Manusia Jahanam Jilid 19 Tamat

 
Jilid 19 (Tamat)

Cin Ko waktu sampai disebelah dalam dari gedung itu, dia cepat-cepat telah menyelinap ke balik sebatang pohon Yangliu yang terdapat di situ. Dari tempatnya bersembunyi itu, Cin Ko telah mengawasi sekitar pekarangan tersebut. Ternyata pekarangan gedung ini juga dijaga oleh dua orang lainnya.

Kebetulan sekali kedua orang yang sedang melakukan penjagaan itu berdiri membelakangi dari arah dimana tadi Cin Ko melompat masuk. Coba kalau memang tadi kedua penjaga itu kebetulan menghadap kearah dari mana Cin Ko melompat masuk, niscaya hal itu akan membuat Cin Ko tertangkap basah, jelas mereka akan melihat Cin Ko.

Tetapi disebabkan Cin Ko memang telah berlaku sebat serta gesit, sehingga kedua orang penjaga itu tidak mengetahui di pekarangan  tersebut sudah bertambah satu orang luar. Mereka, kedua penjaga itu, tampaknya te- ngah bercakap-cakap. Cin Ko mengawasi sejenak, waktu dia memperoleh kenyataan kedua orang itu tetap tidak menoleh-noleh ke belakang, dengan hati-hati Cin Ko telah melompat lagi ke dekat belakang batu gunung.  Dia menyelinap ke balik batu gunung itu, lalu dengan gerakan yang ringan telah melompat lagi ke balik sebuah tiang dari sebuah ruangan.

Ruangan itu sepi sekali. Tampaknya tidak ada seorang penjagapun juga. Cin Ko telah menjejakkan kakinya, tubuhnya telah melompat ke atas penglarian

 dari gedung itu. Dia mendekam di atas penglarian itu, mengawasi sekitar ruangan tersebut. Setelah melihat tegas bahwa memang di ruangan tersebut tidak di tempati penjagaan oleh Ban Hong Liu. Cin Ko baru berani melompat turun.

Berindap-indap dia menyusuri ruangan itu. Sudah empat buah ruangan kosong yang dilewati oleh Cin Ko. Ruangan itu umumnya merupakan ruangan yang indah-indah dan diatur megah sekali. Cin Ko tidak tertarik untuk melihat keindahan ruangan tersebut. Karena Cin Ko telah menyelinap masuk terlebih dalam mencari ruangan sidang dimana Yayanya akan disidang oleh Ban Hon Liu.

Ketika Cin Ko akan melewati sebuah ruangan lainnya, tiba-tiba pendengarannya yang tajam dapat menangkap suara langkah kaki seseorang. Cepat-cepat Cin Ko telah menjejakkan kakinya, tubuhnya telah mencelat cepat sekali ke atas penglarian, dia telah berdongko di situ.

Diperhatikannya keadaan dibawahnya. Tidak lama kemudian,   disaat suara langkah kaki itu terdengar semakin mendekat, tampak tiga orang lelaki yang berpakaian seragam sebagai alat negara, telah memasuki ruangan itu.

“Aku jadi bingung!” kata yang salah seorang diantara ketiga orang alat negara

itu. “Sebetulnya apa maksud Tayjin memerintahkan kita hari ini melakukan penjagaan

yang demikian ketat, seperti juga kaisar akan datang berkunjung kemari!” “Memang kaisar akan berkunjung kemari!” menyahuti yang seorang.

Dan setelah berkata begitu, orang tersebut menoleh ke kiri dan ke kanan. Rupanya dia seperti mau melihat apakah di sekeliling tempat itu terdapat orang lainnya atau tidak.

“Kau tahu tidak?!” tanya orang itu dengan suara yang perlahan lagi. “Sebenarnya kaisar memang telah  memerintahkan kepada Kongkong Ban Hong Liu untuk memeriksa tawanan Peng Po Siang Sie See Un, hari ini akan diadakan pemeriksaan terhadap dirinya, dengan sendirinya gedung ini harus dijaga ketat!”

Kawannya yang mendengar perkataan kawan yang seorang ini, jadi terkejut, begitu juga yang seorangnya lagi.

“Benarkah perkataanmu itu?” tanya yang tadi mengeluarkan perkataan pertama.

 “Untuk apa aku mendustai kalian?” balik tanya sang kawan itu. “Apa untungnya? Sudah bagus aku masih mau memberikan perihal  itu kepada kalian!”

Kedua kawannya menghela napas sambil menaikkan  pundak mereka seperti orang terkejut. “Bukan main! Tadinya kami memang tidak mengetahui bahwa akan diadakan sidang untuk tawanan See Un, bekas Peng Po Siang Sie itu!!” kata yang seorangnya. “Untung saja kau memberitahukannya, sehingga kami bisa mengadakan penjagaan yang lebih ketat!”

Kawannya yang satu telah menoleh kepada yang tadi menjelaskan perihal itu.

“Eya, sebenarnya kau mengetahui soal itu dari mana?” tanya sang kawan

itu.

“Dari mana? Sudah tentu dari yang bisa dipercaya!” sahut yang kawan

tersinggung.

“Hmmm, tetapi bisa dipercaya atau tidak perkataanmu itu?” “Tantu saja bisa dipercaya!!”

“Siapa orang itu?” “Mau tahu saja!”

“Tentu dong untuk kepastian diri kami!”

“Jadi kalian tidak mau mempercayai keterangan  yang telah kuberikan

itu?”

“Kalau kau tidak mau menyebutkan sebenarnya jelas kami tidak bisa

mempercayainya”

“Oh celaka! Celaka! Dasar manusia tidak kenal budi aku sudah tidak

mau memberitahukan, itu saja sudah lebih dari bagus untuk kalian!”

“Tetapi selama kau tidak mau menyebutkan siapa sumbernya, kami tidak

bisa mempercayai keteranganmu begitu saja!”

“Jadi kalian tetap mau tahu siapa yang memberitahukan kepadamu?” “Yang memberitahukan hal itu kepadaku adalah Ban Kongkong!” “Ban Kongkong?”

“Ya!”

 “Akh, kau jangan main-main!”

“Apa kau anggap kepalaku ini sudah tidak  mempan lagi oleh senjata tajam sehingga berani sembarangan menyebut nama Ban Kongkong  kalau memang bukannya Ban Kongkong yang mengatakannya?”

Yang dimaksudkan orang itu dengan sebutan Ban Konpkong. adalah Ban Hong Liu Thaykam. Kedua perwira yang lainnya jadi bengong sejenak, mereka satu dengan yang lainnya telah saling pandang Tampaknya mereka seperti orang terkesima.

“Kalian masih tidak percaya?”

“Menakjubkan sekali! Benar-benar  sukar dapat dipercaya!  Apakah dengan pangkat sekarang yang kau miliki ini kau bisa bertemu begitu bebas dengan Ban Kongkong dan juga sampai Ban Kongkong memberitahukan kepadamu perihal rahasia yang begitu penting?”

“Kalau kalian tidak mau percaya, ya sudah!” kata perwira yang

seorangnya itu, tampaknya dia mendongkol bukan ma in.

Sedangkan perwira ini setelah berkata begitu dia telah melangkah pergi.

Kedua perwira lainnya juga telah melangkah pergi.

Cin Ko yang sejak tadi mendengarkan dari atas penglarian merasakan hatinya agak berdebar. Karena ketiga  perwira itu membicarakan perihal Yayanya. Cuma saja yang menjadi penyesalan Cin Ko, mengapa ketiga orang itu tidak mau menyinggung-nyinggung tempat sidang itu. Bukankah kalau memang Cin Ko sudah mengetahui tempatnya, berarti dia tidak usah terlalu mencari-cari kesana kemari.

Sampai sebegitu lama ketiga perwira itu tidak pernah menyinggung- nyinggung perihal tempat sidang itu. Cin Ko terus juga mendekam dipenglarian itu, menantikan sampai ketiga perwira tersebut lenyap dari tempat itu

Setelah ketiga perwira itu tidak terlihat bayangannya  lagi, barulah Cin Ko melompat turun kebawah. Cin Ko berindap-indap telah memasuki ruangan lainnya. Tetapi semakin memasuki ke dalam gedung i tu, semakin banyak Cin Ko hampir berpapasan dengan orang-orangnya Ban Hong Liu.

Dengan sendirinya, Cin Ko dapat menerkanya bahwa tentu di sekitar tempat itu terdapat sesuatu yang penting, sehingga disekelilmg tempat tersebut diadakan penjagaan yang semakin lama semakin ketat dan rapat.

Dengan sendirinya, Cin Ko juga berlaku lebih waspada. Setiap kali dia hampir berpapasan dengan orang-orangnya Ban Hong Liu, selalu saja Cin Ko

 dapat mengelakkan pertemuan mereka itu dengan mencari tempat untuk menyembunyikan dirinya.

Untung saja Cin Ko memiliki ginkang (ilmu mengentengkan tubuh) yang tinggi dan sempurna sekali, sehingga dengan mudah dia dapat menyembunyikan diri disembarang waktu dan tidak pernah diketahui oleh orang-orangnya Ban Hong Liu.

Tetapi akhirnya Cin Ko sendiri merasakan, kalau memang dia selalu berbuat begitu, niscaya akhirnya dirinya akan kena dipergoki  oleh  orang- orangnya Ban Hong Liu. Maka dari itu, Cin Ko telah memutar otak mencari jalan keluar.

Akhirnya dia telah mengambil suatu keputusan, bah wa dia harus dapat menangkap dan membekuk salah seorang pengawal di gedung Ban Hong Liu ini. Lalu melucuti pakaian orang itu, dan memakainya. Karena dengan cara demikian, barulah Cin Ko dapat bergerak lebih leluasa.

Sejak berpikir begitu, Cin Ko jadi mengawasi setiap orang-orangnya Ban Hong Liu ini melewati didekat tempat persembunyiannya. Selama itu Cin Ko belum juga turun tangan, karena dia memang ingin melihat dan menantikan orang yang memiliki bentuk tubuh yang hampir bersamaan dengan ukuran badannya, agar dia bisa mempergunakan pakaiannya.

Tetapi orang yang diincar-incar oleh Cin Ko masih juga belum dapat dilihatnya. Lama juga Cin Ko mendekam diatas penglarian tanpa berani bergerak sedikitpun juga. Suatu kali, dikala keadaan disekitar ruangan itu telah sunyi lagi, Cin Ko ingin melompat turun.

Namun belum lagi Cin Ko menggerakkan tubuhnya, dia dikejutkan oleh suara batuk seseorang. Dengan sendirinya Cin Ko jadi memba talkan maksud untuk turun. Dia tetap mendekam di atas penglarian kamarnya itu tanpa berani bergerak sedikitpun juga. Diawasinya kearah pintu ruangan itu, dan dia mendengar suara langkah kaki yang mendekati.

Tidak lama kemudian pintu ruangan itu telah terbuka dan melangkah masuk sesosok tubuh. Tetapi begitu melihat orang itu, Cin Ko kaget setengah mati. Matanya telah terpentang lebar-lebar, karena ia melihat muka orang itu dan mengenalnya.

Hampir saja Cin Ko tidak dapat menahan diri dan mengeluarkan seruan tertahan. Untung saja Cin Ko masih teringat bahwa saat ini dia tengah melakukan suatu tugas yang penting, dengan sendirinya Cin Ko ma sih bisa menahan gelora dihatinya dan menindih perasaan kagetnya. Karena Cin Ko mengenalinya bahwa orang itu tidak lain dari Seng Kim!

 Tentunya kenyataan seperti ini, dimana Seng Kim berada di gedungnya Ban Hong Liu telah mengejutkan hati Cin Ko, terkejut berbareng girang

“Entah Seng Kim Koko sedang melakukan apa di gedungnya Ban Hong Liu ini? Sebenarnya siapakah Seng Kim Koko itu? Mengapa dia berada  di gedungnya Ban Hong Liu ini?”

Lagi pula tampaknya Seng Kim tenang-tenang saja, berjalan seperti di suatu tempat

yang memang tidak terdapat suatu. Dilihat dari cara berjalannya itu yang mem- buat Cin Ko jadi tambah heran dan menduga-duga, penuh kecurigaan terhadap Seng Kim.

Karena biar bagaimana memang kenyataannya Seng Kim kalau mempunyai maksud yang sama dengan Cin Ko, niscaya dia akan bersikap tegang dan juga hati-hati, selalu penuh kewaspadaan. Seng Kim telah melangkah beberapa tindak, lalu berdiam diri di tengah-tengah ruangan.

Tampaknya dia seperti sedang bimbang dan berpikir sesuatu. Melihat ini Cin Ko jadi tambah heran saja, dengan hati yang berdebar Cin Ko telah mengawasi kearah Seng Kim. Dilihatnya Seng Kim masih berdiam diri di tengah-tengah ruangan.

Tangan kanannya mengusap-usap dagunya, seperti juga dia sedang memikirkan sesuatu.

“Hmmm!” berpikir Cin Ko di dalam hatinya sambil mendekam terus di atas pencarian itu. “Sebenarnya apakah yang ingin dikerjakan oleh Seng Kim Koko? Tampaknya dia begitu tenang, tidak takut akan dijumpai oleh orang- orangnya Ban Hong Liu. Hmmm malahan pakaiannya begitu mewah, seperti pakaian seorang putera bangsawan! Bukan main! Bukan main! Apa yang sebenarnya ingin dilakukan oleh Seng Kim Koko?!”

Dan dengan penuh tanda tanya, Cin Ko masih terus juga mendekam di atas penglarian itu mengawasi kearah Seng Kim. Saat itu Seng Kim seperti sudah dapat berpikir sesuatu. Dia telah menepuk tangannya tiga kali. Apa yang dilakukan oleh Seng Kim membuat Cin Ko jadi tambah heran.

Saking herannya Cin Ko sampai mengawasi  dengan mara yang terpentang lebar-lebar. Dan yang lebih mengejutkan Cin Ko menambah kecurigaan hatinya, begitu Seng Kim menepuk tangannya  tiga kali, maka tampak bergegas dua orang berpakaian seragam seperti perwira.

Dengan sendirinya, C n Ko segera mengetahui Seng Kim adalah orang yang berdiri dipihak Ban Hong Liu.

 “Ada perintah apakah Siauw Kongya?” tanya kedua perwira itu hampir

berbareng

Yang tambah mengherankan hati Cin Ko, ikar kedua perwira itu, yang tampaknya memiliki ilmu dan kewibawaan yang  besar, sangat mengbormati Seng Kim. Malahan kedua perwira itu berkata-kata sambil membungkukkan tubuhnya memberi hormat kepada Seng Kim.

Seng Kim tetap berdiri dengan sikapnya yang angkuh bukan main.

“Hmmm, apakah sidang Peng po Siang Sie See Un sudah dimulai?”' tanya

Seng Kim.

“Belum!” menyahuti kedua perwira itu “Apakah Siauw Kongya (panggilan menghormati putera pembesar) berminat untuk ikut  menyaksikan jalannya sidang itu?”

Seng Kim menggelengkan kepalanya.

“Tidak!” sahut Seng Kim. “Aku hanya ingin meneetahui saja, sebenarnya mengapa Peng Po Siang Sie See Un itu ditahan oleh ayahku?! Kalian sebagai pengawal pribadi ayahku, tentu mengetahui apa kesalahan dari Peng Po Siang Sie itu?!”

Hati Cin Ko jadi tergoncang keras sekali, pertama-tama hatinya berdebar keras karena dia mendengar bahwa pcmbicaraan Seng Kim itu adalah perihal diri Yayanya, yaitu Peng Po Siang Sie See Un.

Dan yang lebih-lebih mengejutkan hati Cin Ko lagi, Seng Kim telah mengatakan bahwa yang menangkap Peng Po Siang Sie See Un adalah ayahnya!

“Apakah Seng Kim Koko ini adalah putera dari Ban Thaykam?” berpikir Cin Ko dengan hati yang berdebar keras sekali. Dan entah mengapa, perasaan Cin Ko jadi kacau sendirinya. Saat itu kedua orang perwira tersebut telah membungkukkan tubuh mereka memberi hormat lagi.

“Menurut apa yang kami ketahui, bahwa Peng Po Siang Sie sampai ditangkap oleh Hongte (kaisar) disebabkan dosa-dosanya  yang telah memberontak terhadap negara! Karena Peng Po Siang Sie See Un telah bekerja sama dengan pihak Mongolia!”

Mendengar perkataan kedua perwira itu, Seng Kim tampak mengangguk- anggukkan kepalanya. Tetapi Cin Ko benar-benar tidak dapat menerima perkataan kedua perwira itu. Biar bagaimana dia mengetahui bahwa Yayanya adalah orang yang setia pada negara.

 Hampir saja Cin Ko tidak bisa membendung perasaannya dan tidak bisa menahan goncangan hatinya. Dia hampir saja mau berteriak  mengatakan bahwa Yayanya bukan pemberontak seperti apa yang dikatakan oleh kedua perwira itu.

Saat itu, Seng Kim terdengar telah berkata lagi dengan suara yang acuh tidak acuh :

“Apakah semua kesalahan yang diakukan oleh Peng Po Siang Sie See Un

itu memang telah ada di tangan ayahku?” tanya Seng Kim lagi.

“Entahlah, untuk  itu kami belum mengetahuinya!” sahut kedua perwira

itu hampir berbareng.

“Hukuman apakah yang sekiranya akan dijatuhkan kepada diri Peng Po

Siang Sie See Un kalau umpama kata nanti bisa dibuktikan kesalahannya itu?”

“Sudah   tentu hukumai mati dengan memancung   kepalanya!”  kata

perwira itu.

“Hmmm! Hukuman mati!” menggumam Seng Kim sambil mengusap-usap dagunya, dia tidak mengatakan lain-lainnya lagi.

Kedua perwira itu jadi agak bingung melihat Seng Kim berdiam diri.

Mereka saling lirik satu dengan yang lainnya, sampai akhirnya  salah seorang diantara mereka memberanikan diri bertanya :

“Apakah apakah pada kata-kata kami tadi ada suatu kesalahan?”

tanyanya.

Seng Kim menggelengkan kepalanya.

“Tidak!” sahut Seng Kim kemudian dengan suara yang perlahan. “Aku sedang memikirkan perihal hukuman mati terhadap Peng Po Siang Sie See Un itu!”

Berkata sampai disitu, Seng Kim berdiam diri lagi sesaat. Dan yang tergoncang hebat adalah hati Cin Ko, karena dia mendengar bahwa yang sedang dibicarakan oleh Seng Kim pertama-tama adalah Yayanya, dan kedua yang sedang diperbincangkan lagi oleh Seng Kim adalah perihal hukuman mati didiri Peng Po Siang Sie See Un.

Sebenarnya apa maksud Seng Kim membicarakan persoalan itu? Siapa Seng Kim sebenarnya? Mengapa Seng Kim bisa berada di gedung Ban Hong Liu dan bisa bergerak leluasa. Malah yang paling mengherankan hati Cin Ko adalah mengapa kedua perwira itu tampaknya demikian menghormati sekali Seng Kim.

 Juga menurut dugaan Cin Ko, apakah Seng Kim itu putera dari Ban Hong Liu? Karena didengar dari perkataannya itu, bahwa yang menangkap Peng Po Siang Sie See Un adalah ayahnya si anak muda Seng Kim.

Tentu saja hati Cin Ko jadi tergoncang keras dan perasaannya jadi tidak menentu. Biar bagaimana dia ingin sekali mengetahui siapakah sebenarnya Seng Kim. Karena pada diri pemuda Seng Kim itu terdapat berbagai keanehan. Dan juga tanda tanya besar dihati Cin Ko, yang terlalu membingungkannya. Biar bagaimana memang Cin Ko ingin sekali mengetahui siapa adanya Seng Kim.

Untuk mengetahui bahwa Seng Kim adalah salah seorang yang berdiri dipihaknya untuk membela Peng Po Siang Sie See Un, jelas hal itu tidak mungkin, karena Seng Kim tampaknya begitu dihormati oleh perwiranya Ba n Hong Liu.

Dengan sendirinya, setidak-tidaknya Seng Kim merupakan orang yang cukup dihormati oleh orang-orangnya Ban Hong Liu, maka setidak-tidaknya juga Seng Kim pasti merupakan orang penting di gedung Ban Hong Liu ini.

Malahan Cin Ko telah berpikir lebih jauh lagi, kalau memang Seng Kim ini bukan putera dari Ban Hong Liu, tentu Seng Kim bekerja pada Ban Hong Liu, menjual diri untuk melindungi Ban Hong Liu, menjadi salah seorang pengawal pribadi Ban Hong Liu.

Namun, sampai detik itu, Cin Ko masih juga belum bisa mengambil suatu kesimpulan terhadap diri Seng Kim. Tetapi memang Cin Ko juga menyadarinya bahwa Seng Kim memang memiliki kepandaian yang tinggi sekali, karena Seng Kim memang memiliki kecerdikan yang bukan main. Maka dari itu, biar bagaimana jelas Seni Kim telah mempelajari ilmu yang banyak sekali, sebab setiap ilmu yang dipelajarinya, akan dapat dikuasainya dengan cepat  dan mudah.

Maka dari itu, Cin Ko berpikir jugat bahwa dia harus berlaku hati-hati jikalau menghadapi Seng Kim, sebab kepandaian Seng Kim  jelas sudah mengalami banyak kemajuan kalau dibandingkan dengan beberapa saat yang lalu.

Saat itu Seng Kim telah menghela napas.

“Mengapa ayah mau menyibukkan diri untuk mengurusi persoalan Peng

Po Siang Sie See Un?” menggumam Seng Kim dengan suara yang perlahan.

Kedua Orang perwira itu berdiam diri saja, tampaknya mereka tidak berani mengeluarkan pendapat.

 “Hmmm, apakah menurut kalian Peng Po Siang Sie See Un itu berdosa dan bersalah?” tanya Seng Kim tiba-tiba dan mengawasi tajam.

Ditanya begitu, kedua orang perwira tersebut jadi kemekmek. Mereka tidak bisa segera menyahutinya, hanya saling pandang satu dengan  yang lainnya.

Cin Ko yang bersembunyi di atas penglarian jadi merasa tegang sendirinya. Dia mengawasi saja dengan hati yang tergoncang keras.  Karena dia sendiri juga ingin mendengar apakah Yayanya itu memang benar-benar bersalah dan berdosa sehingga harus menerima hukuman mati?!

Apa lagi memang sekarang keluarga dan keturunan See telah dihancurkan. dengan sendirinya Cin Ko ingin mendengar pendapat  kedua perwira itu, apakah benar-benar Yayanya telah melakukan kesalahan yang demikian besar sehingga harus menerima hukuman yang demikian berat?!

Seng Kim jadi mengerutkan sepasang alisnya waktu melihat kedua perwira itu berdiam diri saja.

“Mengapa kalian berdiam diri saja?” tegurnya tidak senang,

Tentu saja kedua kedua perwira itu jadi gelagapan ditegur demikian. Tampaknya mereka gugup dan serba salah untuk menyahuti pertanyaan Seng Kim.

“Ini ini   kami kurang begitu mengetahui!” akhirnya salah seorang diantara mereka menyahuti juga. “Karena kami hanya menerima perintah atasan dan dengan sendirinya kami tidak mencampuri persoalannya!”

Wajah Seng Kim muram.

“Hmmmm!” mendengus Seng Kim. “Inilah keanehan yang sering terjadi di dunia ini! Kita semua tidak bisa mendustai diri kita masing-masing, walaupun di mulut kita berkata demikian begini begitu, tokh kenyataannya isi hati kita tidak bisa didustai!”

Dan setelah berkata begitu, Seng Kim menghela  napas lagi. Kedua perwira itu jadi berdiam diri saja seperti sedang mendengarkan perkataan Seng Kim. Begitu juga halnya dengan Cin Ko, yang jadi memasang pendengarannya dengan hati yang berdebar. Biar bagaimana Cin Ko memang ingin mendengar kelanjutan perkataan Seng Kim. Sebab memang Seng Kim setidak-tidaknya adalah kakak seperguruannya juga.

 Namun disebabkan pertemuan ini terjadinya demikian tiba-tiba, dan juga Cin Ko melihat bahwa Seng Kim berada disarang musuhnya, sehingga timbul bermacam-macam dugaan yang menyebabkan Cin Ko tidak lantas menegurnya.

Dia jadi ingin mengetahui isi hati Seng Kim, dan setiap perkataan yang diucapkan oleh Seng Kim itu bisa juga ditarik kesimpulan siapa sebenarnya Seng Kim. Maka dari itu Cin Ko memasang pendengarannya terus. Biar bagaimana Cin Ko berdoa di dalam hatinya, mengharapkan bahwa Seng Kim tidak mempunyai pandangan yang keliru terhadap Yayanya.

Saat itu setelah menghela napas, Seng Kim telah melanjutkan perkataannya lagi :

“Kita tidak bisa membohongi hati kita sendiri, hati kita masing -masing

!” kata Seng Kim. “Coba kalian berdua bayangkan,  bukankah kita semuanya mengakui bahwa Peng Po Siang Sie See Un itu merupakan seorang Peng Po Siang Sie yang paling setia membela negara,  juga dia telah mati - matian di perbatasan mempertahankan negeri kita! Lagi pula memang Peng Po Siang Sie See Un seorang yang jujur, sukar diajak berdamai untuk melakukan sesuatu pengkhianatan atau melakukan suatu perbuatan curang! Tetapi mengapa justeru menteri seperti dia ini ditangkap oleh ayahku? Mengapa?”

Waktu mengucapkan perkataannya yang terakhir ini,  tampaknya Seng Kim menyesali perbuatan ayahnya. Entah siapa ayahnya yang dimaksud itu, pikir Cin Ko.

Saat itu Cin Ko juga jadi sangat terharu sekali, karena dia mendengar perkataan Seng Kim yang membela Yayanya itu. Dengan sendirinya disamping perasaan terharu, Cin Ko juga merasa berterima kasih sekali.

Hampir saja Cin Ko tidak bisa menguasai dirinya, dan dia ingin memanggil Seng Kim serta turun dari tempat persembunyiannya. Untung saja Cin To segera teringat bahwa dirinya sedang melaksakan tugas yang berat. Maka dari itu segala apa yang dilakukannya harus hati-hati. Dengan sendirinya Cin Ko jadi bisa mempertahankan gelora hatinya, menekan perasaannya. Dia mengawasi terus kearah Seng Kim.

Dilihatnya kedua perwira itu masih berdiam diri menundukkan kepala dalam-dalam. Mereka tidak berani memberikan reaksi apapun juga. Karena kalau yang mengatakan perkataan itu orang lain, niscaya mereka akan segera menangkapnya. Tetapi sekarang orang yang mengucapkan perkataan tersebut justeru orang yang mereka hormati dan juga merupakan majikan mereka.

Dengan sendirinya mereka jadi kikuk dan tidak bisa berkata apa-apa. Dan kedua perwira tersebut hanya dapat menyengir pahit saja. Biar bagaimana

 mereka tidak berani untuk mengeluarkan pendapat mereka pribadi menge nai persoalan yang bersangkut paut urusan Peng Po Siang Sie See Un.

Seng Kim sendiri telah menghela napas beberapa kali lagi. Tampaknya seperti ada seuatu yang mengganggu pikiran Seng Kim ini.

“Apakah apakah ada perintah lainnya, Siauw Kongya?”  tanya salah seorang perwira itu dengan suara tidak lampias, karena kedua perwira ini merasa tidak tenang dan canggung berdiam diri sebegitu lama.

Seng Kim seperti tersadar dari lamunannya, dia menghela napas lagi. '“Sekarang apa tugas kalian?” tanya Sen Kim sambil menatap “Menjaga keamanan!”

“Menjaga   keamanan?'

“Ya Siauw Kongya   menjaga keamanan gedung ini!”

“Hmmm berapa lama kalian bertugas untuk menjaga keamanan?” “Kurang lebih satu minggu, tetapi itupun tidak menentu, karena yang

terpenting   selesainya jalan sidang saja!” sahut perwira itu.

“Jadi kalian selama ini dikerahkan hanya untuk menjaga gedung ini?” “Benar!”

“Apakah akan terjadi kerusuhan?”

“Menurut dugaan dari Ban Kongkong akan   banyak sekali perusuh-

perusuh.”

“Hmm, siapa mereka?”

Ditanya begini, kedua perwira itu jadi bengong lagi. Mereka jadi saling pandang dengan tatapan mata tidak mengerti.

“Kami kami juga kurang begitu jelas!” akhirnya salah seorang diantara mereka menyahuti juga. “Cuma saja, menurut keterangan yang diberikan oleh Kongkong bahwa yang akan datang mengacau jelas orang-orang  yang mempunyai sangkut paut atau hubungan dengan Peng Po Siang Sie See Un itu, maka dari itu, menurut Ban Kongkong ada baiknya kita berlaku waspada agar tidak kecolongan oleh orang-orang tersebut!”

 “Hmmm    sikap hati-hati seperti ini sebetulnya hanya berlebih-lebihan belaka, karena menurut penglihatanku, jelas tidak ada orang yang mau atau berani memasuki kandang macan!”

“Itu itupun   memang   sama   dengan   pemikiran   kami!”   sahut   kedua

perwira tersebut yang tidak mau terlalu menentang perkataan Seng Kim.

Tetapi siapa tahu, begitu kedua perwira tersebut berkata begitu, Seng Kim telah menoleh dan mengawasi kearah kedua perwira itu dengan mata yang mencilak.

“Jadi kalian tidak mempercayai perkataan ayahku itu?” tegurnya.

Ditanya demikian, hati kedua perwira itu jadi terkesiap. Sedikitpun juga mereka tidak menyangka Seng Kim akan bertanya begitu. Seketika itu pula wajah kedua perwira ini telah berobah jadi pucat. Cepat-cepat maereka telah membungkukkan tubuh mereka memberi hormat.

“Mana berani kami meragukan perkataan Ban Kongkong!” sahut mereka cepat dengan suara agak tergetar, menunjukkan jantung mereka tengah tergoncang keras. “Ban Kongkong mempunyai pandangan yang luas dan jauh, tentu apa yang dipikirkan oleh Ban Kongkong memang benar keseluruhannya!”

Berulang kali mereka telah membungkukkan tubuh mereka memberi hormat kepada Seng Kim, menunjukkan mereka tidak berani mempertanggungjawabkan perkataan mereka tadi,  karena urusan yang bersangkut paut dengan Ban Kongkong, yang menurut perkataan dari Seng Kim adalah ayah dari pemuda ini. sangatlah berbahaya sekali sama juga bermain-main dengan api belaka!

Seng Kim mendengus tertawa dingin.

“Hmmm sudahlah! Kalian boleh pergi!!” kata Seng Kim kemudian.

Kedua perwira itu baru lega hati mereka, karena serasa mereka baru saja terbebaskan dari gandulan sebuah batu yang berat sekali. Sambil cepat- cepat memberi hormat, mereka mengucapkan berulang kali ucapan terima kasih. Lalu kedua perwira itu nyelonong pergi. Diam-diam kedua perwira itu juga telah menghapus keringat dingin dikening mereka. Karena mereka beranggapan, berada bersama-sama Seng Kim lebih lama, tentu sangat berbahaya sekali. Dengan sendirinya, mau tidak mau mereka memang ingin cepat-cepat agar dapat berlalu.

Seperginya kedua perwira itu, Seng Kim menghela napas berulang kali. Tampaknya Seng Kim jeagkel bukan main, mukanya murung sekali. Cin Ko

 yang berdiam di atas penglarian bersembunyi di situ, menyaksikan sikap dan lagak dari Seng Kim.

Sebetulnya Cin Ko ingin melompat turun dan memanggil Seng Kim, menemuinya. Tetapi dihati Cin Ko saat itu terjadi suatu pertentangan. Dikala mereka berada di dalam satu pintu perguruan pada tempo hari, memang kenyataannya Seng Kim menyayangi Cin Ko, menyayangi adik seperguruannya. Begitu juga Cin Ko, menghormati Seng Kim dan menyayangi juga.

Tetapi, sekarang saat ini Cin Ko terbentur sedang berurusan dengan Ban Hong Liu Thaykam. Dan juga urusan itu bukan urusan kecil. Yang membuat Cin K o ragu-ragu untuk menemui Seng Kim karena dia mendengar Seng Kim selalu membahasakan diri Ban Hong Liu Thaykam dengan sebutan ayah, berarti Seng Kim ini adalah putera dari Thaykam tua itu.

Dengan sendirinya, Cin Ko tidak berani untuk bertindak sembarangan dan sembrono. Mau tidak mau memang Cin Ko harus  mempertimbangkan setiap tindakan yang ingin diambilnya. Maka dari itu, walaupun Cin Ko melihat bahwa Seng Kim telah berseorang diri di dalam ruangan tersebut, namun dia tidak berani untuk melompat turun menemui Seng Kim, karena dia takut tugas yang sedang dilaksanakannya akan berantakan sama sekali

Itulah sebabnya maka Cin Ko hanya berdiam diri saja. Dia tidak berani bergerak sedikitpun juga, dia hanya berdiam diri mendekam di atas penglarian, karena biar bagaimana dia jadi tidak mau kalau sampai Seng Kim mengetahui bahwa dia bersembunyi di atas penglarian itu.

Sedangkan Seng Kim masih berdiam diri saja diruangan itu. Cin Ko jadi serba salah. Kalau memang Seng Kim berdiam terus menerus diruangan itu, niscaya dia jadi tidak bisa melakukan apa-apa, karena seperti terhalang oleh Seng Kim.

Namun, biar bagaimana memang Cin Ko ingin agar Seng Kim cepat-cepat angkat kaki berlalu dari ruangan itu, agar dia bisa melaksanakan tugasnya.

Persoalan dia menemui Seng Kim, itu urusan nanti kalau memang mereka mempunyai jodoh untuk bertemu lagi.

Keadaan jadi tegang sekali bagi Cin Ko, karena pada saat itu waktu sangat perlu sekali bagi Cin Ko, biar bagaimana dia tidak mau kalau sampai pekerjaan untuk menolong Yayanya itu mengalami kegagalan.

Seng Kim menarik napas lagi beberapa kali, dia berjalan mondar mandir di ruangan itu.

 Cin Ko mengawasi terus. Tetapi biar bagaimana Cin Ko tidak berani untuk mengawasi tajam-tajam. Sebab setiap manusia memang mempunyai perasaan yang halus, kalau ditatapi terus menerus dengan sor ot mata yang tajam oleh seseorang, biarpun dia tidak mengetahui, toh bisa menoleh tanpa disadarinya.

Kalau sampai hal seperti itu terjadi pada diri Seng Kim, berarti Cin Ko akan diketahui tempat persembunyiannya. Itulah sebabnya Cin Ko tidak berani untuk menatap terlalu tajam.

Waktu berjalan perlahan seperti merangkak menambah kegelisahan hati Cin Ko. Tetapi saat itu tampak Seng Kim telah berjalan menghampiri pintu.

Cin Ko diam-diam jadi berdoa di dalam hatinya, agar Seng Kim cepat- cepat meninggalkan ruangan tersebut. Dan Seng Kim telah keluar dari ruangan itu.

Cin Ko tidak lantas melompat turun dari tempat persembunyiannya. Dia tetap mendekam di atas penglarian itu, untuk melihat dulu bahwa keadaan benar-benar telah aman dan memang telah mengijinkan.

Ketika dia telah melihat sesaat dan bahwa tidak ada orang lainnya di ruangan itu, barulah Cin Ko melompat turun dari atas penglarian itu.

CIN KO berdiri sejenak di depan pintu ruangan itu, dia bimbang untuk membuka pintu tersebut, karena Cin Ko kuatir kalau-kalau begitu dia membuka pintu tersebut, tidak tahunya ada penjaga di luar ruangan tersebut.

Maka dari itu, setelah berdiam diri sejenak, Cin Ko kemudian dengan hati-hati membuka sedikit pintu itu, lalu dia mengintai keluar ruangan dari sela pintu itu

Sepi. Ternyata keadaan di luar ruangan itu merupakan sebuah ruangan lainnya yang besar. Tidak terlihat seorang manusiapun juga. Cin Ko ketika melihat keadaan memang tidak membahayakan, telah membuka pintu itu dan telah melangkah keluar dari ruangan tersebut

Tetapi biarpun Cin Ko melihatnya di sekitar tempat itu tidak ada seorang manusiapun juga, tokh dia tidak berani berlaku ceroboh. Dia telah bertindak dengan penuh kewaspadaan, agar kalau ada seseorang yang memergokinya, dia bisa untuk segera menyembunyikan diri.

Maka dari itu, mata Cin Ko telah rnencilak-cilak cepat sekali mengawasi sekitar tempatnya berada, tampaknya waspada sekali.

 Keadaan tetap sunyi. Cin Ko melihat disebelah kanan terdapat sebuah pintu lainnya. Cin Ko telah menghampirinya. Dibukanya sedikit pintu itu yang memang tidak terkunci. Ternyata pintu menghubungi ke ruangan lainnya, juga tidak terlihat seorang manusiapun juga.

Keadaan sama saja dengan sebelumnya, sunyi dan sepi. Cin Ko telah membuka pintu itu dan melangkah keluar dari ruangan tersebut. Dengan sikap yang tetap waspada Cin Ko telah berjalan menuju ke ruangan lainnya.

Namun baru melangkah beberapa tindak, tiba-tiba pintu di belakangnya itu telah terbanting keras, sehingga meninggalkan suara yang keras dan juga telah tertutup rapat.

Hal ini telah mengejutkan Cin Ko, hatinya tercekat. Dia telah menoleh ke belakangnya. Tetapi Cin Ko hanya melihat pintu itu yang telah tertutup, tetapi tidak terlihat seorang manusiapun juga.

Dengan sendirinya Cin Ko jadi mengerutkan sepasang alisnya. Apakah mungkin pintu itu telah tertutup begitu keras hanya disebabkan oleh tertiup angin belaka? Maka dari itu, hati Cin Ko jadi bimbang sekali, dia mengawasi sekitarnya. Tetapi keadaan tetap sunyi. Dengan sendirinya Cin Ko jadi heran dan agak bingung.

Tetapi keadaan sekeliling itu yang sunyi dan tidak terlihat seorang manusiapun juga telah membuat Cin Ko bimbang menentukan langkahnya untuk selanjutnya.

Perlahan-lahan Cin Ko telah menghampiri pintu itu. Dia mendorongnya untuk membuka pintu itu. Tertutup keras! Seperti terkunci dari luar! Tentu saja hati Cin Ko jadi tercekat kaget sekali. Dia sampai mengeluarkan seruan tertahan saking kagetnya.

Dengan sendirinya Cin Ko dapat menduganya bahwa pintu itu tertutup bukan disebabkan tiupan angin. Tentu seseorang yang telah menutupnya. Dan seketika itu juga Cin Ko dapat menerkanya bahwa dirinya telah masuk ke dalam perangkap! Hati Cin Ko berdebar cukup keras, segera juga matanya menyapu keadaan sekelilingnya.

Tidak terlihat seorang manusiapun, tetap sunyi saja keadaan di situ.

Sepasang alis Cin Ko mengkerut dalam-dalam.

“Hmm, ternyata mereka memang telah memasang perangkap!” berpikir Cin Ko. “Tetapi mengapa mereka tidak memperlihatkan diri?”

Dan sambil berpikir begitu Cin Ko beru saha mengerahkan tenaga dalamnya. Dia menyalurkan tenaga murninya itu kepada kedua telapak

 tangannya. Dia telah mengemposnya untuk mendorong pintu itu agar terbuka. Namun kenyataannya pintu tersebut terkunci rapat-rapat dari luar. Jangankan terbuka, bergerak saja tidak, tanpa bergeming.

Cin Ko tambah gelisah. Dia mencari-cari apakah di sekitar ruangan, itu terdapat pintu lainnya. Tidak ada! Jendela juga tidak ada!

Dengan jengkel Cin Ko menarik napas panjang, karena kalau sampai dirinya terkurung terus di situ, berarti dia akan gagal dengan usahanya guna menolong Yayanya. Dengan penuh kejengkelan, Cin Ko mendorong lagi pintu itu. Maksudnya ingin membukanya dengan kekerasan. Namun tetap  tidak berhasil. Rupanya pintu itu sudah terkunci rapat-rapat dan kuat sekali.

Sedang Cin Ko mendorong-dorong pintu tersebut tiba-tiba terdengar orang berkata dengan suara yang tawar dan dingin tidak berperasaan :

“Hmm, doronglah dengan tenagamu yang sepenuhnya, biar bagaimana

kau tidak akan dapat lolos keluar dari ruangan ini, maling kecil!”

Membarengi dengan perkataan itu, tampak sesosok bayangan telah melompat turun dari atas wuwungan. Rupanya memang sejak tadi sudah bersembunyi orang tersebut di atas wuwungan itu.

Cin Ko dengan cepat telah membalikkan tubuhnya, dia melihat orang itu berpakaian seperti seorang perwira negeri. Dengan sendirinya hal ini memperlihatkan bahwa orang itu adalah anak buahnya Ban Hong Liu. Tetapi kalau dilihat cara orang tersebut melompat turun, dengan sendirinya hal itu menunjukkau bahwa kepandaian orang itu tinggi sekal i. Terlihat ginkangnya sempurna, wajahnya kasar dan bengis

“Hmmm siapa kau maling kecil?” bentak perwira itu dengan suara yang galak. “Aku tersesat!”

“Otakmu dipantat!” bentak perwira itu. “ Mana mungkin orang tersesat ke dalam gedungnya Ban  Kongkong?!”

Muka Cin Ko berobah seketika itu juga, dia tahu sudah tidak mungkin untuk banyak bicara dengan perwira itu.

“Katakan, apa maksudmu menyelusup ke dalam gedung ini, heh!” bentak

perwira itu.

“Membunuh Ban Hong Liu!” sahut Cin Ko kemudiai dengan berani dan

tegas.

 “Hah?”

Tampaknya perwira itu jadi terkesima, dia tidak menyangka sahutan Cin Ko akan merupakan jawaban yang begitu rupa.

Cin Ko tertawa dingin.

“Untuk mengambil batok kepala Ban Hong Liu sebagai oleh-oleh, untuk

dipasang di dinding kamarku!” kata Cin Ko dengan tawar.

Perwira itu akhirnya tersadar setelah melengak sejenak. Dia telah tertawa tergelak-gelak menunjukkan bahwa dia murka sekali.

“Kau ingin membunuh Ban Kongkong?! Hahaha     hahahaha lucu sekali! Lucu sekali!!” berseru orang tersebut. “Inilah yang disebut anak kelinci ingin bertempur dengan seekor singa!! Sungguh lucu! Sungguh lucu! Apakah aku tidak salah dengar perkataanmu itu?'“ 

“Dan kalau perlu, engkau juga akan  kubinasakan kalau memang ingin

menghalangi diriku!”

“Oh binatang!!” berseru  perwira itu dengan murka. “Kau merupakan

maling kecil yang tidak mengenal mampus rupanya!”

Dan perwira ini bukan hanya membentak, melainkan dia telah membarengi dengan gerakan tubuhnya yang menerjang kearah Cin Ko.

Kedua tangannya juga telah dimajukan ke depan untuk mencengkeram tengkuk Cin Ko. Tetapi Cin Ko memiliki kepandaian yang tinggi, mana mungkin dia dengan mudah ditangkap perwira itu?

Sambil tertawa dingin Cin Ko telah mengengoskan diri dari sambaran perwira tersebut. Gerakan yang dilakukan oleh Cin Ko sangat cepat dan gesit sekali. Hanya di dalam waktu yang sangat singkat sekali dia tela h dapat mengelakkan diri.

Gerakan yang dilakukan oleh Cin Ko merupakan  gerakan yang bukan main, karena dia mengelakkan diri dari sambaran tangan perwira itu, untuk dibarengi dengan menghajar tengkuk perwira itu.

“Bukkk!”

Itulah suara punggung perwira tersebut yang telah terhajar telak. Seketika itu juga tubuh perwira itu jadi terhuyung-huyung.  Cuma saja disebabkan perwira ini juga memiliki kepandaian yang tinggi, dia bisa mengendalikan dirinya tidak sampai terjungkel. Dan dengan penuh kemurkaan perwira itu telah membalikkan tubuhnya menerjang Cin Ko.

 Cuma saja perwira itu sekarang telah mengetahui bahwa pemuda dihadapannya ini memiliki kepandaian yang tinggi,  dengan sendirinya jadi bersikap jauh lebih waspada dan hati-hati.

Serangan yang kali ini dilancarkan oleh perwira itu mengandung tenaga serangan yang bukan main kuat dan hebatnya, karena serangan tersebut merupakan serangan yang benar-benar merupakan serangan yang mematikan.

Dengan sendirinya Cin Ko juga tidak berani memandang remeh serangan itu. Setidaknya Cin Ko memang mengetahui bahwa perwira ini memiliki kepandaian yang tinggi. Dengan sendirinya dia tidak bisa berdiam diri saja.

Menghadapi serangan yang datangnya bertubi-tubi dari perwira itu, Cin Ko cepat-cepat telah mengeluarkan kepandaiannya juga.

Waktu melihat tangan kanan perwira itu meluncur kearah dirinya, cepat bukan main Cin Ko telah mengempos semangatnya, dia menyalurkan tenaga dalamnya pada kedua lengannya. Dengan kecepatan yang bukan main, Cin Ko telah mencengkeram tangan perwira itu. Begitu pergelangan tangan   perwira ini kena dicengkeramnya, Cin Ko mengeluarkan seruan nyaring.

Menyusul itu dia telah menggentaknya. Tubuh perwira tersebut seperti layang-layang yang putus talinya. Seketika itu juga tubuhnya telah ambruk di atas lantai. Tetapi perwira itu juga rupanya memang memiliki daya tahan yang kuat. Sebab begitu tubuhnya ambruk, begitu dia telah melompat bangun lagi. Gerakan yang dilakukannya itu sangat kuat sekali, karena dia melakukannya dengan gerakan yang benar-benar sebat dan bertenaga sekali waktu dia melancarkan serangan pula kepada Cin Ko.

Cin Ko mendengus tertawa dingin. Dengan cepat Cin Ko telah menyambuti pula serangan yang dilancarkan oleh perwira itu. Sedangkan  si perwira yang dalam keadaan murka bukan main, juga memang dia tengah bernafsu untuk menghajar binasa lawannya, dengan sendirinya  dia mengeluarkan ilmu simpanannya.

Namun menghadapi Cin Ko, apa yang bisa dilakukan oleh perwira itu? Dengan sendirinya, berulang kali tangan Cin Ko bergerak merubuhkan perwira itu. Cuma saja, perwira itu memang seperti kedot dan memiliki daya tahan yang bukan main. Biarpun telah dibanting dan dihajar jatuh bangun, tetap saja perwira itu seperti singa yang terluka telah menerjang berulang kali, telah menerjang dengan gerakan-gerakan yang bukan main cepat dan kalapnya.

Cin Ko sendiri jadi kewalahan menghadapi  kenekadan perwira itu. Sedang pertempuran tersebut tengah berlangsung dengan hebatnya, maka

 dengan tidak terduga, di pintu telah muncul seseorang, karena pintu itu telah terbuka. Waktu Cin Ko melirik, tenyata orang itu tidak lain dari Seng Kim.

HATI CIN KO jadi tercekat, karena biar bagaimana dia kuatir kalau-kalau Seng Kim turun tangan juga, berarti dirinya menghadapi lawan  yang berat, sebab Cin Ko mengetahui Seng Kim memiliki kepandaian yang tinggi sekali.

Dengan sendirinya, setiap serangan yang dipergunakan oleh Cin Ko jadi agak kalut sedikit, dan saat itu perwira yang menjadi lawan dari Cin Ko telah mengeluarkan suara seruan dan melompat melancarkan serangan yang jauh lebih hebat lagi.

“Tahan!” bentak Seng Kim dengan suara yang nyaring. Suara bentakan Seng Kim itu bukan hanya nyaring saja, melainkan juga berwibawa. Dengan sendirinya, perwira itu jadi terkejut dan telah membalikkan tubuhnya. Dia jadi terkejut waktu melihat bahwa yang membentaknya itu adalah Seng Kim. Cepat- cepat perwira ini telah melompat mundur. Dia telah menekuk kedua kakinya berlutut.

“Siauwjin memberi hormat   kepada  Siauw Kongya!”   katanya   dengan

suara yang menghormat. “Ada perintah apakah Siauw Kongya?”

Seng Kim tidak segera menyahuti, dia melirik kearah Cin Ko sejenak.

Kemudian baru berkata kepada perwira itu :

“Apa yang telah terjadi?” tegurnya.

“Ada maling kecil yang telah menyelusup ke dalam gedung,  Siauw

Kongya!” menjelaskan perwira itu.

“Hmmm, tahukah kau siapa sebenarnya engko kecil itu?'“ tegur Seng

Kim lagi kepada perwira tersebut dengan suara yang tawar.

Muka perwira itu jadi berobah seketika itu waktu mendengar pertanyaan Seng Kim.

“Siapa siapa dia sebenarnya, Siauw   Kongya?”  tanyanya tidak

lampias.

“Hmmm dia adalah sahabatku!” “Oh!”

 Seketika juga muka perwira ini jadi pucat. Dia telah cepat-cepat bangkit.

Dihampirinya Cin Ko lalu perwira itu membungkuk memberi hormat.

“Sauwya maafkan kelancanganku tadi, aku meminta maafmu yang sebesar-besarnya!” kata perwira itu.

Cin Ko hanya menganggukkan kepalanya. Sedangkan di dalam hatinya Cin Ko heran sekali mengapa Seng Kim membelanya. Maka dari itu dia hanya berdiam diri saja dan juga telah mengawasi saja apa yang akan dilakukan selanjutnya oleh Seng Kim.

Dengan sendirinya, perwira itu jadi tambah ketakutan. Dia menyangka bahwa Cin Ko tentunya tidak mau memaafkan dia. Inilah berbahaya! Kalau sampai Cin Ko tidak mau memaafkan dia, berarti dia bisa dihukum oleh Seng Kim.

Tetapi Seng Kim yang tidak menginginkan perwira itu berada lama-lama di tempat tersebut telah berkata dengan suara yang yang nyaring :

“Pergilah dari ruangan ini, tinggalkan kami berdua!” kata Seng Kim.

Hati perwira itu jadi tenang dan lega, cepat-cepat dia telah menjura memberi hormat dan mengucapkan terima kasih.

Kemudian dia berlalu keluar dari pintu itu dengan cepat. Setelah perwira itu berlalu, Seng Kim menghampiri Cin Ko sambil tertawa.

“Ko Sute apa kabar? Mengapa kau bisa berada di sini?” tegurnya.

Cin Ko masih berdiri bimbang, tetapi akhirnya dia berkata dengan ragu, tetapi tegas :

“Aku ingin menolong Peng Po Siang Sie See Un!” kata Cin Ko. “Hah?” Sng Kim terkejut

Muka Cin Ko juga berobah.

“Suheng aku juga heran melihat kau berada di sini!!” katanya. “Aku? Aku!” tampaknya Seng Kim jadi gugup sekali.

“Apakah kau putera dari Ban Hong Liu?' tanya Cin Ko lagi.

Disanggapi begitu, tampak Seng Kim ragu-ragu sejenak, namun akhirnya dia menganggukkan kepalanya.

“Ya! Ya!!” katanya cepat.

 '“Maka dari itu sebetulnya sekarang kita berhadapan sebagai musuh, bukan sebagai adik dan kakak seperguruan, seharusnya kau tidak memerintahkan perwira itu tadi berlalu!”

“Tidak Ko Sute, biar bagaimana kau adalah Suteku!” kata Seng Kim kemudian. “Sebenarnya kau mempunyai sangkutan dan hubungan apa dengan Peng Po Siang Sie See Un?” tanya Seng Kim setelah dia bisa menguasai diri.

“Dia Yayaku!” “Oh!”

“Dan ayah ibuku telah dibinasakan juga oleh orang-orang ayahmu!” “Memang semua itu yang kusesalkan!”

“Maka dari itu terserah kepadamu Seng Kim Suheng, entah kau keberatan atau tidak, tetap saja aku akan melakukan tugasku. Dan dengan sendirinya kau sebagai putera dari Ban Hong Liu, jelas kau juga harus berbakti kepada orang tuamu, mau tidak mau kau harus melindungi orang tuamu! Untuk sementara kita akan berhadapan sebagai lawan!”

Muka Seng Kim tampak berobah jadi murung sekali.

“Sute memang aku telah mendengar banyak perihal tindasan-tindasan ayahku! Ayahku itu terlalu tinggi berkemauan besar, ingin menjadi seorang manusia yang paling berkuasa di daratan Tionggoan ini, dengan sendirinya, mau tidak mau memang harus menanggung risiko dari apa yang dilakukannya itu!”

“Benar!” kata Cin Ko. “Kalau memang Seng Kim Koko memiliki pandang- an begitu, aku mengucapkan banyak-banyak  terima kasih! Tetapi keadaan yang telah mempertemukan kita sebagai lawan!”

“Hari ini Yayamu akan disidang oleh ayah ku!” kata Seng Kim

“Benar! Aku akan berusaha membebaskan Yayaku itu bersama-sama

dengan beberapa orang kawan!”

Muka Seng Kim murung sekali.

“Sute aku mempunyai saran, entah kau bisa menerimanya atau tidak?”

tanya Seng Kim.

“Apa saranmu itu, Suheng?”

 “Memang ayahku itu telah digelari oleh rakyat negeri Tionggoan in sebagai MANUSIA DJAHANAM karena memang setiap tindakan ayahku yang keterlaluan! Aku sendiri telah banyak mendengar sepak terjang dari ayahku itu! Maka dari itu, dengan sendirinya, walaupun aku sebagai putera dari ayahku itu tetap saja aku tidak bisa berdiri di sisi ayahku! Namun sebagai seorang anak, jelas seperti apa yang kau katakan tadi, bahwa aku harus berbakti kepada orang tua, maka dari itu, aku mempunyai saran untuk kita keluar dari kesulitan ini! Bagaimana Sute, kau mau mendengar saranku itu, tidak?”

“Katakanlah Suheng!”

“Aku akan membantumu membebaskan Yayamu, tetapi kau juga harus berjanji setelah dapat membebaskan Yayamu itu, kau tidak boleh membunuh ayahku! Kau dan kawan-kawanmu harus berlalu!”

Mendengar ini Cin Ko jadi terkejut, karena dia tidak pernah menyangka akan menerima tawaran seperti itu. Dengan sendirinya Cin Ko jadi berdiri be- ngong saja.

“Bagaimana Sute apakah kau menyetujui saranku itu?”

Akhirnya Cin Ko mengangguk.

“Aku menyetujui   saja, cuma, apakah kita akan  berhasil meloloskan

Yayaku?!”

“Pasti berhasil! Cuma saja begitu dapat membebaskan Yayamu itu, kalian harus menyingkir ke suatu tempat yang jauh, sehingga tidak berurusan lagi dengan ayahku!”

Cin Ko sangsi. Namun akhirnya Cin Ko mengangguk juga. Karena Cin Ko telah berpikir, bahwa Seng Kim ingin menolong Yayanya, membantuny, maka dari itu dengan sendirinya sebagai imbalannya permintaan dari Seng Kim agar Cin Ko tidak mencoba membunuh Ban Hong Liu memang wajar.

“Baiklah Suheng!” kata Cin Ko. “Entah bagaimana caranya kita

membebaskan Yayaku itu?”

Seng Kim tersenyum pahit.

“Semuanya serahkan saja padaku! Kutanggung beres! Hayo ikut

bersamaku!”

Cin Ko mengangguk dan mengikuti saja. Seng Kim mengajak Cin Ko keluar dari ruangan itu. Berjalan tidak beberapa lama, mereka telah

 berpapasan dengan beberapa orang tentara negeri yang sedang melakukan tugas berjaga. Tetapi karena Cin Ko berjalan dengan Seng Kim, mereka tidak ada yang berani menegur. Malahan semuanya itu telah memberi hormat. Terus juga Seng Kim mengajak Cin Ko melalui lorong-lorong yang panjang  dan ruangan yang banyak sekali penjagaannya.

MARI kita melihat Thang Lan Hoa dan yang lain-lainnya, yang telah menerobos ke dalam gedung ini juga. Mereka ternyata menemui banyak kesulitan. Malahan waktu Thang Lan Hoa serta si Buntung  tengah melalui sebuah ruangan dengan berindap-indap, tiba-tiba menyambar kearah mereka beberapa bintik-bintik hitam, yaitu senjata rahasia yang runcmg menyerupai bintang.

Kepandaian Thang Lan Hoa dan si Buntung liehay dan tinggi. Serangan senjata rahasia itu dengan mudah dapat dielakkannya. Namun yang membuat mereka mendelu adalah puluhan orang tentara negeri yang berseragam telah mengurung mereka, malah telah menyerbu untuk mengeroyok mereka.

Mau tidak mau si Buntung dan Thang Lan Hoa memberikan perlawanan. Namun celakanya semakin lama kurungan dari tentara negeri itu semakin banyak. Karena pertempuran yang terjadi di situ telah menarik perhatian dari tentara negeri yang melakukan penjagaan di tempat lain.

Biarpun kepandaian Thang Lan Hoa dan si Buntung memang tinggi, namun menghadapi serbuan tentara negeri yang begitu banyak, mau tidak mau mereka jadi kewalahan juga. Malahan Thang Lan Hoa sendiri telah terluka pada bahunya.

Biarpun Thang Lan Hoa dan si Buntung telah berhasil membinasakan belasan prajurit itu, namun kenyataannya jumlah prajurit yang mengurung mereka semakin banyak saja.

Lama kelamaan Thang Lan Hoa dan si Buntung jadi sibuk dan kewalahan. Sedang seru-serunya pertempuran itu, tiba-tiba  terdengar suara   bentakan yang nyaring :

“Berhenti!”

Suara itu berwibawa sekali. Seketika itu juga pertempuran tersebut terhenti.

Thang Lan Hoa dan si Buntung melihatnya bahwa yang membentak itu Seng Kim dan Cin Ko berdua.

 Begitu pula pasukan tentara negeri itu telah melihat Seng Kim dan cepat- cepat telah menyingkir dengan sikap yang menghormat sekali.

“Mengapa kalian mengurung sahabat dan tamu-tamuku itu?” tegur Seng

Kim dengan suara yang nyaring.

“Kami kami tidak mengetahui Sauw Kongya!” sahut salah seorang prajurit itu gugup sekali, karena mereka terkejut bukan main mendengar bahwa orang yang mereka kurung itu adalah kawan dari Siauw Kongya mereka ini. “Kami kira mereka pihak lawan!”

“Hmmm, hayo bubar!” bentak Seng Kim lagi.

Prajurit itu dengan patuh telah mengangguk. Juga, mereka telah menggotong kawan mereka yang terluka dan terbinasa.

Sedangkan Thang Lan Hoa dan si Buntung girang bukan main melihat munculnya Seng Kim dan Cin Ko.

“Mengapa kau bisa berada di sini Kim-jie?” tegur Thang Lan Hoa.

Seng Kim menghela napas dan menjura dalam-dalam, lalu dia meminta kepada Cin Ko untuk menceritakannya.  Cin Ko telah menceritakannya. Mendengar penawaran yang diberikan oleh Seng Kim, kedua orang jago tua itu jadi bimbang.

Namun akhirnya setelah Cin Ko berkata : “Biarlah kita menolong Yaya dulu, baru nanti kita mengaturnya selanjutnya, yang terpenting Seng Kim Suheng hanya meminta kita tidak membinasakan ayahnya!”

Si Buntung dan Thang Lan Hoa menganggukkan  kepalanya dengan cepat. Mereka juga berpikir,  memang lebih baik mereka menyelamatkan Pen Po Siang Sie See Un. Urusan belakangan bisa diatur. Maka dari itu, akhirnya kedua jago tua itu telah mengangguk.

“Baiklah!” kata mereka hampir berbareng

Maka dari itu, Thang Lan Hoa dan si Buntung telah menggabungkan diri dengan Seng Kim dan Cin Ko.

PENUTUP

MARI kita menengok kepada Ming Sing Siansu yang telah bisa menggabungkan diri dengan Wie Tu Hong dan Tang Siauw Bun. Mereka bertiga telah melakukan penyelusupan ke dalam gedungnya Ban Hong Liu itu. Mereka

 juga telah berhasil untuk menerobos sampai melewati beberapa ruangan  di gedung itu.

Cuma saja mereka jadi agak heran juga melihat gedung ini begitu sepi. Karena mereka mengambil arah dari utara, dengan sendirinya mereka berlawanan dengan arah yang diambil oleh Cin Ko. Keadaan yang sunyi ini bukannya menggembirakan hati Ming Sing Siansu bertiga, sebab mereka malah jadi tambah bercuriga.

Ketika mereka sampai di sebuah pekarangan yang banyak sekali terdapat batu gunung-gunungan, tiba-tiba terdengar orang tertawa dingin.

“Benar-benar maling tua ingin mengantarkan jiwa mereka!” kata suara

itu.

Dan suara itu telah disusul keluarnya beberapa sosok tubuh. Ming Sing

Siansu telah menoleh dan melihat  bahwa belasan orang itu semuanya berpakaian sebagai pengemis. Dan salah seorang diantara mereka terda pat Tan Keng Can.

Tentu saja Ming Sing Siansu bertiga jadi kaget bukan main

“Hmmm, tidak tahunya pemuda itu orangnya Ban Hong Liu!” kata Ming Sing Siansu dengan suara gusar bukan main. Yang lainnya juga mengangguk- anggukkan kepala mereka dengan penuh perasaan murka.

Tan Keng Can telah tertawa tergelak-gelak, bersama-sama pengemis lainnya telah mengambil sikap mengurung. Malahan Tan Keng Can telah menghampiri lebih dekat lagi.

“Selamat bertemu! Selamat bertemu! Memang  kami telah menduga bahwa kalian pasti akan menyatroni tempat ini! Selamat bertemu! Apa kabar?!”

Betapa murkanya Ming Sing Siansu.

“Manusia rendah dan penjilat! Tidak tahunya kalian hanyalah anjing- anjing dari orang she Ban itu!!” berseru Ming Sing Siansu. Saking murkanya malahan tubuh Ming Sing Siansu gemetaran keras.

Tan Keng Can tidak gusar, dia memperlihatkan tertawanya belaka

“Hahahaha memang aku bekerja untuk Ban Kongkong!” kata Tan Keng

Can kemudian.

“Anjing geladak kau!”

 “Terserah kau mau memaki apa, tetapi karena sebenarnya kalian manusia-manusia tolol! Kalian telah berusaha membentur dinding tebal dari Ban Kongkong, berarti kalian mencari kematian diri sendiri!!”

Tubuh Ming Sing Siansu bertiga jadi gemetaran keras. Tetapi belum lagi salah seorang diantara mereka sempat mengeluarkan kata-kata,  maka Tan Keng Can telah berkata lagi :

“Karena sebentar lagi kalian akan mampus, biarlah a ku menceritakan segala-galanya!!” kata Tan Keng Can kemudian dengan suara yang tawar.

“Sebenarnya kami memang bekerja untuk Ban Kongkong, karena kami memang memperoleh  perintah untuk mengacaukan dunia persilatan!  Kami yang telah menyamar sebagai orang-orang Kaypang, untuk memancing siapa sebenarnya yang menjadi lawan dan siapa yang menjadi kawan dari Ban Kong - kong! Memang pekerjaan kami ini berhasil baik, dengan sendirinya kami telah melaksanakan        terus!        Kepada         pihak         Kaypang         pusat, mereka tidak mengetahui, karena orang Kaypang di kota raja ini telah kami jagal seluruhnya! Tidak ada satu orangpun juga yang kami beri hidup!”

Tubuh Ming Sing Siansu bertiga jadi geme taran saking murkanya.

Saat itu Tan Keng Can telah berkata yang diringi oleh suara tertawa dingin kawan-kawannya:

“Hmmm, jadi seluruh orang-orang gagah menduga bahwa Kaypang yang kami pimpin di kota raja ini adalah Kaypang yang sebenarnya! Dengan mudah kami bisa memancing keluar orang-orang yang menjadi lawan Ban Kongkong!”

Mendengar perkataan Tan Keng Can sampai disitu, Ming Sing Siansu tidak bisa menahan perasaan murkanya. Dia telah mengeluarkan suara bentakan yang nyaring sekali. Tubuhnya mencelat menerjang kearah Tan Keng Can. Serangannya ini dilancarkannya dengan hebat,  karena dia telah melancarkan serangan itu dengan mempergunakan pukulan yang me matikan.

Dengan sendirnya, serangan ini kalau sampai  mengenai sasarannya niscaya Tan Keng Can akan terhajar binasa. Tetapi Tan Keng Can memang liehay dan memiliki kepandaian yang tinggi. Dengan sendirinya dia dapat menangkis serangan Ming Sing Siansu dengan cepat.

“Plakkkkk!” Tubuh mereka berdua jadi terhuyung-huyung mundur ke belakang. Karena bentrokan tenaga mereka itu telah mendorong diri mereka masing-masing.

Cepat sekali Tan Keng Can telah memberi tanda kepada kawan- kawannya. Belasan orang kawan Tan Keng Can yang berpakaian seperti

 pengemis itu juga telah meluruk melancarkan serangan kepada Tang  Siauw Bun dan Wie Tu Hong

Rupanya serangan belasan pengemis ini juga hebat sekali, sebab belasan pengemis tersebut juga merupakan jago-jago pilihan. Mereka masing-masing memiliki kepandaian yang tinggi sekali. Maka dari itu, seketika itu juga di pekarangan gedung itu telah terjadi suatu pertempuran yang hebat dan seru sekali.

Masing-masing telah mengeluarkan kepandaian mereka,   dengan sendirinya setiap serangan dan pukulan yang dilancarkan oleh mereka selalu merupakan serangan yang mematikan. Maka dari itu, dengan sendirinya, mereka jadi bersikap lebih hati-hati. Sekali saja mereka terserang, berarti me- reka akan binasa. Maka dari itu, mau tidak mau mereka harus memperhitungkan setiap serangan yang mereka lakukan itu. Kalau sampai mereka ini salah perhitungan, berarti mereka harus menelan pil pahit, yaitu binasa.

Pertempuran yang terjadi ini merusakan suatu pertempuran yang bukan main hebatnya, masing-masing seperti nekad untuk mempertaruhkan diri. Dan sedang seru-serunya pertandingan itu berlangsung, tiba-tiba mencelat keluar beberapa sosok tubuh, yang menggabungkan diri melakukan pertempuran.

Mereka tidak lain dari Thang Lan Hoa, si Buntung, dan Cin Ko. Tetapi belum berlangsung lama, disaat Wie Tu Hong bertiga sedang girang memperoleh bantuan itu, tiba-tiba terdengar suara orang membentak :

“Hentikan pertempuran itu!”

Semua orang menoleh. Dan semuanya mengenali  orang yang mem- bentak itu, karena kedua belah pihak memang mengenal benar siapa orang itu. Ternyata yang membentak itu tidak lain dan Seng Kim. Semua orang jadi bengong, hanya Tan Keng Can cepat-cepat menghampiri.

“Siauw Kongya, ada mata-mata yang mencoba  menyelusup ke dalam

gedung!” lapornya.

“Hmmm, mereka sahabatku!” kata Seng Kim dengan suara yang mengandung kegusaran dan sengaja memperlihatkan wajah tidak senang. “Mengapa kalian mengganggu mereka?”

“Mereka kawan Siauw Kongya?” tanya Tan Keng Can terkejut sekali. Seng Kim mengangguk.

 “Hmm, kalian mempunyai mata tetapi tidak bisa melihat, apa perlunya

kalian mempunyai sepasang mata?” tegur Seng Kim

Wajah Tan Keng Can jadi berobah pucat.

“Ini ini!” katanya dengan suara yang terputus-putus.

Tetapi belum lagi dia berkata dengan suara yang lampias, tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut dan tampak serombongan orang lewat di tempat itu.

Pada rombongan itu tampak berjalan serang lelaki lua yang kedua tangan dan kakinya diborgol. Ternyata orang yang diborgol itu t idak  lain dari Peng Po Siang Sie See Un. Rupanya Peng Po Siang Sie See Un tengah digiring untuk pergi ke ruangan sidang. Semua orang terkejut. Apa lagi Cin Ko.

Hatinya miris melihat Yayanya itu, dia hampir tidak bisa mempertahankan perasaannya dan mau berteriak untuk menubruk Yayanya itu. Untung saja Cin Ko masih bisa mengendalikan goncangan hatinya.

Seng Kim melihat ini, menganggap bahwa inilah saat kesempatan dia menolong Cin Ko. Cepat-cepat Seng Kim melangkah menghadang rombongan itu. Pemimpin rombongan itu, seorang perwira terkejut melihat Seng Kim. Cepat-cepat dia memberi hormat.

“Siauw Kongya, apakah ada sesuatu yang tidak beres?” tanyanya sambil

melirik melihat orang yang  berkumpal begitu banyak.

“Ayahku memerintahkan kami yang membawa tawanan, kau boleh mengajak anak buahmu untuk kembali ke kamar tahanan!”

Mendengar perkataan Seng Kim seperti itu, pemimpin rombongan tersebut jadi bimbang. Namun jelas dia tidak berani membantah perintah Seng Kim. Sedangkan Seng Kim telah melambaikan tangannya kepada Cin Ko dan kawan-kawannya.

“Bawalah!!” perintahnya.

Cin Ko dan yang lainnya jadi girang sekali, cepat-cepat mereka telah menghampiri Peng Po Siang Sie See Un dan Ming Sing Siansu malah telah memanggul Peng Po Siang Sie Un.

Tan Keng Can mengerutkan sepasang alisnya waktu melihat ini.

“Siauw Kongya!” katanya bimbang,

 “Diam!” bentak Seng Kim sebelum orang sempat untuk mengeluarkan

perkataan. “Jangan ada yang bertanya!”

“Tetapi Siauw Kongya!” dan berkata sampai di sini, Tan Keng Can melihat bahwa Ming Sing Siansu ingin membawa Peng Po Siang Sie melompat keluar dari dinding pekarangan itu, dengan sendirinya perasaan curiganya semakin hebat.

“Kepung, jangan membiarkan tawanan lolos!” teriak Tan Keng Can, “Semua diam di tempat! Yang bergerak akan kubunuh!” bentak Seng

Kim.

Orang-orang yang lainnya jadi bimbang. Sedangkan para jago-jago yang

ingin membebaskan Peng Po Siang Sie seorang demi se orang telah melompati dinding.

Tan Keng Can jadi nekad, tanpa memperdulikan teriakan Seng Kim itu, dia melompat untuk mengejar.  Tetapi  sesosok bayangan telah menghalanginya, ternyata bayangan itu Seng Kim. Di tangan Seng Kim mencekal sebatang pedang. Pedang itu ditandalkan pada lehernya sendiri.

“ Kalau tidak mau mendengar perintahku, biarlah aku bunuh diri!” ancam Seng Kin.

Inilah hebat, kalau sampai Seng Kim membunuh diri jelas akan membuat mereka repot mempertanggung jawabkan diri pada Ban Hong Liu Thaykam. Tan Keng Can juga jadi berdiam  diri saja. Disaat itulah tiba-tiba  muncul seorang lelaki tua.

“Ada apa Kim jie?” tegur orang tua itu yang tidak lain dari Ban Hong Liu. Melihat Ban Hong Liu, Tan Keng Can jadi girang. Tanpa menantikan Seng

Kim sempat menyahuti pertanyaan ayahnya itu, Tan Keng Can telah cepat-

cepat menghadang dan menceritakan segalanya.

“Ohhh, gentong kosong semuanya, hayo cepat kejar!” mencak-mencak Ban Hong Liu murka.

Semua orang akan bergerak melaksanakan perintah, tetapi Seng Kim telah berteriak.

“Tahan! Kalau kalian pergi mengejar, biarlah aku bunuh diri!!” teriaknya.

Ban Hong Liu mengerutkan sepasang alisnya. Tetapi   akhirnya bangsawan tua itu dapat mengambil keputusan :

 “Kejar, jangan memperdulikan anak durhaka ini!” teriaknya.

Melihat ancamannya tidak berhasil, benar Seng Kim menusukkan pedangnya pada batang lehernya, Seketika itu juga darah muncrat keluar dan tubuh Seng Kim menggeletak di tanah.

Ban Hong Liu jadi kaget setengah mati, dia tidak menyangka bahwa Seng Kim akan membuktikan ancamannya itu. Seketika itu juga orang jadi panik. Dan segalanya setelah beres dan Ban Hong Liu telah membawa mayat anaknya dengan penuh kedukaan ke dalam kamar, kembali dia memerintahkan anak buahnya untuk melakukan pengejaran terhadap Cin Ko, untuk menangkap pulang Peng Po Siang Sie.

Tetapi orang-orang gagah yang telah meloloskan Peng Po Siang Sie, sudah tidak meninggalkan jejaknya, cucuran darah Seng Kim yang telah menolong Peng Po Siang Sie dan orang-orang gagah itu.

Dengan lolosnya Peng Po Siang Sie itu, maka akan muncul pergolakan yang jauh lebih hebat lagi dendam dari bekas seorang Peng Po Siang Sie See Un itu dan pergolakan itu akan diberitakan dalam bentuk disebuah  kisah lainnya lagi.

TAMAT