-->

Jit Goat Sang Pokiam Bab 6. Cerita Si Kedok Hitam (Tamat)

Bab 6. Cerita Si Kedok Hitam (Tamat)

Ban Su To Niocu dan Yelu Ceng mendekati kedua orang she Bu itu dengan wajah penuh tanda tanya, tapi tidak mengeluarkan sepatah katapun. Sedangkan A Hu hanya berlutut disamping Bu Kiong sambil menangis dan memanggil-manggil Loya (tuan).

Setelah kucuran darah berhenti dari luka, Bu Kiong menggapai ke arah Dian Long sambil berkata, Kemarilah Long-ji, jangan kau menyela perkataanku. Racun bangsat tua itu sudah menyebar dan mengancam jantungku, aku hanya bisa menahannya dengan tenaga dalamku beberapa saat saja. Waktuku tak banyak dan jiwaku sudah tak terselamatkan lagi. Sebelum mati, aku ingin menceritakan sesuatu dan memberikan pesan terakhirku.

Tetapi Toa-siok, kalau kita cepat kembali ke Bu-kee-cung mungkin tabib Sie Pe Giok bisa .....

Sudah kubilang kalau waktuku tinggal sedikit, tak perlu kau membantah perkataan terakhirku, potong Bu Kiong.

Mendengar kata-kata pamannya, Dian Long hanya diam tak berkata apa-apa, hanya bergerak membantu supaya pamannya dapat berbaring dengan tenang sambil mengerahkan tenaga dalam untuk membantu tenaga pamannya menahan racun.

Sebagai anak dan cucu dari seorang tabib, Yelu Ceng menghampiri Bu Kiong dan memeriksa sejenak. Sambil menghela napas akhirnya dia berkata, Seorang ahli silat tentu paling tahu kondisi badannya sendiri.

Wajah pucat Bu Kiong menoleh pada Ban Su To Niocu dan Yelu Ceng dan berkata, Semua hal ini diawali oleh perbuatanku dua tahun yang lalu. Aku memang terlalu berambisi ingin mengangkat nama Bu-kee-cung kami supaya bersinar terang didunia kang-ouw. Yang menyebarkan desas- desus didunia kang-ouw tentang Jit Goat Siang Pokiam adalah aku sendiri. Hanya saja aku tak menyangka kalau urusan ini memakan korban banyak nyawa. Hal ini yang menimbulkan penyesalanku.

Terkejut ketiga orang itu mendengar perkataan Bu Kiong, hanya A Hu saja yang tak tahu menahu dengan urusan pedang tetap menangis tersengguk-sengguk. Sementara itu mulailah Bu Kiong mengisahkan masa lalunya.

  ooOoo  

Bu kiong adalah anak sulung dari Bu-kee-cungcu sebelumnya. Dari 5 bersaudara, adik ketiganya lah yang paling akrab bergaul dengannya. Mungkin karena mereka memiliki banyak kesamaan watak dan pikiran. Bersama adik ketiganya yang bernama Bu Kiat, Bu Kiong bercita-cita untuk mengharumkan nama Bu-kee-cung dan mengangkat nama kampung mereka supaya setara dengan partai persilatan besar lainnya seperti Siaw-lim pai maupun Bu-tong pai, walaupun ayah mereka berpesan untuk tidak mencampuri urusan kang-ouw dan politik kerajaan. Sayang sekali kemampuan seluruh keluarga Bu tidaklah sehebat yang disangka orang diluaran. Ilmu kepandaian mereka walaupun lihai tetapi tanggung sehingga tidak bisa mencapai puncak kehebatannya.

Sewaktu kecil, sama seperti anggota keluarga Bu yang lain, Bu Kiong dan Bu Kiat juga sering mendengarkan cerita kepahlawanan leluhur mereka beserta para pahlawan lain membela kota Siang-yang dari ancaman mongol, termasuk cerita Bu bersaudara meninggalkan kauw-koat pusaka yang hilang.

Bu Kiong dan Bu Kiat sepakat bahwa dengan mendapatkan kauw-koat pusaka yang hilang itu mereka dapat meningkatkan kepandaian hingga mencapai tahap yang lebih hebat dari ketua partai persilatan lainnya. Hal ini tentu akan membuat nama Bu-kee-cung terkenal menjulang tinggi. Sejak muda dan diperbolehkan untuk bertualang, mereka berdua berusaha mencari kauw- koat pusaka yang hilang itu. Mereka mencari mulai dari dalam kampung Bu-kee-cung, makam leluhur, hingga ke kota Siang-yang pun di jelajahi.

Waktu cepat berlalu, tak terasa dari pernikahan mereka lahirlah anak keturunan keluarga Bu yang baru. Bu Kiat memiliki anak laki-laki satu-satunya yang diberikan nama Bu Dian Long, sedangkan Bu Kiong memiliki 2 anak perempuan. Walaupun demikian cita-cita dan harapan mereka untuk menjayakan nama Bu-kee-cung belumlah padam. Mereka berdua tetap berupaya mencari pusaka keluarga yang hilang tersebut.

Sekian tahun usaha mereka sia-sia, hingga suatu hari ayah mereka meninggal dunia dan Bu Kiong ditunjuk oleh para tetua Bu-kee-cung untuk menggantikan kedudukannya sebagai cung-cu.

Setelah itu yang banyak menghabiskan waktu untuk mencari adalah Bu Kiat, karena waktu Bu Kiong banyak dihabiskan untuk mengemban tugas dan tanggung jawab cung-cu.

Ketika usia Dian Long beranjak 10 tahun, Bu Kiat pulang dari daerah mongol dalam usahanya mencari kauw-koat pusaka. Tetapi kali ini kepulangannya sambil membawa luka parah karena diserang oleh gerombolan perampok yang berilmu tinggi. Walaupun bisa bertahan hingga 3 hari, akhirnya Bu Kiat pun meninggal dunia. Bu Kiong yang marah mengumpulkan jago-jago keluarga Bu dan menggempur habis sarang perampok yang menyerang adiknya, membunuh seluruh anggota perampok dan membakar sarangnya hingga rata dengan tanah.

Tak lama setelah kejadian itu, istri Bu Kiat juga meninggal dunia menyusul suaminya dan meninggalkan Bu Dian Long sebatang kara. Sejak itu Bu Kiong dan istrinya mengambil dan merawat Dian Long bagaikan anaknya sendiri.

Bu Kiong merasa seluruh tanggung jawab kampung beserta cita-citanya begitu berat membebani pundaknya. Dia sering sekali menyepi di pemahkaman keluarga Bu sampai berhari-hari. Kadang terlihat Bu Kiong seperti mengobrol dengan mahkam adiknya, terkadang terlihat mengeluh didepan mahkam leluhur keluarga Bu.

Delapan tahun setelah kematian Bu Kiat, Bu Kiong justru menemukan sesuatu yang diimpikannya selama bertahun-tahun. Pada saat itu hal yang tak terlihat oleh Bu Kiong dan Bu Kiat pada waktu biasa, entah bagaimana bisa terlihat jelas oleh Bu Kiong yang sedang depresi. Bertahun-tahun dia sering menyepi di pemahkaman keluarga Bu, tanpa sengaja justru dia menemukan apa yang dicarinya selama bertahun-tahun tanpa hasil didalam kompleks mahkam leluhur keluarga Bu yaitu kauw-koat lengkap Hang liong Sip Pat Chiang dan It-yang-ci.

Mendapatkan kauw-koat lengkap Hang liong Sip Pat Chiang dan It-yang-ci tanpa adanya Bu Kiat disampingnya, membuat Bu Kiong awalnya tidak terlalu bersemangat. Walaupun demikian, dia diam-diam mulai berlatih kedua ilmu kepandaian lihay itu disekitar wilayah pemahkaman keluarga Bu dan meminta tak seorangpun mengganggunya selama berada didalam daerah pemahkaman. Tak seorangpun dari Bu-kee-cung yang bisa menduga kalau kepala dusun mereka berubah menjadi memiliki kepandaian luar biasa.

Setelah 5 tahun berlatih, kepandaian Bu Kiong semakin lama semakin meningkat pesat, hingga timbul semangat baru dari dalam hati Bu Kiong untuk melanjutkan cita-citanya dahulu. Sayang sekali, walaupun bakatnya cukup besar, tetapi karena Bu Kiong mempelajari ilmu tersebut dimasa tuanya, kemajuan penguasaan tenaga dalamnya tidaklah sepesat kapandaian ilmu silatnya. Ilmu kepandaian Hang liong Sip Pat Chiang dan It-yang-ci yang dikuasai keluarga Bu secara umum, tidaklah mencakup cara pemupukan lweekang dan penguasaannya secara mendalam. Sehingga terpaksa Bu Kiong kembali melatih cara menggunakan jurus disertai pengerahan tenaga dalam yang benar dari awal. Walaupun demikian sulit dicari orang yang bisa mengimbangi Bu Kiong dalam hal kepandaian silat pada saat itu.

Hingga sampai pada waktu 2 tahun yang lalu, ketika Bu Kiong sedang berlatih Hang liong Sip Pat Chiang dan It-yang-ci di dalam area pemahkaman keluarga Bu seperti biasanya, tak terduga olehnya kalau ada orang lain yang memperhatikan latihannya. Dengan kepandaiannya sekarang sangatlah mudah bagi Bu Kiong untuk mendeteksi keadaan sekitar, apalagi kalau ada gerakan orang datang. Sedikit saja bergerak, kesiuran anginnya dapat di rasakan oleh Bu Kiong. Tapi untuk orang misterius ini, hal itu merupakan suatu pengecualian. Tidak sedikitpun Bu Kiong menyadari kedatangan orang ini, hingga akhirnya Bu Kiong mendengar orang itu berkomentar.

Ilmu silat yang hebat! Benar-benar lihay dan sulit dicari tandingannya. Sayang gerakan yang hebat tidak disertai pengerahan tenaga yang tepat. Apalagi Hang liong Sip Pat Chiang yang gerakannya sederhana, kalau tidak disertai tenaga yang cukup, tentu berkurang pula kedahsyatannya.

Tentu Bu Kiong terkejut mendengar ada orang yang mengomentari kepandaiannya tanpa dia ketahui kehadirannya. Ketika Bu Kiong berbalik tubuh, terlihat seseorang yang usianya lebih tua sedikit dari dirinya meloncat turun dari sebatang pohon berdaun rimbun. Bagaimana mungkin aku tidak mengetahui kehadirannya, pikir Bu Kiong. Orang ini tentu memiliki kepandaian tinggi.

Dengan kepandaian seperti ini, tidakkah engkau berminat untuk menjadi seorang Bu-lim Beng-cu (ketua umum dunia persilatan)? Dengan demikian kau tentu bisa mengangkat nama keluarga Bu kepuncak ketenaran. Kalau kupikir tidak seorangpun ketua partai persilatan didunia ini sekarang yang bisa menandingimu,ujar orang misterius itu.

Hmmm... aku tidak punya urusan denganmu, lagipula masuk kedaerah pemahkaman keluarga Bu adalah terlarang bagi orang luar. Karena itu aku berhak menghukummu! Menyadari orang dihadapannya tidaklah memiliki kepandaian biasa, Bu Kiong langsung menyerang dengan jurus ke 12 dari Hang liong Sip Pat Chiang, yaitu Siang-liong Coe-sui (Sepasang naga mencari air).

Kedua tapak Bu Kiong bergerak bersamaan menyerang tubuh atas dan bawah orang misterius itu diiringi suara kesiuran angin hebat. Diluar dugaannya orang misterius itu bisa menghindari serangannya dengan mudahnya, seakan-akan Hang liong Sip Pat Chiang hanyalah ilmu kepandaian yang tiada artinya.

Sayang sekali, kalau Kwee Ceng sendiri yang menyerangku dengan jurus ini, tentu aku terperangkap ditengah badai pusaran tenaga dan sulit untuk mengelak,gumam orang misterius itu.

Mendengar komentar orang misterius itu, segera Bu Kiong mengganti serangannya dengan It- yang-ci, sehingga terdengar suara mencicit nyaring yang diakibatkan jari tunggal serangan Bu Kiong. Kembali orang misterius itu bisa menghindar dan memuji ilmu It-yang-ci beserta It Teng Taysu, tanpa menyinggung nama Bu Kiong.

Berturut-turut Bu Kiong menyerang berganti-ganti Hang liong Sip Pat Chiang dan It-yang-ci, hingga terpaksa si misterius melawan. Bagaimanapun juga kedua ilmu Bu Kiong adalah ilmu dahsyat yang menggegerkan duania kang-ouw dimasa lalu, sehingga si misterius tidak bisa menganggapnya main-main. Akhirnya tapak serangan Bu Kiong dipapak oleh pukulan orang misterius itu secara langsung.

Duarrrr!!!

Bu kiong mencelat mundur sambil bersalto untuk mengurangi daya tolakan, sedangkan si misterius masih tetap berdiri tegak. Penasaran dengan kemampuan si misterius, Bu Kiong langsung menyerangnya dengan jurus-jurus pilihan. Kali ini orang misterius itu meladeni serangan Bu Kiong dengan ilmu kepandaiannya yang aneh dan tenaga dalamnya luar biasa hebat. Bu Kiong merasa udara disekitar tubuhnya bagaikan dibolak-balik membuat dirinya bagaikan terombang- ambing dilautan. Dan yang membuat Bu Kiong semakin kagum adalah lweekang lawannya yang seakan mengalir tak habis-habisnya, padahal kalau mengingat perawakan si misterius itu berusia sedikit lebih tua dari pada Bu Kiong, seharusnya lebih dulu kehabisan tenaga setelah bertarung lebih dari seratus jurus.

Begitu pertarungan sudah mencapai jurus ke dua ratus, tiba-tiba si misterius membentak,Cukup!!!. Lalu Bu Kiong merasa tenaganya ditarik oleh lawannya tanpa bisa dicegah dan pegelangan tangan kanannya tertangkap oleh orang misterius itu. Ketika Bu Kiong meronta untuk melepaskan tangannya, orang misterius itu melemparnya ke belakang dengan tenaga lembut sehingga Bu Kiong bisa mendarat ditanah tanpa terluka.

Bu Kiong mengerti bahwa si misterius ini mengampuni nyawanya, kalau tidak tentu sewaktu tangannya tertangkap dengan gampang si misterius itu menghantamkan tangannya ke batok kepala Bu Kiong dan membuatnya mampus seketika. Lagipula sepertinya si misterius ini dapat menaklukkannya sebelum jurus ke seratus. Hanya saja karena bermaksud mengujinya, dia membiarkan Bu Kiong menyerangnya hingga dua ratus jurus.

Bu Kiong segera menjura kepada si misterius sambil berkata,Siawte Bu Kiong mengaku kalah dan merasa kagum dengan kepandaian cianpwe. Kalau pemilihan Bu-lim Beng-cu berdasarkan kepandaian, cianpwe adalah orang yang tepat di posisi Beng-cu tersebut. Hahaha sayangnya aku tak tertarik dengan posisi Bu-lim Beng-cu. Kalau aku mau tentu sudah bertahun-tahun yang lalu aku sudah dipanggil Beng-cu. Cita-citaku lebih tinggi dari hanya sekedar menjadi Beng-cu!

Bu Kiong terkejut mendengar kata-kata si misterius,Apakah cianpwe..

Ya, betul, si misterius memotong kata-kata Bu Kiong, Memang aku ingin menjadi kaisar. Aku tidak pernah menceritakan hal ini kepada orang yang baru kukenal kecuali kau. Karena aku percaya padamu dan yakin kau pasti bisa membantuku meraih ambisiku ini. Kalau cita-citaku tercapai, bukan hanya menjadi Beng-cu, jabatan tinggi di istana kaisar pasti akan kau peroleh.

  ooOoo  

Apa kau bilang? Orang itu berani mengatakan ingin memberontak? Ban Su To Niocu memotong cerita Bu Kiong saking terkejutnya.

Ya, dia bilang keluarga Chu tidak pantas menduduki tahta kekaisaran karena Chu Goan Ciang menggunakan tipu muslihat curang untuk mendapatkan tahta, sehingga keturunan she Chu juga tidak berhak menjadi kaisar.

Siapakah namanya? bagaimana pula tampangnya? Tanya Ban Su To Niocu penasaran.

Sayang sekali selama 5 kali bertemu dalam 2 tahun ini, satu kalipun dia tidak pernah menyebutkan namanya. Bahkan 5 kali bertemu, tampangnya juga selalu berubah dari tampang kakek-kakek, orang setengah umuran sampai tampang anak muda dengan suara yang berbeda- beda. Dengan demikian aku juga tidak tahu perkiraan usianya. Orang itu benar-benar luar biasa. Selain ilmu silatnya sangat tangguh, pintar bersiasat dan ahli menyamar pula.

Lalu engkau sendiri mengapa menceritakan hal ini kepada kami? Bukankah kami dapat mengadukan dirimu pada pihak kerajaan dengan tuduhan memberontak? tanya Ban Su To Niocu.

Sebab setelah pertemuan terakhirku dengannya aku baru menyadari betapa berbahaya orang gila berambisi seperti dirinya jika mendapatkan kekuasaan kaisar ditangannya. Rakyat yang sudah hidup tenang dimasa damai sekarang tentu akan lebih menderita.

Kali ini Yelu Ceng yang bertanya,Apa yang diminta oleh orang aneh itu kepada cianpwe?

Pertama kali bertemu dia memintaku untuk menyebarkan desas desus mengenai Jit Goat Siang Pokiam. Aku sendiri tidak tahu ada apa dibalik keistimewaan sepasang pedang pusaka itu. Tetapi yang pasti pada pertemuan kedua dia mengatakan kalau berita tentang sepasang pusaka itu tentu akan menyebabkan ketidakstabilan dan gejolak di dunia kang-ouw. Bila tiba saatnya aku akan dimintanya maju kedepan mengatasi kekacauan, memimpin dunia kang-ouw sebagai Bu-lim Beng- cu dan membantunya dari belakang dalam merebut tahta. Hanya saja supaya kekacauan lebih parah, dia menyuruh beberapa orang anak buahnya membunuhi beberapa tokoh dunia persilatan. Tahukah kalian kalau orang yang membunuh wakil ketua Siaw-lim pai Tiong-ki Taysu, Bu-liang Tosu dari Bu-tong pai dan Siang-wi siansing dari Hoa-san pai adalah orang-orang suruhannya.

Astaga! Orang gila ini benar-benar licik. Rupanya dia bilang keladi ketegangan hubungan antar perguruan besar kang-ouw selama dua tahun ini. Selama ini tersebar kabar simpang siur kalau semua tokoh partai besar yang tewas itu karena berebut Jit Goat Siang Pokiam

Betul, hal ini baru kuketahui langsung dari mulut orang itu. Pada saat itulah aku memutuskan untuk merebut sepasang pedang pusaka supaya bisa kusimpan diam-diam hingga keributan berakhir. Paling tidak aku bisa mencegah terjadinya pertumpahdarahan lebih lanjut. Mengapa tidak kau laporkan hal ini ke istana kaisar?tanya Ban Su To Niocu.

Karena secara tanpa sadar orang itu pernah kelepasan kata-kata yang secara tidak langsung menyebutkan kalau dirinya adalah orang dalam istana kaisar, bahkan sepertinya menjabat kedudukan penting, sahut Bu Kiong dengan suara semakin lemah.

Wajah Ban Su To Niocu menjadi pucat pasi mendengar jawaban itu.

Tiba-tiba Bu Kiong muntah darah lagi dan kali ini terlihat darah yang keluar warnanya semakin gelap. Cepat dia menoleh pada Ban Su To Niocu dan Yelu Ceng sambil berkata lemah,Aku ingin memberikan pesan terakhir mengenai Bu-kee-cung dan keluarga Bu pada keponakanku ini, harap anda berdua menghormati hal ini.

Ketika Ban Su To Niocu dan Yelu Ceng menghampiri Toan kongcu yang masih pingsan, segera Bu Kiong berkata pada Dian Long yang sedang memangku pamannya sambil mengerahkan tenaganya membantu Bu Kiong menahan racun yang sudah menyebar,Long-ji, nanti katakanlah pada paman ke-dua mu agar memegang jabatan cungcu sementara hingga dipilihnya kepala dusun yang baru.

Baiklah Toa-siok, sahut Dian Long sambil berlinangan air mata seperti A Hu yang juga duduk di sampingnya.

Untukmu sendiri aku memberikan tugas berat menjaga nama baik dan keamanan Bu-kee-cung. Jika semua urusan sudah selesai, pelajarilah ilmu tata letak pat-kwa dan ilmu lima unsur lalu pergilah ke kompleks pemahkaman luluhur keluarga Bu dan gunakan pengetahuan itu untuk menemukan kauw-koat pusaka keluarga Bu.

Tapi aku..kata Dian Long

Aku tahu kalau bakatmu untuk belajar ilmu silat jauh lebih hebat dibandingkan aku, hanya saja karena kau suka keluyuran latihan silatmu jadi terbengkalai. Mulai sekarang kau harus giat melatih kauw-koat itu sampai sempurna. Aku takut orang misterius itu akan mengincar Bu-kee-cung jika tahu aku telah melawan kehendaknya. Tugasmulah untuk menjaga Bu-kee-cung dimasa depan, jangan sampai mengecewakan aku, lanjut Bu Kiong dengan napas semakin melemah.

Jagakampung.dan..keluarga Bukata Bu Kiong kali ini sambil menutup matanya dengan napas terengah-engah. Setelah itu beberapa saat kemudian berhentilah napasnya karena nyawanya telah lepas dari tubuhnya.

Tinggallah Dian Long dan A Hu menangis tersedu-sedu hingga menarik perhatian Ban Su To Niocu dan Yelu Ceng yang masih berusaha menyadarkan Toan kongcu. Menyadari kondisi Toan kongcu tidaklah berbahaya, mereka berdua menghampiri Dian Long. Yelu Ceng memeriksa keadaan Bu Kiong dan akhirnya menghela napas panjang.

Beliau sudah tiada.

JIT GOAT SIANG POKIAM

Epilog - tamat

Beberapa saat kemudian, Dian Long mengangsurkan Goat Pokiam kepada Ban Su To Niocu sambil berkata,Aku akan pulang ke Bu-kee-cung mengurus jenazah pamanku, harap Niocu bersedia memberikan penawar racun untukku. Tentu saja aku akan menepati kata-kataku, kata Ban Su To Niocu sambil mengambil sebuah bungkusan dari dalam bajunya, Inilah resep Yo-bi-su dan madu tawon asmara yang sudah kuracik., tinggal diseduh dengan air panas dan diminum 1 kali sehari. Dalam waktu seminggu racun tawon asmara akan hilang tanpa mengganggu lweekang yang kau peroleh dari tawon asmara.

Setelah memberikan pedang dan menerima bungkusan obat, Dian Long mengangkat tangannya untuk berpamitan. Tapi Yelu Ceng menggapai tangannya sambil berkata, Tunggu dulu Bu-Hiante, ada yang ingin kubicarakan denganmu dan Niocu.

Hmmmhal apa yang ingin engkau bicarakan? tanya Ban Su To Niocu.

Walaupun aku sebenarnya tidak ingin ikut serta dalam urusan ini, tetapi mengingat orang yang berada dibelakang peristiwa ini sangatlah berbahaya terpaksa aku Yelu Ceng ikut campur tangan. Niocu, bukankah tapi Bu Kiong cianpwe mengatakan kalau tokoh misterius itu adalah orang dalam istana kaisar malah kemungkinan besar mempunyai kedudukan tinggi, apakah tidak berbahaya kalau Jit Goat Siang Pokiam dibawa pulang ke istana kaisar?

Jadi, bagaimana pendapat Yelu-sicu mengenai hal ini? tanya Ban Su To Niocu.

Ah, aku yang bodoh ini sebenarnya tak pantas memberi pendapat didepan orang kang-ouw yang berjuluk Ban Su To.

Pendapat dari keturunan Kwee Ceng Tayhiap tentu saja berharga untuk didengar. Katakanlah, lanjut Ban Su To Niocu.

Baiklah. Mengingat tokoh misterius itu kemungkinan besar berada didalam istana kaisar, sebaiknya kedua pedang pusaka hendaklah dibawa terpisah. Kalaupun tokoh misterius itu dapat merebut salah satu pedang yang dibawa ke istana, pedang yang lain masih dapat diselamatkan dari tangan tokoh misterius itu. Menurut pendapatku, jika Jit Pokiam dibawa oleh Niocu ke kota raja Beiping untuk diserahkan kepada kaisar, Goat Pokiam biarlah tetap berada ditangan Bu- Hiante. Anggap saja Niocu meminjamkannya untuk sementara waktu. Toh jika Niocu ingin mengambilnya kembali tidak sulit untuk mencarinya di Bu-kee-cung. Lagipula aku percaya Bu- Hiante bukanlah manusia rendah yang ingin mengangkangi pusaka milik orang lain.

Tapi Yelu-twako, aku tidak. belum sempat Dian Long menjawab, Yelu ceng sudah memotong

ucapannya.

Hendaklah hiante mau menerima pinjaman. Bagaimanapun hal ini untuk kebaikan dunia kang- ouw. Apakah hiante menginginkan kematian paman hiante sia-sia begitu saja?

Tapi kalau Niocu tidak kali ini yang memotong ucapan Dian Long adalah Ban Su To Niocu.

Aku setuju, memang ide Yelu-sicu cukup baik. Akupun tadi berpikir untuk memisahkan kedua bilah pedang pusaka ini. Jika keadaan sudah tenang, aku akan menjemput kembali Goat Pokiam, kata Ban Su To Niocu sambil menyerahkan kembali Goat Pokiam kepada Dian Long.

Dian Long menerima Goat Pokiam kembali dengan serba salah.

Baiklah, siawte akan menjaga pedang ini dengan sebaik-baiknya sampai Niocu kembali mengambilnya. Sekarang siawte mohon diri terlebih dahulu, kata Dian Long sambil bersoja kepada Ban Su To Niocu dan Yelu Ceng. Yelu Ceng membalas penghormatan Dian Long dan juga bersoja pada Ban Su To Niocu sambil berkata, Urusan meminjam pedang ini sebaiknya dirahasiakan diantara kita bertiga, karena semakin sedikit orang tahu akan semakin baik. Sambil melirik Toan kongcu yang berada cukup jauh dibawah pohon sedang bersemedi memulihkan luka dalamnya dan A Hu yang berlutut disamping jenazah Bu Kiong. Dan cayhe juga mohon diri untuk berkelana sambil mencari informasi tentang rencana tokoh misterius itu. Lagipula, cayhe ini termasuk masih baru dan belum berpengalaman didunia kangouw, sekalian menimba pengalaman.

Baiklah kalau begitu. Harap kalian hati-hati karena bagaimanapun kepandaian dan kelicikan tokoh misterius itu jauh diatas kita. Bu Kiong yang berkepandaian hebat itu saja bisa kalah dalam seratus jurus. Benar-benar musuh yang berbahaya! Kalau ada informasi menarik harap kalian tidak segan mencariku di kota raja Beiping, kata Ban Su To Niocu.

Ketiga orang itu saling menghormat satu sama lain. Setelah itu Yelu Ceng kembali ke arah sungai tempat dia meninggalkan perahunya tadi, sedangkan Dian Long mengajak A Hu pergi sambil memapah jenazah Bu Kiong.

Tinggal Ban Su To Niocu yang menunggu Toan kongcu sambil memperhatikan Bu Dian Long pergi dan bergumam,Anak muda ini dalam dua atau tiga tahun kedepan pasti akan menggegerkan dunia persilatan. Dugaanku ini takkan mungkin meleset.

Ketika matahari hampir terbenam, Ban Su To Niocu beserta Toan kongcu telah pergi menuju ibu kota Beiping. Terlihat dipinggir hutan, tempat bekas pertempuran tadi berlangsung, tujuh orang gadis berlutut didepan mayat Tee-It Thian-Mo entah dengan perasaan sedih ataukah perasaan terbebas dari kekangan. Matahari senja yang kemerahan menyinari ketujuh gadis yang menggotong pergi mayat Tee-It Thian-Mo dan menjadi saksi atas kejadian awal dari peristiwa besar yang akan terjadi dua-tiga tahun di depan.

  ooOoo  

TAMAT