-->

Jago Kelana Jilid 23

Jilid 23

MEREKA mengikuti dibelakang Si Soat Ang menerjang dengan penuh napsu ke dalam pendopo tengah, rasa girang yang meliputi mereka sukar dilukiskan dengan kata2, sebab kuil Siauw-lim yang dianggap keramat oleh segenap lapisan masyarakat dan dihormati selama ribuan tahun akhirnya mereka serbu juga tanpa menjumpai perlawanan.

Menanti mereka mulai melangkah masuk ke dalam pendopo tengah, suasana jadi hening dan tenang kembali, dalam sekejap mata suasana jadi amat sunyi tak kedengaran suarapun.

Ruang pendopo itu diliputi dalam kegelapan, benda yang berada didalam tempat itupun hanya bisa dilihat secara lapat2, kecuali patung Budha, asap hio, boleh dikata tak nampak sesuatu apapun, meski demikian suasana penuh diliputi keagungan dan penuh kewibawaan.

Pada saat ini bukan saja semua orang bungkam dalam seribu bahasa bahkan pada berhenti bergerak, termasuk Si Soat Angpun tidak terkecuali.

Didepan patung Budha duduklah tiga orang padri tua, salah satu diantaranya yang duduk ditengah mengenakan Lhasa berwarna putih sedangkan dua orang padri yang berada disisi kiri kanannya memakai lhasa berwarna abu2.

Sekalipun Si Soat Ang belum pernah berjumpa dengan sang Hong-thio dari kuil Siauw-lim Si, tetapi siapapun dikolong langit tahu bahwa ketiga kuil tersebut selalu memakai lhasa berwarna putih, maka sepintas memandang gadis itu segera mengetahui siapakah diantara ketiga padri itu sebagai ketua Siauw-lim pay.

Ketiga orang padri tua itu duduk bersila di atas bantalan kasur, didepan mereka terletak sebuah bok-khi, ketika itu mereka sedang pejamkan mata sambil berdoa dengan suara lirih.

Suasana diliputi keheningan menambah keseriusan serta keagungan ketiga orang padri tua itu, terhadap munculnya jago Bulim yang kini telah bertambah hingga mendekati ratusan orang, mereka tidak ambil gubris, seolah tidak merasakan hadirnya orang2 itu, mereka tidak berkutik maupun membuka matanya.

Para jago dari perserikatan Boe Tek Beng yang telah menyerbu masuk keruang pendopo itu sama2 berdiam diri, beberapa orang diantara orang diantaranya mulai menunjukkan sikap gugup dan gelisah, mereka sama2 berpaling kearah Si Soat Ang menantikan tindakan selanjutnya dari gadis itu. Perlahan2 Si Soat Ang tarik napas panjang, lalu sapanya dengan suara dalam.

"Hong-tiang Thaysu, selamat berjumpa?!"

"Li sicu, selamat datang!" jawab padri tua berbaju putih sambil buka matanya.

"Heeei! Hweesio tua, kau tak usah berlagak pilon lagi" Tegur Si Soat Ang dingin. "Padri tua yang kau kirim untuk berjaga dipintu masuk sudah mampus, kau tak usah harapkan bantuannya lagi. Hmm! selama setahun ini partai Siauw-lim kalian terlalu pandang enteng Perserikatan Boe Tek Beng kami, aku ingin tahu bagaimanakah sikap kalian pada saat ini ?"

"Pinceng adalah orang beragama yang telah menjauhkan diri dari keduniawian, walaupun selama setahun Perserikatan Boe Tek Beng telah menggemparkan seluruh kolong langit, apa sangkut pautnya dengan pinceng?"

Suara dari hwesio tua itu dingin hambar lagi ketus, wajahnya menunjukkan sikap hambar.

"Eeei hweesio, aku ingin tahu dapatkah kau bermain silat? kalau bisa bersilat maka kalian harus menggabungkan diri ke dalam Perserikatan Boe Tek Beng kami, Perserikatan Boe Tek Beng akan menguasai seluruh Bulim dan seluruh jagad, penghidupan serta segala2nya akan kami atur buat kalian, perduli kamu orang sipil ataupun seorang pendeta beragama!"

Ucapan itu segera disambut dengan senyuman oleh padri tua itu. ujarnya sambil tertawa.

"Sungguh tepat sekali pertanyaan diri Li sicu, aku tak bisa bermain silat, dan pinceng rasa li sicu seharusnya sudah mengetahui bukan dalam sekilas pandanganmu !" Si Soat Ang terkesiap, dengan cepat ia sambar bahu si hweesio itu.

Dalam serangannya ini, ia tidak menggunakan tenaga dalam yang terlalu besar, namun padri tua itu sama sekali tidak berkelit, dengan cepat kelima jari dari itu sudah bersarang telak diatas tubuh lawan Kraak ! tulang bahu hwesio itu segera terpencet patah.

Haruslah diketahui ilmu silat yang dimiliki Si Soat Ang pada saat ini amat lihay sekali, cukup hanya salurkan satu bagian tenaga saja sudah dapat menyiksa orang biasa, maka patahnya tulang bahu padri tua itu menunjukkan bahwa ia benar2 tidak pandai bersilat.

Kejadian ini membuat Si Soat Ang tertegun, segera ia lepas tangan sambil berseru.

"Kau sama sekali bukan Hong-tiang dari kuil Siauw-lim Sie- !"

Sewaktu tulang bahunya patah diatas wajah padri tua itu terlintas suatu perasaan tersiksa tapi hanya sekilas saja perasaan itu telah lenyap tak berbekas dan kembali pada wujud sebenarnya.

"Pinceng adalah Gwat-Ching dan merupakan hongtiang dari kuil Siauw-lim, mengapa Li sicu mengatakan aku bukan orang yang kau maksudkan ?" katanya.

Si Soat Ang mundur beberapa langkah kebelakang lalu berpaling kearah para jago dan tanyanya.

"Benarkah dia adalah sang Hong-tiang dari kuil Siauw- lim ?"

Walaupun ketua dari kuil Siauw lim Si Gwat Ching Siansu jarang sekali munculkan diri dalam dunia persilatan namun ia masih dikenal oleh masyarakat. Maka pertanyaan ini segera dijawab oleh beberapa orang diantara para jago yang hadir disitu.

"Dia benar2 adalah Hong-tiang dari kuil Siauw-lim !" "Tapi dia... dia sama sekali tidak pandai bersilat !" Teriakan gadis tersebut membuat semua orang tertegun,

untuk beberapa saat lamanya semua orang sangsi dan tidak

mau mengerti

Ketika itulah Gwat Ching Siansu telah tertawa dengan nada tenang dan penuh kedamaian sambil tertawa katanya.

"Perkataan dari Li sicu sedikitpun tidak salah, pinceng sama sekali tidak dapat bersilat, bukan begitu saja isi kuil Siauw-lim tak ada yang dapat bersilat lagi. Apabila tidak percaya silahkan li sicu melakukan pemeriksaan sendiri!"

Ucapan ini semakin mengejutkan Si Soat Ang ia mulai sangsi namun rasa percaya terhadap ucapan tersebut makin besar.

Semua jagoan sama2 tenang kembali, suasana jadi hening dan diliputi kesunyian lama... lama sekali baru terdengar seorang kakek tua berseru.

"Hu Bengcu aku mengerti mereka pasti sadar bahwa mereka tak sanggup membendung kekuatan kita maka seluruh padri dalam kuil ini sudah memusnahkan ilmu silatnya sendiri."

Si Soat Ang berseru tertahan, ia segera berpaling ke arah Gwat Ching Siansu, padri itu tampak mengangguk tanda membenarkan ucapan dari sikakek tua tadi.

Terdengar Gwat Ching Siansu berkata kembali.

"Ucapan dari sicu ini cuma betul separuh, seribu tiga ratus tujuh puluh empat orang padri dalam kuil Siauw-lim bukan disebabkan bukan tandingan kalian lantas memusnahkan ilmu silat sendiri, hal inipun dikarenakan ingin menghindari segala malapetaka serta banjir darah didalam pendopo agung dari Budha Maha Pengasih ini.

Pelajaran sang Budha mengatakan, Bila aku tidak masuk neraka, siapa yang suka masuk neraka ? bagi kami orang beragama, nama serta kedudukan hanya suatu benda yang sama sekali tidak berarti. mengapa tidak kita singkirkan dan jauhkan hal2 yang sebenarnya tidak penting itu ? maka saudara2 sekalian pun tak usah banyak ribut lagi di sini !"

Beberapa patah kata dari padri tersebut membuat semua orang membungkam, mereka hanya bisa saling bertukar pandangan belaka.

"Sejak detik ini kuil Siauw-lim sudah tak berjodoh dengan umat Bu-lim lagi, silahkan anda sekalian berlalu dari sini !" ujar Gwat Ching siansu lebih jauh.

Si Soat Ang tarik napas panjang lalu berkata.

"Sekarang kami hanya menjumpai kalian bertiga saja, darimana kami bisa buktikan apa bila setiap padri yang ada didalam kuil Siauw lim Sie saat ini sudah musnahkan ilmu silat sendiri ? siapa tahu kalau kalian sedang membohongi diri kami ?"

Mendengar perkataan itu Gwat Ching Siansu mengambil Bok-hiinya diikuti dua orang padri yang berada di sisi nya lalu mereka bertiga sama2 memukul Alat Bok-hii tadi per- lahan".

Mengikuti bertalunya suara yang lambat dan berat dari Bokhi tersebut, dari balik pintu samping pendopo muncul dua baris hweesio yang sama2 munculkan diri dengan langkah lambat.

Langkah hweesio2 itu sangat lambat bahkan sama sekali tidak mengerling ataupun memandang kearah kelompok manusia aneh yang hadir di ruang pendopo tersebut, mereka sama2 pejamkan mata sambil membaca doa.

Hweesio itu bukan saja keruang pendopo tersebut, bahkan berjalan pula keluar ruangan, berputar beberapa kali ditanah lapang itu dan berhenti, makin lama jumlahnya makin banyak sehingga setengah jam kemudian barisan tersebut baru berhenti.

Pada waktu itu seluruh tanah lapang diluar pendopo sudah dipenuhi dengan hweesio, sedangkan para jago dari perserikatan Boe-Tek-Beng malah mengundurkan diri ke sisi tembok pekarangan.

Menanti semua hwesio itu sudah munculkan diri, Gwat Ching siansu baru berkata kembali.

"Seluruh anggota padri dari kuil siauw-lim kami telah berkumpul semua ditempat ini, apabila li sicu menemukan salah satu diantaranya pandai bersilat, silahkan Li sicu suruh mereka masuk jadi anggota Boe-Tek-Beng kalian !"

Si Soat Ang segera alihkan sinar matanya kearah para hwesio itu tampak mereka sama2 merangkap tangannya sambil berdoa tak seorangpun yang berkutik.

"Bagaimana menurut pendapatmu ?" tanya gadis itu kemudian kepada diri Tonghong Loei.

Peristiwa ini benar2 ada diluar dugaan, jangan dikata Si Soat Ang serta Tonghong Loei, sekalipun Tonghong Pacu datang sendiripun belum tentu ia dapat ambil keputusan apabila menghadapi situasi ini.

Mendengar pertanyaan itu, Tonghong Loei termenung sebentar, lalu serunya ragu2.

"Tentang Soal ini..." Belum sempat ia menjawab terdengar sikakek tua yang berulang kali buka suara itu sekarang berkata kembali.

"Hu Bengcu, Tonghong Tongcu, agaknya para padri dalam kuil Siauw-lim benar2 telah melakukan pengorbanan diri dengan musnahkan ilmu silat sendiri, meskipun demikian dalam kuil banyak tersimpan kitab pusaka ilmu silat yang luar biasa sekali nilainya, mengapa tidak kita paksa mereka untuk serahkan kitab2 tersebut kepada kita ?"

Dua kali kakek tua itu memberikan pendapatnya, Si Soat Ang tidak terlalu ambil perhatian, tapi sekarang gadis itu mulai tertarik, ia lantas berpaling dan meneliti orang itu.

Tampak si kakek tua itu punya perawakan tinggi besar, suaranya keren dan lantang tapi wajahnya aneh dan jelek sekali.

Baik Tonghong Loei maupun Si Soat Ang sama2 merasa asing terhadap orang itu, tapi ditinjau dari suaranya yang lantang jelas menunjukkan walaupun orangnya tua namun tenaga dalamnya amat sempurna, ilmu silatnya tentu sangat lihay.

Tonghong Loei yang menyadari keadaan tersebut tak berani berayal lagi, dengan cepat ia berseru.

"Perkataan anda sedikitpun tidak salah kau adalah...?" "Mengapa Tongcu bersikap sungkan, hamba tidak

bernama orang2 menyebut diriku sebagai Thian Yang It Loo!"

"Eeeehmm . beberapa saat ini memang terlalu banyak jago lihay yang bermunculan dalam perkampungan Jiet Gwat Cung, maaf bila kami tidak terlalu memperhatikan anda." Thian Yang It Loo tersenyum, ia berkata kembali "Apabila kitab pusaka ilmu silat yang tersimpan dalam kuil Siauw-lim Si tidak diserahkan, hal ini akan meninggalkan bibit bencana di kemudian hari."

"Gwat Cing siausu sudah kau dengar ucapan itu?" Tanya Si Soat Ang.

Mendengar ucapan itu, Gwat Ching siansu tertawa terbahak2, sambil tertawa ia bangun berdiri dan lambat2 berjalan kedepan, ujarnya.

"Sejak semula pinceng sudah kukatakan bagi kami orang yang beragama, barang2 sambilan macam itu sama sekali tak berguna lagi bagi kami, sejak Tat Mo Couw-su datang kemari dan sembilan tahun bersemedi menghadap dinding seluruhnya beliau telah tinggalkan seratus tujuh puluh sembilan jilid kitab pusaka ilmu silat."

"Sekarang kau simpan dimana ke seratus tujuh puluh sembilan kitab pusaka ilmu silat itu." tanya Si Soat Ang dan Tonghong Loei hampir berbareng.

"Itu semuanya berada disana!" jawab Gwat Ching Siansu sambil menuding kearah hioloo besar yang berada ditengah halaman luar pendopo.

Mendengar perkataan itu Tonghong Loei serta Si Soat Ang sama2 enjotkan badannya berkelebat kesisi hioloo besar tersebut tapi setelah menengok kedalam hioloo tadi mereka sama2 berteriak kaget.

Mereka tidak menemukan ke seratus tujuh puluh sembilan jilid kitab pusaka ilmu silat dari partai Siauw-lim tersebut didalam hioloo besar tadi namun tidak berada dalam keadaan utuh, saat ini kitab pusaka tersebut sudah tinggal abu serta puing yang berserakan. Si Soat Ang segera putar telapaknya menghantam kedalam hioloo besar itu, dimana angin pukulan men- deru2, kertas didalam hioloo tadi beterbangan.

Ada diantara kertas itu terhembus angin dan terbang menjauhi hioloo, namun itupun sudah tinggal berkeping2 kecil belaka, sama sekali tak dapat terbaca lagi isinya.

Para jago Perserikatan Boe Tek Beng yang berada di sekeliling sana sama2 berebut memungut robekan kertas tadi mereka masih dapat menjumpai lukisan serta tulisan diatas robekan kertas tadi, sesaat kemudian helaan napas panjang seruan kaget berkumandang memenuhi angkasa.

"Aaah..! coba lihat robekan kertas ini berasal dari kitab Siauw-lim Loo Han Koen-hoat!"

"Aah...! coba lihat ilmu sakti auman singa Bud Bun Si Cu Hong Sin Kang."

"Aaah... ilmu semedi Tjhiet Cap Jie Cay Te Si..."

Apa yang mereka teriakan semuanya merupakan ilmu2 sakti dari partai Siauw-lim yang selama ini paling dibanggakan.

Namun saat ini seluruh rahasia ilmu silat tersebut sudah tinggal abu belaka, meskipun masih dapat terlihat beberapa tulisan diantara nya namun sama sekali sudah tak berguna lagi.

Si Soat Ang serta Tonghong Loei saling bertukar pandangan sekejap mereka berdua segera meloncat mundur kebelakang.

"Aku lihat lebih baik kita tinggalkan saja tempat ini !" kata sianak muda itu kemudian. "Benar, walaupun kita tidak mendapatkan suatu hasil namun nama besar kita telah menggetarkan seluruh kolong langit !"

Berkata sampai disitu gadis tersebut segera membentak keras.

"Kita segera mengundurkan diri dari sini !"

Para jago mengiakan mereka sama meloncat keluar dari pendopo tersebut, tidak selang beberapa saat kemudian Si Soat Ang, Tonghong Loei serta Thian Yang It Loo pun telah mengundurkan diri dari sana.

Sepeninggalnya orang2 itu, doa para hweesio yang ada didalam kuil semakin nyaring, membuat semua jago merasa seakan2 mereka sedang bermimpi.

Setelah keluar dari muka gunung, tiba2 terdengar belasan orang munculkan diri sambil berseru.

"Perserikatan Boe Tek Beng menggetarkan seluruh kolong langit kejadian ini patut digirangkan dan dibanggakan. Hu Bengcu silahkan menerima sebuah penghormatan dari hamba!"

Beberapa orang itu segera jatuhkan diri berlutut diatas tanah.

Perbuatan ini segera disusul para jago lainnya dalam sekejap mata semua orang jatuhkan diri berlutut diatas tanah kecuali Tong-hong Loei serta Si Chen yang berdiri terus di sisi kalangan.

Menyaksikan kejadian itu Si Soat Ang merasa amat girang sekali hingga sukar dilukiskan dengan kata2, ia bersuit nyaring dan berseru "Harap kalian semua segera bangun!" Menanti semua orang telah berdiri, Si Soat Ang baru berpaling kearah Tonghong Loei sambil berkata.

"Walaupun kuil Siauw-lim si tidak berhasil kita paksa masuk anggota Perserikatan Boe Tek Beng, namun nama kita sudah menggetarkan seluruh kolong langit sekarang kita hendak ke mana lagi ?"

"Mari kita pulang ke perkampungan Jiet-Gwat Cung, coba dengar apa pendapat dari Bengcu!" Ucapan ini sangat tidak menggembirakan Si Soat Ang, alisnya kontan berkerut.

"Aku pikir lebih baik untuk sementara waktu kita jangan pulang dulu, begitu banyak jago lihay kita bawa sehingga partai Siauw-lim si pun jera kepada kita, boleh dikata kekuatan kita saat ini tanpa tandingan lagi dikolong langit, partai serta perguruan apapun sudah bukan tandingan kita lagi, aku melihat lebih baik kita terjang terus hingga keluar perbatasan, setelah mengelilingi seluruh Bu-lim baru kita berangkat pulang ke perkampungan Jiet Gwat-Cung, bukankah hal ini jauh lebih gagah kelihatannya ?"

"Baik !" Tonghong Loei tidak berani membantah, ia lantas menyahut "Kalau begitu kita lanjutkan perjalanan kita menuju kedepan tapi kemanakah tujuan kita yang pasti

? harap Hu Bengcu suka kasih penjelasan."

"Aku pikir, Si Thay sianseng yang berdiam di Gunung Go-bie sangat tersohor dikolong langit..."

Bicara sampai disitu ia merandek, lalu melirik sekejap kearah Si Chen.

Si Chen adalah seorang gadis yang sama sekali tidak punya pendirian, ia tidak tahu apa yang sedang dipikirkan Si Soat Ang pada saat ini, ia hanya merasa dari sinar mata gadis itu memancarkan cahaya aneh seakan2 urusan tersebut punya hubungan dengan dirinya, tak kuasa jantung terasa berdebar keras.

Si Soat Ang merandek sejenak lalu tertawa, ujarnya lebih jauh:

"Sudah sangat lama Si Thay sianseng tak pernah bertemu dengan putrinya, aku lihat lebih baik menggunakan kesempatan ini kita pergi menjenguk dirinya, sekalian undang ia masuk perserikatan, bagaimana menurut pendapat kalian ?".

Sepasang alis Tonghong Loei langsung berkerut setelah mendengar ucapan itu, ia tahu walaupun ucapan dari Si Soat Ang sangat sederhana, padahal dalam pelaksanaannya nanti pasti akan menimbulkan banjir darah yang mengerikan.

Ia tarik napas panjang, beberapa saat tak sanggup mendapatkan alasan yang tepat untuk membantah perkataan dari gadis tersebut.

Lama... lama sekali akhirnya ia mengangguk. "Demikianpun boleh juga !" katanya.

Sembari menjawab otaknya berputar kencang, pikirnya.

"Dari sini menuju gunung Go-bie bukan perjalanan hanya sehari dua hari belaka. aku harus berusaha mencari suatu akal agar kejadian ini tidak sampai menyedihkan Si Chen..."

Si Soat Ang bukan seorang gadis bodoh, dari perubahan sikap Tonghong Loei ia segera berhasil menebak apa yang sedang dipikirkan sianak muda itu, ujarnya kembali.

"Perjalanan dari sini menuju gunung Go-bie sangat jauh, perintahkan sepuluh orang yang bisa bekerja untuk berangkat lebih dahulu, di samping persiapkan tempat pemondokan kita suruh mereka hubungi pula orang2 Bu- lim sekitar tempat itu"

Tonghong Loei mengiakan, ia segera memilih sepuluh orang jago diantara rombongan itu dan perintahkan mereka berangkat lebih dahulu.

Setelah itu Si Soat Ang serta Tonghong Loei baru membawa para jago lainnya berangkat menuju ke Barat, beberapa hari sepanjang perjalanan tak seorang manusiapun berani menghadang jalan pergi mereka, siapapun tak berani menentang setiap orang menyambut kedatangan mereka dengan penuh hormat.

Untuk sementara waktu kita tinggalkan dulu Si Soat Ang beserta para jago lainnya berangkat menuju gunung Go bie.

Dalam pada itu Tonghong Pek yang berada dalam didalam perkampungan Jiet Gwat Cung selama tiga hari tiga malam berada dalam keadaan tidak sadar, jalan darahnya selalu tertotok oleh Tonghong Pacu, menanti senja hari ke empat ia baru mendusin dari tidurnya.

Pertama kali mendusin ia tak tahu saat tersebut dirinya berada dimana dan apa saja yang telah terjadi. Lama... lama sekali otaknya baru dibikin sadar dan setiap kejadian pun teringat kembali.

Tetapi...walau bagaimanapun Tonghong Pek memahami duduknya persoalan, ia tidak menyangka kalau selama ini ia tidur melulu karena jalan darah tidurnya tertotok.

Dalam keadaannya ia jatuh tidak sadarkan diri karena Tonghong Pacu sedang paksa keluar racun yang mengeram dalam tubuhnya.

Perlahan ia buka mata dan temukan dirinya berada didalam sebuah kamar, ditempat itu kecuali dia seorang tidak tampak orang kedua. Sianak muda itu segera bangun duduk, ia merasa badannya amat lemah dan tak bertenaga tetapi setelah duduk bersemedi dan seluruh hawa murninya mengelilingi badan kesegaran segera pulih kembali seperti sedia kala, bahkan sama sekali tidak dirasakan tanda2 keracunan.

Tonghong Pek jadi kegirangan setengah mati, ia segera meloncat bangun, tapi dengan cepat ia tertawa getir, ia teringat keadaan Tonghong Pacu, entah bagaimana keadaan siorang tua itu setelah berhasil paksa keluar racun yang mengeram dalam tubuhnya ??

"Entah bagaimana keadaan dari Tonghong Pacu ?" pikir sianak muda itu dalam hati kecilnya, "Aku berterima kasih kepadanya karena ia berhasil memaksa racun yang mengeram dalam tubuhku terdesak keluar . . . haruskah ku terus pertentanganku akan segala perbuatan yang ia lakukan

? ataukah berpeluk tangan belaka ? . ."

Dengan hati bimbang lambat-lambat Tonghong Pek berjalan kedepan, mendorong pinta dan berjalan keluar, dimana berdiri dua orang dengan sangat menghormat.

Ketika menyaksikan munculnya Tonghong Pek dengan sangat menghormat kedua orang itu menyapa.

"Toa Tongcu, kan sudah mendusin? adakah pesan atau perintah?"

"Kalian sebut aku sebagai api?" tegur Tonghong Pek dengan sepasang alis berkerut.

"Toa Tongcu!" jawab kedua orang itu dengan sikap menghormat.

Dalam hati Tonghong Pek merasa sangat gusar, ia merasa kedua orang ini dapat menyebut ia dengan panggilan itu tentu ada orang lain yang perintah mereka berbuat demikian ia ingin mengumbar hawa amarah, tapi apa gunanya memburu napsu terhadap orang bawahan!

Akhirnya dengan nada dingin ia menegur. "Mengapa kalian panggil aku dengan sebutan itu?"

Kedua orang itu masih belum tahu kalau Tonghong Pek tidak suka dipanggil dengan sebutan itu, dengan rasa girang mereka berdua berkata kembali.

"Toa Tongcu bukankah kau adalah putra Sulung dari Bengcu? tentu saja kau adalah Thian Tong Tongcu dari Perserikatan kita, sedang Jie kongcu adalah Te Tong Tongcu, Sebagai Toa Tongcu bertugas atas segala persoalan dalam perserikatan itu, sudah sepantasnya kalau hamba sekalian memanggil dengan sebutan itu?"

Tonghong Pek malas untuk ribut dengan kedua orang itu, ia lantas berpesan.

"Lain kali aku larang kalian memanggil aku dengan sebutan itu, aku sama sekali bukan anggota dari perserikatan Boe Tek Beng kalian tentu saja bukan seorang Tongcu seperti apa yang kalian katakan barusan.”

Ucapan ini membuat kedua orang itu terperanjat, sehingga berdiri dengan mata terbelalak mulut melongo, untuk beberapa saat lamanya ia tak sanggup mengucapkan sepatah kata.

"Saat ini Bengcu berada dimana ?" Tanya Tonghong Pek kembali.

Agaknya kedua orang itu sudah dibikin terperanjat oleh ucapan sianak muda itu, pertanyaan barusan harus diulangi sampai beberapa kali mereka baru mendengar apa yang ditanyakan. Salah seorang diantaranya segera menjawab. "Bengcu berpesan..."

"Hanya sepatah kata yang diucapkan kemudian membungkam.

Sedang yang lainpun berkata dengan suara tergagap. "Bengcu.. dia dia..."

"Sebenarnya apa yang terjadi atas diri Bengcu ?" Tanya Tonghong Pek dengan hati melengak.

Kedua orang itu sama2 tarik napas panjang, air mukapun berubah jadi normal kembali, katanya.

"Satu jam berselang Bengcu telah meninggalkan tempat ini, sesaat hendak berlalu wajah Bengcu kelihatan pucat pias bagai mayat, keringat mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya dan wajahnya kelihatan mengerikan sekali, baru saja melangkah keluar dari pintu hampir2 saja roboh terjengkang keatas tanah apa bila tidak segera dipayang dua orang !"

"Lalu sekarang ia berada dimana ?" tanya sianak muda itu lebih jauh, hatinya terasa sangat berat.

"Sedang beristirahat didalam perkampungan."

"Manusia bodoh, gentong nasi, bicara setengah harian sama sekali tak berguna, aku sedang bertanya ia berada dimana?"

Makian ini membuat kedua orang itu kelihatan semakin kikuk.

"Toa . Tongcu jangan marah" buru2 jawab nya, "Bengcu telah berpesan selama beliau beristirahat maka siapapun dilarang menjumpai dirinya, dan siapapun dilarang berbicara dengan dirinya, maka dimanakah beliau berada kami sendiripun tidak tahu." Sepasang alis Tonghong Pek berkerut kencang, tentu saja ia tidak tahu bagaimana keadaan sesungguhnya, dari penuturan kedua orang itu ia merasa seolah2 Tonghong Pacu telah korbankan hawa murninya untuk menyembuhkan luka keracunannya.

Padahal dalam kenyataan Tonghong Pacu telah meninggalkan perkampungan Jiet Gwat Cung setelah menotok jalan darah tidur dari Tonghong Pek.

Tonghong Pacu tidak pergi kemana2, ia hanya mengikuti para jago berangkat menuju kuil Siauw lim Si dan menyaru sebagai seorang kakek berperawakan kekar.

Dasarnya jago2 lihai yang terkumpul dalam perkampungan Jiet-Gwat-Cung memang datang dari delapan penjuru, maka siapapun tak ada yang kenal atau curiga kepadanya.

Dan ia bukan lain adalah Thian-Yang-It-Loo yang beberapa kali memberi petunjuk kepada Si Soat Ang serta Tonghong Loei dikala mereka berdua menjumpai kesulitan.

Tonghong Loei serta Si Soat Ang sendiri walaupun merasa pengetahuan Thian-Yang-It-Loe sangat luas dan menyadari bahwa ia bukan manusia sembarangan, namun mimpipun mereka tidak mengira kalau dia adalah Tonghong Pacu.

Tonghong Pacu adalah seorang manusia licik dan teliti, sebelum meninggalkan perkampungan Jiet-Gwat-Cung, iapun sudah mengatur segala sesuatunya dalam perkampungan, apa yang diucapkan kedua orang itu pada saat inipun bukan lain adalah hasil ajarannya.

Tetapi Tonghong Pek tak tahu duduknya perkara, ia masih mengira Tonghong pacu telah kehilangan hawa murninya karena harus menolong dia, hatinya terasa amat sedih sekali.

Kedua orang itu saling bertukar pandangan sekejap lalu bertanya kembali.

"Toa toa Kongcu, Bengcu berpesan seandainya kau telah mendusin maka selama tujuh hari dilarang berlatih semedi dengan demikian penyakit kongcu baru bisa sembuh kembali seperti sedia kala."

"Apakah ia tidak berkata ia sendiri membutuhkan waktu seberapa lama untuk pulihkan kembali kesehatannya seperti sedia kala ?"

Kedua orang itu belum sempat menjawab, kembali muncul dua orang lagi mereka lantas menuding ke arah dua orang yang baru saja datang itu seraya berkata.

"Tentang soal ini harus ditanyakan kepada mereka sebab mereka berdualah yang memayang Bengcu, mungkin Bengcu telah berkata kepada mereka !"

Sementara berbicara kedua orang itu sudah tiba dihadapannya, mereka segera menjura dengan penuh rasa hormat.

"Toa Tongcu !" sapa-nya hampir berbareng.

Tonghong Pek benar2 dibikin menangis tak bisa tertawapun sungkan, kembali ada orang yang panggil dirinya dengan sebutan tersebut.

"Lebih baik aku tak usah gubris soal sebutan lagi, daripada bicara dengan percuma lebih baik biarkan saja." pikirnya dalam hati.

Maka ia lantas bertanya.

"Sekarang Bengcu ada dimana ? bagaimana keadaannya pada saat ini ?" Kedua orang itu segera menghela napas panjang.

"Aaai . ilmu silat yang dimiliki Bengcu memang sangat tinggi, tapi secara tiba2 bisa berubah jadi sangat lemah, kejadian ini benar2 berada diluar dugaan."

"Eeei., kenapa sih kalau bicara mengutarakan yang tak berguna belaka ?" Tegur Tong hong Pek gusar "Aku lagi bertanya bagaimanakah keadaannya pada saat ini ?"

"Kami tidak tahu, setelah kami bimbing ia masuk kedalam halaman. Beliau lantas memerintahkan lima puluh enam orang jago lihay untuk ber-jaga2 disekitar halaman siang malam siapapun dilarang mendekati ataupun mengganggu dirinya."

"Ehmm, apakah ia tidak mengatakan harus membutuhkan waktu beberapa lama untuk pulihkan kembali kekuatannya ?"

"Benar, beliau telah berpesan kepada kami untuk sampaikan kata2 ini. Toa Tongcu, katanya paling sedikit beliau harus membutuhkan tujuh kali tujuh, empat puluh sembilan hari atau mungkin lebih lama lagi untuk pulih seperti sedia kala, barang siapapun dilarang menengok dirinya termasuk Toa Tongcu sendiri"

Mendengar ucapan itu Tonghong Pek bergidik, bulu kuduk pada bangun berdiri, hal ini disebabkan secara tiba2 ia teringat akan sesuatu.

Ia teringat seandainya demikian adanya, bukankah ia mati dalam ruangan itupun tak akan diketahui oleh seorangpun ??

Tonghong Pek merasa hatinya kalut, ia angkat kepala dan berdiri termenung dan tidak tahu bagaimana baiknya. Pada saat itulah terdengar dua orang yang berjaga di depan pintu berseru:

"Toa Tongcu sudah mendusin, tunggu sebentar akan kulaporkan hal ini kepada mereka semua !".

Belum sempat Tonghong Pek mencegah, ke dua orang itu sudah berlari keluar ruangan.

Tidak selang beberapa saat kemudian muncullah banyak orang didepan ruangan itu, meski ada tiga ratus orang lebih jago perkampungan Jiet Gwat Cung yang ikut berangkat menuju Siauw lim Si, namun yang tetap tinggal di sanapun tidak sedikit jumlahnya, orang itu sama2 berbaris rapi kemudian menghunjuk hormat dihadapkan Tonghong Pek dan sama2 menyebut sianak muda itu sebagai "Toa Tongcu" sedang menyebut diri sebagai hamba.

Kejadian ini seketika itu juga membuat Tong hong Pek jadi serba salah.

oooOdwOooo

BAB 25

MULA pertama Tonghong Pek masih berusaha menampik dan tidak perkenankan orang2 itu menghunjuk hormat tapi akhirnya makin lama orang yang datang memberi hormat semakin banyak sehingga membuat ia tak kuasa mencegah orang2 itu, terpaksa ia lari masuk kedalam kamar.

Sekalipun begitu suara seruan serta pemberian hormat diluar kamar masih berkumandang juga tiada hentinya, kurang lebih beberapa jam lamanya suasana baru sunyi kembali. Pada saat itulah kembali terdengar seseorang berseru dengan suara lantang.

"Toa Tongcu, hamba Goe-Khek Wie-Hiong mohon berjumpa !"

Mendengar disebutkannya nama itu, Tonghong Pek terkesiap. dahulu ketika ia berkelana keluar perbatasan dan lewat Kanglam, walaupun tidak pernah mampir di telaga Thay-ouw namun ia sudah lama mendengar nama orang itu sebagai seorang pendekar pedang yang sangat lihay, ilmu silatnya begitu tinggi hingga sukar dilukiskan dengan kata2.

Sementara Tonghong Pek masih ragu2, suara lantang ditempat luaran kembali berkumandang datang.

"Tongcu, hamba Cee-Kat-Wie-Hiong ada urusan mohon berjumpa !"

"Silahkan masuk !"

Pintu terbentang dan muncullah seorang lelaki setengah baya berperawakan tinggi kurus, orang itu berhenti di depan pintu kemudian memberi hormat kepada Tonghong Pek ujarnya.

"Tadi hamba ada urusan tak dapat datang berjumpa harap Tongcu suka memberi maaf !"

"Coe-Kat sianseng mengapa kau berkata demikian ? Aku sama sekali bukan seorang Tongcu dari Perserikatan Boe- Tek-Beng kalian !"

Terhadap penolakan Tonghong Pek tersebut Coe Kat Wie Hong pura2 berlagak pilon, ujarnya lebih lanjut.

"Barusan hamba ber-jaga2 didepan pintu perkampungan Jiet Gwat Cung untuk menantikan kehadiran para jago dari berbagai partai serta perguruan yang hendak datang bergabung, barusan telah hadir adik dari Pay Hwe Kauwcu dari wilayah Se Ih, harap Tongcu suka menyelenggarakan penyambutan ini."

"Aaah mana boleh jadi?" Buru2 Tonghong Pek goyangkan tangan berulang kali, "Aku bukan seorang Tongcu, buat apa harus menyelenggarakan penyambutan segala?" Coe Kat sianseng lebih baik tanggung jawab ini kau kerjakan sendiri."

"Tongcu, aku rasa kau tentu sudah pernah mendengar nama besar dari perkumpulan Pay Hwie Kauw bukan ?" kata Coe Kat Wie Hiong dengan alis berkerut "Adik perempuan dari sang Kauwcu telah menempuh perjalanan selaksa li datang berkunjung, semestinya penyambutan harus dilakukan oleh Bengcu sendiri, tetapi dalam kenyataan Bengcu.. dia.."

Teringat akan keadaan Tonghong Pacu, Tonghong Pek menghela napas panjang, ia merasa hatinya sangat tidak enak.

"Kalian boleh pergi mencari wakil Bengcu!" serunya. "Wakil Bengcu serta Te Tong Tongcu dengan membawa

para jago sedang berangkat menghancurkan kuil Siauw-lim Si."

Berita ini sangat mengejutkan sianak muda itu sehingga hampir2 saja ia tersentak bangun.

"Sudah terjadi peristiwa semacam ini!" teriaknya. "Benar, bahkan   menurut   kabar yang dikirim   lewat

burung merpati. ketika pihak Siauw lim tahu bahwa pasukan besar kita menyerang datang, mereka hanya mengutus seorang padri tua untuk membendung serbuan kita, akhirnya hweesio tua itu dikalahkan oleh wakil Bengcu. Mengerti bukan tandingan, semua hweesio yang ada didalam kuil Siauw lim sama2 memusnahkan ilmu silat sendiri dan membakar semua kitab ilmu silat yang tersimpan dalam kuil mereka. Sejak detik ini mereka telah mengundurkan diri dari keramaian dunia persilatan.

Kabar berita ini bagaikan ledakan guntur disiang hari bolong membuat telinga Tonghong Pek mendengung keras, mimpipun ia tidak mengira sudah terjadi peristiwa macam itu.

Setelah tertegun beberapa saat lamanya ia baru berkata. "Lalu ... sekarang . seharusnya mereka sudah pulang

bukan?"

"Tidak, mereka telah berputar ke Barat siap berangkat ke gunung Go bie untuk menghadapi Si Thay sianseng."

Tonghong Pek tertawa getir, teringat setengah tahun berselang ketika ia pergi mencari Si Thay sianseng, waktu simanusia nomor satu dari kalangan pekto ini mengira dengan bersembunyi lantas tak ada urusan lagi, siapa sangka pada saat ini pihak perkampungan Jiet Gwat Cung telah kirim rombongan besar untuk menyerang dirinya.

Terdengar Coe-kat Wie Hiong berkata kembali. "Tongcu, adik perempuan   dari Pay Hwee   Kauwcu

datang berkunjung kedalam perkampungan Jiet Gwat Cung

kita, seumpama hamba yang mewakili Bengcu untuk menerima kedatangannya hal ini merupakan satu tindakan kurang hormat, bukan saja jago2 Bu lim di wilayah Se Ih merasa tidak puas bahkan sangat mengganggu pula akan kebesaran nama ayahmu, sebaliknya ayahmu telah sudi berkorban demi Tongcu.."

Tonghong Pek jadi serba salah dibuatnya, ia tak tahu bagaimana harus menghadapi keadaan semacam ini. Agaknya Coe-Kit-Wie-Hiong mengerti keadaan sianak muda itu, setelah berpikir sebentar ia lantas berkata.

"Tongcu, hamba mempunyai suatu cara untuk mengatasi kesulitan ini, entah bagaimana menurut pendapatmu ?"

"Coba katakan bagaimana caramu itu ?"

"Seandainya Tongcu tak mau bertemu dengan upacara resmi maka hamba akan membawa Adik perempuan dari Pay-Hwee-Kauwcu itu datang kemari dan berjumpa dengan Tongcu disini kemudian dari sini kita ajak ia menuju ke ruang tengah dimana biar hamba yang selenggarakan upacara penyambutan walaupun jalannya upacara berbeda namun boleh dikata kita tidak sampai meremehkan kedatangannya, entah bagaimana menurut pendapat anda

?"

Tonghong Pek merasa cara ini memang tepat sekali, segera ia mengangguk berulang kali.

"Baik, bawalah dia kemari."

Coe Kat Wie Hiong mengiakan, kemudian dengan hormat mengundurkan diri dari ruangan tersebut.

Sepeninggalnya si jago pedang sakti itu sambil bergendong tangan Tonghong Pek jalan bolak balik dalam ruangan, apa yang dipikirkan didalam hati terlalu banyak pikiran terasa sangat kalut sekali.

Teringat para hweesio partai Siauw-lim dipaksa untuk memusnahkan ilmu silat sendiri, ia menghela napas panjang, hatinya merasa amat sedih.

Pada saat itulah terdengar suara dentingan nyaring berkumandang datang, disusul suara Coe Kat Wie Hiong berseru dari tempat luaran.

"Lapor Tongcu, tamu agung telah datang!" "Silahkan masuk!"

Pintu terbuka, bau harum semerbak berhembus masuk kedalam, begitu aneh bau harum itu mendatangkan rasa nyaman di tubuh sianak muda itu.

Tonghong Pek segera angkat kepala memandang kearah pintu tiba2 sinar matanya berkilat.

Tampaklah disisi Coe-kat-Wie-Hiong berdiri seorang gadis yang amat cantik sekali, usianya baru dua puluh tahunan, rambutnya panjang terurai dipundak, diatas keningnya memakai sebuah permata berwarna merah, kulit badannya putih halus, potongan badannya ramping dan montok sehingga menambah kecantikan wajahnya.

Gadis itu hanya memakai secarik kain sutera yang sangat halus untuk menutupi tubuhnya, pakaian dalam kelihatan nyata menambah rangsangan dihati lelaki, terutama badannya yang halus dan menarik dengan senyuman yang menawan hati membuat jantung Tonghong Pek berdebar keras.

Seketika itu juga ia berdiri tertegun dan memandang gadis cantik itu dengan sinar mata ter-mangu2, lama sekali ia baru mendusin, buru2 putar kepala sambil berseru.

"Coe-kat sianseng, Nona ini..."

Tetapi kembali sianak muda itu tertegun, sebab entah sejak kapan Coe Kat Wie Hiong telah mengundurkan diri dari ruangan tersebut.

Perlahan-lahan Tonghong Pek berpaling kembali, tampak gadis cantik itu per-lahan2 sedang berjalan ke depan, sepasang biji matanya yang bening menawan hati berkedip tiada hentinya menambah geloranya darah panas dalam dada pemuda itu, apalagi bau harum aneh yang makin lama semakin tebal membuat ia semakin tergiur. Tonghong Pek berdiri tak berkutik disana, dan suatu yang aneh, selama ini dalam hati nya malah berharap agar gadis cantik itu bisa cepat2 tiba dihadapannya.

Detik demi detik berjalan lewat, akhirnya gadis cantik itu tiba di hadapannya, bukan saja tiba disitu bahkan ia angkat lengannya yang putih dan ditempelkan diatas bahu sianak muda itu.

Sepanjang hidup Tonghong Pek jarang sekali mendekati perempuan, sekalipun ia pernah bermesraan dengan Si Soat Ang namun keadaannya jauh berbeda dengan keadaan yang dihadapinya saat ini.

Tonghong Pek merasa kesadarannya mulai hilang, ia merasa napsu birahinya memuncak sehingga tanpa sadar iapun balas meraba tangan gadis itu dengan penuh bernapsu.

Pada saat ini sianak muda itupun merasa heran, apa sebabnya ia tak kuasa menahan diri, sayang ia tak tahu bahwa gadis yang berada di hadapannya saat ini bukan lain adalah perempuan genit nomor wahid dikolong langit dewasa ini, si Budha pun tergiur Liuw Coei Wa,

Sejak tindakan Coe Kat Wie Hiong mohon berjumpa sampai munculnya gadis genit ini bukan lain adalah siasat yang direncanakan Tonghong Pacu untuk menjirat putranya sendiri.

Tonghong Pacu tahu Tonghong Pek adalah seorang lelaki jujur dan tidak mungkin sudi berkomplot dengan dirinya maka ia susun perangkap untuk menjebak si anak muda itu, ia perintahkan para jago untuk sama2 memberi hormat kepadanya, lalu memerintahkan pula Coei Kat Wie Hiong membawa Liuw Coei Wa datang menghadap dengan pura2 mengaku sebagai jago lihay yang datang dari wilayah Se Ih. Ketika Liuw Coei Wa berjalan masuk ke dalam ruang tadi penuh tersiar bau harum yang aneh, bau tersebut bukan lain adalah kabut racun membangkit napsu birahi yang tersohor di wilayah Biauw Tonghong Pek tak sadar dan menghisap bau aneh tersebut, tidak aneh kalau ia tak kuasa menahan diri.

Entah lewat beberapa saat lamanya, menanti si anak muda itu sadar kembali, malam hari telah tiba, dan dia merasa dalam pelukannya tidur tertelentang sedang menangis.

Tonghong Pek tersentak kaget, diikuti ia teringat kembali apa yang terjadi selama ini, ia jadi sedih dan termangu2.

Pada saat itulah orang yang berbaring dalam pelukannya telah angkat kepala menatap wajah sianak muda itu malu2.

Walaupun Liuw Coei Wa adalah seorang perempuan genit, namun wajahnya sangat cantik, apalagi titik air mata membasahi kelopak matanya pada saat ini menambah kecantikan gadis itu.

Tonghong Pek melirik sekejap kearahnya, ia merasa hatinya sangat sedih dan duka.

Liuw Coei Wa tidak menangis lagi wajahnya tiba2 berubah merah jengah dan ditempelkan diatas dadanya.

Lama sekali Tonghong Pek berada didalam keadaan ter- mangu2, akhirnya ia buka suara dan berseru.

"Kau.. kau..."

"Kenapa aku?" Sahut Liuw Coei Wa tersenyum, ia angkat kepala dan memandang si anak muda itu! "Mulai detik ini aku telah jadi istrimu."

"Kau kau . siapa kau!" "Aku adalah adik perempuan dari Pay Hwee Kauwcu dari wilayah Se Ih dan bernama Coei Wa!"

Sayang ketika itu Tonghong Pek sedang merasa pikirannya kalut, kalau tidak niscaya ia akan teringat bahwa dalam dunia persilatan terhadap seorang perempuan cabul bernama Liuw Coei Wa.

Tetapi Tonghong Pek adalah seorang lelaki sejati, meskipun ia tahu bahwa perempuan yang dihadapinya saat ini adalah Liuw Coei Wa, namun tidak akan berubah sikap, sebab apa yang terjadi selama ini adalah atas kemauan sendiri.

Sianak muda itu lantas tertawa getir dan membungkam dalam seribu bahasa.

Mengambil kesempatan itulah Liuw Coei wa berkata dengan suara merdu.

"Sekarang aku tak akan kembali ke-kota Se Ih. Aku hendak berdiam di perkampungan Jiet Gwat Cung dan melayani dirimu!"

Jantung Tonghong Pek berdebar keras, saat ini ia teringat kembali akan diri Si Soat Ang.

Ia bayangkan bagaimanakah perasaan gadis itu sekembalinya dari luaran dan mengetahui kejadian tersebut.

Tonghong Pek meronta dan per-lahan2 bangun berdiri, namun sepasang lengan Liuw Coei Wa merangkul lehernya erat2 sambil bersanding di atas dada sianak muda itu serunya.

"Ayoh cepat katakan dulu, kau suka bukan aku tetap tinggal diperkampungan Jiet Gwat Cung dan selalu melayani dirimu." Tonghong Pek tertawa getir, ia tidak bicara sama sekali, buru2 serunya.

"Kau... kenakan dulu pakaianmu!" Merah padam selembar wajah Liuw Cie Wa, tidak selang beberapa saat kemudian gadis itu sudah muncul kembali dengan dandanan seperti masuk kedalam untuk pertama kakinya tadi, sambil memandang Tonghong Pek ia tersenyum.

Buru2 si anak muda itu melengos kesamping ia tidak berani saling beradu mata dengan dirinya.

Ketika itulah terdengar suara dari Coe-Kat Wie-Hiong berkumandang kembali dari luar ruangan.

"Tongcu hamba ada urusan hendak dilaporkan kepada mu !"

"Masuk !"

Sejak semula Coe-Kat Wie-Hiong sudah tahu apa yang terjadi dalam ruangan tersebut, tapi dia adalah seorang manusia licik setelah lelaki itu masuk dan memandang sekejap kearah Liuw Coei Wa, wajahnya lantas menunjukkan sikap kaget dan tercengang, sama sekali ia tertegun baru berseru.

"Tongcu, hal ini... hal ini .."

Sambil berkata ia melirik sekejap kearah Liuw Cui Wa, meski tidak diteruskan katanya, namun jelas apa yang ia maksudkan ..

Merah jengah Tonghong Pek ketika itu, sepatah katapun tak sanggup diutarakan, apabila ada lubang disana pasti ia sudah menerobos masuk untuk bersembunyi.

Cue-Kat-Wie-Hiong segera tertawa terbahak2, serunya. "Aku paham sudah, ha ha haa...kiranya begini..." Seraya berkata ia maju dua langkah kedepan, setibanya di hadapan Tonghong Pek segera bisiknya lirih.

"Tongcu, kalau manusia tidak romantis sayang jadi pemuda. begitu menarik dan menggiurkan nona ini, tidak bisa disalahkan kalau Tongcu tertarik ha ..ha Tongcu seorang yang tampan dan punya kedudukan, tidak sulit untuk mensukseskan niatmu, haa...haa..."

Gelak tertawa orang itu sangat menusuk perasaan Tonghong Pek, ia merasa amat sedih sekali, ingin sekali ia menegur tapi kejelekannya sudah jatuh ketangan orang lain, membuat ia tak berkutik kecuali tertawa getir belaka.

Terdengar Coe-kat Wie-Hiong berkata kembali, kali ini ia semakin memperendah suaranya.

"Hanya si nona ini adalah adik perempuan dari Pay- Hwie-Kauwcu, asal usulnya luar biasa, sulit untuk menggebahnya pergi dengan begitu saja. Tongcu apakah kau pernah berpikir seandainya Wakil Bengcu pulang.."

"Apakah Coe-Kat sianseng punya usul bagus ?" buru2 Tonghong Pek bertanya.

Dengan cepat Coe-Kat-Wio-Hiong geleng kepalanya berulang kali, serunya.

"Aku lihat terpaksa urusan ini harus diselesaikan menanti Bengcu telah sembuh dari lukanya, sekarang bagaimanapun juga Wakil Bengcu tak ada disini, silahkan Tongcu ber-senang2 selama beberapa hari, benar bukan ucapan dari hamba ini ?"

Tonghong Pek berpaling kearah Liuw Coei Wa teringat kejadian yang barusan berlangsung, jantungnya terasa berdebar keras, ketika itu si gadis cabul itupun berjalan mendekat, Tonghong Pek menghela napas dan biarkan ia bersandar diatas dadanya. Menyaksikan keadaan itu, buru2 Coe-Kat-Wie Hiong mengundurkan diri dari ruangan.

Pertama kali berbuat Tonghong Pek berada dalam keadaan tidak sadar dan terpengaruh oleh obat perangsang, namun perbuatan untuk kedua kakinya dilakukan dalam keadaan sadar, bagaimanapun juga dia adalah seorang pemuda yang berdarah panas, menghadapi Liuw Coei Wa yang begitu menggiurkan, ia tak kuasa menahan diri.

Demikian lah sejak itu Tonghong Pek telah terjebak dalam perangkap Liuw Coei Wa, meskipun kadangkala ia merasa menyesal atas perbuatannya, namun ia merasa sulit untuk melepaskan perempuan genit itu.

Tidak selang satu bulan kemudian, kegagahan serta kejantanannya sudah lenyap tak berbekas, cita2nya lenyap seperti asap ditengah angkasa, bukan saja ia tidak menampik sebagai seorang Tongcu bahkan mulai mengurusi semua pekerjaan yang ada dalam perkampungan Jiet-Gwat-Cung.

Setelah sampai pada tingkat ini, boleh dikata usaha Tonghong Pacu pun berhasil sukses.

Sementara itu Tonghong Pacu sendiri telah pulang kedalam perkampungan Jiet-Gwat-Cung, mendengar laporan dari Coe-kat-Wie-Hiong yang mengatakan hubungan Tonghong Pek serta Liuw Coei Wa sudah tidak terlepaskan lagi ia merasa amat kegirangan.

Tetapi ia belum juga munculkan diri, menanti beberapa hari lagi setelah yakin Tonghong Pek sudah terjerumus dalam perangkapnya dengan membawa tongkat Tonghong Pacu baru munculkan diri, ia berjalan dengan badan lemas se-olah2 sama sekali tak bertenaga lagi. Waktu itu Tongheng Pek sedang berada di ruang tengah untuk menyelesaikan urusan mengenai Perserikatan Boe- Tek-Beng, kemunculan Tonghong Pacu secara tiba2, segera membuat suasana jadi serius.

Tonghong Pek sendiripun tertegun ketika menyaksikan kehadiran Tonghong Pacu, ia segera bangun berdiri.

Per-lahan2 Tonghong Pacu berjalan kedepan, bibir sianak muda itu bergerak seperti mau mengucapkan sesuatu namun tak tahu ia harus menyebut apa, menanti si gembong iblis itu sudah tiba dihadapinya ia baru menyapa.

"Apakah kesehatan Bengcu telah pulih kembali?"

"Boleh dikata sudah dapat berjalan" sahut Tonghong Pacu hambar. "Kau tak usah menggubris diriku, selesaikan dahulu pekerjaanmu."

Tonghong Pek tertawa getir.

"Seandainya kesehatan Bengcu telah pulih kembali muka pekerjaan disinipun tak usah aku campuri lagi"

"Apa maksud ucapanmu itu ? kau adalah Thian-Tong Tongcu, kemudian hari pekerjaan mengenai Perserikatan Boe Tek Beng ini bakal diserahkan kepada kalian dua bersaudara, kalau kau tidak mengurusi siapa lagi yang mencampuri."

"Aku... Aku..."

Tidak menanti ia menyelesaikan kata2, Tong hong Pacu telah mengulapkan tangannya.

"Kalian keluar semua lebih dulu, kami ada urusan penting hendak dirundingkan !"

Paling sedikit dalam ruang tengah sedang hadir ratusan orang jago, melihat Tonghong Pacu ulapkan tangannya, mereka sama2 mengundurkan diri dari sana, hanya dalam sekejap mata ruangan itu sudah sunyi.

"Harap Coe Kat siauseng berhenti sejenak." ujar Tonghong Pacu kembali dengan suara dalam.

Sebenarnya Coe Kat Wie Hiong sudah tiba di depan pintu mendengar teguran itu ia segera berjalan balik dan berdiri dengan sikap hormat.

Tonghong Pek sendiripun merasa jantungnya berdebar keras ketika menyakitkan Tonghong Pacu menahan Coe Kat Wie Hiong.

Menanti suasana dalam ruangan tinggal mereka bertiga, Tonghong Pacu baru berkata dengan suara berat.

"Pekjie aku dengar dari perkataan orang perkampungan Jiet Gwat Cung, katanya hubunganmu dengan adik perempuan dari Pay Hwee -Kauwcu dari wilayah Se Ih sangat luar biasa sekali, benarkah ada kejadian seperti ini?"

"Bee...Benar!" jawab Tonghong Pek dengan wajah berubah merah jengah.

"Heee heee - heee . sebenarnya peristiwa ini bukan suatu masalah besar kalau manusia tidak romantis, sia2 jadi seorang pemuda, aku pernah berjumpa dengan gadis cilik itu dan memang kecantikan wajahnya luar biasa sekali tetapi aku rasa nona Si pasti akan sangat gusar bila ia kembali dan mengetahui kejadian ini, apakah kau pernah berpikir sampai disitu?"

"Aai . ! Aku pernah berpikir sampai disitu!"

Pembaca yang budiman, sebenarnya Tong-hong Pek adalah seorang pemuda gagah yang tidak bakal tunduk dibawah pengaruh kejahatan apalagi terhadap Tonghong Pacu yang diketahuinya punya ambisi besar untuk menguasai seluruh jagad, meski dia adalah ayah kandungnya sendiri.

Tetapi sekarang, setelah ia berbuat sesuatu yang dirasakan amat memalukan dan kejelekan itu berada ditangan orang lain, maka kegagahan Tonghong Pek pun seketika lenyap entah kemana.

Tonghong Pacu tertawa, ia berkata.

"Kalau sudah kau pikirkan persoalan itu, tentu kau sudah mendapatkan cara yang paling tepat bukan untuk mengatasi masalah ini ?"

"Aku tidak punya cara yang tepat."

"Tak bisa jadi kalau kau tak punya cara untuk mengatasi peristiwa ini, sekalipun ia tidak pulang kejadian ini bisa tersiar kedalam telinganya, aku lihat lebih baik kau tinggalkan perkampungan Jiet Gwat Cung saja, aku akan siapkan sepuluh ekor kuda jempolan bagimu untuk melakukan perjalanan siang malam, pergi dan susullah Si Soat Ang."

"Aku....aku harus menyusul mereka ?" tanya Tonghong Pek tertegun.

"Bagaimana merasa keberatan untuk tinggalkan Coei Wa

??"

Tonghong Pek jadi amat rikuh sehabis mendengar perkataan itu lantas menengok kearah Coe-Kat-Wie-Hiong.

Menyaksikan sikap sianak muda itu Coe-Kat Wie-Hiong tersenyum, katanya.

"Bengcu aku lihat itupun bukan cara yang bagus, asalkan peristiwa ini bisa di rahasiakan dengan ketat, aku rasa orang lainpun tidak berani membocorkan rahasia ini kepada nona Si, asal orang lain tidak tahu maka meskipun Hu Bengcu kembalipun tak usah kita takutkan !"

"Ehm.. benar, memang demikian paling bagus !" sahut Tonghong Pek tanpa sadar,

Tonghong Pacu tertawa, ia lantas menepuk pundak sianak muda itu sambil berkata.

"Pek-jie kau boleh berlega hati, aku tidak akan membuat kau susah, dan sekarang kau pasti tidak akan menyusahkan diriku pula bukan ?"

Walaupun ucapan dari Tonghong Pacu diutarakan dengan wajah penuh senyuman namun bagi Tonghong Pek sangat menusuk perasaannya, ia merasa hatinya seperti di- iris2 dengan pisau tajam.

Lama sekali ia tertegun, akhirnya dengan kepala tertunduk ia menyahut.

"Siap mendengarkan perintah dari Bengcu"

Tonghong Pacu tertawa terbahak2, dengan bantuan tongkat per-lahan2 ia berjalan keluar dari ruangan.

Sepeninggalnya Tonghong Pacu, dengan ter mangu2 Tonghong Pek berdiri disitu ia merasa hatinya sangat sedih.

Mendadak terdengar suara tertawa cekikikan berkumandang datang, disusul munculnya Liuw Coei Wa dengan potongan badan yang amat menggiurkan.

Menjumpai kehadiran Liuw Coei Wa, kembali sianak muda itu tergiur, apa yang barusan di pikirkan segera dibuang jauh2 dari benaknya, ia cekal tangan gadis itu erat2.

"Kenapa sudah begitu lama belum juga kembali?" tegur Liuw Coei Wa dengan suara manja. "Aku sudah siapkan beberapa macam sayur sebagai teman minum arak. Aku merasa amat kesepian berada dalam kamar seorang diri."

"Aku segera datang." buru2 Tonghong Pek menyahut.

Menyaksikan hal itu, sambil tertawa Coe Kat Wie Hiong lantas berseru.

"Silahkan Tongcu kembali, urusan ditempat ini serahkan saja kepada diri hamba untuk menyelesaikannya."

Tonghong Pek mengangguk, dibawah bimbingan mesra Liuw Coei Wa, iapun berlalu dan kembali kedalam kamar untuk ber-kasih2an kembali dengan gadis cabul itu.

Dalam pada itu Si Soat Ang dengan membawa jago2-nya melanjutkan perjalanan menuju kegunung Go-bie, sepanjang perjalanan mereka tidak jumpai hadangan bahkan jumlah mereka malah semakin bertambah.

Kurang lebih dua bulan kemudian sampai lah mereka dipegunungan Go-bie, saat itulah Si Soat Ang memerintahkan sepuluh orang yang punya ilmu meringankan tubuh sempurna untuk berangkat lebih dahulu memberi kabar atas kedatangannya kepada Si Thay Sianseng.

Ketika hari kedua telah menjelang tiba, di mana pasukan sedang bergerak menuju kedalam gunung Go-bie, sepuluh orang yang diberangkatkan lebih dahulu itu telah balik kembali.

Menyaksikan kehadiran orang2 itu Si Soat Ang segera menegur.

"Apakah Si Thay sianseng memberikan tanggapan..." Sepuluh orang itu saling bertukar pandangan sekejap,

kemudian salah seorang diantaranya sambil tertawa getir menjawab. "Lapor Wakil Bengcu, kami tidak berhasil menjumpai diri Si Thay Sianseng ?"

"Bukankah aku perintahkan kalian untuk menjumpai dirinya, mengapa kalian membangkang perintah ?" teriak Si Soat Ang amat gusar.

Air muka sepuluh orang jago itu berubah pucat pias, buru2 mereka menyahut.

"Kami tidak berani membangkang perintah tetapi tempat tinggal Si Thay sianseng terletak di suatu tempat yang terjal dan susah dicapai, kami gagal untuk menerjang masuk kedalam."

"Benarkah begitu ?" tanya Si Soat Ang seraya berpaling ke arah Si Chen yang berada di sisinya.

Si Chen mengangguk.

"Benar, mulut lembah Coei Hong-Kok memang amat berbahaya sekali, sulit bagi seseorang untuk menerjang masuk kedalam."

"He., he bagaimana kalau kuutus putrinya sendiri untuk menghadap ? apakah Si thay sianseng sudi berjumpa atau tidak ?"

Si Chen tundukkan kepalanya membungkam.

Menyaksikan istrinya malu, buru2 Tonghong Loei berseru.

"Tidak leluasa bagi kami untuk pergi menjumpai dirinya atau mungkin Si Thay sianseng sadar bahwa ia tak sanggup menghadapi kita setelah menyaksikan kekuatan yang kita bawa maka ia berobah pendapat."

"Paling baik ia memang tahu diri sebab kalau tidak maka kita sama2 merasa kurang leluasa." Sewaktu mengucapkan perkataan ini sengaja Si Soat Ang melirik sekejap kearah Si Chen, membuat jantung gadis itu berdebar keras, ia tidak berani mengucapkan sepatah kata pun.

Demikianlah rombongan besar dari perserikatan Boe- Tek-Beng pun melanjutkan perjalanannya masuk kedalam gunung Go-bie, malam itu mereka beristirahat ditengah gunung.

Hari kedua mereka meneruskan perjalanannya lebih jauh, ketika siang hari menjelang tiba beberapa orang jago yang pernah berkunjung kelembah Coei-Hong-Kok sama2 berseru.

"Kiranya hampir tiba dimulut lembah Coei Hong Kok tersebut.."

"Bunyikan tetabuhan musik!" Tonghong Loei segera memerintahkan.

Dua puluh orang jago yang membawa alat musik mulai membunyikan alat tetabuhan mereka sehingga suasana jadi ramai sekali ....Sekarang lebih setengah jam kemudian di hadapan mereka baru kelihatan muncul sebuah tebing yang amat terjal.

Diantara dua tebing yang menjulang tinggi ke angkasa serta terjal itu terdapat sebuah mulut selat yang amat sempit seluas empat lima depa, ruang sesempit itu hanya cukup untuk berlalu seorang manusia.

Tapi saat ini tak mungkin bisa dilewati lagi, sebab mulut selat tadi sudah penuh ditumpuki batu cadas baik besar maupun kecil tingginya hampir mencapai tiga lima tombak.

Ketika rombongan semakin mendekati mulut selat itu, Si Soat Ang ulapkan tangannya untuk menghentikan perjalanan lalu gadis itu mendongak dan memeriksa keadaan tempat itu, ia saksikan tumpukan batu itu mencapai tiga lima tombak namun masih belum menyulitkan mereka sebab disana ada dua tiga ratus orang yang dapat singkirkan penghalang tadi.

Kesulitan justru terletak pada curam serta bahaya tebing yang mengapit mulut selat tadi, diatas tebing merupakan tempat yang datar dan disana telah dipersiapkan batu2 dalam jumlah besar, asal batu itu sedikit didorong niscaya akan bergelindingan kebawah dengan hebatnya.

Ditinjau dari bawah, tumpukan batu cadas itu hampir mencapai tiga lima ratus tumpukan, jelas pihak partai Go- bie telah mengadakan persiapan untuk menyambut kedatangan mereka.

Seandainya ada orang yang hendak menerjang tembok batu itu dengan kekerasan, niscaya batu2 yang ada diatas akan bergelindingan kebawah, dalam keadaan seperti itu meski mempunyai ilmu silat yang lebih lihaypun akan merasa sulit untuk menghindari diri.

Sehabis menyaksikan keadaan tersebut, Si Soat Ang segera kerut kan alisnya.

"Tonghong Tongcu," ia berseru, "Kecuali dari sini, apakah ada jalan lain yang menghubungkan tempat ini dengan lembah Coei Kong kok."

"Kecuali tempat ini, terpaksa kita harus melampaui beberapa buah puncak gunung sebelah sana" sahut Tonghong Loei sambil menuding ke arah puncak gunung yang tinggi keangkasa.

"Tetapi hal ini tidak mungkin bisa dilaksanakan, bukan saja puncak itu tinggi lagi berbahaya bahkan kadangkala ditengah tebing terdapat celah yang sangat dalam, terlalu sulit bagi kita untuk melewatinya." Si Soat Ang tarik napas panjang2, akhirnya ia berseru.

"Baiklah, katakan kepada pihak partai Go bie bahwa aku telah datang !"

Tonghong Loei mengiakan, ia segera ulapkan tangannya, terdengar dua tiga ratus orang jago sama2 berteriak.

"Wakil Bengcu dari perserikatan Boe-Tek-Beng telah tiba

!"

Teriakan tiga ratus orang jago secara serentak benar2

menghasilkan suara yang amat keras, apalagi sebagian besar terdiri dari jago2 lihay yang mempunyai suara lantang, seketika itu juga suara mereka menggetarkan angkasa dan menggeletar hingga ketempat yang sangat jauh.

Suasana di atas tebing tetap sunyi senyap, kecuali berkelebatnya bayangan manusia, tak kedengaran ada suara sahutan.

Menanti suara pantulan yang dihasilkan oleh teriakan tadi sudah- sirap dari angkasa, dari atas tebing baru terdengar suara sahutan seseorang dengan suara nyaring pula.

"Sudah lama ciangbunjien partai Go-bie tidak bertemu dengan orang luar, silahkan kalian kembali saja"

Si Soat Ang bersuit nyaring.

"Putrinya sudah kembali, apakah Si Thay sianseng tidak ingin berjumpa muka ?" teriaknya.

Ilmu silat Si Soat Ang sangat lihay, ucapan itupun menimbulkan suara pantulan yang sangat kuat.

Lewat beberapa saat kemudian dari atas tebing baru berkumandang suara jawaban. "Suhu bilang beliau sama sekali tidak punya putri, kalian tentu sudah salah menduga!"

Ketika suara itu berkumandang dari atas tebing Si Chen serta Tonghong Loei dapat kenali suara tadi berasal dari murid tertua Si Thay sianseng atau bekas toa suheng mereka.

Menanti Si Chen mendengar ucapan terakhir dari toa sukonya ini, ia jadi amat sedih sehingga air mata tak kuasa lagi mengucur keluar dengan amat derasnya.

Buru2 Tonghong Loei mencekal tangannya erat2 sambil menghibur.

"Jangan sedih. . jangan sedih !"

"Aku tidak sedih" sahut Si Chen lirih, ia berusaha untuk menahan air matanya mengucur keluar.

Dengan pandangan dingin Si Soat Ang melirik sekejap kearah kedua orang itu, kemudian sambil tertawa ujarnya.

"Setelah Si Thay sianseng berkata demikian, maka kitapun tak usah mempersoalkan hubungan kita dengan dirinya lagi, kita serbu lembah Coei Hong kok bila perlu dengan kekerasan."

"Si Hu Bengcu!" suara diatas tebing kembali berkumandang, "Aku rasa kurang menguntungkan bila kan ingin terjang kedalam lembah kami dengan kekerasan, silahkan lihat."

Bersamaan dengan selesainya ucapan itu, dari atas tebing berkumandang secara gemuruh yang amat nyaring, dua tumpukan batu cadas yang ada diatas tebing telah bergelinding ke bawah.

Batu2 itu setiap butir punya berat hampir mencapai seratus kati dan ketika itu hampir ada tiga lima puluh butir meluncur kebawah ber-sama2, dapat dibayangkan betapa dahsyat dan mengerikan suasana ketika itu.

Menyaksikan kejadian itu Si Soat Ang jadi terkesiap terdengar Tonghong Loei berseru.

"Cepat mundur kebelakang."

Sebenarnya tiga ratus orang jago sedang bergerak mendekati dinding tersebut, mendengar perintah itu mereka sama2 berebut mundur ke belakang seketika itu juga suasana jadi ramai dan keadaan mengenaskan sekali.

Dalam sekejap mata semua orang pada lari ke belakang sambil saling ber desak2an ditengah teriakan para jago itulah batu cadas saling berhamburan kebawah, keadaan benar2 menyeram

Oooo-d-w-oooO