Manusia Jahanam Jilid 04

 
Jilid 04

Tampak Khu Mei Sian sibuk mencari sesuatu diantara obat-obatnya itu, sampai akhirnya dia mengeluarkan seruan girang, karena yang dicarinya itu telah dapat ditemuinya. Cepat-cepat Khu Mei Sian menghampiri pembaringan kayu, membuka mulut Cin Ko, lalu memasukkan sebuah butiran merah warna darah ke dalam mulut Cin Ko.

Juga kemudian Khu Mei Sian mengobati luka-luka pada tubuh si bocah. Segalanya dilakukan oleh wanita she Khu itu dengan cepat. Beberapa jalan darah ditubuh Cin Ko juga telah ditotoknya, hal ini untuk mencegah agar darah yang mengucur keluar dari luka-luka si bocah berhenti.

Setelah selesai segalanya, dengan sabar Khu Mei Sian duduk dikursi kayu itu untuk menantikan Cin Ko siuman dari pingsannya.

Lama juga Cin Ko dalam keadaan pingsan  begitu dan akhirnya dia tersadar juga, tetapi dengan disertai oleh suara rintihannya. Ketika si bocah ini membuka pelupuk matanya, dia memandang heran, sebab dirinya berada di dalam sebuah ruangan yang menyerupai seperti goa.

Khu Mei Sian jadi girang melihat Cin Ko sudah tersadar dari pingsannya.

Cepat-cepat dihampirinya pembaringan itu.

“Kau jangan terlalu banyak bergerak dulu!” kata Khu Mei Sian

memperingatkan. “Tubuhmu sedang dalam keadaan luka!!”

Cin Ko menoleh dan mengawasi perempuan  ini, hati si bocah jadi tercekat kaget, karena segera juga dia mengenalinya perempuan itu adalah perempuan she Khu yang pernah menyiksa dirinya. Segera juga Cin Ko diliputi perasaan kaget dan gugup, karena dia menduga Khu Mei Sian tentu  ingin menyiksa dirinya pula.

Tetapi apa yang dipikirkan oleh Cin Ko rupanya dapat dibaca oleh Khu Mei Sian.

“Tenanglah, aku telah menolongmu dari tangannya tentara negeri yang menginginkan jiwamu!!” menjelaskan Khu Mei Sian dengan suara yang sabar. “Tadi aku telah memberikan obat agar berkurang rasa sakit ditubuhmu!”

Cin Ko segera teringat apa yang telah terjadi menimpa dirinya. Si bocah juga teringat bahwa dirinya telah dicambuki hebat sekali oleh salah seorang bertubuh tinggi tegap berbewok kasar.

“Mana, mana To Sioksiok, Wie Sioksiok?” tanya Cin Ko dengan suara agak tergetar dan masih lemah.

“Ketika aku merebut dirimu dari tentara negeri itu, aku melihat mereka masih memberikan perlawanan pada tentara negeri yang mengurungnya! Entah mereka dapat meloloskan diri atau tidak, aku sendiri tidak begitu jelas, sebab aku sendiri harus menghadapi banyak sekali pengepung!”

Wajah Cin Ko jadi murung seketika itu juga.

“Hai! Hai! Kalau sampai mereka bertiga kena dicelakai oleh orang-orang jahat itu, tentu hatiku tidak akan enak dan merasa berdosa!” gumam Cin Ko dengan suara yang perlahan. “Hmmm, disebabkan mereka ingin melindungi diriku, akhirnya membuat mereka harus menghadapi bahaya yang tidak kecil itu!!”

“Sudahlah, dalam keadaanmu yang seperti ini, lebih baik kau tidak terlalu banyak berpikir, karena nanti juga perihal ketiga kawanmu itu bisa diselidiki!!” hibur Khu Mei Sian.

Tiba-tiba Cin Ko telah menoleh, dia merasakan lehernya yang terluka akibat lilitan cambuk orang berbewok yang telah menyiksa dirinya. Tetapi Cin Ko tidak memperdulikan rasa sakitnya itu, karena dengan sorot mata yang tajam, Cin Ko telah menatap wanita itu.

“Mengapa kau menolong diriku?” tanyanya dengan suara ragu-ragu.

“Sebagai seorang manusia juga, apakah aku tidak boleh menolong seorang manusia yang tengah menderita? Apalagi usiamu memang  masih terlalu muda!” sahut wanita she Khu tersebut sambil tersenyum.

“Tetapi siangnya, kau telah menyiksa diriku begitu rupa, tampaknya kau seperti juga ingin membunuh diriku dengan bernafsu! Tetapi sekarang malah berbalik menolong diriku?”

Khu Mei Sian tersenyum lagi, dia tidak menjadi gusar atau tersinggung. Tidak terlihat sikap bengisnya seperti waktu siang sebelu mnya dimana perut Cin Ko pernah diinjaknya.

“Kau jangan salah mengerti nak, sebetulnya antara diriku dengan kau tidak ada sangkutan apa-apa, juga tidak ada dendam Tetapi disebabkan oleh kegusaranku mendengar nama Phoa Sin Tek, membuat aku jadi lupa segalanya, hampir saja aku mencelakai dirimu!! Hai! Hai! Tentunya kau mau memaafkan kekhilapanku itu, bukan?”

Cin Ko mengangguk-angguk, dia jadi menyukai Khu Mei Sian, yang telah begitu berani mengakui terang kesalahan yang dilakukannya. Cepat-cepat Cin Ko mengeluarkan kata-kata merendah, katanya, malah dia yang harus me- minta maaf atas kekurang ajarannya dan saat ini diapun harus mengucapk an terima kasihnya atas pertolongan yang diberikan oleh Khu Mei Sian.

“Kau rebahlah di pembaringan itu, untuk sesaat lamanya kau tidak boleh turun dari pembaringan ini! Sebab kalau perdarahan dirimu yang telah kuhentikan itu terbuka pembuluh-pembuluhnya, niscaya kau akan mengalami kecelakaan.”

Cin Ko mau mendengar nasehat yang diberikan oleh Khu Mei Sian, dipejamkan matanya setelah mengucapkan terima kasihnya.

Khu Mei Sian juga tidak mau mengganggu si bocah, karena dia mengetahui Cin Ko membutuhkan waktu untuk beristirahat. Bocah ini   belum boleh terlalu banyak bicara atau bergerak.

Ketika melihat Cin Ko memejamkan matanya. Khu Mei Sian telah menuju keluar goa itu.

Tubuhnya dengan ringan telah melompat turun ke bawah lembah pula. Gerakannya ringan dan gesit sekali, hanya di dalam waktu sekejap mata, dia telah lenyap meninggalkan tempat itu.

****** MDN ******

SEE CIN KO memejamkan matanya bukan untuk tertidur nyenyak, dia malah jadi mengenangkan pengalamannya yang selama ini selalu dikeja r-kejar

penderitaan yang tidak ada habisnya. Si bocah juga mengetahui kepergian perempuan she Khu itu.

Tetapi disebabkan tubuhnya sakit akibat terlalu banyak luka-luka di tubuhnya dan terlalu banyak darah yang dikeluarkan, membuat Cin Ko tetap rebah di atas pembaringan kayu itu. Cuma saja Cin Ko jadi diliputi perasaan heran juga, apa maksud Khu Mei Sian dengan menolong dirinya dari kepungan orang-orangnya Coa Ting In?! Padahal sebelumnya Cin Ko malah telah disiksa oleh Khu Mei Sian dengan cara yang bengis sekali.

Lama juga si bocah diliputi keheranan yang sangat, sampai akhirnya dia juga teringat kepada ketiga pamannya yaitu It Mang, Sin Tang dan Sin Bun.

Entah bagaimana nasib ketiga orang kepercayaan Yayanya itu, yang telah begitu rela untuk mengorbankan jiwa mereka, yang dipertaruhkannya dengan sungguh-sungguh, demi keselamatan Cin Ko.

Betapa terharunya Cin Ko teringat akan ketiga orang kepercayaan kakeknya itu. Biar bagaimana, Cin Ko merasakan, betapa dirinya telah diperlakukan oleh It Mang bertiga dengan cara yang terlalu berlebihan. Sebetulnya, It Mang bertiga tidak seharusnya mempertaruhkan keselamatan jiwa mereka demi Cin Ko, karena menurut Cin Ko Ko, toch dirinya tidak lebih berharga dari jiwa ketiga orang pengikut kakeknya yang setia itu.

Berulang kali Cin Ko menghela napas  menguatirkan  keselamatan It Mang bertiga, karena Cin Ko menyadari juga kalau sampai It Mang bertiga tertawan oleh Coa Ting In, niscaya It Mang bertiga dengan Sin Tang dan Sin Bun akan mengalami siksaan yang tidak kecil, juga akan membuat It Mang bertiga akan menderita sekali.

Apa yang selama ini dialami oleh Cin Ko benar-benar membuat si bocah jadi kecewa sekali, karena dirinya selalu menjadi buronan dan dikejar-kejar oleh orangnya Ban Hong Liu Thaykam! Sampai detik ini memang dia selalu secara kebetulan bisa lolos saja dan selamat dari kematian, tetapi lama kelamaan nantinya, toch suatu kali dirinya akan  kena dibekuk oleh orang- orangnya Thaykam she Ban itu?!

Disaat itulah Cin Ko menyadarinya dirinya pasti akan lebih menderita lagi, karena kalau memang dirinya tidak dibunuh, niscaya dia akan disiksa hebat sekali.

Lagi pula, kalau kali ini dia bisa meloloskan diri, tanpa It Mang bersama Sin Tang dan Sin Bun, maka ingin pergi kemana si bocah? Dia tidak mengetahui kemana tujuannya. Juga Cin Ko tidak mengetahui kepada siapa nantinya dia bisa belajar ilmu silat?!

Banyak pula ingatan-ingatan lainnya yang mengacau balau pikiran Cin Ko. Dia jadi begitu gegetun, gusar, mendongkol, penasaran, dan bermacam- macam perasaan bergolak di dalam jiwa si bocah lebih-lebih perasaan duka yang meliputi dirinya, yang membuat Cin Ko tanpa disadarinya  telah menitikkan dua butir air mata, saking kebingungan.

Lama juga Khu Mei Sian pergi meninggalkan Cin Ko seorang diri di dalam goa itu.

Menjelang fajar, barulah Khu Mei Sian kembali dengan muka yang berseri-seri.

“Aku telah membawakan kau dua perangkat  pakaian yang tentunya cocok dengan ukuran tubuhmu, aku telah mencurinya dari sa lah satu rumah penduduk!” kata Khu Mei Sian sambil melangkah masuk ke dalam goa itu.

“Untuk apa pakaian itu, Pehbo (bibi)?” tanya Cin Ko agak heran.

Khu Mei Sian tertawa geli mendengar pertanyaan Cin Ko.

“Yang jelas untuk kau bersalin,  karena bajumu sudah koyak-koyak begitu rupa!” sahut Khu Mei Sian diantara tertawanya itu. “Dan yang kedua, kau harus menyamar sebagai seorang anak tukang kayu, tegasnya sebagai seorang anak desa!! Hmmm, kukira, kau tentu  tidak akan memperoleh gangguan orang-orangnya Coa Ting In yang ingin menangkapmu itu! Tetapi ini hanya sementara waktu saja, sebab itu aku harus mengantarkan kau kepada seseorang, guna melindungi dirimu! Kepandaian orang itu sangat hebat bukan main, boleh dibilang kepandaiannya paling hebat di dalam rimba persilatan! Hmmm, kalau saja kau bisa membujuk orang itu, niscaya kau dapat menerima warisan ilmu silat yang tidak terkira nilainya! Nanti ada beberapa orang kawan-kawanku yang akan mengantarkan kau pada orang yang kumaksud itu!”

“Siapakah orang itu, Pehbo?” tanya Cin Ko ingin mengetahuinya. “Untuk sementara waktu aku tidak bisa menceritakan perihal orang itu,

nanti kau juga akan mengetahui sendirinya kalau sudah bertemu dengannya!!” sahut Khu Mei Sian sambil tersenyu. “Kuharap saja kau tidak marah, aku tidak menyebutkan nama orang itu, ini menyangkut suatu urusan besar, perihal diri orang itu tidak berani aku bicara terlalu sembarangan!”

Cin Ko mengerti kesulitan yang dikatakan oleh perempuan ini, kepalanya mengangguk perlahan-lahan sambil tersenyum kecil.

“Nanti, begitu cahaya matahari menerobos masuk kemari, luka-lukamu itu sudah mulai kering dan juga perasaan sakit pada lukamu itu akan lenyap, karena ramuan obatku sangat hebat sekali! Dan disaat itu kuharap kau menuikar pakaianmu yang sudah hancur itu!!” 

Cin Ko mengiyakan.

Benar saja, apa yang dikatakan oleh Khu Mei Sian, karena begitu sorot matahari memancar masuk ke dalam goa ini, maka Cin Ko merasakan seluruh luka-luka pada tubuhnya sudah tidak menimbulkan perasaan sakit lagi. Malah, dia bisa menggerakkan kedua tangan dan kakinya dengan leluasa.

Cepat-cepat Cin Ko mengganti pakaiannya dengan  pakaian yang disediakan oleh Khu Mei Sian.

Ternyata potongan baju itu memang cocok, hanya kebesaran sedikit saja, dan lengan bajunya yang agak kepanjangan.

Juga Cin Ko telah mengambil sebuah kopiah  putih kecil, yang dipakainya.

Khu Mei Sian setelah mengetahui bahwa Cin Ko sudah selesai berpakaian, maka wanita she Khu ini telah menghampiri Cin Ko.

“Hai! Hai! Kau cakap sekali!!” kata Khu Mei Sian dengan girang. “Memang wayahmu memperlihatkan bahwa kau adalah keturunan  orang- orang besar dan bangsawan! Sikapmu terlalu agung! Menurut apa yang tadi sempat kuselidiki, bahwa kau adalah cucu dari Peng Po Siang S ie! Benarkah itu?”

Cin Ko jadi ragu-ragu, karena It Mang wanti-wanti telah berpesan agar si bocah jangan sembarangan mengakui asal usul dirinya yang sesungguhnya.

“Bagaimana? Apakah kau mempunyai kesulitan untuk menjawab pertanyaanku itu? Kalau begitu sudahlah, aku juga tidak mau terlalu ambil pusing kau ini siapa sebenarnya!” kata Khu Mei Sian sambil tersenyum.

Dan setelah berkata begitu, wanita she Khu ini telah keluar dari goa itu

pula.

Cin Ko yang melihat sikap wanita she Khu terebut, Cin Ko jadi terheran-

heran, karena dia tidak mengetahui sebenarnya apa yang ingin dilakukan oleh perempuan she Khu itu.

Saat itu Khu Mei Sian telah berada di mulut goa, tahu-tahu tangannya menepuk tiga kali.

Suara tepukan tangan dari Khu Mei Sian telah menggema disekitar tempat itu, memenuhi lembah tersebut dengan suara pantul-pantulannya.

Menyusul mana telah mencelat keatas pintu goa itu tiga sosok tubuh yang memiliki kegesitan dan kelincahan bukan main

“Ada perintah apakah, Niocu (nyonya)?” tanya salah seorang diantara

ketiga orang tersebut dengan suara menghormat.

Ketiga orang itu berpakaian sangat sederhana. Salah seorang diantara mereka bertiga masih berusia sangat muda, berpakaian seperti  seorang Siuchay (pelajar), bahan bajunya terbuat dari bahan yang biasa, tidak ada keistimewaannya, berwarna hijau. Wajahnya   sangat   tampan   sekali. Sedangkan yang seorang lagi rambutnya digelung, tubuhnya tinggi besar, dengan janggut yang tumbuh lebat mengelilingi  dagunya. Dan yang seorangnya, juga bertubuh tinggi besar, tetapi dia berpakaian seperti  juga seorang Busu (guru silat). Waktu mereka melompat naik keatas goa itu, mereka telah tertawa memandang kearah Khu Mei Sian.

Sedangkan Khu Mei Sian telah memperlihatkan sikap yang agak angkuh katanya dengan suara yang nyaring berwibawa : “Nanti kalian antarkan Kongcu ini kegedung Kimhu (Ruangan Emas)!” perintah Khu Mei Sian.

Ketiga orang lelaki itu telah mengiyakan, mereka malah telah menghampiri Cin Ko untuk memeriksa seluruh tubuh si bocah.

“Jangan terlalu keras menyentuh tubuh Kongcu itu, karena tubuhnya baru saja sembuh dari luka-luka!!”  si wanita she Khu tersebut memperingatkan.

Setelah itu, ketiga orang yang agak aneh sikapnya ini telah memerintahkan Cin Ko untuk mengikuti mereka keluar dari goa tersebut. Tampaknya ketiga orang kepercayaan Khu Mei Sian tidak berani untuk berlaku ayal sedikitpun juga, karena mau tak mau dia harus bekerja cepat dan tanpa banyak berkata-kata.

Namun ketika Cin Ko sampai di muka goa itu dan melongok kebawah , dia melihat betapa jarak pemisah, antara pintu goa itu dengan bumi, cukup jauh, sebab kalau dia memaksakan diri untuk melompat juga, niscaya dia akan terbanting didasar lembah tersebut. Berarti terbanting di dalam jarak yang begitu jauh, akan menyebabkan tulang-tulangnya ada yang patah.

Sedang Cin Ko merandek dan memandang bengong kearah dasa r lembah itu, salah seorang diantara ketiga orang kepercayaan Khu Mei Sian, yang janggutnya tumbuh jenggot tebal hitam itu, telah tertawa, katanya : “Kongcu, apakah kau jeri untuk melompat di dalam jarak yang demikian

 rendah?! Hai! Hai! Kukira kau tidak akan  memperlihatkan kelemahan yang

tidak lucu ini!” katanya dengan suara yang tawar.

Muka Cin Ko jadi berobah merah seketika itu juga.

Tetapi belum lagi dia menyahut, tiba-tiba si bocah merasakan pinggangnya disamber oleh seorang, dan tubuhnya telah meluncur  turun dikempit orang itu. Ternyata yang mengempitnya membawa dia turun adalah pemuda yang berpakaian sebagai Siuchay itu.

Dua orang yang Iainnya lelah melompat turun juga.

Ketika sampai dibumi, maka Cin Ko telah dibebaskan kembali dari kempitan pelajar yang menolonginya itu.

Baru saja dia ingin mengucapkan terima kasih atas pertolongan itu, Cin Ko telah dikejutkan oleh bentakan pemuda pelajar itu, yang dingin : “Jangan, jangan membuka mulut untuk cerewet seperti nenek-nenek!!”

Sebetulnya di hati Cin Ko sudah terdapat senang dan menyukai terhadap diri pemuda pelajar yang tampan ini, karena dia telah menolong diri Cin Ko tidak sampai terbanting atau turun dengan susah payah. Tetapi siapa tahu dirinya malah telah dibentak begitu ketus, membuat darah Cin Ko jadi meluap. Setidak-tidaknya  Cin Ko adalah cucu dari seorang Menteri Pertahanan, yang tadinya sangat dihormati siapa saja itulah sebabnya sikap angkuhnya jadi timbul, benar-benar si bocah tidak mau membuka mulut, hanya dengan tindakan kaki yang terburu-buru dia mengikuti ketiga orang ini yang melangkah perlahan, namun toch Cin Ko merasakan tubuh mereka tampaknya ringan dan setiap langkah mereka  seperti dapat mencapai jarak yang jauh. Dengan sendirinya Cin Ko jadi sibuk untuk mengejarnya terus menerus.

Saat itu, di dalam penyamaran dengan pakaiannya itu, dengan sebuah topi dikepalanya, dengan baju yang agak kebesaran, sebetulnya Cin Ko seperti juga seorang bocah kampung. Dengan sendirinya ketika mereka berpapasan dengan seseorang, sedikitpun tidak ada yang menaruh kecurigaan pada diri Cin Ko.

Tetapi ketiga orang kepercayaan Khu Mei Sian ternyata tidak menuju kearah perkampungan Lang-chie-chung, mereka menjauhi perkampungan itu dengan mengambil kearah selatan.

Cin Ko tidak mengetahui dirinya ingin dibawa kemana.

Tetapi karena Khu Mei Sian memang telah menolong dirinya, biarpun ketiga orang-orangnya Khu Mei Sian ini ketus dan tidak banyak berkata-kata, toch dia terus juga mengikuti.

 Tetapi berlari-lari sampai lima belas lie lebih masih saja ketiga orang ini tidak mau berhenti, sehingga Cin Ko jadi mendongkol bukan main, dirinya telah kecapaian bukan main berlari terus menerus begitu, napasnya telah memburu keras, dan juga keringat telah memenuhi keningnya.

“Samwie Koko (ketiga kakak), tolonglah kalian berhenti dulu, aku letih bukan main!!” teriak Cin Ko ketika dia merasakan kakinya sudah tidak tahan dan agak gemetaran berlari-lari di dalam jarak yang begitu jauh.

Ketiga orang itu telah menghentikan lari mereka. Saat itu mereka berada di sebuah lapangan terbuka, dimana terdapat banyak sekali batu-batu besar yang bertonjolan.

“Untuk apa kira mengaso?” tanya lelaki bertubuh  tinggi besar yang

berpakaian seperti busu itu, suaranya tawar.

“Aku...napasku sudah tidak  sampai, aku terlalu letih!” sahut Cin Ko.

“Hmmm!” sombong sekali sikap lelaki ini, sedangkan si pelajar dan lelaki

berjengggot itu telah memandangi Cin Ko.

Disaat itu Cin Ko jadi merasakan dirinya kecil dan hina sekali ditatap seperti itu. Tetapi si bocah benar-benar  tidak berdaya untuk membawa adatnya.

Sambil menghela napas seperti orang jengkel, lelaki bertubuh  tinggi besar berpakaian seperti Busu itu, telah menjatuhkan diri duduk di sebuah batu bulat yang terdapat tidak jauh dari dirinya, sedangkan yang berjenggot dan yang berpakaian pelajar itu telah berdiri disamping kanan dan kirinya.

“Kemari kau!!”   panggil lelaki berpakaian seperti Busu itu sambil

melambaikan tangannya waktu melihat Cin Ko berdiam diri saja.

Cin Ko menghampiri, napasnya masih saja memburu, berdiri dengan sikap ragu-ragu, di tempat yang ditunjuk oleh orang berpakaian Busu ini, yaitu di dekat batu bulat itu.

Ketiga orang kepercayaan Khu Mei Sian telah menatap kearah Cin Ko sesaat lamanya, membuat si bocah merasa kikuk sekali dan cepat-cepat menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Tiba-tiba kesunyian telah dipecahkan oleh suara tertawa mengejek dari orang berpakaian busu, yang tengah duduk dibatu bulat itu, tangan  kirinya telah dipakai menunjuk kearah Cin Ko.

“Aneh! Benar-benar aku tidak mengerti! Mengapa Niocu menyuruh membawa bocah bengek tidak punya tenaga seperti dia ke Kim-hu?!” katanya dengan suara yang tawar.

 Yang berjengeot dan pelajar itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Benar! Kami juga heran!” sahut pelajar  dan lelaki berjenggot itu dengan suara yang mengandung rasa penasaran.

Rupanya tadi dihadapan Khu Mei Sian mereka tersenyum-senyum dan bersikap ramah, hanyalah untuk bermuka-muka  dihadapan Khu Mei Sian belaka, tetapi sekarang di hadapan Cin Ko seorang, dia malah telah berulang kali berlaku ketus dan tampaknya sangat jelas sekali.

Ketiga orang ini dengan tidak terduga telah tertawa gelak-gelak dengan suara yang nyaring.

Hati Cin Ko sejak tadi telah meluap-luap membakar hatinya, api kemarahannya. Tetapi bocah ini menahan-nahannya saja kamarahan  itu dengan kepala tertunduk dan sepasang tangan diturunkan lurus-lurus. Waktu ketiga orang ini menertawakan dirinya begitu rupa, Cin Ko telah  melirik sejenak dan tetap berdiri dengan kepala yang tertunduk dalam-dalam.

Setelah puas tertawa, ketiga orang yang lagaknya agak aneh tersebut telah menghela napas.

“Hai! Hai! Seandainya memang bocah ini diserahkan kepadaku untuk mengurusnya, niscaya aku akan membuat kepalanya tumbuh telur sepuluh butir!” kata si lelaki berpakaian pelajar itu, yang mukanya tampan, tetapi suaranya bengis sekali.

“Benar! Cuma sayangnya, dengan disuruhnya kita membawa dia ke Kim - hu, berarti Niocu akan datang kesana sore ini, kalau kita menghajar bocah ingusan ini, niscaya Niocu akan mengetahuinya!” sahut yang berjenggot.

Cin Ko jadi tercekat hatinya.

Segera juga si bocah menyadarinya bahwa ketiga orang ini ternyata mempunyai hati dan niat yang kurang baik pada dirinya.

Hati Cin Ko jadi tambah mendongkol saja.

“Nanti kalau aku bertemu dengan Khu Pehbo, akan kuceritakan segalanya, biar tahu rasa kalian, pasti Khu Pehbu akan mendamprat kalian!!”

Baru saja Cin Ko berpikir begitu, orang yang berpakaian seperti busu telah melompat berdiri dari duduknya.

“Hayo kita lanjutkan perjalanan lagi!! katanya.

Dan dia telah berlari-lari pula tanpa menoleh pada Cin Ko.

 Begitu pula kedua kawannya telak berlari-lari mengikuti sikap kawan mereka.

Tetapi Cin Ko yang telah mendongkol dan mengetahui bahwa hati ketiga orang ini memang kurang baik, malah sengaja tidak mau turut berlari, dia telah melompat naik keatas batu bulat di tempat mana tadi   lelaki berpakaian busu itu telah duduk. Sekarang malah Cin Ko yang telah menggantikannya untuk duduk disitu.

Ketiga orang kepercayaan Khu Mei Sian tentu saja jadi gusar bukan main waktu mereka mengetahui Cin Ko tidak turut berlari.

Mereka telah berhenti untuk berlari dan cepat-cepat  kembali lagi ketempat tadi.

Waktu melihat Cin Ko tenang-tenang duduk di batu bulat di tempat mana tadi dirinya duduk, lelaki berpakaian seperti busu itu jadi murka bukan main.

“Monyet tengik kau!!” bentaknya dengan galak. “Mengapa kau tidak cepat-cepat turut di belakang kami, malah duduk disitu heh? Siapa yang mengijinkan kau duduk disitu?!”

Tetapi CinKo berlaku tenang sekali, sedikitpun tidak memperlihatkan perasaan jeri atau takut, malah si bocah telah tersenyum tawar.

“Kalau memang kalian ingin melakukan perjalanan cepat-cepat dan terburu-buru, pergilah kalian berangkat  lebih dulu, aku nanti menyusul!!” sahut Cin Ko.

“Eh, eh, kurang ajar! Kau atau kami yang harus mengeluarkan perintah?!” bentak pelajar bermuka tampan itu dengan gusar. “Jangan kau main-main di depan Ho Cong Kin, bisa berabe, kalau aku sudah naik darah, tentu akan kubuat kau menangis tidak bisa, tertawa juga tidak dapat!!”

“Hmmm!” tetapi Cin Ko hanya mendengus begitu saja dengan berani.

Jelas lagak Cin Ko ini telah membuat hawa amarah pada diri Ho Cong kin, pelajar tampan itu meluap naik kekepala, begitu juga kedua kawannya.

“BAIK! BAIK! Aku akan menghajarnya juga, biarlah pada Niocu nanti kita memberi laporan bahwa monyet ingusan ini ingin melarikan diri, sehingga terpaksa kita harus mencekuk dengan kekerasan, tentu Niocu akan mempercayai keterangan kita! Hmmm, aku Ma Lu Hai juga tidak akan main -

 main dengan monyet ini, gatal telapak tanganku ingin memberikan  hajaran

padanya!!” kata si jenggot dengan suara yang bengis.

“Aku Chang An Kwan juga tidak akan membiarkan monyet ingusan ini terlalu bertingkah dihadapan kita!” kata lelaki yang berpakaian  seperti busu itu. “Akan kubuat dia meminta ampun bersujud dikakiku!”

Tetapi Cin Ko tetap duduk tenang di atas batu bulat itu.

“Apakah kalian tidak takut hukuman yang akan dijatuhkan pada diri kalian oleh Khu Pehbo?” tegur Cin Ko dengan suara yang tawar. Dia bermaksud menggertak ketiga orang ini, padahal hati Cin Ko sendiri telah kebat-kebit melihat kemurkaan ketiga orang tersebut. Namun sebagai seorang keturunan darah bangsawan seperti Menteri Pertahanan   itu,   dengan sendirinya biarpun dia gugup, toch Cin Ko masih bisa mengendalikan dirinya dan bersikap tenang.

Tetapi rupanya gertakan Cin Ko tidak bisa mempengaruhi ketiga orang

ini.

Malah dengan mengeluarkan seruan gusar, si lelaki yang berpakaian

seperti busu, yang tadi menyebutkan namanya sebagai Chang An Kwan, telah melompat dan tahu-tahu mengulurkan tangan kanannya untuk mencengkeram baju di bagian dada dari Cin Ko.

Hal ini tentu saja mengejutkan Cin Ko, tetapi belum  lagi Cin Ko mengetahui sesuatu apapun juga, baju dibagian dadanya itu telah kena dicengkeram oleh jari-jari tangan Chang An Kwan yang begitu kuat, tanpa bisa berkelit sedikitpun juga! Dan belum lagi Cin Ko sempat mencegah atau membentak menyuruh orang she Chang tersebut melepaskan cengkeramannya, tubuh Cin Ko telah melayang cepat sekali,   dan terbanting di atas tanah dengan keras!

“Bukkkkk!” terdengar suara benturan yang keras begitu, dan Cin Ko segera merasakan betapa seluruh tubuhnya yang penuh luka-luka cambukan yang baru saja mulai merapat, mulai sembuh, waktu terbanting begitu, tentu saja menyebabkan dan menimbulkan perasaan sakit yang bukan main.

Saking kesakitan bukan main, Cin Ko sampai  mengeluarkan suara jeritan.

Tetapi, rupanya Ho Cong Kin juga merupakan seorang pelaja berwajah tampan, tetapi berhati busuk, karena begitu melihat Cin Ko dibanting begitu keras oleh kawannya, malah dia telah menambahinya dengan tendangan kakinya.

 Tentu saja Cin Ko tambah menderita kesakitan,  dia merasakan tendangan ujung kaki dari Ho Cong Kin malah jatuh kebetulan sekali dibagian luka bekas cambukan di pundaknya.

Si bocah jadi menjerit melolong, karena ra sa nyeri itu sampai menusuk ke dalam tulang sumsumnya.

Dan Ma Lu Hai juga tidak mau ketinggalan. Dia telah menyepak kepala Cin Ko, sehingga mata si bocah jadi berkunang-kunang  pusing, tanpa berselang lama, begitu kena tersepak, begitu dia jatuh pingsan!

Melihat si bocah telah pingsan, ketiga orang Khu Mei Sian jadi terkejut bukan main.

“Ohhh, bagaimana nih?” kata Ho Cong Kin agak  gugup. “Aku tidak

menyangka bahwa daya tahan bocah ingusan ini demikian lemah!”

Muka Chang An Kwan dan Ma Lu Hai juga berobah agak pucat.

“Ya, ya, aku telah lupa, tadi Niocu telah emberitahukan bahwa bocah tengik ini sedang dalam keadaan baru sembuh dari lukanya! Hai! Hai! bagaimana ini?”

Tampaknya mereka bertiga jadi gugup sekali. Sedang mereka kebingungan itu, tiba- terdengar suara orang berkata tawar : “Kalian bertiga adalah manusia-manusia berhati serigala dan jahat sekali! Hmm, hmm,sebetulnya tidak pada tempatnya kalian tua-tua  bangka menyiksa seorang anak kecil yang tidak berdaya ini!”

Ho Cong Kin bertiga menoleh dengan terkejut, karena tanpa setahu mereka, entah sejak kapan, terpisah kurang lebih lima tombak dari tempat mereka, tampak berdiri seorang pengemis tua berusia diantara lima puluh tahun, dengan ditangan kirinya memegang sebatang Huncwe (alat penghisap tembakau) yang terbuat dari ruas-ruas bambu, yang terdiri dari tujuh ruas. Mukanya sabar sekali, tetapi saat itu sepasang alisnya telah terangkat naik, tampaknya dia gusar sekali melihat apa yang baru saja terjadi.

Tetapi waktu melihat yang menegur mereka hanyalah   seorang pengemis tua yang berpakaian compang camping, ketiga orang Khu Mei Sian ini jadi hilang rasa kaget mereka, berbalik jadi gusar.

“Siapa kau jembel busuk?” bentak Ho Cong Kin dengan suara yang bengis.

Dan Ma Lui Hai bersama Chang An Kwan juga  telah mengawasi pengemis itu dengan sorot mata yang bengis, terpentang lebar-lebar mendelik galak sekali.

 Tetapi pengemis tua yang kurus itu, dengan dua baris kumisnya yang tipis, telah tersenyum-senyum sabar sekali.

“Aku adalah seorang pengemis yang tidak mempunyai nama, karena jangankan mempunyai nama, sedangkan untuk mempunyai satu tail perak saja sulit, padahal perutku ini sudah lapar sekali!” sahut pengemis itu.

Mendengar jawaban pengemis tersebut. Ho Cong Kin jadi tambah berani.

“Hmm, kalau memang kau hanya sekedar ingin meminta sedekah dari kami, katakan saja dari tadi, tidak perlu kau berlaku kurang ajar  ingin mencampuri urusan tuan-tuan besarmu ini!”

Dan setelah berkata begitu Ho Cong Kin telah merogoh sakunya, mengambil kepingan uang setengah tail emas, dilemparkan kepada pengemis itu.

Pengemis tua itu telah tertawa girang melihat dirinya diberi sedekah sampai setengah tail emas, dia melihat uang itu dilemparkan kearahnya, meluncur dengan cepat. Tetapi pengemis tersebut tidak menyambuti dengan tangannya, melainkan sambil mengucapkan : “Terima kasih!” tangan kirinya yang mencekal Huncwe yang terbuat dari ruas bambu itu, telah digerakkan, dan tahu-tahu uang setengah tail emas itu lelah kena diketok oleh punggung lekukan Huncwenya, sehingga uang logam itu telah terpental keatas, waktu meluncur turun, barulah dia menyanggapinya! Itulah bukan   sembarangan ketok yang tidak ada artinya, sebabk kalau orang-orang yang mempunyai kepandaian tinggi, segera akan mengetahui bahwa apa yang dilakuk an oleh pengemis ini adalah semacam ilmu Tiam-hoat (ilmu totokan) yang bukan main hebatnya!

Ho Cong Kin bertiga bukannya orang tolol, mereka juga adalah orang- orang yang sudah kenyang makan asam garam di dalam  dunia rimba persilatan, dengan sendirinya, mereka jadi terkejut bukan main melihat gerakan yang dilakukan oleh pengemis itu.

Karena sudah dapat menduga bahwa pengemis ini bukan orang sembarangan dan hanya pura-pura bodoh seperti itu, Ho Cong Kin, Ma Lu Hai dan Cang An Kwan bersikap lebih hati-hati.

Muka Ho Cong Kin saat itu telah berobah merah karena marah, juga mengandung rasa jeri melihat kehebatan gerakan pengemis tersebut. Maka dari itu, walaupun dia sedang diliputi kegusaran, toch kenyataannya Ho Cong Kin tidak mengumbar kemarahannya itu, hanya tanyanya dengan suara yang ketus : “Siapa kau sebenarnya? Mau apa kau mencampuri urusan kami?”

 Pengems tua itu tersenyum lebar, sikapnya tenang bukan main.

Pecahan emas setengah tail itu telah dibuat main pada  tangannya, seperti seorang bocah cilik yang memperoleh suatu barang mainan yang menggembirakan hati.

“Terima kasih! Terima kasih! Ternyata hari ini aku si pengemis miskin yang sudah mau mampus masih mempunyai rejeki demi kian besar, sehingga bertemu dengan tuan-tuan yang demikian dermawan!” mengoceh pengemis itu tanpa memperdulikan bentakan dari Ho Cong Kin. Malah kemudian pengemis tua ini sambil memasukkan pecahan uang setengah tail emas itu telah tertawa tergelak-gelak lagi, bagaikan orang yang kegirangan. Tetapi da- lam pandangan Ho Cong Kin bertiga,  hal itu mengandung ejekan untuk mereka.

Dengan muka yang merah padam dibakar oleh hawa amarah yang bukan main, Ho Cong Kin ingin membentak lagi dengan bengis, tetapi telah ditahan oleh Ma Lu Hai, yang maju dua langkah, katanya; “Maaf Loenghiong (orang tua gagah)”, sambil merangkapkan sepasang tangannya memberi hormat pada pengemis itu. “Bolehkah kami mengetahui nama besar dari Loenghiong atau gelaran Loenghiong yang harum?”

“Hahahaha!”   tertawa pengemis itu dengan suara yang nyaring sekali. Dia malah telah tertawa tergelak-gelak dengan tubuh yang tergoncang. “Loenghiong?! Maaf! Maaf! Aku si pengemis miskin bukannya seorang pendekar yang kalian maksudkan! Tidak usah terlalu menghormat! Tidak usah kalian terlalu menghormat pedaku, karena dengan memperoleh  sedekah kalian saja, itupun sudah harus membuat hatiku berterima kasih! Mana sanggup aku menerima penghormatan dari kalian  demikian rupa?! Aha, tentunya aku si pengemis miskin tidak akan dapat membalasnya!!” dan setelah berkata begitu, dia telah tertawa lagi.

Sikap pengemis ini menandakan bahwa dia benar -benar tidak memandang sebelah mata kepada ketiga lawannya ini, karena biar bagaimana toch dia seperti tidak mengacuhkan pertanyaan Ma Lu Hai dan malah seperti juga meremehkannya.

Hal ini jelas membuat Ma Lu Hai bersama kedua kawannya yang lain jadi gusar sekali, mereka menatap si pengemis tua dengan sorot mata yang tajam sekali, dan memandangnya dengan tatapan mata mengandung kegusaran. Tetapi disebabkan mereka menyadarinya bahwa kepandaian yang dimiliki pengemis ini tinggi juga, apa lagi mereka dapat melihat pengemis ini seorang ahli Tiam-hoat (ilmu menotok), dengan sendirinya mereka mau tak mau jadi menyabarkan diri dan tidak mau berlaku ceroboh.

 “Loenghiong (jago tua)!” kata Ma Lu Hai pula dengan suara yang tawar. “Kami ingin menghormatimu sebagai orang dari golongan  yang lebih tua, tetapi janganlah Locianpwe terlalu mendesak kami kesudut yang sudah tidak memungkinkan lagi kami berlaku menghormat  kepadamu!   Janganlah memaksa kami sampai tidak bisa untuk menghormatimu dan berlaku kurang ajar! Harus kau ketahui Loenghiong bahwa kami tidak jeri untuk berurusan denganmu, tetapi kami masih mau berlaku hormat kepada orang yang lebih tua dari kami!”

“Oho! Oho! Hebat sekali! Sungguh gagah terdengarnya!!”  kata pengemis itu disertai oleh suara tertawanya yang keras. “Benar-benar  aku tidak menyangka bahwa aku kali ini bisa memperoleh kehormatan yang demikian besar dari tiga orang gagah seperti tuan -tuan! Setelah memperoleh sumbangan uang, malah aku si pengemis miskin ingin dihormati! Bukankah ini merupakan diminta juga aku tidak berani?!”

Ho Cong Kin bertiga tambah mendelu menghadapi sikap si pengemis tua ini, karena jelas dia berulang kali telah mengejek mereka.

Sedangkan See Cin Ko hanya mengawasi sa ja dengan hati tidak mengerti, mengapa pengemis tua tersebut seperti juga memang sengaja ingin mencari-cari urusan dengan Ho Cong Kin bertiga.

“Baiklah!” kata Ma Lu Hai dengan suara mendongkol ketika melihat sikap pengemis tua ini yang tidak bisa diajak bicara. “Jadi tegasnya saja, apa yang kau inginkan dari kami?”

Melihat Ma Lu Hai dan kedua kawannya sudah habis sabar, si pengemis telah tertawa lagi, tetapi sikapnya kali ini tidak seperti tadi yang seperti acuh tak acuh, melainkan kali ini dia telah berkata tegas sekali : “Nah bukankah memang lebih bagus kalau bicara secara terus terang dan blak-blakan begitu? Sebetulnya, ehnmm, aku si pengemis miskin ingin meminta sumbangan dan sedekah pula dari kalian bertiga tuan-tuan! Karena setengah tail yang tadi kalian berikan itu tidak cukup, bayangkan saja, setengah tail emas paling tidak aku hanya bisa minum-minum arak belaka! Sekarang begini saja, bagai- mana kalau aku si pengemis  miskin meminta kalian mendermakan  kepala kalian masing-masing?!”

“Hah?!” betapa terkejutnya Ho Cong Kin bertiga.   “Apa katamu?”

“Aku si pengemis miskin menginginkan agar kalian bertiga  rela memberikan ketiga balok kepala kalian!!” sahut pengemis tua itu dengan suara yang tegas.

 “Bangsat!” teriak Ma Lu Hai dengan  gusar, dia sampai berjingkrak saking murkanya, “Diberi hati malah ingin menginjak kepala kami! Baiklah! Kami akan melayanimu, pengemis butut!!”

“Begitupun boleh!!” sahut pengemis tua tersebut.

Tetapi belum lagi suaranya itu habis, Ho Cong Kin yang sudah tidak bisa mempertahankan diri disebabkan hawa amarahnya telah mengeluarkan suara bentakan yang keras, tubuhnya telah mencelat menubruk kearah pengemis tua itu, cepat luar biasa telapak tangannya telah dipakai untuk melanca rkan serangan pada pengemis tua ini.

Tetapi pengemis tua yang sampai saat itu masih tidak mau memperkenalkan dirinya, telah mendengus tertawa dingin, tampaknya, sedikitpun dia tidak jeri untuk berurusan dengan ketiga orang ini.

Melihat Ho Cong Kin menubruk menerjang pada dirinya, sedikitpun , dia tidak menggeser kedua kakinya, dia tetap berdiri tegak.

Malah diawasinya telapak tangan Ho Cong Kin yang tengah menyambar kearah dirinya, sikapnya menantang sekali.

Ketika serangan telapak tangan Ho Cong Kin hanya terpisah kurang lebih tiga dim lagi dari dirinya,  dia masih tidak bergerak dari tempatnya berdiri. Hanya tampak tangan kanannya yang memegang Huncwe (tempat menghisap tembakau) itu telah bergerak dengan kecepatan yang hampir tidak bisa diikuti oleh pandangan mata orang biasa.

Disaat itulah, Ho Cong Kin merasakan betapa ada sambaran angin yang keras bukan main, menyambar kearah dirinya, sambaran angin itu bukan main hebatnya, menyesakkan napasnya, seperti juga menggedor dada dari orang she Ho tersebut.

Belum lagi lenyap rasa kaget Ho Cong Kin, ujung Huncwe dari pengemis tua ini telah mengenai   tepat, sekali pinggang Ho Cong Kin, menghantam telak bukan main, sehingga mengeluarkan suara ‘tak’ yang nyaring, sampai didengar oleh Ma Lu Hai berdua.

Ternyata, ketokan Huncwe dari pengemis tua itu pada pinggang Ho Cong Kin bukanlah ketokan sembarangan, sebab ketokan Huncwenya itu pada pinggang orang she Ho itu merupakan totokan yang istimewa dan hebat bukan main. Akibatnya juga sangat istimewa bagi Ho Cong Kin, karena tubuhnya yang tengah melayang ditengah udara itu, mendadak telah terpental dan ambruk keatas tanah dan dengan menimbulkan suara yang keras bukan main.

MA LU HAI berdua dengan Chang An Kwan jadi terkejut bukan main malah Chang An Kwan sampai mengeluarkan seruan tertahan.

 Sedangkan Ho Cong Kin sendiri begitu tubuhnya ambruk di atas tanah, dia sudah meringkuk tidak bisa segera merangkak bangung karena yang tertotok adalah jalan darah ciu hie-hiat yang terletak di dada kiri dua dim dari jantung.

SI PENGEMIS TUA itu telah tertawa tergelak-gelak dengan sikap seperti mengejek, dia juga memperlihatkan sikap tidak selunak tadi, walaupun dia tertawa, tetapi matanya memperlihatkan sikap yang bengis.

“Kalian ingin mengangkat kawanmu dan terus angkat kaki dari tempat ini, ataukah perlu aku si pengemis tua turun tangan untuk membikin kalian berdua juga jadi lumpuh?” tegurnya dengan suara yang tajam sekali.

Ma Lu Hai dan Chang An Kwan jadi berdiri mematung sejenak, karena mereka tidak menyangka bahwa pengemis ini memiliki kepandaian  yang begitu hebat. Walaupun tadi mereka bertiga  mempunyai dugaan bahwa pengemis tua ini bukanlah sembarangan pengemis,  namun mereka tidak sampai menduga bahwa hanya di dalam satu jurus Ho Cong Kin dapat dirubuhkannya begitu mudah. Hal ini, disebabkan mereka mengetahui bahwa kepandaian Ho Cong Kin tinggi sekali, tidak berada di sebelah bawah mereka berdua.

Rubuhnya Ho Cong Kin seperti juga suatu kejadian di dalam mimpi, mereka seperti tidak mempercayai penglihatan mereka ini. Sungguh suatu kejadian yang tidak bisa diterima akal mereka berdua.

Chang An Kwan dan Ma Lu Hai menjadi terkesiap, mereka merasa ragu dan tidak yakin bisa mengatasi pengemis tua itu. Mereka menyadari bahwa pengemis itu memiliki kepandaian luar biasa, walaupun diker oyok oleh mereka berdua tetap saja akan dapat dirubuhkan oleh pengemis tua itu.

Disebabkan mempunyai pikiran begitu, dengan sendirinya Ma Lu Hai mengambil sikap mengalah.

Dirangkapkannya kedua tangannya memberi hormat pada si pengemis.

“Terima kasih atas petunjuk yang diberikan oleh kau, Locianpwe!” kata Ma Lu Hai dengan suara yang dilunakkan dan menindih perasaan gusarnya. “Kami memang harus menyadarinya, bahwa kami berhadapan dengan gunung yang tinggi dan lautan yang dalam, sehingga sukar bagi kami untuk mencoba- coba bertempur main-main beberapa jurus dengan Locianpwe! Tetapi budi kebaikan yang Locianpwe berikan ini niscaya kami tidak akan melupakannya, karena biar bagaimana budi kebaikan harus dibayar kembali, bukan? Hutang jiwa harus dibayar dengan jiwa, hutang uang harus dibayar dengan uang. Maka kekalahan kami hari ini, toch disuatu hari akan kami bayar juga! Maka dari itu, tinggalkanlah nama Locianpwe dan gelarmu yang harum!”

 “Hahahaha!” pengemis tua itu jadi tertawa tergelak-gelak. “Jadi kalian

ingin membalas dendam padaku?!”

“Tidak berani kami mengatakan begitu!” sahut Ma Lu Hai cepat, dia juga menundukkan kepalanya sedikit untuk menghindari   tatapan   mata pengemis ini yang tajam sekali menatap dia. “Tetapi telah kami katakan tadi, segala petunjuk dan pelajaran yang Locianpwe berikan kali ini, akan kami ingat seumur hidup kami, kalau memang nanti kami mempunyai rejeki yang bagus, tentu suatu hari nanti kami akan meminta petunjuk dari Locianpwe lagi!”

“Hmmm, bicaramu terlalu berbelit-belit! Cukup kau katakan singkatnya saja, kalau kau mempunyai kepandaian yang tinggi dan nanti merasa diri telah kuat, kalian ingin mencariku untuk membalas dendam! Baik! Baik! Kalian boleh datang disetiap saat, aku akan menantikan dan menerima kedatangan kalian dengan tangan terbuka! Aku si pengemis miskin juga akan melayani segala keinginan kalian! Asal jangan menyesal saja nantinya!!”

“Hmmm, terima kasih! Dan nama Locianpwe?” tanya Ma Lu Hai yang tetap mendesak nama pengemis tua ini, karena selain dia ingin menyampaikan segala kejadian ini pada wanita yang menjadi pimpinan mereka, yaitu Khu Mei Sian, mereka juga ingin suatu hari nanti menuntut balas pada penge mis tua ini.

“Ingatlah baik-baik, aku biasa dipanggil sebagai Lo-kay Sian-ciu (Dewa Arak pengemis tua)! Nah, kalau memang kalian nanti ingin mencariku, silahkan kalian cari. Dimana saja, kalian jika menemui diriku, boleh kalian melancarkan serangan secara membokong atau melancarkan serangan secara berterang!!”

Ma Lu Hai telah mengangguk. Dia tidak mengatakan apa-apa lagi, hanya menoleh kearah Chang An Kwan, memberikan isyarat pada kawannya.

Chang An Kwan mengerti isyarat yang diberikan oleh kawannya itu, dia telah menghampiri Ho Cong Kin yang masih rebah tidak berdaya akibat totokan si pengemis, digotongnya tubuh Ho Cong Kin, yang dipanggul pada bahunya.

Sedangkan Ma Lu Hai telah menghampiri Cin Ko.

“Hayo kita berangkat!” katanya pada si bocah

“E eh, bocah itu harus ditinggalkan untukku!!” teriak si pengemis

tua yang tadi menyebutkan gelarnya sebagai Lokay Sianciu.

“Heh? Apa?” teriak Ma Lu Hai yang tercekat hatinya, dia juga gusar bukan main.

 “Bocah itu bagianku!! Malah aku menemui kalian bukan ingin memperoleh uang setengah tail emas itu! Aku menginginkan bocah itu!”

Urusan telah jadi demikian rupa, dan hal ini lain pula urusannya dengan peristiwa tadi. Kalau tadi hanyalah persoalan  nama dan harga  diri belaka. Tetapi kali ini adalah kejadian yang lain sama sekali, mau tak mau Ma Lu Hai tidak bisa memandang remeh, karena biar bagaimana mereka bertiga telah diperintahkan oleh Khu Mei Sian untuk membawa See Cin Ko ke ruangan Kim- hu (ruangan Emas), kalau sampai si bocah diambil pengemis tua Lokay Sianciu, akibatnya dan tanggung jawab yang harus mereka berikan kepada Khu Mei Sian terlalu hebat dan berat sekali.

Muka Ma Lu Hai jadi merah padam.

“Locianpwe, jangan kau main-main!” tegurnya.

“Siapa yang main-main dengan kau?” bentak pengemis tua itu. “Sudah kukatakan, kalian bertiga boleh cepat-cepat menggelinding dari tempat ini sebelum aku terpaksa turun tangan, dan tinggalkan bocah itu untukku!!”

“Tetapi, kalau urusan ini, biarpun harus mempertaruhkan jiwa, kami tetap akan mempertahankannya!!” sahut Ma Lu Hai tegas.

“Terserah !!”

Benar-benar Ma Lu Hai murka bercampur penasaran, karena menghadapi pengemis ini benar-benar dia jadi kewalahan, karena pengemis tua ini benar-benar terlalu ugal-ugalan.

“Baiklah, rupanya locianpwe mendesak kami agar tetap turun tangan!!” kata Ma Lu Hai. “Maafkanlah, aku terpaksa akan turun tangan berbuat lancang pada kau si orang tua!!”

“Hehehehe, begitu baru bisa disebut sebagai orang gagah!!” tertawa pengemis itu dengan disertai ejekannnya. “Bagus! Bagus! Majulah, aku si pengemis tua juga memang ingin main-main beberapa jurus dengan kalian!!”

Ma Lu Hai tidak mau membuang-buang waktu lagi, dia bersiap-siap untuk melancarkan serangan pada pengemis tua tersebut.

See Cin Ko yang mendengar pengemis tua ini ingin meminta dirinya dari ketiga orang itu. jadi girang bukan main. Setidak -tidaknya dengan berada di tangan pengemis tua itu, rasanya memang jauh lebih baik dari pada harus berada bersama-sama dengan Ma Lu Hai bertiga. Maka dari itu See Cin Ko telah menatap kearah pengemis tua itu dengan sorot mata seperti juga ingin menyatakan rasa terima kasihnya.

 Saat itu, Ma Lu Hai telah bersiap-siap melancarkan serangan, dia maju selangkah demi selangkah. Cuma saja disebabkan tadi dia telah menyaksikan bagaimana Ho Cong Kin telah dirubuhkan dengan cara begitu mudah oleh pengemis tua ini, dengan sendirinya dia jadi berlaku lebih waspada. Setiap tindakan kakinya dan juga setiap kesempatan yang ada telah diperhitungkan masak-masak.

Ma Lu Hai tidak mau sampai mengalami nasib seperti Ho Cong Kin, kawannya itu.

Begitu pula halnya dengan Chang An Kwan, dia telah menurunkan tubuh Ho Cong Kin dari panggulannya, dia meletakkannya dulu di atas tanah sambil katanya : “Ho heng, kau diam saja di sini dulu, aku bersama-sama Maheng ingin memberikan hajaran pada pengemis busuk itu!!”

Kemudian cepat-cepat Chang An Kwan juga telah bersiap-siap untuk membantu Ma Lu Hai melancarkan serangan pada pengemis tua itu.

Tetapi pengemis tua itu, waktu melihat dirinya ingin dikepung   oleh Ma Lu Hai dan Chang An Kwan, bukannya jadi jeri malah telah tertawa tergelak- gelak, tubuhnya sampai tergoncang karenanya.

“Benar! Bagus! Memang kalian harus maju berdua sekaligus, agar aku si pengemis miskin tidak terlalu membuang-buang  waktu. Hayo majulah!!” dan setelah berkata begitu, pengemis tua ini telah mengawasi Ma Lu Hai dan Chang An Kwan dengan sorot mata yang bengis sekali, sikapnya mena ntang.

Sedikitpun dia tidak jeri, malah memperlihatkan sikap seperti juga pengemis tua ini tidak memandang sebelah mata pada lawan-lawannya ini.

Ma Lu Hai ketika melihat pengemis tua ini berdiri tegak di tempatnya tanpa memperlihatkan ketegangan sedikitpun juga, telah berkata dihati kecilnya : “Hmmm, kau terlalu angkuh, tetapi ini memang membawa kebaikan untuk diriku, karena kalau sampai nanti kau bisa kurubuhkan, hmmm, hmmm, disaat itulah kau menyesal juga tidak ada gunanya! Aku akan menghajarmu sampai mampus!!“

Dan berpikir begitu, berbarengan dengan habisnya apa yang dipikirkannya, Ma Lu Hai telah mengeluarkan suara bentakan yang nyaring bukan main, dibarengi mana juga dia telah menjejakkan kedua kakinya pada tanah, tubuhnya mencelat cepat sekali seperti juga anak panah yang terlepas dari busurnya.

Dia bukan melancarkan serangan sembarangan, karena Ma Lu Hai menyadari lawannya memang memiliki kepandaian yang hebat sekali, maka dari itu orang she Ma tersebut telah melancarkan serangannya itu sekaligus

 dengan mempergunakan kedua telapak tangannya. Malah, dia juga melancarkan serangannya itu dengan disertai tenaga Lwekang yang kuat bukan main pada kedua telapak tangannya itu, jangankan manusia, sedangkan batu gunung yang terkena serangan itu saja pasti a kan terhajar hancur! Maka bisa dibayangkan hebat tenaga serangan yang dilancarkan oleh Ma Lu Hai.

Tetapi pengemis tua yang mengakui dirinya bergelar Lokay Sianciu itu tetap berdiri tenang di tempatnya, dia malah masih sempat melirik, betapa Chang An Kwan telah melompat dan melancarkan serangan juga ke arah dirinya dengan mempergunakan serangan yang sama hebatnya dengan serangan yang dilancarkan oleh Ma Lu Hai.

Namun pengemis tua itu benar-benar tenang luar biasa dia menghadapi kedua macam serangan yang berasal dari dua jurusan yang berlainan  itu dengan sikap yang tidak memperlihatkan kegugupan scdikitpun juga, malah dengan mengeluarkan suara ejekan,  kedua tangannya tahu -tahu telah bergerak, yang tangan kiri hanya bertangan kosong, mempergunakan jari telunjuknya dan tangan kanannya telah menggerakkan huncwenya.

Gerakan yang dilakukannya itu sangat cepat luar biasa, sehingga sulit untuk diikuti oleh pandangan mata. Dan saking cepatnya pengemis tua ini menggerakkan huncwenya, sehingga boleh dibilang huncwe itu meluncur menimbulkan angin serangan yang tajam bukan main.

“Ihhh!” Ma Lu Hai yang melihat cara pengemis tua itu menghadapi serangannya tersebut dengan cara begitu jadi terkejut. Sebab pengemis tua tersebut bukannya berusaha mengelakkan serangan ter sebut, malah telah berbalik melancarkan serangan kearah Ma Lu Hai dan Chang An Kwan dengan cara yang berbareng.

Tetapi disebabkan hawa amarahnya yang meluap-luap,  dengan sendirinya dia jadi tidak mau menarik pulang serangannya, karena Ma Lu Hai ingin melawan kekerasan dengan kekerasan juga.

Begitu juga halnya dengan Chang An Kwan dia tetap melancarkan serangannya, walaupun hatinya terkejut juga seperti Ma Lu Hai, dia juga mengambil keputusan untuk keras dilawan keras, sebab biar bagaimana dia beranggapan tidak mungkin Lo Kay Sian Ciu dapat menandingi sekaligus dua kekuatan serangan mereka.

Tetapi kesudahannya benar luar biasa dan di luar dugaan dari Ma Lu Hai atau Chang An Kvan sendiri, karena tangan dan huncwe dari si pengemis tua Lo Kay Sian Ciu tersebut dapat bergerak cepat dan licin seperti belut, telapak   tangan Ma Lu Hai dan Chang An Kwan tidak berhasil untuk mem- bentur tangan pengemis itu, malah dengan kecepatan yang tidak terhingga,

telunjuk tangan dan ujung huncwe dari pengemis tua itu telah  menerobos masuk dari penjagaan Ma Lu Hai dan Chang An Kwan, telah menotok telak sekali jalan darah Ciu-hie-hiatnya kedua orang itu dalam waktu yang ber- samaan!

Begitu tertotok, seketika itu juga pandangan mata Ma Lu Hai dan Chang An Kwan telah berkunang-kunang, tanpa mereka inginkan tubuh mereka jadi terjungkal rubuh diatas tanah, tidak bisa berkutik lagi, dalam keadaan tertotok.

“Hmmm!” pengemis tua itu telah mendengus tertawa dingin. “Tidak seberapa kepandaian kalian! Lain kali kalau bertemu dengan lawan,  jangan terlalu congkak dan takabur, karena hanya akan membawa kerugian untuk kalian sendiri! Lebih baik kalian berlaku hati-hati!! Coba kalau tadi kalian mau berlaku waspada sedikit, tentu kalian tidak akan mengalami nasib seperti sekarang ini!! Hahaha, kukira tanpa ditolong juga nanti setelah menjelang satu harian, jalan darah kalian bertiga akan terbuka kembali!! Selamat tinggal!!”

Setelah berkata begitu, pengemis tua tersebut  tertawa hehehe, mengejek. Lalu memutar tubuhnya, dia telah menghampiri See Cin Ko, si bocah yang sejak tadi berdiri bengong saja.

“Mari ikut denganku!” kata pengemis itu. “Ada sesuatu yang ingin kuberitahukan padamu!!”

See Cin Ko ragu-ragu sejenak, tetapi dia melihat bahwa pengemis ini bukanlah orang jahat, sebab Ho Cong Kin bertiga nyatanya tidak dianiaya dan hanya ditotok saja, tidak dibinasakannya. Hal itu bisa menunjukkan bahwa jiwa pengemis tua ini tidak kejam. Cepat-cepat See Cin Ko telah mengintil di belakang pengemis tua tersebut.

Tanpa berkata sepatah perkataanpun juga pengemis tua itu telah berjalan terus tanpa menoleh lagi. Dia malah berjalan dengan cepat.

Cin Ko yang mengikuti di belakangnya jadi kelabakan juga, karena mau tak mau dia harus  mengikutinya cepat-cepat dan setengah berlarian,  agar tidak ketinggalan.

Tetapi setelah berjalan sekian lama, kurang lebih lima lie (satu lie sama dengan lima ratus enam puluh tujuh meter), pengemis tua itu masih saja berjalan tanpa berkata-kata. See Cin Ko jadi bimbang. Entah pengemis tua ini ingin mengajaknya kemana.

“Lo-enghiong (orang gagah)!” panggil Cin Ko karena dia tidak bisa menahan hatinya lagi dan perasaan herannya. “Kita mau kemana?”

 “Diam saja, ikuti aku, jiwamu akan selamat!” sahut pengemis itu dengan suara yang tawar, tetapi dia berkata-kata tanpa menoleh sedikitpun juga, dia masih melangkah dengan tindakan kaki yang lebar.

Cin Ko sebenarnya ragu-ragu, tetapi disebabkan dirinya sudah terlanjur mengikuti pengemis ini, dia mau mengikuti beberapa saat lagi. Cuma saja dihatinya pada saat itu sudah memutuskan, kalau nanti setelah lewat lima lie lagi pengemis ini masih tidak mau memberitahukan  kemana mereka akan pergi, dimana tempat tujuan mereka, tentu bocah ini akan membelokkan arahnya untuk meninggalkan pengemis itu.

Rupanya pengemis tua itu dapat membaca jalan pik iran si bocah.

“Hmmm, kau mendongkol padaku?” tegurnya tanpa menoleh, tetapi dia bertanya begitu sambil tertawa. “Jangan takut  bocah, aku tidak akan mencelakai dirimu, ikuti saja diriku,  malah aku bermaksud menyelamatkan dirimu dari tangan-tangan jahat!”

Hati Cin Ko jadi tercekat.

“Apakah pengemis tua ini mengetahui urusanku? Mengapa dia mengatakan ingin menyelamatkan diriku dari tangan-tangan jahat? Siapa pengemis tua ini sebenarnya? Mengapa dia mencari urusan sengaja bentrok dengan ketiga orang tadi yang bersamaku? Seperti juga pengemis ini memang sengaja mencari persoalan hanya untuk memancing kekeruhan dan menolong diriku ? Siapa dia?”

Sedang Cin Ko menduga-duga begitu, si pengemis telah sampai di permukaan sebuah jalan kecil lagi sempit.

Pengemis tersebut menahan langkah kakinya, dia menantikan sampai Cin Ko sudah datang dekat. Malah pengemis tua ini telah tertawa, karena melihat Cin Ko tampaknya sudah letih berlari-lari di dalam jarak yang cukup jauh itu.

“Kau letih, bocah?” tegurnya sambil tertawa dan memandang Cin Ko.

Cin Ko jadi merasa malu ditegur dan ditatap begitu oleh pengemis tersebut. Cepat-cepat Cin Ko menggelengkan kepalanya.

“Tidak!” sahutnya.

“Bagus!” berseru pengemis itu. “Sebentar lari kita sampai di tempat tujuan! Kau boleh berlari-lari sesaat lagi, dan setelah itu jiwamu akan selamat!”

Cin Ko mendongkol bukan main di dalam  hatinya, karena diapun membatin dihatinya : “Hmmm, pengemis bau! Kau rupanya memang sengaja

ingin menyiksa diriku! Kau sengaja menyuruh aku berlari-lari demikian, agar aku kecapaian! Rupanya kau hanya iseng dan mau mempermainkan diriku! Sebentar lagi sampai di tempat tujuan, tetapi kau tidak menyebutkan dimana tempat tujuan kita ini! Kalau sampai dua puluh atau liga puluh lie lagi aku harus berlari-lari demikian rupa, celakalah aku! Tentu aku akan kehabisan tenaga!!”

Tetapi pengemis tua itu telah memutar tubuhnya dan melangkah cepat lagi memasuki lorong kecil sempit itu.

Cin Ko terpaksa mengikutinya, karena dia memang telah terlanjur mengikutinya.

Cepat sekali langkah kaki pengemis  itu, semakin lama bukannya semakin perlahan, malah semakin cepat saja, membuat Cin Ko tambah kebingungan dan cepat mengempos seluruh tenaga yang ada pada dirinya untuk mengejar pengemis itu.

See Cin Ko juga tidak mengetahuinya, tempat apa  yang sedang ditujunya, entah pengemis tua ini ingin mengajaknya kemana.

Tetapi berjalan tidak jauh memasuki lorong kecil itu, kembali si pengemis tua itu telah berhenti bertindak.

“Kita telah sampai!” katanya dengan suara yang berobah jadi lunak da n

sabar.

Cin Ko tak lama kemudian dapat menyusul di dekat pengemis ini,

napasnya terengan-engah. Bocah ini sudah tidak bisa menahan rasa letihnya, lututnya juga gemetaran, maka dari itu, begitu mendengar pengemis ini mengatakan bahwa mereka telah sampai,   dengan sendirinya hati si bocah jadi girang bukan main, cepat-cepat dia menjatuhkan dirinya duduk di tepi jalan kecil itu.

Sedangkan si pengemis telah memutar tubuhnya mengawasi Cin Ko

sejenak, kemudian tanyanya : “Anak, kau tampaknya letih sekali!”

Cin Ko hanya mengangguk dengan hati mendongkol, dia tidak menyahuti. Hanya hatinya yang mendumel sendirian: “Hmmm, sudah  sejak tadi kau mengetahui aku lelah, sekarang kau pura-pura bertanya lagi!”

Tetapi apa yang dipikirkan pada hatinya itu Cin Ko tidak memperlihatkannya.

Sedangkan pengemis, tua tersebut telah menghela napas panjang, wajahnya tampak memperlihatkan sesuatu yang luar biasa, guram sekali.

 “Anak, aku mempunyai suatu pertanyaan padamu, harap kau mau menjawabnya dengan jujur dan terus terang! Ingat anak, kau tidak boleh berdusta, karena ini menyangkut keselamatan dirimu!” kata pengemis itu pula dengan suara yang lembut, juga dia memanggil Cin Ko dengan sebutan Anak, kedengarannya lembut sekali.

Cin Ko jadi ragu-ragu.

“Apa yang ingin kau tanyakan Lo-enghiong?” tanyanya kemudian. “Kau berjanji mau menjawab pertanyaanku itu dengan jujur bukan?”

Cin Ko ragu-ragu, tetapi akhirnya toch dia menganggukkan kepalanya juga. “Ya!” sahutnya.

“Terima kasih! Sekarang katakanlah namamu  yang sebenarnya!” kata pengemis itu.

“Namaku yang sebenarnya?” “Benar!”

“Ini ....namaku............!” tampaknya Cin Ko ragu-ragu bukan main.

Pengemis tua itu telah memperlihatkan ketegangan pada wajahnya mengawasi Cin Ko dengan sorot mata yang tajam, tampaknya agak gugup juga.

“Kau tidak boleh berdusta! Kau tidak boleh berdusta, karena ini menyangkiti hari depanmu dan juga keselama tan dirimu! Sekarang  katakan saja, ya atau bukan? aku akan menyebutkan namamu! Kau adalah See Cin Ko, cucu dari Peng Po Siangsie, bukan?”

Darah Cin Ko jadi mendesir cepat, mukanya juga kontan jadi berubah pucat, jantungnya tergoncang keras. Seketika itu juga hatinya jadi takut, karena dia tidak mengetahui pengemis ini lawan atau kawan. Kalau dia membenarkan dirinya adalah See Cin Ko dan pengemis ini nantinya ternyata berdiri dipihak lawan, bukankah berarti dia akan celaka? Sedangkan kalau pengemis tua ini adalah pihak kawan yang ingin membelanya, hal itu juga tidak perlu cepat-cepat membeberkan perihal asal usul dirinya. Maka dari itu, setelah Cin Ko dapat menenangkan goncangan hatinya, dia telah menggelengkan kepalanya.

“Bu......bukan!” sahutnya kemudian.

 “Bukan? Ach! Mengapa bukan?!” pengemis tua itu jadi menggumam. “Dilihat dari sikapmu yang gugup demikian, kau pasti menyimpan suatu rahasia dan aku berani memastikan bahwa kau adalah cucu dari Peng Po Siang Sie See Un. Tetapi aku ingin mendengar pengakuan dari mulutmu sendiri, agar urusan menjadi jelas! Ingat anak, ini menyangkut keselamatan dirimu, maka dari itu kau harus memberikan jawaban yang sejujurnya, jangan sampai nanti terjadi sesuatu yang tidak diinginkan!”

“Siapa sebenarnya kau ini?” tegur Cin Ko saking tidak dapat menahan rasa ingin tahunya.

“Jawab dulu pertanyaanku itu, kau yang bernama See Cin Ko?” “Benar!” akhirnya setelah ragu-ragu Cin Ko membenarkan pertanyaan

pengemis itu.

“Hmm ..........!” pengemis tua tersebut mendengus dengan wajah yang berobah jadi girang. Dan tiba-tiba sekali dia tertawa tergelak-gelak.

Melihat lagak pengemis ini, Cin Ko malah sebaliknya jadi ketakutan. Dia memandang pengemis itu dengan hati yang berdebar-debar keras.

“Jadi.............. jadi kau memang benar-benar  cucu dari Peng Po

Siangsie See Un?” tanya pengemis itu setelah puas tertawa.

Hati Cin Ko jadi ragu-ragu lagi, dia ngeri melihat pengemis itu tadi tertawa tergelak-gelak  sepuas-puasnya begitu. Tetapi disebabkan tadi dia telah membenarkan, maka akhirnya kepalang tanggung dia mengangguk juga.

“Benar!” sahutnya. “Memang aku See Cin Ko, cucu tunggal dari Peng Po Siangsie See Un! Kalau memang kau adalah kaki tangan musuh kakekku itu, maka bunuhlah, aku tidak takut menghadapi kematian!”

Wajah pengemis tua itu telah berobah guram, dia mengeluarkan jempolnya, ibu jarinya.

“Bagus! Itulah kata-kata gagah yang bukan main! tidak percuma See Kongcu (tuan muda she See) menjadi cucu dari seorang Peng Po Siangsie!” dan setelah berkata begitu, tiba-tiba sekali, pengemis tua tersebut telah menekuk kedua lututnya, dia telah berlutut di hadapan See Cin Ko sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Maafkanlah See Kongcu sikap Siauwjin, tadi Siauwjin lakukan untuk mencegah tidak menimbulkan kecurigaan bagi orang yang melihatnya! Sebetulnya sudah Siauwjin cari-cari Siauw Kongcu dimana-mana, tetapi tidak berhasil! Akhirnya, Thian Maha Pemurah, ternyata Siauwjin dipertemukan juga dengan Siauw Kongcu!” kata pengemis  tua itu. Hal ini tentu saja membuat

 See Cin Ko jadi bingung bukan main, karena biar bagaimana dia heran dan kaget bukan main melihat orang berlutut dihadapannya dan malah yang membingungkan See Cin Ko, pengemis tua itu berkata-kata sambil mengucurkan air mata, menangis!

****** MDN******

“SIAPAKAH kau sebenarnya?” tanya Cin Ko sambil mementang

matanya lebar mengawasi pengemis itu dengan perasaan bingung.

“Siauwjin adalah orang kepercayaan Yaya Siauw Kongcu,  Siauwjin bernama Giok Ie Lang!” kata pengemis tua tersebut sambil sesenggukan menangis.

Mata Cin Ko jadi terpentang lebih lebar.

“Giok Ie Lang? Ohhh, muka Giok Ie Lang tidak seperti kau!” kata Cin Ko curiga. “Kau jangan coba-coba mencatut nama Giok Pehpeh! Aku mengenal betul wajah Giok Pehpeh!!”

Pengemis itu tersenyum sedih, tahu-tahu tangannya telah meraba mukanya. Seketika itu juga copotlah selapis kulit dan terlihat wajahnya yang sebenarnya. Rupanya pengemis ini memakai kulit muka untuk menyamar. Dia sebenarnya seorang lelaki bermuka gagah, dengan mata yang bersinar tajam, hidung yang mancung dan bibir yang tipis. Sikapnya gagah sekali.

“Maafkanlah! Siauwjin telah membikin Siauw Kongcu jadi terkejut!!”

kata Giok Ie Lang sambil berlutut terus di hadapan Cin Ko.

Melihat muka lelaki itu, Cin Ko mengeluarkan suara jeritan, karena dia memang mengenali muka dari Giok Pehpehnya ini sebab pengemis ini ternyata memang benar-benar paman Gioknya itu.

“Giok Pehpeh!” teriak Cin Ko menubruk pengemis ini sambil menangis

sesenggukan. “Akhirnya  kau datang menolong aku juga!”

Sekarang giliran si pengemis she Giok yang tidak bisa menangis, karena dia jadi sibuk untuk membujuk majikan kecilnya ini, agar berhenti menangis.

“Giok Pehpeh       oooh, To Sioksiok bertiga dengan Jie Wie Sioksiok, telah dicelakai orang! Mereka telah dikhianati oleh paman gurunya To Sioksiok yang bernama Phoa Sin Tek!!”

 “Siauwjin telah mengetahuinya Siauw Kongcu! Cuma kedatangan Siauwjin terlambat sedikit, sehingga keadaan sudah begitu kacau! To It Mang, Wie Sin Tang dan Wie Sin Bun dapat meloloskan diri, entah sekarang mereka berada di mana! Waktu aku mengetahui kalian bersembunyi di rumahnya orang she Phoa itu, cepat-cepat Siauwjin telah datang kesana untuk menggabungkan diri! Tetapi kedatangan Siauwjin telah terlambat dikala kekacauan itu telah mereda! Cuma saja Siauw Kongcu jangan   salah paham, kalian bukan dikhianati oleh Phoa Sin Tek, sebab dia sendiri mati-matian telah berusaha menempur tentara negeri, sampai menemui   kematiannya,   jadi bukan orang she Phoa itu yang telah mengkhianati kalian! Cuma saja menurut penyelidikan yang berhasil Siauwjin kumpulkan, kalian telah dikhianati oleh salah seorang anak buahnya Ban Hong Liu, tetapi entah siapa dia?”

Giok Ie Lang scbenarnya adalah orang kepercayaan Pcng Po Siangsie See Un, dia merupakan seorang pengawal pribadi dari keluarga  Peng  Po Siangsic itu, maka dari itu, hubungannya dengan Peng Po Siangsie itu lebih intim. Cuma saja, saat dia bertemu dengan Cin Ko, si bocah sedang dalam keadaan yang berlainan dalam penyamarannya itu, memakai kopiah dan sebagian wajah bocah ini telah dirobah oleh Khu Mei Sian, membuat Giok Ie Lang jadi ragu-ragu. Itulah dia sampai mendesak dan bertanya begitu meminta pengakuan yang jujur dari Cin Ko sendiri.

Waktu penyerbuan ke gedungnya Peng Po Siangsie, dimana Menteri Pertahanan itu ditahan, maka Giok Ie Lang kebetulan tidak berada di gedung tersebut, sedang melakukan perjalanan keluar untuk mengamat-amati keamanan di perbentengan tembok besar bagian utara. Maka dari itu, betapa mengejutkan hatinya, waktu dia pulang, segala-galanya telah porak poranda, dan mendengar desas-desus dari penduduk setempat.

Cepat-cepat Giok Ie Lang melakukan penyamaran, dan malamnya melakukan penyelidikan ke gedung Peng Po Siangsie yang telah hancur itu.

Betapa sakitnya melihat betapa banyak sekali pahlawan-pahlawan dari Menteri Pertahanan itu yang telah gugur malang melintang menjadi mayat dan diantara mayat-mayat itu juga tampak keluarga dan kaum kerabat dari majikannya itu. Seketika itu juga pertama-tama yang dicari oleh Giok Ie Lang adalah cucu dari Peng Po Siangsie See Un, yaitu Cin Ko. Tetapi anak itu sudah menghilang entah kemana, juga tidak terlihat mayatnya, menunjukkan bahwa See Cin Ko belum binasa. Cepat-cepat Giok Ie Lang melakukan penyelidikan lagi, dan dia mengetahui bahwa Peng Po Siangsie belum lagi terbunuh, hanya dibawa ke kota raja sebagai tawanan.

Cepat-cepat Giok Ie Lang telah pergi ke berbagai tempat untuk melakukan pencariannya pada diri See Cin Ko, karena dia yakin Cin Ko dapat diselamatkan oleh orang-orang See Un yang lainnya. Agar dalam

perjalanannya dia tidak menemui kesulitan, sengaja Giok Ie Lang telah menyamar sebagai seorang pengemis.  Disebabkan kepandaiannya yang memang tinggi dan sempurna, dengan sendirinya Giok Ie Lang dapat melakukan penyelidikan diberbagai tempat tanpa menemui kesulitan.

Tetapi sebegitu lama dia masih tidak berhasil menemukan jejak dari majikan kecilnya.

Maka dari itu, dia terus juga melakukan pencarian dari kota ke kota yang lainnya.

Sampai akhirnya dia melihat Cin Ko bersama Ho Cong Kin, Ma Lu Hai dan Chang An Kwan. Dia masih ragu-ragu apakah bocah yang dilihatnya itu adalah majikan kecilnya, tetapi di dalam keragu-raguannya itu, toch Giok Ie Lang telah cepat-cepat turun tangan.

Dan ternyata dugaannya memang tidak salah dan pandangan   matanya tidak meleset. Memang bocah ini adalah majikan kecilnya yang sedang dicari- carinya.

Kedua orang ini, Cin Ko dan Giok Ie Lang antara hamba sahaya dari See Un, Kakek Cin Ko dan majikan kecil ini, telah bercakap-cakap menceritakan segala pengalaman mereka.

Malah Giok Ie Lang telah meminta Cin Ko menceritakan segala kejadian yang telah menimpa keluarga Peng Po Siangsie dikala dia tugas di luar.

Dengan bercucuran air mata, Cin Ko telah menceritakan segalanya pada Giok Ie Lang. Segala apa yang diketahui mengenai penyerbuan pasukan kaisar yang menawan Yayanya itu telah diceritakan sampai akhirnya dia sendiri telah diselamatkan oleh To It Mang bertiga.