-->

Jago Kelana Jilid 18

Jilid 18

GERAK-GERIK Sim-toa serta Sim-jie lincah sekali, mendadak mereka bergerak ke timur sebentar kemudian kebarat, tiba2 maju kedepan kemudian meloncat kebelakang, dalam sekali tubrukan tujuh delapan belas serangan telah dilepaskan.

Sebenarnya Ting Kang serta Ting Lou berdiri sejajar, tetapi setelah senjata diloloskan maka mereka berdiri saling bertolak belakang, jurus seranganpun amat lambat sekali, jauh berkebalikan daripada gerakan dua bersaudara she Sim.

Dalam sekejap mata dua tiga puluh jurus telah lewat, semua orang dapat melihat bahwa posisi Ting Kang serta Ting Lou jauh lebih menguntungkan, kedudukan mereka kokoh dan tidak mungkin terkalahkan lagi. Bahkan semua orang mengerti keadaan tersebut, sekalipun Sim-toa serta Sim-jie pun sadar ini hari mereka pasti akan menderita kekalahan, tetapi urusan sudah jadi begini keadaan mereka bagaikan menunggang diatas punggung harimau mau turunpun tak mungkin terpaksa mereka keraskan kepala dan perketat serangannya.

Menurut pelajaran ilmu silat, semakin tenang menghadapi serangan posisinya semakin kuat dan semakin gelisah hatinya maka titik kelemahan akan segera bermunculan.

Demikianlah halnya dengan dua bersaudara she-Sim, seandainya mereka tidak terburu napsu mungkin masih bertahan beberapa saat lagi tetapi sayang karena hatinya gelisah, meskipun tujuh delapan jurus yang dilancarkan kelihatan gencar namun setiap serangan tentu tertampak titik kelemahannya, dengan cepat Ting Kang serta Ting Lou berhasil menguasai keadaan.

Tiba2 kedua orang cungcu dari perkampungan Jiet- Gwat-Cung ini bersuit panjang, gerakan pedangnya semakin cepat . . Sreet ! Sreet! Sreet ! Sreet ! beruntun empat buah serangan telah dilepaskan.

Tampak kedua bilah pedang itu menciptakan ratusan buah bayangan pedang, boleh dikata bagaikan dua buah dinding baja yang sukar di tembus sama2 menekan tubuh Sim bersaudara, hal ini memaksa Sim toa serta Simjie terdesak mundur kebelakang.

Siapa sangka makin mereka mundur kebelakang, deruan angin serangan menyambar semakin gencar seluruh ruang kosong telah dipenuhi dengan desiran pedang, tiba2 ujung pedang lawan telah menusuk kearah dadanya. Sim toa serta Sim jie jadi terperanjat, buru2 mereka menyusut kebelakang, pedang kiri segera dilintangkan untuk melindungi dada.

Pada saat itulah Ting kang serta Ting Lou ber-sama2 merubah jurus serangan, lengannya melintang kedepan pedangnya menyabet mendatar.

Terdengar jeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang memenuhi angkasa. "Brees !" dua belah lengan kiri mereka telah tertabas putus dan rontok ke atas tanah.

Darah segar segera mengucur keluar tiada hentinya menerangi seluruh lantai, dengan wajah pucat pias bagaikan mayat Sim toa serta Simjie mundur sempoyongan kebelakang.

Ting kang serta Ting Lou tidak mengejar lebih jauh, pergelangan berputar dan tahu2 kedua batang pedang itu telah dimasukan kembali ke dalam sarung ujarnya berbareng.

"Kami kutungi lengan kalian berdua sebagai peringatan akan kecongkakkan hati kamu berdua, asalkan kalian suka menghormati Tonghong sianseng sebagai Bu-lim Bengcu, maka cayhe segera akan mengeluarkan obat untuk mengobati luka kalian !"

Tabiat dua bersaudara she Sim adalah keras kepala dan berangasan, mendengar ucapan tersebut mereka segera memperdengarkan jeritan keras yang menggetarkan seluruh ruangan.

Mengikuti bentakan tadi, lengan kanan mereka berdua sama2 diayun dengan kecepatan bagaikan kilat, kemudian .

. Sreeeet! Srreeet! ujung   pedang   tersebut   tahu2   telah

ditusukan kedalam ulu hati sendiri. Arah yang dituju tepat diatas jantung, dimana merupakan tempat kematian, diiringi jeritan ngeri tubuh mereka berdua roboh keatas tanah dan menghembuskan napas yang terakhir.

Ting Kang mendengus dingin, ia segera berteriak. "Gotong pergi mayat2 mereka!".

Tujuh delapan orang lelaki kekar segera munculkan diri, dalam sekejap mata mayat dari dua saudara she Sim sudah digotong pergi, noda darah diatas tanahpun disapu sampai bersih, tidak selang seperminum teh kemudian ruang tengah tersebut telah bersih dan tenang kembali se-olah2 tak pernah terjadi sesuatu apa pun.

"Kalau tak ada orang yang ingin belajar seperti dua saudara she-Sim, upacara pengangkatan sumpah pun akan segera dimulai !" teriak Ting Lou dengan suara berat.

Suara teriakan yang gegap gempita segera memenuhi seluruh ruangan, ratusan orang lain yang tidak setuju dengan pengangkatan itupun pada membungkam dengan wajah berubah hebat, sejak kematian Sim toa serta Sim-jie, mereka pun mulai sadar apabila mereka menyatakan ketidak setujuannya, niscaya tak ada jalan ketiga bagi mereka kecuali hidup atau mati.

Ditengah teriakan banyak orang, Ting Kang berseru lantang.

"Bawa kemari arak wangi !"

Empat orang lelaki munculkan diri dengan ditangan masing2 membawa seguci arak, setiba nya didepan hioloo, arak tadi segera dituangkan kedalam hioloo tersebut, bau wangi semerbak segera tersiar keseluruh ruangan. Tidak selang beberapa saat, keempat guci arak itu sudah memenuhi hioloo besar tersebut, semua orang tahu pengangkatan sumpah segera akan dimulai, suasanapun jadi tegang kembali.

Dua bersaudara she Ting bertepuk tangan tiga kali, muncul dua orang lelaki yang berbaju mentereng, ditangan masing2 membawa gulungan kain sutera berwarna merah, setibanya di ruang tengah, kain merah tadi direntangkan diikuti muncul orang yang membawa pit serta sebuah meja terbuat dari kayu cendana, alat2 tulis itupun diletakkan diatas meja tadi.

"Kami angkat Tonghong sianseng sebagai Bu-lim Bengcu, hal ini merupakan suatu peristiwa maha besar yang belum pernah terjadi dalam dunia persilatan seratus tahun ini" kata Ting Kang.

"Walaupun kita adalah orang persilatan, tetapi tak bisa tidak tak boleh melupakan kesusasteraan, oleh karena itu setiap orang yang setuju dengan pengangkatan ini harus meninggalkan nama dalam daftar tersebut, aku rasa tulisan yang paling lihay dalam dunia persilatan kita boleh dikata hanya Sin Chiu Suseng atau si Manusia bertangan sakti seorang dimanakah saudara itu ?"

Bersamaan dengan selesainya ucapan itu, dari antara para tetamu muncul seorang lelaki berusia empat puluhan dengan dandanan seorang siucay, gerak geriknya halus dan terpelajar, dengan wajah penuh senyuman serunya.

"Ting Cungcu, kalau kau berkata demikian, hal ini membuat aku orang jadi tidak berani angkat pit . . ."

Orang itu she-Ih bernama Hong dan merupakan seorang siucay yang melepaskan pelajaran Boen mendalami soal Boe, dalam ilmu silat boleh dikata luar biasa juga, orang2 menyebut dia sebagai Sin Chiu Suseng atau Si Mahasiswa bertangan sakti.

"Ih-heng, harap kau suka mencatat seluruh kejadian besar yang berlangsung ini hari." kata Ting Kang sambil tertawa.

Sin Chiu suseng tidak menampik, ia segera ambil alat pit dan menulis syair2 yang isinya memuji kehebatan Tonghong Pacu, kemudian iapun menuliskan beberapa kata diatas lembaran kain yang bakal berisi nama2 para jago, setelah semuanya selesai ia baru putar badan berlalu.

"Harap Ih-heng meneteskan darah angkat sumpah" teriak dua bersaudara she Ting.

"Kalau ingin meneteskan darah angkat sumpah, seharusnya cung-cu berdua yang mulai dahulu!"

Dua bersaudara she Ting tidak sungkan2 lagi, ia segera maju ke depan, mengambil pisau belati yang ada diatas meja dan diiriskan per-lahan2 diatas lengan sendiri, setelah meneteskan beberapa titik darah kedalam hioloo, ia pun mencatatkan namanya diatas kain merah itu.

Demikianlah semua orang lantas turut menurut meneteskan darah dalam hioloo dan mencatatkan nama diatas kain lalu mengundurkan diri.

Ratusan orang lainnya yang tidak sudi angkat Tonghong Pacu sebagai Bengcu, setelah menyaksikan kejadian itu meski dalam hati tidak setuju, merekapun terpaksa mencatatkan namanya dan meneteskan beberapa titik darah.

Setelah repot hampir dua jam lamanya, akhirnya tinggal dua belas orang yang tetap berdiri tak berkutik, jelas kedua belas orang itu tidak ingin ikut dalam pengangkatan tersebut. Ting Kang serta Ting Lou pura2 tidak tahu, kepada mereka segera serunya.

"Sudahlah, kalian tak usah saling mengalah terus2an, ayoh cepat teteskan darah dan tinggalkan nama, setelah itu kita masing2 meneguk secawan arak, upacara pengangkatan inipun selesai !"

Kedua belas orang itu berdiri dengan wajah hijau membesi, mereka tertawa dingin tiada hentinya, seorang kakek pendek kurus segera berseru dengan dingin.

"Ting Cungcu kami tidak ingin mengangkat siapapun jadi Bengcu, seandainya kalian memaksa, terpaksa kami akan bertempur sampai titik darah penghabisan !"

Walaupun perawakan si kakek tua itu pendek kecil, tetapi sepasang matanya memancarkan cahaya tajam, sikapnya gagah sekali, siapapun kenali orang itu sebagai jagoan lihay dari partai Thian-cong. sipedang ditengah mega Huan Hok. Ucapan ini segera disambut sebelas orang lainnya.

"Ucapan Huan-heng tepat sekali, memang demikian adanya."

Kesebelas orang yang baru bicara bukan lain adalah tokoh2 lihay dari pelbagai partai, pengaruh mereka lebih jauh lebih hebat dari pada pemberontakan Sim-toa berdua tadi.

Ting Lou segera tertawa seram, serunya. "Ucapan saudara sekalian salah besar, apakah kalian anggap dengan kekuatan belasan orang lantas bisa memusuhi seluruh jago Bu-lim yang ada dikolong langit?"

"Ting Cungcu, aku orang she Huan merasa rada kurang paham dengan ucapanmu itu." kata sipedang Ditengah Mega Huan Hok sambil tertawa dingin, "Apakah Tonghong sianseng benar2 adalah Bengcu dari seluruh umat dunia persilatan sehingga semua orang Bu-lim harus mendengarkan perintahnya."

"Kalau tidak demikian lalu bagaimana?" hardik Ting Kang.

Air muka Huan Hok berubah hijau membesi dan iapun memperdengarkan suaranya tertawa dingin yang sangat menusuk pendengaran.

"Padahal menurut pengamatan kami, sekalipun Tonghong sianseng ingin jadi Bengcu ma ka dia sudah sepantasnya jadi Bengcu dari manusia2 golongan sesat."

"Ooouw . . jadi kalian merasa diri kalian sebagai orang2 dari golongan lurus ?" jengek Ting Lou.

"Walaupun partai Tiam-Cong tak bisa dibandingkan dengan beberapa partai lainnya, tetapi kamipun bukan termasuk manusia2 liar yang bergolong sesat !"

Ting Kang serta Ting Lou sangat gusar, begitu Huan Hok menyelesaikan kata2nya, mereka segera maju kedepan dengan langkah lebar.

Tetapi baru saja kedua orang itu maju tiga langkah kedepan, mendadak terdengar Tonghong Pacu berseru.

"Cungcu berdua harap tahan !"

Per-lahan2 Tonghong Pacu bangun berdiri sinar matanya memancarkan cahaya berkilat.

Huan Hok sekalian dua belas orang sejak semula sudah ingin bertempur sampai titik darah penghabisan, bila bisa menerjang keluar dari perkampungan Jiet-Gwat-Cung itu lebih baik, kalau mati merekapun akan bertahan sampai titik darah penghabisan. Maka dari itu menyaksikan Tonghong Pacu telah bangun berdiri, air muka semua orang berubah sangat tegang, suara gemerincingan senjata pun berkumandang memenuhi angkasa.

Tonghong Pacu tersenyum tenang, seakan2 tidak pernah terjadi suatu peristiwa apapun lambat2 ia berjalan kedepan.

Tujuh, delapan langkah kemudian, akhirnya Tonghong Pacu berhenti dihadapan Huan Bok.

Melihat jagoan lihay itu muncul dihadapannya, pedang panjang Huan Huk segera dilintangkan didepan dada siap menghadapi segala kemungkinan, sedang sebelas orang lainnya segera menyebarkan diri keempat penjuru siap menghadapi segala kemungkinan.

Setelah berdiri tegak sambil tertawa Tonghong Pacu segera berkata.

"Saudara sekalian, berkumpulnya para jago dalam perkampungun Jiet Gwat Cung sebenarnya bukan lain untuk merayakan perkawinan putraku, siapa sangka telah terjadi urusan cabang lain dimana dua saudara Ting hendak angkat aku sebagai Bu-lim Bengcu, terhadap peristiwa ini bahkan diriku sendiripun merasa diluar dugaan!"

Huan Hok sekalian dua belas orang mengerti Tonghong Pacu tentu sudah membenci mereka karena mereka berdua belas tidak mau angkat dirinya sebagai Bengcu, ia pasti tidak akan melepaskan dirinya begitu saja, terhadap omongan yang begitu manis siapa yang mau percaya ?

Maka dari itu semua orang bungkam dalam seribu bahasa kecuali suara tertawa dingin bergema tiada hentinya.

Tonghong Pacu merandek sejenak, kemudian sambungnya lebih jauh: "Siapa sangka asal usul dari Ting cung-cu berdua mendapat sambutan yang luar biasa dari para jago, hasil ini sungguh diluar dugaan dan kini saudara sekalian menunjukkan rasa tidak puas, aku rasa dalam hati kalian tentu pandang rendah diriku menganggap kepandaian silatku tidak cukup dan tidak pantas menjabat sebagai Bengcu bukankah begitu ?"

Huan Hok mengetahui, dengan ucapan tersebut Tonghong Pacu hendak menantang mereka secara terang2an.

Sebagai seorang manusia kawakan yang kenyang dengan asam garam, tentu saja Huan Hok memahami maksudnya, ia segera tertawa hambar.

"ilmu silat Tonghong sianseng amat dahsyat bahkan Si Thay sianseng pun meninggalkan tempat ini dengan keadaan mengenaskan, ilmu silatmu luar biasa sekali."

"Ooooh... terima kasih atas pujianmu, tetapi anda mengatakan orang yang ikut serta dalam pengangkatan ini merupakan manusia golongan sesat, kalau begitu kaupun menganggap aku sebagai manusia kurcaci pula?"

"Bagaimana watak anda, semua orang dalam dunia persilatan sudah mengetahuinya dengan jelas!"

"Ooouw . . . kiranya begitu, kalau anda tidak mau bicara pun tak apalah, jadi kalian tak suka ikut serta dalam pengangkatan ini?"

"Tidak mau!" jawab ke dua belas orang itu serentak. Tonghong Pacu segera mendongak tertawa terbahak2, "Kalau kalian sudah bicara terus terang, urusanpun bisa

diselesaikan dengan mudah terpaksa..." Sambil tertawa tergelak, tiba2 kakinya melangkah Tiong Koan menuju ke Hong Bun, lima jari tangannya bagaikan cakar mencengkeram dada Huan Hok.

Sejak semula Huan Hok sudah bersiap sedia dengan pedang dilintangkan didepan dada, meski demikian dia tidak menyangka kalau serangan dari Tonghong Pacu dilancarkan sedemikian cepatnya, ia tertegun, ingin pedangnya dibabat kedepan melancarkan serangan namun terlambat setindak.

Dalam sekejap mata itulah . . Duukkk . . . bukan saja kelima jari Tonghong Pacu telah mencengkeram diatas dadanya, bahkan sebatang tulang iganya berhasil dicengkeram sampai patah.

Dalam keadaan seperti ini tentu saja Huan Hok tiada kekuatan untuk melawan lagi, pedang ditangannya segera terkulai kebawah.

Dua orang yang berada dikiri kanan Huan Hok bekerja cepat, senjata ditangannya segera diayun kedepan menyerang kearah Tonghong Pacu.

Gerakan tubuh sigembong iblis itu sangat cepat sekali, lagi pula ia sudah menduga akan tindakan tersebut, setelah berhasil mencengkeram tubuh Huan Hok, tangannya segera menyusut ke belakang dan menarik tubuh sipedang di tengah mega hingga maju kedepan.

Dengan adanya perubahan tersebut, serangan kedua orang yang semula diarahkan Tonghong Pacu sekarang mengancam tubuh Huan Hok.

Sebagai manusia Bu-lim yang terhitung lihay, ke dua orang itu cukup sebat mereka segera buyarkan jurus setelah menyaksikan keadaan tidak beres. Terdengar Tonghong Pacu tertawa panjang, tangan kirinya tiba2 dikebaskan kedepan melemparkan tubuh Huan Hok.

Orang yang berada disebelah kiri sementara itu sudah menarik kembali senjata poan-koan pit nya, tetapi karena dorongan itu muncul secara tiba2 dan tubuh Huan Hok tahu2 sudah berada dihadapannya, ia tak berhasil menghindarkan diri lagi, tak bisa ditahan, senjata poan- koan-pit tadi segera menembusi iga Huan Hok hingga tinggal gagangnya belaka.

ooodOwooo

BAB 18

TUBUH Huan Hok merentang keras, darah segar mengucur keluar lewat tujuh lubangnya, tanpa mengeluarkan sedikit suara pun ia putus nyawa.

Kematian Huan Hok mengerikan sekali, menyaksikan kejadian itu orang yang bersenjata kan Poan Koan Pit itu jadi tertegun dan berdiri mematung, ia tak tahu apa yang harus dilakukan pada saat itu.

Sedangkan sepuluh orang lainnya segera membentak keras dan ber-sama2 menerjang ke depan.

Tonghong Pacu enjotkan badannya melayang ketengah udara dan hinggap diatas sebuah meja.

Ting Kang, Ting Lou serta Kiem Lan Hoa, Tonghong Loei sekalian segera menubruk maju dalam sekejap mata suara manusia berteriak memenuhi angkasa, kelihatanlah ratusan orang segera akan turun tangan berbareng.

Pada saat itulah Tonghong Pacu membentak keras. "Jangan membantu, cepat mundur ke belakang!" Teriakan ini mengundurkan semua orang, di tengah ruangpun segera tertinggal sebuah kalangan yang cukup luas.

Dua orang diantara sepuluh jago dengan gerakan tubuh yang cepat berebut tiba didepan meja, goloknya segera disapu membabat kaki meja membuat meja tersebut roboh keatas tanah, dengan demikian Tonghong Pacu pun turut jatuh kebawah.

Siapa sangka dengan ilmu meringankan tubuh yang amat sempurna. tiba2 Tonghong Pacu melejit ke depan, sepasang telapaknya tahu2 sudah menekan diatas batok kepala dua orang itu.

Diiringi suara gemerutukan yang amat keras batok kepala kedua orang itu hancur berantakan dan mati binasa seketika itu juga Tonghong Pacu segera mencengkeram mayat kedua orang itu diputar ditengah udara, lalu dilemparkan kedepan.

Sementara itu kembali dua orang jago maju kedepan melancarkan serangan dahsyat.

Siapa sangka daya lempar Tonghong Pacu terhadap dua sosok mayat itu amat aneh sekali, ketika tiba ditengah jalan, tiba2 mayat tadi membalik dan meluncur kembali kearah Tonghong Pacu dengan kekuatan luar biasa.

Dua orang jago yang sedang melancarkan serangan itu sama sekali tidak menyangka akan kejadian ini, Buuuk . . . Buuuuk . . . ! tidak ampun lagi punggung mereka tertumbuk keras2 oleh dua sosok mayat tadi hingga muntah-darah segar, badanpun terdorong maju ke depan, Tonghong Pacu tertawa dingin, berbareng dengan kejadian itu jari tangannya segera berkelebat kedepan menekan keatas dada mereka berdua, diiringi jeritan ngeri kedua orang itupun menemui ajalnya seketika itu juga. Tujuh orang sisanya jadi tertegun setelah menyaksikan lima orang rekannya mati dalam keadaan mengenaskan, untuk sesaat mereka tak tahu apa yang harus dilakukan.

Tiba2 terdengar orang yang bersenjatakan Poan Koan Pit itu menjerit keras, ia cabut keluar senjatanya dari tubuh Huan Hok kemudian dengan mata melotot dan napas terengah2, jeritnya,

"Bajingan tua, serahkan jiwamu!"

Ujung kaki menutul permukaan tanah, senjata Poan- koan-pit dengan membawa segulung desiran tajam menusuk keatas dada Tonghong Pacu.

Sigembong iblis itu mundur kebelakang, sementara dari kiri kanan muncul dua orang melancarkan serangan.

"Kalian benar2 tidak takut mati ?" hardik Tonghong Pacu. "Baik, akan kupenuhi harapan kalian !"

Sepasang telapak berkelebat menyilang, kiri kanan ia melancarkan dua gulung angin pukulan yang luar biasa dahsyatnya membuat dua orang yang sedang maju segera tertahan.

Tetapi dengan rentangnya sepasang telapak tersebut berarti bagian dadanya terbuka, orang yang bersenjatakan Poan-koan-pit jadi kegirangan setengah mati, serangannya segera dilancarkan kedepan.

Tiba2 terdengar Tonghong Pacu tertawa panjang, mendadak badannya jatuhkan diri kebelakang. . "Criiit . . !" ujung poan-koan-pit tahu2 sudah menyambar lewat diatas batok kepalanya.

Merasakan serangannya mengenai sasaran kosong, orang itu sadar akan keadaan tidak menguntungkan, mundurpun percuma dalam keadaan seperti itu, ia jadi nekad, tiba2 ia buang senjata Poan-koan-pit nya, sepasang telapak dengan segenap tenaga segera dihantam kebawah.

Pada saat itu tubuh Tonghong Pacu terjengkang kebelakang, serangan telapak orang itu pun dengan telak bersarang diatas dada si gembong iblis tersebut.

"Plaak ! Plaak !" sepasang telapak orang itu telak bersarang dengan hebatnya diatas dada Tonghong Pacu.

Tetapi dengan cepat orang itu menjerit kaget, bukannya terluka Tonghong Pacu segera bangun berdiri, sementara itu ia sendiri mundur tiga langkah kebelakang, jatuh terduduk diatas tanah dengan napas senin kemis.

Kiranya Tonghong Pacu telah menutup seluruh jalan darah di dadanya, ia membuat badan keras bagaikan baja, dua serangan orang itu meski bersarang telak ditubuhnya, bukan saja ia tidak terluka, malahan orang itu berhasil digetarkan hingga terluka parah.

Demontrasi tenaga dalam yang diperlihatkan Tonghong Pacu membuat semua orang tertegun.

Dua orang diantara enam orang sisanya tiba2 membuang senjatanya keatas tanah kemudian dengan langkah lebar berjalan kedepan Hioloo meneteskan darah, menulis nama sendiri dan berdiri disamping kalangan dengan wajah pucat pias.

Dengan demikian maka tinggal empat orang yang masih berada ditengah kalangan.

"Hey, kalian berempat apakah ingin cari mati semua ?" jengek Tonghong Pacu sambil tertawa seram.

Keempat orang itu berdiri saling berpandangan, tiba2 terdengar salah satu diantara mereka menghela napas panjang, tetapi orang yang berada disisinya segera berseru: "Sute, jangan.."

Belum habis dia berbicara, Tonghong Pacu telah kebaskan ujung bajunya kearah orang itu, begitu dahsyat angin serangan tersebut membuat ia tak sanggup meneruskan kata2nya, sang badan merendah lalu bergelinding kesamping, golok pendek ditangannya dengan cepat menyapu tubuh bagian bawah sigembong iblis tersebut.

Tiba tiba Tonghong Pacu enjotkan badannya ketengah udara, kemudian melayang dengan kecepatan bagaikan kilat, sepasang kaki tepat menginjak diatas badan orang itu, darah segar muncrat keempat penjuru.

Orang yang menghela napas panjang tadi segera membuang senjatanya keatas tanah "Aku suka menggabungkan diri." ujarnya layu Dua orang sisanya segera menjerit keras, pedang panjang ditangan mereka berkelebat menggorok leher sendiri, badannya mundur sempoyongan dan akhirnya roboh binasa diatas tanah kematian mereka patut dipuji sebagai seorang lelaki sejati.

Tonghong Pacu tertawa dingin, bentaknya, "Gotong semua mayat2 itu dan lempar ke-dalam jurang!"

Anak buah perkampungan Jiet Gwat Cung segera turun tangan dengan cepat, dalam sekejap mata delapan sembilan sosok mayat itu sudah digotong keluar, kursi meja yang berserakan pun sudah diatur rapih, setengah jam kemudian barulah terdengar Tonghong Pacu berseru kembali.

"Silahkan anda sekalian meneguk secawan arak berdarah, kemudian kita adalah orang sendiri."

Beruntun semua orang yang ada di dalam ruangan meneguk secawan arak dari dalam hioloo tersebut, menanti satu jam dengan dipimpin Ting Kang serta Ting Lou semua orang sama2 jatuhkan diri berlutut di hadapan Tonghong Pacu. semua orang tidak terkecuali hanya seorang yang tidak, yakni Kiem Lan Hoa.

Menyaksikan semua orang akhirnya berhasil ditundukkan dan sejak itu bakal berada dibawah kekuasaannya, Tonghong Pacu jadi kegirangan setengah mati, ia mendongak tertawa terbahak2.

"Silahkan bangun, silahkan bangun" serunya.

Semua orang bangun berdiri, suasana diliputi keheningan yang luar biasa, tak terdengar sedikit suarapun.

Beberapa saat kemudian Tonghong Pacu mendehem, lalu sambil menuding ke-atas kain sutra berwarna merah itu ia berkata.

"Setelah kalian angkat aku sebagai Bengcu dan meninggalkan nama disini, maka kalian harus mengikuti peraturanku dimana ada Bengcu ada perintah, apabila berani membangkang maka orang itu akan dibunuh tanpa ampun."

Ketika mengucapkan kata2 yang terakhir dari sepasang matanya memancarkan cahaya tajam yang menyeramkan, membuat para jago sama2 merasa hatinya bergidik. ia merandek sejenak, kemudian sambil tertawa sambungnya lebih jauh, "Jaman dulu kaisar Han Kao Couw menetapkan tiga pasal peraturan buat rakyatnya, sedangkan aku cuma ada satu pasal, yaitu dimana perintah Bengcu tiba, siapa yang berani membangkang akan dibunuh tanpa ampun !"

Sekali lagi gembong iblis tersebut merandek, sepasang matanya menyapu keempat penjuru, melihat semua orang membungkam ia lantas teruskan.

"Tentu saja segala urusan dalam persatuan ini akan diatur dikemudian hari, sekarang aku perintahkan Ting Kang serta Ting Lou menjabat sebagai Te-Tong Tongcu serta Thian-Tong Tongcu yang mengurusi segala urusan mengenai persatuan ini"

Padahal dalam kenyataan, Ting Kang serta Ting Lou telah adakan perjanjian terlebih dahulu dengan Tonghong Pacu tentang kedudukan yang bakal diberikan kepada mereka, kalau bukan jabatan yang tinggi mana mereka berdua sudi berkomplot ?

Mendengar jabatan tersebut, kedua orang ini segera menunjukkan sikap kunang senang hati setelah menjura katanya:

"Terima kasih atas penghargaan Bengcu, namun cayhe berdua merasa tidak sesuai untuk jabatan tersebut, dari pada mengecewakan semua orang, lebih baik tidak terima !"

"Kalian berdua tidak mau menerima jabatan ini ?" tegur Tonghong Pacu.

"Benar, harap bengcu suka memilih orang yang berbakat saja!"

"Ooouw . . aku perintahkan kalian menjabat sebagai Thian-tong serta To Tong Tongcu yang mengurusi persoalan persatuan ini, kalian tidak mau terima, apakah kalian tidak tahu bahwa kedudukan ini tinggi sekali?"

Tiba2 air mukanya berubah keren, hardiknya.

"Apa yang kuucapkan tadi apakah kalian sudah lupa?" "Hamba sekalian tidak becus, maka tidak berani

menerima."

Air muka Tonghong Pacu berubah semakin hebat ia membentak keras. "Tadi sudah ku-katakan, barang siapa yang berani membangkang perintah dari Bengcu, maka ia akan dibunuh tanpa ampun . . ." Ting Kang serta Ting Lou terkesiap, mereka berdiri dengan mata melotot dan mulut melongo. Terdengar suara dari Tonghong Pacu makin keras, ia berseru lebih jauh:

"Memerintahkan kalian menjabat sebagai Thian-tong, Te Tong Tongcu merupakan perintah pertama yang kuturunkan sejak aku memangku jabatan sebagai Bengcu, tetapi kalian berdua berani tidak menurut, kalau begini caranya bagaimana aku bisa menjabat sebagai Bengcu lebih jauh? Hmmm! Barang siapa yang berani membangkang perintah Bengcu, dia harus dibunuh mati tanpa ampun!"

Bersamaan dengan ucapan itu, tiba2 Tong-hong Pacu meloncat bangun dan berkelebat ke hadapan Ting Kang serta Ting Lou.

"Tonghong sianseng, kami sedang . . ." seru mereka berdua.

Tetapi belum habis ia berseru, telapak tangannya sudah diayun kebawah menghajar batok kepala mereka.

Ting Kang serta Ting Lou sadar, nyawanya berada diujung tanduk, mereka berusaha untuk menghindar, namun terlambat setindak.

"Plaak! Plakk!" diiringi suara bentrokan dahsyat, batok kepala kedua itu sudah terhajar telak sehingga melengkung kedalam sebanyak tiga coen, darah segar mengucur keluar dari tujuh lubang, biji mata mereka melotot keluar, kematian kedua orang ini dalam keadaan yang sangat mengerikan sekali.

Dalam sekejap mata suasana jadi sunyi senyap, semua orang tahan napas dan tidak berani mengucapkan sepatah katapun.

Tonghong Pacu mundur dua langkah ke belakang, berdiri tegak dan berseru dengan suara dingin. "Sudah kalian saksikan sendiri, setelah kalian angkat aku sebagai Bengcu maka semua perintah harus didengarkan, barang siapa yang berani melanggar dia harus dibunuh mati!"

Air muka semua orang berubah pucat pias bagai mayat, berada dalam keadaan seperti ini siapa yang berani mengatakan "Tidak"?

"Baik!" jawaban serempak bergema memenuhi seluruh angkasa, Diatas wajah Tonghong Pacu yang diliputi kegusaran, terlintas senyuman manis.

"Orang2 dari perkampungan Jiet Gwat Cung apakah sudah takluk semua? . . ." teriaknya.

Pertanyaan ini sampai diulang beberapa kali, bahkan jago Bu-lim yang lihay pun membungkam diri, apalagi orang2 dari perkampungan Jiet Gwat Cung !

Sekali lagi Tonghong Pacu membentak.

"Gusur pergi dua sosok mayat dari penghianat tersebut dan buang ke dalam jurang agar dimakan srigala!"

Beberapa orang pegawai perkampungan Jiet Gwat Cung segera munculkan diri dan membawa pergi mayat Ting Kang serta Ting Lou dari dalam ruangan. Menanti kedua sosok mayat itu sudah digusur pergi, Tonghong Pacu berseru kembali dengan suara lantang.

"Tonghong Loei, terima perintah." "Hamba ada disini!"

"Aku memerintahkan kau untuk menjabat kau sebagai Te Tong Tongcu dari persatuan ini, walaupun usiamu masih kecil, kau harus banyak minta petunjuk dari para cianpwe yang ada di sini, jangan sampai kau kukecewa-kan harapan yang kuberikan padamu !" Tonghong Loei kegirangan setengah mati, coba bayangkan saja, setengah tahun berselang ia masih luntang lantung dalam dunia persilatan bagaikan seekor anjing yang diuber-uber manusia. Tetapi sekarang dengan meminjam pengaruh ayahnya, ia berhasil menduduki salah satu Tongcu yang paling berkuasa didalam perserikatan umat Bu-lim itu, sejak ini, siapa yang berani mengatakan kata2 Tidak" dihadapan mukanya?

Buru2 ia jatuhkan diri berlutut sambil berkata. "Hamba pasti akan berusaha sekuat tenaga untuk melaksanakan tugas se-baik2nya. hamba pasti tidak akan mengecewakan harapan Bengcu!"

Sebetulnya Tonghong Pacu punya rencana untuk memberikan kedua buah jabatan yang paling tinggi itu kepada kedua orang putranya yang ia cintai, sekarang kedudukan Te-tong Tongcu sudah diberikan kepada Tonghong Loei, tetapi kedudukan Thian Tong Tongcu masih lowong, jabatan ini seharusnya diberikan kepada Tonghong Pek, tetapi putra nya yang satu ini keburu pergi, maka agar kekuasaan tidak sampai terjatuh ketangan orang lain, kembali ia berseru lantang:

"Untuk sementara waktu jabatan Thian-Tong Tongcu akan kutempati sendiri !"

Semua orang sama2 menghunjuk hormat kepada Tonghong Loei, bahkan mereka yang memiliki ilmu silat lebih lihaypun sama2 membahasahi dirinya sebagai "Hamba"

Tetapi Tonghong Loei sangat pandai jadi orang, bukan saja sudah balas memberi hormat, bahkan membimbing bangun para jago yang memiliki kepandaian lebih lihay itu satu persatu. Kemudian Tonghong Pacu memilih kembali tujuh delapan orang jago yang berkepandaian silat lihay untuk menjabat sebagai Tuow-cu di masing2 daerah dan menetapkan perkampungan Jit-Gwat-Cung sebagai markas besar perserikatan tersebut, bagi orang2 Bu-lim yang ingin menggabungkan diri ditetapkan bahwa mereka bisa mendaftarkan diri pada masing2 Tuow-cu kemudian dibawah bimbingan mereka mendatangi perkampungan Jiet-Gwat-Cung untuk menyatakan kesanggupan.

Akhirnya ia mengutus lima, enam puluh orang untuk berpencar ke pelbagai daerah guna menyampaikan kabar berita perserikatan ini kepada semua umat Bu-lim, agar seluruh jago yang ada dikolong langit mengetahui bahwa Tonghong Pacu adalah Bu-lim Beng-cu.

Menanti semuanya telah selesai diatur, fajar pun telah menyingsing, Tonghong Pacu segera memerintahkan untuk membuka perjamuan baru. Kawanan jago tidak berani berkutik lagi, mereka turut perintah sang Bengcu ini dan mulai berpesta pora . .

OoodwooO

Sementara itu kita balik pada Tonghong Pek yang duduk ter-mangu2 disuatu hutan, memandang fajar yang menyingsing sianak muda ini terbayang kembali bagaimana Sunionya memberi penjelasan asal mula nama "Tonghong Pek" tersebut, sekarang ia baru tahu kesemuanya itu hanya bohong belaka, ia memang benar2 she-Tonghong.

Tonghong Pek tertawa getir, lambat2 ia ber jalan kedepan.

Tiba2 terdengar suara langkah derap kuda berkumandang datang, waktu itu ia berada disebuah persimpangan jalan, mendengar suara tersebut sianak muda itu tertegun dan segera menyembunyikan diri dibalik pohon.

Tampak lima enam ekor kuda segera saling berpisah setelah berhenti sejenak ditengah persimpangan jalan tersebut, orang2 diatas kuda segera saling berpisah sambil berseru.

"Selamat tinggal, setelah menyampaikan perintah dari Tonghong Bengcu, kita bertemu lagi dalam perkampungan Jiet Gwat Cung!"

Ucapan Tonghong Bengcu tersebut, membuat Tonghong Pek tertegun, ia sadar dalam perkampungan Jiet Gwat Ceng tentu sudah terjadi suatu peristiwa besar, dipandang dari lima orang yang ada diatas pelana terasa sangat di kenal sekali, seolah2 pernah bertemu muka dalam perkampungan Jiet Gwat Cung tetapi ada sebabnya mereka menyebut Tonghong Pacu sebagai "Bengcu"? dan apa sebabnya pula mereka pada berpisah untuk menyampaikan perintahnya? perintah apa yang hendak disampaikan ? sementara Tonghong Pek tertegun, empat lima ekor diantaranya telah saling berpisah dan berlalu, tinggal seekor kuda yang ditunggangi seorang lelaki berusia setengah baya, sedang menarik kudanya menuju kearah Tonghong Pek.

Sianak muda itu segera munculkan diri dari balik pohon, waktu itu lelaki setengah baya tadi sedang melarikan kudanya kedepan, dengan begitu tanpa mengeluarkan sedikit suara pun Tonghong Pek telah meluncur turun dari atas pohon dan duduk dibelakangnya.

Tenaga dalam yang dimiliki Tonghong Pek pada saat ini telah mencapai puncak kesempurnaan, sekalipun melayang turun dan duduk dibelakang pelana orang itu, namun sama sekali tidak mengeluarkan sedikit suarapun sehingga orang yang berada didepannya sama sekali tidak tahu kalau dibelakang pelana telah bertambah dengan seseorang.

Maksud Tonghong Pek berbuat demikian tidak lain karena ia ingin tahu perintah apakah yang hendak disampaikan Tonghong Pacu kepada umat Bu-lim.

Demikianlah ketika siang hari telah tiba, ia sudah ikut melakukan perjalanan sejauh lima enam puluh li, memasuki sebuah kota besar dan berhenti didepan sebuah bangunan besar dalam kota tersebut.

Setelah kuda berhenti, Tonghong Pek meloncat turun terlebih dahulu dari atas pelana, menanti lelaki setengah baya tadi meloncat turun Tonghong Pek segera meloncat kebelakangnya tanpa diketahui orang itu.

Begitulah Tonghong Pek segera mengikuti di belakang orang itu sama2 menuju kedepan pintu bangunan, orang itu menarik gelang didepan pintu sambil berseru.

"Apakah Ke Thay-hiap berada dirumah ?"

Dua belah pintu besar yang tertutup rapat segera terbuka diikuti muncul empat lima orang pemuda maju menyambut kedatangannya. kepada silelaki setengah baya itu seraya menjura serunya.

"Oouw . . kiranya Lie Jie-siok, Lie Jie-siok . . "

Lelaki setengah baya itu tidak tahu kalau dibelakang tubuhnya terdapat orang, berbeda dengan keempat, lima orang pemuda itu setelah menjura mereka segera menjumpai ada seorang manusia aneh yang berwajah menyeramkan berdiri dibelakangnya, mereka jadi kaget dan berubah air muka.

Terdengar dua orang diantaranya menghembuskan napas dingin dan berseru hampir ber bareng. "Lie Jie-siok. belakangmu. . belakangmu ."

Tetapi lelaki setengah baya itu masih belum merasa, sambil tersenyum maki nya.

"Setan cilik, tak usah mengarang kata2 yang tidak keruan untuk menakuti2 diriku, apakah suhumu ada dirumah ?"

Ucapan ini semakin mengejutkan beberapa orang itu, mereka segera berteriak.

"Lie Jie-siok dibelakangmu ada seorang manusia aneh, kau . . apakah kau tidak tahu ? cepat . . cepatlah putar badan !"

Menyaksikan beberapa orang itu tidak menunjukkan sikap sedang bergurau, lelaki setengah baya itupun merasa amat terperanjat ia segera maju dua langkah kedepan sambil putar badan,

Seandainya Tonghong Pek ada maksud agar ia tak dapat menemukan dirinya, gampang saja apabila ia ikut maju dan bersembunyi terus dibelakang tubuhnya tetapi Tonghong Pek tidak berbuat demikian, ia tetap berdiri tak berkutik ditempat semula.

Lelaki setengah baya itu putar badan, ketika menyaksikan wajah Tonghong Pek ia bergidik dan mengucurkan keringat dingin, meski demikian sebagai seorang jago kawakan ia masih dapat menenangkan hatinya.

Suara teriakan2 ramai dari beberapa orang pemuda itu segera menggema memecahkan kesunyian, waktu itulah dari dalam rumah muncul seorang kakek tua.

Kakek itu berperawakan pendek lagi kurus, namun gerak geriknya lincah sekali. Menjumpai orang itu Tonghong Pek berseru tertahan, kakek ini sudah sering kali ditemuinya.

Ia adalah sahabat karib gurunya Liat Hwee-Sin Tuo, yaitu si pedang sakti Ke Hong ada-nya.

Tentu saja Ke Hong pernah bertemu dengan dirinya, tetapi sekarang wajahnya sudah berubah amat seram, tentu saja sipedang sakti tidak kenali dirinya lagi.

Begitu munculkan diri, sambil tertawa Ke Hong segera menyapa.

"Saudara Lie, bukankah kau ikut menghadiri perayaan dalam perkampungan Jie Gwat Cung, mengapa . . ."

Berbicara sampai disitu, tiba2 ia menemukan Tonghong Pek ada disitu, air mukanya berubah hebat, sambil maju beberapa langkah ke depan hardiknya: "Siapa anda?"

Lelaki setengah baya itu she Lie bernama Ceng, akalnya banyak lagi cerdik dan merupakan seorang jago yang lihay baik dalam soal Boen maupun Boe, orang Bu-lim menyebutnya sebagai "Say Cu Kat" atau si Cu-kat-liang yang cerdik.

Lie Ceng sadar kehadiran simanusia aneh tersebut tentu mempunyai maksud2 tertentu, bahkan sewaktu masih berada dalam perkampungan Jiet Gwat Cung ia pernah saksikan sendiri betapa lihaynya ilmu silat simanusia aneh itu sehingga hampir saja Tonghong Pacu bukan tandingannya.

Bagaimanapun juga ia tak mau bertindak gegabah, sebab belum tentu pihak lawan bermaksud jelek, lagi pula meski jumlah orang di pihaknya banyak, belum tentu adalah tandingannya. Maka buru2 ia ulapkan tangannya kearah Ke-Hong agar jangan bersuara, setelah itu sambil menjura ke arah Tonghong Pek ujarnya.

"Sewaktu masih berada dalam perkampungan Jiet-Gwat- Cung, cayhe telah melihat secara bagaimana anda menyelamatkan jiwa Si Thay sianseng, saat ini Si Thay sianseng berada di mana ?"

Baru saja ucapan itu selesai diutarakan ke luar, Ke Hong telah menunjukkan perasaan kaget.

"Apa ? Si Thay sianseng . . dia . . dia men derita kekalahan ditangan Tonghong Pacu ?" serunya.

Lie Ceng mendengus dingin.

"Bukan begitu, Si Thay sianseng dibikin khe ki oleh tindak tanduk putrinya sehingga hawa murni dalam tubuhnya bergolak dan mengalir tidak teratur. Untung sahabat ini segera menyelamatkan diri Si Thay sianseng, sehingga dengan demikian Tonghong Pacu tidak sempat bermain licik lebih jauh !"

Dari nada ucapan Liu Ceng barusan, dapat ditarik kesimpulan bahwa orang-orang Bu-lim sebagian besar mempunyai harapan yang sama, yakni menyerahkan tugas besar ini pada diri Si Thay sianseng,

Tetapi Tonghong Pek sadar, percuma tugas tersebut diserahkan ketangan Si Thay sianseng, maka ia lantas tertawa getir.

"Percuma!" katanya. "Si Thay sianseng sudah pulang ke gunung Go-bie, dan apabila didengar dari nada suaranya, ia tidak akan melangkah turun dari gunung Go-bie barang setengah langkahpun, ia tidak mau mencampuri urusan dunia persilatan lagi." Mendengar ucapan tersebut, air muka Lie Ceng berubah pucat pias bagaikan mayat, beberapa saat lamanya tak sanggup mengucapkan sepatah katapun, Tonghong Pek berkata:

"Tadi, sewaktu berada di persimpangan jalan aku dengar kalian beberapa orang mengatakan hendak menyampaikan perintah, dan menyebut Tonghong Pacu sebagai Bengcu, sebenarnya apa yang telah terjadi?"

Sekarang Lie Ceng baru tahu, kiranya simanusia aneh ini sudah mengikuti dirinya sejak berada dipersimpangan jalan tadi sedangkan ia sendiri sama sekali tidak merasa, diam2 dalam hati merasa kecewa sekali.

Meski demikian, iapun dapat merasakan bahwa Tonghong Pek tidak bermaksud bermusuhan ia segera menghela napas panjang.

"Sahabat, silahkan masuk kedalam rumah bagaimana kalau kita bicarakan didalam rumah saja ?" undang Ke Hong.

Tonghong Pek mengangguk, demikianlah merekapun masuk dan duduk diruang tengah.

Setelah semua duduk, si cu-kat-Liang cerdik Li Ceng pun lantas menceritakan seluruh peristiwa yang telah terjadi dalam perkampungan Jiet-Gwat-Cung sampai Tonghong Pacu akhirnya turun tangan membinasakan Ting Kang serta Ting Lou.

Ke Hong serta Tonghong Pek yang mendengar kisah ini jadi tertegun, mereka duduk dengan mata terbelalak mulut melongo.

Menanti kisah telah selesai diceritakan Ke Hong segera mendeprak meja seraya berseru. "Lie-jie mengapa kau tidak mati saja dalam perkampungan Jiet-Gwat-Cung ?"

"Aaai . . Ke-heng bukan aku terlalu pandang rendah dirimu. seandainya waktu itu kau pun hadir disana maka tindakanmu akan seperti halnya yang kulakukan sekarang !"

Ke Hong segera meloncat bangun.

"Aku . ." sebenarnya ia hendak mengatakan aku tidak akan berbuat demikian, tetapi teringat jaraknya dari situ menuju perkampungan Jici~ Gwat-Cung sangat dekat, seandainya ia berani tentu saja dengan gagah ia akan mendatangi perkampungan tersebut untuk cari gara2 dengan Tonghong Pacu, tetapi beranikah ia berbuat demikian ?

Agaknya Lie Ceng dapat menebak isi hati rekannya ini, ia tertawa getir dan ujarnya kembali.

"Ke-heng, setelah kudengar Ting Kang serta Ting Lou mengusulkan akan mengangkat Tong hong Pacu sebagai Beng-cu, aku segera sadar bahwa rencana ini sudah mereka susun lama sekali, akupun sadar barang siapa yang hadir dalam perkampungan Jiet-Gwat-Cung, pasti tidak akan lolos dari rencana tersebut, oleh karena itu aku sama sekali tidak memberikan reaksi terhadap peristiwa tersebut, maka dari itu lah Tonghong Pacu lantas mengutus aku ke pelbagai daerah untuk menyampaikan berita ini?"

"Menyampaikan berita apa ?"

"Tonghong Pacu menginginkan agar semua umat Bu-lim yang ada dikolong langit mengetahui bahwa ia sudah jadi Bu-lim Bengcu, barang siapa yang ingin ikut menggabungkan diri dalam perserikatan ini maka setiap saat bisa datang ke pekampungan Jiet Gwat Cung, aku rasa ia akan menanti setengah sampai setahun kemudian baru ambil tindakan terhadap para jago yang tak mau setujui tindakannya jadi Bengcu, Ke-heng. aku rasa kau pun harus segera ambil keputusan?"

Pucat pias seluruh tubuh Ke Hong, kegagahan yang terpancar diatas wajahnya kini lenyap tak berbekas.

Setelah tertegun beberapa saat lamanya, ia baru bergumam seorang diri.

"Kalau demikian adanya, kecuali kita sembunyi ditengah gunung yang terpencil bersama keluarga, rasanya tak ada cara lain lagi?

"Ke Thay-hiap, kalau kau berbuat demikian maka tindakan tersebut salah besar" seru Tonghong Pek dengan suara lantang, "Kau menghindar, aku bersembunyi, bukankah hal ini akan semakin memberi kesempatan bagi Tonghong Pacu untuk malang melintang disemua daerah? sepantasnya kalau kita bersatu padu dan menentang kekuasaan." Ke Hong gelengkan kepalanya,

"Si Thay sianseng yang begitu lihaypun sudah menyingkir ke gunung Go-bie, apa yang harus kami lakukan lagi?" katanya lemas.

Tonghong Pek tertegun beberapa saat lamanya, lambat-2 ia bangun berdiri dan menghela napas panjang.

"Yaah . . kalau memang begitu, aku mohon pamit lebih dahulu!"

Walaupun suaranya hambar tapi nyata membawa nada memandang rendah diri Ke Hong, tentu saja iapun tahu bahwa si manusia aneh itu sedang menghina dirinya, tetapi ia tak mau pikirkan persoalan itu sebab pikirannva pada saat ini sedang kalut sekali. Dengan langkah lebar Tonghong Pek berjalan keluar dari pintu depan, dalam hati ia merasa sangat tidak puas dengan keputusan dari manusia she Ke tersebut, namun beberapa bulan kemudian Tonghong Pek baru bisa memaklumi sikap dari Ke Hong ini.

Beberapa bulan kemudian, kabar berita diangkatnya Tonghong Pacu sebagai Bu-lim Beng cu telah tersiar luas diseluruh kolong langit, bahkan iapun memberi batas waktu selama selama setahun bagi umat Bu-lim untuk mengakui Tonghong Pacu sebagai Bu-lim Bengcu, selewatnya batas waktu tersebut bagi mereka yang tak mau mengakui akan dilakukan pembersihan secara besar-2an.

Dalam beberapa bulan ini Tonghong Pek pun sudah menjelajahi banyak tempat, banyak mengunjungi keluarga persilatan, apa yang ia saksikan? semua juga kelihatan lesu dan ber-bondong2 lari masuk kedalam gunung agar tidak ditemukan Tonghong Pacu, bahkan ada pula beberapa perguruan dengan beratus2 anggotanya secara mendadak lenyap dari keramaian dunia persilatan.

Setiap jago yang dijumpai se-olah2 mencerminkan ketakutan yang tak terhingga, seakan2 mereka sadar bahwa kepandaian silatnya bukan tandingan dari Tonghong Pacu, kecuali menyingkir satu2nya jalan yang paling selamat adalah menggabungkan diri dalam perserikatan tersebut.

Setengah tahun kemudian, Tonghong Pek telah tiba dikaki gunung Go-bie.

Sianak muda ini sadar dalam kolong langit dewasa ini hanya seorang saja yang bisa menandingi kepandaian Tonghong Pacu, dan orang itu bukan lain adalah Si Thay sianseng.

OdOOwO BAB 19

TONG-HONG PEK sama sekali tidak tahu dimanakah letak lembah Coei Hong Kok, selama tujuh delapan hari lamanya ia hanya mengarungi gunung Go-bie tanpa tujuan yang menentu.

Suatu pagi, akhirnya ia tiba didepan mulut sebuah selat yang amat sempit, mulut selat tersebut begitu sempit hingga cuma bisa dilalui oleh seorang belaka, dua belah sisinya adalah tebing yang tinggi menjulang kelangit dan curam sekali.

Sebelah kiri dinding tebing curam tadi terukirlah dua buah tulisan yang amat besar, tulisan tersebut berbunyi "Coei Hong" dan memancarkan cahaya keemasan.

Kiranya tempat itulah bukan lain dari lembah Coei- Hong-Kok, tempat tinggal dari Si Thay sianseng.

Ketika Tonghong Pek tiba didepan mulut selat tersebut, terdengarlah dan dalam selat tersebut berkumandang seruan seseorang.

"Harap anda berhenti ditempat itu dan jangan maju lagi, tempat ini adalah lembah Coei Hong-Kok dari partai Go- bie !"

"Cayhe justru datang untuk mengunjungi lembah Coei- Hong-Kok ini."

"Tolong tanya siapakah nama anda, ada keperluan apa datang berkunjung ke lembah Coei-Hong-Kok ?"

"Cayhe she-Pek bernama Chiet, aku ingin bertemu dengan Si Thay sianseng karena ada urusan penting hendak dirundingkan." "Silahkan anda pulang saja, sudah lama guruku tidak bertemu dengan orang asing !"

"Eeii . . cayhe rada berbeda dengan orang lain, harap anda suka kabarkan kepada gurumu, katakan saja Pek Chiet yang pernah ditemuinya dalam perkampungan Jiet-Gwat- Cung setengah tahun berselang telah datang, ia pasti akan memberikan pengecualian."

"Kalau begitu, harap anda tunggu sebentar."

Tonghong Pek tidak ter-buru2 ingin bertemu sebab ia merasa yakin bahwa Si Thay sianseng pasti akan keluar untuk menjumpai dirinya.

Kurang lebih setengah jam kemudian, terdengar suara orang itu berkumandang kembali.

"Sahabat Pek, suhuku berkata bahwa beliau tidak kenal dengan anda, ia sudah lama tidak bertemu dengan orang asing, harap anda pulang saja !"

Mimpipun Tonghong Pek tidak menyangka kalau Si Thay sianseng menjawab demikian atas kunjungannya, untuk sesaat ia terkejut bercampur gusar, segera teriaknya.

"Kau . . kau . . sudah kau katakan Pek Chiet dari perkampungan Jiet-Gwat-Cung ?"

"Telah kukatakan semua, apa jawaban dari gurukupun sudah kusampaikan kepada anda, harap sahabat Pek segera pulang saja"

"Hm ! cuma sepatah dua patah kata saja lantas hendak usir aku pergi ? aku rasa persoalan tidak segampang itu !"

"Kalau anda ada niat terjang masuk kedalam lembah Coei-Hong-Kok dengan kekerasan, maka tindakanmu itu salah besar" seru orang itu dengan gusar, "Selama banyak tahun sudah banyak orang yang punya niat begini, tetapi tak seorang manusia pun berhasil menembusi selat ini dengan selamat."

"Aku tidak percaya" teriak Tonghong Pek pula dengan murka. "Seandainya Si Thay sianseng dapat mencapai diriku, ayoh suruh dia keluar dan turun tangan terhadap diriku."

Selama setengah tahun berkelana dalam dunia persilatan, sikap lesu dan lemas dari para jago telah menyedihkan hati Tonghong Pek, satu2nya harapan selama ini hanya dicurahkan keatas tubuh Si Thay sianseng, ia berharap tokoh sakti ini sudi menampilkan diri untuk merobohkan Tonghong Pacu, siapa sangka apa yang didapatkan saat ini? bukan saja tak mau bertemu, bahkan dikatakan pula bahwa ia tidak kenal dengan dirinya.

Sembari menahan hawa gusar yang berkobar selangkah demi selangkah sianak muda itu berjalan ke depan.

Belum sampai dua langkah ia bergerak, mendadak dari kedua belah dinding tebing yang terjal itu berkumandang datang suara gemuruh yang sangat memekikkan telinga.

Dengan tepat Tonghong Pek mendongak ke atas tapi segera ia terkejut bercampur gusar sebab tampaklah puluhan butir batu cadas yang amat besar sedang bergelinding kebawah dengan hebatnya.

Begitu dahsyat batu2 itu bergelinding kebawah menimbulkan suara benturan yang sangat mengerikan, berada dalam keadaan seperti ini seandainya ia nekad untuk maju juga, niscaya badannya akan hancur berkeping2 tertindih batu2 cadas tersebut.

Buru2 Tonghong Pek mengundurkan diri ke-belakang, sementara batu2 cadas tadi dengan cepat telah menyumbat mulut selat tersebut. Menyaksikan kehebatan batu2 cadas itu, timbul rasa benci dalam hati Tonghong Pek, ia meraung keras seraya berteriak.

"Si Thay Sianseng, aku kira dirimu adalah seorang lelaki sejati, tak nyana kau adalah seorang siauw-jien yang tak bisa dipercaya perkataannya!"

Tenaga lweekang yang dimiliki Tonghong Pek saat ini luar biasa lihaynya, teriakan tersebut segera memantulkan suaranya keempat penjuru, terutama sekali kata "Siauw Jien" yang sengaja diteriakan lebih keras, hampir seperminum teh kemudian suara pantulan itu baru sirap.

Tonghong Pek memaki diri Si Thay sianseng memang suatu tindakan kesengajaan pertama ia benar2 gusar dan ingin melampiaskan rasa gusarnya ini, kedua, ia ingin memancing kemunculan Si Thay sianseng.

Tetapi suasana dalam lembah Coei-Hong-Kok masih sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun.

Kembali Tonghong Pek memaki.

"Si Thay sianseng, sungguh kecewa kau disebut jagoan sakti dari dunia persilatan, tak disangka tingkah lakumu pengecut macam cucu kura-2 Hm ! Hm ! Kalau benar kau tak sudi menggubris diriku, akupun tidak mengapa, tetapi apa gunanya sewaktu berada diluar perkampungan Jiet- Gwat-Cung kau mengutarakan kata-2 yang sok gagah ? percuma kau jadi seorang lelaki . . lebih baik berubah kelamin jadi wadon saja . ."

Ucapan tersebut dipancarkan dengan disertai hawa murni sehingga menggema kedalam kembali Coei-Hong- Kok, namun suasana dibalik lembah tersebut tetap sunyi senyap. Makin memaki Tonghong Pek semakin gusar, untung ia adalah seorang lelaki jujur sehingga katanya tidak sampai kelewat batas, menanti siang hari telah tiba, sianak muda itu baru berlalu dari sana.

Ia menghampiri sebuah selokan untuk meneguk air hilangkan rasa haus, kemudian memetik pula buah2an untuk menangsal perut, setelah itu mendatangi kembali lembah Coei-Hong-Kok dan mulai memaki kembali.

Ia memaki sampai badan terasa lelah baru pergi beristirahat, demikianlah selama tujuh hari lamanya Tonghong Pek tetap bertahan di depan lembah Coei-Hong- Kok sambil mencaci maki tiada hentinya.

Tetapi dari balik lembah Coei-Hong-Kok tidak muncul sedikit reaksipun, suasana tetap sunyi dan hening.

Tonghong Pek sadar, sekalipun caci maki dilanjutkan beberapa hari lagipun percuma saja, ia benar2 membenci, ketika senja hari ke tujuh telah tiba, ia cabut keluar pedangnya dan menggurat enam buah tulisan diatas dinding muka selat tersebut.

Keenam buah tulisan tersebut berbunyi: "Ay- Mo-Thay- Ih-ta im- Si.

Tentu saja Tonghong Pek sedang mengartikan bahwa sia2 belaka Si Thay sianseng punya nama besar, ternyata karena takut untuk bertemu dengan Tonghong Pacu, ia lebih suka mengingkari janji dan bersembunyi macam cucu- kura2 untuk cari keselamatan sendiri.

Setelah mengukir tulisan tersebut. ia tertawa sebanyak tiga kali, suaranya penuh dengan perasaan getir dan sedih, kemudian masukkan kembali pedangnya kedalam sarung dan berlalu. Sianak muda ini merasa bingung dan bimbang, dengan kepandaian silat yang dimilikinya saat ini sekalipun belum bisa menandingi Tonghong Pocu, ia bisa membokong gembong iblis tersebut dengan siasat licin, tapi ada satu persoalan yang menyulitkan dirinya, sebab Tonghong Pacu bukan lain adalah ayah kandungnya sendiri.

Demikianlah dengan hati bimbang akhirnya ia berjalan ke depan tiada hentinya, tujuan yang diarahpun tanpa terasa adalah perkampungan Jiet-Gwat-Cung.

Sepanjang perjalanan, ia banyak mengunjungi jago2 kangouw kenamaan, tetapi apa yang ditemuinya ? enam tujuh bagian sudah pada meninggalkan tempat kediamannya untuk menyingkir ketempat lain.

Dan tiga empat bagian yang belum pergi, ada yang siap meninggalkan tempat itu dengan hati kebat kebit, ada pula yang sudah mengakui Tonghong Pacu sebagai Bu-lim Beng cu.

Setelah berkelana lama sekali. akhirnya pada saat batas waktu Tonghong Pacu kepada umat Bu-lim tinggal sebulan lagi, tibalah Tonghong Pek didepan perkampungan Jiet Gwat Cung.

Waktu itu kebetulan malam telah menjelang datang, suasana dalam perkampungan Jiat Gwat Cung terang benderang bermandikan cahaya lampu, bukan begitu saja bahkan sejak kurang lebih tiga empat li dari pintu perkampungan sepanjang jalan telah bermandikan pula cahaya lampu.

Dengan pandangan sayu, Tong hong Pek memandang kearah kemegahan yang menyelimuti perkampungan tersebut, hatinya merasa amat sedih sekali, ia menghela napas panjang dan perlahan2 turun dari bukit menuju kejalan raya yang lurus dan lebar. Ketika ia tiba dipinggir jalan raya tadi, terlihatlah sebuah batu nisan yang amat besar berdiri disisi jalan, di atas batu tersebut ter-ukirlah kata2 yang amat besar sekali.

Tulisan itu berbunyi demikian. "Boe Tek Bengcu" atau Bengcu tanpa tandingan.

Dibawah tulisan tadi terukir pula beberapa baris tulisan kecil, Boe Tek Bengcu memerintahkan, siapapun yang ingin menghadap segera turun dari kuda dan berjalan melalui sisi jalan, siapapun dilarang melanggar.

Ketika Tonghong Pek tiba di sana, kebetulan ada tujuh delapan ekor kuda tiba didepan batu peringatan itu, para jago yang ada diatas pelana sama2 meloncat turun dari atas kuda, berbicara lirih dengan para penyambut kemudian melanjutkan perjalanannya lewat pinggir jalan.

Menyaksikan keadaan tersebut, Tonghong Pek dapat membayangkan bahwa kekuasaan Tonghong Pacu pada saat ini agaknya jauh lebih hebat dari pada sang kaisar sendiri.

Sianak muda itu juga bisa tertawa getir, per-lahan2 ia berjalan mendekati peringatan tadi.

Beberapa tombak sebelum tiba, dari dalam sebuah gardu muncul dua orang yang segera menyambut kedatangannya sambil menegur.

"Anda adalah . . ."

Tonghong Pek tidak ingin banyak bicara dengan mereka. ia cuma geleng kepala dengan hati pedih.

Kedua orang itu segera saling bertukar pandangan sekejap, mereka merasakan sesuatu kurang beres, bentaknya.

"Hey, apa maksud anda datang kemari?" Tongheng Pek tetap tidak bersilang kedua orang itu dengan cepat bergerak maju menekan pundak sianak muda itu.

Tetapi pada saat itulah terdengar suara derap kaki kuda yang amat santar berkumandang disusul beberapa orang berteriak lantang.

"Tonghong Tongcu telah tiba!"

Sebenarnya kedua orang itu sedang menekan pundak Tonghong Pek, tetapi setelah mendengar teriakan itu buru2 mereka lepas tangan dan bergabung dengan sahabat2nya.

Ambil kesempatan itu Tonghong Pek menyingkir kesamping sambil mendongak memandang kearah mana berasalnya suara tadi.

Tampak dibawah sorotan cahaya lampu muncul dua puluh empat orang lelaki yang terbagi jadi dua rombongan, ketika tiba didepan batu peringatan tersebut mereka berhenti, salah seorang diantaranya segera berteriak dengan suara yang keras bagaikan guntur membelah bumi.

"Tonghong Tongcu, Tongcu Hujien tiba!"

Semua orang yang ada didepan gardu tersebut serentak jatuhkan diri berlutut diatas tanah.

Waktu itu semua orang sedang jatuhkan diri berlutut diatas tanah kecuali Tonghong Pek seorang, tentu saja ia terlalu menyolok dalam pandangan orang lain, maka tubuhnya segera berkelebat menyembunyikan diri dibalik batu tersebut.

Sesaat kemudian muncullah dua ekor kuda putih yang tinggi besar dan mulus, diatas pelana kuda bertaburan intan permata yang mahal harganya. Tonghong Pek belum tahu siapakah yang di maksudkan sebagai Tonghong Tongcu, sekarang setelah kedua ekor kuda itu berjalan mendekat ia baru tahu kiranya mereka bukan lain adalah Tonghong Loei serta Si Chen.

Ketika kedua orang itu tiba didepan batu peringatan, tiga puluh orang yang sedang berlutut diatas tanah serentak berseru dengan nada menghormat.

"Menghunjuk hormat buat Tongcu, Tongcu Hujin !" "Ehmm . ." jawab Tonghong Loei acuh tak acuh.

Dibelakang Tonghong Loei serta Si Chen mengikuti pula

dua puluh empat orang pengiring sewaktu, ke dua orang itu turun dari kuda, merekapun sama-2 turun dari kuda dan berdiri di kedua belah sisi batu peringatan tersebut.

Tonghong Pek segera bersembunyi makin rapat lagi, ia biarkan rombongan orang2 itu berlalu lebih dahulu, ketika orang terakhirpun bergerak lewat, laksana kilat ia segera turun tangan menotok jalan darahnya, kemudian membelejeti pakaiannya dan dikenakan diatas badan sendiri.

Menanti Tonghong Loei lanjutkan perjalanan-nya kedepan, Tonghong Pek pun segera ikut naik kuda dan menguntil dibelakangnya.

Tidak selang beberapa saat kemudian, kelima puluh orang itupun sudah tiba didepan pintu perkampungan Jiet Gwat Cung, dua puluh empat orang pembuka jalan yang bergerak didepan serentak berteriak.

"Tonghong Tongcu telah kembali, buka pintu dan sambut kedatangan beliau . . ."

Pintu besar segera terbentang, ketika kedua puluh empat orang itu telah menerobos masuk kedalam pintu mereka segera berhenti disamping jalan, sementara Tonghong Loei serta Si Chen melanjutkan perjalanannya menuju ke-dalam.

Tonghong Pek tak mau ikuti rombongan tersebut, setelah masuk pintu ia pun meloncat turun dari atas kuda, dan tanpa menimbulkan suara pun menerobos kedalam kegelapan dan menerjang masuk kedalam.

Diam2 ia menguntit dibelakang kedua ekor kuda putih itu dimana akhirnya mereka berhenti didepan ruang tengah.

Tampaklah Tonghong Loei serta Si Chen segera meloncat turun dari atas kuda, sambil menepuk leher kuda putih nya sianak muda itu bergumam.

"Kuda bagus, kuda bagus, aku terima pemberian ini, terima kasih atas hadiah kalian yang berharga ini."

Didepan ruang tengah berdiri empat orang manusia aneh yang berhidung mancung dan bermata cekung, dandanannya kukoay dan menarik perhatian.

Tampak keempat orang itu kelihatan gembira sekali dengan ucapan itu, salah seorang di antaranya dengan logat yang kaku berkata:

"Asal Tonghong Tongcu merasa senang, kamipun merasa amat bangga sekali . . ."

Keempat orang itu jelas bukan orang dari daratan Tionggoan, mereka datang dari daerah Se Ih yang jauh, hal inipun dapat menunjukkan betapa luasnya pengaruh Tonghong Pacu selama setahun ini.

Waktu Tonghong Pek berdiri kurang lebih tiga lima tombak dari ruang tengah, ia dapat saksikan seluruh kejadian itu dengan nyata.

Terdengar Tonghong Loei berkata. "Kalian berempat terlalu sungkan, datang dari tempat kejauhan kalian tentu merasa sangat lelah bukan? Silahkan beristirahatlah dahulu beberapa hari kemudian baru pulang."

Tetapi keempat orang itu segera geleng kepala, salah satu diantaranya berkata.

"Terima kasih atas maksud dari Tongcu, tetapi Kauw-cu kami sedang menanti berita, kami harus segera berangkat pulang untuk melaporkan hasil kunjungan ini kepada Kauw-cu."

"Kalian jauh2 datang dari ribuan li, seandainya pulang tanpa bertemu dahulu dengan Bengcu bukankah perjalanan ini sia2 belaka?" kata Tonghong Loei sambil tertawa.

Mendengar ucapan ini air muka keempat o-rang itupun berubah hebat, mereka menunjukan rasa gembira yang sukar dilukiskan dengan kata2.

"Benarkah kami boleh bertemu dengan Beng cu?" serunya hampir berbareng. "Kedudukan Bengcu maha tinggi dan mulia, sebenarnya tidak sembarangan orang bisa menjumpai dirinya, tetapi anda sekalian datang dari tempat kejauhan maka keadaannya rada berbeda, biarlah aku laporkan dahulu soal ini kepada Beng cu dan harap kalian berempat suka menanti sejenak disini!"

Keempat orang itu kegirangan sampai mencak2 buru2 mereka mengiakan.

Tonghong Loei ulapkan tangannya, lima enam orang segera muncul dan menjura.

Sianak muda itu lantas menuding kearah dua ekor kuda putih itu seraya berkata. "Kedua ekor kuda itu merupakan kuda2 jempolan yang sulit ditemui dalam kolong langit, kalian harus hati2 merawatnya !"

Beberapa orang itu mengiakan sambil menuntun kuda segera berlalu, sementara Tonghong Loei serta Si Chen pun berjalan masuk keruang dalam.

Tonghong Pek awasi semua kejadian itu dengan seksama, ia menduga keempat orang itu pasti barusan datang dari wilayah Se-Ih, inilah kesempatan baginya untuk menyelonong masuk, maka selangkah demi selangkah ia mendekati keempat orang itu lalu berdiri disisinya.

Ketika Tonghong Pek muncul dari bawah pohon, beberapa orang yang ada disekitar sana memandang kearahnya dengan sinar mata curiga, tetapi setelah menemui bahwasanya orang itu berhenti disisi keempat orang dari wilayah Se-Ih tadi, mereka lantas tidak ambil perhatian lagi terhadap diri Tonghong Pek.

Mereka mengira Tonghong Pek adalah pelayan yang dibawa oleh keempat orang Se-Ih tersebut, maka tak seorangpun yang menegur dirinya barang sekejappun.

Sebaliknya keempat orang dari wilayah Se-Ih itupun salah mengira Tonghong Pek yang berhenti disisi mereka sebagai anggota perkampungan Jiet-Gwat-Cung, mereka lantas anggukkan kepala sebagai penghormatan Tongheng Pek balas dengan mengangguk pula.

Beberapa saat telah lewat, tiba2 dari ruang tengah berkumandang keluar suara teriakan lantang.

"Tamu dari Se-Ih dipersilahkan masuk kedalam ruang tengah. untuk berjumpa dengan Boe Tek-Beng-cu !"

Keempat orang jago dari Wilayah Se-ih itu kelihatan sangat gembira, buru-2 mereka berjalan masuk keruang tengah, sementara Tonghong Pek mengikuti terus dibelakang mereka berempat.

Setelah naik lewat trap2an batu, didepan pintu muncul dua orang pengawal menjaga keamanan disana.

Kedua orang itu persilahkan keempat tamu dari wilayah Se-lh masuk kedalam kemudian turun tangan bermaksud menghalangi jalan pergi Tonghong Pek, namun dengan suatu gerakan yang lincah sianak muda itu sudah berkelebat masuk kedalam.

Setelah berada didalam, ia menepuk pundak tamu dari wilayah Se-Ih yang ada dihadapannya, orang itu berpaling dan tertawa kearah sianak muda kita.

Dua orang jago sakti yang berjaga pintu jadi tertegun dibuatnya setelah menyaksikan kejadian itu, meski dalam hati masih menaruh curiga namun tak berani turun tangan secara gegabah lagi, mereka lantas membungkam dan biarkan pemuda itu masuk ke dalam.

Mendadak ditengah ruang berkumandang suara tambur dan gembrengan disusul horden tersingkap serta munculnya Tonghong Loei.

"Saudara berempat silahkan mempersiapkan diri untuk bertemu dengan Bengcu" katanya kepada keempat orang itu. "Saudara ini ada lah . ."

Sinar mata Tonghong Loei dialihkan kearah Tonghong Pek dan memandangnya dengan sinar mata curiga, buru2 sianak muda itu mundur dua langkah ke-belakang, berdiri di sisi tiang dan luruskan tangannya kebawah.

"Bengcu hanya ingin menemui empat orang ini saja, lebih baik anda segera mengundurkan diri !" terdengar Tonghong Loei berseru kembali. Tonghong Pek sadar bila ia tidak mengundurkan diri, maka rahasianya bakal konangan, maka ia tidak bicara lagi, dengan kepala tertunduk segera mengundurkan diri ke tempat luaran.

Setelah ia mengundurkan diri dari ruang tengah, kembali terdengar suara gembrengan disusul gelak tertawa Tonghong Pacu yang amat lantang memenuhi angkasa.

Sekalipun Tonghong Pek sudah berada diluar ruangan namun telinganya terasa masih berdengung juga setelah mendengar gelak tertawa itu, ia sadar selama setahun ini tenaga lwee-kang yang dimiliki Tonghong Pacu telah peroleh kemajuan yang sangat pesat.

Diam2 Tonghong Pek menghela napas panjang, lambat2 berjalan ke depan dan tak lama kemudian tibalah disuatu halaman yang sangat luas sekali, darimana terdengar suara senjata saling beradu dengan nyaringnya, Tonghong Pek segera melongok ke dalam.

Tampaklah ditengah sebuah halaman berdiri tujuh delapan orang dayang dengan membawa lampu lentera ditengah halaman yang kosong tampak dua orang sedang berduel dengan serunya, orang itu adalah Thay Kiem serta Thay Gien dua orang.

Menjumpai kedua orang itu, Tonghong Pek kembali teringat peristiwa setahun berselang, selangkah demi selangkah ia makin mendekati kedua orang itu.

Sekalipun bodoh dan dungu namun dasar ilmu silat yang dimiliki Thay Kiem serta Thay Gien tidak lemah, mendengar ada suara langkah manusia, mereka segera berhenti bergebrak dan sama2 melototi Tonghong Pek tak berkedip.

"Siapa kau?" bentaknya keras. Mula2 Tonghong Pek tertegun, tapi teringat bahwasanya ia sudah berubah sama sekali wajahnya tidak aneh kalau Thay Kiem serta Thay Gien tidak ingat lagi, untuk sesaat ia tak sanggup menjawab.

Perbuatannya ini makin menggusarkan Thay Kiem serta Thay Gien, sambil menudingkan senjatanya mereka membentak berbareng:

"Heei . . kau manusia jelek celingukkan tidak karuan, kebanyakan pasti membawa maksud tidak baik, ayoh jawab sendiri kau ingin memenggal kepalamu sendiri atau suruh kami yang lakukan!"

Ucapan ini sangat menggelikan hati Tong-hong Pek, buru-2 jawabnya.

"Oooh . . . tentu saja aku tak mau penggal kepalaku sendiri, kalau kalian penggal kepalaku, lalu aku kan tak bisa berbicara lagi dengan kalian! "

"kau ingin mengatakan persoalan apa dengan kami ?" bertanya Thay Kiem serta Thay Gien dengan sepasang mata melotot bulat.

Lambat2 Tonghong Pek berjalan maju kedepan, kemudian menghela napas panjang dan berkata.

"Aku ingin mohon bantuan kalian berdua untuk bawa aku menjumpai seseorang!"

"Siapa?"

"Bengcu Hujien!"

"Oooouw . . . kiranya kau hendak menemui majikan kami, kenapa tidak kau katakan sejak tadi? untung kami masih belum sempat memenggal kepalamu, kalau tidak kan kau tak bisa bertemu dengan majikan kami!" Dalam hati Tonghong Pek segera sadar, kedua orang dayang jelek itu sudah salah mengira dirinya akan bertemu dengan Kiem Lan Hoa, majikan mereka.

Tonghong Pek segera menghela napas.

"Kalian salah besar!" serunya, "Yang ingin kutemui bukan majikan kalian, tetapi Bengcu Hujien lainnya!"

Jelas Thay Kiem serta Thay Gien sudah dibikin bingung oleh ucapan tersebut, mereka saling bertukar pandangan sekejap lalu melotot kepada si anak muda itu dengan wajah mendelong.

Beberapa saat kemudian terdengar kedua orang dayang jelek itu berunding sendiri Thay Kiem berkata:

"Bukankah majikan sudah berpesan kepada kita bahwa lain kali harus panggil dia sebagai Bengcu Hujien."

"Benar?" Thay Gien membenarkan, "Kalau begitu dia adalah Bengcu Hujien dan Bengcu Hujien adalah majikan benar bukan!"

"Sebetulnya sih benar, tetapi manusia yang mencurigakan ini mengatakan bukan!" seru Thay Kiem hampir menangis.

"Thay Kiem, Thay Gien . . ." buru2 Tong hong Pek berseru.

Baru saja ia berteriak, kedua orang itu kelihatan semakin terperanjat.

"Darimana kau bisa tahu nama kami?" teriaknya hampir berbareng.

"Sejak semula aku sudah tahu siapakah kalian, dan tahu bahwa kalian baik sekali paling suka membantu orang, maka itulah aku mohon kalian suka menunjuk jalan buat diriku untuk bertemu dengan . . . dengan orang yang ingin kutemui."

Pujian tersebut sangat membanggakan hati Thay Kiem serta Thay Gien.

"Baik !" mereka segera menyanggupinya.

"Kalau kau ingin ketemu dengan majikan kami, ayoh ikutilah kami."

"Bukan . . . bukan . . . aku tidak ingin bertemu dengan majikanmu. aku hendak bertemu dengan Bengcu Hujien yang lain."

Yang dimaksud Bengcu Hujien yang lain oleh Tonghong Pek bukan lain adalah ibu kandungnya sendiri, kiranya sianak muda ini ingin berjumpa dengan ibunya yang sudah lama ditinggalkan.

Sepasang mata Thay Kiem serta Thay Gien terbelalak semakin besar, katanya:

"Benarkah Bengcu Hujien ada dua orang, kenapa aku tidak tahu ? Ah mungkin kau sudah salah menduga atau salah mencari alamat tempat ini bernama perkampungan Jiet Gwat Cung !"

Ucapan tersebut sangat menggelikan Tonghong Pek, selama setahun ini nama perkampungan Jiet Gwat Cung sudah tersiar luas di seluruh kolong langit, siapapun kenal dengan perkampungan tersebut, darimana ada orang yang bisa salah alamat.

Tetapi sianak muda inipun segera merasa hatinya tergidik, dari perkataan Thay Kiem serta Thay Gien yang hanya mengetahui seorang Bengcu Hujien belaka maka bisa diduga ibunya sudah mati, mungkin beliau mati ditangan Kiem Lan Hoa, mungkin juga dibunuh oleh Tonghong Pacu.

Buru2 Tonghong Pek bertanya kembali.

"Apakah kalian tidak tahu bahwa kecuali majikan kalian ditempat ini masih ada Bengcu Hujien lainnya?"

"Tidak tahu . . ."

"Thay Kiem, Thay Gien, kalian sedang ber-cakap2 dengan siapa?" tiba2 terdengar suara teguran merdu berkumandang datang.

Mendengar suara itu seluruh tubuh Tonghong Pek tergetar keras sebab ia dapat dengar bahwa suara itu adalah suara dari Kiem Lan Hoa, ia bermaksud mengundurkan diri dari situ, tetapi gerakan tubuh Kiem Lan Hoa sangat cepat, dalam sekejap mata ia sudah berada di depan mata.

Dalam keadaan seperti ini tak mungkin bagi Tonghong Pek untuk mengundurkan diri dari sana, kemudian ia berdiri menanti.

Setibanya dihadapan sianak muda itu dengan sepasang mata yang tajam Kiem Lan Hoa menatap tubuh Tonghong Pek tajam2

"Siapa kau?" tegurnya.

"Aku . , . aku adalah seorang tamu yang datang dari jauh."

"Hmm, tamu yang datang dari jauh, sebenarnya siapakah kau ?"

Merasakan situasi tidak menguntungkan Tong hong Pek meloncat mundur untuk siap melarikan diri dari situ, siapa tahu tiba2 lima jari Kiem Lan Hoa laksana kilat telah menyambar datang. Tonghong Pek merasa amat terperanjat buru2 ia mengundurkan diri kebelakang, untung gerakannya masih sebat, tubuhnya tidak sampai tersambar serangan lawan, namun tak urung topeng yang menutupi wajahnya berhasil disambar hingga robek.

Setelah topengnya tersambar robek, wajahnya yang menyeramkanpun segera muncul di depan mata, Kiem Lan Hoa kelihatan tertegun sedangkan Thay-Kiem serta Thay- Gien segera berteriak keras.

"Majikan, dia . . dialah siluman aneh itu!"

"Tutup mulut !" hardik Kiem Lan Hoa sambil berpaling, sepasang matanya memancarkan cahaya gusar.

Thay-Kiem serta Thay-Gien tidak berani bicara lagi, mereka membungkam dalam seribu bahasa.

Kiem Lan Hoa berpaling kembali, lambat2 katanya: "Ooouw kiranya kau !"

"Kau . . kau tahu siapakah aku?" seru Tonghong Pek tertegun.

"Pil Lwee-tan tersebut akulah yang suruh Thay-Kiem serta Thay-Gien berikan kepadamu, bagaimana aku tidak tahu dirimu ?"

Pikiran Tonghong Pek seketika terasa jadi kalut, semula ia mengira setelah wajahnya berubah menyeramkan maka siapapun dikolong langit tak ada yang kenali dirinya lagi, tetapi sekarang hanya dalam sekilas pandang saja Kiem Lan Hoa telah kenali dirinya.

Disamping itu ia pun tidak tahu apa yang dimaksudkan dengan "Lwee-tan" tersebut, untuk sesaat ia tak dapat berbicara kecuali memandang Kiem Lan Hoa dengan sinar mata ter-manggu2. "Tidak apa kalau kau merasa kaget bercampur tercengang." kata Kiem Lan Hoa kembali. "Kecuali aku, memang tak ada orang lain lagi yang kenali dirimu, sekalipun ayahmu sendiripun belum tentu bisa kenali dirimu kecuali ia tahu bahwa kau berasal dari wilayah Biauw. dan pernah menelan pil Iwee-tan dan ular beracun Thian-Ming-Tik-hua"

Ucapan ini segera mengingatkan ia ketika pertama kakinya ia datangi perkampungan Jiet Gwat Cung dan bertemu dengan Tonghong Pa cu, ucapan pertama yang diutarakan sigembong iblis itu adalah bertanya kepadanya apakah berasal dari wilayah Biauw, ketika itu ia dibikin kebingungan dan tidak habis mengerti apa sebabnya Tonghong Pacu bisa bertanya demikian.

Tetapi sekarang, duduknya perkara bisa dibikin jelas semua.

Ia mengerti ketika dirinya menderita luka parah tempo dulu, benda yang dimasukkan ke dalam mulutnya dengan paksa oleh Thay Kiem serta Thay Gien pastilah pil Lwee- tan dari ular Thian Ming Tok coa yang dimaksudkan Kiem Lan Hoa barusan.

Dengan ter-mangu-2 ia awasi wajah Kiem Lan Hoa, lalu meraba wajah sendiri, katanya:

"Kau maksudkan . . . setelah menelan pil Lwee Tan tersebut maka wajahku berubah jadi begini menyeramkan? maka dalam sekilas pandang kau segera kenali diriku?"

"Tidak salah, didalam pil Lwee-tan dari ular beracun Thian Ming Tok Coa tersebut mengandung hawa dingin serta hawa panas dua macam, hawa panas dapat digunakan untuk menyembuhkan luka dalam sedang yang dingin merubah wajahmu jadi mengerikan, waktu itu kau menderita luka dalam yang sangat parah dalam keadaan habis akal terpaksa aku harus menyembuhkan lukamu lebih dahulu, ular beracun Thian Ming Tok Coa adalah ular yang sukar ditemui selama ratusan tahun. binatang itu hanya dihasilkan dalam gunung yang tinggi ditengah wilayah Biauw terutama Pil Lwee tan-nya benar2 merupakan benda mustika yang sukar didapatkan.

)oo-dw=wioo(