampir ia tidak mempercayaai apa yang sedang dilihatnya saat ini.

Kepandaian ilmu silat yang dimilki pemuda berbju hijau ini benar-benar luar biasa tingginya, sehingga susah dijajaki.

“Hmmmmm ! saudaratidak ingin berlalu dari sini, mungkin ingin cari mati?” bentak Tong Liem kembali.

Bagaikan baru saja terbangun dari impian buruk, pemuda itu tertawa pahit, akhirnya putar badan dan berlalu dari sana dengan langkah terburu-buru.

Pada waktu itu Pek Thian Kie masih berguling-guling diatas tanah, karena kesakitan, air mukanya pucat pasi bagaikan mayat, keringat dingin sebesar kacang kedelai keluar tiada hentinya membasahai hampir seluruh tubuh.

“Pek-heng kenapa kau ?” tegur Tong Liem dengan hati sangat kuatir.

“Aku …… aku ….. sakit hati.” “Sakit hati ?”

“Benar ! …..”

Sembari berbicara, Pek Thian Kie tetap mencekali lambungnyanya kencang-kencang.

Tong Liem tidak mengerti apa yang sedang dimaksudkan, akhirnya dengan ali yang dikerutkan rapat- rapat ia berjongkok dan menggendong tubuh Pek Thian Kie kedalam pelukannya.

Seluruh tubuh Pek Thian Kie gemetar sangat keras, tubuhnya tanpa bisa dicegah lagi lantas jatuh kedalam pelukan Tong Liem. “Kau sudah rada baikan ?” Tanya Tong Liem rada melengak.

“Baik …… ! sedikit baikan …..terima kasih heng-thay….

Terima kasih heng-thay suka menolong diriku….”

“Aaaaaakh …… Cuma soal kecil ini, kenapa kau harus ucapkan terima kasih kepadaku ?”

Mendadak Pek Thian Kie merasakan bahwa punggungnya yang menempel pada pangkuan Tong Liem seperti sudah terganjal oleh sebuah benda empuk yang sangat aneh dan misterius sekali bentuknya, disamping itu tercium pula sejenis bau wangi yang merangsang melayang masuk kedalam hidungnya …..

Pada mulanya Pek Thian Kie rada melengak, tapi sebentar kemudian satu ingatan sudah berkelebat didalam benaknya…..

“Aaaaaaakh …… dia adalah seorang gadis yang sedang menyaru sebagai lelaki ……”

Tak tertahan lagi badannya segera meronta bangun, kemudian dengan nada gemetar tanyanya :

“Kau …..”

“Aku ….. kenapa aku ? ……. “ melihat kawannya kaget, Tong Liem jadi melengak dinuatnya.

“Kiranya kau adalah …..”

“Kenapa aku ? Aku adalah apa ?” Tong Liem semakin kebingungan lagi.

“Kau adalah seorang gadis !”

Mendengar perkataan tersebut air muka Tong Liem kontan saja berubah jadi merah padam, bagaikan buah Tauw yang sudah masak. “Benar …… benar ….. aku …… aku adalah seorang gadis …… akhirnya ia menyahut malu-malu.

Untuk beberapa waktu lamanya Pek Thian Kie berdiri temangu-mangu disana, matanya memandang wajah pemuda berbaju hijau atau tepatnya gadis tersebut dengan pandangan mendelong. Peristiwa ini benar-benar merupakan suatu kejadian yang sama sekali tak terduga olehnya.

“Kau tak menyangka bukan ?” tegur Tong Liem sambil tertawa.

“Benar ! Aku tidak menyangka kalau kau adalah seorang gadis !”

“kalau kau orang sudah tahu, tak apalah, anggap saja kau adalah manusia yang paling beruntung. Cuma ….. kau jangan beritahukan kepada orang lain loo ….!

“Aku …… aku tak akan memberitahukan soal ini kepada orang lain, karena kau ….. kau sudah menolong aku lolos dari mara bahaya !”

Kembali Tong Liem tertawa.

“Sebenarnya aku ada maksud untuk mengikuti terus, tapi sekarang kau sudah tahu kalau aku adalah seorang gadis rasanya jika kita harus melakukan perjalanan bersama-sama rada kurang leluasa, maka dari itu, aku terpaksa harus pergi satu tindak terlebih dahulu.”

Berbicara sampai disitu ia lantas berkelebat dan berlalu dari sana.

“Nona …… tunggu sebentar !” mendadak Pek Thian Kie berteriak keras.

“Kau masih ingin mennayakan urusan apa lagi ?” “Aku …… bolehkah aku mengetahui namamu yang sebenarnya ?”

“Aku ? Ooooouw …. Aku bernama Tong Ling !” “Nona Tong! ….. “

Bibir Pek Thian Kie sudah digerakkan tetapi sebentar kemudian ia sudah batalkan maksudnya untuk berbicara, agaknya apa yang ingin ia ucapkan keluar serasa kurang sesuai untuk didengarkan gadis tersebut, kendati begitu air mukanya menunjukkan suatu sikap yang amat aneh sekali.

“Eeeeeei ….. sebetulnya kau ada urusan apa ? Katakanlah secara terbuka …. Seru Tong Ling kembali sambil tertawa pahit.

“Aku …… aku …… aakh ….. aku tidak apa-apa !” “kau membutuhkan kawan lain jenis ?” “Kemungkinan sekali ?”

Perlahan-lahan diatas wajah Tong Ling terlintas suatu perasaan amat sedih dan murung.

“Aku memahami kesunyianmu, dan hal ini sama pula dengan kesunyian yang aku rasakan, orang-orang muda kebanyakan memang tak bakal terhindar dari soal cinta, Cuma saja ………”

Ia menghela napas panjang dan menahan kembali kata- kata selanjutnya yang tidak sempat diucapkan ….. Akhirnya dengan membawa wajah murung, ia berlalu dari sana.

Melihat gadis itu berlalu, Pek Thian Kie lama sekali berdiri melongo.

Secara tiba-tiba ia merasakan hatinya sangat kecewa, pikirannya bagaikan kosong …… mungkin perkataan dari Tong Ling sedikitpun tidak salah …. I membutuhkan seorang kawan lawan jenis.

Dan kebutuhan tersebut bukan lain adalah ……. Cinta.

Tetapi jika ditinjau dari keadaan yang dihadapinya saat ini, ia tak mungkin untuk membicarkan persoalan ini. Masih banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan, apalagi raut muka serta bentuk badannya bukan suatu perawakan yang menarik bagi kaum gadis.

Akhirnya ia tertawa pahit, pikirnya dalam hati :

“Aku harus pergi ke Istana Arak atau Istana Perempuan, aku harus memperoleh sebotol arak “Giok Hoa Lok” serta seorang gadis cantik setelah itu pergi menyewa rumah tersebut …… aku tak akan membiarkan siapapun untuk mendahului diriku …..!”

Setelah mengambil keputusan, iapun mulai menggerakkan badan berlalu dari sana …… pikirannya sangat bingung …… bingung bagaikan menghadapi asal- usulnya sendiri ……”

Istana Arak letaknya disebelah selatan gunung Coa san, dari gunung Liong-san menuju gunung Coa-san kurang lebih ada seratus lie jauhnya.

Bagi setiap orang yang mengerti minum arak, rasanya tak bakal ada yang kenal nama dari Istana Arak tersebut.

Di dalam Istana Arak terdapat arak wangi serta arak- arak terkenal, asalkan setiap orang punya kepandaian lihay, maka tanpa merogoh saku lagi, tentu bisa minum arak sampai mabok …..

Seperti halnya pula dengan Istana Harta, asalkan kau memiliki kepandaian silat tinggi, maka setiap saat bisa datang kesana untuk minta uang. Secara bagaimakah Istana Arak, Istana Perempuan serta Istana Harta itu didirikan ? Mengapa ada orang yang melakukan perbuatan yang demikian anehnya, tak seorang jago kangouw yang tahu.

Hari itu …….

Seorang pemuda kurus kering yanag sangat lemah muncul didepan Istana Arak dengan langkah yang amata lambat.

Seorang kakek tua berbaju hijau menjaga didepan pintu dengan sinar mata tajam, lantas memperhatikan pemuda kurus tersebut, beberapa saat kemudian ia maju kedepan menjura.

“Apakah saudarapun ada maksud untuk mengunjungi istana kami ?” tegurnya lambat.

“Benar!”

“Tolong Tanya siapakah nama majikan saudara ?” “Cayhe Pek Thian Kie.”

“Apa ? Pek Thian Kie ?” teriak si kakek berbaju hijau itu hampir-hampir mencelat ketengah udara saking kagetnya terhuyung-huyung ia mundur dua, tiga langkah kebelakang.

Melihat sikap sang kakek tua yang amat aneh, Pek Thian Kie jadi melengak.

“Kau kenapa ? Apakah ada sesuatu yang tidak beres ?’ “Oooouw …… tidak mengapa ………. Tidak mengapa

……….. mari ………. Mari ……… silakan masuk !”

Dengan angkuh Pek Thian Kie melanjutkan kembali langkahnya masuk kedalam.

Tampaknya ruangan Istana Arak sangat luas, didalam sebuah ruangan tampak tiga puluh meja tersebar dimana- mana, saat ini kurang lebih ada dua puluh orang sedang minum arak.

Ketika Pek Thian Kie hendak berjalan masuk melalui pintu besar, seorang dara berbaju hijau menyambut kedatangannya.

“Selamat datang kedalam istana kami, silakan duduk, silakan duduk ! ….. serunya berulang kali.

Agaknya dara berbaju hijau tersebut adalah gadis pelayan khusus melayani para tetamu yang mengunjungi Istana mereka.

Dengan mengikuti dari belakang dara tersebut, sampailah Pek Thian Kie didepan sebuah meja, ia lantas duduk.

“Tentunya saudara baru pertama kali ini mengunjungi istana kami bukan ? ….. tegur dara berbaju hijau itu memecahkan kesunyian.

“Benar !”

“Untuk minum arak disini kami mempunyai beberapa peraturan.”

“Peraturan ? Apa Peraturannnya ?”

“Untuk minum arak, kami bagi menjadi tiga kelompok !” “Ehmmmm ….. apa saja ketiga kelompok itu ?”

“Atas, tengah dan bawah ….. Arak yang termasuk paling atas dipersembahkan kawan-kawan Bu-lim seperti Ciangbujin, ketua perkumpulan dan lain-lainnya. Arak yang termasuk kelompok tengah diberikan untuk para jago-jago kelas wahid. Sedangkan arak kelompok bawah adalah arak- arak yang diminum kawan-kawan Bu-lim tingkat biasa. Entah sakarang kau minum arak macam apa ?”

“Didalam Arak kelompok atas dibagi pula beberapa macam arak ?” Tanya Pek Thian Kie lagi setelah berpikir sejenak.

“Arak “Hoa Lok”, Arak “Lok Siang” serta Arak “Sim Mie” tiga macam.”

Mendengar hanya macam itu saja, Pek Thian Kie jadi melengak.

“Lalu macam apa saja dalam kelompok Arah Menengah

?”

“Arak “Tan Siang” Arak “Giok Peng” serta Arak “Sam

Jie Cui” Tiga macam.”

Sekali lagi Pek Thian Kie dibuat melengak, didalam dua kelompok arak tersebut ternyata sama sekali tidak terdapat kata-kata arak “Giok Hoa Lok” Apakah arak tersebut termasuk dalam arak kelompok terendah ?

“Bagaimana pula dengan arak kelompok terbaeah ?” akhirnya ia bertanya juga.

“Arak “Cun Siang” Arak “Shia Liang” Arak “Ciu Suang” serta arak “Tong Luan” empat macam. !!

Untuk sesaat lamanya Pek Thian Kie dibuat duduk mematung dengan mulut melongo-longo. Arak “Giok Hoa Lok” merupakan arak yang termahal dikolong langit pada saat ini, dan katanya arak tersebut hanya terdapat didalam Istana Arak saja ?

Kini, ternyata gadis berbaju hijau tersebut sama sekali tidak mengungkap soal arak macam itu.

Lalu apa maksudnya ? dan dimanakah letak “Ceng-li dari persoalan ini ?...... Tak terasa lagi kembali ia bertanya :

“Sudah tidak ada golongan arak lain lagi ?” Dara berbaju hijau itu meleng.

“Sungguh tidak ada !”

“Aaaaakh ….. ! Tidak mungkin ….. masih ada yang lain kan ?”

“Mau pecaya atau tidak terserah padamu. Sekarang kau ingin minum arak dari tingkatan yang mana ?”

“Arak kelompok teratas !”

“Aku piker belum tentu kau orang bisa …… “ jengek sang gadis dinginnya

“Kenapa Tidak bisa ?’

“Arak kelompok terats hanya diperuntukan para jago- jago lihay yang sudah punya nama besar dalam dunia persilatan …..”

“jadi kau anggap aku bukan seorang jagoan lihay yang sudah punya nama besar dalam Bu-Lim ?” teriak Pek Thian KIe dengan air muka berubah hebat.

“Tidak berani ……. Tidak berani …….! Kalau begitu biarlah aku laporkan dulu persoalan ini kepada Ciang-kwee

!”

Sembari berkata dengan langkah yang lemah lembut, ia berjalan menuju kemeja sang Ciang-kwee dan membisikkan sesuatu kepada seorang wanita cantik setengah tua.

Pek Thian Kie menarik kembali sinar matanya dan dialihkan kearah luar pintu Istana …..

Mendadak …… Ia menemukan seorang dara berbaju hijau dengan memimpin seseorang berjalan massuk kedalam Istana, dua orang itu bukan lain adalah sang pemuda yang menggembol pedang itu.

Pek Thian Kie merasakan hatinya berdebar keras, bur- buru ia melengos kesamping.