-->

Manusia Jahanam Jilid 06

 
Jilid 06

Seng Kim melangkah lebar menghampiri kedua perwira itu. Hati Tang Siauw Bun jadi berdetak keras waktu Seng Kim membentak menahan kedua perwira Gie Lim Kun tersebut. Diam- diam Tang Siauw Bun jadi mengeluh, kalau sampai Seng Kim berkeras tidak mengijinkan Cin Ko dibawa pergi, niscaya urusan akan runyam.

Cepat-cepat Tang Siauw Bun telah melangkah menghampiri muridnya.

 “Seng Kim, mundur kau!” bentaknya. Dan cepat-cepat menghadap pada kedua perwira itu katanya : “Jiewie Tayjin, maafkan murid Lohu yang kurang ajar dan tidak tahu adat itu!”

Tetapi Seng Kim tidak mau menuruti perintah gurunya, dia telah berkata tenang : “Suhu, biarlah aku yang mengurusi kedua manusia ini!” dan dia telah maju terus, malah katanya : “Aku mempunyai kata-kata untuk kalian mari kita ke sudut ruangan itu?”

Kedua perwira tersebut jadi heran berbareng  takjub melihat seorang bocah cilik yang bersikap tenang dan tidak memperlihatkan perasaan takut sedikitpun juga. Padahal siapa yang tidak mengenal Gie Lim Kun, pasukan yang khusus mengawal keselamatan raja? Siapa yang tidak akan jeri dan gemetaran kalau berhadapan dengan seorang saja perwira dari Gie Lim Kun? Tetapi mengapa Seng Kim malah menganggap enteng saja pada mereka dan bersikap tenang bukan main.

Saking penasaran, salah seorang Gie Lim Kun itu, yang berusia lebih muda telah mengikuti Seng Kim menuju ke sudut ruangan itu, karena Seng Kim sudah melangkah menuju ke sudut ruangan tersebut.

Ketika sampai di sudut ruangan itu, dikala jarak mereka terpisah cu kup jauh dari yang lain, Seng Kim telah mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya, sebuah benda bulat berukuran tidak begitu besar, berwarna kuning dengan sebutir berlian yang cukup besar di tengah-tengahnya.

“Kau kenal ini?” tegur Seng Kim dengan suara yang  lawar, dia juga bersikap agung sekali, tidak memperlihatkan sikap gugup, tenang bukan main.

Perwira Gie Lim Kun itu ketika melihat benda tersebut, seketika itu jug a jadi berobah wajahnya jadi pucat, mulutnya tampak setengah terbuka dengan sepasang mata yang terpentang lebar-lebar, tampaknya dia seperti melihat sesuatu yang mengejutkan bukan main.

“Kau kenal ini?” tanya  Seng Kim mengulangi pertanyaannya. “Ke.... kenal!” sahut Gie Lim Kun itu dengan suara tergetar hebat.

“Mengapa kau tidak cepat-cepat berlutut, heh?” bentak Seng Kim pula

dengan suara yang angkuh dan sepasang alisnya tampak terangkat naik.

“Ini, siapakah kau sebenarnya?” tegur perwira Gie-lim kun itu ragu-

ragu.

“Kau mengenali benda ini atau tidak sebenarnya?” tiba-tiba suara Seng Kim jadi meninggi, dia membentak keras.

“Ke kenal, kenal!” sahut Gie Lim Kun itu tambah gugup. Dan dengan tidak terduga-dua dia telah menekuk kedua kakinya, berlutut dihadapan Seng Kim sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Tampaknya dia ketakutan setengah mati.

Tentu saja hal ini bukan saja mengherankan bagi kawannya, jaitu Gie Lim Kun yang seorangnya lagi, juga telah membuat Tang Siauw Bun serta Cin Ko jadi berdiri bengong tidak mengerti, mengapa Gie Lim Kun yang seorang itu sangat ketakutan sekali?!

Saat itu Seng Kim telah berkata lagi : “Kali ini aku mau mengampuni kekurang ajaranmu, yang tidak mau berlutut cepat-cepat  setelah melihat benda ini, malah tampaknya kau seperti ragu-ragu! Hmmm, tetapi kalau dilain waktu, tentu tidak ada nasib sebaik ini!”

“Terima kasih! Terima kasih! Terima kasih!!” berkata Gie Lim Kun itu berulang kali.   “Tentunya, tentunya Siauwjin tidak akan berani  melupakan budi kebaikan Taykongcu (anak atau pemuda dari keluarga pembesar yang berpangkat tinggi).”

“Bagus!” seru Seng Kim, dan sudah menoleh kepada Gie Lim Kun yang seorangnya lagi, yang saat itu tengah berdiri menjublek dengan muka yang agak ketolol-tololan, karena dia benar-benar  tidak mengerti mengapa kawannya mendadak berlutut begitu ketakutan dihadapan pemuda tanggung berusia dua belas tahun itu! Dia tahu benar sifat kawannyayang tidak pernah jeri menghadapi bahaya apapun juga, apa lagi hanya menghadapi seorang pemuda kecil seperti Seng Kim.

Namun kenyataan yang dihadapinya ini benar-benar membuat dia jadi terheran-heran, mengapa kawannya itu tampaknya ketakutan setengah mati.

Belum lenyap rasa herannya, dan belum bisa dijawab oleh dia sendiri, tiba-tiba Seng Kim telah membentak kearah dia : “Kemari kau!”

Perwira Gie Lim Kun yang seorangnya ini benar-benar  jadi tersentak kaget tetapi dia tersadar untuk lantas naik darah dan murka. Dia anggap sikap Seng Kim sangat kurang ajar. Bagaimana dia dengan kedudukannya sebagai seorang perwira Gie Lim Kun yang mempunyai kekuasaan besar, dibentak begitu rupa oleh pemuda tanggung ini.

Sebetulnya dia tidak mau menghampiri, mau membentak agar Seng Kim yang datang menghadap kepadanya. Namun disebabkan perasaan  ingin tahunya mengapa kawannya sampai berlutut begitu dihadapan Seng Kim, tanpa diinginkannya, dia telah melangkah menghampiri Seng Kim.

Seng Kim berdiri tegak dengan wajah dan sikap yang tenang, mengawasi perwira Gie Lim Kun menghampiri kearah dirinya.

 Setelah dekat, disaat dia melihat sorot mata perwira Gie Lim Kun itu mengandung kegusaran dan juga hawa   pembunuhan,   Seng   Kim mengulurkan tangannya, dimana letak tangannya terdapat benda bulat bermata berlian itu yang cukup besar itu.

“Kau kenal ini?” tegur Seng Kim kemudian.

Perwira Gie Lim Kun yang seorang ini te lah mementang matanya lebar- lebar mengawasi benda yang terdapat di tangan Seng Kim. Begitu melihat jelas benda ditelapak tangan Seng Kim, seketika itu juga mukanya jadi berobah hebat, sepasang alisnya tampak berkerut, matanya menyipit dan mulutnya ternganga, tampaknya dia kaget setengah mati.

“Kenal atau tidak?” bentak Seng Kim pula dengan suara yang bengis.

“Ke...kenal Taykongcu, inilah Kim-sek-sah (Pembunuhan Emas dan Berlian)!!” sahut Gie Lim Kun yang seorang ini, dan tanpa berani berayal lagi dia telah menekuk kedua kakinya berlutut dihadapan Seng Kim sama halnya seperti apa yang dilakukan oleh kawannya tadi. Pertanyaan yang tidak dimengerti yang tadi mengaduk dihatinya seketika itu juga terjawab, mengapa kawannya tadi telah berlutut di hadapan Seng Kun.

“Bagus!” kata Seng Kim saat itu dengan suara yang tawar. “Kau jadi mengetahui juga nama benda ini! Tetapi tahukah bah wa kalian telah melakukan dosa yang tidak berampun dikala menghadapi benda ini?!”

“Kami tahu! Kami tahu!!” sahut kedua Gie Lim Kun yang dalam keadaan berlutut itu mengangguk-anggukkan kepala mereka sampai kening mereka membentur lantai. “Kami manusia-manusia  berdosa yang perlu kami menerima hukuman dari Thay-kongcu!! Kami tahu kami memang harus terima hukuman yang seberat-beratnya!”

“Bagus! Kalau masih kalian dapat berkata begitu,  aku masih mau berpikir dua kali untuk  mengampuni jiwa kalian!!” kata Seng Kim dengan tawar. “Tetapi ada syaratnya!!”

“Apa syaratnya Thay-kongcu?! Boleh kami mendengarnya? Kami pasti akan menyetujui syarat dari Thay-kongcu, karena semua itu demi kepentingan kami juga, keselamatan jiwa kami!!”

“Syaratnya mudah, tidak sulit untuk dilakukan oleh kalian!!” kata Seng Kim kemudian. “Pertama-tama kau tidak boleh mengganggu adik seperguruanku yang bersama See Cin Ko itu, dan nomor dua kalan harus pulang ke tempat kalian, lalu memberikan laporan pada atasan kalian, bahwa berita yang kalian pernah peroleh itu hanyalah berita kosong dan kabar angin belaka, karena See Cin Ko tidak terdapat di kuil Hoa-san Sie ini dan yang

 ketiga, kalian harus berusaha agar sikap  dan kata-kata kalian memberi keyakinan pada atasan kalian, memberikan kepadanya kepercayaan bahwa kalian benar-benar telah melakukan tugas dengan  baik, sebab kalau sampai ada orang yang datang menyelidiki See Cin Ko ke kuil ini, hmmm, saat itu aku akan memerintahkan orang untuk mencari kalian berdua, dan semua orang yang mempunyai sangkut paut dengan peristiwa hari ini, akan kuperintahkan dipenggal batang lehernya, termasuk atasanmu juga kalau dia membandel! perihal Ban Kong Kong, itu soal mudah, aku yang akan mempertanggung jawabkan persoalan ini jika umpamamu nanti Ban Kongkong mengetahui juga perihal diri See Cin Ko ini! Mengerti kalian!”

“Mengerti! Mengerti! Kami tidak berani untuk tidak mematuhi perintah Thaykongcu! Kami berterima kasih atas kemurahan hati Thay Kongcu!! Terima kasih!!”

“Nah, kalian sekarang boleh pergi!” bentak Seng Kim dengan suara yang

tawar.

Kedua perwira Gie Lim Kun telah menganggukkan kepalanya berulang

kali, lalu mereka telah cepat-cepat memutar tubuh, tanpa mengucapkan sepatah perkataan juga, telah menjejakkan kaki mereka, tubuh mereka melesat cepat sekali dan menghilang dibalik tembok kuil, tampaknya mereka ketakutan setengah mati, seperti sedang dikejar-kejar oleh hantu penasaran?

******MDN******

TANG SlAUW BUN dan Cin Ko yang menyaksikan semua kejadian itu, telah memandang dengan hati seperti tidak mau mempercayai apa  yang mereka lihat. Bayangkan saja, dua orang perwira Gie Lim Kun, pasukan khusus pengawal kaisar yang telah terkenal  akan kchebatannya, karena semua anggota Gie Lim Kun merupakan anggota pilihan, bi sa ketakutan begitu rupa pada diri Seng Kim, malah mereka sampai bertekuk lutut menganggukkan kepala mereka berlutut dihadapan Seng Kim. Bukankah ini suatu kejadian yang belum pernah terjadi di dalam sejarah persilatan?!

Cin Ko sendiri disamping pesasaan heran, jadi berterima kasih bukan main pada diri Seng Kim, karena dia telah menyelamatkan jiwanya dari cengkeraman tangan kedua orang Gie Lim Kun itu.

Seng Kim sendiri telah memasukkan kembali benda yang tadi telah dipergunakan untuk menggertak kedua anggota Gie Lim Kun tersebut.

 “Hmm!” menggumam pemuda tanggung ini dengan suara yang tawar. “Mereka berani mengganggu Hoa-san-pay, berarti mereka mencari mati untuk diri mereka sendiri!”

Kemudian Seng Kim menghampiri Tang Siauw Bun, ditangkapkan kedua tangannya memberi hormat kepada gurunya ini.

“Suhu, maafkan Tecu yang telah berani berlaku kurang ajar dan lancang dihadapan Suhu mengusir kedua kuku Garuda (orang-orang kaisar) itu. Semua ini Tecu lakukan karena dalam keadaan terpaksa dan waktu yang sangat mendesak sekali, harap Suhu mau memaafkannya!”

Tang Siauw Bun menghela napas panjang.

“Seng Kim, apa yang kau lakukan tadi benar telah membingungkan kami!” kata Tang Siauw Bun kemudian. “Bagaimana kau bisa b erhasil menghadapi kedua perwira Gie Lim Kun it, tampaknya mereka begitu ketakutan sekali. Dan benda apa yang   tadi   kau   perlihatkan   kepada mereka?!”

Seng Kim tersenyum, dia merogoh sakunya mengeluarkan benda yang tadi disebut oleh perwira Gie Lim Kun itu sebagai benda yang bernama Kim Sek Sah. Diangsurkan kepada gurunya.

“Benda ini Tecu pernah ketemui di dekat sebuah kuburan di gunung Butong San, dikala Tecu tengah menuntut ilmu di Bu Tong Pay, pernah sekali secara kebetulan Tecu sedang memainkan benda ini, dengan tidak terduga ada seorang perwira tinggi pemerintahan yang lewat di tempat tersebut, dan secara kebetulan pula diapun melihat benda yang dibuat main oleh Tecu, dengan tidak terduga dia telah berlutut dihadapan Tecu! Segera juga Tecu dapat menerka, benda ini pasti benda luar biasa, maka sengaja Tecu bersikap galak dan memancing dari mulut pewira itu mengenai kegunaan dan man faat benda tersebut! Kiranya benda ini bernama Kim Sek Sah, milik Hongte (kaisar). Seluruhnya terdapat tiga buah di dalam istana, dua buah pada menteri-menteri yang telah membuat jasa besar pada pemerintah dan negara, maka dari itu, dengan memiliki benda pusaka ini, kita bisa menghukum siapa saja yang berbuat salah, kita bisa mempergunakan benda ini sebagai wakil Hongte!”

Mendengar cerita Seng Kim, Tang Siauw Bun menganggukkan kepalanya, tanda bahwa sang guru telah mengerti. Tetapi yang membuat Tang Siauw Bua jadi heran, dia merasakan bahwa dalam cerita Seng Kim ini, ter- dapat sesuatu yang tidak wajar dan janggal, karena Seng Kim seperti juga ingin merahasiakan sesuatu.

 Saat itu Cin Ko telah menghampiri Seng Kim, merangkapkan kedua tangannya memberi hormat kepada Seng Kim, untuk menyatakan rasa terima kasihnya. Seng Kim cepat-cepat membalas penghormatan Cin Ko.

“Tidak, usah banyak peradatan, Sute!” kata Seng Kim. “Sebagai Suhengmu, sudah sewajarnya kalau aku membela dirimu!”

“Terima kasih Suheng, kalau tidak ada kau entah bagaimana jadinya

diriku pasti akan diseret ke kota raja untuk dianiaya!”

“Hmm, memang mereka sering berbuat sewenang-wenang yang bisa merusak nama Hongte!” kata Seng Kim. “Sebetulnya Hongte dan  Ban Kongkong tentunya tidak sekejam itu, tetapi disebabkan orang-orang Hongte yang tidak bertanggung jawab ini, membuat rakyat hanya mengetahui bahwa Hongte selalu main hukum mati belaka kepada orang-orang yang dianggap bersalah! Padahal, kemungkinan besar Hongte sendiri tidak tahu menahu soal itu!”

Tang Siauw Bun menghela napas. “Tetapi mulai hari ini kalian harus berhati-hati karena besar kemungkinan bahwa orang-orang Gie Lim Kun itu akan datang untuk menyatroni pula kemari!” pesan Tang Siauw Bun.

Cin Ko dan Seng Kim mengiyakan. Sejak hari itu kejadian biasa kembali. Seng Kim selalu membatu Cin Ko berlatih. Dan selama itu pula tidak pernah ada seorangpun dari pihak pemerintah yang datang mencari Cin Ko pula. Rupanya kedua orang Gie Lim Kun yang dulu itu, benar-benar telah mematuhi perintah Seng Kim.

Dari hari kehari berlalu dengan cepat sekali, tanpa terasa sudah lima bulan lagi lewat. Selama itu, Cin Ko sudah melatih diri berbagai ilmu yang diwariskan oleh Tang Siauw Bun, dan Cin Ko juga telah memiliki kepandaian yang lumayan.

Cuma saja disebabkan Cin Ko selalu berlatih diri dengan tekun dan rajin, dia jadi memperoleh kemajuan yang lebih pesat lagi. Apa lagi dengan dibantu oleh Seng Kim, yang tidak bosan-bosannya memberikan petunjuk-petunjuk dimana kesalahan yang dilakukan oleh Cin Ko dalam latihan-latihannya itu, membuat Cin Ko semakin pesat saja memperoleh kemajuannya.

Tang Siauw Bun sendiri merasakan, betapa Cin Ko dan Seng Kim berhubungan erat sekali sehingga tampaknya mereka seperti dua orang saudara sekandung!

Biarpun Tang Siauw Bun tidak pernah mencoba menanyakan asal-usul diri Seng Kim namun dihati jago tua yangmenjadi Ciang-bun-jin  Hoa-san-pay ini tetap menaruh kecurigaan dan dugaan tertentu pada Seng Kim, Tang Siauw

 Bun menduga bahwa di belakang diri Seng Kim niscaya terdapat sesuatu yang luar biasa, yang mempunyai sangkut paut dengan orang-orang  istana kerajaan!!   Dan Tang Siauw Bun juga menduga bahwa Seng Kim pasti bukan putera manusia biasa, membuat Tang Siauw Bun jadi agak hati-hati kalau membicarakan persoalan pemerintahan disaat ini.

******MDN******

TETAPI yang paling bingung menghadapi peristiwa seperti itu adalah Cin Ko, karena dia telah mengalami dua kali peristiwa yang serupa, biarpun orang-orangnya berlainan, toch peristiwa itu hampir bersamaan. Cin Ko jadi teringat pada diri Oey Kwan Hoa, orang tua aneh yang berusia diantara enam puluh tahun yang pernah bertemu dan menolong dirinya dari kejaran Gi ok Bian Siuchay Bie Tin dan Siangkang Ong Chiu In Liu. Saat itu Oey Kwan Hoa berdua dengan cucu perempuannya yang bernama Oey Lan dan sebaya dengan Cin Ko. Dia telah dapat menyelamatkan diri Cin Ko dari orang - orangnya Ban Hong Liu. Tampaknya orang-orang Ban Thaykam begitu menghormati orang tua she Oey itu, sama halnya yang terjadi pada diri kedua Gie Lim Kun tersebut, yang tampaknya begitu menghormat pada diri Seng Kim.

Oey Kwan Hoa juga diliputi oleh rahasia yang tidak terjawab, diri orang tua she Oey Kwan Hoa itu benar-benar luar biasa sekali, karena Giok Bian Siuchay dan Siangkang Ong tampaknya menghormati sekali.

Siapakah Oey Kwan Hoa sebenarnia? Apakah Oey Kwan Hoa dengan Seng Kim mempunyai hubungan atau sangkut-paut sebagai orang dekat, yaitu famili atau keluarga?!

Apa yang dihadapi oleh Cin Ko merupakan kejadian-kejadian yang membuatnya jadi tidak mengerti. Juga peristiwa-peristiwa yang dialami oleh Cin Ko umumnya kejadian-kejadian yang diselubungi oleh kabut tebal, penuh teka-teki.

Sudah beberapa kali Cin Ko sebetulnya bermaksud ingin bicara terus- terang kepada Seng Kim, menanyakan hal-ikhwal sebenarnya dari kakak seperguruannya itu. Tetapi selalu Cin Ko gagal membuka mulut untuk menanyakannya, karena selain dia merasa segan, dia pun takut menyinggung perasaan Seng Kim.

Maka dari itu, perasaan heran dan aneh yang dirasakan olehnya hanya disimpan di dalam hati belaka. Selama itu, Seng Kim sendiri juga tidak pernah

 menyinggung-nyinggung pula persoalan dirinya, dia hanya lebih banyak membicarakan keindahan pohon-pohon yang bertumbuhan di taman kuil itu, atau juga membicarakan ilmu silat berbagai pintu perguruan silat. Banyak sekali pengetahuan Seng Kim mengenai dunia persilatan, maka dari  itu membuat Cin Ko bertambah kagum saja pada diri Suhengnya in i.

Sore itu, dikala Cin Ko tengah melatih ilmu menotok jalan darah yang baru saja diterimanya pelajaran tersebut tadi pagi dari gurunya, pintu kamarnya telah diketuk seseorang dari luar.

Cepat-cepat Cin Ko menghentikan latihannya, dia membukakan pintu kamarnya, karena Cin Ko mendengar suara Seng Kim yang memanggilnya. Dan benar saja, Seng Kim yang mengetuk pintu kamarnya itu.

“Kau sedang sibuk. Sute?” tanya Seng Kim sambil melangkah masuk ke dalam kamar Cin Ko.

“Tidak Suheng, hanya melatih ilmu Tiam-hoat yang tadi diajarkan oleh

Suhu!” sahut Cin Ko sambil tersenyum ramah.

“Bagus! Kau memang harus mempelajari seluruh ilmu silat Hoa-san Pay, karena menurut penglihatanku, ilmu silat Hoa-san Paykalau dilatih sungguh- sungguh dan tekun, sebetulnya merupakan ilmu silat yang hebat. Apa lagi kalau kita mengolahnya baik-baik, niscaya kita dapat memiliki ilmu yang bukan main hebatnya! Tetapi sayangnya, sore ini kedatanganku padamu untuk mengabarkan kabar yang tidak menggembirakan hati, Sute!“

Cin Ko jadi terkejut. “Kabar  buruk apa, Suheng?” tanyanya tergesa-

gesa. “Bolehkah aku mengetahuinya?”

“Hmmm, sebetulnya aku masih ingin berdiam di Hoa-san Pay ini beberapa saat lagi, karena aku merasa berat harus berpisah dengan kau Sute! Namun apa mau dikata, ayahku telah mengirimkan  utusannya memberitahukan kepadaku, bahwa pelajaranku di Hoa-san Pay sudah cukup, dan meminta agar aku ikut bersama utusan ayahku itu menuju ke Siauw Lim Sie, guna belajar di kuil Siauw Lim Sie, mempelajari ilmu silat turunan Siauw Lim Sie dan juga sekalian mempelajari ilmu silat pada Hweeshio-hweeshio Siauw Lim Sie itu! Hai! Hai! Sayangnya Siauw Lim Sie yang dihub ungi oleh orang-orang ayahku itu, telah menyetujuinya untuk menerima diriku sebagai murid Siauw Lim Sie! Malah Ciang-bun-jin Siauw Lim Sie itu sendiri yang akan mendidik diriku! Sayang sekali aku tidak bisa lebih lama menemani dirimu di Hoa-san ini !” dan berulang kali Seng Kim menghela napas, tampaknya dia bersusah hati bukan main.

Cin Ko cepat-cepat merangkapkan sepasang tangannya menjura pada

Seng Kim, katanya sambil tertawa : “Selamat! Selamat! Itulah merupakan

 suatu kejadian yang benar-benar langka, di dalam sepuluh ribu orang, belum tentu ada satu yang memiliki rejeki sehebat kau! Bayangkan saja, dari pintu perguruan silat yang satunya pindah ke pintu perguruan silat lainnya! Kionghie (selamat)!! Semoga kau mencapai apa yang dicita-citakan  oleh ayahmu, Suheng!!”

Seng Kim mengheh napas lagi. “Tetapi kalau nanti memang aku mempunyai waktu tentu aku akan datang menengok kau, Sute!” kata Se ng Kim dengan lesu. “Namun kalau engkau yang mempunyai waktu senggang, engkau yang harus pergi menjenguk diriku di pegunungan Siongsan, dimana kuil Siauw Lim Sie berada,”

“Baik Suheng!”

Dan seharian Seng Kim tidak kembali ke kamarnya sendiri, karena dia telah bercakap-cakap dengan Cin Ko untuk memuaskan hatinya disaat akan berpisahnya mereka.

Menurut apa yang diterangkan oleh Seng Kim, bahwa besok pagi-pagi dia akan dibawa oleh orang-orang ayahnya untuk pergi meninggalkan Hoa- san.

Menjelang kentongan kedua, barulah Seng Kim kembali ke kamarnya untuk tidur, karena besok dia harus melakukan perjalanan yang cukup jauh.

Benar saja apa yang dikatakan oleh Seng Kim, karena menjelang fajar, disaat langit masih gelap, Seng Kim dan tiga orang yang masing-masing bertubuh tegap, yang diperkenalkan oleh Seng Kim pada Cin Ko sebagai tiga orang utusan ayahnya, telah berangkat meninggalkan Hoa-san.

Cin Ko telah mengantarkan keberangkatan Suhengnya itu. Biar bagaimana Cin Ko merasa berhutang budi pada Seng Kim, sebab Suh engnya ini selain telah banyak membantu dia di dalam mempelajari ilmu silat Hoa-san Pay dan membantu banyak latihan-latihan Cin Ko, juga Seng Kim pernah menyelamatkan diri Cin Ko dari kedua orang Gie Lim Kun yang datang mau menangkapnya.

Maka dari itu bisa dibayangkan perasaan berat yang meliputi hati mereka masing-masing disaat-saat perpisahan seperti itu.

Dengan menunggang seekor kuda putih yang tinggi tegap, Seng Kim telah pamitan pada Sutenya dan beberapa orang Hweshio dari kuil Hoa-san Sie ini. Sedangkan Tang Siauw Bun tidak tampak turut mengantar, karena Ciang Bun-jin Hoa-san Pay ini telah memberikan selamat perpisahan pada malam harinya, pada saat Seng Kim berpamitan pada gurunya.

 Setelah rombongan Seng Kim lenyap dari pandangan mata, Cin Ko masih berdiri di depan pintu kuil dengan hati merasakan kehilangan sesuatu.

Mulai hari itu, Cin Ko berlatih ilmu silat yang diperoleh dari Tang Siauw Bun tanpa mempunyai kawan berlatih lagi. Tetapi, biarpun begitu Cin Ko tetap berlatih dengan giat, tekun dan rajin sekali, sehingga dia memperoleh kemajuan yang pesat, dari hari ke hari, tampak kemajuan yang diperoleh Cin Ko semakin pesat saja, sehingga menggembirakan hati Tang Siauw Bun.

******MDN******

SEKARANG mari kita menengok sebentar perjalanan Giok Ie Lang yang sedang menuju ke kota raja untuk menyelidiki perihal diri Peng Po Siang Sie See Un yang tengah tertawan oleh orang-orangnya Ban Hong Liu

Begitu turun dari pegunungan Hoa-san, Giok Ie Lang telan mengambil jurusan ke arah barat daya, dan dia melakukan perjalanan dengan cepat. Menjelang tengah hari, dia sudah sampai di kota Liong-tie-kwan.

Di kota Liong-tie-kwan ini, Giok Ie Lang beristirahat sebentar untuk bersantap mengisi perutnya yang lapar. Kemudian selang sesaat, tampak Giok Ie Lang sudah melanjutkan perjalanannya lagi.

Sore harinya Giok Ie Lang sudah dapat mencapai hampir seratus lie lebih. Malam itu, Giok Ie Lang menginap di sebuah perkampungan kecil, dan pada hari pertama di dalam perjalanannya tersebut orang she Giok tersebut tidak menemui kesulitan.

Begitulah, di dalam beberapa hari Giok Ie Lang melakukan perjalanan dengan cepat. Dia meramalkan, di dalam tempo satu bulan dia akan sampai di kota raja.

Selama dalam perjalanan Giok Ie Lang jadi memikirkan, entah bagaimana caranya dia harus dapat menerobos masuk ke tempat tahanan dimana Peng Po Siangsie ditahan, bagaimana caranya harus menyelidikinya. Harus dimengerti juga bahwa Peng Po Siangsie adalah tawanan yang sangat penting sekali, tentunya Hongte (kaisar) atau Ban Hong Liu akan menempatkan jago-jago pilihan di tempat tahanan tersebut.

Memasuki tempat tahanan itu seperti juga ingin menerobos sarang macan saja. Tetapi Giok Ie Lang sudah bertekad biar bagaimana dia akan melakukan penyelidikan terhadap diri Peng Po Siangsie See Un, majikan nya yang sedang dalam tahanan itu. Walaupun harus mempertaruhkan jiwa, Giok

 Ie Lang akan menempuh segala macam jalan, agar dapat menerobos masuk ke kamar tahanan itu untuk melakukan penyelidikan. Tetapi Giok Ie Lang juga menyadarinya, biarpun dia memang sudah bertekad mempertaruhkan jiwanya dengan segala kerelaan hati, toch diapun juga harus tetap berlaku hati-hati, agar segalanya tidak gagal.

Menjelang hari kesepuluh, Giok Ie Lang sudah sampai di kota Pay hong - kwan, dibilangan daerah Hang-couw. Kota ini tidak begitu besar,   juga tidak begitu menarik karena boleh dibilang penduduknya hidup dalam kemiskinan. Lebih-lebih pasukan yang berjumlah cukup banyak, yang membawa Peng Po Siangsie ke kota raja, melalui perkampungan ini dan berlaku sewenang - wenang. Ada wanita-wanita yang diperkosa, ada harta benda yang dirampas. Bermacam-macam kejahatan yang benar-benar  terkutuk dilakukan  oleh pasukan pengawal tawanan Peng Po Siangsie. Tetapi penduduk kota terse but tidak berdaya apa-apa, karena setiap ada yang berusaha menentang atau mencoba melindungi anak islerinya, malah dia yang telah dibunuh dengan cara yang serampangan tanpa banyak bicara lagi. Seperginya rombongan pengawalan tawanan Pene Po Siangsie See Un itu, maka kota Pay-hong-kwan jadi berobah merupakan kota mati. Muka penduduk kota tersebut  murung sekali, tidak ada kegairahan hidup diantara mereka. Hal ini disebabkan selain ada yang kehilangan anak isteri mereka, yang dirampas dan diperkosa oleh pasukan-pasukan kerajaan yang sedang mengawal tawanan Peng Po  Siangsie itu, juga banyak sekali yang harta bendanya dirampas begitu saja.

Waktu Giok Ie Lang sampai di kota Pay-hong-kwan tersebut, dia heran bukan main, karena melihat kota ini merupakan sebuah kota yang baru saja dilanda oleh arus peperangan, banyak bangunan-bangunan yang rusak, dan banyak sekali orang-orang yang duduk-duduk dimuka rumah mereka masing- masing dengan bertopang dagu termenung saja, seperti juga mereka ini sudah kehilangan. Wajah mereka murung bukan  main, mungkin memikirkan anak isteri atau harta benda mereka yang telah dirampas oleh orang-orangnya Ban Hong Liu yang sedang mengawal Peng Po Siangsie See Un itu.

Juga Giok Ie Lang melihatnya, betapa warung-warung arak jarang yang buka, boleh dikatakan warung-warung arak atau rumah makan tidak ada yang mengusahakannya lagi, keadaan di setiap warung arak yang didatangi oleh Giok Ie Lang, telah kosong dan sepi tidak ada persediaan barang apa-apa lagi. Begitu pula rumah makan, juga sudah tidak dibuka sebagaimana biasanya. Tentu saja keadaan semacam ini membuat Giok Ie Lang jadi heran bukan main.

Ketika sedang berjalan di jalanan yang tidak  begitu lebar, jalan raya pada kota di bagian barat, dia telah melihat seorang lelaki berusia diantara lima puluh tahun sedang duduk termenung dengan mata yang redup tidak

 bersinar lagi. Rupanya pikiran lelaki tua itu sedang terombang-ambing oleh pikirannya yang memusingkan kepalanya.

Cepat-cepat Giok Ie Lang telah menghampiri lelaki tua itu. Dirangkapkan kedua tangannya memberi hormat kepada orang tua te rsebut, katanya : “Lopeh, bolehlah Chayhe mengganggu sebentar?!”

Orang tua itu mengangkat kepalanya perlahan dengan sikap acuh tak acuh, matanya yang redup itu telah memandangi Giok Ie Lang dari kepala sampai ke ujung kaki, matanya sediktpun juga tidak bersinar.  Malah rambutnya yang sudah dua warna itu, hitam dan putih, tampak kusut sekali.

“Siapa kau anak?!” tegur orang tua itu kemudian dengan suara yang parau, tidak ada semangat hidup lagi pada dirinya yang sudah tua begitu. “Apa yang ingin kau tanyakan?!”

Giok Ie Lang mencoba untuk tersenyum.

“Cayhe seorang pengelana, kebetulan sampai di kota ini!” kata Giok Ie Lang sabar. “Tetapi cayhe tidak melihat ada rumah makan atau kedai arak yang buka, juga tidak ada rumah penginapan yang menerima tamu! Sebenarnya apakah yang telah terjadi di kota ini, sehingga keadaan demikian rupa, Lopeh?”

Mendengar perkataan Giok Ie Lang, orang tua itu menghela napas.

“Kau orang baru di kota ini, sebagai pendatang, tentu saja kau tidak mengetahui malapetaka apa yang telah menimpa kota kami ini, entah dosa apa yang telah kami lakukan sehingga terjadi kutukan seperti ini, demikian laknat dan terlalu kejam sekali!” berkata sampai di situ, orang tua tersebut telah menarik napas berulang kali, tampaknya dia benar-benar  berduka, wajahnya kian murung saja.

“Jadi di kota ini telah terjadi sesuatu yang hebat, Lopeh?” tanya Giok Ie Lang sambit mengawasi tajam-tajam wjjah orang tua tersebut, seperti juga dia ingin mempelajari segalanya dari wajah orang tua itu, ingin mcmbaca isi hati orang tua itu.

Dengan sikap yang segan dan acuh tak acuh orang tua itu telah mengangguk perlahan, dia menatap jauh sekali, lalu seperti orang menggumam dia telah berkata dengan suara yang perlahan : “Ya, kejadian yang hebat, lebih hebat dari pembunuhan!” sahut orang tua tersebut. “Anak- anak gadis kami, harta benda kami, apa yang kami miliki, semuanya telah dihancurkan, semuanya telah dirampas. Dan yang kasihan lagi, gadis-gadis kami yang hamil tanpa mempunyai suami, calon anak yang di perut gadis- gadis kami itu tidak mengetahui siapa orangnya yang seharusnya menjadi

 ayah dari bayi yang sedang dikandungnya  itu, mereka telah menerima kehadiran bibit bayi berpuluh-puluh macam yang ditampung diperut mereka sehingga anak itu, anak itu boleh disebut anak campuran, anak  haram, inipunkalau bayi itu lahir dengan selamat!!”

Mendengar perkataan orang tua itu, yang seperti menggumam kepada dirinya sendiri, Giok Ie Lang sampai bergidik. Begitu hebatkah kejadian yang telah menimpa dan melanda kota ini. Juga, yang mengherankan hati Giok Ie Lang, dia tidak mengetahui entah bagaimana bentuk dan macam bencana yang telah menimpa penduduk kota ini sehingga tampaknya telah menghancur luluhkan seluruh semangat penduduk kota tersebut. Boleh dibilang penduduk kota ini sudah tidak mempunyai semangat untuk berusaha. Hal tersebut dikarenakan harta yang mereka kumpulkan dengan  susah payah selama puluhan tahun, ternyata hanya di dalam beberapa hari saja telah habis terampas oleh pasukan Hongte yang sedang mengawal tawanan Pengpo Siangsie itu. Benar-benar keterlaluan.

Giok Ie Lang sendiri sampai menghela napas, dia merogoh sakunya mengeluarkan beberapa uang Tang-cie (uang tembaga), yang diberikannya pada orang tua itu.

“Ambillah untuk Lopeh!” kata Giok Ie Lang sambil tersenyum. “Sayangnya Chayhe belum dapat membantu dalam jumlah yang banyak!!”

Melihat uang itu, yang cukup banyak  jumlahnya, wajah orang tua tersebut jadi berseri-seri.

“Ohhh, terima kasih! Terima kasih!” katanya sambil menerima pemberian uang itu. “Betapa baik dan mulianya hatimu nak!”

Setelah memberikan uang itu, Giok Ie Lang membalikkan tubuhnya untuk berlalu.

“Tunggu dulu nak!!” panggil orang tua tersebut. “Kalau boleh Lohu me -

ngetahui namamu yang harum?”

Giok Ie Lang menunda langkah kakinya, dia menghampiri orang tua it u sambil tersenyum. “Sebetulnya nama Chayhe tidak penting tetapi kalau memang Lopeh ingin mengetahuinya, baiklah! Chayhc she Giok dan bernama Ie Lang.”

“Terima kasih Giok Kongcu!” kata orang tua itu, yang telah merobah panggilannya menjadi Giok Kongcu. “Kau baik hati benar, sama seperti pemuda yang sering menolong kami juga yaitu Wu Kongcu!”

“Siapakah Wu Kongcu?” tanya Giok Ie Lang heran, dia jadi tertarik.

 “Wu Kongcu sebenarnya bernama W u Cie Siang,  sudah hampir setengah bulan ini, setiap sore hari membagikan kepada kami uang. Biarpun jumlah yang kami terima tidak begitu banyak, namun budi yang diberikannya itu tidak akan kami lupakan sampai tujuh turunan. Juga, kepandaian Wu Kongcu sangat tinggi sekali, dia mengerti ilmu silat yang bukan main hebatnya, sehingga pernah ada seseorang yang mencoba memeras penduduk kota ini, yaitu buaya darat kota ini yang ingin mempergunakan kesempatan dikala kami sedang ditimpa ketakutan kalau-kalau pasukan pemerintah akan kembali kemari, dia telah mencoba memeras kami! Tetapi oleh Wu Kongcu orang itu telah dihajar habis-habisan  sampai bersumpah tidak berani melakukan kejahatan lagi!!”

Giok Ie Lang mencoba mengingat-ingat nama Wu Cie Siang itu, tetapi dia merasa belum pernah mendengar orang yang bernama Wu Cie Siang itu di dalam rimba persilatan.

“Dimanakah Wu Kongcu itu sekarang ini berada, Lopeh?” tanya Giok Ie Lang kemudian.

“Setiap sore dia pasti akan datang membagi-bagikan uang lima Tangcie per orang, maka dari itu seperti Giok Kongcu sendiri lihat, kami semua sudah bersiap-siap menantikan kedatangannya!!”

Giok Ie Lang segera tersadar, dia baru  mengetahui mengapa orang- orang kota ini semuanya banyak duduk-duduk  di luar rumahnya. Memang sejak tadi Giok Ie Lang sedang heran memikirkan sikap orang-orang kota tersebut.

“Oh kalau begitu aku dapat menjumpainya sore ini?” tanya Giok Ie

Lang lagi.

Orang tua itu mengangguk cepat-cepat. “Sebentar lagi juga dia datang, kalau memang Giok Kongcu ingin berkenalan dengannya, kau boleh duduk   di sini bersama-sama Lohu!” kata orang tua tersebut yang mukanya berobah berseri-seri, tampaknya dia girang mendengar Giok Ie Lang mau berkenalan dengan Wu Kongcu yang baik hati itu.

Giok Ie Lang berdiri berdiam sejenak, diri tampaknya ragu-ragu. Tetapi kemudian dia mengangguk.

“Baiklah!” katanya. “Chayhe akan duduk di sini menemani Lopeh, tetapi nanti kalau Wu Kongcu datang, Lopeh tidak usah berkata apa-apa,  anggap saja Chayhe sebagai penduduk kota ini juga!”

Orang tua itu mengangguk-angguk mengiyakan, dan Giok Ie Lang telah duduk disamping orang tua tersebut. Sambil menantikan keda tangan Wu

 Kongcu yang baik hati itu, orang tua tersebut banyak sekali bercerita. Dia menceritakan bahwa dirinya she Hui dan bernama Ciang Sie, tinggal di kota tersebut seorang diri belaka, karena memang dia t idak mempunyai anak dan isteri. Orang tua she Hui ini berusaha sebagai pembuat alat-alat  perabot rumah/ mengumpulkan sedikit-sedikit  keuntungan yang diperolehnya untuk hari tuanya. Tetapi siapa sangka, disaat usianya menjelang tua dan tenaganya sudah mulai berkurang, malah seluruh harta yang dikumpulkannya dengan susah payah itu, telah dirampas bersih oleh pasukan kerajaan yang   kebetulan lewat di kota tersebut. Semua itu membuat hati orang tua she Hui ini jadi tawar, dia kecewa dan sudah tidak memiliki semangat hidup lagi.

Mendengar certa Hui Ciang Sie, Giok Ie Lang menghela napas turut merasakan kedukaan yang diderita oleh kakek tua ini.

Menjelang magrib, orang she Wu yang dinanti-nantikan oleh penduduk kota itu masih saja belum juga muncul, tentu saja hal ini membuat penduduk kota itu jadi gelisah, apalagi hari mulai gelap dan orang she Wu tersebut masih juga belum muncul.

“Apakah Wu Kongcu menemui halangan?” gumam Hiu Ciang Sie dengan suara yang penuh kekhawatiran, karena boleh dihilang setiap sore ora ng she Wu itu muncul. Tetapi kali ini mengapa demikian terlambat.

Sedang penduduk kota ini tengah diliputi kegelisahan, tiba-tiba dari luar arah kota itu telah berlari pesat sekali seekor kuda yang mencongklang memasuki kota itu.

Perhatian semua penduduk jadi dicurahkan pada kuda itu. Ternyata penunggang kuda tersebut seorang lelaki berusia diantara tiga puluh tahun lebih. Tubuhnya tegap dan gagah, memelihara cambang dan bewok  yang tebal dan hitam, dengan cepat telah sampai di dalam kota itu. Dia menarik tali les kudanya, menahan mencongklangnya kuda tersebut.

Matanya yang bersinar tajam sekali telah memandang sekelilingnya, dia melihat betapa orang-orang kota itu telah memandang kearah dirinya dengan sorot mata bertanya-tanya.

“Siapa diantara kalian yang mengenal pemuda bernama Wu Cie Siang?!” teriak orang bertubuh gagah itu dengan suara yang nyaring, gagah sekali. “Siapa yang mau memberitahukan tempat persembunyian Siauw-cut (maling kecil) she Wu itu, akan Toaya (tuan besar) berikan hadiah lima tail ema s!!”

Muka penduduk kota itu jadi berobah seketika itu juga, karena segera juga mereka mengetahui bahwa orang bertubuh tinggi gagah ini adalah musuh dari Wu Cie Siang, penolong mereka yang setiap harinya telah membagikan uang kepada mereka.

 Lelaki bertubuh tinggi tegap itu jadi penasaran waktu tidak menerima sahutan dari penduduk kota itu, mukanya memperlihatkan perasaan  tidak senang. Dia telah berkata lagi dengan suara yang nyaring : “Toaya mengeta - hui bahwa dia sering datang kemari untuk membagi-bagikan  uang kepada kalian! Tetapi tahukah kalian, bahwa uang yang dibagi-bagikan-itu sebenarnya adalah uang curian?! Hmm, cepat katakan, siapa yang akan memberitahukan tempat persembunyian Siauwcut she Wu itu, Toaya  akan berikan hadiah sebagai imbalannya! Tetapi  kalau   memang sampai nanti Toaya mengetahui ada orang yang berani memberikan te mpatnya dipakai sebagai persembunyian orang she Wu itu, hmmm, hmm, tentu akan terjadi urusan yang tidak menggembirakannya !.”

Waktu berkata-kata begitu, sikap orang ini gagah dan galak sekali, dia juga mengawasi penduduk kota ini dengan sorot mata yang tajam bukan main.

Sedangkan penduduk kota ini yang mengetahui bahwa orang bertubuh tinggi besar ini ingin mencari jejak Wu Cie Siang dengan maksud tidak baik, telah kembali ke tempat duduk mereka masing-masing, tidak meladeninya.

Tentu saja hal ini membuat orang bertubuh tinggi besar itu jadi sengit. Dia telah melompat turun dari kuda tunggangannya dengan  gerakan tnbuh yang gesit sekali. Kemudian sambil menuntun kuda tunggangannya berbulu kuning keemas-emasan itu, menghampiri seorang kakek tua yang duduk tidak jauh dari tempat tersebut.

“Hai tua bangka, apakah telinga kalian tuli semuanya, heh?” bentak orang bertubuh tinggi besar itu   dengan suara yang berobah galak dan kasa r. “Aku menanyakan kepada kalian apakah mengenal Siauwcut she Wu itu, tetapi kalian membisu semuanya! Atau memang kalian ini tuli dan bisu, heh?”

Melihat orang bertubuh tinggi besar tersebut telah naik darah dan marah-marah, tentu saja orang tua yang ditegurnya jadi ketakutan.

“Lohu sudah tua, tidak pernah mencampuri urusan apapun juga!!” sahut orang tua tersebut dengan suara yang agak tergetar. “Siapa orang yang sedang dicari olehmu, Lohu tidak kenal sama sekali, Lohu tidak mengetahui siapa orang yang sedang dicari olehmu!”

“Hmmm, kau jangan sekali-kali bermaksud mempermainkan diri Toayamu ini! Kau tahu, siapa Toaya (tuan besar), heh? Chang Tu San bukan orang sembarangan yang bisa dianggap angin saja tanpa dilayani!”

Mendengar disebutnya nama Chang Tu San, tubuh orang tua itu jadi

gemetaran. “Ampun Chang Toaya, aku, Lohu tidak bermaksud untuk

 mempermalukan dirimu, mana berani Lohu mempermainkan Chang Toaya

yang terkenal itu?”

Orang bertubuh  tinggi besar iru tertawa dingin dengan muka yang

galak.

“Hmmm,   kalau memang kau tahu gelagat,  hayo katakan, dimana

bersembunyinya orang she  Wu itu!!” bentaknya.

“Lohu Lohu benar-benar tidak mengetahui, Chang Toaya!!” kata orang

tua itu ketakutan setengah mati.

Chang Tu San rupanya jadi tambah sengit, tahu-tahu tangan kanannya telah melayang menempiling muka orang tua itu. “Plakkkkkk!” terdengar suara tamparan yang keras sekali, tubuh orang tua yang lemah dan sudah lanjut usanya itu, sampai terputar dan kemudian terpelanting di atas tanah sambil menjerit ketakutan.

Tentu saja kejadian seperti ini membuat penduduk kota tersebut jadi gusar bukan main, namun mereka tidak berdaya untuk melakukan sesuatu apapun juga sebab mereka mengetahui siapa itu Chang Tu San tersebut.

Giok Ie Lang yang menyakskan kejadian ini sampai melompat berdiri dari tempat duduknya, sebetulnya dia mau menghampiri orang she Chang itu untuk menegurnya. Darah Giok Ie Lang naik ke kepala melihat sikap orang she Chang yang kasar itu.

“Hmmm     orang she Chang itu keterlaluan sekali!!” gumam Giok Ie Lang sambil mau melangkah menghampirinya. Tetapi lengannya telah dicekal oleh kakek tua she Hui di sebelahnya.

“Jangan Giok Kongcu!!” cegah Hui Ciang Sie dengan perasaan kuatir sekali, dia juga berkata dengan suara yang perlahan sekali, seperti berbisik. “Orang she Chang itu memang terkenal keganasannya, jangan kau mencoba- coba menghalangi apa yang ingin dibuatnya, tentu kau akan celaka!”

Giok Ie Lang tersenyum tawar, dia menoleh kepada orang tua she Hui itu. “Terima kasih Lopeh, tetapi kejadian ini tidak bisa dibiarkan begini saja. Mau tak mau orang she Chang tersebut harus ditegur atas tindakannya yang kasar begitu!”

Dan Giok Ie Lang telah menarik pulang tangannya yang dicekal oleh orang tua she Hui itu. Kemudian Giok Ie Lang telah melangkah dengan tindakan kaki lebar menghampiri ke arah orang she Chang tersebut.

 Tentu saja hal ini membuat Hui Ciang Sie jadi kuatir bukan main. Dia ingin mencegah Giok Ie Lang agar jangan usil mencampuri urusan orang she Chang itu, tetapi sudah tidak keburu.

Dengan cepat Giok Ie Lang telah sampai di dekat orang she Chang tersebut. “Sahabatkuharap kau jangan mempersulit orang tua itu!“ kata Giok Ie Lang dengan suara yang lantang. “Dia sudah tua dan tubuhnya juga lemah, sekali lagi saja kau menghajarnya, niscaya dia akan binasa!”

Chang Tu San menoleh dengan muka yang mengandung kemurkaan, ia mengawisi tajam Giok Ie Lang, dilihatnya orang she Giok ini berpakaian seperti seorang yang mengerti ilmu silat dan sebatang pedang tergantung dipinggang Giok Ie Lang, dengan sendirinya dia menindih hawa amarahnya, hanya bentaknya : “Sapa kau? Mau apa kau mencampuri urusanku, heh?”

Giok Ie Lang tersenyum tawar. “Persoalan siapa diriku sebenarnya, semua itu tidak perlu bagimu, tetapi cuma aku mau mengingatkan, bahwa tindakanmu tadi terlampau kasar! Orang tua yang tidak bersalah itu telah kau siksa tanpa mengenal kasihan!”

“Bangsat!” teriak Chang Tu San dengan suara menggeledek, mengejutkan penduduk kota itu, lebih-lebih Hui Ciang Sie, dia sampai gemetaran ketakutan. “Kau jadi ingin muncul sebagai seorang pahlawan yang kesiangan, heh?”

Tetapi Giok Ie Lang tersenyum tawar, sikapnya tetap tenang. “Aku minta kau meninggalkan tempat ini!” kata Giok Ie Lang dengan suara yang tegas.

“Apa?!” teriak Chang Tu San dengan suara yang murka bukan main.

“Aku minta kau meninggalkan kota ini!” kata Giok Ie Lang mengulangi perkataannya dengan suara yang tegas. Waktu dia berkata begitu, matanya juga menatap tajam sekali kepada orang she Chang tersebut.

Tentu saja Chang Tu San jadi tambah murka, dengan mengeluarkan suara bentakan yang nyaring bukan main, mengandung kemarahan  yang sangat, tahu-tahu dia telah melompat menerkam kearah Giok Ie Lang dengan menggerakkan sekaligus melancarkan serangan yang mengandung kekuatan tenaga serangan yang bukan main.

Penduduk kota yang menyaksikan Giok Ie Lang diserang begitu hebat, jadi mengeluarkan seruan tertahan saking terkejut.

TETAPI Giok Ie Lang tetap berlaku tenang dan berdiri tegak di tempatnya, sedikitpun juga dia tidak bergerak atau berkisar dari tempatnya berdiri. Dengan tenang diawasinya serangan yang dilancarkan oleh Chang Tu

San ke arah dirinya itu, dia melihat bahwa orang she Chang tersebut mempergunakan jurus Siang Houw Cut Tong (Sepasang Harimau Keluar Dari Goa), ilmu silat dari pintu perguruan Siauw Lim Sie. Tetapi Chang Tu San biarpun mempergunakan jurus serangan ini  tampaknya hebat  dan mengandung tenaga serangan yang kuat sekali, toch sebetulnya tidak begitu hebat. Giok Ie Lang telah mendengus tertawa dingin, dia telah menggerakkan tangan kirinya sambil memiringkan kepalanya sedikit ke kanan, sehingga serangan kedua tangan dari Chang Tu San dapat dipunahkan dengan tangkisan tangan kirinya itu. Sedikitpun kaki Giok Ie Lang tidak berkisar dari tempatnya berdiri.

Kejadian seperti ini benar-benar  membuat Chang Tu San  jadi terperanjat bukan main, apa lagi dia merasakan, waktu kedua tangannya sekaligus dapat ditangkis oleh tangkisan tangan kirinya lawan, ada serangkum tenaga yang kuat bukan main mendorong dirinya.

Tanpa diinginkannya, dia jadi terdorong mundur terhuyung-huyung beberapa langkah ke belakang. Hampir saja dia rubuh kejengkang, kalau tidak cepat-cepat mengerahkan tenaga pada kedua kakinya dan berusaha untuk berdiri tegak kembali.

Namun biarpun begitu, tidak urung wajah Chang Tu San jadi berobah merah padam. Rupanya orang she Chang ini jadi malu bercampur murka.

Dengan tidak membuang-buang waktu lagi, dia telah mengeluarkan suara bentakan yang keras, menjejakkan kedua kakinya. Tubuhnya mencelat seperti seekor burung rajawali yang menyambar mangsanya, dengan kecepatan yang bukan main telah melancarkan serangan yang bertubi-tubi kearah Giok Ie Lang.

Tetapi serangan-serangan yang dilancarkan oleh Chang Tu San ini sdikitpun tidak dipandang sebelah mata oleh Giok Ie Lang, karena dia menghadapinya dengan tenang sekali. Malah dengan mudah berulang kali dia mengelakkan dan berkelit dari setiap serangan yang dilancarkan oleh lawannya. Gerakan yang dilakukan  oleh Giok Ie Lang benar-benar  cepat sekali, tubuhnya berkelebat-kelebat  seperti bayangan saja, membingungkan dan menambah murka Chang Tu San.

Dan setelah merasa cukup mempermainkan lawannya ini Giok Ie Lang suatu kali mengeluarkan suara siulan yang panjang, cepat sekali tubuhnya berputar setengah lingkaran, dan kedua tangannya dirangkapkan seperti sedang memberi hormat. Disaat itulah Chang Tu San sedang melan carkan serangan sekuat tenaganya dengan mempergunakan tangan kanannya.

Ketika serangan Chang Tu San hampir sampai, disaat itu Giok Ie Lang telah membarengi dengan membentak keras sekali. Kedua tangannya it u telah

dipentang dengan gerakan yang cepat sekali tanpa ampun lagi dada Chang Tu San kena digempurnya!

Tentu saja kejadian seperti ini tidak pernah  disangka oleh Chang Tu San. Dia memang merasa gugup juga waktu mengetahui lawannya liehay. Dan dia jadi lebih terkejut lagi waktu melihat kedua tangan Giok Ie Lang meluncur kearah dadanya. Sebetulnya dia mati-matian  mau mengelakkannya, tetapi tanpa berdaya tahu-tahu dadanya sudah kena tergempur hebat, sampai tubuhnya yang tinggi besar telah terpental keras, terlambung tinggi sekali, hampir empat tombak di tengah-tengah udara, terbanting keras dibumi, membuat pandangan matanya jadi berkunang-kunang dan pusing!

Inilah suatu kejadian yang tidak pernah dialami oleh Chang Tu San, karena belum pernah dia dirubuhkan orang, maka dari itu, peristiwa ini selain mengejutkan hatinya, juga membuatnya jadi murka bukan main. Dengan cepat Chang Tu San telah melompat berdiri lagi, bersiap-siap melancarkan serangannya pula.

Penduduk yang melihat Chang Tu San dengan mudah dapat dirubuhkan oleh Giok Ie Lang, jadi bersorak girang tanpa mereka sadari.

Tetapi waktu melihat orang she Chang itu telah melompat berdiri pula, penduduk kota tersebut jadi berhenti bersorak seketika itu, wajah mereka kembali memperlihatkan perasaan kuatir dan takut, karena mereka melihat Chang Tu San telah berobah jadi ganas. Apa lagi memang sebenarnya penduduk kota itu sudah mengenal siapa orang she Chang tersebut, yang sering berbuat sewenang-wenang.

Tetapi Giok Ie Lang tetap berdiri tenang di tempatnya tanpa bergerak sedikilpun juga. Dia hanya mengawasi kearah Chang Tu San dengan  sorot mata mengejek.

“Hmm, orang asing!” bentak Chang Tu San dengan suara yang bengis mengandung kemarahan yang sangat. “Aku tahu bahwa kau bukan penduduk kota ini, maka dari itu mau apa kau mencampuri urusanku, heh?”

“Apakah pelajaran tadi kurang keras, sehingga kau tidak mau cepat- cepat angkat kaki, heh?” bentak Giok Ie Lang dengan suara yang tawar. “Apakah perlu aku memberikan hajaran yang lebih keras lagi?!”

Muka Chang Tu San jadi berobah merah padam saking murkanya dan dadanya dirasakan sesak seperti mau meledak didesak hawa amarahnya

“Jangan takabur! Apakah kau kira aku orang she Chang jeri berurusan denganmu? Hu! Hu! Biarpun harus mati, aku tak mau ada orang yang menghina diriku!” dan membarengi dengan habisnya perkataannya itu, de-

 ngan cepat sekali Chang Tu San telah menjejakkan kakinya, tubuhnya melesat cepat sekali menubruk kearah Giok Ie Lang, gerakan yang dilakukannya ini jauh lebih cepat dan lebih berbahaya kalau dibandingkan dengan gerakannya yang sudah-sudah.

Giok Ie Lang mengerutkan sepasang alisnya, walaupun tampaknya dia masih membawakan sikap yang tenang, toch setidak-tidaknya dia menyadari bahwa dia harus berlaku waspada, karena serangan yang kali ini dilancarkan oleh Chang Tu San bukanlah serangan yang bisa dibuat main.

Maka dari itu, cepat-cepat Giok Ie Lang telah menarik napas dalam- dalam, dia mengempos semangatnya. Disaat itu pula, Giok Ie Lang telah mem- pergunakan gerakan Kim Liong Hian Jiauw (Naga Emas Mengulurkan Kuku), gerakan yang dilakukannya itu cepat dan hebat sekali, karena dengan tepat dia dapat menangkis serangan yang dilancarkan oleh Chang Tu San.

Kesudahannya sangat hebat, karena kembali tubuh Chang Tu San telah terpental pula, malah terbanting lebih keras dari tadi. Seketika itu, dengan terbantingnya dua kali, Chang Tu San pecah nyalinya, hilang keberaniannya, lenyap keangkuhan dan kegalakannya, maka dari itu, dikala dia telah merayap bangun, tanpa menoleh lagi telah melompat keatas kuda tunggangannya, tubuhnya cepat sekali duduk di atas kuda tunggangannya itu. Dan dia telah membedal melarikan kuda tunggangannya itu bagaikan dikejar setan.

Tentu saja penduduk jadi bersorak girang memuji-muji akan kehebatan yang dimiliki dan telah diperlihatkan oleh Giok Ie Lang. Kakek tua she Hui telah cepat-cepat menghampiri Giok Ie Lang, mencekal tangannya, “Giok Kongcu, kau harus hati-hati, orang she Chang itu pasti akan datang pula dengan membawa kawan-kawannya!!” kata kakek tua she Hui itu dengan, suara mengandung kekuatiran yang sangat.

Giok Ie Lang tersenyum tenang. “Jangan takut Lopeh, nanti aku akan membereskan mereka, agar mereka tidak berani melakukan kejahatan- kejahatan yang sering mereka lakukan!” hibur Giok Ie Lang.

Beberapa penduduk telah mengerumuni Giok Ie Lang, karena tidak mau terlalu banyak rewel ditanya ini dan itu, Giok Ie Lang telah mengajak kakek tua she Hui agar dia diperbolehkan mengasoh di rumah si kakek tua ini.

Dengan cara begitu, Giok Ie Lang sudah menghindarkan kerewelan penduduk. Dia telah berada di dalam rumah si kakek she Hui itu dan dapat duduk mengaso.

Hari telah semakin malam saja, sedangkan orang yang mereka tunggu- tunggu, yaitu Wu Kongcu masih juga belum muncul. Untuk mengisi waktu, sengaja Giok Ie Lang menanyakan siapa adanya Chang Tu San itu.

 Kakek tua she Hui telah menceritakan perihal diri orang she Chang yang galak itu, tetapi telah dipecundangi oleh pemuda she Giok tersebut.

Ternyata Chang Tu San adalah salah seorang anak buah hartawan kaya raya yang bernama Ciam Ma, hartawan kaya ini sangat angkuh dan sombong, tidak boleh ada yang berbuat salah padanya, pasti akan menderita dihajar oleh anak buah hartawan kaya raya itu.

Maka dari itu, disebabkan sikap anak buah hartawan kaya raya itu, membuat penduduk di kota tersebut jadi takut dan jeri. Malah sampai-sampai penduduk kota inipun jadi ikut takut pula dengan orang-orangnya hartawan kaya itu, sebab kekuasaan hartawan kaya itu sudah menjalar sampai ke dalam kota.

“Entah apa salahnya Wu Kongcu sehingga orang she Chang itu mencari- carinya?” kata kakek tua she Hui setelah selesai menceritakan perihal hartawan kaya raya she Ciam itu.

“Hmmm, kalau memang tadi chayhe tidak salah dengar, orang she Chang itu mengatakan bahwa Wu Kongcu telah mencuri harta benda majikannya!!”

“Mungkin itu hanya alasan belaka atau fitnah saja!” kata kakek tua she Hui tersebut. “Maka dari itu, mudah-mudahan Wu Kongcu muncul malam ini agar kami bisa meminta keterangan dari padanya!”

Giok Ie Lang hanya mengangguk saja. Banyak sekali yang diceritakan oleh kakek tua she Hui tersebut mengenai keadaan kotanya. Tetapi, ketika mereka sedang bercakap-cakap, tiba-tiba di luar rumah terdengar suara derap kaki kuda yang ramai, disusul oleh suara ribut-ribut

Muka kakek tua she Hui itu kontan jadi berobah pucat.  “Orang she Chang itu telah datang pula, dia pasti membawa banyak sekali kawan- kawannya, karena suara tapak-tapak kaki kuda itu menunjukkan yang datang lebih dari sepuluh orang!”

“Tenang saja Lopeh, biar nanti kubereskan mereka semuanya!” kata

Giok Ie Lang menenangkan hati si kakek.

“Tetapi kau harus hati-hati,  Giok Kongcu mereka ganas-ganas  dan

kejam!”

Giok Ie Lang hanya mengangguk.

“Mana dia monyet tengik yang berani untuk bertingkah di kota ini?!”

terdengar suara bentakan yang keras dan bengis di luar rumah.

 “Dia pasti belum pergi dari kota ini!” terdengar pula suara lainnya dan Giok Ie Lang mengenali, itulah suara Chang Tu San.

Dan kemudian disusul oleh suara jeritan ketakutan dari beberapa orang. Rupanya ada rumah yang telah digedor dan dibuka secara paksa oleh orang- orang itu.

Giok Ie Lang cepat-cepat keluar dari rumah kakek tua she Hui tersebut, sedangkan kakek tua itu sendiri berdiri gemetaran di dalam rumahnya tanpa berani keluar.

“Aku di sini!” teriak Giok Ie Lang, waktu melihat ada belasan orang yang tengah menggerumuni rumah di seberang jalan itu. Orang-orang  yang berkerumun itu menoleh dengan serentak. Malah salah seorang diantara mereka terdapat Chang Tu San. Semuanya memiliki wajah yang bengis dan kejam.

“Nah, itu dia orangnya!” tunjuk Chang Tu San sambil menuntun kudanya.

Dari rombongan orang ini telah melangkah keluar seorang lelaki bertubuh kecil pendek, tetapi matanya bersinar luar biasa. Rupanya dia adalah pemimpin dari rombongan orang-orang itu. Dia menuntun kudanya yang berwarna coklat itu mendekati Giok Ie Lang, yang berdiri di-tengah- tengah jalan dengan tegak.

“Engkaukah yang tadi telah menghina Changte!” tegur orang bertubuh pendek ini dengan suara yang parau menyeramkan, matanya tetap menatap Giok Ie Lang dengan sorot mata yang bengis dan galak sekali.

“Benar!” sahut Giok Ie Lang dengan tenang, dia melirik ke arah belasan orang kawan orang bertubuh pendek ini yang sudah mengambil sikap seperti mengurung. “Memang aku yang telah memberikan hajaran pada monyet bodoh she Chang i tu!”

“Hmm, siapa kau sebenarnya dan berasal dari pintu perguruan mana!” “Aku Giok Ie Lang, tentang perguruanku kau tidak usah

menanyakannya, karena percuma saja, kau tidak kenal juga tidak

akanmempunyai hubungan! Hmm, sekarang tegasnya saja, kalian datang beramai-ramai mencari diriku untuk keperluan membalas sakit hati orang she Chang itu, bukan?!”

“Tidak salah!” sahut orang bertubuh pendek itu dengan suara yang menyeramkan. “Memang kami datang untuk memberikan hajaran padamu, agar kau mengetahui, orang-orang Ciam Wanggwe (hartawan she Ciam) tidaklah begitu mudah dihina!”

 Mendengar perkataan orang ini, Giok Ie Lang tertawa tergelak-gelak dengan suara yang nyaring mengandung ejekan.

“Jumlah kalian yang hanya belasan orang ini masih kurang!” kata Giok Ie Lang dengan suara mengandung ejekan. “Karena hanya di dalam beberapa jurus niscaya aku akan dapat merubuhkan kalian semuanya! Kalau memang kalian mengenal selatan (mengenal gelagat), lebih baik kalian menggelinding pergi dari hadapanku!”

Tetapi orang bertubuh pendek kecil itu telah tertawa tawar.

“Jangan takabur dulu, anak muda!” katanya kemudian dengan suara yang parau dan tawar. “Aku Siauw Hay Cie tidak jeri untuk menghadapi siapapun juga! Kalau kau tidak percaya, aku akan membuktikannya!”

Setelah berkata begitu, si pendek yang mengaku bernama Siauw Hay Cie ini telah menoleh memberi isyarat kepada kawan-kawannya, agar mereka menyingkir. Salah seorang dari kawannya telah mengambil kudanya. Dengan sendirinya, Giok Ie Lang telah berdiri saling berhadapan dengan Siauw Hay Cie.

“Nah, sekarang kau yang boleh membuka serangan lebih dulu!” kata Siauw Hay Cie dengan suara yang tawar. “Aku akan memperlihatkan padamu, bahwa didunia ini bukan hanya kau seorang yang mengerti ilmu silat!”

Dan setelah berkata begitu, tubuh Siauw Hay Cie berdiri tegak, seperti juga bersiap-siap untuk menerima serangan lawan.

Giok Ie Lang telah menatap tajam pada orang she Siauw ini. Dia mana pandang sebelah mata pada jago she Siauw tersebut. “Hmm, nanti kalau memang kau telah kubuat seperti orang she Chang, baru kau tahu liehaynya tanganku!” pikir dihati Giok Ie Lang dengan mendongkol. Diapun tidak mau berlaku sungkan-sungkan lagi, maka bersiap-siap   untuk   melancarkan serangan.

GIOK IE LANG melihat orang bertubuh pendek yang bernama Siauw Hay Cie ini telah berdiri tegak dengan kedua kakinya yang dikerahkan kuda-kuda kuat sekali. Maka dari itu, dengan cepat Giok Ie Lang dapat mengambil kesimpulan bahwa orang ini mungkin melatih diri ilmu luar (gwa-kang), tenaga kasar. Namun melihat bentuk tubuhnya yang pendek kecil, juga tidak mungkin Siauw Hay Cie akan berhasil untuk mempelajari ilmu Gwa-kang, maka dari itu, sebelum melancarkan serangannya Giok Ie Lang telah menduga-duga dan mengira-ngira dulu.

Tetapi disebabkan orang she Siauw tersebut sudah berdiri dengan sikap yang menantang, dengan tidak membuang-buang waktu lagi, Giok Ie Lang

 telah melancarkan serangan pertamanya dengan jurus Cio Po Thian  Keng (Batu Meledak Langit Gempur), tangan kanannya telah menghantam kearah batok kepala Siauw Hay Cie dengan cepat dan mengandung  kekuatan menyerang yang luar biasa. Sedangkan tangan kirinya telah dipakai untuk mencengkeram bahu orang she Siauw tersebut.

Tetapi orang she Siauw itu tetap berdiri tenang di tempatnya. Dia seperti juga sengaja berbuat begitu untuk menantikan tibanya serangan yang dilancarkan oleh Giok Ie Lang.

Giok Ie Lang jadi berpikir juga waktu melihat sikap Siauw Hay Cie. Orang she Siauw ini tentu telah merencanakan sesuatu untuk menghadapi serangannya itu kalau tidak pasti orang she Siauw itu tidak akan bersikap tenang dan berdiam diri seperti itu.

Tetapi, Giok Ie Lang tidak mau mengurangi tenaga serangannya, dia mau tahu sampai berapa tinggi kepandaian Siauw Hay Cie sehingga tampaknya dia begitu jumawa dan angkuh.

Disaat kedua serangan Giok Ie Lang hampir tiba, dengan cepat Siauw Hauw Cie telah melejit kesamping, dan tahu-tahu kedua tangannya dapat menangkis kedua serangan Giuk Ie Lang.

Disaat itulah hati Giok Ie Lang jadi berdenyut, karena dia merasakan betapa tangkisan kedua tangan dari Siauw Hauw Cie kuat luar biasa, tangan Giok Ie Lang sendiri sampat tergetar keras, seperti kesemutan.

Dan belum lenyap lagi perasaan kaget Giok Ie Lang, dia telah melihat tangan kanan Siauw Hauw Cie telah diulurkan untuk mencengkeram dada dari orang she Giok ini dengan jari-jari tangan yang terpentang seperti cakar-cakar kuku garuda, hebat sekali.

Tanpa diinginkannya, Giok Ie Lang jadi mengeluarkan suara seruan tertahan, dan cepat-cepat  menjejakkan kakinya. Tubuhnya mencelat kebelakang, tetapi gerakan yang dilakukan Giok Ie Lang biarpun cepat, tetap saja masih terlambat.

“Breeettt!!” baju bagian dada dari Giok Ie Lang telah kena dicengkeram oleh jari-jari tangan Siauw Hauw Cie, dan karena Giok Ie Lang masih sempat melompat kebelakang, bajunya itu telah robek dan cabikan kain bajunya masih berada di dalam cengkeraman tangan Siauw Hauw Cie. Segera terdengar suara sorak sorai dari kawan-kawan orang she Siauw tersebut.

Giok Ie Lang berdiri terpisah tiga tombak lebih, hatinya agak tergoncang. Kalau tadi dadanya yang kena dicengkeram, bukankah berarti

 bahwa dadanya itu akan robek terkena cengkeraman jari-jari tangan orang she Siauw tersebut?!

Maka dari itu, seketika itu juga Giok Ie Lang menyadarinya bahwa Siauw Hauw Cie memiliki ilmu andalan Eng Jiang Kang (ilmu Cengkeraman Kuku Garuda) yang sangat terkenal di dalam rimba persilatan!

Cuma saja ada juga perasaan heran pada diri Giok Ie Lang, bahwa di dalam sebuah perkampungan yang sunyi bisa terdapat seorang jago seperti Siauw Hauw Cie, yang memiliki kepandaian begitu tinggi. Malah yang membuatnya jadi tambah heran lagi adalah orang she Siauw tersebut mau bekerja sebagai begundalnya seorang hartawan kampungan belaka!!

BELUM sempat Giok Ie Lang berpikir lebih jauh. Siauw Hay Cie telah berkata dengan suara yang tawar : “Bagaimana? Apakah kau sudah melihat dimana kelemahanku?”

Giok Ie Lang tersadar dengan cepat, dia tertawa dingin. “Kepandaianmu cukup hebat, tetapi sayangnya dipergunakan untuk melakukan kejahatan!” kata Giok Ie Lang kemudian dengan suara yang tegas. “Maka dari itu, hari ini kalau memang kau masih tidak mau sadar, terpaksa aku harus memusnahkan dirimu!”

“Hahahahaha!!” tertawa Siauw Hay Cie diikuti oleh kawan-kawannya.

“Apakah kau yakin memiliki kepandaian untuk memusnahkan diriku!”

Mendengar ejekan Siauw Hay Cie, Giok Ie Lang tidak memperlihatkan perobahan pada air mukanya, dia mendengus, lalu katanya : “Coba kau tangkis seranganku ini!”

Dan membarengi dengan perkataannya itu, saling susul Giok Ie Lang telah melancarkan tiga serangan, yang masing-masing bernama Hek Houw To Sim (Macan Hitam Menyambar Hati), disusul oleh pukulan Bie Ciong Kun (Kepalan Menyesatkan), dan jurus jang ketiga Hui Hong Phu Lian (Angin Meniup Bunga Teratai).

Ketiga serangan yang dilancarkan oleh Giok Ie Lang menyambar saling susul dengan gerakan yang cepat melebihi angin.

Siauw Hay Cie sendiri sampai terkejut melihat hebatnya serangan Giok Ie Lang. Tadinya, dia sedang tergirang-girang bahwa dia sudah dapat mencengkeram baju Giok Ie Lang, walaupun tidak berhasil mencengkeram dada dari orang she Giok tersebut, namun dia sudah merasa puas dapat merobek baju orang she Giok itu. Dengan sendirinya, dalam keadaan girang begitu, dia juga menduga bahwa kepandaian Giok Ie Lang tidak seberapa.

 Namun apa yang terjadi sekarang di luar dugaan, Giok Ie Lang telah melancarkam serangan yang beruntun dan sekaligus dengan kecepatan yang bukan main dan juga tenaga serangan yang hebat.

Tanpa berani berayal lagi, Siauw Hay Cie mengelakkan dan menangkis serangan itu. Walaupun kenyataannya dia bisa memunahkan ketiga serangan Giok Ie Lang, namun dia sudah tidak berani memandang rendah la gi pada lawannya. Cepat-cepat dia juga mengempos semangatnya. Mereka  jadi bertempur dengan hebat.

Giok Ie Lang sendiri yang melihat ketiga serangannya itu gagal menemui sasarannya, jadi tambah nenasaran dan melancarkan serangan- serangan yang jauh lebih hebat.

Dengan sendirinya, kedua orang ini bertempur hebat sekali, tub uh mereka berkelebat-kelebat seperti juga bayangan, dan orang-orang yang menyaksikan jalannya pertempuran ini jadi menahan napas.

Angin serangan dan pukulan kedua orang ini menderu-deru  dengan keras, sehingga menyambar-nyambar terasa oleh kawannya Siauw Hay Cie, yang berdiri dipinggiran dengan sikap seperti mengurung.

Kawan-kawan Siauw Hay Cie sendiri merasakan hati mereka jadi tergoncang keras, diam-diam mereka telah bersiap-siap  untuk mencabut senjata mereka, kalau sampai saatnya dimana Siauw Hay Cie terdesak oleh orang she Giok itu, mereka bermaksud akan melurukuntuk mengeroyok Giok Ie Lang, keadaan tegang sekali.

Para penduduk kota itupun telah pada mengintai dari rumah mereka masing-masing dengan hati yang berdebar-debar keras. Melihat keadaan yang begitu rupa, dengan sendirinya mereka jadi menguatirkan keselamatan Giok Ie Lang. Sedangkan kedua orang yang tengah bertempur itu telah saling melancarkan serangan yang semakin lama semakin hebat.

Gok Ie Lang sendiri jadi tambah heran melihat kehebatan kepandaian dari lawannya. Tadinya dia tidak menyangka sama sekali bahwa Siauw Hay Cie bisa memiliki kepandaian yang begitu tinggi.

Dengan mengempos seluruh semangat dan kekuatan yang ada pada dirinya, dia telah berusaha keras melancarkan pula serangan-serangan yang lebih hebat pada Siauw Hay Cie, tetapi selalu saja dapat dielakkan dan dipunahkan oleh orang she Siauw tersebut.

Semakin lama Giok Ie Lang jadi semakin penasaran saja.

Siauw Hay Cie sendiri telah berulang kali membalas menyerang. Malah serangan, dari ilmu Eng Jiauw Kangnya benar-benar berbahaya. Jangan kata

manusia, biarpun batu kalau terkena cengkeraman jari-jari tangannya, pasti hancur remuk!

Maka dari itu, menghadapi serangan-serangan  seperti ini yang dilancarkan oleh Iawannya berulang kali, Giok Ie Lang mau tak mau harus bersikap waspada dan hati-hati. Dia berulang kali hampir terkena serangan orang she Siauw itu, namun disebabkan memang Ginkang maupun kepandaiannya tinggi, maka selalu dapat meloloskan diri. Tetapi,  biarpun begitu, setidaknya hal ini membuat Giok Ie Lang tidak berani  memandang remeh pada orang she Siauw ini.

Pertempuran itu menimbulkan angin yang menderu-deru,  suatu kali tampak Giok Ie Lane dengan mengempos sebagian besar tenaga dalamnya telah melancarkan serangan dengan gerakan  Hui Jan Hoan Sim (Walet Terbang Membalik Hati), kearah dada Siauw Hay Cie. Serangan  yang dilakukan oleh tangan kanan Giok Ie Lang sangat cepat dan kuat sekali, dia ingin cepat-cepat mengakhiri pertempuran ini dengan serangannya itu.

Tetapi Siauw Hay Cie juga bukannya lawan yang lemah, karena waktu melihat Giok Ie Lang melancarkan serangan tangan Hui Jan Hoan Sim yang hebat kepada dadanya, dia tidak tinggal diam.

Cepat luar biasa, tubuh yang pendek itu telah mencelat ke tengah udara, gerakan yang dilakukannya itu gesit bukan main dan dikala tubuhnya sedang melayang di tengah udara, kaki kanannya telah menotol kearah bahu Giok Ie Lang sebelah kiri, maksudnya ingin menotok jalan darah Hoan-cie-hiat Giok Ie Lang.

Giok Ie Lang mana mau membiarkan dirinya ditotok begitu. Cepat-cepat dia menarik pulang serangannya, kemudian mempergunakan kedua jari tangannya dia menantikan tibanya kaki Siauw Hay Cie.

Hati orang she Siauw itu jadi mencelos. Kalau memang dia meneruskan serangannya, hebat akibatnya buat dia. Kedua jari tangan Giok Ie Lang yang didongakkan menantikan kedatangan kakinya itu, bermaksud menotok jalan darah Sian-tok-hiat yang terdapat pada mata kakinya. Bukankah kalau dia meneruskan serangannya itu berarti sama saja ular mencari penggebuk? Bukankah kakinya berarti diantarkan untuk ditotok oleh Giok Ie Lang?

Cepat-cepat dan mati-matian Siauw Hay Cie menahan serangan kakinya itu dan menarik pulang kakinya, yang ditekuk ke belakang, tetapi diapun membatalkan serangan kakinya itu bukan untuk lantas berdiam diri, melainkan kedua tangannya yang telah digantikan untuk menyerang Giok Ie Lang. Kedua tangannya itu disalurkan akan mencengkeram batok kepala Giok Ie Lang, sehingga gerakannya ini mirip seekor burung elang yang menyambar mangsanya!

 Giok Ie Lang mendengus tertawa dingin. “Hmm, ternyata kau hanya seorang pengecut!” ejeknya. Dan membarengi dengan habisnya suara ejekan tersebut, cepat luar biasa Giok Ie Lang memutar tangannya, dan dia telah memutarnya dengan gerakan yang cepat, sehingga berhasil menangkis serangan yang dilontarkan oleh Siauw Hay Cie. Terdengar suara “Takkk! Takkk! Takkk!” berulang kali, nyaring bukan main.

Segera terlihat suatu kejadian yang menakjubkan. Tubuh Siauw Hay Cie yang tengah melayang di tengah udara, disebabkan kedua tangannya telah saling bentur dengan tangan Giok Ie Lang, jadi terpental keras sekali, terlam- bung di tengah-tengah udara, juga terdengar suara seruan kaget dari orang she Siauw ini, tubuhnya berjumpalitan.

Untung saja ginkang orang she Siauw ini sempurna, sehingga dia tidak perlu sampai terbanting di tanah. Dia telah berpoksay di tengah-tengah udara, dan kemudian turun di bumi dengan kedua kaki terlebih dahulu.

Begitu pula halnya dengan Giok Ie Lang yang telah terpental waktu kedua tangannya berhasil menangkis serangan yang dilancarkan oleh Siauw Hay Cie. Tubuhnya terhuyung-huyung mundur dan hampir terguling.

Cepat-cepat Giok Ie Lang mengerahkan tenaga seribu   kati memberatkan tubuh, maka selamatlah Giok Ie Lang tidak usah sampai terguling di atas tanah. Tubuhnya telah berdiri tegak pula, dengan kedua kaki yang kokoh bagaikan tonggak baja!

Kedua orang lawan yang telah terpisah di dalam jarak yang cukup jauh ini jadi saling berdiri berhadapan. Mata mereka saling memandang dengan sorot yang layang sekali penuh kewaspadaan.

Dihati mereka masing-masing telah menyadarinya bahwa kepandaian lawan mereka tinggi dan sempurna. Maka dari itu, mereka tidak berani sembarangan bergerak atau melakukan penyerangan. Saling pandang begitu seperti juga kedua orang ini tengah menimbang-nimbang  dan memperhitungkan kelemahan dari lawan mereka.

“Hayo maju! Hayo maju!!” mengejek Siauw Hay Cie waktu melihat Giok Ie Lang hanya memandangi dia belaka, “Bukankah tadi kau begitu berkepala besar dan merasakan kepandaianmu tinggi sekali? Hmmm, tadi kau mengatakan, kalau kami maju semuanya sekaligus, hanya di dalam beberapa jurus kau sudah dapat merubuhkannya! Tetapi buktinya? Cisss! Ciss! Tidak tahu malu! Hanya aku seorang diri saja kau sudah kewalahan, apa lagi kala u kawan-kawanku itu datang membantu mengeroyok dirimu, hmmm, siang- siang tentu batok kepalamu itu telah terpisah dari batang lehermu!!!”

 Muka Giok Ie Lang jadi berobah hebat saking murkanya. Dia mengeluarkan suara seruan gusar yang nyaring bukan main. Mem barengi mana, tampak tubuhnya telah mencelat menubruk lagi kearah Siauw Hai Cie dengan gerakan yang cepat bukan main, kedua tangannya juga telah digerakkan untuk melancarkan serangan-serangan yang hebat lagi kepada lawannya.

Melihat Giok Ie Lang mulai melancarkan serangan pula, Siauw Hay Cie mendengus tertawa dingin, dia juga tidak berani berayal, cepat-cepat menangkis dan mengelakkan serangan-serangan yang dilancarkan oleh Giok Ie Lang. Dengan cepat keduanya sudah terlibat di dalam suatu pertempuran lagi, suatu pertempuran yang hebat, karena hanya sosok bayangan tubuh mereka saja yang terlihat bergerak-gerak seperti bayangan hantu.