Manusia Jahanam Jilid 07

 
Jilid 07

TANPA diketahui oleh orang-orang yang berada di jalan dalam kota Pay- hong-kwan tersebut, sepasang mata yang bening tengah meny aksikan jalannya pertempuran itu dari atas genting sebuah rumah penduduk. Orang ini mendekam di sudut genting rumah penduduk yang tidak berjauhan letaknya dengan jalan dimana Giok Ie Lang dan Siauw Hay Cie tengah bertempur dengan hebat.

Sebentar-sebentar sepasang alis orang ini mengkerut, kalau dilihatnya Giok Ie Lang gagal melancarkan serangannya pada Siauw Hay Cie.

Orang yang mendekam berscmbunyi di atas genting itu adalah seorang pcnrida berusia diantara dua puluh lima tahun, wajahnya cakap, pakaiannya menunjukkan dia seperti seorang Siuchay, dengan topi Siuchaynya  yang berwarna kuning gading.

“Hmmm, sebenarnya orang she Giok itu sudah dapat kemenangan sejak tadi!” gumam pemuda pelajar ini dengan suara yang perlahan sekali. “Tetapi kesempatan-kesempatan yang selalu ada itu tidak dipergunakarnya, mungkin juga disebabkan perhatiannya terpecah kepada   kawan-kawannya Siauw Hay Cie, maka dia jadi melupakan kesempatan-kesempatan itu!”

Dengan penuh perhatian, pemuda yang mendekam di atas genting ini memperhatikan terus jalannya pertempuran Giok Ie Lang dan Siauw Hay Cie.

Sampai akhirnya setelah berselang beberapa jurus lagi, orang itu telah menggumam perlahan lagi : “Mau tak mau aku harus turun tangan menyelesaikan juga!!”

Dan tangannya tampak perlahan-lahan merogoh sakunya, dia mengeluarkan beberapa biji catur. Dengan menjentikan satu-satu  biji catur itu, tampak orang ini telah membuat kawan-kawan Siauw Hay Cie jadi kelabakan karena segera juga ada beberapa orang kawan Siauw Hay Cie yang

 telah rubuh terkulai di atas tanah tertotok jalan darahnya oleh timpukan- timpukan biji catur.

Kejadian ini menimbulkan kepanikan di antara kawan-kawan Siauw Hay Cie yang lainnya, yang tidak menjadi korban totokan biji catur itu.

Sedangkan Siauw Hay Cie sendiri yang mendengar suara ribut-ribut dan waktu melirik melihat ada beberapa orang kawannya yang rubuh terkulai tidak keruan juntrungannya, jadi melompat mundur, dia tidak melanjutkan serangannya lagi.

Giok Ie Lang juga tidak mengejar dan tidak mendesak lebih jauh. Dia berdiri tegak saja mengawasi betapa Siauw Hay Cie jadi sibuk memeriksa beberapa orang kawan-kawannya itu.

Hanya dihati Giok Ie Lang jadi heran, dia menduga entah siapa yang telah turun tangan membantu dia.

Siauw Hay Cie telah melihat bahwa yang merubuhkan kawan-kawannya itu, disebabkan biji catur yang menotok jalan darah kawan-kawannya  itu. Beberapa biji catur menggeletak di atas tanah.

Muka Siauw Hay Cie jadi berobah merah padam saking murkanya. Dia telah berdiri dan mengawasi keadaan sekitar tempat itu. “Siapa yang telah demikian pengecut melakukan penyerangan gelap? Kalau memang seorang Hohan, keluarlah perlihatkan diri! Aku Siauw Hay Cie ingin belajar kenal! Keluarlah!” bentaknya penuh kemarahan.

Belum habis suara perkataan Siauw Hay Cie, telah terdengar  suara tertawa bergelak-gelak yang nyaring sekali. “Aku yang telah merubuhkan tikus-tikus kecil itu!” terdengar seseorang telah berkata, disusul  mencelat turun sesosok tubuh dengan gerakan yang cepat sekali. “Aku yang ingin me- rasakan pula kehebatan dari kedua telapak tangan Eng Jiauw Kangnya Siauw Hay Cie Tayjin (pembesar Siauw Hay Cie)!”

Mata Siauw Hay Cie dipentang lebar-lebar, dan waktu melihat orang yang turun dari atas genting itu, dia mendengus tertawa dingin.  “Hmm, kiranya kau maling cilik Wu Cie Siang!” katanya tawar.”Bagus! Bagus! Kami memang sedang mencari dirimu!”

Hati Giok Ie Lang tercekat juga mendengar Siauw Hay Cie menyebut nama orang itu. Rupanyan yang telah menolong dirinya tidak lain dari Wu Cie Siang. Dan Giok Ie Lang jadi kagum juga, karena di dalam usia semuda seperti Wu Cie Siang, ternyata telah memiliki ilmu yang begitu tinggi. Menotok dengan mempergunakan biji catur bukanlah pekerjaan yang mudah, karena membutuhkan kekuatan iwekang yang sempurna.

 Wu Cie Siang, pemuda pelajar yang tadi bersembunyi di atas genting, telah tertawa bergelak-gelak. “Hahahaha diriku tidak usah kalian cari-cari, bukankah secara tetap setiap harinya aku pasti akan mengunjungi rumah hartawan yang baik hati she Ciam itu? Hmm, lihatlah aku baru saja mengambil harta yang tidak ternilai harganya!” dan setelah berkata begitu, tampak tangan Wu Cie Siang menggerakkan sebuah bungkusan yang agak besar, diacung-acungkannya ditengah udara. “Memang aku sedang menantikan kesempatan seperti ini, yaitu dikala kalian berada di luar kandang, aku menyelesaikan urusan ini!”

Muka Siauw Hay Cie jadi berobah seketika itu juga, giginya tampak berkerot nyaring, matanya memancarkan sikap yang bengis sekali.

Seketika itu juga serupa ingatan berkelebat dibenaknya dan Siauw Hay Cie menyadarinya bahwa dia lelah melakukan kesalahan besar. Saat itu Wu Cie Siang telah melemparkan bungkusan ditangannya itu keatas tanah, dan terbuka seketika itu.

Begitu melihat isi bungkusan tersebut, semua orang yang melihatnya jadi menggidik termasuk Giok Ie Lang sendiri, karena bungkusan itu ternyata membungkus kepala seorang manusia yang digorok lehernya sampai putus, darah juga memenuhi kain pembungkus itu, namun disebabkan kain tersebut sangat tebal, belum sampai menyerap.

Muka Siauw Hay Cie sendiri sampai berobah hebat, rupanya dia murka berbareng takjub, sampai berdiri melengak dengan muka yang merah padam. Begitu juga halnya dengan kawan-kawannya, telah berdiri mendelong, malah ada yang sampai mengeluarkan seruan : “Ciam Wanggwe!!”

Tiba-tiba Siauw Hay Cie telah mengeluarkan suara erangan penuh kemurkaan. Dia memang mengenali, bahwa batok kepala  yang berlumuran darah itu tidak lain dari batok kepala hartawan kaya raya she Ciam.

Bisa dibayangkan kcmurkaannya disebabkan kematian majikannya ini , karena dia merasakan bahwa dia telah melakukan suatu kesalahan  besar dengan berbondong-bondong memasuki kota Pay-hong-kwan   ini, meninggalkan Ciam Wanggwe hanya dikawal oleh orang-orang  yang berkepandaian biasa saja.

“Kau, kau manusia busuk dan licik!” memaki Siauw Hay Cie dengan sua- ra gegetun. “Kalau hari ini aku tidak bisa membunuh dirimu, biarlah aku tidak menjadi manusia lagi!!”

Wu Cie Siang tertawa mengejek, sikapnya tenang sekali. “Jangan bicara besar dulu, sebetulnya sejak beberapa saat yang lalu kalau memang aku menginginkan nyawamu, sama mudahnya dengan membalikkan telapak

 tangan saja. Tetapi aku merasa sayang melihat kau memiliki kepandaian yang lumayan, yang tentunya telah dipelajari dengan susah payah, kalau memang kau masih mau tersadar dari kesesatanmu itu, dan insyaf tidak melakukan kejahatan-kejahatan lagi, mau aku membebaskan jiwamu dari kematian! Apa lagi mengingat biang keladi dari malapetaka yang menimpa diri orang -orang kota Pay-hong-kwan ini hanya disebabkan oleh orang she Ciam ini yang telah menghasut agar pasukan pemerintah yang sedang lewat mengawal tawanan Peng Po Siang Sie See Un untuk mengacau kota ini!!”

Muka Siauw Hay Cie tambah merah padam, sampai kehijau -hijauan gelap. “Tutup mulutmu!” bentaknya dengan suasa yang bengis. Dan  Siauw Hay Cie bukan hanya membentak, sebab tubuhnya juga telah mencelat cepat sekali menerjang pada Wu Cie Siang sambil melancarkan serangan yang hebat sekali ada pemuda she Wu tersebut.

Tetapi Wu Cie Siang tetap berdiri di tempatnya dengan sikap yang tenang, dia tidak bergerak  sedikitpun juga. Hanya mendengus. Waktu serangan yang dilancarkan oleh Siauw Hay Cie sampai di depan dadanya, masih saja Wu Cie Siang tidak menangkisnya, hal ini membuat Giok Ie Lang jadi kaget bukan main.

“Awas! Hati-hati sahabat!!” seru Giok Ie Lang kuatir sekali.

Tetapi Wu Cie Siang tetap tersenyum tenang tanpa bergerak sedikitpun juga, malah dia masih sempat menoleh pada Giok Ie Lang dan mengangguk.

“Bukkkkkk!” telak sekali dada Wu Cie Siang telah kena hajar oleh pukulan Siauw Hay Cie, pukulan itu bukan main hebatnya, karena suara “bukkkkk!” itu saja terdengarnya keras bukan main.

Tetapi tubuh Wu Cie Siang tidak bergeming sedikitpun juga, hanya bergoyang-goyang sedikit, dia tetap berdiri dengan bibir tersenyum.

Tetapi sebaliknya, Siauw Hay Cie telah berteriak-teriak sambil melompat mundur, kepalan tangan yang tadi dipakai untuk menyerang orang she Wu itu telah merah dan bengkak!! Bukan main!

Giok Ie Lang sendiri sampai melengak melihat hal ini, dia hampir tidak mempercayai penglihatannya sendiri bahwa Wu Cie Siang dapat   memiliki ilmu yang   begini luar biasa. Seperti juga Wu Cie Siang memiliki ilmu weduk, ilmu kedot, kebal.

“Hmmm!” orang she Wu itu telah menertawakan dan mengejek Siauw Hay Cie dengan suara yang dingin. “Sudah kukatakan tadi, kalau memang aku ingin membunuhmu sama mudahnya seperti juga membalik telapak tanganku sendiri!”

 Muka Siauw Hay Cie dan kawan-kawannya jadi berobah pucat Malah Siauw Hay Cie sendiri telah berdiri diam sejenak dengan wajah yang pucat. Rupanya dia jadi bimbang,  karena kalau memang dia meneruskan melancarkan serangan lagi kepada Wu Cie Siang, niscaya hal itu tidak akan membawa keuntungan bagi dirinya, dia melihat Wu Cie Siang memiliki kepandaian yang lebih tinggi dari dirinya. Tetapi untuk mundur   begitu saja, dia hilang muka dan menderita malu. Maka dari itu, Siauw Hay Cie jadi tidak mengetahui apa yang harus dilakukannya.

Namun akhirnya orang she Siauw tersebut dapat mengendalikan perasaannya juga dia telah menghela napas, lalu katanya dengan suara yang parau : “Baiklah! Hari ini aku terpaksa mengakui bahwa kepandaianmu memang berada di atas diriku! Tetapi nanti suatu saat aku pasti akan datang mencarimu untuk memperhitungkan segalanya ini!”

“Boleh! Boleh! Setiap waktu aku selalu menerima kedatanganmu dan akan melayaninya baik-baik keinginanmu!” Sahut Wu Cie Siang dengan suara yang tawar.

Setelah melirik kearah Giok Ie Lang dengan sorot mata yang bengis, Siauw Hay Cie mengajak kawan-kawannya yang masih hidup meninggalkan tempat itu dengan menunggang kuda mereka masing-masing.

Sedangkan mayat kawan-kawan mereka, telah diletakkan  diatas kuda juga, dan kuda itu dituntun untuk berlalu dari tempat tersebut.

Setelah melihat Siauw Hay Cie berlalu, Wu Cie Siang tertawa tergelak - gelak, tampaknya dia girang bukan main dapat mempermainkan orang she Siauw itu. Hatinya puas.

Penduduk koa Pay-hong-kwan telah berduyun-duyun keluar dari rumah mereka masing-masing. Semuanya memuji-muji  akan kehebatan dan keliehayan yang dimiliki oleh pemuda she Wu tersebut.

“Aku membawa barang yang cukup banyak untuk kalian! Terapi mungkin kali ini yang terakhir aku bertemu dengan kalian!!” kata Wu Cie Siang di kala penduduk kota itu telah berkumpul. Dan tubuhnya mencelat keatas genting. Selang sesaat, dia telah melompat turun dengan ditangan membawa satu buntalan besar. Dia telah meletakkan buntalan itu di tengah-tengah jalan dan membukanya.   Semua mata penduduk kota itu jadi terbelalak. Ternyata isi buntalan itu barang permata yang berharga.

“Semua barang-barang ini boleh kalian bagi-bagi sama rata, bisa kalian pakai sebagai modal untuk berdagang atau berusaha lainnya! Setelah ini aku ingin pergi ke tempat yang jauh! Ini adalah harta benda dari hartawan jahat she Ciam itu, dia yang telah memperalat pasukan kerajaan untuk mengacau

 di kota ini, sedang Siauw Hay Cie itu adalah salah seorang Gie-lim-kun yang menyamar sebagai rakyat biasa di kota ini, untuk melindungi hartawan kaya itu, karena hartawan kaya itu jeri kalau-kalau kalian memberontak atau mengamuk!! Hmmm, tetapi memang manusia jahat tidak akan lolos dari kematian, hari ini aku telah berhasil membunuh hartawan kaya raja itu! Untuk hari-hari esok kalian bisa hidup tenang kembali!!”

Terdengar suara sorak sorai girang dari penduduk kota itu. Sedangkan Wu Cie Siang telah menoleh kepada Giok Ie Lang, yang sejak tadi hanya berdiri diam saja mengawasi sepak terjang orang she Wu ini. Diam-diam Giok Ie Lang jadi kagum terhadap orang ini, karena orang she Wu tersebut telah menjadi seorang maling budiman, seorang maling yang mencuri  untuk dibagikan kepada kepada rakyat di kota Pay hong-kwan yang sedang ditimpa kemalangan.Harta benda yang dicurinya adalah harta milik hartawan  kaya raya she Ciam itu!

“Sahabat, engkau ingin bermalam di kota ini?” tegur Wu Cie Siang

dengan suara yang simpatik dan tersenyum ramah. Giok Ie Lang mengangguk.

“Maksudku memang begitu, untuk beristirahat!”  sahut Giok Ie Lang.

“Cuma saja aku tidak tahu, dimana aku bisa memperoleh rumah penginapan?”

“Di rumah kami saja, Giok Kongcu!” teriak beberapa orang penduduk. “Kau boleh memakai rumah kami beberapa hari semaumu, selama kau masih betah di kota ini kau boleh mempergunakannya!”

“Terima kasih! Terima kasih!!” kata Giok Ie Lang telah jadi repot merangkapkan kedua tangannya menjura keempat penjuru.  “Bukannya Siauwte menolak kebaikan kalian, tetapi Siauwte tidak mau merepotkan kalian!?”

“Aku ada tempat yang baik untukmu!” kata Wu Ce Siang. “Tentu kau

menyukai tempat itu! Mari kau ikut bersamaku, sahabat!!”

Dan setelah berkata begitu Wu Cie Siang  menoleh kepada penduduk kota tersebut, dan menjura pamitan.

Giok Ie Lang memang sebelumnya tidak pernah mengenal orang she Wu tersebut, namun entah mengapa dia menyukai sikap orang she Wu ini yang begitu simpatik. Maka dari itu, dia telah menuruti saja ajakan dari orang she Wu tersebut.

Penduduk kota Pay-hong-kwan tersebut sebetulnya merasa berat untuk berpisah dengan kedua orang pendekar yang gagah ini. Namun mereka tidak berdaya untuk menahannya, maka dari itu, waktu Wu Cie Siang dan Giok Ie Lang menjejakkan kaki mereka, tubuh mereka dengan cepat telah mencelat

 menghilang dari mata penduduk kota itu, karena mereka telah mempergunakan Ginkang mereka masing-masing.

WU CIE SIANG berlari-lari dengan gerakan yang gesit sekali menuju keluar kota Pay hong-kwan bagian selatan. Dia telah mempergunakan ginkang yang sempurna sekali, membuat Giok Ie Lang yang mengikuti di belakangnya jadi kagum juga, karena dilihatnya kedua kaki pemuda she Wu tersebut seperti juga tidak menginjak tanah, melayang-layang dengan ringan, seperti juga setengah terbang, ringan bagaikan kapas yang melayang-layang diterbangkan oleh hembusan saiur angin.

Giok Ie Lang selama mengikuti di belakang Wu Cie Siang jadi menduga - duga siapa sebenarnya orang she Wu ini entah dia murid dari pintu perguruan mana. Ilmu silatnya yang dipergunakan V u Cie Siang tidak dapat di kenali oleh Giok Ie Lang. Di dalam waktu yang sangat singkat, mereka telah melalui belasan lie.

“Kita mau kemana, sahabat?” tegur Giok Ie Lang ketika dilihatnya Wu Cie Siang masih saja berlari-lari biarpun mereka telah melalui tempat yang cukup jauh itu.

“Kau ikuti saja, nanti kita akan sampai!” sahut Wu Cie Siang tanpa menoleh, dia terus juga berlari dengan cepat. Terpaksa Giok Ie Lang telah mengikuti terus. Ginkang yang dimiliki oleh Gok Ie Lang tidak berada disebelah bawah dari orang she Wu tersebut, maka dia bisa mengikuti terus dengan baik.

Ketika mereka sampai dimuka sebuah hutan kecil, Wu Cie Siang telah berhenti berlari. “Kita telah sampai!” katanya sambil me mutar tubuhnya dan memandang tersenyum kepada Giok Ie Lang.

Dengan cepat Giok Ie Lang telah sampai di depan pemuda itu, dia heran dirinya diajak ke permukaan sebuah hutan kecil seperti itu, “Tempat apa ini, sahabat?” tegurnya terheran-heran.

“Inilah tempat tujuan kita!” sahut Wu Cie Siang sambil tersenyum, “Bukankah tempat ini tenang untuk kita bermalam?!”

“Di hutan ini?” tanya Giok Ie Lang sambil memandang sekitar tempat itu dengan ragu-ragu.

“Oh jelas bukan!!” sahut Wu Cie Siang sambil tersenyum. “ Di dalam hutan ini terdapat sebuah kuil yang sudah tidak terurus, kita boleh tinggal di situ untuk bermalam, menghindarkan diri dari serangan hawa dingin.”

 Dan setelah berkata begitu Wu Cie Siang memutar tubuhnya memasuki hutan tersebut. Giok Te Lang hanya mengikuti di belakangnya.  Dia jadi heran juga bahwa orang she Wu ini mengenal keadaan di sekitar tempat ini dengan baik.   Malah Wu Cie Siang tampak berjalan dengan cepat, dari pohon yang satu menyelinap ke pohon yang lainnya. Tampaknya  dia sudah mengenal benar keadaan di hutan ini.

Benar saja. tidak lama kemudian dihadapan mereka tampak sebuah kuil tua, yang sudah rusak di sana-sini. Rupanya dulunya kui ini sebuah kuil yang cukup besar, karena bangunan kuil itu tampak masih megah  dan juga sangat luas. Tetapi disebabkan tidak ada yang mengurusinya, dengan sendirinya di sana sini telah tumbuh belukar dan tembok-temboknya juga ada yang gugur.

“Kita bisa mengaso di kuil ini!!” kata Wu Cie Siang waktu mereka sampai di depan kuil tersebut. “Tempat ini tenang dan boleh dikatakan tidak ada orang mengunjungi kemari, sehingga kita boleh mengaso dengan tenang tanpa takut diganggu siapapun juga!”

Giok Ie Lang mengangguk-angguk mengiyakan. Namun, waktu mereka ingin melangkah memasuki pintu kuil itu, dikala Wu Cie Siang mengulurkan tangannya mau mendorong pintu kuil, tiba-tiba terdengar suara orang berkata dengan suara yang menyeramkan sekali : “Jangan coba-coba kalian nemasuki kuil ini kalau memang kalian menyayangi jiwa kalian!!”

Wu Cie Siang dan Giok Ie Lang jadi melengak terkejut. Mereka juga telah menahan langkah kaki mereka dan berdiam diri sesaat. Rupanya  di dalam kuil itu sudah ada orang lain.

“Cepat kalian tinggalkan tempat ini!!” bentak orang di dalam kuil itu dengan suara yang tetap garang. “Atau perlu aku yang mengusir  kalian dengan mempergunakan cara kekerasan?”

Wu Cie Siang rupanya telah dapat mengendalikan dirinya dengan cepat, sebab dia telah tertawa dengan suara yang keras. “Hmmm, siapa kau? Mengapa kau bersembunyi di dalam kuil itu seperti seekor tikus nyingnying saja?” bentak Wu Cie Siang mendongkol.

“Tikus nyingnying? Apa itu?” tegur orang di dalam kuil dengan suara yang garang dan mengandung ejekan. “Kalian berdua mungkin juga yang menjadi tikus nyingnying!”

Wu Cie Siang tidak bisa menahan perasaan mendongkolnya, karena dia telah menjejakkan kakinya, tubuhnya telah menerobos masuk ke dalam kuil itu. Rupanya dia berlaku nekad, biarpun musuh berada di tempat gelap dan dia berada di tempat terang, namun kenyataannya Wu Cie Siang masih berani menerjang masuk.

 Namun, belum lagi tubuhnya menerobos masuk ke dalam  kuil, dari tempat yang gelap di dalam kuil itu, telah menyambar serangkum angin serangan yang kuat sekali   disusul oleh , suara bentakan yang keras : “Rubuh kau!”

Wu Cie Siang jadi terkejut merasakan kuatnya sambaran angin serangan itu, dia cepat-cepat mengempos semangatnya, tanpa gentar sedikitpun juga dia telah menangkis angin serangan itu dengan mempergunakan kekerasan juga.

“Duukkkk!” terdengar suara yang keras sekali.

Tubuh Wu Cie Siang tampak tergetar, malah kemudian dia tidak kuat untuk menahan gelombang tenaga serangan itu yang datang secara beruntun, dia telah terhuyung-huyung mundur keluar kuil.

Inilah hebat! Wu Cie Siang memiliki kepandaian yang tinggi, tetapi dia bisa dibuat mundur tidak berdaya maju oleh angin serangan belaka. Hal itu sudah membuktikan bahwa tenaga dalam yang dimiliki oleh orang di dalam kuil tersebut sangat hebat dan kuat.

Gok Ie Lang yang menyaksikan kejadian ini jadi heran bukan main. “Hebat orang itu!” berpikir Giok Ie Lang di dalam hatinya. “Entah siapa orang itu sebenarnya?!”

Saat itu Wu Cie Siang telah dapat menguasai dirinya tidak sampai rubuh kejengkang, dia penasaran sekali. Dengan cepat dia telah melompat menerjang akan menerobos masuk ke dalam pintu kuil itu pula. Tetapi kali ini pemuda she Wu tersebut telah berlaku hati-hati.

Seperti apa yang telah diduganya,  begitu tubuh Wu Cie Siang menerobos masuk, serangkum angin serangan yang sama kuatnya seperti tadi telah menyambar datang.

Tetapi disebabkan kali ini Wu Cie Siang memang telah bersiap-siap, maka cepat bukan main kedua tangannya telah dirangkapkan  di depan dadanya, lalu dengan disertai oleh suara bentakan yang mengguntur Wu Cie Siang telah mementangkan kedua tangannya itu.

Dari rangkapan kedua tangannya tersebut telah mengalir keluar tenaga murni dari pemuda she Wu tersebut. Karena memang telah menduga orang akan melancarkan serangan pula, dari itu Wu Cie Siang telah mengempos semangatnya sebagian besar, bisa dibayangkan betapa kuatnya tenaga yang mengalir keluar dari kedua telapak tangan Wu Cie Siang.

 Segera terdengar suara bukkk! Dukkkk! yang keras bukan main, disusul oleh seruan kaget yang tertahan dari orang di dalam kuil itu, rupanya dia terkejut sekali menerima tangkisan yang demikian kuat dari Wu Cie Siang.

Kali ini tubuh Wu Cie Siang tidak bergeming sedikitpun juga, dia tetap berdiri tegak. Malah, dikala terjadi bentrokan kedua kekuatan  tenaga yang tidak tampak oleh mata, cepat-cepat Wu Cie Siang mempergunakan kesempatan itu, sambil memutar cepat kedua tangannya, dia telah menerobos masuk ke dalam kuil itu.

“Hihihihihi!” terdengar suara orang di dalam kuil itu telah tertawa dengan suara yang menyeramkan sekali. “Rupanya kau seorang bocah yang memiliki kepandaian yang lumayan! Bagus! Bagus! Aku mau lihat sampai berapa tinggi kepandaian yang kau miliki!!”

Dan membarengi dengan perkataan orang itu, maka terdengar suara wutttt! Wutttt! berulang kali, dan Wu Cie Siang yang baru saja bisa berdiri tetap, telah merasakan menyambarnya angin serangan yang kuat sekali dan datangnya secara bertahap dan bergelombang. Belum lagi gelombang yang pertama lenyap, gelombang kedua sudah menyusul dari belakang, mendesak dengan kekuatan yang bukan main hebatnya.

Hati Wu Cie Siang jadi mencelos, dia kaget bukan kepalang. “Gila! Orang macam apa yang ada di dalam kuil ini? Kepandaiannya demikian hebat, aku tidak boleh main-main!!” pikir Wu Cie Siang

Cepat-cepat dia telah memutar kedua tangannya untuk memunahkan tindihan angin serangan yang merangsek ke arah dirinya.

Tetapi Wu Cie Siang tidak kuat untuk mempertahankan dirinya, dia telah terdorong terhuyung-huyung kebelakang beberapa langkah malah kemudian tubuhnya telah terjungkal rubuh di atas tanah       terguling-guling        dengan dada dirasakan sesak untuk bernapas!

Giok Ie Lang yang menyaksikan kejadian seperti ini jadi mengeluarkan seruan panjang, cepat-cepat tanpa berayal lagi Giok Ie Lang juga telah menerobos masuk. Karena orang di dalam ruangan kelenteng tua ini sedang mencurahkan seluruh tenaganya untuk melancarkan serangan pada Wu Cie Siang, dengan sendirinya Giok Ie Lang dapat melompat masuk ke dalam kuil itu tanpa menemui rintangan.

Namun, baru saja dia mau menghampiri Wu Cie Siang, telah terdengar seruan gusar dari orang di dalam kuil itu. Rupanya orang itu sudah melihat Giok Ie Lang yang mempergunakan kesempatan itu menerobos masuk.

 “Bocah buduk, kau mencari mampus?” teriak orang itu dengan suara

mengguntur, mengandung kemurkaan dan  hawa  pembunuhan.

Giok Ie Lang segera merasakan menyambarnya angin serangan kearah dirinya. Karena tadi berulang kali telah disaksikannya betapa Wu Cie Siang terdesak hebat oleh serangan-serangan orang di dalam kuil itu, maka Giok Ie Lang tidak berani sembarangan, dia telah cepat-cepat  mengempos semangatnya mengerahkan tenaga seribu kati memberatkan tubuh,  berdiri tegak seperti tugu, sedangkan kedua tangannya telah digerak-gerakkan dengan kecepatan yang bukan main, dia berusaha menangkis serangan orang yang tidak diketahui siapa itu, dengan mempergunakan kekerasan juga.

Terdengar suara benturan yang menggelegar keras sekali memekakkan anak telinga. Namun tubuh Giok Ie Lang hanya bergoyang-goyang  sedikit saja, dia tidak sampai terdorong mundur.

“Ihhh!“ terdengar seruan kaget dari orang di dalam kuil itu. Rupanya dia kaget melihat serangannya terhadap Gok Ie Lang tidak memberikan hasil apa-apa.

Giok Ie Lang sengaja telah memperdengarkan suara tertawa dingin. “Keluarlah sahabat, mari kita main-main  secara berterang!!” teriak Giok Ie Lang dengan suara yang nyaring sekali, mengandung pera saan mendongkol.

Tidak terdengar sahutan, keadaan di situ sunyi sekali. Sepasang alis Giok Ie Lang jadi mengkerut dalam-dalam, dia jadi tambah mendongkol.

“Mengapa kau berdiam diri, kami ingin kau memperlihatkan dir i untuk belajar kenal!” teriak Giok Ie Lang lagi. “Tidak baik mengambil sikap bersembunyi begitu seperti seorang Siauwcut (maling kecil)!“

“Tutup mulutmu, bocah kurang ajar!” bentak orang di dalam ruangan kuil itu, yang gelap gulita menyebabkan Giok Ie Lang tidak bisa memandang jelas keadaan di dalam kuil itu. “Jangan kau berlaku takabur dan besar kepala, nanti kau akan menyesal kalau harus mampus dengar cara mengerikan!”

“Hmm!” Giok Ie Lang sengaja memperdengarkan suara tertawa dingin. “Kematian ada ditangan Thian mengapa manusia harus takut mati? Bukankah semua manusia akhirnya toch akan mati juga? Berapa lamakah seorang manusia dapat hidup di dalam dunia? Maka dari itu, keluarlah kau, mari kita main secara berterang sahabat!”

“Baik! Baik! Kau yang telah menantang diriku keluar dari tempat ini, maka dari itu nanti kau jangan menyesal karenanya!!” sahut orang di dalam ruangan kuil itu dengan suara yang nyaring bukan main.

 Mendengar perkataan orang itu, Giok Ie Lang mengetahui bahwa orang itu akan keluar dari tempat persembunyiannya. Sepasang mata orang she Giok tersebut telah dipentang lebar-lebar mengawasi kearah dalam kuil itu, untuk melihat bagimana bentuk orang di dalam tempat gelap itu.

Disaat itulah, tampak berkelebat sebuah benda yang besar dan merupakan bayangan hitam belaka, telah melompat keluar dari dalam ruangan kuil itu, jatuh di pekarangan kuil rusak ini.

“Brukkk!” barang itu jatuh menimbulkan suara bantingan seperti benda keras terlempar di atas tanah ini.

Giok Ie Lang jadi heran, dan mengawasi tajam pada bayangan hitam yang telah melompat keluar itu. Tetapi begitu dapat melihat  tegas. Gok Ie Lang jadi tambah heran saja, dia sampai mengeluarkan seruan tertahan disebabkan perasaan herannya.

Ternyata, yang telah mencelat keluar dari dalam ruangan kuil itu adalah sebuah peti mati yang berwarna hitam legam.

“Hihihihi!” terdengar suara orang di dalam peti mati itu telah mengeluarkan suara tertawa bergelak-gelak  menyeramkan. “Kalau memang kau mau main-main dengan diriku, majulah bocah!”

Giok Ie Lang jadi bimbang. “Apa maksud orang ini bersembunyi di dalam peti mati itu?” pikir Giok Ie Lang dengan hati yang agak tergoncang.

Kejadian yang sekarang dihadapinya ini benar-benar merupakan suatu kejadian yang bukan main aneh dan mengherankan sekali Giok Ie Lang dibuatnya jadi takjub.

Wu Cie Siang dengan perasaan mendongkol dan gusar, telah melompat bangun disisi Giok Ie Lang. “Hati-hati sahabat Giok!” kata Wu Cie Siang memperingatkan kawannya. “Orang yang bersembunyi di dalam peti mati itu sangat liehay, tidak boleh dipandang remeh, karena aku telah  merasakan, betapa tenaga iwekangnya sempurna bukan main!”

Giok Ie Lang mengangguk-angguk. “Tetapi manusia ini jahat sekali, dia terlalu serakah! Kita datang ke kuil ini tanpa mengganggu dirinya, tetap i malah dia yang seperti ingin menguasai kuil rusak ini. Dia telah melarang kita untuk memasuki kuil ini! Adil tidak?!” kata Giok Ie Lang dengan sikap yang sangat mendongkol.

“Kita harus menghajarnya!” menimpali Wu Cie Siang, yang masih sakit hati, sebab tadi dia telah dirubuhkan sampai dua kali. Walaupun Wu Cie Siang tidak menderita luka-luka  akibat serangan orang gelap yang bersembunyi di dalam peti mati itu, namun dengan dirubuhkannya dia oleh

orang yang belum diketahui siapa adanya, membuat Wu Cie Siang hilang muka dan nama baiknya telah rontok. Itulah sebabnya mengapa Wu Cie Siang jadi mendongkol bukan main pada diri orang yang bersembunyi di dalam peti mati itu.

“Hihihihi!” terdengar suara tertawa bergelak-gelak  dari orang yang berada di dalam peti tersebut. “Kalian ingin menghajar diriku?! Bagus Bagus! Kalian tidak mengetahui siapa diriku, bukan? Hmm, hmm, begitu kalian mengetahui perihal diriku,  niscaya kalian akanberlutut memanggut- manggutkan kepala memohon-mohon ampun! Hihihihi!”

Diantara suara tertawa mengerikan dari orang di dalam peti mati itu, maka tampak peti tersebut telah melompat tinggi sekali, menerjang ke arah Giok Ie Lang.

Serangan dan kejadian seperti ini bukanlah suntu kejadian yang dapat dibuat main dan dianggap remeh. Walaupun hanya peti mati tersebut yang menyambar dirinya tetapi dengan berhasilnya orang di dalam  peti mati iu dapat menggerakkannya begitu rupa, menunjukkan bahwa kekuatan iwekangnya sudah sempurna sekali.

Tetapi Giok Ie Lang juga tidak mau manda diserang begitu saja, dia juga tidak mau kalah cepat. Dengan mengeluarkan seruan yang nyaring, segera juga Giok Ie Lang menggeser ke belakang  kakinya dua dim, lalu lututnya ditekuk sedikit seperti orang yang tengah Paykui (berlutut), tahu- tahu kedua telapak tangannya telah dipakai untuk mendorong kedepan. Gerakan yang dilakukannya itu sangat kuat sekali, juga mengandung kekuatan tenaga iwekang yang sangat kuat bukan main yang berasal dari kedua telapak tangannya orang she Giok tersebut.

“Plakkk!!” dasar peti mati itu telah kena ditampar oleh kedua telapak tangan Giok Ie Lang, keras sekali. Namun peti mati itu tidak terpental, malah menempel melekat keras pada kedua telapak tangan Giok Ie Lang, membuat peti mati tersebut jadi tergantung ditengah-tengah udara.

Iniah suatu kejadian yang jarang terjadi di dalam rimba persilatan. Wu Cie Siang sendiri waktu melihat keadaan demikian, tidak mau membuang- buang waktu lagi telah menjejakkan kakinya, tubuhnya mencelat di atas peti mati itu, dan mempergunakan kesempatan inilah Wu Cie Siang mentahkan sembilan bagian dari tenaga dalamnya dan menghajar tutup peti mati itu.

“Plaaakkkkkggggg!!” terdengar suara yang keras sekali, dimana kayu peti mati itu telah terhajar telak oleh serangan telapak tangan kanan Wu Cie Siang.

 Tetapi peti mati itu tidak bergeming sedikitpun juga, tetap tergantung ditengah-tengah udara melekat pada telapak tangan Giok Ie Lang. Tubuh Wu Cie Siang telah meluncur menginjak tanah pula. Tetapi dia benar -benar penasaran sekali, sebab begitu kedua kakinya telah menginjak tanah, dia telah menjejakkan kedua kakinya lagi, tubuhnya telah terpental keatas keras sekali, lalu secara beruntun, dengan mempergunakan tangan kanan dan tangan kirinya secara berbareng, juga disertai oleh tenaga singkang (sakti), yang disalurkan pada kedua tangannya, dia telah melancarkan serangan-serangan yang keras pada peti mati itu.

“Plakkk! Plakkk! Plakkk!” berulang kali terdengar suara yang nyaring.

“Hihihihihi!!” terdengar orang tertawa geli dan menyeramkan dari dalam peti mati itu, mendirikan bulu tengkuk. “Kau ingin memukul pecah peti matiku, heh? Bagus! Bagus! Nah, coba kalian tahan ini!!”

Aneh sekali! Berbarengan dengan habisnya perkataan orang itu, dengan cepat peti mati tersebut telah melepaskan diri dari tempelan telapak tangan Giok Ie Lang, kemudian berputar-putar menyambar kekiri dan kekanan, juga telah menyambar kearah Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang secara bergantian.

Hal ini mengejutkan sekali hati Wu Cie Siang dan Giok Ie Lang. Mereka benar-benar kewalahan menghadapi peti mati ajaib ini. “Apakah di dalam peti mati ini memang terdapat setan penasaran?!” pikir Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang hampir bersamaan. “Hmmm, tetapi tidak mungkin! Biar bagaimana di dalam peti itu pasti seorang manusia yang ingin menyembunyikan diri dibalik peti mati itu!”

Dan setelah berpikir begitu, keduanya dengan cepat telah melancarkan serangan yang beruntun pula pada peti mati itu. Tetapi peti mati itu seperti memiliki mata yang tajam bukan main, karena dia telah berputar-putar menyambar-nyambar bergantian. Sebentar menyambar Giok Ie Lang, lalu berpindah berlompatan menyambar kearah Wu Cie Siang dengan cara menyeruduk.

Biarpun tubuh peti mati itu telah dipukuli berulang kali oleh Wu Cie Siang dan Giok Ie Lang, toch tetap saja peti mati itu tidak bergeming dan juga tidak hancur. Padahal tenaga serangan yang dipergunakan oleh Giok Ic Lang dan Wu Cie Siang sangat kuat sekali. Jangankan kayu, sedangkan batu saja kalau dihajar oleh pukulan mereka seperti itu, niscaya akan hancur berhamburan.

Namun peti mati itu bukan sembarangan peti mati. Walaupun peti mati ini terbuat dari kayu juga, namun pada peti mati itu telah disalurkan tenag a iwekang yang kuat sekali, yang melindungi peti mati tersebut. Dengan sendirinya kekuatan daya tahan peti mati itu seperti juga baja saja layaknya.

Hal ini membuat Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang tambah penasaran saja, mereka berulang kali mengeluarkan suara bentakan yang mengguntur dan mempergencar serangan mereka memukuli peti mati itu.

Sedangkan peti mati tersebut telah mencelat kesana dan melompat kemari, seperti juga memiliki mata, terkadang selain menubruk menyerang pada Wu Cie Siang atau Giok Ie Lang, peti mati tersebut dapat mengelakkan serangan-serangan kedua orang ini!

Pertempuran yang tengah berlangsung saat itu benar-benar merupakan suatu pertempuran yang sangat aneh dan jarang terjadi di dalam rimba persilatan. Bayangkan saja, dua orang pendekar gagah seperti Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang, telah bertempur dengan sebuah peti mati yang dapa t bergerak dengan sendirinya kesana dan kemari!

“GIOK HENG! Pergunakan pedangmu!” teriak Wu Cie Siang selang sesaat ketika mereka kewalahan juga menghadapi terjangan peti mati itu. “Tusukkan ke dalam peti mati ini!”

Mendengar teriakan Wu Cie Siang, Giok Ie Lang seperti baru tersadar dari mimpinya. Tanpa beraya lagi dia telah mencabut keluar pedang yang tergantung dipinggangnya.

“Sreet!” pedang itu telah tercabut  keluar dari kerangkanya. Tetapi orang yang bersembunyi di balik peti mati itu rupanya tidak jeri sedikitpun, walaupun dia mengetahui bahwa lawannya telah mencabut keluar senjata tajamnya.

Dengan cepat peti mati itu menubruk kearah Giok Ie Lang. Gerakannya sangat cepat sekali, bagaikan segumpalan hitam yang menubruk kearah orang she Giok tersebut.

Giok Ie Lang cepat-cepat menggerakkan pedang ditangannya, yang berkelebat menusuk kearah peti mati itu. Pedang yang dipergunakan oleh Giok Ie Lang adalah pedang pusaka, walaupun tidak sebagus pedang pusaka yang dimiliki oleh gurunya, toch pedang yang dipergunakan oleh Giok Ie Lang termasuk pedang yang bagus, dapat memotong batu dan besi dengan mudah. Apa lagi peti mati ini memang terbuat dari kayu belaka, tentu sekali serang pedangnya dapat amblas dan menikam orang yang bersembunyi di dalam balik peti mati itu.

Pedang itu meluncur cepat sekali, dan mata pedang telah menusuk peti mati tersebut.

 “Takkk! Tranggg!” terdengar dua suara yang nyaring. Hati Giok Ie Lang terkesiap, dia merasakan telapak tangannya pedih dan tergetar keras, malah pedangnya juga telah patah tiga!

Inilah kejadian yang benar-benar  membikin Giok Ie Lang jadi terperanjat sekali, dia cepat-cepat  melompat mundur, karena peti mati itu telah menerjang lagi kearah dirinya.

Wu Cie Siang yang menyaksikan nasib kawannya juga jadi terperanjat. Dengan cepat tanpa membuang-buang waktu lagi, dia telah mengempos semangatnya, disalurkan seluruh tenaga sinkang (tenaga sakti)nya ketelapak tangan, lalu dihajarkan pada tutup peti mati itu sekuat tenaga.

Tetapi peti mati itu tidak pecah, dan tetap menubruk arah Giok Ie Lang. Ccpat bukan main orang she Giok itu telah berjongkok, disaat peti mati itu menyambar kearah dirinya, dia memiringkan tubuhnya.

Karena kedua kakinya ditekuk dalam keadaan berjongkok, dan juga dengan memiringkan tubuhnya, tinggi tubuh Giok Ie Lang berkurang banyak. Peti mati itu menyambar lewat di atas kepalanya!

Diam-diam Giok Ie Lang jadi menggidik sendirinya, keringat dingin jadi mengucur keluar dari kening dan tubuhnya. Nyaris dia terkena sambaran peti mati itu. Kalau sampai dirinya kena dibentur oleh sambaran peti mati tersebut, bukankah berarti dirinya akan mengalami kecclakaan yang hebat! Apa lagi kalau sampai kepalanya yang terkena sambaran dan benturan peti mati itu, berarti batok kepalanya itu akan hancur!

Diam-diam Giok Ie Lang jadi menggidik. Entah manusia macam apa yang berada di dalam peti mati tersebut, yang dapat mengendalikan peti mati itu seperti juga sebuah benda yang bernyawa,  yang dapat melancarkan serangan dan mengelakkan serangan dcngan mudah?!

Wu Cie Siang telah cepat-cepat berdiri disamping Giok Ie Lang. “Gila! Benar-benar gila!” oceh Wu cie Siang sambil mengawasi kearah peti mati itu yang tengah bergeser sepnerti akan menubru k kearah mereka lagi. “Entah siapa orang di dalam peti mati itu?”

“Kau tidak mengenalnya?” tegur Giok I Lang, sebab dia teringat bahwa kedatangannya di kuil rusak ini diajak oleh Wu Cie Siang. Orang she Wu itu menggelengkan kepalanya.

“Beberapa saat yang lalu aku belum pernah bertemu dengan peti mati kurang ajar ini! Sahut Wu Cie Siang sambil menggelengkan  kepalanya berulang kali. “Tadi sore saja dikala aku ingin memasuki kota Pay-hong-kwan,

 peti mati sialan ini masih belum berada di sini! Hmm, memang orang ini

rupanya sengaja  ingin mencari urusan  dengan kita!”

“Tetapi kepandaian orang di dalam peti mati ini sangat hebat!” bisik

Giok Ie Lang. “Kita harus hati-hati! Iwekangnya juga sempurna sekali!”

Wu Cie Siang mengangguk. “Tetapi aku tidak percaya bila berdua tidak bisa menghadapinya!” sahut Wu Cie Siang untuk membangkitkan semangat mereka.

Memang benar apa yang dikatakan oleh Wu Cie Siang, karena Giok Ie Lang sendiri berpikir begitu. Dia tidak yakin kalau sampai mereka turun berdua mengeroyok peti mati tersebut dan mereka tidak bisa merebut kemenangan! Biar bagaimana liehaynya orang yang bersembunyi di dalam peti mati itu, tentu dia lebih sukar untuk menggerakkan peti mati itu dari pada harus bertempur dengan tidak mempergunakan peti mati tersebut.  Tetapi harapan untuk menghancurkan peti mati itu jelas tidak mudah, karena mereka sudah berulang kali melancarkan serangan-serangan telapak tangan yang mengandung kekuatan tenaga Iwekang yang bukan main hebatnya, tetapi tetap saja mereka tidak bisa menggempur hancur tutup peti mati itu.

Malah pedang pusaka milik Giok Ie Lang telah menjadi korban, patah tiga. Maka dari itu, Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang tidak mengetahui, dengan cara apa lagi mereka baru bisa menghancurkan peti mati itu, guna melihat penghuni peti mati tersebut, karena mereka penasaran sekali dan  ingin mengetahui siapa orangnya di dalam peti mati tersebut.

Tetapi Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang tidak bisa berdiam diri terlalu lama. Peti mati itu telah menggeser sampai di hadapan mereka.

Tahu-tahu, “Wuttttt!” peti mati itu telah menyambar kearah mereka pula dengan kecepatan yang luar biasa. Juga tenaga sambaran dari peti mati itu sangat kuat sekali, menyambar dengan kecepatan yang membawa angin serangan yang menerjang kuat.

Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang telah bersiap-siap berdiri berendeng. mereka bermaksud akan melancarkan serangan secara berbareng. Waktu melihat peti mati itu telah menyambar kearah mereka, dengan cepat Cie Siang dan Ie Lang telah menyalurkan seluruh tenaga dalam yang mereka miliki, dan dengan disertai bentakan yang keras bukan main, dua pasang telapak tangan yang mengandung kekuatan tenaga dalam yang bukan main hebatnya telah menyanggapi peti mati itu!

“Plakkkk!” terdengar suara benturan yang bukan main hebatnya. Dua

kekuatan tenaga raksasa yang tergabung menjadi satu, telah membuat peti

 mati itu terpental keras, dan ambruk di atas lantai ruangan kuil dan terguling- guling keras.

Hati Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang jadi girang melihat hasil tangkisan mereka. “Kita harus bekerja  berbareng!” teriak Giok Ie Lang dengan suara yang girang. “Tenaga kita kalau digabung menjadi satu, menindih kekuatan tenaga orang di dalam peti mati itu!” 

“Benar!” berteriak Wu Cie Siang girang juga. Tanpa membuang waktu lagi, keduanya telah melompat menyambar ke arah peti mati itu. Dan secara berbareng, Cie Siang dan Giok Ie Lang telah melancarkan serangan mereka pula kearah peti mati yang tergeletak di atas lantai.

“Plakkkk!!” peti mati itu tampak tergetar diserang oleh dua kekuatan tenaga raksasa yang digabung menjadi satu. Dari dalam  peti mati itu terdengar suara seruan “ihhiihh” yang panjang, menunjukkan bahwa orang yang berada di dalam peti mati itu terkejut berbareng murka sekali.

Baru saja Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang menarik pulang telapak tangan mereka dan bermaksud melancarkan serangan secara berbareng pula, peti mati itu telah melompat tinggi menyambar kearah mereka. Gerakan peti mati ini mungkin juga diakibatkan oleh kemurkaan dari penghuni peti mati ini, sehingga dia telah menggerakkan peti mati itu dengan hebat.

Giok Ie Lang dan WuCie Siang jadi tambah terkejut, mereka sudah tidak sempat untuk menangkis pula tubrukan peti mati ini, karena jarak mereka terlalu dekat dan peti mati itu melompat tanpa diduga-duga terlampau cepat sekali.

Maka dari itu, tidak ada jalan lain, Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang masing-masing telah mencelat ke samping, mengelakkan sambaran peti mati itu.

Tetapi orang di dalam peli mati tersebut rupanya cerdik juga. Setelah membikin Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang berpancaran dikedua arah berlainan, orang yang berada ddalam peti mati itu tidak mau membuang-buang waktu lagi, hal ini terlihat karena peti mati tersebut telah bergerak lagi, menubruk kearah Giok Ie Lang dengan kecepatan yang bukan main hebatnya.

Gerakan yang dilakukan peti mati ini mungkin juga untuk mencegah agar Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang tidak dapat bekerja sama lagi. Giok Ie Lang yang melihat peti mati itu telah menerjang kearah dirinya,  jadi mengeluh. Saat itu napas Giok Ie Lang telah memburu keras, karena dia letih bukan main, sudah terlampau banyak tenaga yang terbuang Cuma -cuma. Tetapi di dalam keadaan demikian jelas Giok Ie Lang sudah tidak mempunyai

 pilihan lainnya lagi, walaupun dia ingin meloloskan diri dari terjangan  peti mati itu, namun sudah tidak ada kemungkinan lagi bagi dirinya.

Mau tak mau Giok Ie Lang harus menghadapi kenyataan yang ada, dia harus menghadapi terjangan peti mati itu. Dengan mati-matian Giok Ie Lang telah mengempos seluruh tenaga dalamnya. Dia telah mengerahkan seluruh kekuatan yang ada pada dirinya untuk menangkis sambaran peti mati itu.

Segera juga telapak tangan Giok Ie Lang menangkis sambaran peti mati itu. Tetapi kali ini Giok Ie Lang sudah tidak bisa mempertahankan keseimbangan tubuhnya, karena begitu telapak tangannya saling bentur dengan sambaran peti mati itu, maka tubuh orang she Giok tersebut tergoncang keras bergoyang-goyang, lalu rubuh terguling.

Peti mati itu tidak mau membuang-buang waktu yang baik ini, dia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Dengan kecepatan yang tidak terhingga peti mati itu telah menyambar lagi dengan ganas menerjang kearah Giok Ie Lang yang sudah menggeletak di atas lantai.

Melihat peti mati itu telah menyambar lagi dan jarak yang terpisah sudah tidak begitu jauh, Giok Ie Lang jadi mengeluh : “Habislah aku!” teriaknya tanpa diinginkannya.

Tetapi disaat itu Wu Cie Siang yang melihat keadaan Giok Ie Lang terancam bahaya kematian, telah jadi nekad. Dengan tidak memperdulikan keselamatan dirinya, Wu Cie Siang telah melompat dan menubruk peti mati itu dengan mementang kedua tangannya lebar-lebar, lalu merangkul dan me- meluk kuat-kuat peti mati tersebut.

“Giok-heng (saudara Giok), menyingkir kekanan!!” Wu Cie Siang juga masih sempat memberikan peringatan kepada kawannya itu. Giok Ie Lang seperti baru tersadar dari mimpinya, dia sendiri jadi terperanjat sekali waktu peti mati itu hanya terpisah kurang lebih lima dim, dan hanya di dalam beberapa detik lagi kalau dia tidak cepat-cepat  mengelakkannya, niscaya tubuhnya akan jadi perkedel tertimpa oleh peti mati tersebut!!

Mati-matian Giok Ie Lang telah menggelinding dari tempatnya rebah itu. “Brakkkkk!” peti mati itu telah ambruk di atas lantai. Hal ini disebabkan Wu Cie Siang terus juga merangkul peti mati tersebut, menggemblok di atasnya, membuat berat peti mati itu bertambah,  yang membuat peti mati itu terbanting keras sekali!

Orang yang bersembunyi di dalam peti mati tersebut jadi kaget bukan main, karena kalau Wu Cie Siang menggemblok terus menerus di peti matinya itu, berarti dia akan memperoleh kesulitan yang tidak kecil.

 Tetapi penghuni peti mati tersebut tidak kehabisan akal, dengan cepat peti mati itu telah mencelat ketengah udara lagi, tetapi waktu akan meluncur turun, peti mati itu terbalik. Hati Wu Cie Siang jadi mencelos!

Inilah kejadian yang hebat ancaman bahaya bagi dirinya terlampau besar. Kalau memang dia terus juga menggemblok di belakang  peti mati tersebut, niscaya dia akan tertimpa disaat peti mati itu ambruk diatas lantai. Bukankah kalau sampai terjadi hal semacam itu, akan membuat dia celaka secara konyol?!

Tetapi Wu Cie Siang bukannya orang tolol, dia mana mau mandah begitu saja. Cepat-cepat rangkulannya dilepaskan, dengan meminjam tenaga luncur dari peti mati itu, Wu Cie Siang telah mencelat kesamping. Waktu peti mati itu ambruk di atas lantai, Wu Cie Siang sudah tidak melekat disitu, sehingga hanya peti mati itu saja yang terbanting!

Wu Cie Siang sudah cepat-cepat menghampiri Giok Ie Lang. Tampak pemuda she Wu tersebut membisikkan sesuatu kepada Giok Ie Lang. Seketika itu juga muka Giok Ie Lang telah berobah jadi berseri-seri.

“Benar! Benar!!” seru Giok Ie Lang berulang kali. “Kita memang harus

menjalankan dan   mempergunakan cara begitu!!” Wu Cie Siang tersenyum.

“Bukankah kalau peti mati ini terbanting teru s menerus, orang yang di dalam peti mati itu akan pusing sendiri? Bukankah akhirnya daya tahan dari orang di dalam peti mati itu akan berkurang banyak?!”

“Benar! Kita tidak boleh membuang-buang waktu lagi!” seru Giok Ie

Lang.

Dan Giok Ie Lang bukan hanya berseru begitu saja, karena dengan

cepat dia telah menjejakkan kakinya, tubuhnya mencelat menyambar kearah peti mati itu.

Kedua tangannya telah dipentang lebar-lebar waktu dia menubruk peti mati tersebut. Sedangkan peti mati yang tadi telah ambruk di atas lantai, belum bergerak untuk melancarkan serangan pula. Dan Giok Ie Lang dapat hinggap dengan mudah pada peti mati tersebut, dia telah merangkulnya kuat- kuat.

Orang yang berada di dalam peti mati itu rupanya jadi terkejut sekali. Peti mati itu bergerak seperti tadi, telah mencelat ke tengah-tengah udara, dan waktu meluncur turun, peti mati itu terbalik, sehingga Giok Ie Lang berada di bagian bawah kalau sampai dia merangkul terus pasti akan tertimpa peti mati ini.

 Tetapi memang Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang telah merencanakan bahwa mereka ingin mempergunakan siasat untuk menghadapi peti mati ini. Maka dari itu, waktu peti mati tersebut telah terbalik meluncur di tengah- tengah udara, Giok Ie Lang cepat-cepat melepaskan rangkulannya.

Dengan mudah dia bisa melesat ke samping melejit seperti seekor burung walet, karena dia bisa meminjam tenaga dorong dari luncuran peti mati itu. Kembali peti mati tersebut terbanting di atas lantai dengan keras sampai peti mati itu tergoncang bergerak-gerak.

Tetapi belum lagi peti mati itu sempat melancarkan serangan, Wu Cie Siang telah menubruk dan merangkul peti itu lagi, menggantikan Giok Ie Lang. Kembali peti mati itu tersebut mencelat ke tengah udara, berbalik  lagi, bermaksud akan jatuh dengan menindih Wu Cie Siang.

Namun kenyataannya Wu Cie Siang juga telah dapat melejit dan melepaskan diri dari peti mati itu, membuat peti mati itu kembali rub uh di atas lantai dengan keras. Begitulah, secara bergantian, tanpa memberikan kesempatan sedikitpun pada peti mati itu, Gok Ie Lang dan Wu Cie Siang telah mempermainkan peti mati itu, mempermainkan orang yang bersembunyi di dalam peti mati ini.

Tentu saja, lama kelamaan orang yang berada di dalam peti mati itu jadi semakin murka dan kalap, peti mati itu telah melompat dan terbantin g jatuh berulang kali dengan cepat. Lama kelamaan terbanting terus menerus begitu, berjumpalitan ditengah udara juga beberapa kali, membuat kepala penghuni peti mati itu jadi pening, pusing dan matanya berkunang-kunang, karena waktu terbanting terakhirkalinya,  terdengar suara mengeluh dari dalam peti mati tersebut!

GIOK IE LANG dan Wu Cie Siang jadi girang bukan main, mereka bermaksud melakukan rencana dan siasat mereka itu lebih jauh, memang mereka bermaksud agar orang yang berada di dalam peti mati itu jadi mabok sendirinya, pusing sendirinya, karena terbanting  terus menerus, bukanlah suaiu pekerjaan yang enak, apa lagi orang itu mendekam di dalam peti mati, getaran yang timbul jelas lebih hebat lagi.

Tetapi penghuni peti mati itu juga rupanya bukan orang tolol. Karena waktu peti mati dimana dirinya berada telah terbanting berulang  kali menimbulkan perasaan pusing pada kepalanya, segera dia mengetahui siasat yang sedang dijalankan oleh Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang. Maka dari itu, dia juga tidak mau melakukau pekerjaan tolol dengan membanting-banting dirinya terus menerus.

Waktu Wu Cie Siang merangkul peti itu, peti tersebut diam  tidak bergerak sedikitpun. Malah terdengar orang di dalam peti mati itu telah

berkata dengan suara mengandung ejekan: “Hmmm,  kalian kira aku ini manusia tolol? Jangan harap kalian bisa memperdayakan diriku, agar rubuh dengan sendirinya disebabkan pusing dan kehabisan tenaga!! Tetapi, biar bagaimana hari ini kalian harus mampus di tanganku!!”

Dan membarengi dengan perkataannya itu terdengar suara menjeblak, disusul oleh suara : “Serrrrrr, serrrrr, ssseeeerrrr!” yang halus. Wu Cie Siang yang tengah merangkul peti mati itu jadi terkejut sekali mendengar suara yang halus dan lembut itu, dia juga merasakan menyambarnya angin serangan yang halus bukan main kearah pahanya.

Seketika itu juga Wu Cie Siang berpikir bahwa orang di dalam peti mati itu telah mempergunakan serangan membokong dengan senjata rahasia. Cepat-cepat Wu Cie Siang telah mencelat melompat tinggi sekali, melepaskan dekapannya pada peti mati itu, dia telah mengibaskan lengan  jubah pelajarnya, menangkis serangan membokong itu dengan  mempergunakan kekuatan tenaga iwekangnya.

Seketika itu juga terdengar suara Tringgg! Tringggg! Tringggg! yang halus dimana tampak belasan jarum telah berhamburan jatuh di atas lantai! Tetapi disaat itu juga terdengar jeritan kaget dari Wu Cie Siang, se hingga mengejutkan hati Giok Ie Lang.

Rupanya Wu Cie Siang biarpun sudah menangkis  dan mengibaskan lengan jubah pelajarnya itu dengan cepat, namun tetap saja masih ada sebatang jarum yang nyasar menancap di pahanya!

Kontan tubuh Wu Cie Siang telah ambruk  rubuh terbanting di atas lantai, karena pahanya yang terkena serangan jarum itu seketika menjadi lemas, karena yang tertancap jarum halus itu adalah jalan darah Ciang-tui- hiatnya, sebuah jalan darah yang cukup penting dipaha kanannya!

Terdengar suara bergelak-gelak tertawa orang di dalam peti mati itu, disusul oleh mencelatnya peti mati itu dengan cepat sekali menerjang kearah Wu Cie Siang! Inilah hebat!

Ancaman yang mengancam jiwa dan keselamatan Wu Cie Siang bukannya kecil. Wu Cie Siang tengah tidak berdaya akibat jalan darah Ciang- tui-hiat dipaha itu tertancap oleh jarum yang dilontarkan oleh lawannya itu, dia terduduk lemas. Walaupun kedua tangannya masih memiliki tenaga yang kuat, namun dalam keadaan seperti ini jelas tidak sekuat seperti waktu -waktu yang telah lalu, karena selain dia tidak mempunyai kekuatan untuk bertahan akibat kekuatan pada kakinya tidak ada, juga kemungkinan kalau dia gagal menyanggah menyambarnya peti mati itu, berarti  dirinya akan menjadi perkedel ditindih oleh peti mati itu!

 Diam-diam Wu Cie Siang jadi mengeluh di dalam hatinya, dia juga telah berusaha mengempos semangat dan seluruh tenaganya. Hanya di dalam beberapa detik itu dia ingin mempergunakan menyelamatkan jiwanya dari kematian dibawah tindihan peti mati yang tengah menyambar itu, keadaan dan keselamatan jiwa Wu Cie Siang terancam kematian, dia berada di dalam keadaan yang gawat bukan main!!

Giok Ie Lang sendiri yang menyaksikan keadaan yang mengancam keselamatan jiwa Cie Siang, sampai mengeluarkan seruan   terperanjat. Dengan cepat dia telah melompat kesamping sahabatnya ini.

Mati-matian Giok Ie Lang telah mencurahkan seluruh tenaga dalam yang ada pada dirinya, guna menyanggapi sambaran peti mati itu. Sedangkan peti mati tersebut telah meluncur terus dengan cepat, menyambar  semakin dekat saja, disertai oleh suara tertawa bergelak-gelak  mengandung ejekan dari orang yang berada di dalam peti mati itu : “Hahaha, kali ini kalian akan mampus!! Hahaha!”

Giok Ie Lang diam-diam jadi berdoa kepada Thian (Tuhan) agar dia diberikan kekuatan untuk dapat menyanggapi peti mati itu. Waktu peti mati itu menyambar tiba, dengan cepat Giok Ie Lang telah menyanggapinya dengan mempergunakan kedua telapak tangannya.

Tetapi orang she Giok tersebut seketika itu juga merasakan tenaga tindih dari peti mati ini sangat hebat bukan main, sehingga dia merasakan tulang bonggolan pada pundaknya seperti mau copot terlepas, saking beratnya daya tindih peti mati tersebut.

Wu Cie Siang biarpun sudah terluka pahanya, dia tidak mau tinggal diam. Waktu melihat kedua tangan Giok Ie Lang sudah tertekuk sedikit demi sedikit mempertahankan diri dari tindihan peti mati itu, dan disaat peti mati itu telah turun sedikit demi sedikit tambah kebawah, maka cepat-cepat Wu Cie Siang telah mengulurkan kedua tangannya, dia juga telah mengempos seluruh sisa tenaganya, untuk membantu Giok Ie Lang menyanggapi peti mati tersebut.

Maka, terjadilah suatu pertarungan tenaga iwekang yang hebat bukan main. Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang menyanggah peti mati itu dengan mempergunakan tenaga iwekang mereka, yang diempas  seluruhnya, sedangkan orang di dalam peti mati itu yang memiliki kepandaian luar biasa dan juga tenaga dalam yang benar-benar  hebat, telah berusaha  menindih terus kedua orang lawannya ini, dia berusaha menggempur daya tahan dari tenaga dalam Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang.

Begitulah mereka jadi berkutetan terus menerus dengan mempergunakan tenaga iwekang yang kuat sekali, hal ini benar-benar

merupakan suatu pertempuran yang mengadu jiwa, untung kalau mereka bisa merebut kemenangan berarti mereka dapat hidup, tetapi kalau saja mereka meleset sedikit atau tenaga mereka kalah oleh orang di dalam peti mati itu, niscaya Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang akan terbinasa dengan tubuh tergencet oleh peti mati itu!

Kalau memang Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang digencet oleh peti mati biasa, mereka tentu saja tidak akan mati atau cidera. Tetapi kali ini, peti mati yang akan menggencet mereka bukanlah sembarangan peti mati, sebab pada peti mati ini tersalur kekuatan tenaga iwekang  yang sama kekuatannya dengan beberapa ribu kati!!

Dengan sendirinya Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang telah mati-matian mengerahkan seluruh tenaga dalam mereka yang ada untuk menggempur kekuatan yang terdapat pada peti mati itu. Tetapi diam-diam Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang kaget sendirinya, karena tidak menyangka bahwa orang yang bersembunyi di dalam peti mati itu memiliki kekuatan tenaga iwekan g yang begitu tinggi, sehingga mereka benar-benar  jadi kagum sambil menduga- duga, entah jago mana yang bersembunyi di dalam peti mati itu.

Kekuatan iwekang orang itu bukan main hebatnya, hal ini bisa dilihat dari pertempuran yang tengah berlangsung itu. Bayangkan saja, Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang telah bersama-sama  mengerahkan seluruh tenaga dalam yang mereka miliki menggempur dengan berbareng pada peti mati tersebt, tetapi nyatanya bukan mereka dapat menghancurkan peti mati tersebut, tidak dapat menindihkannya, malah diri mereka berdua yang telah terdesak begitu hebat oleh setiap terjangan-terjangan yang dilakukan oleh peti mati tersebut, yang dikendalikan oleh orang yang bersembunyi di dalamnya.

Itulah sebabnya, mengapa Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang mau tidak mau harus dapat bersikap lebih waspada karena sekali saja mereka berlaku lengah, niscaya tubuh mereka yang akan hancur dengan sendirinya oleh terjangan-terjangan peti mati itu.

Sedangkan orang yang berada di dalam peti mati itu, rupanya telah menjadi gusar benar melihat setiap terjangan-terjangan yang dilancarkan terhadap kedua lawannya itu, selalu menemui kegagalan, tidak pernah menemui sasarannya dengan tepat. Maka dari itu segera juga orang yang berada di dalam peti mati itu telah merobah cara menyerangnya.

Saat itu juga tiba-tiba peti mati tersebut telah melambung tingggi sekali, sehingga Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang bisa bernapas agak lega, karena untuk sementara waktu mereka jadi tidak perlu berkutetan tenaga lagi. Tetapi peti mati itu mencelat keatas melepaskan tekanan tenaga tindihnya itu, bukanlah dia melepaskannya begitu saja, melainkan dia telah melambung

 tinggi lagi, peti mati tersebut telah menerjang lagi dengan gerakan yang cepat kearah Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang.

Namun terjangan peti mati itu kali ini berbeda dengan terjangan yang sudah-sudah. Peti mati itu tampak melayang berputar-putar di tengah-tengah udara, gerakan peti mati tersebut begitu kuat dan cepat  sekali, sehingga seperti juga gasing yang tengah berputar, menimbulkan  suara yang kuat : Wutttt wutttt terus menerus. seperti juga di dalam  kuil rusak itu terjadi serangan angin puyuh.

Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang yang menerima serangan seperti ini jadi terperanjat bukan main. Saking kagetnya malah Giok Ie Lang telah mengeluarkan seruan tertahan.

Tetapi serangan peti mati itu telah menerjang dengan cepat, dan Giok Ie Lang bersama Wu Cu Siang tidak bisa berlaku ayal lagi, karena mau tidak mau mereka harus cepat-cepat mengelakkan diri dari sambaran peti mati tersebut.

Cepat-cepat Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang telah melompat kesamping, untuk menghindarkannya terjangan peti mati itu, tetapi Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang bukannya untuk mengelakkan begitu saja, mereka sambil melompat kesamping, telapak tangan kanan mereka masing-masing telah menyampok dengan mempergunakan kekuatan tenaga iwekang yang bukan main hebatnya..

“Plakkkk!!” terdengar suara benturan yang beruntun antara serangan Wu Cie Siang dan Giok Ie Lang itu membentur keras sekali peti mati tersebut. Dengan sendirinya, peti mati itu jadi terapung ditengah-tengah udara seperti juga ditindih oleh dua kekuatan luar biasa,  membuat peti mati itu tidak terjatuh meluncur keatas tanah.

Hal ini membuat orang yang berada di dalam peti mati itu jadi murka bukan main. “Bangsat!!” terdengar orang di dalam peti mati itu telah mendesis dengan suara menyeramkan, dan rupanya orang itu telah mengerahkan tenaga dalam yang lebih kuat lagi.

Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang merasakan tangan mereka jadi tergetar keras sekali, merasakan betapa seperti ada arus yang panas bukan main mencoba menerobos telapak tangan mereka masing-masing.

Hal ini mengejutkan hati Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang, mereka telah cepat-cepat mengempos dan mati-matian mengerahkan seluruh tenaga dalam mereka, karena kalau sampai kekuatan telaga dalam mereka kali ini bisa ditindih oleh orang di dalam peti mati tersebut, niscaya Giok Ie Lang dan W

 Cie Siang bisa menghadapi bahaya yang tidak kecil, mereka akan terluka dalam yang parah.

Tetapi disebabkan mereka mengadu kekuatan tenaga dalam mereka yang berada di luar kekuatan daya tahan peti mati itu, segera terdengar suara ledakan yang keras, peti mati itu telah hancur berantakan berkeping -keping.

Dari dalam peti mati itu telah mencelat keluar seseorang yang keadaannya menyeramkan sekali. Harus dimaklumi, biar bagaimana peti ma ti itu terbuat dari bahan kayu belaka, dengan memperoleh tekanan dan tindihan tenapa dalam yang luar biasa, peti mati itu jadi hancur berantakan, kayunya terpental menjadi berkeping-keping.

Karena disebabkan pecahnya peti mati itu, telah memaksa orang yang bersembunyi di dalam peti mati itu meloncat keluar memperlihatkan dirinya!

Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang cepat-cepat telah memandang dengan sepasang mata terpentang  lebar-lebar kearah orang yang baru mencelat keluar dari peti mati itu. Maka hati mereka jadi kecut kembali, rasa kaget meliputi diri mereka berdua pula.

Ternyata orang yang baru melompat keluar dari dalam peti mati tersebut mempunyai potongan  tubuh yang luar biasa sekali. Mukanya berbentuk lonjong bagaikan labu, dengan bibir yang dower jontor dan gigi yang tampak tonggos buruk sekali, hidungnya melesak, sampai kedua buah lobang hidungnya itu kelihatan jelas sekali, karena hidung itu tampak mendongak keatas tidak wajar, sepasang matanya juga buruk bukan main, sebab terpentang lebar-lebar seperti ikan koki. Tubuh orang itu kurus kering dan rambutnya tumbuh awut-awutan.

Menyeramkan   sekali keadaan orang ini, Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang yang melihatnya sampai berdiri melengak diam, bengong seperti orang terkesima.

Sedangkan orang yang keadaannya menyeramkan, yang baru melompat keluar dari peti mati yang telah hancur dan rusak itu, mengeluarkan suara tertaw yang menyeramkan bukan main.

“Bagus! Rupanya kalian ingin mampus dengan cara yang lebih hebat dan menderita luar biasa! Aku akan membuktikan kepada kalian Siankoay Kwie Ong(Dewa Anak Raja Setan) Ban Ban Miang tidak akan turun tangan lunak kepada siapapun juga!” kata orang yang bermuka dan keadaannya menyeramkan itu.

Dan si Raja Setan itu juga bukannya hanya berkata-kata saja, karena dengan disusul oleh suara erangan yang menyeramkan, tampak tubuhnya

 telah mencelat cepat sekali, disertai oleh  suara pekikannya yang bukan main keras serta menyeramkan sekali.

Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang menyadari bahwa mereka menghadapi lawan yang berat. Maka dari itu biar bagaimana mereka akan beru saha untuk dapat memberikan perlawanan sekuat tenaga mereka, berlaku lebih waspada, karena sekali saja mereka rubuh ditangan orang yang mengakui dirinya sebagai Siankoay Kwie Ong Ban Ban Miang tersebut, niscaya diri mereka akan menemui bahayayang tidak kecil, jiwa mereka tidak akan ada ampunnya lagi dari kematian!!

Sedangkan serangan yang dilancarkan oleh Ban Ban Miang telah meluncur cepat sekali, meluncur mengandung tenaga serangan yang bukan main hebatnya. Disamping itu, gerakan yang dilakukan oleh Sian-koay Kwie Ong Ban Ban Miang ini juga sangat aneh, kedua tangannya yang dipakai menyerang Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang sekaligus, juga telah berputar - putar ditengah-tengah udara, membuat kedua lawannya   sukar   untuk menerka, sebenarnya kearah mana sasaran utama dari lawan mereka ini.

Giok Ie Lang mengempos semangatnya, dengan nekad dia telah mengeluarkan suara bentakan juga yang keras, disusul mana tubuhnya tampak telah melompat cepat sekali, dia bermaksud akan mendahului melancarkan serangan   juga   memapaki   serangan   yang   dilancarkan lawannya, karena Giok Ie Lang tidak mau kalau dirinya dijadikan bulan - bulanan oleh manusia bermuka aneh itu, yang diserang tanpa memberikan perlawanan.

Wu Cie Siang sendiri telah berputar dua kali, tahu-tahu tubuhnya telah menggeser kedudukan berada di bagian belakang diri Siankoay Kwie Ong itu. Dan Wu Cie Siang bukan hanya menyingkir saja, melainkan telah melancarkan serangan kearah pinggang dari Ban Ban Miang, serangan  yang dilancarkan oleh Wu Cie Siang ini juga bukan serangan yang sembarangan, karena dia melancarkan pukulan telapak tangan dengan mengerahkan seluruh tenaga da- lam yang ada pada dirinya, gerakan yang dilakukannya juga cepat sekali.

Hal ini benar-benar berada di luar dugaan Ban Ban Miang, karena dia tidak menyangka bahwa Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang bisa berlaku nekad begitu, biar bagaimana gerakan yang dilakukan oleh Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang tidak bisa dianggap remeh atau tidak dipandang sebelah mata olehnya karena disebabkan serangan dari kedua orang lawannya ini, maka Ban Ban Miang menghadapi suatu ancaman yang tidak kecil.

Saat itu tubuh orang she Ban tersebut tengah melambung di tengah- tengah udara, dengan memperoleh serangan tersebut membuat dirinya tergencet, kalau dia sampai mengelakkannya, tubuhnya tengah melambung di

 tengah-tengah udara, dengan sendirinya tidak terdapat jalan keluar lainnya, telapak tangan kedua orang lawannya pasti akan berhasil  menghantam dirinya.

Tetapi kalau umpama kata dia menyambut serangan itu, berarti dia juga harus menempuh bahaya, karena dia akan menghadapi tekanan yang tidak ringan. Di dalam waktu yang sangat singkat itu, mau ta k mau Ban Ban Miang harus dapat mengambil keputusan.

Sedangkan kedua serangan dari Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang telah menyambar sampai, hanya terpisah beberapa dim saja dari dirinya, dengan sendiri mau tidak mau, Ban Ban Miang harus menyambutinya.

Dengan cepat Ban Ban Miang telah menarik pulang kedua tangannya, dan cepat-cepat telah dipakai untuk menangkis kekiri dan kekanan tubuhnya, yaitu menangkis serangan Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang. Gerakan yang dilakukan oleh Ban Ban Miang ini mempergunakan jurus Sin Tiauw San-hoa (Burung Raj awali Pegunungan Bunga), gerakan yang dilakukannya bukan main hebatnya.

Jurus ini mengandung dua sifat yaitu keras bagaikan seekor burung rajawali, tetapi lunak dan lembut bagaikan sekuntum bunga. Maka dari itu, waktu tangan Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang saling membentur dengan keras, telah terjadi bentrokan yang keras. Tetapi kemudian tenaga menangkis dari Ban Ban Miang telah berobah menjadi lunak, selunak kapas.

Tentu saja Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang jadi terkejut   bukan   main, karena biar bagaimana mereka merasakan tenaga dalam yang ada pada diri mereka seperti tersedot oleh tenaga lunak dari lawan mereka.

Ban Ban Miang tidak berhenti sampai disitu saja, dia sudah mengempos tenaga dalamnya untuk melancarkan serangannya. Namun belum lagi orang she Ban menuruti kemauannya itu, tampak tubuh Giok Ie lang dan Wu Cie Siang telah mencelat cepat sekali menjauhi dirinya.

Hal ini dilakukan oleh Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang karena mereka berdua menyadari bahwa orang she Ban ini tidak bisa dibuat main, sekali saja tenaga dalam mereka tersedot, sukar bagi mereka untuk dapat meloloskan diri lagi, berarti mereka segera akan diserang oleh Ban Ban Miang.

“Tahan!” bentak Giok   Ie Lang dengan suara yang nyaring waktu kedua

kakinya telah hinggap di atas lantai. “Ada sesuatu yang ingin kami tanyakan?”

“Benar!” teriak Wu Cie Siang menyusuli suara Giok Ie Lang. “Kami ingin menanyakan sesuatu?”

 Sebetulnya saat itu Ban Ban Miang baru saja ingin melancarkan serangannya yang hebat itu, namun mendengar bentakan Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang, dia jadi membatalkan maksudnya itu, dia telah menarik pulang tenaga dalamnya yang tadi telah disalurkan berkumpul pada telapak tangannya.

Dengan suara tergelak-gelak  yang menyeramkan, orang she Ban tersebut telah tertawa, matanya menatap dengan sorot yang memancarkan kebengisan dan menyeramkan sekali.

“Apa yang ingin kalian tanyakan, heh?” bentaknya dengan suara yang tawar. “Kunyuk-kunyuk cilik seperti kalian, yang terlalu kurang ajar tidak perlu dibiarkan hidup terus!”

Wu Cie Siang tertawa tawar. “Kami dengan kau belum pernah saling berkenalan, diantara kami dengan dirimu tidak pernah bentrok  atau bermusuhan! Tetapi kenapa kau telah melancarkan serangan-serangan yang telengas itu kepada kami? Apa maumu sebenarnya?”

Ditanya begitu,  Ban Ban Miang telah mengeluarkan suara tertawa tawar. “Hmm, bagus! Bagus! Rupanya kalian ingin   tanpa penasaran! Memang benar juga, kalau aku tidak menjelaskan kepada kalian berdua, niscaya kalian akan mampus dengan perasaan penasaran sekali, maka ada baiknya juga aku memberitahukan segalanya ini kepada kalian, mengapa kalian harus binasa di tanganku! Dengarkanlah baik-baik!  Sebenarnya memang kalian tidak mempunyai permusuhan apapun juga denganku, juga kalian memang  tidak pernah berbuat salah padaku pada hari-hari sebelumnya! Namun hari ini kalian berdua malah telah melanggar satu pantanganku, sehingga kalian berarti telah melakukan sesuatu kesalahan besar, yang harus ditebus  oleh jiwa kalian berdua!”

“Ihhh kami baru saja bertemu dengan kau, mengapa kau mengatakan bahwa kami telah melakukan kesalahan padamu di hari ini?!” bentak Giok Ie Lang dengan suara penasaran bukan main. “Katakanlah dimana letak kesalahan kami?!”

“Tentu saja akan kukatakan!” sahut orang itu dengan suara yang tawar, matanya mencilak-cilak menyeramkan sekali, wajahnya jang memang sudah buruk, jadi semakin menyeramkan sekali untuk dilihat, membuat Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang yang memiliki ketabahan bukan main, jadi menggidik juga melihat wajah orang she Ban yang mengerikan dan menakutkan itu. “Sebetulnya kalian memang tidak perlu mampus tetapi siapa yang menyuruh kalian memasuki kuil ini dan melihat peti matiku itu, heh? Itulah suatu kesala- han besar, sehingga kalian harus mampus!”

 “Memasuki kuil ini dan melihat peti matimu itu bisa dianggap suau kesalahan besar?!” tanya Wu Cie Siang dengan mendongkol  bercampur perasaan gusar.

“Ya!”

“Gila! Peraturan dari mana yang kau pakai?!” bentak Wu Cie Siang yang

jadi penasaran bukan main.

“Itu sudah menjadi peraturanku, setiap orang melihat peti matiku, dia harus menebus kesalahannya itu dengan jiwanya dan orang yang telah melihat peti matiku itu harus mampus!!” sahut orang she Ban tersebut dengan wajah yang menyeramkan bukan main.

“Mengapa begitu?” tanya Wu Cie Siang yang masih menahan perasaan gusarnya.

“Karena memang sudah menjadi peraturanku, tidak ada seorang manusiapun yang boleh melihat peti matiku, siapa saja, tanpaterkecuali, kalau melihat peti matiku ini, niscaya dia harus mampus guna menebus kesalahannya itu! Ini sudah menjadi peraturanku  dan kalian juga harus mampus hari ini!”

“Hmmm, kami bukannya patung-patung  yang mudah untuk dibunuh atau diapakan saja sekehendak hatimu! Biar bagaimana kami jadi ingin melihatnya, berapa tinggi kepandaianmu sehingga begitu takabur dengan peraturan gilamu itu?!” kata Wu Cie Siang dengan gusar. “Baik! Baik! Kami mempersilahkan kau menjalankan peraturanmu itu, agar kami dapat  kau bunuh! Tetapi ingat, sekarang kami tidak akan sungkan-sungkan memberikan perlawanan kepada kau, karena sekarang telah terbukti bahwa kau hanyalah manusia jahat belaka, yang perlu dibasmi, agar tidak menyusahkan orang - orang yang tidak berdaya itu dengan peraturan gilamu yang bisa menyebabkan orang mati tertawa itu!!”

Mendengar ejekan yang diucapkan oleh Wu Cie Siang, orang she Ban itu jadi murka bukan main, dia sampai berjingkrak saking gusarnya. “Kunyuk busuk kalian!!” bentaknya dengan suara yang mengguntur. “Mulut kalian terlalu kurang ajar dan memang harus cepat-cepat dimampuskan!”

Dan setelah membentak begitu, orang she Ban tersebut telah mengeluarkan suara bentakan nyaring keras bukan main, disusul  oleh tubuhnya yang telah mencelat menubruk ke arah Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang.

 Gerakan yang dilakukannya itu sangat gesit dan hebat sekali,  dia menerjang dengan melancarkan serangan sekaligus, maka diapun telah menyalurkan tenaga iwekangnya yang hebat serta kuat sekali.

Wu Cie Siang dan Giok Ie Lang yang telah dapat   merasakan kehebatan Ban Ban Miang ini, biarpun mereka baru bertempur beberapa jurus saja, tidak berani berlaku ayal. Mengerti juga bahwa manusia Ban Ban Miang ini bukan seorang manusia yang waras. Dilihat dari lagak dan perkataannya, setidak- tidaknya orang she Ban tersebut adalah orang yang sinting otaknya. Tetapi biarpun sinting, toch Ban Ban Miang memiliki kepandaian yang begitu hebat, sehingga berbahaya sekali.

MELIHAT orang she Ban tersebut telah mulai melancarkan serangannya. Giok Ie Lang dan Wu Cie Siang telah saling melirik  sejenak dan memberi isyarat. Maka keduanya telah melompat kearah yang berlawanan, kearah kiri dan kanan dari orang she Ban itu, maka waktu Ban Ban Miang tiba dengan terjangannya, orang she Ban tersebut jadi menubruk tempat yang kosong, membuatnya jadi tambah murka.

Dan belum lagi Ban Ban Miang bisa memutar tubuhnya untuk melancarkan serangan lainnya lagi, tampak Giok Ie Lang telah menerjang kearah dirinya. Terjangan Giok Ie Lang ini menimbulkan desau angin serangan yang bukan main hebatnya. Serangan yang dilancarkan oleh Giok Ie Lang ini juga mengandung tenaga menggempur yang bukan main hebatnya. Harus diingat bahwa Giok Ie Lang tadinya adalah seorang perwira yang sudah kenyang makan asam garam pertempuran, maka dari itu dia tabah sekali, dan tidak ada perasaan jeri sedikitpu juga, walaupun dia memperoleh kenyataan lawannya ini memiliki kepandaian yang begitu tinggi.

Diam-diam Ban Ban Miang jadi terperanjat diserang begitu rupa, tetapi dia telah mengeluarkan suara tertawa dingin dimulutnya dan mengulurkan tangan kanannya untuk mencengkeram pergelangan  tangan Giok Ie Lang, yang maksudnya akan dicengkeramnya untuk dicekal hancur   tulang lengan itu.

Namun belum lagi dia bisa mencapai maksudnya itu, dari arah belakang punggungnya terasa telah menyambar lagi angin serangan yang dingin serta tajam, juga kuat bukan main, menderu-deru  seperti akan menghancurkan tulang punggungnya.

Ban Ban Miang jadi terkejut karena dia menyadari bahwa serangan membokong yang menyambar dari arah belakangnya tentu serangan yang dilancarkan oleh Wu Cie Siang.

Maka dari itu, dengan cepat Ban Ban Miang telah menarik pulang tenaga dalamnya dan menarik mundur kakinya, tahu-tahu dia berputar

setengah lingkaran dengan melangkahkan kaki kirinya ke belakang tiga tindak, tubuhnya agak condong kedepan, agak membungkuk, tangannya yang  kiri telah menyampok ke belakang cepat sekali juga sangat kuat bertenaga bukan main hebatnya.

Serangan di belakang Ban Ban Miang itu memang dilancarkan oleh Wu Cie Siang. Melihat cara Ban Ban Miang menangkis dan ingin memunahkan serangannya itu, diam-diam Wu Cie Siang jadi kagum sendirinya. Gerakan yang dilakukan oleh Ban Ban Miang sangat berani sekali, karena bisa membahayakan lawannya juga bisa membinasakan dirinya sendiri, karena tangkisan seperti itu lebih mirip tangkisan untuk mengadu jiwa!

Mau tak mau Wu Cie Siang harus menarik diri untuk menghindarkan bentrokan itu, karena biar bagaimana dia memang belum mau mati bersama - sama dengan lawannya, maka dari itu sikap dan tangkisan dari lawannya itu yang seperti ingin mengadu jiwa, tidak perlu dilayaninya.

Namun rupanya Ban Ban Miang memang tidak mau menyudahi saja hal itu, begitu Wu Cie Siang melompat mengundurkan diri, dengan cepat dia telah mengeluarkan seruan, dan tubuhnya kejengkang belakang meneruskan tangannya itu yang melancarkan serangan tanpa mandek sedikitpun juga.

Mengejutkan bukan main gerakan yang dilakukan oleh Ban Ban Ming itu. Wu Cie Siang sendiri baru pertama kali ini mengalami kejadian tersebut. Bermimpipun tidak bahwa lawannya akan melancarkan serangan senekad dan seaneh itu, apa lagi telapak tangannya itu terus juga meluncur kearah dada Wu Cie Siang, sehingga keselamatan jiwa orang she Wu tersebut jadi terancam.

GIOK IE LANG sendiri yang menyaksikan keadaan kawannya terancam begitu rupa, jadi terkejut bukan main, dia sampai mengeluarkan  seruan tertahan.

Wu Cie Siang benar-benar berada dalam keadaan terdesak dan sukar untuknya meloloskan diri, karena saat itu baru saja dia menarik pulang tangannya dan tenaga dalamnya dan sedang dalam keadaan melompat mundur, membuat dia tidak memiliki ruang gerak untuk menyingkir kesamping atau ke belakang. Apa lagi saat itu tubuhnya tengah berada ditengah udara, sehingga dia tidak mempunyai kuda-kuda  yang kuat, tidak ada harapan baginya untuk menyambuti serangan itu dengan kekerasan, semuanya akan sia-sia belaka, hanya akan menyebabkan dia yang mengalami cidera  dan kerugian yang besar.

 Tetapi dalam keadaan yang begitu gawat, Giok Ie Lang tidak berani berlaku ayal. Biarpun dia dalam keadaan terkejut, namun kedua kakinya telah menjejak tanah dengan cepat, tubuhnya mencelat meluncur nekad menerjang kearah Ban Ban Miang.

Gerakan yang dilakukan oleh Giok Ie Lang bukan main cepatnya, tetapi serangan yang dilancarkan Ban Ban Miang kepada diri Wu Cie Siang telah tiba pada sasarannya jauh lebih cepat lagi.

Wu Cie Siang sendiri bukannya berdiam diri saja mengetahui dirinya terancam bahaya yang tidak kecil itu, dengan mengeluarkan suara bentakan dan sedapat mungkin mengerahkan tenaga dalam  yang ada pada saat itu untuk menyambuti serangan yang dilancarkan oleh Sian-koay Kwie Ong tersebut.

“Bukkkk!” Suara itu terdengar keras sekali, sehingga seperti juga menggetarkan sekitar tempat tersebut. Dan menyusul suara “Bukkkk!” itu, maka telah terdengar lagi suara “bukkkkk!” lainnya yang lebih keras, karena serangan telapak tangan dari Giok Ie Lang telah hinggap  tepat sekali di pinggang Ban Ban Miang, membuat tubuh iblis bermuka buruk yang ber tangan telengas ini mengeluarkan suara seruan nyaring dan tubuhnya  terhuyung- huyung beberapa langkah ke depan.

Untung saja Giok Ie Lang berhasil melancarkan serangan kepada Ban Ban Miang, kalau tidak Wu Cie Siang niscaya akan binasa oleh kekuatan tenaga dalam Ban Ban Miang yang menindihnya, karena saat itu kuda-kudanya tengah lemah dan tidak memiliki kekuatan apapun juga. Dengan terhajarnya pinggang orang she Ban tersebut oleh serangan Giok Ie Lang, tenaga dalam Ban BanMiang jadi tergempur buyar, sehingga tekanan tenaga dalam manusia bermuka buruk ini terhadap Wu Cie Siang boleh dikatakan hampir tidak ada artinya.

Dengan meminjam tenaga yang menindih dirinya itu, Wu Cie Siang berhasil mencelat kebelakang terus, dan hinggap di atas tanah dengan kedua kakinya dalam keadaan selamat! Tetapi biarpun begitu, Wu Cie Siang sampai mengucurkan keringat dingin dan hatinya tergoncang keras sekali.  Hampir saja dia nyaris terbinasa ditangannya Ban Ban Miang tersebut.

Giok Ie Lang sendiri waktu melihat Ban Ban Miang terhuyung akibat serangannya, sudah tidak mau membuang-buang kesempatan yang ada itu, dengan mengeluarkan suara teriakan yang mengguntur untuk menambah semangat serangannya, Giok Ie Lang telah menerjang lagi, dia telah melancarkan serangan sekaligus dengan mempergunakan kedua tangannya, mengincar punggung dan bahu dari Ban Ban Miang.