Jit Goat Sang Pokiam Bab 4. Dian Long merebut Goat Pokiam

Bab 4. Dian Long merebut Goat Pokiam

Kembali ke cerita Bu Dian Long. Sebuah bungkusan kulit kambing yang berbentuk panjang pipih terjatuh dari pegangan seorang gadis berbaju hijau yang terjatuh tidak jauh dari tempat Dian Long berdiri. Gadis yang berbaju hijau cepat berdiri untuk mengambil bungkusan tersebut, hanya saja dia masih kalah cepat dengan Bu Dian Long yang kulitnya telah berubah menjadi belang-belang kuning dan hitam. Benda panjang pipih yang terbungkus kulit kambing itu seketika diambil oleh Bu Dian Long.

Gadis baju hjau itu langsung berteriak khawatir, kembalikan barang milikku.

Penasaran demi melihat kekhawatiran gadis baju hijau, tentu bungkusan itu merupakan benda berharga. Hal ini menjadikan Dian Long tidak sabaran membuka bungkusan dan terlihat sebuah pedang yang langsung diloloskan dari sarungnya oleh Dian Long. Memancar sinar temaram kebiruan dari batang pedang tersebut seraya diterangi sinar matahari.

Dian Long pernah mendengar desas-desus bentuk Jit Goat Siang Pokiam sebelumnya. Inikah Pedang pusaka rembulan yang terkenal itu pikir Dian Long sambil memandang pedang aneh itu. Goat Pokiam ternyata sebuah pedang yang lebih pendek dari pedang biasa, berwarna gelap dan memancarkan hawa dingin. Sisinya tidak lurus seperti pedang biasa melainkan berlekuk, hingga ada 7 lekukan seperti yang dihitung oleh Dian Long. Bagian tengahnya terlihat ukiran yang indah, ukiran ini belum pernah dilihat Dian Long seumur hidupnya dan sepertinya pembuat pedang ini bukanlah berasal dari tanah tionggoan. Yang lebih mengherankan lagi pedang tersebut hanya tajam diujung tapi tidak disisi, sisinya tumpul dan kasar. Terlihat jelas pedang itu belum selesai ditempa penuh oleh empu pembuatnya.

Nanti aku akan memperlihatkan pedang ini pada Gan Bi To Siansing. Beliaukan sering berpergian ke negeri asing dan banyak melihat hal aneh. Beliau kemungkinan besar mengenal asal pedang aneh ini, pikir Dian Long.

Bu Dian Long sama sekali tak menyangka kalau Goat Pokiam dibuat ditanah asal Gan Bi To Siansing di Pulau Jawa dan biasanya disebut oleh orang setempat dengan nama keris. Tak disangkanya pula kalau senjata yang digenggamnya itu mempunyai riwayat berdarah mengerikan. Pembuat keris itu sendiri mati dibunuh oleh pemesan keris dengan menggunakan keris yang belum selesai dibuatnya olehnya sendiri. Sebelum mati pembuat keris mengutuk pembunuhnya kalau keris yang belum selesai ditempa itu akan membunuh si pemesan beserta 7 keturunan anggota keluarganya.

Kutukan itu ternyata menjadi kenyataan, dimana si pemesan yang nantinya naik tahta menjadi Raja kemudian terbunuh oleh keris yang belum selesai ditempa tersebut. Begitu juga dengan 7 keturunannya yang saling berebut tahta tewas karena tertikam oleh keris yang sama. Raja keturunan terakhir merasa keris pusaka keluarganya tersebut terlalu mengerikan untuk dipakai olehnya, sehingga memutuskan untuk menyimpannya di ruang penyimpanan pusaka kerajaan.

Ketika Kaisar Mongol dinasti Goan(Yuan) Kubilai Khan mengutus seorang jenderalnya yang bernama Meng Ki ke tanah jawa untuk memaksa Raja tanah jawa tersebut mengakui kekuasaan kekaisaran Mongol, Raja jawa yang merasa terhina memotong kuping Jenderal Meng Ki. Meng Ki merasa sakit hati dan sebelum pergi meninggalkan tanah jawa ia menyuruh 4 orang pengawalnya yang memiliki ilmu silat tinggi mencuri benda pusaka yang paling berharga di dalam kamar penyimpanan pusaka keraton raja jawa. Penjaga kamar penyimpan pusaka raja ternyata orang yang berilmu sangat tinggi. Sedirian dia mampu menghadapi 4 pengawal Meng Ki tanpa kesulitan, malah berhasil membunuh 3 diantaranya. Satu orang pengawal Meng Ki berhasil lolos dengan luka parah sambil membawa sebatang keris yang dicuri dari kamar penyimpanan pusaka. Setelah menyerahkan keris tersebut pada Meng Ki, ia pun ikutan tewas menyusul rekannya.

Meng Ki yang pulang kembali ke tanah tionggoan melaporkan kejadian yang dialaminya kepada Kaisar Kubilai Khan sambil mempersembahkan benda pusaka berupa keris yang berhasil dicuri tersebut kepada Khan yang agung. Walaupun belum selesai ditempa dan sisinya masih tumpul, keindahan ukirannya tiada taranya. Lagi pula dengan hawa dingin dan cahaya temaram kebiruan yang dihasilkannya membuktikan kalau keris tersebut adalah senjata pusaka. Khan yang agungpun memutuskan untuk menyimpannya secara pribadi. Karena gagangnya yang aneh bagi orang tionggoan yang biasanya bergaman pedang dan golok, Khan yang agung memerintahkan seorang pandai besi istana untuk mengganti gagang keris tersebut dengan gagang baru berupa gagang pedang yang juga berukir indah. Jadilah keris tersebut menjadi sebilah pedang aneh tiada duanya dan diberi nama baru oleh kaisar mongol sebagai Goat Pokiam.

Sewaktu dinasti Goan berhasil dihancurkan dan digantikan oleh dinasti Beng, Goat Pokiam turut menghilang dari istana kaisar. Entah dari mana datangnya, tahu-tahu Goat Pokiam muncul bersamaan dengan Jit Pokiam dan dijadikan sepasang pedang pusaka perebutan kaum kang-ouw.

Hawa dingin yang dipancarkan pedang pelahan menyusup ke tubuh Dian Long melalui tangannya yang menggenggam pedang. Walaupun Dian Long merasa kepalanya panas membara karena nafsu birahi yang ditimbulkan tawon asmara, tapi hawa dingin pedang justru mendinginkan hatinya dan membuatnya bisa mengendalikan birahinya. Bu Dian Long merasa cocok dengan pedang ini, karena ia bisa memanfaatkan lweekang luar biasa dari tawon asmara tanpa kehilangan kendali akibat nafsu birahi.

Sungguh aneh bila memandang Bu Dian Long sambil bergaman Goat Pokiam. Seorang pemuda berkulit belang-belang kuning hitam sedang menggenggam pedang pendek berlekuk aneh yang memancarkan hawa dingin. Bagaikan tawon raksasa yang memegang penyengatnya dengan tangan

Ketika Dian Long menyimpan pedang kembali kedalam sarungnya, tiba-tiba sekelebat bayangan0orang berbaju putih menyambar ke salah satu gadis Jit-tok Hoa berbaju kuning yang juga terbanting roboh oleh pukulan Dian Long. Tanpa disadari si baju kuning, orang berpakaian putih itu sudah mengambil bungkusan kulit kambing yang juga terjatuh dari dalam baju luar gadis berbaju kuning dan kemudian terbang ke arah Dian Long sambil berseru,Serahkan Goat Pokiam!

Kaget Dian Long dengan serangan yang menimbulkan pukulan bercuit keras itu, seketika Dian Long mengangkat tangan kanannya yang kosong memapak serangan itu dengan tapaknya.

Duaarrrrr.!!!!

Dian Long tergetar mundur sampai 3 tindakan, tetapi lawannya yang berbaju putih itu mencelat mental dan terhempas keras. Kaget ia akan tenaga lawan yang berlipat diatas tingkatannya sambil memuntahkan sedikit darah karena benturan itu mengguncang isi dadanya.

Dian Long bengong menatap seorang perempuan cantik dan anggun dihadapannya0memegang bungkusan kulit kambing pipih panjang ditangan kirinya. Wajah wanita itu putih bersih dan mulus dengan mata mencorong angkuh bagaikan orang disekitarnya tidak lebih dari hamba sahaya.

Wanita jelas jauh lebih kuat daripada Hwesio cabul yang dihadapinya tadi.

Wanita itu menunjuk ke arah Dian Long sambil berkata, Maling hina! setelah mencuri makan tawon asmaraku yang langka, lalu sekarang kaupun ingin mencuri Goat Pokiam!!

Terkejut Dian Long mendengar kata-kata itu. Setahunya tawon asmara dipelihara oleh tokoh yang terkenal puluhan tahun yang lalu bernama Ban Su To Niocu. Kalau Ban Su To Niocu malang melintang 30 tahun yang lalu, paling tidak usianya sekarang sekitar 50 tahunan. Tapi menurut taksiran Dian Long, wanita ini paling tua baru sekitar 30 tahun. Ragu-ragu Dian Long hendak menjawab.

Wanita itu langsung menukas,Siapa lagi ditanah tionggoan yang memelihara tawon asmara selain aku, Ban Su To Niocu! Kau pikir cuma kau seorang yang pernah memakan tawon asmara? Sungguh ceroboh kau mencuri dan memakan tawon asmara, tahukah kau kalau hidupmu tinggal 3 bulan lagi?

Maafkan siawte yang tidak mengenal Locianpwe yang mulia, kata Bu Dian Long

Mendengar kata-kata Dian Long, wajah wanita itu terlihat keruh. Seketika Dian Long sadar atas kesalahannya. Wanita manapun tentu tidak suka disebut sebagai orang tua, walaupun sudah umuran. Segera Dian Long menyambung,Niocu bilang selain siawte masih ada orang lain yang pernah memakan tawon asmara, apakah orang itu Niocu sendiri? Tapi mengapa tenaga Niocu tidak......

Wajah Ban Su To Niocu kembali seperti sedia kala sambil menjawab.

Orang tolol sepertimu mana mengerti ilmu hayati, tahukah kau kalau laki-laki dan wanita punya hormon yang berbeda? Walaupun efek sengatan tawon asmara pada laki-laki dan wanita sama saja tapi kalau memakannya jelas beda. Selain kulit belang dan efek mata keranjangmu itu muncul pada kedua jenis kelamin, efek lainnya tidak lah sama. Kalau pada lelaki akan timbul lweekang yang tingginya berlipat, pada perempuan justru menjadi obat awet muda. Aku memakan tawon asmara 25 tahun yang lalu, menurutmu bagaimanakah tampangku sekarang?

Aih Terdengar sura pekikan lirih dari keenam gadis yang berdiri hanya mendengarkan Dian Long

dan Ban Su To Niocu berbicara. Perempuan manapun pasti tertarik pada obat awet muda, apalagi mereka melihat bukti langsung didepan mata. Wajah ke enam gadis itu terlihat sangat tertarik dengan obat awet muda Ban Su To Niocu. Walaupun mereka melihat benda terbungkus kulit kambing itu ada ditangan Ban Su to Niocu, mereka tidak berani bertindak gegabah.

Huh, jangan harap kalian mendapatkan tawon asmara. Dari sekian banyak tawon peliharaanku, tawon asmaraku hanya tinggal seekor dan itupun sudah dimakan oleh pemuda tolol itu, kata Ban Su To Niocu sambil menjengek pada ke enam gadis tersebut.

Lagi pula kalau makan tawon asmara tanpa penawar, tentu akan menghadap Giam-lo-ong dalam waktu 3 bulan kedepan Lanjut Ban Su To Niocu.

Siawte sudah memesan resep obat penawar Yo-bi-su, dan dalam waktu dekat siawte pasti akan mendapatkan Yo-bi-su itu

Huh memang kalau makan resep obat penawar Yo-bi-su dapat menghilangkan pengaruh racun

tawon asmara termasuk lweekang luar biasa yang kau punya. Tapi apa kau tidak sayang melepas tenaga sakti yang langka itu begitu saja?

Tentu saja Dian Long merasa sayang, hanya saja apa yang harus dilakukannya?

Apa kau pikir selama 25 tahun kenapa aku masih hidup dan awet muda begini tanpa sebab tertentu? Tanpa menunggu jawaban Ban Su To Niocu melanjutkan ucapannya.

Penyebabnya adalah madu tawon asmara yang dicampur obat penawar Yo-bi-su bisa menghilangkan racun tawon tanpa menghapus lweekang bagi lelaki dan awet muda yang didapat bagi perempuan. Jika kau mau memberikan Goat Pokiam kepadaku, akan aku serahkan madu tawon asmara yang sudah dicampur dengan obat Yo-bi-su kepadamu. Bagaimana?

Air muka Bu Dian Long terlihat bingung dengan pilihan ini, tapi Ban Su To Niocu melihat jelas kalau kulit belang Dian Long perlahan memudar selama mereka berdua berbicara panjang lebar. Rupanya perhatian Dian Long mulai beralih dari nafsu birahi. Cepat Ban su To Niocu melanjutkan taktik mengulur waktu, karena tahu kekuatan utama Dian Long sangat bergantung pada lweekang racun tawon asmara.

Ngomong-ngomong siapa namamu?

Siawte Bu Dian Long dari Bu-kee-cung, jawab Dian Long

She Bu dari Bu-kee-cung? Bukankah turun temurun Cungcu (kepala kampung) dari Bu-kee-cung adalah keluarga Bu keturunan dari Siang-Yang Siang-Liong (sepasang naga dari Siang-Yang) Bu Tun-Ji dan Bu Siau-Bun murid Kwee Ceng Tayhiap?

Terkejut Dian Long mendengar ucapan ini. Jarang sekali ada orang yang mengetahui silsilah keluarganya.

Julukan Ban Su To (berpengetahuan selaksa) cocok sekali dengan Niocu. Memang keluarga Bu kami masih keturunan Bu bersaudara murid Kwee Ceng Tayhiap dan Cungcu sekarang adalah Toa-siok (paman) siawte sendiri, Paman Bu Kiong. Setelah moyang kami Bu bersaudara gugur membela kota Siang-Yang, keluarga Bu kami masih tetap berjuang untuk mengusir bangsa mongol dari tanah tionggoan. Pada saat bangsa mongol terusir dan dinasti Beng berdiri, kakek Bu berpesan kepada anak keturunannya agar tinggal di Bu-kee-cung tanpa mencampuri urusan politik dan dunia kang-ouw, jelas Bu Dian Long.

Mencampuri urusan politik dan dunia kang-ouw? Emangnya keluarga Bu kalian itu punya kemampuan apa? Apa itu Siang-Yang Siang-Liong? Bu bersaudara moyangmu itu tidak lebih dari gentong kosong yang keberatan nama julukan, malah memalukan nama besar Kwee Tayhiap.

Apalagi kalau dibandingkan dengan nama keponakan Kwee Tayhiap, Yo Ko yang berjuluk Sin Tiaw Tayhiap. Nama Bu bersaudara cuma keroco tak ada artinya! ejek Ban Su To Niocu.

Merah padam muka Bu Dian Long mendengar leluhurnya diejek sedemikian rupa.

Ya, merah padam. Karena belang di wajah Dian Long sudah pudar seluruhnya. Rupanya ejekan Ban Su Ti Niocu bertujuan mempercepat hilangnya pengaruh racun tawon asmara. Sebagai pemelihara, Ban Su To Niocu tentu mengerti sifat-sifat dan pengaruh racun tawon asmara. Nafsu marah Bu Dian Long rupanya mempercepat hilangnya nafsu birahi.

Leluhurku Bu bersaudara memang tidak dapat menyaingi kebesaran nama Kwe Tayhiap dan Yo Tayhiap, tapi paling tidak jiwa patriot mereka tidak kalah dibandingkan Chu Goan Chiang! balas Dian Long membela leluhurnya.

Terkesiap juga Ban Su To Niocu mendengar kata-kata Dian Long yang menyinggung nama kaisar pertama dinasti Beng yang juga terhitung pamannya. Walaupun Dian Long tidak mengetahui kalau she (marga) Ban Su To Niocu adalah she Chu, tapi kata-kata ini menyinggung keangkuhan Ban Su To Niocu yang merasa dirinya berdarah bangsawan.

Tiba-tiba terdengar suara tawa terbahak-bahak dan dari arah hutan berjalan seorang kakek berpakaian perlente diikuti seorang gadis yang berjalan dibelakangnya.

Hahaha 30 tahun tidak berjumpa, malah sekarang melihat Ban Su To Niocu sedang berdebat

dengan seorang bocah.

Melihat kedatangan kakek ini, Ban Su To Niocu tidak jadi menggebrak Dian Long. Keenam gadis Jit-tok Hoa berlutut didepan kakek itu sambil berkata Suhu, Teecu memberi hormat

Disambung kemudian oleh nona nomor dua dari Jit-tok Hoa, Hoa-Gan Sia-Hun mewakili sumoay- nya.

Teecu sekalian sudah berhasil merampas kedua pusaka dari para piawsu, tetapi kemudian dua orang ini merebutnya dari kami

Hehehe kalau Ban Su To Niocu sudah turun tangan, kalian bisa apa? Sudahlah, biar selanjutnya

aku yang urus, Kata si kakek sambil tertawa.

Ke enam nona mengucapkan terima kasih sambil bangkit dan menghampiri nona yang berada dibelakang kakek tersebut.

Kiam Hoa suci, engkau tidak apa-apa? Kiam Hoa suci, apakah engkau terluka?

Mereka berbarengan bertanya kepada nona yang ternyata Cui Beng Kiam Hoa adanya.

Rupanya ketika sedang mencari 6 saudaranya dia bertemu dengan gurunya Tee-It Thian-Mo, kemudian bersama-sama mencari ke enam Jit-tok Hoa yang lain.

Ah, namanya Kiam Hoa rupanya, pikir Dian Long sambil memperhatikan kakek yang baru datang dengan seksama.

Niocu, bukankah bungkusan yang kau pegang itu salah satu dari Jit Goat Pokiam? tanya Tee-It Thian-Mo asal-asalan seperti tidak perduli. Padahal matanya mencorong menatap bungkusan ditangan Ban Su To Niocu dan pedang ditangan Bu Dian Liong.

Kau mengirim murid-murid mu untuk merampas barang hantaran yang kumiliki. Tentu saja kau sudah tahu benda apa yang kupegang sekarang, hanya saja aku heran, darimana kau mendapat kabar hantaran rahasia ini? kata Ban Su To Niocu.

Hahahaha Bukan hanya mata-mata kaisar Beng saja yang tersebar didunia ini, jaringan mata-

mata Hiat-ouw (Danau Berdarah) tidak kalah hebatnya. Apalagi, apa sih yang tidak bisa dibeli dengan uang, kata Tee-It Thian-Mo sambil sekilas melirik pedang ditangan Bu Dian Long.

Tee-It Thian-Mo berpikir,Walaupun pemuda ini bisa merampas Goat Pokiam yang pendek, tentu kepandaiannya tidaklah sehebat Ban Su To Niocu. Kalau Goat Pokiam sudah ada ditanganku, akan lebih mudah menghadapi Ban Su To Niocu.

Tiba-tiba Tee-It Thian-Mo meloncat ke arah Ban Su To Niocu sambil berseru,Serahkan Pokiam!

Memang sejak datangnya kakek iblis ini, Ban Su To Niocu sudah waspada, begitu si kakek melompat ke arahnya Ban Su To Niocu sudah siap menerima serangan.

Tak disangkanya Tee-It Thian-Mo tidak meneruskan serangannya, malah secara mengejutkan dia membalikkan arah serangan ke ulu hati Bu Dian Long sambil sebelah tangannya mencengkeram pedang ditangan kiri Dian Long. Serangan ini sangatlah dahsyat karena Tee-It Thian-Mo menggunakan ilmu andalannya Hek-hiat Tok-jiaw (cakar beracun darah hitam) yang menyebabkan tangan kakek itu berwarna kehitam-hitaman sampai pangkal siku. Jika sampai terkena cakarnya, nyawa Dian Long akan melayang karena keracunan. Dian Long tidak menyangka kalau kakek licik ini akan bertindak sedemikian rupa. Untung saja Dian Long sadar kalau pengaruh racun tawon telah sirna, sehingga Dian Long tidak berani menerima langsung pukulan. Cepat dicabutnya Goat Pokiam sambil mengelak serangan dan menebas tangan Tee-It Thian-Mo yang ingin mencengkeram tangan kirinya.

Pedang belum sampai tapi hawa dinginnya sudah terasa mengiris tangan, cepat kakek iblis itu menarik tangannya sambil melancarkan tendangan sebagai serangan susulan. Kali ini Dian Long sudah siap, dibelokkannya arah pedang ke kaki Tee-It Thian-Mo yang sedang menendang.

Kembali hawa dingin Goat Pokiam serasa mengiris kakinya membuat Tee-It Thian-Mo membatalkan serangannya.

Benar-benar hebat Goat Pokiam, hawa pedangnya saja sudah sanggup melukai lawan sebelum serangan sampai, padahal sisi pedangnya sendiri tumpul. Untung saja Tee-It Thian-Mo memiliki lweekang tinggi sehingga bisa terhindar dari tebasan hawa pedang. Tapi sedikit saja terlambat, tangan dan kakinya tentu sudah buntung. Menyadari hal ini, Tee-It Thian-Mo semakin ngiler saja untuk mendapatkan Goat Pokiam.

Tiba-tiba dirasakan oleh Tee-It Thian-mo kesiuran angin serangan dari arah samping kanannya sambil terdengar suara Ban Su To Niocu membentak,Selama aku ada disini, jangan harap kau bisa merampas sebilah pedangpun!!

Serangan Ban Su To Niocu sangatlah lihay dan indah. Gerakannya bagaikan burung merak yang anggun, indah mempesona tetapi sangatlah berbahaya. Inilah gerakan dari jurus burung merak berebut mestika

Kali ini terjadi pertempuran segi tiga yang aneh. Sebenarnya Ban Su To Niocu dan Tee-It Thian- Mo lah yang bertempur dan Bu Dian Long terjepit ditengah-tengah pertempuran. Sambil bertempur kedua tokoh kosen itu saling mencari kesempatan untuk merampas pedang ditangan Dian Long. Hanya saja kalau ada yang bergerak menyerang Dian Long satu sama lain saling menghalangi dan melindungi Dian Long karena tidak ingin Goat Pokiam jatuh ketangan lawan.

Dian Long paham akan kondisinya yang terjepit, ilmu silatnya masih kalah matang dengan kedua tokoh ini dan tanpa lweekang dari racun tawon asmara, dia bukanlah tandingan mereka. Selain karena Ban Su To Niocu dan Tee-It Thian-Mo saling menjegal, beruntung dia masih memiliki Goat Pokiam yang hawa dinginnya menyebabkan Ban Su To Niocu dan Tee-It Thian-Mo tidak berani menyerang dekat.

Tiba-tiba Dian Long mendapat akal untuk memancing pengaruh racun tawon asmara. Diapun berteriak ke arah Jit-tok Hoa sambil mengelak dari totokan kakek iblis pesolek, Nona Kiam Hoa, Bukankah engkau masih berhutang budi padaku. Tadi kan aku menyelamatkanmu dari hwesio cabul. Tolong bantu aku kali ini

Bingung Kiam Hoa mendengar permintaan Dian Long. Bagaimanapun juga Dian Long telah menyelamatkan kehormatannya tadi. Yang menjawab justru Tee-It Thian-Mo sambil menghindari cengkraman maut Ban Su To Niocu, Kiam Hoa, apa kau mau turun tangan melawan suhu-mu?

Hooiiii, aku tidak memintamu turut bertempur, teriak Dian Long.

Asalkan tidak melawan suhu-ku tentu aku akan membalas budi, balas Kiam Hoa

Kalau tolong buka pakaianmu sedikit saja didaerah dada atau buka sedikit celanamu agar aku bisa melihat pahamu, jawab Dian Long polos. Tentu saja Kiam Hoa kaget dan tergagap terhadap permintaan aneh dan memalukan ini. Karena Kiam Hoa belum menjawab Dian Long menyambung

Kalau kau keberatan, bolehlah kau sedikit menari striptise yang seksi saja

Tee-It Thian-Mo yang tidak tahu menahu dengan kelebihan Dian Long hanya menganggap pemuda itu biang pemogoran dan tertawa terbahak. Tapi Ban Su To Niocu mengerti akal Dian Long yang aneh dan bodoh. Mana mau nona itu melakukan hal yang memalukan didepan orang lain. Entah Dian Long tolol ataukah memang pemuda polos.

Ban Su To Niocu tahu-tahu berbicara kepada Dian Long sambil mengirim serangan cakar ke arah Tee-It Thian-Mo yang terlihat ingin mencengkeram bahu Dian Long.

Tahukah kau pemuda tolol, semakin kau mengumbar nafsu birahimu, semakin cepat racun itu membunuhmu. Bisa jadi sebelum satu bulan kau sudah mampus duluan!

Kaget Dian Long mendengar penjelasan Ban Su To Niocu. Baru dia mengetahui jeleknya efek lweekang super dari racun tawon asmara malah memperpendek umurnya.

Selagi Dian Long bingung, tiba-tiba terdengar suara dari arah sungai, Hehehehe...2 gajah berkelahi, pelanduk ditengah jadi kejepit. Benar-benar dunia kang-ouw ini semakin aneh.

  ooOoo  Spin Off (Latar belakang tokoh)

Latar belakang tokoh - Ban Su To Niocu (fiksi)

Hampir semua orang tahu kalau Chu Goan Chiang sebelum nak tahta menjadi kaisar pertama dinasti Beng adalah seorang rakyat jelata yang pernah berprofesi berbagai macam seperti penggembala, biksu, bahkan preman untuk menyambung hidup ditengah kemiskinan akibat penjajahan mongol. Orang tua dan saudara-saudarinya kebanyakan mati akibat wabah dan kelaparan yang melanda tionggoan. Ketika Chu Goan Chiang naik tahta menjadi Kaisar Hong Wu, satu-satunya saudara yang tersisa yaitu adik perempuannya meninggal dunia setelah melahirkan bayi perempuan yang diberi nama Bi Lian. She (marga) Chu baru saja memegang tampuk kekuasaan kekaisaran yang baru sehingga otomatis she Chu menjadi marga bangsawan kerajaan. Karena itu ayah Bi Lan memutuskan anak satu-satunya menggunakan she ibunya, untuk mengangkat derajat anaknya.

Chu Bi Lan tumbuh besar di kota Yingtian (sekarang Nanking) sebagai keponakan kaisar yang disayangi oleh seluruh anggota keluarga Chu termasuk pamannya kaisar Hong Wu. Sejak kecil, Chu Bi Lan dikenal dekat hubungannya dengan putra ke empat kaisar Hong Wu yang bernama Chu Ti (Zhu Di) bergelar Pangeran Yan. Bahkan ketika Chu Ti di perintahkan ayahnya untuk pindah dan mengurus kota Beiping (sekarang Beijing) yang terkena bencana kelaparan, wabah penyakit dan menghadapi ancaman mongol di utara, Chu Bi Lian ikut pindah bersama kakak sepupunya.

Ketika paman kaisarnya meninggal dunia dan cucu kaisar (anak dari putra mahkota Chu Piao yang meninggal karena sakit) diangkat sebagai kaisar baru yang bergelar Jianwen. Chu Ti yang banyak berjasa bagi dinasti Beng merasa tidak puas, lagi pula kaisar Jianwen terlihat ingin menyingkirkan paman-pamannya yang dilihatnya sebagai batu sandungan bagi mahkota kekaisaran yang di pegangnya. Dari semua pamannya, Jianwen memandang Chu Ti adalah penghalang terbesar.

Maka terjadilah perang saudara yang akhirnya dimenangkan Chu Ti. Pangeran Yan kemudian diangkat sebagai kaisar baru Beng bergelar Yong Le. Selama perang saudara antar she Chu ini, Bi Lian berpihak pada kakak sepupunya Chu Ti. Sejak kecil Bi Lian dikenal sebagai anak yang cerdas dan mendapat pendidikan yang setara dengan anak-anak kaisar yang lain, malah bisa dikatakan dia lebih unggul. Nama Banyak sekali buku-buku pengetahuan yang habis dilalapnya sehingga Bi Lian dikenal sebagai anak yang luas pengetahuannya.

Ketika berumur 12 tahun, Bi Lian diajak menyertai pangeran Chu Ti berburu di hutan sekitar Beiping, Bi Lian terpisah dari rombongan dan tersesat dihutan. Pada saat itu baru 14 tahun dinasti Beng berdiri dan Beiping yang merupakan bekas ibukota dinasti mongol masih dalam keadaan rawan. Bi Lian yang tersesat tentu saja dengan mudahnya bertemu para perampok yang masih banyak berkeliaran disekitar Beiping. Chu Ti yang kehilangan adik sepupu yang disayanginya kalang kabut dan memerintahkan para prajurit mencari Bi Lian disegala pelosok Beiping. Ternyata bukannya Bi Lian ditemukan oleh para prajurit, Bi Lian bahkan pulang sendiri tanpa kurang sesuatu apapun kembali ke benteng Beiping. Ketika ditanya apa yang terjadi selama dia tersesat, Bi Lian hanya menjawab seorang Lihiap (pendekar wanita) telah menyelamatkannya.

Sejak saat itu, Bi Lian sehari penuh dalam setiap minggunya selalu keluar benteng Beiping dan meminta untuk tidak dikawal. Pernah satu kali Chu Ti memerintahkan pengawalnya yang berilmu cukup tinggi menjaga Bi Lian secara diam-diam malah melaporkan setelah keluar benteng dan masuk ke hutan, putri Bi Lian tiba-tiba menghilang bersama seorang wanita yang bisa terbang. Chu Ti maklum kalau Bi Lian bersama orang pandai, sehingga tidak khawatir lagi dikemudian hari.

Ternyata Lihiap yang menyelamatkan Bi Lian telah mengangkatnya sebagai murid, terutama setelah melihat bakat dan potensi yang luar biasa dalam diri Bi Lian. Gurunya sama sekali tidak pernah menyebutkan namanya kecuali she-nya Ciu. Sejak itu Bi Lian memanggil gurunya dengan nama Ciu-subo (ibu guru Ciu) atau subo saja.

Walaupun Ciu-subo sama sekali tidak pernah menyebutkan asal usul dirinya, tetapi ilmu silat yang dimiliki ternyata luar biasa. Ilmu silat andalannya bernama Kong-ciak Sin-na (Cengkeraman sakti burung merak) diturunkannya kepada Bi Lian. Ciu-subo menceritakan kalau Kong-ciak Sin-na pada awalnya merupakan sebuah ilmu luar biasa yang bernama cakar tulang putih sembilan bulan.

Hanya saja karena telengas, selama bertahun-tahun terakhir Ciu-subo berusaha keras untuk memperlembut dan memperlunak ilmu cakar tulang putih sembilan bulan supaya tidak terlalu kejam sehingga terciptalah Kong-ciak sin-na. Malah dahulu menurut Ciu-subo, ada seorang wanita yang bernama Bwe Tiaw-Hong menggunakan tengkorak manusia untuk melatih ilmu keji ini. Ilmu ini banyak menelan korban selama malang melintang di dunia kang-ouw.

Aku juga pernah membunuh orang yang semestinya tidak perlu kubunuh dengan ilmu ini kata Ciu- subo sambil menghela nafas menyesal.

Setelah menceritakan asal usul ilmu Kong-ciak Sin-na, Ciu-subo kembali murung seperti pembawaannya sejak awal bertemu Bi Lian Sepertinya Ciu-subo menyimpan beban berat di dalam pikiran tetapi tidak ingin membagi bebannya pada orang lain. Karena Ciu-subo tidak pernah membicarakan urusannya, otomatis Bi Lian juga tidak ingin bertanya walaupun dalam hatinya ingin membantu meyelesaikan masalah subo-nya. Pembawaan Ciu-subo terkadang aneh. Kadang Ciu-subo terlihat angkuh bagaikan ketua partai perguruan besar, kadang menangis sendiri seperti menyesali sesuatu, tetapi Ciu-subo paling sering terlihat murung.

Selama 5 tahun Ciu-subo melatih Bi Lian dengan keras satu hari penuh dalam seminggu terutama ilmu merak sakti simpanannya. Setelah umur Bi Lian mencapai 17 tahun, tiba-tiba Ciu-subo pergi begitu saja dengan hanya meninggalkan sepucuk surat yang menyatakan dirinya ingin pergi menyepi. Kepergian Ciu-subo membuat Bi Lian bersedih dan memutuskan diam-diam mencari kemana subo-nya pergi. Bi Lian kemudian meminta ijin kepada Chu Ti untuk pergi mengembara mencari pengalaman. Tahu akan kemampuan Bi Lian, Chu Ti-pun mengijinkannya untuk pergi mengembara. Selama perang saudara melawan kaisar Jiangwen, Bi Lian kembali ke Beiping untuk membantu Chu Ti menggulingkan kekuasaan kaisar Jianwen. Nama besar Bi Lian mulai tersiar di dunia kang- ouw. Karena Bi Lian bertindak tanpa pernah meninggalkan nama, dunia kang-ouw memanggilnya dengan nama Ban Su To Niocu (Nona dengan selaksa pengetahuan). Hanya tokoh-tokoh besar saja didunia kang-ouw yang mengetahui bahwa Niocu yang ini masih punya hubungan kerabat dengan kaisar dinasti Beng.

Hanya saja walaupun Ban Su To Niocu tidak pernah melakukan tindakan kejahatan, sikap angkuhnya menyebabkan orang-orang kang-ouw kurang senang. Bagaimanapun Bi Lian masih berdarah bangsawan, sehingga sering memandang rendah orang lain. Walaupun awet muda, hingga berumur 50 tahun, Bi Lian masih belum menikah. Desas desus mengatakan kalau Ban Su To Niocu menganggap rendah para bangsawan yang melamarnya sebagai orang lemah jika dibandingkan dengan kepandaian silatnya. Sedangkan orang-orang kang-ouw yang melamarnya ditolak dengan alasan tidak pantas seorang bangsawan menikah dengan rakyat jelata.

JIT GOAT SIANG POKIAM