Jit Goat Sang Pokiam Bab 2. Racun Tawon Asmara

Bab 2. Racun Tawon Asmara

Si gadis cantik bertubuh menggiurkan yang bernama Cui Beng Kiam Hoa, masih menggeletak di pinggir jalan, setelah ditinggalkan oleh Bu Dian Long secara ter gesa-gesa. Ke enam saudara nya ternyata mengejar ke arah yang salah, sehingga Cui Beng Kiam Hoa masih dalam keadaan tertotok tak berdaya. Hari sudah siang dan dia tetap saja belum bisa membebaskan totokannya.

Mata nya yang indah bagai bintang Kejora plarak plirik mencari asal suara keresekan dedaunan. Dari jauh dia mengenali ada seorang hwesio sedang berlatih silat, jari nya menunjuk-nunjuk seolah olah dia sedang bersilat menggunakan Pedang.

Cui Beng Kiam Hoa berteriak, Hwesio Lo-Suhu tolonglah aku !

Si hwesio gundul terperanjat, langsung melesat mendekati si gadis cantik. Tolong bebaskan totokanku, kata Cui Beng Kiam Hoa dengan suara lirih kepada si Hwesio.

Setelah melihat jelas keadaan si gadis yang setengah telanjang hanya dengan pakaian dalam tipis, yang memperlihatkan lekuk lekuk tubuh yang menggiurkan membuat hwesio itu tertegun

Si Hwesio jadi menggaruk garuk batok kepala nya yang gundul "Hei, keledai gundul, apa yang kau lihat! Mau tolong, ya tolong, mau enyah, silahkan enyah!" Dihardik begitu, si hwesio jadi makin kikuk malah. "Baik, enyah ya enyah" kata hwesio tadi sambil beranjak pergi seperti khawatir akan sesuatu. Melihat si hwesio pergi begitu saja, si gadis menjadi makin kelabakan malah. Tiba-tiba entah muncul darimana, datang seorang pria yang sejatinya pasti seorang yang menarik, tetapi kali ini nampak kumal seperti sudah berhari-hari buron dari sesuatu. Yang menarik dari pria ini adalah kumisnya yang entah bagaimana identik sekali dengan sepasang alisnya.

"Huh..hwesio jujur ternyata tidak sejujur namanya, melihat nona tidak berdaya, malah kabur, gumamnya, Hwesio yang aneh! Tenanglah, akan segera aku buka totokan nona", sambil berjalan menghampiri si nona.

Sebelum sampai dihadapan sinona, si pria berhenti bergerak, wajahnya menampakkan mimik ketakutan.

" Maaf nona, bukannya saya enggan menolong nona, hanya saja malaikat penyabut nyawa telah datang!" katanya sambil kabur begitu saja.

Melihat kejadian yang terjadi didepan matanya, si nona hanya bisa bengong. Tahu-tahu berkelebat bayangan seorang pria melewati si nona belari kearah pria berkumis pergi tadi sambil ngendumel,Orang she Liok, mau lari kemana juga pasti bisa kukejar.

Setelah semuanya sudah lewat, si nona hanya bisa berteriak gegetun"Sialan, siapa mereka!!!???

Si nona semakin bingung, sudah tiga laki-laki yang muncul tapi mereka bukannya membantu malah sama-sama kabur. Benar-benar cocok apa yang dulu dibilang ibunya bahwa semua laki-laki memang tidak berguna. Dari lelaki biasa, lelaki bangsa pemogoran, dan terutama laki-laki macam hweeshio dan tosu yang mengaku bangsa peribadatan.

Cui Beng Kiam Hoa hanya bisa pasrah pada nasibnya sendiri. Padahal biasanya dia begitu teliti mengingat pengalamannya sudah lebih dari 2 tahun berkecimpung didunia kang-ouw menyelesaikan seluruh tugas gurunya dengan sempurna. Dia menganggap remeh Dian Long yang karena tampangnya agak ketololan ilmunya pun juga dianggapnya cetek, ternyata malah dirinya yang ketiban sial. Dia berusaha mengerahkan tenaga dalamnya untuk memunahkan totokan Dian Long, tapi rupanya totokan itu terlalu kuat. Tanpa terasa setitik air mata jatuh ke pipinya.

Semenjak dari perguruan dahulu mereka bertujuh adalah sosok-sosok gadis yang sangat dipuja, semua orang sangat memandang tinggi dan takut pada nama guru mereka. Siapa sangka kali ini saat menunaikan tugas dari gurunya malah seperti ini hasilnya. Tertotok tanpa daya dan terpisah dari keenam saudarinya.

Sedang Cui Beng Kiam Hoa bergelut dalam kebingungannya yang semakin menjadi, gerumbul semak didekat gadis itu kembali bergemerisik. Dengan penuh harap si nona menatap kearah datangnya suara. Namun teriakan yang sudah diujung lidahnya serta merta tertelan kembali, sedang air mukanya pucat laksana mayat. Bukan laki-laki atau perempuan yang muncul kali ini, melainkan ular kembang sebesar betis dengan mata tajam berkeredepan!

Hwesio yang pergi tadi ternyata tidak pergi jauh dari tempat Cui Beng Kiam Hoa terbaring. Hwesio itu sebenarnya bukanlah Hwesio biasa. Dia terkenal dengan nama Jai Hoa Hong-cu (Kumbang penghisap kembang) yang berpakaian hwesio tetapi bersifat cabul. Kedatangannya kedaerah ini sebenarnya untuk mencari Ban Su To Niocu yang terkenal akan kepandaian dan kecantikannya 30 tahun yang lalu. Ban Su To Niocu selain terkenal dengan kepandaian silat dan sastranya, dia juga terkenal dengan kepandaiannya memelihara binatang-binatang aneh. Konon katanya Ban Su To Niocu pernah memelihara seekor naga. Walaupun cerita ini berlebihan tetapi kaum kangouw cukup maklum kalau berita itu sangatlah mungkin terjadi jika melihat kebesaran nama Ban Su To Niocu atau si nona selaksa kepandaian. Jai Hoa Hong-cu bermaksud mencuri tawon asmara yang di pelihara oleh Ban Su To Niocu untuk diambil racun sengatannya. Selain untuk meracuni para korbannya, dia juga mendengar selentingan kabar kalau dengan menelan tawon asmara akan mendapatkan selain "efek kedepan" jika dikombinasikan dengan meminum madu yang dihasilkan tawon asmara akan meningkatkan lweekang berlipat ganda dan menjadi kebal terhadap racun.

Ban Su To Niocu adalah tokoh kosen yang jarang ada tandingannya saat ini. Hanya saja beliau telah menghilang selama 30 tahun yang lalu, sehingga sulit untuk ditemukan. Jai Hwa Hong-cu sendiri mendapatkan kabar kalau beliau terlihat disekitar daerah ini. Oleh karena itu dia mencari peruntungannya, walaupun tak mungkin meminta atau memaksakan kehendak mendapatkan tawon asmara dari Ban Su To Niocu, setidaknya dia bisa mencuri secara diam-diam.

Jai Hoa Hong-cu yang melihat Cui Beng Kiam Hoa, seperti mendapatkan rejeki nomplok. Tak perlu dia mencari bunga, malah bunganya sendiri yang datang ke sini. Hanya saja sejak datang ke daerah pegunungan ini dia harus bisa mengekang hawa nafsunya, mengingat ada kemungkinan Ban Su To Niocu ada disekitar sini. kalau kepergok Si Nona Selaksa kepandaian tanpa medapatkan tawon asmara dan madunya terlebih dahulu, bisa berantakan rencananya.

Karena itu ketika ada orang lain datang, secepatnya dia pergi bersembunyi dan mengintai dari jarak agak jauh.

Cui Beng Kiam Hoa yang terbelalak melihat ular itu hampir pingsan dibuatnya. Tiba-tiba Hwesio cabul Jai Hoa Hong-cu muncul didepannya dan menangkap ular tersebut. Sebetulnya dengan kepandaiannya yang tinggi Jai Hoa Hong-cu dengan mudah dapat membunuh ular tersebut.

Berhubung rencananya mengambil keuntungan dari si Nona cantik, dia pura-pura bergelut seru dengan ular besar tersebut.

Setelah beberapa lama akhirnya dengan nafas terengah-engah Jai Hoa Hong-cu menghampiri Cui Beng Kiam Hoa.

Nona tidak apa-apa. Maafkan Pinceng yang datang terlambat.

Tidak apa-apa, sahut Cui Beng Kiam Hoa. tapi tolong buka totokan ditubuhku ini.

Wah, kalau kubuka totokannya tentu bunga mangsaku ini akan terbang seketika, pikir Jai Hoa Hong-cu. Sebaiknya kubawa saja ketempat lain yang lebih tenang. Paling tidak tempat yang kira- kira tidak akan kepergok oleh Ban Su To Niocu.

Ilmu silat Pinceng sangatlah cetek, sepertinya tidak akan sanggup membuka totokan nona. Bagaimana kalau Pinceng bawa nona kekuil disebelah barat untuk meminta bantuan Pinceng punya Suheng yang lebih tinggi ilmunya, demikian alasan Jai Hoa Hong-cu. Padahal mana dia tahu disebelah barat ada kuil atau tidak, yang penting dia dapat membawa si nona ketempat sepi untuk melanjutkan maksud jahatnya.

Baiklah. Cepat kau bawa aku, kata Cui Beng Kiam Hoa.

Pinceng minta maaf berlaku tidak sopan, kata Jai Hoa Hong-cu sambil memondong Cui Beng Kiam Hoa.

Sungguh beruntung diriku mendapatkan kembang semulus ini, pikir Jai Hoa Hong-cu sambil tak sengaja meraba tubuh si Nona. Segera ia lari kearah barat sambil mencari tempat ideal untuk melampiaskan nafsunya. Tanpa disadarinya Jai Hoa Hong-cu justru pergi ke arah Bu-Kee-Cung, kampungnya Bu Dian Long.   ooOoo  

Hari sudah menjelang siang ketika Bu Dian Long baru saja selesai bersemedi. Dia mengeleng- gelengkan kepalanya sambil bergidik membayangkan hampir saja dia kalah oleh racun tawon asmara. Kemudian dia juga tersenyum-senyum teringat kemolekan gadis-gadis cantik tapi sangat ganas itu.

Dia tiba-tiba saja teringat pada gadis yang ditotoknya tadi pagi. Astaga, gadis itu bisa-bisa berada dalam bahaya jika bertemu orang jahat dalam keadaan tertotok. Dia bangkit dari tempat tidurnya dan pergi menuju ke tempat dia meninggalkan Cui Beng Kiam Hoa.

  ooOoo  

Jai Hoa Hong Cu saat itu telah membawa Cui Beng Kiam Hoa ke sebuah kuil kecil di pinggiran Bu Kee Chung. Begitu masuk dia segera bergerak cepat menawan para biksu disana, lalu melemparkan Cui Beng Kiam Hoa ke ranjang sambil tertawa-tawa.

Cui Beng Kiam Hoa ketakutan tetapi juga sangat marah, " Biksu jahat, apa yang hendak kau lakukan padaku? Bebaskan aku segera, mari bertarung hingga ribuan jurus. " Jai Hoa Hong Cu hanya tertawa-tawa saja, sambil mulai melepas pakaian luarnya.

Bu Dian Long yang sedang menuju arah sungai telah tiba di pinggir luar kampung Bu-kee-cung. Tiba-tiba dia mendengar bentakan marah seorang wanita disertai tawa cabul seorang pria di sebuah kuil kecil.

Cepat dia lari kekuil itu, mendobrak jendela tempat asal suara dan dilihatnya seorang Hwesio sedang menanggalkan baju seorang wanita yang tak berdaya. Wanita itu tampaknya tertotok sehingga tidak bisa bergerak untuk melawan.

Tiba-tiba saja dia mengenal wanita itu sebagai nona cantik yang tadi ditotoknya. Celaka, totokanku rupanya membahayakan nasib nona cantik itu pikirnya.

Berhenti !!!teriak Bu Dian Long,Berani kau berbuat tidak senonoh di kampung Bu-kee-cung ini. Benar-benar mencari mati

Huh, sudah jelas aku ada di luar kampung, kau saja yang banyak urusan, Jengek Jai Hoa Hong- cu.

Begitu kata urusan selesai diucap, tiba-tiba saja Jai Hoa Hong-cu melesat kearah Bu Dian Long sambil jarinya menotok ke tenggorokan Bu Dian Long. Jai Hoa Hong-cu langsung mengerahkan ilmu andalannya Toat-beng Kiam-ci (Jari Pedang pencabut nyawa) dengan maksud mencabut nyawa pemuda itu dalam sekali gebrak

Tapi Bu Dian Long bukanlah pemuda biasa. Sebat sekali dia mengelak sambil memapak pinggir lengan hwesio cabul itu.

Terkejut Jai Hoa Hong-cu melihat gerakan pemuda itu, langsung disambutnya papakan pemuda itu dengan keras lawan keras.

Duarrrrr.   Jai Hoa Hong-cu terdorong mundur 5 tidakan. Tapi Bu Dian Long malah mental

kearah Cui Beng Kiam Hoa tergeletak. Nyata-nyata tenaga dalam Bu Dian Long masih kalah setingkat. Bu Dian Long jatuh menimpa Cui Beng Kiam Hoa tanpa bisa di elakkan lagi. Melihat perempuan cantik setengah telanjang, tiba-tiba saja racun tawon asmara menyerangnya. Birahi Diang Long memuncak seketika.

Pada saat itu Jai Hoa Hong-cu terkejut dengan lawannya yang masih muda tapi memiliki tenaga yang cukup handal. Segera dia meloncat kea rah Bu Dian Long jatuh sambil jarinya menotok ke ulu hati Bu Dian Long.

Bu Dian Long yang masih rebah diatas tubuh Cui Beng Kiam Hoa benar-benar terkejut dengan serangan maut itu. Kalau dia mengelak, tubuh mulus dibawahnya akan celaka. Terpaksa dia mengerahkan segenap tenaga dalamnya untuk menyambut serangan Jai Hoa Hong-cu dengan tapaknya.

Duaarrrrr..

Kali ini bukan Dian Long yang tergencet oleh tenaga pukulan hwesio cabul itu, justru Jai Hoa Hong-cu terpental bagaikan layangan putus.

Begitu Jai Hoa Hong-cu mendarat keras dan muntah darah, dia terkejut melihat wajah Dian Long seakan melihat setan gentayangan di siang hari.

Kulit Dian Long ternyata berbelang-belang kuning dan hitam bagaikan tawon. Inilah efek dari tawon asmara. Begitu racun tawon asmara menyerang birahi Dian Long memuncak disertai tenaga dalamnya naik tingkat berlipat-lipat. Tapi juga menyebabkan kulitnya berbelang seperti tawon.

Melihat perubahan yang besar pada pemuda itu, Jai Hoa Hong-cu menjadi kecut dan ragu-ragu. Dia segera meloncat untuk menyerang Dian Long yang masih belum bangkit dan mengeluarkan satu gerakan yang paling hebat Siau-hun It ci (satu jari pembuyar sukma). Diserangnya Dian Long yang masih sedang bingung dan berusaha menekan hawa nafsunya itu. Serangannya yang sangat dasyat dan gencar itu membuat Dian Long pun kalang kabut menyambuti. Setelah beberapa kali tubuhnya terkena jari si Hwesio cabul, Dian Long segera mengerahkan jurus kedua dari Hang Liong Sip Pat Chiang yaitu Hui-liong Cay-thian (Naga terbang dilangit) yang dikuasainya untuk melawan musuhnya yang menyerang dari atas tersebut. Ternyata efek racun tawon itu benar- benar luar biasa, walaupun beberapa kali tubuh Dian Long terkena jurus jari mematikan tubuhnya tidak mengalami luka apapun hanya bajunya tersobek-sobek tidak karuan. Sebaliknya 18 tapak penakluk naga milik Dian Long dapat melukai Jai Hoa Hong-cu.

Melihat lawannya sudah kepayahan, Dian Long mengubah gaya serangannya dengan membalas dengan ilmu It-yang-ci warisan leluhurnya. Dia segera mengeluarkan totokan satu jari yang cepat dan membuat Jai Hoa Hong-cu menjadi sempoyongan ke arah luar pintu kuil itu. Ilmu jari milik Dian Long memang lebih lihay dibandingkan jari pedang milik Jai Hoa Hong-cu. Karena menyadari posisinya yang tidak akan menang melawan pemuda itu, Jai Hoa Hong-cu segera melarikan diri. Walau demikian Dian Long masih sempat mengirimkan satu serangan totokan. Jarak antara Dian Long dan Jai Hoa Hong-cu sebenarnya masih 2 depa, tapi lambung si Hwesio cabul masih saja terkena hawa totokan yang dilancarkan Dian Long.

Dulu It Teng Taysu mendapat nama besar dengan It-yang-ci yang bisa menyerang lawan dari jarak jauh. Hanya saja kemampuan Dian Long masihlah jauh bila dibandingkan It Teng Taysu. Namun kali ini Dian Long sendiri kaget, biasanya totokan Dian Long tidak pernah mengeluarkan hawa totokan yang bisa mencapai sasaran dari jarak jauh seperti sekarang.

Sambil membawa luka, Jai Hoa Hong-cu melesat pergi sejauh mungkin dari dusun Bu-kee-cung. Hari ini dia benar-benar sial bertemu Dian Long. Dian Long yang ditinggal oleh musuhnya begitu saja, mulai merasakan suatu keanehan pada tubuhnya. Dia merasa tubuhnya bertambah kuat tenaganya. Ketika dia melihat Cui Beng Kiam Hoa yang hanya bisa berteriak, "Lepaskan totokanmu, bodoh" dan "bebaskan aku" saja, dia langsung teringat kalau dia harus melepaskan totokannya. Baru saja dia bermaksud untuk melepas totokan di Cui Beng Kiam Hoa. Tiba-tiba efek birahi racun tawon nya langsung memuncak ketika tangannya menyentuh tubuh Cui Beng Kiam Hoa. Tubuhnya terasa semakin panas. Semakin dia mendekati gadis itu, semakin memuncak efek dari racun itu.

Cepat Dian Long membuka totokan dan sebelum Cui Beng Kiam Hoa bisa bergerak leluasa karena sekian lama tertotok, Dian Long segera melompat keluar kuil sambil menahan birahi.

Tak terduga, hanya menotol sedikit saja tubuhnya mencelat bagaikan kilat hingga menabrak dinding kuil, tak terkendali oleh nya tenaga dalam sekuat ini.

Dian Long melayang bagaikan kilat ke sebelah utara dusun yang diketahuinya terdapat sebuah sungai kecil. Ia ingin mencuci mukanya disana untuk menyegarkan pikirannya yang bagaikan panas membara.

Biasanya dengan menggunakan ginkang, Dian Long membutuhkan waktu sepeminuman teh untuk mencapai sungai, kali ini sepertinya teh yang diminum tumpah karena saking cepatnya Dian Long mencapai sungai.

Setiba ditepi sungai Dian Long yang ingin mencuci mukanya terkejut melihat bayangannya mukanya dipermukaan air. Wajah tampannya yang membuat wanita-wanita di rumah pelesiran tergila-gila padanya berubah menjadi aneh, lucu dan kadang menakutkan. Belang-belang kuning dan hitam silih berganti mewarnai mukanya bagaikan tawon manusia. Tak percaya pada penglihatannya cepat Dian Long mencuci mukanya dengan air sungai yang segar. Nafsunya yang membara perlahan-lahan mulai mendingin, racun tawon asmara rupanya hanya memberikan efek sementara.

Setelah birahinya menghilang, perlahan kulit Dian Long juga menjadi normal.

Saking senangnya Dian Long meloncat ke atas sambil berteriak. Tapi kali ini locatan Dian Long tidaklah sehebat waktu racun tawon asmara sedang kumat. Loncatannya kali ini normal seperti biasa.

Dian Long berpikir,Wah, efek racun tawon asmara rupanya bukan nama kosong belaka.

Jika nafsu birahiku naik rupanya lweekangku juga naik berlipat-lipat. Jangankan Hwesio cabul itu, sepuluh orang seperti dia ditambahkan mengeroyokku juga pasti bisa kukalahkan. Sayang sekali wajah tampanku juga berubah jadi tawon dalam keadaan seperti ini, Lagipula kalau efek racunnya menghilang tenagaku kembali seperti biasa.

Bagaimanapun lain kali aku harus berhati-hati menggunakan efek samping racun tawon asmara ini. Paling tidak aku harus berpikiran kotor kalau bertemu musuh tangguh, untuk memancing datangnya efek racun tawon ini. Hmmmmbenar-benar sebuah taktik bertarung yang bagus!

Di saat sedang termenung di tepi sungai, tiba-tiba muncul keenam gadis teman Cui Beng Kiam Hoa. dua diantaranya terlihat membawa bungkusan kulit kambing yang berbentuk pipih panjang. Mereka langsung mengepung Dian Long. Belum lagi hilang rasa terkejut Dian Long melihat enam orang gadis cantik dan molek itu, salah satu gadis yang paling muda sudah membentaknya, "Keparat kau kemanakan suci (kakak seperguruan) kami, kalau kau tidak segera mengatakannya, kami akan menyiksamu hingga kau hidup segan mati tak hendak."

Dian Long yang kaget tiba-tiba merasakan racun tawon asmara di tubuhnya mengamuk kembali, namun dia berusaha untuk mengendalikan dirinya supaya tidak sampai kalah oleh birahinya. Dengan tersenyum masam dia menjawab, "Terakhir dia kulihat di kuil kecil di pinggir dusun sebelah selatan."

"Bohong! " teriak gadis yang paling muda, dan langsung menyerang Dian Long diikuti kelima gadis yang lain. Kepandaian gadis-gadis itu sebenarnya masih di bawah Dian Long, namun barisan pedang gadis-gadis itu sungguh hebat, sehingga Dian Long kewalahan juga. Belum ditambah baju gadis-gadis itu berkibar-kibar memperlihatkan tubuh mereka yang indah. Dian Long kembali beringas akibat pengaruh racun tawon asmara yang belum hilang sepenuhnya. Tenaganya meningkat dan dengan dua gerakan sangat cepat dia mematahkan semua serangan dan mementalkan gadis-gadis itu. Ketika gadis-gadis itu berdebuk jatuh ke tanah dua bungkusan yang dipegang oleh dua orang gadis juga ikut terlepas.

JIT GOAT SIANG POKIAM