Manusia Jahanam Jilid 13

 
Jilid 13

“Kemalangan sedang mengikuti di belakang dirimu! Keluargamu musnah disebabkan urusan yang pelik, dan juga kau merupakan seorang putera bangsawan besar yang berbudi luhur tetapi malang nasibnya! Ohhhh benar-benar aneh hari ini, Pinceng bisa bertemuputera bangsawan yang !”

Cin Ko terkejut bukan main. Dia seorang cucu dari Peng Po Siang Sie See Un, dengan sendirinya ayah Cin Ko termasuk se orang putera bangsawan, dan dia juga cucunya adalah cucu seorang bangsawan. Betapa tepatnya perkataan pendeta itu.

'“Juga beberapa saat yang lalu, kurang lebih satu bulan yang lalu, kau sudah mengalami kejadian yang hebat! Tetapi kau tidak perlu kuatir Tay Kongcu, sebab nasib mujur juga tidak meninggalkan dirimu, dan akan selalu ikut pada dirimu!”

“Benarkah Taysu?” tanya Cin Ko. Hweshio itu mengangguk.

“Benar!”

“Sekarang ini aku sedang memnunyai urusan yang besar!!” kata Cin Ko. “Apakah akhirnya nanti aku dapat melakukan tugas itu dengan baik?”

Pendeta itu mengawasi wajah Cin Ko dalam-dalam, kemudian menggelengkan kepalanya.

“Tidak! Tidak berhasil!” “Hah?” Cin Ko jadi terkejut.

“Tidak bisa berhasil, karena Tay Kongcu terikat oleh  seseorang!” kata Hweshio

itu.

Malah Ing Tay Siansu dan San Hie Siansu juga jadi mengeluarkan seruan

tertahan. Mendenear suara seruan Ing Tay Siansu dan San Hie Siansu, Si pendera telah menoleh kepada mereka, dia mengawasi wajah San Hie Siansu dan Ing Tay Siansu.

“Hai! Hai!” berseru pendeta itu terkejut setelah melihat wajah San Hie Siansu dan Ing Tay Siansu. “Kalian satu aliran dengan Pinceng, kalian juga orang-orang yang mengambil jalan Hud-cauw!”

Kembali San Hie Siansu dan Tng Tay Siansu terkejut bukan main. Tetapi belum lagi mereka menyahuti, pendeta itu telah berdiri.

“Nah, Pinceng sudah melihat nasib kalian, tetapi Pinceng terikat oleh sumpah tidak boleh terlalu banyak bicara terhadap nasib orang!!” si pendeta telah berdir i dan bermaksud akan meninggalkan tempat itu.

“Tunggu dulu Taysu!!” panggil San Hie Siansu yang masih mau menanyakan sesuatu. Tetapi pendeta itu telah ngeloyor pergi, dia tidak mengacuhkan lagi.

San Hie Siansu, Ing Tay Siansu, Cin Ko jadi berdiri terkesima, mereka seperti terheran-heran bukan main atas kejadian ini. Betapa hebatnya pendeta itu yang bisa mernbaca diri mereka!

Cuma saja yang membuat mereka heran, siapa sebenarnya pendeta  itu? Tadinya mereka menduga pendeta tersebut mencari uang dengan pekerjaan sebagai tukang ramal itu. Tetapi nyatanya pendeta tersebut tidak me minta bayaran.

Maka dari itu, yang menjadi pemikiran San Hie Siansu dan Ing Tay Siansu, siapakah sebenarnya pendeta yang penuh diliputi rahasia tersebut?

Tetapi mereka tidak mau terlalu dipusingkan  oleh persoalan pendeta  ini, mereka telah meneruskan makanan yang masih ada, di dalam waktu sekejap saja, mereka telah selesai bersantap. Untuk sementara waktu mereka beristirahat dulu, mengaso. Selama itu tidak ada seorangpun yang berkata-kata mereka hanya berdiam diri saja, karena masing- masing telah tenggelam di alam pikiran masing-masing.

Cin Ko sendiri tidak habis mengerti, mengapa pendeta tukang ramal itu mengetahui siapa dirinya, walaupun dia telah berpakaian sebagai pengemis ini. Kejadian ini benar-benar telah membuatnya jadi terheran-heran dan takjub.

Setelah mengaso cukup lama, disaat mana matahari telah mulai naik tinggi, maka San Hie Siansu mengajak mereka untuk mencari alamat yang diberikan oleh si pengemis Wie Tu Hong.

Alamat yang diberikan Wie Tu Hong adalah jalan Sam ciok-han? (Lorong cagak tiga), yang terletak di pintu barat dari kota raja ini.

Waktu mereka sampai di jalan itu, mereka melihatnya dipinggir kanan dari jalanan tersebut terdapat jalur sebuah sungai yang panjang, dipinggirannya tumbuh banyak sekali pohon Yangliu. Pemandangan di tempat ini indah dan sunyi tenang sekali.

Bisa dimaklumi bahwa keadaan di kota ra ja selalu pnuh kemegahan dan bangunan gedung yang bertingkat-tingkat.

Tetapi biarpun begitu, rupanya tempat-tempat yang sejuk dan indah tidak dibiarkan begitu saja.

San Hie Siansu sendiri sampai memujinya melihat tempat yang demikian indah dan bersih.

“Wie Tu Hong memberikan alamat untuk mendatangi rumah Bhok Siuchay!” kata Ing Tay Siansu. “Katanya pelajar she Bh ok tersebut tinggal di jalan ini!”

Saat itu kebetulan lewat seorang lelaki setengah baya. Cin Ko cepat-cepat menghampiri orang itu, dia telah memberi hormat.

“Lopeh, numpang tanya?” tegur Cin Ko sambil tersenyum ramah.

Orang itu memandang kearah Cin Ko, dia melihat pakaian si bocah yang menyerupai jembel. Maka dari itu, sepasang alisnya jadi mengkerut dalam-dalam.

“Apa yang ingin kau tanyakan, aku tidak mempunyai uang kecil untuk sedekah!”

kata orang tersebut dengan suara yang ketus.

Cin Ko mendongkol bukan main, tetapi dia mengabaikan diri, karena dia sendiri ingat akan keadaannya pada saat itu.

“Aku bukan mau meminta sumbangan atau sedekah kepadamu, Lopeh, tetapi ingin menanyakan rumah seseorang!” kata Cin Ko cepat.

“Rumah siapa yang sedang kau cari?” “Bhok Siuchay!”

“Bhok Siuchay?” “Ya!!”

“Hmmm!” orang itu mengerutkan sepasang alisnya tampaknya sedang berpikir.

Tetapi lewat sejenak dia baru teringat.

“Kau jalan lurus terus sampai di dekat tikungan terdapat rumah yang pintunya

dicat hijau! Itulah rumah Bhok Siuchay!”

Cin Ko mengucapkan terima kasih. Tetapi orang itu tidak menyahuti dan telah cepat-cepat ngeloyor pergi, rupanya dia tidak mau terlalu lama diganggu oleh seorang bocah pengemis. Segera juga Cin Ko bertiga telah menuruti petunjuk orang itu. Bena r saja, waktu mereka berjalan lurus dijalur jalan ini dan ketika mereka sampai diujung jalan tersebut, di saat mereka sampai pada sebuah tikungan, benar saja tampak se - buah rumah yang pintunya berwarna hijau.

Bentuk rumah itu cukup besar, di samping kiri kanan dan pintunya terdapat tumbuh pohon Yangliu, yang daunnya bergerak-gerak  lemas tertiup dipermainkan oleh hembusan angin.

San Hie Siansu bertiga jadi agak bimbang, tetapi mengingat bahwa Wie Tu Hong telah memberikan alamat yang benar, dan juga memang di jalan ini terdapat nama si pelajar she Bhok tersebut, dengan sendirinya mereka jadi yakin bahwa Wie Tu Hong memang benar-benar ingin menolong mereka.

San Hie Siansu telah maju menghampiri pintu, dia telah mengetuknya. Beberapa kali dia mengetuk daun pintu  itu, baru terdengar orang mengoceh mengomel panjang pendek. Tidak lama kemudian pintu tersebut telah terbuka lebar.

Tampak keluar seorang lelaki bertubuh tegap,  dari pakaiannya dapat diterka orang ini pasti pembantu rumah tersebut. Pembantu rumah tangga Bhok tersebut telah melihat bahwa yang mengetuk pintu rumahnya itu adalah  seorang pengemis, dan di belakang San Hie Siansu masih terdapat dua orang pengemis lainnya, dia jadi memandang dengan wajah yang tidak sedap dilihat, malah sepasang alisnya telah terangkat.

“Mau apa kalian dipagi buta mengganggu ketenangan kami?” tegur pembantu rumah tangga itu. “Hayo cepat pergi, hari ini Loya kami tidak mengeluarkan sedekah untuk kalian!”

San Hie Siansu sabar sekali, dia malah tersenyum mendengar perkataan si jongos. “Kami bukan mau meminta derma!” kata San Hie Siansu. “Tetapi kami in gin bertemu Bhok Siuchay!”

“Mau bertemu dengan Bhok Siuchay?” teriak jongos itu gusar. “Kalian anggap siapa Bhok Siuchay itu sehingga kau berani berkata begitu? Benar-benar kurang ajar! Hayo cepat menggelinding!”

“Tunggu dulu!” kata San Hie Siansu karena dia melihat jongos tersebut sudah mau menutup daun pintu itu lagi. Wajah si jongos jadi berobah merah padam,  tampaknya dia gusar sekali.

“Apakah kalian mau merampok di siang hari, heh!” bentaknya.

“Sabar Loheng!” kata San Hie Siansu. “Tolong kau sampaikan kepada majikanmu, bahwa Wie Tu Hong telah meminta kami menghadap kemari!!”

“Tidak tahu! Masa bodo!!” teriak jongos tersebut dengan gusar. “Hayo cepat

kalian menggelinding enyah dari tempat ini, jangan kalian mengotori saja!”

Wjah San Hie Siansu jadi berubah sengit, apa lagi dia melihatnya, betapa jonaos ini telah menutup daun pintu rumah itu.

Dengan cepat San Hie Siansu telah mendorongkan tangan kanannya menolak daun pintu sambil lalu saja, acuh tak acuh.

“Plakkkkk!” pintu itu telah terbuka dan malah menghajar muka si jongos. Si pelayan rumah keluarga Bhok ini telah menjerit-jerit dengan suara berisik.

“Ohhh, kalian mau merampok heh?” teriaknya. “Tolong! Tolong! Ada rampok

di siang hari! r' dia berteriak berulang kali.

Berisik sekali, menyebabkan beberapa orang jongos lainnya telah berlari-lari keluar. “Ada apa A Toa?” bentak salah seorang jongos-jongos itu. “Kau dipagi buta begini telah berteriak teriak seperti babi yang dipotong!!”

“Ada rampok! Jembel-jembel busuk ini memaksa mau masuk guna merampok!!”

teriak   jongos yang pertama itu, A Toa.

Kawan-kawannya telah melibat San Hie bertiga. Wajah mereka segera berobah.

“Hmmm, mau apa kalian menganggu ketenangan tempat ini?” bentak salah

seorang dari jongos-jongos tersebut dengan suara ugal-ugalanan dan aseran sekali.

San Hie tersenyum. “Kami ingin bertemu dengan Bhok Siuchay!” katanya sabar. “Bertemu dengan majikan kami?” kata jongos-jongos itu dengan gusar. “Hayo

pergi!! Apakah kalian anggap diri kalian ini wangi sehingga berani minta bertemu dengan majikan kami?”

San Hie habis sabar. “Kalian harap mau memberi tahukan kedatangan kami ini

kepada Bhok Siuchay!” kata San Hie masih menyabarkan hatinya

“Tidak! Hayo cepat pergi sebelum kami siram dengan air mendidih!”

Muka San Hie Siansu telah berobah lebih  hebat, habislah kesabarannya. “Baiklah! Kalau memang kalian tidak mau melaporkan kedatangan kami ini kepada majikanmu biarlah kami yang masuk sendiri untuk menemuinya!!” “Kurang ajar, kalian rupanya benar-benar perampok, heh! Hayo pergi!!” Dan

jongos-jongos itu bersiap-siap untuk mendorong San Hie Siansu agar pergi.

Tetapi belum lagi jongos-jongos itu menggerakkan tangan mereka, malah San Hie Siansu   telah menggerakkan tangan kiri dan kanannya berbareng. Maka dipagi hari itu terdengar suara jeritan ketakutan dari jongos-jongos  itu. Karena tubuh keenam orang jongos tersebut masing-masing telah terpental. Keras sekali tubuh jongos-jongos itu terbanting di atas tanah.

San Hie Siansu telah memberikan isyarat kepada kawan-kawannya untuk menerobos masuk. Sedangkan jongos-jongos itu telah merangkak bangun dengan berteriak-teriak meminta tolong.

Tetapi San Hie Siansu dan ketiga kawannya tidak memperdulikannya. Mereka telah melangkah masuk terus. Disaat itulah, dari arah ruangan tengah telah keluar seseorang.

Gerakan tubuhnya tampak mantap sekali, orang itu adalah seorang lelaki berusia diantara lima puluh tahun, dia memelihara kumis yang panjang.

“Ada apa ribut-ribut?!”' tegurnya waktu dia berjalan keluar.

“Ada rampok Loya!” berseru beberapa orang jonsosnya itu.

Disaat itulah lelaki   berkumis panjang   itu   telah   melihat San   Hie   bertiga.

Sepasang alisnya jadi mengkerut.

“Apa maksud kalian datang mengganggu ketenangan rumah ini!” tegurnya. San Hie cepat-cepat merangkapkan sepasang tangannya memberi hormat. “Kami sebenarnya ingin bertemu dengan Bhok Siuchay!” jelas San Hie.

“Ada keperluan apa kalian mau menemu Bhok Siuchay?!” tanya orang yang baru keluar dari ruangan tengah itu. Sambil bertanya begitu matan ya tidak hentinya mengawasi San Hie bertiga.

“Kami telah diberitahukan oleh seorang kawan, agar kami datang saja ke rumah Bhok Siuchay karena kawan kami itu akan datang menjemput kemari!”

“Siapa kawanmu itu?” tegur orang berkumis panjang tersebut. “Dia katanya bernama Wie Tu Hong!!” menjelaskan San Hie.

“Hah?” tampaknya lelaki berusia lima puluh tahun dengan kumis panjang itu jadi terkejut.

“Wie Tu Hong yang telah memberikan alamat ini kepada kami, katanya kalau memang kami bermaksud untuk meminta perlindungan di kota raja ini, agar kami datang saja menghadap pada Bhok Siuchay!! Tetapi siapa sangka, bukannya kami menerima sambutan yang baik, melainkan caci maki dari orang-orang itu!”

Sambil berkata begitu, San Hie Siansu telah menunjuk kearah jongos-jongos yang telah berdiri dengan sikap yang garang dan memandang benci kearah San Hie Siansu berempat.

Orang berkumis panjang itu telah tersenyum, “Wie Tu Hong adalah sahabatku, dia adajah seorang Hohan yang hebat!” kata lelaki berkumis itu. “Dan  Hak seng (murid) adalah Bhok Siuchay yang kalian sedang can itu!”

“Hah!” San Hie Siansu berempat jadi terkejut, cepat-cepat  mereka memberi hormat. “Maafkan atas kedatangan kami yang tidak sopan Bhok Siuchay!” kata Ing Tay Siansu.

Bhok Situjhay telah tertawa. “Jangan sungkan! Mari! Mari! Silahkan masuk!” kata Bhok    Siuchay. “Malah seharusnya Hakseng yang merasa malu, sebab kalian telah diperlakukan begitu kurang ajar oleh kacung-kacungku.”

Jongos yang tengah berdiri terkesima itu jadi terkejut bukan main. Tadinya mereka berdiri dengan sorot mata yang garang tetapi melihat majikan mereka malah menerima tamu-tamunya itu, membuat mereka jadi berbalik ketakutan,  karena mereka takut kalau-kalau nanti majikan mereka ini menjatuhkan hukuman terhadap diri mereka.

San Hie bertiga sudah tidak shejie-shejie lagi, mereka sudah tidak sungkan- sungkan pula, sebab mereka berempat  sudah lantas mengikuti si tuan rumah memasuki ruangan tengah.

Disaat itulah, San Hie Siansu telah berkata lagi kepada Bhok Siuchay yang berjalan tidak berjauhan dengan dirinya : “Bhok Siuchay, sebenarnya tempat ini sangat tenang sekali! Memang pandai Bhok mencari tempat yang demikian nyaman!” “Akh, Sicu terlalu memuji!” kata Bhok Siuchay.  “Malah tempat ini sebetulnya

menyerupai sebuah gubuk yang buruk!” “Jangan terlalu merendah Bhok Siuchay!” kata San Hie Siansu.

“Oya, bagaimana keadaan Wie Tu Hong?” tanya Bhok Siuchay sambil

melirik kearah San Hie Siansu.

“Baik-baik saja!”

Saat itu mereka telah sampai di kamar buku, Bhok Siuchay telah mempersilahkan tamu-tamunya ini untuk mengambil tempat duduk.  Bhok Siuchay telah memanggil dua orang pelayannya,   memerintahkan mempersiapkan minuman.

Kemudian barulah Bhok Siuchay menanyakan kepada San Hie bertiga, sebenarnya mereka berkenalan dengan Wie Tu Hong di mana?

San Hie telah menceritakan seluruh peristiwa yang telah menimpa kuil mereka. Mendengar cerita San Hie, sepasang alis dari Bhok Siuchay telah mengkerut dalam-dalam.

“Benar-benar suatu kemalangan yang menyedihkan!” kata Bhok Siuchay sunbil menghela napas, “Entah bagaimana nasib Tang Siauw Bun Suhu?”

“Kami sendiri belum mengetahuinya!” sahut Ing Tay Siansu.

“Tentu Wie Tu Hong tidak lama lagi akan datang kemari, karena kalian telah dimintanya untuk datang terlebih dahulu!” kata Bhok Siuchay. Ing Tay dan San Hie Siansu mengiyakan. Mereka segera bercakap-cakap panjang lebar menceritakan perihal mereka masing-masing

Ternyata Bhok Siuchay seorang yang ramah dan pandai bergaul. Hanya di dalam waktu yang singkat, San Hie Sitnsu dan Ing Tay Siansu telah menyukai diri pelajar tersebut

“Nanti kalian akan diberikan kamar yang bersih oleh pelayan-pelayan rumah tanggaku!” kata Bhok Siuchay, “Kalian boleh tenang-tenang tinggal di sini, karena memang kalian bisa menganggap bahwa rumah ini adalah rumah kalian juga! Tidak usah shejie-shejie!”

San Hie Siansu dan yang lainnya telah mengucapkan terima kasih.

Setelah bercakap-cakap sesaat lamanya lagi, Bhok Siuchay meminta mereka beristirahat dulu, karena menurut Bhok Siuchay, San Hie Siansu bertiga pasti telah dan ingin beristirahat.

 Juga Bhok Siuchay telah memerintahkan kepada jongosnya untuk mempersiapkan beberapa perangkat pakaian untuk ketiga orang tamunya ini.

Kamar yang diberikan Bhok Siuckay kepada ketiga tamunya ini adalah kamar yang terletak di belakang gedung. Keadaan disekitar tempat itu tenang dan nyaman sekali.

San Hie Siansu bertiga merasa berterima kasih atas kebaikan Bhok Siuchay. Mereka dapat beristirahat dengan tenang di tempat itu.

Sorenya Bhok Siuchay telah mengundang makan untuk mereka sambil bercakap cakap, Bhok Siuchay banyak menanyakan perihal Wie Tu Hong.

Tetapi San Hie Siansu menjelaskan bahwa mereka hanya secara kebetulan bertemu dengan Wie Tu Hong, disaat mereka tengah dikepung oleh pasukan tentara negeri.

Bhok Siuchay juga banyak bercerita perihal kejadian-kejadian  yang terdapat di dalam kota raja ini, banyak sekali peristiwa -peristiwa yang tadinya tidak diketahui oleh San Hie Siansu berempat, telah diceritakan oleh pelajar ini.

SAN HIE SIANSU bertiga telah mengaso dan tinggal di rumah Bhok Siuchay selama lima hari. Tetapi selama itu, Wie Tu Hong belum juga muncul. Hal ini telah membuat Ing Tay Siansu bertiga  jadi gelisah. Mereka jadi berkuatir, karena mereka takut kalau-kalau guru mereka mengalami halangan, sebab Wie Tu Hong telah berjanji kalau dia dapat menolong guru Ing Tay Siansu bertiga, dia akan mengajaknya ke kota raja, ke rumahnya Bhok Siuchay ini.

Tetapi ternyata sudah lewat lima hari sejak San Hie Siansu tinggal di rumah Bhok Siuchay, namun masih saja Wie Tu Hong belum juga datang. Hal ini membuat San Hie Siansu sering tidak dapat menahan diri dan bermaksud untuk pergi menyelidikinya kembali kekuilnya.

Namun Ing Tay Siansu yang selalu telah menahannya, karena menurut Tng Tay Siansu kalau sampai San Hie Siansu pergi, dan guru mereka datang, tentu urusan akan kacau kembali.

 Maka dari itu, San Hie Siansu akhirnya menuruti juga perkataan Ing Tay, dia telah menyabarkan diri untuk menantikan kedatangan Wie Tu Hong dan gurunya.

Pada malam yang keenam, disaat mana terang bulan, San Hie Siansu telah keluar berangin dipekarangan gedung Bhok Siuchay tersebut.

Disaat itulah t e r p i ki r olehnya, bahwa dia ingin pergi menyelidiki dan melihat-lihat keadaan kota-raja ini.

Maka dia telah menjumpai Ing Tay Siansu dan menceritakan maksudnya itu. Ing Tay Siansu sebetulnya tidak menyetujui maksud San Hie Siansu. Menurut Ing Tay S i a n su , kepergian San Hie S i an su bisa membawa kesulitan bagi diri mereka, kalau saja pihak lawan mengetahui jejak mereka ini.

Tetapi San Hie Siansu tetap berkeras dan ingin pergi menyerap-nyerapi keadaan kota raja. Maka akhirnya Ing Tay tidak bisa menghalangi maksud San Hie Siansu. Cin Ko memaksa mau ikut, tetapi telah ditolak oleh San He Siansu.

Dengan mengajak Cin Ko, menurut San Hie Siansu hanya membawa kesulitan saja, tentu kalau terjadi sesuatu, dia tidak bisa bergerak lebih cepat dan leluasa. Alasan yang dikemukakan oleh San Hie Siansu diterima oleh Cin Ko tidak memaksa lebih lanjut.

Maka dari itu, menjelang malam, San Hie S i a n su  telah keluar dari gedung Bhok Siuchay dengan melalui dinding pekarangan. Gerakan San Hie Siansu cepat dan gesit  sekali, dia  dapat bergerak dengan kecepatan yang bukan main, karena dia telah mempergunakan ginkangnya untuk berlari-lari di atas genting rumah penduduk.

Walaupun hari sudah cukup malam, namun keadaan di kotaraja ini masih juga cukup ramai. Malah masih banyak toko-toko yang belum tutup. San Hie Siansu akhirnya mengambil keputusan untuk mendatangi keluar masuk di rumah makan.

Dia anggap di rumah makan dia bisa mencari berita yang lebih penting, karena umumnya orang-orang dirimba persilatan, senang berkumpul di rumah makan atau di rumah penginapan.

Maka dari itu, waktu sampai di tempat yang sepi, San Hie Siansu telah melompat turun dari atas genting itu dengan gerakan yang ringan.

Dengan menundukkan kepalanya dalam-dalam, San H»e Siansu telah berjalan dari lorong kelorong, dia telah menggabungkan diri dengan orang- orang yang tengah sibuk mengurusi persoalan masing-masing.

 Tetapi biarpun dia berjalan dengan kepala yang tertunduk, perhatian San Hie Siansu dicurahkan kepada keadaan sekelilingnya. Tidak ada suatu apapun yang lolos dari matanya, dia memperhatikan dengan baik.

Selama dia berjalan dari lorong ke lorong yang lainnya, San Hie Siansu telah melihat betapa di kota raja ini selain ramai juga banyak sekali orang- orang rimba persilatan yang berlalu-lalang. Tampaknya kota raja ini memang merupakan pusat dari berkumpulnya dari orang-orang berbagai golongan.

Sedang San Hie Siansu berjalan seenaknya dengan memperhatikan segala jurusan tempat yang dilaluinya, pandangan matanya tertarik pada seseorang.

Tidak jauh dari dirinya, kurang lebih belasan tombak, tampak si Hweshio sinting tukang kwamia, tukang ramal itu, tengah berjalan sambil berteriak- teriak : “Siapa yang mau  melihat peruntungan siapa yang mau  melihat nasib cocok! Cocok! Pasti cocok! Siapa yang mau melihat peruntungan, rejeki,

jodoh?!”

Hweshio yang memakai jubah dekil itu masih terus juga berteriak -teriak dengan suara yang lantang. Dan selama itu tidak ada yang memanggilnya untuk melihat-lihat nasib.

Hati San Hie Siansu jadi tergoncang, dia jadi ingin mengetahui siapa sebenarnya pendeta ini. Maka dari itu, diam-diam dia telah menguntit di belakang pendeta ini.

Cuma saja, San Hie Siansu telah menundukkan kepalanya dalam-dalam, dan tidak berani menguntit terlalu dekat, dia mengikutinya dari  jarak yang jauh. Sedangkan si Hweshio yang berjubah ku mal telah berjalan sampai pada lorong yang sepi.

Pendeta tukang rrmal ini sudah tidak berteriak-teriak lagi, melainkan langkah kakinya yang tadinya begitu perlahan telah berobah menjadi cepat, setengah berlari, membuat San Hie Siansu mau tak mau harus cepat-cepat menguntit lebih dekat.

Pendeta itu sendiri tidak mengetahui bahwa dirinya sedang dikuntit, dia telah berlari-lari terus dengan cepat. Gerakan si Hweshio yang tampaknya seperti pendeta sinting itu, gesit sekali. Apa lagi setelah dia sampai pada jalan yang sepi. Tubuh pendeta itu seperti juga terapung-apung di tengah udara.

San Hie Siansu jadi tambah heran, karena dia melihat bahwa Hweshio itu memiliki ilmu silat yang cukup tinggi. Maka dari itu, dia telah menguntit terus. Sedangkan pendeta itu telah berlari-lari menuju kearah utara.

 Beberapa jalan telah dilaluinya, dia berulang kali menikung ke kiri dan ke kanan seperti juga sedang tergesa-gesa untuk mencapai suatu tempat.

San Hie Siansu mengikuti terus, dan dia melihat pendeta itu akhirnya sampai di pintu kota sebelah utara. Keadaan disekitar tempat itu sepi sekali. Setelah memandang sekelilingnya, pendeta ini menjejakkan kakinya.

Tubuhnya melambung tinggi sekali, tahu dia telah hinggap  di atas dinding pintu kota yang cukup tinggi, kurang lebih empat tombak.

Melihat ini, kembali hati San Hh Siansu jadi tercekat, dia kaget sekali. Hal tersebut telah menunjukkan bahwa pendeta itu memiliki Ginkang yang tinggi sekali, karena dinding pintu kota yang tinggi itu telah dapat dilompatinya dengan mudah.

Waktu melihat pendeta itu telah melompat turun di sebelah luar, San Hie Siansu tidak berani berlaku ayal. Cepat-cepat dia telah memburunya ke dekat dinding pintu kota. Dia telah menjejakkan kakinya,  tubuhnya telah mencelat ringan sekali.

Tetapi waktu kedua kaki San Hie Siansu hinggap di atas dinding itu dan memandang sekeliling tempat tersebut di luar perbentengan,   ternyata bayangan si Hweshio berjubah dekil tukang kwamia itu sudah tidak ada lagi .

Tentu saja San Hie Siansu jadi terkejut biar bagaimana tingginya ginkang Hweshio itu, tidak mungkin hanya dalam waktu yang begitu singkat bisa menghilang begitu saja.

Apa lagi keadaan di luar perbentengan di pintu kota ini adalah lapangan yang luas, tidak ada tempat untuk bersembunyi. Saking penasaran, San Hie Siansu telah melompat turun.

Cuma saja yang membingungkan benar bagi dia adalah jurusan kemana harus dikejarnya pendeta itu?!

Sedang San Hie Siansu kebingungan, tiba-tiba bahunya telah ditepuk seseorang. “Apa yang sedang kau cari?” tegur seseorang.

Hati San Hie Siansu mencelos dia membalikkan tubuhnya secepat kilat. Tetapi San Hie Siansu tidak melihat seorang manusiapun juga. Keadaan sepi sekali.

Namun tadi jelas dia merasakan bahunya ditepuk  seseorang dan mendengar suara orang menegurnya. Tidak mungkin kalau manusa dapat ber- gerak begitu cepat, hanya sekejap mata telah menghilang lagi.

 Belum lagi San Hie Siansu lenyap rasa kagetnya itu, bahunya telah ditepuk seseorang lagi.

“Aku di sini!”

Tanpa menanti habisnya perkataan orang itu, San Hie Siansu telah menoleh kebelakang. Tetapi tetap saja di belakangnya sunyi dan tidak terlihat seorang manusiapun juga. Dengan sendirinya tubuh San Hie Siansu  jadi tergetar, jantungnya berdebar keras,

“Apakah yang menegur diriku itu hantu?” San Hie Siansu dengan perasaan ngeri. Sepasang mata San Hie Siansu jadi terpentang lebar-lebar, mengawasi dengan penuh kebimbangan ke sekitar dirinya. Jantungnya berdegup cepat sekali telapak tangannya dingin, keadaan disekitar tempat itu jadi dirasakan tambah menyeramkan saja .

Tanpa terasa lagi, bulu kuduk San Hie Siansu telah meremang berdiri. Biar bagaimana tabahnya pendea ini, tetapi  menghadapi kejadian serupa tersebut, mau tak mau dia jadi ketakutan sekali.

Sedang San Hie Siansu berdiri terkesima di tempatnya, dia merasaka n sambaran angin di bahunya lagi. Sebagai seorang yang mengerti ilmu siat, malah telah memperoleh kesempurnaan dengan sendirinya San Hie Siansu mengetahui bahwa angin yang bagaimana haluspun di bahunya itu adalah angin tepukan dari setan yang tengah mengganggunya.

Cepat dia membarengi dengan memutar tubuhnya

“Tetap berdiri di tempatmu!!” terdengar suara orang membentak. Dibarengi dengan suara bentakan itu, belum lagi San Hie Siansu tahu apa-apa, maka mukanya telah kena ditempeleng keras sekali.

'“Plakkk! Plooookkkk!” sehingga mata San Hie Siansu jadi nanar. Tetapi di hadapannya dia tidak melihat ada seorang manusiapun juga. Hal ini membuat hatinya jadi mencelos.

Kuat sekali dugaannya bahwa yang sedang mempermainkan dirinya ini adalah hantu penasaran. Maka dari  itu, tanpa membuang-buang waktu lagi, tanpa menoleh lagi, San Hie Siansu sudah menghampiri dinding perbentengan itu. dia menjejakkan kakinya, tubuhnya telah mencelat keatas dinding itu.

Namun belum lagi kedua kakinya hinggap di atas dinding perbenteng an itu, maka terasa bahunya telah ditepuk keras oleh seseorang, tubuhnya telah meluncur turun dan terbanting keras di atas tanah!

 Dengan penasaran San Hie Siansu mengawasi sekitar tempat itu. Tetapi tetap saja dia tidak berhasil melihat seorang manusiapun juga. San Hie Siansu jadi menggidik.

Tadinya dia merupakan seorang yang tabah dan tidak pernah percaya adanya hantu. Setiap kali saudara seperguruannya menceritakan perihal hantu, maka San Hie Siansu malah menertawainya, dan mengejek bahwa saudar seperguruannya itu seorang yang pengecut.

Namun sekarang, dikala dia mengalami sendiri kejadian yang aneh ini, mau tidak mau hatinya jadi kecil dan nyalinya ciut. Dia jadi ketakukan sekali, dia membayangkan betapa kalau sampai lehernya dicekik hantu penasaran itu, bukankah dia tidak bisa memberikan perlawanan, karena hantu itu tidak bisa dilihat oleh mata?

Sedang San Hie Siansu menggidik ketakutan begitu,  dan dikala dia tengah berusaha berdiri dengan pinggul yang sakit bukan main maka telah didengarnya suara 'hantu' itu berkala lagi : “Mau apa kau berkeliaran di tempat ini?” bentak si Hantu.

Tubuh San Hie Siansu jadi gemetaran, mulutnya komat-kamit, berulang kali dia menyebut kebesaran sang Budha.

“Aku aku kesasar!” sahut San Hie Siansu akhirnya berdusta. “Bohong!”

“Sungguh, aku terscsat jalan!” “Bohong!”

“Sungguh!”

“Hmm, tahukah engkau dengan beraninya engkau membohongi diriku, berarti kau mencari kematian untuk dirimu sendiri!”

“Tetapi aku benar-benar tersesat jalan, sehingga sampai di sini!”

“Hmm, kau masih lidak mau menceritakan yang sesungguhnya?” bentak hantu itu, “Tahukah engkau bahwa hantu bisa melibat dan membaca isi hati seseorang! Hayo akui apa yang kau pikirkan di dalam hatimu!”

Diam-diam San Hie Siansu jadi menggidik ngeri, karena biar bagaimana dia jeri sekali berurusan dengan 'hantu' penasaran ini.

“Baiklah, aku mengaku bersalah! Sebetulnya aku tengah mengikuti seseorang yang mencurigakan!” kata San Hie Siansu akhirnya.

 “Siapa orang yang kau ikuti itu?” tegur si Hantu lagi

'Entah siapa namanya, dia seorang pendeta tukang ramal yang memakai

jubah dekil!” menyahuti San Hie Siansu lagi.

“Akukah yang kau maksudkan?” tegur si Hantu lagi. “Hah?”

“Coba kau balikkan tubuhmu!”

San Hie Siansu seperti terkena sihir, dia telah memutar tubuhnya dengan hati tergoncang. Waktu dia melihat apa yang ada di belakangnya, hampir dia menjerit kaget. Ternyata di belakangnya, entah sejak kapan telah berdiri seseorang.

Dan yang benar-benar membuatnya jadi lebih lerkejut  lagi, orang itu tidak lain dari si Hweshio berjubah dekil yang sedang dikuntitnya.

“Akukah yang sedang kau kuntit?' tegur si Hwesnio sinting itu. San Hie Siansu mengangguk ragu-ragu.

“Be benar!” katanya kemudian dengan suara yang tergugu. “Hmmm apa maksudmu mengikuti diriku?” bentak si Hweshio.

'“Aku aku hanya ingin mengetahui siapa sebenarnya Taysu, sebab sebab

Taysu sudah mementangi nasib dengan tepat sekali!”

“Itu hanya alasan belaka!” bentak si Hweshio sinting itu.

“Tetapi memang sebenarnya begitu Taysu!” kata San Hie Siansu agak

gugup.

“Hmmm jadi kau tidak mempunyai maksud lainnya?”

San Hie menggelengkan kepalanya. “Tidak!” sahutnya. “Hahahaha!” tiba-tiba si Hweshio telah tertawa tergelak-gelak.

“Kenapa Taysu?” tanya San Hie Siansu yang mulai lenyap rasa takutnya.

“Aku jadi geli kalau teringat tadi kau menyangka aku adalah hantu penasaran!” kata si Hweshio berpakaian dekil itu.

“Bagaimana Taysu bisa melakukan semua itu?!” tanya San Hie.

 “Aku mengandalkan ginkangku, sehingga aku selalu berada di belakangmu! Maka dari itu, biarpun kau memutar tubuhmu, selalu a ku tetap berada di belakangmu, bagaimana kau bisa melihat diriku?”

Dijelaskan begitu, San Hie Siansu baru mengerti. Cuma saja, diam-diam dia jadi kagum sekali terhadap ginkang Hweshio ini. Karena dengan apa yang dilakukannya itu, menunjukkan kesempurnaan ginkang pendeta itu.

“Luar biasa ginkang Taysu!” memuji San Hie Siansu tanpa diinginkannya. “Biasa saja!” sahut si pendeta. “Oya, kau telah datang jauh kekota raja

untuk keperluan urusan yang besar, bukan?' tanya si pendeta kemudian.

San Hie Siansu ragu-ragu.

“Katakan saja terus terang!” desak si pendeta berpakaian kumal itu. Akhirnya San Hie Siansu mengangguk juga. “Benar!” katanya.

“Urusan apa?”

'Maafkan Taysu, aku mempunyai kesulitan untuk menjelaskannya!” “Tetapi tentunya kau tidak keberatan kalau memberitahukan

kepadaku?!”

“Maafkan, tidak bisa urusan itu dibicarakan sekarang!” “Tetapi tanpa kaukatakan, aku juga sudah mengetahuinya! ”

Muka San Hie Siansu berobah hebat. “Be...benarkah itu, Taysu?” “Hmmm, untuk apa aku mendustaimu?”

“Urusan itu oooh, apa yang Taysu ketahui mengenai urusan itu?” “Tentu saja urusan dirimu bertiga!!” sahut si pendeta.

“Urusanku bertiga?!”

“Ya, yang terpenting diantara kalian, bukannya dirimu dan tua bangka yang seorangnya lagi, tetapi adalah bocah cilik yang berada bersama dengan kalian!”

“Ada urusan apakah pada diri Sute kami itu?” tanya San Hie Siansu. “Dia orang besar, keturunan bangsawan!” sahut pendeta tersebut.

 “Bukankah Taysu juga telah mengatakan hal itu waktu kami meminta kau kwamiakan nasib kami?” tanya San Hie Siansu, dia menduga mungkin juga Hweshio ini bermaksud memancing dirinya.

Pendeta itu tertawa. “Benar! Aku hanya mengatakan pada saat itu bahwa dia adalah turunan bangsawan, tidak lebih dari itu! Kalau memang kau mau merahasiakan keteranganku dan bersumpah tidak akan menceritakan kepada siapapun juga termasuk kawanmu yang seorang itu, mau aku menjelaskannya mengenai diri bocah itu!”

San Hie ragu-ragu. Tetapi setelah berdiam sejenak, dia mengangguk.

“Baiklah Taysu, aku bersumpah tidak akan mengatakan apa yang Taysu

telah katakan hari ini!”

“Bagus! Bocah itu adalah keturunan Peng Po Siang Sie See Un, yang saat

ini tengah tertangkap!”

“Hah?” seperti disambar petir saja layaknya San Hie Siansu waktu mendengar berita itu.

“Kau tidak percaya?”

'“Memang memang See Cin Ko Sute adalah cucu dari Peng Po Siang Sie See Un itulah sebabnya kami harus menyelamatkan jiwa Cin Ko Sute.”

“'Hmmmm, mataku selalu dapat menembus isi hati orang!” kata si pendeta. “Kau lihat saja nanti! Tetapi ingat biarpun terhadap anak itu, kau tidak boleh menceritakan apa yang telah kau dengar itu.”

San Hie Siansu telah mengangguk dengan lesu, pikirannya ruwet sekali. Ada hal yang benar-benar tidak pernah terpikir olehnya, yang tidak pernah diduga sebelumnya bahwa Seng Kim ternyata putera musuh besar mereka, yaitu Ban Hong Liu. Kenyataan seperti inilah yang hampir tidak bisa diterima dalam akal sehat San Hie Siansu.

Bayangkan saja, sebagai anak dari Ban Hong Liu, yang saat ini memiliki kekuasaan sangat besar, tidak nantinya Seng Kim mau hidup menderita. Tetapi kenyataannya malah Seng Kim telah mau hidup dalam alam yang menderita.

Si Hweshio tua itu telah tertawa tawar, “Ingat akan janjimu, apa yang telah kukatakan itu tidak boleh kau simpan di dalam hati, kau juga tidak boleh membicarakan hal itu kepada siapapun juga, karena nasib seseorang tidak bisa ditolak!!”

 San Hie Siansu mengiyakan. “Tetapi Taysu!” katanya dengan sikap yan g ragu-ragu.

“Apa lagi?” tanya pendeta itu dengan suara yang tawar '“Ada sesuatu yang ingin kutanyakan!” kata San Hie Siansu. “Soal apa?”

“Soal guruku!”

“Kau ingin menanyakan apakah gurumu itu dalam keadaan selamat, bukan?”

“Benar Taysu!”

Hweshio iua berdiam sejenak, tetapi kemudian menyahuti : “Gurumu sedang dalam keadaan terluka, tetapi jiwanya telah ditolong oleh seseorang!” kata hweshio dekil itu.

“Oh syukurlah!” seru San Hie Siansu yang jadi girang bukan main mendengar bahwa gurunya telah ada yang selamatkan.

“Nah sekarang pergilah kau kembali ke tempatnya Bhok Siuchay!!” kata si pendeta lagi. “Nanti kawan-kawanmu itu berkuatir atas dirimu!”

“Siapakah Taysu?”

“Kalau memang kau ingin mengelabui siapa diriku sebenarnya, besok malam kentongan kedua kau boleh datang kemari lagi! Kita bisa bercakap- cakap!”

San Hie Siansu tidak berani terlalu mendesak, dia telah merangkapkan sepasang tangannya untuk memberi hormat, dan kemudian menjejakkan kakinya. Tubuhnya mencelat melewati dinding perbentengan itu.

Sedangkan si Hweshio yang berpakaian ku mal itu, telah tertawa tergelak-gelak. Tampaknya pandeta tersebut girang sekali. San Hie Siansu biarpun telah melompati dinding perbentengan kota raja, tetap saja samar- samar bisa menangkap suara tertawa itu. Tetapi saat itu San Hie sudah tidak mau terlalu dilibat oleh hweshio tersebut

Maka dari itu, San Hie Siansu telah berlari-lari akan pulang ke gedungnya Bhok Siuchay. Dengan mempergunakan ginkangnya, San Hie Siansu telah berlari-lari di atas genting rumah penduduk.

Keadaan di dalam kotaraja ini telah mulai sepi dan keramaian berkurang, disebabkan hari telah semakin larut saja.

 Dengan cepat San Hie Siansu telah tiba dimuka gedung Bhok Siuchay. Dia telah menceritakan segala apa yang dialaminya itu kepada kawan - kawannya. Ing Tay Siansu jadi heran bukan main mendengar cerita saudara seperguruannya tersebut.

“Mengapa kau tidak menanyakan namanya?” tanya Ing Tay Siansu. “Justru dia tidak mau memberitahukannya!” kata San Hie Siansu.

“Katanya kalaumemang aku mau mengetahui siapa  dia sebenarnya, besok malam kentongan kedua aku boleh datang di tempat yang tadi!”

Ing Tay Siansu heran bukan main, begitu pula Cin Ko. Tetapi bocah ini, tidak berani ikut bicara.

Mengenai kata-kata si Hweshio yang menceritakan siapa Cin Ko tidak diberitahukan San Hie Siansu kepada kawan-kawannya  ini. Urusan itu ditutupnya rapat, karena memang San Hie Siansu ingin memperhatikan dulu apakah perkataan hweshio itu mengenai Cin Ko benar adanya.

Disebabkan itulah, maka akhirnya San Hie Siansu telah memutuskan untuk tidak menceritakan perihal tersebut, karena dia takut kalau-kalau nanti membawa akibat tidak baik bagi dirinya, terutama kawan-kawannya.

Malam hari itu telah lewat, sudah menjelang fajar. Tetapi disebabkan semalam mereka tidur terlambat, mereka jadi bangun kesiangan.

Sedang Cin Ko menyalin pakaian, San Hie Siansu telah menarik lengan Ing Tay Siansu.

“Kita harus hati-hati, banyak sekali orang yang tengah memperhatikan

kita!” kata San Hie Siansu. Ing Tay Siansu mengangguk.

Setelah Cin Ko selesai salin pakaian mereka, Ing Tay Siansu mengajak mereka untuk bersantap pagi.

Bhok Siuchay pagi itu telah datang ke kamar tersebut, untuk melihat- lihat, apakah jongosnya ada yang melakukan kesalahan. Setelah melihat segalanya teratur, Bhok Siuchay jadi girang.

Namun dasarnya seorang kutu buku, dengan sendirinya dia sangat sopan sekali. Benar-benar San Hie Siansu dan Ing Tay Siansu menyukai pelajar ini.

Seperginya pelajar Bhok Siuchay tersebut, maka San Hie Siansu telah bercakap-cakap lagi. Tampaknya mereka girang sekali. Namun sebenarnya di dalam pikiran Cin Ko, San Hie Siansu dan Ing Tay Siansu mempunyai jalan pikiran masing-masing yang berbeda-beda.

 Sampai saat itu, guru mereka masih juga belum datang. Begitu juga Wie Tu Hong, masih belum muncul di rumah Bhok Siuchay.

MALAM telah tiba lagi dengan cepat. San Hie Siansu telah bersiap-siap untuk berangkat lagi. Ing Tay Siansu berpesan agar San Hie Siansu berhati- hati karena di kota raja ini terdapat banyak sekali kejadian yang tidak terduga.

“Pada wajahnya kita melihat seseorang yang baik dan ramah, belum tentu hatinya jujur dan bersih!” pesan Ing Tay Siansu. San Hie Siansu mengiyakan dan dia telah pamitan untuk pergi menemui si Hweshio yang penuh rahasia itu.

Kali ini Cin Ko memaksa ingin ikut serta. Tetapi tetap telah ditolak oleh San Hie Siansu.

“Nanti segalanya akan kucerirakan yang sejelas-jelasnya!” kata San Hie

Siansu.

Maka dari itu, Cin Ko biarpun merasa tidak senang atas penoiakkan kakak seperguruannya itu, namun mereka tidak bisa berbuat apa-apa.

San Hie Siansu dengan cepat telah meninggalkan rumah Bhok Siuchay. Dia telah menuju kepintu kota yang kemarin dimana dia bertemu dengan si Hweshio berbaju dekil dan tukang ramal itu.

Saat itu sudah mendekati kentongau kedua, dan keadaan disekitar tempat dimana terdapat pintu kota, telah sepi sekali. Dengan tenang dan tanpa takut-takut seperti kemarin, San Hie Siansu telah menjejakkan kakinya.

Tubuhnya telah mencelat cepat sekali, melewati dinding perbentengan itu. Waktu berada di luar kota, dia melihat keadaan  sepi sekali. Si Hweshio yang berjanji akan bertemu dengannya tidak tampak. Rupanya Hweshio itu belum datang.

Sedang San Hie Siansu berdiri begitu mengawasi  sekitar tempat tersebut, maka tahu-tahu bahunya dirasakan telah ditepuk seseorang. Cepat- cepat San Hie menoleh dengan terkejut. Tidak terlihat  seorang manusiapun juga.

Tetapi San Hie Siansu tidak sekaget kemarin, karena dia sudah dapat menerkanya, bahwa yang menepuk bahunya itu pasti si Hweshio yang berjanji akan bertemu dengan dirinya di tempat ini.

 “Taysu jangan menggodaku lagi!” kata San Hie Siansu.

“Hahahahaha!” terdengar suara tertawa si Hweshio tukang ramal itu.

Maka tampak dia telah melompat keluar dari belakang San Hie Siansu.

“Tampaknya kau penasaran dan ingin mengetahui juga siapa diriku sebenarnya!” kata si pendeta.

“Ya!” mengangguk San Hie.

“Hmmm, sekarang kau ikut aku, akan kuperkenalkan dengan dua orang kawanku yang lainnya!” kata si Hweshio sambil tersenyum.

San Hie ragu-ragu.

“Kau jeri untuk turut denganku?” tanya si Hweshio yang telah melihat keragu-raguan San Hie Siansu. Saat itu juga San Hie Siansu telah mengambil keputusan. Dia telah mengangguk.

“Baiklah Taysu, aku turut dengan kau!” kata San Hie Siansu.

Si Hweshio jadi girang. “Bagus! Mari!” katanya sambil mencelat berlari- lari pesat sekali. Si Hweshio telah mengajak San Hie Siansu memasuki kota lagi.

Saat itu keadaan di dalam kota itu mulai sepi dan juga mereka mengambil jlan di atas genting rumah penduduk dengan sendirinya mereka tidak menarik perhatian orang.

Apa lagi selain ginkang San Hie Sienie memang tinggi, juga ginkang si Hweshio yang aneh itu luar biasa sekali. Kedua orang ini melompat dari genting rumah yang satu ke rumah yang lainnya. Akhirnya si Hweshio berjubah dekil itu telah mengajak San Hie Siansu disebuah rumah penginapan.

Si Hweshio tukang ramal ini telah menghampiri sebuah jendela, mengetuknya perlahan.

“Aku telah kembali      ada seorang   sahabat yang ingin bertemu!!” katanya dengansuara perlahan. Jendela itu telah dibuka dari dalam. Ternyata di dalam kamar itu telah terdapat dua orang yang berusia lanjut.

Begitu melihat kedua orang ini, San Hie Siansu segera mengetahuinya bahwa mereka adalah dua orang jago tua yang tentunya memiliki kepandaian yang tinggi, sebab sorot mata mereka yang tajam.

 Segera juga si Hweshio tukang ramal itu telah memperkenalkan kedua kawannya kepada San Hie Siansu. Salah seorang dari kedua kawan si Hweshio buntung kedua kakinya.

Ternyata kedua orang itu tidak lain dari Si Buntung dan Thang Lan Hoa. Serta si Hweshio aneh itu tidak lain dari Ming Sing Siansu, yang telah menyamar sebagai tukang ramal untuk menyelidiki keadaan di kota raja ini.

Rupanya Ming Sing Siansu bertiga dengan Thang Lan Hoa dan si Buntung telah berdiam agak lama di kota raja, selama itu mereka tidak pernah berhasil memperoleh berita yang penting.

Secara kebetulan hari itu Ming Sing Siansu  melihat San Hie Siansu bertiga, maka dia telah sengaja membuat ramalan yang diterka-terkanya, dia sendiri dengan melihat ketiga orang itu, San Hie dan yang lainnya, dia segera mengetahui bahwa mereka bukanlah pengemis yang sebenarnya. Juga melihat Cin Ko, dia segera dapat mengenalinya, karena ciri-ciri Cin Ko telah disebar luaskan oleh pemerintah, untuk dicari atau ditangkap mati atau hidup.

Malam itulah sengaja Ming Sing Siansu telah memancing San Hie Siansu.

SAN HIE SIANSU sendiri waktu mengetahui bahwa ketiga orang itu adalah Ming Sing Siansu, Si Buntung dan Thang Lan Hoa, tiga orang tokoh rimba persilatan yang terkenal sekali, jadi kaget bukan main. Cepat-cepat dia telah merobah panggilannya menjadi Locianpwe (pangilan menghormat untuk orang yang tingkatannya lebih tinggi).

Juga tanpa ragu-ragu lagi San Hie Siansu telah menceritakan semua peristiwa yang telah dialaminya. Thang Lan Hoa telah menggebrak meja.

“Memang orang she Ban itu keterlaluan sekali, dia menginginkan para Hohan di dalam rimba persilatan mati semuanya!”

“Tenang! Tenang!” kata Ming Sing Siansu sambil tertawa lebar. “Kalian sebenarnya boleh bersyukur bahwa kalian telah dapat bertemu satu dengan yang lainnya! Bukankah dengan demikian kita telah memperoleh bantuan te- naga yang sama setujuan?”

Thang Lan Hoa telah mengangguk dan si Buntung sendiri membenarkan. Menjelang fajar mereka baru berpisah setelah berunding semalaman suntuk.

San Hie Siansu cepat-cepat kembali ke rumah Bhok Siuchay untuk memberitahukan perihal bertemunya dia dengan Thang Lan Hoa bertiga. Cuma saja waktu m a u meninggalkan rumah penginapan itu, Ming Sing Siansu telah memesan berulang kali dan wanti-wanti bahwa San Hie Siansu harus pura-pura

 tidak mengetahui bahwa Seng Kim adalah putera Ban Hong Liu. San Hie Siansu telah memberikan janjinya, dia tetap akan memegang rapat rahasia itu.

Ketika dia telah kembali ke rumah Bhok Siuchay, San Hie Siansu telah menceritakan segalanya kepada Ing Tay Siansu. Tentu saja Ing Tay Siansu jadi girang bukan main mendengar kabar girang ini.

“Bagaimana kalau ketiga Locianpwe itu kita ajak tinggal bersama di sini? Kita harus me minta ijin dulu dari Bhok Siuchay!!” kata San Hie Siansu yang telah mengemukakan pendapatnya.

Ing Tay Siansu menyetujuinya, mereka segera keesokan paginya   telah m e n em u i Bhok Siuchay, menceritakan bahwa di kota raja telah datang tiga orang sahabat mereka, dan ingin m e n ga jaknya tinggal bersama-sama me- numpang di gedungnya Bhok Siuchay.

Bhok Siuchay tidak keberatan. Maka dari itu, siang itu juga San Hie Siansu telah pergi menghubungi Thang Lan Hoa bertiga, dia telah mengajak ketiga jago tua tersebut untuk bergabung. Tentu saja Thang Lan Hoa bertiga jadi girang sekali dan memenuhi ajakan itu. Begitulah, mereka  telah bergabung.

CIN KO ternyata girang bukan main memperoleh  kawan lebih banyak lagi. Apa lagi Thang Lan Hoa bertiga adalah tiga orang tokoh rimba persilatan yang masing memiliki kepandaian yang bukan main tingginya.

Terhadap Cin Ko sebetulnya di hati Thang Lan Hoa bertiga terdapat suatu perasaan yang lain, karena perjuangan mereka ini justru untuk membela keluarga Peng Po Siang Sie See Un. Dengan sendirinya Thang Lan Hoa bertiga sangat menyayangi Cin Ko.

Haro demi hari telah lewat, tanpa terasa sudah empat hari lagi. Dan pada hari kelimanya lagi, dipagi hari telah datang dua orang ke rumahnya Bhok Siuchay. Kedua tamu itu tidak lain dari orang yang sedang mereka harapkan, yaitu Tang Siauw Bun dan Wie Tu Hong!

Betapa girangnya hati mereka, karena telah dapat berkumpul kembali. Apalagi Tang Siauw Bun dan Wie Tu Hong, mereka sangat girang memperoleh bantuan tiga tenaga inti yang memiliki kepandaian yang tinggi sekali seperti Thang Lan Hoa, Ming Sing Siansu serta si Buntung.

Malah Tang Siauw Bun telah umplek bercakap-cakap dengan ketiga jago tua itu. Wie Tu Hong juga telah bercakap-cakap. Jago-jago  tua ini telah mengatur rencana mereka selanjutnya.

 Malam ini juga mereka akan melakukan penyelidikan. Lebih-lebih terbadap diri Tan Keng Can, seperti apa yang diceritakan oleh si Buntung, yang mana dicurigai sebagai pembunuhnya Giok Ie Lang.

Tang Siauw Bun jadi gusar bukan main mendengar kematian yang diterima oleh muridnya yaitu Giok Ie Lang. Maka dari itu, dia sudah berkeras, malam ini mau tak mau dia harus menyelidiki  perihal diri pemuda yang bernama Tan Keng Can.

Hari itu mereka telah mengasoh untuk memupuk semangat dan tenaga. Dan menjelang kentongan kedua, jago tua ini telah bersiap-siap untuk jalan keluar menyatroni gedungnya Tan Keng Can, karena mereka penasaran sekali ingin mengetahui sebenarnya siapakah Tan Keng Can.

San Hie Siansu, Ing Tay Siansu, Cin Ko, telah diperintahkan oleh Tang Siauw Bun agar tidak ikut. Sebetulnya San Hie Siansu berat sekali tidak dapat turut guru mereka, tetapi apa mau dibilang, San Hie Siansu tidak berani membantah perintah gurunya.

Dari itu, akhirnya menjelang kentongan ketiga, barulah Tang Siauw Bun, Thang Lan Hoa, Wie Tu Hong, Ming Sing Siansu dan si Buntung telah keluar dari gedungnya Bhok Siuchay.

Mereka telah memencar diri agak berjauhan, walaupun tujuan mereka satu, yaitu gedung yang pernah dipergunakan untuk berkumpul para pengemis, dimana para pemuda yang bernama Tan Keng Can itu tinggal menjadi penghuninya.

Cepat sekali kelima jago tua ini telah sampai di muka gedung Tan Keng Can. Tetapi mereka melihatnya gedung itu sangat sepi dan sunyi sekali.

Dengan sebat Tang Siauw Bun telah melompati tembok gedung itu. Dia telah menyelinap masuk, karena Tang Siauw Bun telah diliputi hawa amarah yang bukan main. Jago-jago tua yang lainnya juga telah ikut melompat pula.

Dengan berindap-indap mereka telah memeriksa setiap kamar melalui jendela yang mereka lubangi dengan ujung lidah masing-masing. Tetapi setiap kamar yang mereka periksa itu merupakan kamar-kamar kosong belaka, tidak berpenghuni. Tentu saja hal ini membuat mereka jadi kaget dan heran.

Tetapi serupa ingatan berkelebat diotaknya Ming Sing Siansu.

“Hah?!!” berseru pendeta itu. “Apakah tidak mungkin mereka memasang perangkap agar kita masuk dalam perangkap?!”

Yang lainnya juga mendusin.

 “Hmmm!” tetapi Tang Siauw Bun yang tengah  diliputi hawa amarah, telah mendengus begitu. “Biar bagaimana kita karus dapat menemui pemuda she Tan itu!”

Baru saja Tang Siauw Bun berkata sampai di sini telah terdengar suara tertawa yang sabar.

“Kalian mencari diriku?” terdengar suara orang menegur.

Kelima jago tua itu jadi terkejut bukan main, mereka sampai mengeluarkan seruan tertahan dan telah menoleh kearah asalnya suara teguran itu.

Ternyata entah sejak kapan, telah berdiri di bawah pohon Yangliu, seorang pemuda berparas cakap dan berpakaian mewah.

Mata Tang Siauw Bun jadi mencilak-cilak. “Engkaukah yang bernama Tan Keng Can?” tegurnya dengan gusar.

Pemuda itu tenang sekali dia malah telah mengangguk tanpa memperlihatkan perasaanjeri pada wajahnya.

“Benar!” sahutnya. “Akulah orangnya yang sedang kalian cari! Selamat bertemu! Selamat bertemu!!” dan sambil berkata begitu,  pemuda berparas cakap tersebut, yang ternyata memang tidak lain dari Tan Keng Can, telah merangkapkan sepasang tangannya menjura  memberi hormat kepala kelima jago tua itu

Tang Siauw Bun dan keempat jago tua yang lainnya telah mendengus

gusar.

“Hmmm, kami  tidak perlu berkenalan dengan m a n u s ia  seperti engkau

ini!” berseru Tang Siauw B u n dengan gusar. “Akuilah secara jujur, engkaukah

yang telah membinasakan Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang?”

Pemuda itu tetap tersenyum, pada wajahnya  tidak terlihat suatu perobahan sedikitpun juga. Malahan dengan berani dia telah menganggukkan kepalanya beberapa kali.

'Benar! Tidak salah!” sahut Tan Keng Can tawar, “Lalu apa yang kalian inginkan?”

“Oh pemuda bangsat!” berseru Tang Siauw Bun dengan gusar, dan sudah mau menerjang maju untuk melancarkan serangan kepada Tan Keng Can.

Tetapi lang Siauw Bun telah dapat ditahan oleh Ming Sing Siansu.

“Sabar Loheng!!” kata Ming Sing Siansu dengan sabar, “Biarlah Lolap yang bicara padanya!'“

 Tang Siauw Bun bisa diberi pengertian, membatalkan maksudnya untuk menerjang. Sedangkan Ming Sing Siansu telah melangkah maju dua tindak.

“Tan Kongcu, apa maksudmu dengan membunuh murid dari Tang Loheng dan si Buntung ini?” tegur M i n g Sing Siansu. “Bukankah kau berasal dari Kaypang, seharusnya kita bersahabat, tidak bentrok demikian rup a!”

Tetapi Tan Keng Can telah tertawa tawar. “Bersahabat? Aku tidak perlu bersahabat dengan pihak kalian!” kata Tan Keng Can. “Apakah kedatangan kalian kemari ingin membalas dendam atas kematian Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang itu?”

Ming Sing Siansu menganggukkan kepalanya.

'Tetapi! Memang tidak salah!” shaut si pendeta dengan suara yang

lantang.“Tentu saja hutang nyawa harus ada perhitungan          !”

Tan Keng Can tetap bersikap tenang, dia tidak memperlihatkan perubahan pada wajahnya. Hanya sambil tertawa, dia telah berkata : “Tetapi kukira kalian tidak akan mampu membalas sakit hati dari muridnya orang tua itu!”

“Kenapa begitu?” tegur Ming Sing Siansu sambil menindih perasaan

gusarnya.

“Hmmm, tidak perlu kujelaskan, silahkan kalian melihat sekeliling kalian saja!!” sahut Tan Keng Can dengan suara mengejek.

Tentu saja kelima jao tua ini jadi terkejut,  tadi disebabkan mereka sangat gusar, tidak sempat mengawasi keadaan di sekitar tempat itu, tetapi setelah diperingatkan oleh Tan Keng Can, mereka baru memandang sekitar tempat tersebut.

Begitu melihat, mereka begitu terkejut, karena sekitar tempat tersebut, entah sejak kapan, telah berdiri dan terkurung ratusan orang yang bersenjata lengkap di tangan masing-masing.

“Terkutuk benar!” berseru Tang Siauw Bun yang ja d i   gusar  se kali.

“Biarlah hari ini aku mempertaruhkan jiwa tuaku!”

Tetapi Ming Sing Siansu telah menahan Tang Siauw Bun, agar  t idak terlalu mengumbar kemarahannya.

Sedangkan Tan Keng Can telah tertawa tawar lagi.

“Percuma kalian mau berkeras, karena orang- orang yang mengurung tempat ini memiliki kepandaian yang tinggi! Maka dari itu, kalau kalian tidak

 mau bicara  secara baik-baik  tentu kalian akan binasa dengan cara yang

mengenaskan sekali, percayalah padaku!!”

Tawar sekali perkataan Tan Keng Can, seolah-olah tak berperasaan. “Apa yang kau inginkan orang she Tan?” tegur Ming Sing Siansu. “Kalian menyerah secara baik-baik!!”

“Heh!”

“Menyerah secara baik-baik, kami tidak akan mengganggu jiwa tua

kalian!”

“Mana   bisa   begini?!!”   bentak   Ming   Sing   Siansu   yang   jadi   meluap

darahnya.

“Terserah, akupun tidak memaksanya!!”  menyahuti Tan Keng Can.

'Tetapi orang she Tan, mengapa kau tampaknya seperti sengaja sengaja ingin bentrok dengan pihak kami?” tegur Ming Sing Siansu dengan mengandung kemarahan bukan main.

“Aku tidak memusuhi pihak kalian, hanya kalian yang terlalu usil! Seperti orang she Giok itu, dia telah berani mati menyelinap di dalam rapat  kami beberapa saat yang lalu, maka dari itu, dia pantas menerima hukuman mati seperti itu!!”

“Juga muridku telah kau bunuh pula!!” berseru si Buntung dengan gusar. “'Sudan kukatakan, selama kalian ini mau berlaku usil, maka jangan

harap kalian bisa mempertahankan jiwa kalian! Lebih baik kalian mau menyerah secara baik-baik, kalau memang nanti terbukti kalian tidak usil dan tidak mau mencampuri urusan kami, tentu jiwa kalian tidak akan kami ganggu seujung rambutpun juga!!”

Ming Sing Siansu telah mendengus tertawa dingin. Sedangkan jago-jago tua yang lainnya telah murka sekali.

“Coba kalian maju, kami akan melayani!!” berseru s Buntung “Aku mau

lihat, sampai dimana kehebatanmu, orang she Tan!”

Mendengar tantangan si Buntung, Tan Keng Can tertawa tawar.

“Hmmm!” mendengus anak muda itu. “Apakah kalian sudah berpikir seribu kali untuk bentrok dengan pihak kami!!”

 “Matipun kami rela!'“ berseru Tang Siauw Bun yang sudah tidak bisa mengendalikan kemarahan hatinya lagi, karena dengan cepat dia telah mengeluarkan suara bentakan dan melompat menerjang kearah Tan KengTian.

Namun disaat tubuh Tan Siauw Bun melayang ditengah uda,  dari samping kiri dan kanan Tan Keng Can sudah melompat dua sosok tubuh.

Kedua sosok tua itu menghalangi Tan Keng Can menyambuti serangan Tang Siauw Bun.

Ternyata kedua orang itu adalah dua orang yang bertubuh tegap. Mata mereka bengis sekali, rupanya dia dua orang jago Gwakang (tenaga luar, te - naga kasar). Tetapi Tang Siauw Bun yang sedang murka itu sudah tidak bisa mengendalikan dirinya lagi, dan mengamuk dengan hebat.

Keempat kawan Tang Siauw Bun waktu melihat pertempuran sudah tidak bisa dielakkan lagi, maka cepat-cepat telah turun tangan untuk membantu. Tetapi ratusan orang-orangnya Tan Keng Can telah meluruk dan mengeroyok kelima jago ini. Bukan main!

Orang-orangnya Tan Keng Can rupanya adalah jago-jago pilihan karena mereka rata-rata memiliki kekosenan yang bukan main, sehingga biarpun Tang Siauw Bun berlima memiliki kepandaian yang tinggi, tokh ternyata mereka tidak dapat berbuat banyak.

Pertempuran yang pincang seperti itu, lima orang melawan ratusan lawannya, tentu saja membuat kegusaran Tang Siauw Bun berlima tambah hebat saja.

Tan Keng Can telah berseru dengan suara yang nyaring : “Kalau

memamg kalian masih mau hidup terus, lebih baik kalian menyerah saja!”

Tetapi kata-kata Tan Keng Can ini malah menambah kemarahan Tang Siauw Bun berlima. Kelima jago tua ini jadi mengamuk dengan hebat.

Tan Keng Can melihat kebandelan kelima orang tamunya ini, dia jadi mengeluarkan suara tertawa dingin dan tidak mengatakan apa-apa lagi. Disaat itulah, anak buah dari Tan Keng Can tanpa sungkan lagi telah melancarkan serangan yang bertubi-tubi.

Melihat gencarnya serangan-serangan yang dilancarkan oleh anak buahnya Tan Keng Can, tentu saja membuat Ming Sing Siansu berkuatir sekali. Sebagai seorang Hweshio yang dapat berpikir dengan tenang dan berkepala dingin, dengan sendirinya dia mengerti keadaan situasi pada saat itu tidak menguntungkan bagi pihak mereka

 Sebetulnya Ming Sing Siansu mau menahan kawan -kawannya agar tidak bertempur dulu. Tetapi si Buntung dan Tang Siauw Bun yang tengah diliputi kemarahan yang bukan main, dengan sendirinya telah tidak dapat ditahan lagi.

Mereka jadi mengamuk bagaikan harimau luka, setiap serangan yang mereka lancarkan selalu pula mengandung maut.

Maka dari itu, biarpun jumlah orang-orangnya Tan Keng Can cukup banyak, tetap saja mereka agak jeri menghadapi amukan kelima jago tua tersebut.

Sepasang alis Tan Keng Can telah mengkerut dalam-dalam waktu melihat perkembangan seperti itu.

“Kepung lebih rapat!” perintahnya. Anak buah Tan Keng Can mengiyakan, maka pertempuran semakin hebat. Berselang puluhan jurus, tiba- tiba Tan Keng Can telah membentak : “Mundur! Biar aku yang menghadapinya!”

Dan Tan Keng Can bukan hanya berteriak begitu saja, sebab dia telah menerjunkan diri untuk mengeroyok kelima jago tua itu. Pergolakan yang terjadi di dalam gedung ini semakin hebat saja. Sampai akhirnya malah kelima jago tua itu disebabkan kurang tenaga, telah terdesak hebat.

Kepandaian Tan Keng Can ternyata hebat bukan main, walaupun usianya masih begitu muda. Setiap serangan yang dilancarkan oleh Tan Keng Can selalu membuat kelima orang lawannya mundur untuk menyelamatkan diri.

Pernah sekali, nyaris bahu dari Wie Tu Hong menjadi sasaran dari jari telunjuk Tan Keng Can. Untung saja Wie Tu Hong dapat mengelakkan serangan pemuda tersebut

Dan jari telunjuk pemuda itu telah meluncur terus   menotok tiang.

Seketika itu juga kayu tiang yang tebal dan kuat itu telah berlubang.

Melihat ini, Wie Tu Hong sampai mengeluarkan seruan tertahan. Dia juga jadi mengucurkan keringat dingin. Hebat sekali jari telunjuk pemuda she Tan itu, luar biasa dan di luar dugaan dari kelima jago tua itu, mengingat usia dari Tan Keng Can yang masih begitu muda.