KPPDM Bab 4. Adu Jangkrik

Bab 4. Adu Jangkrik 

Hari masih pagi, matahari juga masih belum naik tinggi. Diluar kota Tiang-an terlihat seorang pemuda sedang menuntun kudanya mendekati gerbang kota yang ramai dilalui oleh para pedagang pelancong yang sedang mengantri diperiksa barangnya oleh para prajurit pengawal gerbang kota. Pemuda itu adalah Ma Hai yang baru saja tiba di depan gerbang kota Tiang-an setelah lebih dari seminggu penuh menempuh perjalanan dengan menunggang kuda pemberian ayah angkatnya. Melihat masih banyaknya orang-orang mengantri untuk masuk kedalam kota, Ma Hai memutuskan untuk berkeliling diluar tembok yang mengelilingi kota Tiang-an sekalian melihat-lihat. Karena keadaan negara relatif aman, diluar tembok kota ada juga orang-orang yang membuka kedai arak kecil dan ada pula yang menggelar barang dagangannya dengan lapak seadanya.

Setelah mengikat tali kudanya ditempat orang menitipkan kuda dan membiarkan kudanya minum dari tempat yang memang disediakan untuk kuda milik para pengunjung, Ma Hai masuk ke kedai arak untuk sekedar melepas lelah. Setelah sholat subuh tadi dia terus mengendarai kudanya hingga tiba di kota Tiang-an.

Pelayan kedai arak datang menyambutnya dan mempersilahkan Ma Hai duduk disebuah kursi. “Silahkan kongcu, arak kami walaupun bukan yang terbaik tapi cukup baik untuk diminum sambil melepas lelah.”

“Ma’af aku tidak minum arak, tolong sediakan teh saja,” sahut Ma Hai.

Pelayan itu memandang Ma Hai dengan heran sambil berpikir apa pemuda ini tak salah membaca tulisan didepan kedai yang menyebutkan kedai arak. Melihat pelayan itu mamandangnya seperti itu, Ma Hai meletakkan beberapa keping uang untuk membayar teh yang dipesannya. Karena dikedai memang tersedia teh, maka pelayan itu tersenyum mengambil uang sambil berlalu mengambil pesanan Ma Hai.

Walaupun hari sudah terang dan sudah mulai memasuki musim panas, tapi karena hawa musim semi belum lagi lewat udara masih terasa lumayan dingin. Ma Hai menghirup teh hangatnya sambil memperhatikan keadaan sekitar kedai arak itu. Disalah satu pojok yang cukup tersembunyi dari pandangan orang ramai, kupingnya yang tajam menangkap suara yang cukup jelas menandakan ada orang yang sedang mengadu sesuatu.

“Hayo, hajar dia jerangkong hitam! Jangan kasih ampun. Sikat saja!” “Jangan kalah tanduk naga. Serang dia, Hayo!”

Ma Hai jadi penasaran dengan suara ribut-ribut kecil itu. Ketika teh yang diminumnya habis, terdengar suara sorak kemenangan dan suara mengeluh kesal silih berganti. “Hahaha... jerangkong hitamku belum terkalahkan. Hayo siapa lagi yang punya jagoan, harap maju bertanding! A Ceng kau tidak mau bertanding? Kau boleh cari jagoan lain untuk diadu dengan jerangkong hitam punyaku!”

Orang yang dipanggil A Ceng menyahut,” Kongcu ini bagaimana sih? Jerangkong hitam itu saja aku yang mendapatkannya dan memberikannya pada kongcu. Lagipula aku tak suka adu jangkrik seperti kongcu.”

Ma Hai menghampiri kerumunan 5 orang itu yang ternyata sedang mengadu jangkrik. Dilihatnya jangkrik yang dipanggil jerangkong hitam itu walaupun penampilannya mirip jerangkong tapi besar dan kuat. Jangkrik lawannya yang dipanggil tanduk naga terlihat tidak bergerak lagi, entah mati atau kehabisan tenaga. Melihat ini terbetik rasa kasihan dihati Ma Hai sehingga tanpa sadar dia berkomentar,” Jangkrik juga makhluk ciptaan tuhan seperti manusia, kenapa kalian tega mengadunya. Apa bedanya dengan mengadu ayam dan domba?”.

Kelima orang itu menoleh ke arah Ma Hai, tiga diantaranya sebenarnya adalah anak sekolahan calon siucay yang paling berusia 14 atau 15 tahun dan terlihat terkejut seakan-akan kepergok melakukan hal yang tidak baik. Rupanya ketiga remaja tanggung itu bolos belajar, malah pergi keluar gerbang kota untuk mengadu jangkrik. Takut gurunya datang, ketiganya cepat membubarkan diri dan berlari kearah gerbang kota. Sedangkan dua yang lainnya berumur sebaya atau tak jauh beda dengan Ma Hai sendiri. Seorang diantaranya terlihat seperti seorang kongcu dan yang lainnya berpakaian ringkas seperti pakaian orang kangouw pada umumnya.

Kongcu itu mengambil jerangkong hitam miliknya dan menyimpannya didalam kurungan bambu kecil, lalu bangkit menghadap ke Ma Hai,” Memangnya engkau siapa? Kalau mau adu jangkrik, keluarkan jagoanmu. Kalau tidak apa urusannya adu jangkrik denganmu? Toh kami tidak mengganggumu.”

Ma Hai berpikir kalau kata-kata kongcu itu benar adanya, lagipula dia tidak ingin memperpanjang urusan dengan hal sepele seperti ini. ”Cayhe minta maaf, cayhe tadi kelepasan bicara dan usil mulut. Memang urusan kalian tidak mengganggu cayhe sama sekali.”

Tapi walaupun Ma Hai sudah meminta ma’af, kongcu itu kelihatan sama sekali tidak mau membiarkan masalahnya selesai begitu saja. “Minta ma’af sih gampang, tapi teman-teman mainku sudah pada kabur semua gara-gara kau. Hayo kau harus menggantikan mereka adu jangkrik denganku!”

Ma Hai yang telah meminta ma’af supaya permasalahan lekas selesai akhirnya karena didesak terus mulai kesal dan mencari akal untuk membela diri. “Aku tak mau mengadu jangkrik, ayam, domba ataupun makhluk hidup lainnya. Kalian mengganggu jangkrik yang tak berdosa itu. Kalian sendiri tentu tak mau diadu-adu dengan manusia lain seperti jangkrik itu.”

“Wah, tampaknya engkau ini pokrol bambu pembela hak jangkrik yah? Kalau aku masih mau mengadu jangkrik, kau mau apa?” tanya kongcu itu menantang.

Ma Hai menjadi serba salah, tapi karena sudah kepalang basah dilanjutkan saja perdebatan itu,” Kalau begitu aku akan mengambil jangkrikmu dan melepaskannya ke alam bebas. ”

“...dan untuk ditangkap lagi oleh pengadu jangkrik yang lain lalu diadu lagi begitu?” potong A Ceng membela kongcu-nya.

“Rupanya kau lebih suka adu manusia yah dari pada adu hewan. Baiklah, ayo kau lawan temanku ini. Kalau kau menang, jangkrik ini boleh kau perbuat sesukamu!” seru kongcu itu.

“Ehhh...ini...ini. ” terkejut Ma Hai dibuatnya, tak disangkanya adu jangkriknya

diganti oleh si kongcu dengan adu manusia antara dirinya sendiri dengan A Ceng yang terlihat sudah mengulap-ngulapkan kepalannya sambil tersenyum kecil.

Seluruh pengunjung kedai melihat kearah mereka bertiga karena tertarik dengan keributan itu. Tampaknya kongcu itu cukup maklum sehingga berkata,” Urusan ini kita selesaikan diluar saja.”

Kongcu itu melangkah keluar kedai diikuti oleh A Ceng dan Ma Hai. Kembali Ma Hai menghadapi kedua orang itu ditempat yang cukup sepi sehingga tidak menarik perhatian orang lain.

“Bagaimana? kalau kau sanggup mengalahkan temanku ini, aku akan melepaskan jerangkong hitamku ini,” tantang si kongcu pada Ma Hai lagi.

Walaupun tak mau berkelahi, Ma Hai melihat kesempatan untuk mengakhiri perdebatan itu dengan menggunakan sedikit kepandaian silat. Ma Hai berpikir asal dapat mengalahkan A Ceng dengan kepandaiannya tanpa melukainya, hanya memberikan sedikit pelajaran saja, tentu urusan lebih cepat selesai dan dia bisa segera pergi mencari pamannya Siang Lojin di dalam kota. “Baiklah, tapi kau juga harus berjanji kalau aku menang kau tidak boleh lagi mengadu jangkrik. Kalau aku kalah aku tidak akan mengganggu kalian lagi,” jawab Ma Hai terhadap tantangan kongcu itu untuk bertanding melawan temannya yang dipanggil A Ceng.

“Hmmm, kalau masalah tidak boleh mengadu jangkrik lagi akan kupikirkan lagi nanti, itupun kalau temanku kalah. Yang pasti aku akan melepaskan jerangkong hitam ini. Dan kalau kau kalah, selain tidak menyinggung masalah jangkrik ini lagi, juga kau harus mentraktir kami minum arak. Bagaimana?” tanya kongcu itu lagi pada Ma Hai.

“Aku tidak minum arak, tapi kalau cuma makan direstoran saja keuanganku masih sanggup,” jawab Ma Hai dengan heran. Kongcu ini seakan-akan menganggap kalau A Ceng akan menang dengan mudah, tapi karena kongcu ini malah mengajaknya minum arak berarti si kongcu tidak menganggapnya musuh. Ma Hai tentu dengan senang hati menerima ajakan itu dan menggantinya dengan makan-makan. Bagaimanapun kongcu dan A Ceng itu bukanlah orang jahat.

“Hahaha.... A Ceng, hayo maju. Hari ini kita bisa makan gratis,” gelak si kongcu.

A Ceng maju menghadapi Ma Hai sambil tersenyum berkata,” Semoga kau membawa uang cukup banyak, karena aku ini termasuk orang gembul dan tukang makan.”

Tersenyum juga Ma Hai mendengar kata-kata A Ceng. Semakin jelas terlihat kedua orang ini tidaklah memusuhinya. Boleh dibilang pertandingan antara dirinya dan A Ceng seperti pertandingan persahabatan atau latihan silat saja.

“Silahkan dimulai,” kata A Ceng kepada Ma Hai dengan sikap seenaknya.

Didalam hatinya Ma Hai agak terkejutt juga karena A Ceng mempersilahkan lawannya menyerang tanpa memasang kuda-kuda. Hanya ahli silat kelas atas saja yang berani bersikap biasa tanpa memasang kuda-kuda untuk bertarung. Tadinya Ma Hai cuma menyangka kalau A Ceng ini tukang pukul biasa yang melindungi si kongcu atau orang kangouw kasar yang ikut si kongcu demi mendapatkan uang dan hidup enak.

“Silahkan anda dulu yang mulai,” balas Ma Hai sambil memasang kuda-kuda. Dengan memasang kuda-kuda, Ma Hai berharap lawannya ini menganggapnya remeh sehingga cepat dikalahkan.

“Lihat serangan!” seru A Ceng sambil mulai menyerang dengan tapak tangan kirinya memapas pundak Ma Hai. Ma Hai semakin suka dengan lawannya ini karena dari serangan awalnya saja terlihat kalau A Ceng tidak ingin melukai berat lawannya.

Ma Hai berkelit sedikit dengan memundurkan badannya sambil menunggu serangan susulan yang diduganya pasti akan dilancarkan oleh A Ceng. Benar juga, melihat Ma Hai mundur sedikit serangan tangan kiri memapas itu tiba-tiba berganti dengan gerakan cengkeraman ke lengan kanan Ma Hai dan tangan kanan A Ceng sudah mengepal siap melancarkan pukulan susulan. Perkiraan Ma Hai ternyata tidak meleset, memang A Ceng ini bukanlah orang kangouw kasar biasa. Ma Hai memutuskan untuk mengeluarkan Pai It-thian Kun-hoat tingkat lima untuk menyelesaikan pertarungan secepatnya.

Ketika cengkeraman tangan kiri A Ceng sudah dekat dengan lengan kanan Ma Hai mendadak jari telunjuk dari tangan yang diincar itu bergerak menotok ke tengah telapak tangan A Ceng yang sedang mencengkeram. A Ceng menjerit kaget karena memang salah satu kelemahan serangan cakar adalah bagian tengah telapak tangan. Cakar tangan A Ceng bergerak memutar dan mencengkeram tangan Ma Hai dari arah bawah sambil tangan kanannya bergerak memukul. Melihat ini Ma Hai tersenyum, tepat seperti dugaannya kalau A Ceng menganggap remeh dirinya karena tadi telah memasang kuda- kuda. Ma Hai membiarkan tangan kanannya tertangkap oleh cakar A Ceng. A Ceng tersenyum girang melihat hal ini dan menyusulkan kepalan kanannya untuk melanjutkan serangan cakar kirinya. 

Tiba-tiba A Ceng kembali menjerit kaget karena merasa kepalan kanannya mendadak lemas tertotok oleh jari tangan kiri Ma Hai disusul dengan gerakan jari Ma Hai yang melengkung aneh seperti mengincar pundak kiri A Ceng. Cepat A Ceng melepaskan cengkeraman tangan kirinya dan memapas totokan Ma Hai kepundak. Tapi dia kecele karena totokan ke pundak itu ternyata cuma pancingan karena mendadak serangan totokan Ma Hai justru berbelok ke arah jalan darah di dadanya. Rupanya Ma Hai sedang melukis di udara huruf arab yang berbunyi “NUN” untuk menyerang A Ceng.

A Ceng membentak keras sambil mengemposkan semangatnya mengerahkan tenaga dalamnya untuk membebaskan kepalannya yang tadi tertotok oleh Ma Hai. Untungnya totokan Ma Hai dilakukannya dengan tenaga tingkat lima yang dibatasi sehingga dengan tenaga dalamnya, A Ceng dapat segera membebaskan kepalan kanannya. Dengan kepalan kanannya inilah A Ceng menangkis totokan Ma Hai dengan keras.

“Duukkk. ”

Kedua belah pihak sama-sama terdorong mundur dengan terkejut. A Ceng terkejut karena lawannya yang tadi dianggapnya remeh justru melancarkan jurus-jurus aneh yang belum pernah dilihat sebelumnya. Hampir saja dia celaka dan merutuki diri sendiri yang belaku ceroboh meremehkan lawan. Sedangkan Ma Hai terkejut dengan tenaga dalam A Ceng yang dapat membebaskan kepalannya dengan cepat dan menangkis totokan ke arah dada. Benturan itu menggetarkan Ma Hai dan membuat jari telunjuk kirinya sakit. Ternyata lawannya ini berilmu lebih tinggi dari dugaannya. Hitung-hitung menjebak lawannya untuk meremehkan dirinya, malah Ma Hai sendiri terjebak karena salah memperhitungkan kekuatan lawan.

Cepat Ma Hai menaikkan level kekuatan Pai It-thian Kun-hoat hingga ke tingkat tujuh sehingga ketika tenaga dalamnya mengalir, jarinya yang sakit tadi dengan cepat hilang rasa nyerinya dan terasa nyaman seketika.

”Ayo lanjut!” A Ceng mendadak melompat maju sambil berseru penasaran. Kali ini pertarungan berlangsung seru karena masing-masing pihak sudah bisa menduga kehebatan kekuatan lawan dan mengeluarkan kemampuan sesungguhnya.

Ma Hai merasa heran dan kagum dengan serangan A Ceng yang seolah-olah menggerakkan bagian tubuh kanan dan kirinya dengan cara berbeda sehingga Ma Hai merasa bagaikan dikeroyok oleh dua orang berbeda. Sedangkan A Ceng juga terkejut dengan gaya bertempur Ma Hai yang kadang menotok dengan satu jari mirip It Yang-ci, kadang pula dengan dua jari atau bagaikan gerakan burung bangau menyatukan seluruh ujung jari untuk menotok. Yang pasti gerakan Ma Hai mirip seperti orang yang sedang melukis huruf diudara. A Ceng pernah mendengar tentang ilmu silat yang berdasarkan gerakan melukis huruf diudara seperti ini, tetapi huruf yang ditulis oleh Ma Hai benar-benar tidak dikenal A Ceng, bahkan serangan totokan itu justru sering mengincar daerah tubuh yang sama sekali tidak umum untuk diserang dan mengejutkan.

Pai It-thian Kun-hoat memang ilmu sejenis tiam-hoat (menotok jalan darah) yang diciptakan si bocah ajaib dari Bengkauw Persia Shiraz berdasarkan huruf arab yang jarang dikenal didaratan tiongkok. Lagipula variasi tulisan bukan hanya dilakukan dari kanan ke kiri saja seperti menulis huruf arab, malah kadang terbalik dari kiri ke kanan atau atas ke bawah dan sebaliknya bawah ke atas, tergantung situasi yang dihadapi.

Wajar saja A Ceng belum pernah menghadapi ilmu aneh ini dan merasa bingung serta kewalahan. A Ceng mulai berpikir untuk menggunakan ilmu tongkatnya sambil melirik dahan kecil di atas pohon dekat dengan mereka bertarung yang cukup lurus untuk dipakai sebagai senjata tongkat. Beruntung baginya karena Ma Hai sendiri merasa bingung dengan ilmu silat A Ceng dan seolah-olah merasa dikeroyok oleh dua orang A Ceng. Ma Hai sendiri belum berani menggunakan tingkat delapan dari Pai It-thian Kun-hoat karena dia merasa tidaklah bermusuhan dengan A Ceng sehingga perlu apa mati-matian bertarung.

“Cukup......Cukup.... jangan bertarung lagi!” teriak si kongcu tanpa berani mencegah dengan tangannya sendiri karena ilmu silat yang dimilikinya sendiri terhitung cetek hanya untuk menyehatkan tubuh saja.

Karena memang tidak ingin melanjutkan pertarungan dengan permusuhan baik Ma Hai maupun A Ceng membentak keras dan berjumpalitan mudur ke belakang.

A Ceng bersoja sambil berkata,”Kepandaian sicu (orang gagah) benar-benar luar biasa. Hampir saja aku kalah telak kalau sicu bersungguh-sungguh menotok kepalanku tadi. Kongcu, aku minta ma’af karena tak mampu menang.”

“Wah, Ceng-enghiong suka merendahkan diri meninggikan mutu. Malah cayhe yang terkejut dengan ilmu membelah diri yang menyebabkan cayhe merasa dikeroyok oleh dua orang lawan,” balas Ma Hai juga sambil bersoja.

“Hahaha..... kalau seperti ini tidak ada kalah dan menang. Jadi bagaimana dengan taruhannya?” tanya si kongcu sambil bergelak.

“Sebenarnya ini bukanlah taruhan karena cayhe sendiri tidak suka bertaruh atau berjudi. Begini saja, bagaimana kalau cayhe mengajak kalian makan di restoran dalam kota Tiang-an dan kongcu harap menghentikan kebiasaan mengadu jangkrik,” tawar Ma Hai untuk menengahi persoalan.

“Wahhhh. kalau itu sih sulit aku hentikan, karena bagaimanapun hobi tetaplah

hobi. Bagaimana kalau sekarang jerangkong hitam akan aku lepaskan dan selanjutnya aku tidak akan mengadu jangkrik dihadapan sicu lagi?” sahut si kongcu bernegosiasi.

Terpaksa Ma Hai menyetujuinya karena melihat si kongcu berkeras mempertahankan hobinya. Lagipula dia tidak ingin memperpanjang permasalahan menjadi permusuhan yang tidak perlu. Setelah kongcu itu melepaskan jerangkong hitam dengan berat hati, Ma Hai mengambil kudanya. Lalu mereka bertiga berangkat menuju gerbang kota Tiang-an. Sewaktu mengantri bersama-sama dengan para pedagang dan orang-orang lain didepan gerbang kota Tiang-an, masing-masing berkenalan satu sama lain.

“Tadi sicu sudah kenal dengan nama temanku ini A Ceng, aku sendiri bernama Chan-gi,” si kongcu memperkenalkan dirinya sendiri tanpa menyebutkan she (marga) nya.

Melihat cara Chan-gi memperkenalkan dirinya tanpa menyebut she dan temannya dengan nama panggilan, Ma Hai ikut-ikutan juga berlaku demikian,”Harap berhenti memanggilku sicu. Keluargaku biasanya memanggilku dengan nama Hai-ji (anak Hai) atau A Hai dan aku berumur 25 tahun.”

Kedua kawan barunya tertawa melihat cara Ma Hai memperkenalkan diri. “Aku sebaya denganmu tetapi A Ceng ini lebih tua dua tahun. Tapi kau boleh memanggilnya dengan nama A Ceng. Sedangkan aku sendiri sudah terbiasa dipanggil kongcu. A Hai, ada urusan apa kau datang ke kota Tiang-an ini?”

“Aku hanya mampir di Tiang-an untuk mengunjungi paman tua ku yang tinggal dikota ini. Kalian sendiri sepertinya bukan orang Tiang-an juga yah? Sedang ada urusan apa disini? Apa cuma mengadu jangkrik?,” jawab Ma Hai sambil balik bertanya.

A Ceng hanya tersenyum dan membiarkan Chan-gi kongcu yang menjawab, ”Urusan kami bukanlah di Tiang-an, tentang adu jangkrik itu adalah hobiku sejak kecil. Sebenarnya sewaktu engkau ikut campur tadi, aku sudah menduga kalau engkau adalah orang baik. Hanya saja tadi aku penasaran dan ingin menguji dirimu dan terbukti engkau memang seorang ahli silat yang mumpuni.”

“Eh? Bagaimana jika misalnya aku tak bisa ilmu bela diri?” kaget Ma Hai atas penjelasan Chan-gi.

“Paling A Ceng cuma mencolek tubuhmu sedikit. Semut saja tak akan dilukainya kalau tak ada alasan kuat. Betul tidak?” tanya Chan-gi kongcu pada A Ceng yang hanya tersenyum lebar.

“Sebelum aku meminta A Ceng maju, aku sudah melihat betapa bajumu penuh debu, tanda orang yang baru saja menempuh perjalanan jauh. Lagipula engkau hanya seorang diri, tentu orang yang berani melakukan hal itu bukanlah orang lemah,” sambung Chan-gi. “Wah, ternyata pengamatan kongcu sangatlah teliti. Kagum aku dibuatnya!” sahut Ma Hai.

Setelah mengobrol mengenai hal-hal umum dan melewati pintu gerbang kota, mereka mencari restoran yang cocok dengan selera makan mereka. “A Hai, makanan apa yang kau paling suka? Aku cukup kenal keadaan kota ini sehingga bisa memberikan referensi makanan yang enak,” kata Chan-gi kepada Ma Hai.

“Sebenarnya aku punya pantangan makan daging babi, anjing dan hewan yang disembelih tanpa menyebutkan asma Allah,” kata Ma Hai yang melihat kedua kawannya terlihat bingung dengan penjelasannya barusan sehingga melanjutkan kata-katanya lagi. “Begini sajalah, anggap saja aku Ciak-jay (pantang makan daging) supaya lebih gampang. Toh, sulit mencari makanan halal di sini.”

“Halal??? Ah, aku mengerti! Agamamu adalah Hui-kauw (agama orang Hui) bukan? Aku tahu ada restoran yang menghidangkan masakan Uighur yang lezat didekat sini. Ayo kita pergi kesana,” ajak Chan-gi kepada dua temannya yang lain.

Kaget juga Ma Hai kalau Chan-gi kongcu mengenal istilal halal yang biasanya hanya dikenal oleh orang-orang muslim. Dengan pengetahuan seluas itu kongcu ini sepertinya bukanlah anak orang kaya biasa, pikir Ma Hai.

Ketiga pemuda itu berhenti di depan sebuah restoran besar yang padat dengan pengunjungnya. Rupanya rumah makan besar ini terkenal sehingga ramai dikunjungi orang-orang yang hendak merasakan nikmatnya masakan Uighur. Papan nama restoran itu ditulis dengan dua jenis huruf berdampingan yaitu dengan huruf Hanzi (huruf china) dan huruf Uighur. Tentu saja Ma Hai dapat membaca kedua tulisan itu yang menyebutkan “Restoran Suleman Beg cabang Tiang-an, masakan Uighur”.

Begitu mereka bertiga masuk, penerima tamu restoran setengah tua yang bertampang asing tergopoh-gopoh menyambut mereka. Sebelum kedua temannya bicara, Ma Hai cepat menghampirinya dan bertanya dalam bahasa Uighur, ”Apakah benar restoran ini menyediakan makanan halal?”

Melongo penerima tamu itu mendengar pertanyaan Ma Hai, tiba-tiba penerima tamu itu tertawa gembira dan menjawab dengan bahasa Uighur pula, “Wah, ada tamu dari kampung halaman. Tentu saja masakan disini semuanya halal karena semua masakan memenuhi syariat Islam. Aku sendiri adalah Ayub Beg dari Sin Kiang, pemilik restoran ini yang merupakan cabang dari restoran pusat di Beiping milik kakakku. Boleh tahu siapakah orang tua saudara muda ini? Mungkinkah aku mengenalnya?”

“Ah, aku bukanlah asli Sin Kiang. Tapi ayah angkatku asli Uighur bernama Temuyun. Aku sendiri tinggal bersama gihu sejak berumur 14 sehingga dapat berbahasa Uighur,” jelas Ma Hai. “Ah, anak angkat Temuyun Siucay? Tentu kau berkunjung ke Tiang-an untuk bertemu pamanmu Temugal atau biasa dipanggil dengan nama Siang Lojin bukan? Kebetulan sekali, aku kenal baik dengan Siang Lojin yang telah menolong anakku dengan obat-obatannya,” kata Ayub Beg dengan gembira.

Ma Hai pernah mendengar penjelasan dari Temuyun Siucay mengenai kemampuan ilmu pertabiban Siang Lojin yang dikatakan sebagai ahli waris tabib sakti Nanto yang dikenal luas di Uighur.

“A Hok. A Hooookkkk!!!” panggil Ayub Beg yang dibarengi dengan datangnya

seorang pelayan. Kali ini Ayub Beg kembali bicara dengan bahasa tionghoa biasa yang dimengerti oleh Chan-gi kongcu dan A Ceng. “Cepat kemari! Layani tamu ini baik-baik, dia ini keponakan Siang Lojin yang datang berkunjung dari Sin Kiang.”

“Ah, keponakan Siang Lojin? Mari-mari silahkan masuk. Disana ada tempat kosong yang baik pemandangannya. Paman kongcu itu pernah menyelamatkan istriku dari penyakit parahnya sehingga terhindar dari maut, aku benar-benar berhutang budi pada beliau. Silahkan duduk,” A Hok mempersilahkan ketiga pemuda itu duduk di tempat yang memang sesuai dengan kata-katanya barusan, menghadap ke taman kota yang indah pemandangannya.

Setelah mencatat pesanan makanan yang disarankan oleh A Hok sebagai “yang terlezat” dari menu utama, A Hok pun berlalu kedapur untuk menyampaikan pesanan itu pada juru masak.

“Aku tidak menyangka kalau engkau ini keponakan Siang Lojin yang terkenal itu. Beliau dikenal sebagai ahli waris tabib sakti Nanto dan sering menolong orang yang tidak mampu tanpa memungut bayaran. Melihat ilmu silatmu yang tangguh itu, tentu engkau menguasai pula ilmu pengobatan yang luar biasa dari Siang Lojin,” kata Chan-gi kepada Ma Hai.

“Sama sekali tidak. Pamanku tak pernah menurunkan ilmu pengobatannya kepadaku. Malahan seumur hidupku, aku hanya pernah bertemu satu kali dengan pamanku itu di Sin Kiang,” sahut Ma Hai jujur.

“Hiante, ilmu silat yang kau peragakan tadi sangatlah aneh, darimanakah engkau mempelajarinya? Belum pernah seumur hidupku melihat gerakan seaneh itu,” tanya A Ceng pada Ma Hai.

“Ayah angkatku sendiri yang mengajarkanku. Beliau sama sekali bukan orang yang terkenal didunia kangouw. Kuberitahukan juga namanya, kalian tidak akan kenal,” jawab Ma Hai.

“O iya, bagaimana caramu makan selama perjalanan dari Sin Kiang? Apakah engkau harus selalu repot-repot masak sendiri?”tanya Chan-gi ingin tahu. “Ah, biasanya aku memang masak sendiri dengan menangkap hewan buruan atau makan sayur dan buah-buahan yang kupetik. Kalau ditengah jalan aku bertemu dengan rumah makan atau kedai kecil, aku kadang mampir untuk membeli nasi atau kue tawar tanpa isi, ”jawab Ma Hai.

Tak lama kemudian pesanan makanan datang. Masakan daging kambing dan kebab khas Uighur datang dengan bau harumnya yang sedap membuat ketiga pemuda itu memuji walaupun belum mencicipi sedikitpun. Ketika mereka mulai mengambil makanan yang dihidangkan, terdengar pembicaraan dari tamu di meja makan samping mereka.

“Kau sudah dengar kabar di kota kecil di sebelah tenggara Tiang-an? Bencana kelaparan yang mereka derita sudah sebulan, baru kemarin datang bala bantuan dari pemerintah,” kata orang yang bersuara cempreng.

“Betul! Kabarnya lagi dana bantuan sebenarnya sudah diterima pejabat daerah 2 minggu yang lalu, tetapi dana itu tak pernah sampai ke tangan para korban,” sambung temannya.

“Katanya ada 3 orang utusan kaisar dari kotaraja yang sengaja datang memberikan dana bantuan itu secara langsung. Pejabat daerah yang menyelewengkan dana bantuan tidak menyangka kalau 3 orang itu benar- benar utusan dari kotaraja Beiping, malah menyuruh tukang pukulnya menangkap ketiganya,” suara ketiga yang serak ikut nimbrung.

“Hahaha.... tak tahunya salah satu dari ketiga utusan itu oleh orang sakti. Malahan para tukang pukul pejabat itu yang nungging dihajar. Sayang sekali kita tidak melihatnya langsung. Aku kepengen tahu seperti apa sih tampang para utusan itu?” si suara cempreng ikut menambahkan.

“Dari mereka bertiga, hanya satu pemuda yang dikenal oleh penduduk yaitu putra pejabat istana Khu Cho, Khu Tayjin. Hanya saja tentu hal ini akan menimbulkan keributan lebih lanjut,” kata si suara serak.

“Eh, memangnya kenapa?” tanya si cempreng.

“Pejabat daerah yang korupsi itu masih ada hubungan keluarga dengan Liu Kwan Tayjin yang menjabat kepala seleksi istana. Katanya sih istrinya masih terhitung keponakan Liu Kwan tayjin.,” jawab si suara serak.

“Hussshh, jangan bicara keras-keras, bisa-bisa kepalamu melayang cuma gara-gara mulutmu yang usil,” tegur temannya dengan hati-hati.

Mereka selanjutnya berbicara dengan suara perlahan sehingga tidak terdengar oleh orang lain di sekeliling termasuk Ma Hai dan teman-temannya yang juga sudah perduli dengan urusan sebelah meja mereka dan mulai asyik menyantap makanan yang tersedia. Walaupun mereka bertiga sama makan dengan lahap, tapi terlihat jelas Chan-gi makan dengan sangat sopan, sedangkan Ma Hai dan A Ceng tidak terlalu perduli dengan sopan santun para bangsawan. Semua makanan habis tandas dilahap oleh mereka bertiga hingga tak tersisa. Dengan perut penuh mereka keluar dari restoran Uighur itu dengan diantar oleh pemilik Ayub Beg. Sesampai diluar, Ma Hai menanyakan alamat tempat tinggal Siang Lojin. Ayub Beg menyarankan agar Ma Hai pergi saja ke masjid besar yang terlihat tak jauh dari restoran sambil berkata, “Lihat, itu ada masjid yang mirip dengan pagoda. Itu adalah masjid Tiang-an yang sudah berumur ratusan tahun dan biasanya Siang Lojin bertindak sebagai imam di masjid. Sebentar lagi akan tiba waktu sholat zhuhur, silahkan kongcu pergi terlebih dahulu. Aku akan menyusul kalau sudah terdengar adzan memanggil.”

Setelah Ma Hai mengucapkan terima kasih, Ayub Beg kembali masuk ke dalam restoran miliknya. Ma Hai berbalik menghadap Chan-gi dan A Ceng sambil menghormat mengangkat kedua tangannya, “Sepertinya kita akan berpisah disini, cayhe senang sekali mendapatkan kenalan seperti kalian. Harap bertemu lagi dilain waktu dan kesempatan.”

Chan-gi dan A Ceng juga mengangkat tangannya untuk membalas penghormatan Ma Hai sambil mengucapkan selamat jalan, setelah itu mereka berdua berjalan keluar kota. Melihat cara mereka berdua memperkenalkan diri, sepertinya mereka tidak ingin tujuan mereka diketahui oleh orang lain, sehingga Ma Hai juga enggan untuk menanyakan hal itu pada mereka berdua.

Ma Hai berjalan menuju masjid yang bentuknya mirip dengan pagoda yang besar. Kalau Ayub Beg tidak memberitahukan kepadanya, tentu Ma Hai tidak akan menyangka kalau bangunan itu adalah sebuah masjid.

Begitu Ma Hai tiba di depan masjid, terdengar suara adzan berkumandang menandakan waktu sholat zhuhur. Ma Hai masih ragu-ragu masuk, hingga orang-orang yang bermaksud sholat zhuhur mendahuluinya masuk ke dalam masjid. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang Hui, sama seperti Ma Hai, yang lainnya terlihat dari wajahnya seperti berasal dari wilayah barat. Tak lama terlihat olehnya Ayub Beg berjalan ke arah masjid, sambil tersenyum Ma Hai menyambut kedatangan Ayub Beg dan bersama-sama masuk ke dalam masjid. 

Sehabis sholat, Ayub Beg kembali ke restorannya sedangkan Ma Hai tetap diam di tempatnya menanti imam sholat selesai berzikir. Ketika imam bangkit dari duduknya, Ma Hai berjalan menghampirinya. Ma Hai masih mengenali Siang Lojin walaupun hanya pernah sekali bertemu. Terlebih lagi, perawakan imam itu mirip sekali dengan Temuyun siucay.

“Assalamu’alaikum, Temugal Toasiok,” panggil Ma Hai dengan suara perlahan tetapi cukup jelas didengar oleh imam yang menoleh untuk melihat siapa yang memanggilnya dengan nama aslinya.

Ma Hai menghormat sambil memperkenalkan dirinya,” Toasiok, ini aku Ma Hai, Hai-ji, gihu memintaku untuk mengunjungi toasiok di kota Tiang-an.” “Hai-ji?” Siang Lojin menatap wajah Ma Hai dengan kening berkerut, sebelum akhirnya menyambung, “Ah, pangling aku melihatmu, sudah beberapa tahun aku tidak melihatmu. Ayo ikut aku pulang ke rumah. Tentu engkau lelah menempuh perjalanan jauh dari barat,” kata Siang Lojin.

Setelah memberikan pesan kepada salah seorang pengurus masjid, Siang Lojin mengajak Ma Hai kembali ke rumahnya yang terletak tak jauh dari mesjid.

Sepanjang jalan Ma Hai mencium bau harum yang berasal dari tubuh Siang Lojin. Nama panggilan Siang Lojin sewaktu muda adalah Siang Kongcu (tuan muda harum) yang diakibatkan dari tubuhnya yang mengeluarkan bau sedap. Bau dari tubuh Siang Lojin sangatlah bermanfaat bagi pasiennya, karena memiliki efek aroma terapi yang dapat menenangkan syaraf pasiennya yang tegang.

Nama Siang Lojin dikenal di dunia Kangouw bukan karena kepandaian ilmu silatnya melainkan ilmu pengobatannya yang manjur. Jika Temuyun siucay sehabis menolong orang dengan ilmu silatnya yang tinggi bisa langsung menghilang tanpa meninggalkan nama, tidak demikian halnya dengan kakaknya Temugal atau Siang Lojin yang harus tetap tinggal merawat pasien hingga sembuh. Hal ini menyebabkan nama Siang Lojin sangatlah terkenal dan Temuyun siucay hanya dikenal oleh sedikit orang di dunia Kangouw dan masyarakat umum. 

Mereka berdua tiba didepan sebuah rumah sederhana yang bangunannya dibagi dua, sebuah bangunan yang terlihat seperti rumah biasa dan sebelahnya mirip dengan balai perawatan untuk orang-orang sakit.

“Assalamu’alaikum, “ Siang Lojin mengetuk pintu sambil mengucapkan salam. Dari dalam terdengar suara seorang wanita menyahut, “Wa’alaikum salam”. Pintu rumah terbuka dari dalam, tampak seraut wajah cantik menyambut mereka berdua. Walaupun Ma Hai bukan seorang pemuda mata keranjang, apalagi dia telah bertunangan dengan Yamila yang dicintainya, tetap saja kali ini Ma Hai terpesona bagaikan melihat bidadari yang turun dari langit. Wajah wanita ini sangatlah cantik dan khas , malah lebih mempesona dibandingkan Yamila yang terhitung salah satu wanita tercantik di daerah Uighur.

“Tentu kau sudah mendengar tentang anak perempuanku Amannisa walupun belum pernah bertemu langsung dengan orangnya, dan ini adalah Ma Hai anak angkat pamanmu Temuyun,” Siang Lojin memperkenalkan anaknya dan Ma Hai satu sama lain.

Mereka berdua saling menghormat satu sama lain. Ma Hai lalu dipersilahkan duduk dan disungguhi secangkir minuman beraroma sedap oleh Amannisa.

“Minumlah, ini adalah ramuan khusus dari akar obat tumbuhan yang berkhasiat memulihkan tenaga bagi orang yang kelelahan, “ kata Siang Lojin. Ma Hai meneguk minuman beraroma itu, betul saja beberapa saat kemudian dari perutnya mengalir hawa hangat yang melancarkan jalan darah dan menyegarkan otot-otot tubuhnya.

“Harap engkau tidak terkejut kalau mendengar ayahmu Ma Huan beserta kakakmu Ma Hu-sin baru saja datang mengunjungiku seminggu yang lalu untuk membicarakan urusan penting. Tentunya kalau engkau tiba di Beiping akan mendengar berita ini langsung dari ayahmu,” kata Siang Lojin sambil tersenyum.

“Eh, Tia-tia (ayah) dan Engkoh Hu-sin datang kemari minggu lalu? Ada urusan penting apakah?” sahut Ma Hai terkejut.

  ooOoo  

Keterangan dan fakta sejarah:

- Agama Islam pada jaman dulu di China disebut dengan nama Hui-jiauw (Hui- kauw dalam dialek Hokkian) yang berarti agamanya orang-orang Hui atau juga disebut dengan Hui-Hui. Sekarang istilah ini kadang masih dipakai walaupun nama resminya adalah Yi-Si-Lan yang merupakan dialek lokal untuk menyebutkan Islam.

- Nanto adalah seorang tabib terkenal suku Uighur yang pernah berkunjung ke daerah tiongkok pada jaman dinasti Sung/Song (906-960). Nanto dikenal dengan metode pengobatan medis yang sangat aneh dan belum pernah diketahui oleh tabib-tabib tiongkok tetapi terbukti sangat ampuh. Metode pengobatan herbal (dengan tumbuh-tumbuhan) Nanto kemudian banyak diadaptasi oleh tabib-tabib tiongkok. Banyak sekali ahli sejarah meyakini kalau pengobatan akupuntur sebenarnya ditemukan oleh orang Uighur yang kemudian diadaptasi oleh tabib tiongkok seperti sekarang ini.

- Masjid agung Tiang-an (Chang-an) adalah salah satu masjid tertua yang pernah dibangun di China. Dibangun pada masa dinasti Tang dibawah pemerintahan kaisar Xuanzong (685-752) dan direnovasi beberapa kali termasuk diantaranya pada masa pemerintahan kaisar Hong Wu dari dinasti Ming. Kota kuno Chang-an sekarang berada dalam bagian kota Xi-an propinsi Shaan-xi sehingga nama mesjid Chang-an sekarang adalah Masjid Xi-an. Selain menjadi objek pariwisata bangunan kuno di kota Xi-an, hingga sekarang Masjid Xi-an masih dipakai untuk beribadah umat muslim tiongkok